PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KALANGAN ORANG SUMATRA (Studi Kasus di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan

II, Kota Lubuk Linggau Sumatra Selatan Tahun 2004-2006)

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Disusun Oleh : MAIMUN NIM. 211 02 029

JURUSAN SYARIAH PROGRAM STUDI AL AHWAL AL SYAKHSYIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA 2007

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... DEKLARASI .................................................................................................. NOTA PEMBIMBING .................................................................................... PENGESAHAN .............................................................................................. MOTTO .......................................................................................................... PERSEMBAHAN ........................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ......................................................... B. Pokok Masalah ....................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan ............................................................ D. Telaah Pustaka ........................................................................ E. Kerangka Teori ....................................................................... F. Metode Penelitian ................................................................... G. Sistematika Pembahasan ........................................................ BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERNIKAHAN DI

i ii iii iv v vi vii ix

1 5 5 6 8 9 12

BAWAH UMUR A. Pengertian Pernikahan ............................................................ B. Pandangan Secara Biologis dan Psikologi tentang Masa Dewasa ................................................................................... 19 15

ii

C. Usia Pernikahan Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1/1974............................................................................... D. Pernikahan di Bawah Umur ................................................... BAB III PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KELURAHAN KARANG KETUAN, KECAMATAN LUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU A. Gambaran Umum Kota Lubuk Linggau ................................ B. Pelaksanaan Pernikahan di Bawah Umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau ........................................................................ C. Faktor-faktor Penyebab Pernikahan di Bawah Umur ............ D. Dampak Pernikahan di Bawah Umur ..................................... BAB IV ANALISA PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI 28 32 38 25 21 22

KELURAHAN KARANG KETUAN, KECAMATAN LUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU A. Faktor-faktor Penyebab Pernikahan di Bawah Umur ............ B. Analisa Dampak Pernikahan di Bawah Umur ........................ BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................. B. Saran-saran ............................................................................. DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN 54 56 41 50

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang sangat dimuliakan Allah, sehingga di dalam kebutuhan biologisnya diatur dalam hukum perkawinan. Oleh karena itu, manusia terdorong untuk melakukan hubungan diantara lawan jenis sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam itu sendiri. Hal ini diharapkan agar manusia di dalam berbuat tidak menuruti hawa nafsu semata. Di dalam Al Qur'an surat An Nisa ayat 1, Allah telah menganjurkan adanya pernikahan, adapun firman-Nya :

‫ﻳﺎأﻳﻬ ﺎ اﻟﻨ ﺎس اﺗﻘ ﻮا رﺑﻜ ﻢ اﻟ ﺬي ﺧﻠﻘﻜ ﻢ ﻣ ﻦ ﻧﻔ ﺲ واﺣ ﺪة وﺧﻠ ﻖ‬ ‫ﻣﻨﻬﺎ زوﺟﻬﺎ وﺑﺚ ﻣﻨﻬﻤﺎ رﺟ ﺎﻻ آﺜﻴ ﺮا وﻧ ﺴﺎء واﺗﻘ ﻮا اﷲ اﻟ ﺬي‬ (1) ‫ﺗﺴﺎءﻟﻮن ﺑﻪ واﻷرﺣﺎم إن اﷲ آﺎن ﻋﻠﻴﻜﻢ رﻗﻴﺒﺎ‬
Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.1 Islam memberi wadah untuk merealisasikan keinginan tersebut sesuai dengan syariat Islam yaitu melalui perkawinan yang sah.

Departemen Agama RI, Al Qur'an Terjemah, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur'an, Jakarta, 1980, hlm. 114

1

Perkawinan suatu cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembang baik dan kelestarian hidupnya, setelah masingmasing pasangan siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan.2 Sebagaimana firman Allah surat Al Hujurat ayat 13

‫ﻳﺎأﻳﻬ ﺎ اﻟﻨ ﺎس إﻧ ﺎ ﺧﻠﻘﻨ ﺎآﻢ ﻣ ﻦ ذآ ﺮ وأﻧﺜ ﻰ وﺟﻌﻠﻨ ﺎآﻢ ﺷ ﻌﻮﺑﺎ‬ ‫وﻗﺒﺎﺋ ﻞ ﻟﺘﻌ ﺎرﻓﻮا إن أآ ﺮﻣﻜﻢ ﻋﻨ ﺪ اﷲ أﺗﻘ ﺎآﻢ إن اﷲ ﻋﻠ ﻴﻢ‬ (13)‫ﺧﺒﻴﺮ‬
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.3 Adapun perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk hidup berumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.4 Oleh karena itu, pernikahan harus dapat dipertahankan oleh kedua belah pihak agar dapat mencapai tujuan dari perkawinan tersebut, sehingga dengan demikian perlu adanya kesiapan-kesiapan dari kedua belah pihak baik mental maupun material. Artinya secara fisik laki-laki dan perempuan sudah sampai pada batas umur yang bisa dikategorikan menurut hukum positif dan baligh menurut hukum Islam. Akan tetapi faktor lain yang sangat penting yaitu kematangan dalam berfikir dan kemandirian dalam hidup (sudah bisa

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah , Darul Fikry, Beirut, t.t., hlm. 19 Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 847 4 Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan, Peraturan Pelaksanaan, PT.Pradya Paramita, Jakarta, 1974, Pasal 1
3

2

2

memberikan nakah kepada isteri dan anaknya). Hal ini yang sering dilupakan oleh masyarakat. Sedangkan tujuan yang lain dari perkawinan dalam Islam selain untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani maupun rohani manusia juga sekaligus untuk membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan dalam menjalani hidupnya di dunia ini, juga pencegah perzinahan, agar tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang bersangkutan, ketentraman keluarga dan masyarakat.5 Sementara itu, sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri, muncul permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, yaitu sering terjadinya pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang belum cukup umur untuk melakukan pernikahan. Masalah batas umur untuk bisa melaksanakan pernikahan sebenarnya telah ditentukan dalam UU No. 1/1974 pasal 7 ayat (1), bahwa pernikahan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahundan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Ketentuan batas umur ini, seperti disebutkan dalam kompilasi pasal 15 ayat (1) didasarkan kepada pertimbangan kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan ini sejalan dengan prinsip yang diletakkan UU perkawinan, bahwa calon suami istri harus telah siap jiwa raganya, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.

5

Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996,

hlm. 26-27

3

Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami istri yang masih di bawah umur.6 Di sini penulis akan mengadakan penelitian mengenai pernikahan di bawah umur yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan, Kota Lubuk Linggau. Dimana Kota Lubuk Linggau ini terbagi menjadi delapan kecamatan, yaitu kecamatan Lubuk Linggau Utara I dan II, kecamatan Lubuk Linggau Barat I dan II, Kecamatan Lubuk Linggau Timur I dan II, dan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan I dan II. Dan setiap kecamatan mengepalai sembilan kelurahan. Sedangkan kelurahan Karang Ketuan terletak di Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, dan Kelurahan Karang Ketuan terbagi menjadi beberapa RT. Sedangkan kelurahan Karang Ketuan dijadikan sebagai objek penelitian bagi penulis. Karena masih banyaknya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan di bawah umur, faktor-faktor tersebut, yaitu karena dijodohkan oleh orang tua, faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor agama, faktor adat dan budaya, dan karena faktor kemauan anak. Pernikahan dibawah umur ini sangat menarik untuk diteliti, oleh sebab itu penulis mencoba mengangkat persoalan yang terjadi dalam masyarakat dengan judul “PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KALANGAN ORANG SUMATRA (Studi Kasus di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau Sumatra Selatan Tahun 20042006 untuk diteliti kebenarannya dengan obyek penelitian warga masyarakat
6

Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998,

4

Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. B. Pokok Masalah Berdasarkan pada pemikiran di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian adalah : 1. Bagaimana tata cara pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan ? 2. Bagaimana ketentuan perundang-undangan tentang pernikahan di bawah umur ? 3. Apa faktor penyebab pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan ? 4. Apa dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan ? C. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini oleh penulis adalah : a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pernikahan di bawah umur. b. Untuk mengetahui sebab terjadinya pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Sumatra Selatan dan dampaknya. c. Untuk menganalisa faktor-faktor yang melatar belakangi pernikahan di bawah umur dan dampak negatifnya.
hlm. 76-77

5

2. Kegunaan a. Diharapkan berguna sebagai sumbangan pemikiran terhadap

masyarakat Desa Karang Ketuan agar lebih hati-hati dalam melaksanakan pernikahan. b. Untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi siapa yang membaca skripsi ini dalam memperkaya kebudayaan. D. Telaah Pustaka Telah ada beberapa buku dan juga kitab-kitab fiqih yang mengkaji pernikahan dalam Islam yang membahasnya dalam bab munakahat mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan penrikahan, baik pada masa pra pernikahan maupun pasca pernikahan sebagai ajang pembentukan keluarga. Aturan-aturan tentang pernikahan itu ada yang cukup rinci dan ada yang bersifat global. Salah satu aturan yang bersifat global itu adalah tentang batasan usia baik laki-laki maupun perempuan, sehingga banyak

menimbulkan perbedaan baik dari Imam Madzhab maupun ahli fiqh. Hal ini terkait dengan perbedaan pendapat tentang masa taklif, yaitu ketika seseorang orang dianggap sudah baligh (dewasa) dan dikenai kewajiban secara hukum. Dalam buku Hukum Perkawinan Islam, karya Ahmad Azhar Bashir, MA, dijelaskan bahwa pada umumnya perkawinan anak di bawah umur yang dilakukan oleh walinya digolongkan sebagai perkawinan yang mubah (boleh). Dia berlandaskan bahwa tidak ada nash Al Qur'an dan hadits yang melarangnya.

6

Menurut buku ini juga sejalan dengan tujuan perkawinan menurut ajaran Islam dan untuk kebaikan pihak-pihak berkepentingan langsung, atas dasar pertimbangan “maslahat mursalat”. Dalam buku Fiqh Sunnah 6 karya Sayyid Sabiq yang dialih bahasakan oleh Moh Thalib, mengatakan bahwa di dunia dewasa ini umur orang kawin rata-rata 24 tahun bagi perempuan dan pada laki-laki 28 tahun. Umur tersebut menurutnya umur yang sangat relatif dan paling tengah-tengah. Dalam buku Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga, karya Hj. Aisyah Dachlan, dijelaskan bahwa mengawinkan anak-anak di bawah umur sangat berbahaya. Bermacam-macam pendapat para ahli mengenai kapan anak-anak itu boleh dikawinkan. Menurut buku Problematika Hukum Islam Kontemporer, yang diedit oleh Dr. H. Chuzaimah T. Yanggo dan Drs. H.A. Hafidz Anshary AZ, MA menerangkan bahwa masalah pernikahan merupakan urusan hubungan antar manusia (muamalah) yang oleh agama hanya diatur dalam bentuk prinsipprinsip umum. Tidak adanya ketentuan agama tentang batas usia maksimal dan minimal untuk menikah dapat dianggap sebagai suatu rahmat. Maka, kedewasaan untuk menikah, temrasuk masalah ijtihadiyah, dalam arti kata diberi kesempatan untuk berijtihad pada usia berapa seseorang pantas menikah. Masih dalam buku yang sama dijelaskan bahwa batas usia menikah bagi kaum pria juga tidak ada ketentuannya. Adanya seruan Nabi kepada kaum pemuda yang mampu melakukan pernikahan supaya menikah bukanlah

7

suatu kemestian pembatasan usia. Menurut kondisi Indonesia sekarang, usia yang tepat bagi seseorang untuk menikah ialah sekurang-kurangnya umur 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi pria. E. Kerangka Teori Adapun teori-teori yang digunakan dalam rangka penelitian sebagai landasan berfikir dan alat analisis adalah sebagai berikut : 1. Batas usia dalam perkawinan diatur dalam pasal 7 ayat (1) yang berbunyi : “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Dan selanjutnya dalam pasal 6 ayat (2), dinyatakan bahwa jika belum berumur 21 tahun maka calon pengantin di haruskan mendapat izin dari orang tua (wali) yang diwujudkan dalam bentuk surat izin sebagai salah satu syarat untuk melangsungkan pernikahan dan bagi calon pengantin yang usianya kurang dari 16 tahun harus memperoleh dispensasi dari pengadilan. Adanya ketentuan ini dimaksudkan agar calon yang akan melangsungkan pernikahan itu sudah masak jiwa raganya. Namun jika ternyata ditemukan atau ada pengecualian dari aturan-aturan di atas merupakan suatu realitas kehidupan yang perlu mendapat perhatian.7 2. Hadits tentang perkawinan Aisyah dengan Rasulullah saw

‫ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﺗﺰو ﺟﻨﻰ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴ ﻪ وﺳ ﻠﻢ واﻧ ﺎ‬ ‫ﺑﻨﺖ ﺳﺖ ﺳﻨﻴﻦ وﺑﻨﻰ ﺑﻰ واﻧﺎ ﺑﻨﺖ ﺗﺴﻊ ﺳﻨﻴﻦ‬

7

Undang-undang Perkawinan di Indonesia, op. cit., hlm. 7-8

8

Artinya : Dari Aisyah, ia berkata : Rasulullah menikahi aku sewaktu aku masih berusia enam tahun, lalu beliau memboyongku ketika aku sudah berusia sembilan tahun. 8 3. Pendapat Imam Abu Hanifah yang masyhur adalah bahwa anak dianggap baligh jika sudah berumur 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan. Sedangkan menurut Imam Asy Syafi’i dan pengikutpengikutnya, anak laki-laki ataupun perempuan sama-sama telah baligh sewaktu berumur 13 tahun.9 Akan tetapi dari beberapa pendapat tersebut ada suatu muatan terpenting yang ingin penulis sampaikan berkaitan dengan batas usia dalam pernikahan, yaitu adanya kesiapan secara fisik, ekonomi maupun mental baik bagi laki-laki maupun perempuan memasuki jenjang kehidupan baru tersebut. Hal ini tidak lain karena dengan ikatan pernikahan akan terbentuk sebuah komunitas baru yang memiliki aturan-aturan yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban, masing-masing pihak harus sadar akan tugas dan kewajibannya, harus toleran dengan penanganan hidupnya, guna mewujudkan keluarga yang bahagia dan kekal dunia akhirat (mawaddha warrahmah). F. Metode Penelitian Metode yang digunakan penulis yaitu metode kualitatif, adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, ucapan atau tulisan dan prilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subyek) itu sendiri.10

Adib Bisri Mustofa, Terjemah Shahih Muslim II, terj. Adib Bisri Mustofa, CV. Asy Syifa, Semarang, 1993, hlm. 777 9 Muhammad Ali As Sayis, Tafsir Ayat Al Ahkam, Muhammad Ali Sabik, 1983, hlm. 185 10 Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta, 1991, hlm. 781

8

9

1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah file research, yaitu terjun langsung kelapangan guna mengadakan penelitian pada obyek yang dibahas.11 a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama yakni perilaku warga masyarakat melalui penelitian.12 b. Data sekunder yaitu data yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian yang berwujud laporan, buku harian, dan seterusnya.13 2. Metode Pengumpulan Data a. Wawancara, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.14 Wawancara ini dilakukan dengan warga masyarakat Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggai Selatan II, Kota Lubuk Linggau. b. Observasi, seperti yang dikatakan oleh Karlinger bahwa dalam mengamati bukan hanya melihat obyek, tetapi mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua bentuk penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitung, mengukurnya, dan mencatatnya. Observasi adalah suatu usaha sadar

Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian Research I, Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1981, hlm. 4 12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Yogyakarta, 1986, hlm. 12 13 Ibid. 14 Suharsimi Arikunto, Prosedur Pendekatan suatu Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm. 115

11

10

untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang berstandar.15 c. Dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan perkawinan di Kelurahan Karang Ketuan, metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah pernikahan. 3. Pendekatan Masalah a. Pendekatan sosiologis, yaitu pendekatan yang dasar tujuannya adalah permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitannya dengan masalah pernikahan di bawah umur, maka pendekatan ini digunakan untuk mengetahui realitas yang ada di masyarakat yang mana masih banyak masyarakat yang melakukan pernikahan di bawah umur, seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggai Selatan II, Kota Lubuk Linggau. b. Pendekatan yuridis yaitu cara pendekatan yang berorientasi pada gejala-gejala hukum yang bersifat normatif untuk lebih banyak bersumber pada pengumpulan data kepustakaan. Melalui pendekatan ini diharapkan sebagai usaha untuk mempelajari ketentuan perundangundangan, peraturan-peraturan lain maupun pemikiran yang berkaitan dengan pelaksanaan pernikahan di bawah umur.16

15 Sutrisno Hadi, Metodologi Researh: untuk Penulisan Paper, Tesis dan Disertasi, cet. 21, Yogyakarta: Andi Offset, 1994, hlm. 193 16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, 1992, hlm. 263

11

4. Analisa Data Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, maka metode analisis data digunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu teknik deskriptif non statistik. Metode ini digunakan untuk data nonangka maka analisis yang digunakan juga analisis non statistik dengan menggunakan metode induktif, yaitu cara berpikir yang bertolok dari hal-hal yang bersifat khusus, kemudian digeneralisasikan ke dalam kesimpulan yang umum. Dan metode deduktif, yaitu berfikir yang berangkat dari masalahmasalah yang umum kemudian untuk menilai peristiwa-peristiwa yang khusus. 17 G. Sistematika Pembahasan Secara global, skripsi ini dibagi dalam lima pembahasan yang satu sama lain saling berkait dan merupakan suatu sistem yang urut untuk mendapatkan suatu kesimpulan dalam mendapatkan suatu kebenaran ilmiah. BAB I : PENDAHULUAN Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan dan kegunaan, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan. BAB II : TINJAUAN UMUM MENGENAI PERNIKAHAN DI

BAWAH UMUR Bab ini menjelaskan pengertian pernikahan, pandangan secara biologis dan psikologis tentang masa dewasa, usia perkawinan
17

Sutrisno Hadi, op. cit., hlm. 36

12

menurut UU No. 1/1974, dan pengertian pernikahan di bawah umur. BAB III : PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KELURAHAN KARANG KETUAN, KECAMATANLUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU Pada bab ini berisi tentang gambaran umum Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, data pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, pelaksanaan pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, faktor-faktor penyebab pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau dan dampak pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau. BAB IV : ANALISA PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI

KELURAHAN KARANG KETUAN KECAMATAN LUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU Bab ini berisi menganalisa faktor-faktor penyebab pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggai Selatan II, Kota Lubuk Linggau dan analisa dampak

13

pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggai Selatan II, Kota Lubuk Linggau. BAB V : PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran

14

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR

Pengertian Pernikahan Pernikahan adalah salah satu kodrat dalam perjalanan hidup manusia. Pernikahan bukan hanya sekedar jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan menuju pintu perkenalan, akan tetapi menjadi jalan untuk menyampaikan pertolongan antara satu dengan yang lainnya. Disamping itu juga pernikahan merupakan jalan untuk menghindarkan manusia dari kebiasaan hawa nafsu yang menyesatkan. Dan pengertian pernikahan itu sendiri dapat dilihat dari segi bahasa dan istilah. Secara bahasa nikah berasal dari bahasa Arab
18

‫حاكن حكني حكن‬

Sedangkan dalam Kamus Besar Indonesia nikah mempunyai arti hubungan antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami istri secara resmi.19 Ada juga arti nikah menurut syara’ yaitu akad yang membolehkan seorang laki-laki bergaul bebas dengan perempuan tertentu dan pada akad menggunakan akad nikah.20 Jadi apabila antara laki-laki dan perempuan yang sudah siap untuk membentuk suatu rumah tangga, maka hendaklah perempuan

18 19

Syarifuddin, Kamus Al Misbah, Bina Aksara, Jakarta, t.t., hlm. 573 Departemen P dan K, Kamus Besar Indonesia, cet. 3, Balai Pustaka, Jakarta, 1990,

hlm. 614

Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahli Sunnah dan Negara-negara Islam, cet. I, Bulan Bintang, Yogyakarta, 1980, hlm. 104

20

15

harus melakukan akad nikah terlebih dahulu. Dalam Al Qur'an bahwa pernikahan disebut dengan nikah dan mitsaq (perjanjian).21 Ada juga beberapa definisi nikah yang dikemukakan oleh fuqoha, namun pada prinsipnya tidak terdapat perbedaan yang berarti karena semuanya mengarah kepada makna akad kecuali pada penekanan redaksi yang digunakan. Nikah pada hakekatnya adalah akad yang diatur oleh agama untuk memberikan kepada pria hak memiliki dan menikmati faraj dan seluruh tubuh wanita untuk penikmatan sebagai tujuan primer.22 Pengertian hak milik, sebagaimana yang dapat ditemukan hampir semua definisi dari fuqaha, ialah milk al intifa’, yaitu hak milik penggunaan atau pemakai suatu benda. Bagi ulama Hanafiah akad nikah membawa konsekuensi bahwa suami istri berhak memiliki kesenangan (mik al mut’ah) dari istrinya, dari ulama Malikiyah akad nikah membawa akibat pemilikan bagi suami untuk mendapatkan kelezatan (talazuz) dari istrinya. Sedangkan bagi ulama Syafi’iyah akad membawa akibat suami memiliki kesempatan untuk melakukan jima’ (bersetubuh) dengan istrinya.23 Sebagian ulama Syafi’iyyah memandang bahwa akad nikah bukanlah untuk memberikan hak milik pada kaum laki-laki saja akan tetapi kedua belah pihak. Maka golongan itu berpendapat bahwa seorang istri berhak menuntut persetubuhan dari suami

Dengan kata Nikah perhatikan surat An Nisa’ (4) : 3 dan An Nur (24): 32, sedangkan kata mitsaq dalam surat An Nisa’ (4) : 21 22 Bakri A. Rahman dan Ahmadi Sukadja, Hukum Perkawinan Menurut Islam, Undangundang Perkawinan dan Hukum Perdata/BW, Hidakarya Agung, Jakarta, 1981, hlm. 13 23 Abdu Ar Rahman Al Jaziri, Kitab al Fiqih ‘Ala Al Ma’zahib Al Arba’ah, Dar Al Fikr, Beirut, 1969, hlm. 2-3

21

16

dan

suami

berkewajiban

memenuhinya

sebagaimana

suami

berhak

menentukan persetubuhan dari istrinya.24 Sedangkan menurut UU No. 1/1974 bahwa pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.25 Adapun syarat syahnya pernikahan itu apabila telah memenuhi syaratsyarat yang telah ditentukan oleh Undang-undang maupun hukum Islam. Dalam pasal 2 ayat (1) Undang-undang Perkawinan menyatakan bahwa pernikahan adalah syah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing. Sedangkan menurut hukum perkawinan Islam yang dijadikan pedoman syah dan tidaknya pernikahan itu adalah dipenuhinya syarat-syarat dan rukun pernikahan berdasarkan hukum agama Islam. Dalam hal ini hukum Islam mengenal perbedaan antara syarat dan rukun pernikahan. Rukun merupakan sebagian dari hakekat pernikahan itu sendiri dan jika tidak dipenuhi maka pernikahan tidak akan terjadi.26 Rukun pernikahan tersebut antara lain : 1. Adanya kedua mempelai 2. Adanya wali dari pihak calon mempelai wanita 3. Adanya dua orang saksi

Ibid., hlm. 40 Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaan, PT. Pradya Paramita, Jakarta, No. 1/1974, pasal 2 ayat (1) 26 Ahmad Ichsan, Hukum Perkawinan bagi yang Beragama Islam, Suatu Tinjauan dan Ulasan secara Sosiologi Hukum, Pradia Paramita, Jakarta, 1986, hlm. 31
25

24

17

4. Adanya shighot akad nikah atau ijab qabul 5. Mahar atau mas kawin.27 Adapun syarat pernikahan menurut UU Perkawinan No. 11 tahun 1974 antara lain : 1. Perkawinan dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya, pasal 2 ayat (1) 2. Tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, pasal 2 ayat (2) 3. Perkawinan seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri harus mendapat ijin dari pengadilan, pasal 3 ayat (2) dan pasal 27 ayat (2) 4. Untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin kedua orang tua. Pasal 6 ayat (2). Bila orang tua berhalangan, ijin diberikan oleh pihak lain yang ditentukan dalam undang-undang pasal 6 ayat (2-5). 5. Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Pasal 7 ayat (1), ketentuan ini tidak bertentangan dengan Islam, sebab setiap masyarakat dan setiap zaman berhak menentukan batas-batas umur bagi perkawinan selaras dengan system terbuka yang dibakai Al Qur'an dalam hal ini. 6. Harus ada persetujuan antara kedua calon mempelai kecuali apabila hukum mementukan lain. Pasal 6 ayat (1), hal ini untuk menghindarkan paksaan bagi calon mempelai dalam memilih calon isteri atau suami.
27

Slamet Abidin dan H. Aminudin, Fiqih Munakahat, Pustaka Setia, Bandung, 1999,

hlm. 72

18

Diantara syarat-syarat tersebut adalah salah satu cara yang harus dipenuhi dalam mencapai tujuan suatu pernikahan. Dalam pasal 1 Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 dinyatakan bahwa pernikahan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu suami istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya, membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material, yang artinya bahwa pernikahan yang dilangsungkan bukan hanya sementara saja, akan tetapi untuk selama-lamanya. Dikarenakan tidak boleh pernikahan yang dilangsungkan untuk sementara saja seperti pernikahan kontrak. Dari rumusan tersebut dapat mengandung makna bahwa pernikahan tersebut dapat melahirkan kebahagiaan lahir dan batin yang bersifat kekal abadi. Pandangan Secara Biologis dan Psikologi tentang Masa Dewasa 1. Pandangan secara Biologis Adapun ciri-ciri kedewasaan seseorang cara biologis menurut para ulama adalah sebagai berikut : para ulama ahli fiqh sepakat dalam menentukan taklif (dewasa dari segi fisik, yaitu seseorang sudah dikatakan mukallaf/baligh) ketika sudah keluar mani (bagi laki-laki), sudah haid atau hamil (bagi perempuan).28 Apabila tanda-tanda itu dijumpai pada seorang anak laki-laki maupun perempuan maka para fuqaha sepakat menjadikan umur sebagai suatu ukuran, akan tetapi mereka berselisih faham mengenai batas seseorang yang telah dianggap sudah dewasa.

Muhammad Ali Assayis, Tafsir Ayat Al Ahkam Al Qur'an, terj. Muhammad Ali Sabiq, 1983, hlm. 212

28

19

Akan tetapi berdasarkan ilmu pengetahuan kedewasaan seseorang tersebut akan dipengaruhi oleh keadaan zaman dan daerah dimana ia berada, sehingga ada perbedaan percepat lambatnya kedewasaan seseorang. 2. Pandangan secara psikologis Ciri-ciri secara psikologis yang paling pokok adalah mengenai pola-pola sikap, pola perasaan, pola pikir dan pola prilaku nampak diantaranya : a. Stabilitas mulai timbul dan meningkat, pada masa ini terjadi banyak penyesuaian dalam aspek kehidupan. b. Citra diri dan sikap pandangan lebih realistis, pada masa ini mulai dapat menilai dirinya sebagaimana adanya, menghargai miliknya, keluarganya, orang lain seperti keadaan sesungguhnya sehingga timbul perasaan puas dan menjauhkannya dari rasa kecewa. c. Menghadapi masalahnya secara lebih matang, usaha pemecahan masalah-masalah secara lebih matang dan realistis merupakan produk dari kemampuan berfikir yang lebih sempurna dan ditunjang oleh sikap pandangan yang realistis sehignga diperoleh perasaan yang lebih tenang. d. Perasaan menjadi lebih tenang, ketenangan perasaan dalam

menghadapi kekecewaan atau hal-hal lain yang mengakibatkan kemarahan mereka, ditunjang oleh adanya kemampuan pikir dan dapat menguasai atau mendominasi perasaan-perasaannya serta keadaan yang realistis dalam menentukan sikap, minat dan cita-cita 20

mengakibatkan mereka tidak terlalu kecewa dengan adanya kegagalankegagalan yang dijumpainya, kebahagiaan akan semakin kuat jika mereka mendapat proyek respek dari orang lain atau usaha-usaha mereka.29 Dari beberapa pendapat tersebut ada suatu muatan terpenting yang ingin penyusun sampaikan yang berkaitan dengan batas usia dalam perkawinan adalah kesiapan secara fisik, ekonomi maupun mental baik bagi laki-laki maupun perempuan untuk emmasuki jenjang kehidupan baru tersebut. Karena suatu ikatan dalam perkawinan akan terbentuk suatu komunitas yang baru dan akan memiliki aturanaturan yang amsing-masing mempunyai hak dan kewajiban, masing-masing pihak juga harus sadar akan tugas dan kewajibannya, harus toleran dengan pasnagan hidupnya, agar terwujud suatu keluarga yang bahagia dan kekal di dunia maupun akherat (sakinah, mawaddha, warrahmah).

Usia Pernikahan Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1/1974
Menurut Undang-undang perkawinan No. 1/1974 sebagai hukum positif yang berlaku di Indonesia, menetapkan batas umur perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan, (pasal 7 ayat (1)), namun batas usia tersebut bukan merupakan batas usia seseorang telah dewasa yang cukup dewasa untuk bertindak, akan tetapi batas usia tersebut hanya merupakan batas usia minimal seseorang boleh melakukan

pernikahan. Di dalam pasal 6 ayat (2), disebutkan bahwa seseorang sudah dikatakan dewasa kalau sudah mencapai umur 21 tahun, sehingga dalam
29

Andi Mapreare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hlm. 36-40

21

melakukan pernikahan tidak perlu mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Pasal 6 ayat 2 ini sejalan dengan pemikiran Yusuf Musa yang berpendapat bahwa orang dikatakan sudah sempurna kedewasaannya setelah mencapai umur 21 tahun. Mengingat situasi dan kondisi zaman dan sekaligus juga mengingat pentingnya pernikahan di zaman modern sekarang ini, orang menikah demi kemaslahatan umat manusia. Namun kalau dicermati seksama pasal-pasal yang ada dalam UU Nomor 1 tahun 1974, khususnya sehingga orang menikah tidak harus mencapai usia yang ditentukan dalam pasal-pasal undang-undang tersebut. Seseorang sudah boleh menikah jika sudah siap lahir dan batin. Kesiapan mental dan fisik harus diperhatikan, mengingat tanggung. Pernikahan di Bawah Umur Pernikahan di bawah umur adalah pernikahan yang dilakukan oleh seseorang laki-laki dan seorang wanita di mana umur keduanya masih di bawah batas minimum yang diatur oleh Undang-undang. Dan kedua calon mempelai tersebut belum siap secara lahir maupun batin, serta kedua calon mempelai tersebut belum mempunyai mental yang matang dan juga ada kemungkinan belum siap dalam hal materi. Dan berdasarkan pendapat Sarlito Wirawan Sarwono bahwa batas usia dewasa bagi laki-laki 25 tahun dan bagi perempuan 20 tahun, karena kedewasaan seseorang tersebut ditentukan secara pasti baik oleh hukum positif maupun hukum Islam. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa batasan usia dikatakan di bawah umur ketika seseorang kurang dari 25 tahun bagi laki-laki

22

dan kurang dari 20 tahun bagi perempuan. Sedangkan kata di bawah umur mempunyai arti bahwa belum cukup umur untuk menikah. Dari segi psikologi, sosiologi maupun Hukum Islam Pernikahan dibawah umur terbagi menjadi dua kategori, pertama pernikahan di bawah umur asli yaitu pernikahan di bawah umur yang benar murni dilaksanakan oleh kedua belah pihak untuk menghindarkan diri dari dosa tanpa adanya maksud semata-mata hanya untuk menutupi perbuatan zina yang telah dilakukan oleh kedua mempelai. Kedua pernikahan di bawah umur palsu yaitu pernikahan di bawah umur yang pada hakekatnya dilakukan sebagai kamuflase dari kebejatan prilaku dari kedua mempelai, pernikahan ini hanya untuk menutupi perilaku zina yang pernah dilakukan oleh kedua mempelai. Hal ini berarti antara anak dan kedua orang tua bersama-sama untuk menipu masyarakat dengan cara melangsungkan pernikahan yang mulia dengan maksud untuk menutupi aib yang telah dilakukan oleh anaknya. Dan mereka berharap agar masyarakat untuk mencium “bau busuk” yang telah dilakukan oleh anaknya bahkan sebaliknya memberikan ucapan selamat dan ikut juga berbahagia.30 Sedangkan pengertian pernikahan baligh nikah dalam hukum Islam seperti yang diterapkan oleh ulama fiqh adalah tercapainya usia yang menjadikan seseorang siap secara biologis untuk melaksanakan perkawinan, bagi laki-laki yang sudah bermimpi keluar mani dan perempuan yang sudah haid, yang demikian dipandang telah siap nikah secara biologis. Akan tetapi dalam

23

perkembangan yang terjadi kemampuan secara biologis tidaklah cukup untuk melaksanakan perkawinan tanpa mempunyai kemampuan secara ekonomis dan psikis. Secara ekonomis berarti sudah mampu mencari atau memberi nafkah dan sudah mampu mebmayar mahar, seangkan secara psikis adalah kedua belah pihak sudah masak jiwa raganya. Perkawinan dapat dikatakan ideal jika sudah mempunyai tiga unsur di atas (kemampuan biologis, ekonomis dan psikis), karena ketiga kemampuan tersebut dimungkinkan telah ada pada seseorang ketika sudah berumur 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan.31 Pernikahan bukanlah sebagai alasan untuk memenuhi kebutuhan biologis saja yang bersifat seksual akan tetapi pernikahan merupakan suatu ibadah yang mulia yang diridhoi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Maka pernikahan tersebut akan terwujud jika diantara kedua belah pihak sudah memiliki tiga kemampuan seperti yang disebutkan di atas dengan kemampuan tersebut maka akan terciptanya hubungan saling tolong menolong dalam memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing, saling nasehat menasehati dan saling melengkapi kekurangan masing-masing yang dicerminkan dalam bentuk sikap dan tindakan yang bersumber dari jiwa yang matang sehingga keluarga yang ditinggalkannya akan melahirkan keindahan keluarga dunia yang kekal dan abadi.

30

Abu Al Ghifari, Pernikahan Dini Dilema Generasi Extravaganza, Mujahid Press,

24

BAB III PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KELURAHAN KARANG KETUAN, KECAMATAN LUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU

A. Gambaran Umum Kota Lubuk Linggau Kota Lubuk Linggau berada pada posisi paling barat propinsi Sumatera Selatan dengan luas wilayah 401,50 km2, beriklim tropis, topografi bervariasi, dengan ketinggian 129 m dpl dan secara umum anah dan sumber daya alamnya cukup subur serta berpotensi guna mendukung pengembangan dan pembangunan wilayah, posisi wilayah kota Lubuk Linggau berada di persimpangan (transit) dari beberapa kota di provinsi Sumatera Selatan dan kota-kota lain di luar provinsi Sumatera Selatan seperti Jambi, Bengkulu dan Padang. Selain kondisi geografis yang strategis, kota Lubuk Linggau juga memiliki berbagai sumber daya alam (recoirces) yang dapat dimanfaatkan untuk membangun dan meningkatkan kemakmuran daerah ini. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2004 tentang pemekaran Kelurahan dalam kota Lubuk Linggau maka Kelurahan dalam Kota Lubuk Linggau yang semula 49 (empat puluh sembilan) Kelurahan dimekarkan menjadi 72 (tujuh puluh dua) kelurahan. Serta Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 2004 tentang pemekaran Kecamatan dalam kota Lubuk Linggau dari 4 (empat) Kecamatan menjadi 8 (delapan) kecamatan, dan telah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan pada tanggal 18 Oktober 2004.
Bandung, 2002, hlm. 20

25

Dari 8 (delapan) Kecamatan tersebut, kelurahan Karang Ketuan terletak di Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II. Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II terdiri 7 kelurahan yang terbagi dalam 9 RW dan 60 RT. Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II terletak di sebelah selatan kota Lubuk Linggau dan berbatasan dengan Kabupaten Musi Rasa, Kota Tugumulyo (Mirasi). Dan Kelurahan Karang Ketuan terletak di sebelah selatan dari Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Kelurahan Karang Ketuan terbagi dalam 4 RT. Kelurahan Karang Ketuan memiliki 387 kepala keluarga dengan total penduduk sebanyak 1401 jiwa terdiri dari 708 jiwa laki-laki dan 695 jiwa perempuan. Rincian secara tabel untuk data jumlah penduduk di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau yang kami himpun data statistik Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau tahun 2006 adalah sebagai berikut : TABEL I JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN UMUR

No
1 2 3 4 5 6
31

Umur 00-04 tahun 05-09 tahun 10-14 tahun 15-19 tahun 20-24 tahun 25-29 tahun

Jumlah 142 orang 93 orang 145 orang 146 orang 170 orang 115 orang

UUP, op.cit., pasal 7 ayat 1

26

No
7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sumber

Umur 30-34 tahun 35-39 tahun 40-44 tahun 45-49 tahun 50-54 tahun 55-59 tahun 60-69 tahun 70-74 tahun

Jumlah 126 orang 97 orang 96 orang 69 orang 37 orang 13 orang 1 orang -

> 74 tahun 25 orang : Data monografi Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Desember 2006

Penduduk Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau rata-rata berpendidikan rendah, hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut : TABEL II JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN No 1 2 3 4 5 6 Tingkat Pendidikan Tidak tamat SD Berpendidikan SD dan sederajat SMP dan sederajat SMA dan sederajat D1 sampai D3 Perguruan Tinggi/S1 Jumlah 139 374 192 174 29 24

7 Pasca Sarjana 1 Sumber : Data monografi Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Desember 2006

27

Dari hasil prosentase tersebut dapat dilihat betapa terpaut jauh antara masyarakat kelurahan Karang Ketuan yang berpendidikan pasca sarjana, S1 dengan yang berpendidikan SD sampai SMA yaitu 90%nya. Hal ini belum dihitung dengan masih ada masyarakat yang buta huruf yang masih ada di masyarakat khususnya para orang tua. Dari segi agama mayoritas hampir 99% penduduk di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau Karang Ketuan beragama Islam, sisanya Katolik, Protestan dan Hindu dengan rincian sebagai berikut : TABEL III JUMLAH PENDUDUK MENURUT AGAMA No 1 2 3 4 Islam Katolik Protestan Hindu Agama Jumlah 1365 orang 10 orang 20 orang 6 orang

Sumber : Data monografi Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, Desember 2006 B. Pelaksanaan Pernikahan di Bawah Umur di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau Dari penelusuran data di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau untuk periode mulai tahun 2004 sampai 2006 diperoleh data sebagai berikut :

28

TABEL IV TABEL DATA PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KELURAHAN KARANG KETUAN TAHUN 2004-2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Suami Junaidi M. Rosyid Rusdi Firman Syah Agusman Dedy H. Suryanto Parji Hariadi Haryono Istri Elia Jaliah Elfa S. Ika Eriyana Heny H. Nur A. Wasih Herlina Sumarti Heti Andriani Mayya Desi Umur Suami Istri 15 th 15 th 26 th 18 th 20 th 19 th 17 th 18 th 19 th 21 th 19 th 15 th 16 th 14 th 13 th 15 th 14 th 13 th 14 th 13 th Pendidikan Suami Istri SD SD SMP SMP SD SMP SD SD SMP SMP SMP SD SD SD SD SD SD SD SD SMP Tanggal Menikah 22-6-2004 20-5-2003 1-5-2005 28-5-2006 18-8-2004 21-6-2006 20-10-2005 1-2-2005 27-1-2006 24-3-2005 Alamat RT 01 RT 04 RT 02 RT 01 RT 01 RT 02 RT 04 RT 01 RT 02 RT 04

Sumber : Data catatan pernikahan Kelurahan Karang Ketuan tahun 2006 Dari data di atas menunjukkan tingkat pernikahan di bawah umur di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau pada tahun 2004-2006 ada 91 data perkawinan tetapi data tersebut yang melakukan pernikahan di bawah umur ada 10 kasus. Dari kasus pernikahan tersebut yang terjadi karena manipulasi atau pemalsuan umur yang dilakukan oleh orang tua mereka. Pelaksanaan pernikahan di bawah umur di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau merupakan suatu problematika dan simalakama karena ada rasa takut dan khawatir pada diri orang tua, anaknya akan terjerumus ke jurang maksiat. Sehingga pernikahan di bawah umur itu dianggap suatu jalan yang terbaik,

29

walaupun anak itu belum mampu baik secara materi maupun immaterial (psikologis).32 Kenyataan bahwa pernikahan di bawah umur bukan hanya merupakan kisah lama yang terjadi, peninggalan masa lalu yang dalam setiap waktu masih ada dan terjadi. Walaupun dalam bentuk dan cara yang berbeda, seperti halnya yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, rendahnya usia pernikahan di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau ini lebih merupakan tradisi lama yang masih berkembang di masyarakat, sehingga sulit untuk dihilangkan. Secara sosiologis struktur masyarakat desa lebih merupakan keluarga luas, yang hal ini sangat mempengaruhi pola-pola kehidupan masyarakat dalam membentuk sebuah keluarga yang merupakan awal mula terbentuknya masyarakat. Praktek pernikahan di bawah umur yang terjadi di masyarakat tidak diketahui secara pasti kapan awal mula terjadinya, namun yang pasti pelaksanaan pernikahan di bawah umur tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Kalau dilihat secara sepintas ada dua cara yang ditempuh oleh masyarakat dalam mensiasati Undang-undang Perkawinan No. 1/1974, yaitu pertama dengan meminta dispensasi kepada Pengadilan Agama setempat, dan yang kedua dengan melakukan pemalsuan umur yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Tetapi yang melakukan dispensasi lebih kecil ketimbang yang melakukan pemalsuan umur. Alasan orang tua yang tidak meminta
32 Wawancara dengan Bpak Musyhudin selaku tokoh masyarakat di RT 04 Kelurahan Karang Ketuan tanggal 15 Januari 2007

30

dispensasi di Pengadilan Agama karena mereka takut bila tidak diberikan ijin oleh kelurahan untuk menikahkan anaknya. Sebab pada hakekatnya pihak kelurahan tidak akan menerima atau menolak terjadi pernikahan di bawah umur. Yang menjadi tolok ukur masyarakat dalam menentukan kedewasaan seorang anak adalah dari segi fisiknya, sehingga dengan melihat keadaan fisik anak tersebut, mereka bisa merekayasa umurnya sesuai dengan pertumbuhan fisiknya walaupun masih dalam usia yang sangat muda. Hal yang semacam ini sering dilakukan oleh orang tua dalam mendaftarkan pernikahan anaknya di kelurahan atau aparat desa. Aparat desa juga tidak perlu lagi menanyakan kepada orang tuanya, tentang usia sebenarnya anak mereka. Karena orang tua sudah berani memberi izin dan menandatangani surat izin yang mengatakan bahwa benar apa yang mereka tulis sudah sesuai dengan kenyataan yang ada. Sehingga aparat desa memberikan izin untuk anak mereka melangsungkan pernikahan. Di samping itu, pelaksanaan pernikahan di bawah umur tersebut adalah karena pada umumnya masyarakat tidak mengetahui secara pasti tentang aturan-aturan batas usia pernikahan yang terdapat dalam Undangundang Perkawinan No. 1/1974. Hal ini disebabkan kurang adanya sosialisasi mengenai UUP No. 1/1997 oleh pihak yang berwenang, sehingga masyarakat menganggap bahwa pernikahan yang mereka lakukan bukanlah termasuk pernikahan di bawah umur, akan tetapi merupakan pernikahan normal yang dibolehkan dan tidak bertentangan dengan Islam, karena memang Islam

31

menentukan secara pasti batas-batas usia pernikahan seperti yang ditentukand alam UUP No. 1/1974. Kebanyakan masyarakat itu mendasarkan pernikahan yang mereka lakukan dengan pernikahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dengan Siti Aisyah yang masih berusia 9 tahun. Sehingga mereka tidak dapat memahami atau mengambil hikmah dari aturan yang ditetapkan oleh UUP No. 1/1974. Dan pada umumnya masyarakat menganggap bahwa pendidikan anaknya hanya cukup masimal tingkat Sekolah Dasar (SD). Jika diteliti ada dua penyebab, yaitu pertama karena orang tua kurang mampu dalam ekonomi, dan yang kedua karena orang tua ingin segera meminang cucu dan ada perasaan takut anaknya dikatakan tidak laku dan perawan tua. Dari data yang di dapat, kebanyakan pernikahan di bawah umur dilakukan oleh kaum wanita daripada laki-laki. Hal ini karena umumnya masyarakat menganggap bahwa perempuan hanya sebagai pelayan seorang laki-laki setelah menikah walaupun pendidikan tinggi namun pada akhirnya ia akan kembali ke dapur dan tinggal di rumah, agar terhindar dari fitnah. Dan posisi wanita dalam sebuah rumah tangga harus berbakti dan patuh pada lakilaki. C. Faktor-faktor Penyebab Pernikahan di Bawah Umur Seperti yang telah diuraikan di atas, maka secara eksplisit faktorfaktor yang mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut antara lain :

32

1. Faktor pernikahan atas kehendak orang tua Di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan pada umumnya tidak menganggap penting masalah usia anak yang dinikahkan, karena mereka berpikir tidak akan mempengaruhi terhadap kehidupan rumah tangga mereka nantinya. Umur seseorang tidaklah suatu jaminan untuk mencapai suatu kebahagiaan, yang penting anak itu sudah aqil (baligh), aqil (baligh) bagi masyarakat desa ditandai dengan haid bagi perempuan berapapun umurnya, sedangkan bagi laki-laki apabila suaranya sudah berubah dan sudah mimpi basah. Jika orang tua sudah melihat tanda-tanda tersebut pada anaknya, maka orang tua segera mencari jodoh untuk anaknya, lebih-lebih orang tua dari pihak perempuan. Sehingga bagi orang tua perempuan tidak mungkin untuk menolak lamaran seseorang yang datang untuk meminang anaknya meskipun anak tersebut masih kecil. Dan kebanyakan di masyarakat kelurahan Karang Ketuan anak-anak yang masih usia muda sudah bertunangan. Karena dalam perjodohan ini orang tua berperan lebih aktif, sehingga memberi kesan seakan-akan mencarikan jodoh untuk anaknya adalah merupakan tugas dan tanggung jawab yang sangat penting bagi orang tua. Sehingga banyak kasus bila anak tersebut sudah dewasa, maka mereka akan menentukan sikap dan pilihannya sendiri dengan cara memberontak dan lari.

33

Akan tetapi orang tua dengan berbagai cara mempertahankan ikatan pertunangan yang sudah lama mereka bina selama bertahun-tahun untuk sampai ke pelaminan. Dan para orang tua yang egois dalam mempertahankan ikatan pertunangan itu mengambil jalan menyumpahi anak dan mengklaim anaknya sebagai anak yang tidak berbakti kepada orang tua dan durhaka. Sehingga anak dengan terpaksa menerima perjodohan tersebut, dan anak tersebut akhirnya putus sekolah karena orang tua segera mengawinkannya untuk menjaga segala kemungkinan yang buruk akan terjadi.33 2. Kemauan Anak Di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan, pernikahan di bawah umur sangat populer dan banyak terjadi. Banyak anak yang melakukan pernikahan di bawah umur adalah atas kehendaknya sendiri tanpa ada campur tangan dan dorongan dari orang tua, kenyataan itu disebabkan karena pengaruh lingkungan yang sangat rendah dengan kejiwaan anak, sehingga anak tidak mampu untuk menghindarinya.34 Kenyataan ini yang membuktikan bahwa pada umumnya masyarakat di kelurahan Karang Ketuan sebelum melakukan pernikahan mereka terlebih dahulu bertunangan. Dan bagi anak yang belum bertunangan merasa terkucilkan dan kurang dihargai oleh masyarakat. Karena tidak seperti yang lainnya. Di sini peran orang tua hanya bersikap pasif, mereka hanya mengikuti apa yang telah menjadi pilihan anaknya.
Wawancara dengan Eta S. selaku pelaku pernikahan di bawah umur yang dijodohkan orang tua bertempat tinggal di RT 04 Kelurahan Karang Ketuan tanggal 19 Januari 2004
33

34

3. Pengaruh Adat dan Budaya Di Kelurahan Karang Ketuan, pernikahan di bawah umur sudah menjadi tradisi turun temurun dan sudah menjadi kebanggaan orang tua jika anak-anaknya cepat mendapatkan jodoh, agar dapat dihargai oleh masyarakat. Suatu kebiasaan yang sudah sejak dahulu dan dipandang kolot pada zaman modern, masih tumbuh dan berkembang di masyarakat, contohnya anggapan bahwa anak yang sudah baligh yang belum menikah atau belum mendapatkan jodohnya, dianggap tidak laku atau dianggap sebagai perawan tua. Karena anggapan itulah yang sudah mengakar dalam masyarakat di Kelurahan Karang Ketuan. Dan dikarenakan malu pada masyarakat jika mempunyai anak yang lama mendapatkan jodohnya. Sehingga untuk menutupi rasa malu itu maka orang tua menempuh dua jalan. Pertama menggunakan hak ijbarnya; kedua dengan cara memotivasi kepada anaknya untuk segera mencari jodohnya agar anaknya segera menikah.35 4. Pengaruh Rendahnya Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu pisau bedah yang cukup ampuh dan kuat dalam merubah suatu sistem adat dan kebudayaan yang sudah

Wawancara dengan Junaidi selaku pelaku pernikahan di bawah umur yang berdomisili di RT 03 Kelurahan Karang Ketuan tanggal 16 Januari 2007 35 Wawancara dengan Bapak M. Taulus S. Kusuma selaku lurah Karang Ketuan tanggal 15 Januari 2007

34

35

mengakar di masyarakat. Hal ini terkait dengan banyaknya perkawinan di bawah umur yang terjadi di masyarakat di Kelurahan Karang Ketuan. Berdasarkan penelitian tersebut, salah satu faktornya adalah rendahnya tingkat pendidikan. Dan kenyataan inilah yang banyak terjadi di Kelurahan Karang Ketuan yang melakukan pernikahan di bawah umur karena rendahnya tingkat pendidikan bila dilihat dari perkembangan zaman pada saat ini. 5. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi merupakan salah satu faktor yang menjadikan manusia bahagia, walaupun bukan jalan satu-satunya. Tetapi ekonomi dapat menentukan kedudukan dan kebahagiaan di dunia. Jika dikaitkan dengan praktek pernikahan di bawah umur, penulis mendapati bahwa faktor ekonomi merupakan alasan pokok bagi orang tua dalam menikahkan anaknya. Tujuan dari orang tua untuk segera menikahkan anaknya agar mereka segera bebas dari tanggung jawabnya sebagai orang tua, karena pada kenyataannya mereka sudah berumah tangga perekonomiannya masih tergantung pada orang tuanya.36 Tetapi ada juga sebagian orang tua yang menikahkan anaknya dengan tujuan agar anaknya dapat berfikir secara dewasa. Dewasa di sini artinya agar ia bisa berfikir tentang tanggung jawab dan tidak selalu menggantungkan hidupnya kepada orang tua.37 Walaupun demikian tidak sesuai dengan

Wawancara dengan Bapak Marsimin selaku orang tua dari pelaku pernikahan di bawah umur tanggal 17 Januari 2007 37 Wawancara dengan Bapak Ridwan selaku orang tua dari pelaku pernikahan di bawah umur tanggal 17 Januari 2007

36

36

kenyataan yang ada. Ada juga yang beranggapan bahwa dengan cepatnya menikahkan anaknya, juga dapat menambah keluarga dan bertambahnya keluarga maka rizki juga bertambah. 6. Faktor Agama Faktor agama merupakan salah satu penyebab dari pernikahan di bawah umur, karena mereka hanya tahu sebatasnya saja, tanpa harus mengkaji lebih dalam agama tersebut. Dari keterbatasan itulah orang tua menikahkan anaknya yang masih dibawah umur, karena mereka takut anak-anaknya akan terjerumus dalam perbuatan maksiat tanpa mereka memikirkan akibat setelah pernikahan tersebut. Melihat perkembangan zaman dan semakin canggihnya teknologi sehingga masyarakat desapun sudah tak asing lagi dengan acara-acara televisi yang disiarkan dan VCD-VCD yang sudah tersebar di pelosok desa, yang hal ini dapat merusak pikiran anak muda. Terbukti di masyarakat desa banyak anak-anak yang terjerumus ke dalamnya. Mulai berhubungan dengan obat-obat terlarang seperti narkoba, minuman keras dan semacamnya, sehingga orang tua khawatir merusak agama dan akhlak anak-anak, maka mereka mengambil jalan pintas untuk segera mencarikan jodoh anaknya dan segera menikahkannya agar mereka tidak terjerumus dan dapat berfikir secara dewasa juga bertanggung jawab dalam rumah tangga.

37

D. Dampak Pernikahan di Bawah Umur Pernikahan di bawah umur merupakan suatu bentuk perkawinan yang tidak sesuai dengan yang diidealkan oleh ketentuan yang berlaku dimana perundang-undangan yang telah ada dan memberikan batasan usia untuk melangsungkan perkawinan. Dengan kata lain, perkawinan di usia muda merupakan bentuk penyimpangan dari perkawinan secara umum karena tidak sesuai dengan syarat-syarat perkawinan yang telah ditetapkan. Secara sederhana bahwa perkawinan usia dibawah umur

mengakibatkan sulitnya untuk mewujudkan tujuan perkawinan yang sakinah, mawaddah dan warrohmah, apabila dibandingkan dengan perkawinan yang telah disesuaikan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh perundangundangan. Hal ini tidak berarti bahwa perkawinan usia dibawah umur dapat dipastikan sulit untuk mewujudkan tujuan perkawinan, karena perkawinan yang memenuhi persyaratan usiapun pada kenyataannya tidak semuanya dapat mewujudkan perkawinan sebagaimana yang disebutkan di atas. Namun demikian perkawinan usia muda jelas beresiko lebih besar daripada perkawinan yang telah memenuhi persyaratan usia. Perkawinan usia muda tidak hanya dapat berakibat negatif terhadap kedua belah pihak mempelai, tetapi juga berdampak pada anak hasil perkawinan usia muda, keluarga dan masyarakat.

38

Dari hasil wawancara dari 10 responden, dapat dilihat dampak pernikahan di bawah umur sebagaimana yang terdapat dalam tabel berikut ini : TABEL V No 1 DAMPAK-DAMPAK PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR Dampak Pernikahan di Bawah Umur Jumlah Proses persalinan istri a. Lancar melalui proses alami b. Melalui operasi 2 Kesehatan ibu setelah melahirkan : a. Baik b. Tidak baik 3 Kesehatan anak a. Baik b. Tidak baik 4 Masalah pendidikan dan pengajaran anak a. Diserahkan orang lain b. Dididik sendiri 5 Pengetahuan mengenai merawat anak a. Sudah cukup b. Belum cukup 6 Cara menyelesaikan masalah keluarga a. Musyawarah b. Menggunakan pihak ketiga 7 Ekonomi keluarga a. Bekerja sendiri b. Menggantungkan orang tua Hasil wawancara terhadap 10 orang responden Masalah pendidikan dan pengajaran terhadap anak-anaknya dari 10 responden ternyata 1 responden menyerahkan pendidikan dan pengajaran 39 8 orang 2 orang 6 orang 4 orang 7 orang 3orang 1 orang 9 orang 8 orang 2 orang 8 orang 2 orang 8 orang 2 orang

anaknya kepada orang lain, karena mereka kurang paham bagaimana cara mendidik anak. Sedangkan 9 responden lagi masalah pendidikan dan pengajaran terhadap anak didiknya sendiri karena sudah siap dan paham bagimana cara mendidik seorang anak. Pengetahuan bagaimana cara merawat seorang anak dari 10 responden, 7 responden sudah tahu bagaimana cara merawat seorang anak karena banyak tanya kepada orang lain bagaimana cara merawat anak dan 3 responden lainnya belum begitu paham bagaimana cara merawat anak. Karena mereka sendiri masih terlalu kecil untuk merawat anak. Sedangkan penyelesaian masalah yang terjadi dalam keluarga mereka ada yang menyelesaikan secara musyawarah dan ada juga yang memerlukan bantuan pihak ketiga. Dari 10 responden, 6 responden menyelesaikan masalah melalui musyawarah dan 4 responden lainnya menyelesaikan masalah dibantu pihak ketiga, yaitu orang tua mereka sendiri. Karena tanpa pihak ketiga masalah dalam keluarga mereka tidak selesai-selesai juga. Akan tetapi masalah perekonomian dalam keluarga mereka ada yang sudah bekerja sendiri dan ada juga yang menggantungkan kepada orang tua mereka. Dari 10 responden, 8 responden sudah dapat memenuhi kebutuhan perekonomian dan diri mereka sendiri. Karena mereka sudah bekerja baik kerja sebagai petani atau lainnya. Dua responden lagi masih menggantungkan perekonomian mereka kepada orang tua, karena mereka belum bekerja dan orang tua mereka selalu memberikan apa yang diminta oleh anaknya.

40

BAB IV ANALISA PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KELURAHAN KARANG KETUAN KECAMATAN LUBUK LINGGAU SELATAN II, KOTA LUBUK LINGGAU

A. Faktor-faktor yang Mendorong Terjadinya Pernikahan di Bawah Umur Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya pernikahan di bawah umur. Seperti dalam bab III antara lain : 1. Pernikahan atas Kehendak Orang Tua Pelaksanaan pernikahan di bawah umur yang terjadi di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau disebabkan karena faktor orang tua yang menikahkan anaknya dengan paksa dan memalsukan umurnya. Sebenarnya itu merupakan tindakan yang kurang bijaksana menurut Islam dan UU Perkawinan No. 1/1974 sesuai dengan ketentuan dalam pasal 6 ayat (1) yang berbunyi “perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai” Walaupun orang tua (wali) mempunyai hak untuk menikahkan anaknya dengan paksa, tapi mereka (orang tua/wali) tidak sewenangwenang untuk menentukan pilihan tanpa harus meminta pertimbangan dahulu dari anak-anaknya. Agar terjadi kemaslahatan umur dalam melakukan pernikahan yang benar-benar berdasarkan atas suka sama suka tanpa paksaan dari orang tua,

41

karena yang demikian akan menimbulkan rasa tanggung jawab atas diri masing-masing. Menurut penulis proses pernikahan harus lewat kerelaan atau persetujuan dari kedua calon mempelai (menurut UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 6 ayat (2)) karena setiap pernikahan yang dilaksanakan dengan paksaan akan menimbulkan akibat yang sangat rawan atau sensitif untuk membina kehidupan rumah tangga. Sebenarnya banyak anak yang tidak mau dinikahkan menurut pilihan orang tua dan apabila terjadi maka tujuan dari pernikahan tidak tercapai, karena pada akhirnya pernikahan tersebut merupakan tempat untuk melampiaskan hawa nafsu dan kebutuhan biologis saja. Sedangkan hukum Islam memang mengakui adanya hak ijbar yang dimiliki oleh orang tua (wali) untuk menikahkan anaknya yang masih dib awah umur. Kenyataanyang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau anak yang dinikahkan secara biologis sudah dikatakan baligh, karena mereka pada umumnya telah mengalami tanda-tanda kedewasaan, seperti haid dan telah mengalami mimpi basah. Sedangkan umur yang ditentukan oleh UU Perkawinan No. 1/1974 pasal 7 ayat (1). Namun secara psikologis calon mempelai tersebut belum tentu dewasa karena tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 1).

42

Hak perwalian orang tua yang terdapat dalam UU Perkawinan No. 1/1974 diatur dalam pasal 50 ayat (1) yang bunyinya bahwa “anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan walinya”. Tetapi kenyataan yang terjadi pada masyarakat di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau pada umumnya wali nikah dari anak perempuannya adalah orang tua kandungannya sendiri selama ia masih hidup ada juga yang orang tua kandung tidak mau menjadi wali nikahnya dan diserahkan kepada pengurus P3N, karena menurutnya lebih mengerti tentang perwalian. 2. Faktor Kemauan Anak Faktor atas kemauan anak dalam pernikahan di bawah umur menurut pengamatan penulis, karena adanya pengaruh lingkungan di sekitarnya. Dikarenakan banyaknya anak-anak yang seusianya atau temanteman mereka yang sudah menikah, dan akhirnya merekapun terpengaruh untuk ikut-ikutan menikah disebabkan mereka takut dikatakan tidak laku. Faktor kemauan anak ini terkadang bukan keinginan sendiri atau panggilan dari nalurinya, namun dipengaruhi oleh faktor dari luar, seperti keinginan atau rayuan dari orang tua dan cemoohan dari masyarakat di sekitarnya. Dan faktor kemauan anak ini masih ada hubungannya dengan hak ijbar (orang tua/wali) yang menjadi pembeda keduanya adalah siapa yang berhak menentukan pilihannya. Jika atas kemauan anak, maka anak itu sendiri yang menentukan pilihannya. Sedangkan orang tua hanya

43

bersikap pasif saja, jika hak ijbar atau perjodohan orang tua, maka yang berhak menentukan pilihan adalah orang tuanya. 3. Faktor Adat dan Budaya Praktek pernikahan di bawah umur yang ada pada masyarakat di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau, menurut penulis merupakan tradisi yang sudah ada dalam beberapa keluarga. Dengan adanya anggapan-anggapan masyarakat tentang arti sebuah pernikahan, yang menurut mereka merupakan suatu hal yang sangat berarti dalam kehidupan masyarakat tanpa melihat hakekat dan tujuan sebuah pernikahan yang lebih dalam lagi, dimana hal itu akan membawa mereka kepada suatu paradigma yang sebenarnya menyulitkan mereka, seperti adanya anggapan-anggapan masyarakat bagi anak yang belum menikah, dengan kata-kata “tidak laku”, “perawan tua”, “sok jual mahal” dan lain-lain. Da semua itu merupakan bagi seorang wanita yang lama mendapatkan jodoh atau lama menikahnya. Adanya tradisi seperti ini tidak mudah diubah dengan adnaya semangat pendidikan dan kesadaran agama yang tinggi serta peningkatan ekonomi, karena tidak bertentangan dengan agama Islam yang membolehkan atau menganjurkan umatnya untuk segera menikah, jika sudah mempunyai kemampuan. Dan UU No. 1/1974 tidak melarang mutlak. Ini terbukti karena UU No. 1/1974 masih memberikan kelonggaran untuk pernikahan di bawah umur yaitu dengan jalan meminta dispensasi dari Pengadilan Agama (PA).

44

Dengan demikian penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa UU No. 1/1974 tidak mutlak dalam memberikan suatu ketentuan, sehingga tidak heran jika banyak terjadi pelanggaran, lebih-lebih fasa umur pernikahan, yang terjadi di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau. Dan nampak jelas bahwa UU No. 1/1974 sebagai UU positif belum mampu mengakomodasi semua permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan belum nampak jelas bahwa UU No. 1/1974 sebagai undang-undang positif mampu mengatur masyarakat untuk menjadi lebih baik. Akibatnya kemudian masyarakat lebih percaya pada hukum adat yang sudah mengatur di masyarakat. Suatu kenyataan yang dapat kita lihat dari adanya pernikahan di bawah umur yang dilakukan di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau pernikahan tersebut banyak dilakukan karena pengaruh adat, walaupun sebagian dari masyarakat sudah tahu dengan adanya batasan usia pernikahan, akan tetapi hal tersebut tidaklah menjadi suatu penghalang bagi mereka untuk melakukan pernikahan.

45

4. Faktor Pendidikan Rendahnya tingkat pendidikan sebagai salah satu faktor

pelaksanaan pernikahan di bawah umur, menurut penulis adalah merupakan suatu kewajaran, karena pada umumnya seseorang yang berpendidikan rendah akan berpikir sempit dan kurang maju serta jauh dari pertimbangan-pertimbangan. Namun sebaliknya orang yang berpendidikan tinggi akan mempunyai pola berpikir yang lebih luas dan lebih bijaksana dalam mengambil suatu keputusan dan untuk menentukan keputusan melalui pemikiran yang matang dan jeli, apalagi dalam menentukan suatu pernikahan dimana pernikahan tersebut adalah suatu pondasi dari kehidupan bermasyarakat. Namun secara logika bahwa pernikahan yang dilakukan oleh orang yang berilmu atau berpendidikan akan lebih bijaksana dalam bertingkah laku dan berfikir, sehingga tujuan dari pernikahan akan lebih mudah tercapai. Dengan demikian, maka pelaksanaan pernikahan di bawah umur suatu bukti bahwa mereka yang belum bisa berfikir secara bijaksana dan luas, karena mereka yang melakukan pernikahan di bawah umur rata-rata berpendidikan rendah. Akibat dari sempitnya pola fikir mereka dan kurangnya pertimbangan-pertimbangan untuk melakukan pernikahan maka akan mempengaruhi kehidupan dalam rumah tangga, dan jika di dalam rumah

46

tangganya menemukan permasalahan-permasalahan mereka tidak dapat memecahkan secara sendiri, dan melibatkan orang tua atau pihak ketiga. 5. Faktor Ekonomi Adanya faktor ekonomi dalam pelaksanaan pernikahan di bawah umur di masyarakat di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau menurut penulis lebih merupakan pelengkap dan bukan merupakan tujuan utama untuk menikahkan anaknya, karena dalam kenyataan yang ada mereka yang sudah berkeluarga atau sudah berumah tangga, ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya. Hal ini terbukti karena mereka belum mempunyai kemampuan ekonomid an kematangan jiwa raga. Dari praktek pernikahan di bawah umur tersebut semata-mata hanya tujuan orang tua agar mereka bahagia dan lega karena sudah menikahkan anaknya, walaupun secara ekonomi masih tergantung kepada orang tua. Namun UU No. 1/1974 pasal 45 ayat (1) yang menyatakan bahwa: kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya, (2) dan kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri. Kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus. Dengan demikian, jelas bahwa sebenarnya orang tua sudah tidak punya kewajiban lagi untuk memelihara dan mendidik, lebih-lebih

47

memberi nafkah, karena ia sudah menikah. Akan tetapi yang terjadi di masyarakat pada umumnya orang tua masih ikut campur dalam ekonomi rumah tangga anaknya. Menurut penulis hal yang seperti itu akan membuat anak tersebut lambat untuk berfikir dewasa dan kurang bertanggung jawab dan akan menjadikan anak sulit untuk cepat mandiri, juga melalaikan keluarganya. Dari ketergantungan ekonomi bagi mereka yang sudah

berkeluarga, juga dapat menjadi pendorong bagi anak-anak untuk seera menikah, karena mereka merasa diperhatikan dan kesempatan

menguntungkan bagi yang malas bekerja. Dapat kita lihat bahwa pernikahan tersebut hanya sekedar untuk melampiaskan nafsu belaka, dan tanpa terbebani oleh tanggung jawab dalam memberi nafkah kepada keluarga. Akan tetapi perlu penulis ingatkan bahwa ada juga merka yang menikah di usia di bawah umur karena tidak bisa melanjutkan sekolah disebabkan tidak mempunyai biaya dan kurangnya dorongan dari orang tua, akhirnya mereka terpaksa harus menikah agar tidak menjadi bahan pembicaraan atau gunjingan masyarakat. 6. Faktor Agama Faktor agama juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pernikahan di bawah umur karena dalam Islam tidak ada larangan pernikahan di bawah umur. Sehingga sebagian masyarakat berpendapat hal itu merupakan tindakan semata-mata untuk melestarikan

48

sunnah Rasulullah dan masyarakat menjadi pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah sebagai pedoman bagi mereka dalam melakukan pernikahan. Bagi masyarakat pernikahan bukanlah merupakan hal yang sulit dan bukan termasuk perbuatan dosa, jika harus melanggar UU No. 1/1974, mengenai batas usia pernikahan. Disamping itu juga masyarakat kurang mengenal tentang aturan-aturan dalam UU No. 1/1974 tersebut. Adapun pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah yang dijadikan pedoman oleh masyarakat dalam melaksanakan pernikahan di bawah umur, menurut penulis disebabkan karena mereka tidak mengerti atau tidak tahu hikmah dibalik pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah. Lebih lanjut penulis melihat bahwa praktek pernikahan di bawah umur tersebut lebih cenderung sebagai tradisi ketimbang komite religius dalam rangka melestarikan teladanan pernikahan Nabi dengan Siti Aisyah, namun hal ini tidaklah mudah dihilangkan oleh semangat pendidikan, peningkatan ekonomi atau Undang-undang formal sekalipun, seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau. Meskipun telah mulai bermunculan sarjana-sarjana mudah semakin banyaknya berdiri sekolah Islam serta pondok pesantren, akan tetapi mereka masih banyak yang terbukti melakukan pernikahan di bawah umur di masyarakat. Menurut penulis bahwa pernikahan di bawah umur dalam konteks sekarang kurang atau bahkan tidak cocok lagi untuk dilaksanakan, karena

49

dalam mengemudikan bahtera rumah tangga akan menimbulkan berbagai masalah yang harus dihadapi apalagi di era globalisasi sekarang ini, dimana persaingan bagitu ketat terutama dibidang perekonomian. Walaupun secara yuridis pernikahan di bawah umur yang dilaksanakan di bawah umur 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan dianggap sah, hanya saja dari segi kedewasaan (psikologi) atau sosiologi ekonomi masih diragukan dan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks nantinya dalam kehdupan rumah tangganya. Sejalan dengan ajaran Islam, menganjurkan pernikahan bagi mereka yang sudah “mampu” tanpa memberi batasan usia, akan tetapi Islam juga menganjurkan hendaknya dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai kemampuan baik dari berbagai aspek kehdiupan juga kemampuan yang dipengaruhi oleh adanya kedewasaan dan kematangan baik jiwa dan umur seseorang, walaupun tidak selamanya. Oleh sebab itu menurut hemat penulis berdasarkan kenyataan yang ada bagi mereka yang melakukan pernikahan di usia di bawah umur masih jauh dari taraf kematangan (mayoritas) baik secara fisik biologis mental psikologis dan ekonomi.

B. Analisa Dampak Pernikahan di Bawah Umur
Berdasarkan dari uraian pada bab sebelumnya, penulis menilai bahwa rumah tangga yang dibangun oleh anak-anak yang masih di bawah umur usianya yang terjadi di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau. 50

Meskipun dampak negatif itu relatif kecil hanya terjadi pada beberapa pasangan suami isteri dalam kehidupan rumah tangga karena tidak adanya keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga yang timbul oleh seringnya terjadi percekcokan, cemburu yang berlebihan, adanya sikap keras suami terhadap sang isteri, kuarngnya pengetahuan dari pihak istri dalam cara pendidikan dan pengajaran anak, pengetahuan mengenai merawat anak dan akhirnya akan menyebabkan lemahnya mental anak-anak yang dilahirkan, kemiskinan rohani, jasmani dan sebagainya. Ada juga dampak positif dari pernikahan di bawah umur yang didapati dalam kehidupan rumah tangga beberapa pasangan suami isteri. Karena tujuan mereka pada saat melaksankan pernikahan di bawah umur adalah untuk mencegah dari perbuatan zina dan kemaksiatan diantara mereka dan diawali dengan niat yang suci sehingga kehidupan rumah tangga mereka tidak mudah diombang ambing oleh masalah yang ada, dikarenakan adanya rasa tanggung jawab dan rasa kasih sayang diantara anggota keluarga dan dapat dengan mudah mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Dengan adanya kematangan jiwa dan raga serta kematangan ekonomi harus sudah ada sebelum pernikahan jika tidak maka rumah tangga yang dibangunnya akan mudah terombang ambing oleh setiap permaalahan yang setiap kali muncul dalam kehidupan berumah tangga, sehingga masa depan akan suram. Dalam undang-undang juga menganut beberapa asas yang prinsip berhubungan dengan pernikahan. Adapun asas-asas tersebut antara lain :

51

1. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi agar masingmasing dapat mengembangkan kepribadiannya, membentuk dan mencapai kesejahteraan spiritual dan material. 2. Dalam undang-undang ini ditegaskan bahwa suatu perkawinan adalah syah, apabila dilakukan meurut masing-masing agamanya dan

kepercayaan itu dan disamping itu setiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Undang-undang perkawinan ini menganut monogami, hanya apabila dikehendaki oleh orang yang bersangkutan mengizinkan maka seseorang suami dapat beristri lebih dari satu orang. 4. Undang-undang perkawinan ini menganut prinsip bahwa calon suami isteri harus telah masak jiwa raganya untuk melangsungkan perkawinan, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berfikir pada perceraian dan mendapatkan keturunan yang baik dan sehat. 5. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera, maka undang-undang menganut prinsip mempersulit terjadinya perceraian. 6. Hak dan kedudukan isteri seimbang dengan hak kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat

52

sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami isteri. 38 Dengan demikian pada dasarnya pelaksanaan pernikahan bukan hanya untuk kesenangan atau kebahagiaan sementara dan tidak hanya merupakan pemenuhan kebutuhan biologis belaka, akan tetapi untuk kebahagiaan yang kekal abadi dan harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. karena itu perpisahan atau perceraian dalam ikatan pernikahan merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT.

38

Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, cet. III, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

53

BAB V PENUTUP

Setelah mengadakan pembahasan dan penelitian dari Bab I sampai Bab IV maka dalam mengakhiri skripsi tentang Perkawinan di Bawah Umur (Studi Kasus di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau) dari tahun 2000-2004 penulis akan membagi dalam dua sub judul kesimpulan dan saran. A. Kesimpulan Dari uraian bab per bab sebelumnya penulis dapat mengambil beberapa pokok yang dapat menjadikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan ini. 1. Pelaksanaan pernikahan di bwah umur di masyarakat Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau merupakan suatu problematika dan simalakama karena ada rasa takut dan khawatir pada diri orang tua, anaknya akan terjerumus ke jurang maksiat. Sehingga pernikahan di bawah umur itu dianggap suatu jalan yang terbaik, walaupun anak itu belum mampu baik secara materi maupun immaterial (psikologis). Ada dua cara yang ditempuh oleh masyarakat dalam mensiasati Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 yaitu pertama dengan meminta dispensasi kepada Pengadilan Agama setempat, dan yang kedua

1998, hlm. 46-47

54

dengan melakukan pemalsuan umur yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. 2. Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 sebagai hukum positif yang berlaku di Indonesia, menetapkan batas umur perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan (pasal 7 ayat (1)). Namun batas usia tersebut bukan merupakan batas usia seseorang telah dewasa, yang cukup dewasa untuk bertindak, akan tetapi batas usia tersebut hanya merupakan batas usia minimal seseorang boleh melakukan pernikahan. Di dalam pasal 6 ayat (2), disebutkan bahwa seseorang sudah dikatakan dewasa kalau sudah mencapai umur 21 tahun, sehingga dalam melakukan pernikahan tidak perlu mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. 3. Untuk periode 2004-2006 ada 19 kasus pernikahan di bawah umur dimana pernikahan di bawah umur tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor kehendak orang tua yang menikahkan anaknya, atas kemauan anak, adat dan budaya, pendidikan, ekonomi dan agama. Dan pernikahan di bawah umur ini membawa dampak dalam kehidupan rumah baik dari segi kesehatan, pendidikan dan ekonomi. 4. Sesuai dengan data yang ada maka dampak negatif dari pernikahan di bawah umur yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau tersebut relatif kecil hanya terjadi pada beberapa pasangan suami isteri dalam kehidupan rumah tangga karena tidak adanya keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga yang timbul oleh seringnya terjadi percekcokan, cemburu yang berlebihan,

55

adanya sikap keras suami terhadap isteri, kurangnya pengetahuan dari pihak isteri dalam cara pendidikan dan pengajaran anak, pengetahuan mengenai merawat anak dan akhirnya akan menyebabkan lemahnya mental anak-anak yang dilahirkan, kemiskinan rohani, jasmani dan sebagainya. Dan yang ditakutkan oleh sebagian besar masyarakat akan pernikahan di bawah umur tidak terbukti, karena apabila seseorang telah mempunyai kemampuan dan persiapan yang matang baik dari segi lahir maupun batin maka orang tersebut sudah dapat untuk melangsungkan pernikahan. B. Saran-saran Sebegitu agungnya pernikahan itu sehingga bagi mereka yang melaksanakan pernikahan dianggap telah memiliki setengah dari agama, karena telah menjalankan sunnah Rasul. Oleh sebab itu pernikahan tersebut harus diawali dengan niat yang suci dari dalam hati. Pernikahan yang dilaksanakan tanpa adanya persiapan mental, spiritual dan dengan niat yang suci yang memadai akan menimbulkan banyak sekali dampak negatif dalam mempengaruhi bahtera kehidupan dalam rumah tangga tersebut.

56

DAFTAR PUSTAKA A. Kelompok Al-Quran dan Tafsir As Sayis, Muhammad Ali, Tafsir Ayat Al Ahkam, terj. Muhammad Ali Sabik, CV As Syifa, Bandung,1963. Departemen Agama RI, Al Qur'an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur'an, Jakarta, 1980. B. Kelompol Al-Hadis Al Muslim, Al Imam Abu Husain Muslim Ibn Hajjajal Qursyairi An Naisaburi, Shahih Muslim, Dar Al Kitab al Nikah, Beiurt, t.t. C. Kelompok Fiqih dan Ushul Fiqih Abidin, Slamet dan H. Aminudin, Fiqih Munakahat, Pustaka Setia, Bandung, 1999. Al Jaziri, Abdu Ar Rahman, Kitab al-Fiqih ‘Ala al-Ma’zahib al-Arba’ah, Dar Al-Fikr, Beirut, 1969. Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah,(Terj) Moh Thalib jilid 6,Cet I Al-Ma’arif, Bandung, 1990. Zahrah, Abu, Usul al-Fiqh, Dal al-Fikr al-Arabi, Kairo, t.t. D. Kelompok Umum Al-Bany, Ahmad Zakariya, Hukum Anak-anak dalam Islam, terj. Chotijah Nasution, Bulan Bintang, Jakarta, 1997. Al-Ghifari, Abu, Pernikahan Dini Dilema Generasi Extravaganza, Mujahid Press, Bandung, 2002. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Pendekatan suatu Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998. Daly, Peunoh, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahli Sunnah dan Negara-negara Islam, cet. I, Bulan Bintang, Yogyakarta, 1980.

57

Departemen P dan K, Kamus Besar Indonesia, cet. 3, Balai Pustaka, Jakarta, 1990. Hadi, Sutrisno, Metodologi Penelitian Research I, Yayasan Penelitian Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1981. Ichsan, Ahmad, Hukum Perkawinan Bagi yang Beragama Islam, Suatu Tinjauan dan Ulasan secara Sosiologi Hukum, Pradia Paramita, Jakarta, 1986. Mapreare, Andi, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1982. Prints, J., Tentang Hukum Perkawinan di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982. Rahman, Bakri A. dan Ahmadi Sukadja, Hukum Perkawinan Menurut Islam, Undang-undang Perkawinan dan Hukum Perdata/BW, Hidakarya Agung, Jakarta, 1981. Ramulyo, Mohd. Idris, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996. Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, cet. III, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998. ______________, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998. Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta, 1991. Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, 1992. Syarifuddin, Kamus al-Misbah, Bina Aksara, Jakarta, t.t. Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaan,PT Pradya Paramita,jakarta,1974

58

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Nama Ayah Alamat Pendidikan : Maimun : Kab. Musirawas, 12 Oktober 1982 : Islam : Mujamil : Karang Ketuan RT 04/VII : - SD N 1 Air Ketuan II, lulus tahun 1995 - SMP N II Air Temam, lulus tahun 1998 - SMK N 3 Lubuk Linggau, lulus tahun 2001 - STAIN Salatiga lulus tahun 2007 Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

59

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful