HUBUNGAN UU TATA RUANG DENGAN UU INFORMASI GEOSPASIAL Rifqi Muhammad Harrys - 15111020 Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

, Institut Teknologi Bandung, Indonesia rifqi.m.h@students.itb.ac.id Pada tahun 2007, pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-undangan mengenai tentang penataan ruang yang ada di Indonesia berupa Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (UU Tata Ruang). UU ini dibentuk dengan pertimbangan bahwa perlu ditingkatkannya upaya pengelolaan ruang secara bijaksana, berdaya guna, dan berhasil guna serta tuntutan oleh perkembangan situasi dan kondisi nasional dan internasional akan penegakan prinsip keterpaduan, keberlanjutan, demokrasi, kepastian hukum, dan keadilan dalam penataan ruang. Kemudian, penyelenggaraan penataan ruang ini bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan terwujudnya keharmonisan antar lingkungan alam dan lingkungan buatan, terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memerhatikan sumber daya manusia, dan terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Dalam UU Tata Ruang ini pun ditegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan UU ini yang sejalan dengan kebijakan otonomi daerah agar menjaga keharmonisan antara pemerintah pusat dan daerah. Empat tahun kemudian, dikeluarkanlah Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial (UU Informasi Geospasial). UU ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan akses terhadap informasi geospasial yang dapat dipertanggungjawabkan, mewujudkan penyelenggaraan informasi geospasial yang berdaya guna dan berhasil guna melalui kerja sama, koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi, serta mendorong penggunaan informasi geospasial dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Informasi geospasial terbagi menjadi dua, yaitu informasi geospasial dasar dan informasi geospasial tematik. Berdasarkan Pasal 5, informasi geospaisal dasar meliputi jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Seluruh informasi yang ada pada informasi geospasial dasar ini kemudian menjadi dasar dalam pembuatan informasi geospasial tematik yang kegunaannya bermacam-macam, seperti untuk pemetaan wilayah banjir, pemetaan wilayah longsor, pemetaan rencana tata ruang kota, dan sebagainya. Kedua Undang-Undang yang disebutkan sebelumnya di atas memiliki beberapa pertimbangan yang sama disebabkan oleh keadaan Indonesia, yaitu untuk mencegah bencana alam terjadi dan untuk menjamin kepastian hukum di Indonesia. Sebagaimana tertera pada UU Tata Ruang pasal 14 ayat 5, skala pada peta rencana umum tata ruang memerlukan perincian sebelum dioperasionalkan karena efektivitas penerapan tata ruang dipengaruhi oleh luas wilayah yang akan ditata. Apabila wilayah yang direncanakan luas, tidak diperlukan peta yang terlalu rinci (skala besar), berlaku juga sebaliknya. Pengaturan tentang besarnya skala peta yang dibuat pada peta dasar tertera pada UU Informasi Geospasial pasal 18. Terkait dengan pembuatan peta rencana tata ruang yang merupakan peta tematik, dijelaskan pada UU Informasi Geospasial pasal 19 dan 20, bahwa peta tematik harus mengacu pada peta dasar dan skala peta tematik tidak boleh lebih besar dari skala peta dasar yang dianutnya karena dapat memengaruhi ketelitian peta. Berdasarkan isi dari kedua Undang-Undang ini, terlihat bahwa UU Tata Ruang ini tidak dapat dijalankan dengan baik tanpa adanya UU Informasi Geospasial. Namun, bukan berarti UU Informasi Geospasial lebih penting daripada UU Tata Ruang. Kedua Undang-Undang tersebut sama pentingnya bagi kepastian hukum di Indonesia. Akan tetapi, sangat disayangkan saat peraturan perundang-undangan tentang tata ruang mendapat perhatian lebih dibanding informasi geospasial karena Undang-Undang tentang tata ruang sebelum UU No. 26 Tahun 2007 telah ada, yaitu UU No. 24 Tahun 1992. Padahal Undang-Undang tentang informasi geospasial mengatur sesuatu yang lebih dasar dibandingkan Undang-Undang tentang tata ruang.

Referensi Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial