You are on page 1of 5

33

BAB V PEMBAHASAN

Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah yang termasuk dalam bangsa Diptera. Drosophila merupakan salah satu spesies dari serangga diploid dengan jumlah kromosom sedikit, yaitu 2n=8. Spesies ini memiliki 4 pasang kromosom homolog. Kromosom ini dibedakan menjadi 3 pasang kromosom autosom dan 1 pasang kromosom kelamin (Wheeler : 1981). Drosophila melanogaster berperan penting dalam perkembangan Ilmu Biologi dan dalam mempelajari dasar-dasar genetika (Aini : 2008). Ada beberapa alasan Drosophila melanogaster dijadikan sebagai model organisme yaitu karena Drosophila melanogaster ukuran tubuhnya kecil,mudah ditangani dan mudah dipahami, praktis, siklus hidup singkat yaitu hanya dua minggu, murah dan mudah dipelihara dalam jumlah besar (Iskandar, 1987 dalam Aini : 2008), mudah berkembangbiak dengan jumlah anak banyak, beberapa mutan mudah diuraikan (King, 1962 dalam Aini : 2008), memiliki empat pasang kromosom raksasa yang terdapat pada kelenjar saliva pada fase larva (Strickberger, 1962 dalam Aini : 2008). Corebima (2013) menyatakan bahwa pada Drosophila melanogster terdapat kromosom X dan Y. Pada keadaan diploid normal ditemukan pasangan kromosom kelamin XX dan XY atau pasangan kromosom secara lengkap sebagai AAXX (pada betina) dan AAXY (pada jantan) dengan jumlah autosom sebanyak 3 pasang. Mekanisme ekspresi kelamin pada Drosophila melanogaster dikenal sebagai suatu mekanisme perimbangan antara X dan A (X/A). Hasil perimbangan itu, oleh Hesrkowitz (1973) dalam Corebima (2013) disebut sebagai “numerical sex index” atau “indeks kelamin numerik”. Pada persilangan N♂>< N♀ dan cl♂ >< cl♀ penenetuan jenis kelamin jantan dan betina merupakan hasil perimbangan X/A. Jumlah X pada kromosom kelamin pada jantan diploid normal berjumlah 1, sedangkan jumlah A (autosom) pada tiap pasangan A berjumlah 2, sehingga rasio X/A pada individu jantan diploid normal adalah 0.5. pada individu betina diploid normal, jumlah X pada

kromosom kelamin berjumlah 2. sebagian mengandung kromosom X dan sebagian yang lain mengandung kromosom Y. Dengan demikian penentuan jenis kelamin turunan merupakan masalah kemungkinan. mengandung kromosom X. Hal ini terbukti pada Drosophila melanogaster berkromosom XO sperma berkembang namun non motil sehingga bersifat steril dan pada spesies lain yakni Drosophila hydei berkromosom XO sperma tidak berkembang. individu jantan maupun individu betina memiliki kesempatan yang sama untuk dihasilkan di setiap persilangan. dengan peluangnya adalah 50 : 50 (Campbell : 2002).melanogaster strain N dan cl tidak hanya berdasarkan XY namun lebih ke mekanisme perimbangan X/A. (1991) menyatakan bahwa kromosom Y memiliki peranan terhadap fertilitas jantan kaitannya dengan spermatogenesis. sedangkan jumlah A (autosom) pada setiap pasangan A berjumlah 2. maka turunan yang dihasilkan adalah berkelamin jantan dengan kromosom XY. 34 . Pada persilangan homogami/sesama ini dimana pada tiap generasi selalu muncul kemungkinan bahwa rasio antara individu jantan dan betina pada tiap persilangan adalah 1:1. Stanfield (1983) dan Gardner dkk. Jika sperma yang kebetulan membawa kromosom X membuahi ovum. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa setiap ovum yang diproduksi oleh individu betina. Artinya. Kromosom kelamin Y pada Drosophila melanogaster sama sekali tidak ada peranannya terhadap ekspresi kelamin. sedangkan penentuan berdasarkan XY digunakan untuk mengetahui bahwa peluang kemunculan individu jantan dan betina adalah sama pada tiap persilangan. berjenis kelamin betina. sehingga rasio X/A pada individu betina diploid normal adalah 1. Hal ini sesuai teori yang diungkapkan dalam Corebima (2004) bahwa rasio X/A jantan diploid normal adalah 0. maka turunan yang dihasilkan akan mempunyai kromosom XX. dan jika sperma yang membawa kromosom Y membuahi ovum.5 sedangkan rasio XA pada betina diploid normal adalah 1. yaitu 1:1. Jadi. sedangkan sperma individu jantan terbagi menjadi dua kategori. Mekanisme perimbangan X/A digunakan dalam menentukan jenis kelamin individu yang muncul yakni jantan atau betina. penentuan jenis kelamin pada persilangan homogami D.

