BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah Indonesia sangat luas, dengan sepertiga dari luasnya
merupakan daratan dan sisanya adalah lautan. Letaknya yang berada di
daerah katulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki dua musim yaitu musim
kemarau dan musim hujan. Kondisi alam yang tidak merata menyebabkan
ada sebagian wilayah yang memiliki curah hujan cukup lama dan ada yang
memiliki curah hujan sedikit.
Negara Indonesia merupakan negara agraris dengan berbagai jenis
tanaman pertanian. Sayangnya sebutan tersebut kurang sesuai dengan kondisi
sesungguhnya dilapangan. Masih banyak sentra pertanian yang belum
memiliki sarana irigasi yang memadai. Sehingga ada sebagian wilayah yang
masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan dan itu berarti separuh
waktu dalam satu tahun hanya digunakan untuk menunggu waktu hujan tiba.
Sebenarnya tidak seluruhnya pertanian tadah hujan tersebut tidak
memiliki sumber air untuk mengairi lahan. Ada beberapa areal pertanian
yang memiliki sumber air irigasi, namun posisinya berada dibawah lahan
pertanian. Kondisi seperti ini sebagian besar belum terpecahkan apalagi
untuk daerah pertanian yang memiliki sumber air irigasi yang posisinya
cukup tinggi.
Sehubungan dengan kondisi tersebut kami mencoba merancang
sebuah alat yang memanfaatkan energi angin untuk menaikan air dari
1
kentinggian kurang lebih 30 meter yang saya beri judul “Merancang Kincir
Angin untuk Menggerakan Pompa Air Jenis Torak”.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut diatas maka dapatlah kami membuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah mendesain kincir angin yang mampu menggerakan pompa
torak sehingga menghasilkan debit air yang dibutuhkan dengan kecepatan
angin yang ada.
2. Bagaimanakah mendesain sistem transmisi untuk mentransfer tenaga dari
putaran kincir sampai kepompa
1.3 Tujuan
Tujuan dari perancangan kincir air untuk menggerakan pompa torak
adalah
1. Mendesain kincir angin yang mampu menghasilkan daya yang cukup
untuk menaikan air dengan debit 5 liter per detik pada ketinggian
elevasi 30 meter pada kecepatan angin minimum rata-rata, dan
memiliki kekuatan menahan pada kecepatan angin maksimum rata-
rata.
2. Mendesain sistem transmisi yang sesuai untuk kebutuhan putaran
pompa minimal yang direncanakan dari putaran sudu yang dihasilkan.
2
1.4 Batasan Masalah
Pada tugas akhir tentang Perencanaan kincir angin untuk
menggerakan pompa torak ini kami batasi permasalahan pada :
1. Tidak merancang pompa secara mendetail, hanya pada dimensi dan
parameter-parameter tertentu untuk mengetahui daya teoritik yang
diperlukan.
2. Merancang dimensi sudu
3. Merancang poros kincir (poros mesin)
4. Merancang sistem transmisi dari kincir sampai ke pompa torak
5. Tidak menghitung estimasi biaya
6. Tidak merancang tower.
3
KONSEP DESAIN
1. Spesifikasi alat
÷ Alat yang direncanakan adalah kincir angin untuk penggerak pompa torak
÷ Pompa yang digunakan adalah pompa torak kerja tunggal
÷ Debir air yang direncanakan adalah 5 liter / dtk
÷ Kecepatan angin rata-rata 20 km/jam
÷ Jumlah kipas pada kincir berjumlah 3 buah
÷ Sistem transmisi menggunakan transmisi roda gigi miring yang berjumlah
dua pasang atas dan bawah
÷ Poros yang digunakan adalah poros bulat pejal
÷ Sudu terbuat dari alumunium
÷ Kincir diberi pengarah pada ujung ekor
2. Alasan pemilihan komponen
÷ Pompa yang digunakan adalah pompa torak kerja tunggal karena pompa
jenis ini memerlukan putaran rendah
÷ Sudu terbuat dari alumunium, karena ringan dan mudah dibentuk.
÷ Jumlah sudu yang direncanakan berjumlah 3 (tiga) buah, karena untuk
kincir ukuran sedang, semakin sedikit sudu maka akan mengurangi berat
dari sudu. Selain itu jumlah sudu sebanyak tiga buah dimaksudkan agar
gaya radial masing-masing sudu saling membebaskan. Maksudnya
dengan sedikit jumlah sudu yang menjadikan ringan juga putaran sudu
akan setabil karena jumlah sudu sebanyak tiga buah akan saling
membebaskan gaya radial.
4
÷ Tenaga dari kincir ditransmisikan menggunakan poros bulat pejal karena
selain mudah dalam pemasangan juga kekuatan poros lebih baik
dibandingkan dengan rantai, belt, atau jenis lainnya.
÷ Kincir diberi pengarah dibagian ekor agar mengikuti arah
hembusan/aliran angin.
÷ Sistem transmisi yang digunakan adalah roda gigi miring karena tenaga
dari kincir angin yang ditransmisikan membentuk sudut 90 derajat atau
tegak lurus.
3. Cara kerja alat
Cara kerja dari alat pengangkut air ini adalah sebagai berikut
÷ Hembusan angin memutar turbin yang menghasilkan energi mekanik
÷ Energi mekanik yang berasal dari kincir angin ditransmisikan oleh poros
kincir angin.
÷ Tenaga dari poros kincir kemudian ditransmisikan menggunakan
transmisi roda gigi miring yang kemudian memutar poros engkol
÷ Poros engkol mengubah gerak rotasi menjadi gerak translasi pada lengan
torak.
÷ Gerak translasi dari batang torak bergerak turun naik sehingga terjadi
menghisap air di tabung torak pada pompa air.
5
FLOW CHART
PERANCANGAN KINCIR ANGIN
PENGGERAK POMPA AIR JENIS TORAK
START
PERHITUNGAN TENAGA
POMPA
PERANCANGAN
KINCIR (SUDU)
PERANCANGAN TRANSMISI
RODA GIGI MIRING
PERANCANGAN
POROS TRANSMISI
END
PERANCANGAN
POROS ENGKOL
6
7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 POMPA
Pompa adalah suatau alat yang digunakan untuk memindahkan fluida
(zat cair) dengan berdasarkan gaya tekan dari suatu tempat ketempat lain secara
kontinu.
2.1.1 Klasifikasi Pompa
Menurut jenisnya pompa dapat dibagi menjadi
1. Pompa torak (plunyer)
2. Pompa pusingan (pompa putar)
3. Pompa hidran
Sedang menurut pemakainnya pompa dapat digunakan untuk
1. Untuk pengairan
2. Untuk air minum
3. Dan lain-lain
Menurut penggeraknya
1. Penggerak manual
2. Pernggerak motor listrik
3. Penggerak motor listrik
4. Penggerak alam (angin, air, dll)
Dalam tugas akhir perancangan kincir angin untuk menggerakan pompa
air ini, yang digunakan adalah pompa torak.
Dikatakan pompa torak karena tekanan ke fluida dihasilkan dari
tekanan torak .
8
8
2.1.2 Cara kerja pompa
- Dimisalkan plunyer berada di titik mati kanan, ruangan di dalam
silinder hampa sehingga katup isap terbuka dan air di dalam
pembuluh isap naik masuk silinder, hal ini berjalan terus sampai
plunyer di titik mati kanan.
- Selanjutnya plunyer di titik mati kanan bergerak menuju ketitik mati
kiri, ruangan didalam silinder yang telah ada airnya ditekan,
sehingga katup isap tertutup sedangkan katup tekan terbuka, air
didalam silinder mengalir melalui katup tekan menuju ke saluran
tekan terus ke reservoir (tandon), hal ini berjalan selama plunyer
bergerak kekiri sampai ke titik mati kiri.
- Gerakan plunyer bolak-balik ini didapat dari putaran motor yang
diteruskan ke plunyer melalui engkol dan batang plunyer.
- Plunyer yang dipakai ini bisa diganti degan torak, perbedaan
plunyer dan torak adalah diameter torak lebih besar dari pafa
tebalnya sedangkan diameter plunyer besarnya lebih kecil dari pada
panjangnya.
Fungsi peralatan yang ada pada pompa plunyer
- Plunyer/torak berguna untuk merubah energi mekanik menjadi
energi potensial (tekanan ke air)
- Silinder berguna sebagai ruang kerja dari pada plunyer
- Saringan yang dipasang diujung dari saluran isap berguna untuk
menyaring agar air yang masuk pompa dalam keadaan bersih
9
- Saluran isap berguna untuk menjalankan air dari tandon ke pompa
dan tempat persiapan air sebelum masuk ke silinder pompa.
- Katup isap dapat bekerja secara sendiri tanpa ada pengaturnya,
berguna untuk membuka dan menutup (mengatur perjalalanan air
dari saluran isap ke silinder)
- Ketel angin isap berguna untuk menekan air dari silinder k saluran
tekan, katup ini dapat berjalan secara otomatis berdasarkan
perbedaan tekan yang ada di atas dan dibawah katup
- Saluran tekan berguna untuk menjalankan air dari silinder ke
reservoir (tandon)
- Ketel angin tekan berguna untuk memberikan tekanan air sidalam
saluran tekan agar perjalanan air dapat tenang, sehingga tidak
timbul hentakan / pukulan air yang dapat menimbulkan kerja katup
tekan tidak stabil
- Pada umumnya katup isap tidak hanya satu tetapi ada dua, yang satu
dipasang dengan saringan, hal ini bertujuan agar persediaan air
didalam saluran isap selalu siap
2.1.2 Perhitungan pompa
Dalam perhitungan pompa disini tidak memperhitungkan /
merencanakan popa sampai bahnnya tetapi kemampuan dan tenaga
yang diperlukan oleh pompa. Perhitungan pompa torak kerja tunggal
sekali puataran engkol sama dengan gerak torak bolak-balik.
10
- 1 x putaran engkol menghasilkan
1
4
2
xLx xD Q
t
=
- 2 x putaran engkol menghasilkan
2
4
2
xLx xD Q
t
=
- N x putaran engkol menghasilkan
xLxn xD Q
2
4
t
=
Bila pompa bekerja dengan n rpm :
xLxn xD Q
4
t
= (m
3
/menit)
(2.1-1)
Pada prakteknya hasil tersebut lebih kecil karena adanya kekurangan
volume yang disebabkan dari beberapa hal.
Sehingga hasil pompa akan berkurang, hasil bersih
dhitung dengan memakai rumus randemen volumetrik =
v
n
Jadi rumusnya menjadi
v
xLxnx xD Q n
t
2
4
= (2.1-
2)
Perhitungan tenaga yang diperlukan oleh pompa tergantung dari
besarnya debit pompa. Tinggi cairan yang dipindahkan dan berat jenis
cairan. Untuk debit pompa telah diperhitungkan diatas.
Yang dimaksud dengan beda tinggi ini tidak hanya antara tandon
atas dan tandon bawah, tetapi juga hambatan-hambatan yang terjadi dari
gesekan, katup, keran, belokan dan sebagainya.
Didalam ketinggian ketinggian ada dua, yaitu ketinggian isap dan
ketinggian tekan dan perlu sekali diperhatikan adalah ketinggian isap.
11
Ketinggian isap adalah antara tandon bawah dengan pompa tidak boleh
lebih besar dari tekanan udara luar, karena dapat menyebabkan pompa
tidak mampu menghisap.
Misalkan tekanan udara luar 72 cm Hg, ini sama dengan untuk air
72 x 13,6 = 979,2 cm, sehingga pemasanagn pompa harus jauh lebih
rendah dari ukuran tersebut, tetapi harus dilengkapi dengan jet pump
yang berfungsi untuk menambah tekanan dari bawah air yang diisap.
Sehingga ketinggian air yang harus diatasi oleh pompa:
H = Hz + Hp + Hh
Dimana,
H = Ketinggian yang harus diatasi pompa,
Hz = Ketinggian saluran isap,
Hp = Ketinggian saluran tekan,
Hh = Ketinggian hambatan-hambatan
Sehingga randemen hidrolik dapat dihitung seagai berikut,
H
Hp Hz
h
+
= n (2.1-
3)
Maka usaha yang dilakukan oleh pompa adalah sama dengan rumus
energi potensial h g m Ep . . = ,
yaitu,
h g m Up . . = (2.1-
4)
dimana,
12

