You are on page 1of 21

LAPORAN PENDAHULUAN ABSES PERIANAL

Disusun oleh: Yosep Pratama NIM: 4006130028

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG 2013/2014

LAPORAN PENDAHULUAN ABSES PERIANAL

A. Pengertian Abses perianal adalah infeksi pada ruang pararektal. Abses ini kebanyakan akan mengakibatkan fistula (Smeltzer dan Bare, 2001, hal 1137). Abses perianal merupakan infeksi pada jaringan lunak sekitar saluran anal, dengan pembentukan abses rongga diskrit. Tingkat keparahan dan kedalaman dari abses cukup variabel, dan rongga abses sering dikaitkan dengan pembentukan saluran fistulous.

B. Etiologi Umumnya bakteri seperti stafilokokus dan Escherichia coli adalah penyebab paling umum. Infeksi jamur kadang-kadang menyebabkan abses

(Emedicinehealth, 2011, hal 1). Masuknya bakteri ke daerah sekitar anus dan rektum (Eddy Gunawan, 2010, hal 1).

C. Patofisiologi Abses perianal terbentuk akibat berkumpulnya nanah di jaringan bawah kulit daerah sekitar anus. Nanah terbentuk akibat infeksi kuman/bakteri karena kelenjar di daerah tersebut tersumbat. Bakteri yang biasanya menjadi penyebab adalah Escherichia coli dan spesies Enterococcus. Kuman/bakteri yang berkembang biak di kelenjar yang tersumbat lama kelamaan akan memakan jaringan sehat di sekitarnya sehingga membentuk nanah. Nanah yang terbentuk makin lama makin banyak sehingga akan terasa bengkak dan nyeri, inilah yang disebut abses perianal. Pada beberapa orang dengan penurunan daya tubuh misalnya penderita diabetes militus, HIV/AIDS, dan penggunaan steroid (obat anti radang) dalam jangka waktu lama, ataupun dalam kemoterapi akibat kanker biasanya abses akan lebih mudah terjadi (Selatan, 2008, hal 1).

D. Tanda dan gejala Abses dapat terjadi pada berbagai ruang di dalam dan sekitar rektum. Seringkali mengandung sejumlah pus berbau menyengat dan nyeri. Apabila abses terletak

superficial, maka akan tampak bengkak, kemerahan, dan nyeri tekan. Nyeri memburuk dengan mengedan, batuk atau bersin, terutama pada abses intersfingter. Dengan perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktivitas seperti berjalan atau duduk. Abses yang terletak lebih dalam memgakibatkan gejala toksik dan bahkan nyeri abdomen bawah, serta deman. Sebagian besar abses rectal akan mengakibatkan fistula (Smeltzer dan Bare, 2001, hal 468). Abses di bawah kulit bisa membengkak, merah, lembut dan sangat nyeri. Abses yang terletak lebih tinggi di rektum, bisa saja tidak menyebabkan gejala, namun bisa menyebabkan demam dan nyeri di perut bagian bawah (Healthy of The Human, 2010, hal 1)

Abses perianal

E. Pengobatan Antibiotik memiliki nilai terbatas kecuali pada penderita yang mengalami demam, kencing manis atau infeksi di bagian tubuh lainnya. Biasanya, pengobatan terdiri dari suntikan dengan bius lokal, membuka abses dan mengeluarkan nanahnya. Kadang-kadang, penderita dirawat dan mendapatkan pembiusan total sebelum dokter membuka dan mengeringkan abses. Setelah semua nanah dibuang, bisa terbentuk terowongan abnormal yang menuju ke kulit (fistula anorektal) (Gunawan, 2010, hal 1).

F. Pemeriksaan penunjang Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dalam, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen, USG, CT scan atau MRI (Healthy of The Human, 2010, hal 2).

G. Komplikasi Jika tidak diobati, fistula anus hampir pasti akan membentuk, menghubungkan rektum untuk kulit. Hal ini memerlukan operasi lebih intensif. Selanjutnya, setiap abses diobati dapat (dan kemungkinan besar akan) terus berkembang, akhirnya menjadi infeksi sistemik yang serius. Hal yang paling ditakutkan pada abses perianal adalah terjadinya fistel perianal. Fistel perianal adalah saluran abnormal antara lubang anus/rektum dengan lubang bekas abses yang bermuara pada kulit

sekitar anus. Muara pada kulit sekitar anus tampak sebagai luka bekas bisul yang tidak pernah menutup/sembuh dan tidak sakit (Selatan, 2008, hal 2). ASUHAN KEPERAWATAN

A. Identitas pasien dan penanggung jawab

Identitas pasien diisi mencakup nama, umur, jenis kelamin, status pernikahan, Agama, pendidikan, pekerjaan,suku bangsa, tgl masuk RS, alamat. Untuk penangung jawab dituliskan nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat.

B. Riwayat Kesehatan

Mengkaji keluhan utama apa yang menyebabkan pasien dirawat. Apakah penyebab dan pencetus timbulnya penyakit, bagian tubuh yang mana yang sakit, kebiasaan saat sakit kemana minta pertolongan, apakah diobati sendiri atau menggunakan fasilitas kesehatan. Apakah ada alergi, apakah ada kebiasaan merokok, minum alkohol, minum kopi atau minum obat-obatan.

C. Riwayat Penyakit

Penyakit apa yang pernah diderita oleh pasien, riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah di derita oleh pasien yang menyebabkan pasien dirawat. Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain yang bersifat genetik maupun tidak.

D. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum Umumnya penderita datang dengan keadaan sakit dan gelisah atau cemas akibat adanya bisul pada daerah anus. 2. Tanda-Tanda Vital Tekanan darah normal, nadi cepat, suhu meningkat dan pernafasan meningkat. 3. Pemeriksaan Kepala Dan Leher a. Kepala Dan Rambut Pemeriksaan meliputi bentuk kepala, penyebaran dan perubahan warna rambut serta pemeriksaan tentang luka. Jika ada luka pada daerah tersebut, menyebabkan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan kulit. b. Mata Meliputi kesimetrisan, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya dan gangguan penglihatan. c. Hidung Meliputi pemeriksaan mukosa hidung, kebersihan, tidak timbul pernafasan cuping hidung, tidak ada sekret. d. Mulut Catat keadaan adanya sianosis atau bibir kering. e. Telinga

Catat bentuk gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan serumen. Pada penderita yang bed rest dengan posisi miring maka, kemungkinan akan terjadi ulkus didaerah daun telinga. f. Leher Mengetahui posisi trakea, denyut nadi karotis, ada tidaknya pembesaran vena jugularis dan kelenjar linfe. 4. Pemeriksaan Dada Dan Thorax Inspeksi bentuk thorax dan ekspansi paru, auskultasi irama pernafasan, vokal premitus, adanya suara tambahan, bunyi jantung, dan bunyi jantung tambahan, perkusi thorax untuk mencari ketidak normalan pada daerah thorax. 5. Abdomen Bentuk perut datar atau flat, bising usus mengalami penurunan karena immobilisasi, ada masa karena konstipasi, dan perkusi abdomen hypersonor jika dispensi abdomen atau tegang. 6. Urogenital Inspeksi adanya kelainan pada perinium. Biasanya klien dengan fistula ani yang baru di operasi terpasang kateter untuk buang air kecil. 7. Muskuloskeletal Adanya fraktur pada tulang akan menyebabkan klien bedrest dalam waktu lama, sehingga terjadi penurunan kekuatan otot. 8. Pemeriksaan Neurologi

Tingkat kesadaran dikaji dengan sistem GCS. Nilainya bisa menurun bila terjadi nyeri hebat (syok neurogenik) dan panas atau demam tinggi, mual muntah, dan kaku kuduk.

9. Pemeriksaan Kulit a. Inspeksi kulit Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit termasuk membran mukosa, kulit kepala, rambut dan kuku. Tampilan kulit yang perlu dikaji yaitu warna, suhu, kelembaban, kekeringan, tekstur kulit (kasar atau halus), lesi, vaskularitas. Yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu : 1) Warna, dipengaruhi oleh aliran darah, oksigenasi, suhu badan dan produksi pigmen. Lesi yang dibagi dua yaitu : a) Lesi primer, yang terjadi karena adanya perubahan pada salah satu komponen kulit b) Lesi sekunder adalah lesi yang muncul setelah adanya lesi primer. Gambaran lesi yang harus diperhatikan oleh perawat yaitu warna, bentuk, lokasi dan kofigurasinya. 2) Edema Selama inspeksi kulit, perawat mencatat lokasi, distribusi dan warna dari daerah edema. 3) Kelembaban

Normalnya, kelembaban meningkat karena peningkatan aktivitas atau suhu lingkungan yang tinggi kulit kering dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti lingkungan kering atau lembab yang tidak cocok, intake cairan yang inadekuat.

4) Integritas Yang harus diperhatikan yaitu lokasi, bentuk, warna, distribusi, apakah ada drainase atau infeksi. 5) Kebersihan kulit 6) Vaskularisasi Perdarahan dari pembuluh darah menghasilkan petechie dan echimosis. 7) Palpasi kulit Yang perlu diperhatikan yaitu lesi pada kulit, kelembaban, suhu, tekstur atau elastisitas, turgor kulit.

E. Data Fokus ( kemungkinan ditemukan DO & DS )

DO: Ekspresi wajah tampak meringis saat tidur terlentang. Kulit tampak kemerahan dan ada luka operasi yang terpasang handscoen drain. DS: Pasien mengatakan ada bisul di daerah dubur dan terasa nyeri.

F. Diagnosa Keperawatan

Pre operasi: a) Nyeri pada daerah perianal berhubungan dengan adanya luka pada perianal. b) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka yang mungkin terkontaminasi. c) Kecemasan berhubungan dengan physiologi faktor akibat proses peradangan. d) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan tindakan yang akan didapatnya. Post operasi: a) Nyeri area operasi berhubungan dengan adanya eksisi luka operasi. b) Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan efek anestesi, pemasukan cairan yang tidak adekuat. c) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan risiko prosedur invasive, luka yang mungkin terkontaminasi.

G. Intervensi

Pre operasi a) Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada perianal Tujuan: Nyeri berkurang sampai hilang Kriteria hasil: Klien menunjukkan toleransi terhadap nyeri, klien mengungkapkan nyeri berkurang. Intervensi:

Kaji frekuensi dan intensitas nyeri dengan skala 1 10. Rasional: perubahan karakteristik nyeri mengidikasikan adanya perkembangan kearah komplikasi. Perhatikan kegelisahan. Rasional: bahasa tubuh/perilaku nonverbal dapat digunakan sebagai data yang menunjukkan adanya rasa nyeri/tak nyaman. Kaji faktor-faktor yang mengganggu atau meningkatkan nyeri. Rasional: keadaan stress dapat meningkatkan rasa nyeri. Berikan posisi yang nyaman (telungkup, miring), aktivitas pengalihan perhatian tanda-tanda nonverbal seperti; takut bergerak,

Rasional: meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping. Bersihkan area rectal dengan sabun yang lembut dan air sesudah BAB dan rawat kulit dengan salf, petroleum jelly. Rasional: menjaga kulit sekitar rektal dari asam isi perut, menjaga exoriasi. Berikan rendaman duduk. Rasional: menjaga kebersihan dan memberikan rasa nyaman. Observasi area perianal fistel. Rasional: fistula mungkin berkembang dari erosi dan kelemahan dari dinding intestinal. Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik.

Rasional: Analgetik membantu mengurangi nyeri.

b) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka terbuka yang mungkin terkontaminasi. Tujuan: infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil: tanda vital dalam batas normal (peningkatan suhu tidak terjadi), leukosit normal Rencana tindakan: Kaji area luka, catat adanya penambahan luas luka, karakteristik cairan yang keluar dari luka. Rasional: adanya pus mengindikasikan adanya infeksi Monitor tanda-tanda vital, peningkatan suhu tubuh. Rasional: peningkatan suhu mengindikasikan adanya proses infeksi. Rawat luka dengan prinsip aseptik. Rasional: luka pada klien adalah luka kotor, prinsip aseptik mencegah terjadinya infeksi tambahan. Berikan diet yang adekuat. Rasional: klien membutuhkan nutrisi yang cukup untuk

penyembuhan lukanya. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.

Rasional: antibiotik membantu menghambat terjadinya infeksi.

c) Kecemasan berhubungan dengan faktor fisiologi akibat proses peradangan. Tujuan: kecemasan berkurang Kriteria hasil: ekspresi wajah klien tenang, mengungkapkan kesadarannya akan perasaan cemasnya. Intervensi Bina hubungan saling percaya. Rasional: hubungan saling percaya merupakan dasar dari komunikasi therapeutik. Perhatikan perubahan perilaku klien, kegelisahan, tak ada kontak mata, tampak kurang tidur. Rasional: indikator peningkatan stress/kecemasan. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya, berikan feedback. Rasional: membina hubungan therapeutik. Dengarkan ungkapan klien dengan empati. Rasional: dengan menunjukkan sikap empati, diharapkan akan membantu mengurangi kecemasan klien. Berikan informasi yang akurat.

Rasional: dengan memberikan informasi yang akurat akan membantu menurunkan tingkat kecemasan. Ciptakan ketenangan dan lingkungan yang nyaman. Rasional: kecemasan. Kolaborasi untuk pemberian sedativa, seperti barbiturat, anti anxietas seperti, diazepam. Rasional: sedativa/anti anxietas membantu mengurangi kecemasan dan membantu istirahat. membantu meningkatkan relaxasi, mengurangi

d) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan tindakan yang akan didapatnya berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan: Pengetahuan pasien bertambah Kriteria hasil: Klien mampu mengungkapkan tentang proses penyakit dan penanggulangannya. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan regimen. Intervensi Kaji persepsi klien tentang proses penyakitnya. Rasional: menentukan tingkat pengetahuan klien dan kebutuhan informasi yang diperlukan. Ulangi penjelasan tentang proses penyakit, penyebab, tanda dan gejala penyakit serta penanggulangannya.

Rasional: dengan memberikan penjelasan yang memadai

klien

tahu proses penyakit dan tindakan yang akan didapatnya, sehingga klien dapat menerima tindakan yang didapatnya. Tekankan pentingnya menjaga kebersihan kulit, seperti : tehnik cuci tangan yang baik dan perawatan kulit perianal. Rasional: mengurangi penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit dan infeksi. Post Operasi a) Nyeri pada area operasi berhubungan dengan adanya eksisi luka operasi. Tujuan: nyeri berkurang atau terkontrol Kriteria hasil: ekspresi wajah klien rileks, cukup istirahat, mengungkapkan nyeri berkurang /dapat ditahan. Intervensi: Kaji lokasi, intensitas nyeri dengan skala 0 10, faktor yang mempengaruhi. Perhatikan tanda-tanda nonverbal. Rasional: membantu menentukan intervensi selanjutnya. Monitor tanda-tanda vital Rasional: perubahan tanda-tanda vital, peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan bisa diakibatkan karena nyeri. Kaji area luka operasi, adanya edema, hematoma atau inflamasi. Rasional: pembengkakan, inflamasi dapat menyebabkan

meningkatnya nyeri.

Berikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang tenang, ajarkan tehnik relaksasi, pengalihan perhatian. Rasional: membantu mengurangi dan mengontrol rasa nyeri. Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgesik. Rasional: analgesik membantu mengurangi nyeri.

b) Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan dengan efek anestesi, pemasukan cairan yang tidak adekuat. Tujuan: pola eliminasi kembali berfungsi normal. Intervensi: Auskultasi bising usus. Rasional: adanya suara bising usus yang abnormal, merupakan tanda adanya komplikasi. Anjurkan makanan/minuman yang tidak mengiritasi. Rasional: menurunkan resiko iritasi mukosa. Kolaborasi medik untuk pemberian glyserin suppositoria. Rasional: membantu melunakkan feses.

c) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasive, luka yang mungkin terkontaminasi. Tujuan: tidak terjadi infeksi, luka sembuh tanpa komplikasi. Intervensi:

Kaji area luka operasi, observasi luka, karakteristik drainage, adanya inflamasi. Rasional: penambahan infeksi dapat mengambat proses

penyembuhan. Monitor tanda-tanda vital, temperatur, respirasi, nadi. Rasional: peningkatan temperatur, pernapasan, nadi merupakan indikasi adanya proses infeksi. Rawat area luka dengan prinsip aseptik. Jaga balutan kering. Rasional: menjaga pasien dari infeksi silang selama penggantian balutan. Kolaborasi untuk pemeriksaan cultur dari sekret/drainage, kedua dari tengah dan pinggir luka. Rasional: dengan mengetahui adanya organisme akan menentukan pemberian antibiotik. Berikan antibiotik sesuai pesan medik. Rasional: antibiotik mencegah dan melawan infeksi. Bila perlu lakukan irigasi luka. Rasional: infeksi d) Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan colostomy Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi Intervensi: Observasi luka, catat karakteristik drainase irigasi luka dengan antiseptik baik untuk melawan

Rasional: Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik Rasional: Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali Rasional: Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi pra op / post

e) Gangguan konsep diri berhubungan dengan adanya kolostomi Tujuan : Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi Menerima perubahan kedalam konsep diri Intervensi Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya Rasional: Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan Rasional: Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan perawatan Rasional: Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki kepercayaan diri Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma Rasional: Membantu dalam menerima kenyataan Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien Rasional: Meningkatkan kontrol dan harga diri Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan

Rasional: Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E., Marry, F..M Keperawatan : Pedoman

and

Alice, C.G., 2000. Rencana Perencanaan Dan

Asuhan

Untuk

Pendokumentasian

Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Price, S. A., & Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. (ed.6). (vol.2). Jakarta: EGC Sudoyo. A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S. (2006). Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1 (ed.4). Jakarta: FKUI Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC http://healthyenthusiast.com/perianal-fistel.html http://www.medistra.com/index.php)