1

KHUTBAH NIKAH
“MENUJU KELUARGA SAKINAH”


















KANTOR URUSAN AGAMA
KECAMATAN SEMIDANG AJI
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU
Jl. Lintas Sumatera KM. 32 Baturaja Desa Bedegung



2


KHUTBAH NIKAH
“MENUJU KELUARGA SAKINAH”
Oleh : Ricky Mustakim

ًلغىا ٔربمشثٗ ا خَحسٗ ٌنٞيع
.ٌْ ٞ
ِ
حَ شىا
ِ
َِ ْ حَ شىا
ِ
ا
ِ
ٌْ غ
ِ
ث

ِ
َ
ِ
ل َ ذ
ْ
َ
َ
ح
ْ
ىا
ْ
ِ
َ
ٍ بَْ
ِ
ىب
َ
َ
ْ
ع
َ
أ
ِ
دبَئِٞ
َ
ع
َ
ٗ بَْ
ِ
غ
ُ
ف
ْ
ّ
َ
أ
ِ
سْ ُٗ ش
ُ
ش
ْ
ِ
ِ
ٍ
ِ
لب
ِ
ث
ُ
ر ْ ُ٘ عَّ
َ
ٗ
ُ
ٓ ُ ش
ِ
ف
ْ
غَز ْ غَّ
َ
ٗ ُٔ
ُ
ْْ ٞ
ِ
عَز ْ غَّ
َ
ٗ
ُ
ُٓ ذ
َ
َ ْ حَّ
ُٔ
َ
ى َ و
ِ
ض
ُ
ٍ
َ
ل
َ
ف
ُ
ا
ِ
ٓ
ِ
ذْ ٖ
َ
ٝ
َ
ل
َ
ف ْ و
ِ
ي ْ ضُٝ
ْ
ِ
َ
ٍ
َ
ٗ ُٔ
َ
ى َ لْ ٝ
ِ
شَ ش
َ
ل
ُ
َٓ ذ ْ ح
َ
ٗ
ُ
ا
َ
ل
ِ
إ
َ
ٔ
َ
ى
ِ
ا
َ
ل
ْ
ُ
َ
أ ُ ذ
َ
ٖ
ْ
ش
َ
أ ُٔ
َ
ى
َ
ٛ
ِ
دبَٕ

ِ
سا
َ
ز
ْ
ّ
ِ
ل
ْ
ب
ِ
ث
ِ
سْ ُ٘ عْ ج
َ
َ
ْ
ىا
ٍ
ذ
َ
َ
َ
ح
ُ
ٍ ٚ
َ
ي َ ع
ُ
ً
َ
لَ غىا
َ
ٗ
ُ
ح
َ
لَ صىا
َ
ٗ .ُٔ
ُ
ى ْ ُ٘ ع
َ
س
َ
ٗ
ُ
ُٓ ذْ جَ ع اً ذ
َ
َ
َ
ح
ُ
ٍ َ ُ
َ
أ ُ ذ
َ
ٖ
ْ
ش
َ
أ
َ
ٗ

ِ
ٔ
ِ
ىآ ٚ
َ
ي َ ع
َ
ٗ .ٙ
َ
ش
ْ
شُجى
ْ
ا
َ
ٗ
َ
ل
ً
ح
َ
ل
َ
ص
ِ
ٔ
ِ
ثب
َ
حْ ص
َ
أ
َ
ٗ
َ
ٌ
َ
ي
َ
ع
َ
ٗ .
ً
اشْ ص
َ
ح
َ
ل
َ
ٗ
ً
اذُ ع ُ ةب
َ
غ
ِ
ح
ْ
ىا ب
َ
ٖ
َ
ى ُ عْ ٞ
ِ
طَز ْ غ
َ
ٝ
ْ غ
ُ
ٍ
ْ
ٌ
ُ
ز
ْ
ّ
َ
أ
َ
ٗ
َ
ل
ِ
إ َ ِ
ُ
ر٘
ُ
ََر
َ
ل
َ
ٗ
ِ
ٔ
ِ
رب
َ
ق
ُ
ر َ ق
َ
ح
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را ا٘
ُ
ْ
َ
ٍآ َ ِٝ
ِ
ز
َ
ىا ب
َ
ُٖٝ
َ
أ ب
َ
ٝ .
ً
اشْ ٞ
ِ
ثَ م
ً
بَْ ٞ
ِ
ي ْ غَر ب
َ
ُٖٝ
َ
أ ب
َ
ٝ . َ ُ٘
ُ
َ
ِ
ي

ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ق
َ
ي َ خ ٛ
ِ
ز
َ
ىا
ُ
ٌ
ُ
نَث
َ
س ا٘
ُ
ق
َ
را ُ طب
َ
ْىا
ً
لب
َ
ج
ِ
س ب
َ
َُٖ
ْ
ْ
ِ
ٍ
َ
ش
َ
ث
َ
ٗ ب
َ
ٖ
َ
جْ َٗ ص ب
َ
ٖ
ْ
ْ
ِ
ٍ َ ق
َ
ي َ خ
َ
ٗ
ٍ
حَ ذ
ِ
حا
َ
ٗ
ٍ
ظ
ْ
فَّ
ْ
ِ
ِ
ٍ

َ
أ ب
َ
ٝ .بًجٞ
ِ
ق
َ
س
ْ
ٌ
ُ
نْ ٞ
َ
ي َ ع َ ُبَ م
َ
َ
ا َ ُ
ِ
إ
َ
ًب
َ
حْ س
َ
لا
َ
ٗ
ِ
ٔ
ِ
ث َ ُ٘
ُ
ى
َ
ءب
َ
غَر ٛ
ِ
ز
َ
ىا
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را
َ
ٗ
ً
ءب
َ
غ
ِ
ّ
َ
ٗ ا ً شٞ
ِ
ثَ م ب
َ
ُٖٝ
ْ ٘
َ
ق ا٘
ُ
ى٘
ُ
ق
َ
ٗ
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را ا٘
ُ
ْ
َ
ٍآ َ ِٝ
ِ
ز
َ
ىا
ِ
ع
ِ
طُٝ
ْ
ِ
َ
ٍ
َ
ٗ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ث٘
ُ
ّ
ُ
ر
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ى ْ ش
ِ
ف
ْ
غ
َ
ٝ
َ
ٗ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ىب
َ
َ
ْ
ع
َ
أ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ى ْ ح
ِ
ي ْ صُٝ اً ذٝ
ِ
ذ
َ
ع
ً
ل

ً
َٞ
ِ
ظَ ع ا
ً
صْ ٘
َ
ف َ صب
َ
ف
ْ
ذ
َ
ق
َ
ف ُٔ
َ
ىُ٘ ع
َ
س
َ
ٗ
َ
َ
ا
:ذعث بٍأ
Bapak-bapak dan ibu-ibu undangan yang mulia serta kedua
mempelai yang berbahagia.
Semogayang hadir di acara pernikahan ini mendapatkan
barokah dari baginda rasulullah dan khususnya kedua mempelai
mendapat kebahagiaan dan ketentram-an hidup seperti kehidupan
keluarga Nabi dengan Siti Khodijah dan kehidupan Sayyidina Ali r.a
dengan Siti Fatimah r.a. Dan tidak ada seorang laki-laki dan
perempuan bertemu dalam perkawinan ataupun dalam perpisahan
3
kecuali dengan takdir dan iradat Allah s.w.t.Dalam surat An Nur
ayat 26 Allah menjelaskan bahwa wanita yang baik akan
mendapatkan pria yang baik, sedangkan wanita yang tidak baik akan
mendapatkan laki-laki yang tidak baik pula. Allah s.w.t. berfirman :

¬e·1O)l·C^¯-4×-g1O)lEC·Ug¯
¬]O¬1O)lEC^¯-4Òge·1O)lEC·
Ug¯W¬e4:j´O-C¯-4Ò4×-):j´O
-CUg¯4pO+lj´1-C¯-4Òge4:j
´O-CUg¯_E
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki
yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-
wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Qs. An Nur:26).

Dan kehidupan dalam kelompok tersebut di atas, bukan hanya pada
makhluk manusia saja, tetapi berlaku juga pada makhluk yang lain.
Pepatah mengatakan
“Bahwa burung-burung itu akan berkelompok dengan sejenisnya”.

Burung gagak akan berkumpul dengan burung gagak, sedangkan
merpati akan berkumpul dengan merpati juga. Tidak akan pernah
burung gagak berkumpul dengan merpati, dan begitu juga pula
sebaliknya.


Wahai kedua mempelai dan tamu undangan yang berbahagia…!
Dalam saat yang penuh dengan rahmat ini, patutlah kita mendengar perintah dan
seruan Allah s.w.t :

.

.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan
berkatalah dengan perkataan yang benar”.(70).”Niscaya Allah memperbaiki
4
bagimu amalan-amalanmu dan meng-ampuni dosa-dosamu dan barang siapa
mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat ke-menangan
yang besar”. (71)

Ulama’ menyatakan bahwa salam Al Quran terdapat lebih dari seratus lima puluh
ayat yang menerangkan faedah orang yang bertaqwa, sehingga ada yang mengatakan
:
“Andaikata langit ini jatuh ke bumi, Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang
yang bertaqwa”.

Ananda:……………..dan……………….

Islam memandang adil pada suami dan istri atau lebih luasnya lagi pada laki-laki dan
perempuan. Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang seimbang. Hanya
suami diberi satu derajat lebih tinggi dari pada istri, yaitu suami sebagai pemimpin
atau imam dan istri sebagai makmum.
Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Tidak dibenarkan
seorang suami hanya minta haknya saja, tapi dia melalaikan kewajibannya,
sebaliknya tidak dibenarkan seorang istri hanya minta dipenuhi haknya saja, tapi
enggan memenuhi kewajibannya.
Antara hak dan kewajiban haruslah berjalan seimbang. Masing-masing suami istri
bisa menerima haknya yang semestinya dan sebaliknya masing-masing suami istri
harus melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya.
Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 228 Allah mengarahkan masalah hak dan
kewajiban itu sebagai berikut :
Ayat ini hanya terdiri dari lima kata saja, namun dalam lima kata itu tercakuplah
syarat untuk berumah tangga yang bahagia. Sebab ayat ini menyangkut soal hak dan
kewajiban antara suami dan istri.

Allah s.w.t. berfirman :

.
“Dan hak bagi istri sesuai dengan kewajiban yang ditanggungnya dengan kebaikan
(ma’ruf)”.

Berkata Ibnu Abbas :

.
5
Yang artinya:”Aku suka berhias bagi istriku, sebagaimana aku suka agar istriku
berhias untukku”.

Tapi ternyata, yang banyak terjadi pada saat ini, banyak wanita atau istri yang
berhias berlebihan untuk keluar rumah, sebaliknya sangat sederhana dalam rumah
atau di depan suami.

Nabi bersabda dalam suatu hadits :

.

Yang artinya:” Siapa saja laki-laki yang berbuat baik pada istrinya, maka Allah
akan berbuat baik kepadanya di dunia dan akhirat”.

Dalam sabda yang lain Nabi bersabda:

.

.

Yang artinya:”Sebaik-baik lelaki adalah lelaki yang paling baik kepada istrinya dan
aku adalah yang terbaik diantara kamu pada istri-istriku, dan lelaki yang
memuliakan istrinya adalah lelaki yang mulia, dan lelaki yang menghinakan istrinya
adalah lelaki yang tidak berbudi”.

.

Yang artinya:”Siapa saja wanita yang menjalankan shalat lima waktu, dan puasa
pada bulan Ramadhan, dan taat pada suaminya, boleh masuk surga lewat pintu
yang dikehendakinya”.

Sebaiknya yang diberitakan bahwa surga memilki delapan pintu, disebut-kan dalam
suratAz Zumar ayat 73, dijelaskan dalam hadits shaheh riwayat Bukhari-Muslim.

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda :

.
Yang artinya:”Perempuan (istri) yang shalehah adalah apabila engakau meman-
dangnya menyenagkan hatimu, dan apabila engkau menyuruhya dia taat kepadamu,
dan apabila engkau tidak ada di samping-nya dia menjaga harta bendamu dan
menjaga kehormatanmu”.
6

Semoga dengan menjaga rambu-rambu dalam perilaku kehidupan rumah tangga
yang bahagia akan tercapailah kehidupan rumah tangga yang berbahagia, sakinah,
mawaddah dan rahmah yang tersebut dalam surat Ar Ruum 21 dan sebagai yang
diharapkan oleh Nabi :

.
Yang artinya:”Rumahku adalah surgaku”.

Akhirnya kita berdo’a semoga kedua mempelai :

Ananda:……………..dan……………….

Serta kedua keluarga mempelai berdua serta para hadirin, diberi kebahagiaan lahir
dan batin oleh Allah s.w.t., terutama setelah terlaksananya akad nikah yang suci ini.
Dan semoga kedua mempelai di dalam mengarungi bahtera kehidupan diantar angin
buritan, sehingga tercapailah pantai idaman yang penuh dengan kesejah-teraan dan
kebahagiaan. Amin...







CONTOH KHUTBAH NIKAH YANG LAIN
ٔربمشثٗ ا خَحسٗ ٌنٞيع ًلغىا
.ٌْ ٞ
ِ
حَ شىا
ِ
َِْ حَ شىا
ِ
ا
ِ
ٌْ غ
ِ
ث
7
َ ذ
ْ
َ
َ
ح
ْ
ىا
ِ
َ
ِ
ل ْ ٖ
َ
ٝ ْ ِ
َ
ٍ بَْ
ِ
ىب
َ
َْ ع
َ
أ
ِ
دبَئِٞ
َ
ع
َ
ٗ بَْ
ِ
غ
ُ
ف
ْ
ّ
َ
أ
ِ
سْ ُٗ ش
ُ
ش ْ ِ
ِ
ٍ
ِ
لب
ِ
ث
ُ
ر ْ ُ٘ عَّ
َ
ٗ
ُ
ٓ ُ ش
ِ
ف
ْ
غَز ْ غَّ
َ
ٗ ُٔ
ُ
ْْ ٞ
ِ
عَز ْ غَّ
َ
ٗ
ُ
ُٓ ذ
َ
َْ حَّ َل
َ
ف ُا
ِ
ٓ
ِ
ذ
ُٔ
َ
ى َ و
ِ
ض
ُ
ٍ َ لْ ٝ
ِ
شَ ش َل
ُ
َٓ ذ ْ ح
َ
ٗ ُا
َ
ل
ِ
إ
َ
ٔ
َ
ى
ِ
ا َل ْ ُ
َ
أ ُ ذ
َ
ٖ
ْ
ش
َ
أ ُٔ
َ
ى
َ
ٛ
ِ
دبَٕ َل
َ
ف ْ و
ِ
ي ْ ضُٝ ْ ِ
َ
ٍ
َ
ٗ
ُ
ُٓ ذْ جَ ع اً ذ
َ
َ
َ
ح
ُ
ٍ َ ُ
َ
أ ُ ذ
َ
ٖ
ْ
ش
َ
أ
َ
ٗ ُٔ
َ
ى

ِ
ٔ
ِ
ىآ ٚ
َ
ي َ ع
َ
ٗ .ٙ
َ
ش
ْ
شُجى
ْ
ا
َ
ٗ
ِ
سا
َ
ز
ْ
ّ
ِ
ل
ْ
ب
ِ
ث
ِ
سْ ُ٘ عْ ج
َ
َ
ْ
ىا
ٍ
ذ
َ
َ
َ
ح
ُ
ٍ ٚ
َ
ي َ ع
ُ
ًَلَ غىا
َ
ٗ
ُ
حَلَ صىا
َ
ٗ .ُٔ
ُ
ى ْ ُ٘ ع
َ
س
َ
ٗ َل
ً
حَل
َ
ص
ِ
ٔ
ِ
ثب
َ
حْ ص
َ
أ
َ
ٗ

ً
بَْ ٞ
ِ
ي ْ غَر
َ
ٌ
َ
ي
َ
ع
َ
ٗ .
ً
اشْ ص
َ
ح َل
َ
ٗ
ً
اذُ ع ُ ةب
َ
غ
ِ
ح
ْ
ىا ب
َ
ٖ
َ
ى ُ عْ ٞ
ِ
طَزْ غ
َ
ٝ َل
َ
ٗ
ِ
ٔ
ِ
رب
َ
ق
ُ
ر َ ق
َ
ح
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را ا٘
ُ
ْ
َ
ٍآ َ ِٝ
ِ
ز
َ
ىا ب
َ
ُٖٝ
َ
أ ب
َ
ٝ .
ً
اشْ ٞ
ِ
ثَ م

َ
ٗ
ٍ
حَ ذ
ِ
حا
َ
ٗ
ٍ
ظ
ْ
فَّ ْ ِ
ِ
ٍ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ق
َ
ي َ خ ٛ
ِ
ز
َ
ىا
ُ
ٌ
ُ
نَث
َ
س ا٘
ُ
ق
َ
را ُ طب
َ
ْىا ب
َ
ُٖٝ
َ
أ ب
َ
ٝ . َ ُ٘
ُ
َ
ِ
ي ْ غ
ُ
ٍ
ْ
ٌ
ُ
ز
ْ
ّ
َ
أ
َ
ٗ
َ
ل
ِ
إ َ ِ
ُ
ر٘
ُ
ََر ب
َ
ٖ
َ
جْ َٗ ص ب
َ
ٖ
ْ
ْ
ِ
ٍ َ ق
َ
ي َ خ
ب
َ
ج
ِ
س ب
َ
َُٖ
ْ
ْ
ِ
ٍ
َ
ش
َ
ث
َ
ٗ
َ
ٝ .بًجٞ
ِ
ق
َ
س
ْ
ٌ
ُ
نْ ٞ
َ
ي َ ع َ ُبَ م
َ
َ
ا َ ُ
ِ
إ
َ
ًب
َ
حْ س
َ
لا
َ
ٗ
ِ
ٔ
ِ
ث َ ُ٘
ُ
ى
َ
ءب
َ
غَر ٛ
ِ
ز
َ
ىا
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را
َ
ٗ ً ءب
َ
غ
ِ
ّ
َ
ٗ ا ً شٞ
ِ
ثَ م
ً
ل ب
َ
ُٖ ٝ
َ
أ ب

ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ث٘
ُ
ّ
ُ
ر
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ى ْ ش
ِ
ف
ْ
غ
َ
ٝ
َ
ٗ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ىب
َ
َْ ع
َ
أ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ى ْ ح
ِ
ي ْ صُٝ اً ذٝ
ِ
ذ
َ
ع
ً
لْ ٘
َ
ق ا٘
ُ
ى٘
ُ
ق
َ
ٗ
َ
َ
ا ا٘
ُ
ق
َ
را ا٘
ُ
ْ
َ
ٍآ َ ِٝ
ِ
ز
َ
ىا ُٔ
َ
ىُ٘ ع
َ
س
َ
ٗ
َ
َ
ا
ِ
ع
ِ
طُٝ ْ ِ
َ
ٍ
َ
ٗ

ً
َٞ
ِ
ظَ ع ا
ً
صْ ٘
َ
ف َ صب
َ
ف ْ ذ
َ
ق
َ
ف
:ذعث بٍأ
Hadirin rahimakumullah !
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran, 3 : 102).
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan
istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’, 4 : 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang
siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab, 33 : 70-71)
Hadirin rahimakumullah !
8
Pernikahan atau perkawinan secara fiqhiah hukum asalnya adalah boleh
(jawaz). Tetapi hukum ini dapat berubah menjadi sunnah bahkan
wajib, atau makruh bahkan haram, tergantung kondisi subjektif yang
bersangkutan. Khatib dalam kesempatan ini tidak akan mengupas masalah
hukum pernikahan. Demikian juga tidak akan mengupas hikmah apa saja
yang terkandung dalam pensyariatan pernikahan itu bagi kehidupan
manusia.
Dalam khutbah nikah ini khatib akan menekankan apa tujuan
pokok pernikahan dan apa kata kunci untuk mencapainya menurut al-
Qur’an. Semoga bermanfaat, tidak hanya bagi mempelai berdua, tetapi juga
untuk para calon mempelai, mempelai baru dan mempelai lama yang ikut
hadir menyaksikan acara ini.
Hadirin rahimakumullah !
Tujuan Pokok Pernikahan Menurut Al-Qur’an
Suatu ayat al-Qur’an yang sangat popular tentang pernikahan, khususnya
bagi kita warga masyarakat, bangsa Indonesia, adalah yang berbunyi :

ُ
ن
ِ
غ
ُ
ف
ْ
ّ
َ
أ ْ ِ
ِ
ٍ
ْ
ٌ
ُ
ن
َ
ى َ ق
َ
ي َ خ ْ ُ
َ
أ
ِ
ٔ
ِ
رب
َ
ٝآ ْ ِ
ِ
ٍ
َ
ٗ
ٍ
دب
َ
ٝ َ ٟ َ ل
ِ
ى
َ
ر ٜ
ِ
ف َ ُ
ِ
إ
ً
خ
َ
َْ ح
َ
س
َ
ٗ
ً
حَ د
َ
٘
َ
ٍ
ْ
ٌ
ُ
نَْْ ٞ
َ
ث
َ
و
َ
ع
َ
ج
َ
ٗ ب
َ
ْٖ ٞ
َ
ى
ِ
إ ا٘
ُ
ْ
ُ
نْ غَز
ِ
ى ب ً جا
َ
ٗ
ْ
ص
َ
أ
ْ
ٌ
:ًٗشىا( َ ُُٗ ش
َ
ن
َ
فَز
َ
ٝ
ٍ
ً ْ ٘
َ
ق
ِ
ى 12 )
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-
tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum, 30 : 21)
Maaf, jika khatib bertanya kepada hadirin yang ada di tempat ini, yang
masih lajang atau gadis dan jejaka, apa tujuan pokok pernikahan ? Cinta !
Membuktikan rasa cinta ! Menindaklanjuti pacaran !
9
Mempertanggungjawabkan cinta ! Menutupi malu keluarga di masyarakat !
Na’udzu billahi min dzalik ! Jika demikian, adik-adik, anak-anak muda,
kalian sebagai muslim sudah siap menikah ? Tentu, sangat-sangat siap,
bukan ? Tidak salah, tetapi baru siap secara pisik, secara biologis itu
namanya. Sementara secara nonbiologis belum. Agama kita, Islam, tidak
mengingkari adanya unsur cinta dalam pernikahan, tentu cinta dalam arti
sempit, yaitu yang dalam al-Qur’an (QS. Ali Imran, 3 : 14) distilahkan
dengan : zuyyina li an-nasihubbu asy-syahawati min an-nisa’ (Dijadikan
indah pada manusia kecintaan (nafsu) syahwat, yaitu: wanita-wanita …).
Tidak salah seorang laki-laki tertarik dan ada rasa cinta kepada wanita, lain
jenisnya. Begitu juga sebaliknya. Ini manusiawi, wajar. Justru jika tertarik
sesama jenisnya sendiri itu yanng namanya kurang ajar. Na’udzu billahi min
dzalik ! Tetapi cinta yang sempit ini bukanlah tujuan pernikahan.
Hadirin rahimakumullah !
ujuan pokok pernikahan secara jelas disebutkan dalam QS. Ar-um, 3 :
1, yaitu :

. Secara mudah dipahami :

artinya : supaya dapat hidup sakinah;

: dan tercipta
kehidupan rumah tangga yang mawaddah wa rahmah.
Imam Syaukani misalnya, dalam kitab Tafsirnya Fathu al-Qadir (5 : 464)
menjelaskan maksud

, yaitu : ي له ميل ليه (maksudnya
bersatu hati dan berkecenderungan hidup menyatu). Dengan kata lain
pernikahan itu tujuannya untuk membentuk satuan rumah tangga yang
tenang, tenteram dan damai. Dilanjutkan oleh Imam Syaukani : ن
ن ن (karena sesungguhnya dua manusia yang berlainan
jenis tanpa diikat pernikahan); ل يسكن حهم لى لآخ (salah seorang dari
keduanya tidak dapat hidup sakinah bersama yang lain); ل يميل قلبه ليه
(dan tidak dapat pula menyatu hati dalam satuan rumah tangga).
Ini tujuan pokok pernikahan yang pertama, yaitu sakinah (hidup berumah
tangga yang tenang, tenteram, damai). Yang kedua dan ketiga adalah
10
mawaddah dan rahmah. Imam Syaukani dalam tafsirnya Fathu al-Qadir tadi
antara lain menyebutkan arti mawaddah adalah al-mahabbah (cinta kasih).
Sedang arti rahmah adalah asy-syafaqah (kasih sayang). Dan dikatakan juga
al-mawaddah adalah hubu ar-rajulu imra’atahu (cinta kasih seorang lai-laki
kepada isterinya), sedang ar-rahmah adalah rahmatuhu iyyaha min an
yushibaha bissu’ (kasih sayangnya kepada isterinya dari suatu keburukan
yang menimpa isterinya).
Sorang laki-laki kenal dengan seorang wanita, lalu menaruh hati atau
perhatian terhadapnya, atau sebaliknya, maka ini namanya cinta kasih yang
termasuk hubbu asy-syahawat (kecintaan nafsu syahwat) dan segalanya
terlihat indah. Maka tidak heran jika ibarat kacamata yang digunakan untuk
melihat adalah kacamata gelap. Maka muncullah istilah “cinta itu buta”.
Pokoknya pada waktu baru kenalan, tertarik, bahkan apa yang sering
dikenal dengan istilah pacaran di zaman sekarang, apa saja yang dilihat
mata semuanya indah. Bagaimana dengan yang kurang, yang buruk-buruk ?
Tidak terlihat, tidak diperlihatkan, ditutup-tutupi, atau sengaja ditutupi agar
tidak terlihat. Inilah gelora cinta, kecintaan nafsu syahwat ! Dan inilah
mawaddah (cinta kasih).
Setelah akad nikah berlangsung, malam pertama ? Jangan ditanya lagi.
Malam kedua dan seterusnya sampai satu bulan, semuanya manis, madu.
Maka terkenallah istilan “bulan madu”. Inilah mawaddah (cinta kasih).
Semakin lama seiring dengan perjalanan waktu, usia pun bertambah,
semuanya sudah berubah, tubuh menurun lemah, gigi pilih-pilih dalam
mengunyah, konsumsi gula tidak berlebih dan jangan ditambah, di dalam
rumah terlihat susah payah, di luar rumah menggiurkan serba indah,
akhirnya yang menyatu mulai terbelah, yang kokoh mulai goyah. Inilah
mawaddah !
Hadirin rahimakumullah !
11
Maka tujuan pernikahan yang ketiga melengkapi dan menutupi kekuarangan
yang kedua, yaitu rahmah (kasih sayang). Jika mawaddah dapat diibaratkan
sebuah piramida yang dimulai dari luas akhirnya semakin ke atas semakin
mengecil. Sebaliknya rahmah (kasih sayang) ibarat piramida terbalik,
dimulai dari yang sempit atau kecil dan semakin ke atas semakin luas.
Waktu boleh berjalan terus dan memang harus berjalan terus. Usia
pernikahan boleh berjalan terus seiring dengan bertambahnya usia manusia
itu sendiri. Mawaddah boleh menurun karena kecantikan dan ketampanan
juga menurun. Semua fungsi tubuh manusia akan semakin menurun dan
kembali seperti sediakala :
:ظٝ( َ ُ٘
ُ
ي
ِ
ق ْ ع
َ
ٝ َ ل
َ
ف
َ
أ
ِ
ق
ْ
ي َ خ
ْ
ىا ٜ
ِ
ف ُْٔ غ
ِ
نَْ
ُ
ّ
ُ
ٓ ْ ش
ِ
َ
َ
ع
ُ
ّ ْ ِ
َ
ٍ
َ
ٗ 86 )
“Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami
kembalikan dia kepada kejadian (sediakala). Maka apakah mereka tidak
memikirkan?” (QS. Ya Sin, 36 : 68)
Akan tetapi rahmah justru sebaliknya, harus semakin meningkat. Jika kita
melihat pasangan suami isteri sedang menunaikan haji misalnya, mereka
selalu berdekatan. Suami menggandeng isterinya erat-erat ketika tawaf,
berputar tujuh kali keliling ka’bah agar isterinya tidak lepas dan terseret
oleh gelombang arus manusia. Demikian juga ketika sa’i dan berangkat dari
maktab menuju jamarat, suami selalu mengerahkan segala daya dan upaya
agar isterinya tidak lepas. Inilah rahmah atau kasih sayang. Pada waktu
makan, isteri memperhatikan suaminya dan belum bisa makan sebelum
suaminya makan. Inilah kasih sayang. Semakin tua hati suami siteri semakin
menyatu saling memperhatikan, jangan-jangan isteri atau suami sakit atau
ditimpa suatu musibah. Semua ini dilakukan bukan karena tubuh yang kuat
dan gagah dan bukan pula karena kecantikan dan ketampanan, tetapi karena
rasa kasih sayang.
Hadirin rahimakumullah !
12
Kata Kunci Mencapai Tujuan Pokok Pernikahan
Manusia tidak ada yang sempurna dan kekurangan serta kesalahan tentu ada
meskipun sebelum pernikahan, terutama ketika baru menaruh perhatian dan
menjalin rasa cinta semuanya terlihat yang baik-baik saja. Semua yang tidak
baik tetap dilihatnya sebagai yang baik atau cenderung ditutup agar tidak
terlihat. Tetapi setelah kehidupan rumah tangga berjalan dan berbagai
kesulitan hidup dirasakannya kecenderungan berubah. Jangankan yang
sudah terbuka dan terlihat tidak baik, yang ditup pun sengaja dibuka dan
dicari-cari untuk membuktikan ketidakbaikan masing-masing pihak. Jika
kondisi ini berlanjut tentu tidak mungkin tujuan pernikahan dapat terwujud.
Saudara calon mempelai berdua yang berbahagia. Tentu Anda bedua telah
memahami apa yang akan Anda berdua tuju dengan pernikahan ini. Sebagai
muslim, tujuan yang akan Anda berdua tuju adalah membentuk rumah
tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah (hidup tenang, tenteram,
damai, penuh cinta kasih dan kasih sayang).
Bagaimana mencapai tujuan itu ? Kata kuncinya disebutkan dalam QS. An-
Nisa’, 4 : 19 :
ٞ
ِ
ثَ م ا ً شْ ٞ َ خ
ِ
ٔٞ
ِ
ف ُ
َ
ا
َ
و
َ
عْ ج
َ
ٝ
َ
ٗ ب
ً
ئْ َٞ ش إُ٘
َ
ش
ْ
نَر ْ ُ
َ
أ ٚ
َ
غ
َ
ع
َ
ف َ ُِٕ٘
ُ
َ
ُ
زْ ٕ
ِ
شَ م ْ ُ
ِ
إ
َ
ف
ِ
فُٗ شْ ع
َ
َ
ْ
ىب
ِ
ث َ ُُِٕٗ ش
ِ
شب َ ع
َ
ٗ :ءبغْىا( ا ً ش
21 )
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak
menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak.” (QS. An-Nisa’, 4 : 19)
Kata kuncinya adalah mu’asyarah bil ma’ruf. Sayid Thanthawi dalam kitab
Tafsirnya Al-Wasith (hlm. 897) menjelaskan arti mu’asyarah bil ma’ruf,
yaitu menggauli isteri dengan husnu al-khuluq (akhlak luhur) : menjaga atau
melindungi dari hal-hal yang dapat menyakitinya, sabar menghadapi
13
kekeliruan dan kemarahannya, pandai merayu, bercanda, dan bercumbu.
Tentu semua ini dilakukan sesuai dengan tingkat pendidikan dan latar
belakang adat istiadat sosialnya.
Meskipun perintah mu’asyarah bil ma’ruf ditujukan kepada suami dalam
masalah akhlak luhur tetapi juga harus diimbangi oleh isteri. Perintah ini
menekankan besarnya tugas pokok dan fungsi seorang suami :
:حشقجىا(
ٌ
ٌٞ
ِ
ن
َ
ح
ٌ
ضٝ
ِ
ضَ ع ُ
َ
ا
َ
ٗ
ٌ
خ
َ
ج
َ
سَ د َ ِ
ِ
ْٖ ٞ
َ
ي َ ع
ِ
هب
َ
جِ شي
ِ
ى
َ
ٗ
ِ
فُٗ شْ ع
َ
َ
ْ
ىب
ِ
ث َ ِ
ِ
ْٖ ٞ
َ
ي َ ع ٛ
ِ
ز
َ
ىا ُ و
ْ
ث
ِ
ٍ َ ُِٖ
َ
ى
َ
ٗ 116 )
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu
tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 228)
Dalam kaitannya dengan keseimbangan ini Ibnu Abas pernah berkata :

ِ
ّ
ِ
إ ٜقٖٞجيى ٙشجنىا ِْغىا( ٜ
ِ
ى َ َِٝ
َ
ضَر ْ ُ
َ
أ ُ ت
ِ
ح
ُ
أ ب
َ
ََ م
ِ
ح
َ
أ ْ ش
َ
َ
ْ
ي
ِ
ى َ َِٝ َ ضَر
َ
أ ْ ُ
َ
أ ُ ت
ِ
ح
ُ
َ ل ٜ 7 / 261 )
“Aku sungguh suka berhias diri untuk isteri sebagaimana isteri suka
berhias diri untukku.” (As-Sunanu al-Kubra lil Baihaqi, 7 : 482)
Hadirin rahimakumullah !
Kesimpulan :
1. Suatu pernikahan dalam Islam harus dibangun saling mencintai
kedua belah pihak dengan tetap memegang teguh tujuan pokoknya
untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah
(hidup tenang, tenteram, damai, penuh cinta kasih dan kasih sayang)
yang diridhai Allah SWT.
14
1. Untuk mencapai tujuan pokok pernikahan kata kuncinya adalah
mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu menggauli isteri dengan husnu al-
khuluq (akhlak luhur) dengan memperhatikan tingkat pendidikan
dan latar belakang adat istiadat sosialnya.

ِ
ٔٞجّ
ِ
خ
َ
ُْ غ
ِ
ثٗ
ِ
ٌٞنحىا
ِ
ش
ْ
م
ِ
زىاٗ
ِ
دبٟٝا َ ِ
ِ
ٍ
ِ
ٔٞف ب
َ
َ
ِ
ث
ْ
ٌ
ُ
مبٝإٗ ٜ
ِ
ْ
َ
عفّٗ
ِ
ٌٞظعىا
ِ
ُآشقىا ٜ
ِ
ف
ْ
ٌ
ُ
نىٗ ٜ
ِ
ى ُا َ ك
َ
سبث
.
ُ
ٌٞحشىا ُ س٘فغىا
َ
ٕ٘ ُٔ
َ
ّإ
ُ
ُٓٗ ش
ِ
فغزعبف ،
ْ
ٌ
ُ
نىٗ ٜ
ِ
ى
َ
ا ُ ش
ِ
ف
ْ
غَزْ ع
َ
أٗ ا
َ
زٕ ٜ
ِ
ى٘ق ُ ه٘قأ ٌيعٗ ٔٞيع ا ٚيص
ِ
ٌٝشنىا
ب
َ
ّ
ِ
إ
َ
ٌثٖ
َ
يىا .
ِ
شْ ٞ َ خ
ْ
ىا ٜ
ِ
ف ب
َ
َ
ُ
نَْْ ٞ
َ
ث
َ
ع
َ
َ
َ
ج
َ
ٗ َ لْ ٞ
َ
ي َ ع َ ك
َ
سب
َ
ث
َ
ٗ َ ل
َ
ى ُ
َ
ا َ ك
َ
سب
َ
ث ،ب
َ
َ
ِ
ْٖ ٞ
َ
ي َ ع ب
َ
ََُٖز
ْ
ي
َ
ج
َ
ج ب
َ
ٍ
َ
شْ ٞ َ خ
َ
ٗ ب
َ
َُٕ
َ
شْ ٞ َ خ َ ل
ُ
ى
َ
أ ْ غَّ

ِ
ٍ بَْ
َ
ى ْ تَٕ بََْث
َ
س .ب
َ
َ
ِ
ْٖ ٞ
َ
ي َ ع ب
َ
ََُٖز
ْ
ي
َ
ج
َ
ج ب
َ
ٍ ِ شَ ش ْ ِ
ِ
ٍ
َ
ٗ ب
َ
َ
ِ
ِٕ شَ ش ْ ِ
ِ
ٍ َ ل
ِ
ث
ُ
ر ْ ُ٘ عَّ
َ
ٗ
ٍ
ُِٞ ْ ع
َ
أ َح َ ش
ُ
ق بَْ
ِ
ربَٝ ِ س
ُ
ر
َ
ٗ بَْ
ِ
جا
َ
ٗ
ْ
ص
َ
أ ْ ِ

َ
ّ
ِ
إ بَْْ ٞ
َ
ي َ ع ْ ت
ُ
ر
َ
ٗ ،
ُ
ٌْ ٞ
ِ
ي
َ
عىا ُ عْ ٞ
ِ
ََ غىا َ ذ
ْ
ّ
َ
أ َ ل
َ
ّ
ِ
إ ب
َ
ْ
ِ
ٍ ْ وَج
َ
قَر بََْث
َ
س .ب
ً
ٍب
َ
ٍ
ِ
إ َ ِٞ
ِ
ق
َ
ز
ُ
َ
ْ
ي
ِ
ى بَْ
ْ
ي
َ
عْ جا
َ
ٗ بََْث
َ
س .
ُ
ٌْ ٞ
ِ
حَ شىا ُ ةا َ ٘
َ
زىا َ ذ
ْ
ّ
َ
أ َ ل
ٜ
ِ
ف
َ
ٗ
ً
خَْ
َ
غ
َ
ح ب
َ
ٞ
ْ
ُّ ذىا ٜ
ِ
ف بَْ
ِ
رآ
ِ
ٔ
ِ
ج ْ ح
َ
ص
َ
ٗ
ِ
ٔ
ِ
ىآ ٚ
َ
ي َ ع
َ
ٗ
ٍ
ذ
َ
َ
َ
ح
ُ
ٍ ٚ
َ
ي َ ع ُا ٚ
َ
ي
َ
ص
َ
ٗ .
ِ
سب
َ
ْىا
َ
ةا
َ
زَ ع بَْ
ِ
ق
َ
ٗ
ً
خَْ
َ
غ
َ
ح
ِ
ح
َ
ش
ِ
خٟا
َ لِث
َ
س َ ُب
َ
حْ جُ ع .
َ
ٌ
َ
ي
َ
ع
َ
ٗ . َ ِْ ٞ
ِ
َ
َ
ىب
َ
عىا ِ ة
َ
س
ِ
ل ُ ذ
ْ
َ
َ
حىا
َ
ٗ . َ ِْ ٞ
ِ
ي
َ
عْ ش
ُ
َىا ٚ
َ
ي َ ع
ٌ
ًَل
َ
ع
َ
ٗ . َ ُْ ٘
ُ
ف
ِ
ص
َ
ٝ ب
َ
ََ ع
ِ
ح
َ
ض
ِ
ع
ْ
ىا ِ ة
َ
س
سٗ ٌنٞيع ًلغىاٗ .ٔربمشثٗ ا خَح