V m . p =
Maka,

h g V Up . . . p =
(2.1-
5)
Dimana,
Up = Usaha pompa (Nm)
V = Volume air yang dipompa (m
3
)
ρ = Masa jenis cairan yang dipompa (kg/m
3
)
g = Percepatan grafitasi (m/dt
2
)
h = Ketinggian yang harus diatasi (m)
Apabila engkol pompa berputar pada n putaran per detik, maka
Tenaga pompa
Upxn P =
(2.1-6)
atau
60
n
Upx P = (2.1-
7)
Sehingga tenaga yang ahrus diberikan oleh poros
60 4
60
60
2
n
x Hh Hp Hz xgx xLx xD P
n
hx g V P
n
Upx P
) (
. . .
+ + =
=
=
p
t
p (2.1-
8)
13
2.2 KINCIR ANGIN
Sedikitnya empat syarat yang harus dipenuhi untuk kincir angin ini.
Yakni, kecepatan angin 8 km/jam dan terjadi selama 60 persen dari waktu.
Debit sungai harus cukup untuk melayani, minimum tiga hari kebutuhan.
Angin harus bisa bebas mengenai baling-baling. Karena itu, baling-baling harus
bisa diletakkan di atas menara yang tingginya 6 m dan baling-baling diberi
pengarah. (Republika, 2003)
2.2.1 Prinsip Dari Tenaga Angin
1. Tenaga total
Tenaga total dari aliran angin adalah sama dengan energi kinetik
yang masuk
i
KE
, atau
c
i
i tot
g
V
m KE m P
2
2
  = = (2.2-1)
Dimana,
P = Tenaga total atau Watt
m =-Angka aliran masa , kg/dtk
V
i
= Kecepatan masukan , m/dtk
g
c
= Faktor konversi = 1.0 kg/(N.dtk
2
)
Nilai aliran masa diberikan oleh persamaan kontinuitas
i
V A m . . p = 
(2.2-2)
Dimana
p =Densitas angin yang masuk kg/m
3
A = Luas Persilangan dari aliran m
2
14
Dengan semikian
3
2
1
i
c
tot
AV
g
P p =
(2.2-3)
Dengan demikian tenaga total dari sebuah aliran angin adalah sebanding
langsung dengan densitasnya , luas dan pangkat tiga kecepatannya.
2. Tenaga maksimum
Hal tersebut akan segera terlihat bahwa tenaga total yang
didiskusikan diatas tidak semuanya di konversikan menjadi tenaga
mekanik. Kita anggap sebuah sumbu horisontal, kincir angin tipe
propeler, yang kemudian dinamakan turbin angin, yang mana sudah
banyak digunakan sekarang ini. Asumsikan bahwa roda seperti sebuah
turbin yang mempunyai ketebalan a – b . Bahwa kecepatan dan tekanan
angin yang masuk, Aliran yang paling ujung dari turbin adalah Pi dan
Vi , dan Kecepatan dan tekanan keluar angin, pada ujung bawah aliran
adalah Pe dan Ve, berturut-turut Ve lebih kecil dari Vi karena energi
kinetik diekstrak oleh turbin.
Perhatikan bahwa udara masuk antara i dan a sebagai sistem
termodinamik, dan diasumsikan bahwa masa jenis udara adalah
konstan, (ini adalah asumsi karena perubahan tekanan dan temperatur
sangat kecil untuk diperbandingkan), bahwa perubahan pada energi
potensial adalah nol , dan tidak ada panas atau kerja yang ditambahkan
atau dipindahkan antara i dan a, persamaan energi yang umum adalah
15
c
a
a
c
i
i
g
V
v P
g
V
v P
2 2
2 2
+ = + (2.2-4a)
atau
c
a
a
c
i
i
g
V
P
g
V
P
2 2
2 2
p p + = + (2.2-4b)
Dimana v dan
p
adalah volume spesifik dan ia berbanding terbalik,
dan densitas, berturut-turut keduanya konstan. Persamaan (2-4b) adalah
persamaan Bernouilli yang sudah dikenal.
Dengan cara yang sama untuk daerah keluar b - e
c
b
b
c
e
e
g
V
P
g
V
P
2 2
2 2
p p + = + (2.2-5)
Persilangan kecepatan angin yang melintasi turbin dari a ke b yang
disebabkan energi kinetik, di konversikan menjadi kerja mekanik di
wilayah tersebut. Kecepatan masuk V
i
tidak secara tiba-tiba memotong,
tetapi secara bersangsur-angsur seraya pendekatan turbin ke V
a
dan
sambil meninggalkan ke V
c
. Dengan demikian V
i
> V
a
dan V
b
> V
e
, dan
meskipun demikian dari persamaan (2-4) dan (2-5), Pa > Pi dan Pb <
Pe. Bahwa tekanan nagin yang naik sebagai pendekatannya., sambil
kemudian ia meninggalkan lingkaran roda kincir.
Kombinasi dari persamaan (2-4) dan (2-5) memberikan
|
|
.
|

\
| ÷
+ ÷
|
|
.
|

\
| ÷
+ = ÷
c
b e
e
c
a i
i b a
g
V V
P
g
V V
P P P
2 2
2 2 2 2
p p
(2.2-6)
Asumsi tersebut masuk akal, jauh dari turbin pada e, kembalinya
tekanan angin adalah,
16
i e
P P =
(2.2-7)
Gambar 2.1 Tekanan dan Profil kecepatan dari sebuah angin yang
bergerak sepanjang sumbu horisontal tipe propeler
turbin angin
dan kecepatan dalam turbin V
t
, tidak berubah karena lebar sudu (blade)
a - b adalah tipis bila dibandingkan dengan jarak total , sehingga,
b a t
V V V ~ ~
(2.2-8)
Kombinasikan dengan persamaan (2-6) dan (2-8) memberikan,
Turbine
wheel
T
e
k
a
n
a
n
K
e
c
e
p
a
t
a
n
Jarak x
e
V
i
V
t
V
b
V
a
a
P
a
P
i
P
i
P
e
P
b
b
V
e
V
t
b
a
e
i
i
17
|
|
.
|

\
| ÷
= ÷
c
e i
b a
g
V V
P P
2
2 2
p
(2.2-9)
Gaya aksial F
x
, dalam arah aliran angin pada sebuah roda turbin
dengan arah proyeksi , garis tegak lurus untuk aliran A, yang diberikan
oleh,
|
|
.
|

\
| ÷
= ÷ =
c
e i
b a x
g
V V
A A P P F
2
) (
2 2
p (2.2-10)
Gaya ini juga sama untuk merubah dalam momentum dari angin
c
g V m / ) (  A
, dimana m adalah aliran masa yang diberikan oleh,
t
AV m p = 
(2.2-11)
dengan demikian
) (
e i t
c
x
V V AV
g
F ÷ = p
1
(2.2-12)
Kombinasikan persamaan (2-10) dan (2-12) memberikan,
) (
e i t
V V V ÷ =
2
1
(2.2-13)
Kita sekarang akan mempertimbangkan sistem termodinamik total yang
di peroleh oleh i dan e . Perubahan dalam energi potensial seperti diatas
adalah nol, tetapi juga perubahan energi internal (T
t = T
e
) dan energi
aliran
v P v P
e i
. . =
dan tidak ada panas yang ditambahkan atau
dikeluarkan. Persamaan energi umum sekarang dikurangi untuk aliran
steady kerja W dan bentuk energi kinetiknya,
c
e i
e i
g
V V
KE KE W
2
2 2
÷
= ÷ = (2.2-14)
18
Tenaga P adalah hasil yang diterima dari kerja, menggunakan
persamaan (2-11)
) (
2
1
2
2 2
2 2
e i t
c c
e i
V V AV
g g
V V
m P ÷ =
÷
= p  (2.2-15)
Kombinasikan dengan persamaan (2-13)
) )( (
4
1
2 2
e i e i
c
V V V V A
g
P ÷ + = p
(2.2-16)
Persamaan (2.2-15) dikembalikan lagi ke persamaan (2.2-3) untuk
tot
P
apabila V
t
= V
i
dan V
e
= 0 hal tersebut jika angin yang datang yang
disisakan setelah meninggalkan turbin. Dengan jelas adalah situasi yang
tidak mungkin karena angin tidak bisa bertumpuk/berkumpul pada
keluaran turbin. Hal tersebut dapat dilihat dari persamaan (2.2-16),
dimana V
e
adalah positif dalam bentuk yang satu dan negatif pada
bentuk yang lain, itu adalah nilai yang terlalu rendah atau nilai yang
terlalu tinggi untuk hasil V
e
dalam pengurangan tenaga.
Gambar 2.2 Konversi total dari energi kinetik yang masuk untuk
kerja
a
b
V
e
K
e
c
e
p
a
t
a
n
Jarak
e
i
V
i
19
Dengan demikian sebuah kecepatan keluar optimum (V
e.opt
) itu adalah
hasil tenaga maxsimum (P
max
), yang mana diperoleh dengan
mendeferensialkan P pada persamaan (2-16) dengan hasil untuk V
e
untuk yang diberikan V
i
dan persamaan diturunkan sampai nol dP/dVe
= 0, yang mana memberikan
0 2 3
2 2
= ÷ +
i i t e
V V V V
Ini adalah pemecahan untuk V
e
untuk memberikan V
e.opt
i opt e
V V
3
1
.
= (2.2-17)
kombinasikan dengan persamaan (2.2-16)
3
max
27
8
i
c
AV
g
P p
(2.2-18)
Efesiensi teoritikal maksimum atau ideal
max
n
(Koofsien tenaga) dari
turbin angin adalah rasio dari tenaga maksimum yang diperoleh dari
angin, untuk tenaga total dari angin persamaan (2.2-3) atau
5926 , 0
27
16
2
27
8
max
max
= = = =
c
c tot
g x
g P
P
n
(2.2-19)
Dengan kata lain sebuah turbin angin mampu mengkonversikan tenaga
tidak lebih dati 60 persen dari tenaga total dari angin untuk tenaga yang
digunakan.
20
3. Tenaga Aktual
Seperti sudu turbin gas dan sudu turbin uap, penelitian sudu turbin
angin, perubahan kecepatan tergantung sudut masuk sudu dan
kecepatan sudu. Karena sudu-sudu mempunyai ukuran yang panjang,
kecepatan sudu bervariasi terhadap radius karena sudut sudu adalah
semakin ke ujung semakin besar karena bentuk sudu adalah melilit.
Efesiensi maksimum (atau efesiensi tenaga) diberikan oleh persamaan
(2.2-19) yang diasumsikan sebagai kondisi ideal sepanjang sudu
sepenuhnya. Perlakuan yang lebih teliti dari proses ektraksi dari angin
oleh propeler turbin angin memperlihatkan bahwa koefesien tenaga
adalah sangat tergantung dari sudu dan rasio kecepatan angin, yang
beraksi pada nilai maksimum kira-kira hanya 0,6 bilaman kecepatan
sudu maksimum, kecepatan sudu pada puncak, adalah 6 atau 7 kali
kecepatan angin, dan hal itu akan semakin berkurang pada ujung sudu
untuk rasio kecepatan angin berkurang kira-kira 2,0. Gambar dibawah
memperlihatkan koefesien tenaga untuk propeler turbin angin ideal dan
jenis turbin yang lain memiliki nilai yang bervariasi.
Karena sebuah roda turbin angin tidak dapat secara sempurna tertutup,
dan karena jatuh atau pengaruh lain, dalam prakteknya turbin mencapai
kurang lebih 50 sampai 70 persent dari efesiensi ideal. Efesiensi nyata
n
yang dihasilkan dari sini dan
max
n
dan perbandingan dari tenaga
aktual dan tenaga total,
21
Gambar 2.3 Koefesien tenaga dari jenis-jenis kincir angin terhadap
rasio kecepatan ujung sudu dan kecepatan angin
2
2
1
i
c
tot
AV
g
P P n n = =
(2.2-20)
dimana
n
bervariasi antara 30 dan 40 persen untuk turbin nyata.
Sedangkan daya kincir yang direncanakan adalah
xP f P
c d
=
(Sularso hal 7)
Dimana
P
d
= Daya rencana
c
f
= 1,2 – 2,0
P = Daya total
22
4. Gaya Pada Sudu
Ada dua tipe dari operasi pada sudu propeler turbin angin, yaitu torsi
dan gaya aksial torsi T diperoleh dari:
DN
P P
T
t e
= =
(2.2-21)
Dimana
D =diameter dari roda turbin
N =Putaran roda
Untuk Sebuah turbin yang beroperasi pada tenaga P, torsi diberikan
oleh
N
DV
g
T
i
c
3
8
1 p
n = (2.2-22)
Sebuah turbin yang beropersi pada efesiensi maksimum
max
n
=16/27,
torsi adalah diberikan oleh T
max
N
DV
g
T
i
c
3
max
27
2 p
=
(2.2-23)
Gaya aksial atau thrust aksial diberikan oleh persamaan (2.2-10) disini
diulang adalah
) (
8
) (
2
1
2 2 2 2 2
e i
c
e i
c
x
V V D
g
V V A
g
F ÷ = ÷ = p
t
p
(2.2-10)
23
Gaya aksial pada operasi roda turbin pada maksimal efesiensi
dimana
i e
V V
3
1
= adalah diberikan oleh
2 2 2
max .
9 9
4
i
c
i
c
x
V D
g
AV
g
F p
t
p = =
(2-24)
Gaya aksial berbanding lurus dengan pangkat dua diameter roda turbin,
yang mana hal tersebut akan menjadi sulit dalam perhitungan mesin
yang menggunakan diameter besar yang ekstrim. Dengan demikian
sebuah batas tertinggi dari diameter harus ditentukan dengan
pertimbangan desain dan perkembangan ekonomi
Untuk menghitung densitas dari udara adalah
RT
P
= p (2-25)
P =Tekanan (atm) atau Pascal (pa)
R =287 J/(kg.K)
T =Dalam Kelvin
2.3 RODA GIGI MIRING
Transmisi roda gigi miring digunakan untuk mentransmisikan tenaga pada
rasio kecepatan yang konstan antara dua poros yang mana sumbu yang
mendapat perhatian pada sudut tertentu. Permukaan puncak untuk roda gigi
miring adalah kerucut terpotong
Syarat-syarat yang digunakan dalam roda gigi miring
1. Puncak kerucut
24
2. Pusat kerucut
3. Sudut puncak
Perhatikan gambar sebuah roda gigi miring
1 P
u = Sudut Puncak untuk pinion
2 P
u = Sudut Puncak untuk gear
S
u
= Sudut antara dua sumbu poros
p
D
= Diameter puncak pinion
G
D
= Diameter puncak dari gear
G
P
P
G
P
P
N
N
T
T
D
D
Ratio Velocity R V = = = = . .
(3-1)
Dari gambar kita temukan bahwa
2 1 P P S
u u u + =
(3-2)
1 2 P S P
u u u ÷ =
(3-3)
atau
1 1 2
1 2
P S P S P
P S P
Sin
Sin
u u u u u
u u u
sin . cos cos . sin
) sin(
÷ =
÷ =
(3-4)
Kita dapatkan jarak puncak
2
2
1
2
/
/ /
sin sin
P
G
P
P
D D
OP
u u
= =
(3-5)
R V
D
D
P
G
P
P
.
sin
sin
= =
1
1
u
u
(3-6)
atau
1 2 P P
x R V u u sin . . sin = (3-7)
dari persamaan (3-4) dan (3-7)
25
2 1 P S S P
x R V u u u u sin . cos sin sin . . ÷ =
(3-8)
Bagilah seluruh persamaan dengan
1 P
u cos , kita dapatkan
1 1 P S Ps P
R V u u u u tan cos sin tan . . ÷ =
(3-9)
atau
S
S
P
R V u
u
u
cos . .
sin
tan
+
=
1
(3-10)
Jadi
S
S
P
R V u
u
u
cos . .
sin
tan
+
=
÷1
1
(3-11)
Dengan cara yang sama kita dapat temukan
S
S
P
R V
u
u
u
cos
. .
sin
tan
+
=
1
2
(3-12)
Jadi
S
S
P
R V
u
u
u
cos
. .
sin
tan
+
=
÷
1
1
2
(3-13)
Jika sudut antar sumbu adalah 90
o
atau

90 =
S
u maka
G
P
G
P
P
T
T
D
D
R V
= = =
. .
tan
1
1
u
(3-
14)
dan
P
G
P
G
P
T
T
D
D
R V = = = . . tan
2
u
(3-15)
26
Ukuran proporsional untuk roda gigi miring
(i) Addendum, a = 1 m
(ii) Dedendum, d = 1,2 m
(iii) Jarak ruang, = 0,2 m
(iv) Kedalaman kerja = 2 m
(v) Tebal gigi-gigi = 1.5708 m
Dimana m adalah modul
(Sumber Khurmi : hal 1045)
Gambar 2.4 Roda gigi miring
27
Dimana,
P
u = Sudut puncak
R = Radius lingkaran puncak dari gear atau pinion puncak dan,
R
B
= Jarak kerucut belakang atau radius lingkaran puncak ekivalen dari
pinion atau gear
Sekarang lhat dalam gambar
P a
R R u sec . =
(3-16)
Kita ketahui bahwa jumlah ekivalen gigi adalah
m
R
T
B
E
2
= (3-17)
P
P
E
T
m
R
T u
u
sec .
sec . .
= =
2
(3-18)
T = jumlah gigi aktual pada gear
Kekuatan roda gigi miring
Kekuatan gigi-gigi dari roda gigi miring diperolrh dalam cara yang sama
dengan jenis roda gigi lainnya. Bentuk modifikasi dari persamaan Lewis untuk
beban gigi tangensial adalah diberikan sebagai berikut
|
.
|

\
| ÷
=
L
b L
y m b xC f W
v e T
,
. . . ) ( t (3-19)
Dimana
e
f
= tegangan stataik yang diijinkan
v
C
= faktor kecepatan
=
v + 3
3
, untuk potongan gigi dengan pemotong bentuk
28
=
v + 6
6
, untuk pemotongan gigi dengan menggunakan
mesin yang presisi
v = kecepatan keliling dalam m/dtk
b = lebar muka
m = modul
y’ = Faktor bentuk gigi untuk jumlah ekivalen gigi
L = Tinggi kemiringan dari kerucut puncak
=
2 2
2 2
|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
P G
D D
D
G
= Diameter puncak dari gear
D
P
= Diameter puncak dari pinion
Catatan :
- Faktor |
.
|

\
| ÷
L
b L
bisa disebut faktor kemiringan
- Untuk operasi yang memuaskan dari roda gigi miring lebar muka
merkisar dari 6,3 m sampai 9,5 m , dimana m = module. Juga rasio
b
L
tidak lebih dari 3. Untuk ini jumlah gigi pada pinion harus tidak kurang
dari
2
1
48
.) . ( R V +
, dimana V.R. adalah rasio kecepatan.
29
- Bebean pemakaian dan beban dinamik untuk roda gigi miring mungkin
diperoleh dalam cara yang sama pada roda gigi lurus
Gaya aksi pada roda gigi miring
Gambar 2.5 Gara reaksi pada roda gigi miring
Gaya normal (W
N
) pada gigi adalah tegak lurus untuk profil gigi dan dengan
demikian membuat sebuah persamaan sudut unuk sudut tekan ) (o untuk
lingkaran puncak. Dengan demikian gaya normal dapat dipecah menjadi dua
komponen , satu adalah komponen tangensial (W
T
) dan komponen kedua
adalah komponen radial (W
R
). Komponen tangensial di hasilkan dari reksi
bantalan, sedangkan komponen radial diperoleh dari tekanan atau dorongan
poros. Besaran komponen tangensial dan radial adalah sebagai berikut
30
o
o
o
tan
sin
, cos
T R
N
N T
W W
atau
W WR
dan
W W
=
=
=
(3-20)
semua gaya adalah dimisalkan bekerja pada jari-jari utama (R
m
), dari geometri
pada gambar
L
D
x
b
L R
b
L R
P
m
P m
2 2
2
1
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ = u sin
Dimana
L
D
P
P
2
1
/
sin = u (3-21)
Sekarang gaya radial (W
R
) bekerja pada jari-jari utama mungkin dapat
dipecahkan menjadi dua komponen W
RH
dan W
RV
dalam arah radial dan aksial
seperti diperlihatkan dalam gambar. Denan demikian gaya aksial dari poros
pinion adalah
1
1
P T RH
P R RH
Tan W W
W W
u o
u
sin .
sin
=
=
(3-22)
dan gaya aksi radial dari poros pinion adalah
1
1
P T RV
P R RV
W W
W W
u o
u
cos . tan
cos
=
=
(3-23)
Merencanakan poros dari roda gigi miring
Dalam mendesain poros pinion langkah-langkah yang dapat diambil adalah
sebagai berikut
1. Pertama, carilah kerja torsi pada pinion , diberikan oleh
31
P
N
Px
T
t 2
4500
=
Dimana,
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan
N
P
= Kecepatan putar dari pinion (rpm)
2. Carilah gaya tangensial (W
T
) yang bekerja pada radius utama (R
m
), kita
ketahui bahwa
m
T
R
T
W =
3. Kemudian cari gaya aksial dan gaya radial yang bekerja pada poros pinion
gaya aksial dari poros pinion adalah
1
1
P T RH
P R RH
Tan W W
W W
u o
u
sin .
sin
=
=
dan gaya aksi radial dari poros pinion adalah
1
1
P T RV
P R RV
W W
W W
u o
u
cos . tan
cos
=
=
4. Carilah resultan momen bending pada poros pinion sebagai berikut
Momen bending yang disebabkan oleh W
RH
dan W
RV
adalah diberikan oleh
m RH RV
xR W xoverhang W M ÷ =
1
dan momen bending yang disebabkan oleh W
T

xoverhang W M
T
=
2
Resultan momen bending adalah
2
2
2
1
M M M + =
32
5. Karena poros dikenai dua momen (T) resultan momen bending (M), maka
ekivalen kedua momen adalah
2 2
T M Te + =
6. Sekarang diameter dari poros pinion dapat digunakan menggunakan
persamaan torsi, kita tahu bahwa
2
16
dp f Te
s
.
t
=
dimana
dp = diameter dari poros pinion
s
f = Tegangan ijin untuk material dari poros pinion
7. Langkah yang sama dapat digunakan untuk mencari diameter gear
2.4 POROS
Tipe Poros
1. Poros Transmisi
Adalah jenis poros yang mentransmisikan tenaga antara sumber tenaga
dengan mesin yang meggunakan tenaga tersebut.
2. Poros mesin
Adalah jenis poros yang merupakan bagian integral dari mesin itu
sendiri. Sebagai contoh crank saft.
33
Tegangan pada poros
Tegangan-teganga yang terdapat pada poros
1. Tegangan geser (shear) yang disebabkan oleh torsi transmisi
(disebabkan oleh beban torsi)
2. Tegangan bending (tarik atau tekan) yang disebabkan oleh aksi gaya
pada elemen mesin seperti gigi, puli dan sebagainya, juga yang
disebabkan oleh berat poros itu sendiri.
3. Kombinasi torsi dan bending
Tegangan kerja ijin maksimum untuk poros transmisi
Tegangan kerja ijin maksimum dalam tarik maupun tekanan dapat
diambil
a 1120 kg/cm
2
untuk poros tanpa alur untuk pasak
b 840 kg/cm
2
untuk poros dengan alur pasak
Untuk pembelian poros dibawah spesifikasi fiskal yang pasti, tegangan tarik
ijin dapat diambil 60 persent dari batas elastik dalam tarikan, tetapi tidak lebih
dari 36 persen dari kekuatan tarik yang paling besar.
Tegangan geser ijin maksimum dapat diambil sebagai berikut
a 560 kg/cm
2
untuk poros tanpa alur pasak
b 420 kg/cm
2
untuk poros dengan alur pasak
Untuk pemebelian poros dibawah spesifikasi fiskal yang pasti tegangan geser
ijin dapat diambil 30 persent dari batas elastik dalam tarikan tetapi tidak lebih
dari 18 persen dari kekuatan tarik yang paling besar.
Desain dari poros
34
Desain poros yang utama adalah
a Kekuatan (strength)
b Kekakuan dan stifnes
Dalam mendesain poros dengan basis kekuatan kasus yang diikuti dapat
dipertimbangkan sebagai berikut
a Subyek poros untuk momen atau torsi saja
b Subjek poros untuk momen bending saja
c Subjek poros uuntuk kombinasi torsi dan bending
d Subjek poros untuk beban aksial dalam penjumlahan dari kombinasi torsi
dan bending
Poros mendapat beban torsi
Jika poros hanya mendapat beban torsi saja maka persamaan yang digunakan
adalah
r
f
J
T
s
= (i)
Dimana
T = Torsi yang bekerja pada poros (kg/cm)
J = Momen polar dari inersia dari persilangan sumbu ketika
berputar (cm
4
)
c
f = Tegangan geser torsional (kg/cm
2
)
r = Jarak sumbu netral sampai jarak terluar (cm)
Kita ketahui untuk poros peja
35
4
32
d J
t
=
Persamaan (i) sekarang dapat ditulis sebagai
2 32
4
d
f
d
T
s
=
t
3
16
d f T
s
t
=
Dari persamaan ini kita dapat menetukan diameter dari poros
Poros mendapat beban aksial dan kombinasi momen bending dan torsi.
Jika poros yang mempunyai subjek untuk beban aksial yang merupakan
penjumlahan dari kombinasi momen bending dan momen torsi pada poros
propeler, bila tegangan disebabkan beban aksial harus ditambah dengan
tegangan bending
b
f
. Kita ketahui dari persaamaan bending
3
4
32
64
2
d
M
d
d Mx
I
M
f
y
f
I
M
y
b
b
t
t
= = =
=
.
) / (
dan tegangan yang disebabkan oleh beban aksial adalah
2
2
4
4
d
F
d
F
. t
t
= =
untuk poros solid (pejal)
36
Tegangan resultan (tarik atau tekan)
3
1
1
3 1
2 3 1
32
8
32
4 32
d
M
f
d F
M
d
f
d
F
d
M
f
.
.
t
t
t t
=
|
.
|

\
|
+ =
+ =
substitusikan |
.
|

\
|
+ =
8
1
d F
M M
.
2.5 BANTALAN
Bantalan adalah salah satu komponen mesin yang berfungsi sebagai penumpu
poros yang berputar. Karena beban kerja ditumpu oleh bantalan maka bantalan
harus memenuhi krieria kekuatan.
Dalam perancangan bantalan yang pertama diperhatikan adalah jenis gaya yang
bekerja dan yang kedua umur bantalan yang direncanakan.
Persamaan untuk mencari umur bantalan adalah
P
F
C
L |
.
|

\
|
=
juta perputaran
dimana
L = Umur dalam putaran
F = Gaya yang ekerja (N)
C = Bialngan dukung dinamik bantalan, artinya daya
dukung untuk umur dari bantalan dari 1 juta perputaran. Eksponen 3 untuk
bantalan peluru, dan 10/3 untuk bantalan rol.
Pada umumnya penggunaan umur adalah dalam bentuk lama waktu. Hubungna
antara umur putaran dan umur waktu adalah
P
h
F
C
x n L L |
.
|

\
|
= = 60 . .
Dimana L
h
= umur dalam jam (hour)
37
2.6 POROS ENGKOL
Mekanisme batang-hubung engkol diterapkan untuk mengubah gerak rotasi
menjadi gerak bolak-balik atau sebaliknya. Sedangkan pada pompa air jenis
torak yang digerakkan oleh kincir angin engkol berfungsi untuk mengubah
gerak rotasi menjadi gerak bolak-balik (translasi).
Untuk sementara diameter poros engkol d dapat ditentukan dengan
pertolongan momen puntir terbesar yang dihantarkan .
3
5
e
t
e
M
d =
Dimana,
D = diamter poros engkol (mm)
Me = Momen puntir ekivalen (N.mm)
e
t = tegangan rata-rata (N/mm
2
)
Pada poros engkol dengan engkol lebih dari satu buah, jarak sumbu antara
blok-blok utama umumnya juga berkaitan dengan ukuran silinder yang letaknya
sedekat mungkin satu sama lain. Dalam prakteknya ukuran poros engkol dipilih
dengan pertolongan peraturan biro klasifikasi, misalnya Lloyds’s Register of
Shaping.
38
BAB III
PERHITUNGAN
3.1 POMPA
1. Merancang alat
Direncanakan:
Debit air 5 liter / dtk
Ketinggian elevasi : 30 meter
Kecepatan angin rata-rata = 20 km/jam atau 5,56 m/dtk
2. Daya untuk menaikan air
Bila pompa bekerja dengan n rpm : xLxn xD Q
2
4
t
= ...........m
3
/menit
Jika Q = 5 ltr/dtk = 5 dm
3
/ dtk = 0,005 m
3
/ dtk
Sehingga,
xLxn xD
2
4
005 0
t
= ,
Untuk pompa torak, perbandingan diameter torak dan panjang lagkah diambil
D=1/2 L, maka diameter D dan panjang langkah L dapat dicari. Dimana
putaran yang di rencanakan = 30 put/menit.
60
30
4
005 0
2
xLx xD
t
= ,
m D
L D
m L
L
L D
. ,
. /
. ,
,
,
,
.
1854 0
2 1
3707 0
14 3
04 0
4
1
04 0
3
2
=
=
=
=
=
t
39
39
Tenaga yang diperlukan pompa untuk menaikan air dengan ketinggian 30
meter dan debit air 0,02 m
3
/ dtk atau 1,2 m
3
/ menit
h P Z
H H H H + + =
Dimana,
H = Ketinggian yang harus diatasi pompa,
Hz = Ketinggian saluran isap,
Hp = Ketinggian saluran tekan,
Hh = Ketinggian hambatan-hambatan
Gambar.3.1 Pompa torak dan saluran pipa isap
40
Karena saluran tekan adalah 0 (nol) maka rumusnya menjadi
h Z
H H H + =
1) Ketinggian saluran isap H
Z
= 30 m
2) Ketinggian karena hambatan-hambatan (H
h
)
o Hambatan gesekan pipa air dengan ukuran diameter pipa 5,08 cm dan
aliran air 20 liter/dtk atau 66,66 gpm adalah 1,424 m / 30.48 m.
Panjang total saluran air adalah
Tinggi pompan = jarak sungai terhadap pompa (L) + Panjang pipa
yang masuk kedalam air = 30 m + 6 m + 1 m = 37 m
Maka kerugian yang disebabkan gesekan air terhadap pompa adalah
m H
H
h
h
. ,
,
,
728 1
37 48 30
424 1
1
1
=
=
(Hick Edwards , Teknologi pemakaian pompa hal 57-58)
o Hambatan yang disebabkan oleh bentuk sambungan
Sambungan yang digunakan adalah Elbow jari-jari panjang. Menurut
tabel memiliki hambatan 1,07 m. Karena terdapat dua sambungan
maka kerugian hambatannya adalah
H
h2
= 1,07 x 2 = 2,14 m
(Hick Edwards , Teknologi pemakaian pompa hal 57-58)
Maka total ketinggian yang disebabkan hambatan adalah
m H
H
H H H
h
h
h h h
. ,
, ,
868 3
14 2 728 1
2 1
=
+ =
+ =
41
Maka daya untuk menggerakan pompa dapat dicari sebagai berikut
Watt P
x x x x x x P
n
x Hh Hz xgx xLx xD P
n
hx g V P
n
Upx P
. ,
) , ( , , ,
) (
. . .
653 1661
60
30
868 3 30 81 9 1000 3707 0 1854 0
4
60 4
60
60
2
2
=
+ =
+ =
=
=
t
p
t
p
Jadi, tenaga yang diperlukan untuk menggerakan pompa torak adalah
1661,653 Watt. Atau 2,227.h.p
3.2 MERANCANG KINCIR ANGIN
1. Masa Jenis angin
Massa jenis angin standart pada tekanan 1 atmosfir dan suhu 15
o
C adalah
RT
P
= p
P = Tekanan (atm) atau Pascal (pa), 1 atm = 1,01325 x 10
5
Pa
R = 287 J/(kg.K)
T = Dalam Kelvin
(M. M. El-Wakil, Power Plant Technology, Hal 598)
Maka,
3
5
225 1
15 273 15 287
10 01325 1
m kg
x
/ . ,
) , (
,
=
+
=
p
p
Massa jenis angin adalah 1,225 kg/m
3

42
2. Merancang dimensi sudu
Diketahui kecepatan angin rata-rata minimum = 5,56 m/dtk
Mencari luas sudu
Gambar 3.2. Proses ekstraksi kecepatan angin masuk hingga keluar menjadi
tenaga maksimal yang didapatkan kincir (turbin)
Diketahui Efesiensi maksimum dari tenaga angin dapat dicari dari persamaan
(2.2-19)
5926 0
27
16
2
27
8
,
max
max
= = = =
c
c tot
g x
g P
P
n
Dari persamaan (2-3)
3
2
1
i
c
tot
AV
g
P p =
Tenaga total (P
tot
) Tenaga maksimal
(P
max
)
V
i
V
e
Sudu
Poros sudu
43
Tenaga maksimum
Tenaga maksimum yang diperoleh oleh sudu diperoleh dari persamaan (2-16)
3
max
27
8
i
c
AV
g
P p =
Maka tenaga total yang diperlukan didapat,
Watt P
P
P
P
tot
tot
tot
. ,
,
,
,
max
max
004 2804
653 1661
5926 0
5926 0
=
=
= = n
Menurut Sularso Hal 7 daya rencana adalah
p h P
Watt P
P
P f P
d
d
d
tot c d
. . 638 , 5
. 006 , 4206
) 004 , 2804 ). 5 , 1 (
.
=
=
=
=
Dimana 0 2 2 1 , , ÷ =
c
f kita ambil 5 1, =
c
f
Setelah tenaga total didapat masukan kedalam persamaan (2-3), untuk
mencari luas sudu sebagai berikut,
3
3
56 5 225 1
1 2
1
006 4206
2
1
) , .( ). . (
) .(
, A
AV
g
P
i
c
d
=
= p
2
9821 39
552 210
012 8412
m A
A
. ,
,
,
=
=
44
Maka diameter sudu adalah
m r
m D
D
A
D
D A
. 568 , 3
. 1367 , 7
14 , 3
) 9821 , 39 ).( 4 (
4
4
1
2
=
=
=
=
=
t
t
Dengan jari-jari sebesar 3,568 meter maka bentuk sudu yang
direncanakan adalah jenis kitiran (baling-baling) dengan jumlah sudu
sebanyak 3 buah. Jumlah sudu yang direncanakan berjumlah 3 (tiga) buah,
karena untuk kincir ukuran sedang, semakin sedikit sudu maka akan
mengurangi berat dari sudu. Selain itu jumlah sudu sebanyak tiga buah
dimaksudkan agar gaya radial masing-masing sudu saling membebaskan.
Maksudnya dengan sedikit jumlah sudu yang menjadikan ringan juga putaran
sudu akan setabil karena jumlah sudu sebanyak tiga buah akan saling
membebaskan gaya radial.

3. Gaya Pada Sudu
Ada dua tipe dari operasi gaya pada sudu propeler turbin angin, yaitu torsi
dan
gaya aksial, torsi T diperoleh dari:
DN
P P
T
t e
= =
Dimana
45
D = diameter dari roda turbin (m)
N = Putaran roda (rpm)
Diameter sudu adalah D = 7,1458 m
Gaya aksial diberikan oleh persamaan (2-10)
) (
8
) (
2
1
2 2 2 2 2
e i
c
e i
c
x
V V D
g
V V A
g
F ÷ = ÷ = p
t
p
Kecepatan angin keluar pada operasi turbin pada efesiensi maksimal adalah

i e
V V
3
1
=
maka,
N F
F
V D
g
AV
g
F
x
x
i
c
i
c
x
. ,
) , .( ) , ).( , .(
.
max .
max .
max .
926 672
56 5 1367 7 225 1
1 9
9 9
4
2 2
2 2 2
=
=
= =
t
p
t
p
Kecepatan tangensial adalah kecepatan pada ujung sudu. Menurut grafik pada
gambar 3 diketahui untuk koefesien tenaga (efesiensi maksimum) 0,5926,
rasio kecepatan pada ujung sudu terhadap kecepatan angin masuk adalah 7
(turbin jenis propeler). Maka kecepatan ujung sudu atau kecepatan tangensial
adalah sebagai berikut.
dtk m V
V
V
V
sudu ujung
ujungsudu
i
Ujungsudu
/ . ,
,
.
92 38
7
56 5
7
=
=
=
Mencari putaran sudu adalah sebagai berikut
46
rpm N
N
r
N
V
r V
sudu ujung
sudu ujung
. ,
, .
. .
,
.
. .
.
.
.
207 104
56835 3
60
2
92 38
60
2
=
=
=
=
t
t
e
Sebuah turbin yang beropersi pada efesiensi maksimum
max
n
=0,5926, torsi
adalah diberikan oleh T
max
N
DV
g
T
i
c
3
27
2 p
=
max
m N T
T
. . ,
,
) , )( , )( , (
) .(
max
max
088 64
7368 1
56 5 1367 7 225 1
1 27
2
3
=
=
Torsi maksimumnya adalah 64,088 .N.m.
4. Merancang Sudu
Bahan sudu adalah alumunium yang mempunyai kekuatan 70 N/mm
2

Masa jenis
p
= 2700 kg/m
2
.
Titik lebur = 658
o
C.
Kekuatan alumunium = 70 N/mm
2
.
Modulus elastisitas = 70.000 N/mm
2
.
Untuk mencari lebar dan tebal sudu gunakan persamaan tegangan bending,
dimana pada sudu yang mendapatkan beban angin secara merata, maka
tegangan bendingnya adalah sebagai berikut:
47
2
6
1
2
1
h b
r x F
W
M
axial
b
b
b
b
. .
.
=
=
o
o
2
6
1
2
1
3
1
568 3 976 672
h b
x
W
M
b
b
b
b
. .
, . ,
=
=
o
o
b
b
bxh
bxh
o
o
4176 7206
3
139 2402
2
2
,
,
=
=
Diketahui kekuatan alumunium adalah 70 N/mm
2

Maka
000103 0
10 70
4176 7206
3
139 2402
2
6
2
2
,
,
,
=
=
=
bxh
x
bxh
bxh
b
o
perbandingan tebal dan lebar diambil 1 : 30
maka,
25
1
=
b
h
cm meter x h b
cm meter h
h
hxh
. , , ,
, ,
,
,
75 42 4275 0 0171 0 25 30
71 1 0171 0
000005 0
000103 0 25
3
2
= = = =
= =
=
=
Masa total sudu adalah
48
3
026 0 0171 0 4275 0 568 3 m x x Pxbxh V , , , , = = =
Massa adalah
kg x m
kg x xV m
tot
6 210 2 70 3
2 70 026 0 2700
, ,
, ,
= =
= = = p
5. Menghitung gaya-gaya yang bekerja pada sudu
Untuk menghitung kekuatan dari kincir menggunakan kecepatan angin
maksimum
Gaya yang bekerja pada sudu dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 3.3 Diagram benda bebas gaya yang bekerja pada sudu
Kecepatan maksimum rata-rata = 83 km/jam = 23,056 m/dtk
Luas sudu tetap menggunakan kecepatan angin minimum maka,
Dari persamaan (2-3)
3
2
1
i
c
tot
AV
g
P p =
r
F
axial
r/2
r/2
M
A
B
49
Dimana luas sudu A = 39,9821 m
2
Maka tenaga maksimum yang diperoleh dari persamaan (2-16)
3
max
27
8
i
c
AV
g
P p =
p h P
atau
Watt P
g
P
c
. . 963 , 5
. 506 , 4448
) 056 , 23 ).( 225 , 1 (
27
8
max
max
3
max
=
=
=
Gaya Pada Sudu
Ada dua tipe dari operasi gaya pada sudu propeler turbin angin, yaitu torsi
dan gaya aksial, torsi T diperoleh dari:
DN
P P
T
t e
= =
Dimana
D = diameter dari roda turbin (m)
N = Putaran roda (rpm)
Diameter sudu adalah D = 7,1458 m
Gaya aksial diberikan oleh persamaan (2-10)
) (
8
) (
2
1
2 2 2 2 2
e i
c
e i
c
x
V V D
g
V V A
g
F ÷ = ÷ = p
t
p
Kecepatan angin keluar pada operasi turbin pada efesiensi maksimal adalah

i e
V V
3
1
=
maka,
50
N F
F
V D
g
AV
g
F
x
x
i
c
i
c
x
. ,
) , .( ) , ).( , .(
.
max .
max .
max .
403 11571
056 23 1367 7 225 1
1 9
9 9
4
2 2
2 2 2
=
=
= =
t
p
t
p
Kecepatan tangensial adalah kecepatan pada ujung sudu. Menurut grafik pada
gambar 3 diketahui untuk koefesien tenaga (efesiensi maksimum) 0,5926,
rasio kecepatan pada ujung sudu terhadap kecepatan angin masuk adalah 7
(turbin jenis propeler). Maka kecepatan ujung sudu atau kecepatan tangensial
adalah sebagai berikut.
dtk m V
V
V
V
sudu ujung
ujungsudu
i
Ujungsudu
/ . ,
,
.
392 161
7
056 23
7
=
=
=
Mencari putaran sudu adalah sebagai berikut
rpm N
N
r
N
V
r V
sudu ujung
sudu ujung
. ,
, .
. .
,
.
. .
.
.
.
1218 432
56835 3
60
2
392 161
60
2
=
=
=
=
t
t
e
Sebuah turbin yang beropersi pada efesiensi maksimum
max
n
=0,5926, torsi
adalah diberikan oleh T
max
N
DV
g
T
i
c
3
27
2 p
=
max
51
m N T
T
. . ,
,
) , )( , )( , (
) .(
max
max
265 1099
2202 7
056 23 1367 7 225 1
1 27
2
3
=
=
Torsi maksimumnya adalah 1099,265 .N.m.
3.3 MERANCANG TRANSMISI RODA GIGI
Maka untuk mencari dimensi roda gigi
Roda gigi yang dipakai adalah

20
full depth involute sistem, karena untuk
pemakaian yang lama.
Maka jumlah gigi minimum untuk

20
full depth involute sistem adalah 18
buah (Khurmi hal. 996)
Diketahui,
Tenaga P = 1661,653 Watt = 2,227 h.p.
Putaran N
P1
= 104,207 r.p.m , ini juga merupakan putaran pinion pertama.
Putaran yang direncanakan N
G2
adalah 30 rpm.
Maka, rasio kecepatannya dapat dicari
86 1
30
912 55
912 55
07 104
912 55
21 3126
30 207 104
30
207 104
2 1
2
2 1
2 1
2
1
2
2
1
1
, . .
,
,
,
. .
,
,
. ,
,
. .
/
/
=
= =
= ¬
= ¬
= ¬
= ¬
= =
R V
R V
N
N
N N x
N
N
N
N
N
N
R V
P G
P G
P G
P
G
G
P
G
P
Jadi rasio kecepatannya adalah 1,86
52
Sudut antar poros adalah

90 =
S
u
Sudut puncak untuk pinion adalah

26 28
86 1
1
1
1
1
1
1
1
,
,
tan
.
tan
=
=
=
÷
÷
P
P
P
R V
u
u
u
Sudut puncak untuk gigi

 
73 61
264 28 90
2
2
,
,
=
÷ =
P
P
u
u
jumlah formatif untuk gigi pinion adalah
43 20
135 1 18
264 28 18
1
,
,
, sec .
.
=
=
=
=
EP
EP
EP
P P EP
T
x T
T
Sec T T u
Jumlah formatif untuk gear
88 71
114 2 34
73 61 34
2
,
,
, sec .
.
=
=
=
=
EG
EG
EG
P G EG
T
x T
T
Sec T T u
Faktor bentuk gigi pinion
1093 0
43 20
912 0
154 0
912 0
154 0
,
,
,
,
,
,
'
'
'
=
÷ =
÷ =
P
P
EP
P
y
y
T
y
53
Faktor bentuk untuk gear
1413 0
88 71
912 0
154 0
912 0
154 0
,
,
,
,
,
,
'
'
'
=
÷ =
÷ =
G
G
EG
G
y
y
T
y
Gambar 3.4 Alur pentransmisian putaran oleh roda gigi miring
PERHITUNGAN PASANGAN RODA GIGI I
Pada pinion I
Torsi
P
N
Px
T
t 2
4500
=
Pinion II
Pinion I
Gear I
Gear II
Pasangan Roda gigi
I
Pasangan Roda gigi
II
54
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan (Hp)
N
P
= Kecepatan putar dari pinion (rpm)
cm kg T
m kg T
x x
x
T
. . 6 , 1531
. . 316 , 15
207 , 104 2
4500 2274 , 2
=
=
=
t
Mencari modul dan lebar muka
Gaya tangensial dari pinion adalah
m
W
m
W
T m
W
T m
W
D
T
W
T
T
P
T
P
T
P
T
2 , 170
18 .
28 , 3063
.
28 , 3063
.
) 6 , 1531 .( 2
2
=
=
=
=
=
Dimana, ) (
P P
mxT D =
Kecepatan garis puncak
dtk m m v
m m v
m v
T m
v
D
v
P
P
/ . . ,
min / . . ,
. . ,
, . . .
, . .
982 0
898 58
18 272 3
100
207 104
100
207 104
=
=
=
=
=
t
t
Tegangan kerja ijin
|
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
+
=
m
f
v
f
w
w
. ,982 0 280
280
1400
280
280
1400
55
Panjang dari elemen kerucut puncak atau tinggi kemiringan dari kerucut
puncak
m L
mx
L
mxT
L
D
L
P
P
P
P
. ,
, . sin .
. sin .
. sin
0084 19
26 28 2
18
2
2
1
1
=
=
=
=
u
u
Karena lebar muka gigi adalah
4
1
dari tinggi kemiringan dari kerucut puncak,
dengan demikian
m
m L
b . ,
. ,
752 4
4
0084 19
4
= = =
Sekarang gunakan hubungan
( )
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ =
L
b
L y m b f W
L
b
L y m b xC f W
P w T
P v OP T
'
'
. . . .
. . .
t
t
dimana,
v op w
xC f f =
( )
0 47656 167 7986 159827 75 12185637
5728 50900 355 3880776 167 47656
982 0 280
25 0 1093 0 752 4 1400 280 0084 19 1093 0 752 4 1400 280
2 170
982 0 280
25 0 1093 0 752 4 1400 280
982 0 280
0084 19 1093 0 752 4 1400 280
2 170
25 0 0084 19
982 0 280
1093 0 752 4 1400 280
2 170
25 0 0084 19
982 0 280
1093 0 752 4 1400 280 2 170
0084 19
752 4
0084 19 1093 0 752 4
982 0 280
280
1400
2 170
3 4
3 4
3 4
3 4
3
= ÷ ÷ ÷
÷ = +
|
|
.
|

\
|
+
÷
=
|
.
|

\
|
+
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+
=
m m m
m m m
m
m x x x x x m x x x x x
m
m
x x x x
m
m
x x x x
m m
m
x x x
m m m
m
x x x
m
m
m
m m m
m m
. . , . ,
. . , . . , .
. ,
, , , , , ,
,
. ,
, , ,
. ,
, , ,
,
) , . , (
. ,
, ,
,
, . , . . .
. ,
, , ,
. ,
. ,
. , , . . . . , .
. ,
,
t t
t t
t t
t
t
t
56
253 0, = m
Modul yang direkomendasikan adalah minimal 1,
Maka dapat dicari lebar muka gigi
cm b
m b
. 754 , 4
. 754 , 4
=
=
Addendum
1 . 1 = = m a
dan dedendum
2 , 1 . 2 , 1 = = m d
Diameter luar
cm D
D
a T m D
a D D
o
o
P P o
P P o
. 76 , 19
) 26 , 28 cos( ). 1 .( 2 ) 18 .( 1
. cos . . 2 .
. cos . . 2
1
1
=
+ =
+ =
+ =
u
u
Tinggi kemiringan
cm L
m L
. 0084 , 19
. 0084 , 19
=
=
Pada Roda gigi I
Torsi
P
N
Px
T
t 2
4500
=
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan (Hp)
N
G
= Kecepatan putar dari gigi (rpm)
57
cm kg T
m kg T
x x
x
T
. . ,
. . ,
,
,
84 2848
4884 28
025 56 2
4500 2274 2
=
=
=
t
Gaya tangensial dari roda gigi adalah
m
W
m
W
T m
W
T m
W
D
T
W
T
T
G
T
G
T
G
T
6 167
34
69 5697
69 5697
84 2848 2
2
,
.
,
.
,
.
) , .(
=
=
=
=
=
Dimana, ) (
G G
mxT D =
Kecepatan garis puncak
dtk m m v
m m v
m v
T m
v
D
v
G
G
/ . . ,
min / . . ,
. . ,
, . . .
, . .
99 0
8 59
18 272 3
100
025 56
100
025 56
=
=
=
=
=
t
t
Tegangan kerja ijin
|
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
+
=
m
f
v
f
w
w
. ,99 0 280
280
560
280
280
560
Panjang dari elemen kerucut puncak atau tinggi kemiringan dari kerucut
puncak
58
m L
mx
L
mxT
L
D
L
P
G
P
G
. ,
, . sin .
. sin .
. sin
3 19
73 61 2
34
2
2
2
2
=
=
=
=
u
u
Karena lebar muka gigi adalah
4
1
dari tinggi kemiringan dari kerucut puncak,
dengan demikian
m
m L
b . ,
. ,
83 4
4
3 19
4
= = =
Sekarang gunakan hubungan
( )
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ =
L
b
L y m b f W
L
b
L y m b xC f W
P w T
P v OP T
'
'
. . . .
. . .
t
t
dimana,
v op w
xC f f =
( )
0 46928 924 165 97 84004 08 6485184
97 84004 08 6485184 924 165 46928
99 0 280
25 0 1413 0 83 4 560 280 3 19 1413 0 83 4 560 280
6 167
9 9 0 280
25 0 413 1 0 83 4 560 280
9 9 0 280
3 19 413 1 0 83 4 560 280
6 167
25 0 3 19
99 0 280
1413 0 83 4 560 280
6 167
25 0 3 19
99 0 280
1413 0 83 4 560 280 6 167
3 19
83 4
3 19 1413 0 83 4
99 0 280
280
560
6 167
3 4
3 4
3 4
3 4
3
= ÷ ÷ ÷
÷ = +
|
|
.
|

\
|
+
÷
=
|
.
|

\
|
+
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+
=
m m m
m m m
m
m x x x x x m x x x x x
m
m
x x x x
m
m
x x x x
m m
m
x x x
m m m
m
x x x
m
m
m
m m m
m m
. , . , . ,
. , . , . ,
. ,
, , , , , ,
,
. ,
, , ,
. ,
, , ,
,
) , . , (
. ,
, ,
,
, . , . . .
. ,
, , ,
. ,
. ,
. , , . . . . , .
. ,
,
t t
t t
t
t
t
295 0, = m
Modul yang direkomendasikan adalah minimal 1,
59
Maka dapat dicari lebar muka gigi
cm b
m b
. 754 , 4
. 754 , 4
=
=
Addendum
1 . 1 = = m a
dan dedendum
2 , 1 . 2 , 1 = = m d
Diameter luar
cm D
D
a T m D
a D D
o
o
P P o
P P o
. 76 , 19
) 26 , 28 cos( ). 1 .( 2 ) 18 .( 1
. cos . . 2 .
. cos . . 2
1
1
=
+ =
+ =
+ =
u
u
Tinggi kemiringan
cm L
m L
. 0084 , 19
. 0084 , 19
=
=
PERHITUNGAN PASANGAN RODA GIGI II
Pada pinion II
Torsi
P
N
Px
T
t 2
4500
=
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan (Hp)
N
P
= Kecepatan putar dari pinion (rpm)
60
cm kg T
m kg T
x x
x
T
. . ,
. . ,
,
,
4 2848
4884 28
025 56 2
4500 2274 2
=
=
=
t
Mencari modul dan lebar muka
Gaya tangensial dari pinion adalah
m
W
m
W
T m
W
T m
W
D
T
W
T
T
P
T
P
T
P
T
5 316
18
69 5697
69 5697
4 2848 2
2
,
.
,
.
,
.
) , .(
=
=
=
=
=
Dimana, ) (
P P
mxT D =
Kecepatan garis puncak
dtk m m v
m m v
m v
T m
v
D
v
P
P
/ . . ,
min / . . ,
. . ,
, . . .
, . .
528 0
66 31
18 759 1
100
025 56
100
025 56
=
=
=
=
=
t
t
Tegangan kerja ijin
|
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
+
=
m
f
v
f
w
w
. ,528 0 280
280
1400
280
280
1400
Panjang dari elemen kerucut puncak atau tinggi kemiringan dari kerucut
puncak
61
m L
mx
L
mxT
L
D
L
P
P
P
P
. ,
, . sin .
. sin .
. sin
0084 19
26 28 2
18
2
2
1
1
=
=
=
=
u
u
Karena lebar muka gigi adalah
4
1
dari tinggi kemiringan dari kerucut puncak,
dengan demikian
m
m L
b . ,
. ,
752 4
4
0084 19
4
= = =
Sekarang gunakan hubungan
( )
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ =
L
b
L y m b f W
L
b
L y m b xC f W
P w T
P v OP T
'
'
. . . .
. . .
t
t
dimana,
v op w
xC f f =
( )
3 4
3 4
3 4
3
8 159827 9 12152282 1 167 88620
0528 280
25 0 1093 0 752 4 1400 280 0084 19 1093 0 752 4 1400 280
5 316
982 0 280
25 0 1093 0 752 4 1400 280
528 0 280
0084 19 1093 0 752 4 1400 280
5 316
25 0 0084 19
528 0 280
1093 0 752 4 1400 280
5 316
25 0 0084 19
528 0 280
1093 0 752 4 1400 280 5 316
0084 19
752 4
0084 19 1093 0 752 4
528 0 280
280
1400
5 316
m m m
m
m x x x x x m x x x x x
m
m
x x x x
m
m
x x x x
m m
m
x x x
m m m
m
x x x
m
m
m
m m m
m m
. , . , . ,
.
, , , , , ,
,
. ,
, , ,
. ,
, , ,
,
) , . , (
. ,
, ,
,
, . , . . .
. ,
, , ,
. ,
. ,
. , , . . . . , .
. ,
,
÷ = +
|
|
.
|

\
|
+
÷
=
|
.
|

\
|
+
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+
=
t t
t t
t
t
t
296 0, = m
Modul yang direkomendasikan adalah minimal 1,
62
Maka dapat dicari lebar muka gigi
cm b
m b
. 754 , 4
. 754 , 4
=
=
Addendum
1 . 1 = = m a
dan dedendum
2 , 1 . 2 , 1 = = m d
Diameter luar
cm D
D
a T m D
a D D
o
o
P P o
P P o
. 76 , 19
) 26 , 28 cos( ). 1 .( 2 ) 18 .( 1
. cos . . 2 .
. cos . . 2
1
1
=
+ =
+ =
+ =
u
u
Tinggi kemiringan
cm L
m L
. 0084 , 19
. 0084 , 19
=
=
Pada Roda gigi II
Torsi
P
N
Px
T
t 2
4500
=
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan (Hp)
N
G
= Kecepatan putar dari gigi (rpm)
cm kg T
m kg T
x x
x
T
. . ,
. . ,
,
22 5320
2022 53
30 2
4500 2274 2
=
=
=
t
63
Gaya tangensial dari roda gigi adalah
m
W
m
W
T m
W
T m
W
D
T
W
T
T
G
T
G
T
G
T
95 312
34
44 10640
44 10640
22 5320 2
2
,
.
,
.
,
.
) , .(
=
=
=
=
=
Dimana, ) (
G G
mxT D =
Kecepatan garis puncak
dtk m m v
m m v
m v
T m
v
N D
v
G
G G
/ . . ,
min / . . ,
. . ,
. . .
. .
53 0
028 32
34 942 0
100
30
100
2
=
=
=
=
=
t
t
Tegangan kerja ijin
|
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
+
=
m
f
v
f
w
w
. ,53 0 280
280
560
280
280
560
Panjang dari elemen kerucut puncak atau tinggi kemiringan dari kerucut
puncak
64
m L
mx
L
mxT
L
D
L
P
G
P
G
. ,
, . sin .
. sin .
. sin
3 19
73 61 2
34
2
2
2
2
=
=
=
=
u
u
Karena lebar muka gigi adalah
4
1
dari tinggi kemiringan dari kerucut puncak,
dengan demikian
m
m L
b . ,
. ,
83 4
4
3 19
4
= = =
Sekarang gunakan hubungan
( )
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ =
L
b
L y m b f W
L
b
L y m b xC f W
P w T
P v OP T
'
'
. . . .
. . .
t
t
dimana,
v op w
xC f f =
( )
3 4
3 4
3 4
3
97 84004 082 6485184 86 165 87626
53 0 280
25 0 1413 0 83 4 560 280 3 19 1413 0 83 4 560 280
95 312
53 0 280
25 0 413 1 0 83 4 560 280
53 0 280
3 19 413 1 0 83 4 560 280
95 312
25 0 3 19
53 0 280
1413 0 83 4 560 280
95 312
25 0 3 19
53 0 280
1413 0 83 4 560 280 95 312
3 19
83 4
3 19 1413 0 83 4
53 0 280
280
560
95 312
m m m
m
m x x x x x m x x x x x
m
m
x x x x
m
m
x x x x
m m
m
x x x
m m m
m
x x x
m
m
m
m m m
m m
. , . , . ,
. ,
, , , , , ,
,
. ,
, , ,
. ,
, , ,
,
) , . , (
. ,
, ,
,
, . , . . .
. ,
, , ,
. ,
. ,
. , , . . . . , .
. ,
,
÷ = +
|
|
.
|

\
|
+
÷
=
|
.
|

\
|
+
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
÷ |
.
|

\
|
+
=
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+
=
t t
t t
t
t
t
345 0, = m
Modul yang direkomendasikan adalah minimal 1,
65
Maka dapat dicari lebar muka gigi
cm b
m b
. 754 , 4
. 754 , 4
=
=
Addendum
1 . 1 = = m a
dan dedendum
2 , 1 . 2 , 1 = = m d
Diameter luar
cm D
D
a T m D
a D D
o
o
P P o
P P o
. 76 , 19
) 26 , 28 cos( ). 1 .( 2 ) 18 .( 1
. cos . . 2 .
. cos . . 2
1
1
=
+ =
+ =
+ =
u
u
Tinggi kemiringan
cm L
m L
. 0084 , 19
. 0084 , 19
=
=
Dengan modul yang dihitung rata-rata dibawah 1 maka sesuai dengan
minimum modul yang direkomendasikan adalah 1 maka dimensi roda gigi
miring pada pasangan I dan II adalah sama.
6. Merancang poros kincir
Poros kincir adalah poros yang digunakan sebagai tempat pemasangan kincir
yang akan digunakan untuk mentransfer tenaga ke roda gigi miring.
Dapat digambarkan sebagai berikut
66
Gambar 3.5 Penampang poros kincir dilihat dari samping kanan
Gambar 3.6 Diagram benda bebas dari poros sudu.
Daya yang dipindahkan adalah 4448,506 Watt = 4,448506 kW putaran poros
pinyon adalah 432,1218 r.p.m
Pada sudu A terdapat gaya reaksi yang timbul akibat berat sudu dan gaya
tangensial sudu.
Gaya berat F
WS
= 2500 N
D
B
C
25 cm
A
25 cm 25 cm
25 cm
R
BH
R
BV
R
DV
R
D
R
B
25 cm
25 cm
W
RV
C
D
R
DH
W
RH
B
F
WS
F
Axial
A
67
gaya aksial dari poros pinion adalah
N W
Tan W
Tan W W
W W
RH
RH
P T RH
P R RH
. 87 , 100
73 , 61 sin . 20 . . 69 , 314
sin .
sin
2
1
=
=
=
=
u o
u
dan gaya aksi radial dari poros roda gigi adalah
N W
Tan W
W W
W W
RV
RV
P T RV
P R RV
. 25 , 54
73 , 61 cos . 20 . 69 , 314
cos . tan
cos
1
1
=
=
=
=
u o
u
Jumlah gay reaksi pada arah aksial adalah F aksial dan W
RH
diterima oleh dua
bantalan
Jadi
N
W F
R R
RH Axial
DH BH
. 14 , 5836
2
87 , 100 403 , 11571
2
=
+
=
+
= =
Reaksi vertikalnya adalah
N R
x R x x
x R xW x F
M
Dv
DV
BD RV WS
BV
. 875 , 97
0 5 , 0 25 , 54 25 , 0 25 , 0 250
0 5 , 0 25 , 0 25 , 0
0
÷ =
= ÷ + ÷
= ÷ + ÷
= E
N R
x x R x
x F x R x W
M
BV
BV
WS BV RV
DV
. 875 , 347
0 75 , 0 250 5 , 0 25 , 0 25 , 54
0 75 , 0 5 , 0 25 , 0
0
=
= + ÷ ÷
= + ÷ ÷
= E
maka gaya resultan yang bekerja pada bantalan adalah
N R
R
R R R
B
B
BV BH B
498 , 5846
875 , 347 14 , 5836
2 2
2 2
=
+ =
+ =
68
Dengan cara yang sama
N R
R
R R R
D
D
DV DH D
96 , 5836
875 , 97 14 , 5836
2 2
2 2
=
+ =
+ =
Garis tengah poros
Poros mendapat momen puntir dan bending
Dalam merancang poros ini poros dibuat dari Fe 490
Menurut table, karena poros mendapat beban puntiran maka
2
/ 34 23 mm N ÷ = e t
Diambil 30 N/mm
2
Tahanan momen yang diperlukan oleh penampang berbentuk lingkaran harus
sama denga
2
3
17 , 26642
30
10 265 , 1099
mm
x M
W = = >
e
e
e
t
dari
3
2 , 0 d W ~
e
mm
M
d 51
2 , 0
17 , 26642
2 , 0
3 3
1
= = >
e
Karena poros dipasang pasak maka di ambil 55 mm
Di posisi B poros dibebani lengkungan dan puntiran
m N M
m N x M
b
. 265 , 1099
. 625 25 , 0 2500
=
= =
e
maka
m N M M M
b i
. 52 , 1264 265 , 1099 625 (
2 2 2 2
= + = + =
e
69
Tegangan bending yang diijinkan untuk keadaaan tegangan III naka tegangan
bending yang diijinkan untuk Fe 490 adalah 40 sampai 60 N/mm
2
, kita ambil
rata-rata 50 N/mm
2
Maka momen tahanan penampang poros berbentuk lingkaran adalah
3
3
38 , 25290
50
10 52 , 1264
mm
x M
W
b
i
b
= = =
o
dari
3
2
1 , 0 d W
b
~
Ditemukan bahwa
mm
Wb
d 23 , 63
1 , 0
38 , 25290
1 , 0
3 3
2
= = =
Dibulatkan 65 mm
Beban di C dibebani lengkungan dan puntiran
Nm M
m N x M
b
265 , 1099
. 24 , 1459 25 , 0 96 , 5836
=
= =
e
Dengan demikian
m N M M M
b i
. 95 , 1826 265 , 1099 24 , 1459 (
2 2 2 2
= + = + =
e
Momen tahanan juga 50 N/mm
2
3
3
1 , 36539
50
10 95 , 1826
mm
x M
W
b
i
b
= = =
o
dari
3
3
1 , 0 d W
b
~
Ditemukan bahwa
mm
Wb
d 5 , 71
1 , 0
1 , 36539
1 , 0
3 3
3
= = =

Karena disini dipasang pasak maka dibulatkan 75 mm
Pada titik D poros tidak dibebani baik bending maupun puntiran
70
Jadi
2
0
/ 5 , 2 mm N = o
Untuk diameter poros dititik D maka,
mm
R
d
xd R
o
D
D
33 , 48
5 , 2
49 , 5836
4
2
4 0
= = =
s
o
o
Diameter 4 lebih kecil dari pada dititik B, maka akan lebih praktis
menggunakan blok bantalan yang sama, yaitu menggunakan diameter 65 mm
Hasil perhitungan poros sudu digambarkan pada lampiran
7. Merancang pasak sudu
Pasak yang digunakan adalah pasak segi empat
Menurut tabel (Khurmi 463) lebar pasak untuk diameter poros 55 mm
memiliki lebar 16 mm tebal 10 mm.
Panjang pasak adalah dengan mempertimbangkan pasak dari segi geser
maupun kekuatan
Memepertimbangkan geser
Material yang digunakan untuk poros adalah Fe 490 yang memiliki tegangan
geser sebesar =
s
f 420 kg/cm
2
dan kekuatan =
c
f 700 kg/cm
2
mm
w
d
l
lxw d
d
x lxwxf d f
d
x lxwxf T
s s
s
. 96 , 65
18 . 8
) 55 (
8
16
2 16
2
2
2
3
= = =
=
=
=
t t
t
t
71
Dengan mempertimbangkan kerusakan
mm
x
l
f t
d f
l
d
x xf
t
lx d f
d
x xf
t
lx T
s
c
c s
c
. 477 , 142
700 . 10 . 4
55 420 .
. 4
. .
2 2 16
2 2
2
2
3
= =
=
=
=
t
t
t
Kita ambil panjang terbesar yaitu 142,477 dibulatka 143 mm
8. Merancang pasak roda gigi pada poros sudu
Pasak yang digunakan adalah pasak segi empat
Menurut tabel (Khurmi 463) lebar pasak untuk diameter poros 75 mm
memiliki lebar 22 mm tebal 14 mm.
Panjang pasak adalah sama dengan panjang alur roda gigi pinyon yang
dirancang yaitu 8 cm
Memepertimbangkan geser
mm
w
d
l
lxw d
d
x lxwxf d f
d
x lxwxf T
s s
s
. ,
.
) (
35 100
22 8
75
8
16
2 16
2
2
2
3
= = =
=
=
=
t t
t
t
Dengan mempertimbangkan kerusakan
72
76 1519
448
14 4
22
8
4
2 2 16
2 2
2
2
3
,
.
. .
.
. .
=
=
=
=
=
s
c
s
c
s
c
c s
c
f
f
f x x
f
f t
d f
l
d
x xf
t
lx d f
d
x xf
t
lx T
t
t
t
maka diperlukan material yang mempunyai nilai
=
s
f
1519,76 kg/cm
2
dan
kekuatan
=
c
f
448 kg/cm
2

9. Merancang bantalan poros sudu
Dengan menggunakan rumus-rumus dapat dihitung bilangan dinamik C yang
diisyaratkan untuk hal dimana beban kerja F dan umur L diketahui. Pada kasus
sudu kincir yang mendapat beban kerja F, maka mekanisme mencari C harus
L F =
. Dan bantalan dapat dicari dalam katalog.
Antara umur putaran (L) da umur dalam jam terdapat hubungan
6
10 60 . x
F
C
nx L L
P
b
|
.
|

\
|
= =
P
h
x nx L F C ) 10 60 . (
5 ÷
=
Jadi untuk bantalan peluru
3
) ( 0392 , 0 xn L x Fx C
h
=
Gaya pada bantalan terbesar adalah pada bantalan B sebesar 5846,498 N dan
umur yang direncanakan 3 tahun dengan alasan pemasangan bantalan pada
73
poros sudu relatif sulit maka pilihan 3 tahun adalah jangka waktu yang relatif
lama.
3 tahun = 3 x 365 hari x 24 jam = 26280 jam
N C
x x x C
. 7 , 50243
) 401 26280 ( 0392 , 0 498 , 5846
3
=
=
maka dengan poros sebesar 65 mm maka bantalan yng dapat digunakan tipe
313 dengan nilai C adalah 72.000 N
10. Merancang poros transmisi roda gigi miring
Dalam mendesain poros gear langkah-langkah yang dapat diambil adalah
sebagai berikut
Pertama, carilah kerja torsi pada gear , diberikan oleh
G
N
Px
T
t 2
4500
=
P = Tenaga kuda yang ditransmisikan
N
G
= Kecepatan putar dari gear (rpm)
m N
x
T
N
Px
T
G
. . ,
) , .( .
,
0049 57
912 55 2
4500 448 4
2
4500
= =
=
t
t
Carilah gaya tangensial (W
T
) yang bekerja pada radius utama (R
m
), kita ketahui
bahwa
m
T
R
T
W =
74
Kemudian cari gaya aksial dan gaya radial yang bekerja pada poros pinion
gaya aksial dari poros pinion adalah
N W
x Tan x W
Tan W W
W W
RH
RH
P T RH
P R RH
56 , 54
73 , 61 sin . 20 . . 2 , 170
sin .
sin
2
1
=
=
=
=
u o
u
dan gaya aksi radial dari poros gear adalah
N W
Tan W
W W
W W
RV
RV
P T RV
P R RV
. 34 , 29
73 , 61 cos . 20 . 2 , 170
cos . tan
cos
1
1
=
=
=
=
u o
u
Carilah resultan momen bending pada poros pinion sebagai berikut
Momen bending yang disebabkan oleh W
RH
dan W
RV
adalah diberikan oleh
Nm M
x x M
xR W xoverhang W M
m RH RV
. 68 , 322
) 53 , 0 56 , 54 ( ) 12 3 , 29 (
1
1
1
=
÷ =
÷ =
dan momen bending yang disebabkan oleh W
T

Nm M
x M
xoverhang W M
T
. 4 , 2042
12 2 , 170
2
2
2
=
=
=
Resultan momen bending adalah
Nm M
M
. 7 , 2067
4 , 2042 68 , 322
2 2
=
+ =
Karena poros dikenai dua momen (T) resultan momen bending (M), maka
ekivalen kedua momen adalah
75
Nm Te
Te
T M Te
. 48 , 2068
009 , 57 7 , 2067
2 2
2 2
=
+ =
+ =
Sekarang diameter dari poros pinion dapat digunakan menggunakan persamaan
torsi, kita tahu bahwa
2
.
16
dp f Te
s
t
=
cm d
x
d
d
G
G
G
. 88 , 3
. 700
16 5 , 2068
. 700
16
5 , 2068
2
=
=
=
t
t
Maka diameter poros roda gigi dapat diambil 4 cm
11. Merancang bantalan poros transmisi
Dengan menggunakan rumus-rumus dapat dihitung bilangan dinamik C yang
diisyaratkan untuk hal dimana beban kerja F dan umur L diketahui. Pada kasus
poros vertikal yang mendapat beban kerja F dan gaya aksial, maka mekanisme
mencari C harus
L F =
. Dan bantalan dapat dicari dalam katalog.
Antara umur putaran (L) dan umur dalam jam terdapat hubungan
6
10 60 . x
F
C
nx L L
P
b
|
.
|

\
|
= =
P
h
x nx L F C ) 10 60 . (
5 ÷
=
Jadi untuk bantalan peluru
3
) ( 0392 , 0 xn L x Fx C
h
=
76
Gaya pada bantalan terbesar adalah pada bantalan sebesar 54,56 N dan umur
yang direncanakan 3 tahun dengan alasan pemasangan bantalan pada poros
sudu relatif sulit maka pilihan 3 tahun adalah jangka waktu yang relatif lama.
3 tahun = 3 x 365 hari x 24 jam = 26280 jam
N C
x x x C
. ,
) , ( , ,
17 3813
7 222 26280 0392 0 56 54
3
=
=
maka dengan poros sebesar 40 mm maka bantalan yng dapat digunakan tipe
408 dengan nilai C adalah 5000 N
3.4 Merancang poros engkol
Dengan panjang langkah dari pompa torak adalah 0,3707 meter maka diameter
putaran dari poros engkol adalah sama dengan panjang langkah pompa torak
yaitu 0,3707 meter.
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 3.8 Penampang poros engkol
Torsi yang terjadi pada poros engkol adalah sebagai berikut
Diketahui
A
E
D
C
B
F
F
77
Diameter pompa torak D = 0,1854 meter
panjang langkah L = 0,3707 meter,
Putaran N = 30 r.p.m
Tinggi H = 33,868 meter
Gaya torak terbesar
N H D F
z
. , , . ) , .( . . 58 9138 33868 0 4 185
4 4
2 2
= = =
t t
Karena kerugian gesek, gaya terbesar dalam poros engkol
N
F
F
z
. ,
,
,
,
98 10153
9 0
58 9138
9 0
= = =
Momen puntir tebesar dalam poros engkol
m N x Fx M
w
, . , , , . 088 863 085 0 98 10153
2
1
= = = o
o = derajat ketidak beraturan mesin
Untuk sementara garis tengah poros engkol dapat ditentukan dengan tegangan
putus geser rendah
2
/ . 24 mm N = t
e
e
t
M
d =
2
5
1
meter
x
d . ,
,
033 0
10 24
088 863
3
6
= =
atau 3,3 cm
Garis tengah pena engkol diambil sebesar garis tengah poros d
1
, panjang
engkol cm x d l . , , , , 96 3 3 3 2 1 2 1
1 1
= = = maka tekanan bidang yang diambil
2
1 1
0
01 777
3 3 96 3
98 10153
cm N
x d l
F
/ . ,
, ,
,
.
= = = o
78
Material bahan dipilih Fe 390 yang memiliki tekanan ijin 120 sampai 180
N/mm
2
maka tekanan pada poros engkol tersebuit diijinkan
Tebal pipi engkol
b = 0,7 d = 0,7 x 0,033=0,0231 meter = 2,31 cm
Lebar pipi
h = 1,4 d = 1,4 x 0,033 = 0,0462 meter = 4,62 cm
Panjang bantalan blok utama
l = 2d = 2 x 0,033 = 0,066 meter = 6,6 cm
Dari samping salah satu blok utama dipasang roda gigi penggerak pada poros .
Pada kedudukan mati hanya pipi engkol yang perlu dikontrol. Gay gigi=nol.
Reaksi dalam blok
N
F
B A . 5077
2
98 , 10153
2
= = = =
Pipi engkol oleh A atau ole B dibebani dengan gaya tarik atau dengan gaya
tekan dengan lengkungan
2
/ . 72 , 475
62 , 4 31 , 2
5077
.
cm N
x h b
A
t
= = = o
2
2
6
1
2
6
1
/ 46 , 2477
31 , 2 62 , 4 .
) 005 , 2 .( 5077 .
cm N
x hxb
a A
b
= = = o
Tegangan normal resultas yang terbesar adalah
2
/ . 18 , 2953 46 , 2477 72 , 475 cm N
b t res
= + = + = o o o
pada kedudukan tengah engkol timbul momen puntir terbesar dalam poros .
gaya gigi
79
N
r
M
T . ,
,
,
26 2328
3707 0
088 863
= = =
e
3.5 Tower
Tower dalam tugas akhir ini tidak dibahas secara mendetail, tetapi sebagai
informasi bahwa dalam merancang tower perlu diperhatihan hal-hal sebagai
berikut
1. Tinggi minimal antara permukaan tanah dan ujung sudu adalah 6
meter.
2. Tower harus bebas dari halangan apapun yang menyebabkan aliran
angin terganggu
3. Tower harus mampu menahan gaya aksial dari hembusan angin yang
menerpa sudu
(www.windpower.org).
80
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan, maka dapat disimpulkan bahwa untuk
menaikan air dengan debit 5 liter perdetik dan ketinggian 30 meter
menggunakan pompa torak dibutuhkan
1. Silinder pompa dengan diameter 0,1854 meter dan panjang langkah
0,3707 meter
2. Daya teoritik untuk menggerakan pompa sebesar 1661,653 Watt
3. Diameter sudu sebesar 7,1367 meter dengan lebar 42,75 cm dan tebal
1,71 cm, dan jumlah sudu sebanyak tiga buah.
4. Daya rencana total yang dibutuhkan sebesar 4206,006 Watt
5. Rasio kecepatan roda gigi 1 : 1,8
6. Diameter poros sudu 55 mm pada bagian sudu, 65 mm pada bantalan
dan 75 mm pada roda gigi miring.
7. Bantalan yang digunakan adalah bantalan peluru tipe 313 dengan
diameter 120 mm lebar 33 mm dan dianeter lingkaran dalam 65 mm
dengan basis kapasitas sebesar 72.000 Newton.
8. Diameter poros antara roda gigi miring 40 mm
81
81
4.2. Saran
Angin merupakan sumber energi yang bersih yang saat ini belum
termanfaatkan secara maksimal. Bagi pembaca sekalian yang tertarik untuk
meneliti lebih jauh tentang energi angin, dapat mengambil aplikasi-aplikasi
lain terutama yang berkaitan dengan pangadaan energi listrik. Mahalnya
harga listrik saat ini karena biaya produksi yang cukup besar.
Dimasa mendatang masalah energi merupakan masalah yang serius,
terutama karena terbatasnya energi fosil (minyak bumi dan batu bara). Salah
satu solusinya adalah pengembangan sumber energi yang tidak pernah habis
yaitu angin dan matahari.
Pada tugas akhir ini masih banyak kekurangan terutama yang
berkaitan dengan perencanaan sudu (kincir). Referensi yang membahas
tentang hubungan dimensi sudu terhadap efesiensi masih kurang. Penulis
menyarankan kepada pembaca sekalian, apabila akan menyusun tugas akhir
yang berkenaan dengan energi angin (kincir), ambilah penelitian yang
berhubungan dengan dimensi maupun material yang paling efektif dan
efesien menerima energi angin. Akan lebih baik lagi jika dipraktekan
langsung dengan menggunakan prototipe-prototipe bentuk sudu yang
bervariasi dari dimensi dan materialnya.
82
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Irawan, Ir, Drs, MT,. Samsul Hadi, Drs,. Modul Mesin Konversi
Energi I, Politeknik Negeri Malang, Malang, 2000
Chu-Kia Wang, Phd, Statically Indeterminate Structures, Mc Graw Hill,
Kogahusha, 1983
Edwards, Hicks, Teknologi Pemakaian Pompa, Erlangga, Jakarta, 1996
El-Wakil, M. M., ‘Powerplant Technology“ ,McGraw-Hill Book Company,
New York, 1984
Harahap, Ghandi, Perencanaan Teknik Mesin,Erlangga, Jakarta,1984
Hibbeler, R.C., Structural Analysis, Prentice Hall, New Jersey, 1997
Jac Stolek, C. Kros, Elemen Mesin , Penerbit Erlangga, Jakarta pusat, 1986.
Pompa dan Kompresor
Khurmi, R.S., Gupta, J.K., Machine Design, Eurasia Publishing House, New
Delhi, 1980
Kadir, A.,“Energi Sumber Daya, Inovasi, Tenaga Listrik Dan Potensi
Ekonomi“,Universitas Indonesia Press, Jakarta 1992
Meriam, J.L.,Kraige, L.G., Engineering Mechanics „Dynamics“, John Wiley
& Sons, Inc, New York, 1997.
Sato, Takeshi,, Menggambar Mesin,
http://www.windpower.org
http://www.windenergy.com
83

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful