You are on page 1of 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae yang secara primer menyerang syaraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikoloendotel, mata, otot, tulang dan testis. Kusta menyebar luas ke seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindaham penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja.Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah.Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.Hal ini menyebabkan penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, disamping besarnya masalah di bidang medis juga masalah sosial yang ditimbulkan oleh penyakit ini memerlukan perhatian yang serius. Kusta kebanyakan ditemukan di Afrika Tengan dan Asia Tenggara, dengan angka kejadian di atas 10 per 1.000.hal ini disebabkan meningkatnya mobilitas penduduk, misalnya imigrasi, pengungsi dan sebagainya. Sebagaimana yang dilaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori pada 2006 dan diterbitkan di Weekly Epidemiological Record, prevalensi terdaftar kusta pada awal tahun 2006 adalah 219.826 kasus. Penemuan kasus baru pada tahun sebelumnya adalah 296.499 kasus. Alasan jumlah penemuan tahunan lebih tinggi dari prevalensi akhir tahun dijelaskan dengan adanya fakta bahwa proporsi kasus baru yang terapinya selesai pada tahun yang sama sehingga tidak lagi dimasukkan ke prevalensi terdaftar. Penemuan secara global terhadap kasus baru menunjukkan penurunan. Di India jumlah kasus kira-kira 4 juta, pada tahun 1961 jumlah penderita kusta sebesar 2,5 juta, pada tahun 1971 jumlah penderita 3,2 juta dan tahun 1981 jumlah penderita 3,9 juta. Kusta juga banyak ditemykan di Amerika Tengah dan Selatan dengan jumlah kasus yang tercatat lebih dari 5.000 kasus.

Selama tahun 2000 di Indonesia ditemukan 14.697 penderita baru. Diantaranya 11.267 tipe MB (76,7%) dan 1.499 penderita anak (10,1%). Selama tahun 2001 dan 2002 ditemukan 14.061 dan 14.716 kasus baru. Diantara kasus ini 10.768 dan 11.132 penderita tipe MB (76,6% dan 75,5%). Sedangkan jumlah penderita anak sebanyak 1.423 kasus (10,0%) pada tahun 2001 dan 1.305 kasus (8,9%) pada tahun 2002. Di tingkat propinsi, Jawa Timur paling banyak menemukan penderita baru yaitu 3.785 kasus pada tahun 2001 dan 4.391 pada tahun 2002. Propinsi yang paling sedikit menemukan kasus baru adalah propinsi adalah Bengkulu, yaitu 8 kasus pada tahun 2001 dan 4 kasus pada tahun 2002.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : a) Bagaimana anatomi dan fisiologi kulit ? b) Apa yang dimaksud dengan Kusta? c) Bagaimana penyebaran penyakit Kusta ? d) Apa penyebab dari Kusta ? e) Apa saja faktor resiko dariKusta? f) Bagaimana klasifikasi dariKusta?

g) Bagaimana patofisiologi dan pathway dari Kusta? h) Apa saja manifestasi klinis dari Kusta? i) j) Apa komplikasi yang akan ditimbulkan dari Kusta? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dariKusta?

k) Bagaimana penatalaksanaan dari Kusta? l) Bagaimana pencegahan dari Kusta ?

m) Bagaimana Asuhan Keperawatan dari Kusta?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan ini dibedakan menjadi dua yakni : A. Tujuan umum Tujuan penulisan ini secara umum adalah agar mahasiswa dapat memahami

Asuhan Keperawatan klien dengan Kusta dan bisa di terapkan dalam praktek keperawatan nantinya.

B. Tujuan khusus Tujuan penulisan dari makalah ini diantaranya sebagai berikut : a. Memahami kembali anatomi dan fisiologi kulit b. Memahami tentang pengertian dari Kusta c. Memahami tentang epidiomiologi dari Kusta d. Memahami tentang etiologi dari Kusta e. Memahami tentang factor resiko dari Kusta f. Memahami tentang klasifikasi dari Kusta

g. Memahami tentang patofisiologi/pathway dari Kusta h. Memahami tentang manifestasi klinis dari Kusta i. j. Memahami komplikasi dari Kusta Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari Kusta

k. Memahami tentang penatalaksanaan medis dari Kusta l. Memahami tentang pencegahan dari Kusta

m. Memahami tentang pengkajian keperawatan dari Kusta n. Memahami tentang diagnosa keperawatan yang muncul pada Kusta o. Memahami tentang perencanaan keperawatan Kusta p. Memenuhi tugas mata kuliah Sistem Integumen

1.4 METODE PENULISAN


Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien Dengan Kusta ini adalah Berdasarkan metode literature (pustaka) , mengintisarikan buku-buku pustaka dan informasi didapat dari jaringan internet.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


Sistematika dalam penulisan makalah ini diantaranya sebagai berikut, BAB I Pendahuluan terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II Tinjauan Teori terdiri dari anotomi fisiologi, pengertian, epidiomiologi, etiologi, factor resiko, klasifikasi, patofisiologi / pathway, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostic , penatalaksanaan medis dan

pencegahan . BAB III Asuhan Keperawatan, terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan dan Intervensi keperawatan. BAB IV Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI INTEGUMEN
A. Anatomi Kulit Kulit merupakan pembungkus yang elastisk yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan.Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50 1,75 m2. Rata- rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki dan paling tipis (0,5 mm) terdapat di penis.7Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis. Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis.

Gambar 1 : Lapisan-lapisan Kulit 1. Epidermis Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler.Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel.Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan

dan kaki.Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit.Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan : a. Stratum Korneum Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. b. Stratum Lusidum Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan.Tidak tampak pada kulit tipis. c. Stratum Granulosum Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granulakeratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat selLangerhans. d. Stratum Spinosum Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filament filament tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.Epidermis pada tempat yang

terusmengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebihbanyak tonofibril.Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisanMalfigi.Terdapat sel Langerhans. e. Stratum Basale (Stratum Germinativum) Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain.Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin,pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (selLangerhans).

2. DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True Skin.Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis danmenghubungkannya dengan jaringan subkutis.Tebalnya bervariasi, yang paling tebalpada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan : Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang. Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat. kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang

Serabut-serabut

denganbertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usialanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurangmenyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyakkeriput.Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah.Dermis juga

mengandungbeberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahanshearing forces dan respon inflamasi 3. SUBKUTIS Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisanlemak.Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgardengan jaringan di bawahnya.Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah ditubuh dan keadaan nutrisi individu.Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untukregenerasi. Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori,kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.

4. VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antaralapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis.Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilladermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena.Pada epidermis tidak terdapatpembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis. b.FISIOLOGI KULIT Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranyaadalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan, sebagai barrier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan metabolisme.Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit,trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsangraba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting dan ujung jari.Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan

elektrolit.Termoregulasidikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses keseimbanganmelalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperaturkulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperature meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangitemperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yangdapat meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluhdarah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas.

2.2 PENGERTIAN KUSTA

Istilah kusta berasal dari bahasa India, yakni kushtha berarti kumpulan gejalagejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan

nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen (Kosasih, 2003). Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik dan menular, penyebabnya ialah Mycobacterium Leprae yang pertama-tama menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. Tidak ada penyakit infeksi lain selain penyakit kusta yang dapat menandingi keanekaragaman gambaran klinik baik dari lesi kulit maupun lesi saraf sehingga penyakit kusta disebut The Greatest Imitator (Halim, 2000).
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kumanMicobacterium leprae (M.Leprae).Yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi ,selanjutnya menyerang kulit, mukosa saluran pernafasan bagian atas,systemretikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. ( Amirudin.M.D, 2000 ) Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta ( Mycobacterium leprae ) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lain kecuali susunan saraf pusat, untuk mendiagnosanya dengan mencari kelainankelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang tampak pada kulit. ( Depkes, 2005 ).

GAMBAR PENDERITA KUSTA


Penyakit kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae.Kuman golongan myco ini berbentuk batang yang yang tahan

terhadap asam terutama asam alkohol dan oleh sebab itu disebut juga Basil Tahan Asam (BTA). Penyakit ini bersifat kronis pada manusia, yang bias menyerang saraf-saraf dan kulit. Penyakit kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan Mycobacterium leprae yang pertama menyerang syaraf tepi selanjutnya menyerang kulit dan jaringan lainnya kecuali susunan syaraf pusat. Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman

kusta(Mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI, 1998). Kusta merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh infeksiMikobakterium leprae. (Mansjoer Arif, 2000). Kusta (lepra atau morbus Hansen) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae). (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun yang menyerang saraf perifer, kulit dan jaringan tubuh lainnya. Kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa, saluran pernapasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis

2.3 EPIDIOMIOLOGI DARI KUSTA


a. Distribusi Menurut Orang Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat karena faktor geografi. Namun, jika diamati dalam satu Negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena factor etnik. Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama, yaitu kejadian kusta lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian pula

10

kejadian di Indonesia, etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu.Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi.Insiden rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10-20 tahun dan kemudian menurun.Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak antara umur 30-50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun. Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak daripada laki-laki. Faktor fisiologik seperti pubertas, menopause, kehamilan, serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan perubahan klinis penyakit kusta. b. Distribusi Menurut Tempat dan Waktu Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda. Diantara 122 negara yang endemis pada tahun 1985 dengan prevalensi >1/10.000 penduduk, hanya tinggal 6 negara yang masih belum mencapai eliminasi di tahun 2005 yaitu : India, Brazil, Indonesia, Bangladesh, Congo, dan Nepal Antara tahun 1985 hingga 2005 lebih dari 15 juta penderita telah sembuh. Dan 222.367 kasus masih dalam pengobatan pada awal tahun 2006.

2.4 ETIOLOGI KUSTA


Penyebab kusta adalah M. leprae, yang ditemukan pada tahun 1873 oleh G.Amauer Hansen di Norwegia. Kuman bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1-8 m, lebar 0,3 m dan bersifat obligat intraselluler. Kuman kusta tumbuh lambat, untuk membelah diri membutuhkan waktu 12-13 hari dan mencapai fase plateau dari pertumbuhan pada hari ke 20-40. Tumbuh pada tempratur 27-30C (81-86oF). Masa Inkubasi Kuman Kusta : Masa inkubasi kusta dari mulai terpapar hingga menunjukan gejala klinis berkisar antara 2-5 tahun (Depkes,RI 2006 ), akan tetapi dapat juga mulai 9 bulan sampai 20 tahun. Untuk

11

kusta tuberkoloid masa inkubasinya rata- rata 4 tahun dan dua kali lebih lama dari kusta lepromatosa ( Chin,2000 ).

2.5 FAKTOR RESIKO


Menurut Ress (1975) dalam Zulkifli (2002), dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mycobacterium Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : 1. Usia, anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa. 2. Jenis kelamin, laki-laki lebih banyak dijangkiti. 3. Ras, bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti. 4. Kesadaran sosial, umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah. 5. Lingkungan, fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.

2.6 KLASIFIKASI KUSTA


Menurut Ridley dan Jopling membagi klasifikasi kusta berdasarkan gambaran klinis, bakteriologik, histopatologik, dan status imun penderita menjadi :

TT ( TIPE TUBERKOLOID )

BT (BORDERLINE TUBERKOLOID)

BL (BORDERLINE LEPROMATUS)

LL ( LEPROMATOSA)

1.

Lesi berupa makula 1. hipopigmentasi/eutema

Lesi

berupa 1.

Lesi

infiltrat 1.

Lesi

infiltrat

makula/infiltrat

eritematosa.

eritematosa dengan permukaan

tosa dengan permukaan eritematosa kering dan kadang dengan

12

dengan atasnya.

skuama

di permukaan kering.

mengkilat, ukuran kecil.

2. Jumlah biasanya yang Jumlah 1-4 buah, satu dengan yang besar gangguan bervariasi. sensibilitas ( + ).

Jumlah ukuran

2. banyak,

Jumlah banyak simetris.

sangat dan

bervariasi, bilateral asimetris. tapi

Gejala berupa gangguan Gangguan sensasibilita, sensibilitas Gangguan sensibilitas sedikit/( - ).

pertumbuhan langsung sedikit. dan sekresi kelenjar

keringat.

BTA ( - ) dan uji lepramin ( + ) kuat.

BTA ( + ) pada sediaan apus BTA ( + ) banyak, BTA ( + ) sangat banyak kerokan pada jaringan

kerokan jaringan uji Lepromin ( - ). kulit dan uji

lepromin ( - ).

kulit dan mukosa hidung, Lepromin ( - ) uji

13

Klasifikasi menurut WHO (1995) terbagi menjadi dua kelompok (Klasifikasi untuk kepentingan program kusta), yaitu: Klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988). Pausibasilar (PB) Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan basil tahan asam (BTA) negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid. Multibasilar (MB) Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif. Perbedaan antara kusta Pause Basiler (PB) dengan Multi Basiler (MB) menurut WHO : KELAINAN KULIT & NO. HASIL PEMERIKSAAN 1. a. b. Bercak (makula) Jumlah Ukuran a. b. 1-5 Kecil dan besar a. b. Banyak Kecil-kecil PAUSE BASILER MULTIPLE BASILER

14

c.

Distribusi

c.

Unilateral bilateral

atau c. asimetris

Bilateral, simetris

d. e.

Konsistensi Batas

d. e.

Kering dan kasar Tegas

d. e.

Halus, berkilat Kurang tegas

f.

Kehilangan pada bercak

rasa

Selalu ada dan jelas

f.

Biasanya tidak jelas, jika ada terjadi pada yang sudah lanjut

g.

Kehilangan berkemampuan g. Bercak tidak g.

Bercak

masih

berkeringat,berbulu rontok pada bercak 2. a. Infiltrat Kulit a.

berkeringat, ada bulu berkeringat, bulu tidak rontok pada bercak rontok

Tidak ada

a.

Ada, kadang-kadang tidak ada

b.

Membrana mukosa

b.

Tidak pernah ada

b.

Ada, kadang-kadang tidak ada

tersumbat

perdarahan dihidung 3. Ciri hidung central a. Punched out lession Medarosis Ginecomastia Hidungpelana Suarasengau

healingpenyembuhan b. ditengah c. d. e.

15

4. 5.

Nodulus Penebalan saraf tepi

Tidak ada

Kadang-kadang ada pada yang

Lebih sering terjadi Terjadi dini, asimetris

lanjut biasanya lebih dari 1 dan simetris

6.

Deformitas cacat

Biasanya terjadi dini

asimetris Terjadi pada stadium lanjut BTA positif

7.

Apusan

BTA negatif

Menurut kepentingannya, penyakit kusta mempunyai beberapa jenis klasifikasi yang telah umum digunakan yaitu: 1. Klasifikasi International: Klasifikasi Madrit (1953) Indeterminate (I) Tuberkuloid (T) Borderline Dimorphous (B) Lepromatosa (L)

2. Klasifikasi untuk kepentingan riset: Klasifikasi Ridley-Jopling (1962). Tuberkuloid (TT) Boderline tuberculoid (BT) Mid-borderline (BB) Borderline lepromatous (BL) Lepromatosa (LL)

16

2.7 PATOFISIOLOGI
Setelah M.leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas dilampau itergantung pada derajat system imunitas selular (cellular mediated immune) paien. Kalau system imunitas selular tinggi, penyakit berkembang ke arah tuberkuloid dan bila rendah berkembang kearah lepromatosa. M. leprae berpredileksi di daerah-daerah yang relative lebih dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit. Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena respon imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi selular dari pada intensitas infeksi. Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik. CARA PENULARAN PENYAKIT KUSTA Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe MB kepada orang lain secara langsung. Cara penularan penyakit ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit. Kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga berlangsung sampai bertahun-tahun. Meskipun cara masuk kuman M.leprae ke dalam tubuh belum diketahui secara pasti, namun beberapa penelitian telah menunujukkan bahwa yang paling sering adalah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan pada mukosa nasal. Selain itu penularan juga dapat terjadi apabila kontak dengan penderita dalam waktu yang sangat lama

2.8 MANIFESTASI KLINIS


Menurut klasifikasi Ridley dan Jopling, gambaran klinis penyakit kusta, diantaranya: a) Tipe Tuberkoloid (TT) Mengenai kulit dan saraf Lesi bisa satu atau kurang, dapat berupa makula atau plakat, batas jelas, regresi, atau, kontrol healing ( + )

17

Permukaan lesi bersisik dengan tepi meninggi, bahkan hampir sama dengan psoriasis atau tinea sirsirata. Terdapat penebalan saraf perifer yang teraba, kelemahan otot, sedikit rasa gatal.

