You are on page 1of 4

Stress akut yang berulang-ulang mereduksi laju pertumbuhan ikan salmon atlantic dan mempengaruhi tingkat hormone

pertumbuhan,IGF, dan kortisol.

ABSTRAK Ikan salmon atlantic dipelihara dalam keadaan terkurung sehingga menyebabkan ikan mengalami stress akut , pemeliharaan ini dilakukan selama 30 hari. Ikan yang mengalami stress 2 kali dalam sehari, mengalami penurunan berat badan 61 % dibandingkan dengan ikan yang dikontrol setelah 11 hari (1.00 vs 2.57 dayˉ¹) dan diukur lagi pada akhir 30 hari dan didapatkan penurunan berat tubuh sebesar 50% dibandingkan ikan yang terkontrol (1.53% vs 3,07% dayˉ¹). Pada ikan yang mengalami stress 1 kali dalam sehari , diukur pertumbuhannya dan mengalami penurunan bobot tubuh 18% daripada ikan yang dikontrol setelah 10 hari (2.17 vs 2.63 % dayˉ¹) dan diuykur kembali pada hari ke 30 dan didapatkan penurunan berat badan sebesar 34 %$ dibandingkan dengan ikan yang terkontrol ( 1.71 vs 2.54 % dayˉ¹). Di ikan yang mengalami stress 1 kali dalam sehari, nafsu makannya menurun dari 62% dan 37% setelah 17 dan 37 hari, berturut-turut. Pada hari ke 40 di lakukan pengawasan pada ikan yang mengalami stress akut 1 kali dalam sehari, pengawasannya dilakukan 1 jam sebelum stress dialami ikan, 3 dan 7 jam sesudah ikan mengalami stress. Pertumbuhan hormone plasma secara signifikan makin tinggi pada kelompok ikan yang mengalami stress daripada pada pengontrolan sebelum dan sesudah 3 jam terjadi stress. Plasma cortisol mengalami penurunan pada kelompok ikan yang mengalami stress pada pengawasan 3 jam sebelum dan sesudah ikan mengalami stress. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa stress akut mampu menurunkan pertumbuhan pada ikan salmon atlantic dengan semakin meningkatnya frekuensi stress pada ikan maka dampaknya lebih besar akibat. q1998 Elsevier Science B.V. All rights reserved.

PENDAHULUAN Secara umum dapat dikatakan bahwa stress mampu mereduksi pertumbuhan ikan (Pickering, 1990). Pembahasan tentang akibat ini nsebenarnya terbatas dan memberikan akibat yang berlawanan. Pada masa stress ini muncul berbagai macam gangguan. Kelompok ikan salmon yang dijadikan sampel diberi beberapa stressor atau factor yang menyebabkan stress seperti perbedaan lingkungan pada pembesaran, penelitian ini menunjukan bahwa terjadi

penurunan pertumbuhan pada beberapa spesies salmon (Wedemeyer, 1976; Fagerlund et al.,

1981; Pickering and Stewart, 1984). Tapi anehnya, hanya sedikit didapatkan informasi tentang akibat dari stress akut seperti pada pemeliharaan pertumbuhan ikan (Pickering et al).(1982), pada penelitian ini juga mengamati stress pada ikan coklat ( salmon trutta) dan hasilnya didapatkan muncul perubahan fisiologis yang bertahan lama selama penelitian 2 minggu , tapi tidak mempengaruhi kecepatan pertumbuhan. Barton et al.(1987), pada penelitian ini dilakukan juga perawatan ikan yang mengalami stress akut dalam waktu 10 minggu , dan menghasilkan fakta bahwa ini tidak mempengaruhi atau mengurangi pertumbuhan pada ikan rainbow (Oncorhynchus mykiss). Pada penelitian ini dilakukan beberapa metode yang akan membuktikan bahwa stress mampu mempengaruhi pertumbuhan. Di sini juga meninjau ulang jalur endokrin yang

dipengaruhi oleh stress, sebagian besar hormon anabolisme dan katabolisme terlibat dalam perubahan pada ikan yg mengalami stress yang berakibat pada pertumbuhan. Tingkat kortisol akan meningkat jika terjadi stress akut dan stress yang terjadi secara terus-menerus dan betulbetul berhubungan dengan kenaikan plasma darah dan energy mobilisasi yang diikuti oleh kondisi stress. (Schreck, 1981 Gamperl et al).(1994). Kortisol mungkin factor penting dalam pertumbuhan yang normal tapi pada saat pertambahan kortisol meningkat seiring dengan ikan yang mengalami stress mungkin akan mengurangi laju pertumbuhan. Administrasi kortisol pada ikan membuktikan mampu menurunkan pertumbuhan pada ikan rainbow dan lele (Ictalurus punctatus). (Davis et al., 1985; Barton et al). 1987, ada hubungan antara hormone dan stress pada ikan yang mempengaruhi pertumbuhan ikan tersebut. Pada hormone pertumbuhan , IGF 1 menjadi promoter utama penghasil endokrin untuk pertumbuhan ikan salmon dan vertebrata lain (for review, see Bjo¨rnsson, 1996). Sekarang ini pengetahuan mengenai efek stres pada sistem endokrin yang merujuk pada pertumbuhan ikan salmon terbatas pada studi tentang rainbow trout . Stres akut meningkatkan pertumbuhan plasma kadar hormon dalam 30 menit pertama (Kakisawa et al.), 1995., tetapi menurun selama beberapa jam. Stres kronis jangka panjang muncul untuk menekan kadar hormon pertumbuhan plasma. Ketika ikan pelangi dipaksa untuk berenang sampai ikan tersebut kelelahan , maka kadar hormon pertumbuhan berada pada tingkat preexercise. sedangkan akan meningkat selama berenang. Hanya beberapa studi telah meneliti respon hormon pertumbuhan terhadap stres dalam kondisi ketika pertumbuhan diketahui berubah.

