LAPORAN

KERJA DRAINASE

DI SUSUN OLEH
NAMA

: MUZAMMIL

JURUSAN

: TEKNIK SIPIL

KELAS

: C1 /DIII

NIM

: 1322401058

PEMBIMBING

: RUHANA,ST.MT

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE TAHUN
2013/2014

1

LEMBARAN PENGESAHAN
Laporan Drainase ini disusun oleh YUSNI JAMAL (1322401064) Jurusan
Teknik Sipil, D III. Kelompok 3 (tiga). Dan laporan ini disusun untuk memenuhi
syarat-syarat pada kurikulum semester II (dua) Jurusan Teknik Sipil Politeknik
Negeri Lhokseumawe.

Lhokseumawe, 8 Maret 2014
Penulis

Muzammil
NIM . 1322401058
Pembimbing I

Pembimbing II

Ruhana,ST.MT

Armansyah Putra, SH

NIP. 19631115 199010 2 001

NIP. 19770528 199903 1 002

Mengetahui
Ka. Bengkel. Teknologi Sipil

Hanif, ST
NIP. 19660722 199011 1 001

2

KATA PENGANTAR
Assalam mualaikum wr. Wb.
Dengan mengucapkan bismillahirahmannirrahim syukur Alhamdulillah,
kita panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga
Penulis dapat mengikuti dan menyelesaikan Laporan Praktek DRAINASE ini.
Salawat beriring salam penulis sanjung sajikan kepada baginda Nabi besar SAW,
yang telah memncerdaskan umat hingga penulis mampu menyelesaikan Laporan
ini.
Laporan praktek kerja DRAINASE ini merupakan bagian dari hasil
praktekkan yang telah saya lakukan dibengkel Sipil selama 7 hari.
Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis menyadari adanya kekurangan
dan kesalaan baik dari segi penulisan, pembahasan, dan pengolahan data, maka
untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan penulisan laporan ini.
Sehubungan dengan selesainya penyusunan laporan ini, penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan dan bantuan dalam penyeleseaian laporan ini, maka dalam kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih kepada IBU RUHANA,ST.MT selaku
dosen pembimbing kami, serta teman-teman semua yang telah banyak membantu
dalam menyelesaikan laporan ini.
Demikian yang dapat penulis sampaikan dengan harapan semoga laporan
ini nantinya dapat bermamfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya,
semoga Allah, swt selalu melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua.

Lhokseumawe, 8 MARET 201
Penulis,
MUZAMMIL
NIM. 1322401058

3

DAFTAR ISI
LEMBARAN PENGESAHAN.............................................................................
i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................
ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................
iii
BAB I PEDAHULUAN
Latar Belakang........................................................................................
.................................................................................................................1
Ruang Lingkup........................................................................................
.................................................................................................................1
Perkembangan.........................................................................................
.................................................................................................................1
BAB II DASAR TEORI........................................................................................
3
2.1. pengertian...........................................................................................
...................................................................................................................3
2.2. Jenis Air Buangan...............................................................................
...................................................................................................................3
2.3. Klasifikasi Sistem Pembuangan air....................................................
...................................................................................................................3
2.4. Peralatan Yang Digunakan Untuk Kerja Drainase ............................
...................................................................................................................4
BAB III MENENTUKAN KEMIRINGAN DASAR SALURAN DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT UKUR BONING ROD.............................................
6
3.1 Pemasangan Stake Out dan Galian Tanah Saluran Terbuka..............
...................................................................................................................9
3.2 Pemasangan Riol Beton Setengah Lingkaran.....................................
15
3.3 Kelompok Alat Sanite .......................................................................
20
3.4 Bak Penampung (Septictank) ............................................................
22
BAB IV PENUTUP...............................................................................................
30
4.1 Kesimpulan ..................................................................................
............................................................................................................30

4

4.2 Saran ............................................................................................
............................................................................................................30
BAB IV DAFTAR PUSTAKA.............................................................................
31

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
Sebelum pembahasan tentang lembaran job sheet praktek kerja drainase
terlebih dahulu penulis uraikan sedikit tentang dasar teori teknik drainase. Pada
dasarnya sistem drainase yang kita jumpai ada beberapa jenis, diantaranya yaitu
drainase pertanian yang biasa digunakan untuk pengeringan lahan pertanian.
Drainase jalan raya berfungsi untuk menjaga kondisi jalan raya tidak tergenang air
hujan sehingga merusak badan jalan bahkan dengan genangan air ini akan
merusak kontruksi jalan raya itu. Drainase perkotaan berfungsi untuk
mengeringkan areal perkotaan dari air limbah rumah tangga dan air hujan yang
merupakan preoritas utama dalam memberikan pelayan kepada masyrakat kota.
Drainase gedung yang berfungsi untuk menjaga pengaliran air limbah gedung
secara baik dan memenuhi syarat kesehatan.
1.2 RUANG LINGKUP

5

Sistem drainase merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam
pembangunan gedung oleh karena itu perencanaan dan perancangan sistem
drainase haruslah dilakukan bersamaan dan sesuai dengan tahapan-tahapan
perencanaan dan perancangan gedung itu sendiri.
Perencanaan dan perancangan sistem drainase dimulai dengan rencana
konsep, rencana dasar, rancangan pendahuluan, dan gambar-gambar pelaksanaan,
dengan selalu memperhatikan koordinasi dan keserasian dengan perencanaan dan
perancangan element lainnya dalam gedung.
1.3 PERKEMBANGAN
Perkembangan tentang ilmu drainase ini sudah banyak memiliki kemajuan
yang sangat tinggi seperti system pembuangan ideal yang sering digunakan oleh
Negara-negara eropa dan Negara-negara maju.
Air limbah rumah tangga dibuang pada suatu tempat pengolahan limbah
yang khusus(water tritman plant) areal treatmeantini biasanya ditempatkan diluar
kota

disalurkan melalui pipa property drains ke pipa main sewer dan terus ke

pipa induk (pipa main out fall), lalu ke treatment plant dimana dari rumah
penduduk diolah sehingga memisahkan bahan organik lain lain diolah menjadi
pupuk organic sedangkan air disaring dan dibuang ke laut setelah melalui proses
normalisasi yang steril, yang aman terhadap ligkungan.

6

BAB II
DASAR TEORI
2.1 PENGERTIAN.
Drainase dalah suatu system jaringan instalasi air kotor dengan teknik
tertentu untuk menghindari pencemaran lingkungan yang keluar dari dalam tanah
dengan cara alami atau buatan. Drainase juga merupakan perekayasaan yang
berkembang melalui pemahaman-pemahaman mengenai jenis pemipaan, sifat
lokasi tanah yang digali untuk menahan pipa, membuat lubang control dan
septitank.
2.2 JENIS AIR BUANGAN
Jenis air buangan atau limbah baik yang mengandung kotoran manusia,
hewan, bekas tumbuhan dibagi menjadi 4 golongan :
1. Air kotor : yangberasal dari kloset, peturasan, bidet, dan air buangan yang
mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat-alat saniter lainnya.
2. Air bekas : air yang berasal dari bak mandi (bath tub), bak cuci tangan,
bak dapur dan sebagainya.

7

3. Air hujan : dari atap, halaman.
4. Air buangan :yang berasal dari pabrik, laboratorium rumah sakit, tempat
pemotongan hewan dan air buangan yang bersifat radioaktif.
2.3 KLASIFIKASI SISTEM PEMBUANGAN AIR
Sistem pembuangan air umumnya dibagi dalam bebrapa klasifikasi
menurut jenisair buangan, cara membuang air, dan sifat-sifat lain dari lokasi
dimana saluran itu dipasang.
1.Klasifikasi menurut jenis air buangan
 Sistem pembuangan air kotor
 Sistem pembuangan air bekas
 Sistem pembuangan air hujan
 Sistem pembuangan air khusus
 Sistem pembuangan air dapur
2. Klasifikasi menurut cara pembuangan air
 Sistem pembuangan air campuran
 Sistem pembuangan terpisah
 Sistem pembuangan tak langsung
3. Klasifikasi menurut cara pengaliran
 Sistem grafitasi
 Sistem bertekanan
4. Bak kontrol
Bak kontrol di pasang dimana pipa bawah tanah membelok tajam, berubah
diameternya, bercabang atau pada lokasi-lokasi yang mirip penempatan lobang
pembersih. Ukuran bak kontrol harus sesuai dengan ukuran pipa dan cukup besar
untuk memudahkan pembersihan. Pada dasar bak kontrol untuk pembuangan air
hujan dipasang tumpukan batu koral setabal 15cm atau lebih. Jarak antara bak
kontrol sebaiknya tidak lebih dari 120 kali diameter dalam pipanya. Dibawah ini
diperlihatkan contoh bak kontrol dengan pasangan batu bata.

8

2.4 PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK KERJA DRAINASE
2.4.1 ALAT UKUR DAN PENGATUR
1. meteran lipat
2. baja ukur
3. benang
4. waterpass
5. unting-unting
6. siku
7. meteran gulung
2.4.2 ALAT PEMUKUL DAN PEMUTAR
1. obeng
2. palu besi
3. palu kayu
4. palu kayu bundar
5. pembentk timah hitam
2.4.3 ALAT GALIAN TANAH DAN PASANGAN MANUAL
1. blincok
2. linggis
3. sekop runcing
4. sekop ujung rata
5. sendok semen
6. skrap
7. ruskam kayu

9

BAB III
MENETUKAN KEMIRINGAN DASAR SALURAN DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT UKUR BONING ROD
A. DASAR TEORI
Bila kita ingin membuat sebuah saluran baik terbuka atautertutup, maka
perlu terlebih dahulu diketahui kemana arah air yang akan dialirkan supaya air
yang akan dibuang mengalir. Lalu kita perlu menentukan perbaandingan
kemiringan dasar saluran yang akan dibuat.
Pelaksanaan praktek ini bertujuan bagaimana menentukan kemiringan
dasar saluran dengan menggunakan alat yang paling sederhana yaitu Boning Rod.
Alat ini terbuat dari papan yang berukuran lebar 7 cm, panjang horizontal 40 cm,
dan batang tegak 70 cm, dipaku berbentuk T dengan sudut 900
B. TUJUAN
1. Mampu menentukan kemiringan saluran dengan menggunakan alat6
boning rod secara baik dan benar.
2. mampu menggunakan boning rod secara benar.

10

3. membuat gari luru menggunakan patok kayu secara benar.
4. menetukan kemiringan dasar saluran dengan bidikan mata.
5. dapat menggunakan alat sesuai dengan fungsi.
C. DAFTAR ALAT DAN BAHAN
Alat yang dipakai adalah :
1. Metaran lipat
2. Meteran gulung panjang 50 M
3. slang plastik φ 12 mm
4. Gergaji potong
5. Kampak
6. Martil besar
7. Pensil
8. Siku-siku
9. Martil kecil
10. Boning rods

11

Bahan yang dipakai:
1. Kayu doken atau broti 5x7 cm (untuk patok)
2. Benang
3. paku 2 inchi
D. KESELAMATAN KERJA
1. Baca lembaran kerja terlebih dahulu
2. Pakailah pakaian kerja lengkap dengan safetynya
3. Tempatkan alat pda tempatnya
4. Gunakan alat sesuai fungsinya
5. Jangan memaksa alat, bila tumpul tajam kan terlebih dahulu
6. Jangan bersenda gurau ketika sedang bekerja
7. Pusatkan pikiran pada pekerjaan
8. Usahakan selang yang dipakai jangan berangin
9. Jangan menggunakan alat yang belum tahu cara penggunaannya
12

10. Tanyakan pada instruktur bila ada yang belum mengerti.
E. LANGKAH KERJA
1. Buat patok menggunakan kayu dolken atau balok broti ukuran 5x7 cm
dengan panjang 70 cm sebanyak 7 buah
2. Buat boning rood dengan papan lebar 7 cm panjang lengan horizontal 30
cm, lengan vertikal 70 cm, tebal papan 2 cm. paku kedua lengan tersebut
berbentuk T

dengan sudut 900 dipaku dengan keadaan kokoh seperti

gambar dibawahini:

30 cm
7 cm

70 cm

Gambar Boning Rod
3. Cari lokasi kerja yang leluasa dan cocok untuk praktek ini
4. Pasang 2 buah patok yaitu A dan B dengan jarak antara kedua patok
10,20m dengan ketinggian yang sama, tancapkan hingga kokoh
5. Levelkan kedua patok tersebut hingga benar-benar rata
6. Tentukan kemiringan dasar saluran dengan perbandingan kemiringan 1 :
40 bila menggunakan pipa beton
7. Hitung kemiringan dasar saluran dengan cara cara 1/40 x 10 m = 0,25/ 25
cm artinya beda tinggi antara patok A danB adalah 25 cm