Infiltrasi Tuberkoloid ( + ), tidak adanya kuman merupakan tanda adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta.

b) Tipe Borderline Tuberkoloid (BT) Hampir sama dengan tipe tuberkoloid Gambar Hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe TT. Gangguan saraf tidak sejelas tipe TT. Biasanya asimetris. Lesi satelit ( + ), terletak dekat saraf perifer menebal.

c) Tipe Mid Borderline (BB) Tipe paling tidakstabil, jarangdijumpai Lesidapatberbentuk macula infiltrate. Permukaan lesi dapat berkilat, batas lesi kurang jelas, jumlah lesi melebihi tipe BT, cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi baik ukuran bentuk maupun distribusinya. Bisa didapatkan lesi punched out, yaitu hipopigmentasi berbentuk oralpada bagian tengah dengan batas jelas yang merupaan ciri khas tipe ini. d) Tipe Borderline Lepromatus (BL) Dimulai makula, awalnya sedikit lalu menjadi cepat menyebar ke seluruh tubuh. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya, beberapa nodus melekuk bagian tengah, beberapa plag tampak seperti punched out. Tanda khas saraf berupa hilangnya sensasi, hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncil daripada tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba pada tempat prediteksi. e) Tipe Lepromatosa (LL) Lesi sangat banya, simetris, permukaan halus, lebih eritoma, berkilap, batas tidak tegas atau tidak ditemuka anestesi dan anhidrosis pada stadium dini.

18

1. Distribusi lesi khas: Wajah :dahi, pelipis, dagu, cuping telinga. Badan :bagian belakang, lengan punggung tangan, ekstensor tingkat bawah. 2. Stadium lanjutan: Penebalan kulit progresif Cuping telinga menebal Garis muka kasar dan cekung membentuk fasies leonine, dapat disertai madarosis, intis dan keratitis. 3. Lebih lanjut: 4. Deformitashidung Pembesaran kelenjar limfe, orkitis atrofi, testis Kerusakan saraf luas gejala stocking dan glousesanestesi. Penyakit progresif, macula dan popul baru. Timbul lesi lama terjadi plakat dan nodus.

Stadium lanjut: Serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin/fibrosis menyebabkan anestasi dan pengecilan tangan dan kaki. 19

f)

Tipe Interminate (tipe yang tidak termasuk dalam klasifikasi Redley & Jopling) Beberapa macula hipopigmentasi, sedikit sisik dan kulit sekitar normal. Lokasi bagian ekstensor ekstremitas, bokong dan muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipestesi dan sedikit penebalan saraf. Merupakan tanda interminate pada 20%-80% kasus kusta Sebagian sembuh spontan.

GAMBARAN KLINIS ORGAN LAIN : 1. Mata : iritis, iridosiklitis, gangguan visus sampai kebutaan 2. Tulang rawan : epistaksis, hidung pelana 3. Tulang & sendi : absorbsi, mutilasi, artritis 4. Lidah : ulkus, nodus 5. Larings : suara parau 6. Testis : ginekomastia, epididimitis akut, orkitis, atrofi 7. Kelenjar limfe :limfadenitis 8. Rambut : alopesia, madarosis

9. Ginjal : glomerulonefritis, amilodosisginjal, pielonefritis, nefritis interstitial.

Menurut WHO (1995) diagnosa kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut: a. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas Lesi kulit dapat tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi tetapi kadangkadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa: makula, papul, nodul. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas.Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. b. BTA positif Pada beberapa kasus ditemukan BTA dikerokan jaringan kulit. c. Penebalan saraf tepi, nyeri tekan, parastesi.

20

Untuk para petugas kesehatan di lapangan, bentuk klinis penyakit kusta cukup dibedakan atas dua jenis yaitu: a. Kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid) Merupakan bentuk yang tidak menular Kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih, jumlahnya biasanya hanya beberapa, sering di pipi, punggung, pantat, paha atau lengan. Bercak tampak kering, perasaan kulit hilang sama sekali, kadang-kadang tepinya meninggi Pada tipe ini lebih sering didapatkan kelainan urat saraf tepi pada, sering gejala kulit tak begitu menonjol tetapi gangguan saraf lebih jelas Komplikasi saraf serta kecacatan relatif lebih sering terjadi dan timbul lebih awal dari pada bentuk basah Pemeriksaan bakteriologis sering kali negatif, berarti tidak ditemukan adanya kuman penyebab Bentuk ini merupakan yang paling banyak didapatkan di indonesia dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya terhadap kuman kusta cukup tinggi b. Kusta bentuk basah (tipe lepromatosa) Merupakan bentuk menular karena banyak kuman dapat ditemukan baik di selaput lendir hidung, kulit maupun organ tubuh lain Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kusta bentuk kering dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta Kelainan kulit bisa berupa bercak kamarahan, bisa kecil-kecil dan tersebar diseluruh badan ataupun sebagai penebalan kulit yang luas (infiltrat) yang tampak mengkilap dan berminyak. Bila juga sebagai benjolan-benjolan merah sebesar biji jagung yang sebesar di badan, muka dan daun telinga Sering disertai rontoknya alis mata, menebalnya cuping telinga dan kadangkadang terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang rawan hidung Kecacatan pada bentuk ini umumnya terjadi pada fase lanjut dari perjalanan penyakit Pada bentuk yang parah bisa terjadi muka singa (facies leonina)

21

Diantara kedua bentuk klinis ini, didapatkan bentuk pertengahan atau perbatasan (tipe borderline) yang gejala-gejalanya merupakan peralihan antara keduanya. Bentuk ini dalam pengobatannya dimasukkan jenis kusta basah. Gambaran Imunologi Penyakit Kusta Imunitas terdapat dalam bentuk alamiah (non spesifik) dan didapat (spesifik). Imunitas alamiah tergantung pada berbagai keadaan structural jaringan dan cairan tubuh, tidak oleh stimulasi antigen asing. Imunitas di dapat tergantung pada kontak antara sel-sel imun dengan antigen yang bukan merupakan unsur dari jaringan host sendiri. Imunitas didapat ada dua jenis yaitu humoral dan seluler. Imunitas humoral didasarkan oleh kinerja gamma globulin serum yang disebut antibodi (imunoglobulin). Imunoglobulin disintesis oleh leukosit yaitu limphosit B. Imunitas seluler berdasarkan kerja kelompok limphosit yaitu limfosit T dan makrofag. Pada penyakit kusta, kekebalan dipengaruhi oleh respon imun seluler (cell mediated immunity / CMI). Variasi atau tipe dalam penyakit kusta disebabkan oleh variasi dalam kesempurnaan imunitas seluler. Bila seseorang mempunyai imunitas seluler yang sempurna, tidak akan menderita penyakit kusta walaupun terpapar Mycobacterium leprae. Orang yang tidak mempunyai imunitas seluler sempurna, bila menderita kusta akan mendapat salah satu tipe penyakit kusta . Penderita yang mempunyai imunitas seluler cukup tinggi akan mendapat kusta tipe T (klasifikasi Madrid) atau tipe TT (klasifikasi Ridley Jopling) atau tipe PB (klasifikasi WHO). Semakin rendah imunitas seluler, tipe yang akan diderita semakin kearah L / LL / MB.

2.9 KOMPLIKASI
Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta baik akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta.

22

2.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a) Pemeriksaan Bakteriologis Ketentuan pengambilan sediaan adalah sebagai berikut : Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif. Kulit muka sebaiknya dihindari karena alasan kosmetik kecuali tidak ditemukan lesi ditempat lain. Pemeriksaan ulangan dilakukan pada lesi kulit yang sama dan bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul. Lokasi pengambilan sediaan apus untuk pemeriksaan mikobakterium leprae ialah: Cuping telinga kiri atau kanan Dua sampai empat lesi kulit yang aktif ditempat lain

Sediaan dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindari karena: Tidak menyenangkan pasien Positif palsu karena ada mikobakterium lain Tidak pernah ditemukan mikobakterium leprae pada selaput lendir hidung apabila sedian apus kulit negatif. Pada pengobatan, pemeriksaan bakterioskopis selaput lendir hidung lebih dulu negatif dari pada sediaan kulit ditempat lain. Indikasi pengambilan sediaan apus kulit : Semua orang yang dicurigai menderita kusta Semua pasien baru yang didiagnosis secara klinis sebagai pasien kusta Semua pasien kusta yang diduga kambuh (relaps) atau karena tersangka kuman resisten terhadap obat Semua pasien MB setiap 1 tahun sekali

23

PEMERIKSAAN PENUNJANG MENURUT TIPE : Pemeriksaan kulit : lokalisasi efloresensi/ sifat-sifatnya Tipe I : sekuruh tubuh :

: macula hipopigmentasi berbatas tega; anastesi dan anhidrasi ; pemeriksaan bakteriologi (-) ; tes lepromin (+)

Tipe TT

: macula eritematosa bulat atau lonjong, permukaan kering, batas tegas, anastesi, bagian tengah sembuh; bakteriologi (-) ; tes lepromint (+ kuat) .

Tipe BT

: macula eritematosa tak teratur, batas tegas, kering, mula-mula ada tanda kontraktur, anastesi ; pemeriksaan bakteriologi kadang (+/-) ; tes lepromin (+/-)

Tipe BB

: mkula eritematosa , menonjol, bentuk tidak teratur, kasar, ada lesi satelit ; penebalan saraf dan kontraktur; pemeriksaan bakteriologi (+) ; tes lipromin (-)

Tipe BL

: Makula infiltrate merah mengkilat, tidak teratur , batas tegas; pemebengkakan saraf; pemeriksaan bakteriologi ditemukan banyak basil ; tes lipromin (-)

TIPE LL

: infiltrate difus berupa nodul simetris , permukaan mengkilat ; saraf terasa sakit, anastesi; pemeriksaan bakteriologi (+ kuat) ; tes lipromin (-)

Selain pemeriksaan kulit harus pula diperiksa atau dipalpasi saraf tepi ( nervus ulnaris, radialis, aurikularis magnus dan poplitea) ; mata ( lagoftalmus ) ; tulang (kontraktur atau absorpsi ) ; rambut ( alis mata, kumis, dan pada lesi sendiri)

24

PEMERIKSAN PEMBANTU: 1. Pemeriksaan anatesi dengan jarum atau air panas 2. Tes keringat dengan pinsil tinta ; pada lesi akan berulang , sedang pada kulit normal ada bekas tinta ( tes gunawan) 3. Pemeriksaan histopatologi : perlu untuk klasifikasi penyakit 4. Tes lepromin untuk klasifikasi penyakit 5. Pemeriksaan bakteriologi untuk menentukan indeks bakteriologi (IB) dan indeks morfologi (IM). Pemeriksana ini penting untuk menilai hasil pengobatan dan menentukan adanya resistensi pengobatan.

2.11 PENATALAKSANAAN MEDIS


1) Terapi Medik Obat anti kusta yang paling banyak dipakai saat ini adalah DDS (Diaminodifenil Sulfon) lalu Klofazimin, dan Rifampisin. DDS mulai dipakai sejak 1948 dan pada tahun 1952 di Indonesia. Kolfazimin dipakai sejak 1962 oleh Brown dan Hoogerzeil dan rifampisin sejak tahun 1970. pada tahun 1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotika lain untuk pengobatan alternatif, yaitu Ofkloksasin, Minisiklin dan Klartromisin (Kosasih, 2008). 1. DDS (Diamino-difenil-sulfon) Obat ini bersifat bakteriostatik dengan menghambat enzim dihidrofolat sintase. Resistensi terhadap dapson timbul akibat kandungan enzim sintetase yang terlalu tinggi pada kuman kusta. Dapson biasanya diberikan sebagai dosis tunggal, yaitu 50-100 mg/hari untuk dewasa, atau 2 mg/kg BB untuk anak-anak. Efek samping yang mungkin timbul anatara lain: erupsi obat, anemia hemofilik, leukopenia, insomnia, neuropati. Namun efek samping tersebut jarang terjadi pada pemberian dosis lazim (Soebono, 1997). 2. Rifampisin Rifampisin bersifat bakterisidal kuat pada dosis lazim. Rifampisin bekerja dengan menghambat enzim polimerase RNA yang berikatan secara ireversibel. Dosis tunggal 600 mg/hari (atau 5-15 mg/kg BB. Pemberian seminngu sekali dengan jumlah besar dapat

25

menyebabkan flu like syndrome. Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, dan erupsi kulit (Soebono, 1997). Obat ini adalah obat yang menjadi salah satu komponen kombinasi dengan Rifampisin tidak boleh diberikan sebagai monoterapi, oleh karena memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi, tetapi pada pengobatan kombinasi selalu ditakutkan, tidak boleh diberikan setiap minggu atau setiap 2 minggu mengingat efek sampingnya (Kosasih, 2003). 3. Klofazimin (lamprene) Obat ini merupakan turunan iminofenazin dan mempunyai efek bakteriosidal yang setara dengan dapson. Kemungkinan obat ini bekerja melalui ganguan metabolisme oksigen radikal. Obat ini juga bersifat anti-inflamasi sehingga dapat dipakai pada penanggulangan reaksi kusta. Dosis untuk kusta adalah 50 mg/hari atau 100 mg tiga kali seminggu dan untuk anak-anak 1 mg/kg BB/ hari. Efek sampingnya hanya terjadi dalam dosis tinggi, berupa gangguan gastrointestinal (Nyeri Abdomen, Nausea, Diare, Anoreksi, dan Vomitus). Selain itu dapat terjadi penurunan berat badan. Dapat juga tertimbun di hati. Dapat juga terjadi hiperpigmentasi pada kulit, dan perubahan warna kulit tersebut akan menghilang setelah obat dihentikan (Soebono, 1997). 4. Protionamid dan etionamid Kedua obat ini merupakan obat anti tuberkuloasis dan hanya sedikit diakai untuk pengobatan kusta. Dulu kedua obat ini merupakan pengganti klofazimin terutama pada pasien yang merasa keberatan dengan efek hiperpigmentasinya. Obat ini bersifat bakteriostatik, tetapi karena cepat timbul resistensi, lebih toksik, harganya mahal serta efek hepatotoksiknya, maka sekarang tidak dianjurkan lagi pada pengobatan kusta.

Skema rejimen Multi Drug Therapy (MDT) WHO terdiri atas kombinasi obat-obatan dapson, rifampsin, dan klofasimin, dengan skema menurut WHOsebagai berikut: 1.Rejimen PB : terdiri atas rifampisin 600 mg sebulan sekali, dibawah pengawasan ditambah dapson 100 mg/hari (1-2 mg/kg BB) selama 6 bulan. 2. Rejimen MB : terdiri atas kombinasi rifampisin 600 mg sebulan sekali dibawah pengawasan,dapson 100 mg. Hari, ditambah klofazimin 300 mg sebulan sekali diawasi dan 50 mg/hari swakelola. Lama pengobatan 2 tahun.

26

Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT sesuai dengan peraturan maka ia akan menyatakan RFT (Relasif From Treatment), yang berarti tidak perlu lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh. Sebelum penderita dinyatakan RFT, petugas kesehatan harus : 1. Mengisi dan menggambarkan dengan jelas pada lembaran tambahan RFT secara teliti. a. Semua bercak masih nampak. b. Kulit yang hilang atau kurang rasa terutama ditelapak kaki dan tangan. c. Semua saraf yang masih tebal. d. Semua cacat yang masih ada.

2. Mengambil skin semar (sesudah skin semarnya diambil maka penderita langsung dinyatakan RFT tidak perlu menunggu hasil skin smear). 3. Mencatat data tingkat cacat dan hasil pemeriksaan skin semar dibuku register. Pada waktu menyatakan RFT kepada penderita, petugas harus memberi penjelasan tentang arti dan maksud RFT, yaitu : 1. Pengobatan telah selesai. 2. Penderita harus memelihara tangan dan kaki dengan baik agar janga sampai luka. 3. Bila ada tanda-tanda baru, penderita harus segera datang untuk periksaan ulang.

Rejimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut : Tipe PB (Pause Basiler) Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa : Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

27

Tipe MB (Multi Basiler) Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa : Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas

dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah DDS 100 mg/hari diminum dirumah Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT. Dosis untuk anak : Klofazimin Umur dibawah 10 tahun : a. Bulanan 100mg/bln b. Harian 50mg/2kali/minggu Umur 11-14 tahun : a. Bulanan 100mg/bln b. Harian 50mg/3kali/minggu c. DDS : 1-2mg/Kg BB

Rifampisin : 10-15mg/Kg BB Pengobatan MDT terbaru Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO (1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600mg, ofloksasim 400mg dan minosiklin 100mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi

28

diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam. Putus obat Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya. Perawatan Umum Perawatan pada morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena kuman kusta maupun karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral. 2. Rehabilitasi Usaha-usaha rehabilitasi meliputi medis, okupasi, dan sosial. Usaha medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh antara lain operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, fungsinya dapat diperbaiki. Lapangan pekerjaan dapat diusahakan untuk pasien kusta yang sesuai dengan cacat tubuh. Tetapi kejiwaan berupa bimbingan mental diupayakan sedini mungkin pada setiap pasien, keluarga, dan masyarakat sekitarnya untuk memberikan dorongan dan semangat agar dapat menerima kenyataan dan menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh sacara medis. Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan fungsi sosial ekonomi pasien sehingga menunjang kemandiriannya dengan memberikan bimbingan sosial dan peralatan kerja, serta membantu pemasaran hasil usaha pasien. Usaha-usaha rehabilitasi meliputi medis, okupasi, dan sosial. Usaha medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh antara lain operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, fungsinya dapat diperbaiki. Lapangan pekerjaan dapat diusahakan untuk pasien kusta yang sesuai dengan cacat tubuh. Tetapi kejiwaan berupa bimbingan mental diupayakan sedini mungkin pada setiap pasien, keluarga, dan masyarakat sekitarnya untuk memberikan dorongan dan semangat agar dapat menerima kenyataan dan menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh sacara medis. Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan

29

fungsi sosial ekonomi pasien sehingga menunjang kemandiriannya dengan memberikan bimbingan sosial dan peralatan kerja, serta membantu pemasaran hasil usaha pasien. 2) PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN A. Perawatan umum Perawatan pada morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena kuman kusta maupun karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral.

1) a) b) c)

Perawatan mata dengan lagophthalmos Penderita memeriksa mata setiap hari apakah ada kemerahan atau kotoran Penderita harus ingat sering kedip dengan kuat Mata perlu dilindungi dari kekeringan dan debu

B. Perawatan tangan yang mati rasa a) b) c) d) e) f) Penderita memeriksa tangannya tiap hari untuk mencari tanda- tanda luka, melepuh Perlu direndam setiap hari dengan air dingin selama lebih kurang setengah jam Keadaan basah diolesi minyak Kulit yang tebal digosok agar tipis dan halus Jari bengkok diurut agar lurus dan sendi-sendi tidak kaku Tangan mati rasa dilindungi dari panas, benda tajam, luka

C. Perawatan kaki yang mati rasa a) b) c) d) e) f) Penderita memeriksa kaki tiap hari Kaki direndam dalam air dingin lebih kurang jam Masih basah diolesi minyak Kulit yang keras digosok agar tipis dan halus Jari-jari bengkok diurut lurus Kaki mati rasa dilindungi

30

D. Perawatan luka a) b) c) d) Luka dibersihkan dengan sabun pada waktu direndam Luka dibalut agar bersih Bagian luka diistirahatkan dari tekanan Bila bengkak, panas, bau bawa ke puskesmas

2.12 PENCEGAHAN KUSTA


a. Pencegahan primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan : Penyuluhan Kesehatan Pencegahan primer dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum terkena penyakit kusta dan memiliki risiko tertular karena berada di sekitar atau dekat dengan penderita seperti keluarga penderita dan tetangga penderita, yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kusta. Penyuluhan yang diberikan petugas kesehatan tentang penyakit kusta adalah proses peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat yang belum menderita sakit sehingga dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya dari penyakit kusta. Sasaran penyuluhan penyakit kusta adalah keluarga penderita, tetangga penderita dan masyarakat (Depkes RI, 2005) Pemberian Imunisasi Sampai saat ini belum ditemukan upaya pencegahan primer penyakit kusta seperti pemberian imunisasi (Saisohar,1994). Dari hasil penelitian di Malawi tahun 1996 didapatkan bahwa pemberian vaksinasi BCG satu kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebesar 50%, sedangkan pemberian dua kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebanyak 80%, namun demikian penemuan ini belum menjadi kebijakan Pemberian Imunisasi program di Indonesia karena

31

penelitian beberapa negara memberikan hasil berbeda pemberian vaksinasi BCG tersebut (Depkes RI, 2005).

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan : Pengobatan pada penderita kusta Pengobatan pada penderita kusta untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. Pemberian Multi drug therapy pada penderita kusta terutama pada tipe Multibaciler karena tipe tersebut merupakan sumber kuman menularkan kepada orang lain (Depkes RI, 2006).

c. Pencegahan Tertier
Pencegahan cacat kusta Pencegahan tertier dilakukan untuk pencegahan cacat kusta pada penderita. Upaya pencegahan cacat terdiri atas (Depkes RI, 2006) : Upaya pencegahan cacat primer meliputi penemuan dini penderita sebelum cacat, pengobatan secara teratur dan penanganan reaksi untuk mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf. Upaya pencegahan cacat sekunder meliputi perawatan diri sendiri untuk mencegah luka dan perawatan mata, tangan atau kaki yang sudah mengalami gangguan fungsi saraf.

32

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KUSTA SECARA TEORITIS

A. PENGKAJIAN Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (iyer at al, 1996). tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. oleh karena itu pengkajian yang akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah ditentukan dalam standar praktek keperawatan dari ana

(american nursing association). (nursalam, 2001. hal : 17). 1. Identitas Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya : Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat No register Suku/bangsa Agama Tingkat pendidikan : : : : : : : : :

2. Riwayat kesehatan/keperawatan a. Keluhan utama

33

Keluhan utama pada pasien kusta, Keluhan utama, pada pasien lepra pada umumnya mengeluh adanya bercak-bercak di kulit, gatal, kaku dan panas serta mengalamai demam yang tinggi. b. Riwayat kesehatan sekarang Merupakan riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien, adanya lesi pada kulit biasanya tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi, kadang kadang lesi kemerahan, atau bewarna tembaga, lesi dapat berupa nodul, papul atau makula, kehilangan sensibilitas karena rusaknya saraf tepi, dan terdapat kelemahan otot, sedikit rasa gatal, kekeringan pada kulit, permukaan lesi bersisik, neuritis (nyeri tekan pada saraf) kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita (demam ringan) dan adanya komplikasi pada organ tubuh. c. Riwayat kesehatan dahulu Pada klien dengan morbus hansen reaksinya mudah terjadi jika dalam kondisi lemah, kehamilan, malaria, stres, sesudah mendapat imunisasi d. Riwayat kesehatan keluarga Morbus hansen merupakan penyakit menular yang menahun yang disebabkan oleh kuman kusta ( mikobakterium leprae) yang masa inkubasinya diperkirakan 2-5 tahun. Jadi salah satu anggota keluarga yang mempunyai penyakit morbus hansen akan tertular. e. Riwayat psikososial Klien yang menderita morbus hansen akan malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan, sehingga klien akan menutup diri dan menarik diri, sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan fungsi tubuh dan komplikasi yang diderita.

3. Pemeriksaan fisik a. Keadaan umum Klien biasanya dalam keadaan demam karena reaksi berat pada tipe I, reaksi ringan, berat tipe II morbus hansen. Lemah karena adanya gangguan saraf tepi motorik.

34

b. Sistem integumen Terdapat kelainan berupa : Hipopigmentasi (seperti panu) Bercak eritem (kemerah-merahan) Infiltrat (penebalan kulit) Nodul (benjolan) Gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit kering, tebal, mengeras dan pecah-pecah. Rambut: sering didapati kerontokan jika terdapat bercak. c. Sistem musculoskletal Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik Adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki Jika dibiarkan akan atropi. Penurunan kekuatan otot Gangguan masaa otot dan perubahan tonus otot d. Sistem neurosensori Kerusakan fungsi sensorik Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa. Akibat kurang/ mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka, sedang pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip. Kerusakan fungsi motorik Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah/ lumpuh dan lama-lama ototnya mengecil (atropi) karena tidak dipergunakan. Jari-jari tangan dan kaki menjadi bengkok dan akhirnya dapat terjadi kekakuan pada sendi (kontraktur), bila terjadi pada mata akan mengakibatkan mata tidak dapat dirapatkan (lagophthalmos). Kerusakan fungsi otonom Terjadi gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah. e. Sistem respirasi

35

Takipnea Pentilasi tidak adekuat f. Sistem penglihatan Adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik, kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi infeksi mengakibatkan kebutaan, dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Pada morbus hansen tipe II reaksi berat, jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan irigocyclitis. Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis mata akan rontok.

4. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan bakterioskopik (bakteri di laboratorium) Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. b. Pemeriksaan histopatologi (jaringan sel abnormal) Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada sebagian kecil kasus bila diagnosis masih meragukan, pemeriksaan histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini sangat membantu khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta untuk menentukan tipe yang tepat. c. Pemeriksaan serologis Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman M. leprae mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak digunakan untuk mendiagnosis kusta adalah : tes FLA-ABS tes ELISA tes MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah terbentuk di dalam tubuh pasien, titer dapat ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif 5. Analisa data

36

NO 1 Ds :

DATA

ETIOLOGI Gejala terkait penyakit

MASALAH Gangguan rasa nyaman

Klien mengatakan adaanya tanda kemerahan pada kulit (bercak kemerahan pada kulit) Klien mengatakan adanya bengkak bengkak pada kulit Klien mengatakan kulitnya terasa gatal Do : Adanya kerusakan pada lapisan kulit Terdapatnya lesi pada kulit Gangguan permukaan kulit seperti kulit kering, bersisik disekitar lesi Hipopigmentasi Klien tampak gelisah Klien melaporkan rasa gatal Klien tampak berkeluh kesah LAB : adanya bakteri kusta

37

Ds : Klien mengatakan adanya bercak bercak dikulit Klien mengatakan adanya lesi disekitar kulit Klien mengatakan kulitnya bersisik Klien mengatakan kulitnya kering Do : Hipopigmentasi (seperti panu) Adaanya nodul dan bersisik Adanya kerusakan pada kulit Adanya gangguan pada kulit

Defisit imunologi

Kerusakan integritas kulit

Ds : Klien mengatakan malu terhadap sakit yang dideritanya klien mengatakan malu bertemu dengan orang banyak klien mengatakan orang lain akan mengejek nya

Biofisik dan Penyakit

Gangguan citra tubuh

38

dengan sakit yang dideritanya klien mengatakan ini penyakit kutukan Do : adanya perubahan aktual struktur tubuh (adanya kerusakan pada kulit) Klien secara sengaja menyembunyikan bagian tubuhnya

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan deficit imunologi 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kelinan biofisik dan penyakit

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

BAB IV

39

PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta ( Mycobacterium leprae ) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lain kecuali susunan saraf pusat, untuk mendiagnosanya dengan mencari kelainankelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang tampak pada kulit. ( Depkes, 2005 ). Penyebab kusta adalah M. leprae, yang ditemukan pada tahun 1873 oleh G.Amauer Hansen di Norwegia. Kuman bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1-8 m, lebar 0,3 m dan bersifat obligat intraselluler. Kuman kusta tumbuh lambat, untuk membelah diri membutuhkan waktu 12-13 hari dan mencapai fase plateau dari pertumbuhan pada hari ke 20-40. Tumbuh pada tempratur 27-30C (81-86oF).

4.2 SARAN
A. Tenaga Keperawatan Diharapkan mampu memahami tentang penatalaksanaan pada pasien dengan Kusta. B. Mahasiswa Diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan bagi semua mahasiswa tentang asuhan keperawatan pada pasien pada pasien dengan Kusta.

40