1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
SISTEM INTEGUMEN : DERMATITIS

OLEH
KELOMPOK III

EURUSIA ITA BRIA

(131211123018)

EVELINE P.M. MAU

(131211123019)

LILIK SRIWIYATI

(131211123020)

NI MADE JULIANDRI

(131211123021)

FIRMAN MAULANA S.

(131211123022)

MERY FARIDA

(131211123023)

PETRUS K S TAGE

(131211123024)

MUHAMAD ZAINUDIN

(131211123025)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN UNAIR
SURABAYA
2013

2

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dermatitis berasal dari kata derm/o- (kulit) dan –itis (radang/inflmasi),
sehingga dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan dimana kulit
mengalami inflamasi. Klasifikasi dermatitis saat ini masih beragam. Hal
tersebut diakibatkan oleh penentuan etiologi dalam dermatitis belum cukup
jelas. Berdasarkan sumber agen penyebab dermatitis dibagi menjadi dua yaitu
dermatitis eksogen dan dermatitis endogen. Namun makalah ini akan
menjelaskan beberapa jenis dermatitis diantaranya dermatitis kontak,
dermatitis seboroik dan dermatitis atopik. Dermatitis kontak merupakan
inflamasi non infeksi kulit yang diakibatkan oleh senyawa yang mengalami
kontak dengan kulit tersebut. Ciri umum dari dermatitis kontak ini adalah
adanya eritema (kemerahan), edema (bengkak), papul (tonjolan padat diameter
< 5mm), vesikel (tonjolan berisi cairan diameter < 5mm), crust/krusta.
Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi
yang dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema
adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan
dermatitis

seboroik

2,32%

yang

menyerang

2%

hingga

5%

dari

penduduk.Seborrhea biasa disebut dengan Dermatitis seboroik (DS) atau
Seborrheic eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan merupakan
inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak, bercak
merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi
pada kulit kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti
daerah presternal dada. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa
sekurang–kurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik. Ketombe
berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak separah dermatitis
seboroik. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan
ketombe.
Dermatitis atopik ialah keadaan peradangan kulit kronis residif disertai
gatal yang berhubungan dengan atopi. Kata atopi pertama kali diperkenalkan

3

oleh Coca (1923), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada
individu yang mempunyai riwayat kepekaan dalam keluarganya misalnya
asma bronkial, rinitis alergika, dermatitis atopik, dan konjungtivitis alergik.Di
negara industri, prevalensi dermatitis atopi pada anak mencapai 10 sampai 20
%, sedangkan pada dewasa sekitar 1 sampai 3 %. Dinegara agraris prevalensi
dermatitis atopi jauh lebih rendah. Penderita wanita lebih banyak daripada pria
dengan rasio1,3 :1. Daerah beriklim panas dan lembab memudahkan
timbulnya penyakit. Higiene yang kurang juga dapat memperberat penyakit.
Lingkungan yang mengganggu emosi lebih mudah menimbulkan penyakit.
Penyebab dermatitis atopik belum diketahui, gambaran klinis yang muncul
diakibatkan oleh kerja sama berbagai faktor kontitusional dan faktor pencetus.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari dermatitis kontak, dermatitis seboroik, dan
dermatitis atopik?
2. Apakah penyebab terjadinya dermatitis kontak, dermatitis seboroik, dan
dermatitis atopik?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari dermatitis kontak, dermatitis seboroik,
dan dermatitis atopik?
4. Bagaimanakah patofisiologi terjadinya dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik?
5. Apa saja penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan pada dermatitis
kontak, dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik?
6. Apakah komplikasi yang dapat terjadi pada dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik?
7. Bagaimanakah prognosis pasien dengan dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik?
8. Bagaimanakah konsep teori asuhan keperawatan pada pasien dengan
dermatitis kontak, dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik?

4

1.3 Tujuan
1.3.1

Tujuan umum
Setelah

proses

perkuliahan

diharapkan

mahasiswa

mengerti

dan

memahami konsep teori dan proses penyakit dermatitis serta mampu
memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan dermatitis kontak,
dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik.
1.3.2

Tujuan khusus
Mahasiswa diharapkan mampu:
1.

Menjelaskan pengertian dermatitis kontak, dermatitis seboroik, dan
dermatitis atopik.

2.

Menyebutkan penyebab terjadinya dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik.

3.

Menjelaskan manifestasi klinis dari dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik.

4.

Memahami patofisiologi penyakit dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik.

5.

Menyebutkan penatalaksanaan dermatitis kontak, dermatitis seboroik,
dan dermatitis atopik.

6.

Menjelaskan komplikasi yang bisa terjadi pada dermatitis kontak,
dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik.

7.

Menyebutkan prognosis penyakit dermatitis kontak, dermatitis
seboroik, dan dermatitis atopik.

8.

Memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan dermatitis
kontak, dermatitis seboroik, dan dermatitis atopik.

1.4 Manfaat
1. Bagi mahasiswa/mahasiswi
Makalah ini hendaknya memberikan masukan dalam pengembangan diri
untuk

memperkaya

pentingnya

pengetahuan

memahami

mahasiswa/mahasiswi

penyakit-penyakit

pada

sistem

mengenai
integumen

dermatitis seboroik. dan dermatitis atopik. dermatitis seboroik. dan dermatitis atopik. .5 khususnya pada dermatitis kontak. Bagi penulis Dengan pembuatan makalah ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih kompleks tentang konsep penyakit dermatitis dan konsep asuhan kepererawatan pada pasien dengan dermatitis kontak. 2.

zat pencuci. 3. 2009) Dermatitis kontak adalah suatu reaksi inflamasi kulit terhadap preparat fisik. Iritan ringan : paparan kronis detergen atau pelarut. sampo.Corwin. 2. (Elizabeth J. Iritan kuat : kerusakan akibat kontak dengan asam atau alkali. hair spray Leher Minyak wangi. 2. 2006) Berdasarkan beberapa pngertian di atas maka dapat disimpulkan pengertian dermatitis kontak yaitu suatu inflamasi berbatas tegas di kulit karena kontak dengan zat kimia yang menyebabkan iritasi atau alergen atopik (substansi yang menghasilkan reaksi alergis di kulit) dan iritasi kulit karena kontak dengan substansi terkonsentrasi pada bagian kulit yang sensitif.2 Etiologi 1. atau biologi.Dr. 2000) Dermatitis kontak adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang disertai dengan adanya spongiosis/edeme interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bahan – bahan kimia yang berkontak atau terpajan kulit . kimia.1. perhiasan nikel .1 Pengertian Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang akut atau kronik akibat terpajan iritan (dermatitis iritan) atau alergen (dermatitis alergen).1 Alergen Dermatitis kontak Kulit kepala Lokasi Kemungkinan alergen Cat rambut. (Harahap Mawarli Prof. tonikum Kelopak mata Make-up mata.Bahan.6 BAB 2 KONSEP TEORI 2. (Baughman.1. Alergen : sensitisasi karena paparan berulang-ulang Tabel 2. sabun.1 Dermatitis Kontak 2. misalnya parfum. sabun atau zat kimiawi.bahan tersebut dapat bersifat toksik ataupun alergik.

dodoran.7 Badan Pakaian. Ketiak Dodoran. obat kontrasepsi. pewarna. tumbuh-tumbuhan Gambar 2. zat pencuci Kaki Sepatu. zat pencuci. sabun Genitalis Sabun. sepatu karet.1 Dermatitis kontak pada permukaaan kulit . kaos kaki Tangan Perhiasan nikel. sabun.

Gambaran umum dermatitis kontak alergika dengan dermatitis kontak iritan Variabel Penderita Iritan Banyak orang Alergika Tidak banyak yang menderita Timbul reaksi sesudah Biasanya dalam 48 Beberapa jam 5-6 jam kontak. Dermatitis kontak alergika.3 Klasifikasi 1. Dermatitis kontak iritan. merupakan manifestasi “Delayed Hypersesitivity”.1. hipersensitifitas yang tertunda dan merupakan terkena oleh alergen kontak pada orang yang sensitif. terjadi karena irritant primer dimana reaksi non alergik terjadi akibat pejanan terhadap substansi iritatif. jam Lokasi Terlokalisasi Tersebar Batas jelas Sering khas Dapat terjadi Waktu untuk resolusi Sering mengurang Beberapa hari klinis setelah bahan setelah 96 jam disingkirkan Terjadinya reaksi Cepat dengan kuat iritan 24-72 jam Cepat (akhir minggu) 4 minggu Hubungan pekerjaan dengan Predisposisi Predisposisi diketahui tidak . 2.8 2.

air. krom. PF. . semen. fisur Vesikel yang dibedakan Morfologi Tangan 90 sulit dengan iritan 90% tangan Distribusi Dapat merupakan Dapat menetap sebab Pajanan dengan air Respon imun tidak Tipe IV (DTH) intermiten dan sering spesifik Sistem imun Kerusakan Histologi bag. pewangi. tes dan tempel dermatitis Nikel. epoksi resin Penata rambut Sampo. pelarut. sisk. kosmetik) Karet (sarung tangan). Krom (semen.9 Atopi Eritema. kotoran kulit sepatu). formaldehid (sampo. poison kronis tangan ivy Jenis pekerjaan dan kontraktan Pekerjaan Kontruksi bangunan Iritan Alergika Pembersih. karet (sarung tangan).atas infiltrasi limfosit Kronisitas Sering Dapat membaik atau epidermal Spongiosis dengan kronis Diagnosis Anamnesis dan PF Contoh Penata rambut masinis : Anamnesis. permanen Karyawan rumah Pembersih. (adhesif) larutan P-fenilendiamin (cat rambut).

Proses warna. dan gatal. dan edema di area yang diserang. yaitu fase sensitisasi dan elisitasi: 1.1. vesikel basah di daerah kontak. 2000). air pewangi dan pengawet (larutan pembersih dan Karyawan kesehatan Sabun. lepuh. 2. mungkin sangat hebat. dengan garis lurus yang mengikuti titik kontak.1.10 tangga desinfektan. proses. eritema (kemerahan). Reaksi alergik parah : eritema khas. pruritus. Dermatitis alergik biasanya muncul 12 hari setelah pajanan (Baughman. Respons alergik klasik : lesi yang berbatas jelas. (produk perawatan kulit) fiksasi. desinfektan glutaraldehid (sterilisator untuk pengawet Fotografi Air.5 Patofisiologi Dermatitis kontak alergi merupakan hipersensitivitas tipe IV (tipe lambat) yang terdiri dari 2 fase. bersisik.4 ManifestasiKlinis 1. Vesikel pecah dan membentuk krusta. 2. fixer. bleaches (sumber : Alergi Dasar prof. hitam . Fase sensitisasi Fase sensitisasi adalah fase dimana terjadinya kontak pertama kali antara alergen dengan kulit yang selanjutnya alergen tersebut akan dikenal dan direspon oleh limfosit T atau fase ketika sel T naive . developer. air. Iritan kuat : lepuh dan ulserasi. dingin instrumen). dan putih. desinfektan) sarung Karet (sarung tangan). Iritasi ringan dan alergen : eritema dan vesikel kecil yang keluar. tangan.dr.Karnen Garna Baratawidjaja : 2009) 2. Kedua jenis dermatitis memberikan gambaran akut berupa papul-papul terlokalisasi.Dr.

dimana pada fase ini sel langerhans harus berinteraksi dengan sel T CD4 dengan reseptor khusus untuk antigen kelas II dan alergen. Sebagian akan kembali ke kulit dan ke sistem limfoid tersebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan keadaan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh. hapten akan berikatan dengan enzim sitosolik dan selanjutnya menjadi antigen lengkap yang akan diekspresikan pada permukaan sel langerhans imatur yang juga dapat berfungsi sebagai makrofag walaupun masih memiliki kemampua terbatas untuk menstimulasi limfosit T. . Di dalam sel. larut dalam lemak dan memiliki reaktivitas yang tinggi. Tahap berikutnya adalah presentasi HLA-DR pada limfosit T helper yang akan mengekresikan molekul CD4. Selannjutnya limfossit T yang telah tersensitisasi akan bermigrasi ke daerah parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berproliferasi membentuk sel T efektor yang tersensitisasi secara spesifik dan membentuk sel memori. proses degradasi nonlisosomal dari alergen atau proses terjadinya ikatan antara peptida antigen dnegan HLA-DR. Pada fase sensitisasi ini. Alergen pada umumnya merupakan bahan dengan berat molekul rendah (<500 dalton).11 dirubah menjadi sel T efektor atau sel T memori spesifik antigen. Paparan dari alergen ini dapat menurunkan jumlah sel langerhans pada epidermis sebanyak kurang lebih 50% yang disebabkan karena sel langerhans tersebut beremigrasi dari epidermis. alergen yang belum diproses atau yang biasa disebut sebagai hapten akan dipaparkan ke stratum korneum dan selanjutnya akan berpnetrasi ke alpisan bawah epidermis dan akhirnya ditangkap oleh sel langerhans kemudian akan terjadi beberapa proses. Pengenalan antigen yang telah diproses dalam sel langerhans oleh limfosit T terjadi melalui kompleks reseptor limfosit T CD3 dan dapat juga dipresentasikan oleh MHC klas 1 yang akan dikenali oleh CD8. seperti proses endositosis atau pinositosis.

Selain itu beberapa neuropeptida juga terlibat seperti calcitonin related peptidae dan alpha melanocyte stimulating hormon yang dapat menurunkan regulasi dari fase elisitasi ini yang kemungkinan disebabkan karena adanya pengaruh dari sel penyaji antigen. Selanjutnya sel langerhans akan mengeluarkan sitokin. histamin.12 2. tetapi dapat juga diproduksi oleh sel keratinosit. Limfosit T teraktifasi akan mensekresikan IFN gamma yang akan mengaktifkan keratinosit untuk mengekspresikan intercellular adhesion molecule I (ICAM-I) dan Histocompatability Locus A (HLA)-DR. Sitokin tidak hanya diproduksi oleh sel langerhans dan limfosit T. Selanjutnya IL-1 dapat menstimulasi keratinosit untuk memproduksi eicosanoid yang akan menghasilkan sel mast dan makrofag. Fase elisitasi terjadi pada saat terjadi kontak ulang antara kulit dengan hapten yang sama atau serupa. Histamin yang . Sitokin mempunyai peranan penting pada molekul-molekul adhesi yang mengatur jalur sel langerhans. satu – satunya sel epidermal yang mengekspresikan antigen HLA-DR klas II pada permukaannya. ekspresi HLA-DR dapat menyebabkan keratinosit menjadi target limfosit T. Selain itu. yaitu interleukin-1 yang akan menstimulasi limfosit T untuk menghasilkan interleukin-2 dan mengekspresikan reseptor interleukin-2 yang akan menyebabkan proliferasi dan ekspansi populasi limfosit T pada kulit. dan prostaglandin. serotonin. sel mast dan makrofag yang terlibat patogenesis dermatitis kontak alergi ini. ekspresi dari molekul-molekul adhesi lain pada sel langerhans dan sel T dapat mempengaruhi respon sel T terhadap alergen yang masuk. Keratinosit aktif juga memproduksi berbagai sitokin lain. Selain itu. seperti IL-1. sel T dan sel-sel inflamasi lainnya di kulit. HLA-DR pada keratinosit akan berinteraksi dengan limfosit T CD4 melalui molekul ICAM-1. IL-6. Fase elisitasi Fase ini melibatkan beberapa substansi. Hapten akan ditangkap dan kemudian akan dipresentasikan pada permukaan sel langerhans. dan GMSCF yang selanjutnya akan mengaktifkan limfosit T. seperti sitokin.

13 berasal dari sel mast dan keratinosit serta infiltrasi lekosit menimbulkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas terhadap berbagai sel dan faktor inflamasi yang terlarut. Infeksi kulit dapat disebabkan oleh garukan berulang dan kerusakan kulit. adanya peningkatan regulasi molekul-molekul adherens pada kulit (pada endotelium pembuluh darah. Sejumlah alergen dioleskan pada punggung yang sedang tidak mengalami inflamasi. sel stromal dan sel-sel epidermis) serta sel langerhans pada epidermis yang berfungsi sebagai bantalan untuk antigen yang transit di epidermis sebelum antigen tersebut ditranmisikan ke kelenjar getah bening yang akan membantu sel T helper untuk berikatan dengan antigen pada kulit. positif palsu. destruksi selular dan proses perbaikan. 2. 2009) . Jalur tersebut merupakan respon kulit pada dermatitis kontak alergi yang meliputi inflamasi. Interpretasi (negatif palsu. Tempelan-tempelan ini dibuka setelah 48 jam dan reaksinya dibaca. antara lain sitokin-sitokin kemotaktik yang secara lokal akan bertindak pada keadaan – keadaan kulit tertentu. Beberapa teori mengungkapkan kemungkinan beberapa faktor yang bertanggungjawab dalam proses migrasi sel T helper ke kulit.1.1. dan kebenaaaran dari hasil positif).Corwin. Respon buruk terhadap poison ivy atau alergen poten lain dapat menyebabkan kemerahan signifikan dan pembengkakan pada wajah. Pasien dilihat kembali setelah 72 jam dan reaksi lambat dicatat. Mata bisa tertutup karena edema (Elizabeth J.(At a Glance Medicine) 2.7 Komplikasi Kondisi kronis dapat menyebabkan likenifikasi dan fisura dan skuama.6 PemeriksaanDiagnostik Tes tempel (patch test) adalah teknik pemeriksaan utama.

Bedakan antara tipe alergen dan tipe iritan.9 Prognosis Penting untuk menghilangkan faktor penyebab. Bila serangannya berat. 5. Gunakan losion lembut. tapi profilaksis juga penting.1. Rendaman mandi bubur gandum dengan bahan kimia yang menyejukkan dapat meredakan penyakit. Karena sekali terkena dermatitis kontak alergi mungkin tetap ada walaupun bahan kimia penyebabnya telah dihilangkan.8 Penatalaksanaan 1. 2009) 2. Antihistamin dapat digunakan untuk mengurangi gatal. 4. 2. kortikosteroid sistemik dengan dosis besar sering kali diberikan. Istirahatkan kulit yang sakit dan lindungi dari kerusakan lebih lanjut. Terapi anti-inflamasi topikal (kadang-kadang sistemik) jangka pendek. 3.(At a Glance Medicine) .Identifikasi iritan yang dapat menjadi ancaman dan singkirkan. Kompres dingin untuk mengurangi peradangan. Identifikasi penyebab dermatitis dan menghindari pajanan penyebab rekuren. pasang balutan dingin basah diatas area dermatitis vaskular yang tidak terlalu luas (Elizabeth J. tidak mengandung obat untuk bercak eritema kecil.1.14 2. meliputi mata dan wajah.Corwin. misalnya steroid dapat digunakan untuk menghentikan peradangan. 6.

2. 2010:175) Dermatitis seboroik adalah golongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor dan bertempat predileksi di tempat seboroik. Ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi. 2. 2. .2 Etiologi Penyebabnya belum diketahui pasti. terutama pada kulit kepala.. kronik.2 Dermatitis Seboroik 2. Kemungkinan ada pengaruh hormon.1 Pengertian Dermatitis seboroik adalah pola klinis eksim yang sangat lazim dijumpai pada orang dewasa. Pengobatan dengan ketokonazol 2% akan menurunkan jumlah jamur ini dan menyembuhkan penyakit ini. Beberapa faktor predisposisi terjadinya dermatitis seboroik yitu: 1. (Arief.15 2. Pada bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik jika kadar hormon ini menurun. Pertumbuhan P. (Graham-Brown. dan superfisial. Hanya didapati aktivitas kelenjar sebasea berlebihan. baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans. Jamur Pityrosporum ovale (Malassezia ovale) Jenis jamur lipofilik ini banyak jumlahnya pada penderita dermatitis seboroik. Hormon Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia setelah pubertas. 2000:122) Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut. et al. alis mata dan muka. 2000:14) Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan dermatitis seborea/seboroik adalah kelainan inflamasi kronik kulit dengan predileksi di daerah yang banyak dipasok dengan kelenjar sebasea atau yang terletak di antara lipatan kulit tempat bakteri terdapat dalam jumlah yang besar.2. (Harahap.

16 3.3 Manifestasiklinis Terdapat sejumlah gambaran yang mudah dikenal pada pasien dengan kasus yang khas. Alis 4. Perbandingan komposisi lipid di kulit berubah. Kulit kepala. Belakang telinga 6. hormon. trigliserida. dan kadar squelen. dan tampak agak berminyak pada kulit 9. Erupsi berupa bercak-bercak kemerahan. periksa kemungkinan infeksi HIV/penyakit imunodefisiensi lain. . 2. Jika penyakit sangat parah. sering menimbulkan gambaran yang sangat mirip dengan psoriasis fleksural. 4.2. Secara khusus. Faktor lain yang diduga sebagai penyebab penyakit ini yaitu: faktor iklim. dengan skuama mencolok disertai eritema di ujung yang lain. Peradangan kelopak mata (blefaritis) 5. Dada atas (depan dan belakang) 7. 2. berskuama. Jumlah kolesterol. Lipatan nasolabial. Bentuk fleksura (intertriginosa) di ketiak dan lipatan paha. lingkungan. tersebar hingga ke pipi 3. 8. asam lemak bebas dan wax ester menurun. dan neurologik. distribusi lesi pada penyakit ini bersifat khas. parafinmeningkat. skuama ringan (ketombe) mencerminkan salah satu ujung dari spektrum klinis. genetik. antara lain: 1.

kemudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti..S pada orang yang telah mempunyai faktor predisposisi. . emosional atau infeksi. timbulnya D.S.4 Patofisiologi Dermatitis seboroik berhubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea. Dermatitis seboroik lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita.17 Gambar 2. stress. Meskipun kematangan kelenjar sebasea rupanya merupakan faktor timbulnya D.3 Dermatitis seboroik pada area yang mengandung kelenjar sebasea dan berambut 2. tetapi tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara keaktifan tersebut dengan suseptibilitas untuk memperoleh D. kemudian jarang pada usia sebelum akil balik dan insidensnya mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun. kadang-kadang pada umur tua. Dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada umur bulan-bulan pertama.2.S dapat disebabkan faktor kelelahan. Glandula tersebut aktif pada bayi baru lahir.

antibiotik sistemik dosis rendah dengan aktivitas antiinflamasi.6 Penatalaksanaan Pasien mungkin membaik dengan pemberian krim kortikosteroid topikal saja atau obat antijamur topikal saja. serta adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler. Pemakaian obat-obat secara sekuensial memungkinkan pemanjangan jarak pemberian steroid secara intermiten dan mengurangi kemungkinan efek samping.5 Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan hispatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain. ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler. seperti pada dermatitis atopik atau psoriasis. Pada bagian epidermis dijumpai parakeratosis dan akantosis. misalnya mikonazol.2. terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah sedikit pada perivaskuler superfisial.2.18 2. misalnya limesiklin 408 mg sekali sehari. Gambaran hispatologi tergantung dari stadium penyakit. Pada dermatitis seboroik kronik. . Pada korium. klotrimazol. Pada dermatitis akut dan subakut. atau ketokonazol. Pada dermis bagian atas. hiperplasia psoriasisform ringan. 2. terjadi dilatasi kapiler dan vena pada pleksus superfisial selain dari gambaran yang telah disebutkan di atas yang hampir sama dengan gambaran psoriasis. dijumpai sebukan ringan limfohistiosit perivaskular. spongiosis ringan hingga sedang. Gambaran ini merupakan gambaran yang khas. mungkin berguna. Kadang-kadang dermatitis seboroik yang parah memerlukan terapi oral dengan obat seperti itrakonazol. Jika menetap. tetapi kombinasi keduanya biasanya lebih baik. dijumpai pembuluh darah melebar. epidermisnya ekonthoik.

Pada pitiriasis sika dan oleosa.19 Lesi di kulit kepala memerlukan pemberian shampo antiragi (seng pirition. 4) Kortikosteroid. selenium sulfida. Pada kasus inflamasi berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat misalnya betametason-valerat. 1.Salep yang mengandung asam salisil 2%. 2) Resorsin 1-3% 3) Sulfur praesipitatum 4-20% dapat digabung dengan asam salisil 36%. Pengobatan Sistemik Dapat diberikan anti histamin ataupun sedatif. Jika terdapat skuama dan krusta yang tebal hendaknya dilepaskan.S ialah: 1) Ter : misalnya likuor karbonas detergens 2-5% atau krim pragmatar. ketokonazol. 2. Obat lain yang dipakai untuk D. Pemberian dosis rendah dari terapi oral bromida dapat membantu penyembuhan. Terapi oral yang menggunakan dosis rendah dari preparat hemopoetik yang . zing pirition 12%. 2-3 kali seminggu selama 5-10 menit. dan ketokonazol semuanya efektif) dan losio steroid topikal.Pada bayi diberikan asam salisil 3-5% dalam minyak mineral. misalnya krim hidrokortison. Atau dapat diberikan sampo yang mengandung sulfur. Misalnya dengan silenium sulfida (selsun). Asalkan jangan dipakai terlalu lama karena efek sampingnya. asam salisil. seminggu 2-3 kali scalp dikeramasi selama 5-15 menit. sulfur 4% dan ter 2%. Kemudian dapat diberikan krim untuk tempat yang tidak berambut atau losio/kortikosteroid untuk daerah yang berambut (jangan yang berpotensi tinggi terutama untuk daerah muka). Pengobatan Topikal Digunakan sampo yang mengandung sulfur atau asam salisil dan silenium sulfid 2%.

7 Komplikasi Dermatitis seboroik yang meluas sampai menyerang saluran telingaluar bisa menyebabkkan otitis eksterna yaitu radang yang terdapat pada saluran telinga bagian luar. umbilikus. aerola mamae. 2.8 Prognosis Dermatitis seboroik dapat sembuh sendiri dan merespon pengobatan topikal dengan baik. niken sulfat dan sodium klorida dapat memberikan perubahan yang berarti dalam penyembuhan DS dan dandruff setelah penggunaan 10 minggu. maka DS akan meluaske daerah sternal. meskipun terkontrol. lipatan paha dan daerah anogenital. Jika ada perbaikan. . penyakit ini agak sukar untuk disembuhkan. Namun pada sebagian kasus yang mempunyai faktor konstitusi. sodium bromida. Karenakerontokan yang berlebihpun dapat menyebabkan kebotakan.20 mengandung potasium bromida.2. 2. Pada keadaan yang berat dapat diberikan kortikosteroid sistemik dengan dosis prednison 20-30 mg sehari. Kalau ada infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika.2. Jika tidak mendpatkan pengobatan yang adekuat. dosis diturunkan perlahan-lahan.

berhubungan dengan keadaan atopi.2 Etiologi 1. (Kariosentono. misal: asma bronkial. yaitu sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat kepekaan dalam keluarganya. 2.21 2.2002) Dermatitis Atopik (DA) adalah inflamasi kulit dengan etiologi yang belum diketahui. umumnya yang memiliki riwayat kuat mengalami penyakit atopik di keluarganya.1 Pengertian Dermatitis atopik (ekzema atopik atau infantil) merupakan respons inflamatorik kronis atau rekuren yang umumnya berkaitan dengan penyakit atopik lain. disertai gatal. Akan tetapi dermatitis ini bisa bertahan sampai dengan pasien dewasa. 2006) Dermatitis ini biasanya menyerang bayi dan anak-anak usia 1 bulan sampai 1 tahun. Dermatitis atopik menyerang 9 dari 1000 orang.3. misalnya asma bronkial dan rinitis alergik.Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif.3 Dermatitis Atopik 2. Teori pertama menyatakan DA merupakan akibat defisiensi imunologik yang didasarkan pada kadar Imunoglobulin E (Ig E) yang meningkat dan indikasi sel T yang berfungsi kurang baik.3. terdapat 2 teori yang menjelaskan etiologi DA. Sedangkan teori kedua menyatakan adanya blokade reseptor beta . Penyebab DA belum diketahui. rinitis alergika. (Djuanda. Biasanya dermatitis ini akan menjadi parah dan mereda berulang-ulang sebelum akhirnya sembuh saat masa remaja. konjungtivitis alergika. yang berhubungan dengan atopi. timbul pada masa bayi atau anak serta dapat berlanjut pada usia dewasa dengan tanda khas berupa rasa gatal dan predileksi lesi sesuai umur penderita. Tidak diketahui.

