You are on page 1of 35

IDENTIFIKASI FORENSIK KORBAN BENCANA MASSAL I.

DEFINSI Dalam beberapa tahun terakhir, banyak terjadi bencana massal yang menyebabkan kematian banyak orang. Selain itu kasus kejahatan yang memakan banyak korban jiwa juga cenderung tidak berkurang dari waktu ke waktu. Pada kasus-kasus seperti ini tidak jarang dijumpai korban jiwa yang tidak dikenal sehingga perlu diidentifikasi.1 Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya.1 Bencana yang terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah serta bangunan, rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana akibat tindakan manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara perlahan-lahan atau slow onset disaster, misalnya perubahan kehidupan masyarakat akibat menurunnya kemampuan kesehatan.1 dentifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. dentifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. !enentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan." Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jena#ah tidak dikenal, jena#ah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtuanya. dentitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif $tidak meragukan%." . METODE IDENTIFIKASI &orban bencana berskala besar diidentifikasi berdasarkan penilaian dari beberapa faktor. 'ingkat kerusakan tubuh, waktu dimana tubuh telah dibiarkan di lokasi bencana dan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau haze yang menimbulkan masalah

perubahan terkait dengan kondisi tubuh mempengaruhi sifat dan kualitas data post mortem dan penerapan metode khusus identifikasi.1 !etode identifikasi yang digunakan dalam kasus-kasus bencana harus bersifat ilmiah, dapat diandalkan, dapat diterapkan pada kondisi lapangan dan mampu diimplementasikan dalam jangka waktu yang sesuai.1 (enis metode identifikasi primer dan yang paling dapat diandalkan, yaitu identifikasi sidik jari, analisis komparatif gigi dan analisis D)*. (enis metode identifikasi sekunder meliputi deskripsi personal, temuan medis serta bukti dan pakaian yang ditemukan pada tubuh. (enis identifikasi ini berfungsi untuk mendukung identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi.1 Semua metode yang memungkinkan di lapangan seharusnya diterapkan. dentifikasi yang hanya berdasarkan foto sangat tidak dapat diandalkan dan harus dihindari. dentifikasi +isual oleh saksi mungkin memberikan indikasi identitas tetapi tidak cukup untuk identifikasi positif dari korban bencana berskala besar. Dalam hal ini korban sering mengalami trauma yang mendalam sehingga perbandingan +isual adalah hal yang mustahil dan karena relatif dari korban sering tidak mampu mengatasi tekanan psikologis yang terlibat dalam konfrontasi dengan para korban meninggal.1 Semua data post mortem yang diperoleh dari +isum tubuh korban die+aluasi dengan mengacu pada informasi orang hilang yang diperoleh. &arena tidak mungkin untuk mengetahui terlebih dahulu data apa yang dapat diperoleh dari tubuh korban dan informasi apa yang dapat diperoleh untuk tujuan perbandingan di lokasi bencana. Semua informasi yang tersedia $baik *! dan P!% harus dikumpulkan dan didokumentasikan.1 Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaan dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan pemeriksaannya, maka sarana-sarana identifikasi dapat dikelompokkan, 1. Sarana identifikasi kon+ensional, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang biasanya sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain, a. Pemeriksaan secara +isual dan fotografi mengenali ciri-ciri muka atau sinyalemen tubuh lainnya. b. Pemeriksaan benda-benda milik pribadi seperti, pakaian, perhiasan, sepatu dan sebagainya. c. Pemeriksaan kartu-kartu pengenal seperti &'P,S !, &arpeg, kartu mahasiswa dan sebagainya, surat-surat seperti surat tugas. jalan atau dokumen-dokumen dsb. d. Pemeriksaan sidik jari dan lain-lain.

". Sarana identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi penyidik tidak dapat menggunakan sarana identifikasi kon+ensional atau kurang memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan, antara lain,a. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secara medis melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa ciri yang spesifik, misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum, bekas luka atau operasi luar $sikatrik atau keloid%, hiperpigmentasi daerah kulit tertentu $toh%, tahi lalat, tato, bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh ciri non-spesifik antara lain misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, warna serta bentuk rambut dan mata, bentuk-bentuk hidung, bibir dan sebagainya. b. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis. c. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis, antroposkopi dan antropometri. d. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem, *B/, 0hesus, !), &eel, Duffy, 12* dan sebagainya. e. Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik D)* dan lain-lain. II.3 DASAR DASAR IDENTIFIKASI FORENSIK Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah ,
A. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam &31P pasal

1--, 4
1. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang

korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat $1% dilakukan secara

tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. !ayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah

sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

A. 3ndang-undang &esehatan Pasal 56 7 1. Selain penyidik pejabat polisi )egara 0epublik

ndonesia juga kepada pejabat

pegawai negeri sipil tertentu di Departemen &esehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam 33 )o 8 tahun 1681 tentang 1ukum *cara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat $1% berwenang , a. !elakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan. b. !elakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan. c. !eminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha. d. !elakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain. e. !elakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti. f. !eminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan. g. !enghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengan

tindak pidana di bidang kesehatan.


3. &ewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat $"% dilaksanakan menurut

33 )o 8 tahun 1681 tentang 1*P. II.4 JENIS JENIS METODE IDENTIFIKASI FORENSIK (enis metode identifikasi forensik dapat dibagi menjadi metode identifikasi primer dan metode identifikasi sekunder. !etode identifikasi tradisional yaitu metode +isual, dimana metode ini tidak bisa dianggap sebagai metode terbaik dan rentan dalam ketidaktelitian. !etode ini digolongkan sebagai metode identifikasi sekunder.Metode Identifikasi !i"e!

9ambar 1. !etode identifikasi primer. 1

#. Sidik $a!i. 1.1. Definisi

Sidik jari adalah suatu impresi dari alur-alur lekukan yang menonjol dari epidermis pada telapak tangan dan jari-jari tangan atau telapak kaki dan jari-jari kaki, yang juga dikenal sebagai :dermal ridges; atau :dermal papillae;, yang terbentuk dari satu atau lebih alur-alur yang saling berhubungan. Dari bayi pun, kita semua sudah mempunyai sidik jari yang sangat identik dan tidak dimiliki orang lain. *lur-alur kulit di ujung jari dan telapak tangan dan kaki mulai tumbuh di ujung jari sejak janin berusia empat minggu hingga sempurna saat enam bulan di dalam kandungan.< Daktiloskopi adalah suatu sarana dan upaya pengenalan identitas diri seseorang melalui suatu proses pengamatan dan penelitian sidik jari, yang dipergunakan untuk berbagai keperluan.kebutuhan, tanda bukti, tanda pengenal ataupun sebagai pengganti tanda tangan $cap (empol%.< !etode ini membandingkan sidik jari jena#ah dengan data sidik jari antemortem. Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jena#ah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan jena#ah dengan kantong plastik." *da tiga alasan mengapa sidik jari merupakan indikator identitas yang dapat diandalkan, 1 Sidik jari unik, 'idak ada kecocokan mutlak antara papiler ridges pada jari dari dua indi+idu yang berbeda atau pada jari yang berbeda dari orang yang sama. Sidik jari tidak berubah, papiler ridges terbentuk pada bulan keempat kehamilan dan tetap tidak berubah bahkan setelah mati. Sidik jari tumbuh kembali dalam pola yang sama setelah luka ringan. 2uka yang lebih parah mengakibatkan jaringan parut permanen. Sidik jari dapat diklasifikasikan, &arena sidik jari dapat diklasifikasikan, maka dapat diidentifikasi dan didata secara sistematis dan dengan demikian dapat diperiksa dengan mudah untuk tujuan perbandingan.