2004: 19. maupun tetraploid. Merujuk pada tabel Indeks Kelamin Numerik pada Corebima. bahwa rasio dan fenotip untuk tiap individu akan berbeda dilihat dari jumlah X pada kromosom kelamin dan jumlah A (autosom) pada tiap pasang A.Penentuan jenis kelamin dengan mekanisme perimbangan ini tidak hanya berlaku pada persilangan homogami atau persilangan sesama strain saja. persilangan N♂>< N♀ selalu menghasilkan keturunan dengan fenotip N. triploid. Mekanisme ini digunakan sebab tidak semua Drosophila melanogaster memiliki kromosom diploid. Corebima (2004) menyebutkan pula bahwa dalam penentuan kelamin keturunan terdapat gen yang mengatur. Sedangkan “keadaan tidak bekerja” dipengaruhi oleh gen-gen pada autosom yang disebut 35 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada persilangan homogami strain N dan cl menghasilkan turunan yang memiliki fenotip sama dengan induknya. Namun pada pelaksanaan penelitian. tetapi pada “tidak sedang bekerja” maka yang berkembang adalah kelamin jantan. Hal tersebut dapat dibuktikan sampai persilangan yang menghasilkan generasi ketujuh. Sedangkan persilangan homogami strain cl hanya dilakukan sampai persilangan generasi ke-4 yang menghasilkan generasi ke-5. “Keadaan sedang bekerja”. gen Sxl bertanggung jawab atas perkembangan betina. Mekanisme X/A berlaku pada semua persilangan dalam satu spesies Drosophila melanogaster.salah satunya adalah gen Sxl (sex-lethal). Gen ini memillki dua keadaan yakni “keadaan sedang bekerja” dan “keadaan tidak bekerja”. Itulah yang menyebabkan individu tersebut disebut diploid. untuk persilangan homogami strain N hanya dilakukan sampai persilangan generasi ke-5 yang menghasilkan generasi ke-6. Pada “keadaan sedang bekerja”. disebabkan oleh adanya gengen pada kromosom kelamin X yang disebut “elemen nominator” yang menggiatkan gen Sxl untuk mendorong perkembangan betina. Jumlah A pada tiap pasangan A berbeda-beda untuk tiap individu. Begitu pula halnya dengan persilangan cl♂ >< cl♀ selalu menghasilkan keturunan dengan fenotip cl. Pada kromosom kelamin X terdapat perangkat gen untuk kelamin betina sedangkan perangkat gen untuk kelamin jantan terdapat pada pasangan autosom. Artinya.

Persilangan terakhir yang dilakukan adalah persilangan homogami F5 strain N yang menghasilkan keturunan F6 strain N menunjukkan harga χ2 hitung sebesar 0. juga mempunyai nilai χ2 hitung yang lebih kecil dari χ2 tabel 5%.001897533.060533 yang berarti lebih kecil daripada nilai χ2 tabel 5%. Begitu pula dengan persilangan homogami F1 strain N yang menghasilkan keturunan F2 strain N menunjukkan harga χ2 hitung sebesar 0.706601467. Kemudian pada persilangan homogami F3 strain N yang menghasilkan keturunan F4 strain N menunjukkan harga χ2 hitung sebesar 0. Pada persilangan parental N♂>< N♀ yang menghasilkan keturunan F1 strain N.109090909. yaitu sebesar 3.841.108168 lebih kecil daripada nilai χ2 tabel 5%.04743833.396825397 lebih kecil daripada χ2 tabel 5% sebesar 3. diketahui bahwa semua 36 . Semua persilangan homogami strain N yang dilakukan sampai generasi ke-5 yang menghasilkan generasi ke-6.346154) yang lebih kecil dari χ2 tabel 5%. setelah melalui Uji Chi-square (χ2) menunjukkan bahwa χ2 hitung sebesar 0. diketahui bahwa nilai χ2 hitungnya sebesar 0. Keturunan pada persilangan homogami F2 yang disebut F3 juga mempunyai nilai χ2 hitung (0. Artinya.“elemen denominator” yang menyebabkan gen Sxl tidak bekerja. setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan Uji Chi-square (χ2). Keturunan dari persilangan F1 disebut dengan F2. yaitu persilangan F4 yang menghasilkan keturunan F5 mempunyai nilai χ2 hitung sebesar 0. akibatnya mendorong perkembangan jantan. Pada persilangan homogami F2 strain N yang menghasilkan keturunan F3 strain N menunjukkan harga χ2 hitung sebesar 0. Hasil persilangan F3 yang menghasilkan keturunan F4 menunjukkan nilai χ2 hitung sebesar 0. menunjukkan hasil Uji Chi-square (χ2) dimana harga χ2 hitung lebih kecil daripada χ2 tabel. yaitu 0.841. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji Chi-Square.139130435 yang lebih kecil dari χ2 tabel 5%.724138 yang lebih kecil daripada nilai χ2 tabel 5%. Persilangan yang terakhir. Pada persilangan parental cl♂>< cl♀ yang menghasilkan generasi F1 cl. hipotesis penelitian diterima yakni tidak terjadi penyimpangan pada perbandingan jumlah individu jantan dan betina yang muncul dari persilangan Drosophila melanogaster N♂ >< N♀ terhadap rasio nisbah kelamin 1:1. Persilangan homogami F4 strain N yang menghasilkan keturunan F5 strain N menunjukkan harga χ2 hitung sebesar 0.

Gen tra mengubah individu betina (menurut konstitusi kromosom) menjadi individu jantan steril.generasi persilangan homogami strain cl mempunyai nilai χ2 hitung yang lebih kecil daripada χ2 tabel 5%. Hampir semua anggota populasi alami Drosophila melanogaster bersifat homozigot dominan atau tra+tra+. Individu jantan Drosophila karena pengaruh gen tra bergenotip XX tratra. Begitu pula dengan persilangan cl♂ >< cl♀ mulai dari F1 sampai dengan F5 tidak menyimpang dari nisbah kelamin dengan rasio 1:1. pada keturunan akan diperoleh nisbah jantan betina yang tidak normal yaitu 3 : 1 (Karmana : 2010). Selain pengaruh gen tra. Perhitungan analisis data menggunakan Uji Chi-square menunjukkan bahwa pada persilangan homogami Drosophila melanogaster N♂>< N♀ mulai dari F1 sampai F6 tidak menyimpang dari nisbah kelamin normal 1:1. Gen tra terletak pada kromosom 3. ada juga pengaruh dari gen lethal. 37 . sesuai dengan teori nisbah kelamin yang menyatakan bahwa nisbah kelamin adalah jumlah individu jantan dibagi dengan jumlah individu betina dalam satu spesies yang sama (Herskowit : 1973). salah satunya adalah gen tra. gen ini lebih mungkin dijumpai dalam keadaan heterozigot sebagai tra+tra dan bahkan homozigot tratra. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Persilangan antara betina karier resesif tra (XX tratra) dengan jantan homozigot resesif tra (XY tratra). Individu yang bersangkutan terlihat seperti jantan normal namun testisnya sangat direduksi (Corebima : 2004). dimana dari persilangan antara betina (heterozigot) yang membawa gen letal dengan jantan normal diperoleh keturunan jantan : betina sama dengan 1 : 2 (Karmana : 2010). Pada kondisi laboratorium. artinya dapat disimpulkan bahwa pada semua generasi (F1 sampai dengan F5) persilangan homogami Drosophila melanogaster strain cl mempunyai perbandingan antara jantan dan betina yang tidak menyimpang terhadap rasio nisbah kelamin 1:1. Perbandingan antara jantan dan betina juga sering menyimpang dari rasio nisbah kelamin 1:1. Hadirnya gen letal pada kromosom X juga akan mempengaruhi jenis kelamin. Peluang munculnya individu jantan dan betina yang 50:50. Karmana (2010) menyatakan bahwa persilangan Drosophila melanogaster dengan strain yang sama mendekati nisbah kelamin normal yaitu 1:1.