You are on page 1of 3

Refleksi Penataan Ruang Tahun 2013

Pencapaian Berdasarkan arahan prioritas bidang penyelenggaraan penataan ruang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2010-2014, arah kebijakan difokuskan kepada penyelenggaraan penataan ruang yang berkelanjutan melalui peningkatan kualitas rencana tata ruang, pengoptimalan peran kelembagaan, dan menjadikan rencana tata ruang sebagai acuan pelaksanaan pembangunan. Penataan ruang yang berkelanjutan dilaksanakan melalui beberapa program kegiatan, diantaranya penyelesaian peraturan perundangan sesuai amanat Undang-Undang Penataan Ruang; sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang; dan peningkatan kesesuaian pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang. Sepanjang tahun 2013, telah ditetapkan berbagai peraturan perundangan di bidang penataan ruang sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, meliputi: 1. Peraturan PemerintahNomor 8 Tahun 2013 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Rencana Tata Ruang; 2. Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penyelesaian Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota; 3. Peraturan Daerah RTRW untuk 5 Provinsi (Jambi, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sulawesi Tengah), 60 kabupaten, dan 14 kota. Secara keseluruhan, hingga akhir tahun 2013 telah ditetapkan Perda RTRW untuk 19 Provinsi (Sulawesi Selatan, Bali, Lampung, DI Yogyakarta, NTB, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, NTT, Gorontalo, Sumatera Barat, Jambi, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sulawesi Tengah), 260 kabupaten, dan 70 kota. 4. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) baru dapat terselesaikan dan dibahas dalam forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) pada 4 (empat) kota yaitu DKI Jakarta, Serang, Yogyakarta, dan Malang. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan penyelesaian peraturan daerahnya. 5. Peraturan Daerah terkait Rencana Zoning Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) telah ditetapkan pada 3 Provinsi, 6 Kabupaten, dan 3 Kota. Selain penetapan peraturan perundangan, pada tahun 2013 juga telah dilakukan sinkronisasi antara peraturan penataan ruang dengan peraturan sektoral melalui kegiatan Lokakarya Penyelarasan Implementasi UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut kegiatan Lokakarya Nasional Implementasi RZWP-3-K yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah penyusunan Pedoman Integrasi Rencana Tata Ruang Matra Darat dan Matra Laut. Tahun 2013 juga menjadi tahun kelima implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Dalam rangka menjaga kesesuaian rencana tata ruang dengan kebutuhan pembangunan yang terus berkembang, maka perlu dilakukan review terhadap muatan peraturan tersebut. Pada tahun 2013, telah

dimulai inisiasi peninjauan kembali PP RTRW Nasional tersebut. Kick off meeting dilaksanakan melalui penyelenggaraan Sarasehan Nasional dalam rangka review RTRW Nasional dengan tema “Kilas Balik 5 Tahun Implementasi RTRWN sebagai Matra Spasial Pembangunan Nasional”. Selain itu, implementasi Peraturan Presiden (Perpres) No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur juga telah memasuki tahun ke 5 (lima) dan telah dimulai upaya peninjauan kembali terhadap perpres tersebut. Pada tahun 2013 juga dilakukan kegiatan Background Study Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional sebagai persiapan penyusunan RPJM Nasional periode Tahun 2015-2019. Studi tersebut mengidentifikasi isu strategis penataan ruang, meliputi: a) Belum efektifnya kelembagaan penyelenggaraan penataan ruang; b) Pemanfaatan dan pengendalian penataan ruang belum efektif; dan c) RTRW belum dijadikan acuan pembangunan berbagai sektor. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan pentingnya peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia.Hal ini kemudian juga tercantum dalam PP Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang. Masyarakat dapat berperan dengan berpartisipasi dalam tahap penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, untuk lebih mendekatkan tata ruang kepada masyarakat, telah diterbitkan Keputusan Presiden No 28 Tahun 2013 yang menetapkan tanggal 8 November sebagai Hari Tata Ruang Nasional. Dalam upaya peningkatan kesesuaian pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang, selama tahun 2013 forum BKPRN telah membahas dan memberikan rekomendasi penyelesaian konflik pemanfaatan ruang yang berkenaan dengan rencana pembangunan, antara lain: a) Perumahan non dinas prajurit TNI AD di Desa Tajur, Kab. Bogor; b) Sekolah Tinggi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik (STKKP) Indonesia Cerdas Unggul di Desa Hambalang, Kab. Bogor; c) Kawasan industri di Desa Tobat, Kab. Tangerang; d) Perumahan terpadu di Desa Sukawali, Kab. Tangerang; e) Rumah potong hewan dan penggemukan ternak sapi di Desa Benda, Kab. Tangerang; dan f) Jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Kabupaten Demak.

Permasalahan Utama Dari berbagai capaian yang telah diraih pada tahun 2013, terdapat beberapa kendala dan permasalahan terkait pelaksanaan penataan ruang, diantaranya: a. Masih diperlukan harmonisasi antarperaturan perundangan bidang penataan ruang; b. Belum optimalnya kapasitas kelembagaan (termasuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah/BKPRD) yang mencakup kuantitas dan kualitas sumber daya manusia di pusat dan daerah; c. Masih terbatasnya penyediaan sistem informasi dan data bidang tata ruang; d. Belum ada mekanisme yang dapat mengukur kinerja penataan ruang; e. Belum adanya sinkronisasi program pembangunan antarsektor dan antarwilayah yang mengacu kepada rencana tata ruang; f. Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal, mekanisme perizinan yang mengacu kepada RTRW, dan petunjuk pelaksanaan pemberian sanksi terhadap pelanggaran RTRW; dan

g. Penyusunan rencana tata ruang dan rencana rinci nya belum didasarkan pada kualitas dan kuantitas data yang memadai, peta dasar dan peta tematik yang termutakhirkan, serta Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria (NSPK) yang telah dilegalisasi. Rencana ke Depan Beberapa langkah penting dalam bidang penataan ruang pada tahun 2014, antara lain:  Penyusunan RPJMN 2015-2019 bidang tata ruang sebagai landasan dalam perencanaan pembangunan nasional 5 (lima) tahun mendatang  Penyusunan roadmap penyelesaian RTRW Provinsi, Kabupaten/Kota, dan RZWP3K;  Penyelesaian penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B)  Koordinasi penyelesaian peninjauan kembali PP No. 26 Tahun 2008 dan Perpres No. 54 Tahun 2008  Pelaksanaan peninjauan kembali Perda RTRW Provinsi, Kabupaten, dan Kota sebanyak 2 Provinsi, 12 Kabupaten, dan 1 Kota  Evaluasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang dalam meningkatkan fungsi pengawasan dalam penataan ruang yang didukung oleh SDM dan ketersedian NSPK  Melanjutkan upaya penyelesaian konflik pemanfaatan ruang  Fasilitasi proses sinkronisasi dan integrasi antara sistem perencanaan pembangunan dengan penataan ruang  Melakukan upaya penyelarasan implementasi peraturan perundangan bidang penataan ruang  Optimalisasi sistem informasi dan dokumentasi bidang tata ruang terpadu pusat dan daerah, termasuk mengembangkan situs Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) (www.bkprn.org), Pustaka Virtual Tata Ruang dan Pertanahan (scribd.com/tata ruang dan pertanahan), Portal Internet Tata Ruang dan Pertanahan, milis Tata Ruang dan Pertanahan, dan berbagai media lainnya.