9ambar ". *natomi kulit, kelenjar ekrin melingkar, yang terletak di dermis, memiliki saluran yang naik melalui lapisan epidermis dan berakhir di sepanjang papila dermal. Struktur papila dermal memberikan pola sidik jari yang khas. -

Detail anatomi ini memperkasar permukaan telapak tangan dan kaki hingga memperkuat cengkeraman kala memegang atau berjalan. Benda yang dipegang tidak mudah lepas. Secara resmi, istilah sidik jari digunakan pertama kali oleh Dr. )ehemiah 9rew yang memperkenalkan pada 0oyal =ollage of Physicians, 2ondon pada tahun 1<84 tentang tanda-tanda penting yang ditemukan di ujung-ujung jari manusia. Setahun kemudian, 9ouard Bidloo membuat buku pertama pola sidik jari lengkap. Pada tahun 1588, (=* !ayer menyatakan bahwa tak ada " orang, kembar sekalipun yang memiliki sidik jari sama persis walaupun masing-masing mempunyai kemiripan indi+idu. 'ahun 18"-, (ohn > Purkinje dari 3ni+ersity of Breslau membuat klasifikasi sidik jari dalam sembilan golongan utama, walau kemudian ?rancis 9alton berpendapat bahwa hanya ada - golongan utama, selebihnya adalah +ariasi.<

9ambar -. =ontoh pola yang paling umum untuk dermal ridges. 2ima kelas utama -left loop, right loop, whorl, arch, dan tented arch- umum digunakan. ?rekuensi perkiraan untuk setiap tipe dinyatakan dalam tanda kurung. 3ntuk tiap tipe, posisi dari inti ditandai dengan kotak merah dan delta ditandai segitiga hijau. -

1.1. Sifat @ sifat Sidik (ari Biometrik merupakan cabang matematika terapan yang bidang garapnya untuk mengindentifikasi indi+idu berdasarkan ciri atau pola yang dimiliki oleh indi+idu tersebut, misalnya bentuk wajah, sidik jari, warna suara, retina mata, dan struktur D)*. Sidik jari merupakan salah satu pola yang sering digunakan untuk mengindentifikasi indentitas seseorang karena polanya yang unik, terbukti cukup akurat, aman, mudah, dan nyaman bila dibandingkan dengan sistem biometrik yang lainnya. 1al ini dapat dilihat pada sifat yang dimiliki oleh sidik jari yaitu guratanguratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup, pola ridge tidaklah bisa menerima warisan, pola ridge dibentuk embrio, pola ridge tidak pernah

berubah dalam hidup, dan hanya setelah kematian dapat berubah sebagai hasil pembusukan. Dalam hidup, pola ridge hanya diubah secara kebetulan akibat, lukaluka, kebakaran, penyakit atau penyebab lain yang tidak wajar. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada 7 juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yang sama baru akan terjadi lagi -AA tahun kemudian, atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang.< Dibawah ini merupakan sifat-sifat khusus yang dimiliki sidik jari, <
a) Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit

manusia seumur hidup.


b) Immutability,

yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali

mendapatkan kecelakaan yang serius.


c) Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang.

1.1. !acam @ !acam Sidik (ari


a) Latent prints $Sidik jari 2aten%. Balaupun kata :laten; berarti tersembunya atau

tak tampak, pada penggunaan modern di ilmu forensik istilah sidik laten berarti kemungkinan adanya atau impressi secara tak sengaja yang ditinggalkan dari aluralur tonjolan kulit jari pada sebuah permukaan, tanpa melihat apakah sidik tersebut terlihat atau tak terlihat pada waktu tersentuh. 'eknik memproses secara elektronik, kimiawi, dan fisik dapat digunakan untuk melihat residu sidik laten yang tak terlihat yang ditimbulkan dari sekresi kelenjar ekrin yang berada di aluralur tonjolan kulit $yang memproduksi keringat, sebum, dan berbagai macam lipid% walaupun impressi tersebut terkontaminasi dengan oli, darah, cat, tinta, dll. b) Patent prints $Sidik jari Paten%. Sidik ini ialah impressi dari alur-alur tonjolan

kulit dari sumber yang jak jelas yang dapat langsung terlihat mata manusia dan disababkan dari transfer materi asing pada kulit jari ke sebuah permukaan. &arena sudah dapat langsung dilihat sidik ini tidak butuh teknik-teknik enhancement, dan diambil bukan dengan diangkat, tetapi hanya dengan difoto.c) Plastic prints $Sidik jari Plastik%. Sidik plastik adalah impressi dari sentuhan alur-

alur tonjolan kulit jari atau telapak yang tersimpan di material yang mempertahankan bentuk dari alur-alut tersebut secara detail. =ontoh umum, pada lilin cair, deposit lemak pada permukaan mobil. Sidik-sidik seperti ini dapat langsung dilihat, tapi penyidik juga tak boleh mengenyampingkan kemungkinan bahwa sidik-sidik laten yang tak tampak dari sekongkolan pelaku mungkin juga

terdapat pada permukaan tersebut. 3saha untuk melihat impressi-impressi non plastik pun harus dilaksanakan..4 &lasifikasi Sidik (ari Sebelum komputerisasi menggantikan sistem pendataan manual di operasioperasi pemrosesan sidikjari yang besar, klasifikasi sidik jari manual digunakan untuk mengkatagorikan sidik jari berdasarkan formasi alur-alur tonjolan secara umum $seperti ada atau tak adanya pola-pola sirkular pada jari-jari%, oleh karena itu pendataan dan pengambilan catatan laporan dalam jumlah besar berdasarkan polapola tersebut, yang terlepas dari pertimbangan nama, tanggal lahir, dan data biografis. Sistem-sistem klasifikasi sidik jari yang paling populer diantaranya sitem 0oscher, sistem Cucetich, dan sistem 1enry. Dari sistem-sistem ini, sistem 0oscher dikembangkan di (erman dan diaplikasikan di (erman dan (epang. Sistem Cucetich dikemkangkan di *rgentina dan diimplementasikan di seluruh *merika 3tara, dan sistem 1enry dikembangkan di ndia dan diimplementasikan di kebanyakan negaranegara berbahasa nggris.< Sistem 1enry berasal dari pola ridge yang terpusat pola jari tangan, jari kaki, khusunya telunjuk. !etoda yang klasik dari tinta dan menggulung jari pada suatu kartu cetakan menghasilkan suatu pola ridge yang unik bagi masing-masing digit indi+idu.Dalam sistem klasifikasi 1enry, terdapat tiga pola dasar sidik jari, *rch $lengkungan%, 2oop $uliran%, dan Bhorl $lingkaran%.<
a.

Tipe Arch, Pada patern ini kerutan sidik jari muncul dari ujung, kemudian mulai naik di tengah, dan berakhir di ujung yang lain.

b. Tipe Loop, Pada patern ini kerutan muncul dari sisi jari, kemudian membentuk

sebuah kur+a, dan menuju keluar dari sisi yang sama ketika kerutan itu muncul.
c.

Tipe Whorl, Pada patern ini kerutan berbentuk sirkuler yang mengelilingi sebuah titik pusat dari jari. Dari ketiga klasifikasi diatas terdapat juga klasifikasi yang lebih kompleks

yang mengikutsertakan pola plain arches $lengkungan sederhana atau tented arches $lekukan yang seperti tenda% . Pola 2oop dapat berarah radial atau ulnar, tergantung arah ekor dari loop tersebut. Pola Bhorl juga dibagi dalam subgrup-subgrup, plain whorl, accidental whorls, dan central pocket loop.<

9ambar 4. Pola dasar sidik jari. <

.4

=ara Pengambilan Dan Pemeriksaan Sidik (ari Dari sembilan metode identifikasi yang dikenal hanya metode penetuan jati diri dengan sidik jari $daktiloskopi%, yang tidak la#im dikerjakan oleh dokter, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Balaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan oleh dokter, dokter masih mempunyai kewajiban yaitu untuk mengambilkan atau mencetak sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya yang telah membusuk. 'eknik pengembangan sidik jari pada jari yang keriput, serta mencopot kulit ujung jari yang telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan prosedur standar yang harus diketahui dokter. < =ara pengangkatan sidik jari yang paling sederhana adalah dengan metode dusting $penaburan bubuk%. Biasanya metode ini digunakan pada sidik jari paten . yang tampak dengan mata telanjang. Sidik jari laten biasanya menempel pada lempeng aluminium, kertas, atau permukaan kayu. *gar dapat tampak, para ahli dapat menggunakan #at kimia, seperti lem $sianoakrilat%, iodin, perak klorida, dan ninhidrin. 2em sianoakrilat digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari dengan cara mengoleskannya pada permukaan benda aluminium yang disimpan di dalam wadah tertutup, misalnya stoples. Dalam stoples tersebut, ditaruh juga permukaan benda yang diduga mengandung sidik jari yang telah diolesi minyak. 'utup rapat stoples. Sianoakrilat bersifat mudah menguap sehingga uapnya akan menempel pada permukaan benda berminyak yang diduga mengandung sidik jari. Semakin banyak sianoakrilat yang menempel pada permukaan berminyak, semakin tampaklah sidik jari sehingga dapat diidentifikasi secara mudah.< =ara lainnya dengan menggunakan iodin. odin dikenal sebagai #at pengoksidasi. (ika dipanaskan, iodin akan menyublim, yaitu berubah wujud dari padat menjadi gas. &emudian, gas iodin ini akan bereaksi dengan keringat atau minyak pada sidik jari. 0eaksi kimia ini menghasilkan warna cokelat kekuningkuningan. Barna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret agar dapat didokumentasikan. Dat kimia lain yang biasa digunakan adalah perak nitrat dan larutan ninhidrin. (ika perak nitrat dicampurkan dengan natrium klorida, akan dihasilkan natrium nitrat yang larut dan endapan perak klorida. &eringat dari pelaku mengandung garam dapur $natrium klorida, )a=l% yang dikeluarkan melalui

pori-pori kulit. Pada praktiknya, larutan perak nitrat disemprotkan ke permukaan benda yang diduga tersentuh pelaku. Setelah 7 menit, permukaan benda akan kering dan perak nitrat pun terlihat. 2alu, sinar terang atau ultra +iolet yang disorotkan ke permukaan benda akan membuat sidik jari yang mengandung perak nitrat terlihat. Seperti halnya iodin, warna yang dihasilkan tidak bertahan lama sehingga harus segera dipotret agar dapat didokumentasikan. )inhidrin merupakan #at kimia yang dapat bereaksi dengan minyak dan keringat menghasilkan warna ungu. (ika jari pelaku kejahatan mengandung minyak atau keringat, lalu tertempel pada permukaan benda, sidik jarinya akan terlihat dengan cara menyemprotkan larutan ninhidrin. Setelah dibiarkan selama 1A-"A menit, akan tampak warna ungu. Proses ini dapat dipercepat dengan memanfaatkan panas lampu. !etode paling mutakhir yang digunakan untuk mengidentifikasi sidik jari adalah teknik micro-E-ray fluorescence $!E0?%. 'eknik ini dikembangkan oleh =hristopher Borley, ilmuwan asal 3ni+ersity of =alifornia yang bekerja di 2os *lamos )ational 2aboratory. Dibandingkan dengan metode lainnya yang biasa digunakan, teknik !E0? mempunyai beberapa kelebihan. !E0? dapat mengidentifikasi sidik jari yang tidak dapat diidentifikasi metode lain.<
1. Ana%isis Denta%

?orensik /dontologi dapat merupakan suatu penerapan ilmu gigi dalam system hukum. lmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu forensic dentistry dan odontology forensic. ?orensik odontologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara e+aluasi dan presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.5 0uang lingkup forensik odontologi meliputi ,
1.

dentifikasi terhadap jenasah korban yang tidak diketahui melalui gigi, rahang dan tulang-tulang kraniofasial

2. *nalisa jejak bekas gigitan

-. *nalisa trauma orofasial yang berhubungan dengan kekerasan


4. Dental jurisprudence termasuk menjadi saksi ahli

Pelayanan dental forensic meliputi baik penyelidikan kematian maupun kedokteran forensik klinis untuk menge+aluasi korban kekerasan hidup seperti kekerasan seksual, kekerasan anak, dll. 5

10

Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut, 5 1. 9igi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim. ". &arakteristik indi+idual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. -. &emungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi $dental record% dan data radiologis. 4. 9igi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. 7. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar. <. 9igi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 4AAF=. 5. 9igi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa 1aigh yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh. 1.1. *natomi dan !orfologi 9igi !anusia8 a. *natomi 9igi 9igi manusia terdiri dari tiga, *kar gigi, yang berfungsi menopang gigi dan merupakan bagian gigi yang terletak didalam tulang rahang. !ahkota gigi yaitu bagian gigi yang berada diatas ginggi+a. 2eher gigi, yaitu bagian yang menghubungkan akar gigi dengan mahkota gigi. a. Struktur 9igi Badan dari gigi terdiri dari , 1. >mail, merupakan jaringan keras yang mengelilingi mahkota gigi dan berfungsi membentuk struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan terhadap tekanan dan abrasi. >mail tersusun dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor, #at organic dan air. ". Dentin, merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak dan berwarna kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak

11

dari email. Dentin terdiri dari 5A G bahan organic, terutama &alsium dan fosfor serta -A G bahan organic dan air. -. Sementum, merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan menutup akar gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang memperkuat akar gigi pada al+eolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari 7AG bahan organic berupa &alsium dan ?osfor dan 7AG bahan organic. 4. Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati bagian ruang tengah pulpa dan akar gigi. Pada pulpa terkandung pembuluh darah, syaraf, dan sel pembentuk dentin. Pulpa berisi nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik.

9ambar 7. Struktur gigi.8

a. !orfologi gigi.5,8

!enurut masa pertumbuhan gigi manusia terbagi menjadi dua, yaitu , 1. 9igi susu 9igi susu berjumlah "A buah dan mulai tumbuh pada umur < -6 bulan dan lengkap pada umur " @ ",7 tahun. 9igi susu terdiri dari 7 gigi pada setiap daerah rahang masing @ masing adalah , " gigi seri $incici+us%, 1 gigi taring. ". 9igi permanen 9igi permanen berjumlah "8 @ -" terdiri dari " gigi seri, 1 gigi taring, " gigi premolar, dan - gigi molar pada setiap daerah rahang. 9igi permanen
12

menggantikan gigi susu. *ntara umur < @ 14 tahun "A gigi susu diganti gigi permanen. 9igi molar 1 dan " mulai erupsi pada umur < @ 1" tahun sedangkan gigi molar - mulai erupsi pada umur 15 @ "1 tahun.
a. )omenklatur 9igi 8

)omenklatur yang biasa dipakai adalah ,


1. =ara Dsigmondy

9igi susu C C C C =ontoh , c bawah kanan , 9igi tetap 85<4-"1 85<4-"1 1"-47<58 1"-47<58 1 bawah kiri , 1 CC CC m" atas kiri , C

=ontoh , P" atas kanan , 7 9igi susu >D=B* >D=B* 9igi tetap 85<4-"1 85<4-"1 1"-47<58 1"-47<58 *B=D> *B=D>

2. =ara Palmer , cara yang paling mudah dan uni+ersal untuk dental record

=ontoh , c bawah kanan , =

m" atas kiri , >

=ontoh , P" atas kanan , 7 kanan, lalu ke bawah kiri. 9igi Susu $pakai huruf romawi% E E C E C C C C E E E C EC EC EC

1 bawah kiri , 1

-. =ara *merika , yaitu dengan menghitung dari atas kiri, ke kanan, ke bawah

EC

E E EE

=ontoh , c bawah kanan , E 9igi 'etap $pakai angka biasa% , 1< 17 14 1- 1" 11 1A 6 15 18 16 "A "1 "" "- "4 =ontoh , P" atas kanan , 14. =ara *plegate 8 5 <

m" atas kiri , 7 4 - " 1

"7 "< "5 "8 "6 -A -1 -" 1 bawah kiri , "7

13

&ebalikan dari cara *merika yaitu dengan menghhitung dari atas kanan ke kiri, kebawah kiri lalu ke bawah kanan 9igi Susu , C EE E E EC EC C EC C C C E E E E EC E C E

=ontoh , c bawah kanan , EC 9igi 'etap , 1 " 4 7 < 5 8

m" atas kiri , E 6 1A 11 1" 1- 14 17 1<

-" -1 -A "6 "8 "5 "< "7 =ontoh , P" atas kanan , 4 7. =ara 1aderup 9igi Susu , 9igi 'etap , AH AH HA -A H -

"4 "- "" "1 "A 16 18 15 1 bawah kiri , "4

=ontoh , c bawah kanan , A-=ontoh , P" atas kanan , 7H

m" atas kiri , HA7 1 bawah kiri , -1

<. System Scandina+ian $tidak begitu banyak digunakan% H , untuk gigi geligi atas - , untuk gigi geligi bawah =ontoh , P" atas kanan , H7 5. =ara 9. B. Denton 9igi Susu , 9igi 'etap , b c " a d 1 4 =ontoh , c bawah kanan , c.=ontoh , P" atas kanan , ".7 m" atas kiri , a.7 1 bawah kiri , 4.1 " bawah kiri , "-

8. =ara ? D $ ?ederation nternationale Dentaire % 9igi Susu , 9igi Susu , 1. ". ".". dentifikasi Dental Perbandingan Dogma sentral identifikasi dental yaitu bahwa gigi postmortem tetap dapat dibandingkan dengan dental record antemortem, termasuk catatan tertulis, study casts radiografi dll, untuk mengkonfirmasi identitas korban. Seseorang yang sering
14

7 8 1 4

< 5 " -

=ontoh , c bawah kanan , 8=ontoh , P" atas kanan , 17

m" atas kiri , <7 1 bawah kiri , -1

melakukan perawatan gigi biasanya lebih mudah diidentifikasi daripada seseorang yang jarang melakukan perawatan giginya. Pada gigi geligi tidak hanya dapat memperlihatkan perawatan yang melekat atau tertinggal pada gigi korban sebagai sesuatu yang unik dan mudah dikenali, juga dapat bertahan selama postmortem bahkan dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada jaringan tubuh yang lainnya.6 Biasanya, tubuh manusia yang ditemukan dan dilaporkan kepada polisi yang kemudian akan meminta pemeriksaan identifikasi dental. Biasanya terdapat benda pengenal pada korban $misalnya dompet atau i#in mengemudi% pada tubuh korban dan pada benda ini mungkin terdapat catatan antemortem korban. Pada kasus lain, lokasi geografis dimana tubuh korban ditemukan atau karakter fisik lain maupun bukti-bukti tak langsung mungkin dapat membantu dalam membuat identitas diduga, biasanya dengan menggunakan data dari data orang hilang. Dental record antemortem kemudian dapat diperoleh dari data seorang dokter gigi.6 Seorang dokter gigi forensic membuat dental record postmortem dengan menyusun dan menuliskan gambaran struktur maupun gambaran radiologis dental yang didapatkan. (ika catatan dental record antemortem tersedia pada saat itu, gambaran radiografis harus dilakukan untuk membuat replikasi tipe dan sudutnya.6

9ambar <. =ontoh catatan dental postmortem. 6

15

Setelah dental record postmortem telah lengkap, dapat dilakukan perbandingan antara kedua catatan tersebut, postmortem dan antemortem. Diperlukan pemeriksaan perbandingan yang sistematis dan metodik, dengan memeriksa setiap gigi dan struktur di sekitarnya. Balapun ditemukannya suatu bentuk restorasi gigi merupakan point identifikasi yang penting, banyak bagian oral lain yang dapat dinilai. Semakin banyak data ciri-ciri oral yang ditemukan semakin berarti data yang dikumpulkan khususnya pada kasus dengan restorasi gigi minimal. Dengan semakin menurunnya kasus karies gigi, maka kasus non-restorasi akan semakin sering ditemukan.6

9ambar 5. =ontoh perbandingan radiografi dental postmortem dan antemortem untuk menentukan identitas. Pola, bentuk dan ukuran perawatan gigi tampak dalam satu gambar radiografi $record% yang kemudian dibandingkan dengan sifat dan karakteristik yang serupa pada gambar radiografi lainnya. Pada kasus diatas, tampak bahwa kedua foto tersebut berasal dari orang yang sama, menandakan identifikasi positif. 6

Persamaan dan perbedaan yang didapatkan dari kedua dental record $postmortem dan antemortem% harus dicatat. *da dua jenis perbedaan, yaitu perbedaan yang dapat dijelaskan dan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan. Perbedaan yang dapat dijelaskan biasanya berhubungan dengan waktu diantara dental record antemortem dan postmortem misalnya terdapat ekstraksi gigi atau restorasi gigi. Perbedaan yang tidak dapat dijelaskan, misalnya pada antemortem record tidak terdapat gigi sedangkan pada postmortem record terdapat gigi.6 Beberapa kategori yang disarankan digunakan dalam menentukan hasil in+estigasi identifikasi odontology forensik. *merican Board of ?orensic /dontology merekomendasikannya dalam 4 kesimpulan hasil, antara lain, 6
1. Positif Identification (identifikasi posistif : jika dental record antemortem dan

postmortem memiliki kesesuaian untuk dapat diputuskan bahwa kedua data tersebut berasal dari orang yang sama. Sebagai tambahan tidak terdapat perbedaan yang tidak dapat dijelaskan.
2. Possible Identification (kemungkinan identifikasi): jika pada dental record

antemortem dan postmortem memiliki bagian-bagian yang sesuai namun

16

karena kualitas keadaan sisa-sisa tubuh postmortem atau bukti antemortem sehingga tidak memungkinkan mengambil keputusan identitas adalah positif.
3. Insufficient Evidence (barang bukti kurang) : jika data-data yang didapatkan

tidak mencukupi untuk menjadi dasar dalam mengambil keputusan.


4. Exclusion (pengecualian): data antemortem dan postmortem jelas tidak sama.

1.". Profil Dental Postmortem (ika dental record antemortem tidak tersedia dan medote identifikasi lain tidak dapat dilakukan, kedoteran gigi forensic dapat membantu mengurangi jumlah kemungkinan populasi untuk mengidentifikasi jenasah. !etode ini dikenal sebagai profil dental postmortem. nformasi yang didapatkan dari metode ini dapat membantu dalam memfokuskan pencarian dental record antemortem. Dengan profil dental postmortem dapat membantu dalam menemukan informasi mengenai umur, latar belakang keturunan, jenis kelamin dan status ekonomi. Pada beberapa kasus, metode ini dapat memberikan informasi tambahan mengenai pekerjaan, kebiasaan konsumsi makanan, perilaku sehari-hari bahkan penyakit gigi maupun penyakit sistemik.6 Dengan profil dental postmortem dapat membantu mengenali jenis kelamin maupun latar belakang indi+idu. Pada dasarnya, dari bentuk tengkorak, seorang dokter gigi forensic dapat membedakan ras dalam tiga kelompok besar yaitu, &aukasoid, !ongoloid dan )egroid. =iri tambahan pada gigi seperti tonjolan =arabelli, shovel!shape incisor, dan multicusped premolar juga dapat membantu dalam membedakan ras. Penentuan jenis kelamin biasanya dilakukan dengan melihat tampilan tengkorak, karena jenis kelamin tidak memberikan bentuk morfologi ggi yang khas. Pemeriksaan mikroskopi gigi dapat membantu mengenali jenis kelamin dengan melihat ada atau tidak kromatin I serta dengan pemeriksaan D)*.6 Struktur gigi dapat memberikan informasi umur seseorang. 3mur pada anak $termasuk fetus dan neonatus% dapat ditentukan dengan analisa perkembangan gigi dan membandingkannya dengan table perkembangan gigi geligi. &esimpulan biasanya akurat hingga sekitar 1,7 tahun. 'abel perbandingan yang biasa digunakan adalah table 3belaker, yang mengilustrasikan perkembangan gigi geligi dari umur 7 bulan antenatal hingga umur -7 tahun. /leh karena itu, table ini memperlihatkan gambaran susunan gigi dari gigi susu, campuran gigi susu dan permanen, hingga susunan gigi permanen. 9igi molar ketiga digunakan oleh beberapa ahli gigi forensik yang menandakan usia dewasa muda. 'erdapatnya tanda penyakit periodontal, pemakaian berlebihan, multiple restoration ekastraksi, dapat memberikan informasi

17

usia yang lebih tua. Beberapa ahli gigi forensic menggunakan pemeriksaan rasemisasi asam aspartat, metode S>!->DE* $pemeriksaan dentin untuk menentukan umur%. Beberapa penelitian terbaru di *merika Serikat menggunakan panjang akar gigi dalam menentukan usia pada anak.6 Didapatkan erosi pada gigi mengarahkan pada penggunaan alkohol atau penyalahgunaan #at sedangkan noda pada gigi mengarahkan pada kebiasaan merokok, pengunaan tetrasiklin atau kebiasaan mengunyah sirih. &ualitas, kuantitas serta ada tidaknya perawatan dental memberikan informasi status ekonomi atau kemungkinan negara tempat tinggalnya. (ika profil dental postmortem tidak dapat menunjukkan kemungkinan identitas jena#ah maka dibutuhkan rekonstruksi tampilan indi+idu saat hidup dengan bantuan profil dental.6 1.-. Penentuan 3mur Berdasarkan Pemeriksaan 9igi Penentuan 3mur pada anak , a. Pendekatan *tlas $!orfologi%1A 'eknik ini menggunakan gambaran radiografi gigi dimana dapat dilihat perbedaan tingkat mienralisasi pada setiap gigi. Dibandingkan mineralisasi tulang, proses mineralisasi gigi kurang dipengaruhi oleh keadaan nutrisi dan status endokrin, sehingga memberikan informasi yang lebih akurat dalam menentukan umur. 1% 'ables "chour and #assler$ 'able Schour dan !assler merupakan pendekatan atlas yang klasik. Schour dan !assler menggambarkan "A urutan perkembangan gigi dimulai sejak usia 4 bulan kelahiran hingga usia "1 tahun. Dilakukan perbandingan perkembangan gigi seseorang dengan tabel hingga dapat menentukan estimasi usia.
2) #oorrees et all, membuat tabel berdasarkan maturasi gigi permanen dalam

14 tingkat dimulai sejak awal pembentukan penonjolan gigi hingga penutupan apeks sempurna, dan dibuat tabel berbeda untuk pria dan wanita.
3) Anderson et all, melanjutkan tabel #oorrees et all hingga gigi molar ketiga. a. Sistem Skor1A

Demirjian et all menyederhanakan estimasi kronologi perkembangan gigi dalam 8 tingkat $*-1%, dan membatasinya untuk 5 gigi pertama mandibula kiri. 'abel perkembangan gigi Demirjian et all ini dibuat berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan. 3ntuk menentukan usia seorang anak kedelapan skor tersebut dijumlahkan untuk mendapatkan kronologi usia.

18

9ambar 8. 'abel presentasi perkembangan gigi oleh Demirjian et all. 1A

Penentuan umur pada orang dewasa , a. 'eknik !orfologi 1% !etode 9ustaffson Penentuan umur berdasarkan table 9ustaffson pada umumnya bermanfaat selama gigi masih dalam masa pertumbuhan. 3ntuk memperkirakan umur seseorang setelah masa itu digunakan < metode, antara lain ,
1. *trisi

Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami keausan yang sesuai dengan bertambahnya usia. ". Sekunder dentin Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia maka sekunder dentin akan semakin tebal. -. 9inggi+a attachment Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara perlekatan gusi dan gigi. 4. Pembentukan foramen apikalis Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.
5. 'ransparansi akar gigi

19

Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal ini dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama kehidupan. <. Sekunder sement &etebalan semen sangat berhubungan dengan usia. Dengan bertambahnya usia ketebalan sement pada ujung akar gigi juga semakin bertambah. Setiap parameter diatas diberi skala berbeda $dari 1--% dan dengan menjumlahkan keenam parameter tersebut didapatkan perkiraan kronologi usia. a. 'eknik 0adiografi
1) %vaal et all mengembangkan teknologi untuk menentukan perkiraan umur

menilai ukuran pulpa gigi dari gambaran radiografi periapical dari tipe gigi , insisi+us sentral dan lateral maksila, kaninus, dan premolar pertama. Perkiraan umur berdasarkan jenis kelamin dan perhitungan beberapa ratio panjang dan lebar pulpa untuk mengimbangi pembesaran dan angulasi dari gambar gigi yang asli dengan gambaran radiografi.
2) %vaal and "olheim juga mempresentasikan metode yang mengkombinasikan

teknik morfologi dan radiografi untuk menentukan perkiraan umur. Berdasarkan gigi yang diukur, beberapa parameter yang dinilai , translusensi apical dalam mm $'%, retraksi ligamentum periodontal dalam mm $P%, panjang pulpa yang diukur dari gambar radiografi $P2%, panjang akar gigi yang diukur dari permukaan mesial gambar radiologi $02%, lebar pulpa pada daerah cementoenal junction pada gambar radiografi $PB=%, lebar akar pada daerah cementoenal junction pada gambar radiografi $0B=%, lebar pulpa pada daerah pertengahan akar $0B!%, lebar akar pada daerah pertengahan akar $0B!%. a. !etode *sam *spartat 1apusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan usia berdasarkan pada terdapatnya bahan tersebut pada dentin manusia. &omponen protein terbanyak pada tubuh manusia berbentuk 2-amino *cid, D-amino acid yang ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa mata. D-amino acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang lambat dan tiap bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih lambat dan mempunyai ratio dekomposisi yang lebih lambat juga. *sam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan paling tinggi dari semua asam amino. Pada 165< 1elfman dan Bada menggunakan informasi ini untuk mempelajari perkiraan umur dengan membandingkan rasio D-2aspartat acid dengan "A subyek

20

dengan hasil bagus $r J A,656% rasio yang tinggi pada D.2 rasio banyak ditemukan pada usia muda dan menurun akibat pertambahan usia dan perubahan lingkungan. Pada tahun 166A 0it# et al. melaporkan adanya asam aspartat pada dentin untuk menentukan usia pada orang yang telah meninggal, berdasarkan hal tersebut metode ini dapat menyediakan informasi yang lebih akurat tentang penentuan usia dibandingkan dengan parameter yang lain. 3ntuk penentuan usia digunakan persamaan linier sebagai berikut , Ln &# ' D(L) ( &# D(L) * +k &as,a!tat)t ' konstanta & , first order kinetik t , actual age 9igi yang digunakan dalam kasus ini adalah gigi seri tengah bagian bawah dan premolar pertama. !ereka menemukan perkiraan umur yang lebih baik dari fraksi total asam amino dengan membagi menjadi fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide. Dibandingkan dengan total asam amino, fraksi kolagen yang tidak larut dan fraksi peptide yang terlarut, mempunyai konsentrasi glutamine dan asam aspartat yang lebih tinggi.11 1. ". ".1. ".". ".-. ".4. ".7. Peranan ?orensik /dontologi Dalam menangani bencana !assal &ematian yang tidak wajar atau tidak terduga, atau dalam kondisi bencana massal, kerusakan fisik yang direncanakan, dan keterlambatan dalam penemuan jena#ah, bisa mengganggu identifikasi. Dalam kondisi inilah forensik odontologi diperlukan walaupun tubuh korban sudah tidak dikenali lagi.8 dentifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah kemanusiaan dan hukum. !asalah kemanusian menyangkut hak bagi yang meninggal, dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman berdasarkan agama dan permintaan keluarga. !engenai masalah hukum, seseorang yang tidak teridentifiksi karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila telah mencapai 5 tahun atau lebih. Dengan demikian surat wasiat, asuransi, masalah pekerjaan dan hukum yang perlu diselesaikan, serta masalah status pernikahan menjadi tidak berlaku lagi.

21

Sebelum sebab kematian ditemukan atau pemeriksa medis berhasil menentukan jena#ah yang sulit diidentifikasi, harus diingat bahwa kegagalan menemukan rekaman gigi dapat mengakibatkan hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan semua harapan keluarga, sehingga sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang sebelum dia meninggal.8 ".<. dentifikasi ?orensik /dontologi &etika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. 1al ini dapat membantu untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan.memperkuat identitas korban. 1. Penentuan 3sia Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 17 tahun. dentifikasi melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada pemeriksaan antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali pada minggu ke < intra uteri. !ineralisasi gigi dimulai saat 1" @ 1< minggu dan berlanjut setelah bayi lahir. 'rauma pada bayi dapat merangsang stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. &elainan sel ini akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut sebagai neonatal line. )eonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk. &etika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap pada usia 14 @ 1< tahun. ni bukan referensi standar yang dapat digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.8

22

9ambar 6. 9ambaran E-ray gigi pada seorang anak.8

9ambar diatas memperlihatkan gambaran panoramic E ray pada anak , 1. 9ambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan perkembangan pada usia 6 tahun $pada usia < tahun terjadi erupsi dari akar gigi molar atau gigi < tapi belum tumbuh secara utuh%. ". Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan !assler pada gambar $b% menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 6 tahun. Penentuan usia antara 17 dan "" tahun tergantung dari perkembangan gigi molar tiga yang pertumbuhannya ber+ariasi. Setelah melebihi usia "" tahun, terjadi degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang lambat dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.8 ". Penentuan (enis &elamin 3kuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. 9igi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. *nderson mencatat bahwa pada 57G kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari <,5 mm, sedangkan pada pria lebih dari 5 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan D)* dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.8 -. Penentuan 0as 9ambaran gigi untuk Ras Mon-o%oid adalah sebagai berikut,8
1. "hovel!shaped insisi+us. nsisi+us pada maksila secara nyata menunjukkan

bentuk sekop pada 87-66G ras mongoloid. " sampai 6 G ras kaukasoid dan

23

1" G ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas. ". Dens evaginatus. 'uberkel asecoris pada permukaan oklusal premolar bawah pada 1-4G ras mongoloid. -. *kar distal tambahan pada molar pertama mandibula ditemukan pada "AG mongoloid dan hanya 1G pada kaukasoid.. 4. 2engkungan palatum berbentuk elips dengan dasar yang lebih datar. 7. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

9ambar 1A. Sho+el-shaped incisors pada seorang wanita =hina.8

9ambaran gigi untuk Ras Ka.kasoid adalah sebagai berikut, 1. &usp &arabelli, yakni berupa tonjolan tambahan pada permukaan mesiolingual yang hamper selalu ditemukan pada gigi molar pertama permanen maksilaris dan pada gigi susu molar kedua mandibularis. ". Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula. -. !aloklusi pada gigi anterior. 4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola. 7. Dagu menonjol.

9ambar 1A. !esiolingual cusps of =arabelli pada gigi molar pertama atas dari seorang ras =aucasoid.8

24

9ambaran gigi untuk 0as Ne-!oid adalah sebagai berikut,


1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan pada

permukaan lingual.
2. Sering terdapat open bite. 3. Palatum lebar, hiperbolik, dengan dasar palatum sempit. 4. Sering didapatkan maloklusi klas

7. Palatum berbentuk lebar. <. Protrusi bimaksila, tulang al+eolar maksila dan mandibula menonjol dengan gigi seri miring ke arah labium ras mongoloid dan non-*nglo =aucasoid juga dapat memperlihatkan hal tersebut namun lebih sering ditemukan pada populasi negroid. 5. Sekitar "A persen orang ras negroid sudah tidak menunjukkan cirri tersebut karena telah terjadi perkawinan silang ras.
8. 'uberkulum intermedium, terdapat penonjolan tambahan diantara distolingual

dan mesiolingual pada gigi molar pertama.8 #. Ana%isis DNA. 'ergantung pada karakteristik khusus dari sebuah insiden, pendekatan prosedur identifikasi akan berbeda Dalam banyak kasus penyelidikan gigi atau sidik jari akan cukup memadai. Dalam kasus lain dengan, dengan keadaan yang sangat membusuk atau ada banyak potongan tubuh, analisis dan perbandingan D)* mungkin metode terbaik untuk digunakan. Dalam keadaan seperti itu, D)* mungkin menjadi sarana utama untuk mendapatkan identifikasi yang dapat diandalkan. &eputusan apakah analisis D)* akan dilakukan diambil oleh kepala 'im dentifikasi &orban dalam konsultasi dengan laboratorium forensik yang tepat.1 'eknik-teknik identifikasi genetika memberikan suatu perangkat diagnostik yang sangat kuat dalam kedokteran forensik dan dapat secara sukses diterapkan pada identifikasi korban-korban bencana. Data genetika dari seseorang selalu sama pada seluruh sel-sel tubuhnya dan akan tetap konstan bahkan setelah meninggal. *nalisis dari sebuah sampel biologis akan memungkinkannya mengaitkan seseorang dengan nenek.kakek moyang dengan keturunannya dan data dari analisis-analisis ini dapat dengan mudah dikomputerisasikan.1 Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bentuk yang berbeda dari struktur dasar yang sama. (ika terdapat +ariasi.modifikasi pada suatu lokus

25

yang speifik $pada D)*% dalam suatu populasi, maka lokus tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini di samping menunjukkan +ariasi indi+idu, juga memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari orang lain." Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme D)*. Polimorfisme protein antara lain ialah sistem golongan darah, golongan protein serum, system golonngan eritrosit,d dan system 12* $'uman Lymphocyte Antigen%. Polimorfisme D)* merupakan suatu polimorfisme pada tingkat yang lebih awal dibandingkanpolimorfisme protein, yaitu pada tingkat kode genetic atau D)*." Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein, pemeriksaan polimorfisme D)* menunjukkan beberapa kelebihan. Pertama, polimorfisme D)* menunjukkan tingkat polimorfis yang jauh lebih tinggi, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan terhadap banyak system. &edua, D)* jauh lebih stabil dibandingkan protein, membuat pemeriksaan D)* dimungkinkan pada bahan yang sudah membusuk, mengalami mumifikasi atau bahkan pada jena#ah yang tinggal kerangka saja. &etiga, distribusi D)* sangat luas meliputi seluruh sel tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin untuk digunakan sebagai bahan pemeriksaan. &eempat, dengan ditemukannya metode P=0, bahan D)* yang kurang segar dan sedikit jumlahnya masih mungkin untuk dianalisis."