kacang. menunjukkan abnormalitas pada dermatitis atopik. dan keratinosit. 2. suhu dan kelembapan. susu.22 adrenegik pada kulit. kemungkinan anak memiliki kondisi atopik sebesar 60%. 1986). sebagai contoh. Hal ini disebabkan karena penyakit ini sangat kompleks dan melibatkan berbagai mekanisme. infeksi. Nampak bahwa hampir setiap imunosit. kelainan fisiologi dan biokimia kulit. suhu dan kelembapan ekstrem. allergen hirup. Predisposisi genetik yang diperburuk dengan alergi makanan. Kebanyakan pasien dengan dermatitis atopik mengalami peningkatan kadar serum eosinofil dan IgE. termasuk sel langerhans. monosit. dan imunologi. interaksi psikosomatik dan disregulasi/ ketidakseimbangan sistem saraf otonom. lingkungan. serta emosi. zat kimia yang mengiritasi. Fakta tersebut mendukung kenyataan bahwa besar kemungkinan anak dengan dermatitis atopik dapat mengalami rhinitis alergi atau asma. apabila salah satu dari orang tua memiliki kondisi atopik. kedua teori tersebut tidak adekuat untuk menjelaskan semua aspek penyakit DA (Mulyono. meliputi genetik. Faktor yang memperparah: respon terhadap keringat. Faktor intrinsik berupa predisposisi genetik. selmast. 4. stres psikologis. sedangkan faktor ekstrinsik meliputi bahan yang bersifat iritan dan kontaktan. 3. Selama beberapa dekade terakhir ini telah banyak upaya untuk mencari penyebab dari kondisi tersebut namun belum ada penyebab absolut yang diketahui. sedangkan apabila dua orang tua memiliki kondisi atopik. makrofag. disfungsi imunologis. makanan. Komponen genetik berpengaruh secara kuat pada dermatitis atopic. diduga disebabkan oleh berbagai factor yang saling berkaitan (multifaktorial). dan trauma. dan gandum) pada sekitar 10% dari kasus yang menyerang anak-anak. . diketahui juga bahwa riwayat atopik pada ayah akan lebih berpengaruh. kemungkinan anak memiliki kondisi atopik sebesar 80%. Selain itu. Namun. Alergi makanan (telur. perubahan temperatur. limfosit. Penyebab dermatitis atopik tidak diketahui dengan pasti. mikroorganisme.

atau bakteri dan gangguan okular. Kadar IgE serum umumnya naik.3. dan zat kimia lainnya). 2. fungus. Kondisi sekunder : infeksi virus. dan permukaan ekstensor di lengan dan kaki atas. 7. 4. Pruritus dan parut dengan edema. 2. namun tidak menentukan diagnosa.4 PemeriksaanDiagnostik 1. Eliminasi alergen. Hindari iritan (sabun. 2. . disertai dermatografia putih.3. kerak. sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas imunoglobulin (Ig) E.5 Penatalaksanaan 1. 3.23 5. dan sisik. 6. Lesi atopik kronis yang menyebabkan kulit kering dan bersisik.3 Manifestasiklinis 1. Katarak atopik (jarang terjadi. yaitu infeksi virus kutaneus berat yang berpotensi menyebar. pembersih. lesi di titik fleksi (antekubital fossa. 3. Area eritematosa di kulit yang sangat kering : lesi di dahi. biasanya hanya pada orang yang berusia 20 sampai 40 tahun). Riwayat gangguan atopik dalam keluarga berguna untuk mendiagnosis dermatitis atopik. dan leher). perubahan suhu ekstrem dan faktor lain yang mempercepat. Pengujian petak dan penyelidikan distribusi lesi kulit membantu menunjukkan alergen pemicu. 2. Penyebab sekunder : iritasi yang terlihat mengubah struktur epidermal. 5. disertai lipatan ganda yang muncul di bawah kelopak mata bawah. 2. Pembengkakan dan hiperpigmentasi di kelopak mata atas. area popliteal.3. pipi. pemucatan dan likenifikasi. Pasien yang juga terpapar herpes zoster akan mengalami gejala erupsi variseliform kaposi (ekzema herpetikum). 2.

Pengolesan salep kortikosteroid topikal. 6. dan Atopik (tabel terpisah) . Pengolesan krim pelembab membantu kulit tetap lembab. 4.24 3. biasanya meringankan inflamasi. Terapi terlemah dan sinar ultraviolet B digunakan untuk menambah ketebalan stratum korneum. Terapi kortikosteroid sistemik bisa dibutuhkan selama masa pemburukan yang ekstrem.4 Perbedaan Dermatitis Kontak. 7. terutama setelah mandi. Seboroik. 5. 2. Antibiotik tepat untuk mengatasi lesi yang berkerak dan basah.

dan skin scrapping. nyeri. ruam. eksudat. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis : proses peradangan 3. erosi adanya lembab. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan imunologi : hipersensitivitas 2. Risiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan terhadap patogen akibat adanya lesi kulit . elastisitas. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan 4. 7. 3.1 Pengkajian Menurut Tucker (2007) pengkajian sistem integumen adalah sebagai berikut: 1. kultur darah. 3. perubahan warna kulit. Riwayat Praktik Higiene 8.Lesi likenifikasi (epidermis tebal dan kasar). kasar. kebersihan. bengkak.2 DiagnosaKeperawatan 1. Riwayat Penyakit penyerta Alergia atau sensitif terhadap alergen internal atau eksternal. Data Objektif Mengkaji keutuhan. kelembaban. Riwayat psikososial 5. losion. ruam. ekskoriasi (abrasi) kehilangan lapisan epidermis. 6. Pemeriksaan diagnostik Pewarnaan gram untuk mendeteksi organisme. Riwayat kesehatan keluarga 4. pigmentasi. 2. Medikasi yang digunakan Obat-obat yang digunakan.25 BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN 3. salep. krim. kering. Data Subjektif Mengkaji kulit meliputi Gatal.

Rasional : Air panas menyebabkan vasodilatasi yang dapat meningkatkan pruritus. (3) Gunakan sabun yang cair (Dove atau Basis) atau sabun untuk kulit yang sensitif (Neutrogena. Pemakaian pelembab 2 sampai 4 menit setelah mandi merupakan hal penting dalam mencegah hidrasi pada lapisan kulit terluar (2) Gunakan air hangat –tidak panas.3 Intervensi 1. Resiko gangguan body image berhubungan dengan kelainan/ lesi kulit yang tampak. Rasional : Penggunaan sabun batangan dapat mengatasi . Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan imunologi : hipersensitivitas 1 NOC : Tissue intergrity: skin and mucous membranes ) 2 Tujuan : pasien mampu mencapai integritas kulit dan mukosa ) 3) Outcomes membran secara adekuat (1) Meningkatkan kenyamanan pada verbalisasi kulit (2) Berkurangnya kulit yang terkelupas dan pembersihan kerak (3) Berkurangnya kemerah-merahan (4) Berkurangnya nyeri pada kulit yang tergores (5) Penyembuhan pada bagian yang rusak (6) Kulit utuh 3) NIC (1) Skin care : topical treatments (2) Skin surveillance 4) Intervensi : (1) Sekurang-kurangnya mandi satu kali dalam sehari selama 15 sampai 20 menit. Aveeno. Rasional : Merendam secara penuh sel kulit mati. 3. Oilatum. Purpose) hindari gelembung busa. Setelah itu memakai pelembab yang tepat atau sesuai dengan yang dianjurkan.26 5. Moisturel.

AC dapat menurunkan paparan aeroallergen. 2. Pengaturan suhu udara di dalam rumah. secara khusus di dalam kamar tidur mungkin dapat bermanfaat. Rasional : Suhu yang ekstrim mengakibatkan tambahan frekuensi pruritus untuk vasolidasi dan meningkatkan aliran darah pada kulit. (5) Jelaskan gejala gatal-gatal yang berkaitan dengan penyebabnya (Contohnya kekeringan pada kulit) dan prinsip dari terapi pilihan (hidrasi) dan siklus gatal-goresan-gatal. Rasional : Memahami proses psikologis prinsip-prinsip gatal dan meningkatkan kerjasama dalam pengobatan (6) Kerja dan tidur di lingkungan dengan suhu yang konstan. (8) Penggunaan antihistamin dapat mengurangi rasa gatal sampai tingkat tertentu Rasional : Histamine adalah perantara gatal yang paling umum diketahui. antihistamin dapat membantu menenangkan. Sabun cair kurang mengandung unsur basa dan kurang mengeringkan kulit. (4) Oleskan pelembab atau sesuai yang ditentukan dua sampai tiga kali dalam sehari. (7) Perhatikan jari kuku agar tetap pendek. halus dan bersih Rasional : Kuku yang selalu dipotong mencegah kerusakan dan infeksi pada kulit. Pelembab khusus yang dipilih disesuaikan dengan selera pasien dan apakah bahannya dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Rasional : Salep dan krim yang mengandung air dapat memberikan kelembaban pada kulit.27 masalah pada kulit. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis : proses peradangan 1 NOC : Pain control . Selain memberikan lingkungan yang sejuk.

frekuensi pola nafas dan denyut jantung yang bersifat sementara. pola tidur dan kemampuan berfokus. . kualitas. menyembuhkan rasa ini penting karena menggaruk dapat mengganggu kulit baru rapuh. (2) Kaji faktor yang dapat meningkatkan persepsi terhadap nyeri (contohnya adanya kecemasan) Rasional : Mengetahui faktor-faktor etiologi yang berbeda dapat membimbing terapi yang efektif (3) Monitor TD. pasien dapat mengeluh gatal. Rasional : Pengalaman nyeri bervariasi dengan luasnya lesi. dan berat nyeri atau ketidaknyamanan yang dirasa pasien. Rasional : Mengubah efektivitas pengobatan nyeri diharapkan. 4) NIC : (1) Pain management (2) Simple relaxation therapy (3) Distraction 5) Intervensi : (1) Kaji tipe. Memberikan perhatian lebih terhadap peningkatan tanda-tanda vital tersebut dapat membantu perawat melakukan evaluasi terhadap nyeri. (4) Evaluasi dan dokumentasikan kefektifan dan metode kontrol nyeri yang digunakan.28 ) 2 Tujuan : pasien mampu mengontrol nyeri secara adekuat ) 3) Outcomes (1) Berkurangnya pengamatan dan laporan terhadap goresan pada kulit (2) Berkurangnya rasa nyeri pada kulit akibat goresan (3) Berkurangnya kegelisahan selama tidur (4) Meningkatnya verbalisasi kenyamanan kulit. lokasi. Rasional : Peningkatan rasa nyeri dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. sebagai penyembuhan luka dimulai. HR. RR.

(2) Kaji adanya tanda-tanda infeksi. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan terhadap patogen akibat adanya lesi kulit 1 NOC : Infection status ) 2 Tujuan : pasien mampu terhindar dari infeksi ) 3) Outcomes (1) Tidak adanya bisul atau jerawat. luka bakar ketebalan penuh tidak menimbulkan rasa sakit karena kerusakan saraf. nyeri akan berkurang dari waktu ke waktu dan dengan penyembuhan. eksudat. Rasional : Secara potensial. 4) NIC : (1) Infection protection (2) Wound care 5) Intervensi : (1) Kaji kondisi luka Rasional : Untuk menentukan terapi yang tepat. Rasional : Untuk memberikan tindak lanjut perawatan dan pengobatan. tanpa kemerahan atau lesi (3) Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi. atau pengerasan (2) Bebas dari infeksi sekunder yang ditunjukkan dengan kulit utuh. nyeri akan meningkat 3. Kecuali pada pasien dengan penurunan imunitas dan diabetes. Rasional : Demam mengindikasikan adanya infeksi. (3) Kaji temperatur.29 luka bakar parsial-ketebalan yang sangat menyakitkan. tetapi sebagai saraf regenerasi. (4) Menjelaskan kepada pasien tentang tanda infeksi dan memastikan bahwa tanda-tanda tersebut membutuhkan intervensi medis. komplikasi penularan sangat serius .

4. dalam mengartikulasikan tanggapan pertanyaan dari orang lain tentang lesi dan risiko infeksi. yang ditunjukkan dengan : mampu melihat. Rasional : Jaringan parut dapat terjadi dengan wabah berulang (3) Bantu pasien atau jika lesi terinfeksi. (2) Perhatikan referensi verbal untuk lesi kulit. mereka mungkin memerlukan pendampingan menghadapi perubahan dalam penampilan. Resiko gangguan bodi image berhubungan dengan kelainan/ lesi kulit yang tampak 1 NOC : Body image ) 2 Tujuan : Pasien mampu mendapatkan bodi image yang positif ) 3) Outcomes (1) Pasien mendemonstrasikan bodi image yang positif.30 dari gangguan kulit yang terbuka. (6) Melaksanakan pemberian terapi antibiotik topikal sesuai instruksi. Rasional : Memberi pengobatan terhadap infeksi. Obat dapat menyebabkan infeksi atau kehilangan daya tahan tubuh. Rasional : Sisa obat mungkin sudah kadaluarsa dan tidak pantas digunakan untuk terkontaminasi dan pengobatan. berbicara dan merawat lesi (2) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari 4) NIC : (1) Body image enhancement (2) Coping enhancement 5) Intervensi : (1) Kaji persepsi terhadap perubahan penampilan Rasional : Karena jalannya wabah dapat bertahan selama beberapa minggu. pasien biasanya perlu bekerja dan / atau melaksanakan rutinitas seperti biasa. (5) Memastikan bahwa pasien mengerti akan pentingnya pasien tidak mengobati diri sendiri dengan sisa obat-obatan di rumah. terhadap .

1 Identitas 4. Umur : 25 Th 3. BAB 4 TRIGER CASE 4. T 2. Rasional : Membiarkan pasien untuk menentukan model pengobatan untuk meningkat konsep diri yang positif. Mendorong pengelolaan diri terhadap eczema dan memahami bahwa mengontrol garukan akan lebih baik memperkecil luka. (6) Motivasi pasien dan orang lain untuk saling menceritakan perasaan mereka mengenai penampilan dan sifat kronis dari eczema. Nama : Nn. (7) Meyakinkan pasien tentang identitas dan kemampuan diri.1.31 Rasional : Latihan tanggapan diatur untuk diantisipasi dapat memberikan beberapa kepastian (4) Sarankan pasien penggunaan pakaian untuk menyembunyikanlesi sehingga lesi dapat dengan mudah ditutupi Rasional : Hal ini dapat membantu pasien yang mengalami masalah menyesuaikan diri dengan perubahan citra tubuh (5) Motivasi pasien untuk mengajarkan kepada orang lain bahwa eczema tidak menular kecuali terinfeksi parah Rasional : Eczema dapat salah untuk impetigo atau dapat sebagaiindikasi dari kekotoran. Rasional : Ketakutan dan kekuatiran yang tidak teridentifikasi dapat menghalangi relasi interpersonal. Jenis Kelamin : Perempuan .1 Identitas Pasien 1. menyebabkan keterasingan sosial.

Agama : Islam 5.2 4.6 Anamnesa dan Observasi Pasien mengatakan awalnya hanya muncul sedikit bintik-bintik di wajah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. No Register : 10513 3.5 Riwayat Penyakit Keluarga Pasien mengatakan keluarga ada satu yang mempunyai riwayat alergi terhadap udara dingin. 4. T mengatakan sejak satu minggu yang lalu terdapat bintik-bintik merah dan merasa gatal pada daerah wajahnya. Alamat : Mulyorejo. Surabaya 6. Tapi semakin hari bintik-bintiknya . Tgl Periksa : 1 Mei 2013 pukul 10. Maka pasien periksa ke poliklinik untuk mendapatkan pengobatan.4 Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengatakan selama ini belum pernah mengalami kaluhan seperti saat ini. 4.3 Riwayat Penyakit Sekarang Nn. Ruang : Poliklinik 4. Keluarga tidak ada riwayat penyakit menular. Pasien belum memberikan pengobatan apapun selama di rumah.2 Keluhan Utama Terdapat bintik-bintik di wajah dan terasa gatal. 4.1. yaitu ayahnya. 4.00 WIB 2. Status : Belum menikah Identitas Medis 1. Ini bermula ketika pasien memakai kosmetik yang selama ini belum pernah pasien pakai. Pasien selama ini belum pernah mengalami alergi makanan ataupun alergi obat.32 4.

Ekstremitas : rentang gerak normal 5) Kulit : terdapat pruritus berwarna merah pada seluruh wajah dan leher. Pasien merasa malu ketika keluar rumah. secara tidak sengaja ketika tidur pasien menggaruk-garuk area yang gatal. Pasien mengatakan luka yang ada di wajahnya terasa perih. karakteristik luka : kemerahan. Kepala 1) Mata : Simetris : konjungtiva pink. Abdomen 1) Inspeksi : simetris 2) Auskultasi : peristaltik usus 12 kali per menit 3) Perkusi : timpani 4) Palpasi : tidak ada nyeri tekan. 4. terlebih saat berkeringat. tidak ada kelainan 3) Hidung : bersih. . terdapat lesi bekas garukan pada wajah dan leher.33 bertambah banyak sampai ke daerah leher dan bertambah gatal. tidak ada kelainan 4) Mulut : bersih. tidak ada bau mulut. sehingga lecet pada daerah yang digaruk. palpebra tidak kehitaman. lien 5. tidak terdapat drainage. Pasien sering kali menutupi wajahnya dengan sapu tangan. dan hanya memberikan bedak bayi pada wajah dan lehernya.7 Pemeriksaan Fisik 1. Dada 1) Inspeksi : simetris 2) Perkusi : suara lapang paru sonor 3) Palpasi : vokal fremitus simetris 4) Auskultasi : suara napas vesikuler 4. akan tetapi karena merasa gatal di wajah dan lehernya. dan malu untuk pergi bekerja. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid 3. sklera putih tidak ada pembengkakan 2) Telinga : bersih. Pasien masih bisa tidur. Beberapa hari ini pasien sudah menghentikan pemakaian kosmetik tersebut. tidak ada pembesaran hepar. sehingga jarang keluar rumah. tidak ada pembengkakan 2.

4.8 Data Fokus 1. Data Subjektif Pasien mengatakan : 1) Terdapat bintik-bintik merah di wajah dan lehernya yang terasa gatal terlebih saat berkeringat 2) Tidak sengaja ketika tidur Problem Kerusakan Etiologi Faktor eksternal : integritas kulit zat kimia . turgor kulit normal. kulit di daerah tubuh yang lain normal. sehingga lecet pada daerah yang digaruk 3) Luka yang ada di wajahnya terasa perih 4) Merasa malu ketika keluar rumah.34 kulit wajah dan leher tampak kering bersisik. Data Subjektif Pasien mengatakan : 1) Terdapat bintik-bintik merah di wajah dan lehernya yang terasa gatal terlebih saat berkeringat 2) Tidak sengaja ketika tidur pasien menggaruk-garuk area yang gatal. sehingga jarang keluar rumah 2. dan malu untuk pergi bekerja.9 Analisa Data No. Data 1. tidak terdapat drainage 4) Kulit wajah dan leher tampak kering bersisik 5) Pasien sering kali menutupi wajahnya dengan sapu tangan 4. tidak ada pruritus. Data Objektif 1) Terdapat pruritus berwarna merah pada seluruh wajah dan leher 2) Terdapat lesi bekas garukan pada wajah dan leher 3) Karakteristik luka : kemerahan.

35 pasien menggaruk-garuk area yang gatal. dan malu untuk pergi bekerja. Data Subjektif Gangguan body Penyakit Pasien mengatakan merasa malu image ketika keluar rumah. sehingga lecet pada daerah yang digaruk Data Objektif 1) Terdapat pruritus berwarna merah pada seluruh wajah dan leher 2) Terdapat lesi bekas garukan pada wajah dan leher 3) Kulit wajah dan leher tampak kering bersisik 2. Data Subjektif Resiko infeksi Pertahanan tubuh Pasien mengatakan : tidak 1) Tidak sengaja ketika tidur akibat pasien menggaruk-garuk adekuat kulit terluka area yang gatal. tidak terdapat drainage 3. sehingga lecet pada daerah yang digaruk 2) Luka yang ada di wajahnya terasa perih Data Objektif 1) Terdapat lesi bekas garukan pada wajah dan leher 2) Karakteristik luka : kemerahan. sehingga dermatitis : .

Masalah Keperawatan 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor eksternal : zat kimia 1 NOC : Tissue intergrity: skin and mucous membranes ) 2 Tujuan : pasien mampu mencapai integritas kulit dan mukosa ) membran secara adekuat setelah dilakukan tindakan selama 7 x 24 jam 3) Outcomes (1) Meningkatkan kenyamanan pada verbalisasi kulit (2) Berkurangnya kulit yang terkelupas dan pembersihan kerak (3) Berkurangnya kemerah-merahan (4) Berkurangnya nyeri pada kulit yang tergores .36 jarang keluar rumah Data Objektif 1) Pasien sering kali menutupi wajahnya dengan sapu tangan 2) Terdapat pruritus berwarna merah pada seluruh wajah dan leher 4.10 Daftar Masalah No. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tidak adekuat akibat kulit terluka 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor eksternal : zat kimia 2. 4.11 Gangguan body image berhubungan dengan penyakit : dermatitis Intervensi 1.

(6) Oleskan pelembab atau sesuai yang ditentukan dua sampai tiga kali dalam sehari. Rasional : Untuk mengurangi peradangan. Rasional : Salep dan krim yang mengandung air dapat memberikan kelembaban pada kulit. Rasional : Mengetahui penyebab dermatitis dan mengurangi keparahan penyakit. Purpose) hindari gelembung busa. Moisturel. (5) Gunakan sabun yang cair (Dove atau Basis) atau sabun untuk kulit yang sensitif (Neutrogena.37 (5) Penyembuhan pada bagian yang rusak (6) Kulit utuh 5) NIC (1) Skin care : topical treatments (2) Skin surveillance 6) Intervensi : (1) Identifikasi penyebab dermatitis dan anjurkan pasien menghindari pajanan penyebab rekuren. Rasional : Merendam secara penuh sel kulit mati. Sabun cair kurang mengandung unsur basa dan kurang mengeringkan kulit. (2) Anjurkan pasien memberikan kompres dingin. (3) Sekurang-kurangnya mandi satu kali dalam sehari selama 15 sampai 20 menit. Setelah itu memakai pelembab yang tepat atau sesuai dengan yang dianjurkan. Oilatum. Aveeno. Rasional : Penggunaan sabun batangan dapat mengatasi masalah pada kulit. Pelembab khusus yang dipilih disesuaikan dengan selera pasien dan apakah bahannya dapat menyebabkan iritasi . Rasional : Air panas menyebabkan vasodilatasi yang dapat meningkatkan pruritus. Pemakaian pelembab 2 sampai 4 menit setelah mandi merupakan hal penting dalam mencegah hidrasi pada lapisan kulit terluar (4) Gunakan air hangat –tidak panas.

halus dan bersih Rasional : Kuku yang selalu dipotong mencegah kerusakan dan infeksi pada kulit. secara khusus di dalam kamar tidur mungkin dapat bermanfaat. 4) NIC : (1) Infection protection . eksudat. misalnya steroid Rasional : Histamine adalah perantara gatal yang paling umum diketahui. Pengaturan suhu udara di dalam rumah. 2. Rasional : Suhu yang ekstrim mengakibatkan tambahan frekuensi pruritus untuk vasolidasi dan meningkatkan aliran darah pada kulit. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh tidak adekuat akibat kulit terluka 1 NOC : Infection status ) 2 Tujuan : pasien mampu terhindar dari infeksi ) 3) Outcomes setelah dilakukan tindakan selama 7 x 24 jam (1) Tidak adanya bisul atau jerawat. Rasional : Memahami proses psikologis prinsip-prinsip gatal dan meningkatkan kerjasama dalam pengobatan (8) Kerja dan tidur di lingkungan dengan suhu yang konstan. (7) Jelaskan gejala gatal-gatal yang berkaitan dengan penyebabnya (Contohnya kekeringan pada kulit) dan prinsip dari terapi pilihan (hidrasi) dan siklus gatal-goresan-gatal. AC dapat menurunkan paparan aeroallergen. atau pengerasan (2) Bebas dari infeksi sekunder yang ditunjukkan dengan kulit utuh. Selain memberikan lingkungan yang sejuk. (9) Perhatikan jari kuku agar tetap pendek.38 pada kulit. antihistamin dapat membantu menenangkan. (10) Laksanakan pemberian terapi anti-inflamasi topikal (kadangkadang sistemik) jangka pendek. tanpa kemerahan atau lesi (3) Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.

39 (2) Wound care 5) Intervensi : (1) Kaji kondisi luka Rasional : Untuk menentukan terapi yang tepat. (3) Kaji temperatur. Kecuali pada pasien dengan penurunan imunitas dan diabetes. Rasional : Memberi pengobatan terhadap infeksi. 3. Rasional : Sisa obat mungkin sudah kadaluarsa dan tidak pantas digunakan untuk terkontaminasi dan pengobatan. Rasional : Secara potensial. Rasional : Demam mengindikasikan adanya infeksi. (4) Menjelaskan kepada pasien tentang tanda infeksi dan memastikan bahwa tanda-tanda tersebut membutuhkan intervensi medis. (2) Kaji adanya tanda-tanda infeksi. Rasional : Untuk memberikan tindak lanjut perawatan dan pengobatan. komplikasi penularan sangat serius dari gangguan kulit yang terbuka. yang ditunjukkan dengan : mampu melihat. (5) Memastikan bahwa pasien mengerti akan pentingnya pasien tidak mengobati diri sendiri dengan sisa obat-obatan di rumah. berbicara dan merawat lesi (2) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari 4) NIC : . Obat menyebabkan infeksi dapat atau kehilangan daya tahan tubuh. (6) Melaksanakan pemberian terapi antibiotik topikal sesuai instruksi. Gangguan body image berhubungan dengan penyakit : dermatitis 1 NOC : Body image ) 2 Tujuan : Pasien mampu mendapatkan bodi image yang positif ) 3) Outcomes setelah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam (1) Pasien mendemonstrasikan bodi image yang positif.

(7) Meyakinkan pasien tentang identitas dan kemampuan diri. Rasional : Membiarkan pasien untuk menentukan model .40 (1) Body image enhancement (2) Coping enhancement 5) Intervensi : (1) Kaji persepsi terhadap perubahan penampilan Rasional : Karena jalannya wabah dapat bertahan selama beberapa minggu. menyebabkan keterasingan sosial. Rasional : Latihan tanggapan diatur untuk diantisipasi dapat memberikan beberapa kepastian (4) Sarankan pasien penggunaan pakaian untuk menyembunyikanlesi sehingga lesi dapat dengan mudah ditutupi Rasional : Hal ini dapat membantu pasien yang mengalami masalah menyesuaikan diri dengan perubahan citra tubuh (5) Motivasi pasien untuk mengajarkan kepada orang lain bahwa eczema tidak menular kecuali terinfeksi parah Rasional : Eczema dapat salah untuk impetigo atau dapat sebagaiindikasi dari kekotoran. Mendorong pengelolaan diri terhadap eczema dan memahami bahwa mengontrol garukan akan lebih baik memperkecil luka. (2) Perhatikan referensi verbal untuk lesi kulit. mereka mungkin memerlukan pendampingan menghadapi perubahan dalam penampilan. pasien biasanya perlu bekerja dan / atau melaksanakan rutinitas seperti biasa. (3) Bantu pasien dalam mengartikulasikan tanggapan terhadap pertanyaan dari orang lain tentang lesi dan risiko infeksi. (6) Motivasi pasien dan orang lain untuk saling menceritakan perasaan mereka mengenai penampilan dan sifat kronis dari eczema. Rasional : Ketakutan dan kekuatiran yang tidak teridentifikasi dapat menghalangi relasi interpersonal. Rasional : Jaringan parut dapat terjadi dengan wabah berulang atau jika lesi terinfeksi.

FKUI. (eds). A.S. Meg and Judith L. IlmuPenyakitKulitdanKelamin 3rd ed. Jakarta : 101-102 1st ed. Monica Ester. 7 th Edition.. Nike Budhi Subekti. 2002.. NOC and NIC Linnkages. Kariosentono. M..T. PedomanPengobatanPenyakitKulitdanKelamin MeidianMulyaJaya . St Louis: Mosby Elsevier.) Gulanick. NANDA. Elizabeth J.Jakarta:EGC Djuanda. DAFTAR PUSTAKA Baughman.41 pengobatan untuk meningkat konsep diri yang positif.Patofisiologi : buku saku. . S. Jawa Tengah : 1-15. et al... Myers. Jakarta : 131-135.alih bahasa. S. N ..2000. Nursing Care Plans Diagnoses. Dermatitis dalamDjuanda. Interventions and Outcomes. St. 2006. St Louis: Mosby Elsevier. H. Hamzah.Keperawatan medikal-bedah : buku saku untuk Brunner dan Suddarth. 1986. Egi Komara Yudha. Dermatitis Atopik( Ekzema ) LPP U. danSularsito. Marion. Diane C. 2006. editor. Herdman. editor edisi bahasa Indonesia. A. danAisah.Jakarta:EGC Corwin. 2nd Edition. Alih bahasa. A. Johnson..NANDA I Nursing Diagnosis : Difinition and Clasification 2012-2014.2009. Yasmin Asih. 2012. Mulyono.Ed.H.3.. Louis : Mosby Elsevier..

42 Williams & Wilkins. Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta Barat : PT Indeks. Penerjemah Paramita. . 2011.