Ikan salmon sangat penting dalam pembudidayaan, perikanan laut dan upaya restorasi (pemulihan). Seringkali, pada ikan salmon fase juvenile karna mempunyai habitat di laut jadi lebih susah pemeliharaannya dibandingkan dengan ikan rainbow dalam pembudidayaan. Pada ikan salmon umumnya pembesaran yang dilakukan di alam terbuka dan pemeliharaan di dalam wadah ( dikurung) smolt, pada fase juvenile beresiko mengalami stress yang mencakup pemeliharaan, hidup berkelompok (bersaing), pergerakan, dan predator. Ikan salmon yang sudah jinak dan ikan salmon yang masih liar berbeda cara merespon stressnya seperti respon terhadap adanya predator (Johnsson et al., 1996). Tujuan dari pembelajaran ini ialah menjelaskan bagaimana stress mempengaruhi pertumbuhan pada ikan salmon atlantic pada fase juvenile dan bagaimana hubungan makanan sebagai sumber energy dalam produksi endokrin pada pertumbuhan. Pada penelitian ini dilakukan 2 macam metode untuk ikan salmon atlantic pada fase juvenile dimana akibat yang berulang-ulang pada pertumbuhan yang dikarenakan oleh stress pada ikan, komsumsi pakan dan tingkat plasma pada pertumbuhan hormone kortisol dan penghasil IGF-1. 2. Bahan dan metode 2.1 kondisi pemeliharaan Pada ikan salmon fase juvenile di pilaih dan di kirim ke sungai National Fish Hatchery, (Bethel, VT), to the Conte Anadromous Fish Research Center_Turners Falls, MA. Sebelum ikan di inisiasi pada metode ini terlebih dahulu ikan di masukan ke dalamkurungan dengan diameter 1,5 m. makanan ikan (Zeigler Bros., Gardners, PA). satu hari sebelum di sanitasi. Penerapan metode isolasi, setiap tahap disediakan kurungan seluas 1 meter untuk tiap metode. Pemasukan air,pemberian aerasi, dan pemberian cahaya dilakukan dengan hati disesuaikan dengan keadaan fisiologi yang cocok. Input cahaya dari lampu yang diberikan dengan spectrum (500 1 * dipermukaan kurungan),dan pencahayaan diberi dalam 2 kali seminggu agar menyerupai dengan kondisi alaminya. Pada tiap kurungan diberi penutup sebagian agar ikan tidak terganggu pada saat pemberian makanan oleh pemberi pakan otomatis. Pada kurungan ikan salmon ini

diusahakan tidak ada gangguan dari luar dan hanya alat pemberi makan otomatis yang menyebabakan stress. Ikan ini dirawat pada kurungan dengan diameter 1 meter pada suhu 18± 4 ˉ¹ s .I y s s

kurungan/kolam dalam waktu 2 minggu sebelum percobaan dimulai. Pemberian ransum untuk

setiap percobaan berdasar pada daftar hatchery untuk pertumbuhan maximal pada ikan didasar pada ukuran tubuh dan temperature. Pakan yang tidak di makan diperiksa di tiap kelompok ikan dan di tiap percobaan, yang menandakan bahwa pemberian input pakan pada ikan itu mendekati maximal. 2.2 Percobaan 1 (stress dua kali sehari) Ikan kecil (4 bulan pasca- penetasan) sampel dibagi secara acak menjadi dua kelompok masingmasing 20 ekor dan ditempatkan dalam kurungan/kolam yang terpisah, 1 kelompok ikan di gunakan untuk sampel percobaan dan kelompok lainnya digunakan untuk pengontrolan. P v 4 9% h ˉ¹ y

dilakukan oleh pemberi pakan otomatis yang telah diatur bekerja dari jam 06:00 sampai 17:30 dan mulai berhenti pada pukul 08:00 dan 15:00 dan diperiksa ikan yang mengalami stress, dan diperiksa setiap hari. Kondisi stress pada kelompok sampel ikan dilakukan dengan memberi perlakuan pada ikan seperti pemburuan dalam bak, tingkat populasi ikan (kelompok) dan pada saat pengaliran air dalam kolam/kurungan. Pada pemburuan ikan dalam kolam dilakukan secara acak, ikan diburu di dalam kolam dengan menggunakan pipa PVCdengan panjang 15 min. kemudian jaring semua ikan dan tempatkan ikan dalam plastik mesh silinder kandang dikeluakan dari dalam kolam/ kurungan pemeliharaan selama 15 menit . keringkan kolam selama kira-kira 5 menit pada kedalaman rendah( punggung ikan terlihat ). Kolam kemudian diisi dengan air dengan Volum 4 l minˉ¹ sampai Ikan di bak kontrol tidak mengalami stres tersebut .