1. ". -. -.1. Definisi *sam deoksi-ribonukleat $DeoKyribonucleic *cid J D)*%, yang biasanya dimaksud :the blueprint of life; membawa informasi geneetik yang dibutuhkan oleh suatu organisme untuk berfungsi. Struktur D)* adalah :untaian ganda; $double heliK%, yaitu dua untai bahan genetik yang membentuk spiral satu sama lain. Setiap untaian terdiri dari satu deretan basa $juga disebut nukleotida%, yang terdiri dari grup bahan kimia yang berbeda, basa, gula $deoKyribose%, dan fosfat. Basa dimaksud

26

adalah salah satu dari keempat senyawa kimiawi berikut, *denin, 9uanin, =ytosine dan 'hymine.1" Struktur kimiawi D)* dari setiap orang adalah sama, yang berbeda hanyalah urutan.susunan dari pasangan basa yang membentuk D)* tersebut. *da jutaan pasangan basa yang terkandung dalam D)* setiap orang, di mana urutan.susunan basa-basa tersebut berbeda untuk setiap orang. Berdasarkan perbedaan urutan.susunan basa-basa dalam D)* tersebut, setiap orang dapat diidentifikasi. )amun demikian, karena ada jutaan pasangan basa, pekerjaan tersebut akan membutuhkan waktu yang lama. Sebagai penggantinya, para ahli dapat menggunakan metode yang lebih pendek, yaitu berdasarkan adanya pola pengulangan urutan.deretan basa dalam D)* setiap orang."
3.2. Pengambilan Sampel 1

a% *nte !ortem Sampel Diperhitungkan risiko untuk informasi palsu pilihan sampel maka referensi D)* *nte !ortem harus,

&erabat dekat pertama, jika mungkin lebih dari satu. D)* profil dari tingkat pertama kerabat akan selalu memberikan informasi yang memadai untuk pencocokan. Dalam kebanyakan kasus itu juga akan mungkin untuk menemukan dan mengambil sampel dari lebih dari satu relatif. Donor yang cocok tercantum dalam urutan preferensi di bawah ini, !ono#igot . kembar identik. bu dan ayah biologis dari korban. bu biologis atau ayah biologis dari korban dan jika mungkin saudara kandung. *nak-anak biologis dan pasangan korban. Saudara kandung dari korban $beberapa% Sampel yang biasa dipilih adalah apusan mukosa bukal dan tetes darah yang diambil dari ujung jari

Darah atau biopsi sampel dari korban potensial. 2ain situasi yang ideal, D)* sampel referensi diperoleh dari sampel yang diambil untuk pemeriksaan medis atau analisis yang sama sebelum kematian almarhum dan disimpan dalam bio-bank atau lainnya bio-medis sumber D)*

27

$seperti rumah sakit, unit patologi, dan ayah dan darah laboratorium transfusi%.

Pribadi benda-benda yang telah digunakan oleh almarhum. 1al ini juga mungkin untuk mendapatkan sampel referensi dari benda-benda yang telah digunakan oleh almarhum. Penting untuk membangun sejak awal apakah obyek diproses milik dan digunakan secara eksklusif oleh indi+idu yang bersangkutan. (ika suatu benda $misalnya sikat rambut% tidak digunakan hanya oleh orang yang bersangkutan, identitas orang kedua harus ditentukan, dan sampel D)* harus diambil dari orang untuk tujuan perbandingan. Sebagai obyek sebanyak mungkin harus diperoleh untuk tujuan pengumpulan D)* *!, karena mungkin bahwa item indi+idu dari bukti tidak akan menghasilkan hasil analisis yang diinginkan. =ontoh barang-barang yang dimungkinkan untuk mengekstrak D)*, pisau cukur, gelas, sikat gigi, sisir, lipstik, deodoran rol, cangkir dan gellas yang digunakan, puntung rokok, helm dan topi, headphone, kacamata, perhiasan, dan jam tangan.

'abel 1. Bahan pengambilan sampel untuk profil D)*.< b% Post !ortem Sampel 'ingkat keberhasilan untuk sidik D)* tergantung pada seberapa cepat sampel diperoleh dan dipelihara. Selama pengumpulan sampel, ahli genetika forensik atau patologi dengan pengetahuan dasar tentang genetika forensik harus hadir untuk memberikan bimbingan untuk koleksi D)* sampel. 'ergantung pada kondisi korps, berbagai jenis jaringan dikumpulkan,

28

Keadaan T./.0 2engkap, mayat belum membusuk 'ermutilasi, mayat belum memusuk 2engkap, mayat sudah membusuk atau termutilasi

Reko"endasi Sa",e% Darah $pada kertas ?'* atau apusan% dan apusan mukosa ukal (ika memungkinkan, darah dan jaringan otot dalam. Sampel dari tulang kompak panjang $bagian 4-< cm, bagian jendela, tanpa pemisahan shaft% *tau. 9igi sehat $sebaiknya molar% *tau. Setiap tulang lain yang tersedia jika mungkinL sebaiknya tulang kortikal dengan jaringan padat% Semua sampel yang tercantum di atas dan gigi yang impaksi atau akar gigi jika ada atau *pusan dari kandung kemih

!ayat yang terbakar hebat

'abel ". Pemilihan sampel berdasarkan keadaan mayat. 1 1. ". -. -.1. -.". -.-. Pemeriksaan Polimorfisme D)* *da banyak yang jumlah sampel yang bisa diterima untuk pemeriksaan profil D)*. Prosedur pastinya termasuk pengumpulan sampel, penyimpanan sampel, dan ekstraksi D)* dari beragam sampel.< Pemeriksaan polimorfisme D)* meliputi pemeriksaan Sidik D)* $D)* (ingerprint%, C)'0 $)ariable *umber of Tandem +epeats% dan 0?2P $+estriction (ragment Length Polymorphisms%, secara "outhern ,lot maupun dengan P=0 $Polymerase &hain +eaction%."
a) Cariable )umber 'andem 0epeats $C)'0%

Setiap untaian D)* mempunyai bagian yang membawa informasi genetik yang menginformasikan pertumbuhan suatu organisme, bagian ini disebut :
29

e-ons :, dan bagian yang tidak membawa informasi genetik, yang disebut : introns :. )amun demikian, introns bukanlah sesuatu yang tidak berguna, telah ditemukan bahwa introns mengandung ;deretan pasangan basa terulang:. Deretan ini disebut :)ariable *umber Tandem +epeats: $C)'0% yang dapat tersusun dari dua-puluh hingga seratus pasangan basa. Setiap manusia mempunyai beberapa C)'0. 3ntuk menentukan apakah seseorang mempunyai C)'0 khusus, dibuat suatu :southern blot:, kemudian southern blot tersebut di-probe-kan, selanjutnya melalui reaksi hibridisasi dengan suatu +ersi radioaktif dari C)'0 yang dipertanyakan. Pola yang dihasilkan dari proses ini dianggap sebagai sidik jari D)*. C)'0s seseorang berasal dari informasi genetik yang diwariskan oleh kedua orang tuanya $ibu dan bapak%. Dia dapat memiliki C)'0 yang diwariskan dari bapaknya atau dari ibunya, atau kombinasi dari keduanya, tetapi mustahil tidak ada dari keduanya. :"outhern ,lot: adalah salah satu cara untuk menganalisis pola-pola genetik yang muncul dalam D)* seseorang. 'ahapan-tahapan pekerjaan :Southern ,lot:, meliputi,"
1.

solasi D)*, yang dipermasalahkan yang berasal dari sisa-sisa bahan sel di dalam inti sel. Pekerjaan ini dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan detergent khusus untuk mencuci bahan ekstra dari D)*, atau secara mekanis, dengan menerapkan tekanan tinggi untuk melepaskan D)* dari bahan-bahan sel lainnya.

2. Pemotongan D)* menjadi beberapa potongan dengan ukuran yang berbeda.

Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan satu atau lebih :en#im pemotong; $restriction en#ymes%.
3. Penyortiran potongan D)* berdasarkan ukurannnya. Suatu proses di mana

dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran atau :fraksinasi ukuran: dengan menggunakan cara yang disebut :elektroforesis gel: $gel electrophoresis%. D)* dimasukkan ke dalam gel $seperti agarose%, dan muatan listrik diterapkan pada gel tersebut, dengan muatan positif pada dasar wadah gel, dan muatan negatif pada puncak wadah. &arena D)* bermuatan negatif, maka potongan D)* akan tertarik ke arah dasar gel. )amun demikian, potongan-potongan kecil dari D)* akan dapat bergerak lebih cepat, dan karenanya berada lebih jauh dari dasar dibandingkan dengan potonganpotongan yang lebih besar. Berdasarkan prinsip di atas, potongan D)*

30

dengan ukuran yang berbeda akan terpisah, potongan yang lebih kecil lebih dekat ke dasar, dan potongan yang lebih besar lebih dekat ke puncak.
4. Denaturasi D)*, agar semua D)* berubah menjadi untai tunggal. 1al ini

dapat dilakukan dengan cara pemanasan atau dengan perlakukan kimiawi terhadap D)* yang terdapat di dalam gel.
5. Blotting D)*. 9el dengan D)* yang sudah terfraksinasi berdasarkan

ukurannya diterapkan pada lembaran kertas nitrosellulosa sehingga D)* tersebut dapat melekat secara tetap pada lembaran tersebut. 2embaran ini disebut ;Southern blot%. Sekarang :southern blot : sudah siap dianalisis. 3ntuk menganalisis suatu :southern blot : digunakan suatu :probe; genetik radioaktif yang akan melakukan reaksi hibridisasi dengan D)* yang dipertanyakan. (ika suatu sinar-E dikenakan pada :southern blot; setelah :probe-radioaktif; dibiarkan berikatan dengan D)* yang telah terdenaturasi pada kertas, hanya area di mana :probe radioaktif; berikatan yang terlihat pada film. &eadaan ini yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi D)* seseorang dari kejadian dan frekwensi pemunculan pola genetik khusus yang terkandung pada probe.

9ambar 11. *nalisis Southern Blot.


31

b% 0estriction ?ragment 2ength Polymorphisms $0?2P% Polimorfisme yang dinamakan 0estriction ?ragment 2ength Polymorphisms $0?2P% adalah suatu polimorfisme D)* yang terjadi akibat adanya +ariasi panjang fragmen D)* setelah dipotong dengan en#im restriksi tertentu. Suatu en#im restriksi memunyai kemampuan untuk memotong D)* pada suatu urutan basa tertentu sehingga akan menghasilkan potongan-otongan D)* tertentu. *danya mutasi tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat D)* yang biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong sehigga terbentuk fragmen D)* yang lebih panjang. Cariasi inilah yang menjadi dasar meted analisis 0?2P." C)'0 yang telah dibicarakan di atas sesungghnya adalah salah satu jenis 0?2P, karena +ariasi fragmennya didapatkan setelah pemootongan dengan en#im rstriksi. !etode pemeriksaan 0?2P dapa dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga dengan metode P=0."

c) Polymerase =hain 0eaction $P=0%

!etode P=0 $Polymerase =hain 0eaction% adalah suatu metode untuk memperbanyak fragmen D)* tertentu secara in +itro dengan menggunakan en#im polymerase D)*. Secara prinsip, P=0 merupakan proses yang diulangulang antara "A@-A kali siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap bekerjanya P=0 dalam satu siklus,"
1. 'ahap peleburan $melting% atau denaturasi. Pada tahap ini $berlangsung pada

suhu tinggi, 64@6< M=% ikatan hidrogen D)* terputus $denaturasi% dan D)* menjadi berberkas tunggal. Biasanya pada tahap awal P=0 tahap ini dilakukan agak lama $sampai 7 menit% untuk memastikan semua berkas D)* terpisah. Pemisahan ini menyebabkan D)* tidak stabil dan siap menjadi templat $NpatokanN% bagi primer. Durasi tahap ini 1@" menit. ". 'ahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian D)* templat yang komplementer urutan basanya. ni dilakukan pada suhu antara 47@<A M=. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap ini 1@" menit.

32

3. 'ahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis

D)* polimerase $ditunjukkan oleh P pada gambar% yang dipakai. Dengan 'aO-polimerase, proses ini biasanya dilakukan pada suhu 5< M=. Durasi tahap ini biasanya 1 menit. 2epas tahap -, siklus diulang kembali mulai tahap 1. *kibat denaturasi dan renaturasi, beberapa berkas baru $berwarna hijau% menjadi templat bagi primer lain. *khirnya terdapat berkas D)* yang panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai. (umlah D)* yang dihasilkan berlimpah karena penambahan terjadi secara eksponensial.

9ambar 1". Siklus P=0. 14

Pada masa sebelum berkembangnya teknologi biomolekular, identifikasi personal dilakukan hanya dengan memanfaatkan pemeriksaan polimorfisme, seperti golongan darah, dengan segala keterbatasannya. &eterbatasan pertama, ia hanya dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena protein cepat rusak oleh pembusukan. &eterbatasan kedua, ia hanya dapat memberikan kesimpulan eksklusi yaitu :pasti bukan; atau :mungkin;." Penemuan sidik D)* yang menawarkan metode eksklusi dengan kemampuan eksklusi yang amat tinggi membuatnya menjadi metode pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih baik karena ia mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidik jari." Metode Identifikasi Sek.nde!

33

dentifikasi meliputi deskripsi pribadi, temuan medis serta bukti dan pakaian yang ditemukan pada tubuh. ni berarti identifikasi berfungsi untuk mendukung identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi." &ategori ini mencakup semua efek yang ditemukan pada tubuh korban $misalnya perhiasan, barang dari pakaian, dokumen identifikasi pribadi, dll%. tem terukir pada perhiasan dapat memberikan petunjuk penting mengenai identitas korban. Penting untuk dipertimbangkan, bagaimanapun, bahwa item tertentu mungkin tidak benar-benar bukti milik tubuh tertentu $misalnya surat-surat identitas dapat dilakukan oleh orang yang berbeda, barang perhiasan atau pakaian mungkin telah dipinjamkan sengaja untuk indi+idu lain, selama pengambilan, item mungkin tidak sengaja telah ditempatkan dalam satu kantong mayat%. Produk perhiasan memiliki nilai identifikasi yang lebih tinggi jika mereka terpasang kuat ke tubuh korban $misalnya tindikan%."

9ambar 1". !etode identifiksi sekunder.1

1. Deskripsi pribadi.temuan medis 1

!etode ini menggunakan data umum dan data khusus. Data umum meliputi tinggi badan, berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan sejenisnya.Data khusus meliputi tatto, tahi lalat, jaringan parut, cacat kongenital, patah tulang dan sejenisnya. !etode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara.modifikasi $termasuk pemeriksaan dengan sinar-E% sehingga ketepatan nya cukup tinggi. Bahkan pada tengkorak.kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. !elalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya. Pria 2ebih kecil dari bahu Besar (arang berkembang !enonjol 'idak ada
34

Panggul Posture Payudara (akun Striae

Banita 2ebih lebar dari bahu &ecil Berkembang 'idak menonjol *da, payudara dan bokong

0ambut pubis 0ambut &elamin dalam 'engkorak Proporsi perut Paha

'ebal, tumbuh melebar - 2urus,

hanya

di

mons

pusar +eneris *da di wajah, dada 'idak ada 'estis, prostate, +esikula /+arium,tuba

fallopi,

seminalis +agina 2ebih besar, berat dan 2ebih kecil, ringan dan tebal 2ebih kecil Bentuk silinder tipis 2ebih besar Bentuk kerucut

. 'abel -. Perbedaan umur jenis kelamin pria dan wanita."

!etode ini hanya dapat dilakukan bila keadaan tubuh, terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut. !etode ini dilakukan dengan memperlihatkan jena#ah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. =ara ini hanya efektif pada jena#ah yang belum membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang. 1al ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jena#ah tersebut.
2. !etode kepemilikan, seperti pakaian, perhiasan, dokumen."

Dokumen seperti kartu identitas $&'P, S !, Paspor% dan sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali jena#ah tersebut. Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jena#ah belum tentu adalah milik jena#ah yang bersangkutan. Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jena#ah, mungkin dapat diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang semuanya dapat membantu proses identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jena#ah tersebut. &husus anggota *B0 , identifikasi dipemudah oleh adanya nama serta )0P yang tertera pada kalung logam yang dipakainya

35