You are on page 1of 11

Darpublic www.darpublic.

com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 1/11

Aplikasi Persamaan Gelombang Schrödinger pada Atom
dengan Satu Elektron
Sudaryatno Sudirham


Setelah kita melihat aplikasi persamaan Schrödinger dalam koordinat kartesian xyz,
kita akan melihat aplikasinya pada koordinat polar yaitu aplikasi pada atom yang hanya
memiliki satu elektron seperti hidrogen, deuterium, tritium, ion helium He
+
, ion lithium Li
+
.
!alam buku "arcelo #lonso dan $.% &inn, persoalan ini dibahas secara detil, namun
persamaan Schrödinger agak kurang terlihat aplikasinya. !i sini kita akan membahas
persoalan tersebut secara lebih sederhana namun kita akan berangkat dari persamaan
Schrödinger yang telah kita bahas dalam koordinat kartesian xyz.
Persamaan Schrödinger Dalam Koordinat Bola
'aya sentral oleh inti atom menyebabkan elektron berada dalam medan potensial
yang membentuk simetri bola, yang merupakan (ungsi )arak dari inti, r.
r
Ze
r V
0
2
4
) (
πε
− = *1+
,ersamaan Schrödinger tiga dimensi bebas-waktu men)adi
0
4 2
0
2
2
2
2
2
2
2 2
= ψ
|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|

ψ ∂
+

ψ ∂
+

ψ ∂
r
Ze
E
z y x
m
h
*+
!alam persoalan gaya sentral ini, kita akan beker)a dalam koordinat bola, dengan
memposisikan inti atom pada titik asal seperti terlihat pada 'b.1.

&ungsi gelombang dinyatakan dalam r, θ, dan ϕ, men)adi ) , , ( ϕ θ ψ r . $nergi potensial
elektron, yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari inti atom, hanya merupakan (ungsi r.
!alam koordinat bola, persamaan *+ men)adi
0
4
sin
1 cot 1 2
2
0
2
2
2
2 2 2 2
2
2 2
2 2
= ψ
|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|
ϕ ∂
ψ ∂
θ
+
θ ∂
Ψ ∂ θ
+
θ ∂
ψ ∂
+
Ψ ∂
+

ψ ∂
r
Ze
E
r r r
dr r
r
m
h
*.+
Seperti apa yang telah kita lakukan pada tin)auan sumur tiga dimensi xyz, kita tuliskan
(ungsi gelombang dalam koordinat bola sebagai
) ( ) ( ) ( R ) , , ( ϕ Φ θ Θ = ϕ θ ψ r r */+
Gb.4.1. Koordinat bola dengan inti atom di titik asal.
r θ
ϕ
x
y
z
elektron
inti atom
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ /11

dengan 0, Θ, dan Φ adalah (ungsi-(ungsi dari satu peubah sa)a, berturut-turut r, θ, dan ϕ.
1ita masukkan turunan-turunan parsial */+ ke *.+ kemudian kita kalikan dengan ) , , ( /
2
ϕ θ ψ r r
, maka akan kita peroleh
0
4
sin
1 cot 1 R
R
2 R
R 2
2
0
2
2
2
2 2
2
2
2 2 2
=
|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|
ϕ ∂
Φ ∂
θ Φ
+
θ ∂
Θ ∂
Θ
θ
+
θ ∂
Θ ∂
Θ
+

+


r
r
e
E
dr
r
r
r
m
h
*2+
0uas kiri */.2+ dapat kita kelompokkan dalam suku-suku yang mengandung peubah r dan
yang tidak, sehingga */.2+ dapat dituliskan men)adi
0
sin
1 cot 1
2 4
R
R
2 R
R 2
2
2
2 2
2 2
2
0
2
2
2 2 2
=
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
ϕ ∂
Φ ∂
θ Φ
+
θ ∂
Θ ∂
Θ
θ
+
θ ∂
Θ ∂
Θ
+
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|

+


m
r
r
e
E
dr
r
r
r
m
h h
*3+
Energi Elektron
$nergi elektron terkait dengan besar momentum sudutnya akan tetapi tidak dengan
arah momentum. #da satu kondisi di mana momentum tidak memiliki arah tertentu, yaitu
kondisi simetri bola. !alam kondisi ini (ungsi gelombang tidak merupakan (ungsi θ dan ϕ
dan hal ini akan ter)adi )ika suku kedua ruas kiri *3+ tidak memiliki peran sehingga dapat kita
katakan sebagai bernilai nol. !alam keadaan demikian kita memiliki persamaan4
0
4
R
R
2 R
R 2
2
0
2
2
2 2 2
=
(
(
¸
(

