You are on page 1of 6

Telaga Angsa Danarto

Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. Angsa-angsa putih menyelam, menyembul, dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air, lalu mendarat kembali. Mereka saling memagut dan bercinta. Asmara angsa, adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar, bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. Annisa Zahra disadarkan oleh zefir, angin sepoi-sepoi, yang mengelus rambutnya. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. Zahra, balerina 21 tahun, tidak minum wine, yang putih maupun yang merah. Dia memilih minum air jeruk nipis, kegemarannya. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia, sebagai sponsor pertunjukan, Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. Begitu pula para pebalet teman Zahra, tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu, ayu dan ganteng. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Maya Ivanova, Natalya Ashikhmina, Irina Ablitsova, Andrei Joukov, Maxim Fomin, para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya, ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia, gubernur, menteri, dan pembesar negara lainnya. Tampak Viatcheslav Gordeev, Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu, yang ditemani balerina Masami Chino, ngobrol dengan gubernur. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia, gubernur berjanji, insya Allah, dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. Di antaranya di tempat ini, pernah berpentas Martha Graham, Alvin Nikolai, juga grup dari Perancis, Jerman, dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina, pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian, tentang balet di Rusia. Sebaliknya, para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. Lalu bergabung ikut ngobrol pula, Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev, pemeran Rothbart bergantian. Mereka rame-rame menikmati salad, sup ikan tuna, plain croissant, buahbuahan, dan jus jambu kelutuk. Dengan 1.500 penonton, Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda, sangat populer di seluruh dunia. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya, Odette, yang disihir Rothbart menjadi angsa. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. Baru pada malam hari mereka

Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. ”Tapi. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. jatuh cinta kepada Odette. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. Rothbart sang penyihir. Odille. Kakek terbatuk-batuk lagi. memamerkan putrinya. yang secantik Odette. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya. dan Anna Vakina. seluruh istana bergembira. pemilik istana dan telaga. ”Awas. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Olga Ivachenko. Odette dan dayang-dayangnya jatuh sedih. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. kedua adiknya. yang ndak cocok bagi kamu. ”Terpikat boleh terpikat. ”Odette atau Odille. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. Pangeran Siegfried. ”Apa. saya sih. Oxana Gasnikova. Seketika.menjelma manusia kembali. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah.” kata Kakek. lho. ibu.” tukas Nenek. Rothbart marah besar. Siegfried sadar. Sekalipun dengan mata terpejam.” tukas Kakek. ayah.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. Semua tertawa.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. kakek dan neneknya. . Mendengar kabar ini. Semuanya tertawa. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. angsa itu menjelma Odette. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. Eugenia Singur. siapa pun tak bakal salah memilih. Semuanya tertawa. cocok-cocok saja. sampai Kakek terbatuk-batuk. Begitulah.” celetuk Nenek. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh. juga tante dan oomnya. dan Anastasia Baranova. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya. Usaha Rothbart berhasil. Tatiana Chungunkina. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. Eyang bisa kesleo. sih. adalah para pemeran angsa kecil. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. untuk merebut cinta Siegfried. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga.

”Saya sungguh risi dengan kostumnya.” Semuanya tertawa.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget. ”Semuanya kan tertutup rapat.” sambung Kakek. sih. Eyang ini gimana. Habis jadi diktator.” sanggah Kakek.” ”Jangan begitu. memangnya kenapa?” tanya Zahra. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. . kostum Zahra ya seperti itu.” tukas Zahra. Meriah. Aduh. pertunjukan itu harusnya disensor. ”Saya serius. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra.” ”Wah.” ”Eyang yang kasmaran. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. Melihat kostumnya. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. bubar. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”.” ”Jangan begitu. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu. wah. wah. kok yang disalahin balerinanya. peradaban.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. Eyang. Eyang. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. mendadak berubah jadi filosof.” ”Wah. kecuali Kakek. Obrolan berubah jadi perdebatan. semuanya terkesan jelek. Semuanya tertawa kecuali Kakek.”Lho. Jika kita bicara soal kesan. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari.” sergah Kakek lagi.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake.” ”Kesan. deh. ”Itu kan mengumbar aurat.” sambung Kakek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Kesan.

” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentu k tubuh secara utuh. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili. ” sergah Tante.” kata Oom.” cetus Kakek.” sela Kakek. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.” sewot Zahra. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. Seperti para perenang yang hampir hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri.” Zahra menukas. kok Eyang sampai segitunya. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.” ”Saya heran.” sambung Kakek. Eyang. ”Adat ketimuran kita adalah KKN. ”Jangan melecehkan negeri sendiri. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Apa?” tanya Kakek. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan— dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang. ”Eyang benar-benar lowbrow. ”Dalam KKN ada tradisi. runtuhlah kebudayaan.” ”Omong kosong!” sergah Kakek. ”Adalah tradisi balet. ”Kostum ketat itu. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Mendengar kata Kakek ini. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol.” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. . ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan.” kata Zahra. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita.

”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. saya dikasih contoh.” jawab Tante. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. Cucuku. ”Coba.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. Eyang. Kita bisa menuduh mereka ateis.” . Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. Eyang. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.” tambah Nenek. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. Semuanya tertawa kecuali Kakek. kata Allah. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Eyang. Barangkali besok. Dan itu bukan teori. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Bukan kepada Tuhan.” sergah Kakek. saya cuci tangan.” ”Hati orang siapa tahu. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. atau lusa.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” kata si Oom. ”Banyak negara yang busuk. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat.” tambah Tante.

Dan ternyata Allah itu indah.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. Ada air yang mudah mematikan api. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Eyang. Ada api yang menyala-nyala. cukup sulit. Dalam dandanan kebaya pinjungan. Cobalah nikmati tari bedoyo. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” tukas Nenek. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.” ”Saya setuju. Zahra. Allah mencintai keindahan.” sambung Zahra. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Kita wajib memeliharanya.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. Tangerang. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. 14 Februari 2006 . menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka.” ”Sebagaimana balet. tergetar.Semuanya tertawa kecuali Kakek. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Seperti tercium setan lewat. Suatu dakwah keindahan tiada tara. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Lengang sejenak. Dalam balet. Kecuali Kakek. tidak ada pornografi dan pornoaksi. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat.. Anakmu bukan milikmu.” tukas Kakek.