You are on page 1of 7

I.

DEFINISI Anogenital warts (nama lain dari Genital warts, Condylomata acuminata, Condyloma) adalah lesi proliferatif benigna yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV) tipe 6 dan 11, yang ditemukan di lebih dari 95% lesi.[1]

Genital Warts biasanya asimptomatik dan terdiri dari papula papilomatous atau nodul pada alat kelamin, perineum dan anus. Infeksi HPV mengakibatkan perkiraan sekitar 11% dari kejadian kanker di dunia pada wanita. HPV-16 adalah jenis yang paling umum di deteksi pada kanker serviks dan bersamaan dengan tipe 18,31,33 dan 45 telah diklasifikasikan sebagai karsinogen kelas I. Genital warts merupakan 2 bentuk utama dari: Condyloma acuminata dan Condyloma gigantea, yang dikenal sebagai tumor BuschkeLöwenstein.[2] Kasus tumor Buschke-Löwenstein jarang ditemukan, pertumbuhannya agresif berbentuk seperti kutil merupakan karsinoma veruka. Tidak seperti tipe HPV yang mengakibatkan karsinoma genital, tumor ini biasanya disebabkan oleh HPV-6. Sering terjadi pada glans atau prepusium pada pria yang tidak disirkumsisi.[3]

II. ETIOLOGI Genital warts diakibatkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV) dan merupakan salah satu yang sering ditemukan pada penyakit menular seksual. Utamanya disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11.[2] Pada anogenital warts sering dikaitkan dengan co-infeksi HPV yang beresiko tinggi seperti HPV tipe 16. Genital warts menular melalui hubungan seksual, dengan persentase transmisi mencapai hingga 60% diantara pasangan.[1]

III. PATOGENESIS Penularan HPV terjadi terutama melalui kontak kulit-ke-kulit. Sel basal pada epitel skuamosa berlapis diduga terinfeksi oleh HPV. Tipe sel lainnya tampak relatif resisten terhadap HPV. Hal ini diasumsikan bahwa siklus replikasi HPV dimulai dengan masuknya virus ke dalam sel-sel dari epitel lapisan basal. Ada kemungkinan bahwa infeksi HPV dari lapisan basal memerlukan abrasi ringan atau mikro trauma pada epidermis. Setelah masuk ke dalam sel host, DNA HPV bereplikasi untuk berpindah ke permukaan epitel. Dalam lapisan basal, replikasi virus dianggap tidak produktif, dan virus menetap sebagai low-copy

1

number episom dengan menggunakan mesin replikasi DNA host untuk mensintesis DNA-nya dengan rata-rata sekali per siklus.[4]

IV. DIAGNOSIS Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan ringan. Keluhan yang paling sering adalah terdapatnya benjolan atau lesi pada perianal. Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan tanpa gejala. Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan, atau dispaurenia.[1] Lesi sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan seksual dan mungkin soliter tetapi sering akan ada 5 sampai 15 lesi dari 1-5 mm diameter. Kutil dapat menyatu menjadi plak yang lebih besar dan ini lebih sering terlihat pada pasien dengan imunosupresi dan diabetes. Pada pria yang tidak ada riwayat sirkumsisi, rongga prepusium (glans penis, sulkus koronal, frenulum) merupakan bagian yang paling sering terkena, sementara pria yang telah di sirkumsisi biasanya terdapat pada batang penis. Kondiloma akuminata pada pria dapat juga terjadi pada orificium uretra, pubis, skrotum, pangkal paha, perineum, daerah perianal, dan anus. Pada perempuan, lesi dapat terjadi pada labia minora, labia mayora, pubis, klitoris, orificium uretra, perineum, daerah perianal, anus, introitus, vagina, dan ektocerviks.[1]

Anogenital warts dapat bervariasi secara signifikan dari warnanya, dari merah muda ke salmon merah, putih keabu-abuan sampai coklat (lesi berpigmen). Kondiloma Akuminata umumnya berupa lesi yang tidak berpigmen. Lesi berpigmen sebagian besar dapat terlihat pada labia mayora, pubis, selangkang, perineum, dan daerah perianal.[1]

V. DIAGNOSIS BANDING 1. Veruka Vulgaris Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama dengan warna kulit Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor, walaupun penyebarannya dapat ke bagian lain tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung.[5] 2. Kondiloma Lata Sifilis stadium II, klinis berupa plakat yang erosive, ditemukan banyak Spirochaeta pallidum.[5] Lesi kondiloma terkait dengan sifilis sekunder atau disebut "kondiloma lata." Kondiloma lata adalah lesi yang terletak di daerah lipatan tubuh yang lembab kemudian bergabung membentuk permukaan datar, lesi seperti kutil, terutama di sekitar alat kelamin dan anus.. Lesi kemungkinan 2

menjadi hipertrofik dan membentuk lesi yang lembut, seperti jamur merah dengan massa 1-3 cm. Berbeda dengan kondiloma akuminata, kondiloma lata lebih berbasis luas, seperti terkikis, permukaan datar, dan dapat berkelompok. Pemeriksaan permukaan eksudat menggunakan mikroskop lapang gelap akan menunjukkan tipikal spirochetes dan tes serologi untuk sifilis (VRDL, RPR) akan menunjukkan hasil positif.[6]

Gambar 1 Kondiloma lata (Sifilis sekunder)

3. Karsinoma sel skuamosa Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah, dan berbau. Kutil ini terutama terdapat pada anakm tetapi juga pada dewasa dan orang tua.[6]

Gambar 2 Karsinoma sel skuamosa: perineum Pria dengan HIV/AIDS dan tumor pada perineum. Pemeriksaan histology menunjukkan Karsinoma sel skuamosa[7]

3

VI. PENATALAKSANAAN Tidak ada agen virus-spesifik yang efektif untuk mengobati, sehingga sering terjadi rekurens. Tidak ada bukti bahwa dengan terapi dapat mengurangi penularan pada pasangan seksual atau mencegah perkembangan displasia atau kanker.[3] Berikut beberapa terapi yang dapat diberikan:

1. Cryosurgery + nitrogen cair. Oleskan dengan kapas atau cryospray. Ulangi setiap minggu atau dua minggu. Terapi ini relatif murah, tidak memerlukan anestesi, dan tidak mengakibatkan jaringan parut.[7]

2. Podophyllin 10-25% Dalam senyawa tingtur benzoin. Batasi total volume larutan podophyllin yang digunakan untuk 0,5 mL atau 10 cm 2 per sesi. Cuci secara menyeluruh selama 1-4 jam. Obati <10 cm 2 per sesi. Ulangi setiap minggu jika diperlukan. Jika kutil bertahan setelah enam sesi, metode terapi lain harus dipertimbangkan. Podophyllin kontraindikasi selama kehamilan. Aplikasi berulang-ulang dapat menyebabkan iritasi.[7] 3. Trichloroacetic acid (TCA) or bichloroacetic acid bicarbonate (BCA)80–90% Hanya berlaku untuk kutil: powder dengan bedak atau natrium (baking soda) untuk menghilangkan asam yang tidak bereaksi. Ulangi setiap minggu jika diperlukan. Jika kutil bertahan setelah enam aplikasi, metode terapi lain harus dipertimbangkan. Operasi pengangkatan bisa dengan metode eksisi gunting tangential, eksisi shave tangensial, kuretase, atau elektrosurgikal. Electrodesiccation / elektrokauter sangat efektif dalam kerusakan jaringan yang terinfeksi HPV. Harus dilakukan hanya oleh dokter terlatih dalam penggunaan modalitas ini. Electrodesiccation merupakan kontraindikasi pada pasien dengan alat pacu jantung.[7] 4. 5-fluorouracil Cream Pemberian 5-fluorouracil cream (Carac, Efudex) bisa dipertimbangkan pada kasus kutil genital yang resisten terhadap semua terapi. Cream dioleskan dengan tipis 1-3x/minggu dan dicuci setelah 3-10 jam, tergantung pada sensitivitas lokasi kutil. Diberikan selama beberapa minggu bila perlu.[8] 5. Imiquimod Meningkatkan efek dan menurunkan rate rekurens dengan memicu pertahanan tubuh penderita. Imiquimod mempunyai efek immunomodulator dan tidak berpengaruh pada destruksi lesi, mempunyai antiviral yang menginduksi cytokine, termasuk interferon, tumor nekrosis factor, 4

interleukin IL-6, IL-8 dan IL-12. Imiquimod meningkatkan aktifikas cell mediated sitolitik terhdapat HPV. Cream diberikan setiap 2 hari sekali pada saat akan tidur, maksimal diberikan selama 16 minggu. Pada pagi hari bagian tubuh yang telah diberikan imiquimod harus dibersikan.[8]

Gambar 2 Condylomata acuminata: penis
Lesi dengan riwayat 3 bulan pada pria usia 25 tahun. Multiple papul berbentuk kol pada batang penis dan kulit. [7]

Gambar 3 Kondiloma Akuminata: vulva
Papul dengan konsistensi lunak, multiple dan berwarna merah muda-kecoklatan[7]

5

Gambar 4 Kondiloma Akuminata: Serviks Uterina
Tepi tajam, warna keputihan, plak dengan permukaan rata menyatu ke sekitarnya[7]

6

Daftar Pustaka
1. Lacey, C. J. N., et al. (2011). "2011 European Guideline for the Management of Anogenital Warts." IUSTI 2011 GW Guidelines V7(130911). 2. Bakardzhiev, I., et al. (2012). "Treatment of Condylomata Acuminata and Bowenoid Papulosis with CO2 Laser and Imiquimod." Journal of IMAB - Annual Proceeding (Scientific Papers) Vol. 18(book 1): 246-249. 3. James, W. D., et al. (2006). Andrew's Diseases of the Skin: Clinical Dermatology Tenth Edition, Elsevier Saunders. 4. Gomez, D. T. and J. L. Santos (2007). "Human Papillomavirus Infection and Cervical Cancer: Pathogenesis and Epidemiology." Communicating Current Research and Educational Topics and trends in Applied Microbiology: 680-688 5. Handoko, R. P. (2013). Pedikulosis. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. A. Djuanda, M. Hamzah and S. Aisah. Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 113-114. 6. 7. Anonymous, Condylomata Lata. Melbourne Sexual Health Centre, 2007. Wolff, K. and R. A. Johnson (2009). Fitzpatrick's Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies. 8. Habif, T.P., Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy 4th Edition. 2003(Chapter 12).

7