Abses Hepar

Defenisi :
bentuk infeksi pada hepar yang disebabkan oleh infeksi bakteri, parasit, maupun jamur yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hepar. abses hati dibagi menjadi 2 yaitu abses hati amebik dan abses hati piogenik di mana kasus abses hati amebik lebih sering terjadi dibanding abses hati piogenik.

Etiologi :
disebabkan oleh strain virulen Entamoeba hystolitica yang tinggi Infeksi biasanya terjadi setelah meminum air atau memakan makanan yang terkontaminasi kotoran yang mengandung tropozoit atau kista tersebut. Strain Entamoeba hystolitica tertentu dapat menginvasi dinding kolon Abses piogenik disebabkan oleh Enterobactericeae, Microaerophilic streptococci, Anaerobic streptococci, Klebsiella pneumoniae, Bacteriodes, Fusobacterium, Staphilococcus aereus, Staphilococcus milleri, Candida albicans, Aspergillus, Eikenella corrodens, Yersinis enterolitica, Salmonella thypii, Brucella melitensis dan fungal. Abses hati dapat disebabkan infeksi dapat berasal dari sistem porta dan hematogen melalui arteri hepatika. Infeksi yang berasal dari abdomen dapat mencapai hati melalui embolisasi melalui vena porta. Infeksi intraabdomen ini biasanya berasal dari appendisitis, divertikulitis, inflammatory bowel disease dan pylephlebitis. Sementara itu infeksi secara hematogen biasanya disebabkan oleh bakteremia dari endokarditis, sepsis urinarius, dan intravenous drug abuse. 21-30% dari abses hepar berasal dari penyakit biliaris yaitu obstruksi ekstrahepatik, kolangitis, koledolitiasis, tumor jinak atau ganas biliaris

Patogenesis :
belum dapat diketahui secara pasti. Ada beberapa mekanisme seperti faktor investasi parasit yang menghasilkan toksin, malnutrisi, faktor resistensi parasit, berubah-ubahnya antigen permukaan dan penurunan imunitas cell mediated. Secara kasar, mekanisme terjadinya amebiasis didahului dengan penempelan E. Histolytica pada mukus usus, diikuti oleh perusakan sawar intestinal, lisis sel

hydatid cystic cavities. total protein dan kadar albumin dan glubulin dalam darah. serta pemeriksaan penunjang foto toraks dan foto polos abdomen digunakan untuk mendeteksi kelainan atau komplikasi yang ditimbulkan oleh amebiasis hati. NB : Banyak penderita abses hepar tidak mengalami perubahan bermakna pada tes laboratoriumnya. Demam atau panas tinggi merupakan manifestasi klinis yang paling utama. histolytica kemudian penyebaran amoeba ke hati melalui vena porta. Adanya tekanan dan distensi kanalikuli akan melibatkan cabang-cabang dari vena porta dan arteri hepatika sehingga akan terbentuk formasi abses fileplebitis. laboratorium. anoreksia. Hiperbilirubinemia didapatkan hanya pada 10 % penderita . Obstruksi pada traktus biliaris seperti penyakit batu empedu. atelektasis. fluktuasi pada hepar.epitel intestinal serta sel radang disebabkan oleh endotoksin E. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis. efusi pleura. massa di hipokondrium atau epigastrium. dan tanda-tanda peritonitis. Abses hati piogenik dilaporkan sebagai infeksi sekunder dari abses hati amebic. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium yang diperiksa adalah darah rutin yaitu kadar Hb darah. dan tumor hati. batuk disertai rasa sakit pada diafragma. Diagnosa pasti adalah melalui USG dan CT Scan yang sensitivitasnya sekitar 85-95%. kecepatan endap darah dan percobaan fungsi hati. hepatomegali teraba sebesar 3 jari sampai 6 jari di bawah arcus-costa. Mikroabses yang terbentuk akan menyebar secara hematogen sehingga terjadi bakterimia sistemik. abses biasanya multipel. jumlah leukosit darah. yang ditandai dengan jalan membungkuk ke depan dengan kedua tangan diletakkan di atasnya. Penyakit traktus biliaris adalah penyebab utama dari abses hati piogenik. Manifestasi Klinis Manifestasi sistemik abses hati piogenik lebih berat dari pada abses hati amebik. ikterus terdapat pada 25 % kasus dan biasanya berhubungan dengan penyebabnya yaitu penyakit traktus biliaris. striktura empedu. pemeriksaan fisik. penyakit obstruktif congenital ataupun menyebabkan adanya proliferasi bakteri. Abnormalitas tes fungsi hati lebih jarang terjadi dan lebih ringan pada abses hati amebik dibanding abses hati piogenik. termasuk kadar bilirubin total. anemia. malaise. Dicurigai adanya abses hati piogenik apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas.

tes ini sensitif. indirect immunofluorescence. GDP sangat membantu untuk memastikan apakah kelainan tersebut disebabkan amuba. Serologis Pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan meliputi IHA (Indirect Hemagglutination). IHA dan GDP merupakan prosedur yang paling sering digunakan. maka PPT (plasma protrombin time) meningkat. Namun demikian. Kolaps paru. Sensitivitasnya mencapai 95%.abses hepar. tetapi tidak spesifik untuk abses amuba hepar. hasil yang positif bisa didapatkan sampai 20 tahun setelah infeksi mereda. dan complement fixation. Bentuk bulat atau oval 2. 4. sensitivitasnya dapat mencapai 100%. Peninggian dome dari diafragma kanan. Ekogenitas lebih rendah dari parenkim hati normal. Bersentuhan dengan kapsul hati 5. CT scan:    Hipoekoik Massa oval dengan batas tegas Non-homogen USG: 1. IHA dianggap positif jika pengenceran melampaui 1 : 128. Bila tes tersebut diulang. dan jarang sekali tetap positif sampai 6 bulan setelah sembuhnya abses. Berkurangnya gerak dari dome diafragma kanan. Tetapi. GDP mudah dilaksanakan. 4. Pleural efusion. Peninggian sonik distal (distal enhancement) . 2. GDP (Gel Diffusion Precipitin). 3. counterimmunelectrophoresis. GDP meskipun dapat mendeteksi 95% abses hepar karena amuba. bila pada pemeriksaan radiologi ditemukan lesi "space occupying" di hepar. Pemeriksaan Penunjang Menurut Middlemiss (I964) gambaran radiologis dari abses hati adalah sebagai berikut : 1. Jadi. Abses paru. IHA sangat spesifik untuk amubiasis invasif. Karena itu. Juga mendeteksi colitis karena amuba yang non-invasif. Karena pada abses hepar amebik terjadi proses destruksi parenkim hati. 5. Tidak ada gema dinding yang berarti 3. ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay).

histolytica positif dalam pus hasil aspirasi. "Amoeba Hemaglutination" test positif Komplikasi Komplikasi abses hati amoeba umumnya berupa perforasi abses ke berbagai rongga tubuh dan ke kulit. Perforasi ke perikard menyebabkan efusi perikard dan tamponade jantung. 7. Pembesaran hati yang nyeri tekan pada orang dewasa. Antibiotik Terapi medikamentosa adalah antibiotik yang bersifat amubisid seperti metronidazol atau tinidazol. Trophozoit E. Emetin dan dehidroemetin diberikan secara intramuskular. . omentum dan usus mempunyai kesempatan untuk mengurung proses inflamasi. Dosis 50 mg/kgBB/hari diberikan tiga kali sehari selama 10 hari. Komplikasi ke kaudal terjadi ke rongga peritoneum. "Scintiscanning" hati adanya "filling defect". Emetin. atau malah terjadi kesalahan dalam penempatan kateter drainase. Insidens perforasi ke rongga pleura adalah 10-20%. Penatalaksanaan secara konvensional adalah dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotika spektrum luas oleh karena bakteri penyebab abses terdapat di dalam cairan abses yang sulit dicapai dengan antibiotika tunggal tanpa aspirasi cairan abses. Perforasi ke depan atau ke sisi terjadi ke arah kulit (seperti gambar di samping) sehingga menimbulkan fistel yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi sekunder. 4. Hasil pemeriksaan hematologis yang menyokong : leukositosis. dan klorokuin berguna pada abses amuba hepar yang mengalami komplikasi atau bila pengobatan dengan metronidazol gagal. Penatalaksanaan saat ini adalah dengan drainase perkutaneus abses intraabdominal dengan tuntutan abdomen ultrasound atau tomografi komputer. Akan terjadi efusi pleura yang besar dan luas yang memperlihatkan cairan coklat pada aspirasi. Abses kronis. Perforasi dapat berlanjut ke paru sampai ke bronkus sehingga didapat sputum yang berwarna khas coklat. Kadang pada abses hati piogenik multipel diperlukan reseksi hati. komplikasi yang bisa terjadi adalah perdarahan. dehidroemetin. menyebabkan peritonitis lokal. 5. Perforasi akut menyebabkan peritonitis umum.Kriteria diagnostik untuk hepatic amoebiasis menurut Lamont dan Pooler : 1. 2. artinya sebelum perforasi. 6. Pemeriksaan Rontgen (PA Lateral) yang menyokong. 3. perforasi organ intra abdominal dan infeksi. Respons yang baik terhadap obat anti amoeba. dapat menyembuhkan 95%. Perforasi ke kranial dapat terjadi ke pleura dan perikard.

Hepatektomi dapat dilakukan pada abses tunggal atau multipel. Tipe reseksi hepatektomi tergantung dari luas daerah hati yang terkena abses juga disesuaikan dengan perdarahan lobus hati. dan terapi yang diberikan. apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan.Aspirasi Selain diberi antibiotika. Pembedahan diindikasikan untuk penanganan abses yang tidak berhasil membaik dengan cara yang lebih konservatif. lobus kanan atau kiri. terapi abses juga dilakukan dengan aspirasi. Prognosis yang buruk. ada tidaknya infeksi sekunder. dan perikardial. derajat dari infeksi. aspirasi berguna untuk mengurangi gejala-gejala penekanan dan menyingkirkan adanya infeksi bakteri sekunder. Aspirasi juga mengurangi risiko ruptur pada abses yang volumenya lebih dari 250 ml. Laparotomi diindikasikan untuk perdarahan yang jarang terjadi tetapi mengancam jiwa penderita. . Tingginya viskositas cairan abses amuba memerlukan kateter dengan diameter yang besar untuk drainase yang adekuat. komplikasi yang terjadi. Prognosis Prognosa abses hati tergantung dari investasi parasit. Dalam hal ini. atau lesi yang disertai rasa nyeri hebat dan elevasi diafragma. daya tahan host. Indikasi operasi pada abses hepar antara lain:     Terapi antibiotika gagal Aspirasi tidak berhasil Abses tidak dapat dijangkau dengan aspirasi ataupun drainase Adanya komplikasi intraabdominal Kontraindikasi operasi pada abses hepar antara lain:    Abses multipel Infeksi polimikrobakteri Immunocompromise dissease Hepatektomi Dewasa ini dilakukan hepatektomi yaitu pengangkatan lobus hati yang terkena abses. hipoalbuminemia. juga pada pasien dengan penyakit saluran empedu. adanya ikterus. disertai atau tanpa adanya ruptur abses. Infeksi sekunder pada rongga abses setelah dilakukan drainase perkutan dapat terjadi. Drainase perkutan berguna pada penanganan komplikasi paru. efusi pleura atau adanya penyakit lain. tidak dilakukan drainase terhadap abses. jika hasil kultur darah yang memperlihatkan penyebab bakterial organisme multipel. peritoneum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful