You are on page 1of 14

Makalah kimia Industri Karet

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Struktur dasar karet alam adalah rantai linear unit isoprene (C5H8) yang berat molekul rataratanya tersebar antara 10.000 - 400.000. Karet alam adalah jenis karet pertama yang dibuat sepatu. Sesudah penemuan proses vulkanisasi yang membuat karet menjadi tahan terhadap cuaca dan tidak larut dalam minyak, maka karet mulai digemari sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai macam alat untuk keperluan dalam rumah ataupun pemakaian di luar rumah seperti sol sepatu dan bahkan sepatu yang semuanya terbuat dari bahan karet. Sebelum itu usaha-usaha menggunakan karet untuk sepatu selalu gagal karena karet manjadi kaku di musim hujan dan lengket serta berbau di musim panas seperti yang pernah dilakukan oleh Roxbury Indian Rubber Company pada tahun 1833 dengan cara melarutkan karet alam terpentin dan mencampurnya dengan hitam karbon untuk menghasilkan karet keras yang tahan air.
Pemanfaatan kulit hewan sebagai salah satu peningkatan pendayagunaan hasil ternak merupakan salah satu upaya membangun peternakan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan kesempatan kerja dan usaha serta peningkatan devisa negara. Dewasa ini sudah bukan hal umum orang menggunakan kulit untuk berbagai keperluan sehari-hari, sehingga dapat dikatakan penggunaan kulit sudah memasyarakat, misal untuk sepatu, jaket, tas, sarung tangan dan lain-lain.

B. 1. 2. 3.

Rumusan Masalah Bagaimana sejarah karet dan kulit? Apa saja kandungan dari karet dan kulit? Bagaimana proses produksi dari karet dan kulit sehingga di dapat hasil yang berkualitas dan berkuantitas ? 4. Bagaimana cara mengolah limbah yang dihasilkan dari proses industri tersebut? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui sumber dan kandungan dari karet, kulit dan plastik 2. Untuk mengetahui proses pengolahan industri karet, kulit dan plastik yang berkualitas. 3. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari industri tersebut terhadap kesehatan manusia. 4. Untuk mengetahui tekhnik pengendalian pencemaran industri karet, kulit dan plastik. D. Kegunaan Telah banyak kita ketahui bahwa kegunaan dari masing-masing industri tergantung dari jenis dan produk apa yang dihasilkan dari industri tersebut. Baik berupa bahn pangan, pakaian

BAB II PEMBAHASAN A. bola itu bisa melambung lebih tinggi dan kemudian jatuh. Bola oran Indian ini bisa melambung lebih tinggi daripada bola yang umum dibuat orang-orang Eropa waktu itu. Lateks pada mangkuk sadap dikumpulkan dalam suatu tempat kemudian disaring untuk memisahkan kotoran serta bagian lateks yang telah mengalami prakoagulasi. Karet telah digunakan sejak lama untuk berbagai macam keperluan antara lain bola karet. pH air antara 5.0. Adapun proses pengolahan karet dalam industri antara lain :  Penerimaan Lateks Kebun Tahap awal dalam pengolahan karet adalah penerimaan lateks kebun dari pohon karet yang telah disadap.  Pengenceran Tujuan pengenceran adalah untuk memudahkan penyaringan kotoran serta menyeragamkan kadar karet kering sehingga cara pengolahan dan mutunya dapat dijaga tetap. baju tahan air. Setelah proses penerimaan selesai. 6 serta kadar bikarbonat tidak melebihi 0. Sumber utama getah karet adalah pohon karet Para Hevea Brasiliensis (Euphorbiaceae). Ahli sejarah mengenai bangsa Indian.ataupun alat-alat rumah tangga. yang dicampur dengan suatu bahan (latex) kemudian dipanaskan di atas unggun dan dibulatkan seperti bola. Di sinilah sejarah karet dimulai. Dengan proses pengolahan yang baik maka akan menghasilkan produk yang berkualitas dan kuntitas yang lebih besar. Pengenceran dilakukan hingga KKK mencapai 12-15 %. maka getah yang dihasilkan akan jauh lebih banyak. Karet Pada dasarnya karet berasal dari alam yaitu dari getah pohon karet (atau dikenal dengan istilah latex). penghapus pensil. kesadahan air maks. Pengenceran dapat dilakukan dengan penambahan air yang bersih dan tidak mengandung unsur logam.  Pembekuan . Lateks dari tangki penerimaan dialirkan melalui talang dengan terlebih dahulu disaring menggunakan saringan aluminium Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sit Yang Diasap (Ribbed Smoked Sit). Bola itu terbuat dari campuran akar.03 %. dll. Saat Christopher Columbus dan rombongannya menemukan benua Amerika pada tahun 1476. lateks kemudian dialirkan ke dalam bak koagulasi untuk proses pengenceran dengan air yang bertujuan untuk menyeragamkan Kadar Karet Kering. maupun produksi manusia (sintetis). dan rumput. dst. Lateks yang telah dibekukan dalam bentuk lembaran-lembaran (koagulum).mereka terheran-heran melihat bola yang dimainkan orang-orang Indian yang dapat melantun bila dijatuhkan ke tanah.8-8. Oviedo mengatakan bahwa bila bola buatan Indian itu dijatuhkan. Captain Gonzale Fernandez de Oveida menulis bahwa dia melihat 2 tim orang Indian yang bermain bola. tetapi baru pada tahun 1530 ada laporan tertulis mengenai gummi optimum. Pada tahn 1535. Saat pohon karet dilukai. lalu melambung lagi walaupun agak rendah daripada lambungan yang pertama. kayu. sebutan Pietro Martire d’Anghiera untuk karet.

RSS 3. Proses sortasi dilakukan secara visual berdasrkan warna. RSS 5 dan Cutting. kotoran. Setelah digiling. Penambahan larutan asam diikuti dengan pengadukan agar tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu mempercepat proses pembekuan. Penggunaan asam semut didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi petani karet dibandingkan bahan koagulan asam lainnya. Proses pengasapan karet sit asap dalam kamar asap  Sortasi Sit yang telah matang dari kamar asap diturunkan kemudian ditimbang dan dicatat dalam arsip produksi. atau terdapat gelembung udara hanya pada sebagian kecil. air dan asam sehingga diperoleh hasil bekuan atau disebut juga koagulum yang bersih dan kuat. Kecepatan penggumpalan dapat diatur dengan mengubah perbandingan lateks. Koagulum yang telah digiling kemudian ditiriskan diruang terbuka dan terlindung dari sinar matahari selama 1-2 jam.Pembekuan lateks dilakukan di dalam bak koagulasi dengan menambahkan zat koagulan yang bersifat asam. Hasil bekuan atau koagulum digiling untuk mengeluarkan kandungan air. Lateks akan membeku setelah 40 menit. rol belimbing dan rol motif (batik). Secara umum sit diklasifikasikan dalam mutu RSS 1. Jumlah tersebut dapat diperbesar jika di dalam lateks telah ditambahkan zat antikoagulan sebelumnya. Tujuan penirisan adalah untuk mengurangi kandungan air di dalam lembaran sit sebelum proses pengasapan. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara yang dapat mempegaruhi mutu sit yang dihasilkan.7. membersihkan kotoran yang masih melekat serta menghindari agar sit tidak menjadi lengket saat penirisan. misalnya timbul warna yang seperti karat akibat teroksidasi. mengeluarkan sebagian serum. sehingga dapat digunting Proses sortasi Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam industri karet agar mendapatkan hasil yang maksimal antara lain :  Lateks yang berasal dari tanaman muda . Proses selanjutnya ialah pemasangan plat penyekat yang berfungsi untuk membentuk koagulum dalam lembaran yang seragam. Penirisan tidak boleh terlalu lama untuk menghindari terjadinya cacat pada sit yang dihasilkan. jamur dan kehalusan gilingan yang mengacu pada standard yang terdapat pada SNI 060001-1987. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering Dasar Pengolahan Karet. RSS 4. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH. gelembung udara. Proses penggilingan koagulum menjadi lembaran sit  Penggilingan Penggilingan dilakuan setelah proses pembekuan selesai.5-4. membentuk lembaran tipis dan memberi garis pada lembaran. sit dicuci kembali dengan air bersih untuk menghindari permukaan yang berlemak akibat penggunaan bahan kimia. Untuk memperoleh lembaran sit.pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks. Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi. yaitu pada pH antara 4. Cutting merupakan potongan dari lembaran yang terlihat masih mentah. membilas. Penirisan dilakukan pada tempat teduh dan terlindung dari sinar matahari. koagulum digiling dengan beberapa gilingan rol licin. RSS 2.

atau dibagian atap ruang asap yang terbuat dari genting atau seng jatuh pada permukaan karet sit # Warna yang tidak seragam dapat disebabkan karena kecepatan pengeringan. sehingga akan mempercepat pengeringan. menghasilkan karet sit yang mudah sobek/rapuh. semakin maju maka kecepatan rol berikutnya akan lebih besar kecuali pada rol terakhir yang berpola. Apabila lateks telah menggumpal sempurna. Kemudian bercak – bercak pada permukaan sit. lateks yang berasal dari tanaman yang sudah lama tidak disadap. mangkuk. Kecepatan penggilingan berbeda-beda antara satu rol dengan rol lainya. Beberapa faktor kesalahan yang dapat terjadi dalam industri karet antara lain : Karet sit yang lembek (tacky). Penggilingan sit Penggilingan sit dilakukan untuk memisahkan sebagian besar air yang terkandung dalam gumpalan. ember pengumpul dan alur sadap sendiri. Kemudian.    Pada umumnya menghasilkan karet sit yang lekat atau lengkat. sedangkan jika pemberian kurang maka koagulum akan menjadi lunak. atau letak bak yang miring. lateks terlalu encer. Dengan penggilingan permukaan sit akan menjadi semakin besar. larutan asam dimasukkan perlahan-lahan secara merata. kemudian diaduk perlahan hingga homogen (seragam). Pemberian bahan penggumpal (koagulan) seperti asam yang berlebih atau terlalu banyak akan menyebabkan koagulum menjadi keras dan sulit untuk digiling. talang lateks. dan molor (memanjang). lembek serta mudah mengalami pemuluran saat digantung dalam kamar asap. Kecepatan giling serta jarak antar celah dapat memengaruhi hasil gilingan sit. pemberian asam yang tidak cukup. Oleh sebab itu. waktu penggumpalan terlalu lama dan kurang sempurna. atau asam yang terlalu pekat. penyaringan yang kurang baik. Pemberian bahan penggumpal (koagulan). manajemen penyadapan yang baik perlu dilakukan agar lateks kebun yang disadap sesuai dengan kriteria bahan baku pembuatan sit. Dalam proses penggumpalan. dapat disebabkan karena kayu bakar yang digunakan mengandung bahan tar yang tinggi. Kebersihan lateks Mulai dari kebun hingga pabrik pengolahan harus senantiasa dijaga agar diperoleh hasil produk yang sesuai dengan standard. Penambahan antikoagulan diusahakan tidak melebihi batas yang ditetapkan untuk mencegah pemakaian asam semut yang terlalu banyak pada proses pembekuan. membubur atau tetap encer (tidak menggumpal). Tebal karet sit yang tidak merata dapat disebabkan karena pencampuran lateks dan asam yang tidak seragam. penggunaan bahan kimia seperti natrium  . Tangki penerima Untuk tangki penerima yang jauh dari pabrik hendaknya ditambahkan bahan anti koagulan seperti amoniak. harus bebas dari kotoran serta slab sisa penyadapan sebelumnya. Terutama untuk peralatan penyadapan termasuk pisau sadap. kondensasi uap air yang mengandung tar. Sit yang mudah sobek dapat disebabkan karena kecepatan maju yang tidak tepat atau perbedaan celah antara dua celah yang berurutan terlalu besar. maka diatas gumpalan tersebut digenangi air untuk mencegah terjadinya oksidasi dengan udara yang dapat mengakibatkan timbulnya bercak-bercak hitam pada permukaan koagulum. Pada saat pengangkutan sebaiknya dihindari dari sinar matahari serta panas berlebih untuk menghindai prakoagulasi serta pembentukan gelembung. putaran menjadi lebih kecil. Ini dapat disebabkan karena suhu di dalam ruang asap terlalu tinggi. Gelembung gas yang timbul dalam karet sit dapat disebabkan karena penggumpalan terjadi terlalu cepat dengan menggunakan asam yang berlebih.

kenaikan suhu yang terlalu cepat. Oleh sebab itu. Pengolahan secara Kimia 3. Kulit mamalia terbagi menjadi beberapa bagian dari segi histology menurut Judoamidjojo (1981)yaitu : Epidermis adalah lapisan luar kulit. Dapat juga disebabkan karena sistem ventilasi yang kurang baik. atau suhu terlalu tinggi lebih dar 60 oC. Ruang sortasi harus bersih dan kering. Pengolahan secara Biologi. yang dihilangkan pada saat proses flesing pada proses penyamakan.  Lapisan tipis berwarna abu-abu cokelat (rustines) Hal ini dapat disebabkan oleh adanya mikroorganisme pada lembaran karet sebagai akibat dari penggantungan yang terlalu lama ditempat yang lembab. 2. Kulit adalah lapisan luar tubuh hewan (kerangka luar) tempat bulu hewan tumbuh (Sunarto. Corium (derma) adalah bagian pokok tenunan kulit yang akan diubah menjadi kulit samak. tempat bulu binatang itu tumbuh. suhu harus dinaikkan pada pengeringan hari pertama dan ventilasi diatur dengan baik . selain itu pengeringan pada suhu yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan karet sit menjadi lengket . sehingga jamur dapat tumbuh dengan baik pada ruang yang suhunya rendah dibawah 40 oC. pengeringan yang berlangsung sangat lambat karena suhu rendah. Bandela-bandela harus disusun diatas papan kayu dan dalam penyusunannya tidak boleh lebih dari empat susun. Gelembung gas juga dapat terjadi karena kesalahan pada rumah pengasapan. Pengolahan secara fisik. Sedangkan faktor yang memengaruhi kualitas sit dalam ruang sortasi adalah timbulnya jamur atau kapang pada permukaan sit.bisulfit yang tidak merata sehingga warna sit menjadi lebih muda atau pengisian karet sit dalam rumah asap yang terlalu padat. Kulit Kulit merupakan organ terbesar dari tubuh yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan mempunyai beberapa fungsi yang penting besarnya ± 10-12% dari tubuh. Hal ini dapat disebabkan olah api yang terlalu besar. 2000 disitasi oleh Aidil rahmat et al) senada dengan pernyataan Suardana et al (2008) bahwa kulit adalah lapisan luar tubuh binatang yang merupakan suatu kerangka luar. sehingga abu terbawa oleh asap yang masuk ke ruang asap. Kapang dapat timbul apabila karet sit tidak segera disortasi dan dikemas. dan. B. Seperti. Hypodermis (subcutis). yang dikenal sebagai lapisan daging atau tenunan lemak. Bagian bagian kulit dapat dilihat dalam Irisan penampang kulit dan keterangannya ( Franson 1981disitasi oleh Hoeruman (2000) : . Proses pengolahan limbah dalamindustri karet meliputi 3 bagian diantaranya: 1.  Abu yang melekat di dalam karet sit.  Gelembung gas.

hanya terkadang ada kerutan yang dapat mengurangi kualitas.2 hari. agar serat kulit menjadi longgar sehingga mudah dimasuki air dan kulit lekas menjadi basah kembali. dijelaskan oleh Suardana et al. penyebab pencemarannya ialah sisa desinfektan dan kotoran. Pengapuran Maksud proses pengapuran ialah : 1. dengan kapasitas produksi sebesar 70. dan mempunyai konsekwen untuk dapat mencemari lingkungan yang ada disekitarnya baik melalui air. Kulit mentah kering setelah ditimbang. babi. misalnya domba. dan reptil atau hewan besar yang belum dewasa misalnya : anak sapi dan anak kuda (Sharpouse. cysmolan dan sebagainya selama 1. Dalam dunia industri kulit ada dua istilah yang menonjol yaitu hide dan skin. Adapun proses industri dari kulit yaitu :  Proses awal terdiri atas : 1. 2. lunak. badak dan paus. kualitasnya bagus.kotoran yang berasal dari kulit. misalnya : sapi. Bagian leher mempunyai kriteria kulitnya agak tebal. kambing. . Kulit dikerok pada bagian dalam kemudian diputar dengan drum tanpa air selama 1/ 5 jam.250% dari berat kulit mentah kering. molescal. membersihkan dari sisa kotoran. 3. Industri Penyamakan kulit sebagai salah satu Industri yang proses limbah yang masih sering dipermasalahkan. Potensi penyamakan kulit di Indonesia pada tahun 1994 terdiri dari 586 jumlah perusahaan ang terdiri dari industri kecil sebesar 489 unit dan industri menengah sebesar 8 unit.sifat kulit mentah menjadi seperti semula. misalnya tepol.994 ton ( Dirjen industri aneka 1995). Gambar 1.1000 % air yang mengandung 1 gram/ liter obat pembasah dan antiseptic. Menghilangkan epidermis dan bulu. Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah menjadi kulit jadi. garam yang masih melekat pada kulit. Irisan penampang kulit Tidak semua bagian kulit sama kualitasnya dalam satu lembar kulit. unta. yang berarti kadar airnya mendekati kulit segar (60-65 %). kerbau. 2. Skin adalah kulit mentah yang berasal dari hewan yang berukuran kecil. kulit basah lebih mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak.1. Industri penyamakan kulit merupakan salah satu industri yang didorong perkembangannya sebagai penghasil devisa non migas. Hide adalah istilah kulit mentah yang berasal dari hewan berukuran besar dan berumur dewasa. tanah dan udara. Bagian bahu kulitnya lebih tipis. darah. tidak memberikan perlawanan dalam pegangan atau bila berat kulit telah menjadi 220. lemas. lunak dan sebagainya. sangat kompak tetapi ada beberapa kerutan. kemudian direndam dalam 800. jenis kulit berdasarkan kualitasnya sebagai berikut : Bagian punggung adalah bagian kulit yang letaknya ada pada punggung dan mempunyai jaringan struktur yang paling kompak luasnya 40 % dari seluruh luas kulit. 1957. Pekerjaan perendaman diangap cukup apabila kulit menjadi lemas. Pada proses perendaman ini. 2000). disitasi oleh Hoeruman. 4. kulit tipis dan mulur. Bagian perut dan paha struktur jaringan kurang kompak. Untuk mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya. Salah satu contoh kasus terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah Industri Kulit yang ada di Garut. ( 2008 ). Perendaman Maksud perendaman ini adalah untuk mengembalikan sifat.

(NH4)2SO4. . Untuk pembuatan kulit atasan dari kulit mentah yang tebal (kerbau-sapi) kulit harus ditipiskan menurut tebal yang dikehendaki dengan jalan membelah kulit tersebut menjadi beberapa lembaran dan dikerjakan dengan mesin belah ( Splinting Machine). Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau kulit samak sintetis dan tidak dikerjakan untuk kulit samak nabati atau kulit samak minyak. Pembuangan kapur (deliming) Oleh karena semua proses penyamakan dapat dikatakan berlangsung dalam lingkungan asam maka kapur didalam kulit harus dibersihkan sama sekali. misalnya H2SO4. Misalnya : o Untuk kulit yang disamak nabati. bahkan kemungkinan akan menimbulkan pengendapan Krom Hidroksida yang sangat merugikan. Menghilangkan noda. yang dapat pula digunakan sebagai kulit atasan. menghindari pengerutan kulit. 3-6 % Natrium Sulphida (Na2S). pembuangan daging. Selain itu kulit split juga dapat digunakan untuk kulit sol dalam. kapur akan bereaksi dengan zat penyamak menjadi Kalsium Tannat yang berwarna gelap dan keras mengakibatkan kulit mudah pecah. Belahan kulit dibawahnya disebut split. pengikisan protein. Pengasaman (pickle) untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap seranga bakteri pembusuk). tidak dikerjakan proses pembelahan karena diperlukan seluruh tebal kulit. 2. Dalam proses pengapuran ini mengakibatkan pencemaran yaitu sisa. Menghilangkan semua zat-zat yang bukan collagen yang aktif menghadapi zat-zat penyamak. Pada kulit sapi. 5. krupuk kulit. digunakan untuk kulit atasan yang terbaik. Menghilangkan kelenjar keringat dan kelenjar lemak. Pembuangan kapur akan mempergunakan asam atau garam asm. Menghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal. Cara mengerjakan pengapuran. 6-10 % Kapur Tohor Ca (OH)2. 4. 3. Kapur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses. Untuk pembuatan kulit sol. Pengapuran berfungsi membengkakan kulit untuk melepas sisa daging. dan bulu yang terepas. lem kayu dll. 3.noda besi yang diakibatkan oleh Na2gS. Belahan kulit yang teratas disebut bagian rajah (nerf). HCOOH. Pengasaman (pickle). Dekaltal dll. pada tahap penyelesaian akhir. menghindari timbulnya endapan kapur. Maksud proses pengasaman untuk mengasamkan kulit pada pH 3. Selain itu pengasaman juga berguna untuk: 1.sisa Ca (OH)2. Pembuangan kapur berguna untuk menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa.2. o Untuk kulit yang akan disamak krom. kulit direndam dalam larutan yang terdiri dari 300-400 % air (semua dihitung dari berat kulit setelah direndam).proses penyamakan. dilakukan proses pembuangan bulu menggunakan senyawa Na2S. pembuangan sisik. zat-zat kulit yang larut. Na2S. dengan diberi nerf palsu secara dicetak dengan mesin press (Emboshing machine). dalam pengapuran agar kulit menjadi putih bersih. Pembelahan ( Splitting).5 tetapi kulit kulit dalam keadaan tidak bengkak. menyabunkan lemak pada kulit. Perendaman ini memakan waktu 2-3 hari. agar kulit dapat menyesuaikan dengan pH bahan penyamak yang akan dipakai nanti.3.

maka sekarang usaha peterna kan juga sangat memperhatikan faktor-faktor yang bisa meningkatkan kualitas kulit. Pelembaban Menaikkan kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakuan fisik di proses selanjutnya). Pengampelasan Hal ini dilakukan untuk menghalukan permukaan kulit). 5. dan skin (untuk kulit domba. Proses finishing akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti kelenturan. 6. usaha peternakan juga bisa menghasilkan kulit yang merupakan komoditas unggulan dan sejajar dengan hasil yang berupa bahan makanan.20 %. Pengaruh usaha ternak terhadap kualitas kulit. Pengeringan Bertujuan untuk mengurangi kadar air kulit sampai batas standar biasanya 18 . lebih tahan terhadap panas. ( 2008 ) Faktor tersebut antara lain: 1. Sesuai dengan jenis kulit. kepadatan. proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan air dfalam kulit akan terdorong keluar (striking out). kambing. bahan penyamak yang digunakan. Proses penyamakan. 1.. dan kualitas akhir yang diinginkan. Pada dasarnya usaha peternakan ditujukan untuk menghasilkan bahan makanan berupa daging. 3. Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. reptil dll). Pengaruh keadaan kulit terhadap kualitas kulit . 2.  Proses penyelesaian (finishing) Untuk menentukan kualitas hasil akhir (leather). Karena harganya yang cukup tinggi. tahapan proses penyamakan bisa berbeda. Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit. kerbau. dan warna kulit. Akan tetapi usaha. susu. bersifat agak kaku tetapi empuk. Menurut Suaradana et al. Kulit samakan bisa dicat untuk memperindah tampilan kulit. Lewat proses penyamakan. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. bagi kebutuhan manusia. 2. 4. Penyamak krom menghasilkan kulit yang lebih lemas. kurang tahan terhadap panas. dilakukan proses pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit. kuda dll). Bertujuan untuk menghilangkan lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal. Pelemasan Untuk melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali. Proses perataan (setting out). Pementangan Hal ini untuk menambah luas kulit. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan. Banyak faktor yang mungkin menyebabkan kualitas kulit tidak maksimal. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit berasal dari binatang besar seperti kulit sapi.

maka hewan tersebut harus dalam keadaan sehat. pengulitan dan proses penyamakan. Sedangkan kulit yang kualitasnya kurang adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sakit atau kondisinya tidak sehat. Berat badan hewan berpengaruh terhadap kualitas kulit yang dihasilkannya. sehingga pada proses penyamakan akan menimbulkan tanda atau cacat yang mengurangi kualitas kulit.   2. sehingga menghasilkan kulit yang lemas dan dapat dilipat. Untuk itu.   5.3. 4. sehingga temak yang kulitnya akan diambil harus dipelihara sesuai dengan iklim yang cocok untuknya. . Peternakan hewan yang bertujuan untuk menghasilkan kulit binatang harus memperhatikan faktor-faktor tersebut agar kualitas kulit yang dihasilkan tetap baik. sehingga kondisi kulit menjadi kaku dan kering. dipukul. kelembaban dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang periu diperhatikan sebagai pengaruh iklim terhadap kualitas kulit. Contoh-contoh penurunan kualitas kulit yang menyebabkan kecacatan kulit antara lain: Pemeliharaan Hewan tidak dirawat dengan baik. Hal hal yang menyebabkan nilai kulit menurun misalnya hewan dicambuk. Perlakuan semacam itu terhadap hewan akan berakibat peradangan atau luka pada kulit hewan. sehingga kulitnya pun berkualitas baik. ada faktor -faktor lain yang juga menentukan.   3. dan sebagainya. Kesehatan hewan tidak diperhatikan Makanan Hewan tidak mendapatkan makanan secara teratur Makanan tidak bergizi Perlakuan Hewan dicambuk sampai luka Hewan luka karena penyakit Hewan tidak diobati Pengulitan Cara pengulitan hewan tidak benar Pisau sayat tidak tajam/tumpul Penyamakan 1. terkena duri atau kawat. terbentur. Pengaruh adaptasi terhadap kualitas kulit. Temperatur. 6. Perpindahan tempat akan berpengaruh terhadap hewan yang kulitnya akan diambil.    4. di samping faktor -faktor yang disebutkan di atas. tekanan udara. Hewan yang terkena penyakit akan menghasilkan kulit yang tidak berkualitas juga. 5. Setiap daerah mempunyai iklimnya sendiri. Pengaruh perawatan terhadap kualitas kulit Kerusakan kulit juga merupakan akibat dari perawatan yang tidak baik terhadap hewan. yaitu pemotongan hewan. Kulit yang berkualitas baik adalah kulit yang dihasilkan dari hewan yang sehat dan gizinya baik. Ada kalanya hewan tidak tahan terhadap bibit penyakit yang ada pada suatu daerah tempat ia berpindah. Pengaruh iklim terhadap kualitas kulit. Dalam penentuan kualitas kulit hewan. adaptasi hewan terhadap tempat baru juga harus mendapatkan perhatian. Bila kita memotong hewan yang akan diambil dagingnya. Pengaruh makanan terhadap kualitas kulit Makanan yang baik akan berpengaruh terhadap berat badan hewan dan kesehatannya.

Pada proses ini lebih dari 30% padatan tersuspensi total dalam cairan air limbah dapat dihilangkan dengan saringan. Artinya. Padahal. Cairan limbah ini banyak mengandung Sulfida dari Na2S atau NaHS sisa dari proses buang bulu sebagai agensia perontok bulu/ rambut.saluran. IPAL tersebut baru dapat beroperasi pada 1994. zat.bagian dari kulit seperti bulu. Proses pengawetan yang tidak benar  Terjadinya kesalahan pada proses penyamakan. Adapun cairancairan limbah dari proses penyamakan kulit yang perlu dipisahkan adalah: a. Disamping volume yang banyak. termasuk ditetapkannya zona-zona industri serta pembatasan jumlah industri dengan dilengkapi instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Pemisahan Padatan Kasar.kadang secara visual nampak berbuih banyak. Limbah cair industri penyamakan kulit nampak paling menonjol dibandingkan limbah padat maupun gasnya karena volumenya yang cukup banyak yaitu 30-70 l / kg bahan baku yang diolah dari awal. untuk menangani masalah limbah idealnya setiap perusahaan memiliki satu mesin recovery sendiri. Bupati Toharudin Gani rencana tersebut kembali dicoba diwujudkan namun tak juga berhasil.zat pencemaran yang terkandung dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan dampak yang paling cepat berpengaruh adalah berbau busuk dan kadang. pompa-pompa dan saluran. Pada tahap ini dilakukan pemisahan cairan-cairan limbah yang mempunyai sifat khas dan memerlukan perlakuan tertentu untuk menangani zat pencemar agar nanti setelah dicampur dengan cairan limbah yang lain tidak menimbulkan kontradiksi yang merugikan. 1. saat Garut dipimpin oleh Bupati Taufik Hidayat. sisa daging. 3. (http://www. Secara garis besar proses pengolahan limbah cair penyamakan kulit adalah sbb: 1. Sebelum diolah air limbah perlu disaring terlebih dahulu untuk menghilangkan padatan kasar yang dapat menutup pipa. Hingga kini hanya beberapa yang mau membangun IPAL sendiri. 2. ada rencana untuk merelokasi sentra industri kulit Sukaregang. Secara umum air limbah penyamakan kulit mengandung bagian. Segresi. 2. Untuk revitalisasi ini pemerintah pusat memberi bantuan untuk membangun dua buah instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) pada 1992 agar air dari Sukaregang dapat kembali bersih saat dialirkan ke sungai. Untuk mengantisipasi peningkatan jumlah limbah yang dibuang ke sungai. Karena berbagai hambatan itu. Pemisahan Padatan Kasar.pikiran-rakyat. Koagulasi.com/cetak/0104/13/0806. lokasi Sukaregang akan ditata sedemikian rupa. Cairan limbah pengapuran (buang bulu). namun persoalan limbah tidak selesai karena jumlah IPAL yang ada tidak sesuai dengan jumlah limbah yang dihasilkan industri kulit Sukaregang. namun tidak terealisasi. akhirnya yang dapat dilaksanakan adalah revitalisasi. Segresi.htm). pada awal 1980-an. 4. Oleh penerusnya. Sebelum proses pengolahan segresi air limbah pada . potongan kulit dan bahan kimia sisa dari yang ditambahkan dalam proses penyamakan kulit. Ekualisasi. Kesadaran masyarakat pengusaha akan persoalan limbah ini juga kurang mendukung.

Untuk menghilangkan BOD sepenuhnya dapat dilakukan dalam pengolahan proses biologis selanjutnya. c. Dalam bak ekualisasi dapat dilakukan pergantian garam.proses buang bulu berwarna putih kehijauan dan kotor. Yaitu dengan aerasi dan pemberian mangan sebagai katalisator. Pada tahapan ini dilakukan perlakuan fisiko kimiawi untuk menghilangkan BOD dan padatan. Pada tahapan ini juga meningkatkan efisiensi pengolahan dan untuk menghindari rancangan baik yang diantisipasi untuk aliran puncak ( peak Flow) maka dilakukan sistem pengaturan laju aliran dan pencampuran seluruh air limbah. Efesiensi penggumpalan dapat diperoleh dengan penambahan larutan pengendap yang berupa larutan polyelektrolit anionik rantai panjang dengan konsentrasi 1-10 mg/l. Proses pengolahan pada bak ekualisasi bertujuan untuk penghilangan sulfida dan krom agar dapat menghemat air yang dapat mengencerkan limbah kapran dan cairan limbah krom sebelum diolah lebih lanjut. hal ini dapat dicapai dengan menghembuskan udara dari dasar bak melaluai beberapa difuser untuk memasok O2 yang intensif. Seharusnya hal ini dilakukan setiap hari untuk menghindari bau busuk (H2S) dari air limbah tampungan.garam aluminium maka penghilangan Nitrogen melalui proses nitrifikasi/ denitrifikasi perlu dilakukan. Pengendapan krom relatif mudah dilakukan. Tenaga yang diperlukana untuk mengaduk kira. dengan konsntrasi pH 10-12.000 mg/l. Aerasi dapat dilakukan pada tang ki yang memanjang keatas (tinggi) dan udara dihembuskan dari bagian dasar melalaui difusir atau dapat juga memakai aerator.000. Jika dilakukan injeksi udara pada bak sedalam 2-4 m.5 dengan total solid 16. Oleh karena itu sebaiknya air limbah dicampur dengan baik dan intensif. Ekualisasi. Pada pengolahan ini menghasilkan cairan supernatan yang hampir bebas krom dan juga dapat menurunkan BOD. 4. Dengan perlakuan fisiko kimiawi yang relatif mudah dan sederhana dapat menghilangkan > 95 % padatan tersuspensi dan BOD sekitar 70%. Pengendapan Langsung. Perlakuan fisiko kimia terhadap air limbah penyamakan kulit terdiri dari perlakuan awal dengan pemberian penggumpal yang dilanjutkan dengan pemberian pengendap sampai dengan pemisahan lumpurannya untuk dibuang.45. misalnya dengan mixer atau blower mengingat dalam bak ini padatan tersuspensinya dijaga jangan samapai mengendap dan kondisi air limbahnya harus aerobik. Namun setelah proses pengolahan dapat menetralisir asam.kira 30 watt/m2 air limbah. d. aliran udara optimalnya 3-4 m3/jam per m2 permukaan bak. . Koagulasi. Oksidasi Katalitik Sulfida. Cairan limbah Krom. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara: b. Fero sulfat dan feri klorida dapat digunakan untuk menghilangkan sulfida dari larutan denganpengendapan. 3. Pengolahan ini akan menurunkan pH karena hidroksidanya mengendap.Pada tahapan ini untuk meningkatkan efisiensi pengolahan dan untuk menghindari rancangan baik yang diantisipasi untuk aliran puncak ( peak Flow) maka dilakukan sistem pengaturan laju aliran dan pencampuran seluruh air limbah. serta kandungan slfida yang terkandung didalamnya dapat teratasi. pengendapan limbah krom dapat mempengaruhi biaya produksi/ pengolahan limbahnya. Praktek pencampuran ini meberi kesempatan terjadinya proses netralisasi dan pengendapan.

1. sedangkan yang diperlukan hanya membuat kedalaman 3 meter. Dengan 2 lapisan (zone) pengolahan yaitu lapisan aerob (yang ada di atas. Pengolah dengan lumpur aktif konvensional ( bebn berat) dapat dipilih dengan cara pegolahan sekundernya jika lahan yang ada sangat tebatas. Pengolahan lumpur aktif pada prinsipnya adalah mempertemukan antara air limbah yang mengandung bahan pengencer organik dengan sejumlah besar bakteri aerob dan mokroorganisme lain yang terkandung dalam lumpur biologis (lumpur aktif). juka dioprasikan sebagaimana mestinya dapat menghasilkan air limbah terolah dengan BOD . berhubungan dengan udara) dal lapisan anaerob (zone di bawahnya). b. c. Waktu tingga l yang diperlukan hanya 6-12 jam sudah cukup. d.kira 1 Kw/ kg BOD).a. 2. Biasanya berukuran lebih besar dari an aerob dan kurang efektif.Kolam ini lebih mengandalkan kekuatn fotosintetik dengan demikian tergantung pada perubahan musim dan tidak dapat diperiksa/ dipantau dengan baik. dan pemeliharaannya mudah. Lagun (kolam) . Jika dibandingkan dengan cara konvensional yang berbeban berat. 20 mg/l. Oksidasi berlangsung terus menerus dalam bk aerasi karena itu kebutuhan aerasinya juga agak intensif ( sampai kra. Adapun pengolahan limbah cair dengan proses biologis. Pengolahan dengan lumpur aktif berbeban ringan sangat sesuai untuk air limbah penyamakan kulit. Lumpur aktif (kolam oksidasi). 3. Kolam Fakultatif. namun biasanya kolam tersebut mengeluarkan pencemaran udara dan memungkinkan terbentuknya kembali sulfida bersamaan dengan terlepasnya gas H2S. Cara ini dikenal deng oksidasi kolam PASVEER. Lumpur aktif konvensional. BAB III SIMPULAN . Kolam oksidasi PASVEER relatif lebih murah. Hal ini sesuai bila hanya untukpemanfaatan ruang/ ahan dan biaya kolam-kolam tersebut rendah. maka waktu yang diperlukan adalah 2-4 hari dan beban organik yang ringan lebih mudah menahan variasi keadaan air limbah dan beban mendadak yang menjadi proses penyamakan kulit. dengan demikian lumpur yang dihasilkan berkurang. yaitu kolam dapat dibuat dengan biaya rendah dan perawatan pengolahan juga sangat mudah. Filter biologis dalam pengolahan limbah penyamakan kulit sering tidak dipertimbangkan. Ada beberapa pilihannya : Kolam aerob Dapat mengurangi sampai > 85 % BOD dalam waktu 10 hari. maka perlu adanya pegolahan sekunder. Kolam Aerasi Kolam ini sudah banyak dioperasikan di banyak perusahaan dan membutuhkan tenaga 10 – 30 w/m3 yang biasanya digunakan adalah aerator permukaan mekanik. Dalam persyaratan baku mutu air limbah. Ada pendekatan lain bagi daerah pedesaan atau yang memiliki lahan luas. Pilihan cara pengolahan sekunder untuk air limbah penyamakan kulit sbb: Filter biologis.

B. Kulit  Proses awal terdiri atas : Perendaman Pengapuran Pembelahan( Splitting). tanah dan udara. dan mempunyai konsekuensi dapat mencemari lingkungan yang ada disekitarnya baik melalui air.  Proses penyamakan. Pembuangan kapur (deliming) Pengasaman (pickle). . proses pengolahan limbah mutlak harus dimiliki dalam setiap industri agar kelestarian lingkungan di sekitar tetap terjaga. Proses-proses tersebut untuk mandapatkan hasil yang maksimal baik dari segi kualitas maupun kuantitas. perlu juga diperhitungkan kerugian yang dapat ditimbulkannya. Karet  Penerimaan Lateks Kebun  Pengenceran  Pembekuan  Penggilingan  Sortasi 2. Selain itu.  Proses penyelesaian (finishing). dalam industri penyamakan kulit selain memperhitungkan keuntunganya. Pengolahan limbah bisa berupa daur ulang ataupun proses-proses lainnya yang sifatnya mencegah limbah merusak lingkungan.A. Simpulan Setelah mengetahui sejarah dan kandungan dari karet. Oleh karena itu. Adapun pengolahan industri tersebut meliputi : 1. Saran Industri penyamakan kulit dan Industri pengolahan lateks dan karet merupakan salah satu industri yang dalam prosesnya menghasilkan limbah yangmasih sering dipermasalahkan. Karena telah kita ketahui bahwa limbah dari industri khususnya yang sintesis dapat merusak kelestarian dari lingkungan disekitarnya. kulit dan plastik kita dapat memanfaatkannya dengan skala yang lebih besar melalui industri.

III. Karya Tulis Ilmiah. Suwarti. Jakarta. 2006. 2007. Wijayadi Swarnam. Karet. Cut Fatima. 2005. V. Direktorat Jendral Perkebunan. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Zuhra. Anonim.org/wiki/kulit . Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sit Yang Diasap(Ribbed Smoked Sit). 1996. Balai Penelitian Perkebunan Bogor. II. Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.1989. Bapedal. Pedoman Penanganan Pasca Panen Karet. Anonim. Direktorat Jenderal Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Pertanian. Pusat Pengembangan Teknologi Limbah Cair. Jakarta. Bogor. Kumpulan Pedoman Pengolahan Karet (Buku I. Teknologi Limbah Edisi Spesial. Medan. IV. Tim Standardisasi Pengolahan Karet. Universitas Sumatera Utara. Anonim.org//karet/ http://wikipedia. Suseno. Teknologi Pengendalian Dampak Lingkungan Industri Penyamakan Kulit. VII). Departemen Pertanian.com http://wikipedia. Jakarta. VI. google. 1997. Rs. http://chem-is-try.org/wiki/karet www.