13

8. Tandai patok B turun 25 cm dari kepala patok dan beri tanda dengan cara
digaris denan kata lain kepala patok C yurun 25 cmdari kepala payok A
9. Tancapkan patok C berjarak 20 cm dari patok B. benamkan hingga kepala
patok mencapai tand garis yang ada
10. Pasang patok pembagi antara patok A dan patok C dengan jarak masingmasing 2 m
11. Bidik dari patok A ke patok C dengan meletakan boning rood diatas patok
A dan C serta diatas patok pembagi yang disebut dengan patok 1,2,3,
dan4. pertama kali lakukan pembidikan untuk patok 1, bila patok 1 sudah
sejajar dengan patok A dan C maka lakukan pemindahan boning rood
pada patok berikutnya
12. Perlu diperatikan bahwa setiap setelah dilakukan pembidikan, patok di
pukul bila masih tinggi dari bidikan dan dinaikan bila patok sudah lewat
ditancapkan
13. Periksalah kekokohan patok agar tertancap baik dalam tanah.
14. Konsentrasikan pikiran anda pada pekerjaan utamakan keselamatan dan
jaga kekompakan sesama team kerja.
3.1 PEMASANAGAN STAKE OUT DAN GALIAN TANAH SALURAN
TERBUKA
A. TUJUAN.,
1. dapat memasang memasang stake out dan galian tanah untuk saluran tanah
secara baik dan benar.
2. mampu memasang stake out untuk saluran drainase sesuai dengan
kemiringan dasar saluran yang ditentukan secara benar.
3. dapat menggali tanah untuk saluran terbuka berdasarkan karakter tanah
yang digali dengan kemiringan talud yang cocok.
4. mampu menenytukan kemiringan dasar saluran dilapangan sesuai dengan
material yang dipakai.
5. menggunakan perlatan kerja secara benar dan sesuai dengan fungsinya.

14

B. DASAR TEORI :
Stake out merupaka papan duga (Bouwplank). Dingunakan untuk titik
pedoman yang menentukan letak pemasangan jalur pipa yang dilengkapi dengan
penentuan

arah

aliran

air

dan

penentuan

kemiringan

pemasangan

pipa/roil.sehingga dengan adanya stake out ini menjadi tolok ukur semua
pekerjaan yang dilaksanakan. Stke out dibuat dari papan yang berukuran lembar
1) cm, panjang berkisar 120 cm dipaku pada dua batang patok kayu dolken
ataupun balok broti 5x7cm dengan panjang patok 75 cm. Stke out dipasang pada
daerah hulu saluran dan dihilirnya, dengan pajang saluran menurut gambar kerja.
Galian tanah merupakan pekerjaan selanjutnya setelah stke out dipasang. Galian
tanah untuk saluran tersebut sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan pada
stake out, tanah digali mempuyai talud yanhg sesuai dengan karakter tanah. Bila
tanah cadas (keras) talud galian bisa tegak, namun bila tanah berpasi maka talud
ukuran dalam 1 juga ukuran miring seperti dibawah ini :

2

1
1

1

Tanah Cadas

Tanah Berpasir

Gambar : kemiringan talud
Sifat tanah dan karakteristiknya perku diketahui agar pada saat digali tidak terjadi
longsoran yang akan mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
C. DAFTAR ALAT DAN BAHAN:
Alat yang dipakai adalah :
1. Meteran lipat
2. Meteran gulung panjang 50 cm
3. Slang plastik φ 12 mm
4. Gergaji potong
5. Kampak

15

6. Martilbesar
7. Pensil
8. siku-siku
9. Martil kecil
10. Unting-unting
11. Cangkul
12. Skop
13. Pelangki.
Bahan yang dipakai:
1. Kayu dolken atau broti 5x7 cm (untuk patok)
2. Benang
3. Paku 2 inci
4. Papan meranti tebal 2 cm.
D. KESELAMATAN KERJA
1. Baca lembaran kerja (job sheet) terlebih dahulu sebelum bekerja
2. Pakailah pakaian praktek lengkap dengan sepatu safetynya
3. tempatkan alat pada tempatnya (tool box)
4. Gunakan peralatan sesuai fungsinya
5. jangan memaksa alat,bila tumpul tajamkan terlebih dahulu
6. jangan bersenda gurau sedang bekerja
7. Pusatkan pikira pada pekerjaan dan harus kosentrasi
8. Usahakan selang air yang digunakan jangan berangin (bergelembung)
9. Jangan menggunakan alat yang belum tau cara penggunaannya
10. tanyakan pada instruktur bila ada yang belum

E. LANGKAH KERJA

16

1. Tentukan lokasi yang baik untuk memasang stake out dan pasang stake out
sesuai gambar kerja yang ada pada job sheet
2. Potong kayu patok berupa dolken/broti 4 potong dengan panjang masingmasing 70 cm, lakukan pemasangan dua batang patok pada hulu saluran
(patok A) dengan tinggi patok diatas tanah diatas berkisar 50 cm, pasang
sejajar dan tegakl lurus terhadap jalur saluran yang akan digali, pasang
papan horizontal sebagai stake out dan levelkan agar rata
3. Ukur panjang saluran yang akan digali seperti ukuran pada gambar,
jauhkan galian dari stake out 50 cm, pasang dua patok lagi sebagai stake
out hilir (patok B)sama posisinya sepertio pada patok hulu
4. lakukan leveling kedua stake out menggunakan slang air agar rata beri
tanda dengan pensil pada patok hilir
5. Cari kemiringan dasar galian dengan cara dihitung yaitu perbandingan
2:40 bila menggunakan roil beton adalah 1/40x600cm=15 cm, maka tandai
pada patok hilir (B) dengan cara turunkan 15 cm dari garis leveling artinya
beda tinggi patok A (hulu) dengan patok B (hilir) sebesar 15 cm
6. pasang papan stake out pada patok tepat digaris yang sudah diturunkan 15
cm tadi lalu pakukan dengan kokoh
7. ambil titik tengah saluran dengan membagi dua panjang stake out sebagai
as galian, tentukan ukuran bukaan saluran dan ukuran dasarnya sesuai
gambar pasang paku sebagai As galian, tentukan ukuran bukan saluran dan
ukuran dasarnya sesuai dengan gambar danpasang paku sebagai tempat
mengikat benamg.Lakukanlah pekerjaan yang sama pada pekerjaan stake
out baik hulu atua stake out hilir.
8. Sebelum menggalikan tanah unting-unting pada benang batas galian
ketanah sambil sambil memberi tanda dengan menaburkan kapur searah
dengan benang, sebagai batas pinggir saluran yang akan digali.
9. Lakukan penggalian tanah hingga mencapai ukuran ukuran yang ada pada
tanah dan tempatkan galian 50 cm dari tepi bibir galian
10. Bila galian sudah sempurna, lakukan pemeriksaan ulang kemiringan dasar
saluran dengan cara mengukur tingi benang dengan saluran sama

17

tingginya dari hulu sampai hilir dan lakukan perapihan kemiringan talud
serta minta petunjuk instuksur untuk penyempurnaan dan penilaian.
11. Konsentrasikan pikiran anda pada pekerjaan utamakan keselamatan kerja
dan jaga kekompakan sesama teman kerja.
12. Periksakan hasil kerja anda.
13. Gambarkan kembali apa yang sudah anda praktekkan dan buat laporan.

18

3.2 PEMASANGAN RIOL BETON SETENGAH LINGKARAN
A. DASAR TEORI :

19

Riol beton setengah bulat merupakan jenis saluran yang sering digunakan
sebagai bahan dasar saluran terbuka. Ukuran ini berfariasi dari ukuran Φ 10 cm
hingga berdiameter 50 cm, namun bila pipa beton mencapai diameter 1 m bahkan
lebih. Cara menyambung riol ini yaitu menggunakan mortal /adukan semen spesi
dengan campuran 1 : 2 ( 1 semen : 2 pasir ) yang kedapair dengan cara
ditempelkan pada daerah sambungan riol benar- benar sudah lurus serta rapi.
Penyambugan dilakukan bila posisi riol benar-benar sudah lurus serta kemiringan
yang benar. Letak mortal ditempatkan dibagian luar dari riol atau dibagian bawah,
selain sebagai penguat sambungan juga berfungsi sebagai pondasi per letekan riol.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar kerja pada job sheet.
B. TUJUAN
1. dapat memasang roil beton setengah lingkaran untuk saluran terbuka
dengan ukuran dan kemiringan tertentu secara baik dan benar.
2. menyambung riol beton setengah lingkaran dengan benar.
3. memasang riol beton setengah lingkaran dengan posisi yang benar.
C. DAFRTAR ALAT DAN BAHAN :
Alat yang dipakai adalah :
1. Meteran lipat
2. Meteran gulung panjang 50 m
3. slang pelasti φ 12 mm
4. Gergaji potong
5. Kampak
6. Marti besar
7. Pensil
8. Siku-siku
9. Martil kecil
10. Unting-unting
Bahan yang di pakai :
1. kayu dolken atau broti 5x7 cm (untuk patok)

20

2. Benang
3. Paku 2 inci
4. Semen
5. Kapur
6. Pasir pasang
7. Riol beton ½ φ 20 cm
D. KESELAMATAN KERJA
1. Bac lembar kerja (job sheet) terlebig dahulu sebelm bekerja
2. Pakailah pakaian praktek lengkap dengan sepatu safetynya
3. Tempatkan alat pada tempatnya(tool box)
4. Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya
5. Jangan memaksa alat, bila tumpul tajamkan terlebih dahulu
6. jangan bersenda gurau sedang bekerja
7. Pusatkan pikiran pada pekerjaan dan harus konsentrasi.
8. usahakan selang air yang digunakan jangan berangin (bergelembung)
9. jangan menggunakan alat yang belum tahu cara pengguanaannya.
10. tanyakan pada instruktur bila ada yang belum jelas
E. LANGKAH KERJA
1. siapkan bahan dan alat serta perhatikan gambar kerja pada jobsheet
2. letakkan riol beton pada pinggir galian yang sudah disiapkan secara teratur
dan pada posisi yang benar
3. hamparkan pasir urug pada dasar saluran dengan tebal 5 cm secara merata,
siram sedikit dengan air agar padat
4. susunlah riol beton pada dasar saluran dalam posisi terlentang, secara
bertahap satu persatu denagn cara memberikan mortal (smen spesi)yang
sudah diaduk secara homogen pada ujung-ujung riol tadi
5. letakkan riol berikutnya hingga terpasang lurus dengan kemiringan aliran
yang sudah ditentukan pada benang yang ada pada stake out

21

6. ukur kemiringan pasangan riol yang sudah dipasang dengan cara
menjinjingkan unting-unting pada jalur benang As saluran,beri tanda pada
pertemuan antara benang unting –unting dan benang As saluran.pindahkan
ukuran tersebut dari hulu riol/saluran hingga hilirnya atau hingga ujung
riol/saluran.
7. setelah riol terpasang dengan kemiringan yang benar lalu diwaterpas
secara lurus dan rapi,timbunlah sisi kiri dan kanan dengan tanah
urug/timbun,padatkan tanah urug tersebut hingga mencapai tinggi 5 cm di
bawah bibir riol
8. beri beton cor dengan campuran ½ semen : ½ kapur : 3 pasir : 2
kerikil,direskam dengan rata dan rapi.
9. bila pasangan sudah selesai dan benar ukurannya,maka periksalah
kebenarannya kepada instruktur yang membimbing anda untuk dilakukan
pengukuran dan penilitian.
10. Periksakan hasil kerja anda pada instruktur untuk dilakukan pengecekan
dan penilaian.
11. konsentrasikan pikiran anda pada pekerjaan utamakan keselamatan kerja
dan jaga kekompakan bersama team kerja.

22

23

3.3 KELOMPOK ALAT SANITER

24

Sebagai mana kita ketahui bahwa alat saniter banyak sekali macamnya
untuk mudah diingat dan dipahami maka alat-alat saniter itu dibagi 4 group.
3.3.1.

ALAT

SANITER

PEMBERSIH

BADAN

(ABLUTIONARY

FIXTURES)
Alat seniter ini berfungsi untuk mencuci tangan dan badan, alat ini dapat
dialirkan air dingin dan panas. Kontruksinya terbuat dari keramik dan fibre glass
dan dapat juga dibuat dari pasangan batu bata yang di lapisi dengan porsilin atau
pun keramik. Nama alat saniter adalh seperti hand basin, bak mandi rendam (bath
tube), bak tempat cuci kaki (foot bath), aplution trough, bided dan shwer base .

3.3.2.

ALAT

SANITER

PEMBERSIH

SABUN

(WASTE

WATER

FIXTURES)
Jenis saniter ini diperuntukan untuk tempat mencuci pakaian, alat ini juga
dapat dialirkan air panas dan dingin karena kain yang terkena lemak dan minyak
mudah bersih bila dicuci dengan air panas. Kontroksinya terbuat dari pasangan
batu bata dan juga dibuat dari fibre glass, ada juga dengan bahan PVC. Adapun
nama alat tersebut seperti bak cuci pakaian (wash truoghp), dringking fountain
dan mesin cuci pakaian (laondries machine)

25

3.3.3. ALAT SANITER PEMBERSIH LEMAK (GRESY WATER
FIXTURES)
Alat siter pembersih lemak ini terbuat dari bahan stenlies ateel, fibre glass,
PVC dan pasangan batu bata yang dilapisi oleh porselin. Alat ini juga dapat
dialirkan air dingin dan panas karena alat perabot yang terkena lemak biasanya
lebih cepat bersih bila dicuci dengan air panas. Adapun contoh alat saniter ini
seperti Bak cucipiring (Kichen sink), mesin cuci piring (Dish washer), mesin cuci
gelas(glass washer).

3.3.4. ALAT SANITER PEMBERSIH KOTORAN (SOIL FIXTURES)

26

Alat saniter ini biasanya terbuat berkonstruksi dari keramik, fibre glass,
dan pasangan batu bata, khusus alat saniter ini dibenarkan mengalirkan air panas
karena membahayakan penggunanya sebab penggunaannya pada hal-hal yang fital
dan terkena selaput yang peka terkena air panas. Jadi alat saniter ini cukup
dialirkan air dingin saja kecuali air panas yang sudah dikondisikan hangat kuku.
Adapun contoh alat saniter ini seperti closd duduk(toilet), klosed jongkok,
urinal(urinior), sloop hopper dan otopsi table yang biasa dipakai dirumah sakit.

3.4 BAK PENAMPUNG (SEPTICTANK)
A. DASAR TEORI
Bak penampung (septi tank) adalah tong pengaman buangan yang
diletakkan lebih rendah dari pada riol gedung. Riol umumnya dimasukkan terlebih
dahulu ke dalam penampung dan kemudian di alirkan keluar dengan pompa dan
alat lainnya.Ada beberapa macam bak penampung, misalnya bak penampung air
kotor, air bekas dari bak cuci, air renbasan dari pada lantai bawah tanah tersebut.
Pemasangan pipa ventilasi pada bak penampung
Tujuan pemasangan pipa ventilasi pada bak penampung :
1. Membuang gas keluar udara bebas pada tempat yang tidak mengganggu
lingkungannya.

27

2. Mencegah pembusukan air buangan yang tertinggal dalam bak
penampung.
3. Memasukan udara ke dalam bak pada waktu air buangan di pompakan
keluar. Ukuran pipa ventilasi harus cukup untuk mengalirkan udara masuk
ke dalam bak sesai dengan laju aliran air buangan yang di pompakan ke
luar, dengan ukuran minimum50 mm.
B. VENTILASI TRAP
Yaitu ventilasi udara yang di hubungkan dengan perangkap untuk
mencegah kosongnya penutup perangkap dalam perangkap oleh aksi siphon.
Jenis ventilasi trap
1. Discontion trap berfungsi sebagai pemutus bahu antara pipa alat soniter
dengan pipa drainase rumah.
2. Boundary trap berfungsi sebagai pemutus bahu antara pipa drainase rumah
dan perkotaan.
C. WATER SEAL (Air penutup)
Adalah jarak tengah antara ambang penuh dan likup atas pada perangkap
dalam mm. Water seal dapat mengalami kekeringan oleh 3 faktor :
1. Penguapan (evavorasi)
2. momentum (tinggi jauh)
3. kapilaritas (peresapan)
Ventilasi bangunan bertingkat :

TRAP VENT

GROUP UGINAL

RELEAT VENT

HEADER VENT

CROSS VENT

28

TERMINAL VENT

Ventilasi rumah lantai satu
 UP STREAM VENT
 GROUN VENT
Contoh perhitungan peraktis tentang dimensi pipa air kotor (DRAINASE)
Dalam menentukan dimensi pipa drainase secara lapangan hanya memperhatikan
standar yang tetap sehingga hasil dimensi yang diperoleh sedikit boros namun
tetap memenuhi syarat pendeminsian dan kesehatan.
Tabel alat soniter
No

Nama alat saniter

Unit alat

Diameter

Diameter

saniter

pipa (mm)

pipa (inci)

1

Hand basin/wastavel

1

32-40

1 ½”

2

Urinoir/peturasan

4

65

2”

3

Closed duduk

8

75-100

4”

4

Closed jongkok

8

75-100

4”

5 Floor drain
2
Tabel perhitungan dimensi pipa drainase

40-75

4”

No

Nama alat

Unit alat

saniter

saniter

Seksi

Unit alat

Ukuran

Ukuran

saniter tiap

pipa

pipa

seksi

(mm)

(inci)

1

Hand

1

A

1

32-40

1 ½”

2

basin/wastavel

4

B

4

65

2”

3

Floor drain

2

C

2

40-75

2”

_

D

7

75

3”

8

E

8

75-100

4”

4
5

_
Closed duduk

6

_

_

F

15

110

4 ¼”

7

Closed jongkok

4

G

8

75-100

4”

110-150

12”

8
_
_
H
23
Contoh perhitungan peraktis tentang dimensi septitank

29

Sistem pembuangan yang sering digunakan dinegara-negara Eropa dan
negara sepemakmuran dan negara maju di dunia. Air limbah rumah tangga di
buang pada suatu tempat pengolahan limbah yang kusus (water treatmen plan).
Areal treatman biasanya di tempatkan di luar kota. Disalurkan melalui pipa
property drains ke pipa main sewer dam terus ke pipa induk baru ke treat main
plan di mana air limbah dari rumah-rumah penduduk di olah sehingga
memisahkan bahan organik limbah padat dan cair. Limbah padat dan cair di olah
menjadi pupuk organik sedangkan air di saring dan di buang ke laut setelah
melalui proses normalisasi yang steril.
Untuk mendimensi ukuran sebuah septytank harus terlebih dahulu
mengetahui kapasitas penampungan yang di dasari dari jumlah penghuni yang ada
dalam sebuah rumah. Untuk rumah tangga biasanya setiap orang memakai air
bersih per hari rata-rata 160-250 liter yang di gunakan dalam 8-10 jam. Volume
air tersebut 25% diserap oleh tubuh, makanan dan pakaian, sedangkan 75% lagi
menjadi air bekas (air kotor). Kotoran manusia yang di hasilkan dari penghuni
merupakan faktor utama dalam mendimensi ukuran septytank karena menurut
penelitian membuktikan bahwa satu orang menghasilkan lumpur dari kotoran
manusia mencapai 30 liter per tahun yang di simpan dalam tempat penampungan.
Contoh :
Sebuah rumah 5 orang + 2 tamu menjadi 7 orang. Rata-rata orang dalam
perhari = 250 liter.
Air yang masuk ke septictank = 75% dan 255 sebagai penguapan
Jadi 75% x 250 liyer x 7 orang = 1312,5 liter
Lumpur perorang menghasilkan 30 liter pertahun
= 30 liter x 7 orang x 5 tahun
= 1050 liter
Volume septictank

= 1312.5 liter +1050 liter
= 2362.5 liter
= 2.3625 m3

Bentuk septitank persegi panjang p = 2 L
V=pxlxt

30

V = 2L x L x t
V = 2L2 x t
L2= V/2t
L=

V / 2t

jadi V = p x l x t

L=

2.36 m3 / 2.3

= 1.254 x 0.26 x 3

L=

2.36 / 6

= 2.3587 M3

L = 0.62 M3
P = 2 x 0.624 = 1.254 M3

31

32

33

BAB IV
PENUTUP

34

8.1 KESIMPULAN
Dalam kerja drainase sangat perlu kita perlukan ketilitian dimana saat kita
menetukan ukuran-ukuran yang harus kita patokan. Kerja drainase merupakan
salah satu sifat yang harus dilaksanakan didalam tekhnik sipil karena bila nanti
kita membuat denah / bangunan kita harus dapat pastikan dimana posisi
kedudukannya.
Karena apabila kita tidak melakukannya dengan baik maka akan berakibat yang
fatal karena dalam pembuatan instalasi ini harus benar dan tepat, supaya air yang
kita ingin buang mengalir ketempat yang telah kita tentukan terlebih dahulu.
8.2 SARAN
Kami mengharapkan agar praktek yang kedepan akan lebih memadai
fasilitas pendukung dalam kerja drainase dan melengkapi perlatan dan bahan.
Dan saya sangat berterima kasih kepada terutama sekali kepada Allah swt dan
juga instruktur yang telah mengajari dan memandukan kami dalam praktek
bengkel tersebut,mudah-mudahan kami semua bias kerja seperti bagaimana
mestinya.Bekerjalah dengan penuh konsentrasi dan jangan bersenda gurau bila
sedang bekerja.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

35

Asokawati, Reny. 1998. Bahasa Indonesia dan Kultur Budaya. Malang : PT. Inti
Megah Jaya
Bachtiar, Ahmad. 1999. Terampil Menulis Cepat. Jakarta : PT. info Saranamedia
Badriansyah, Fahmi. 1999. Bahasaku Bukan Bahasamu. Medan : CV. Aulia Nusa
Media
Departemen Pendidikan & Kebudayaan. 1999. Paket Pendidikan Bahasa
Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Damara, Doni. 1998. Inilah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Surabaya : CV.
Megah Buana Citra
Deviany, Sinta. 1999. Menulis Bukan Kerikil Tajam. Palembang : PT. Sriwijaya
Media Tbk
Deborah, Fany.2000. Materi Bahasa Indonesia Jilid I. Semarang : PT. Gramedia
Indonesia
Depdiknas. 2000. Konsep Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : Balai Pustaka
Febiola, Maharani. 2000. Intisari bahasa Indonesia Kurikulum I. Jakarta : Balai
Pustaka
Feriansyah, Derry. 2000. Bahasa Indonesia Menurut Kacamata Dunia. Jakarta :
Prisma Intimedia Pustaka
Harbiansyah, Lutfi. 2001. Aku, Kamu, Dia dan Bahasa Indonesia. Jakarta : PT.
Bibit Media Citra
Hardian, Ari. 2001. Memupuk Kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual
dalam Pembelajaran Menulis. Bandung: Tiara Inti wacana
Jefrianto, Bima. 2003. Analisis Dasar Penulisan Bahasa Indonesia. Surakarta :
Guna Pustaka
Kusuma, Arianti. 2002. Ketrampilan Mengolah Kata. Medan : PT. Inti Wacana
Medi

36

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful