Metode Pengereman Secara Plugging Kita bisa menghentikan motor bahkan lebih cepat dengan menggunakan metode yang

disebut plugging. Ini terdiri dari tiba-tiba membalikkan arus angker dengan membalik terminal sumber seperti ditunjukan pada ambar dibawah. Konfigurasi Hubungan Amature Dan Sumber DC Es

Di bawah kondisi motor normal, angker arus / 1 diberikan oleh : di mana Ro adalah resistansi armature. Jika kita tiba-tiba membalik terminal sumber tegangan netto yang bekerja pada sirkuit angker menjadi (Eo + Es). Yang disebut counter-ggl Eo dari angker tidak lagi bertentangan dengan apa-apa tetapi sebenarnya menambah tegangan suplai Eo. Bersih ini tegangan akan menghasilkan arus balik yang sangat besar, mungkin 50 kali lebih besar daripada beban penuh arus armature. Arus ini akan memulai suatu busur sekitar komutator, menghancurkan segmen, kuas, dan mendukung, bahkan sebelum baris pemutus sirkuit bisa terbuka. Untuk mencegah suatu hal yang tidak diinginkan, kita harus membatasi arus balik dengan memperkenalkan sebuah resistor R dalam seri dengan rangkaian pembalikan. Seperti dalam pengereman dinamis, resistor dirancang untuk membatasi pengereman awal arus I2sampai sekitar dua kali arus beban penuh. Dengan memasukkan rangkaian, torsi reverse dikembangkan bahkan ketika angker telah datang berhenti. Akibatnya, pada kecepatan nol, Eo = 0, tapi aku 2 = Eo / R, yaitu sekitar satu setengah nilai awalnya. Begitu motor berhenti, kita harus segera membuka sirkuit angker, selain itu akan mulai berjalan secara terbalik. Sirkuit gangguan biasanya dikontrol oleh sebuah null-kecepatan otomatis perangkat terpasang pada poros motor. Gambar Kurva Kecepatan Pengereman

Lekuk pada gambar diatas memungkinkan kita untuk membandingkan pengereman plugging dan dinamis untuk pengereman awal yang sama saat ini. Perhatikan bahwa memasukkan motor benar-benar berhenti setelah selang waktu 2 To. Di sisi lain, jika pengereman dinamis digunakan, kecepatan masih 25 persen dari nilai aslinya pada saat ini. Meskipun demikian, kesederhanaan komparatif pengereman dinamis menjadikan lebih populer di sebagian besar aplikasi Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/metode-pengereman-pada-motor-listrik/ Copyright © Elektronika Dasar

.

.

. Gambar 18. 1. Tindakan pengereman hannya dilakukan sesaat saja dan bila lebih lama motor akan berputar berlawanan arah. dengan demikian motor akan mendapat kopel lawan dan segera berhenti. Rangkaian kontrol motor dengan pengereman system plugging (a) Rangkaian utama b) rangkaian kontrol Kontaktor K1 untuk mengoperasikan motor. Jadi. maka K1 akan melepas dan K2 mendapat arus dan motor akan segera berhenti karena mendapat torsi lawan. OFF ditekan hannya sesaat atau sampai motor benar‐benar berhenti. Pengereman system plugging (secara manual) Pengereman ini dilakukan dengan cara merobah urutan fasa sumber motor yang bersangkutan (seperti rangkaian membalik arah putaran motor). Baik pengereman secara mekanis maupun elektrik. Tahanan depan R berfungsi sebagai pembatas arus motor saat pengereman. motor tidak cukup hannya dihentikan dengan memmutus tegangan sumber saja. maka K1 akan menalir arus dan motor akan beroperasi. Ada tiga cara pengereman motor induksi. Bila OFF ditekan. yakni sebagai berikut. karena motor masih menpunyai putaran sisa. Namun untuk tujuan tertentu pengereman secara mekanis masih diperlukan agar motor dapat berhenti lebih cepat. Arus motor yang besar akibat pengereman dapat diatasi dengan memberikan tahanan depan. Apabila ON ditekan.RANGKAIAN KONTROL PENGEREMAN MOTOR INDUKSI Suatu motor listrik yang sedang beroperasi dapat dihentikan dengan segera bila dilakukan pengereman. Pengereman secara elektris lebih cocok bagi motor induksi disbanding pengereman secara mekanis. K2 untuk pengereman (merobah urutan fasa) dan K3 adalah kontaktor bantu untuk mengatur pengoperasian K1 dan K2.

RUMUS UNTUK PLUGGING S=S S = (2-S) S= S= S= = (2-S) Pm = P2 (1-S) Pmb = P2 (1 – (2-S) Pmb = P2 (-1 + S) Sb = 2 Sb = Sb = Sb = - ΔP = P2 .(1-S) P2 ΔP = P2 (1 – (1-S) ΔP = P2 .(1+S) P2 ΔPb = (1.Pm ΔP = P2 .(-1+S)) P2 ΔPb = (2-S) . S ΔPb = P2 .