¸

|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|

+


r
r
Ze
E
dr
r
r
r
m
h
*5+
%ika *5+ kita kalikan dengan
2
/ r R maka akan kita peroleh
0 R
4
R 2 R
2
0
2
2
2 2
=
|
|
¹
|

\
|
πε
+ +
|
|
¹
|

\
|


+


r
Ze
E
r r
r
m
h
*6+
%ika kedua ruas *6+ kita kalikan dengan
2
/ 2 h mr dan kita kelompokkan suku-suku yang
berkoe(isien konstan akan kita peroleh
0 R
2 R
R
4
R
2
2 2
2
2
0
2
=
|
|
¹
|

\
|
+


+
|
|
¹
|

\
|
πε
+


h h
mE
r
r
mZe
r
*7+
Salah satu keadaan agar persamaan *7+ terpenuhi untuk semua nilai r adalah
0 R
4
R
2
0
2
=
πε
+


h
mZe
r
*18.a+
dan 0 R
2 R
2 2
2
= +


h
mE
r
*18.b+
"asing-masing persamaan pada *18+ dapat diselesaikan secara terpisah tetapi dengan
ketentuan bahwa solusi dari persamaan pertama harus pula merupakan solusi dari
persamaan kedua. 9entuk solusi adalah
sr
e A
1 1
R = dengan
2
0
2
4 h πε
− =
mZe
s , yang )uga harus
memenuhi 0
2
2
2
= +
h
mE
s . !ari sini kita peroleh (ormulasi untuk E
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ ./11

2 2
0
2
4 2
2
2
0
2 2
32 4
2
h h
h
ε π
− =
|
|
¹
|

\
|
πε
− − =
e mZ mZe
m
E *11+
:nilah nilai E yang harus dipenuhi agar bentuk (ungsi gelombang yang merupakan solusi
persamaan *18.a+ )uga merupakan solusi persamaan *18.b+.
Probabilitas Keberadaan Elektron
&ungsi gelombang berlaku untuk 8 ; r ; ∞. ,robabilitas keberadaan elektron dalam
selang ini dapat dicari melalui perhitungan probabilitas keberadaan elektron dalam suatu
“volume dinding< bola yang mempunyai )ari-)ari r dan tebal dinding ∆r. !i dalam =olume itu
probabilitas keberadaan elektron adalah
r s
e
e r A r r P
1
2 2
1
2
1
2
1
R 4 = ∆ π = *1+
dengan 0
1
adalah (ungsi gelombang yang diperoleh pada pemecahan persamaan *7+ yang
)uga memberikan relasi *11+. 'b.. memperlihatkan kur=a 0
1
dan P
e1
terhadap r
dinormalisasikan.

'b.. &ungsi gelombang dan probabilitas keberadaan electron terhadap r.
,erhatikan bahwa kur=a-kur=a pada 'b./.. dinormalisasikan sehingga nilai
maksimum 0
1
maupun P
e1
adalah 1. >ilai-nilai maksimum sesungguhnya dapat
diperoleh dengan memasukkan besaran-besaran (isis pada persamaan
sr
e A
1 1
R =
dengan
2
0
2
1
4 h πε
− =
mZe
s , dan
r s
e
e r A r r P
1
2 2
1
2
1
2
1
R 4 = ∆ π = . >ilai s
1
dalam hal ini adalah
-16,6../ × 18
7
. %ika 0
1maks
? 1 *pada r ? 8+ maka P
emaks
? /.56×18
-..
pada r ? 8,2 @.
1ur=a ini menun)ukkan probabilitas maksimum ada di sekitar suatu nilai r
8
sedangkan
di luar r
8
probabilitas ditemukannya elektron dengan cepat menurun. Hal ini berarti bahwa
keberadaan elektron terkonsentrasi di sekitar )ari-)ari r
8
. :nilah struktur atom yang memiliki
hanya satu elektron di sekitar inti atomnya dan inilah yang disebut status dasar atau ground
state. $nergi elektron pada status ini diberikan oleh persamaan *11+, yang )ika kita masukkan
nilai-nilai e, m, h, dan Z ? 1 untuk atom hidrogen, akan kita dapatkan nilai
18
0
10 18 , 2

× − = E % atau 6 , 13
0
− = E eA *1.+
%ari-)ari r
8
dapat dicari melalui di(erensiasi *1+ yang disamakan dengan nol yang akan
memberikan.
528 , 0
4 1
2
0
2
1
0
=
ε π
= − =
m e
s
r
h
@ */.1/+
0.00
0.50
1.00
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
r [Å]
R
1



P
e1



r
0



Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ //11

,ada model atom 9ohr, inilah )ari-)ari dari orbital pertama yang dikemukakan oleh
9ohr dan disebut )ari-)ari atom 9ohr. ,ada teori kuantum )ari-)ari ini adalah posisi di mana
elektron paling mungkin ditemukan. !engan *1/+ ini maka (ungsi gelombang dapat ditulis
sebagai
nilai no
0 1
/
1 1 1
R
r r r s
e A e A

= = *12+
&ungsi gelombang ini mempunyai satu titik simpulB titik simpul ini terletak di ∞ = r , dan
gelombang ini memberikan tingkat energi yang pertama yaitu E
8
.
1ita ingat bahwa dalam tin)auan satu dimensi, aplikasi persamaan Schrödinger untuk
elektron di dalamn sumur potensial menun)ukkan bahwa ada keterkaitan antara tingkat
energi dengan )umlah simpul (ungsi gelombang yaitu )umlah titik di mana (ungsi gelombang
bernilai nol. !alam tin)auan tiga dimensi, pengertian mengenai titik simpul gelombang
tentulah berubah men)adi bidang di mana (ungsi gelombang bernilai nol. &ungsi gelombang
*12+ memiliki satu titik simpul yang terkait dengan tingkat energi E
8
. Solusi lain dari *5+
berupa (ungsi gelombang yang memiliki dua simpul, satu di r ? ∞ dan satu lagi misalnya di r ?
A

/B

dengan 0

berbentuk
( )
r s
e r B A
2
R
2 2 2
− = *13+
Solusi yang lain lagi adalah (ungsi gelombang yang memiliki tiga simpul, dengan bentuk
0
.

( )
r s
e r C r B A
3
R
2
3 3 3 3
+ − = *15+
Secara umum solusi yang dapat diperoleh akan berbentuk
r s
n n
n
e r L ) ( R = *16+
dengan n mulai dari 1.
,erhitungan untuk memperoleh solusi ini tidak kita bahasB kita hanya akan melihat
hasilnya sa)a. 9entuk (ungsi gelombang n ? 1 sampai dengan n ? . diperlihatkan pada 'b...

'b... 9entuk gelombang dengan satu, dua, dan tiga simpul.C1D
,robabilitas keberadaan elektron adalah
2
2
) ( 4
t s
n en
n
e r L r r P ∆ π = *17+
1ur=a probabilitas keberadaan elektron untuk ketiga bentuk (ungsi gelombang yang
diperlihatkan pada 'b... adalah seperti terlihat pada 'b./. 1ur=a-kur=a dalam gambar ini
dinormalisasikan agar integral dari nol sampai tak hingga bernilai satu.

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4
R
1
R
3
R
2
r[Å]

Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 2/11


'b./. 1ur=a probabilitas keberadaan elektron untuk (ungsi gelombang 0
1
, 0

, 0
.
. C1D.
"asing-masing (ungsi gelombang memberikan tingkat energi tertentu yang terkait dengan
0
n
yaitu
2
1
6 , 13
n
E
n
− = , dengan n ? 1, , ., *8+
:nilah tingkat-tingkat energi yang merupakan tingkat-tingkat energi utama pada atom dan
bilangan n disebut bilangan kuantum utama. Hal ini telah pula kita lihat pada model atom
9ohr.
Momentum Sudut
Sebagaimana telah kita lihat, bilangan kuantum utama n yang terkait dengan tingkat
energi utama, muncul pada aplikasi persamaan Schrödinger pada bagian yang merupakan
(ungsi r. ,ada benda yang bergerak, selain energi kita )uga mengenal momentumB keduanya
adalah besaran-besaran gerak. %ika energi terkuantisasi, seharusnya momentum )uga
terkuantisasi. Hal ini akan kita lihat.
!alam persamaan Schrödinger, momentum sudut terkait dengan bagian (ungsi
gelombang yang tidak tergantung r yang berarti tidak tergantung dari potensial ) (r V . Besar
dan arah momentum sudut terkait dengan (ungsi gelombang yang merupakan (ungsi sudut
ϕ, θ.

!alam mekanika klasik, =ektor momentum sudut elektron yang beredar mengelilingi inti
atom dapat kita tuliskan sebagai *Lihat 'b.2+.
p r L × =
!alam mekanika kuantum, kita memiliki operator momentum sudut, yaitu ∇ × − = r L h j .
Eperator ini dapat kita tuliskan sebagai
z y x
z y x j j
∂ ∂ ∂ ∂ ∂ ∂
− = ∇ × − =
/ / /
z y x
u u u
r L h h *1+
0
0, 2
0, 4
0, 6
0, 8
1
1, 2
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4
P
e1
P
e2
P
e3

L
r
p
Gb.5. Vektor Momentum Sudut
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 3/11

1omponen-komponen dari operator momentum ini adalah
|
|
¹
|

\
|





− =
y
z
z
y j
x
h L B |
¹
|

\
|





− =
x
z
z
x j
y
h L B
|
|
¹
|

\
|





− =
x
y
y
x j
z
h L */.+
!ari hubungan-hubungan dalam koordinat bola
ϕ θ = cos sin r x , ϕ θ = sin sin r y , cos θ = r z
kita dapat memperoleh
0 ; cos sin ; sin sin =
ϕ ∂

= ϕ θ =
ϕ ∂

− = ϕ θ − =
ϕ ∂
∂ z
x r
y
y r
x

sehingga
y
x
x
y
z
z
y
y
x
x


+


− =


ϕ ∂

+


ϕ ∂

+


ϕ ∂

=
ϕ ∂


dan operator L
z
pada *+ dapat dituliskan
ϕ ∂

− = h j
z
L *.+
,ernyataan *.+ ini bersi(at umum. Sumbu z bisa dipilih pada arah manapun dari posisi inti
atom yang berada di titik asal. Eleh karena itu dapat dikatakan bahwa operator momentum
sudut pada arah manapun, adalah
ϕ ∂

− h j dengan ϕ adalah sudut yang diukur sekeliling
arah tersebut. %ika operator L
z
beker)a pada bagian (ungsi gelombang Φ yang hanya
tergantung dari ϕ, maka dapat kita tuliskan
) ( ) ( ) ( ϕ Φ
ϕ ∂

− = ϕ Φ = ϕ Φ h j L
z z
L */+
!alam relasi */+, untuk suatu Φ*ϕ+ tertentu terdapat
z
yang merupakan nilai konstanB
Φ*ϕ+ yang memberikan nilai L
F
konstan tersebut disebut (ungsi proper dan
z
adalah nilai
proper!nya. !ari */+ kita dapatkan persamaan
) ( ) ( ϕ Φ = ϕ Φ
ϕ ∂

l
jm *2+
dengan
h
z
l
L
m = . ,ada persamaan *2+ turunan suatu (ungsi sama dengan suatu nilai
konstan kali (ungsi itu sendiriB solusi dari *2+ dapat kita duga berbentuk (ungsi eksponensial
ϕ
= ϕ Φ
l
jm
Ae ) ( *3+
1arena si(at periodiknya maka
) 2 ( π + ϕ ϕ
=
l l
jm jm
e e dan haruslah 1
2
=
π
l
m j
e . Hal ini berarti
bahwa m
l
harus bernilai bulat positi( ataupun negati(, termasuk nol. %adi
dst ..... 2 , 1 , 0 ± ± =
l
m *5+
>ilai A pada *3+ dapat kita peroleh melalui normalisasiB probabilitas ditemukannya elektron
pada kisaran sudut antara 8 sampai π adalah satu. %adi

π
= ϕ Φ Φ
2
0
*
1 d , sehingga
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 5/11

( )( )
∫ ∫
π π
ϕ − ϕ +
= π = ϕ = ϕ
2
0
2 2
2
0
1 2 A d A d Ae Ae
l l
jm jm

%ika A bernilai nyata maka π = 2 / 1 A . !engan demikian maka (ungsi proper *yang
dinormalisir+ dari
z
pada */+ adalah
ϕ
π
= ϕ Φ
l
jm
e
2
1
) ( dengan dst ..... 2 , 1 , 0 ± ± =
l
m *6+
dan nilai proper
h
l z
m L = *7+
0elasi ini menun)ukkan bahwa komponen z dari momentum sudut adalah
terkuantisasi, dan hal ini bersi(at umum. Ganpa mengetahui komponen yang lain, kita dapat
mengatakan bahwa arah momentum sudut terkuantisasi karena sudut yang dibentuk oleh
=ektor momentum L dengan sumbu z tidaklah sembarang melainkan ditentukan oleh
bilangan bulat m
l
. 9agaimanakah dengan besar momentumH
1ita tidak menelusuri lebih lan)ut persamaan yang terkait dengan momentum ini akan
tetapi hanya akan melihat hasil yang telah diperoleh dalam analisis teoritis maupun
eksperimental. Hasilnya adalah bahwa besar momentum sudut )uga terkuantisasi.
( )
2 2
1 h + = l l L *.8+
dengan .... 3, 2, , 1 , 0 = l bilangan bulat positi(
!engan demikian maka momentum sudut ditentukan oleh dua macam bilangan bulat, yaitu
l yang menentukan besar momentum sudut, dan m
l
yang menentukan komponen z
momentum sudut yang bermakna arah momentum sudut. >ilai m
l
tidak akan melebihi nilai l
sebab )ika hal itu ter)adi
z
akan lebih besar dari , suatu hal yang tak dapat diterima. >ilai l
dan m
l
yang mungkin adalah sebagai berikut4
dst 2 , 1 , 0 2
1 , 0 1
0 0
± ± = ⇒ =
± = ⇒ =
= ⇒ =
l
l
l
m l
m l
m l
*.1+
9ilangan bulat l dan m
l
adalah bilangan-bilangan kuantum untuk momentumB l *yang
menentukan besar momentum+ disebut bilangan kuantum momentum sudut, atau bilangan
kuantum azimuthalB m
l
*yang menentukan arah momentum sudut+ disebut bilangan
kuantum magnetik. 9ilangan kuantum l dinyatakan dengan simbol huru( untuk
menghindarkan kerancuan dengan bilangan kuantum utama. Simbol huru( yang digunakan
adalah seperti terlihat pada Gabel-1.
Gabel-1. Simbol Huru( Intuk Status "omentum Sudut
bilangan kuantum l 8 1 . / 2
simbol s p d " g h
!alam mekanika klasik momen sudut dibawah pengaruh gaya sentral mempunyai nilai
dan arah konstan. #kan tetapi dalam mekanika kuantum tidaklah mungkin untuk
mengetahui secara eksak lebih dari satu komponen momentum sudut. Eleh karena itu )ika

z
diketahui,
x
dan
y
hanya dapat diketahui dalam ketidakpastian
y x
L L ∆ ∆ dan sesuai
dengan relasi
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 6/11

2
2
z
y x
L
L L
h
≥ ∆ ∆ *.+
0elasi *.+ ini mirip dengan relasi ketidakpastian posisi-momentum dan energi-waktu.
!engan demikian maka mengenai momentum sudut kita hanya dapat mengetahui
besarnya, L , dan komponen-z-nya,
z
. Eleh karena itu )ika kita menggambarkam
momentum sudut ini kita dapat menggambarkan besar dengan arah yang hanya
ditentukan oleh sudut yang dibentuk oleh =ektor L dengan sumbu z, seperti terlihat pada
'b.3.

Bilangan Kuantum
,embahasan kita sampai kepada kesimpulan bahwa ada tiga bilangan kuantum.
9ilangan kuantum yang pertama adalah bilangan kuantum utama, n, yang menentukan
tingkat energiB bilangan kuantum yang kedua adalah bilangan kuantum momentum sudut,
atau bilangan kuantum azimuthal, lB dan yang ketiga adalah bilangan kuantum magnetik, m
l
.
Setiap tingkat energi yang ditentukan oleh n, terdapat n momentum sudut yang memiliki
energi yang sama, dengan nilai l mulai dari l ? 8 sampai l ? *n J 1+. Status momentum ini
dinyatakan sebagai ns untuk l ? 8, np untuk l ?1, nd untuk l ? dst.
>ilai l ? 8 memberikan kondisi simetri bola yang disebutkan pada awal pembahasan energi
elektron, atau dengan kata lain status s memberikan simetri bola. ,ada status p *l ? 1+ ada
tiga (ungsi sudut yang menyatakan tiga kemungkinan arah momentum sudut yang terkait
dengan m
l
? 8, +1, dan −1. Intuk status d *l ? + ada lima (ungsi sudut yang menyatakan lima
kemungkinan arah momentum sudut, terkait dengan m
l
? 8, ±1, ± dan seterusnya. Intuk n
yang sama, semua elektron dengan status momentum sudut yang berbeda memiliki energi
yang sama. #kan tetapi dalam teori yang lebih cermat yang memperhitungkan pengaruh lain
seperti relati=itas, status momentum sudut yang berbeda pada n yang sama memiliki energi
yang berbeda walaupun perbedaan energi antara status momentum di n yang sama ini
sangat kecil.
'b.5. men)elaskan perbedaan pernyataan tingkat energi atom hidrogen menurut model
atom 9ohr dan pernyataan tingkat energi pada perhitungan yang lebih cermat.



L
θ
x
y
z
Gb.6. Momentum Sudut
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 7/11


'b.5. Gingkat-tingkat energi atom hidrogen menurut 9ohr dan perhitungan yang
lebih cermat. C3D.
Spin Elektron
#pabila seberkas atom ber-elektron tunggal melintasi medan magnet tak homogen,
arah dan besar gaya pada atom tergantung dari perbedaan arah antara dipole magnet pada
atom dengan arah medan magnet. %ika arah dipole magnet atom paralel dengan arah
medan magnet, atom bergerak kearah medan magnet yang lebih tinggi. %ika dipole magnet
atom antiparalel dengan arah medan magnet, atom bergerak ke arah medan magnet yang
lebih kecil. 'e)ala ini tetap ter)adi walaupun atom berada pada ground state di mana
momentum orbitalnya bernilai nol *l ? 8+, yang seharusnya tidak terpengaruh oleh medan
magnet. 'e)ala ini di)elaskan dengan pengertian spin elektron. 'agasan mengenai spin
elektron ini pertama kali dikemukakan oleh Ihlenbeck untuk men)elaskan perilaku tertentu
dari atom yang memiliki elektron tunggal. ,en)elasan tentang spin elektron tidak kita
bicarakan lebih )auh.
Transisi Elektron Dalam Atom
!engan tersedianya banyak tingkat energi dalam satu atom, maka dimungkinkan
ter)adinya transisi *perpindahan+ elektron dari satu tingkat energi ke tingkat energi yang
lain, )ika keadaan memungkinkan. !alam menin)au transisi *perpindahan status+ elektron,
perlu diperhatikan kenyataan bahwa setiap tingkat energi memiliki beberapa status
momentum. Gransisi elektron ini diikuti dengan emisi ataupun absorbsi photon, tergantung
dari apakah elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih
rendah atau sebaliknya. ,hoton yang di-emisi-kan ataupun yang di-absorbsi dalam proses
transisi ini )uga memiliki momentum. 1arena dalam proses transisi elektron prinsip
konser=asi momentum tetap harus dipenuhi, maka terdapat kaidah transisi. Intuk gerakan
yang dipengaruhi gaya sentral, kaidah seleksi transisi elektron adalah
1 , 0 , 1 ± = ∆ ± = ∆
l
m l *..+
,rinsip konser=asi momentum sudut dan aturan pen)umlahan momentum sudut
sesungguhnya memperkenankan transisi 1 , 0 ± = ∆l . #kan tetapi hal lain *paritas (ungsi
gelombang+ tidak memungkinkan ter)adinya perpindahan dengan 0 = ∆l .
-16
0
0 1 2 3 4 5 6
1 2 3 4 5
n :
−13,6
−3,4
−1,51
E
n
e
r
g
i

t
o
t
a
l


[
e
V
]

Bohr
bilangan kuantum utama
2s, 2p
1s
3s, 3p, 3d
lebih cermat
Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 18/11

"enurut kaidah seleksi *..+ transisi elektron bisa ter)adi misalnya
- dari status p ke 1s, dari .s ke p tetapi tidak dari .s ke s
- dari .p ke s tetapi tidak dari .p ke p
- dari /d ke .p, dari /d ke p
- dari /p ke 1s , dari .p ke 1s dst.
Status 1s adalah satu-satunya status yang berada di bawah status s, namun transisi dari s
ke 1s tidak diperkenankan. Eleh karena itu status s disebut status metastabil.
Gelah disebutkan bahwa status s *l ? 8+ tidak terpengaruh oleh medan magnet, sedangkan
status p, dibawah pengaruh medan magnet yang kuat terpecah men)adi tiga status sesuai
dengan m
l
? +1, 8, dan −1. Eleh karena itu transisi p ke s merupakan transisi dengan tiga
kemungkinan, yaitu transisi dari m
l
? 8 ke m
l
? 8 yang ter)adi dengan (rekuensi aslinya, dan
dua kemungkinan lain yaitu transisi dari m
l
? ±1 ke m
l
? 8 yang ter)adi dengan perbedaan
(rekuensi
Hz 10 40 , 1
10
B
h
B
f
B
× =
× µ
± = ∆ *./+
dengan
e
B
m
e
2
h
= µ adalah magneton 9ohr.




Darpublic www.darpublic.com
Sudaryatno Sudirham, “Aplikasi Persamaan Gelombang Schrodinger “ 11/11

Beberapa Konstanta Fisika
1ecepatan rambat cahaya c .,88 × 18
6
meter / detik
9ilangan #=ogadro #
8
3,8 × 18
.
molekul / mole
1onstanta gas $ 6,. )oule / *mole+*
o
1+
1onstanta ,lanck h 3,3. × 18
−./
)oule-detik
1onstanta 9oltFmann k
B
1,.6 × 18
−.
)oule /
o
1
,ermeabilitas µ
8
1,3 × 18
−3
henry / meter
,ermiti=itas ε
8
6,62 × 18
−1
(arad / meter
"uatan elektron e 1,38 × 18
−17
coulomb
"assa elektron diam m
8
7,11 × 18
−.1
kg
"agneton 9ohr µ
9
7,7 × 18
−/
amp-m

Pustaka
*berurut sesuai pemakaian+
1. Kbigniew ! %astrFebski, “%he #ature And Properties &" Engineering
'aterials(, %ohn Liley M Sons, :S9> 8-/51-3.37.-, 1765.
. !aniel ! ,ollock, “Physical Properties o" 'aterials "or Engineers(, Aolume :,
N0N ,ress, :S9> 8-6/7.-388-3, 176
.. Lilliam '. "o((att, 'eorge L. ,earsall, %ohn Lul(, “%he Structure and
Properties o" 'aterials(, Aol. : Structure, %ohn Liley M Sons, :S9> 8 /51
83.62, 1757.
/. "arcelo #lonso, $dward %. &inn, “)undamental *niversity Physics(,
#ddison-Lesley, 175.
2. 0obert ". 0ose, Lawrence #. Shepard, %ohn Lul(, “%he Structure and
Properties o" 'aterials(, Aol. :A $lectronic ,roperties, %ohn Liley M Sons,
:S9> 8 /51 83.66 3, 1757.
3. Sudaryatno Sudirham, ,. 'omes de Lima, 9. !espaO, N. "ayouO, “Partial
Synthesis o" a +ischarge!E""ects &n a Polymer ,haracterized By %hermal
Stimulated ,urrent< makalah, Non(. on 'as !isharge, EO(ord, 1762.
5. Sudaryatno Sudirham, -$.ponse Electri/ue d0un Polyimide Soumis 1 une
+.charge uminescente dans l0Argon(, !esertasi, I>,G, 1762.
6. Sudaryatno Sudirham, -Analisis $angkaian istrik(, 9ab-1 dan Lampiran-::,
,enerbit :G9 88, :S9> 757-777-2/-..
7. L. Gillar Shugg, “2andbook o" Electrical and Electronic 3nsulating
'aterials(, :$$$ ,ress, 1772, :S9> 8-568.-18.8-3.
18. !aniel ! ,ollock, “Physical Properties o" 'aterials "or Engineers(, Aolume
:::, N0N ,ress, :S9> 8-6/7.-388-, 176.
11. %ere H. 9rophy, 0obert ". 0ose, %ohn Lul(, %he Structure and Properties o"
'aterials, Aol. :: Ghermodynamic o( Structure, %ohn Liley M Sons, :S9> 8
/51 83.63 P, 1757.
1. L. Solymar, !. Lalsh, “ectures on the Electrical Properties o" 'aterials(,
EO(ord Scie. ,ublication, :S9> 8-17-62317-P, 1766.
1.. !aniel ! ,ollock, “Physical Properties o" 'aterials "or Engineers(, Aolume
::, N0N ,ress, :S9> 8-6/7.-388-/, 176.
1/. '. 9ourne, N. 9oussel, %.%. "oine, “,himie &rgani/ue(, Nedic/ &erdinand
>athan, 176..
12. &red L. 9illmeyer, %r, “%extbook o" Polymer Science<, %ohn Liley M Son,
176/.