You are on page 1of 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dislokasi sangat penting dikuasai oleh tenaga medis terutama para professional yang berkecimpung dalam dunia kedokteran. Dislokasi adalah keadaan di mana tulang tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis ( tulang lepas dari sendi ). Dislokasi ini dapat hanya komponen tulang saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat seharusnya ( dari mangkuk sendi ). Seseorang yang tidak dapat mengetupkan mulutnya kembali setelah membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain sendi rahangnya mengalami dislokasi. Dislokasi terjadi saat ligament memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabklan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan ( acquired ) atau karena sejak lahir ( kongenital ). Dalam kehidupan sehari hari, persendian dapat mengalami gangguan. Gangguan sendi ini dapat berupa proses perdangan karena infeksi, imunologis, proses degenerasi, maupun trauma. 1.2 Rumusan Masalah Apakah patofisiologi dari dislokasi sendi ektremitas?

1.3 Tujuan Untuk Mengetahui patofisiologi dari dislokasi sendi ektremitas.

Dislokasi Sendi Ekstremitas

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi 2.2 Definisi Dislokasi adalah suatu keadaan keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi sendi atau disebut juga luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lainnya. Dislokasi dapat berupa lepas komplet ( cerai sendi ) atau parsial ( dislokasi inkomplet ) atau subluksasio. Bila ligament atau kapsul sendi tidak sembuh dengan baik, luksasio mudah terulang kembali dan disebut dengan luksasio habitualis. Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. Bila terjadi patah tulang didekat sendi atau mengenai sendi disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Dislokasi sendi ekstremitas adalah keluarnya tulang tulang ekstremitas dari mangkukannya, seperti dislokasi sendi bahu, sendi siku, sendi lutut dan sendi sendi ektremitas lainnya. Cedera pada sendi dapat mengenai bagian permukaan tulang yang membuat persendian dan tulang rawannya, ligament, atau kapsul sendi rusak. Darah dapat mengumpul di dalam simpai sendi yang disebut hemartrosis. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligmen ligmennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya sendi itu akan gampang mengalami dislokasi kembali. Apabila dislokasi itu disertai pula patah tulang, pembetulannya menjadi sulit dan harus dikerjakan di rumah sakit. Semakin awal usaha pengembalian sendi itu dikerjakan, semakin baik penyembuhannya. Apabila hanya tulang rawan saja yang cedera, misalya pada sendi lutut yang memiliki meniscus, dapat timbul gejala klinis tertentu, yakni secara tiba

Dislokasi Sendi Ekstremitas

tiba sendi terkunci ( locking ) atau timbul suara klik atau clunk, tergantung jenis lesinya. Macam macam dislokasi sendi ekstremitas adalah sebagai berikut : a. Dislokasi sendi bahu Dislokasi bahu adalah suatu kerusakan yang terjadi saat bagian atas tulang humerus tidak menempel lagi dengan skapula. Hal ini terjadi saat caput humerus keluar dari soket, glenoid. Maka dislokasi bahu ini fokus pada dislokasi dari sendi glenohumeral. Bahu yang dislokasi menyebabkan gejala bahu yang sangat sakit dan diperlukan pengobatan dari rumah sakit untuk mengembalikan bentuk anatomi yang normal dari bahu tersebut. Klasifikasi : Dislokasi anterior, posterior, inferior dan dislokasi disertai dengan fraktur. Dislokasi anterior (preglenoid, subkorakoid, subklavikuler) Dislokasi bahu anterior merupakan kondisi dimana keluarnya caput humeri dari cavitas artikulare sendi bahu yang dangkal. Dislokasi sendi bahu anterior biasanya terjadi setelah cedera akut karena lengan dipaksa berabduksi, berotasi eksterna dan ekstensi sendi bahu Dislokasi posterior Dislokasi posterior lebih jarang terjadi, jumlahnya kurang dari 2% dari semua dislokasi sekitar bahu dan biasanya akibat trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna. Ditemukan adanya nyeri tekan serta benjolan di bagian belakang sendi. Pengobatan di lakukan dengan cara menarik lengan ke depan secara hati hati dan rotasi eksterna secara imobilitasi selama 3 6 minggu. Gaya tak langsung yang menyebabkan rotasi internal dan aduksi yang nyata harus sangat kuat untuk dapat menyebabkan dislokasi. Keadaan ini paling sering terjadi selama ayan atau kejang-kejang, atau karena sengatan listrik

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Dislokasi inferior Kaput humerus mengalami jepitan dibawah glenoid atau

terperangkap di bawah kavitas glenoid dimana lengan mengarah ke atas sehingga lengan terkunci dalam posisi abduksi sehingga terjadi dislokasi inferior yang dikenal dengan nama luksasio erekta. Dislokasi sendi siku Biasanya penderita jatuh dengan posisi tangan out strechted dimana bagian distal humerus terdorong kedepan melalui kapsul anterior sedangkan radius dan ulna mengalami dislokasi ke posterior. Dislokasi umumnya posterior atau posterolateral. Terdapat nyeri disertai

pembengkakan yang hebat disekitar sendi siku ketika siku dalam posisi semi fleksi, olecranon dapat teraba pada bagian belakang. Pengobatan dengan reposisi, pada jam-jam pertama dapat tanpa pembiusan umum, setelah reposisi lengan difleksikan >900 dan dipertahankan dengan gips selama 3 minggu. b. Dislokasi sendi lutut Dislokasi ini sangat jarang terjadi, biasanya terjadi apabila penderita mendapat trauma dari depan dengan lutut dalam keadaan fleksi. Dislokasi dapat bersifat anterior, posterior, lateral, medial atau rotasi. Dislokasi anterior lebih sering ditemukan dimana tibia bergerak kedepan terhadap femur, trauma ini menimbulkan kerusakan pada kapsul, ligamen, yang besar dan sendi. Trauma juga dapat menyebabkan dislokasi yang terjadi disertai dengan kerusakan pada nervus peroneus dan arteri poplitea. Gambaran klinis dijumpai adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan, nyeri dan hamartrosis serta deformitas. Pengobatan, tindakan reposisi dengan

pembiusan harus dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan aspirasi hamartrosis dan setelahnya dipasang bidai gips posisi 100 150 selama 1 minggu kemudian dipasang gips sirkuler iatas lutut selama 7 - 8 minggu, bila

Dislokasi Sendi Ekstremitas

ternyata lutut tetap tak stabil (varus ataupun valgus) maka harus dilakukan operasi untuk erbaikan pada ligamen. c. Dislokasi sendi panggul Dislokasi posterior Trauma biasanya terjadi akibat kecelakaan laulintas dimana lutut dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang berada dibagian depan lutut, dapat juga terjadi pada saat mengendarai sepeda motor. Klasifikasi, untuk rencana pengobatan (Thompson Epstein) : 1) Tipe I : dislokasi dengan fragmen tunggal yang besar pada bagian kecil . 2) Tipe II : dislokasi tanpa fraktur atau dengan fragmen tulang yang posterior acetabulum 3) Tipe III : dislokasi dengan fraktur bibir acetabulum yang komunitif 4) Tipe IV : dislokasi dengan fraktur dasar acetabulum 5) Tipe V : dislokasi dengan fraktur kaput femur Penderita biasanya datang setelah suatu trauma yang hebat dengan keluhan nyeri dan deformitas pada daerah sendi panggul. Sendi panggul teraba menonjol kebelakang dalam posisi adduksi, fleksi dan rotasi interna. Terdapat pemendekan anggota gerak bawah. Dislokasi anterior Lebih jarang dibanding anterior dapat akibat kecelakaan lalulintas, jatuh dari ketinggian atau trauma dari belakang saat berjongkok dan posisi penderita dalam keadaan abduksi yang dipaksakan, leher femur atau throkanter menabrak acetabulum dan terjungkir keluar melalui robekan kapsul anterior. Gambaran klinis, tungkai bawah dalam keadaan rotasi eksterna, abduksi dan sedikit fleksi, tungkai tak mengalami pemendekan karena perlekatan otot rectus femur mencegah kaput femur bergeser ke proximal, terdapat benjolan didepan daerah inguinal dimana kaput femur

Dislokasi Sendi Ekstremitas

dapat diraba dengan mudah, sendi panggul sulit digerakkan. Pengobatan dilakukan dengan reposisi seperti pada dislokasi posterior, dilakukan adduksi pada dislokasi anterior. Komplikasi tersering adalah nekrosis avaskuler. Dislokasi sentral Tejadi apabila kaput femur terdorong ke dinding medial acetabulum pada rongga panggul, kapsul tetap utuh. Terdapat perdarahan dan pembengkakan didaerah tungkai proximal tetapi posisi tetap normal, nyeri tekan pada daerah throchanter, dan gerakan sendi panggul terbatas. Pengobatan dengan melakukan reposisi dan traksi selama 4- 6 minggu, setelah itu diperbolehkan berjalan dengan penopang berat badan. 2.3 Epideminologi Dislokasi panggul Dislokasi pinggul posterior lebih sering ditemukan dibanding dislokasi pinggul anterior yaotu sekitar 90 % dari semua jenis dislokasi hips. Frekuensi menurun dengan dipakainya sabuk pengaman ketika berkendaraan. Anterior dan central dislokasi terjadi sekitar 10% dari seluruh dislokasi hips. Insidensi congenital hip dislocations kira kira 1 dari 500 populasi. Data penelitian menyebutkan bahwa prevalensi congenital hip dislocation kira kira 587.310 kasus. Dislokasi Bahu 1) Dislokasi primer Dislokasi dan subluksasi sendi glenohumeral relatif sering terjadi pada atlet. Seorang peneliti mengidentifikasi distribusi bimodal dislokasi bahu primer dengan puncak dalam dekade kedua dan keenam. Dalam95% kasus, dislokasi bahu yang terjadi mengarah ke anterior. Terdapat beberapa fraktur yang berhubungan dengan dislokasi bahu anterior yaitu kelainan Hill-Sachs dengan kasus sebanyak 35-40% dari kasus yang ada, lesi
Dislokasi Sendi Ekstremitas

Bankart dan fraktur dari greater tuberosity dengan kasus sebanyak 10-15% dari kasus yang ada. Sekitar 4% dari kasus yang ada, dislokasi terjadi ke arah posterior. Sekitar 0.5% dari semua dislokasi yang ada, terjadi dislokasi ke arah inferior (luxatio erecta). Dan dislokasi ke arah superior jarang sekali ditemukan, angka kejadiannya lebih kecil dari dislokasi ke arah inferior. Penyebab utama dari dislokasi bahu primer adalah cedera traumatik. Hampir 95% dari dislokasi bahu yang terjadi pertama kali adalah akibat dari beberapa kejadian seperti benturan kuat, jatuh pada lengan terulur, atau gerakan tiba tiba yang dapat mengakibatkan bahu terkilir. Pada individu individu ini, struktur yang berfungsi menstabilkan gerakan ditarik paksa secara mendadak. Sekitar 5% dari dislokasi yang ada disebabkan oleh kejadian yang atraumatik (misalnya, insiden kecils eperti mengangkat lengan atau bergera ksaat tidur). Individu individu ini mungkin memiliki kelemahan kapsuler atau perubahan dari pengontrolan otot pada kompleks bahu atau dapat disebabkan oleh keduanya. 2) Dislokasi berulang Komplikasi penting dari dislokasi primer adalah dislokasi berulang berikutnya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh seorang peneliti, sekitar 70% dari mereka yang telah mengalami dislokasi memiliki kemungkinan untuk mengalami dislokasi berulang dalam waktu 2 tahunsejak cedera pertama. Penderita yang lebih muda dan lebih tua memiliki insiden dislokasi bahu primer yang sebanding. Namun keadaan dislokasi berulang sangat bergantung pada usia dan lebih sering terjadi pada populasi remaja dibandingkan dengan populasi yang lebih tua. Telah dilaporkan bahwa dislokasi rekuren pada 66% sampai 100% pada individu berusia 20 tahun atau lebih muda, 13% sampai 63% dari individu berusia antara 20 dan 40 tahun, dan 0% sampai 16% dari individu berusia 40 tahun atau lebih.

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Pasien yang mengalami robekan pada rotator cuff atau fraktur pada glenoid saat terjadi dislokasi bahu memiliki insiden dislokasi berulang yang lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa masalah ini. Dislokasi bahu cenderung lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena tipe olahraga yang dilakukan. Dislokasi patella Insiden dislokasi patella primer pada populasi dewasa telah ditunjukkan pada beberapa laporan. Pada kelompok warga sipil, Kejadian rata-rata per tahun untuk cedera dislokasi patella berkisar antara 5,8 dan 7,0 per 100.000 orang per tahun dan sekitar 29 per 100.000 orang per tahunnya pada kelompok usia 10-17 tahun. Namun kejadian itu meningkat menjadi 69 per 100.000 orang per tahun pada populasi militer yang diperlukan untuk

menjalani test kebugaran fisik dan pelatihan persyaratan dinas militer. Perempuan lebih mungkin untuk mengalami cedera dislokasi patela dibandingkan pria. Kecenderungan mengenai tingginya kejadian dislokasi patella pada kelompok usia muda dan turunnya angka kejadiannya seiring bertambahnya usia telah diamati tidak hanya di kelompok militer namun juga pada warga sipil. Penemuan tersebut mungkin berhubungan dengan meningkatnya aktivitas pada orang yang lebih muda dan karena ciri anatomisnya yang lebih rentan. 2.4 Etiologi Dislokasi disebabkan oleh: a) Cedera olah raga Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami

Dislokasi Sendi Ekstremitas

dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain. b) Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi. c) Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin Tidak diketahui Faktor predisposisi(pengaturan posisi) akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir. Trauma akibat kecelakaan. Trauma akibat pembedahan ortopedi ( ilmu yang mempelajarin tentang tulang ) Terjadi infeksi disekitar sendi. d) Dislokasi sendi bahu anterior sering disebabkan oleh gerak berlebihan terutama saat berolahraga ataupun trauma lansung. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian berulang diantaranya tidak sempurnanya relaksasi ligament kapsular sendi, kelemahan otot-otot sekitar dan kelainan congenital ataupun bawaan dari kaput humeri atau fossa glenoidalis.

2.5 Patogenesis dan patofisiologi Patogenesis Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena kelainan congenital yang terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan yang mengakibatkan kekenduran pada ligamen sehingga terjadi penurunan stabilitas sendi. Dari adanya traumatic akibat dari gerakan yang berlebih pada sendi. Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema

Dislokasi Sendi Ekstremitas

(karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa. Dislokasi akibat patologik karena adanya penyakit yang akhirnya terjadi perubahan struktur sendi akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. Misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang ini dapat juga disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. Dari 3 hal tersebut, menyebabkan dislokasi sendi. Dislokasi mengakibatkan timbulnya trauma jaringan dan tulang, penyempitan pembuluh darah, perubahan panjang ekstremitas sehingga terjadi perubahan struktur. Dan yang terakhir terjadi kekakuan pada sendi. Dari dislokasi sendi, perlu dilakukan adanya reposisi dengan cara dibidai. Dislokasi sendi bahu anterior paling sering terjadi dengan jatuh dalam posisi out strechted atau trauma pada skapula sendiri dan anggota gerak dalam posisi rotasi lateral sehingga kaput humerus menembus kapsul anterior sendi. Pada dislokasi anterior kaput humerus berada dibawah glenoid, subkorakoid dan subklavikuler Patofisiologi Cedera akibat olahraga dikarenakan beberapa hal seperti tidak melakukan exercise sebelum olahraga memungkinkan terjadinya dislokasi, dimana cedera olahraga menyebabkan terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompresi jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal. Keadaan tersebut dikatakan sebagai dislokasi. Begitu pula dengan trauma kecelakaan karena kurang kehati-hatian dalam melakukan suatu tindakan atau saat berkendara tidak menggunakan

10

Dislokasi Sendi Ekstremitas

helm dan sabuk pengaman memungkinkan terjadi dislokasi. Trauma kecelakaan dapat kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompres jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek

kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal yang menyebabkan dislokasi. Patofisiologi dan Patogenesis sendi bahu Dislokasi terjadi karena kekuatan yang menyebabkan gerakan rotasi eksterna dan ekstensi sendi bahu. Kaput humerus didorong kedepan dan menimbulkan avulsi kapsul sendi dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidalis bagian anterior. Pada dislokasi berulang labrum dan kapsul sering terlepas dari lingkar anterior glenoid. Tetapi pada beberapa kasus labrum tetap utuh dan kapsul serta ligamentum glenohumerus keduanya terlepas atau terentang keraha anterior dan inferior. Selain itu mungkin ada indentasi pada bagian posterolateral kaput humerus (lesi Hill-Sachs), yaitu suatu fraktur kompresi akibat kaput humerus menekan lingkar glenoid anterior setiap kali mengalami dislokasi. 2.6 Manifestasi Klinis Didapatkan nyeri yang hebat Gangguan gerakan sendi bahu Pasien merasakan sendinya keluar dan tidak mampu menggerakkan lengannya. Kontur sendi bahu rata (karena caput humerus bergerser ke depan). Pada dislokasi sendi bahu anterior perhatikan dua tanda khas, yaitu sumbu humerus yang tidak menunjuk ke bahu dan kontur bahu berubah karena daerah di bawah akromion kosong. Garis gambar lateral atau kontur sendi bahu dapat menjadi rata karena kaput humerus bergeser ke depan, dan kalau

11

Dislokasi Sendi Ekstremitas

pasien tidak terlalu berotot, suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula. Lengan harus selalu diperiksa untuk mencari ada tidaknya cedera saraf dan pembuluh darah. Pada dislokasi sendi bahu posterior, lengan tetap pada rotasi medial dan terkunci pada posisi itu. Bagian depan bahu tampak rata dengan korakoid yang menonjol, tetapi pembengkakan dapat menyembunyikan deformitas ini; tetapi bila dilihat dari atas, pergeseran posterior biasanya terlihat. Ditemukan adanya nyeri tekan serta benjolan di bagian belakang sendi.

2.7 Pemeriksaan Fisik dan Penujang Pemeriksaan fisik Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi. Tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi Adanya nyeri tekan pada daerah dislokasi Tampak adanya lebam pad dislokasi sendi Pemeriksaan penunjang Foto X-ray Untuk menentukan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur. Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar roentgen (X-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang sulit, oleh karena itu minimal diperlukan 2 proyeksi tambahan (khusus) atas indikasi khusus untuk memperlihatkan patologi yang dicari, karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan X-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang tersebut dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.

12

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Misalnya, untuk fraktur baru, indikasi X-ray adalah untuk melihat jenis dan kedudukan fraktur dan karenanya perlu tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung persendian) karena kemungkinan terjadinya fraktur dan dislokasi pada jenis fraktur tertentu, seperti : Monteggeia, Galeazzi, Fraktur segmental femur dengan atau tanpa dislokasi sendi panggul yang sering meleset diagnosisnya karena discrepancy yang terjadi bukan saja oleh frakturnya melainkan juga karena adanya dislokasi. Hal yang perlu dibaca pada X-ray adalah : a. b. Bayangan jaringan lunak pis tebalnya cortex sebagai akibat reaksi periost atau karena akibat biomekanik (Wolffs Law) atau rotasi. c. d. Trabukulasi ada tidaknya rare fraction. Sela sendi serta bentuk arsitektur sendi.

Foto rontgen Menentukan luasnya degenerasi dan mengesampingkan malignasi Pemeriksaan radiologi Tampak tulang lepas dari sendi Pemeriksaan laboratorium a. Darah lengkap dapat dilihat adanya tanda-tanda infeksi seperti peningkatan leukosit. Pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui keadaan umum, infeksi akut / menahun. b. Atas indikasi tertentu, diperlukan pemeriksaan : Kimia darah Reaksi imunologi Fungsi hati / ginjal

c. Bahkan kalau perlu dilakukan pemeriksaan Bone Marrow d. Pemeriksaan urin rutin (+Esbach, Bence jones) e. Pemeriksaan micro organism kultur dan sensitivity test.

13

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Tomografi: Tomografi telah berkembang lebih maju dengan adanya CT (Computerised Tomografy) yang dapat membuat selain potongan longitudinal juga potongan tranversal / axial. Atau dengan contrast, seperti :
o o o o

Myelografy Arthrografy Fistulografy Scintigrafy menggunakan radioisotope untuk mengetahui

penyebaran (metastasis).
o

MRI / NMR (Magnectic Resonance Imaging atau Nuclear Magnectic Resonance)

2.8 Diagnosis Anamnesis Ada trauma Mekanisme trauma yang sesuai, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi anterior sendi bahu. Ada rasa sendi keluar. Bila trauma minimal hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekuren atau habitual. Pemeriksaan klinis. Deformitas, hilangnya tonjolan tulang normal, misalnaya deltoid yang rata pada dislokasi bahu dan perubahan panjang ekstremitas. Kedudukan yang khas pada dislokasi tertentu, misalnya dislokasi posterior sendi panggul kedudukan sendi panggul endorotasi, fleksi dan abduksi. Nyeri Funtio laesa gerak terbatas.

14

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Diagnosis sendi bahu Diagnosis kasus dislokasi bahu anterior ditegakkan melalui anamnesis (autoanamnesis atau alloanamnesis), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat memberikan informasi riwayat trauma dan mekanisme terjadinya trauma tersebut, sehingga dapat lebih membantu menegakkan diagnosis dan mengetahui penyulit-penyulit yang mungkin telah ada dan yang dapat muncul kemudian. Selain itu juga diperlukan informasi mengenai riwayat penyakit pasien dan riwayat trauma sebelumnya, untuk mempertimbangkan penanganan yang akan diambil. Dari pemeriksaan fisik ditemukan beberapa tanda diantaranya adanya nyeri, terdapat tonjolan pada bagian depan bahu, posisi lengan abduksi eksorotasi, tepi bahu tampak menyudut, nyeri tekan, dan adanya gangguan gerak sendi bahu. Ada 2 tanda khas pada kasus dislokasi sendi bahu anterior ini yaitu sumbu humerus yang tidak menunjuk ke bahu dan kontur bahu berubah karena daerah dibawah akromion kosong pada palpasi. Penderita merasakan sendinya keluar dan tidak mampu menggerakkan lengannya dan lengan yang cedera ditopang oleh tangan sebelah lain dan ia tidak dapat menyetuh dadanya. Lengan yang cedera tampak lebih panjang daripada normal, bahu terfiksasi sehingga mengalami fleksi dan lengan bawah berotasi kearah interna. Posisi badan penderita miring kearah sisi yang sakit. Pemeriksa terkadang dapat membuat skapula bergerak pada dadanya namun tidak akan dapat menggerakkan humerus pada scapula. Jika pasien tidak terlalu banyak menggerakka bahunya , maka pada kasus ini kaput humerus yang tergeser dapat diraba dibawah prosesus korakoideus. Diagnosis klinik untuk kasus dislokasi sendi bahu anterior ini dapat menggunakan tanda cemas (apprehension sign). Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengangkat lengan kedalam abduksi, rotasi luar dan kemudian ekstensi secara hati-hati dalam posisi duduk atau berbaring. Pada saat kritis pasien akan merasa bahwa kaput humerus seperti akan telepas kebagian

15

Dislokasi Sendi Ekstremitas

anterior dan tubuhnya menegang karena cemas. Uji ini harus diulangi dengan menekan bagian depan bahu, dimana dengan manuver ini pasien akan merasa lebih aman dan tanda cemasnya negatif. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah rontgen foto bahu anteroposterior (AP) dan lateral. Selain itu juga dianjurkan melakukan pemeriksaan pandangan oblik agar dapat dipastikan tidak terdapat dislokasi posterior kasus.Diagnosis banding dari kasus dislokasi anterior ini juga dapat disingkirkan dengan pemeriksaan pandangan oblik.Pemeriksaan pandangan oblik memang lebih sulit dilakukan namun lebih mudah diintepretasi. 2.9 Penatalaksanaan Penatalaksanaan sendi bahu Penatalaksanaan kasus dislokasi anterior bahu dilakukan secara konservatif dan operatif. Pilihan terapi konservatif berupa reposisi tertutup dengan manuver Kocher, immobilisasi dengan verban Velpeau atau collar cuff selama lebih kurang 3 minggu. Reduksi dislokasi harus segera dilakukan untuk kasus dislokasi anterior bahu yang baru terjadi. Reduksi segera ini dapat dilakukan dengan 2 metode: 1. Metode Stimson Metode ini mudah dilakukan dan tidak memerlukan anestesi. Penderita diminta tidur telungkup dengan lengan yang terkena dibiarkan menggantung ke bawah dengan memberikan beban 2 kg yang diikatkan pada pergelangan tangan. Pada saat otot bahu dalam keadaan relaksasi, diharapkan terjadi reposisi akibat berat lengan yang tergantung disamping tempat tidur tersebut. Metode ini dilakukan selama 10-15 menit. 2. Metode Hippocrates Metode ini dilakukan jika metode stimson tidak memberikan hasil dalam waktu 15 menit. Reposisi dilakukan dalam keadaan anestesi umum.

16

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Lengan pasien ditarik kearah distal punggung dengan sedikit abduksi, sementara kaki penolong berada diketiak pasien untuk mengungkit kaput humerus kearah lateral dan posterior. Setelah reposisi, bahu dipertahankan dalam posisi endorotasi dengan penyangga ke dada selama paling sedikit 3 minggu. Untuk kedua metode ini, pasien diminta mengabduksikan lengannnya secara lembut kemudian lakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada saraf aksilaris atau muskulokutaneus yang cedera. Lakukan kembali pemeriksaan Rontgen untuk konfirmasi. Indikasi terapi operatif adalah kasus lama (neglected case). Operasi dilakukan dengan metode Bristow. labium glenoid dan kapsul yang robek dan metode Putti-Platt untuk memendekkan kapsul anterior dan subskapularis dengan perbaikan tumpang tindih. Metode operasi lain yang dilakukan adalah metode Bankart untuk memperbaiki. Penatalaksanaan dislokasi sendibahu posterior Dislokasi akut direduksi (biasanya di bawah anestesi umum) dengan menarik lengan sementara bahu pada posisi abduksi; biarkan beberapa menit agar kaput humerus lepas dan kemudian lengan dengan pelan-pelan diputar ke lateral sementara kaput humerus didorong ke depan. Kalau reduksi terasa stabil, lengan diimobilisasi dalam kain gendongan; kalau tidak, bahu dipertahankan berabduksi lebar-lebar dan dirotasi ke lateral dalam spika gips selama 3 minggu. Gerakan bahu diperoleh kembali melalui latihan aktif. Penatalaksanaan dislokasi sendi panggul inferior Dilakukan reposisi tertutup seperti dislokasi anterior dan bila tidak berhasil dapat dilakukan reposisi terbuka dengan operasi. Penatalaksanaan dislokasi sendi panggul posterior Pengobatan dengan reposisi secepatnya dengan pembiusan umum disertai relaksasi secukupnya. Penderita dibaringkan dilantai dan pembantu menahan panggul. Sendi panggul difleksikan serta lutut difleksi 900 dan

17

Dislokasi Sendi Ekstremitas

kemudian dilakukan tarikan pada paha secara vertical. Setelah direposisi, stabilitas sendi diperiksa apakah sendi panggul dapat didislokasi dengn cara menggerakkan secara vertical pada sendi panggul. untuk kasus yang melibatkan penanganan fragmen tulang membutuhkan tindakan operatif. Traksi kulit 4-6 minggu, setelah itu tak menginjakkan kaki dan menggunakan tongkat selama 3 bulan.

2.10 Komplikasi Komplikasi dislokasi sendi bahu anterior Kerusakan nervus aksilaris, kerusakan pembuluh darah, tidak dapat direposisi, kaku sendi, dislokasi rekuren. Komplikasi yang dapat terjadi pada dislokasi anterior adalah timbulnya dislokasi kambuhan, lesi pleksus brakialis dan nervus aksilaris, serta interposisi tendo bisep kaput longum. Robekan arteri aksilaris jug dapat terjadi.terutama pada orang tua yang dilakukan reduksi dislokasi dengan tenaga yang berlebihan. Langkah antisipatif yang dapat dilakukan sebelum dirujuk adalah dengan melakukan penekanan kuat pada aksila. Komplikasi dislokasi sendi bahu posterior a. Dislokasi yang tak direduksi Sekurang-kurangnya setengah dari pasien dengan dislokasi posterior tak mendapat reduksi ketika pertama ditemukan. Kadang-kadang sudah terlewat beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Secara khas pasien mempertahankan lengan berotasi internal; dia tidak dapat mengabduksi lengan lebih dari 70 80 derajat, dan kalau mengangkat lengan yang terentang ke depan, dia tidak dapat memutar telapak tangan ke atas. Kalau pasien itu muda, atau merasa tak nyaman dan dislokasi belum lama terjadi (katakanlah baru 8 minggu), reduksi terbuka diindikasikan.

18

Dislokasi Sendi Ekstremitas

Melalui pendekatan posterior, dilakukan perbaikan dan pemendekan kapsul. Dislokasi belakangan, terutama pada manula, terbaik dibiarkan, tetapi dianjurkan melakukan gerakan. b. Dislokasi atau subluksasi berulang Ketidakstabilan posterior yang kronis pada bahu. Komplikasi dislokasi posterior sendi panggul Komplikasi dini berupa kerusakan nervus skiatik, kerusakan kaput femur, dan fraktur diafisis femur. Komplikasi lanjut berupa nekrosis avaskuler, osteoarthritis, dan dislokasi yang tak dapat direduksi. Komplikasi lanjut dapat berupa kaku sendi dan dislokasi rekurens.

2.11 Prognosis Prognosis dari dislokasi sendi ektremitas ini tergantung pada sendi tertentu yang mengalami dislokasi dan bagaimana cedera jaringan sekitarnya. Cedera saraf dan arteri di sekitar sendi memiliki prognosis buruk. Prognosis juga tergantung pada usia pasien dan arah dislokasi. Tingkat kesembuhan pada kasus ini dikatakan baik jika tidak timbul komplikasi. Dislokasi sendi bahu anterior jika ditangani secara cepat oleh tim rehabilitasi medis terutama fisioterapi maka keadaan ini akan memproleh hasil yang optimal dalam waktu yang singkat, maka dikatakan prognosisnya baik. Sebaliknya bila kasus ini tidak ditangani secara dini maka dapat menimbulkan kecacatan maka dikatakan prognosisnya jelek.

19

Dislokasi Sendi Ekstremitas

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
1. Apley, A.Graham dan Solomon, Louis. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley Edisi Ketujuh. Jakarta : WIdya Medika. 2. Jong, De. 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta : EGC. 3. Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : EGC. 4. Rasjad, Chairuddin. 2009. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT Yarsif Watampone. 5. Utama, Herry Setya Yudha. 2012. Dislokasi Sendi Bahu/ Shoulder Joint Dislocation. Akses 28 September 2013. <>

20

Dislokasi Sendi Ekstremitas