Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus

)

1 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
MAFAHIM AQIDAH






¸¸`.¸, ¸<¦ ¸_.´.-¯¸l¦ ¸¸,¸>¯¸l¦

¯_· ´¡> ´<¦ .>¦ ¸¸¸
´<¦ ..¯.l¦ ¸_¸
¯¡l .¸¦, ¯¡l´¸ .l¡`, ¸_¸
¯¡l´¸ _>, .`«] ¦´¡±é ´.>¦ ¸_¸


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

[QS. Al-Ikhlash: 1-4]



















Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

2 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB AQIDAH

Definisi Aqidah
Perlu dipahami di awal bahwa istilah aqidah tidak pernah digunakan dalam teks Al
Qur‘an maupun sunnah Rasul Saw. Istilah aqidah baru dikenal dan digunakan oleh para
ulama ushuluddin. M. Husain Abdullah dalam Dirasat fi al-Fikr al-Islami menyampaikan bahwa
ditinjau dari bahasa arab, aqidah berasal dari kata kerja 'aqada yang bermakna syadda
(menguatkan atau mengikatkan). Kata 'aqada ini dapat digunakan untuk menunjukkan
berbagai pengertian yang intinya mengandung makna ikatan atau penguatan, misalnya „aqdu
al-habl (mengikatkan tali), „aqdu al-bai‟ (mengadakan ikatan atau akad jual-beli), „aqd al‟ahdi
(mengadakan ikatan atau akad perjanjian) dan sebagainya. Masih secara bahasa, aqidah dapat
pula bermakna ma in‟aqada „alaihi al-qalbu, yaitu sesuatu yang hati itu terikat padanya. Adapun
pengertian in‟aqada adalah jazama bihi (hati itu memastikannya) atau shaddaqahu yaqiniyan (hati
itu membenarkan secara yakin atau pasti). Jadi, menurut bahasa, aqidah adalah segala
pemikiran yang dibenarkan secara pasti oleh hati, sedemikian hingga hati itu terikat
kepadanya dan memberi pengaruh nyata pada manusia.
Ditinjau dari istilah, aqidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta,
manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah
kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudah
kehidupan dunia tersebut
Hafidz Abdurrahman dalam Diskursus Islam, Politik dan Spiritual memberikan definisi
aqidah secara global sebagai aqidah pemikiran yang menyeluruh mengenai manusia,
kehidupan serta hubungan diantara semuanya dengan apa yang ada sebelum kehidupan
(Pencipta) dan setelah kehidupan (Hari Kiamat), serta mengenai hubungan semuanya dengan
apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan (syariat dan hisab), yang diyakini oleh qalbu
(wijdan) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai
dengan realitas (yang diimani), dan bersumber dari dalil.
Dalam konteks Islam, aqidah Islam bisa didefinisikan dengan iman kepada Allah,
Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-
mata dari Allah, yang diyakini oleh qalbu (wijdan) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi
pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil.
Sedangkan makna iman itu sendiri adalah tashdiiq al-jaazim al-muthaabiq li al-waaqi‟ „an
al-daliil (pembenaran pasti yang sesuai dengan kenyataan dan ditunjang dengan dalil/bukti).
Pembenaran pasti artinya seratus persen kebenaran/keyakinannya tanpa ada keraguan (dzann)
sedikitpun. Sesuai dengan kenyataan artinya hal yang diimani tersebut memang benar adanya,
bukan diada-adakan (mis. keberadaan Allah). Ditunjang dengan suatu dalil artinya keimanan
tersebut memiliki hujjah/dalil tertentu. Tanpa dalil sebenarnya tidak akan ada pembenaran
yang bersifat pasti. Imam al-Ghazali menyatakan:

"Iman adalah pembenaran pasti yang tidak ada keraguan maupun perasaan bersalah yang
dirasakan oleh pemeluknya.‖

Aqidah dibangun atas dasar pemikiran rasional (aqliyah)
Aqidah Islam bukanlah suatu keyakinan yang dibangun atas dasar doktrin atau taklid
semata. Namun, aqidah Islam haruslah muncul dari proses berfikir secara rasional. Imam
Syafi'i dalam kitab Fiqhul Akbar berkata:

"Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil
untuk ma'rifat kepada Allah Ta'ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan
qalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma'rifat kepada Allah.
Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma'rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

3 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pengamatannya dengan indra dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu
kewajiban dalam bidang ushuluddin."

Pemikiran rasional yang membangun sebuah aqidah juga pernah ditunjukkan oleh
seorang arab baduy yang suatu ketika ditanyakan kepadanya "Dengan apa engkau mengenal
Rabbmu ?" Dia menjawab :

"Tahi onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada
orang yang berjalan. Bukankah gugusan bintang yang ada di langit dan ombak yang
bergelombang di laut menunjukkan adanya Sang Pencipta Yang Maha Tinggi dan Maha
Kuasa."

Allah SWT berfirman:

¿¸| _¸· ¸_l> ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸¸.l¸.>¦´¸ ¸_,l¦ ¸¸!¸.l¦´¸ ¸,l±l¦´¸ _¸.l¦ _¸¸>´ _¸· ¸¸`>,l¦ !.¸,
_±., ´_!.l¦ !.´¸ _¸.¦ ´<¦ ´_¸. ¸,!.´.l¦ _¸. ¸,!. !´,>!· ¸«¸, ´_¯¸¸¦ .-, !¸¸:¯¡. ´¸,´¸ !¸,¸· _¸.
¸_é ¸«`,¦: ¸¸,¸¸`..´¸ ¸_.,¸¯¸l¦ ¸,!>´.l¦´¸ ¸¸>..l¦ _,, ¸,!.´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸¸.,¸ ¸,¯¡1¸l
¿¡l¸1-, ¸¸__¸
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar
di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)
tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS.Al-Baqarah: 164]

´_¸| _¸· ¸_l> ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸¸.l¸.>¦´¸ ¸_,l¦ ¸¸!¸.l¦´¸ ¸¸.,¸ _¸|`¸¸¸¸ ¸¸.,l¸¦ ¸¸_¸¸
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-
tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Ali Imran: 190]

Ayat di atas dan masih banyak lagi ayat yang serupa mengajak manusia untuk
memperhatikan segenap kandungan alam semesta dengan seksama dan memperhatikan apa
yang ada di dalam diri dan sekelilingnya. Semua itu merupakan bukti nyata adanya Pencipta
yang Maha Mengatur. Dengan cara itu, imannya kepada Allah SWT merupakan keyakinan
yang mantap karena berdasarkan bukti yang nyata dan rasional.
Islam memperingatkan manusia untuk tidak mengikuti begitu saja keyakinan dan jalan
hidup yang ditempuh oleh nenek moyangnya tanpa meneliti sejauh mana kebenaran pilihan
tersebut. Dengan kata lain, Islam telah melarang seorang muslim bertaqlid dalam masalah
keyakinan atau aqidahnya. Allah SWT berfirman :

¦:¸|´¸ _,¸· `¡¸l ¦¡`-¸,.¦ !. _¸.¦ ´<¦ ¦¡l!· ¯_, _¸,.. !. !´.,±l¦ ¸«,ls !.´,!,¦´, ¯¡l´¸¦ _l´
¯¡>¸!,¦´, ¸ _¡l¸1-, !:,: ¸´¸ ¿¸..¸, ¸¸_¸¸
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, „Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,‟ mereka menjawab,
„(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami‟. „(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" [QS. Al-Baqarah: 170]
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

4 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

¦:¸|´¸ _,¸· `¸> ¦¯¡l!-. _|¸| !. _¸.¦ ´<¦ _|¸|´¸ ¸_¡.¯¸l¦ ¦¡l!· !´.,`.> !. !..>´¸ ¸«,ls !.´,!,¦´,
¯¡l´¸¦ ¿l´ ¯¡>¸!,¦´, ¸ ¿¡.l-, !:,: ¸´¸ ¿¸..¯¸´¸ ¸¸¸_¸
“Apabila dikatakan kepada mereka, „Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti
Rasul.‟ mereka menjawab, „Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya.‟ dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah: 104]

Ayat-ayat di atas menunjukkan secara tegas larangan pada setiap manusia untuk
mengikuti begitu saja (taqlid) kepada nenek moyangnya dalam masalah aqidah. Keyakinan
atau aqidah yang diperoleh dengan jalan taqlid adalah keimanan yang rapuh, mudah sekali
digoncang oleh berbagai cobaan dan tantangan. Abdul Majid Az-Zindani menyatakan :

―Kalau manusia ingin memiliki iman yang benar, ia harus berilmu (menggunakan akalnya)...
sebab iman yang didapat dan dipertahankan dengan jalan taqlid kepada orang lain akan segera
goncang justru di awal menghadapi cobaan dan serangan.‖

Inilah proses membangun aqidah yang diajarkan Islam. Aqidah yang dibangun
berlandaskan pemikiran yang jernih hasil proses pengamatan atas bukti-bukti yang nyata yang
terhampar di alam semesta ini. Melalui pengamatan dan pemikiran inilah seseorang akan
sampai kepada keyakinan tentang eksistensi Allah SWT.
Walaupun wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam membangun aqidahnya,
namun tidak mungkin akal tersebut akan menjangkau semua hal. Akal hanya mampu
menjangkau sesuatu yang dapat dijangkau oleh indera (al-waqi‟ al-mahsus), yaitu alam semesta,
manusia dan kehidupan. Mengenai keterbatasan akal ini, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani
menetapkan sebuah kaidah dalam kitabnya Ma‟lumat li Asy Syabab :

Ma la yudriku al-hissu la yudrikuhu al-„aqlu (Segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau indera,
pasti tidak dapat dijangkau akal.)

Karena keterbatasan akal dalam berfikir, Islam melarang manusia untuk berfikir
langsung tentang Dzat Allah, karena Dzat Allah berada diluar jangkauan indera dan pastinya
juga tidak terjangkau oleh akal. Selain itu juga karena manusia mempunyai kecenderungan
(bila ia hanya menduga-duga tanpa memiliki acuan kepastian) menyerupakan Allah SWT
dengan suatu makhluk. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :

"Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu pikirkan tentang Dzat Allah.
Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya yang sebenarnya." (HR
Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah"; sifatnya marfu', sanadnya dhoif tetapi isinya
shahih)

Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang Dzat Allah
yang sebenarnya; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas 'Arsy-
Nya, dan seterusnya. Sebab, Dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisa, tidak
dapat dikiaskan dengan materi apapun, semisal manusia, makhluk aneh berkepala dua,
bertangan sepuluh, dan sebagainya.
Kita hanya percaya dengan sifat-sifat Allah yang dikabarkan-Nya melalui wahyu. Bila
kita menghadapi suatu ayat/hadits yang menceritakan tentang menyerupakan Allah dengan
makhluk, maka kita tidak boleh mencoba-coba membahas ayat-ayat/hadits tersebut dan
menta'wilkannya sesuai dengan akal kita. Ia lebih baik kita serahkan kepada Allah, karena ia
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

5 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
memang berada di luar kemampuan akal. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat, tabi'in, dan
ulama salaf. Imam Ibnul Qoyyim berkata:

"Para sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Padahal mereka itu adalah ummat
yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah terlibat
bertentangan faham satu sama lainnya dalam menghadapi asma Allah, perbuatan-perbuatan
Allah, dan sifat-sifat-Nya. Mereka menetapkan apa yang diutarakan Al Qur'an dengan suara
bulat. Mereka tidak menta'wilkannya, juga tidak memalingkan pengertiannya."

Ketika Imam Malik ditanya tentang makna "persemayaman-Nya" (istiwaa'), beliau
lama tertunduk dan bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat
kepala lalu berkata :

"Persemayaman itu bukan sesuatu yang dapat diketahui. Juga kaifiyah (cara)nya bukanlah hal
yang dapat difahamkan. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakan hal
tersebut adalah bid'ah/ salah."

Al Muzani – salah seorang murid Imam Syafii – pernah mengalami keragu-raguan
dalam masalah tauhid. Maka Imam Syafii mengatakan kepadanya, ―Sekarang kembalilah saja
kepada firman Allah SWT :

¯_>¸.l¸|´¸ «.l¸| .¸>´¸ ¸ «.l¸| ¸¸| ´¡> _..>¯¸l¦ `¸,¸>¯¸l¦ ¸¸__¸ ¿¸| _¸· ¸_l> ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸
¸¸.l¸.>¦´¸ ¸_,l¦ ¸¸!¸.l¦´¸ ¸,l±l¦´¸ _¸.l¦ _¸¸>´ _¸· ¸¸`>,l¦ !.¸, _±., ´_!.l¦ !.´¸ _¸.¦ ´<¦ ´_¸.
¸,!.´.l¦ _¸. ¸,!. !´,>!· ¸«¸, ´_¯¸¸¦ .-, !¸¸:¯¡. ´¸,´¸ !¸,¸· _¸. ¸_é ¸«`,¦: ¸¸,¸¸`..´¸ ¸_.,¸¯¸l¦
¸,!>´.l¦´¸ ¸¸>..l¦ _,, ¸,!.´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸¸.,¸ ¸,¯¡1¸l ¿¡l¸1-, ¸¸__¸
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di
bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS. Al
Baqarah : 163-164]

Setelah membacakan ayat tersebut, Imam Syafii berkata kepada Al Muzani : ―Maka jadikanlah
makhluk ciptaan Allah sebagai dalil atas adanya Al Khalik jangan menyusahkan dirimu
dengan sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh akalmu.‖

Jadi, jelaslah bahwa kendati akal menjadi dalil atas adanya Allah SWT (karena
keberadaan-Nya masih dalam jangkauan akal dengan jalan mengindera makhluk-Nya) tetapi
tetap saja akal manusia tidak mungkin membahas sesuatu yang berada di luar jangkauannya,
seperti bagaimana Dzat Allah, „asma wa sifat (nama-nama dan sifat-sifat) Allah.

Dalil aqli dan Dalil naqli
Karena tidak semua perkara aqidah dapat dijangkau dengan akal, maka dalam
pembahasan aqidah dikenal apa yang disebut dengan dalil aqli dan dalil naqli. Dalil aqli adalah
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

6 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
bukti (burhan) yang digunakan oleh akal untuk mencapai pembenaran yang pasti (tasdiiq jazim)
terhadap satu perkara di antara perkara-perkara aqidah Islam. Dalil naqli (disebut juga dalil
sam‟i) adalah berita (khabar) yang bersifat pasti (qath‟i) dalam hal ini al-Qur‘an dan al-Hadits
yang memberitakan kepada kita mengenai satu rukun di antara rukun-rukun aqidah Islam.
Yang menentukan apakah dalil yang digunakan dalam satu perkara aqidah adalah dalil
aqli atau dalil naqli, adalah perkara aqidah atau keimanan itu sendiri. Jika perkara keimanan
berupa fakta terindera atau terdapat fakta indera yang menunjukkan adanya suatu perkara
keimanan misalnya mengenai keberadaan (eksistensi) Allah SWT, al-Quran sebagai
kalamullah, Muhammad sebagai Rasulullah, maka dapat dipastikan dalilnya adalah dalil aqli,
bukan dalil naqli. Jika perkara keimanannya bukan merupakan fakta terindera, misalnya „asma
wa sifat Allah, malaikat, hari kiamat dan sebagainya, maka dalilnya adalah dalil naqli. Sementara
karena dalil naqli itu sendiri adalah suatu fakta terindera, maka penilaian terhadapt suatu dalil
naqli – apakah dia layak atau tidak untuk menjadi dasar keimanan – tergantung pada dalil aqli.
Dari segi inilah, dapat dikatakan bahwa aqidah Islam adalah sebuah aqidah aqliyah, yaitu
aqidah yang pembenarannya dibangun atas dasar akal (mabdiyatun „ala al-aql).
Berdasarkan uraian tersebut, secara ringkas dapat dinyatakan bahwa masalah
keimanan dalam aqidah Islam yang dalilnya aqli ada 3 yaitu iman kepada Allah, iman bahwa
Al-Qur‘an adalah kalamullah, dan iman bahwa Muhammad adalah Rasul (utusan) Allah.
Berdasarkan ketiga perkara keimanan inilah diperoleh keimanan kepada Al-Qur‘an dan al-
Hadits yang kemudian menjadi dalil naqli bagi perkara-perkara keimanan lainnya yang tidak
dapat dijangkau akal seperti iman kepada kitab-kitab Allah, Rasul-rasulNya, malaikatNya, hari
akhir, surga, neraka, hisab, dan sebagainya.
Namun demikian, perlu dipahami bahwa karena aqidah Islam termasuk masalah ushul
(dasar) dalam Islam, maka dalilnya harus bersifat pasti (qath‟i), baik qath‟i tsubut (pasti
sumbernya dari Rasulullah saw) maupun qath‟i dhalalah (pasti pengertiannya). Karena itu, dalil
naqli yang menjadi dasar aqidah haruslah berupa al-Qur‘an dan hadits mutawatir yang
mempunyai pengertian yang qath‟i. Apa saja yang tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, haram
bagi seorang muslim membenarkannya secara pasti (tasdiiq jazim). Tetapi tidak boleh dia
mengingkarinya (takdzib), meskipun tetap dibolehkan baginya membenarkan secara dugaan
kuat (tasdiiq zhanni). Oleh karena itu, hadits ahad tidak dapat dijadikan dalil naqli untuk perkara
aqidah.
Prinsip di atas didasarkan pada larangan dalam al-Qur‘an untuk mengikuti sesuatu
yang bersifat dugaan/persangkaan (zhan) dalam masalah aqidah atau sesuatu yang bukan
merupakan pengetahuan yang pasti (al-„ilm).

¸´¸ ¸1. !. ´_,l ,l .¸«¸, '¸l¸. ¸__¸
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya....” [QS. Al-
Isra‟: 36]

!.´¸ _¸,`., `¸>¸.´¦ ¸¸| !.L ¿¸| ´_Ll¦ ¸ _¸.-`, ´_¸. ¸´_>'¦ !:,: ¿¸| ´<¦ ´,¸¸l. !.¸, ¿¡l-±, ¸__¸
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka
kerjakan.” [QS. Yunus: 36]

Aqidah Ruhiyyah dan Aqidah Siyasiyah
Yang dimaksud aqidah siyasiyah adalah aqidah yang menjadi dasar pengaturan
urusan-urusan keduniaan. Sedang aqidah ruhiyah adalah aqidah yang menjadi dasar
pengaturan urusan-urusan keakhiratan. Urusan keduniaan (syu‟un al-dunya) adalah segala
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

7 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
urusan manusia sepanjang kehidupan di dunia sampai mati, misalnya urusan keluarga,
ekonomi, pendidikan, politik dan sebagainya. Sementara yang dimaksud dengan urusan
akhirat (syu‟un al-akhirah) adalah segala urusan manusia yang ada pada fase sebelum dan
sesudah hidupnya di dunia. Yakni, apa yang ada sebelum lahirnya manusia dan sesudah
matinya manusia, misalnya urusan penciptaan alam semesta dan kebangkitan pada hari
kiamat. Termasuk juga urusan akhirat, adalah urusan yang sebenarnya ada pada fase
kehidupan di dunia saat ini, tapi tidak berkaitan dengan interaksi sesama manusia, melainkan
hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhannya dalam ibadah ritual.
Jadi, aqidah ruhiyah adalah aqidah yang melahirkan beberapa pemikiran dan hukum
yang berkaitan dengan masalah-masalah akhirat, semisal hari kiamat, pahala siksa, dan juga
masalah-masalah ibadah ritual (seperti doa), termasuk pemikiran-pemikiran dan hukum-
hukum lain yang berkaitan dengan pemeliharaan masalah-masalah tersebut, seperti pemberian
nasihat dan petunjuk, atau penyampaian ancaman dengan adanya adzab Allah serta
pemberian dorongan untuk mendapatkan sebesar-besarnya pahala Allah. Sedangkan aqidah
siyasiah adalah aqidah yang melahirkan berbagai pemikiran dan hukum yang berkaitan dengan
persoalan-persoalan keduniaan seperti aspek pemerintahan, perdagangan, sewa menyewa
(ijarah), perkawinan, perseroan (syirkah), warisan, atau yang masih berkaitan dengan persoalan
tersebut, seperti kewajiban mengangkat pemimpin jamaah atau kelompok, ketaatan pada
pemimpin serta kewajiban mengontrolnya, juga sanksi-sanksi pidana dan hukum-hukum
perang.
Dilihat dari pengertian di atas, maka aqidah Islam adalah aqidah ruhiyah dan sekaligus
siyasiyah. Aqidah agama nasrani hanyalah aqidah ruhiyah, karena pemikiran dan hukum yang
terakhir hanya berkaitan dengan persoalan keakhiratan. Sementara aqidah kapitalisme adalah
aqidah siasiyah semata karena pemikiran dan hukum-hukum yang lahir dari aqidah ini,
berkaitan dengan persoalan dunia saja, seperti kebebasan (liberalisme/fredoom) dan asas manfaat
(utilitarianisme). Begitu juga dengan pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan pemeliharaan
persoalan keduniaan tersebut dan yang lahir dari aqidah kapitalisme tersebut berkitan dengan
urusan dunia seperti demokrasi dan peperangan. Demikian juga dengan aqidah sosialisme,
juga merupakan aqidah siyasiyah karena pemikiran-pemikiran serta produk hukum-hukum
yang lahir dari aqidah tersebut hanya berkaitan dengan persoalan kehidupan dunia seperti
pembatasan dan pelarangan kepemilikan. Demikian juga dengan pemikiran dan hukum-
hukum yang berkaitan dengan pengaturan urusan kehidupan dunia seperti membatasi
demokratisasi di kelas buruh dan diktaktor proletariat.
Dalam kedudukan sebagai aqidah ruhiyah aqidah Islam menjelaskan masalah-masalah
yang berhubungan dengan urusan akhirat dan urusan ibadah. Mengenai urusan akhirat,
firman Allah SWT:

¸,´ _¸`¸±>. ¸<!¸, ¯¡..é´¸ !´.´¡.¦ ¯¡÷.´,>!· ¯¡. ¯¡>.,¸.`, ¯¡. ¯¡>,¸,>´ ¯¡. ¸«,l¸|
_¡`->¯¸. ¸__¸
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu,
Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan?” [QS. Al- Baqarah: 28]






Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

8 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Mengenai urusan ibadah; seperti shalat, Allah SWT berfirman:

¸¸¸·¦ :¡l¯.l¦ ¸ì¡l.¸] ¸_.:l¦ _|¸| ¸_.s ¸_,l¦ ¿¦´,¯¸·´¸ ¸¸>±l¦ ¿¸| ¿¦´,¯¸· ¸¸>±l¦ _l´
¦´:¡·¸:. ¸__¸ ´_¸.´¸ ¸_,l¦ .>¸.· .¸«¸, «¦¸·!. ,l ´_.s ¿¦ ,.-¯,, ,¯,´¸ !´.!1. ¦´:¡.>: ¸__¸
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat)
subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” [QS. Al-Isra‟: 78-79]

Sebagai aqidah siyasiyah, aqidah Islam menjelaskan berbagai pemikiran dan hukum
yang menyangkut bagaimana kita mengatur kehidupan dunia. Di bidang ekonomi, misalnya,
Islam mengatur bolehnya jual beli dan larangan riba.

_¸¸.]¦ ¿¡lé!, ¦¡,¸¯¸l¦ ¸ ¿¡`.¡1, ¸¸| !.´ `¸¡1, _¸.]¦ «L´,>., _.L,:l¦ ´_¸. ¸_.l¦
,¸l: ¯¡¸.!¸, ¦¡l!· !..¸| _,,l¦ `_.¸. ¦¡,¸¯¸l¦ _>¦´¸ ´<¦ _,,l¦ ¸¯¸>´¸ ¦¡,¸¯¸l¦ _.· .:´,l>
«L¸s¯¡. _¸. .¸«¸,¯¸ _¸..!· .`«¦· !. ¸l. .:`¸.¦´¸ _|¸| ¸<¦ _.´¸ :!s ,¸¸.l`¸!· ´¸.>.¦
¸¸!.l¦ ¯¡> !¸,¸· _¸.¸¦.> ¸___¸
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah
Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan
dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil
riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-
Baqarah: 275]

Dalam masalah sosial kemasayarakatan, misalnya aqidah Islam menjelaskan perlunya
keluarga sebagai jalan untuk melahirkan generasi penerus demi kelangsungan jenis manusia.

!¸¸!., '_!.l¦ ¦¡1.¦ `¡>`,´¸ _¸.]¦ _>1l> _¸. ¸_±. ¸:.¸>´¸ _l>´¸ !¸.¸. !¸>¸¸ ´¸,´¸ !´,·¸.¸.
¸l>¸¸ ¦¸,¸.´ ´,!.¸·´¸ ¦¡1.¦´¸ ´<¦ _¸.]¦ ¿¡l´,!.. .¸«¸, ¸l>¯¸¸¦´¸ ¿¸| ´<¦ ¿l´ ¯¡>,l. !´,,¸·´¸ ¸¸¸
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri,
dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak …” [QS. An-Nisa: 1]

Pemahaman tentang suatu aqidah sebagai aqidah ruhiyah dan atau aqidah siyasiyah
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia. Aqidah ruhiyah tidak
bisa membentuk pandangan hidup (wijhatun nazhar) atau gambaran hidup (taswiru al-hayah),
karena aqidah ruhiyah tidak memiliki pemikiran dan hukum yang menjadi standar untuk
menilai mana perbuatan yang benar dan mana yang salah. Aqidah ruhiyah hanya berbicara
tentang kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Dengan kata lain, aqidah ruhiyah
tidak berhubungan langsung dengan kehidupan dunia. Maka, terhadapa masyarakat yang
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

9 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
memeluk suatu aqidah ruhiyah terntentu, misalnya Jepang yang memeluk aqidah Hindu atau
Kong Hucu, bisa diterapkan aqidah siyasiyah apa saja (dalam hal ini kapitalisme) tanpa ada
kekhawatiran akan menghilangkan agama-agama yang dipeluk masyarakat yang dipeluk di
sana.
Berbeda dengan aqidah ruhiyah, aqidah siyasiyah bisa membentuk pandangan hidup
karena darinya terlahir pemikiran dan hukum-hukum tentang pengaturan kehidupan dunia.
Maka, suatu masyarakat yang telah menganut aqidah siyasiyah tertentu, misalnya kapitalisme
atau Islam, sangat sulit menerima kehadiran aqidah siyasiayh lain. Aqidah siyasiyah asing itu
dinilai akan membahayakan eksistensi masyarakat itu. Langkah pemaksaan akan mengundang
perlawanan dari masyarakat. Dari sini bisa dimengerti mengapa Indonesia, misalnya yang
kendati mayoritas penduduknya muslim tapi terlanjur sudah memeluk aqidah siyasiyah
kapitalisme sangat sulit menerima gagasan penerapan syariat Islam. Penerapan aqidah
siyasiyah baru hanya mungkin dilakukan dengan tangan besi atau setelah masyarakat
mengetahui kebobrokan aqidah siyasiyah yang dipeluknya selama ini dan keunggulan aqidah
siyasiyah baru yang ditawarkan. Maka, mereka akan meninggalkan aqidah yang lama untuk
mengambil aqidah yang baru.
Aqidah siyasiyah akan membentuk pandangan hidup. Dan pandangan hidup akan
mempengaruhi perilaku manusia. Maka, perbedaan aqidah akan melahirkan perbedaan
pandangan hidup, dan akhirnya melahirkan perbedaan perilaku. Pandangan hidup yang
diajarkan aqidah kapitalisme adalah kemanfaatan (utilitaliarisme). Metode operasional untuk
merealisasikan pandangan hidup ini adalah dengan menerapkan prinsip kebebasan, yaitu
kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan individu, dan kebebasan
berpendapat.
Pandangan hidup yang diajarkan aqidah sosialisme adalah evolusi materi yaitu
perubahan dari suatu kondisi ke dalam kondisi lain yang lahir karena adanya kontradiksi-
kontradiksi di tengah masyarakat. Aqidah operasional untuk merealisasikan pandangan ini
adalah dengan membuat kontradiksi-kontradiksi di tengah-tengah masyarakat. Aqidah
sosialisme menggambarkan kehidupan yang terus bergerak yaitu berubah menuju suatu
kondisi lain yang lebih baik. Untuk perubahan menuju suatu kondisi yang lebih baik tersebut,
atau disebut juga dengan evolusi, maka harus ada upaya menggalakkan kontradiksi. Jika sudah
ada, harus ditingkatkan. Jika belum, harus diadakan.
Adapun pandangan hidup yang diajarkan aqidah Islam bahwa hidup adalah untuk
beribah kepada Allah. Intinya terikat pada ketentuan halal dan haram. Dan metode
operasional untuk merealisasikan pandangan halal-haram tersebut dengan membangun
keterikatan terhadap hukum syara‘. Apa saja yang halal, diambil tanpa ragu-ragu. Sesuatu yang
makruh akan diambil dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Sedangkan yang haram,
tidak akan diambil sama sekali.
Melalui perang kebudayaan (al-ghazwu al-tsaqafy), Barat ingin mengubah pandangan
hidup kaum muslimin. Di antaranya adalah dengan menciptakan keragu-raguan dalam
beberapa masalah aqidah Islam, seperti keotentikan al-Qur‘an. Senjata Barat yang lain adalah
menghilangkan kepercayan kaum muslimin terhadap syari‘at Islam. Diantaranya, Barat
menyerang hukum tentang poligami. Termasuk gagasan adanya perubahan hukum dengan
perubahan waktu dan tempat. Tujuannya adalah bagaimana agar kaum muslimin tidak lagi
berpegang pada pandangan hidup Islam dan tidak menjadikan syari‘ah Islam sebagai tolok
ukur perbuatan. Hasilnya, kini banyak diantara kaum muslimin yang tidak lagi memperhatikan
syariah. Bahkan yang tragis, tidak sedikit diantaranya justru menjadi penentang-penentang
gagasan penerapan syariah islam. Disadari ataupun tidak, mereka ini telah menjadi bagian dari
masyarakat sekuler yang menjauhkan agama (Islam) dari kancah kehidupan nyata di dunia.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

10 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Padahal jika Islam sudah dipahami sebagai aqidah ruhiyah sekaligus aqidah siyasiyah,
maka insya Allah umat Islam akan mampu bangkit untuk kembali memimpin dunia sebagai
umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia. Seperti firman Allah :

¯¡..´ ´¸¯,> ¸«.¦ ¸>¸¸>¦ ¸_!.l¸l ¿¸'¸.!. ¸.¸`¸-.l!¸, _¯¡¸..´¸ ¸_s ¸¸÷..l¦ ¿¡`.¸.¡.´¸
¸<!¸,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imran: 110]



Jalan Menuju Keimanan
Ketika manusia sudah mencapai baligh (dewasa) yang salah ditandai salah satunya
dengan kesempurnaan akalnya, maka semenjak itu dia berfikir tentang eksistensi dirinya di
dunia ini. Manusia pada saat itu – disadarinya ataupun tidak – dihadapkan pada beberapa
pertanyaan mendasar. Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu sering disebut juga dengan uqdatul
kubra (masalah/simpul yang besar) adalah: 1) Dari mana manusia berasal? 2) Untuk apa
manusia ada? 3) Akan kemana manusia setelah kehidupan ini?
Bila pertanyaan ini terjawab maka manusia akan memiliki landasan kehidupan
sekaligus tuntunan dan tujuan kehidupannya, – terlepas dari jawabannya benar atau salah.
Selanjutnya ia berjalan di dunia ini dengan ‗landasan‘ tersebut, berekonomi dan berbudaya
berdasar ‗landasan‘ itu, bahkan ia akan mengajak orang dan kaum lain agar mengikuti
‗landasan‘ tersebut.
Seseorang atau suatu kaum yang menyelesaikan uqdatul kubra dengan jawaban
‖kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya, manusia berasal dari tanah/ materi dan kelak
akan kembali lagi menjadi materi/benda, sehingga manusia hidup untuk mencari kebahagiaan
materi selama ia mampu hidup‖, maka mereka akan hidup dengan aturan yang dibuatnya
sendiri, dengan standar baik-buruk yang ia kehendaki. Mereka akan berbudaya, berekonomi
dan berpolitik untuk mencapai kebahagiaan material, selama mereka mampu hidup. Orang
dan kaum seperti ini tidak meyakini adanya hal ghaib (ruh, akhirat, pahala-dosa dsb). Mereka
percaya segalanya materi belaka.
Sementara itu seseorang atau suatu kaum yang menjawab ―dibalik alam dan
kehidupan ini ada Sang Pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi
tugas/amanah kehidupan pada manusia dan kelak ada kehidupan lain setelah dunia ini, yang
akan menghisab seluruh perbuatannya di dunia‖, maka mereka akan hidup, berekonomi,
berbudaya, berpolitik dan berinteraksi dengan kaum lain, berdasarkan aturan Penciptanya.
Standar baik-buruk berdasarkan aturan Sang Pencipta, dan sekaligus menjadi standar amal
yang harus ia pertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencipta. Demikian gambaran
ringkas tentang ‗landasan kehidupan‘ seseorang/suatu kaum, yang sekaligus merupakan
jawaban ‗uqdatul kubro‘ manusia. Tetapi bagaimana jawaban yang benar terhadap masalah ini?
Dengan berbagai upaya, manusia mencoba mencari jawaban tersebut melalui segala
hal yang dapat dijangkau akalnya. Karena segala hal yang dapat dijangkau akal manusia, tidak
lepas dari (1) alam semesta (al kaun), (2) manusia (al insan) dan (3) kehidupan (al hayaah), maka
ketiga hal inilah yang dijadikan obyek/media berpikir untuk mencari jawaban yang dimaksud.
Pemecahan yang benar terhadap masalah ini tidak akan terbentuk kecuali dengan
pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta
hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia ini. Islam telah
memberi jawaban melalui proses berpikir yang jernih, menyeluruh, benar, sesuai dengan akal,
menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

11 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Berkaitan dengan proses berpikir, ada empat komponen yang menjadi syarat
terjadinya proses berpikir tersebut. Empat komponen itu adalah: otak (dimag) yang sehat,
realita yang terindra (al-Waqi‟ al-Mahsusah), alat indra (al-hawas) dan informasi-informasi
sebelumnya (al-Maklumat as-Saabiqah).
Berikut ini dijelaskan komponen-komponen yang berkaitan dengan proses berpikir
tersebut.
a. Otak yang sehat
Otak adalah materi yang ada dalam tempurung kepala. Materi ini diliputi oleh
tiga lapisan dimana dari celah-celanya sel-sel menembus keluar bertemu dengan
segenap indra dan seluruh wilayah tubuh. Serabut sel saraf dalam penyebaran dan
penjangnya mencapai batas-batas yang nyaris tidak terhitung. Pada kenyataannya sel-
sel pembawa darah yang trebagi-bagi pada seluruh wilayah tubuh panjangnya bisa
mencapai kurang lebih 100.000 mil. Dan otak ini bisa mengontrol tubuh dengan 76
sel utama.
Berat otak manusia dewasa bia mencapai 1200 gram. Otak ini mampu
menghabiskan 25% oksigen yang tersedia melalui paru-paru dengan pengukuran arus
listrik pada otak, para ilmuwan telah menetapkan bahwa otak ini organ berpikir
(tafkir) pada manusia. Maka hasil penelitian sebagian sel-sel otak dengan pengukuran
arus listrik, telah ditemukan arus listrik yang tredeteksi diatas kertas ketika manusia
memusatkan pikirannya, atau ketika emosi bergejolak, atau ketika mendengar
kegaduhan, atau ketika mengahadapi perhitungan yang komplek dan rumit. Akan
tetapi para ilmuwan tidak mengerti daerah mana pada otak yang mampu menghapal
informasi yang masuk. Kenyataannya bahwa memusnahkan setengah otak sebagian
para pasien tidak mampu menghilangkan daya ingat mereka. Memang ada sebagian
ilmuwan yang memprediksikan bahwa infromasi-informasi sebelumnya pada ingatan
semuanya menyamai tempat yang memuat 90 juta jilid yang penuh dengan informasi-
informasi.
b. Realita yang terindra
Adapun realita yang terdeteksi oleh indra, terkadang merupakan realita materi
seperti bulan, buku dan kuda, terkadang merupakan pengaruh dari realita materi
seperti suara angin, suara pesawat, dan bau bunga mawar. Atau terkadang berupa
non-materi yang dapat dimengerti dari pengaruhnya seperti keberanian, kesatriaan,
ketakutan dan kelemahlembutan.
Segala sesuatu yang eksistensinya bisa dimengerti ini terkadang bisa dirasa dan
disentuh seperti gunung, pohon, dan keledai. Terkadang bisa dirasa, tetapi tida bisa
disentuh seperti rasa sakit dan senang. Atau terkadang tidak bisa dirasa tidak pula bisa
disentuh, maka eksistensinya bisa ditenukan dari penampakan-penampakannya seperti
naluri seksual, naluri mempertahankan diri dan naluri beragama.
c. Indera
Penginderaan terhadap realita ini kemudian berpindah ke otak melalui panca
indera atau sebagian indera, misalnya indera penglihatan beserta perangkatnya yaitu
mata, indera pendengaran beserta perangkatnya adalah telinga, indera peraba dengan
perangkatnya adalah kulit, indera perasa dengan perangkatnya adalah lidah, dan indera
penciuman dengan perangkatnya adalah hidung.
Cara mengindera dengan mata ini bisa sempurna (optimal) dengan cara
berikut: cahaya yang terefleksi dari materi diterima oleh kornea mata ini sampai ke
retina, lalu retina ini menyampaikannya ke sel penglihatan yang berbentuk arus listrik
sehingga cahaya tersebut sampai ke pusat penglihatan yaitu di otak belakang. Pada
saat itulah manusia bisa melihat gambar yang ada di depannya, tetapi tidak dapat
memikirkannya, maksudnya tidak dapat menghukuminya kecuali dengan merujuk
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

12 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pada informasi-informasi yang tersimpan sebelumnya pada otak tentang apa yang
dilihatnya. Penglihatan ini terbatas, ia mempunyai jarak pandang yang tidak dapat
dilampauinya. Maka manusia tidak akan mampu melihat dengan mata telanjang
banyak tubuh-tubuh seperti bakteri, virus, atom, dan bintang-bintang yang sangat
jauh. Padahal sesuatu yang tidak bisa kita lihat lebih banyak dari yang kita lihat. Allah
Swt. berfirman :

¸· `¡¸.·¦ !.¸, ¿¸¸¸.¯,. ¸__¸ !.´¸ ¸ ¿¸¸¸.¯,. ¸__¸ .«.¸| `_¯¡1l ¸_¡.´¸ ¸¸,¸¸´ ¸_¸¸
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.Dan dengan apa yang tidak kamu
lihat. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan
kepada) Rasul yang mulia.” [QS. Al Haaqqah: 38-40]

Indera pendengaran adalah salah satu indera yang penting, karena melalui
indera ini manusia memperoleh ilmu. Allah telah menyebutkan dalam ayat-ayat-Nya
tentang indera pendengaran ini dengan penyebutan lebih dahulu daripada indera
penglihatan, firman-Nya:

_.¦ ,¸l., _.´.l¦ ¸..¯,¸¦´¸
“Atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan" [QS. Yunus:
31].

_->´¸ `¡>l _.´.l¦ ¸..¯,¸¦´¸
“Dan Dia telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan... “ [QS. An-Nahl: 78].

¿¸| _.´.l¦ ´¸.,l¦´¸ :¦¡±l¦´¸ ´_´ ,¸¸.l`¸¦ ¿l´ «.s ¸¡:`.. ¸__¸
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-
jawaban.” [QS. Al-Isra: 36].

Indera pendengaran adalah telinga. Telinga ini menerima gelombang suara
lalu disampaikan oleh sel pendengaran ke otak. Telinga manusia mampu menangkap
suara-suara yang frekuensinya antara 16.000-20.000 getaran perdetik (Hertz, Hz).
Sedangkan suara-suara yang getarannya lebih dari itu telinga manusia tidak mampu
memindahkannya ke otak. Sedangkan telinga kucing itu bisa memindahkan suara yang
getarannya mencapai 50.000 getaran perdetik, dan telinga kelelawar bisa
memindahkan suara yang getarannya mencapai 120.000 getaran perdetik dan telinga
kelelawar ini bisa mengganti penglihatan dalam mengontrol dalam segala sesuatu.
Sedangkan manusia hanya bisa mendengar sebagian kecil suara-suara yang ada di
sekitarnya.
Indera peraba menggunakan sel-sel perasa yang banyak dan tersebar pada
seluruh tubuh terutama pada kulit. Allah swt menyinggung mengenai kulit ini dalam
firmanNya:

¿¸| _¸¸.]¦ ¦¸`¸±´ !´.¸..,!:¸, .¡. ¯¡¸¸,¸l`.. ¦´¸!. !.l´ ¸>~` ¡>:¡l`> ¯¡¸.´.l´.,
¦´:¡l`> !>´¸¯,s ¦¡·¸.´,¸l ´,¦.-l¦ ´_¸| ´<¦ ¿l´ ¦¸,¸¸s !.,¸>> ¸__¸
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

13 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan
mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan
kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” [QS. An Nisaa‟: 56]

Setiap kulit orang kafir itu hangus terbakar api neraka, maka Allah akan
menggantikan dengan kulit yang lain supaya saraf-saraf indera yang ada pada kulit bisa
memindahkan kepada mereka dengan merasakan sakitnya terbakar.
Sedangkan hidung dan mulut atau lidah keduanya memindahkan perasa bau
dan pengecap dengan jalan reaksi kimia melalui sel-sel penciuman dan sel-sel perasa
kepada otak.

d. Informasi-informasi terdahulu
Unsur keempat dari unsur-unsur akal, yaitu informasi-informasi terdahulu.
Informasi-informasi terdahulu adalah pemikiran-pemikiran masa lampau tentang
realita yang tersimpan dan terjaga di otak. Otak menyimpan informasi-informasi masa
lalu itu untuk sewaktu-waktu dibutuhkan dalam akitivitas pemikiran. Informasi-
informasi ini terdiri dari dua bagian: Bagian Pertama adalah pemikiran, pemikiran
masa lalu tentang realita-realita terindera. Bagian ini dibutuhkan untuk menghukumi
realita yang bertalian dengan informasi-informasi ini. Bagian kedua dari informasi-
informasi terdahulu adalah informasi-informasi sebagai hasil dari respon otak karena
penginderaan terdahulu yang bertalian dengan realita terindera. Respon ini diperoleh
karena berulang-uangnya penginderaan terhadap realita yang mempunyai pertalian
dengan pemenuhan naluri-naluri dan kebutuhan jasmani secara langsung. Pada
umumnya yang membentuk informasi-informasi terhadap realita ini, dilihat apakah
bisa memenuhi atau tidak. Dan informasi-informasi semacam ini tidak layak
dipergunakan untk memberikan status hukum terhadap realita. Informasi-
informasi realita terdahulu adalah bagian yang sangat penting untuk aktivitas berfikir.
Tanpa informasi-infromasi ini pemahaman terhadap realita tidak dapat terjadi.

Manusia ketika ia mendengar, melihat, mencium, membau, atau meraba realita, maka
penginderaan terhjadapa realita tersebut berpindah ke otak dengan perangkat sel-sel perasa,
dan penginderaan tentang realita itu datang darinya. Kalau pada otak telah terdapat informasi-
informasi terdahulu tentang suatu realita, maka otak mengkaitkan informasi-informasi itu
dengan realita yang terindera untuk menafsirinya kemudian menghukuminya.
Maka seandainya kita menyodorkan kata-kata yang ditulis dalam bahasa inggris
kepada seseorang yang telah memiliki informasi terdahulu tentang bahasa tersebut, kemudian
ia melihat tulisan itu, lalu penginderaan berpindah ke otak dan ketika itu informasi-informasi
terdahulu tentang bahasa inggris bekerjasama untuk mengetahui realita tersebut. Lalu orang
itu segera berusaha membaca dan memahahaminya. Akan tetapi kalau saja realita ini, yaitu
kata-kata berbahasa inggris disodorkan kepada orang lain yang tidak memiliki informasi-
informasi terdahulu tentang bahasa inggris dan kemudian ia mengindera kata-kata itu dengan
penglihatannya, maka ia tidak akan bisa membacanya apalagi memahaminya, karena ia tidak
mempunyai informasi-informasi yang diperlukan untuk menafsiri realita ini sekaligus
menghukuminya. Dan ketika ia mengulang-ulang penginderaannya terhadap suatu realita,
maka hanya menjadi penginderaan saja, dan tidak menghasilkan pemikiran.
Pemikiran itu terkadang dengan adanya realita yang terindera dan terkadang dengan
menggambarkan realita di dalam pikiran walaupun realita itu tidak ada. Terkadang manusia
berpikir tentang laki-laki yang pernah dilihat beberapa tahun yang lalu, ketika ia membaca
berita kematiannya pada surat kabar, lalu ia menghadikan gambarnya di dalam otaknya dan
informasi-infromasi terdahulu tentangnya, kemudian manusia itu berkata kepada orang lain,
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

14 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
―Sungguh laki-laki itu orang mulia‖, dengan mengeluarkan hukum atas laki-laki itu walaupun
ketika itu tidak ada penginderaan terhadapnya atau kemuliaannya.
Mengindera suatu realita terkadang bisa dengan terjadinya penginderaan terhadap
realita itu sendiri dengan indera penglihatan atau indera yang lain. Terkadang dengan
terjadinya penginderaan terhadap sesuatu yang berkaitan dengan realita itu seperti suara atau
gambar, dan terkadang dengan respon penginderaan tentang realita ke dalam otak tanpa
adanya realitas itu atau bekasnya di dalam jangkauan panca indera. Hal ini adalah sesuatu yang
seringkali terjadi dalam pemikiran politik (tafkir siyasi). Pakar politik itu dengan perantara
kumpulan berita ia mampu menggambarkan realita dan mengeluarkan analisis politik untuk
menghubungi situasi yang tidak terjadi pada daerah atau jangkauan inderanya secara langsung.

Kembali pada pembahasan tentang jalan menuju keimanan. Melalui proses berpikir
yang didahului dengan penginderaan terhadap realita tentang alam semesta (al kaun), manusia
(al insan) dan kehidupan (al hayaah), yang kemudian dikaitkan dengan informasi terdahulu
yang dimilikinnya, manusia akan sampai pada jawaban tentang uqdatul kubro yang ada di dalam
benaknya. Ada 3 (tiga) alternatif jawaban dari uqdatul kubro tersebut. Dan dari salah satu
jawaban uqdatul kubro inilah, manusia akan menjalani kehidupannya di dunia.
Alternatif jawaban yang pertama, ‖kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya,
manusia berasal dari tanah/ materi dan kelak akan kembali lagi menjadi materi/benda,
sehingga manusia hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama ia mampu hidup‖. Dari
jawaban ini kemudian muncul ide tentang komunisme atau atheisme. Sementara itu,
alternatif jawaban yang kedua, yaitu ―dibalik alam dan kehidupan ini ada Sang Pencipta,
yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, dan semuanya akan kembali kepada Sang
Pencipta tersebut, namun Sang Pencipta tidak campur tangan terhadap kehidupan di dunia
ini sehingga manusia berhak mengatur kehidupannya sendiri.‖ Jawaban ini menjadi dasar dari
ide sekulerisme atau pemisahan agama dengan kehidupan di dunia.
Alternatif jawaban yang terakhir yaitu ―dibalik alam dan kehidupan ini ada Sang
Pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi tugas/amanah
kehidupan pada manusia dan kelak ada kehidupan lain setelah dunia ini, yang akan menghisab
seluruh perbuatannya di dunia‖. Jawaban inilah yang diajarkan oleh Islam kepada manusia
dalam memecahkan uqdatul kubro.















Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

15 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB RUKUN IMAN

Di dalam sebuah hadits yang panjang, Jibril as. Pernah bertanya kepada Rasulullah
saw.: "Beritahukahlah kepadaku tentang iman.‖ Lalu Rasul saw. menjawab: ‗Iman itu adalah
percaya kepada adanya Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul-Nya, hari
kiamat, dan percaya kepada al qadar (takdir), baik dan buruknya berasal dari Allah.‘ Jibril
berkata: ‗Kamu benar.‘ (HR. Muslim, Tirmidziy, Abu Dawud, dan an Nasaa-iy). Berikut
ini penjelasan dari tiap-tiap poin rukun iman seperti yang disebutkan pada hadits di atas.

Iman Kepada Allah SWT
Dengan Al Quran, Allah telah membimbing manusia kepada jalan yang dapat
membuat manusia memahami atau menyadari keberadaan Allah. Allah telah menyeru
manusia dengan firman-Nya:

¸¸´L.´,l· _...¸¸¦ ¯¡¸. _¸l> ¸_¸
"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa yang dia ciptakan‖ [QS. Ath-Thaariq: 5]

¸·¦ ¿¸`¸´L., _|¸| ¸_¸,¸¸¦ ¸,é ¸1¸l> ¸¸_¸ _|¸|´¸ ¸,!´,´.l¦ ¸,é ¸-¸·'¸ ¸¸_¸ _|¸|´¸ ¸_!,¸>'¦
¸,´ ¸,¸.. ¸¸_¸
―Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit dia ditinggikan,
dan gunung bagaimana dia ditegakkan‖ [QS. Al-Ghaasyiah: 17-19]

Dan Allah memerintahkan Rasulullah Saw. agar Beliau mengajak manusia
memperhatikan hal itu dengan Firman-Nya:

¯¸¸´.· !..¸| ¸.¦ "¸¸é.`. ¸_¸¸
"Maka berikanlah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan‖ [QS.
Al- Ghaasiyah: 21]

Beliau diminta untuk mendorong manusia agar melakukan perjalanan keliling dan
memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dengan firman Allah:

¯_· ¦¸¸,¸. _¸· ¸_¯¸¸¦ ¦¸`¸´L.!· ¸,é ¦., _l>l¦ ¯¸. ´<¦ _¸:.`, :!:.l¦ :¸¸>¸¦
"Katakanlah: „Berjalan di (muka) bumi dan perhatikan bagaimana Allah menciptakan manusia dari
permulaannya” [QS. Al-Ankabuut: 20]

Dengan jalan melihat dan memperhatikan seperti itu dengan menggunakan akalnya,
maka manusia akan sampai kepada kesimpulan akan adanya bahwa terdapat pencipta bagi
segala sesuatu. Hal ini disebabkan oleh karena sesungguhnya manusia tatkala melihat alam
semesta, maka ia dapat melihat betapa alam semesta itu penuh keterbatasan (al mahduud) dan
penuh keteraturan (al munazhzham) dalam bentuk yang apik. Sedangkan sesuatu yang mahduud
dan munazhzham membutuhkan pihak yang membatasi dan mengatumya. Hal itu berarti
bahwa ia merupakan makhluuq (ciptaan) dari Al Kholiq (Pencipta).
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

16 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Demikian pula manusia dan kehidupan, maka ia akan mendapati bahwa keduanya
memiliki keterbatasan pula. Manusia—sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya menurut
jangkauan panca indra—kenyataannya bersifat terbatas, lemah dan butuh kepada yang lain.
Umur dan ukuran tubuh manusia saja misalnya. ltupun terbukti terbatas. Manusia, di dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka ia membutuhkan kepada sesuatu yang lain
(seperti makanan, air, dan udara). Dengan demikian, maka manusia juga merupakan mahluk
dari Al Kholiq (Pencipta).
Dalam menentukan sifat Al Kholiq (Pencipta) ini hanya ada tiga kemungkinan.
a. Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Dengan pemikiran aqliyah yang jernih dan
mendalam, akan dipahami bahwa kemungkinan ini adalah kemungkinan yang bathil (tidak
dapat diterima oleh akal). Sebab apabila Ia diciptakan oleh yang lain maka Ia adalah
makhluk dan bersifat terbatas, yaitu butuh kepada yang lain untuk mengadakannya.
b. Kedua, Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Kemungkinan kedua ini pun bathil juga. Karena
dengan demikian ia akan menjadi makhluk dan Khaliq pada saat yang bersamaan. Jelas ini
tidak dapat diterima oleh akal.
c. Ketiga, Ia bersifat azali dan wajibul wujud dan mutlak keberadaannya. Setelah dua
kemungkinan di atas dinyatakan bathil, maka hanya tinggal satu kemungkinan lagi dan
hanya kemungkinan yang ketiga-lah yang shohih, yakni Al Kholiq itu tidak boleh tidak
harus bersifat azali dan wajibul wujud serta mutlak adanya. Dialah Allah SWT.

_¸..¸| !.¦ ´<¦ ¸ «.l¸| ¸¸| !.¦ _¸..,s!· ¸¸¸·¦´¸ :¡l¯.l¦ _¸¸é¸.¸] ¸¸_¸
“Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku
dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.‖ [QS. Thaahaa: 14]

Iman kepada Allah akan tercapai melalui jalan akal. Sedangkan keimanan kepada sifat-
sifat Allah dan asmaa-ul husna dapat dicapai melalui jalan naqli, yaitu wahyu Allah. Sifat-sifat
Allah dan asmaa-ul. husna itu telah dijelaskan dalam Al Quran. Firman Allah:

´¡> ´<¦ _¸.]¦ ¸ «.l¸| ¸¸| ´¡> ,¸l.l¦ '_¸´.1l¦ `¡.l´.l¦ _¸.¡.l¦ _¸.,¸.l¦ '¸,¸¸-l¦
'¸!´,>l¦ ¸¸¸÷..l¦ ´_.>¯,. ¸<¦ !´.s _¡é¸¸:¸ ¸__¸ ´¡> ´<¦ _¸l.>l¦ _¸¸!,l¦ '¸¸¯¡..l¦
`«] ',!.`.¸¦ _.`.>l¦ _¸,.¸ .«l !. _¸· ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ´¡>´¸ '¸,¸¸-l¦ `¸,¸>>'¦ ¸__¸
―Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Penguasa, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang
Maha Pemberi Keamanan, Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, yang memiliki
segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang
menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik
(asmaa ul husna). Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan Dialah
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana‖ (TQS. Al-Hasyr: 23-24)
Iman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat berdasarkan dalil naqli; sebab akal tidak pernah mampu
menjangkau eksistensi/keberadaan malaikat. Dalil syara‘ tentang adanya malaikat berasal dari
Al Qur‘an dan sunah Rasul, diantaranya adalah firman Allah SWT :
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

17 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡`.¸.¦´, ¸<!¸, .¸«¸]¡.´¸´¸ ¸¸..¸>l¦´¸ _¸.]¦ _¸. _ls .¸«¸]¡.´¸ ¸¸..¸÷l¦´¸
_¸.]¦ _¸.¦ _¸. `_¯,· _.´¸ ¯¸±>, ¸<!¸, .¸«¸.>¸¸.l.´¸ .¸«¸,.´´¸ .¸«¸¦.'¸´¸ ¸,¯¡´,l¦´¸ ¸¸¸>¸¦ .1· _.
¸.l. ¦.,¸-, ¸¸__¸
”Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah (sungguh-sungguh) kepada Allah dan Rasul-Nya dan
(kepada) kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
(ketahuilah bahwa) siapa saja kafir terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-
rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-
Nisa‟: 136]

Malaikat dan Asal Usul Kejadiannya
Malaikat diciptakan Allah sebelum jin, manusia dan alam semesta. Adapun asal
kejadian mereka, sesungguhnya Al Qur‘an tidak merincikannya. Hal tersebut dijelaskan dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa malaikat itu dijadikan dari
cahaya (nur), tanpa menerangkan bagaimana karakteristik (bentuk) cahaya (nur) tersebut.
Oleh karena itu, dzat malaikat yang sebenarnya tidak mungkin dapat dijangkau akal, karena ia
berada di luar jangkauan panca indera dan akal manusia. Tetapi wujudnya pasti, yang menurut
penjelasan Al Qur‘an, mereka berada di langit dan di bumi dan saling berpindah tempat di
antara keduanya.

Tugas-Tugas Malaikat
Al Qur‘an dan sunnah Rasul telah menunjukan berbagai tugas malaikat yang bekerja
menurut perintah dan seizin Allah untuk mengatur apa yang ada di langit dan bumi serta apa
yang ada dan terjadi di antara keduanya. Misalnya, ada yang ditugaskan untuk mengatur
peredaran matahari, bulan dan bintang, mengatur peredaran awan dan turunnya hujan,
mengatur terjadinya proses pembentukan janin di dalam rahim. Ada pula yang ditugaskan
untuk menjaga dan mengawasi setiap manusia, menghitung dan menulis amal usaha manusia.
Selain itu, ada pula yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, bertugas di jahannam dan
jannah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, para malaikat adalah tentara Allah yang paling banyak
dari segi kuantitas dan paling banyak dari segi tugas-tugasnya. Inilah tentara yang paling
agung. Sebab merekalah yang mengatur alam semesta dengan izin Allah.

Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Tentang tugas-tugas malaikat, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan:
―Allah telah mewakilkan para malaikat untuk mengatur langit dan bumi. Mereka (para
malaikat itu) bekerja dengan seizin dan atas perintah Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT
di dalam Al Qur‘an kadang menyebutkan bahwa pengaturan tersebut diserahkan kepada
malaikat, seperti firman-Nya :

¸¸.>¸,.´.l¦´¸ !´>¯,. ¸_¸
―Demi para malaikat yang mengatur urusan alam” [QS. An Nazi‟aat: 5]

Atau terkadang tugas-tugas pengaturan seperti itu dikaitkan (bersangkut langsung)
terhadap Allah, seperti firman-Nya:

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

18 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
¿¸| `¸>`,´¸ ´<¦ _¸.]¦ _l> ¸,´¡..´.l¦ ´_¯¸¸¦´¸ _¸· ¸«`.¸. ¸,!`,¦ ¯¡. _´¡.`.¦ _ls ¸_¯¸-l¦ `¸¸,.`,
¸.¸¦ !. _¸. ¸_,¸±: ¸¸| _¸. ¸.-, .¸«¸.:¸| `¡÷¸l: ´<¦ ¯¡÷,´¸ :¸.,s!· ¸·¦ _¸`¸´..
¸_¸
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian
dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at
kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia.
Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? [QS. Yunus: 3]

Juga perhatikan firman-Nya yang lain:

¯_· _. ¡>·`¸¯¸, ´_¸. ¸,!.´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ _.¦ ,¸l., _.´.l¦ ¸..¯,¸¦´¸ _.´¸ _¸¸>´ ¯_>l¦ ´_¸.
¸¸¸¯,.l¦ _¸¸>´´¸ ¸¸¯,.l¦ _¸. ¸¯_>l¦ _.´¸ `¸¸,.`, ´¸¯.¸¦ ¿¡l¡1´,.· ´<¦ ¯_1· ¸·¦ ¿¡1`.. ¸_¸¸
―Katakanlah: „Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka
akan menjawab „Allah‟. Maka katakanlah: „Mengapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?‖ [QS
Yunus: 31]

Jadi Allah-lah pengatur alam ini dengan perintah (izin) dan kehendak-Nya, sedangkan
malaikat mengatur alam ini hanya menjalankan atau melaksanakan perintah saja. Perhatikan
firman Allah SWT:

´¡>´¸ `¸¸>!1l¦ _¯¡· .¸:¸:!,¸s `_¸.¯¸`,´¸ ¯¡>,l. «L±> ´_.> ¦:¸| ´,l> `¡´.>¦ ´,¯¡.l¦ «.·´¡.
!´.l.'¸ ¯¡>´¸ ¸ ¿¡L¸¯¸±`, ¸_¸¸
“Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu
malaikat-malaikat penjaga Sehingga bila datang kematian pada salah seorang diantaramu, lalu utusan-
utusan Kami mewafatkannya, sedangkan para utusan (malaikat Kami) itu tidak (pernah) lengah.” [QS.
Al An‟aam: 61]

Ibnu Qayyim lebih lanjut menjelaskan:
―Sesungguhnya para malaikat yang bertugas dengan izin Allah untuk mengatur urusan
manusia sejak terjadinya proses pembuahan di dalam kandungan, sampai matinya manusia.
Merekalah yang ditugaskan untuk memproses dan mengembangkannya tahap demi tahap
sampai kepada bentuk manusia yang sempurna. Mereka jugalah yang menjaga ketika janin itu
masih berada dalam tiga lapisan (chorion, alantion, dan amnion) di dalam kandungan. Mereka
yang mencatat rezekinya, amal, ajal, sengsara, bahagia dan mengikuti manusia dalam setiap
keadaan, serta mencatat perkataan dan pebuatannya. Mereka melindunginya sewaktu manusia
hidup dan mencabut nyawanya serta menghantarkan nyawa itu kembali kepada Allah yang
menciptakannya.
Kitabullah dan sunnah menyebutkan jenis malaikat yang ditugaskan mengatur urusan
makhluk-makhluk yang diciptakan. Allah telah menugaskan sebagian malaikat-Nya untuk
membawa awan dan menurunkan hujan. Jadi malaikat adalah tentara Allah yang paling agung.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

19 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Beliau menyebutkan ayat-ayat Al Qur‘an mengenai hal ini (baca QS Al-Mursalat: 1-5;
An-Nazi‘at: 1-5; Ash-Shaffat: 1-3).

Tingkatan, Tugas dan Wewenang diantara Malaikat
Mengenai tingkatan tugas dan wewenangnya, Al Qur‘an menyebutkannya sebagai
berikut:
Malaikat Jibril adalah pimpinan umum dan sangat terkemuka diantara para malaikat.
Dialah utusan Allah bagi seluruh nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu dan petunjuk
lainnya. Ia sangat perkasa, punya kekuatan yang luar biasa seperti mengarungi angkasa yang
maha luas hingga ―Sidratul Muntaha‖ (berada di langit ke tujuh) sampai kembali ke bumi
ketika memimpin dan menuntun perjalanan Isra‘ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW. Ia dipatuhi
oleh bawahannya, pemimpin yang bijaksana dan sangat dipercaya Allah SWT. Hal tersebut
sesuai dengan firman Allah:

.«.¸| `_¯¡1l ¸_¡.´¸ ¸¸,¸¸´ ¸¸_¸ _¸: ¸:¯¡· ..¸s _¸: ¸_¯¸-l¦ ¸_,¸>. ¸_¸¸ ¸_!L¯. ¯¡. ¸_,¸.¦ ¸_¸¸
“Sesungguhnya Al Qur‟an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang
mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah, pemilik „Arsy, yang ditaati di sana
(alam malaikat) lagi dipercaya‖ [QS At-Takwir: 19-21]

Malaikat yang diserahi tugas mengatur pembagian rezeki semua makhluk di seluruh
alam adalah Malaikat Mikail; seperti diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Thabarani dan
Baihaqi dengan sanad yang hasan:
―Ketika Rasulullah bertanya kepada Jibril, apa tugas malaikat Mikail? Jibril menjawab: (Ia
ditugaskan untuk mengatur) tumbuh-tumbuhan dan hujan.”

Malaikat Israfil ditugaskan meniup sangkakala (ashshur). Ia senantiasa meletakkan
mulutnya pada tempat peniupan sangkakala, sebagai tindakan berjaga-jaga jika mendadak ada
perintah dari Allah. Beginilah contoh kepatuhan para malaikat kepada Allah. Entah berapa
juta tahun keadaan seperti demikian, namun Ia tetap setia kepada tugasnya. Peniupan
sangkakala itu dilakukan dua kali, seperti yang diceritakan dalam ayat Al Qur‘an:
_¸±.´¸ _¸· ¸¸¡¯.l¦ _¸-.· _. _¸· ¸,´¡..´.l¦ _.´¸ _¸· ¸_¯¸¸¦ ¸¸| _. ´,!: ´<¦ ¯¡. _¸±. ¸«,¸·
_¸>¦ ¦:¸|· ¯¡> ¸!´,¸· ¿¸`¸´L., ¸__¸
―(Dan) ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan di bumi kecuali yang
dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu
(putusannya masing-masing).‖ [QS Az-Zumar: 68]

Malaikat yang bertugas mencabut nyawa (roh) makhluk hidup (bila telah tiba ajalnya)
adalah Izrail; seperti ditegaskan Al Qur‘an:

¯_· ¡>.·´¡., ,l. ¸,¯¡.l¦ _¸.]¦ _¸´`¸ ¯¡>¸, ¯¸. _|¸| ¯¡>¸,´¸ _¡`->¯¸. ¸¸¸¸
“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu. Maka
hanya kepada Rabbmu kamu pasti dikembalikan.” [QS As- Sajadah: 11]




Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

20 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Keterangan-keterangan lain didapat dari Al Qur‘an dan sunah, antara lain:

:¸| _.l., ¸¿!´,¸1l..l¦ ¸_s ¸_,¸.´,l¦ ¸_s´¸ ¸_!´,¸:l¦ .,¸-· ¸¸_¸ !. 1¸±l, _¸. ¸_¯¡· ¸¸| ¸«,.l ´¸,¸·´¸
.,¸.s ¸¸_¸
―(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Raqib-Atid), seorang duduk di kanan dan
yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir.‖ [QS Qaaf: 17-18]

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡· ¯_>.±.¦ ¯_>,¸l>¦´¸ ¦´¸!. !>:¡·´¸ '_!.l¦ :´¸!>¸>'¦´¸ !¸¯,l. «>¸¸.l. 1¸¸s
:¦.¸: ¸ ¿¡´.-, ´<¦ !. ¯¡>¸.¦ ¿¡l-±,´¸ !. ¿¸'¸.¡`, ¸_¸
―Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu (berhala); penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.‖ [QS At-Tahrim: 6]

Iman kepada malaikat, meskipun berdasarkan kepada dalil naqli, namun pada
hakekatnya, keberadaannya wajib diyakini karena penukilannya bersumber dari sesuatu yang
secara akal sudah dipastikan kebenarannya, yakni Al Qur‘an dan As Sunnah.
Dengan keimanan yang utuh terhadap malaikat, seorang Muslim akan berhati-hati
dalam berbuat, karena ia yakin sang malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan
buruknya. Selain itu, iapun akan lebih berani dan optimis dalam mengarungi kehidupan,
khususnya dalam mengemban dakwah, karena ia yakin selalu ―dikawal‖ oleh tentara Allah
yang perkasa, yakni para malaikat.

Iman Kepada Kitab-kitabNya
Al Quran Berasal Dan Sisi Allah SWT
Al Quran merupakan sebuah kitab berbahasa arab yang dibawa oleh Muhammad saw.
Dalam menentukan darimana asal Al Quran, akan kita dapatkan 3 kemungkinan, yaitu: 1)
kitab itu merupakan karangan orang Arab, 2) kitab itu merupakan karangan Nabi Muhammad
saw., atau 3) kitab itu berasal dari Allah Kiranya, tidak ada lagi kemungkinan selain ketiga ini,
dilihat dari kenyataan bahwa Al Quran menggunakan bahasa Arab dan usluub (gaya bahasa)
Arab.
Pembahasan dari Ketiga kemungkinan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pertama, ia merupakan karangan bangsa Arab.
Kemungkinan yang pertama ini, yang mengatakan bahwa Al Qur'an merupakan
karangan bangsa Arab adalah suatu kemungkinan yang bathil. Sebab Al Qur'an sendiri
menantang mereka (bangsa Arab) untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera
dalam ayat :

¯_· ¦¡.!· ¸¸:-¸, ¸¸´¡. .¸«¸¦:¸. ¸¸.,´¸.±`. ¦¡`s:¦´¸ ¸_. ¸.-L.`.¦ _¸. ¸¿¸: ¸<¦ ¿¸| `¸..´
_,¸·¸... ¸¸_¸
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

21 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
“Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah
orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang
benar".” [QS Hud: 13]

¸¦ ¿¡l¡1, «.´¸.·¦ ¯_· ¦¡.!· ¸:´¸¡´.¸, .¸«¸¦:¸. ¦¡`s:¦´¸ ¸_. ¸.-L.`.¦ _¸. ¸¿¸: ¸<¦ ¿¸| ,..´
_,¸·¸... ¸__¸
“Katakanlah: „Kalau benar yang kamu katakan maka coba datangkan sebuah surat yang
menyamainya.” [QS Yunus: 38]

Bangsa Arab telah berusaha untuk menghasilkan karya yang serupa, akan tetapi
mereka tidak juga berhasil. Jadi Al Qur'an bukan berasal dari perkataan orang Arab,
karena ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan karya yang serupa.

b. Kedua, ia merupakan karangan Muhammad SAW.
Adapun kemungkinan yang kedua, yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu karangan
Muhammad SAW, adalah kemungkinan yang bathil pula. Sebab Muhammad adalah orang
Arab juga. Bagaimanapun jeniusnya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi
salah satu anggota dari bangsanya. Selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya
yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad SAW yang orang Arab itu juga
tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Jelaslah bahwa Al Qur'an, bukan
karangannya.
Hal tersebut makin diperkuat dengan banyaknya hadits-hadits shahih dan mutawatir
dari Nabi Muhammad SAW, yang bila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat
manapun dalam Al Qur'an maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya
bahasa (uslub), padahal keduanya berasal dari orang yang sama. Akan tetapi keduanya
tetap berbeda dari segi gaya bahasanya. Dan bagaimanapun kerasnya seseorang
menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan terdapat
kemiripan antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain. Jadi karena tidak
ada kemiripan antara gaya bahasa Al Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka yakinlah
bahwa Al Qur'an itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian maka terbantahlah kemungkinan pertama dan kedua. Kini tinggal
tuduhan lain yang mereka lontarkan, yaitu bahwa Al Qur'an itu di sadur oleh Muhammad
SAW dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Tuduhan itu ditolak keras oleh Allah
SWT melalui firmannya:

.1l´¸ `¡l-. `¸¸.¦ _¡l¡1, !..¸| .«.¸l-`, "¸:, ´_!.¸l _¸.]¦ _¸.¸>l`, ¸«,l¸|
¨_¸.>s¦ ¦..>´¸ ¿!.¸l _¸¸¸s _,¸,¯. ¸¸¸_¸
“(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, „Sesungguhnya Al Qur'an itu
diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka
tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa „ajami (non arab), sedangkan
Al Qur'an itu dalam bahasa Arab yang jelas.” [QS An-Nahl: 103]

Inilah pembuktian yang jelas bahwa Al Qur'an itu bukan karangan bangsa Arab atau
karangan Muhammad SAW. Al Qur'an adalah perkataan Allah (kalamullah) yang menjadi
mukjizat bagi pembawanya (Muhammad SAW). Tidak ada kemungkinan lain selain ini,
dilihat dari kenyataan bahwa Al Qur'an itu berbahasa Arab.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

22 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

c. Ketiga, ia berasal dari Allah semata, sebagaimana pernyataan pembawanya.
Setelah kedua kemungkinan tersebut terbantahkan, kini hanya tinggal satu
kemungkinan yaitu bahwa Al Qur‘an itu adalah kalamullah. Kemungkinan inilah yang
shahih di antara tiga kemungkinan yang ada. Kemungkinan ini sekaligus membuktikan
bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah karena tidak ada yang membawa syariat dan
mukjizat kecuali seorang nabi dan rasul. Sedangkan yang membawa syariat (Al Qur‘an)
tersebut tidak lain adalah Muhammad SAW.

Al Qur‘an merupakan kitab suci yang dipelihara/dijaga keasliannya langsung oleh
Allah dan sekaligus berfungsi sebagai penyempurna dan penghapus syari‘at-syari‘at nabi dan
rasul sebelumnya. Allah SWT berfirman :
!.¸| _>´ !´.l¸. ¸´¸.]¦ !.¸|´¸ .«l ¿¡´L¸±.>' ¸_¸
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar
memeliharanya.” [QS. Al-Hijr: 9]

!´.l¸.¦´¸ ,,l¸| ¸..¸>l¦ ¸´_>l!¸, !·¸´..`. !.¸l _,, ¸«,., ´_¸. ¸¸..¸÷l¦ !´.¸.,¸`.´¸ ¸«,ls
¡÷>!· ¸¸.¸, !.¸, _¸.¦ ´<¦ ¸´¸ _¸,.. ¯¡>´,¦´¡>¦ !´.s ì´,l> ´_¸. ¸´_>l¦
“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain
itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu.” (QS Al-
Maidah: 48)

Al Qur‘an telah mampu mengadakan revolusi mental dan sosial serta mengubah dan
menuntun pemikiran manusia selama empat belas abad. Ia juga telah mengubah wajah sejarah
manusia dan membangun suatu umat yang lemah menjadi perkasa, menerangi mereka dari
jalan sesat ke jalan lurus dan menyatupadukan barisan yang tadinya cerai berai. Dengan
karunia Allah dan petunjuk Al Qur'an, terwujudlah kesatuan umat di bawah undang-undang
yang menegakkan hukum dan keadilan di muka bumi ini. Ia juga menjadi penuntun bagi umat
dan menjadi misi universal sebagai puncak mahkota keagungan peradaban manusia.
Dengan Al Qur'an, Nabi SAW telah membangkitkan taraf pemikiran orang Arab
yang tadinya tenggelam dan terpecah belah dalam fanatisme jahiliyah, buta huruf dan hidup
dalam budaya berhala yang nista, kearah kehidupan yang gilang gemilang. Beliau
menyembuhkan lalu menyatukan mereka dengan Al Qur'an dan perkataan yang penuh
hikmah.
Ajaran-ajaran yang tercantum di dalam Al Qur'an dan umat yang telah menerimanya
sebagai ajaran kehidupan, ternyata telah mampu mengangkat umat lain, baik yang masih
terbelakang maupun yang telah maju peradabannya. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya,
dahulunya masih banyak yang buta huruf, tidak berilmu dan juga tidak pernah belajar dari
bangsa lain.
Cukuplah bukti bahwa mukjizat Al Qur'an telah mampu menyebabkan orang menjadi
beriman. Bangsa yang buta huruf telah menjadi bangsa yang berilmu dan mampu memimpin
dunia. Bangsa Arab maupun ‗Ajam (non Arab) yang tadinya hidup dalam kegelapan jahiliyah,
menjadi bangsa beradab dan berbudaya tinggi. Tidaklah mengherankan bahwa kemajuan
umat masa lampau di segala bidang ilmu dan budaya, disebabkan karena Al Qur'an telah
menunjukan bermacam ilmu, seperti astronomi, sejarah, syari‘at, strategi perang, politik dan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

23 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
lain-lain. Semua itu secara jelas membuktikan bahwa Al Qur'an mutlak kebenarannya sebagai
wahyu Allah.
Pengakuan akan kebenaran Al Qur'an juga dicetuskan para cendekiawan barat dari
berbagai disiplin ilmu. Sebagian besar dari mreka telah tunduk dan mengakui bahwa Al
Qur'an adalah kitab suci (Al Wahyu) yang bersumber dari Allah, apalagi setelah terbukti
berbagai penemuan baru pada abad mutakhir kini dan sebelumnya
Imanan Kepada Kitab Samawi Yang Lain
Mengenai keimanan kepada kitab samawi yang lainnya, maka dalilnya adalah secara
naqli. Allah telah memberitahukah kepada kita dalam Al Quran bahwa Dia telah menurunkan
Kitab Zabur kepada Nabi Daud as., Kitab Taurat kepada Nabi Musa as., Kitab Injil kepada
Nabi Isa as. dan Shuhuf kepada Nabi lbrahim as. Allah berfirman:

!.¸.¦´,´¸ :.`¸¦: ¦´¸¡,¸ ¸__¸
―Dan kami berikan Zabur kepada Daud" [QS. Al-lsraa: 55]

_¸.¦´¸ «.´¸¯¡`.l¦ _,¸>´¸¸¦´¸ ¸_¸ _¸. `_¯,· _.> ¸_!.l¸l
―Dan (Allah) menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Quran), sebagai petunjuk bagi manusia‖ [QS.
Ali Imran: 3-4]

¿¸| ¦..> _¸.l ¸¸>¯.l¦ _|¸¸¦ ¸¸_¸ ¸¸>´ ,¸¸>¸¯,¸| _.¡`.´¸ ¸¸_¸
―Sesungguhnya ini (Al Quran) benar-benar terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, yaitu kitab-kitab
lbrahim dan Musa‖ [QS. Al-A'laa: 18-19]
Iman Kepada Rasul-rasulNya dan Termasuk Muhammad Saw.
Adapun bukti mengenai hubungan manusia terhadap para rasul dapat kita lihat dari
terbuktinya manusia sebagai mahluk Allah SWT yang bersifat terbatas, akal dan
kemampuannya. Juga dapat dilihat dari terbuktinya agama itu sebagai suatu hal yang fitri
dalam diri manusia, karena ia merupakan salah satu fitrah pen-taqdis-an (pengagungan dan
pensucian-peny) manusia. Dalam fitrahnya itu manusia senantiasa mentaqdiskan Penciptanya.
Pekerjaan mentaqdiskan inilah yang selanjutnya dikenal sebagai ibadah, yang merupakan tali
penghubung antara manusia dan Penciptanya. Apabila hubungan ini dibiarkan sendiri tanpa
aturan akan cenderung terjadi kekacauan ibadah serta menyebabkan terjadinya penyembahan
terhadap selain dari pencipta yang sebenarnya. Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur
hubungan ini dengan baik. Hanya saja aturan ini tidak boleh datang dari pihak manusia,
karena ia sendiri tidak mampu memahami hakekat Al Khaliq (maksudnya tentang
perbuatannya, apakah perbuatan itu diterima atau ditolak oleh Al Khaliq-peny) untuk dapat
meletakkan aturan antara dirinya dengan Sang Pencipta. Karenanya aturan ini harus datang
dari Al Khaliq serta harus sampai ke tangan manusia. Maka tidak boleh tidak harus ada para
rasul yang menyampaikan agama Allah ini kepada umat manusia.
Bukti lain akan kebutuhan manusia terhadap para rasul adalah bahwa pemuasan
manusia akan tuntutan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan gharizah/nalurinya merupakan hal
yang mutlak diperlukan. Jika pemuasan ini dibiarkan berjalan tanpa aturan akan menjadi
pemuasan yang salah, berlebihan serta menyebabkan malapetaka bagi manusia. Karena itu
harus ada aturan yang mengatur gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani ini. Tetapi aturan
ini tidak boleh datang dari pihak manusia, sebab pemahamannya dalam mengatur gharizah dan
kebutuhan jasmani selalu menjadi obyek (sasaran) kekeliruan, perselisihan dan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

24 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
keterpengaruhan oleh lingkungan yang didiaminya. Maka dari itu aturan tersebut harus datang
dari Allah SWT, yang untuk dapat sampai ke tangan manusia, haruslah melalui seorang rasul.
Dalil yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah adalah dalil aqli.
Karena telah terbukti secara aqli bahwa Al Quran berasal dari Allah Sedangkan Muhammad
adalah orang yang membawa Al Quran. Al Quran sendiri adalah kalam Allah dan Syari'at-
Nya. Dan tidak ada yang membawa kalam Allah dan syariat-Nya, kecuali para Nabi dan
Rasul. Dengan demikian, maka Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul berdasarkan dalil aqli.
Adapun keimanan kepada para Rasul dan Nabi Allah yang lainnya, maka dalilnya adalah naqli
bukan aqli. Al Quran telah menjelaskan tentang hal ini, misalnya keimanan bahwa
sesunguhnya Nuh adalah Rasul, demikian juga halnya dengan ldris, lbrahim, Ismail, Musa dan
lain-lain. Mereka semua adalah para Rasul. Firman Allah:

´_´ ´_.¦´, ¸<!¸, .¸«¸.>¸¸.l.´¸ .¸«¸,.´´¸ .¸«¸¦.'¸´¸ ¸ _¸¯¸±. _,, ¸.>¦ _¸. .¸«¸¦.¯¸
“Semuanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, (seraya mereka
mengatakan) „Kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan yang lain) daripada rasul-rasul-Nya‟”
[QS. Al-Baqarah: 285]

Maksudnya adalah bahwa mereka semua adalah Rasul yang diutus Allah dengan
membawa perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.
Iman Kepada Hari Kiamat
Seorang muslim beriman bahwa kehidupan di dunia akan musnah dan berakhir,
kemudian berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat. Keyakinan ini merupakan bagian
dari rukun iman (dasar-dasar keimanan). Bukti-bukti keimanan adanya hari kiamat adalah
dalil naqli (Al Qur'an dan Al Hadits) bukan dalil aqli. Sebab, hari kiamat adalah sesuatu yang
tidak terjangkau panca indera manusia, sehingga akal tidak mampu menemukannya dengan
pasti berdasarkan usaha penginderaan terhadap sesuatu. Tanpa adanya berita tentang hari
kiamat dari wahyu Allah, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari
kebangkitan sesudah mati, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah mati itu? Dalil-dalil
naqli tersebut antara lain :

´¡s¸ _¸¸.]¦ ¦¸`¸±´ ¿¦ _l ¦¡:-¯,`, ¯_· _l, _¸¸´¸´¸ ´_:-¯,.l ¯¡. ¿¡´,..l !.¸, ,.l¸.- ,¸l:´¸ _ls
¸<¦ ¸,¸.¸ ¸_¸
―Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak
demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu
apa yang telah kamu kerjakan”. Hal demikian adalah mudah bagi Allah.‖ [QS. At -Taghaabun: 7]

Juga hadits shohih Muslim, ketika Jibril mengajarkan kepada Rasulullah SAW:

―Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah
engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, juga kepada hari
kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada Qodar yang baik dan buruk (dari Allah) .‖

Waktu dan Tanda-tanda Hari Kiamat
Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya hari kiamat. Sesungguhnya hanya Allah
yang tahu dengan pasti dan tepat, kapan terjadinya. Allah SWT berfirman:

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

25 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
,.¡l:`.¸ ¸_s ¸«s!´.l¦ ¿!`,¦ !¸..`¸. ¯_· !..¸| !¸`,l¸. ..¸s _¸¸´¸ ¸ !¸,¸l>´ !¸¸.·´¡¸l ¸¸| ´¡>
¸l1. _¸· ¸,´¡..´.l¦ ¸_¯¸¸¦´¸ ¸ ¯_>,¸.!. ¸¸| «.-, ,.¡l:`.¸ ,.l´ ¯_¸.> !¸.s ¯_· !..¸|
!¸.l¸. ..¸s ¸<¦ ´_¸>.l´¸ ´¸.é¦ ¸_!.l¦ ¸ ¿¡.l-, ¸¸__¸


“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya? Katakanlah: „Sesungguhnya
pengetahuan tentang kiamat itu ada di sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu
kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di
bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba‟. Mereka bertanya kepadamu
seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: „Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari
Kiamat itu ada di sisi Allah. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. Al-A‟Raaf: 187]

Meskipun Al Qur'an dan Al Hadits tidak secara pasti menjelaskan waktu hari kiamat,
namun dalam banyak hadits, --meski tidak kepada derajat muttawatir dan meski masih diperselisihkan
dalam beberapa hal di kalangan kaum muslimin--digambarkan beberapa tanda-tanda kedekatannya,
a.l.:
Banyaknya mode pakaian telanjang. Jumlah orang beriman sedikit. Zina dan
minuman memabukkan serta kejahatan-kejahatan lain merajalela. Perhiasan masjid yang
berlebihan dan suara hiruk pikuk lebih sering terdengar di masjid. Penyalahgunaan jabatan.
Perpecahan umat Islam/negeri-negeri Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam.
Kehancuran peradaban Islam dan akan kembali jaya dan berkuasanya kaum muslimin
dikemudian hari sehingga kaum muslimin menguasai pusat kekuasaan Khatolik Nashrani di
Roma dan tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Perperangan antar umat Islam dengan Yahudi
yang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin.
Juga munculnya Dajjal di tengah ummat Islam untuk menyesatkan manusia. Muncul
Muhammad Al Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam.
Turunnya Nabi Isa untuk meluruskan ajaran Nashrani (ajaran trinitas, yakni menuhankan
Nabi Isa), mengislamkan orang Nashrani, menghancurkan salib-salib, menegakkan kebenaran
dan keadilan berdasarkan syari‗at Islam, membunuh Dajjal kemudian beliau kawin lalu
meninggal dan dikuburkan dekat makam Rasulullah SAW. Munculnya Daabbah (binatang
ajaib) yang dapat berbicara kepada manusia untuk menunjukkan kepalsuan dan
ketidakbenaran ajaran semua agama selain Islam, serta memperingatkan orang-orang yang
tidak percaya dengan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah). Matahari
akan terbit dari arah barat dan itu terjadi setelah Nabi Isa wafat. Pada saat itulah pintu taubat
ditutup. Munculnya Ya‟juj dan Ma‟juj (dua bangsa dari sebelah Timur) menyerang kaum
muslimin bagaikan air bah, tetapi peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran tentara
Ya‟juj dan Ma‟juj oleh Allah dengan kemenangan di fihak kaum Muslimin (ini terjadi pada
masa Nabi Isa masih hidup). Kemudian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang
menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir (jahat).
Terjadi gempa bumi di Timur/Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai munculnya api di daerah
Yaman, sehingga orang-orang berlari ke arah Syam dan di sini mereka mati setelah ditiup
sangkakala. Pada saat itulah Kiamat yang sesungguhnya terjadi.
Inilah gambaran ringkas kondisi yang menunjukan sudah sangat dekatnya hari kiamat.
Hanya saja, selain gambaran-gambaran tersebut masih diperselisihkan kepastiannya – karena
dasarnya hanya berupa hadits-hadits yang tidak mencapai derajat muttawatir – seorang Muslim yakin
bahwa Allah mampu mewujudkan kiamat kapan saja yang Ia kehendaki. Selain itu, yang
penting bagi kita tentu bukanlah dapat menyaksikan kiamat itu atau tidak, tetapi sejauh mana
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

26 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
kesiapan menghadapi kejadian-kejadian setelah hari berbangkit tersebut. Harus juga dipahami
bahwa kematian seseorang, sudah termasuk ―kiamat‖ (kecil) bagi dirinya.

Nasib Manusia pada Hari Kiamat
Al Qur'an menerangkan bahwa hari kiamat terjadi setelah ditiupnya sangkakala
pertama oleh Malaikat Isrofil. Pada saat itu, semua makhluk binasa kecuali mereka yang
dikehendaki Allah, kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya agar semua makhluk
berdiri dan menuju Padang Mahsyar untuk perhitungan amalnya. Firman Allah SWT :

_¸±.´¸ _¸· ¸¸¡¯.l¦ _¸-.· _. _¸· ¸,´¡..´.l¦ _.´¸ _¸· ¸_¯¸¸¦ ¸¸| _. ´,!: ´<¦ ¯¡. _¸±. ¸«,¸·
_¸>¦ ¦:¸|· ¯¡> ¸!´,¸· ¿¸`¸´L., ¸__¸
―(Dan) ditiuplah sangkakala, maka matilah apa yang ada di langit dan bumi kecuali yang dikehendaki
oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu
(putusannya masing-masing) .‖ [QS. Az- Zumar: 68]

Pada hari perhitungan/hisab, segala sesuatu akan disaksikan oleh manusia, binatang
dan semua makhluk, sejak Nabi Adam hingga makhluk terakhir. Ia juga akan disaksikan oleh
ayah-ibunya, neneknya dan kawan-kawannya. Allah SWT berfirman:

¦¸·¦ ,,..¸´ _.´ ,¸.±´.¸, ¸¯¡´,l¦ ,,ls !´,,¸.> ¸¸_¸
―Bacalah kitabmu sendiri yg di hari itu cukuplah sebagai penghisab terhadapmu.‖ [QS. Al-Israa‟: 14]

¸.¸¸.¯¡, ,¸´.>´ !>´¸!,>¦ ¸_¸
―Pada hari itu semua berita akan bercerita sendiri.‖ [QS. Az-Zalzalah: 4]

Orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, maka ia pasti diampuni dosa-dosanya. Sebab Allah akan mengampuni semua dosa
manusia semasa hidupnya, kecuali dosa syirik. Allah SWT berfirman:

¿¸| ´<¦ ¸ `¸¸±-, ¿¦ ì´¸:¸ .¸«¸, `¸¸±-,´¸ !. _¸: .¸l: _.¸l ',!:¸ _.´¸ 츸:¸ ¸<!¸, .1·
_. ¸.l. ¦.,¸-, ¸¸¸_¸
―Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (menyekutukan Dia). Dan Dia mengampuni dosa
selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang menyekutukan (sesuatu) dengan
Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya.‖ [QS. An-Nisaa‟: 116]

Kedzaliman antar manusia di dunia merupakan dosa yang tidak terhindarkan.
Namun, ia akan diadili dengan seadil-adilnya. Mereka yang merampas harta orang lain,
mencuri, memperkosa, membunuh, menganiaya, mereka yang mengetahui di kanan kirinya
banyak orang miskin, tersiksa dan memerlukan bantuan tetapi ia membiarkannya, mereka
yang tidak benar ketika bergaul, berpolitik maupun berdagang, mereka yang berdosa besar
maupun kecil, berjual beli secara bathil, membuka aurat di depan umum dan berteriak-teriak
di jalanan, berbisik, mengukur dan menimbang secara curang, hubungan antara majikan
dengan buruh buruk, serta berbagai persoalan keluarga. Semua bentuk perbuatan tersebut
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

27 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pasti diadili, yaitu disaat tidak ada partai dan golongan, kebangsaan, kesukuan maupun ikatan
lainnya yang dapat membantu mereka dari peradilan yang seadil-adilnya.
Segala caci maki, tuduhan yang semena-mena tanpa bukti, menyakiti orang lain,
bergunjing, mengkritik dengan maksud buruk, kata-kata yang keluar tanpa makna, menyia-
nyiakan waktu, berhutang tetapi tidak mau membayar, berjudi dan berzina, serta 1001 macam
persoalan kehidupan manusia, semua pasti diadili dan mendapat hukuman Allah pada hari
kiamat. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dari Abi
Hurairah:

―Tahukan engkau siapa orang-orang miskin (bangkrut) itu? Mereka adalah umatku yang datang
pada Hari Kiamat dengan shalat, shaum, zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang
tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu menyebabkan ia telah menghilangkan kebaikannya.
Kemudian ia ditenggelamkan ke dalam jahannam.‖

Orang-orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikannya, mereka
pasti disiksa dalam neraka jahannam. Sedangkan orang-orang yang jumlah amal kebajikannya
lebih banyak daripada amal kejahatannya, maka mereka akan mendapat balasan kenikmatan di
jannah. Tetapi akan berbeda terhadap orang-orang yang jumlah amal kebajikannya seimbang
dengan amal kejahatannya, maka mereka akan ditangguhkan, tidak dimasukan ke dalam
jannah atau jahannam. Mereka akan ditempatkan di suatu lokasi yang disebut Al A‟raaf
sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dari tempat ini, mereka dapat menyaksikan
bagaimana pedihnya siksa jahannam dan bagaimana pula kenikmatan yang diperoleh oleh
penghuni jannah. Namun penghuni Al A‟raaf ini suatu waktu pasti dimasukan Allah ke dalam
jannah. Hal ini dijelaskan dalam ayat 46-47 surat Al A‘raaf.

Kenikmatan Jannah (Surga)
Kehidupan di dalam jannah adalah abadi, penuh dengan kesenangan dan kenikmatan.
Allah SWT berfirman:

!>¡l>:¦ ¸¸.l.¸, ,¸l: `¸¯¡, ¸:¡l>'¦ ¸__¸
―Masukilah jannah itu dengan aman, itulah hari kekekalan.‖ [QS. Qaaf: 34)

Penghuni jannah akan bertemu dengan ayah, suami, istri, para famili, dan para
cucunya yang beramal shalih dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Para malaikat
akan masuk dari segala penjuru dengan menyampaikan salam. Gambaran tersebut, sekilas
ditunjukan oleh firman-Nya:

¸..> ¸¿.s !¸.¡l>., _.´¸ _l. _¸. ¯¡¸¸¸¸!,¦´, ¯¡¸¸¸>´¸¸¦´¸ ¯¡¸¸¸..`,¸¯¸:´¸ «>¸¸.l.l¦´¸ ¿¡l>.,
¡¸¸¯,ls _¸. ¸_´ ¸,!, ¸__¸ '¡.l. _>,l. !.¸, ,·¸¸. ´¡-¸.· _,1`s ¸¸¦.]¦ ¸__¸
―(Itulah) Jannah „Adn, tempat mukim mereka, bersama orang-orang shalih dari bapak, istri, dan anak
cucu mereka. Sementara itu, para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, (sambil berucap):
„Sejahtera atas kalian seluruhnya karena kesabaran kalian‟. Maka, alangkah baiknya tempat berakhir
itu.‖ [QS. Ar-Ra‟ad: 23-24]

Tentang sifat-sifat jannah, Rasulullah SAW bersabda:

―Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti merasakan senang dan tidak pernah putus asa. Ia
berpakaian yang tidak lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

28 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati
manusia tidak pernah mengkhayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya.‖ (HR Imam Muslim dari
Abu Hurairah)

Saat itu manusia akan melihat Rabbnya. Ini dinyatakan Rasulullah SAW sebagai saat
yang maha indah. Di dalam jannah berlimpah buah-buahan yang tidak putus-putusnya dan
tidak pernah terhalang. Allah SWT berfirman :

¸«¸¸>.·´¸ ¸:´¸,¸.´ ¸__¸ ¸ ¸«s¡L1. ¸´¸ ¸«s¡`..· ¸__¸
―Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak dilarang mengambilnya.‖ (QS.
Al- Waqi‟ah: 32-33)

Siksaan Jahannam (Neraka)
Tentang siksaan terhadap orang kafir dan dzalim di dalam jahannam, Allah SWT
berfirman:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡· ¯_>.±.¦ ¯_>,¸l>¦´¸ ¦´¸!. !>:¡·´¸ '_!.l¦ :´¸!>¸>'¦´¸ !¸¯,l. «>¸¸.l. 1¸¸s
:¦.¸: ¸ ¿¡´.-, ´<¦ !. ¯¡>¸.¦ ¿¡l-±,´¸ !. ¿¸'¸.¡`, ¸_¸
―Hai orang-orang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya
adalah (tubuh) manusia dan bebatuan; penjaganya para malaikat yang kasar, keras, (dan) tidak (pernah)
membantah kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.‖ (QS. At-Tahriim: 6)

Sedangkan kedudukan orang-orang munafik, mereka akan berada di kerak/dasar
jahannam yang paling bawah.

¿¸| _,¸1¸±...¦ _¸· ¸ì¯¸.]¦ ¸_±`.¸¦ ´_¸. ¸¸!.l¦ _l´¸ .¸>´ ¯¡¸l ¦´¸,¸.. ¸¸__¸
―Sesungguhnya orang-orang munafik itu (tempat mereka) berada pada tingkatan yang paling bawah dari
jahannam, dan kamu sekali-kali tidak mendapat seorang penolongpun bagi mereka.‖ (QS. An-Nisaa‟:
145)

Allah SWT juga mengingatkan kepada manusia bahwa siksa jahannam amatlah pedih.

¿¸| _¸¸.]¦ ¦¸`¸±´ !´.¸..,!:¸, .¡. ¯¡¸¸,¸l`.. ¦´¸!. !.l´ ¸>~` ¡>:¡l`> ¯¡¸.´.l´., ¦´:¡l`> !>´¸¯,s
¦¡·¸.´,¸l ´,¦.-l¦ ´_¸| ´<¦ ¿l´ ¦¸,¸¸s !.,¸>> ¸__¸
―Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, maka kelak akan Kami masukan mereka
ke dalam jahannam. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain
(baru) supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.‖ (QS.
An- Nisaa‟: 56)

Adzab Jahannam adalah Siksaan Fisik (tidak hanya ruh) dan Kenikmatan Jannah adalah
Kesenangan Sempurna
Siksaan jahannam dan kenikmatan jannah adalah abadi dan kekal. Semua itu merupakan
akibat perbuatan manusia di dunia. Semua dirasakan secara fisik, bukan secara roh. Tentang
pendapat bahwa kenikmatan maupun siksaan pada kedua tempat tersebut dirasakan manusia
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

29 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
dalam bentuk roh, maka pernyataan tersebut terbantah dengan memperhatikan firman Allah
SWT:

¸:¸| `_.l.¸¦ _¸· ¯¡¸¸¸1..s¦ `_¸..l´.l¦´¸ ¿¡,>`.¸ ¸_¸¸ _¸· ¸¸,¸.>'¦ ¯¸. _¸· ¸¸!.l¦ _¸`¸>`.¸ ¸__¸
―Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka
dimasukan) ke dalam api yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menyala-nyala).‖
(QS. Al-Mu‟min: 71-72)

Begitu pula sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur'an surat At-Taubah: 35; dan
Al-Ma‘aarij: 15-16; dan Al-Fathir: 33.
Bagaimana mungkin siksaan yang disebutkan pada ayat-ayat Al Qur'an tersebut
bentuknya adalah siksaan yang bersifat ruh? Bahkan patut pula diketahui bahwa kehidupan
akhirat tersebut mempunyai persamaan dengan kehidupan dunia, yaitu adanya perasaan,
pengertian, kepuasan dan adanya makhluk (hewan dan tumbuhan) yang akan menemani
kehidupan manusia di jannah. Allah SWT berfirman:

¡¸..:..¦´¸ ¸«¸¸>.±¸, ¸¸`>l´¸ !´.¸. ¿¡·¸.:¸ ¸__¸
―(Dan) Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.‖
[QS. Ath-Thuur: 22]

Rasulullah SAW bersabda:

―Ahli jannah makan dan minum di dalam jannah tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang ingus
dan tidak kencing.‖ (HR Muslim dari Jabir ra)

Dari Nu‘man bin Basyir ra, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

―Seringan-ringannya siksa pada hari Kiamat adalah orang yang padanya diletakan dua bara api di bawah
tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu dia merasa bahwa tidak seorangpun yang lebih
berat siksaan yang diterimanya dibandingkan dengan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa
seringan-ringannya.‖ (HR Bukhari Muslim)

Dampak Iman Kepada Hari Kiamat
Iman pada hari kiamat akan mampu mendorong setiap mukmin untuk berpikir
sebelum melakukan tindakan. Sebab ia yakin bahwa semua amal perbuatannya akan dimintai
pertanggungjawaban dan ia menerima balasannya, baik atau buruk sesuai dengan
perbuatannya itu. Allah SWT berfirman:

_.· ¯_.-, _!1.¸. ¸:¯¸: ¦¸,> .:¸, ¸_¸ _.´¸ ¯_.-, _!1.¸. ¸:¯¸: ¦´¸: .:¸, ¸_¸
―Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan
siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti melihat (balasan)nya.‖ [QS. Az-
Zalzalah: 7-8]

Karena itu, iman kepada hari akhir mempunyai dampak positif bagi kehidupan
seseorang, yakni:
(a) Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan berusaha menjauhi
segala larangan-Nya karena takut siksaan kelak di kemudian hari.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

30 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
(b) Menghibur dan mendorong untuk bersabar, bahwa kebahagiaan bagi mukmin yang
belum diperolehnya di dunia akan diterimanya di kemudian hari. (lihat ―Aqidah Ahlus
Sunnah‖, Muhammad Shalih, terj. Hal.89)

Catatan Amal Perbuatan Manusia
Iman kepada Hari Kiamat membawa konsekuensi logis untuk iman kepada adanya
catatan amal perbuatan manusia. Setiap manusia akan menerimanya pada hari pembalasan itu.
Allah SWT berfirman:

_´´¸ ¸_..·¸| «...¸l¦ .:´¸¸¸.L _¸· .¸«¸1`.`s _¸¸>´´¸ .«l ¸¯¡, ¸«..´,¸1l¦ !´,..¸é «.1l, ¦´¸¡:.. ¸¸_¸
¦¸·¦ ,,..¸´ _.´ ,¸.±´.¸, ¸¯¡´,l¦ ,,ls !´,,¸.> ¸¸_¸
―(Dan) Setiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tepatnya kalung) pada
lehernya. Dan Kami berikan kepadanya pada Hari Kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang
dijumpainya terbuka : „Bacalah kitabmu. Maka, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai
penghisab.‖ [QS. Al Israa‟: 13-14]

Al Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin akan diberikan catatan amal
perbuatan mereka melalui tangan kanannya dari depan, sedangkan orang-orang mukmin yang
berdosa besar akan menerimanya melalui tangan kanannya tapi dari belakang. Hal itu akan
berbeda terhadap orang-orang kafir. Mereka pasti menerima catatan amal perbuatannya
melalui tangan kirinya. Kejadian ini digambarkan dengan jelas melalui firman Allah SWT
pada ayat 19 sampai 37 surat Al Haaqqah.
Bagi kaum muslimin, iman kepada Hari Kiamat sesungguhnya akan berdampak kuat
bagi setiap amal perbuatannya. Mereka pasti berlomba-lomba menjalankan semua perintah
Allah yakni syari‘at yang dibawa rasul-Nya, Muhammad SAW, yaitu syariat Islam. Hari
Kiamat merupakan hari yang pasti datangnya. Seluruh manusia akan menemuinya, baik secara
sukarela maupun terpaksa. Dan sesungguhnya siksaan maupun kenikmatan yang diterima setiap
manusia merupakan akibat logis dari seluruh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia.
Iman Kepada Taqdir
Iman kepada taqdir merupakan sesuatu yang wajib bagi setiap muslim. Sebab, hal ini
memiliki sandaran nash-nash Al Qur'an yang pasti (qoth‘i) serta dijelaskan oleh Rosulullah
SAW dalam sunahnya. Berbeda dengan iman kepada ‗Qadha dan Qadar‘, ia bukan lahir dari
nash-nash syara‘ secara langsung. Istilah Qadha dan Qadar, --sebagai istilah tertentu yang
bermakna tertentu pula--, tidak didapatkan dalam Al Qur'an maupun As Sunnah. Jika kita kaji
dari buku-buku hadits, kita tidak akan menemukan masalah ini (qodha dan qadar). Kita hanya
menemukan pembahasan taqdir (atau al qadar yang bermakna taqdir). Misalnya dalam Shahih
Bukhari hadits no. 6594-6620 dan Shahih Muslim no. 2634-2664; yang merupakan bab
khusus tentang masalah taqdir. Di dalam Al Qur'an sendiri tidak ada istilah ‗qadha dan qadar‘
yang digabungkan. Keduanya hanya ditemukan secara terpisah (lihat indeks Al Qur'an, Muh.
Fuad Abdul Baqi, hal. 536-537 tentang al qadar, dan hal 546-547 tentang qadha).
Tidak adanya istilah qadha dan qadar (yang digabungkan, dan memiliki makna
tertentu) tersebut, karena memang masalah ini baru muncul pada masa tabi‘in (setelah masa
shahabat), pada akhir abad pertama Hijriyah (awal abad kedua Hijriyah).

Taqdir dan Pengertian Iman Terhadapnya
Seorang muslim beriman dan yakin bahwa semua keadaan di dunia ini pasti diketahui
oleh Allah SWT (karena memang Allah Maha Mengetahui sesuatu (Al-„Aliim)), baik kejadian
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

31 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
yang telah terjadi, sedang maupun yang akan terjadi. Kejadian apapun bentuknya telah
diketahui oleh Allah SWT dan dituliskan di Lauhul Mahfuz (kitab induk dan gambaran umum
luasnya ilmu Allah SWT).
Inilah pengertian sederhana dari taqdir yang telah dijelaskan oleh Al Qur'an dan
hadits Rosulullah SAW. Dengan kata lain taqdir adalah catatan (ilmu Allah) yang
menyeluruh tentang segala sesuatu. Yang dimaksud dengan ‗segala sesuatu‘ yakni
termasuk benda-benda, manusia, amal perbuatannya, makhluk hidup lain, dan lain-lain;
semuanya telah tercatat/diketahui oleh Allah SWT dan dituliskannya di Lauhul Mahfuzh.
Setiap muslim wajib beriman kepada taqdir karena merupakan bagian dari rukun
iman. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khattab,
ketika itu Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya:

“Coba ceritakan apa iman itu? Lalu Rosulullah menjawab : Iman itu percaya kepada adanya Allah,
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-nya, hari kiamat dan percaya kepada taqdir baik dan
buruknya berasal dari Allah SWT.” (HR Muslim)

Seorang yang tidak percaya kepada taqdir, maka imannya cacat bahkan dapat
mengeluarkan dirinya dari Islam, karena masalah ini telah tegas dijelaskan oleh nash-nash Al
Qur'an dan hadits Rosulullah SAW, seperti ayat:

!.¸| _´ ¸,`_: «..1l> ¸¸.1¸, ¸__¸
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut taqdirnya/ukurannya.” (QS Al Qamar: 49)

Dalam menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syuyuti menyatakan:

“Kepercayaan yang dipegang oleh Ahlus Sunnah Wal Jama‟ah adalah bahwa Allah SWT telah
mentaqdirkan segala sesuatu. Artinya Dia telah mengetahui ukuran, kondisi, peraturan, dan waktunya,
jauh sebelum sesuatu itu terjadi. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu kejadian di langit dan bumi kecuali
seluruhnya muncul dari ilmu, qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah SWT.” (lihat Tafsir
Imam Qurthubi juz XVII hal. 148)

Makna dari semua ini adalah Allah SWT telah mengetahui segala sesuatu tentang
manusia sebelum ia diciptakan. Dia juga mengetahui ketetapan nasib seseorang di dunia ini
maupun di akhirat kelak (bahagia atau celaka, sukses atau gagal, kaya atau miskin, umurnya,
dsb).
Pahamilah, pembahasan masalah taqdir sebenarnya hanyalah pembahasan tentang
kekuasaan Allah SWT. Taqdir merupakan Ilmu Allah dan kekhususan bagi-Nya (ilmu Allah
mencakup segala sesuatu karena ia memang bersifat Al-„Aliim) dan mustahil ada sesuatu yang
tidak diketahui-Nya.
Hadits berikut ini menunjukan wajibnya iman kepada taqdir dan larangan
mengingkarinya:

“Bagi setiap umat akan muncul segolongan manusia yang berperilaku seperti majusi. Orang-orang majusi
mengatakan bahwa tidak ada taqdir. Jika diantara mereka ada yang meninggal, maka janganlah kalian
menghadiri jenazahnya. Jika mereka sakit, janganlah dijenguk, (sebab) mereka adalah (sama dengan)
golongan dajjal. Memang pantas ketentuan tersebut, yaitu menghubungkan perilaku mereka yang mirip
dengan dajjal, adalah ketentuan yang haq (benar) dari Allah SWT.” (HR. Abu Dawud dari
Hudzaifah, lihat Sunan Abu Dawud, juz IV hal. 222)

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

32 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Meskipun kita beriman kepada taqdir (ilmu) Allah SWT, tetapi janganlah mencampur-
adukan antara ―iman kepada taqdir‖ tersebut dengan ―amal perbuatan manusia‖, karena
keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Artinya, ilmu Allah (taqdir) tidak pernah
memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu dan juga tidak pernah memaksa seseorang
untuk tidak berbuat sesuatu.
Rosulullah SAW telah melarang para shahabatnya mencampur-adukan pemahaman
taqdir dengan amal perbuatan manusia yang dapat menyebabkan manusia tidak mau
berusaha. Harus dipahami bahwa ada perbedaan antar : Apa-apa yang harus diyakini
dengan apa-apa yang harus dikerjakan !
Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra. yang artinya:

“Rosulullah SAW suatu hari duduk-duduk (bersama para shahabat). Di tangan beliau ada sepotong
kayu, lalu dengan kayu tersebut beliau menggores-gores (tanah). Lalu nabi mengangkat kepala dan berkata
: “Setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tempatnya di jannah (surga) dan jahannam”. Para
shahabat terkejut lalu bertanya : “Kalau demikian ya Rosulullah apa gunanya kita beramal? Apakah
tidak lebih baik kita bertawakal saja (kepada taqdir)? Beliau menjawab : “Jangan! Tetaplah beramal,
setiap orang akan dimudahkan oleh Allah jalan yang sudah ditentukan baginya.” Lalu Rosulullah
membaca surat Al Lail ayat 5-10‖. (Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XVI, hal. 196-
197)

Sesungguhnya Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan bekal akal,
kekuatan, persiapan tenaga dan ilmu agar ia mampu membedakan mana yang salah dan mana
yang benar sebagai standar perbuatannya. Dengan demikian maka secara suka rela manusia
akan memilih (tanpa adanya unsur paksaan) suatu kehendaknya sendiri. Karena sesungguhnya
taqdir hanyalah pemberitahuan tentang ilmu Allah yang sangat luas, meliputi segala sesuatu
dan ilmu Allah tersebut tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu atau
tidak berbuat sesuatu. (lihat Imam Al Khattabi dalam Aqidah Islam. Sayyid Sabiq, hal. 151)
Tak ada seorang manusia pun yang tahu apa yang tertulis bagi dirinya di Lauhul
Mahfuzh. Karenanya tidak bisa dibenarkan jika ada seseorang yang berkata : ―Saya berbuat
begini karena telah dituliskan oleh Allah SWT di Lauhul Mahfuzh harus berbuat begini‖.
Karena, darimana ia tahu bahwa Allah telah menuliskan perbuatan tersebut baginya di Lauhul
Mahfuzh?
Sesungguhnya beriman kepada taqdir dalam pemahaman yang benar, pasti akan
memberikan suatu kekuatan semangat juang yang luar biasa. Pemahaman yang utuh akan
memberikan dorongan yang positif untuk meraih kehidupan bahagia yang sesuai dengan
perintah Allah dan Rasul-Nya dalam garisan syari‘at Islam. Selain itu, hal tersebut juga akan
memberikan ketabahan dan keberanian dalam membela yang haq, berhati baja dalam
merealisasikan hal-hal yang haq serta menetapi segala kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Tidak ada istilah lemah atau putus asa dalam kamus orang yang beriman kepada taqdir
dengan pemahaman yang benar. Ia akan menjadi orang yang bersyukur ketika langkah-
langkahnya memberikan keberhasilan/kebaikan dan ia akan menjadi orang yang sabar ketika
langkah-langkahnya tidak memberikan keberhasilan.

Asal Mula Munculnya Istilah „Qadha dan Qadar‟
Akhir abad kedua merupakan masa suburnya penaklukan daerah lain, yang dilakukan
oleh Khilafah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia. Banyak hal baru mulai ditemukan,
termasuk usaha-usaha menerjemahkan faham-faham di luar Islam semisal filsafat (Yunani).
Pada awalnya hanya semacam kebutuhan untuk menjawab dan berdebat dengan mereka
setelah dari pihak Nasrani terlebih dahulu mempelajarinya untuk mempertahankan aqidah
mereka. Kaum Muslimin tergerak untuk mendalami filsafat Yunani untuk membantah
masalah-masalah yang dilontarkan pihak Nashrani, terutama dalam bidang “kebebasan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

33 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
bertindak” (free will). Permasalahan ini terus berkembang dan akhirnya munculah beberapa
aliran/pandangan di kalangan kaum muslimin sendiri terhadap permasalahan ini.

1. Faham Qadariyah (Muktazilah)
Ketika Islam telah menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, kemunculan berbagai
faham di dalam ajaran Islam sulit untuk dihindari. Karenanya kemunculan segolongan dari
kaum Muslimin yang berpendapat bahwa manusia itu bebas berkehendak atau terlepas dari
taqdir Allah SWT adalah salah satu akibat persinggungan Islam dengan budaya setempat.
Golongan ini mengatakan bahwa manusia bebas berkehendak, artinya manusia memiliki
kemampuan (qadar) untuk berusaha sendiri. Itulah sebabnya akhirnya golongan ini disebut
dengan ―Qadariyah‖. Mereka menolak pengaturan untuk segala sesuatunya sesuai dengan
taqdir (Al-Qadar) maupun dalam ketetapan Allah. Faham ini pertama kali dikembangkan oleh
Washil bin Atha‘.
Secara garis besar, Muktazilah berpendapat bahwa manusia memiliki kehendak
(iradlah), kekuatan, kekuasaan (qudrat, power) dan kebebasan (huriyyah, freedom) untuk
berbuat atau tidak berbuat serta terlepas dari kehendak, kekuasaan dan taqdir Allah. Karena
itu, menurut faham ini, wajar dan adil apabila manusia harus bertanggung jawab atas semua
perbuatannya. Golongan ini memandang bahwa manusia sesungguhnya menciptakan segala
perbuatannya dengan ikhtiar dan qudratnya sendiri sementara iradlat dan qudrat Allah tidak
turut campur dalam perbuatan manusia.
Inilah faham indeterminasi (Qadariyah) dari filsafat Yunani yang merasuk ke pemikiran
dunia Islam yang menyebabkan banyaknya orang yang terselewengkan, hanyut oleh pikiran
melayang yang akhirnya jatuh ke jurang kesesatan, bahkan pemikiran ini telah mengganggu
persatuan umat.
Untuk mendukung pendapat mereka, Muktazilah gemar menakwilkan ayat-ayat Al
Qur'an. Ayat-ayat Al Qur'an yang sering dikutip adalah ayat-ayat yang menunjukan bahwa
manusia mendapat balasan atas perbuatannya misalnya:

¸_·´¸ ´_>l¦ _¸. `¸>¸,¯¸ _.· ´,!: _¸.¡`,l· _.´¸ ´,!: ¯¸±>´,l·
“(Dan) Katakanlah: „Kebenaran itu datangnya dari Rabb-Mu. Maka, siapa saja yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman dan siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir...” (QS Al-Kahfi: 29)

Dalam perkembangannya, faham ini telah dirangkul erat-erat oleh ahli pikir Barat
yang ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan cara melepaskan mereka dari imannya.
Padahal Islam telah memulai risalahnya dengan penanaman iman dan beriman kepada enam
rukun iman yang dimulai dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah ikatan yang
mengekang manusia dalam menggunakan akalnya, yaitu segala sesuatu telah diberikan batas,
dari garis halal dan haramnya.
Muktazilah adalah golongan yang bergerak dalam tiga fungsi: agama-filsafat-politik.
Nama lain Muktazilah adalah Qadariyah, Adliyah, atau “Ahlul Adli wat Tauhid‖ (penganut
faham keadilan dan keesaan Allah).

2. Faham Jabariyah
Faham ini sangat bertolak belakang dengan faham sebelumnya. Mengenai
kemunculannya, ada yang berpendapat bahwa faham jabariyah muncul sebelum adanya
Muktazilah. Orang pertama yang memelopori faham ―Jabariyah‖ adalah Jahmu bin Sofyan.
Ia berkata bahwa manusia itu tidak memiliki kekuasaan untuk memilih. Ia harus pasrah. Ia
tidak mengerjakan sesuatu selain apa yang telah ditentukan, dan bahwa Allah telah
menakdirkan amal perbuatan manusia yang harus dikerjakan sebagaimana Allah telah
menciptakan benda-benda. Ia tidak ubahnya seperti air yang mengalir, angin yang berhembus,
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

34 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
batu yang jatuh (tertarik gaya grafitasi). Manusia melakukan sesuatu apapun sesuai dengan apa
yang telah ditetapkan oleh Allah (ia hanya berfungsi sebagai alat, tidak lebih dari itu). Oleh
karena itu, pahala, siksa dan amal perbuatan tidak lain adalah hasil dari paksaan. Allah telah
menakdirkan terhadap diri seseorang sesuatu amal perbuatan, misalnya kebaikan, agar orang
tersebut mendapat pahala, dan begitu juga kalau Allah telah menakdirkan seseorang yang lain
untuk melakukan amal perbuatan maksiat, maka orang tersebut telah ditakdirkan akan
mendapat siksa.
Imam Sa‟duddin At Taftazany menyebutkan golongan ini berpendapat bahwa
manusia sekali-kali tidak menguasai dirinya dalam setiap perbuatan, apakah baik atau jahat.
Manusia bukan subyek, melainkan hanya sebagai obyek (kehendak dari luar). Dengan kata
lain, manusia dipaksa oleh kekuatan dari luar dirinya, yakni atas kehendak dan kekuasaan
Allah. Ia tidak mempunyai kebebasan berkehendak (laa hurriyyatul iradah), dan tidak memiliki
kekuasaan untuk berbuat sesuatu.

3. Faham Asy „Ariyah (kadang disebut Ahlussunnah)
Mohammad Fuad Fachruddin mengatakan bahwa kemunculan dua faham di atas,
mendorong kalangan ulama Ahlussunnah, seperti Abul Hasan Al Asy‘ari dan Mansur Al
Maturidy memberikan jawaban untuk membela aqidah Islam agar tidak tersesat oleh faham
Muktazilah (Qadariyah) maupun Jabariyah.
Walaupun di kalangan Ahlussunnah Wal Jama‘ah terbagi dua golongan, tetapi mereka
sepakat bahwa manusia mempunyai (diberi) kebebasan berkehendak, berkuasa dan
berpengetahuan (knowledge), tetapi hanya sampai ujung tertentu (ada batasnya/dibatasi).
Faham ini berpendapat bahwa sesungguhnya pada diri manusia ada kehendak berbuat
dan ada khasiat yang melahirkan perbuatan. Semua itu diciptakan Allah SWT tatkala
seseorang ‗memulai‘ melakukan suatu perbuatan, sampai pada suatu ‗batas‘, yang saat ‗batas‘
itulah Allah menentukan, jadi tidaknya perbuatan tersebut. Jadi ketika seseorang akan/sedang
berbuat maksiat atau perbuatan terpuji, maka ketika itulah Allah menciptakan perbuatan
tersebut bagi si hamba. Kesimpulan itu diambil dari beberapa ayat Al Qur'an, antara lain:

,¸¸.l`¸¦ ´¸.>´¦ ¸«.>'¦ _¸¸.¸¦.> !¸,¸· `,¦¸> !.¸, ¦¡.l´ ¿¡l.-, ¸¸_¸
“Mereka itulah penghuni jannah. Mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS Al Ahqaf: 14)

¸_·´¸ ´_>l¦ _¸. `¸>¸,¯¸ _.· ´,!: _¸.¡`,l· _.´¸ ´,!: ¯¸±>´,l·
“(Dan) Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabb-Mu. Maka, siapa saja yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman. Dan siapa saja yang ingin (kafir), biarlah ia kafir...” (QS Al Kahfi: 29)

¸ ¸¸l>`, ´<¦ !´.±. ¸¸| !¸-`.`¸ !¸l !. ¸,.´ !¸¯,ls´¸ !. ¸,..´¦
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari
kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS Al
Baqarah: 286)

Dalam pembahasan ayat-ayat tersebut, faham ini memunculkan sifat Maha Adil
(keadilan) Allah. Mereka mengaitkan sifat Maha Adil itu dengan dosa dan pahala, atau siksa
dan kenikmatan, yang erat kaitannya dengan perbuatan.


Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

35 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Bagaimana Menyikapi Berbagai Faham Ini ?
Demikianlah, kaum Muslimin terpecah ke dalam tiga golongan besar ketika mereka
membahas amal/perbuatan manusia yang dikaitkan dengan asas taklif, pahala dan siksa.
Terjadinya golongan-golongan tersebut disebabkan karena mereka menakwilkan beberapa
nash ayat Al Qur'an tentang perbuatan manusia sendiri, juga karena ada nash dari ayat Al
Qur'an yang menurut mereka menunjukan bahwa perbuatan manusia tergantung kepada
kehendak Allah. Golongan pertama dari kalangan Mu‘tazilah, golongan kedua dari golongan
Jabbariyah. Namun ada golongan yang berada di tengah-tengah kedua golongan tersebut,
yaitu dari kalangan Ahlussunnah.

Dasar Pembahasan Masalah „Qadha dan Qadar‟
Sesungguhnya, apabila kita meneliti masalah ‗qadha dan qadar‘ (sebagai suatu istilah
baru, yang memiliki makna tersendiri) akan kita dapati bahwa ketelitian pembahasannya
menuntut kita untuk mengetahui terlebih dahulu dasar berdirinya pembahasan ini atau
dengan kata lain, apa yang menjadi dasar pembahasan dalam permasalahan qadha dan qadar
ini.
Sesungguhnya, dasar pembahasan/permasalahan ini adalah pertanyaan :

Apakah manusia itu dipaksa untuk melakukan (atau meninggalkan) suatu perbuatan (baik atau buruk),
ataukah ia diberi kebebasan memilih ?

Inilah yang menjadi dasar pembahasan masalah ‗qadha dan qadar‘, yaitu ‗perbuatan
manusia‘. Karena ‗perbuatan manusia‘ merupakan hal yang dapat diindera bahkan dapat
dirasakan, maka dalil-dalilnyapun bersifat aqli. Dengan demikian jelaslah permasalahan yang
akan dibahas dalam tema ‗qadha dan qadar‘ ini.

Hakikat Perbuatan Manusia dan Kejadian-Kejadian yang Menimpa Manusia
Sesungguhnya, apabila kita meneliti suatu perbuatan/kejadian, yang dilakukan atau
yang menimpa manusia, akan kita jumpai bahwasanya manusia itu hidup dan beraktivitas
dalam dua jenis perbuatan yaitu :
a. Perbuatan yang berada di bawah kontrol manusia, yang timbul karena semata-mata pilihan
dan keinginannya sendiri.
b. Perbuatan yang berada di luar kontrol dan keinginan manusia. Pada bagian ini manusia
berbuat atau terkena perbuatan yang berada di luat kemampuan dan kehendaknya.
Manusia dipaksa menerimanya.
Contoh perbuatan dan kejadian yang pertama mudah diketahui, semisal, apakah kita
mau duduk atau berjalan, makan-minum atau tidak, minum sirup atau khamir, berbakti atau
durhaka kepada orang tua, belajar atau tidak dan lain-lain. Seluruh perbuatan ini jelas
dilakukan atas kesadaran dan kesukarelaan manusia, tanpa paksaan dari pihak manapun.
Pada jenis perbuatan yang kedua manusia tidak memiliki peran apapun atas
kejadiannya. Manusia dipaksa untuk menerimanya, sukarela maupun terpaksa, karena
memang berada di luar kekuasaan manusia.
Jenis perbuatan dan kejadian-kejadian kedua ini terdiri dari dua bentuk. Pertama,
kejadian yang ditentukan oleh ‗nidzom wujud‟ (Sunnatullah/peraturan alami). Misalnya ia lahir
dari seorang ibu dengan bentuk fisik dan warna kulit tertentu, hidup terikat dengan gravitasi
bumi, ia tidak dapat terbang dan bernafas dalam air, dsb.
Kedua, kejadian yang tidak ditentukan oleh ‗nidzom wujud‟, namun tetap berada di luar
kekuasaan manusia, seperti seseorang yang terjatuh dari atas tembok dan menimpa orang lain
dan orang yang tertimpa tersebut meninggal, atau seperti halnya kecelakaan pesawat, kereta
api dan mobil disebabkan karena kerusakan mendadak, baik yang berasal dari manusia atau
yang malah diluar kemampuannya. Meskipun tidak ditentukan oleh ‗nidzom wujud‘, akan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

36 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
tetapi semua kejadian itu tetap terjadi tanpa kehendak manusia dan berada di luar
kekuasaannya.
Segala perbuatan dan kejadian yang berada di luar kontrol manusia tersebut inilah
yang dinamakan qadha (keputusan) Allah. Sebab Allahlah yang meng-‗qadha‘
(memutuskannya). Terlepas apakah hal/keputusan itu menjadi kebaikan (qadha yang baik)
atau keburukan (qadha yang buruk), menurut penafsiran manusia. Yang jelas,
kebaikan/keburukan tersebut bukan menimpa kita karena adanya ‗hari baik, hari sial,
memakai jimat/mantra dsb. Semua itu diputuskan oleh Allah untuk menimpa kita. Inilah
qadha Allah SWT, dan tidak ada satu makhlukpun yang dapat menentukan hal ini selain Allah
semata.
Oleh karena itu seorang hamba tidak akan dihisab atas terjadinya kejadian-kejadian
ini. Meskipun kejadian tersebut mengandung manfaat atau kerugian, disukai atau dibenci oleh
manusia. Manusia tidak akan dihisab atas kejadian ini, sebab manusia tidak memiliki pengaruh
terhadap kejadian tersebut, serta tidak tahu menahu mengenai kejadian tersebut, bagaimana
hal tersebut bisa terjadi. Ia pun tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk menolak atau
mendatangkannya. Manusia hanya diwajibkan untuk beriman akan adanya qadha, dan bahwasannya
qadha itu datang dari Allah SWT, bukan dari yang lain.















Itulah pengertian qadha (dalam pembahasan istilah ‗qadha dan qadar‘ yang
digabungkan ini). Sedangkan untuk memahami pengertian qadar, dapat disimak dari uraian
berikut ini:

Memahami Makna Qadar
Bahwasanya segala perbuatan dan kejadian, baik jenis yang pertama maupun yang
kedua, semuanya terjadi dari benda menimpa (terhadap benda), baik benda itu termasuk
dalam unsur alam semesta, manusia maupun kehidupan. Misalnya, peristiwa tabrakan antara
mobil (benda, bersifat keras) dengan manusia, kebakaran, antara api dengan benda lain, dsb.
Sesungguhnya, Allah SWT juga telah menciptakan benda-benda tersebut beserta
khasiat-khasiat/karakteristik (sifat-sifat) tertentu pada benda-benda tersebut. Contohnya saja
di dalam api diciptakan ‗khasiat‘ membakar. Dalam kayu terdapat ‗khasiat‘ terbakar. Dalam
pisau (benda tajam) terdapat khasiat memotong, demikian seterusnya. Pada manusia ada rasa
lapar, haus dll. Juga ada gharizah/naluri, seperti naluri seksual, mempertahankan diri,
beragama, dsb.
Allah SWT telah menjadikan khasiat-khasiat itu tunduk sesuai dengan ‗nidzom wujud‘
yang tidak bisa dilanggar lagi. Bila suatu waktu tampak khasiat ini melanggar ‗nidzom wujud‘,
hal ini karena Allah SWT telah menarik khasiat tadi. Hal ini merupakan sesuatu yang berada
di luar kebiasaan, yang hanya terjadi bagi para nabi dan menjadi mukjizat bagi mereka.
HAKIKAT PERISTIWA YANG TERJADI DI
DUNIA
Daerah yang dikuasai / di
bawah kontrol manusia
Daerah yang tidak dikuasai/
tidak di bawah kontrol manusia
Melibatkan
manusia
Tidak
melibatkan
manusia
Manusia dihisab atas apa yang
diperbuat
Tidak ada hisab atas apa yang terjadi
Skema pemahaman qadla-qadar
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

37 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Seluruh khasiat yang diciptakan oleh Allah ini, baik yang terdapat pada benda-benda
ataupun yang terdapat pada manusia (gharizah serta kebutuhan jasmani), inilah yang
dinamakan qadar (penetapan batasan/kadar). Sebab hanya Allah sendiri yang menciptakan
benda-benda, gharizah-gharizah serta kebutuhan jasmani tersebut. Dan Ia menetapkan
khasiat-khasiat di dalamnya. Khasiat-khasiat ini tidak datang dengan sendirinya dari unsur-
unsur tersebut --seperti pernyataan orang-orang atheis (materialis).
Dalam masalah ini, manusia sama sekali tidak memiliki andil atau pengaruh apapun.
Ia hanya diwajibkan untuk mengimani bahwa yang menetapkan khasiat-khasiat dalam benda-
benda tersebut hanyalah Allah SWT.
Perlu dipahami bahwa seluruh khasiat ini memiliki „qabiliyyah‟
(tendensi/kecenderungan) untuk digunakan oleh manusia guna berbuat suatu amal
perbuatan. Apakah perbuatan itu berupa kebaikan ataukah keburukan. Apabila digunakan
sesuai dengan perintah Allah, perbuatan tersebut berarti perbuatan ‗baik‘. Sedangkan apabila
digunakan untuk melanggar aturan Allah SWT, berarti ia telah berbuat ‗jahat‘. Baik ia
melakukan perbuatannya itu dengan menggunakan khasiat-khasiat yang ada pada benda, atau
dengan memenuhi panggilan gharizah dan kebutuhan jasmaninya.

Makna Iman kepada Qadha - Qadar, Baik-buruknya dari Allah SWT
Dengan demikian, perbuatan atau kejadian yang berada di luar kontrol dan kemauan
manusia, datangnya dari Allah, apakah baik atau buruk. Dan khasiat-khasiat yang ada pada
benda-benda, gharizah-gharizah serta kebutuhan jasmani juga datangnya dari Allah, baik hal
itu bisa menghasilkan kebaikan ataupun keburukan. Oleh karena itu wajib bagi seorang
muslim untuk beriman kepada qadha, baik dan buruknya dari Allah SWT.
Dengan kata lain meng‘itiqadkan bahwasanya perbuatan dan kejadian yang berada di
luar kekuasaannya adalah dari Allah SWT. Dan wajib pula bagi seorang muslim untuk
beriman kepada qadar, baik dan buruknya dari Allah SWT. Baik khasiat-khasiat tersebut
dapat menghasilkan kebaikan ataupun keburukan. Manusia sebagai makhluk tidak
mempunyai pengaruh apapun dalam hal ini. Misalnya terhadap ajalnya, rizkinya dan dirinya,
kecenderungan seksualnya yang terdapat pada gharizatun nau‟, atau rasa lapar dan haus yang
terdapat pada kebutuhan jasmaninya. Hal ini semuanya datang dari Allah SWT semata.

Amal Manusia Yang Akan Dihisab
Demikianlah pembahasan yang berkaitan dengan perbuatan dan kejadian yang terjadi
di luar kontrol dan kemauan manusia. Adapun pada perbuatan dan kejadian yang berada di
bawah kontrol dan kemauan manusia maka pada wilayah ini manusia berjalan ‗secara
sukarela‘ di atas „nidzom‟ (peraturan) yang dipilihnya, baik itu syari‘at Allah atau syari‘at yang
lainnya. Pada bagian inilah terjadi kejadian dan perbuatan yang berasal atau menimpa manusia
disebabkan kehendaknya sendiri. Ia berjalan, makan, minum, dan bepergian kapan saja
dikehendakinya. Ia membakar dengan api dan memotong dengan pisau apa saja yang
dikehendakinya. Dan ia memuaskan keinginan seksualnya atau keinginan memiliki barang,
ataupun keinginan perutnya dengan cara apapun yang ia kehendaki. Ia ‗melakukannya‘
dengan sukarela sebagaimana ia ‗tidak melakukannya‘ juga dengan sukarela, karena itulah ia
akan ditanya atas perbuatan-perbuatannya di dalam bagian ini.
Bila terjadi suatu perbuatan atau kejadian, bukan ‗qadar‘ ini yang melakukan
perbuatan, melainkan manusialah yang melakukan perbuatan dengan memanfaatkan khasiat
tadi. Dorongan seksual yang terdapat pada gharizatun nau‟ memang mempunyai „qabiliah‟
(kecenderungan) untuk kebaikan atau keburukan, namun manusialah yang menggunakan
sesuai dengan pilihannya.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

38 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Hal ini karena Allah SWT telah menciptakan akal bagi manusia yang mampu
membedakan. Di dalam tabi‘at akal ini diciptakan kemampuan memahami serta membeda-
bedakan; mana yang baik (taqwa), dan mana yang buruk, sebagaimana firman-Nya:

!¸.>!· !>´¸¡>' !¸.´¡1.´¸ ¸_¸
”(Dan) Ia pun memberinya ilham akan mana yang buruk dan mana yang taqwa.” [QS. As-Syams: 8]

Dan disisi lain, Allah telah menunjukan kepada manusia jalan baik dan buruk.

«..,.>´¸ ¸_¸.>.l¦ ¸¸¸¸

”Telah Kami tunjukan padanya dua jalan.” [QS. Al-Balad: 10]

Maka apabila manusia memuaskan panggilan gharizah dan kebutuhan jasmaninya
sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT berarti ia telah melakukan kebaikan dan
berjalan di atas jalan taqwa. Akan tetapi apabila ia memenuhi panggilan gharizah dan
kebutuhan jasmaninya seraya berpaling dari perintah Allah dan larangan-Nya berarti ia telah
melakukan perbuatan buruk dan berjalan di atas jalan kejahatan. Berdasar hal inilah manusia
dihisab atas perbuatan-perbuatan yang berada pada kontrolnya. Kemudian diberi pahala dan
dosa tergantung pada perbuatannya. Sebab ia melakukan secara sukarela tanpa ada paksaan
sedikitpun (qadar Allah pada benda dan manusia tidak pernah „memaksa‟ manusia untuk
berbuat sesuatu).
Allah menjadikan akal sebagai sandaran (manath) pembebanan kewajiban syari‘at.
Karenanya Allah menyediakan pahala bagi perbuatan baik, sebab akalnya telah memilih untuk
menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan untuk perbuatan jahat,
manusia disediakan siksaan, sebab akalnya telah memilih untuk melanggar perintah dan
larangan Allah. Sebagaimana firman-Nya :
´_´ __±. !.¸, ¸,.´ «.,¸>´¸ ¸__¸
“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS Al Mudatsir: 38)

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

39 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
MAFAHIM SYARI‟AH





¸¸`.¸, ¸<¦ ¸_.´.-¯¸l¦ ¸¸,¸>¯¸l¦

﴿ !.¸| !´.l¸.¦ «.´¸¯¡`.l¦ !¸,¸· _.> "¸¡.´¸ `¡>>´ !¸¸, _¡,¸,.l¦ _¸¸.]¦ ¦¡.l`.¦ _¸¸.¦¸l ¦¸:!>
¿¡,¸..`,¯¸l¦´¸ '¸!,>¸¦´¸ !.¸, ¦¡´L¸±`>.`.¦ _¸. ¸¸..¸´ ¸<¦ ¦¡.lé´¸ ¸«,ls ´,¦.¸: ¸· ¦'¡:>.
´_!.l¦ ¸¿¯¡:>¦´¸ ¸´¸ ¦¸¸.:· _¸..,!:¸, !´... ¸,¸l· _.´¸ `¸l ¸>>´ !.¸, _¸.¦ ´<¦ ,¸¸.l`¸!· `¡>
¿¸`¸¸±.>l¦ ﴾

“Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah
diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah
kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku
dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Maidah: 44]





Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

40 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB SYARI‟AH ISLAM

Definisi Syari‟ah Islam
Kata syari‟ah Islam merupakan pengindonesiaan dari kata Arab, yakni as-syarî„ah al-
Islâmiyyah. Secara etimologis, kata as-syarî‟ah mempunyai konotasi masyra„ah al-mâ‟ (sumber air
minum). Orang Arab tidak menyebut sumber tersebut dengan sebutan syarî„ah kecuali jika
sumber tersebut airnya berlimpah dan tidak pernah kering. Dalam bahasa Arab, syara„a berarti
nahaja (menempuh), awdhaha (menjelaskan), dan bayyana al-masâlik (menunjukkan jalan).
Syara„a lahum-yasyra„u-syar„an berarti sanna (menetapkan). Syari‘ah dapat juga berarti madzhab
(mazhab) dan tharîqah mustaqîmah (jalan lurus).
Dalam istilah syari‘ah sendiri, syarî„ah berarti agama yang ditetapkan oleh Allah SWT
untuk hamba-hamba-Nya yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan yang beragam.
Hukum-hukum dan ketentuan tersebut disebut syari‘ah karena memiliki konsistensi atau
kesamaan dengan sumber air minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup.
Dengan demikian, syari‘ah dan agama mempunyai konotasi yang sama, yaitu berbagai
ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya.
Sementara itu, kata al-Islâm (Islam), secara etimologis mempunyai konotasi inqiyâd
(tunduk) dan istislâm li Allâh (berserah diri kepada Allah). Istilah tersebut selanjutnya
dikhususkan untuk menunjuk agama yang disyari‘ahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad
Saw. Dalam konteks inilah, Allah menyatakan kata Islam sebagaimana termaktub dalam
firman-Nya:

¸¯¡´,l¦ ¸l.´¦ ¯¡>l ¯¡>.,¸: ¸..·¦´¸ ¯¡>,l. _¸..-¸. ¸,¸.´¸´¸ `¡>l ´¡.l`.¸¸¦ !´.,¸: ¸_¸
“Hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, mencukupkan nikmat-Ku atas
kalian, dan meridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” [QS. al-Mâ‟idah: 3]

Karena itu, secara syar„î, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada
junjungan kita, Muhammad Saw., untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya,
dirinya sendiri, dan sesamanya. Hubungan manusia dengan Penciptanya meliputi masalah
akidah dan ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi akhlak, makanan, dan
pakaian; hubungan manusia dengan sesamanya meliputi muamalat dan persanksian.
Dengan demikian, syari‘ah Islam merupakan ketentuan dan hukum yang ditetapkan
oleh Allah atas hamba-hamba-Nya yang diturunkan melalui Rasul-Nya, Muhammad Saw.,
untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan
sesamanya. Dengan kata lain, syari‘ah Islam bukan hanya mengatur seluruh aktivitas fisik
manusia (af„âl al-jawârih), tetapi juga mengatur seluruh aktivitas hati manusia (af„âl al-qalb) yang
biasa disebut dengan akidah Islam. Karena itu, syari‘ah Islam tidak dapat direpresentasikan
oleh sebagian ketentuan Islam dalam masalah hudûd (seperti hukum rajam, hukum potong
tangan, dan sebagainya); apalagi oleh keberadaan sejumlah lembaga ekonomi yang menjamur
saat ini semisal bank syariah, asuransi syariah, reksadana syariah, dan sebagainya.

Keterikatan Terhadap Syari‟ah
Seluruh amal perbuatan manusia, tidak memiliki suatu status hukum sebelum
datangnya pernyataan dari syara'. Amal itu tidak tergolong wajib, sunah, haram, makruh, atau
pun mubah. Manusia boleh melakukan amal itu sesuai dengan pengetahuannya dan
berdasarkan pandangan atas kemaslahatan manusia. Sebab, tidak ada "beban hukum" (taklif)
sebelum sampainya pernyataan syara'. Allah SWT berfiman:

!.´¸ !.´ _,¸,¸.-`. _.> ¸-¯,. ¸¡.´¸ ¸¸_¸
"(Dan) Kami tidak akan mengazab suatu kaum sebelum Kami mengutus seorang Rasul/utusan." [QS.
Al- Isra': 15]

Berdasarkan ayat tersebut dapat ditarik suatu pemahaman, bahwa Allah SWT
memberikan jaminan bahwa tidak akan datang azab kepada hamba-Nya atas perbuatan yang
mereka lakukan, sebelum diutusnya seorang Rasul kepada mereka. Jadi mereka tidak akan
dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang mereka lakukan. Sebab, mereka tidak
terbebani oleh satu hukum pun. Hanya saja, tatkala Allah SWT mengutus seorang rasul
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

41 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
kepada mereka, atau telah sampai kepada suatu kaum, penjelasan syara'; maka terikatlah
mereka dengan risalah yang dibawa oleh rasul tersebut. Allah SWT berfirman :

¸.¯¸ _¸¸¸¸:,¯. _¸¸¸¸..`.´¸ ¸.¸l ¿¡>, ¸_!.l¸l _ls ¸<¦ «>`> .-, ¸_.´¸l¦ ¿l´´¸ ´<¦ ¦¸,¸¸s
!.,¸>> ¸¸__¸
"(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya
tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu." [QS. An- Nisa:
165]

Dengan demikian, siapa pun yang tidak beriman kepada Rasul, pasti ia akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak, tentang ketidak imanannya dan ketidak-terikatannya
terhadap hukum-hukum yang dibawa Rasul tersebut. Begitu pula bagi yang beriman kepada
Rasul serta mengikatkan diri pada hukum yang dibawanya iapun akan dimintai
pertanggungjawaban tentang penyelewengan terhadap sebagian hukum dari hukum-hukum yang
dibawa Rasul tersebut.
Untuk itu seluruh kaum muslimin diperintahkan melakukan amal perbuatannya sesuai
dengan hukum Islam, karena kewajiban atas mereka untuk menyesuaikan amal perbuatannya
dengan segala perintah dan larangan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

!.´¸ `¡>..¦´, `_¡.¯¸l¦ :¸.`>· !.´¸ ¯¡>.¸. «.s ¦¡¸..!·
"... apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah..." [QS Al-Hasyr: 7]

Tidak berarti dikatakan di sini, bahwa barangsiapa yang tidak datang kepadanya suatu
perintah atau larangan dari Rasul secara langsung (karena masa Rasulullah SAW telah lewat)
maka ia tidak termasuk "mukallaf" (orang yang terbebani hukum). Tidak dapat dikatakan
demikian, sebab beban hukum menurut syara' adalah 'aam (bersifat umum), sebagaimana
umumnya risalah untuk seluruh manusia. Selain itu tidak dapat dinyatakan dengan suatu
pengertian bahwa ada perbuatan-perbuatan tersebut yang lolos dari hukum syari'at. Dalam
hal ini Allah SWT berfirman:

¯_· !¸¯,!., _!.l¦ _¸.¸| `_¡.´¸ ¸<¦ ¯¡÷¯,l¸| !´-,¸.-
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah untuk kamu semuanya."
[QS Al-A'raf: 158]

Oleh karena itu telah menjadi suatu yang pasti bahwa apapun yang dibawa Rasul
tentang suatu hukum akan mencakup setiap perbuatan dan apa-apa yang dilarang olehnya
juga mencakup setiap perbuatan. Dengan demikian setiap muslim yang hendak melakukan
suatu perbuatan untuk memenuhi kebutuhannya atau mencari suatu kemaslahatan, maka
wajib baginya secara syar'i mengetahui hukum Allah tentang perbuatan tersebut sebelum ia
melakukannya, sehingga ia dapat berbuat sesuai dengan hukum syara'.
Selain itu, bila ada perbuatan/ hal baru yang belum diketahui nash syara' terhadapnya,
maka manusia tetap tidak berhak menghukumi berdasar kemauannya. Jika ada anggapan
bahwa terdapat perbuatan/hal yang tidak memiliki nash hukum; anggapan tersebut sama
artinya dengan menganggap bahwa syari'at Islam mempunyai kekurangan dan tidak cocok
kecuali untuk masa dan keadaan tertentu. Tentu saja hal ini bertentangan dengan syari'at itu
sendiri serta kenyataan yang sesuai dengannya.

Hukum bagi Masalah Baru
Memang syari'at Islam tidak datang dengan hukum-hukum secara terperinci mengenai
suatu masalah, sehingga manusia merasa cukup dengan hukum-hukum secara terperinci
tersebut. Tetapi Islam datang dengan makna-makna umum (garis global/khuthuthun 'aridhoh )
yang berkaitan dengan problema hidup manusia; yaitu dengan melihat 'manusia sebagai
manusia, sehingga tidak terikat dengan waktu dan kondisi/tempat. Kemudian mengalirlah di
bawah makna-makna umum tersebut berbagai makna cabang yang lain.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

42 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Jika muncul suatu permasalahan atau kejadian baru, maka ia harus dikaji dan difahami.
Kemudian, dilakukan ―istinbath” hukum (penggalian status hukum) dari dalil-dalil yang
bersifat umum yang terkandung dalam syari'at, maka jadilah hasil istinbath dari suatu pendapat
sebagai satu hukum Allah Swt. dalam masalah tersebut.
Kaum muslimin melakukan istinbath sejak wafatnya Rasulullah SAW, hingga lenyapnya
kekhalifahan Islam di muka bumi ini. Kaum muslimin tidak pernah berhenti mengikatkan
diri mereka kepada syari'at Islam dalam kehidupan mereka. Di masa Abu Bakar ra muncul
permasalahan-permasalahan baru yang tidak dijumpai di zaman Rasulullah Saw; begitu pula
telah muncul persoalan-persoalan baru di masa Khalifah Harun Al Rasyid yang tidak
ditemui dimasa Abu Bakar ra. Disini para mujtahidin berusaha menggali status hukum
terhadap ratusan bahkan ribuan masalah yang sebelumnya tidak pernah ditemukan.
Demikianlah kaum muslimin telah melaksanakan syari'at Islam dalam setiap masalah
dan kejadian, karena syari'at Islam telah mencakup seluruh perbuatan manusia; tidak ada
satupun masalah yang terjadi kecuali ada pemecahan hukumnya menurut Islam. Oleh karena
itu wajib bagi setiap muslimin untuk senantiasa mengaitkan seluruh perbuatannya dengan
hukum syari'at Islam, serta tidak melakukan suatu perbuatan kecuali jika sesuai dengan
perintah dan larangan Allah SWT.

Hukum Perbuatan Manusia
Hukum syara‘ (syari‘at) adalah ‗khithaabusy Syaari‟ (seruan dari Sang Pembuat Hukum –
Allah dan Rasul-Nya--) yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia. Hukum syari‘at
ditetapkan berdasarkan adanya ‗khitab‟ (seruan tersebut), sedang kejelasannya tergantung pada
jelasnya ma‘na dari suatu khithab. Khithab syar‘i adalah apa-apa yang terdapat dalam Al
Qur'an dan As Sunnah yang berupa perintah dan larangan (kisah, riwayat dan sejenisnya tidak
termasuk dalam pengertian hukum Syar‘i). Oleh karena itu setiap muslim harus memahami Al
Qur'an dan As Sunnah, sebab keduanya merupakan sumber tasyri‘.
Dengan memahami jenis khithabnya maka tidak setiap khithab Syar‘i itu wajib
dilaksanakan dan disiksa bila meninggalkannya, atau haram melakukannya dan mendapat
pahala bila dikerjakannya. Oleh karenanya, merupakan suatu perbuatan dosa dan kelancangan
terhadap Dienullah, bila seseorang tergesa-gesa mencari penjelasan hukum bahwa hal itu
adalah fardlu dengan hanya membaca satu ayat atau hadits yang menerangkan adanya
tuntutan untuk melakukannya. Pada masa sekarang ini banyak kaum muslimin yang
terjerumus ke dalam hal-hal tersebut. Yakni mereka terburu-buru menghalalkan atau
mengharamkan suatu perkara, hanya membaca satu perintah atau larangan di dalam ayat Al
Qur'an dan Al Hadits. Hal ini jarang terjadi pada orang-orang yang memahami makna tasyri‘.
Karenanya merupakan kewajiban bagi kaum muslimin untuk memahami jenis khithob
sebelum mengeluarkan pendapatnya yang menyangkut penunjukan jenis hukum syara‘.

Memahami Makna Khitab
Memahami makna ayat atau hadits haruslah dengan pemahaman secara tasyri‟ dan
bukan pemahaman secara lughowiyah (bahasa) saja. Dengan demikian seorang muslim tidak
akan melakukan kelancangan dan kesalahan; mengharamkan yang telah dihalalkan Allah dan
menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Misalnya firman Allah SWT:

¦¡l¸..· _¸¸.]¦ ¸ _¡`.¸.¡`, ¸<!¸, ¸´¸ ¸,¯¡´,l!¸, ¸¸¸>¸¦ ¸´¸ ¿¡`.¸¯¸>´ !. ¸¯¸> ´<¦ .`«]¡.´¸´¸
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan
mereka tdk mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya...‖ QS. At-Taubah: 29]

Dari ayat ini, sesungguhnya Allah telah memerintahkan jihad dan perintah tersebut
adalah wajib, Allah akan menyiksa bila meninggalkannya. Namun hukum wajib /fardlu
tersebut tidak muncul hanya karena adanya bentuk perintah (amar) saja, melainkan juga
adanya isyarat-isayarat (qarinah) lain yang menunjukan bahwa perkara ini menuntut suatu
perbuatan dengan ‗tuntutan yang pasti‘. Qarinah yang dimaksud misalnya nash-nash yang
lain, seperti firman Allah SWT berikut ini :
¸¸| ¦¸`¸¸±.. ¯¡÷¯,¸.-`, !,¦.s !.,¸l¦
―(Dan) Jika kamu tidak pergi berperang, maka Allah akan mengadzab kamu dengan adzab yang pedih.‖
[QS. At-Taubah: 39]

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

43 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Demikian pula mengenai haramnya zina, Allah SWT telah berfirman:

¸´¸ ¦¡,¸1. ´_.¸¯¸l¦
―Janganlah kamu mendekati zina....‖ [QS. Al Isra‟: 32]

Dari sini sesungguhnya Allah telah melarang perbuatan zina, dimana Allah akan
menyiksa para pelakunya dari perbuatan tersebut. Walaupun demikian, status hukum haram
tersebut tidak muncul hanya karena sighot nahi (bentuk larangan) dalam ayat itu saja,
melainkan juga berdasarkan isyarat-isyarat (qarinah) lain yang merupakan nash-nash lain
misalnya firman Allah SWT:

.«.¸| ¿l´ «:¸>.· ´,!.´¸ ¸,¸,. ¸__¸
―... sesungguhnya (zina) itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.‖ [QS. Al
Isra‟: 32]
«´,¸.¦¸l¦ _¸.¦¸l¦´¸ ¦¸.¸¦>!· _´ ¸.¸>´¸ !.·¸.¸. «.!¸. ¸:.¦>
―Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina maka deralah tiap-tiap orang darinya seratus kali dera.‖
[QS. An-Nuur: 2]

Begitu pula hukum-hukum yang diambil dari hadits Rasulullah SAW, misalnya ketika
Rasulullah bersabda:

―Shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendiri dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat.‖ (HR
Imam Malik, Imam Ahmad dll.)

Sesungguhnya Rasul memerintahkan shalat berjamaah, meskipun tuntutan tersebut
tidak berbentuk perintah. Begitu pula dalam sabdanya yang lain:

―Aku pernah mencegah kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah karena hal itu akan
mengingatkan kepada kematian.― (HR Al Hakim)

Hadits tersebut memerintahkan untuk ziarah kubur, akan tetapi perintah dalam kedua
hadits itu bentuknya sunnah dan bukan fardlu. Hukum sunnah tersebut tidak akan ditetapkan
sebelum adanya isyarat yang lain, misalnya diamnya Rasulullah SAW terhadap sekelompok
orang yang shalat sendiri, atau diamnya Rasulullah SAW terhadap orang yang tidak ziarah
kubur. Jadi isyarat tersebutlah yang menunjukan bahwa tuntutan itu tidak bersifat wajib.
Dalam sabdanya yang lain, beliau bersabda:

―Siapa saja yang mampu tetapi tidak menikah, maka ia tidak termasuk golonganku.‖ (HR Imam
Thabrani)

Diketahui pula bahwa Rasulullah SAW melarang „tabathul‟ (tidak mau beristri atau
bersuami) sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Samuroh:

―Bahwa sesungguhnya Nabi SAW mencegah tabathul.‖

Dari kedua hadits tersebut di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW mencegah
orang yang mampu, untuk tidak beristri atau bersuami dalam hadits pertama, dan Rasulullah
melarang secara mutlak terhadap seseorang untuk tidak memiliki pasangan dalam hadits yang
kedua. Meskipun demikian tidak berarti ketiadaan istri atau suami pada orang yang mampu
itu haram hukumnya, dan ketiadaan suami atau istri bukanlah haram secara mutlak. Tetapi
larangan ini menunjukan bahwa larangan ini hukumnya makruh. Status makruh ini diperoleh
berdasarkan isyarat-isyarat yang lain, misalnya diamnya Rasulullah terhadap sebagian shahabat
yang mampu tetapi tidak menikah. Dan ketika Allah SWT berfirman:

¦:¸|´¸ ,.ll> ¦¸:!L.!·
―Apabila telah ditunaikan haji, maka berburulah...‖ [QS. Al Maidah: 2]
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

44 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
¦:¸|· ¸¸´,¸.· :¡l¯.l¦ ¦¸`¸¸:..!· _¸· ¸_¯¸¸¦
―...apabila telah selesai shalat jum‟at maka menyebarlah.” [QS. Al-Jumu‟ah: 10]

Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan berburu seusai melaksanakan ihrom haji dan
memerintahkan bertebaran di muka bumi setelah melaksanakan shalat Jum‘at. Tetapi perintah
berburu seusai melaksanakan ihrom tersebut bukanlah wajib atau sunnah, (meskipun ada kata
perintah) tetapi keduanya menunjukan hukum mubah. Hukum mubah ini terlihat dari adanya
isyarat dimana Allah telah melarangnya ketika ihrom. Demikian pula Allah memerintahkan
bertebaran di muka bumi usai shalat Jum‘at sesudah Dia melarang hal tersebut ketika masuk
waktu sholat Jum‘at. Demikianlah isyarat/qorinah tersebut menunjukan bahwa perkara
tersebut adalah mubah, artinya bahwa perbuatan berburu dan bertebaran pada kondisi yang
demikian itu adalah mubah.
Jadi untuk mengetahui jenis hukum dari suatu nash harus bersandar pada pemahaman
nash tersebut secara tasyri‘ dan kaitannya dengan qorinah yang memberikan petunjuk
terhadap makna nash tersebut. Dari sini jelaslah bahwa hukum syari‘at itu bermacam-macam
adanya. Menurut hasil pemahaman terhadap semua nash dan hukum-hukum, maka jenis
hukum syar‘i itu ada lima:
(1) Fardlu yang bermakna wajib.
(2) Haram yang bermakna terlarang.
(3) Mandub (sunnah).
(4) Makruh.
(5) Mubah.

Tuntutan Dalam Khithab
Kadang-kadang ―khithab syari‟‘ menuntut untuk melakukan suatu perbuatan, atau
menuntut untuk meninggalkan suatu perbuatan, atau memberikan pilihan untuk melakukan
atau meninggalkan suatu perbuatan. Dan tuntutan tersebut adakalanya bersifat sungguh-
sungguh (pasti atau jaazim) dan adakalanya tidak jaazim.
Jika tuntutan itu bersifat jaazim maka akan menjadi fardlu, dan jika tuntutan ini bersifat
tidak jaazim maka akan menjadi hukum sunnah. Sedangkan bila tuntutan tersebut untuk
meninggalkan suatu perbuatan (larangan), bersifat jaazim maka hukumnya akan menjadi
haram, tetapi yang bersifat jaazim maka hukumnya akan menjadi hukum makruh. Adapun
tuntutan yang memberikan alternatif maka hukumnya akan menjadi mubah.
Jadi, upaya penelaahan terhadap nash atau dalil-dalil syar‘i untuk menetapkan suatu
status hukum bagi perbuatan manusia atau suatu benda, memerlukan kecermatan dan
kemampuan. Suatu perbuatan bersifat wajib atau haram, tidak semata-mata diambil dari
adanya bentuk perintah atau larangan pada suatu ayat atau hadits. Dan tidak semua perintah
berbentuk ‗fiil amr‟/kata perintah. Oleh karena itu betapa pentingnya hal ini diperhatikan, agar
semboyan kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah justru tidak berujung pada munculnya
sikap-sikap yang berani mempermainkan agama, membuat hukum-hukum baru, atau metode
ijtihad baru yang menyimpang dari syara‘.

Makna Fardlu Kifayah
Yang dimaksud dengan fardlu kifayah adalah khithab syar‘i (seruan Allah) yang
berkaitan dengan tuntutan yang pasti (jaazim) untuk berbuat sesuatu, seperti firman Allah
SWT:

¦¡.,¸·¦´¸ :¡l¯.l¦
―Dan dirikanlah shalat...‖ [QS. Al-Baqarah: 43]

Juga dalam hadits Rasulullah:

―Seseorang dijadikan imam adalah untuk diikuti.‖ (HR Ahmad, Abu Daud, Bukhari dan
Muslim)

―Siapa saja yang mati dan tidak ada suatu bai‟at di atas pundaknya, maka ia telah mati dalam keadaan
jahiliyah.‖ (HR Muslim)

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

45 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Semua nash tersebut adalah khithab syari‘ yang berkaitan dengan tuntutan terhadap
suatu perbuatan dengan tuntutan yang pasti. Adapun yang menyebabkan tuntutan itu menjadi
tuntutan yang pasti adalah adanya ‗qorinah‘ (isyarat) yang berkaitan dengan tuntutan tersebut
sehingga jadilah tuntutan tersebut bersifat pasti dan wajib dilaksanakan.
Sesuatu yang pasti/wajib, tidak akan gugur (hilang kewajiban melaksanakannya) dalam
kondisi apapun sampai amalan fardlu terlaksana secara sempurna. Sedangkan orang yang
meninggalkan amalan fardlu, maka ia akan mendapat siksa. Ia akan tetap berdosa selama
belum melaksanakannya. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ―fardlu „ain‖ dengan
―fardlu kifayah‖, semuanya itu adalah fardlu untuk seluruh kaum Muslimin. Jadi firman Allah
SWT ―Dirikanlah shalat‖ (QS Al Baqarah: 43), adalah fardlu „ain, dan firman-Nya:

¦¸`¸¸±.¦ !·!±¸> ¸!1¸.´¸ ¦¸.¸¸.>´¸ ¯¡÷¸l´¡.!¸, ¯¡>¸.±.¦´¸ _¸· ¸_,¸,. ¸<¦
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan
harta dan dirimu di jalan Allah.” (QS At Taubah: 41), adalah fardlu kifayah.

Sedangkan sabda Rasulullah SAW:

―Seseorang dijadikan imam (shalat) adalah untuk diikuti.‖ (HR Ahmad), adalah fardlu „ain.

Juga sabdanya pula:

―Siapa saja mati sedangkan dipundaknya tidak ada bai‟at, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.‖
(HR Muslim dan Ahmad), adalah fardlu kifayah.

Tetapi semua itu adalah fardlu, yang telah ditetapkan oleh ―khitthob syar‘i‖ dan
berkaitan dengan tuntutan yang pasti untuk melakukan suatu perbuatan.
Karenanya, usaha untuk memisahkan fardlu „ain dengan fardlu kifayah dari sisi sama-
sama suatu kewajiban adalah suatu perbuatan dosa kepada Allah SWT dan menyimpang
dari jalan Allah. Juga suatu kesalahan bila melakukan kelalaian terhadap pelaksanaan amalan-
amalan fardlu. Begitu pula dengan gugurnya suatu kewajiban, maka antara keduanya (fardlu ‗ain
dan fardlu kifayah) tidak ada perbedaan. Suatu yang fardlu tidak akan gugur melaksanakan
kewajibannya, sehingga terlaksana kewajiban tersebut sebagaimana yang dituntut syara‘. Sama
saja, apakah tuntutan itu tertuju pada setiap muslim (‗ain) seperti sholat lima waktu ataupun
yang tertuju pada seluruh kaum muslimin (kifayah) seperti jihad dan menegakkan kembali
Daulah Khilafah. Semuanya tidak akan gugur kecuali telah dilaksanakan dan telah terwujud
secara sempurna, artinya hingga sholat itu dilaksanakan serta telah terwujud adanya jihad dan
Daulah Khilafah. Dengan demikian kewajiban melaksanakan fardlu kifayah tidak akan gugur
atas setiap muslim selama belum cukup dan belum sempurna pelaksanaannya. Bahkan setiap
muslim tetap memikul dosa selama pelaksanaan fardlu kifayah belum sempurna (belum
berhasil).
Adanya suatu kesalahan bila dikatakan bahwa, andai sebagian kaum muslimin ‗sedang‘
melaksanakan fardlu kifayah, berarti telah gugur kewajiban tersebut. Pemahaman tersebut
jelas salah. Sesungguhnya, fardlu kifayah akan gugur, jika sebagian kaum muslimin ‗telah‘
melaksanakannya dengan syarat bahwa amalan yang dituntut tersebut telah dilaksanakan dan
diwujudkan, serta tidak ada lagi kesempatan untuk menetapkannya (telah sempurna hasilnya).
Inilah fardlu kifayah, dari sini ia sama persis dengan fardlu ‗ain.
Oleh karena itu, jihad terhadap Israel di Palestina dan Syiria adalah fardlu/wajib untuk
seluruh kaum muslimin, sebagaimana jihad kaum muslimin di negeri Islam yang lain untuk
mengusir kaum kafir yang menjajahnya sebagaimana kaum Muslim Indonesia mengusir
penjajah Belanda pada masa kolonialis dahulu. Ketika penduduk Palestina bangkit melawan
Israel, maka tidaklah berarti bahwa kewajiban itu gugur dari kaum muslimin seluruhnya,
tetapi tetap menimpa seluruh kaum Muslimin sampai Israel benar-benar keluar dari Palestina
dan sempurna kemenangan atas kaum muslimin.
Demikianlah, setiap fardlu kifayah tetap menjadi kewajiban atas kaum muslimin, dan
tidak gugur kewajiban tersebut sehingga amalan yang dituntut tersebut telah terlaksana
dengan sempurna.

Sumber-sumber Syari‟ah Islam
Pembahasan sumber-sumber syari‘ah Islam, termasuk masalah pokok (ushul) karena dari
sumber-sumber itulah terpancar seluruh hukum/syari‘ah Islam. Oleh karenanya untuk
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

46 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
menetapkan sumber Syari‘ah Islam harus berdasarkan ketetapan yang pasti (qath‟i)
kebenarannya, bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni). Allah SWT berfirman:

¸´¸ ¸1. !. ´_,l ,l .¸«¸, '¸l¸.
―(Dan) janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.‖ [QS. Al-Isra:
36]

!.´¸ _¸,`., `¸>¸.´¦ ¸¸| !.L ¿¸| ´_Ll¦ ¸ _¸.-`, ´_¸. ¸´_>'¦ !:,:
―(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.‖ (QS. Yunus: 36)

Masalah ini termasuk masalah pokok (ushul), sebab menjadi dasar bagi seorang muslim
untuk menarik keyakinan atas hukum-hukum amaliahnya. Apabila landasan suatu hukum
sudah salah, maka seluruh hukum-hukum cabang yang dihasilkannya menjadi salah pula.
Karenanya menetapkan sumber syari‘ah Islam tidak dapat dilakukan berdasarkan persangkaan
ataupun dengan dugaan belaka.
Dengan demikian maka yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai sumber
pengambilan dalil-dalil syar‘i adalah Al Qur'an, Sunnah, Ijma‟ Shahabat, dan Qiyas (yang
mempunyai persamaan illat syar‘i).

AL QUR'AN
Al Qur'an adalah kallam Allah yang diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibril
kepada Rasulullah SAW dengan menggunakan bahasa Arab disertai kebenaran agar dijadikan
hujjah (argumentasi) dalam hal pengakuannya sebagai rasul dan agar dijadikan sebagai
pedoman hukum bagi seluruh umat manusia, disamping merupakan amal ibadah bagi yang
membacanya.
Al Qur'an diriwayatkan dengan cara tawatur (mutawatir), artinya diriwayatkan oleh orang
sangat banyak semenjak dari generasi shahabat ke generasi selanjutnya secara berjamaah. Apa
yang diriwayatkan oleh orang per orang tidak dapat dikatakan sebagai Al Qur'an. Orang-
orang yang memusuhi Al Qur'an dan membenci Islam telah berkali-kali mencoba menggugat
nilai keasliannya. Akan tetapi realitas sejarah dan pembuktian ilmiah telah menolak segala
bentuk tuduhan yang mereka lontarkan. Al Qur'an tetap menjadi mu‘jizat sekaligus sebagai
bukti keabadian dan keabsahan Risalah Islam sepanjang masa dan sebagai sumber segala
sumber hukum bagi setiap bentuk kehidupan manusia di dunia.

a. Kehujjahan Al Qur'an
Banyak argumentasi yang menunjukan bahwa Al Qur'an itu datang dari Allah dan
merupakan mukjizat yang mampu menundukan manusia dan tidak mungkin mampu
ditiru. Salah satu yang menjadi kemusykilan manusia untuk menandingi Al Qur'an adalah
bahasanya, yaitu bahasa Arab, yang tidak bisa ditandingi oleh para ahli syi‘ir orang arab
atau siapapun. Allah SWT berfirman:

_· ¸_¸¸l ¸¸-..>¦ _.¸¸¦ ¯_¸>l¦´¸ ´_ls ¿¦ ¦¡.!, ¸_:¸.¸, ¦..> ¸¿¦´,¯¸1l¦ ¸ ¿¡.!, .¸«¸¦.¸.¸,
¯¡l´¸ _l´ ¯¡·¸´.-, ¸_-,¸l ¦¸,¸¸L ¸__¸
―Katakanlah: Sesungguhnya apabila jin dan manusia apabila berkumpul untuk membuat yang serupa
dengan Al Qur'an ini, pasti mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun
sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” [QS. Al-Isra: 88]

¿¸|´¸ ¯¡..é _¸· ¸¸,´¸ !´.¸. !´.l¸. _ls !.¸.¯,s ¦¡.!· ¸:´¸¡´.¸, _¸. .¸«¸¦:¸. ¦¡`s:¦´¸ ¡´´,¦.¸:
_¸. ¸¿¸: ¸<¦ _¸| ¯¡..´ _,¸·¸... ¸__¸
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

47 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
―(Dan) apabila kamu tetap dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba
Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an, dan ajaklah penolong-
penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.‖ [QS. Al-Baqarah: 23]

Cukup kiranya pernyataan Walid bin Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di
masa Rasulullah SAW, seorang ahli syair yang tak tertandingi, yang menjadi musuh nabi
pada awalnya berkata :

―Sesungguhnya di dalam Al Qur'an itu terdapat sesuatu yang lezat, dan pula keindahan, apabila di
bawah menyuburkan dan apabila di atas menghasilkan buah. Dan manusia tidak akan mungkin
mampu berucap seperti Al Qur'an”.

Selain dari bahasanya, isi Al Qur'an sekaligus menjadi hujjah atas kebenarannya.
Misalnya perihal akan menangnya kaum Muslimin memasuki Makkah dengan aman (QS.
Al Fath), juga tentang akan menangnya pasukan Romawi atas Parsi (QS. Ar Ruum) dsb.
Selain itu, isi Al Qur'an juga menunjukan tentang kejadian sejarah terdahulu yang sesuai
dengan fakta, atau kisah tentang sebagian iptek, misalnya penyerbukan oleh lebah,
terkawinkannya bunga-bunga oleh bantuan angin dsb, yang pada akhirnya terbukti
kebenarannya. Semua itu menunjukan bahwa Al Qur'an memang bukan datang dari
manusia, melainkan dari Allah SWT; Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Karenanya memang sudah menjadi kelayakan bahkan keharusan untuk menjadikan Al
Qur'an sebagai landasan kehidupan dan hukum manusia. (Lihat juga pembuktian
kesahihan Al Qur'an pada materi ―Proses Keimanan‖)

b. Al Muhkamat dan Al Mutasyabihat
Dalam Al Qur'an terdapat ayat-ayat yang dalam kategori muhkamat dan mutasyabihat
sebagaimana firman Allah SWT:

´¡> _¸.]¦ _¸.¦ ,,ls ¸..¸>l¦ «.¸. ¸.,¦´, ¸..>>: ´_> ´¸¦ ¸¸..¸>l¦ `¸>¦´¸ ¸.¸¸,.:.`.
―Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu, diantara (isinya) ada ayat-ayat
Muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan lainnya (ayat-ayat) Mutasyabihat.” [QS. Ali
Imron: 7]

Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat diketahui secara nyata dan tidak
perlu ditafsirkan lain lagi. Sedangkan ayat Mutasyabihat adalah ayat yang mempunyai arti
terselubung (tersembunyi), yang dapat ditafsirkan karena mengandung beberapa pengertian.
Keberadaan dan sifat Allah, terdapatnya surga dan neraka, kejadian hari kiamat,
diutusnya para rasul dan nabi, para malaikat dan tugas-tugasnya, kesemuanya dijelaskan
melalui ayat-ayat yang Muhkamat. Termasuk dalam ayat-ayat Muhkamat adalah haramnya
riba‘ dan zina dalam segala bentuknya, wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri
(dengan syarat tertentu), wajibnya terikat dengan hukum-hukum Allah dan sebagainya.
Sedangkan ayat-ayat yang Mutasyabihat banyak terdapat pada ayat yang berbicara
tentang mu‘amalah, seperti QS. Al Baqarah 228 (lafadz quru‟ mempunyai dua arti, yaitu arti
haid dan suci), dan QS. Al Baqarah 237 (lafadz yang memegang ikatan nikah ada dua
pengertian, bisa suami atau wali dari pihak istri).

c. Nasakh dalam Al Qur'an
Nasakh termasuk salah satu hal yang dikhususkan Allah kepada umat Islam. Jumhur
ulama sepakat adanya nasakh. Di dalam Al Qur'an, lafadz nasakh memiliki beberapa arti
lughowi (arti bahasa), yaitu:
(a) Menghapuskan (izalah), seperti pada QS. Al Hajj: 52
(b) Mengganti (tabdil), seperti tercantum dalam QS. An Nahl: 101
Makna nasakh menurut syara‘ adalah penghapusan suatu hukum dan diganti dengan
penetapan hukum baru. Nasakh tidak terjadi kecuali menyangkut masalah perintah dan
larangan. Contoh yang masyhur tentang nasakh adalah perubahan arah kiblat sholat
seperti yang tercantum dalam QS. Al Baqarah 142-145, atau penggantian puasa Asy Syura
dengan Ramadhan (QS. Al Baqarah 183-185), dll.
Al Qur'an dapat dinasakh dengan ayat Al Qur'an lainnya, tetapi tidak dapat dinasakh
dengan sunnah. Adapaun hadits mutawatir dapat menasakh hadits lain (baik yang
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

48 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
mutawatir maupun yang ahad), sedangkan hadits ahad hanya dapat menasakh hadist ahad
saja. Mengenai Ijma‘ dan Qiyas tidak ada nasakh, karena tidak ada nasakh setelah wafatnya
Rasulullah SAW.

d. Tafsir Al Qur'an
Tafsir adalah menerangkan maksud lafadz. Misalnya firman Allah SWT “laa raiba
fiihi” (tidak ada keraguan di dalamnya) dijelaskan dengan lafadz lain “laa syakka fiihi”
(tidak ada kebimbangan di dalamnya). Tafsir Al Qur'an merupakan penjelasan makna kata
demi kata dalam susunan kalimatnya serta makna susunan kalimat sebagaimana adanya.
Terkadang suatu ayat dijelaskan oleh ayat yang lain (tafsir ayat bil ayat), atau oleh hadits
Rasulullah SAW tentang suatu ayat (tafsir bis sunnah), atau penjelasan para Shahabat dan
Ahli Ilmu terhadap suatu ayat.
Penjelasan kata-kata dan susunannya itu terbatas hanya dalam bahasa Arab, sama
sekali tidak boleh ditafsirkan dalam bahasa lain. Selain menurut kenyataannya Al Qur'an
diturunkan dalam bahasa Arab yang paling baik dan murni, tidak ada jalan lain dalam
memahami Al Qur'an kecuali melalui bahasa arab. Dengan demikian Al Qur'an tidak bisa
tidak, hanya bisa ditafsirkan ke dalam bahasa Al Qur'an itu sendiri, yaitu bahasa Arab.
Bertitik tolak dari suatu keyakinan bahwasanya hidup ini tidak boleh diatur kecuali
menurut aturan Allah SWT, maka tidak ada alternatif lain bagi kaum muslimin melainkan
berusaha semaksimal mungkin memahami Al Qur'an, menghayati dan mengkaji isinya,
sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al Qur'an itu sendiri. Dalam hal ini Allah berfirman :
,¸l.´´¸ «..l¸.¦ !.>`> !¯,¸,¸s
―(Dan) Demikianlah Kami telah menurunkan Al Qur'an itu sebagai peraturan yang benar dalam
bahasa Arab.‖ [QS. Ar Ra‟du: 37]

Hendaknya disadari bahwa umat harus senantiasa melakukan kajian terhadap isi
kandungan Al Qur'an. Hal ini pasti menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. Disamping
menurut keikhlasan dan kesucian niat juga membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan pemahaman Al Qur'an. Apabila persyaratan ini tidak terpenuhi, maka
dapat menimbulkan pemahaman keliru dan merugikan. Walaupun begitu, terpenuhinya
persyaratan inipun tidak mutlak menjamin kebenaran hasil suatu kajian, namun begitu
haruslah berusaha maksimal mendekati kebenaran yang dimaksud Al Qur'an.
Juga harus disadari bahwa pengkajian dan pemahaman terhadap Al Qur'an hanya
merupakan ‗jembatan‘ untuk mengakrabkan diri dengan Al Qur'an. Sedangkan tujuan
akhirnya adalah perwujudan dan penerapan nilai-nilai Al Qur'an dalam seluruh aspek
kehidupan. Bila tidak demikian, maka apa yang kita lakukan tidak ubahnya dengan apa
yang dilakukan oleh kaum orientalis, yang memandang Al Qur'an hanya dari segi ilmu,
bukan untuk diterapkan.

AS SUNNAH
Sunnah adalah perkataan, perbuatan dan taqrir (ketetapan/persetujuan/ diamnya)
Rasulullah SAW terhadap sesuatu hal/perbuatan seorang shahabat yang diketahuinya. Sunnah
merupakan sumber syari‘at Islam yang nilai kebenarannya sama dengan Al Qur'an, karena
sebenarnya sunnah juga berasal dari wahyu. Firman Allah SWT:

!.´¸ _¸L., ¸_s ´_´¡>¦ ¸_¸ ¿¸| ´¡> ¸¸| "_`-´¸ _-¡`, ¸_¸
―(Dan) Tiadalah yang diucapkannya (oleh Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (padanya).‖ [QS. An Najm: 3-4]

Makna ayat di atas bahwasanya apa yang disampaikan Rasulullah SAW (Al Qur'an dan
As Sunnah) hanyalah bersumber dari wahyu Allah SWT, bukan dari dirinya maupun kemauan
hawa nafsunya. Sebagaimana firman-Nya:

¿¸| _¸,.¦ ¸¸| !. ´_-¡`, ´_|¸|
―(Katakanlah Muhammad)….aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.‖ [QS. Al
An‟am: 50]
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

49 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Ayat ini bermakna bahwa Rasulullah SAW tidak melakukan suatu tindakan kecuali
berdasarkan wahyu dari Allah SWT dan agar manusia mengikuti apa yang disampaikannya.
Al Qur'an telah menegaskan bahwa selain dari Al Qur'an, Rasulullah SAW juga
menerima wahyu yang lain, yaitu „Al Hikmah‟ yang pengertiannya sama dengan As Sunnah,
baik perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan (diamnya). Pengertian Al Hikmah yang
bermakna As sunnah dapat ditemukan dalam QS Ali Imran: 164, QS Al Jumu‘ah: 2, dan QS
Al-Ahzab: 34.
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami dan diyakini bahwa kehujjahan As Sunnah
sebagai sumber hukum/Syari‘ah Islam bersifat pasti (qoth‘i) kebenarannya; sebagaimana Al
Qur'an itu sendiri.

a. Fungsi Sunnah terhadap Al Qur'an
Adapun fungsi As Sunnah terhadap Al Qur'an, dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Menguraikan Keumuman (mujmal) Al Qur'an.
Mujmal adalah suatu lafadz yang belum jelas indikasinya (dalalah/ penunjukannya),
yaitu dalil yang belum jelas maksud dan perinciannya. Misalnya perintah sholat, membayar
zakat, dan menunaikan haji. Al Qur'an hanya menjelaskannya secara global, tidak
dijelaskan tata cara pelaksanaannya. Kemudian Sunnah secara terperinci menerangkan
cara-cara pelaksanaan sholat, jumlah raka‘at, aturan waktunya, serta hal-hal lain yang
berkaitan dengan sholat; begitu pula dengan ibadah-ibadah yang lain.
Imam Ibnu Hazm, seorang ulama besar Andalusia pada masa Abbasiyah
menjelaskan:

―Sesungguhnya di dalam Al Qur'an terdapat ungkapan yang seandainya tidak ada penjelasan lain,
maka kita tidak mungkin melaksanakannya. Dalam hal ini rujukan kita hanya kepada Sunnah
Nabi SAW. Adapun Ijma‟ hanya terdapat dalam kasus-kasus tertentu saja yang relatif sedikit. Oleh
sebab itu secara pasti wajib kembali kepada Sunnah.”

2. Pengkhususan Keumuman Al Qur'an
Umum (‗Aam) ialah lafadz yang mencakup segala makna yang pantas dengan satu
ucapan saja. Misalnya ‗Al Muslimun‟ (orang-orang Islam), ‗ar rijaalu‟ (orang-orang laki-laki),
dll. Dalam Al Qur'an terdapat banyak lafadz bermakna umum kemudian Sunnah
mengkhususkannya. Misalnya firman Allah SWT:
`¸>,¸.¡`, ´<¦ _¸· ¯¡é¸..l¸¦ ¸¸´.¦¸l `_:¸. ¸1> ¸_,´,:.¸¦
―Allah mewajibkan kamu tentang anak-anakmu, untuk seorang anak laki-laki adalah dua bagian
dari anak perempuan.‖ (QS An Nisaa: 11)

Menurut ayat tersebut setiap anak (secara umum) berhak mendapatkan warisan dari
ayahnya. Jadi setiap anak adalah pewaris ayahnya. Kemudian datang Sunnah yang
mengkhususkannya. Sabda Rasulullah SAW:

―Kami, seluruh Nabi tidak meninggalkan warisan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.‖ (HR
Imam Bukhari)

―Seorang pembunuh tidak mendapat warisan.‖ (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits di atas mengkhususkan bahwa Nabi tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya
serta melarang seorang anak yang membunuh ayahnya mendapat warisan dari ayahnya.

3. Taqyid (Pen-syaratan) terhadap Ayat Al Qur'an yang Mutlak
Mutlak ialah lafadz yang menunjukan sesuatu yang masih umum pada suatu jenis,
misalnya lafadz budak, mu‘min, kafir, dan lain-lain. Di dalam Al Qur'an banyak dijumpai
ayat-ayat yang bersifat mutlak (tanpa memberi persyaratan). Misalnya:

_¸¸!´.l¦´¸ «·¸¸!´.l¦´¸ ¦¡`-L·!· !.¸,¸.,¦
―Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaknya kamu potong tangan (keduanya) .‖
[QS. Al Maidah: 38]
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

50 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Ayat ini berlaku mutlak pada setiap pencurian (baik besar maupun kecil). Kemudian
Sunnah memberikan persyaratan nilai barang curian itu sebanyak seperempat dinar emas
keatas. Sabda Rasulullah SAW:

―Potonglah dalam pencurian sehingga seperempat dinar dan janganlah dipotong yang kurang dari itu.‖
(HR Ahmad)

Begitu pula halnya dengan batas pemotongan tangan bagi pencuri (QS Al Maidah:
38), yaitu pada pergelangan tangan dan bukan dari tempat lainnya, sebagaimana
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

4. Pelengkap Keterangan Sebagian dari Hukum-Hukum
Peranan Sunnah yang lain adalah untuk memperkuat dan menetapkan apa yang telah
tercantum dalam Al Qur'an, disamping melengkapi sebagian cabang-cabang hukum yang
asalnya dari Al Qur'an. Al Qur'an menegaskan tentang pengharaman memperistri dua
orang saudara sekaligus. Allah SWT berfirman:

¿¦´¸ ¦¡`-.>. _,, ¸_,.>¸¦ ¸¸| !. .· ¸l.
―(Dan diharamkan bagimu) menghimpun (dalam perkawinan) dua perempuan bersaudara, kecuali
yang telah terjadi pada masa lampau.‖ [QS. An-Nisaa‟: 23]

Di dalam Al Qur'an tidak disebutkan tentang haramnya seseorang mengumpulkan
(memadu) seorang wanita saudara ibu, atau anak perempuan dari saudara laki-laki istri
(kemenakan). Sunnah menjelaskan mengenai hal ini melalui sabda Nabi:

―Tidak boleh seseorang memadu wanita dengan „ammah (saudara bapaknya), atau dengan khala
(saudara ibu) atau anak perempuan dari saudara perempuannya (kemenakan) dan tidak boleh
memadu dengan anak perempuan saudara laki-lakinya, sebab kalau itu kalian lakukan, akan
memutuskan tali persaudaraan.‖ (HR An Nasa‟i dan Ibnu Majah)

5. Sunnah menetapkan Hukum-Hukum Baru yang Tidak Terdapat dalam Al Qur'an
Sunnah juga berfungsi menetapkan hukum-hukum yang baru, yang tidak ditemukan
dalam Al Qur'an dan bukan merupakan penjabaran dari nash yang sudah ada dalam Al
Qur'an, akan tetapi merupakan aturan-aturan baru yang hanya terdapat dalam sunnah.
Misalnya, diharamkannya ‗keledai jinak‘ untuk dimakan, setiap binatang yang bertaring,
dan setiap burung yang bercakar. Begitu pula tentang keharaman memungut pajak (bea
cukai), penarikan hak milik atas tanah pertanian yang selama tiga tahun berturut-turut
tidak dikelola oleh negara, tidak bolehnya individu memiliki benda kepentingan umum,
seperti air, rumput, api, minyak bumi, tambang emas, perak, besi, sungai, laut, tempat
penggembalaan, dll.

b. Kehujjahan As Sunnah

Tidak berbeda dengan Al Qur‘an, As Sunnah juga berasal dari wahyu Allah yang
diturunkan kepada manusia melalui Rasulullah. Hanya saja ada perbedaan antara Al
Qur‘an dan As Sunnah, yaitu dari segi lafadznya. Dalam hal ini lafadz (redaksi bahasa) As
Sunnah berasal dari Rasulullah SAW sedangkan Al Qur‘an lafadznya lagsung dari Allah
SWT.
Dari segi riwayat dan kekuatan dalil, As Sunnah dibagi ke dalam dua bagian, yaitu :

1. Hadits Mutawatir
Hadits Mutawatir adalah suatu hadits yang disampaikan oleh para sahabat, tabi,in dan
tabiit tabi‟in dengan jumlah tertentu dalam setiap thabaqat-nya (generasi). Dalam setiap
thabaqat tersebut, periwayat yang membawanya haruslah mempunyai syarat-syarat yang
tidak memungkinkan mereka untuk berdusta
1
. Sifat dari Hadits Mutawatir ini adalah qath‟í
(pasti) yang artinya tidak ada keraguan di dalamnya.


Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

51 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Hadits Mutawatir dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu Mutawatir Lafdzi dan
Mutawatir Ma‟nawi. Contoh hadits Mutawatir Lafdzi adalah:

“Siapa saja yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk
mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR At Turmudzi, Ahmad, Bukhari, Muslim
dan Nasa‟í)

Contoh Mutawatir Ma‘nawi adalah:

“Konon Rasulullah SAW mengangkat tangan, sejajar dengan kedua pundak beliau.” (HR
Imam Ahmad, Al Hakim dan Abu Daud)


2. Hadits Ahad
Hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir pada tiga thabaqat.
Hadits ahad ini dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan jumlah perawi dan kualitas
perawi. Dari segi jumlah perawi, hadits ahad dibagi menjadi gharib (satu orang), aziz (dua
orang), dan masyhur (tiga orang atau lebih). Sedangkan dari segi kualitas perawi, hadits
ahad dibagi menjadi shahih, hasan dan dhaif.

Demikianlah antara lain ketentuan tambahan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW
melalui sunnahnya. Maka sikap seorang muslim terhadap hal ini harus sesuai dengan firman
Allah SWT:

!..¸| ¿l´ _¯¡· _,¸.¸.¡.l¦ ¦:¸| ¦¡`s: _|¸| ¸<¦ .¸«¸]¡.´¸´¸ ´_>`>´,¸l ¯¡¸.¸, ¿¦ ¦¡l¡1, !´.-¸..
!´.-L¦´¸ ,¸¸.l`¸¦´¸ `¡> ¿¡>¸l±.l¦ ¸_¸¸
―Ucapan orang-orang beriman, manakala mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia
memberikan ketentuan hukum diantara mereka, tidak lain hanya mengatakan : Kami mendengar dan
kami mematuhinya. mereka itulah orang-orang yang berbahagia.‖ [QS. An Nur: 51]

Penggunaan nash As Sunnah untuk masalah aqidah haruslah nash yang bersifat qath‟i,
karena tidak boleh adanya keraguan sedikitpun dalam masalah aqidah/i‘tiqadiyah. Sedangkan
untuk masalah hukum/syari‘ah masih dapat digunakan nash As Sunnah yang mencapai
derajat dzonni (prasangka kuat atas kebenarannya). Hal ini karena dalam masalah syari‘ah,
tidak diharuskan suatu keyakinan yang pasti terhadap hasil ijtihad yang akan dijadikan sumber
amaliah tersebut (bukan sumber untuk masalah i‘tiqadiyah).


IJMA‟ SHAHABAT
Lafadz ijma‟ menurut bahasa bisa berarti tekad yang konsisten terhadap sesuatu atau
kesepakatan suatu kelompok terhadap suatu perkara. Sedangkan menurut para ulama ushul fiqh,
ijma‘ adalah kesepakatan terhadap suatu hukum bahwa hal itu merupakan hukum syara‟.
Dalam hal ini terdapat perbedaan tentang „siapa‟ yang dapat berijma‘ dan hasil ijma‘nya
dapat diterima sebagai sumber hukum atau dalil syar‘i. Ada yang mengatakan ijma‘ ulama
pada setiap masa, atau ijma‘ ahlul bait, atau ijma‘ ahlu Madinah, atau ijma‘ Ahlul Halli wal
Aqdi, ijma‘ shahabat, atau sebagainya.
Untuk menetapkan sumber pengambilan hukum bagi dalil-dalil syar‘i, dibutuhkan suatu
sumber yang bersifat qath‘i. Diantara berbagai pendapat tentang ‗siapa‘ yang ijma‘-nya dapat
diterima sebagai sumber hukum, maka yang paling memenuhi persyaratan untuk hal ini
adalah ‖ijma‟ para shahabat‖ Rasulullah SAW, dengan beberapa alasan sebagai berikut:
(1) Dari segi mungkin tidaknya ‗seluruh orang yang berijma‘ berkumpul, saling mengetahui
ijma‘ dan dapat mengoreksi bila diketahui kesalahannya, maka hal ini hanya mungkin
terjadi pada masa shahabat, tidak pada masa selain mereka (sebagai contoh, ijma‘ ulama).
Maka untuk terwujudnya ijma‘ ulama, haruslah diperjelas ‗siapa saja ulama‘ itu; apakah
ulama yang sudah sering digunakan untuk ‗membuat hukum pesanan‘ juga termasuk di
dalamnya? Akan pasti benarkah ijma‘ mereka tersebut? Benarkah semua ‗ulama‘ tadi
mengetahui dan menyetujui ijma‘ tersebut? Tidak adakah yang selanjutnya menarik atau
membatalkan ijma‘nya tadi sampai ia meninggal? dan mungkinkah para ulama (seluruh
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

52 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
kaum muslimin di seluruh dunia) mampu berkumpul bersama membahas suatu masalah
baru? Masih banyak yang tidak bisa terjawab selain oleh ijma‘ shahabat, padahal semua
hal tadi merupakan syarat sahnya sebuah ijma‘ oleh suatu kelompok. Karena
ketidakmungkinan itulah, Imam Ahmad bin Hambal pernah menyatakan bahwa suatu
kebohongan besar bila ada yang mengatakan mampu terwujud ijma‘ setelah masa
shahabat. Dan karena ketidakmungkinan itu pula yang pada akhirnya muncul istilah
‗jumhur ulama‟, artinya kebanyakan ulama berijtihad dengan hasil serupa terhadap suatu
masalah. Jumhur berbeda dengan ijma‘.
(2) Banyaknya pujian kepada para shahabat secara jamaah, baik tercantum dalam Al Qur'an
maupun hadits (keduanya dalil yang qath‘i kebenarannya). Seperti tercantum dalam QS Al
Fath: 29, QS At Taubah: 100, QS Al Hasyr: 8. Begitu pula sabda Rasulullah SAW:

―Sesungguhnya aku telah memilih para shahabatku atas segenap makhluk, selain para nabi.‖ (HR
At Thabari, Al Baihaqi, dll)

―Para Shahabatku itu ibarat bintang; pada siapapun (diantara mereka) kalian turuti, maka akan
mendapat petunjuk.‖ (HR Ibnu Abdil Barr)

Petunjuk Allah dan Rasul-Nya terhadap para shahabat menunjukan suatu kepastian
tentang kebenaran dan kejujuran mereka (sebagai suatu jamaah, bukan secara pribadi-
pribadi), sehingga apabila mereka bersepakat atas suatu masalah, maka hal itu atas dasar
kejujuran dan kebenaran mereka. Dalil-dalil yang memuji para shahabat tersebut bersifat
qath‘i sehingga kita bisa menentukan bahwa ijma‘ shahabat dapat digunakan sebagai dalil
syara‘.
(3) Sesungguhnya para shahabat merupakan generasi yang mengumpulkan, menghafalkan,
dan menyampaikan Al Qur'an beserta sunnah pada generasi berikutnya. Disamping itu
para shahabat merupakan orang-orang yang hidup semasa Rasulullah SAW, hidup
bersama, mengalami kesulitan dan kesenangan secara bersama-sama. Merekalah yang
mengetahui kapan, dimana, dan berkaitan dengan peristiwa apa suatu ayat Al Qur'an
diturunkan. Merekalah yang mengetahui sunnah Rasulnya, mengalami dan melihat sendiri
kehidupan kaum muslimin generasi pertama tatkala Rasulullah SAW masih hidup. Lalu
adakah generasi yang lebih baik yang pernah dilahirkan manusia di muka bumi ini selain
mereka? Ijma‘ siapa lagi selain ijma‘ mereka yang lebih baik dan lebih kuat?
(4) Memang tidak mustahil para shahabatpun melakukan kesalahan, sebab mereka tetap
manusia yang tidak ma‟shum. Akan tetapi secara syar‟i mereka mustahil bersepakat atau
berijma‘ atas suatu kekeliruan/kesesatan. Apabila terjadi kesalahan dalam ijma‘ mereka
tentang suatu persoalan, maka tentu akan terdapat kesalahan dalam Islam, dalam Al
Qur'an dan Hadist, sebab merekalah orang yang menyampaikan Al Qur'an dan
menuturkan Hadits Rasulullah SAW kepada generasi berikutnya. Bahkan, sebenarnya
mereka pulalah yang memberitahukan Islam kepada generasi selanjutnya. Karenanya
kesalahan dalam ijma‘ shahabat adalah mustahil terjadi secara syar‘i.

Beberapa Contoh Ijma‟ Shahabat
Salah satu ijma‘ shahabat terpenting adalah pengumpulan Al Qur'an menjadi suatu mushaf.
Al Qur'an dalam bentuk sekarang merupakan hasil kesepakatan (ijma‘) para shahabat.
Bersamaan dengan ini Allah SWT berfirman:

!.¸| _>´ !´.l¸. ¸´¸.]¦ !.¸|´¸ .«l ¿¡´L¸±.>' ¸_¸
―Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar akan
menjaganya.‖ [QS. Al Hijr: 9]

¸ ¸«,¸.!, `_¸L.,l¦ _¸. ¸_,, ¸«,., ¸´¸ _¸. .¸«¸±l> _,¸¸.. _¸. ¸¸,¸>> ¸.,¸.- ¸__¸
„Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang
diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” [QS. Fushilat: 42]

Dari kedua ayat tersebut, Allah memastikan bahwa mushaf Al Qur'an yang ada kini –
yang merupakan ijma‟ para shahabat- dijamin kebenarannya. Dengan kata lain melalui tangan-
tangan para shahabatlah Allah menjaga kebenaran Al Qur'an. Jika ada kemungkinan salah
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

53 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
dalam ijma‘ shahabat, berarti ada kemungkinan salah dalam Al Qur'an sekarang. Padahal hal
ini adalah mustahil terjadi.
Dengan demikian secara syar‘i mustahil terjadi kesalahan dalam ijma‘ shahabat. Inilah
dalil yang pasti bahwa ijma‘ shahabat merupakan dalil syar‘i. Contoh lain yang masyhur
tentang ijma‘ shahabat adalah keharusan adanya seorang Khalifah yang akan memimpin dan mengurus
seluruh kebutuhan kaum muslimin, melindungi, dan menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia,
sebagaimana yang dilakukan para shahabat tatkala Rasulullah wafat.

QIYAS
Menurut para ulama‘ ushul, qiyas berarti menyamakan suatu kejadian yang tidak ada
nashnya, dengan suatu kejadian yang sudah ada nash/ hukumnya, karena disebabkan adanya
kesamaan dua kejadian itu dalam sebab („illat) hukumnya.
Qiyas digunakan sebagai sumber dalil syar‘i karena dalam qiyas yang menjadi dasar
pengambilan hukum adalah nash-nash syar‘i yang memiliki kesamaan ‗illat. Sebagaimana
diketahui bahwa yang menjadi dasar keberadaan hukum adalah ‗illatnya, maka apabila ada
kesamaan ‗illat antara suatu masalah baru dengan masalah yang sudah ada hukumnya, maka
hukum masalah baru tersebut menjadi sama.
Maka bila ‗illat yang sama terkandung dalam Al Qur'an, berarti dalil qiyas dalam hal
tersebut adalah Al Qur'an. Demikian pula apabila ‗illat yang sama terkandung dalam sunnah
dan ijma‘ shahabat maka yang menjadi dalil qiyas adalah kedua hal tersebut.
Sebagai contoh, mengadakan transaksi jual beli tatkala adzan sholat jum‘at merupakan
peristiwa yang telah ditetapkan dalam nash, yaitu haram berdasarkan ayat:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦:¸| _¸:¡. ¸:¡l¯.l¸l _¸. ¸,¯¡, ¸«-.>l¦ ¦¯¡-`.!· _|¸| ¸¸´¸: ¸<¦ ¦¸'¸:´¸ _,,l¦
―Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jum‟ah, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat) dan tinggalkanlah jual beli.‖ [QS. Al-Jumu‟ah: 9]

‗Illat pada ayat di atas adalah karena hal tersebut melalaikan shalat. Oleh karena itu,
sewa-menyewa, transaksi perdagangan maupun perbuatan lainnya yang mempunyai kesamaan
‗illat, yaitu melalaikan shalat, maka perbuatan tersebut hukumnya diqiyaskan dengan
perbuatan jual beli diatas, yaitu haram.
Demikianlah gambaran ringkas tentang qiyas. Karena pembahasan disini hanya bersifat
global, maka pembaca masih sangat perlu melanjutkan kajian ini dengan kajian yang lebih
dalam dan terperinci bila ingin mendapat pemahaman yang menyeluruh dan mendalam.

Pelaksanaan Syari‟ah Islam
Sistem kehidupan masyarakat dunia hingga kini masih didominasi dua sistem, yaitu
sistem Kapitalisme dan Sosialisme. Kedua sistem tersebut dibangun atas dasar materi belaka
(materialisme; tanpa nilai ruhiyah). Pada sisi inilah keduanya bertemu, meski dalam segi ide
(fikrah) dan metode pelaksanaan (thoriqah) peraturannya kadang berbeda.
Sebagai contoh, sistem kapitalisme memandang individu bebas bertindak dan berbuat
apa saja yang diinginkannya untuk meraih kebahagiaan duniawi, tidak mau menerima
pengawasan orang lain serta menolak untuk dibatasi dan dibelenggu kebebasannya.
Sedangkan sistem sosialisme memandang individu hanyalah bagian dari alat/sarana produksi
yang tidak memiliki kebebasan ataupun pilihan.
Masyarakat pada sistem kapitalisme selalu berubah peraturannya, terpecah-pecah
hubungannya, tidak diawasi dan dikoreksi oleh siapapun, karena dalam pandangan sistem ini,
masyarakat terbentuk dari sejumlah individu yang ingin bebas sehingga mereka tidak memiliki
kemampuan untuk mengawasi dan mengoreksi masyarakat/individu lainnya. Adapun pada sistem
sosialisme, masyarakat bertingkat-tingkat (kelas) yang saling bertentangan, saling mewaspadai,
antar satu dengan lainnya, karena peran negara dalam sistem ini sangat mendominasi segala
aspek kehidupan. Dalam sistem kapitalisme negara merupakan sarana yang bersifat temporal
untuk menjaga dan mempertahankan kebebasan individu. Sedangkan pada sosialisme, negara
ibarat tangan besi yang memaksa dan menghancurkan sisa-sisa sistem yang lama untuk
mengarahkan masyarakat secara produktif secara bersama-sama, dipimpin oleh negara.

Bagaimana dengan Sistem Islam ?
Sistem Islam berbeda dengan kedua sistem tersebut, dan jelas takkan pernah bertemu
apalagi kompromi, baik dalam fikrah maupun thoriqahnya. Sistem Islam dengan ketiga
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

54 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
asasnya, merupakan sistem tunggal yang khas, yang berbeda dengan sistem-sistem lain
yang ada, baik yang lama maupun yang baru. Adapun ketiga azas pelaksanaan sistem Islam
adalah:
1. Asas Pertama
Azas pertama pembangun sistem Islam adalah rasa ketaqwaan yang tertanam dan terbina pada
setiap individu di masyarakat. Seorang muslim memiliki pandangan mendalam dan jernih yang
mencakup pemikiran terhadap alam, manusia dan kehidupan serta apa yang ada pada sebelum dan
sesudah kehidupan dunia ini. Pandangan ini akan menumbuhkan perasaan dan indera seorang
mukmin terhadap taqwa, dan menjadikannya aqidahnya sebagai pengontrol tingkah lakunya
sehingga tidak akan pernah bertentangan dengan aqidahnya. Hal ini terjadi karena mafahim
(ide-ide yang nyata atau bukan khayali) tentang kehidupan dan tingkah laku seorang mukmin
terpancar dari aqidahnya.
Seorang mukmin mengetahui secara pasti bahwa Allah SWT selalu mengawasinya. Dia
juga menyadari bahwa pada hari kiamat nanti ia akan dihidupkan kembali oleh-Nya,
kemudian akan dihisab terhadap amal perbuatan yang telah dilakukannya. Ia meyakini semua
ini secara pasti tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikitpun. Dan keyakinan ini
membekas dalam setiap hidupnya sehari-hari di masyarakat.
Contoh kebenaran pernyataan ini banyak sekali dan dapat kita temukan dalam rentetan
sejarah Islam yang agung, malah masih bisa ditemukan saat ini walaupun kaum muslimin
dalam keadaan terpecah belah dan tidak berjalannya sistem Islam. Pada masa Nabi
Muhammad SAW banyak teladan yang amat menakjubkan tentang ketaqwaan para
masyarakat dalam melaksanakan sistem Islam. Pada masa itu cukuplah Rasulullah SAW
memberi isyarat (berperang), seluruh kaum muslimin yang telah beriman langsung berangkat
ke medan perang untuk meraih kemenangan atau syahid, tanpa ada keraguan dan
keterlambatan sedikitpun.
Kisah Ma‟iz Al Islami dan Al Ghomidiyah, radliyallahu ‗anhuma merupakan teladan
yang tepat sekali untuk menggambarkan betapa tingginya rasa ketaqwaan pada diri para
shahabat. Ma‟iz adalah seorang mukmin sejati, demikian pula Al Ghomidiyah. Suatu ketika
Al Ghomidiyah ini datang kehadapan baginda Nabi SAW dan mengaku telah berbuat zina,
seraya meminta supaya baginda Nabi SAW menjatuhkan hukuman/had terhadapnya sesegera
mungkin. Nabi SAW menangguhkannya hingga ia melahirkan (anak yang dikandungnya), dan
kemudian ditangguhkannya lagi sampai selesai melaksanakan kewajiban menyusui anaknya,
namun demikian selama itu, ia masih terus meminta agar hukum syara‘ diberlakukan pada
dirinya yaitu hukum rajam.
Begitu pula halnya dengan Ma‟iz ra, ia telah melakukan seperti yang diperbuat wanita
mukminah tadi. Rasulullah telah memberinya kesempatan untuk mengajukan bukti-bukti,
namun demikian ia tetap meminta kepada baginda Nabi agar sudi mensucikan dirinya dan
menegakan hukum Allah SWT padanya (atas perbuatannya). Demikian gambaran ketinggian
aqidah dan akhlak individu masyarakat Islam, yang pada akhirnya menjadi azas pertama
penopang kehidupan masyarakat yang Islami. Dalam kasus mulia tersebut, Nabi SAW
memberi komentar terhadap Al Ghomidiyah:

―Dia (wanita itu) telah bertaubat dengan sesungguhnya, yang bila ditimbang (taubatnya itu) dengan seluruh
penduduk bumi, pasti dikalahkannya.‖ (HR Abu Dawud, No. 4446; Tirmidzi, No. 1459)

Kemudian tentang Ma‟iz beliau berkomentar:

―Dia sekarang telah berenang di sungai surga.‖ (HR Ibnu Hibban, No. 4384, 4385)

Pada masa sekarangpun, masih banyak teladan yang menunjukan tingginya nilai taqwa
individu dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Mayoritas umat Islam masih tetap tegar
menjauhi minum khamr, perbuatan-perbuatan keji, riba dan harta yang diperoleh dengan cara
yang haram, sekalipun penguasa beserta sistem kufur yang berlaku dewasa ini memberinya
peluang dan kemudahan untuk itu. Semua ini sudah cukup menjadi bukti bahwa ketaqwaan
individu menjadi salah satu asas pokok kehidupan masyarakat Islam.

2. Asas Kedua
Asas kedua dalam penegakan sistem Islam adalah adanya sikap saling mengontrol
pelaksanaan hukum Islam dan mengawasi serta mengoreksi tingkah laku penguasa, pada masyarakat.
Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang dipengaruhi oleh perasaan,
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

55 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pemikiran, dan peraturan yang mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang khas dan
solid (persatuannya).
Masyarakat seperti ini jelas berbeda dengan masyarakat kapitalisme yang terpecah-pecah
oleh rasa individualistis dan selalu berubah; berbeda dengan masyarakat sosialisme yang saling
bertentangan dan mengalami fase kehidupan yang keras dan penguasa yang absolut untuk
mencapai masyarakat tanpa kelas yang diidamkan. Masyarakat Islam memiliki karakteristik
tersendiri dalam membentuk perasaan taqwa dalam diri individu. Hal ini dijelaskan dalam firman-
Nya:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡.¡´ _,¸.¯¡· ¸< ´,¦.¸: ¸1`.¸1l!¸, ¸´¸ ¯¡÷..¸¸>, `¿!:.: ¸,¯¡·
´_ls ¸¦ ¦¡l¸.-. ¦¡l¸.s¦ ´¡> ´,¸·¦ _´¡1`.l¸l ¦¡1.¦´¸ ´<¦ ´_¸| ´<¦ ´¸,¸,> !.¸, _¡l.-.
―Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar sebagai penegak keadilan, dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk (berbuat) tidak adil.
Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Maidah: 8]

Lebih dari itu masyarakat Islam memiliki kepekaan indera yang amat tajam, terhadap
berbagai gejolak masyarakat; apalagi terhadap adanya kemungkaran yang mengancam
keutuhan masyarakat. Dari sisi inilah maka amar ma‟ruf nahi munkar menjadi bagian yang
paling esensial sekaligus yang membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya.
Allah SWT berfirman:

_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-.!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦ ,¸¸.l`¸¦´¸ `¡>
_¡>¸l±.l¦ ¸¸¸_¸
―(Dan) Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru
berbuat yang ma‟ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.‖ [QS.
Ali Imran: 104]

¯¡..´ ´¸¯,> ¸«.¦ ¸>¸¸>¦ ¸_!.l¸l ¿¸'¸.!. ¸.¸`¸-.l!¸, _¯¡¸..´¸ ¸_s ¸¸÷..l¦ ¿¡`.¸.¡.´¸
¸<!¸,
―Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk ummat manusia, menyeru kepada yang ma‟ruf
dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.‖ [QS. Ali Imran: 110]

Oleh karena itu ketaqwaan individu itu dapat dipengaruhi dan dibina oleh pandangan
masyarakat. Dalam naungan masyarakat inilah, individu yang berbuat maksiat tidak berani
terbuka, bahkan tidak berani melaksanakannya. Bahkan kalaupun ia tergoda juga untuk
melakukannya ia akan berusaha menyembunyikannya. Dengan sadar ia akan kembali kepada
kebenaran dan bertaubat atas kekhilafannya.
Dimasa Nabi SAW kaum munafik sekalipun, tidak berani menampakan apa yang mereka
sembunyikan. Pada zaman kekhilafahan Abbasiyah ada orang-orang fasik, dalam jumlah
sedikit, mendatangi rumah-rumah kaum Nashrani (kafir dzimmi) secara diam-diam hanya
untuk meminum seteguk khamr. Hal ini terjadi bukan karena takut terhadap penguasa
(sanksi) saja, tetapi mereka takut menghadapi perlawanan masyarakat. Tekanan keras dari
masyarakat inilah yang menjadi faktor kuat untuk mendorong sekelompok kecil penyeleweng
tersebut bersembunyi.
Karenanya, pengawasan masyarakat dalam bentuk amar ma‘ruf nahi munkar merupakan
asas kedua yang menopang kehidupan masyarakat Islam. Dengan asas ini makin kokohlah
bangunan masyarakat Islam sehingga mampu membawa kepada kemuliaan umat.



Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

56 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
3. Asas Ketiga
Asas ketiga pembangun masyarakat Islam adalah keberadaan negara/pemerintahan
sebagai pelaksana hukum syara‘. Kedudukan negara dalam Islam, adalah untuk selalu
memelihara masyarakat dan anggota-anggotanya serta bertindak selaku pemimpin yang
mengatur dan mementingkan urusan rakyatnya. Keberadaan terpenting sebuah
negara/pemerintahan dalam masyarakat Islam adalah untuk menetapkan hukum-hukum syara‟
dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Maka dalam negara Islam, kedaulatan
(penentu nilai benar-salah) itu adalah milik syara‘ saja, sedangkan kekuasaan (penentu siapa
yang akan melaksanakan nilai baik benar) adalah milik umat. Artinya umat memiliki
kekuasaan untuk mengatur dan melaksanakan pemerintahan, dengan tetap berdasar kepada
hukum syara‘. Sedangkan kekuasaan melaksanakan hukum diserahkan kepada manusia untuk
memilih pemimpinnya dalam melaksanakan hukum tersebut.
Dalam sistem Islam, negara mempunyai bangunan yang kokoh dan menyatu dengan
tingkah laku individu dan sikap masyarakat. Hal ini terjadi karena umat merupakan penyangga
negara dan negara berwenang penuh untuk menerapkan hukum-hukum syara‘ secara adil dan
menyeluruh.
Suatu saat diajukan kepada Nabi SAW seorang pencuri wanita untuk diadili dan
dijatuhkan hukuman/had potong tangan terhadapnya. Beliau tidak menerima permohonan
grasi dari Usamah bin Zaid untuk wanita tersebut, bahkan menegur Usamah seraya berkata:

―Apakah kamu mengajukan keringanan/grasi terhadap salah satu hukuman dari Allah SWT?, demi
Allah kalau saja Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.‖ (HR
Bukhari, Muslim dari „Aisyah. ―Jaami‘ul Ushul‖, Ibnu Atsir. No. 1879)

Abu Bakar As Shidiq ra, khalifah pertama, berkata dalam pidatonya selepas dibai‘at
kaum muslimin:

―Orang yang lemah diantara kalian adalah kuat menurut pandanganku sampai aku berikan haknya
kepadanya. Orang yang kuat menurut kalian adalah lemah menurut pandanganku sampai aku ambil hak
tersebut darinya.‖ (HR Az Zuhri dari Anas. ―Al Bidayah Wan Nihayah‖ Ibnu Katsir VI
:340)

Oleh karena itu ketika muncul kemurtadan, sesaat setelah Rasul wafat, dan kejahatan
merajalela serta menunjukan tanda-tanda membahayakan stabilitas negara khilafah yang
masih muda itu, segera Abu Bakar mengambil tindakan menumpasnya tanpa ragu-ragu.
Sampai akhirnya para murtadin itu kembali kepada Islam. Kemudian Allah SWT
menghinakan para pemimpin kafir yang mengibarkan bendera kemurtadan lalu Islam kembali
kuat dan mulia.
Dengan demikian, negara merupakan asas tegak dan kokohnya masyarakat Islam.
Negara/pemerintahan mengawasi dan mengontrol masyarakat, individu dan pelaksanaan
seluruh hukum Islam. Kepadanyalah Allah memberikan amanah untuk menerapkan syari‘at
Islam. Kepala negara (khalifah) beserta aparatnya yang menjalankan amanah itu. Bahkan
sesungguhnya merekalah yang bertanggung jawab mulai dari hal yang sekecil-kecilnya hingga
sebesar-besarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

―Seorang pemimpin adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab terhadap peliharaannya.‖ (HR Imam
Bukhari, Muslim, dari Ibnu Umar. “Al Fathul Kabir”, Yusuf An Nabhani jilid II : 330-
331)

Karena itu negara menegakan sanksi-sanksi hukum dan menyebarkan keadilan serta
mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. Negara memobilisasi tentara maupun rakyat
untuk menyebarkan dakwah Islam di seluruh pelosok dunia. Negara juga merupakan
pemimpin bagi umat dalam mengatur perekonomian, kesehatan, keamanan, hubungan dalam
dan luar negeri serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat.
Negara pula yang mengadakan perjanjian-perjanjian dengan negara-negara lain dan
menyatakan perang, membuat perdamaian kerjasama ekonomi maupun yang lainnya untuk
kemashlahatan umat. Negara mengawasi dan mengontrol masyarakat beserta individu dan
meminta pertanggungjawaban mereka tanpa memandang siapapun juga. Dalam sistem Islam,
negara bersikap keras (tegas) dalam melaksanakan syari‘at Islam, tetapi lunak terhadap umat
dan individu yang ikut serta bersama masyarakat dalam mengoreksi tingkah laku para
penguasa.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

57 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Oleh karena itu dalam sistem Islam pengontrolan dan pengawasan pelaksanaan hukum
dilakukan secara bersama-sama. Individu merupakan penyangga dan pengoreksi tingkah laku
masyarakat dan penguasa. Sedang masyarakat adalah pilar yang membentuk kepribadian
individu secara islami yang khas, serta mendukung negara dan meminta
pertanggungjawabannya, juga ikut serta dalam menyangga masyarakat dan individu,
disamping memenuhi dan melayani seluruh kebutuhan masyarakat, berdasarkan peraturan
Islam, serta meminta pertanggungjawaban mereka terhadap setiap kesalahan dan
penyelewengan.
Inilah gambaran umat Islam yang disimbolkan dengan negara, masyarakat dan individu-
individunya. Inilah umat yang kokoh bangunannya, sempurna dan konsisten peraturannya,
sehingga tidak terdapat sedikitpun celah-celah yang memungkinkan disusupi oleh
pemikiran/ideologi asing. Sekarang ini, keadaan umat Islam kacau balau. Mereka telah
digoncangkan sehingga ambruk bangunannya dan ditundukan oleh aturan-aturan kufur.
Semuanya itu terjadi setelah umat Islam menjauhkan diri dari Dienul Islam dan
mencampakan peraturan-peraturan Islam.
Saat ini, muncul pertanyaan, mungkinkah seorang individu yang hidup dalam sistem
materialis dapat mengecap kesempurnaan taqwa? Apa sebenarnya yang bisa mendorong
untuk memiliki sifat taqwa, sedangkan ia telah terputus hubungannya dengan Allah SWT dan
telah terikat dengan materi semata? Juga ia tidak percaya bahwa Allah akan menghisabnya di
hari kiamat kelak?
Jawaban pertanyaan ini sudah jelas, bahwa tidak ada tempat bagi taqwa di hati individu,
negara maupun masyarakat dalam sistem kapitalis maupun sosialis.
Sesungguhnya, Islam yang berlandaskan wahyu Allah SWT, disampaikan melalui Rasul-
Nya, merupakan satu-satunya sistem yang memiliki ciri khas tentang cara pelaksanaan
aturannya. Hal ini tidaklah mengherankan karena Islam adalah sistem yang bersumber dari Al
Qur'an, kalam Allah SWT, yang Maha Sempurna. Allah SWT berfirman:

¸ ¸«,¸.!, `_¸L.,l¦ _¸. ¸_,, ¸«,., ¸´¸ _¸. .¸«¸±l> _,¸¸.. _¸. ¸¸,¸>> ¸.,¸.- ¸__¸
“Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakang, yang
diturunkan oleh Rabb Yang Maha Terpuji.‖ [QS. Fushilat: 42]
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

58 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB ISLAM SEBAGAI WAY OF LIFE

Mengenal Mabda‟ Islam
Jika kita amati perubahan yang terjadi di berbagai belahan dunia, maka hal itu tidak
terlepas dari perbedaan tingkat pemikiran manusia saat itu. Konflik antarmanusia, antarsuku,
antarbangsa atau antaragama adalah hal yang wajar terjadi dilihat dari keragaman pemikiran
dalam masyarakat. Namun, dari berbagai perubahan yang terjadi, perbedaan ideologilah yang
nampak banyak mempengaruhi perubahan tersebut. Terjadinya perang dingin antara blok
barat (kapitalis) dan blok timur (sosialis/komunis) yang melibatkan sejumlah negara selama
bertahun-tahun menunjukkan bukti tersebut.
Dengan berakhirnya perang dingin, kini ideologi kapitalis yang dimotori Amerika Serikat
berusaha menjadikan ideologinya sebagai landasan berfikir bagi semua negara di dunia. Hal
ini dilatarbelakangi oleh ‗keyakinan‘ bahwa ideologi kapitalis bersifat universal seperti yang
digambarkan oleh Samuel P Huntington dalam tesisnya. Amerika Serikat lewat berbagai
media komunikasi yang dikuasainya berusaha mempropagandakan ide-ide kapitalis ke seluruh
dunia seperti pluralisme, HAM, demokrasi, perdagangan bebas dan ide-ide kufur lainnya.
Wajarlah bila hampir semua konflik atau perubahan tidak luput dari perhatian dan
keikutsertaan Amerika Serikat. Bila negara-negara tersebut tidak memenuhi keinginannya,
maka AS pun tak segan-segan memberikan sanksi, baik secara ekonomi ataupun secara
militer.
Kesombongan AS dengan kapitalisnya, bukan berarti tanpa perlawanan. Di beberapa
negara mayoritas Islam seperti Iran, Irak, Malaysia, Libya dan juga di Indonesia mulai bangkit
orang-orang yang menentang kesombongan AS. Demikian juga di negara-negara sisa
komunis seperti Kuba, RRC dan Korea Utara. Kampanye anti Amerika juga dilancarkan oleh
sejumlah LSM di berbagai negara.. Dari sini, tampak jelas bahwa persaingan ideologi telah
melahirkan suatu konflik yang berkepanjangan, apalagi setiap pengemban ideologi akan
berusaha untuk mempertahankan dan menyebarkan ideologinya ke seluruh penjuru dunia.
Selain kedua ideologi tersebut, masih ada sebuah ideologi lagi yang pernah menguasai
dunia, yaitu ideologi Islam. Sebagai sebuah ideologi, Islam pernah berjaya selama belasan
abad sejak masa Rasulullah SAW hingga keruntuhan Daulah Khilafah Turki Utsmani. Sejak
runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani hingga awal abad kedua puluh satu ini, ideologi Islam
tidak pernah lagi diterapkan secara kaffah. Bahkan umat Islam sendiri banyak yang tidak
mengetahui bahwa agamanya adalah sebuah ideologi yang mampu menyelesaikan segala
permasalahan hidup, bahkan mengungguli kedua ideologi yang lain.

Definisi Mabda‟ (Ideologi)
Muhammad Ismail dalam bukunya Al Fikru Al Islamiy, menyatakan bahwa idelogi
(mabda‘) merupakan ‗aqidah „aqliyyah yanbatsiqu „anha an nizham. Artinya; ‗aqidah ‗aqliyyah yang
melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan (nizham). Menurut definisi ini, nampak bahwa
sesuatu disebut ideologi bila memiliki dua syarat, yaitu memiliki ‗aqidah „aqliyyah sebagai
fikroh (ide) dan memiliki sistem (aturan) sebagai thariqah (metode penerapan). Bila
tidak memiliki kedua hal tersebut, maka tidak bisa dikatakan sebagai ideologi.
Taqiyuddin An Nabhani, dalam kitab Nizham Al Islam menjelaskan bahwa aqidah
merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan dunia, kehidupan sebelum dunia,
setelah dunia dan bagaimana hubungan antara dunia dengan kehidupan sesudah dunia.
Sedangkan sistem aturan adalah mencakup berbagai pemecahan terhadap berbagai problema
kehidupan (baik pribadi, keluarga, maupun negara; menyakut persoalan ibadah, akhlak, sosial,
politik, ekonomi, dan budaya). Selain itu juga harus mencakup metode untuk menerapkan
berbagai pemecahan tersebut, metode untuk memelihara ‗aqidah, dan metode untuk
menyebarkan aqidah tersebut.
Dengan demikian, ‗aqidah „aqliyyah dan bagaimana cara pemecahan problem manusia
disebut dengan ide/fikrah. Sedangkan tentang bagaimana penerapan berbagai pemecahan
tersebut, bagaimana pemeliharaan ide/fikroh, dan cara untuk menyebarkan ide/fikroh tersebut
disebut thariqah (metode operasional untuk menerapkan aqidah tersebut). Dengan
demikian suatu ideologi bukan hanya bersifat ide-ide teoritis tanpa adanya realitas
pelaksanaannya (seperti filsafat-peny) namun mesti ada metode (cara operasional) yang jelas
tentang bagaimana penerapannya dalam masyarakat.
Dari penjelasan di atas nampak bahwa Islam mempunyai keunikan sendiri dibanding
dengan agama-agama lain di dunia. Dari segi wilayah ajarannya, Islam tidak hanya mengatur
hal yang bersifat aqidah seperti keimanan kepada Allah, Malaikat, Rasul, kitab, hari kiamat,
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

59 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
serta qadla dan qadar yang baik dan buruk semata dari Allah SWT. Namun Islam juga
mengatur masalah sistem atau dalam istilah lain disebut nizham atau syari‟ah. Sistem (nizham
atau syari‟ah) ini berbicara bagaimana Islam mengatur seluruh masalah manusia. Dengan
demikian akan nampak kesempurnaan Islam sebagai sebuah agama dan juga ideologi.
Kesempurnaan Islam tersebut secara tegas disebutkan dalam Al Qur‘an Al Karim
sebagaimana firman Allah SWT:

!´.l¸.´¸ .,ls ¸..¸>l¦ !´..´,¯,¸. ¸_>¸l ¸,`_:
“Dan kami turunkan kepada kamu kitab ini utk menerangkan semua perkara.” [QS. An Nahl: 89]

Juga firman-Nya:

¸¯¡´,l¦ ¸l.´¦ ¯¡>l ¯¡>.,¸: ¸..·¦´¸ ¯¡>,l. _¸..-¸. ¸,¸.´¸´¸ `¡>l ´¡.l`.¸¸¦ !´.,¸:
“Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu dan telah Aku cukupkan nikmatKu untukmu, serta
Aku ridlai Islam sebagai agama bagimu.” [QS Al Maidah: 3]

Dari nash tersebut, jelas bahwa Islam telah sempurna sehingga pastilah tidak ada satu hal
pun yang tidak diatur oleh Islam. Dari masalah yang sangat sederhana seperti memindahkan
duri dari tengah jalan sampai masalah yang sangat kompleks seperti pemerintahan, Islam
mengaturnya.
Namun demikian, penjelasan yang menerangkan segala urusan tersebut secara umumnya
dinyatakan dalam bentuk amarat (tanda-tanda umum) serta tanda-tanda yang perlu penggalian
hukum untuk menguraikannya. Orang yang bertugas untuk menggali hukum-hukum tersebut
dan menyampaikannya kepada umat haruslah seorang mujtahid. Agar hasil ijtihad dari
mujtahid itu benar maka syarat-syarat ijtihad seperti pendalaman bahasa Arab, ilmu hadits,
ilmu Al Qur‘an, dan tsaqofah Islam yang lainnya mutlak diperlukan bagi seorang mujtahid.
Adanya mujtahid untuk melakukan ijtihad merupakan fardlu kifayah. Sehingga, tidak boleh
dalam suatu kurun waktu tidak ada orang yang melakukan ijtihad untuk disampaikan kepada
umat.
Dari uraian di atas nampak bahwa syari‘at Islam adalah syari‘at yang lengkap yang
mengatur seluruh urusan manusia seperti ibadah, ekonomi, sosial, politik, pemerintahan ,
pendidikan dan yang lainnya. Namun semua hukum-hukum Islam tersebut hanya akan
sempurna dilaksanakan umat Islam tatkala segala perangkat yang melaksanakannya ada.
Dalam hal ini adanya Daulah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila sekarang tidak ada sistem
tersebut maka kewajiban kaum musliminlah untuk mengadakan sistem tersebut sehingga
segala hukum-hukum Islam dapat diterapkan dengan sempurna. Sebab bagi orang yang
beriman, Allah SWT telah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan
dan tidak boleh melaksanakannya sebagian-sebagian. Allah berfirman:

!¸¯,!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡l>:¦ _¸· ¸¸l¸.l¦ «·!é ¸´¸ ¦¡`-¸,.. ¸,´¡L> ¸_.L,:l¦ .«.¸|
¯¡÷l ´¸.s _,¸,¯. ¸_¸_¸
“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)….” (QS Al
Baqarah: 208 )

Adanya dakwaan Islam bukan ideologi dan pandangan hidup yang berkembang dalam
masyarakat adalah karena akibat pemahaman umat yang keliru akan Islam. Atau juga akibat
kebodohan umat Islam, sehingga mereka kurang bisa melihat realitas sejarah. Mereka
akhirnya memandang Islam sama dengan agama-agama lain di dunia. Padahal agama-agama
tersebut tidak memiliki konsep politik yang mengatur masalah kehidupan. Maka tatkala umat
keliru dalam memahami Islam tersebut maka umat pun akan keliru dalam menerapkan Islam
dalam masyarakat. Demikian juga ketika ada masalah yang muncul dalam masyarakat dan
karena tidak ada yang sanggup berijtihad sehingga masalah tersebut tidak bisa dipecahkan,
maka umat pun memandang Islam tidak lengkap. Akhirnya mereka beralih kepada ideologi
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

60 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
selain Islam untuk pemecahan masalah tersebut. Mereka pun akhirnya mencampur adukkan
Islam dengan ideologi lain seperti demokrasi Islam dan sosialisme Islam.
Aqidah Islam sesungguhnya telah memerintahkan setiap individu untuk menyembah
hanya kepada Allah semata (QS Adz Dzariyat: 56). Penyembahan tersebut harus dilakukan
secara keseluruhan dan dilaksanakan sebagaimana yang telah diperintahkan dan dicontohkan
Rasulullah SAW. Penyembahan itu pula tidak hanya ditunjukkan pada satu bentuk saja
semisal akhlak (tingkah laku), namun juga ditujukan pada semua aspek kehidupan, semua
urusan masyarakat dan pemerintahan.
Secara umum sistem Islam mengatur setidaknya tiga hal. Pertama, hukum-hukum yang
berkenaan dengan individu dan Al Khaliq, yakni Allah SWT (hablum minallah) seperti ibadah
yang meliputi shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Kedua, mengatur hubungan satu individu
dengan dirinya sendiri (hablum minannafsi) seperti hukum berpakaian, makan, minum, dan
termasuk diantaranya akhlak. Ketiga, mengatur hubungan individu dengan individu yang
lainnya dalam masyarakat (hablum minannasi) seperti urusan niaga, pendidikan, sosial,
pemerintahan , politik dan hukum-hukum yang lainnya.
Bila semua hubungan itu diatur merujuk pada sistem Islam, artinya orang Islam telah
melaksanakan kehidupan berdasarkan aqidah Islam yang benar (ideologi Islam). Selain itu
akan nampaklah bahwa memang Islam lebih unggul dibanding agama atau ideologi yang
lainnya. Realitas sejarah telah menunjukkan bagaimana tingginya peradaban Islam dibanding
peradaban yang lainnya saat itu. Umat Islam kala itu pun pantas disebut umat terbaik
sebagaimana tercantum dalam Al Qur‘an surat Ali Imran ayat 110.
Secara umum kita mengenal tiga ideologi besar dunia. Mereka adalah
Kapitalis/Liberalisme, Sosialisme dan Islam. Kapitalisme dan Sosialisme sampai saat ini
masih diemban oleh beberapa Negara dan beberapa LSM. Sedangkan untuk Islam sampai
saat ini masih diemban oleh individu/partai dan belum diemban oleh Negara sejak runtuhnya
Daulah Khilafah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924. Namun demikian Insya Allah Daulah
Khilafah Islamiyah yang akan kembali melanjutkan Islam akan segera berdiri.
Sejak kelahirannya, setiap ideologi mempunyai kekhasannya masing-masing, baik dari
ide ataupun dari metode operasionalnya.

Syariah Sebagai Problem Solving
Sebagai agama dan mabda‟ yang mengajarkan spiritualisme dan politik, Islam bukan
hanya membahas persoalan akidah, tetapi juga membahas masalah hukum syara‘, yang dari
aspek pembahasannya, masing-masing berbeda. Akidah membahas „amaliyyah qalbiyyah
(aktivitas kalbu), sedangkan hukum syara‘ membahas „amal al-jawârîh (aktivitas fisik). Masing-
masing dibangun secara logis dan rasional, sehingga tidak ada satupun ajaran Islam yang tidak
bisa difahami secara logis dan rasional.
Pemikiran mendasar (al-fikr al-asâsi) yang menjadi akidah, misalnya, bisa dijadikan
sebagai akidah, karena pemikiran tersebut mempunyai makna yang bisa difahami. Sebab,
antara makna pemikirannya dengan realitas yang ada relevan. Contoh, adanya Allah;
pemikiran ―adanya Allah‖ tersebut mempunyai makna yang bisa dibuktikan realitasnya,
misalnya, melalui keunikan benda karena tunduk pada hukum Allah SWT. yang tidak bisa
diubah atau ditinggalkan oleh siapapun. Contoh lain adanya Malaikat; pemikiran ―adanya
Malaikat‖ ini juga bisa difahami maknanya. Meskipun untuk memahami realitasnya berbeda
dengan yang pertama. Ini karena realitas yang kedua tidak bisa diindera secara langsung,
sementara realitas ―adanya Allah‖ (makhluk-Nya) bisa diindera. Manusia bisa mengindera
realitas tersebut secara tidak langsung melalui informasi yang kebenarannya sudah terjamin,
yaitu al-Qur‘an dan hadits Mutawâtir.
Demikian halnya dengan pemikiran furû‟ (al-fikr al-far‟i), seperti hukum yang berkaitan
dengan Islamic thought maupun Islamic method semuanya bisa difahami secara rasional. Karena
hukum syara‘ ini diturunkan oleh Allah SWT. untuk menyelesaikan masalah manusia; baik
masalah manusia dengan Tuhannya, sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri? Jadi, di
sinilah logis dan rasionalnya hukum syara‘ tersebut diturunkan oleh Allah; sebagai problem
solving atas seluruh masalah kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan konsep maupun
metode.
Dengan analogi yang sederhana, tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, hukum
syara‘ adalah bagaikan obat. Jika seseorang sakit, dia akan mendiagnosis apa penyakit
(masalah) yang dialaminya. Setelah dia mengetahui masalahnya, dia akan memilih obat yang
cocok. Sakit kepala, misalnya, memang akan diobati dengan obat sakit kepala. Tentu bukan
dengan obat sakit gigi, atau obat-obat yang lain. Inilah yang disebut mafhûm. Meskipun, tidak
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

61 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diketahui secara detail apa kandungan zat yang ada di dalamnya, karena dia bukan apotiker,
atau dokter. Demikian pula dengan orang yang mengambil hukum syara‘. Orang tersebut
harus memahami apa masalah yang dia alami, baru kemudian menentukan hukum yang
relevan denga masalahnya. Misalnya, kentut dan batalnya wudhu‘; orang tersebut mengetahui,
bahwa yang dia perlukan adalah melakukan wudhu‘ kembali dengan membasuh muka, kedua
tangan dan seterusnya. Inilah yang disebut mafhûm. Dia tidak perlu bertanya lebih jauh
mengapa yang diperintahkan kepadanya harus membasuh muka, dan bukan yang lain?
Karena orang tersebut adalah bagaikan orang sakit yang mempunyai masalah, yang memang
harus diselesaikan. Untuk mengobati masalahnya, dia memang harus mencari ―obat‖ dari zat
yang Maha Tahu masalah yang dia alami. Dan tentu bukan kepada yang lain.
Inilah pandangan dasar (falsafah) mengenai hukum syara‘ sebagai problem solving atas
semua masalah yang dialami oleh manusia, baik yang berhubungan dengan Allah, sesama
manusia, maupun dengan dirinya sendiri. Atau dengan kata lain, inilah pandangan mengenai
hukum syara‘ yang berkaitan dengan masalah ibadah; shalat, zakat, puasa, haji dan jihad, atau
yang berhubungan dengan masalah pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar
negeri, peradilan, dakwah, atau yang berhubungan dengan manusia sendiri, seperti akhlak,
pakaian, makan dan minum. Semuanya ini merupakan masalah manusia yang memerlukan
pemecahan. Allah kemudian memberikan pemecahan, baik berupa akidah maupun hukum
syara‘.
Meskipun dalam konteks ini, hukum syara‘ yang dibahas diklasifikasikan menjadi dua:
1. Mu‟âlajah masyâkil al-insân; hukum syara‘ yang berfungsi sebagai problem solving dan menjadi
bagian dari Islamic thought,
2. Tharîqah; hukum syara‘ yang berfungsi sebagai metode aplikasi, memelihara dan
mengemban mabda‟ yang menjadi bagian dari Islamic method.
Kedua klasifikasi di atas merupakan pembagian yang didasarkan pada komponen mabda‟, yang
terdiri dari thought and method, yang tentu sah saja dilakukan. Mengingat, masing-masing
hukum tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda,177 sekalipun secara substantial sama.
Sama-sama merupakan problem solving atas seluruh masalah kehidupan manusia.
Jika Islam diterapkan secara utuh, baik dari aspek ibadahnya, sosial, ekonomi,
pemerintahan, peradilan, pendidikan, maupun akhlaknya untuk menyelesaikan problem
manusia, tanpa dibedakan antara satu hukum dengan hukum yang lain, pasti kemaslahatan
yang hakiki akan diperoleh oleh semua orang. Bukan hanya akan dirasakan oleh orang yang
melaksanakannya saja, tetapi juga oleh orang lain. Ini sebagaimana yang dinyatakan dalam
kaidah ushul:

]
ُ
ة
َ
حَل
ْ
ص
َ
مْلا
ُ
ن
ْ
و
ُ
ك
َ
ت
ُ
ع
ْ
ر
ّ
شلا
ُ
ن
ْ
و
ُ
ك
َ
ي ا
َ
م
ُ
ث
ْ
ي
َ
ح[
“Jika hukum syara‟ diterapkan, maka pasti akan ada kemaslahatan.”

Ulama‘ ushul kemudian telah merincikan bentuk kemaslahatan yang bisa diraih oleh
manusia, ketika hukum Islam diterapkan secara total, antara lain:
1. Mashlahah Dharûriyyah: Kemaslahatan yang diperoleh manusia dalam bentuk terpeliharanya
survivalitas hidupnya. Jika kemaslahatan tersebut tidak diperoleh, kehidupan manusia akan
mengalami kehancuran. Kemaslahatan tersebut tidak akan terpenuhi, kecuali jika hukum-
hukum Islam tersebut diterapkan. Adapun bentuk kemaslahatan tersebut adalah: (1) al-
Muhâfadhah „alâ al-aqîdah (terpeliharanya akidah). Maslahat ini bisa direalisasikan jika
hukum hadd al-murtaddîn (sanksi atas orang murtad) diterapkan, yaitu dibunuh. Juga ketika
sanksi atas orang-orang yang menyebarkan pemikiran dan ideologi kufur dilaksanakan. (2)
Muhâfadhah „alâ ad-dawlah (terpeliharanya negara). Maslahat ini tercapai ketika hukum hadd
ahl al-baghy (sanksi atas pembangkang negara) diterapkan, yaitu diperangi dengan maksud
mendidik. (3) Muhâfadhah „alâ al-amni (terpeliharanya keamanan). Maslahat ini terwujud,
jika hukum hadd quthâ‟ at-tharîq (hukuman atas perampok, perusuh dan pelaku tindak
kriminal) diterapkan, yaitu dibunuh dengan disalib dan dibuang dari negeri, dibunuh dan
disalib, dibunuh ataupun dibuang dari negeri. (4) Muhâfadhah „alâ al-mâl (terpeliharanya
kekayaan). Maslahat ini terwujud jika hukum hadd as-sariqah (sanksi atas pencuri)
diterapkan, yaitu dipotong tangannya jika memenuhi syarat dipotong. Juga ketika sanksi
ta‟zîr atas pelaku suap, korupsi dan sebagainya diterapkan. (5) Muhâfadhah „alâ al nasl
(terpeliharanya keturunan). Maslahat ini tercapai jika hukum hadd az-zinâ (sanksi atas
pelaku zina) diterapkan, yaitu dicambuk 100 kali bagi yang belum menikah (ghayr muhshan)
atau dirajam sehingga mati bagi yang telah menikah (muhshan). Disamping kewajiban
menikah sebagai satu-satunya tharîqah (tuntunan) untuk memenuhi naluri seksual, serta
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

62 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diharamkannya zina, liwat, oral seks dan sebagainya sebagai mekanisme pemenuhan
kebutuhan seks. Meskipun hukum menikah itu sendiri. adalah sunnah. (6) Muhâfadhah „alâ
al-karâmah (terpeliharanya kemuliaan). Maslahat ini terealisir jika hukum al-qadzaf (sanksi
atas orang yang menuduh zina) diterapkan, yaitu dicambuk 80 kali, jika tuduhannya tidak
terbukti. Juga ketika wanita yang dijadikan sebagai „aradh (harta selain mâl) yang yang wajib
dipelihara, bukan sebagai mâl (harta benda) murahan. (7) Muhâfadhah „alâ al-‟aqli
(terpeliharanya akal). Maslahat ini terealisir jika hukum hadd syârib al-khamr (sanksi atas
peminum minuman keras, pecandu narkoba dan sebagainya) diterapkan, yaitu dicambuk
tidak kurang dari kali 80. (8) Muhâfadhah „alâ an-nafs (terpeliharanya nyawa). Maslahat ini
terealisir jika hukum hadd al-qatli (sanksi atas pembunuh) dilaksanakan, yaitu dibunuh atau
dikenakan diyah dan lain-lain. Inilah yang dalam istilah Muhammad Husayn Abdullâh
disebut al-ahdâf al-ulya li shiyânah al-mujtama‟, atau tujuan luhur untuk menjaga
masyarakat.180 Memang ini merupakan tujuan luhur yang harus direalisasikan demi
menjaga masyarakat. Sebab, jika hukum-hukum tersebut tidak diterapkan, masyarakat pasti
akan mengalami kekacauan.
2. Mashlahah Hâjiyyah: Kemaslahatan yang diperoleh manusia dalam kondisi yang sulit atau
menghadapi kesengsaraan. Kemaslahatan ini diperoleh oleh seseorang berkaitan dengan
keringanan (rukhshah) yang diberikan oleh Allah SWT. kepada manusia. Misalnya, ketika
sedang melakukan puasa Ramadhan atau puasa wajib yang lain, sedangkan pada waktu
yang sama sedang bepergian atau sakit, maka orang tersebut diizinkkan untuk
membatalkan puasanya kemudian diganti dengan puasa pada waktu lain. Jika orang
tersebut sakit yang menyebabkannya tidak bisa duduk atau berdiri, maka dia dibolehkan
shalat dengan berbaring.
3. Mashlahah Tahsîniyyah: Kemaslahatan yang diperoleh oleh manusia ketika melaksanakan
hukum-hukum yang berkaitan dengan sifat akhlak dan adab. Misalnya, menjaga kebersihan
badan dan pakaian. Dengan cara melaksanakan hukum-hukum thahârah yang berkaitan
dengan tempat dan pakaian, atau menjaga agar hanya makanan dan minuman yang
dihalalkan oleh Allah SWT. atau menjaga diri terhadap hal-hal yang bisa menjatuhkan
martabat kepribadian Islam, seperti melakukan hal-hal yang sia-sia atau terrlibat dalam
perkara syubhât. Sebaliknya, wajib mempunyai sikap wara‟ dan takwa dalam setiap tingkah
lakunya, sopan kepada orang lain, tawâdhu‟ dan tidak sombong, tidak membanggakan diri,
riyâ‟‟ atau hal-hal lain yang membawa pada tercelanya kepribadian Islamnya. Semuanya itu
merupakan hukum-hukum akhlak yang menghiasi tingkah laku orang tersebut, yang
membuat kepribadiannya indah mempesona.
4. Mashlahah Takmîliyyah: Kemaslahatan yang berkaitan dengan penyempurnaan maslahat yang
diperoleh manusia karena menyempurnakan tiga kemaslahatan yang lain, yaitu dengan diperintahkan
dan dilarangnya hal-hal yang menjadi cabang kewajiban atau keharaman asal. Contoh, ketika
hukum zina diharamkan, maka apa saja yang bisa mengantarkan seseorang untuk
melakukan zina juga diharamkan. Seperti, tabarruj (mempercantik diri dengan maksud
menarik perhatian lawan jenis), tidak memakai jilbab, berduaan di tempat sepi (khalwah)
dan sebagainya.
Inilah gambaran mengenai maslahat yang akan diperoleh oleh manusia ketika melaksanakan
hukum-hukum syara‘ secara utuh, baik yang berhubungan dengan Allah, sesamanya, ataupun
dengan dirinya sendiri.

Problem Solving Berkaitan Hubungan Manusia Dengan Allah
Masalah manusia dengan Allah SWT. merupakan masalah yang muncul dari gharîzah at-
tadayyun (naluri beragama) yang dimiliki oleh masing-masing orang. Naluri inilah yang
mendorong orang tersebut melakukan kultus, pengagungan atau penghormatan pada zat yang
dipandang agung. Naluri inilah yang mendorong perasaan (wijdân) manusia untuk melakukan
pemenuhan. Jika wijdân tersebut dibiarkan tanpa kontrol akal, manusia akan kehilangan arah
dalam menentukan siapakah zat yang layak diagungkan. Karena itu, banyak orang yang
mengagungkan al-Qur‘an; dicium, dipeluk, bahkan diletakkan di tempat tinggi, tetapi isinya
diinjak-injak. Ini adalah bentuk taqdîs (kultus) yang salah, yang seharusnya mensucikan isinya
berubah mensucikan benda.
Karena naluri beragama inilah, manusia memerlukan ibadah. Maka, masalahnya
sekarang adalah bukan semua manusia memerlukan ibadah ataukah tidak? Sebab, masalah
tersebut merupakan masalah fitrah, yang pasti dimiliki semua manusia. Namun yang menjadi
masalah sekarang adalah siapakah yang layak disembah dan bagaimana caranya? Inilah yang
menjadi masalah manusia yang harus diselesaikan.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

63 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Mengenai masalah siapakah yang layak disembah, tentu jika wijdân manusia yang
diminta untuk menentukannya, pasti kacau dan tidak karuan. Akibatnya ada yang menyembah
matahari, api, dewa, manusia dan materi. Narnun, sesungguhnya jika akal yang diminta untuk
menentukannya, akal akan menentukan bahwa zat yang layak disembah haruslah zat Yang
Maha. Sebab, ibadah adalah bentuk kultus, pensucian dan pengagungan. Apa yang disucikan,
jika ternyata zat yang disembah oleh manusia tersebut tidak suci? Apa yang hendak
diagungkan, jika ternyata zat yang diagungkan itu tidak agung? Dengan demikian akal akan
menentukan bahwa zat yang disembah adalah zat yang Maha Agung. Zat yang wujud-Nya
dapat dirasakan, meskipun tidak dapat dilihat zatnya. Justru karena itu, akal manusia juga bisa
menentukan, bahwa Zat yang diisembah tidak sama dengan makhluk yang ditemukan di
muka bumi ini, sehingga mereka tidak menpersonifikasikan Allah dengan makhluk, sampai-
sampai muncul anggapan bahwa Allah menyatu dengan benda (manuggaling gusti ing kawula).
Tentu tidak demikian. Di sinilah peranan akal untuk menetukan siapa yang akan layak
disembah.
Mengenai bagaimana cara ibadah tersebut dilakukan? Akal sebenarnya juga
mempunyai peranan untuk menentukan, dimana bisa menentukan cara siapakah yang layak
digunakan untuk mengaturnya? Apakah cara yang dibuat oleh manusia, atau cara yang dibuat
oleh SWT? Di sinilah peranan akal, tidak lebih dari itu. Jika ibadah merupakan hubungan
manusia dengan Allah, sedangkan Allah adalah zat yang Maha Tinggi, yang tidak bisa
dijangkau oleh manusia, maka aturan atau cara beribadah tersebut mustahil diciptakan oleh
manusia. Kerena itu, aturan atau cara beribadah tersebut harus dibuat oleh Allah SWT.
Karena itu, al-ibâdah yang dalam konotasi etimologisnya berarti at-thâ‟ah (keta‘atan) itu
menurut ulama‘ fiqih mempunyai dua maksud: Pertama, menta‘ati seluruh perintah Allah dan
meninggalkan semua larangan-Nya. Inilah pengertian ibadah secara umum, yang juga sering
diistilahkan dengan al-ibâdah al-‟âmmah. Kedua, perintah dan larangan Allah yang mengatur
hubungan seorang dengan Tuhannya saja. Inilah yang biasanya disebut dengan al-ibâdah al-
mahdhah, seperi shalat, puasa, zakat, haji dan jihad. Aturan dan cara untuk melakukannya
murni dibuat oleh Allah yang tidak bisa ditambah, dikurangi atau dimanipulasi oleh siapapun.
Jika terjadi pengurangan, penambahan atau manipulasi, maka itulah yang biasanya dalam
istilah fiqih disebut bid‟ah.
Disamping itu, ibadah merupakan satu-satunya masalah yang diatur oleh Allah SWT.
dengan aturan yang lengkap dan terperinci. Berbeda dengan yang lain; jika masalah yang lain
hanya diatur secara global, maka tidak demikian dengan ibadah. Hanya karena tulisan ini
bukan merupakan kajian fiqih, maka pembahasan ini tidak akan membahas secara detail
mengenai syarat, rukun, termasuk hal-hal yang membatalkan ibadah. Tetapi, pembahasan ini
akan membahas masalah ibadah dari sudut falsafah dasarnya.
Dilihat dari segi tujuan: Allah telah mensyariatkan ibadah untuk mengatur hubungan
manusia dengan-Nya. Dialah zat yang Maha Mengetahui tujuan ibadah, dan Dialah zat yang
Maha Memberikan balasan pahala kepada siapa saja yang melakukannya. Kerena itulah, maka
manusia tidak bisa menentukan tujuan ibadah, kecuali berdasarkan dalil syara‘. Tujuan
(maqâshid) yang ditentukan oleh Allah SWT. dalam masalah ibadah tersebut, antara lain,
adalah:
1. Shalat: Hikmah dari perlaksanaan shalat yang disebutkan oleh Allah SWT. berdasarkan
firman-Nya:

´_¸| :¡l¯.l¦ _a.. ¸_s ¸,!:`>±l¦ ¸¸>..l¦´¸
“Sesungguhnya shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” [QS. Al-Ankabut: 45]

Shalat orang yang ikhlas, disertai penghayatan yang mendalam terhadap setiap ―makna
pemikiran‖ yang dibaca dalam shalat, akan dapat menjauhkan orang tersebut dari
perbuatan mungkar dan semua bentuk aktivitas yang tercela.

2. Puasa: Hikmah dari perlaksanaan puasa sebagimana yang diseebutkan oleh Allah SWT.
adalah meningkatkan kualitas ketakwaan seseorang:

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

64 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
!¸¯,!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¸¸.´ `¡÷,l. `¸!´,¸´.l¦ !.´ ¸¸.´ _ls _¸¸.]¦ _¸. ¯¡÷¸l¯,·
¯¡>l-l ¿¡1`.. ¸¸__¸
“Telah ditetapkan atas kamu puasa sebagaimana yang telah ditetapkan atas orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Diwajibkannya puasa agar bisa menjaga diri terhadap apa saja yang diharamkan kepada
manusia, karena itu jangan melakukannya, baik berdusta, sumpah palsu, zina dan larangan
yang lainnya.

3. Zakat: Zakat merupakan harta yang wajib dibayarkan oleh orang-orang kaya yang
mempunyai satu nisab dari harta yang wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun kepada
orang yang berhak mendapatkannya (mustahiq). Seperti fakir dan miskin. Allah SWT.
berfirman:

.> _¸. ¯¡¸>¸´¡.¦ «·.. ¯¡>`¸¸´¸L. ¡¸¸,¸´¸.´¸ !¸¸, ¸_.´¸ ¯¡¸¸,l. ¿¸| ,.¡l. "_>. ¯¡> ´<¦´¸
_,¸.. '¸,¸l. ¸¸¸_¸
“Ambillah zakat dari harta mereka yang bisa membersihkan diri mereka dan dengannya bisa
mensucikan mereka.” [QS. At-Taubah: 103]

Tujuan zakat sebagaimana yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah untuk
membersihkan jiwa orang kaya dari sifat bahkil, serta membersihkan diri mereka di sisi
Allah. Dengan menunaikannya, orang tersebut akan dibalas dengan pahala yang besar.

4. Haji: Hikmah haji adalah untuk mendapatkan manfaat dari aspek bisnis dan bisa
melakukan perkenalan dengan orang lain ketika berhaji dengan suasana zikir kepada
Allah. Sementara zikir tersebut merupakan aktivitas fisik haji yang paling menonjol. Allah
SWT. berfirman:
¦¸.¸:´,¸l _¸±... ¯¡¸l ¦¸`¸é.,´¸ ´¡`.¦ ¸<¦ _¸· ¸,!`,¦ ¸¸..¡l-.
“Agar mereka dapat menyaksikan manfaat-manfaat untuk mereka serta mengingat asma‟ Allah pada
waktu-waktu tertentu.” [QS. Al-Hajj: 28]

5. Jihad: Jihad adalah mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk berperang di jalan
Allah, baik secara langsung maupun tidak. Jihad merupakan metode yang diwajibkan oleh
Allah SWT. atas kaum muslimin untuk menyebarkan dakwah kepada bangsa dan ummat
lain. Tujuannya adalah untuk menghilangkan rintangan fisik yang menghalangi mereka
agar bisa memeluk Islam. Firman Allah SWT:

¯¡>¡l¸..·´¸ _.> ¸ ¿¡>. «..¸· ¿¡>,´¸ _¸¸.]¦ ¸<
“Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran), dan agama ini hanya menjadi
milik Allah SWT.” [QS. Al-Baqarah: 193]

Disamping itu, secara umum tujuan masing-masing ibadah tersebut adalah untuk menebus
dosa. Menunaikan ibadah merupakan suatu kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.:

¿¸| ¸¸.´..>'¦ _,¸>.`, ¸,!:¸¯,´.l¦
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu benar-benar bisa menghapuskan keburukan (dosa).” [QS.
Huud: 114]

Dilihat dari sudut ciri khasnya: Ada beberapa ciri khas yang ditetapkan oleh Allah SWT. dalam
beribadah, antara lain:
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

65 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
1. Ibadah bersifat tawqîfiyyah (mutlak urusan Allah). Artinya, setiap muslim yang
melaksanakan ibadah wajib terikat secara penuh kepada apa saja yang dinyatakan oleh
nas, yaitu wahyu Allah SWT. Karena itu, orang tersebut wajib melakukan shalat, zakat,
puasa dan haji dengan aturan-aturan khusus. Contohnya, tidak sah shalat seorang muslim
yang tangannya dilipat ke belakang ketika melakukan shalat, sebab cara seperti ini tidak
pernah dinyatakan oleh nas. Sabda Rasulullah Saw.:

«
ْ
ي
ِ
ّل
َ
صُأ
ِ
ن
ْ
و
ُ
م
ُ
ت
ْ
يَأ
َ
ر ا
َ
م
َ
ك ا
ْ
و
ّ
ل
َ
ص »
“Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku sedang melakukan shalat.” (HR Bukhâri dan
Muslim).

Demikian pula, tidak sah melaksanakan ibadah haji di bulan Ramadhan. Sebab, Allah
telah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk melaksanakan manasik.
2. Ibadah tidak didasasrkan pada illat (alasan hukum) tertentu, sehingga tidak ada satu illat
pun dalam pelaksanaan ibadah. Ini terlihat dari hukum-hukum ibadah, dimana tidak ada
satupun aktivitas di dalamnya yang dinyatakan dengan illat tertentu. Kebersihan juga
bukan merupakan illat bagi kewajiban wudhu‘. Senam atau kesehatan juga bukan
merupakan illat bagi kewajiban shalat.
3. Ibadah adalah aktivitas yang murni untuk Allah SWT. Sebab, ibadah merupakan aktivitas
yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Allah. Karena itu, tidak dibenarkan
seorang muslim menyekutukan Allah dengan yang lain dalam beribadah. Allah SWT.
berfirman:

¸´¸ _.. _. ¸<¦ !´¸.l¸| ¸>¦´,
“Dan janganlah kamu berdo‟a kepada Tuhan yang lain bersama dengan Allah.” [QS. Al-
Qashash: 88]

¸´¸ 츸:¸ ¸::!,¸-¸, .¸«¸,´¸ ¦.>¦ ¸¸¸¸¸
“Dan hendaklah dia tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun dalam menyembah kepada
Tuhannya.” [QS. Al-Kahfi: 110]

4. Ibadah juga tidak dapat diterima, kecuali dengan niat yang ikhlas untuk Allah SWT.
semata. Di antara syarat agar ibadah diterima adalah niat, dimana ibadah yang dilakukan
semata karena Allah. Jika seorang muslim melakukan shalat, tetapi tidak berniat
melakukan shalat untuk Allah, maka shalatnya tidak akan diterima. Tentu saja orang
tersebut tidak akan memperoleh apa-apa. Dengan kata lain, kewajiban tersebut belum
gugur dari. Sebab, aktivitasnya dianggap tidak sah. Rasulullah Saw. bersabda:

«
ِ
تا
َ
ي
ِ
ّ
نلا
ِ
ب ُ لا
َ
م
ْ
عَل
ْ
ا ا
َ
ّ
ن
ِ
إ »
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (HR Bukhâri dari Umar
bin al-Khattâb).

Amal perbuatan yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah ibadah, bukan yang lain.
Sebab, dalam melakukan tasharruf qawli (aktivitas timbal balik yang bersifat lisan) seperti
akad, atau yang lain tidak diperlukan niat agar amal perbuatannya dianggap sah oleh
Allah.

Dilihat dari aspek pengaruh.: Jika aktivitas ibadah tersebut dilakukan oleh seorang muslim
dengan benar, ibadah ini akan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam tindakan mereka,
antara lain:
1. Ibadah bisa menguatkan hubungan seorang muslim dengan Allah. Karena seseorang yang
berdiri di hadapan Tuhannya sehari semalam minimal lima kali. Dia bermunajat kepada-
Nya, dan kepada-Nyalah dia memohon pertolongan serta bantuan dalam setiap rakaat
shalatnya.
2. Ibadah bisa melahirkan ketenteraman dalam diri seseorang. Sebab setelah
menunaikannya, dia akan merasakan bahwa dia telah menta‘ati penciptanya. Dia juga akan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

66 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diberi balasan terbaik, sehingga dengan kesedaran itu dia akan merasa senang dan
tenteram hingga di akhirat.
3. Ibadah bisa menguatkan sebagian sifat akhlak seorang muslim. Tentu saja sifat-sifat yang
tidak bisa dipisahkan dengan ibadah. Antara Iain, tawâdhu‟, khusyû‟ dan menjauhi perkara
keji dan mungkar. Puasa juga bisa menguatkan sifat „iffah (menjaga kesucian diri), jujur
dan sabar. Sedangkan jihad bisa meningkatkan sifat pemurah, dermawan dan
mengutamakan orang lain. Shalat berjamaah bisa menguatkan sifat tawâdhu‘ dan menjaga
ukhuwwah Islâmiyyah.

Problem Solving Berkaitan Hubungan Manusia Dengan Sesama Manusia
Hukum-hukum syara‘ yang menyelesaikan masalah manusia dengan sesamanya adalah
hukum-hukum yang mengatur urusan ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, politik luar
negeri dan sanksi (uqûbât). Di dalamnya termasuk hukum seputar dakwah. Sebab, hukum
tentang dakwah ini mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya, menyangkut hak
dan kewajiban terhadap orang Iain. Tetapi, hukum-hukum yang berkaitan dengan
pemerintahan dan dakwah akan dijelaskan secara spesifik pada pembahasan berikutnya.

1. Sistem Ekonomi Islam
Sistem ekonomi berbeda dengan ilmu ekonomi. Jika ilmu ekonomi bersifat universal,
tidak terikat dengan pandangan hidup ideologi tertentu, maka sebalinya dengan sistem
ekonomi. Sebab, ilmu ekonomi adalah ilmu yang membicarakan produksi dan peningkatan
kualitas produksi, atau menciptakan sarana produksi dan peningkatan kualitasnya. Sedangkan
sistem ekonomi adalah hukum atau pandangan yang membahas distribusi kekayaan,
pemilikan serta bagaimana mengelolanya. Meskipun semuanya ini tidak dibedakan oleh para
ekonom Kapitalis dan Sosialis.181
Karena itu, sistem ekonomi Islam berbeda dengan Kapitalisme dan Sosialisme. Dalam
hal ini, Islam telah menetapkan asas sistem ekonominya, yaitu:
1. Pemilikan (al-milkiyyah atau ownership);
2. Pengelolaan dan pemanfaatan hak milik (tasharruf al-milkiyah),
3. Distribusi kekayaan di tengah masyarakat (tawzî‟ al-amwâl bayn an-nâs).

Asas Pertama: Pemilikan (al-milkiyyah), yaitu tatacara yang digunakan oleh seseorang
untuk mendapatkan manfaat yang dihasilkan oleh jasa atau barang tertentu. Sedangkan
pengertian pemilikan, menurut syara‘ adalah izin pembuat syariat untuk memanfaat zat. Yang
dimaksud dengan ―izin‖ adalah hukum syara‘, sedangkan ―pembuat syariat‖ adalah Allah
SWT. Mengenai maksud ―zat‖ adalah barang yang dapat dimanfaatkan.
Pemilikan dalam Islam ada tiga: (1) Pemilikan individu (private ownership), (2) Pemilikan
umum (public ownership), dan (3) Pemilikan negara (state ownership). Pemilikan individu adalah
izin yang diberikan oleh pembuat syariat untuk memanfaatkan benda, baik yang berkaitan
dengan barangan bergerak, seperti sepeda motor dan uang maupun barangan tidak bergerak,
seperti tanah, rumah dan sebagainya. Adapun pemilikan umum (public ownership) adalah izin
pembuat syariat atas jamaah untuk memanfaatkan benda, seperti api, air dan padang. Dari
ketiga jenis benda yang disebutkan oleh hadits tentang kebutuhan orang pada benda tertentu,
maka bisa disimpulkan, bahwa semua benda yang menguasai hajat hidup orang banyak
termasuk dalam pemilikan umum. Seperti jalan raya, air, listrik, minyak dan sebagainya.
Sedangkan pemilikan negara (state ownership) adalah kekayaan yang pengelolaannya diserahkan
pada kepala negara. Misalnya jizyah, kharâj, harta orang murtad (yang dibunuh), harta yang
tidak mempunyai ahli waris dan sebagainya.
Sedangkan cara mendapatkan pemilikan individu adalah: (1) bekerja, (2) waris (3)
adanya keperluan yang mendesak atas harta dalam rangka mempertahankan hidup dengan
mengambil harta orang lain, (4) pemberian negara dengan cuma-cuma, (5) harta yang
diperoleh tanpa pengorbanan, seperti hadiah, hibah dan sedekah.

Asas kedua: Pengelolaan pemilikan (tasharruf al-milkiyah), yaitu cara yang wajib
dilaksanakan oleh seorang muslim ketika menggunakan dan memanfaatkan hartanya. Untuk
itu, Islam telah menentukan dua cara: (1) pengembangan harta (tanmiyah al-mâl), dan (2)
pembelanjaan hak milik (al-infâq).
Pengembangan hak milik berbeda dengan sebab pemilikan. Jika sebab pemilikan adalah
usaha orang yang sebelumnya belum mempunyai kekayaan, sedangkan pengembangan hak
milik adalah usaha orang yang sebelumnya telah mempunyai kekayaan. Berkaitan dengan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

67 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
pengembangan hak milik, Islam telah membolehkan seseorang untuk mengembangkan harta
miliknya melalui perdagangan, seperti jual-beli, sewa-menyewa dan syarikat, serta
mengharamkan riba, melakukan penimbunan, menipu, berjudi dan sebagainya. Atau melalui
pertanian, seperti memiliki tanah untuk ditanami, dan mengharamkan lahan pertanian atau
ladang untuk disewakan. Atau melalui industri, seperti dibolehkannya seorang muslim
mempunyai pabrik, menjualbelikan produksi pabrik dan sebagainya, dimana hukum pabrik
tersebut mengikuti barang yang diproduksi. Jika yang diproduksi hukumnya haram, maka
pabriknya juga haram. Jika yang diproduksi merupakan barangan yang menguasai hajat hidup
orang banyak, maka pabrik tersebut juga merupakan pabrik yang menjadi hak milik umum.
Mengenai masalah pembelanjaan pemilikan, Islam telah menetapkan bahwa setiap
muslim hanya dimubahkan untuk membelanjakan hartanya di jalan yang dihalalkan oleh
Allah. Jika hartanya dibelanjakan di jalan yang diharamkan, meskipun sedikit, hukumnya tetap
haram. Inilah yang disebut dalam istilah fiqih dengan isrâf wa tabdzîr. Pembelanjaan harta yang
dibolehkan Islam, antara lain, zakat, membelanjakan harta untuk kepentingan diri dan orang
yang menjadi tanggungannya, seperti isteri, orang tua dan anak, dimana hukumnya adalah
wajib, dan juga pembelanjaan harta untuk menjaga hubungan, seperti memberi hadiah, yang
hukumnya adalah sunnah. Demikian juga perbelanjaan harta sebagai sedekah pada fakir,
miskin dan orang yang memerlukan dimana hukumnya adalah sunnah. Juga termasuk
pembelanjaan harta untuk berjihad, membeli senjata, menyiapkan tentara, dimana hukumnya
adalah fardhu kifayah. Sementara pembelanjaan harta yang diharamkan adalah
membelanjakan harta benda untuk hal-hal yang diharamkan, seperti isrâf wa tabdzîr dan suap.

Asas Ketiga: Distribusi kekayaan di tengah masyarakat (tawzî‟ al-amwâl bayna an-nâs).
Dalam hal ini Islam telah mensyariatkan hukum-hukum yang mampu menjamin distribusi
kekayaan di tengah masyarakat secara adil. Antara lain:
1) Mewajibkan zakat,
2) Pemberian hak kepada seluruh anggota masyarakat untuk memanfaatkan pemilikan umum;
3) Pemberian negara secara cuma-cuma kepada anggota masyarakat yang memerlukan, yang
diambil dari harta negara;
4) Pembagian harta waris kepada ahli waris.
Sebaliknya Islam telah mengharamkan:
1) Penimbunan emas dan perak atau mata uang;
2) Penimbunan barang, serta
3) Bakhil dan kikir.
Inilah gambaran secara umum mengenai sistem ekonomi Islam yang tertuang dalam
ketentuan hukum syara‘ yang mengatur muamalah.

2. Sistem Politik Islam
Sistem politik dalam pandangan Islam adalah hukum atau pandangan yang berkaitan
dengan cara bagaimana urusan masyarakat dikelola dan diatur dengan hukum Islam. Karena
politik itu sendiri dalam pandangan Islam adalah mengurus urusan ummat dengan
menerapkan hukum Islam baik dalam maupun luar negeri. Karena itu, Islam telah
menetapkan asas bagi sistem politiknya, yang terdiri dari empat macam:
1) Kedaulatan di tangan syara‘ (as-siyâdah li as-syar‟i);
2) Kekuasaan di tangan ummat (as-sulthân li al-ummah);
3) Pengangkatan khalifah untuk seluruh kaum muslimin hukumnya wajib (wujûb al-khalîfah al-
wâhid li al-muslimîn);
4) Khalifahlah satu-satunya yang berhak untuk mengadopsi hukum syara‘ untuk dijadikan
undang-undang (li al-khalîfah wahdah haqq at-tabanni).
Jika salah satu dari keempat asas ini tidak ada, maka politik Islam akan hancur. Karena
itu, keempat asas tersebut harus ada dalam sistem politik Islam.

Asas pertama: Kedaulatan di tangan syara‘ (as-siyâdah li as-syar‟i). Kata ―kedaulatan‖
sebenarnya bukan dari Islam. Kata tersebut diarabkan dengan as-siyâdah. Dalam bahasa
Inggeris disebut sovereignty. Makna yang dikehendaki oleh kata tersebut sebenarnya adalah
―sesuatu yang mengendalikan dan melaksanakan aspirasi‖. Jika seseorang mengendalikan dan
melaksanakan aspirasinya sendiri, berarti orang tersebut menjadi budak („abd) sekaligus tuan
(sayyid). Jika orang lain yang mengendalikan, berarti orang tersebut diperbudak oleh orang
lain. Demikian pula, ketika ummat mengendalikan aspirasinya sendiri, maka ummat itu
menjadi budak sekaligus tuan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia telah
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

68 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diperbudak oleh sesamanya. Dengan begitu hukumnya adalah haram. Sebab, yang bisa
memperbudak atau menjadikan manusia sebagai hamba hanyalah Allah SWT.
Islam mengajarkan kedaulatan di tangan syara‘, bukan di tangan manusia, ummat atau
yang lain. Konsekuensi dari pandangan tersebut adalah:
Pertama, bahwa yang menjadi pengendali dan penguasa adalah hukum syara‘, bukan akal
atau manusia. Ini berarti semua masalah akan dikembalikan kepada hukum syara‘. Karena itu,
tidak ada satupun masalah yang terlepas dari hukum syara‘.
Kedua, bahwa siapapun akan mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum
syara‘, baik penguasa maupun rakyatnya. Karena itu, tidak ada seorang pun yang mempunyai
hak imunity (kekebalan hukum) dalam negara Islam.
Ketiga, bahwa keta‘atan pada penguasa terikat dengan ketentuan hukum syara‘, dan
bukan keta‘atan mutlak. Karena rakyat hanya diwajibkan untuk ta‘at kepada penguasa jika dia
melaksanakan hukum syara‘, sebagaimana yang dinyatakan oleh nash:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡`-,¸L¦ ´<¦ ¦¡`-,¸L¦´¸ _¡.¯¸l¦ _¸|`¸¦´¸ ¸¸¯.¸¦ `¸>.¸. ¿¸|· ,.s¸.´.. _¸· ¸,`_:
:¸:`¸· _|¸| ¸<¦ ¸_¡.¯¸l¦´¸ ¿¸| ,..´ ¿¡`.¸.¡. ¸<!¸, ¸,¯¡´,l¦´¸ ¸¸¸>¸¦
“Wahai orang-orang yang beriman, ta‟atlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang yang
menjadi pemimpin di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu urusan, maka kembalikanlah
kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” [QS. An-Nisâ‟
59)

«
ِ
ق
ِ
لا
َ
ْ لا
ِ
ة
َ
ي
ِ
ص
ْ
ع
َ
م
ِ
ف
ِ
ق
ْ
وُل
ْ
خ
َ
م
ِ
ل
َ
ة
َ
عاَط
َ
ل »
“Tidak ada (kewajiban) ta‟at dalam melakukan kemaksiatan kepada Yang Maha Pencipta (Allah).”
(HR Ahmad)

“Mendengarkan dan menta‟ati adalah kewajiban orang Islam, baik dalam masalah yang disukai ataupun
tidak, selagi tidak diperintahkan untuk melakukan maksiat. Jika diperintahkan untuk melakukan
maksiat, maka ada tidak kewajiban untuk mendengarkan (perintah) dan menta‟atinya.” (HR
Bukhâri).

Ayat di atas, menjelaskan bahwa hukum keta‘atan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak,
sedangkan hukum keta‘atan kepada penguasa tergantung pada keta‘atannya kepada Allah dan
Rasul-Nya. Jika penguasa tersebut telah memerintah pada kemaksiatan, maka tidak wajib
dita‘ati, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits di atas. Demikian juga ketika terjadi
perselisihan, perbedaan pandangan atau apa saja yang berhubungan dengan penguasa dan
rakyat, harus dikembalikan kepada hukum syara‘. Bahkan, ini merupakan indikasi seseorang,
apakah dia masih beriman ataukah tidak.
Keempat, wajib mengembalikan masalah kepada hukum syara‘ jika terjadi perselisihan
antara penguasa dengan rakyatnya sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat di atas.
Kelima, wajib melakukan kontrol terhadap negara yang dijalankan oleh partai politik
Islam atau ummat, ketika terjadi penyimpangan negara atau penguasa terhadap salah satu
hukum syara‘. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur‘an:

_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-.!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦ ,¸¸.l`¸¦´¸ `¡>
_¡>¸l±.l¦ ¸¸¸_¸
“Hendaklah ada di antara kalian sekelompok ummat yang menyeru pada jalan kebaikan, memerintahkan
pada kemakrufan, serta mencegah kemungkaran.” [QS. Ali Imran: 104]

Keenam, wajib ada pengadilan yang bertugas untuk melenyapkan penyimpangan
terhadap hukum syara‘ yang dilakukan oleh penguasa. Pengadilan itulah yang disebut
Mahkamah Madhâlim. Sebab, terjadinya perselisihan antara penguasa dengan ummat itu wajib
dikembalikan kepada syara‘. Sementara kembali pada hukum syara‘ mengharuskan adanya
lembaga di luar pihak yang bersengketa, yaitu pihak ketiga yang independen, agar bisa
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

69 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
menegakkan hukum dan bertugas menjatuhkan keputusan pada dua belah pihak yang
berselisih. Karena itu, adanya lembaga tersebut menjadi wajib, berdasarkan kaidah ushul:

]

ب
ِ
جا
َ
و
َ
و
ُ
ه
َ
ف
ِ
ه
ِ
ب
ّ
ل
ِ
إ
ُ
ب
ِ
جا
َ
وْلا
ّ
م
ِ
ت
َ
ي
َ
ل ا
َ
م [
“Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka adanya sesuatu itu menjadi
wajib.”

Ketujuh, bahwa mengangkat senjata untuk mengambil alih kekuasaaan ketika khalifah
kaum muslimin telah melakukan penyimpangan terhadap syara‘ dan nyata-nyata kufur adalah
wajib. Pengangkatan senjata ini tidak dihukumi sebagai tindakan makar pada negara.

Asas kedua: Kekuasaan di tangan ummat (as-sulthân li al-ummat). Kekuasaan di tangan
ummat ini tercermin dari pengambilan kekuasaan yang diambil dalam hadits maupun Ijmâ‘
sahabat, yang semuanya dilakukan melalui bai‗at. Sedangkan bai‘at adalah akad yang diberikan
oleh ummat kepada khalifah. Konsekuensi dari asas kedua ini adalah:
Pertama, bahwa tidak ada satu kekuasaan pun yang diperoleh seorang muslim, kecuali
diberikan oleh ummat. Caranya adalah melaui bai‘at. Karena itu, hukum bai‘at untuk
mengangkat khalifah adalah fardhu kifayah. Sedangkan bai‘at untuk menta‘atinya adalah
fardhu ‗ain.
Kedua, bahwa ummat mempunyai hak untuk mengangkat khalifah dengan ridha dan
bebas. Tidak dibolehkan melalui paksaan. Karena itu,Islam mengharamkan pemerintahan
atau kekuasaan yang diperoleh dengan jalan kekerasan ataupun menakut-nakuti mereka, yang
dalam istilah fiqih disebut hukmu al-tasalluth. Seperti kekhilafahan Mu‘âwiyah bin Abi Sufyân,
yang awalnya diambil dengan paksa dari Ali bin Abi Thalib.
Ketiga, bahwa pemerintahan Islam tidak berbentuk kerajaan, yang diperoleh dengan
warisan. Sebab, kekuasaan di tangan ummat yang diberikan melalui bai‘at itu dilakukan secara
sukarela oleh ummat. Karena itu, sistem kerajaan, apakah monarki absolut atua monarki
parlementer, jelas bertentangan dengan Islam.
Keempat, bahwa meskipun ummat berhak mengangkat penguasa, namun kedudukan
ummat bukan sebagai musta‟jir (majikan) sementara khalifah sebagai ajîr (buruh). Karena itu
kedudukan khalifah menjadi kuat, sebab tidak menjadi budak rakyat, atau dikontrak oleh
rakyat untuk menjalankan aspirasinya. Dia mampu bartindak tegas kepada rakyat, jika mereka
melakukan penyelewengan.
Kelima, bahwa ummat mempunyai hak syura kepada khalifah, meskipun tidak
mempunyai hak untuk memecat jabatan khalifah. Karena khalifah bukan pegawai yang digaji,
tetapi penguasa yang diangkat dengan bai‘at, dan bukannya ijârah, dimana khalifah dibayar
karena berkhidmat kepada majikannya, yaitu rakyat atau ummat.
Keenam, bahwa penguasa adalah pelayan ummat yang melayani mereka dengan
memenuhi maslahat mereka dan mencegah mudarat yang akan menimpa mereka berdasarkan
hukum syara‘. Karena dia dibai‘at untuk memerintah ummat atau rakyat dengan hukum syara‘

Asas ketiga: Pengangkatan satu khalifah untuk seluruh kaum muslimin hukumnya
wajib . Adapun konsekuensi dari asas tersebut adalah:
Pertama, bahwa khalifah Islam wajib hanya satu. Tidak boleh ada khalifah lebih dari
satu dalam satu waktu. Adapun apa yang terjadi dalam sejarah, seperti adanya lebih dari
seorang khalifah seperti yang terjadi pada zaman Abbâsiyah adalah kesalahan sejarah yang
tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum syara‘. Sebab, sejarah bukan merupakan sumber
hukum syara‘.
Kedua, bahwa bentuk negara kekhilafahan Islam adalah kesatuan. Tidak dibenarkan
menganut bentuk federal. Sebab, hanya dibenarkan ada satu kepala negara, satu undang-
undang dan satu negara.
Ketiga, bahwa pemerintahan khilafah Islam berbentuk sentralisasi, sedangkan sistem
administrasinya adalah desentralisasi. Karena pemerintahan merupakan otoritas khalifah, dan
kekuasaan dalam satu negara adalah tunggal. Adapnn administrasi adalah masalah teknis, yang
berbeda dengan pemerintahan.
Keempat, bahwa khalifah adalah negara. Karena konsep negara dalam Islam berbeda
dengan konsep Kapitalisme maupun Sosialisme. Politikus Barat mendefinisikan negara adalah
kumpulan dari wilayah, rakyat dan pemerintahan. Islam menggambarkan negara sebagai
kekuasaan saja. Sebab, wilayah negara dalam Islam selalu berkembang, dan tidak ada wilayah
perbatasan. Rakyat bukan pemegang kedaulatan, meskipun rakyat mempunyai kekuasaan.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

70 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Karena itu, dalam pandangan Islam negara adalah kekuasaan. Yang memegang kekuasaan
adalah khalifah, maka khalifah adalah negara.
Maka, khalifah mempunyai otoritas untuk mengangkat dan memecat jabatan semua
penjabat pemerintahan, seperti wâli, âmil, qâdhi dan sebagainya.

Asas keempat: Khalifahlah satu-satunya yang mempunyai hak untuk mengadopsi
hukum syara‘ untuk dijadikan undang-undang. dari sini ada beberapa konsekuensi hukum
syara‘, antara lain, sebagai berikut:
Pertama, bahwa tidak ada yang berhak membuat undang-undang apapun selain khalifah,
termasuk majelis ummat. Majelis ummat juga tidak bisa membuat dan mengubah undang-
undang. Karena itu, tidak ada legislatif dalam khalifah Islam. Khalifahlah lembaga
legislatifnya.
Kedua, bahwa otoritas membuat keputusan ada di tangan seorang khalifah. Namun,
kewajiban untuk melaksanakan keputusan tersebut ada di atas pundak seluruh rakyat. Jadi,
meskipun yang berhak mengambil keputusan hanyalah seorang, tetapi jika keputusan tersebut
telah diambil, maka seluruh rakyat wajib melaksanakannya.
Ketiga, bahwa kepimpinan negara Islam bersifat individual. Tidak ada kepimpinan
kolektif dalam negara Islam. Karena itu, tidak ada lembaga lain yang memegang otoritas
pemerintahan dalam Islam, kecuali khalifah. Karena itu, Islam tidak mengenal konsep Trias
Politica (pemisahan kekuasan), legislatif, eksekutif dan yudikatif. Karena itu, sistem demokrasi
sangat bertentangan dengan sistem khilafah Islam. Demikian sebaliknya, sistem khilafah tidak
berbentuk demokrasi. Tetapi berbentuk khilafah.
Keempat, bahwa khalifah mempunyai hak untuk mengadopsi hukum syara‘ untuk
menghilangkan perselisihan di tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan kaidah syara‘:

]
ِ
ف
َ
ل
ِ
ْ لا
ُ
ع
َ
ف
ْ
ر
َ
ي
ِ
ما
َ
م
ِ
ل
ْ
ا
ُ
ر
ْ
مَأ [
“Perintah imam bisa menghilangkan perselisihan (yang terjadi di masyarakat).”

Kelima, bahwa mengadopsi hukum syara‘ bagi khalifah hukumnya adalah mubah.
Apabila terjadi mudarat pada saat tidak diambil dan ditetapkan oleh khalifah, karena bisa
menimbulkan perselisihan di tengah ummat, maka pada saat itu hukum mengadopsi hukum
syara‘ adalah wajib. Karena itu, tidak semua masalah akan diadopsi hukumnya oleh khalifah.
Seperti masalah akidah dan ibadah, misalnya, kecuali masalah dalil akidah dan urusan ibadah
yang menyangkut banyak orang. Seperti zakat, penentuan tanggal 1 Ramadhan, atau 1 Syawal.
Keenam, bahwa khalifah dalam mengadopsi undang-undang dan ketentuan apa saja
harus terikat dengan hukum syara‘. Khalifah juga wajib mengadopsi hukum syara‘ tersebut
dengan cara yang tidak bertentangan dengan kaidah pengambilan hukum syara‘. Yaitu, hanya
akan menggunakan al-Qur‘an, al-Hadits, Ijmâ‘ Sahabat dan Qiyas untuk mengadopsi hukum
syara‘.
Semua gambaran di atas merupakan gambaran mengenai bagaimana hukum syara‘
mengatur semua masalah politik kenegaraan. Semuanya mencerminkan sistem pemerintahan
yang unik.

3. Sistem Sosial-Kemasyarakatan Islam
Sistem sosial-kemasyarakatan (an-nidhâm al-ijtimâ‟i) adalah sistem yang mengatur
pertemuan laki-laki dengan wanita, atau wanita dengan laki-laki, serta mengatur hubungan
yang terjadi di antara mereka akibat pertemuan tersebut, termasuk hal-hal yang menjadi
konsekuensi dari adanya hubungan tersebut.
Sedangkan hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah sosial-kemasyarakatan yang
diatur oleh Islam adalah:
Pertama, bahwa hukum asal wanita adalah menjadi ibu dan pengurus rumah tangga.
Wanita merupakan kehormatan yang harus dijaga. Berbeda dengan konsep Kapitalisme
ataupun yang lain, bahwa wanita merupakan barang yang dapat dicicipi oleh siapa saja,
sehingga kehormatan mereka tidak dapat dipertahankan, malah dinodai di mana-mana.
Dalam Islam, antara lain nampak dari adanya hukum-hukum seperti kewajiban menutup aurat
wanita, berjilbab dan tidak bertabarruj.
Kedua, bahwa hukum asal wanita wajib dipisahkan dengan laki-laki. Mereka tidak bisa
bertemu kecuali karena adanya kebutuhan dibolehkan oleh syara‘, seperti haji dan jual beli.
Hal ini juga nampak dari adanya hukum-hukum seperti larangan berdua-duaan di tempat sepi
(khalwah) antara laki-laki dan wanita, perbedaan hukum kehidupan umum dan khusus.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

71 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Ketiga, bahwa wanita diberi hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, kecuali hal-
hal yang dikhususkan oleh syariat untuk laki-laki atau wanita. Wanita dan laki-laki sama-sama
dibolehkan melakukan perdagangan, pertanian, membuat pabrik, serta melakukan akad dan
mu‘amalah yang lain. Dia juga bisa memiliki berbagai jenis pemilikan. Dia juga dibolehkan
untuk mengembangkan harta dan membelanjakannya, serta mengurus semua urusannya
sendiri. Wanita juga dibenarkan untuk diangkat menjadi pegawai negara, serta dipilih menjadi
anggota majlis ummat ataupun memenuhi haknya untuk memilih dan membai‘at khalifah.
Tetapi, wanita tidak bisa menjadi al-hâkim (khalifah, wakil dan pembantu khalifah, wâli, kepala
hakim dan âmil) atau memangku tugas-tugas yang berkaitan dengan pemerintahan, seperti
menjadi qâdhi madhâlim.
Keempat, wanita hidup dalam kehidupan umum (di luar rumah) dan kehidupan khusus
(dalam rumah). Dalam kehidupan umum, wanita dibolehkan bersama laki-laki muhrim,
ataupun asing dengan syarat tidak menampakkan anggota tubuhnya, kecuali wajah dan tapak
tangan. Juga tidak dibolehkan berpakaian yang menarik perhatian, seronok atau
menampakkan bentuk tubuh. Sedangkan dalam kehidupan khusus, sama sekali tidak
dibolehkan bersama orang lain, selain wanita, dan muhrimnya. Dalam masing-masing
kehidupan ini, secara mutlak dia wajib terikat dengan hukum syara‘.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan tempat khusus di sini adalah tempat tertentu
yang untuk memasukinya seseorang harus meminta izin pada penghuninya. Ini berdasarkan
firman Allah:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¸ ¦¡l>.. !´.¡`,, ´¸¯,s ¯¡÷¸.¡`,, _.> ¦¡´.¸·!.`.· ¦¡.¸l.·´¸ ´_ls !¸¸l>¦
¯¡>¸l: ¸¯,> ¯¡>l ¯¡>l-l _¸`¸´.. ¸__¸
“Wahai orang-orang yang beriman, kalian jangan memasuki rumah lain, sehingga kalian mendapatkan
izin dan kalian mengucapkan salam kepada penghuninya.” [QS. An-Nuur: 27]

Ayat di atas menjelaskan, bahwa ada rumah yang ―kalian mendapatkan izin‖ untuk
memasukinya, dimana ini menjadi illat yang menentukan tempat tersebut sebagai tempat
khusus. Sebaliknya tempat umum adalah tempat yang untuk memasukinya seseorang tidak
perlu meminta izin.
Kelima, bahwa wanita juga dilarang berdua-duaan dengan laki-laki bukan muhrimnya,
menarik perhatiannya dengan bersolek (memakai wangi-wangian, memakai make-up wajah
yang menonjolkan kecantikannya dan sebagainya), termasuk membuka aurat di depan
khalayak ramai atau laki-laki asing. Berdua-duaan tidak seharusnya terjadi di rumah,
kendaraan, atau tempat-tempat khusus saja, tetapi juga bisa terjadi di tempat umum, seperti
berdua-duaan di tempat umum yang kosong, atau tempat umum yang lain. Karena khalwah
adalah memisahkan diri dari khalayak ramai dengan cara berdua-duaan, antara laki-laki dan
perempuan. Karena itu, khalwah bisa juga terjadi di tempat khusus, seperti rumah, mobil
pribadi atau kantor, atau di tempat umum, seperti taman, kampus atau ruang belajar dan
sebagainya.
Keenam, bahwa antara laki-laki maupun wanita, sama-sama diharamkan untuk
melakukan aktivitas yang secara langsung bisa merusak akhlak atau membawa kerusakan pada
masyarakat. Seperti diharamkannya wanita untuk bekerja menjadi pramugari, karena
digunakan sebagai daya tarik seksual bagi kaum laki-laki. Atau bekerja di super market dengan
tujuan menarik pelanggan laki-laki. Atau bekerja di pub-pub, night club dan sebagainya. Laki-
laki yang bekerja di salon kecantikan yang digunakan untuk menarik daya seksual wanita juga
haram.
Ketujuh, bahwa kehidupan suami-isteri adalah kehidupan yang penuh ketenteraman.
Kehidupan suami-isteri adalah kehidupan persahabatan. Bukannya kehidupan dua orang yang
bermitra usaha. Karena itu, suami-isteri wajib saling bantu-membantu dalam pekerjaan
rumah, meskipun kewajiban suami adalah bekerja di luar rumah. Suami harus berusaha
mengambil pembantu untuk meringankan beban isterinya. Sedangkan kepemimpinan suami
dalam rumah tangga tidak sama dengan model kepemimpinan seorang penguasa terhadap
rakyatnya, melainkan kepemimpinan yang bersifat ri‟âyah (mengurus). Sebab, hubungan
suami-isteri tidak seperti hubungan antara penguasa dengan rakyat. Isteri juga diwajibkan
untuk ta‘at, sedangkan suami diwajibkan untuk memberikan nafkah kepada isteri dengan
kadar yang lazim dan wajar sebagaimana yang ada di tengah masyarakat.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

72 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Kelapan, bahwa mengasuh anak adalah hak dan kewajiban wanita, baik muslimah
maupun non-muslimah. Namun, jika anak tersebut tidak memerlukan lagi ―asuhan‖ ibu, jika
ibunya seorang muslimah, maka anak tersebut diberi pilihan untuk memilih ayah atau ibunya.
Namun, jika salah seorang dari orang tuanya bukan seorang muslim, maka anak tersebut
wajib diasuh oleh orang tua yang beragama Islam. Ini tentu saja berlaku dalam kasus
penceraian antara suami isteri.

4. Sistem Pendidikan Islam
Islam mempunyai sistem pendidikan yang unik. Semuanya telah telah diatur dengan
jelas, sistematis dan sempurna dalam Islam. Berikut ini adalah gambaran secara umum
mengenai sistem pendidikan dalam Islam:
Pertama, kurikulum pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam. Karena itu, seluruh
bahan pelajar dan metode pengajaran ditetapkan berdasarkan asas tersebut. Tidak dibolehkan
adanya penyimpangan, walaupun sedikit dari ketentuan tersebut.
Kedua, strategi pendidikan adalah untuk membentuk „aqliyyah dan nafsiyyah Islam. Maka,
semua bahan pelajaran yang hendak diajarkan disusun berdasarkan strategi tersebut.
Ketiga, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian Islam, membekali
khalayak ramai dengan ilmu pengetahuan serta sains yang berkaitan dengan masalah
kehidupan. Karena itu, metode pendidikan disusun untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak
dibolehkan adanya metode yang mengarah pada tujuan yang lain, atau bertentangan dengan
tujuan tersebut.
Keempat, waktu pelajaran ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab yang diberikan setiap
minggu harus disesuaikan dengan waktu pelajaran ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, baik dari
segi waktu maupun jumlah jamnya.
Kelima, pengajaran sains dan ilmu terapan seperti matematika, fisika harus dibedakan
dengan pengajaran tsaqâfah. Ilmu-ilmu terapan dan sains diajarkan tanpa mengenal peringkat
pendidikan, tetapi mengikuti kebutuhan. Sedangkan tsaqâfah Islam diajarkan pada tingkat
sekolah rendah hingga menengah atas dengan kurikulum pendidikan yang tidak bertentangan
dengan konsep dan hukum Islam. Sedangkan di tingkat universitas bisa diajarkan secara utuh,
baik tsaqâfah Islam maupun non-Islam, demikian juga ilmu terapan dan sains, dengan syarat
tidak menyimpang dari tujuan dan kebijakan pendidikan.
Keenam, tsaqâfah Islam wajib diajarkan pada semua level pendidikan. Di level universitas,
hendaknya dibuka berbagai jurusan dalam berbagai cabang ilmu keislaman. Disamping itu,
bisa dibuka jurusan lain, seperti teknik dan sains.
Ketujuh, seni dan ketramprilan bisa dikategorikan sebagai ilmu terapan dan sains, seperti
bisnis, pelayaran dan pertanian. Semuanya mubah dipelajari tanpa terikat dengan batasan atau
syarat tertentu. Tetapi, di sisi lain juga bisa dimasukkan dalam katagori tsaqâfah, jika telah
terpengaruh dengan pandangan hidup tertentu. Seperti seni lukis, ukir dan pahat. Yang
terakhir ini tidak bisa dipelajari, jika bertentangan dengan pandangan hidup Islam.
Kedelapan, program pendidikan hendaknya seragam. Program apa saja hendaknya sama
dengan program yang telah ditetapkan oleh negara. Tidak ada larangan untuk mendirikan
sekolah swasta, tetapi dengan syarat sekolah-sekolah tersebut mengikuti kurikulum
pendidikan negara dan tunduk kepada kurukulum, strategi dan tujuan pendidikan yang ada.
Dengan syarat, sekolah tersebut bukan sekolah asing.
Kesembilan, mengajarkan masalah yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya
merupakan kewajiban bagi setiap individu, baik laki-laki maupun wanita. Program wajib
belajar berlaku untuk seluruh rakyat pada level sekolah dasar dan menengah. Negara juga
wajib menjamin pendidikan bagi seluruh rakyat dengan gratis. Mereka diberi kesempatan
untuk melanjutkan ke level pendidikan tinggi secara cuma-cuma dengan fasilitas yang terbaik.
Kesepuluh, negara menyediakan perpustakaan, laboratorium dan media belajar-mengajar
yang lain, disamping bangun sekolah dan universitas untuk memberikan kesempatan kepada
mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan
tsaqâfah, seperti fiqih, ushul fiqih, hadits dan tafsir, atau bidang ideologi, teologi, kedokteran,
teknik, kimia, maupun eksperimental, sehingga negara akan bisa melahirkan sejumlah
mujtahid dan para saintis.
Kesebelas, tidak bisa memberikan hak istimewa dalam mengarang buku-buku pendidikan
untuk semua level. Seseorang, baik sebagai pengarang ataupun bukan, tidak bisa mempunyai
hakcipta atau hak terbit apabila sebuah buku telah dicetak dan diterbitkan. Namun, jika
masih berbentuk pemikiran yang dimiliki oleh seseorang dan belum dicetak ataupun
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

73 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diedarkan, maka seseorang bisa mendapatkan imbalan, ataupun kompensasi yang memadai
atas jasanya. Layaknya gaji seorang pengajar.
Inilah gambaran secara umum mengenai sistem pendidikan yang pernah ada dalam khilafah
Islam, dan banyak diabadikan dalam buku-buku sejarah peradaban ummat Islam. Gambaran
yang lebih lengkap mengenai sistem pendidikan Islam ini bisa ditemukan dalam buku Sistem
Pendidikan di Masa Khilafah Islam, karya Dr. Abdurrahmân al-Baghdâdi.

Problem Solving Berkaitan Hubungan Manusia Dengan Dirinya
Islam telah memberikan penyelesaian dalam masalah pribadi, menyangkut hubungan
manusia dengan dirinya sendiri. Dalam masalah ini, Islam telah menetapkan hukum tertentu,
baik yang berkaitan dengan aktivitasnya, maupun sesuatu yang digunakan untuk melakukan
aktivitasnya.
Adapun masalah manusia dengan dirinya sendiri telah dipecahkan oleh Islam ketika
membahas hukum-hukum syara‘ yang berkaitan dengan sifat perbuatan, atau hukum-hukum
akhlak Islam. Sedangkan sesuatu yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut
berbentuk hukum benda yang meliputi pakaian, makanan dan minuman. Sebab, ketiga hal
inilah yang secara langsung berhubungan dengan aktivitas manusia dalam kaitannya dengan
dirinya sendiri.

1. Hukum-hukum Akhlak
Akhlak adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim ketika sedang melakukan
aktivitas. Sifat tersebut berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan atau ditinggalkan oleh
seseorang. Sifat tersebut ada yang hasan (terpuji) dan qabîh (tercela) atau khayr (baik) dan syarr
(buruk). Dalam hal ini, Islam telah mengatur sifat perbuatan tersebut dalam konteks
hubungan manusia dengan dirinya. Artinya, bagaimana seseorang memperhatikan
kesempurnaan perbuatannya dengan menjadikan sifat tertentu sebagai sifat perbuatannya.
Semua ini telah diatur oleh Islam dalam bentuk hukum syara‘ yang spesifik, dan tidak
diserahkan kepada manusia itu sendiri untuk menetukannya. Sebab, jika diserahkan kepada
manusia untuk menetukan sendiri sifat perbuatannya, pasti dia hanya akan melihat dari aspek
yang ―menguntungkan atau merugikan‖ bagi dirinya. Ini artinya, jika hal itu menguntungkan,
ia dianggap baik, sebaliknya jika merugikan, ia dianggap buruk. Di sisi lain, ia akan
menggunakan standar benda sabagai standar terpuji dan tercela, seperti manis digambarkan
dengan baik, sedangkan pahit digambarkan buruk. Meskipun masalah sifat tersebut
ditetapkan oleh syara‘, tetapi syari‘at Islam tidak banyak membahas hukum tersebut secara
detail. Karena itu, tidak ada pembahasan akhlak secara spesifik dalam buku-buku fiqih.
Namun untuk memudahkan, berikut ini merupakan huraian singkat mengenai akhlak dalam
Islam.
Dilihat diri aspek ciri khasnya: Ada beberapa ciri khas yang ditetapkan oleh Allah SWT.
dalam masalah akhlak ini, antara lain:
1. Akhlak tidak bisa dipisahkan dari hukum syara‘, termasuk semua bentuk ketentuan
hukum syara‘ yang lain. Seperti khusyû‟ adalah sifat perbuatan orang yang sedang
mengerjakan shalat, yang tidak ada pada orang di luar shalat. Jujur, amanah dan
menunaikan janji adalah sifat perbuatan orang yang melakukan mu‘amalah (berhubungan
dengan orang lain).
2. Akhlak juga tidak didasarkan kepada „illat, sehingga tidak ada satu „illat pun dalam masalah
akhlak. Jujur, amanah dan menunaikan janji diperintahkan semata-mata karena hukumnya
wajib menurut syara‘, yang kewajibannya telah ditentukan oleh nas, bukan disebabkan
adanya illat tertentu. Maka, kejujuran, amanah dan menunaikan janji tersebut tidak bisa
dilaksanakan oleh seorang muslim karena keuntungan material, atau mengharapkan pujian
orang, dan sebagainya.
3. Akhlak juga tidak tunduk pada manfaat tertentu. Sebab, orang yang melakukan hukum
akhlak kadang-kadang malah mendapat kerugian, bukan keuntungan. Contoh, sifat berani
dan menantang ketika mengingatkan penguasa yang zalim adalah sifat pengembang
dakwah yang mulia. Sesuatu yang bisa mengakibatkan orang tersebut menemui ajalnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

“Penghulu para syahid adalah Hamzah bin „Abd al-Muthallib, serta orang yang yang berdiri di depan
penguasa zalim, lalu memerintahkan (kemakrufan) dan mencegah (kemungkaran) atasnya, kemudian
dia pun membunuhnya.” (HR Hakim dari Jabir).

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

74 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
4. Akhlak sama seperti akidah. Akhlak merupakan tuntutan fitrah manusia. Memuliakan
tamu dan membantu orang yang memerlukan adalah sangat selaras dengan tuntutan fitrah
manusia, yaitu gharîzah al-baqâ‟. Khusyû‟ dan tawâdhu‟ juga selaras dengan tuntutan fitrah
manusia, yaitu gharîzah at-tadayyun. Kasih sayang dan keta‘atan juga sesuai dengan tuntutan
fitrah manusia, yaitu gharîzah an-naw‟.

Dari aspek pengaruh: Jika sifat perbuaaan (akhlak) tersebut dimiliki oleh seorang muslim
ketika melakukan aktivitas, maka akan mempunyai pengaruh yang signifikan, antara lain:
1. Melaksanakan akhlak dengan taklîf syar‟i yang lain akan menjadikan seorang muslim
mempunyai kepribadian yang unik ketika berinteraksi dengan khalayak ramai. Mereka pun
percaya dengan kata-kata dan perbuatannya.
2. Akhlak akan bisa menumbuhkan kasih sayang dan sikap hormat khususnya antara sesama
anggota keluarga, dan umumnya dengan anggota masyarakat.
3. Orang yang mempunyai sifat perbuatan (akhlak) yang terpuji akan mendapat pahala di sisi
Allah SWT. di akhirat. Bahkan orang yang mempunyai akhlak yang mulia di dunia akan
dekat dengan Rasulullah Saw. di akhirat. Sabda baginda Saw.:

“Sesungguhnya orang yang lebih aku cintai di antara kalian, dan lebih dekat kepadaku tempatnya pada
hari kiamat, adalah siapa saja di antara kalian yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhâri).

2. Hukum-hukum Islam mengenai Pakaian
Hukum-hukum Islam mengenai pakaian ini adalah hukum-hukum yang membahas
benda, bukan hukum perbuatan. Sebab, ada perbedaan antara hukum perbuatan dengan
hukum benda. Hukum perbuatan terikat dengan al-ahkâm al-khamsah (lima macam hukum
syara‘), yaitu wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah. Sedangkan hukum benda hanya
terikat dengan hukum halal dan haram, ataupun mubah dan haram. Tidak ada hukum benda
yang makruh, sunnah atau wajib.
Karena pakaian ini merupakan sesuatu yang digunakan oleh seseorang untuk menutup
auratnya, maka pakaian adalah bendanya sedangkan menutup aurat adalah aktivitasnya. Secara
umum, hukum Islam mengenai pakaian asalnya adalah mubah. Ini sebagaimana kaidah usul
yang menyatakan:

“Hukum asal benda adalah mubah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”

Ini artinya, bahwa pakaian hukum asalnya adalah mubah. Dan untuk mengharamkannya
harus ada dalil yang mengharamkannya. Barulah hukum benda tersebut akan menjadi haram.
Sekalipun demikian, jika diteliti lebih mendalam, hukum Islam yang berkaitan dengan benda
tersebut tidak ada satu pun yang disertai dengan illat apapun. Sebab semua hukum yang
berkaitan dengan pakaian adalah hukum benda yang asalnya mubah berdasarkan dalil umum,
dan menjadi haram jika ada dalil khusus yang mengharamkannya.
Jadi, hukum pakaian tersebut mutlak ditentukan olah dalil bukannya oleh yang lain,
sehingga dalam masalah pakaian tidak ada analogi. Meskipun tetap tidak bisa ditolak adanya
tahqîq manât yaitu usaha untuk membuktikan objek benda tertentu. Misalnya, ada pakaian
yang diharamkan karena menyerupai hadhârah (tradisi budaya) bangsa atau ummat lain.
Contoh songkok Yahudi, lambang salib Kristen, atau serban Sikh yang dibelitkan di kepala
para pengikutnya. Semuanya ini diharamkan berdasarkan dalil tasyabbuh bi al-kuffâr
(menyerupai pakaian orang kafir). Sedangkan untuk membuktikan mana pakaian yang
menyerupai orang kafir tidak memerlukan dalil. Tetapi, cukup dengan pembuktian realitasnya,
atau yang disebut dengan tahqîq al-manâth.

3. Hukum-hukum di seputar Makanan dan Minuman
Hukum-hukum Islam mengenai makanan dan minuman adalah hukum-hukum yang
membahas benda, sama seperti hukum pakaian. Karena itu, hukumnya jelas berbeda dengan
perbuatan. Maka, hukum benda tersebut hanya terikat dengan halal dan haram, atau mubah
dan haram. Di sini tidak ada makruh, sunnah atau wajib.
Karena makanan dan minuman ini merupakan benda yang akan digunakan oleh
seseorang untuk memenuhi keperluannya, maka makanan dan minuman adalah benda.
Sedangkan usaha pemenuhannya adalah aktivitasnya. Maka, secara umum, hukum Islam yang
berkaitan dengan makanan dan minuman ini adalah mubah, yang menjadi haram jika ada
yang mengharamkannya, sebagaimana kaidah ushul yang berkenaan dengan benda:

“Hukum asal benda adalah mubah, selama tidak ada dalil haram yang mengharamkannya.”
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

75 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB SIYASAH

Pemikiran Politik Islam
Banyak versi mengenai definisi dari politik. Harold D. Laswell dan A. Kaplan
mengartikan politik adalah sebuah ilmu yang mempelajari pembentukan dan pembagian
kekuasaan. Demikan juga WA Robson mengungkapkan mengenai politik dengan pengertian
sebagai berikut:

―Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-
proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian seorang sarjana politik tertuju pada
perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau
pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.‖

Pemikiran-pemikiran politik seperti tersebut di atas merupakan sedikit dari pandangan
dan teori politik yang diterima setiap bangsa. Layaknya adagium “Tidak ada kawan dan lawan
yang abadi dalam politik, adanya hanya kepentingan abadi”, teori dan pemikiran politik tersebut
sudah diterima sebagai suatu kelaziman dan kebenaran, pun oleh kaum muslimin. Terhadap
teori dan pemikiran politik ini, sebagian kaum muslimin menerima dengan apa adanya.
Sebagian kaum muslimin mengkompromikannya dengan Islam, namun tidak sedikit yang
menolaknya dengan pandangan bahwa “politik itu kotor”. Kelompok yang terakhir ini
berpendapat bahwa politik itu bukan bagian dari Islam, bahkan dikatakan Islam
mengharamkan politik dan aktivitas politik. Lantas bagaimanakah sebenarnya pandangan
Islam mengenai politik ini? Apakah politik menurut pandangan Islam sama dengan politik
dalam kacamata demokrasi?
Islam adalah suatu metode kehidupan yang unik, dibandingkan dengan agama maupun
ideologi lain. Dari segi wilayah ajarannya, Islam bukan saja agama yang mengurusi masalah
ruhiyah (spiritual), namun juga meliputi masalah politik (siyasiyah). Dengan kata lain, Islam
adalah aqidah spiritual dan politik (al aqidah ar ruhiyah wa as siyasiyah). Aqidah spiritual (al
aqidah ar ruhiyah) mengatur masalah yang berhubungan dengan akhirat, seperti surga dan
neraka, pahala dan siksa, ibadah (shalat, puasa, zakat, haji dll). Sedangkan al aqidah as siyasiyah
mengatur urusan kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan,
hukuman dan sebagainya. Keyakinan seorang muslim tentang aqidah haruslah meliputi kedua
aspek tersebut secara keseluruhan (kaffah). Manusia yang menerima satu aspek saja dan
menolak yang lain, atau bahkan menolak dua-duanya, adalah termasuk dalam golongan orang
ingkar (kafir). Jadi, dienul Islam yang mencakup urusan aqidah dan syariah harus dijalankan
oleh setiap insan yang telah mengikrarkan kalimat syahadat.
Politik (siyasah) mempunyai makna pengaturan urusan umat dengan aturan Islam, baik di
dalam maupun luar negeri (ri‟ayah syu‟uun al ummah dakhilian wa kharijian). Aktivitas politik
dilaksanakan oleh rakyat (umat) dan pemerintah (negara). Negara merupakan lembaga yang
mengatur urusan tersebut secara praktis („amali), disisi lain umat memberikan koreksi
(muhasabah) kepada pemerintah dalam melaksanakan tugasnya. Definisi ini sesuai dengan
realitas empiris yang wujudnya ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan berlaku
umum, sebab diambil berdasarkan fakta politik dan ditinjau dari sisi politik itu sendiri.
Secara etimologis, politik (siyasah) berasal dari kata „sasa‟, „yasusu‟, „siyasatan‟ yang berarti
mengurusi kepentingan seseorang. Kamus Al Muhith menyebutkan bahwa ‗sutsu ar ra‟iyata
siyasatan‘ bermakna ‗saya memerintah dan melarangnya dengan suatu aturan‘. Makna tersebut
mencerminkan adanya aktivitas pengaturan urusan rakyat oleh suatu pemerintahan dalam
bentuk perintah dan larangan.
Dalil-dalil syara‘ dari beberapa hadits menggambarkan adanya aktivitas penguasa, koreksi
dan kontrol terhadapnya dan wajibnya mengurusi kepentingan kaum muslimin, yang
semuanya itu merupakan aktivitas politik (ri‟ayah syu‟uun) diantaranya:

“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak
memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga.” (HR Bukhari dari
Ma‟qil bin Yasar ra.)

“Seseorang yang memimpin kaum muslimin dan dia mati, sedangkan dia menipu mereka (umat) maka
Allah akan mengharamkan ia masuk ke dalam surga.” (HR Bukhari dan Muslim dari Ma‟qil
bin Yasar ra., lafadz bagi Bukhari)

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

76 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
“Siapa saja bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan
Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak
termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.)

“Akan ada para amir (penguasa), maka kalian (ada yang) mengakui perbuatannya dan (ada yang)
mengingkarinya. Siapa saja yang mengakui perbuatannya (karena tidak bertentangan dengan hukum
syara‟), maka dia tidak diminta tanggung jawabnya, dan siapa saja yang mengingkari perbuatannya maka
ia akan selamat. Tetapi siapa saja yang ridha (dengan perbuatannya yang bertentangan dengan hokum
syara‟) dan mengikutinya (maka dia berdosa). Para sahabat bertanya : „Apakah kita tidak memerangi
mereka ?‟ Beliau Saw menjawab :‟Tidak, selama mereka menegakkan sholat (hukum-hukum Islam).”
(HR Muslim dari Ummu Salamah ra.)

Abu Dzar ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa menjadi wali (menguasai) seseorang, maka nanti pada hari kiamat didatangkan lalu
ditegakkan di atas jembatan Jahannam. Apabila ia berbuat baik, maka ia selamat, dan apabila ia berbuat
jahat (curang), maka jembatan itu akan terbelah lalu ia terlempar ke dalam Jahannam selama 70 tahun,
sedangkan Jahannam itu gelap gulita.”

Ibnu Abbas ra berkata:

“Ayat athi‘ullaha wa athi‘urrasula wa ulil amri minkum (taatlah pada Allah dan taatlah pada
Rasulullah dan pemerintahan dari kaum muslimin) turun ketika Abdullah bin Hudzaifah bin Qays bin
Adi diutus Nabi Saw. memimpin suatu pasukan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jarir Ibnu Abdullah ra berkata:

“Aku berbai‟at kepada Rasulullah untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap
muslim.” (HR Bukhari Muslim)

“Bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai dari amirnya (pemimpinnya) maka bersabarlah.
Barangsiapa memisahkan diri dari penguasa (pemerintahan Islam) walaupun sejengkal saja, lalu mati,
maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra.)

Hadits-hadits di atas, baik yang berkenaan tentang penguasa dan kedudukannya,
muhasabah umat pada penguasa, atau hubungan antar sesama kaum muslimin dalam
mengurus kepentingan mereka dan untuk saling menasehati, semua itu menunjukkan makna
politik, yaitu mengurusi kepentingan umat. Jadi, definisi ‗politik‘ tersebut merupakan definisi
syar‘i yang berasal dari dalil-dalil syara‘.
Dalil-dalil syara‘ tersebut menunjukkan bahwa politik adalah unsur terpenting dalam
Islam. Peduli dan sibuk dengan aktivitas politik untuk mengurusi kepentingan umat Islam,
khususnya berusaha untuk menegakkan Islam di muka bumi, merupakan kewajiban terbesar
kaum muslimin. Sibuk dengan aktivitas politik dalam dan luar negeri hukumnya fardlu seperti
halnya aktivitas jihad. Sebab, pengaturan urusan umat Islam harus diselenggarakan negara
dengan hanya merujuk pada hukum-hukum dan solusi Islam. Intinya, aktivitas politik untuk
menerapkan hukum Islam secara sempurna (kamiil) dan keseluruhan (syamiil) adalah wajib
bagi kaum muslimin.
Dari definisi ini jelaslah bahwa politik (siyasah) dalam Islam adalah ri‟ayah syu‟uun al ummah
(mengurusi urusan umat), bukan seperti politik dalam demokrasi yang berorientasi pada
kekuasaan dengan mengabaikan aturan-aturan Al Khaliq. Aktivitas politik dalam demokrasi
yang menghalalkan segala cara, menerapkan dan membuat hukum-hukum buatan manusia
serta mengeliminasi hukum-hukum Allah, merupakan kemaksiatan. Sedangkan aktivitas
politik dalam Islam yang bertujuan untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan menjadikan
Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan kewajiban.

Ikatan yang Mempersatukan Manusia
Seorang pemimpin Republik Turki, Turgut Ozal pernah mengatakan: ―Ada sebuah kelompok
besar negara Islam. Mereka pernah menganggap Utsmaniyyah sebagai pemimpin dunia Islam.
Kita harus memimpin kelompok negara-negara ini dan hal ini akan membuat kita lebih
penting dimata Barat. Secara fisik maupun moral kita adalah jembatan dari Barat.‖
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

77 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Ia adalah seseorang yang walaupun muslim, pada saat yang sama ia merasa nyaman
dengan pemerintahan non-Islam. Dalam memimpin Turki, Ozal memiliki dua tahap strategi
internasionalnya yakni membangkitkan kembali posisi Turki di dunia muslim seperti era
Turki Utsmani, dan membiarkan negaranya bertindak sebagai sebuah jembatan bagi pihak
Barat dengan usahanya menjadi bagian dari Eropa. Suatu target yang hampir pasti tidak akan
pernah terwujud.
Gambaran tersebut menunjukkan adanya suatu konsensus di kalangan bangsa-bangsa
beragama Islam untuk bersatu dengan saudara sebangsanya dan berpisah dari yang bukan
sebangsanya. Bangsa Indonesia membentuk Republik Indonesia, bangsa Arab menyatukan
dirinya dalam kerajaan-kerajaan kecil seperti Saudi Arabia, bangsa Mesir menyatukan dirinya
dalam Republik Mesir. Sementara itu slogan-slogan “Agama milik Allah, tanah air milik semua
orang”, “Kita dipersatukan oleh penderitaan dan cita-cita”,atau ” Tanah air di atas segalanya” menjadi
legitimasi bangsa-bangsa itu untuk hidup dalam aturan-aturan yang digali dari budaya masing-
masing untuk cita-cita mereka masing-masing. Jadilah umat Islam yang merupakan ummatan
wahidah menjadi potongan-potongan kecil yang diperebutkan orang-orang kafir.
Dalam mencapai tujuannya, manusia membentuk kelompok-kelompok yang
dipersatukan oleh beragam ikatan. Kesamaan kepentingan, suku bangsa atau ras, rasa cinta
tanah air, spiritualisme, dan keyakinan seringkali menjadi dasar bersatunya manusia. Lantas,
dari adanya ikatan-ikatan kesamaan tersebut, manakah yang paling kuat menyatukan manusia?

Ikatan Kepentingan (Mashlahat)
Ikatan yang timbul karena kesamaan kepentingan adalah ikatan yang temporal sifatnya,
dan tidak bisa dijadikan pengikat antar manusia. Hal ini disebabkan adanya peluang tawar-
menawar (take and give) dalam mewujudkan kepentingan mana yang lebih besar, sehingga
eksistensinya akan hilang begitu saja begitu satu kepentingan dipilih atau didahulukan dari
kepentingan yang lain. Apabila kepentingan itu telah ditentukan, berakhirlah persoalannya,
kemudian orang-orangnya pun membubarkan diri, karena ikatan itu berakhir tatkala
kepentingan telah tercapai. Dengan demikian, ikatan ini sangat berbahaya bagi para
pengikutnya. Misalnya, mengenai isu lingkungan hidup yang menyeruak sebagai isu
internasional pada KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro. Namun, nyatanya kepentingan negara-
negara Barat yang kapitalistik, mendominasi proses kesepakatan mengenai isu tersebut.

Ikatan Nasionalisme
Ikatan kesukuan (chauvinisme), atau kebangsaan (nasionalisme) ataupun ras (rasisme), adalah
ikatan yang bersifat emosional, karena lahir dari naluri mempertahankan diri semata, tidak
tumbuh dari sebuah kesadaran yang permanen, sehingga wajar jika ikatan nasionalisme
misalnya, bernilai kontradiktif. Di satu sisi mempersatukan manusia, di sisi lain
menumbuhkan sikap antiegaliter terhadap bangsa-bangsa lain. Dalam kamus Webster tertulis,
bahwa salah satu bagian dari nasionalisme adalah a sense of national cosciousness exalting one nation
above all others (satu perasaan untuk mengagungkan satu bangsa di atas bangsa-bangsa yang
lain).
Pada dasarnya nasionalisme adalah ikatan yang lemah. Salah satu kelemahannya adalah
ketidakmampuannya mempersatukan manusia secara permanen. Ikatan nasionalisme bersifat
temporal, hanya akan muncul tatkala ada ancaman dari pihak luar terhadap eksistensi satu
komunitas. Adanya penjajahan, persaingan atau benturan budaya adalah stimulan yang ampuh
untuk menumbuhkan ikatan nasionalisme. Senang dan gembira yang dirasakan oleh
mahasiswa muslim Indonesia yang sedang tugas belajar di luar negeri ketika bertemu orang
Indonesia yang notabene beragama non Islam dan tidak segembira ketika bertemu
saudaranya sesama muslim yang berbeda bangsa dan negara; merupakan contoh kecil dari
ikatan nasionalisme. Contoh lain adalah keberhasilan Sukarno menggelorakan semangat
rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda adalah semata-mata karena tiupan spirit
nasionalisme yang kental. Bentrokan antar suku di Indonesia yang marak terjadi, menjadi
contoh nyata sukuisme. Sementara itu, di Eropa, pada awal abad kedua puluh, demi
supremasi ras Aria, Hitler mengobarkan Perang Dunia II. Kemudian, Jepang yang
menyembah matahari mengikuti jejak Jerman masuk ke dalam kancah PD II, semata demi
keunggulan negerinya di dunia. Rasa cinta tanah air memunculkan ikatan patriotisme, yang
muncul ketika tanah tersebut berada di bawah ancaman pihak luar , misalnya konflik militer
dengan bangsa lain. Namun, semua luapan sukuisme, nasionalisme, rasisme maupun
patriotisme tersebut akan hilang dengan sendirinya begitu ancaman dari luar berkurang atau
hilang sama sekali.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

78 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Ikatan Spiritual
Sedangkan ikatan spiritual atau kerohanian, adalah ikatan atau persatuan manusia
berdasarkan pada ―kepercayaan agama‖ mereka dan kepercayaan itu sifatnya tidak
komprehensif. Kepercayaan ini hanya berkaitan dengan aspek ritual suatu ibadah, yaitu
hubungan antara manusia dengan yang disembahnya. Misalnya, ikatan spiritual yang
diidentifikasikan oleh manusia dengan orang lain berdasarkan agama Kristen, Hindu atau
Budha. Semangat berani mati para serdadu Jepang pada perang dunia II, perilaku hara-kiri
dan sebagainya, yang didasarkan kesetiaan pada Kaisar Tenno Heika dan Hinomaru juga
dapat dijadikan kasus ikatan spiritual ini.
Ikatan spiritual ini tidak memiliki peraturan, aktivitasnya hanya terlihat dari kegiatan
spiritual saja. Ikatan spiritual ini tidak mengikat dan menyatukan manusia dalam masalah-
masalah selain urusan keyakinan dan persembahan, jadi terbatas dan tidak dapat dipakai
sebagai dasar untuk mempersatukan manusia dengan kuat. Ikatan ini merupakan ikatan yang
sifatnya parsial dan terbatas pada aspek kerohanian semata, yang tidak berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari, sehingga tidak layak menjadi pengikat antar manusia dalam seluruh
aspek kehidupannya. Misalnya, aqidah yang dianut oleh kaum Nashrani yang dianut hampir di
seluruh Eropa, tidak dapat dijadikan pengikat antar bangsa-bangsa Eropa. Begitupun, jika
Islam dipandang hanya sebatas aspek spiritual saja, maka tidak dapat juga menyatukan negeri-
negeri Islam yang terpecah belah menjadi lebih dari 55 negeri.

Ikatan Ideologi
Seluruh ikatan di atas tidak layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya,
apalagi untuk mencapai kemajuan dan kebangkitan. Ikatan yang benar dan paling kuat
mengikat manusia dalam kehidupannya adalah ikatan aqidah yang dibentuk melalui suatu
proses berpikir (aqidah aqliyah) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Hal inilah yang
disebut ikatan ideologis (mabda‟), yang didasarkan pada suatu ideologi.
Ideologi adalah keyakinan (aqidah) yang melahirkan suatu paket aturan dan sistem yang
mampu mengatur hidup manusia. Kepada aturan itulah manusia yang meyakininya akan
mengembalikan seluruh problem kehidupannya. Ikatan berdasarkan ideologi ini hanya
memandang aqidah, bukan yang lain. Perbedaan bangsa, warna kulit, ras, kekayaan,
kepentingan dan lainnya, bukanlah persoalan yang dapat menghalangi orang untuk saling
mengikatkan dirinya satu dengan yang lain. Jenis ikatan ini terletak pada orang-orang muslim,
kapitalis dan komunis. Namun jelas, Islam adalah satu-satunya ideologi yang benar, karena ia
adalah bukan hasil pemikiran manusia, namun semata-mata datang dari Sang Pencipta
manusia.
Setiap muslim yang mendambakan kebahagiaan dan kesejahteraan dalam Islam, maka
tidak ada pilihan lain dalam mengikatkan dirinya dengan orang lain, kecuali dengan ikatan
ideologi Islam. Ia harus berani mengubur habis ikatan-ikatan lainnya seperti nasionalisme,
sukuisme, rasisme, patriotisme, kepentingan, spiritual belaka, kapitalisme dan sosialisme yang
rusak (fasad). Ia harus senantiasa berpegangan pada dalil-dalil syara‘ yang melarang kaum
muslimin mengikatkan dirinya kecuali hanya pada ikatan mabda‟.
Rasulullah SAW bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami
orang-orang yang berperang karena ashabiyyah serta bukan dari golongan kami orang-orang yang mati
karena ashabiyyah.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Misykat Al Masabih Rasulullah bersabda:

”Dia yang menyeru pada ashabiyyah laksana orang yang menggigit kemaluan bapaknya.”

Walhasil, ikatan aqidah Islamlah yang harus dipegang oleh setiap muslim, sehingga
benar-benar umat Islam menjadi ummatan wahidah (umat yang satu), sebagaimana sabda
Rasulullah:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya bapak kalian adalah satu, ibu kalian juga satu. Setiap kalian
adalah anak Adam. Adam itu berasal dari tanah. Sesungguhnya tidak ada yang disebut orang Arab
diantara kalian karena faktor bapak atau ibunya, karena kearaban itu hanyalah ditentukan oleh faktor
bicaranya. Siapa saja yang berbicara dengan bahasa Arab, ia termasuk orang Arab”.


Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

79 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB SYAKHSHIYYAH

Definisi Syakhshiyyah
Istilah Syakhshiyah (kepribadian) dan Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) merupakan
istilah baru yang tidak ada dalam Al Qur'an maupun As Sunnah. Hal itu adalah lumrah karena
merupakan hal baru yang belum pernah ada pada masa Rasulullah SAW, shahabat bahkan
berabad-abad selama terwujudnya masyarakat Islam secara nyata. Namun ketika berbagai
produk budaya Barat makin merajalela di berbagai negeri kaum Muslimin saat ini; baik
produk-produk materi (al maadiyah) maupun nilai-nilai (al afkaar); maka pembahasan masalah
tersebut menjadi sangat penting dibicarakan.
Salah satu nilai yang tertanam dalam kehidupan kaum Muslimin saat ini adalah nilai-nilai
yang dikembangkan dalam bidang ilmu kejiwaan atau psikologi; antara lain tentang konsep
kepribadian manusia yang sangat ditentukan oleh berbagai standar. Para ahli Barat banyak
membicarakan konsep kepribadian dan nilai-nilai tinggi-rendahnya kepribadian tersebut.
Konsep mereka menyatakan bahwa tinggi rendahnya kepribadian seseorang ditentukan oleh
berbagai nilai seperti:
 nilai-nilai fisik (postur tubuh, cara berjalan, bentuk hidung, mata, letak tahi lalat, dsb.)
 nilai-nilai non-fisik (bentuk pakaian, warna kesukaan, makanan-minuman, saat kelahiran,
adat istiadat, dsb.)
 nilai-nilai genetik (orang tua pintar, seniman, dsb.)
 nilai-nilai ekternal lainnya (pendidikan, ekonomi, kondisi sosial-politik, dsb.).

Walhasil, nilai-nilai tersebut pun semakin mempengaruhi kaum Muslimin dalam
memandang kemuliaan dan kerendahan nilai kepribadian pada diri seseorang maupun
masyarakat. Seseorang yang berpakaian ala barat, santun dalam berkata, rapi, peduli
lingkungan, disiplin, pemaaf, tepat waktu; dikatakan berkepribadian baik, menarik dan mulia,
meskipun ia biasa mengkonsumsi minuman keras --meski tidak sampai mabuk, hidup tanpa
ikatan pernikahan seatap dengan pasangannya atas dasar suka sama suka, iapun memakan
uang riba dan hasil perjudian (legal maupun tidak), dan ia cukup datang ke tempat-tempat
ibadahnya pada saat-saat tertentu saja. Berbagai contoh lain tentang hal ini tentu mudah kita
dapatkan di masyarakat. Apalagi kini bermunculan 'sekolah kepribadian' yang mengajarkan
tentang 'kepribadian baik dan mulia' sesuai dengan nilai-nilai baik dan mulia menurut para
pengajarnya; yakni masyarakat Barat.
Memahami kondisi seperti inilah maka pemahaman tentang makna 'kepribadian' dan
'kepribadian Islam' menjadi sesuatu yang penting, agar kaum Muslimin memiliki sebuah
kepribadian yang benar, mulia dan kokoh yang dibangun diatas nilai-nilai Aqidah Islam
sebagaimana kepribadian Rasulullah SAW dan para shahabat yang mulia.

Kepribadian dan Kepribadian Islam
Siapapun yang mencermati realitas ini dengan baik, akan menemukan bahwa
sesungguhnya kepribadian bukanlah dinilai dari nilai-nilai fisik pada diri seseorang
(cantik/tidak, kaya/miskin, dsb.) juga bukan pada asal daerah dan suku (Jawa, Batak, Sunda),
kebiasaan atau keturunannya. Kepribadian sebenarnya adalah perwujudan dari pola
pikir/aqliyah (yakni bagaimana ia bersikap dan berpikir) dan pola tingkah laku/nafsiyah
(bagaimana ia bertingkah laku).
Pola pikir seseorang ditunjukkan dengan sikap, pandangan atau pemikiran yang ada
pada dirinya dalam menyikapi atau menanggapi berbagai pandangan dan pemikiran tertentu.
Pola pikir pada diri seseorang tentu sangat ditentukan oleh 'nilai paling dasar' atau ideologi
yang diyakininya. Dari pola pikir inilah bisa diketahui bagaimana sikap, pandangan atau
pemikiran yang dikembangkan oleh seseorang atau yang digunakannya dalam menanggapi
berbagai sikap, pandangan dan pemikiran yang ada di masyarakat sekitarnya. Misalnya,
seseorang akan mengembangkan suatu ide/konsep; seperti kebebasan, persamaan dan
kesetaraan, bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Begitu pula sebaliknya,
bila ideologinya melarang hal seperti itu.
Sedangkan pola tingkah laku/nafsiyah adalah perbuatan-perbuatan nyata yang
dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya (kebutuhan
biologis maupun naluriahnya). Pola tingkah laku pada diri seseorang pun sangat ditentukan
oleh 'nilai paling dasar' atau ideologi yang diyakininya. Seseorang akan makan-minum apa saja
dalam memenuhi kebutuhan biologisnya bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu.
Seseorang pun akan memuaskan naluri seksualnya dengan cara apa saja bila ideologi yang
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

80 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
diyakininya membolehkan hal itu. Dan ia pun akan mengatur aturan peribadahannya, tata
cara berpakaiannya, tata cara bergaul dan berakhlak sesuai dengan keinginannya, bila ideologi
yang diyakininya membolehkan hal itu. Begitu pula sebaliknya jika ideologi yang diyakini
melarangnya.
Walhasil, pola sikap dan pola tingkah laku inilah yang menentukan 'corak' kepribadian
seseorang. Dan karena pola sikap dan pola tingkah laku ini sangat ditentukan oleh nilai
dasar/ideologi yang diyakininya, maka 'corak' kepribadian seseorang memang sangat
bergantung kepada ideologi/aqidah yang dianutnya.
Ideologi/aqidah kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-
liberal. Ideologi sosialisme pasti akan membentuk kepribadian sosialisme-komunis.
Sedangkan ideologi/aqidah Islam seharusnya menjadikan kaum Muslimin yang memeluk dan
meyakininya, memiliki kepribadian Islam.
Dalam bahasa yang lebih praktis, kepribadian (syakhshiyah) terbentuk dari pola sikap
(aqliyah) dan pola tingkah laku (nafsiyah), yang kedua komponen tersebut terpancar dari
ideologi (aqidah) yang khas/ tertentu.
Dari sinilah maka ketika membahas tentang kepribadian Islam (Syakhshiyah
Islamiyah) berarti berbicara tentang sejauh mana seseorang memiliki pola pikir yang Islami
(Aqliyah Islamiyah) dan sejauh mana ia memiliki pola tingkah laku yang Islami (Nafsiyah
Islamiyah).
Aqliyah Islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila ia memiliki keyakinan
yang benar dan kokoh terhadap aqidah Islamiyah dan ia memiliki ilmu-ilmu ke-Islaman yang
cukup untuk bersikap terhadap berbagai ide, pandangan, konsep dan pemikiran yang ada di
masyarakat; dimana semua pandangan dan konsep tersebut distandarisasi dengan ilmu dan
nilai-nilai Islami.
Sedangkan Nafsiyah Islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila seseorang
menjadikan aturan-aturan Islam sebagai cara dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (makan,
minum, berpakaian, dsb.), maupun kebutuhan naluriahnya (beribadah, bergaul, bermasyarakat,
berketurunan, dsb.).
Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah
Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa
bersikap/berfikir atas dasar pola berfikir Islami dan orang-orang yang senantiasa memenuhi
kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan aturan Islam, tidak mengikuti hawa nafsunya
semata. Terlepas apakah ia memiliki syakhshiyah islamiyah yang kuat ataukah tidak, yang jelas
ia telah memiliki syakhshiyah/kepribadian Islam. Hanya saja perlu dipahami disini, bahwa
Islam tidak menganjurkan umatnya memiliki syakhshiyah Islamiyah sebatas ala kadarnya.
Islam membutuhkan orang-orang dengan syakhshiyah islamiyah yang kokoh; kuat aqidahnya,
tinggi tingkat pemikirannya dan tinggi pula tingkat ketaatannya terhadap ajaran Islam.

Metode Memperkuat Syakhshiyah Islamiyah
Upaya untuk memperkuat syakhshiyah islamiyah adalah dengan cara meningkatakan
aqliyah dan nafsiyah islamiyahnya. Meningkatkan kualitas aqliyah islamiyah adalah dengan
cara menambah khazanah ilmu-ilmu Islam (tsaqofah islamiyah); sebagimana dorongan Islam
bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu kapanpun dan dimanapun. Dengan ilmu Islam yang
cukup seorang Muslim akan mampu menangkal berbagai bentuk pemikiran yang merusak
dan bertentangan dengan Islam. Ia pun akan mampu mengembangkan ilmu-ilmu Islam
bahkan dapat menjadi seorang Mujtahid atau Mujaddid. Allah SWT mengajarkan do'a kepada
kita:

_·´¸ ¸,¯¸ _¸.:¸¸ !.l¸s ¸¸¸_¸
"Katakanlah: Ya Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku." [QS. Thaha: 114]

Adapun nafsiyah islamiyah dapat ditingkatkan dengan selalu melatih diri untuk berbuat
taat, terikat dengan aturan Islam dalam segala hal dan melaksanakan amalan-amalan ibadah,
baik yang wajib maupun yang sunah, serta membiasakan diri untuk meninggalkan yang
makruh dan syubhat apalagi yang haram. Islam pun menganjurkan agar kita senantiasa
berakhlak mulia, bersikap wara' dan qana'ah agar mampu menghilangkan kecenderungan yang
buruk dan bertentangan dengan Islam. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman:

" ... dan tidaklah bertaqarrub (beramal) seorang hambaku dengan sesuatu yang lebih aku sukai seperti bila
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

81 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
ia melakukan amalan fardlu yang Aku perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertaqarrub
kepada Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya." (HR Bukhari dari Abu
Hurairah)

Allah SWT juga berfirman:

¦¡1¸,.`.!· ¸,´¸¯,>l¦
"Maka berlomba-lombalah kamu dalam mengerjakan kebaikan." (QS Al Baqarah: 148)

Rasulullah SAW bersabda:

"Bagi seorang Muslim telah diwajibkan baginya bershodaqoh. Abu Musa bertanya: 'Bagaimana jika ia
tidak mendapatkan sesuatu untuk bershodaqoh?' Rasul menjawab: 'Ia harus berbuat dengan kedua
tangannya, yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya kemudian ia bershadaqoh' Bagaimana jika ia
tidak berbuat demikian?' tanya Abu Musa. Rasul menjawab: 'Ia harus menolong orang yang
membutuhkannya' Bila ia tidak mampu? Jawab Rasul: 'Ia harus beramar ma'ruf dan mengajak kepada
kebajikan'. Bagaimana bila ia tidak kuasa melakukan itu? Rasul menjawab: 'Menahan diri dari
keburukan (berbuat buruk) adalah shadaqah." (HR Bukhari dari Abu Musa)

Dengan cara inilah syakhshiyah islamiyah akan semakin meningkat terus; pemikiran
islamnya semakin cemerlang, jiwa islamnya semakin mantap dan istiqomah serta ia pun akan
semakin dekat dengan Allah SWT.
Perlu diwaspadai adanya kekeliruan yang sering muncul di kalangan kaum muslimin,
yaitu terkadang menggambarkan sosok pribadi Muslim sebagai 'sosok mulia tanpa cacat ibarat
malaikat'. Pandangan seperti ini salah dan bisa berbahaya karena seolah kepribadian Muslim
adalah hanya milik para Rasul dan tidak akan bisa diterapkan dalam realitas masyarakat.
Dengan demikian jelaslah bahwa pembentukan syakhshiyah islamiyah dimulai dengan
penetapan aqidah Islam pada diri seseorang. Kemudian aqidah tersebut difungsikan sebagai
tolok ukur (miqyas) dalam setiap aktivitas berfikir dan dalam setiap aktivitas pemenuhan
kebutuhan hidup. Dalam hal ini manusia tetap bisa berbuat salah dan maksiat, baik dalam
masalah pemikiran maupun perbuatan. Artinya, suatu saat manusia dapat saja berbuat dosa
dan lalai terhadap pemikiran maupun perbuatan yang Islami. Namun saat itu pula ia
diingatkan untuk segera bertaubat dan kembali berupaya berbuat baik, sebagaimana firman
Allah SWT:

_¸¸.]¦´¸ ¦:¸| ¦¡l-· «:¸>.· ¸¦ ¦¡.lL ¯¡'¸.±.¦ ¦¸`¸´: ´<¦ ¦¸`¸±-.`.!· ¯¡¸¸¸,¡..¸l
"(dan orang bertaqwa itu adalah).. yang jika berbuat dosa dan aniaya atas diri sendiri, ia segera ingat
Allah dan memohon ampun atas dosanya... " [QS. Ali Imron: 135]

Seorang yang memiliki syakhshiyah islamiyah yang tangguh akan tampil mulia di tengah
masyarakat dengan sifat-sifat khas dan unik. Dimana ia berada akan menjadi pusat perhatian
karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Allah SWT telah menggambarkan sosok-sosok
pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al Qur‘an, antara lain:

.´.>: `_¡.¯¸ ¸<¦ _¸¸.]¦´¸ .«-. ',¦´.¸:¦ _ls ¸¸!±>l¦ ',!´.-'¸ ¯¡'¸´.¸, ¯¡¸.¸. !´-´'¸ ¦´.´>.
¿¡-.¯,, ¸.· ´_¸. ¸<¦ !.´¡.¸¸´¸ ¯¡>!.,¸. _¸· ¸¸¸¸>¡`>`¸ _¸. ¸¸.¦ ¸:¡>´.l¦
"Muhammad itu rasul Allah dan orang-orang yang bersamanya (para shahabat) bersikap keras terhadap
orang-orang kafir tetapi saling berkasih sayang terhadap sesama mereka. Engkau melihat mereka ruku'
dan sujud mengharap karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka nampak pada muka
mereka dan bekas sujud." [QS Al Fath: 29]

Begitu pula sebagaimana yang tercantum pada QS At Taubah: 100, Al Mukminun: 1-11,
Al Furqon: 63-74, dsb.
Meski sifat khas kepribadian Islam itu tidak ada kaitannya dengan penampilan fisik
seseorang, namun Islam juga menganjurkan agar umatnya selalu menjaga penampilan fisik,
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

82 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
keindahan dan kebersihan; sebagaimana dalam hadits berikut:

"Jika kalian mengunjungi saudaramu maka perbaikilah kendaraanmu dan perindahlah pakaianmu,
sehingga seolah kalian bagaikan tahi lalat (kesan keindahan yang mudah dikenali) diantara manusia.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal-hal yang buruk." (HR Abu Dawud)

Islam telah menjadikan diri Rasulullah SAW dan para shahabatnya sebagai orang-orang
dengan kepribadian Islam yang paripurna dan kokoh, sebagai teladan tepat bagi seluruh kaum
Muslimin. Tidak ada contoh terbaik selain mereka dan orang-orang yang juga mencontoh
mereka. Karenanya seorang Muslim haram menjadikan kepribadian Barat sebagai teladan bagi
standarisasi kepribadian yang mulia dan kepribadian yang buruk.

Teladan Kepribadian Para Shahabat dan Tabi'in
Ciri khas syakhshiyah pada shahabat dan tabi'in berbeda-beda sesuai dengan tingkatan
ilmu, olah aqliyah, kemampuan hafalan Al Qur‘an dan hadits Rasul. Abu Ubaidah bin
Jarrah merupakan salah seorang shahabat yang demikian teguh keimanannya. Beliau pantas
menduduki jabatan Khalifah, sehingga Abu Bakar sendiri pernah mencalonkannya sebagai
Khalifah dan menunjuknya ketika terjadi musyawarah di Tsaqifah Bani Sa'idah. Hal ini
mengingat keahlian dan keamanahannya. Abu Ubaidah termasuk salah seorang shahabat
yang menguasai dan hafal seluruh Al Qur‘an. Beliau mempunyai sifat amanah sehingga
Rasulullah SAW memujinya.

"Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang terpercaya dan orang yang terpercaya dalam
ummatku adalah Abu Ubaidah." (HR Bukhari)

Selain itu Beliau memiliki sifat terpuji, lapang dada dan tawadlu'. Sangat tepatlah apabila
Khalifah Abu Bakar mengangkatnya sebagai pengelola Baitul Maal dan pada saat yang lain
beliau dipercaya sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam.
Di kalangan shahabat terkenal pula seorang dermawan bernama Thalhah bin Zubeir,
yang oleh Rasulullah SAW pernah dijuliki Thalhah bin Khair (Talhah yang baik) dalam
Perang Uhud. Karena kedermawanannya ia juga mendapat gelar-gelar lain yang serupa,
semisal Thalhah Fayyadl (Talhah yang pemurah) pada saat Perang Dzul 'Asyiroh, dalam
Perang Khaibar. Beliau sering menyembelih unta untuk dibagikan kepada rakyat dan selalu
menyediakan air untuk kepentingan umum. Beliau tak pernah lupa memenuhi kebutuhan
setiap orang faqir yang ada di sekeliling kaumnya (Bani Tim) dan selalu melunasi hutang-
hutang mereka. Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap nabi mempunyai hawariy (pendamping) dan hawariku adalah Zubeir." (HR Ahmad) dengan
isnad Hasan dalam "Al Musnad" jilid I/89, dan Al Hakim "Al Mustadrak", jilid III/462).

Beliau tidak pernah absen dalam setiap peperangan sejak masa Nabi SAW hingga masa
Khalifah Utsman bin Affan. Demikian tinggi semangat jihadnya sehingga dengan lapang
dada beliau menjual rumahnya untuk kepentingan jihad fi sabilillah.
Begitu pula dengan Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah seorang dermawan yang
memberikan sebagian besar hartanya untuk kepentingan jihad fi sabilillah, Az-Zuhri telah
meriwayatkan.

"Abdurrahman bin Auf menanggung seluruh ahli Madinah. 1/3 penduduknya diberi pinjaman, 1/3
lainnya membayar pinjamannya, sedangkan 1/3 sisanya diberikan sebagai pemberian." (Lihat "Siar
A'lam An Nubala", karangan Imam Adz Dzahabi jilid I/88)

Di antara shahabat yang mempunyai keahlian di bidang pemerintahan dan perencanaan
tata kota adalah Utbah bin Hazwan. Beliau diangkat oleh Umar bin Khaththab sebagai wali
sekaligus menata Kota Basrah. Ada pula shahabat yang terkenal ahli berpidato adalah Tsabit
bin Qo'is, Abdullah bin Rawabah, Hasan bin Tsabit dan Ka'ab bin Malik. Dan tidak
ketinggalan, shahabat Utsman bin Affan yang terkenal dengan sifat pemalunya, sampai-
sampai Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya malaikatpun merasa malu kepadanya."
Shahabat Khabab bin Mudzir, terkenal dengan kecermatan pendapatnya sehingga
digelari Dzir Ro'yi (intelektual).
Masih ada empat orang shahabat yang terkenal kecerdikannya, yaitu Mua'wiyah bin
Abu Sufyan yang memiliki jiwa tenang dan lapang dada, Amr bin Ash yang ahli
memecahkan masalah pelik dan cepat berfikirnya, Mughiroh bin Syu'bah yang mampu
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

83 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
memecahkan masalah besar dan genting, serta Ziyad yang ahli dalam menghadapi masalah
kecil maupun besar.
Selain itu di masa shahabat terdapat seorang shahabat yang mampu berbicara dalam
seratus bahasa yang tak tertandingi oleh bangsa atau umat manapun hingga kini. Beliau adalah
Abdullah bin Zubeir. Adapun shahabat Zaid bin Tsabit mempunyai keahlian dalam
bidang qadha/kehakiman dan fatwa. Shahabat yang ahli dalam masalah pengkajian kitab
Taurat adalah Abdullah bin Amr bin Ash dan Abil Jalad Al Jauli.
Beberapa contoh tersebut hanyalah beberapa dari syakhsiyah para sahabat. Tentunya masih
banyak lagi sahabat rasul yang bersyakhsiyah Islam dan mempunyai kemampuan yang tinggi
dalam keilmuannya. Semoga kita bisa meniru mereka atau setidaknya mendekati mereka.


Akhlaq Adalah Perintah Syara‟
Dari segi bahasa, khuluq (kata dasar akhlak) berarti sifat yang senantiasa nampak pada
tingkah laku dan telah menjadi tabi'at, sebagaimana firman Allah SWT:

¿¸| ¦..> ¸¸| _l> _,¸l¸¸¦ ¸¸__¸
"(Dien kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." [QS. Asy Syu'araa: 137]

Maksud kata khuluq dalam ayat ini adalah tabi'at manusia dahulu dengan adat
istiadatnya. Apabila tingkah lakunya baik maka dikatakan khuluqnya baik, begitu pula
sebaliknya bila tingkah lakunya buruk maka khuluqnya buruk. Tetapi menurut syara', khuluq
artinya Diin, sebagaiman firman-Nya:


,.¸|´¸ _l-l ¸_l> ¸¸,¸Ls ¸_¸
"Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." [QS. Al Qalam: 4]

Maksud kalimat khuluq di sini adalah Diin yang mulia, disebabkan seruan ayat ini
menunjukkan arti khuluq sebagai Din. Firman Allah SWT:


_ ¸¸l1l¦´¸ !.´¸ ¿¸`¸L`.¸ ¸¸¸ !. ¸.¦ ¸«.-¸.¸, ,¸,´¸ ¸¿¡`.>.¸, ¸_¸ ¿¸|´¸ ,l ¦´¸>¸ ´¸¯,s
¸¿¡`... ¸_¸ ,.¸|´¸ _l-l ¸_l> ¸¸,¸Ls ¸_¸ ¸¸.¯,..· ¿¸¸¸.¯,`,´¸ ¸_¸ `¡>¸¯,,!¸, `¿¡.±.l¦ ¸_¸
"Nun. Demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Rabbmu, kamu (Muhammad) sekali-kali
bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat.
Dan mereka (orang- orang kafir) pun melihat siapa diantara kamu yang gila." [QS. Al Qalam: 1-6]

Dalam pembahasan ini mereka menganggap bahwa risalah yang disampaikan oleh
Rasulullah SAW adalah 'gila'. Yang menjadi masalah (bagi kaum kafir Mekkah) sebenarnya
adalah Din/ajaran yang dibawa oleh Rasul, dan bukanlah sifat (tingkah laku) Nabi itu sendiri
(yang bertabiat baik, terpercaya,dsb) karena sebelum beliau diutus menjadi nabi pun orang-
orang Quraisy telah mengakui bahwa beliau adalah orang yang baik akhlak (tingkah laku)nya
sehingga beliau diberi gelar Al Amin (yang dipercaya). Oleh karena itu, arti khuluq dalam ayat
ini adalah Din/agama. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam tafsir Al Jalalain.
Berbicara tentang akhlak memang yang menjadi pokok bahasannya adalah tingkah laku,
perangai, budi pekerti atau moral. Akhlak juga merupakan perwujudan dari pemahaman
seseorang tentang tingkah laku. Masyarakat barat yang bebas dan sekuler memiliki tingkah
laku yang terbebas dari berbagai aturan karena pemahaman mereka tentang kehidupan
memang seperti itu. Kondisi tersebut tentu sangat berbeda dengan kondisi masyarakat Islam
yang segala pikiran dan tingkah lakunya selalu terkait dengan hukum syara' (Syariat Islam).
Hanya saja, harus dipahami bahwa pandangan Islam tentang 'akhlak' memang bersifat
khas, berbeda dengan pandangan masyarakat umumnya. Perbedaan itu dapat dipahami dari
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

84 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
beberapa konsep berikut ini.
1. Islam tidak hanya memahami akhlak dari segi tingkah laku dan sifat moral belaka, tetapi
akhlak merupakan salah satu dari berbagai hukum Islam. Artinya, ada hukum Allah yang
berkait dengan ibadah, (seperti shalat, shaum, zakat, haji dsb.); ada hukum yang berkait
dengan muamalah (seperti pernikahan, jual beli, syirkah, dsb.) dan ada pula hukum
tentang sifat-sifat tingkah laku (yakni akhlak).
2. Islam menentukan bahwa akhlak (yang baik atau buruk) tidak bisa ditentukan oleh
manusia sesuai realitas, perkembangan zaman, maupun suara mayoritas manusia semata.
Ini tentu berbeda dengan konsep moral dalam masyarakat sekarang, yang sangat
dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Akhlak merupakan bagian dari hukum syara' yang
bersifat tetap, memiliki nash dari sumber hukum Islam, wajib dilaksanakan oleh orang
yang beriman sebagai wujud ketaatannya kepada Allah SWT.
3. Sebagaimana aturan peribadahan, maka pelaksanaan aturan akhlak ini pun hanya
bertujuan untuk mendapat keridhoan Allah SWT, bukan sebatas untuk ketinggian
moralitas semata, dan bukan untuk mendapat gelaran-gelaran manusiawi semata.
4. Karena akhlak merupakan ketentuan Allah SWT maka adakalanya manusia menganggap
suatu akhlak itu baik (memberi kemaslahatan) padahal tingkah laku tersebut dibenci Allah
SWT; atau sebaliknya (misalnya bersikap tegas dan keras terhadap orang kafir, tidak iba
terhadap orang pelaku kejahatan, berbohong dalam beberapa kondisi, dsb).

Ayat-ayat Al Qur‘an dan hadits-hadits Rasulullah banyak yang mendorong manusia agar
memiliki sifat yang baik dan melarang manusia berakhlak buruk. Nash-nash syara' bahkan
menjelaskan sifat-sifat terpuji semisal jujur, amanah, iffah, menepati janji dsb. Walaupun
semua itu merupakan akhlak yang baik, nash-nash syara‘ juga menegaskan bahkan hal-hal
tersebut sebagai suatu hukum. Bahkan harus dilihat sebagai sebuah hukum syara (bukan
hanya sebagai sebuah penjelasan tentang sifat yang baik/buruk semata). Orang-orang yang
memiliki akhlak yang baik haruslah dinilai sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT. Kita
tidak boleh melihatnya hanya sebagai sifat-sifat moral, karena seorang muslim telah
diperintahkan untuk melaksanakan hukum-hukum syara‘ walaupun hukum-hukum itu berupa
akhlak/tingkah laku. Seorang muslim tidak diperintahkan untuk hanya memiliki sifat-sifat
moral semata. Hal ini disebabkan ukuran baik dan buruk hanya dinilai berdasarkan nash-nash syara‟
semata.
Allah SWT memerintahkan bersifat jujur dan melarang bersifat dusta, bukan hanya
berdasar karena sifat-sifat itu patut dicontoh, tetapi karena hal itu sudah merupakan hukum
syara. Sebagai bukti penguatnya adalah bahwa Allah SWT melarang seorang Muslim
'berbohong', namun Allah SWT membolehkan kita 'berbohong' di medan perang (tidak
berkata jujur pada musuh-peny). Jadi 'berbohong' disini merupakan sebuah hukum syara.
Allah pun memerintahkan bersikap keras terhadap orang kafir dan melarang seorang hakim
muslim untuk merasa iba atau kasihan terhadap seorang pelaku pidana. Seandainya perintah
Allah SWT, seperti berlaku jujur, melarang dusta, dsb. hanya semata-mata untuk tujuan sifat
khuluq/perilaku semata, maka berarti hukum dusta ini merupakan suatu hal yang tidak akan
berubah dalam berbagai keadaan bagaimanapun. Namun demikian, karena hal itu termasuk
bagian dari hukum syara' maka semua itu harus dilihat dari segi pelaksanaan perintah Allah
SWT. Jadi syara telah menetapkan hukum berdusta dalam keadaan tertentu haram dan dalam
keadaan lain diperbolehkan.
Karena itu, hukum-hukum syara' tidak boleh dijadikan hanya sekedar diambil sifat
akhlaknya saja (segi manfaatnya), melainkan harus diperlakukan sebagai sebuah perintah
hukum. Dengan kata lain perlu ditekankan bahwa ajakan kepada manusia untuk berakhlak
bukan hanya karena sifatnya saja, tetapi justru harus ditekankan bahwa hal itu termasuk
bagian dari hukum syara'.
Apabila seorang muslim bersikap jujur hanya semata-mata karena sifat jujur tersebut,
maka ia tidak akan mendapat ganjaran/pahala atas perbuatannya. Hal itu karena ia
mengerjakannya bukan berdasarkan hukum syara‘ tetapi hanya karena anggapan bahwa sifat
jujur tersebut dianggap memiliki kebaikan atau manfaat baginya.
Kaum muslimin perlu berhati-hati melakukan perbuatan dan tatkala mengajak orang lain
agar berakhlak mulia. Sebab bila mereka lalai dan tidak memperhatikan hal ini maka mereka
tidak dianggap melaksanakan hukum syara'. Lebih dari itu, hal ini dapat menjadikan
perbuatan mereka sama dengan orang kafir, karena orang-orang kafirpun mengajak bersikap
baik dan mereka menjalankan sifat-sifat yang dianggapnya luhur walaupun sudut pandang dan
motivasinya berbeda-beda. Atau bisa juga mereka (orang-orang kafir-peny) hanya melihat
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

85 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
sesuatu sifat dari segi manfaatnya semata. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin
memiliki akhlak mulia yang hanya dilandasi oleh keyakinan bahwa sifat-sifat akhlakiyah
merupakan perintah dan larangan Allah SWT, bukan didasari oleh hal-hal yang lain.

Akhlaq Baik dan Akhlak Buruk

Beberapa Contoh Akhlaq yang Mulia
Al Qur‘an dan As Sunnah telah banyak menggambarkan berbagai sifat akhlakiyah yang
harus menjadi panutan seorang Muslim, diantaranya:

1. Jujur dan menjauhi sifat dengki (hasad)
Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu akan
mengantarkannya ke surga. Dan seseorang yang senantiasa berkata benar dan jujur akan tercatat disisi
Allah sebagai orang yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan yang
akhirnya akan mengantarkannya ke neraka. Dan seseorang yang senantiasa berdusta, akan dicatat di sisi
Allah sebagai pendusta." (HR Bukhari dan Muslim)

"Hati-hatilah kamu sekalian terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad akan memakan seluruh
kebaikan sebagaimana api yang melahap habis kayu bakar." (HR Abu Dawud)

2. Menepati Janji
Allah SWT berfirman:

!¸¯,!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡·¸¦ ¸:¡1`-l!¸,
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah ikatan-ikatan perjanjian itu." [QS. Al Maidah: 1]

Ayat senada juga dapat dilihat pada QS Al Isra:34 dan An Nahl: 91.
Rasulullah SAW bersabda:

"Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga :jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan jika
diberi amanat ia berkhianat." (HR Muttafaq 'Alaih)

3. Suka Memaafkan
Allah SWT berfirman:

_¸¸.]¦ ¿¡1¸±.`, _¸· ¸,¦¯¸´.l¦ ¸,¦¯¸´.l¦´¸ _,¸.¸L.÷l¦´¸ 1,-l¦ _,¸·!-l¦´¸ ¸_s ¸_!.l¦ ´<¦´¸ ´¸¸>´
_,¸.¸.`>.l¦ ¸¸__¸
"..(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-
orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan." [QS. Ali Imran: 134]

Ayat senada dapat dilihat pada QS Asy Syura: 39-40, An Nur: 22, Al Fushilat: 34-35, dan
Al A'raf: 199.
Dalam sebuah hadits digambarkan bahwa suatu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada
Rasulullah SAW:

“Beritahu aku tentang keutamaan amal seseorang?” Rasulullah SAW menjawab: "Wahai Uqbah,
hubungkanlah kembali tali persaudaraan kepada siapa yang telah memutuskannya. Kasihilah orang yang
telah membencimu. Berpalinglah dari yang menzhalimimu" Dalam riwayat lain: "Berilah maaf kepada
mereka yang menzhalimimu." (HR Ahmad dan Thabrani)

4. Menjauhi Hal Yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya setengah dari kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

86 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
bermanfaat baginya." (HR Malik, Ahmad, Thabrani)

5. Menjauhi Perbuatan Menggunjing dan Adu Domba
Allah SWT berfirman:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¦¡,¸..>¦ ¦¸,¸.´ ´_¸. ¸´_Ll¦ ´_¸| ´_-, ¸´_Ll¦ '¸.¸| ¸´¸ ¦¡´.´.>´ ¸´¸ ¸.-,
¡>.-`, !´.-, ´¸¸>´¦ `¸é.>¦ ¿¦ _é!, ´¡`>l ¸«,¸>¦ !.,. :¡..>¸¸>·
" .. dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang kamu
memakan daging saudara sendiri yang telah mati? Maka tentu kamu merasa jijik akan hal itu." [QS. Al
Hujurat: 12]

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (HR Muttafaq„alaih)

6. Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya pada orang-orang kalangan Bani Israil, apabila salah seorang dari mereka melakukan
kesalahan (dosa), maka orang lain tidak mencegahnya. Sehingga pada pagi harinya mereka duduk, makan
dan minum seolah mereka tidak pernah melihat perbuatan dosa yang kemarin dilakukan. Melihat kondisi
mereka Allah mensifati hati mereka melalui lisan Daud dan Isa ibnu Maryam dengan mengatakan:
'Demikianlah itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas'(QS Al Baqarah:
61). Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaanNya, sungguh telah diperintahkan atasmu beramar
ma'ruf nahi munkar, mencabut kekuasaan orang jahat dan meluruskannya pada kebenaran, atau (bila
tidak demikian) Dia akan mencampakkan hatimu dan mengutukmu sebagaimana Ia mengutuk mereka
(Bani Isaril)." (HR Thabrani)

7. Menghormati Tamu
Rasulullah SAW bersabda:

"Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya.... Para Shahabat
bertanya: 'Selebihnya itu apa yaa Rasulullah?' Jawab Beliau : 'Siang dan malamnya serta menjamu tamu
selama tiga hari. Maka batas di luar itu termasuk sedekah." (HR Muttafaq 'alaih)

8. Menyebarkan Salam
Allah SWT berfirman:

!¸¸!., _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, ¸ ¦¡l>.. !´.¡`,, ´¸¯,s ¯¡÷¸.¡`,, _.> ¦¡´.¸·!.`.· ¦¡.¸l.·´¸ ´_ls !¸¸l>¦
¯¡>¸l: ¸¯,> ¯¡>l ¯¡>l-l _¸`¸´.. ¸__¸
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah orang lain sehingga kalian
mendapat izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya." [QS An Nur: 27]

Juga sabda Rasulullah SAW:

"Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan akan mendapatkan jalinan cinta
kasih? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian." (HR Muslim)

Salah seorang shahabat, Abdullah bin Umar, sering berkeliling di pasar. Suatu hari
seseorang datang dan bertanya kepadanya. 'Apa yang anda lakukan di pasar? Anda bukan seorang
pedagang, tidak juga membeli dagangan. anda juga tidak duduk dalam kepengurusan pasar, tetapi mengapa
Anda sering berada di pasar?' Ibnu Umar menjawab: 'Aku sengaja setiap pagi ke pasar hanya untuk
mengucapkan salam kepada Muslim yang aku temui." (HR Bukhari)

Demikianlah beberapa penjelasan ringkas tentang posisi akhlak dalam hukum Islam dan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

87 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
beberapa contoh akhlak yang diperintahkan Islam. Tentu masih banyak contoh lain tentang
akhlak yang terpuji dan tercela dalam pandangan Islam, yang dapat dipahami dalam berbagai
kitab tentang akhlak.


Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

88 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
MAFAHIM DAKWAH








¸¸`.¸, ¸<¦ ¸_.´.-¯¸l¦ ¸¸,¸>¯¸l¦


﴿ .s´¸ ´<¦ _¸¸.]¦ ¦¡`..¦´, `¸>.¸. ¦¡l¸.s´¸ ¸¸.>¸l.¯.l¦ `¸¸.±¸l>.`.´,l _¸· ¸_¯¸¸¦ !.é
¸l>.`.¦ _¸¸.]¦ _¸. ¯¡¸¸¸l¯,· ´_´.¸>´,`,l´¸ ¯¡> `¡·¸.,¸: _¸.]¦ _..¯¸¦ ¯¡> ¡·¸.l¸´.,`,l´¸ _¸. ¸.-,
¯¡¸¸¸·¯¡> !´..¦ _¸..¸.,-, ¸ _¡´¸¸:¸ _¸¸ !:,: _.´¸ ¸±é .-, ,¸l: ,¸¸.l`¸!· `¡>
¿¡1¸..±l¦ ﴾

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal
yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia
Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka
agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” [QS. An-Nuur: 55]






















Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

89 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
BAB DAKWAH

Definisi Dakwah
Dakwah menurut makna bahasa adalah seruan. Sedangkan menurut makna syar‟i,
dakwah adalah seruan kepada orang lain agar mengambil yang khoir (Islam), melakukan
kema‘rufan dan mencegah kemunkaran. Atau juga dapat didefinisikan dengan upaya untuk
merubah manusia –baik perasaan, pemikiran, maupun tingkah lakunya – dari jahiliyah ke
Islam, atau dari yang sudah Islam menjadi lebih kuat lagi Islamnya.
Kedua definisi syar‟i tersebut diambil dari hadits yang disampaikan Rasulullah Saw. :

“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan tangannya dan
jika dia tidak mampu, hendaknya mengubahnya dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu, hendaknya
mengubahnya dengan hatinya. Sesungguhnya hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Ahmad,
Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa‟i, Ibn Majah dari abi Sa‟id Al-Khudri)

Dan juga berdasarkan hadits Rasulullah Saw. yang lain :

“Demi zat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, kalian harus menyerukan kepada kemakrufan dan
mencegah dari kemungkaran, ataukah Allah Swt akan menurunkan siksa dari sisi-Nya kepada kalian,
sehingga ketika kalian berdo‟a, Dia tidak akan mengabulkan do‟a kalian.” (HR. At-Tirmidzi dari
Hudzaifah Al-Yaman)

Jadi, dengan definisi ―usaha mengubah keadaan‖ tersebut menjelaskan, bahwa
dakwah bukan sekedar seruan kepada orang lain agar melakukan kebaikan, melainkan harus
disertai dengan usaha untuk melakukan perubahan. Proses yang dilakukan dalam merubah
kondisi harus bersifat inqilabiyyah, yaitu perubahan yang dimulai dari asas, berupa perubahan
aqidah, bukan perubahan ishlahiyyah yang hanya sekedar perubahan dari kulitnya saja tanpa
menyentuh asasnya (aqidah).

Tujuan dan Arahan Dakwah
Sesuai dengan definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka tujuan dari aktivitas
dakwah Islam adalah mengubah keadaan yang tidak Islami menjadi Islami agar bisa
mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt.
Adapun secara rinci, tujuan dakwah dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Menyerukan kepada orang kafir agar memeluk Islam;
2. Menyerukan kepada orang Islam agar menerapkan hukum Islam secara sempurna;
3. Menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran, yang meliputi semua bentuk
kemakrufan dan semua bentuk kemungkaran, baik kemungkaran yang dilakukan oleh
pribadi, kelompok maupun negara. Juga meliputi kemakrufan yang diserukan kepada
pribadi, kelompok maupun negara.
Hal ini sesuai dengan yang ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya :

_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-.!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦ ,¸¸.l`¸¦´¸
`¡> _¡>¸l±.l¦ ¸¸¸_¸
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [QS.
Ali Imran: 104]




Sedangkan secara umum dakwah diarahkan kepada:
1. Mentauhidkan Allah Swt.
Melalui dakwah, ditanamkan dengan kuat kalimat laa ilaaha illa Allah yang berarti tidak
ada lagi yang patut disembah, ditakuti dan diharapkan keridhoannya melainkan Allah
SWT semata.
2. Menjadikan Islam sebagai Rahmat .
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

90 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Keimanan kepada Allah SWT tentunya harus membawa pada keyakinan dan
ketundukkan pada seluruh hukum dan syari‘at-Nya. Allah SWT berfirman:

!.´¸ ...l.¯¸¦ ¸¸| «.-¸ _,¸.l.-l¸l ¸¸¸_¸
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” [QS. Al Anbiya: 107]

Dengan demikian dakwah diarahkan untuk meyakinkan manusia bahwa hukum-hukum
Allah SWT saja yang akan mendatangkan rahmat bagi mereka. Sedangkan hukum-hukum
yang dibuat oleh manusia adalah bathil serta tidak dapat mendatangkan rahmat dan
kemaslahatan.
3. Menjadikan Islam sebagai Pedoman Hidup.
Dakwah ditujukan untuk menjadikan Islam sebagi pedoman hidup artinya adalah
mengajak manusia untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Karena Islam
mengatur seluruh aspek kehidupan, maka Islam hanya dapat dijadikan pedoman hidup
jika diterapkan secara kaffah dalam kehidupan.
4. Menggapai Ridho Allah SWT.
Seluruh amal yang dilakukan, termasuk dakwah, ditujukan untuk mendapatkan ridho
Allah SWT. Dengan demikian dakwah dilakukan dengan ikhlas lillahi ta‟ala dan sesuai
dengan tuntunan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Secara khusus, dengan mengkaji perjalanan dakwah Rasul SAW, dakwah diarahkan
untuk:
1. Membentuk kader yaang memiliki kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyah)
2. Membentuk jamaah yang membina kader dan memperjuangkan tegaknya daulah
Islamiyah.
3. Membentuk daulah Islamiyah yang menerapkan seluruh ajaran Islam.

Kewajiban Berdakwah

_:¦ _|¸| ¸_,¸,. ,¸,´¸ ¸«.>¸>'!¸, ¸«L¸s¯¡.l¦´¸ ¸«´..>'¦ ¸¸l¸..>´¸ _¸.l!¸, ´_¸> _.>¦
“Serulah manusia ke jalan Rabbmu (Allah) dengan jalan hikmah (hujjah) dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” [QS. An Nahl: 125]

¿¡`.¸.¡.l¦´¸ ¸..¸.¡.l¦´¸ ¯¡¸.-, ',!´,¸l¸¦ ¸_-, _¸'¸.!, ¸.¸`¸-.l!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦
_¡.,¸1`,´¸ :¡l¯.l¦ _¡.¡`,´¸ :¡´¸l¦ _¡`-,¸L`,´¸ ´<¦ .`«]¡.´¸´¸ ,¸¸.l`¸¦ `¡¸.-¸´,. ´<¦
¿¸| ´<¦ ¸,¸¸s '¸,¸>> ¸_¸¸
“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian
yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh
Allah dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. At Taubah: 71]

Dari ayat-ayat itu, jelas bahwa dakwah hukumnya wajib karena Allah berjanji akan
memberi rahmat kepada orang yang berdakwah. Hal ini merupakan indikasi (qarinah) yang
menunjukkan ketegasan perintah tersebut. Demikian pula qarinah yang tegas itu terlihat pada
sabda Rasulullah SAW:

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalian (memiliki dua pilihan, yaitu) benar-benar
memerintah berbuat ma‟ruf dan melarang berbuat munkar, ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari
sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdo‟a, maka do‟a itu tidak akan
dikabulkan.” (HR Tirmidzi)

―Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan
tangannya, dan apabila ia tidak mampu, maka hendaklah ia merubahnya dengan lisannya, dan apabila ia
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

91 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
tidak mampu, maka hendaklah merubahnya dengan hatinya. Dan sesungguhnya hal itu merupakan
selemah-lemahnya iman.‖ (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Turmidzi, An Nasaa‟i,
Ibnu Majah, dari Abi Sa‟id Al Khudri)

Seorang muslim yang bertaqwa, maka tentunya ia akan bersama-sama dengan kaum
muslimin yang lain memikul kewajiban dakwah ini. Bila tidak berarti ia ridho dengan
keadaan saudaranya – kaum muslimin – yang sedang terpuruk dan terhina, lebih dari itu di
akhirat Allah Swt menyediakan siksaan yang amat pedih sebagai balasan atas perbuatan yang
dipilihnya. Kewajiban dalam melakukan aktivitas dakwah ini dibedakan berdasarkan
perbedaan pelaku, yaitu :
1. Aktivitas dakwah pribadi
_.´¸ _.>¦ ¸¯¡· _´.¸. l.: _|¸| ¸<¦ _¸.s´¸ !´>¸l.. _!·´¸ _¸..¸| ´_¸. _,¸.¸l`..l¦ ¸__¸
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah,
mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang muslimin.”
[QS Fushshilat: 33]

Bentuk aktivitasnya bisa bersifat fisik dan non-fisik. Ini diambil dari aktivitas pribadi
Sa‘ad bin Abi Waqqash, ketika beliau dengan para sahabat lain sedang melaksanakan
shalat di sebuah lembah di Makkah, tiba-tiba orang Quraisy datang mencaci maki mereka,
beliau pun kemudian membunuh orang kafir tersebut dengan tulang unta. Ketika berita
pembunuhan yang dilakukan oleh Sa‘ad bin Abi Waqqash ini sampai kepada Rasululah
Saw, beliau tidak menegurnya.
2. Aktivitas dakwah kelompok atau jamaah
_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-.!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦ ,¸¸.l`¸¦´¸
`¡> _¡>¸l±.l¦ ¸¸¸_¸
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat (kelompok) yang mengajak kepada kebajikan
(Islam), memerintahkan kepada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang munkar dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Bentuk aktivitasnya tidak bisa berbentuk aktivitas yang lain, selain aktivitas bukan
fisik yaitu penyebaran pemikiran dan politik atau biasa disebut da‟wah fikriyyah wa
siyasiyyah. Sebab, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika melakukan aktivitas
dakwah berjamaah tidak pernah menunjukkan satu tindakan fisik pun untuk menentang
kezaliman yang dilakukan orang kafir Quraisy. Bahkan, ketika orang-orang Madinah
membai‘at beliau Saw. pada bai‘at Aqabah, mereka langsung meminta izin dari Nabi
untuk menyerang orang Quraisy, tetapi Nabi melarang mereka.
3. Aktivitas dakwah negara

“Rasulullah SAW (sebagai kepala negara) tidak pernah memerangi suatu kaum, melainkan sesudah
terlebih dahulu beliau menyampaikan dakwah Islam kepada mereka.” (HR Imam Ahmad)

Bentuk aktivitas negara adalah fisik dan pemikiran sekaligus. Caranya adalah dengan
melaksanakan semua hukum Islam, termasuk sanksi hukum kepada orang yang
melakukan pelanggaran atau penyimpangan terhadap hukum syara‟. Disamping itu, negara
hanya memberikan izin kepada setiap orang yang berada dalam wilayah nedara untuk
menyebarkan pemikiran Islam, baik yang dilakukan oleh prbadi, kelompok maupun
negara.

Teladan Dakwah Rasul
Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari kiamat tentunya memiliki
keyakinan bahwa setiap letupan hati, ucapan lisan dan perbuatannya akan ditanya oleh Allah
SWT di yaumil hisab nanti. Karenanya ia akan melakukan setiap perbuatan sesuai dengan
hukum syara‟, termasuk di dalamnya aktivitas mengemban dakwah.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

92 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Kehidupan Rasulullah SAW adalah kehidupan dakwah, yakni kehidupan mengemban
risalah Islam untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia secara kaffah serta perjuangan
menghadapi segala bentuk pemikiran kufur dan kehidupan jahiliah.

¯_· .¸:¸..> _¸l,¸,. ¦¡`s:¦ _|¸| ¸<¦ _ls ¸:´¸,¸., !.¦ ¸_.´¸ _¸.-,.¦ ´_.>¯,.´¸ ¸<¦ !.´¸ !.¦ ´_¸.
_,¸´¸¸:.l¦ ¸¸¸_¸
“Katakanlah: Inilah jalan (da‟wah)ku. Aku beserta orang-orang yang mengikutiku (yang) mengajak
kalian kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang
yang musyrik.” [QS Yusuf: 108]

Selama 23 tahun Rasulullah berjuang dengan sungguh-sungguh, tak kenal lelah,
berdakwah terus-menerus, mengajak manusia kepada Islam dengan dakwah fikriyyah, dakwah
siyasiyyah dan dakwah askariyyah.
Disebut dakwah fikriyyah karena beliau memulainya dengan menyebarkan aqidah,
pandangan hidup, pemikiran dan pemahaman Islam seraya mendobrak segala bentuk
pemikiran kufur, pandangan hidup sesat serta menghancurkan semua bentuk kepercayaan
(tradisi) jahiliyah. Disebut dakwah siyasiyyah karena di dalam dakwah ini beliau mengarahkan
umat pada terbentuknya suatu kekuatan sebagai pelindung dan pendukung agar Islam
menjadi rahmat dan tersebar ke seluruh dunia. Sedangkan dakwah askariyyah adalah dakwah
yang dilancarkan melalui strategi dan taktik dalam jihad fi sabilillah.
Rasulullah sukses dalam mengemban dakwah, membina dan membentuk masyarakat
Islam, mendirikan daulah serta menghimpun umat manusia yang sebelumnya terpecah belah
dalam bentuk berbagai qobilah menjadi umat yang satu di bawah panji Islam.
Kesuksesan Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah tentunya karena apa yang beliau
lakukan merupakan wahyu dari Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengetahui kebutuhan hamba-
Nya. Tidak ada satu pun perbuatan Rasulullah yang beliau kerjakan atas kehendak atau
keinginan beliau. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

¿¸| _¸,.¦ ¸¸| !. ´_-¡`, ´_|¸|
“Katakanlah: …. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” [QS. Al An‟aam:
50]

Ayat di atas bermakna bahwa Rasulullah SAW tidak akan melakukan suatu perbuatan
kecuali berdasarkan wahyu dari Allah SWT, dan agar manusia mengikuti apa yang
disampaikan Rasul kepada mereka. Sebagaimana firmannya di ayat yang lain:

!.´¸ `¡>..¦´, `_¡.¯¸l¦ :¸.`>· !.´¸ ¯¡>.¸. «.s ¦¡¸..!·
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah.” [QS. Al Hasyr: 7]

Pada dasarnya kesempurnaan dakwah yang hakiki sebagaimana yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW saat ini telah berhenti. Semenjak runtuhnya Daulah Khilafah, umat Islam
yang semula utuh dan bersatu sebagai ummatan wahidah, terkoyak-koyak menjadi berbagai
bangsa dan negara yang berdiri sendiri-sendiri. Penaklukan Islam (futuhat Islamiyah) yang
seharusnya terus berlanjut, kini terhenti total. Semua itu disebabkan tidak adanya Daulah
yang menyatukan umat. Sehingga Islam menjadi lemah padahal mulanya kekuatan Islam
sangat tangguh dan disegani oleh musuh-musuhnya.
Oleh karena itu umat Islam yang ingin bangkit harus menempuh jalan dakwah yang lurus
dengan metode (thoriqoh) yang benar dengan cara memahami perjalanan dakwah Rasulullah
secara keseluruhan. Dengan cara ini kejayaan Islam Insya Allah akan dapat dicapai untuk
kedua kalinya. Allah lah yang menurunkan agama ini sebagai dien al fitrah, maka Dia pulalah
yang mengokohkan dan memenangkannya dari musuh-musuh Islam, sekalipun mereka
berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkannya.
Dengan mengamati tahapan turunnya Al Qur‘an dan sebab-sebab turunnya Al Qur‘an,
maka akan dapat dipahami sirah dan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Dengan demikian
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

93 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
sangat jelas tergambar perbedaan aktivitas dakwah pada dua periode yaitu, periode dakwah di
Mekah dan di Madinah (di mana telah berdiri Negara Islam (Daulah Al Islamiyah)).

Periode Mekah
Dengan mengamati perjalanan dakwah di Mekah akan dapat dipahami bahwa
Rasulullah SAW berdakwah melalui dua tahapan (marhalah). Tahapan pertama adalah tahap
pembinaan dan pengkaderan sedangkan tahap kedua adalah tahap penyebaran dakwah secara
terang-terangan dan melakukan upaya perjuangan untuk tatanan baru sebuah masyarakat.
1. Tahap Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah Tatsqif)
Tahap ini dimulai sejak beliau SAW diutus menjadi Rasul, setelah firman Allah SWT:

!¸¸!., `¸¸.´..l¦ ¸¸¸ `¸· ¯¸¸..!· ¸_¸
“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!”(QS Al Muddatstsir: 1-2)

Beliau SAW secara diam-diam (sirriyah) mulai mengajak masyarakat untuk memeluk
Islam. Selama tiga tahun Beliau SAW menyampaikan dakwah dalam bentuk ajakan per
individu dari rumah ke rumah. Bagi yang menerima dakwah, segera dikumpulkan di
rumah seorang sahabat bernama Arqom, sehingga rumah tersebut dikenal sebagai Darul
Arqam (rumah Arqom). Di rumah ini setiap hari para sahabat mendengarkan ayat-ayat Al
Qur‘an dan penjelasannya dari Rasulullah SAW. Pendeknya di tempat inilah mereka
dibina dan dikader dengan sungguh-sungguh dan terus menerus. Selanjutnya beberapa
dari mereka diutus untuk menyampaikan dakwah kepada yang lain. Di antaranya adalah
Khabab bin Arts yang mengajarkan Al Qur‘an di rumah Fatimah binti Khaththab
bersama suaminya, yang kemudian dari sinilah Umar bin Khaththab masuk Islam.
Walaupun terasa lambat, namun semakin hari semakin bertambah jumlah mereka hingga
mencapai 40 orang dalam waktu tiga tahun.
Memang, dakwah pada marhalah ini dilakukan secara diam-diam, tetapi bukan berarti
Rasulullah takut melaksanakannya secara terang-terangan. Apakah ada yang meragukan
rasa yakin Rasulullah SAW bahwa dalam mengemban risalah dakwah ini pasti akan
mendapat perlindungan dari Allah SWT? Seandainya dakwah dilaksanakan secara terang-
terangan pun, insya Allah Rasulullah dijamin keselamatannya oleh Allah. Bila demikian,
mengapa Rasul melakukannya secara diam-diam?
Jika dikaji secara seksama, maka akan dapat dimengerti mengapa tahap awal dakwah
Rasulullah ini dilakukan secara sirriyah. Suatu konsepsi atau pemikiran yang masih asing
dan belum terfikirkan oleh masyarakat, hendaklah terlebih dahulu disampaikan secara
diam-diam dengan memperbanyak tatap muka dan penjelasan. Ternyata terbukti
kemudian, aktivitas seperti ini mampu menghasilkan kader dan pendukung tangguh yang
bersedia mengorbankan apapun untuk meraih cita-cita yang diharapkan. Maka, inilah
thariqoh yang tepat untuk mengawali dakwah di tengah-tengah masyarakat yang
menerapkan aturan jahiliyah, yang sama sekali jauh dari nilai-nilai Islam.
Berdasarkan langkah dakwah ini, jumhur (mayoritas) fuqoha berpendapat bahwa bila
kaum muslimin berada pada posisi lemah, rapuh kekuatannya dan khawatir hancur binasa
oleh kekuatan lawan, maka mereka harus memelihara diri dan agama mereka dengan cara
dakwah sirriyah. Sebaliknya apabila terdapat kemungkinan untuk berdakwah secara
zhahiriyah (terang-terangan), maka hal ini lebih utama karena seorang muslim tidak boleh
menyerah kepada kaum kafir atau zhalim dan tidak boleh berdiam diri tanpa berjihad
melawan orang-orang kafir.
Hal ini terbukti pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW pada pemulaan dakwah. Saat
bersama istrinya, yaitu Siti Khadijah, Rasulullah pernah diancam oleh Abu Jahal tatkala
shalat di depan Ka‘bah dan dengan terang-terangan mencela patung-patung berhala yang
disembah oleh orang-orang Arab. Ketika di Mina, Rasul bersama Ali bin Abi Thalib
menyampaikan kepada orang banyak bahwa suatu saat Kerajaan Romawi dan Persia akan
ditaklukan oleh Islam.
Menurut pensyarah hadits ini, apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para
pengikutnya yang masih berjumlah tiga orang itu adalah untuk menarik perhatian kaum
Quraisy agar berfikir tentang hakikat berhala yang dijadikan sebagai tuhan, sebagaimana
yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.
Dari hal tersebut dapat pula diketahui bahwa sejak awal dakwah Rasulullah SAW
bukanlah dakwah ruhiyah (kerohanian) semata, melainkan juga dakwah siyasiyah (politik).
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

94 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Karena tidak mungkin kerajaan Romawi dan Persia akan dapat ditaklukan tanpa niat dan
usaha kaum muslimin untuk memperoleh kekuasaan yang berdaulat, kekuasaan yang
mampu menggerakkan bala tentara untuk menghancurkan kedua kerajaan itu.

2. Tahapan Interaksi dengan Masyarakat dan Perjuangan (Marhalah Tafaa‟ul wal kiffah)
Pada tahap ini dakwah Rasulullah berubah dari sembunyi-sembunyi menjadi terang-
terangan. Dari aktivitas mengontak individu-individu untuk kemudian disiapkan menjadi
kutlah (kelompok) menjadi menyeru secara langsung dan terbuka kepada masyarakat
seluruhnya. Hal ini dilakukan setelah Rasulullah beserta para pengikutnya mendapat
perintah dari Allah:

_..!· !.¸, `¸.¡. `_¸¸s¦´¸ ¸_s _,¸´¸¸:.l¦ ¸__¸
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik.” [QS. Al Hijr: 94]

Sejak saat itu maka dimulailah benturan antara kekafiran dengan keimanan, dan
pertarungan antara pemikiran yang rusak dan bejat melawan pemikiran yang benar dan
suci. Benturan yang dahsyat pada tahapan dakwah ini segera mendapat reaksi keras dari
orang-orang kafir di Mekkah. Sehingga menimbulkan dampak berupa penyiksaan-
penyiksaan yang hebat dan datang secara bertubi-tubi. Pada tahap ini, para pengikut
Rasulullah SAW sunguh-sungguh diuji sampai sejauh mana kualitas keimanan mereka
setelah tiga tahun dibina kepribadiannya (syakhsiyah) di Darul Arqam.
Penyiksaan secara keji terhadap orang-orang yang memeluk Islam banyak terjadi.
Penyiksaan terhadap Bilal bin Rabah, keluarga Yasir, Khabab bin al Arts, Abu Dzar Al
Ghifari, Ibnu Mas‘ud, serta boikot yang dilakukan oleh kafir Quraisy terhadap kaum
muslimin hanyalah sedikit contoh dari ujian itu.
Di puncak penderitaan itu, Rasulullah SAW berharap ada orang kuat diantara
pengikutnya yang dapat melindungi dakwah. Harapan Rasulullah tidak sia-sia. Sayidina
Hamzah, paman Rasulullah yang sangat disegani, masuk Islam ketika melihat Muhammad
Rasulullah dianiaya dan dicaci maki oleh Abu Jahal. Ketika itulah Rasulullah SAW
berdo‘a: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Abu Jahal bin Hisyam atau dengan Umar bin
Khaththab.” Do‘a Rasulullah yang mengharapkan Umar bin Khaththab masuk Islam
menjadi pelajaran bahwa dakwah Islam, di manapun berkembangnya memerlukan
pendukung-pendukung yang kuat dari orang-orang memiliki pengaruh di hadapan
masyarakat.
Pelajaran lain dari peristiwa-peristiwa itu, bahwa penderitaan, ujian dan cobaan,
merupakan penguji iman untuk memisahkan antara yang haq dengan yang bathil.
Manakah pengikut Rasulullah yang tangguh dan sungguh-sungguh dan mana yang bukan.
Kisah-kisah ini sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi semua kaum muslimin untuk
tetap dapat istiqomah di jalan dakwah serta ikhlas menegakkan dienullah, meskipun
mendapat ancaman maut, dianiaya dan disiksa oleh penguasa yang zhalim. Pengorbanan
merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam setiap perjuangan dakwah.
Pada tahapan ini, dakwah Rasulullah lebih banyak menggugat mengenai aqidah, sistem
serta adat-istiadat jahiliyah orang-orang kafir Mekkah. Hal ini terlihat dari ayat-ayat
Makiyah yang pada umumnya mengajak manusia untuk memikirkan kejadian alam
semesta, agar meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Ayat-ayat tersebut adalah
sebagai berikut:

a). Dalam masalah aqidah, seperti tercantum dalam firman Allah SWT:

_!· !>¡·´¸.`. !.¸| !..>´¸ !.´,!,¦´, ´_ls ¸«.¦ !.¸|´¸ ´_ls ¡¸>¸¸..¦´, _¸..1¯. ¸__¸ ¤ _.·
¯¡l´¸¦ ¸>.:¸> _.>!¸, !´.¸. ¯¡..>´¸ ¸«,ls ¯_´´,!,¦´,
“….. orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-
bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.
(Rasul itu) berkata: “Apakah kamu akan mengikutinya juga sekalipun aku membawa untukmu
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

95 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
agama) yang lebih nyata memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu
menganutnya?”….” [QS. Az- Zukhruf: 23-24]

b). Bidang Sosial
Allah SWT berfirman:

¦:¸|´¸ ¸¸:, ¡>.>¦ _..¸!¸, _L .«¸>´¸ ¦´:´¡`.`. ´¡>´¸ ,¸¸L´ ¸__¸ _´¸´¡., ´_¸. ¸,¯¡1l¦ _¸.
¸,¡. !. ´¸¸:, .¸«¸, .«>¸..`,¦ _ls ¸_¡> ,¦ .«´.., _¸· ¸,¦´¸.l¦ ¸¦ ´,!. !. ¿¡.>>´
¸__¸
“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, merah padamlah
mukanya dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya berita
yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburnya dalam tanah. Ketahuilah, alangkah buruknya yang mereka tetapkan
itu.” [QS An Nahl: 58-59]

c). Bidang Ekonomi
Allah SWT berfirman:

_¸¸.]¦´¸ _¸`¸¸.>, ¸>.]¦ «.¸±l¦´¸ ¸´¸ !¸.¡1¸±.`, _¸· ¸_,¸,. ¸<¦ ¡>¸¸:,· ¸,¦.-¸,
¸¸,¸l¦
“Orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah,
beritahukanlah kepada mereka azab yang amat pedih.” (QS At Taubah: 34)

Aktivitas ini membuat para tokoh pemimpin kafir Quraisy berkumpul di Darun
Nadwah untuk merundingkan perilaku dan dakwah Rasulullah SAW yang telah
menyusahkan mereka serta mengguncang kepemimpinan mereka atas kaum Quraisy.
Kemudian dibuatlah isu bahwa Muhammad memiliki kata-kata yang menyihir, yang dapat
memisahkan seseorang dari istrinya, dari keluarganya, dan bahkan dari kaumnya. Akan
tetapi kemudian Allah SWT memberitahukan kepada Rasulullah SAW mengenai
persekongkolan ini dengan firman-Nya:

.«.¸| ¸>· ´¸´.·´¸ ¸¸_¸ _¸.1· ¸,´ ´¸´.· ¸¸_¸ ¯¡. _¸.· ¸,´ ´¸´.· ¸_¸¸ ¯¡. ¸L. ¸_¸¸ ¯¡. ´_,s
´¸.,´¸ ¸__¸ ¯¡. ¸,:¦ ´¸¸>.`.¦´¸ ¸__¸ _!1· ¿¸| ¦..> ¸¸| "¸>¬ `¸.¡`, ¸__¸ ¿¸| ¦..> ¸¸| `_¯¡·
¸¸:´,l¦ ¸__¸ ¸«,¸l.!. ¸1. ¸__¸
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Celakalah dia, bagaimanakah dia
menetapkan? Celakalah dia, bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, lalu dia
bermuka masam dan merengut. Dia lantas berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.
Selanjutnya dia berkata, “Al Qur‟an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang
dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam neraka
Saqar.” [QS. Al Muddatstsir: 18-26]

Tatkala para pemimpin Mekkah mengalami kejumudan dan mulai menyakiti Rasul
setelah paman beliau SAW, Abu Thalib wafat. Rasulullah berusaha mencari pendukung
ke kota Tha‘if. Tetapi usaha beliau tidak berhasil bahkan disambut dengan penghinaan
dan lemparan batu.
Rasul juga menyeru para pemuka qabilah-qabilah Arab. Beliau berkata kepada mereka,
―Ya Bani fulan! Saya adalah utusan Allah bagi kalian, dan menyeru kepada kalian untuk
beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, dan agar kalian meninggalkan apa
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

96 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
yang kalian sembah, agar kalian beriman kepadaku dan percaya kepadaku, dan agar kalian
membela dan melindungiku, sehingga aku bisa menjelaskan apa yang telah disampaikan
Allah kepadaku.‖
Dalam Sirah Ibnu Hisyam diriwayatkan, ―Zuhri menceritakan bahwa Rasulullah SAW
mendatangi secara pribadi Bani Kindah, akan tetapi mereka menolak beliau. Beliau juga
mendatangi Bani Kalban akan tetapi mereka menolak. Beliau juga mendatangi Bani
Hanifah, dan meminta kepada mereka pertolongan (nushroh) dan kekuatan, namun tidak
ada orang Arab yang lebih keji penolakannya terhadap beliau kecuali Bani Hanifah. Beliau
juga mendatangi Bani ‗Amir bin Sha‘sha‘ah, mendo‘akan mereka kepada Allah dan
meminta kepada mereka secara pribadi. Kemudian berkatalah seorang laki-laki dari
mereka yang bernama Baiharah bin Firas, “Demi Allah, seandainya aku mengabulkan pemuda
Quraisy ini, sungguh orang Arab akan murka.” Kemudian ia berkata, “Apa pendapatmu, jika
kami membai‟atmu atas urusan kamu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang
menyelisihimu, apakah kami akan diberi kekuasaan setelah engkau? Rasulullah SAW berkata
kepadanya, “Urusan (kekuasaan) itu hanyalah milik Allah, yang Ia berikan kepada siapa saja yang
Dia kehendaki.” Baiharah berkata, “Apakah kami menyerahkan leher-leher kami kepada orang
Arab, padahal jika Allah memenangkan kamu, urusan (kekuasaan) itu bukan untuk kami. Kami
tidak butuh urusanmu.”
Beliau SAW selain aktif mendakwahi qabilah-qabilah di sekitar Mekkah, beliau juga
mendatangi qabilah-qabilah di luar Mekkah yang datang tiap tahun ke Mekkah, baik
untuk berdagang maupun untuk mengunjungi Ka‘bah, di jalan-jalan, pasar Ukadz, dan
Mina. Sampai suatu ketika pada musim haji, datanglah serombongan orang dari suku Aus
dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Kesempatan ini digunakan oleh Rasulullah SAW
untuk menyampaikan dakwah. Ketika rombongan ini mendengar ajakan Rasul, satu sama
lain saling berpandanngan sambil berkata:“Demi Allah, dia ini seorang nabi seperti yang
dianjurkan orang-orang Yahudi kepada kami.”
Kemudian mereka menerima dakwah Rasulullah SAW sambil berkata:

“Kami tinggalkan kaum kami disana dan tidak ada pertentanngan serta permusuhan antara kaum
kami dengan kaum yang lain, mudah-mudahan Allah SWT mempertemukan mereka denganmu.
Kami akan sampaikan berita ini kepada mereka, dan bila Allah mempertemukan mereka denganmu
dan menerima dakwahmu, maka tidak ada lagi orang yang paling mulia darimu.” (Sirah Ibnu
Hisyam 1: 428)

Tatkala tahun berikutnya tiba dan musim haji datang, dua belas orang laki-laki dari
penduduk Madinah bertemu dengan Rasulullah SAW di ‗Aqabah. Mereka berbai‘at
kepada Rasulullah SAW yang dikenal dengan Bai‟atul „Aqabah I. Isi bai‘at tersebut
adalah:

“Tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzinah dan tidak membunuh anak-anak kecil,
tidak berbohong serta tidak menentang Rasulullah dalam perbuatan ma‟ruf.” (HR Bukhari).

Setelah bai‘at itu, mereka kembali ke Madinah bersama utusan Rasul, yaitu Mush‘ab
bin Umair untuk mengajarkan Al Qur‘an dan hukum agama. Pada tahun berikutnya,
Mush‘ab bin Umair kembali ke Mekkah bersama tujuh puluh lima orang Madinah yang
telah masuk Islam. Dua diantaranya adalah wanita dan mereka membai‘at Rasulullah
SAW. Bai‘at ini dinamakan Bai‟atul „Aqabah II. Selesai melakukan bai‘at, Rasulullah
menunjuk dua belas orang untuk menjadi pemimpin masing-masing qabilah mereka.
Abbas bin Ubadah, salah seorang dari mereka berkata kepada Rasulullah:

“Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bila engkau mengizinkan, kami akan perangi
penduduk Mina besok pagi dengan pedang-pedang kami.”

Jawab Rasulullah:

“Kita belum diperintahkan untuk itu, dan lebih baik kembalilah ke kendaraanmu masing-masing.”
(Sirah Al Halabiah II: 176)

Jelas bahwa sebelum hijrah ke Madinah dan membangun Daulah di Madinah,
kewajiban berjihad di dalam Islam belum diperintahkan. Dengan demikian dapat diketahui
bahwa dakwah Rasulullah dalam periode Mekkah adalah dakwah dalam rangka
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

97 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
memperkenalkan Islam melalui dakwah fikriyyah kemudian membina umat, mengatur barisan
dan menyusun kekuatan untuk kemudian Hijrah ke Madinah.

Periode Madinah
Hijrahnya kaum muslimin ke Madinah adalah sebagai awal mula marhalah dakwah
ketiga, yaitu Marhalah Tathbiq Al Ahkaam Al Islam (penerapan Syari‘at Islam). Hal ini ditandai
dengan didirikannya Daulah Islamiyah sebagai pelaksana hukum Islam dan sebagai
pengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan jihad.
Adapun tahapan ketiga ini dimulai dengan tibanya Rasulullah di Madinah melalui
peristiwa hijrah Rasulullah pada tahun 622 M bersama Abu Bakar. Sesampainya di Madinah,
Rasulullah SAW melakukan aktivitas sebagai berikut:
1. Membangun Masjid
Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat membangun mesjid. Pembangunan
mesjid mempunyai arti yang sangat penting bagi pembangunan masyarakat Islam yang
terdiri dari individu-individu muslim yang senantiasa berpegang teguh kepada aqidah dan
syari‘at Islam.
Rasulullah SAW menjadikan mesjid tidak hanya sebagai tempat shalat, melainkan juga
sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, membina ukhuwah dan ‗aqidah Islam serta
mengatur berbagai persoalan kaum muslimin sekaligus memutuskan hukum di antara
mereka.
2. Membina Ukhuwah Islamiyah
Aktivitas selanjutnya yang dilakukan Rasulullah SAW adalah mempersaudarakan antara
Anshar dan Muhajirin. Persaudaraan yang digambarkan oleh Rasulullah ibarat satu tubuh,
bila salah satu anggota tubuh tertimpa sakit maka seluruh tubuhnya merasakan sakit.
Persaudaraan yang mendarah daging mengalir dalam tubuh setiap umat sehingga lenyap
sama sekali segala bentuk fanatisme golongan, suku bangsa dan ras.
Rasulullah mempersaudarakan Bilal yang berkulit hitam dari Afrika dengan Abu
Ruwaim Al Khutsa‘mi, Salman Al Farisi dari Parsi dengan Mush‘ab bin Umair dan lain
sebagainya. Persaudaraan ini tidak hanya sampai batas mewarisi harta bahkan isteri (saat
itu belum ada larangannya), sebagaimana yang terjadi antara Sa‘ad bin Rabi dari kaum
Anshar dengan Abdurrahman bin ‗Auf dari kaum Muhajirin, sehingga kata Sa‘ad bin Rabi.

“Aku adalah orang Anshar yang paling kaya, inilah hartaku, aku bagikan antara kita berdua. Aku
punya dua isteri, kuceraikan seorang dan kawinilah olehmu.” (sirah Al Halabiyah II: 292)

Persaudaraan dengan ikatan Aqidah Islamiyah ini semakin bertambah kokoh setelah
dinaungi sebuah Daulah dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW yang menerapkan
Sistem Islam.

3. Menyusun Piagam Perjanjian
Setelah Islam datang dan terbentuk masyarakat Islam di Madinah, gambaran dan pola
hubungan antara masyarakat Yahudi dan Islam semakin tampak perbedaanya. Oleh karena
itu harus ada kebijakan hukum yang mengatur hubungan mereka dengan kaum muslimin.
Rasulullah SAW kemudian membuat perjanjian (piagam Madinah). Istilah sekarang
disebut Undang-Undang Dasar yang berfungsi sebagai suatu manhaj (jalan atau strategi
pengamanan) dalam mengatur atau membuat batasan-batasan yang menyangkut interaksi
antara qabilah-qabilah Yahudi dan kaum muslimin. Lebih dari itu isi perjanjian mencakup
pula hubungan negara dengan masyarakat atau antara masyarakat dengan negara. Dr.
Musthafa Asy Siba‟i dalam bukunya “Siroh Nabawiyyah, Duruus wal Ibrar” mengemukakan
pokok-pokok isi perjanjian tersebut berikut ini:
a. Kesatuan umat Islam tanpa mengenal perbedaan suku, bangsa dan ras.
b. Persamaan hak dan kewajiban bagi seluruh warga masyarakat.
c. Gotong-royong dalam segala hal yang bukan untuk kedzaliman, dosa dan permusuhan.
d. Kompak dalam menentukan hubungan dengan musuh-musuh Islam.
e. Membangun suatu masyarakat dalam suatu sistem yang sebaik-baiknya.
f. Melawan orang-orang yang menentang negara dan membangkang sistemnya.
g. Melindungi orang yang ingin hidup berdampingan dengan orang Islam dan tidak boleh
berbuat dzholim kepadanya.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

98 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
h. Umat non-Islam bebas melaksanakan agamanya, dan tidak boleh dipaksa umat Islam
serta tidak diganggu harta bendanya.
i. Umat non-Islam harus ambil bagian dalam pembiayaan negara sebagaimana umat
Islam.
j. Umat non-Islam harus saling membantu dengan umat Islam untuk menolak bahaya
yang akan mengancam negara.
k. Umat non-Islam harus ikut membiayai perang apabila negara dalam keadaan perang
dengan negara lain.
l. Umat Islam dan non-Islam tidak boleh melindungi musuh negara dan orang-orang
yang memusuhi negara.
m. Warga negara bebas keluar masuk negara selama tidak merugikan negara.
n. Ikatan sesama anggota masyarakat didasarkan prinsip tolong menolong untuk kebaikan
dan ketaqwaan tidak atas dosa dan aniaya.
o. Dasar-dasar tersebut ditunjang oleh dua kekuatan. Kekuatan ruh (spiritual) yaitu
imannya kepada Allah, keyakinan akan pengawasan dan perlindungan Allah bagi orang
yang berbuat baik dan konsekuen. Begitu pula jika ditunjang oleh kekuatan materi/fisik
yaitu kepemimpinan negara yang dipimpin oleh Rasulullah SAW.
4. Strategi Politik dan Militer
Dalam rangka menyebarkan dakwah Islam ke luar negeri Madinah, sekaligus
mengumumkan kepada bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain mengenai berdirinya Daulah
Islamiyah. Maka diambil beberapa langkah lanjutan sebagai berikut:
a. Mengirim surat kepada kepala-kepala negara/kerajaan, pimpinan qabilah/suku yang ada
di sekitar jazirah Arab.
b. Memaklumkan perang kepada orang-orang yang menantang dakwah Islam.
c. Memerangi qabilah-qabilah yang mengkhianati perjanjian perdamaian bersama kaum
muslimin.
d. Menjadikan daulah Islamiyah sebagai satu kekuatan yang disegani dan ditakuti lawan-
lawannya.

Mengikuti langkah-langkah dakwah Rasulullah sejak periode Mekah hingga Madinah dapat
disimpulkan bahwa pada periode Mekah, beliau lebih bersikap sebagai seorang da‘i,
muballigh, imam dan sekaligus sebagai tokoh politik dan pemimpin jamaah kaum muslimin.
Sedangkan dalam periode Madinah, beliau bukan hanya sebagai seorang Rasul, tetapi juga
sebagai kepala negara di dalam pemerintahan Daulah Islamiyah.
Keberhasilan para da‘i penerus risalah dakwah sangat ditentukan oleh sejauh mana
kesetiaannya mengikuti jejak langkah dakwah Rasulullah. Mudah-mudahan kita senantiasa
dianugerahi taufiq dan hidayah dari-Nya dalam menegakkan Islam di bumi Allah ini.

Merapatkan Barisan Dakwah
Jika kita melihat kondisi kaum muslimin dan Islam saat ini, akan kita dapati bahwa
Islam tidak lagi menjadi sebuah tubuh yang utuh apalagi sempurna. Jangankan untuk menjadi
rahmatan lil alamin, untuk menjadi rahmatan lil muslimin pun sangat sulit dilihat faktanya.
Banyak di antara kaum muslimin di berbagai belahan dunia saat ini dalam keadaan menderita,
baik karena bencana alam, peperangan maupun ketertindasan. Bahkan banyak di antaranya
berada pada deretan negara miskin.
Untuk mewujudkan Islam sebagai sebuah rahmatan lil alamin, tidak bisa tidak Islam
harus dilaksanakan secara kaffah. Ini merupakan suatu kewajiban. Allah SWT berfirman: “
Dan masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah”. Kekaffahan Islam hanya akan terjadi apabila
semua obyek dikenai hukum, yaitu individu yang bertaqwa, masyarakat yang islami sebagai
kontrol sosial pelaksanaan syariat Islam serta negara yang melaksanakan dan melindungi
penerapan syariat Islam ada.
Pada saat ini, penerapan hukum Islam terhadap ketiga obyek di atas tidak terlaksana
dengan sempurna, terlebih lagi dalam hal ini negara yang menerapkan Islam. Untuk itulah
dakwah menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap Muslim.
Untuk mendakwahi seorang individu, hanya dengan seorang pengemban dakwah saja
sudah cukup. Namun untuk mendakwahi sebuah masyarakat apalagi untuk mewujudkan
sebuah negara yang menerapkan syariat Islam, sangat tidak mungkin apabila hanya
dilaksanakan seorang diri. Tidak bisa tidak haruslah dilakukan dengan cara berjamaah. Sebuah
kaidah syara‘ menyebutkan ”apabila suatu kewajiban tidak terlaksana tanpa adanya sesuatu, maka
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

99 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
sesuatu itu wajib adanya”. Demikian juga perwujudan syariat Islam tidak akan bisa kaffah tanpa
adanya jamaah dakwah, maka keberadaan jamaah dakwah adalah wajib.

Kewajiban Dakwah Berjamaah

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah
kepada kemunkaran. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imron: 104)

Ayat tersebut mengisyaratkan tentang sebuah kewajiban adanya kelompok atau
jamaah yang berdakwah untuk menyeru kepada yang ma‘ruf dan mencegah kepada yang
munkar. Lafadz ummah pada ayat di atas, tidak membatasi jumlah jamaah atau kelompok atau
gerakan Islam, walaupun ayat tersebut menyebutkan agar kaum muslimin membentuk suatu
jamaah yang melaksanakan tugas dakwah.
Seandainya telah terbentuk sebuah jamaah, maka kewajiban tersebut tidak lagi
dibebankan kepada yang lain. Dengan demikian apabila telah terbentuk sebuah jamaah, maka
tujuan dari ayat tersebut sudah terlaksana sehingga tidak ada kewajiban untuk membentuk
yang lain. Jika ternyata muncul jamaah yang kedua, maka pembentukan itu pada dasarnya
hukumnya adalah mubah. Dengan demikian, adanya suatu jamaah yang ber-amar ma‟ruf nahi
munkar adalah sebuah fardlu kifayah.
Namun selama ini fardlu kifayah hanya dipahami sebagai sebuah kewajiban yang
apabila telah dilaksanakan oleh seseorang atau suatu kelompok, maka fardlu itu telah gugur.
Padahal fardlu kifayah hanya akan gugur sebagai sebuah fardlu yakni apabila sesuatu yang
dibebankan tersebut sudah dilaksanakan dengan tuntas atau sempurna. Jika kewajiban yang
dibebankan tersebut belum tuntas dilaksanakan, maka seluruh umat Islam tetap terbebani
fardlu tersebut hingga fardlu itu sempurna dilaksanakan.
Demikian juga beban untuk mewujudkan terlaksananya syariat Islam mulai dari
individu hingga negara. Beban ini tidak akan hilang hingga terwujudnya sebuah institusi
negara yang menerapkan Islam serta memelihara dan melindungi pelaksanaan syariat Islam,
baik oleh individu maupun negara.

Kelompok Da’wah dalam Islam
Kelompok da‘wah dalam Islam sering disebut sebagai gerakan Islam. Gerakan dalam
bahasa arab adalah harokah. Harokah berasal dari akar kata taharruk yang artinya bergerak.
Istilah tersebut kemudian diartikan sebagai sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang
tertentu serta mempunyai target tertentu, dengan menempuh suatu metode yang telah
ditetapkan oleh gerakan tersebut, terlepas apapun bentuk dari gerakannya. Dengan demikian
sebuah kelompok dapat disebut sebagai sebuah gerakan apabila:
1. Mempunyai landasan tertentu.
2. Mempunyai tujuan atau target yang telah ditetapkan.
3. Mempunyai metode untuk meraih target.
Syarat gerakan di atas adalah umum bagi setiap gerakan. Sebagai contoh gerakan
sosial seperti panti asuhan akan mempunyai landasan tersendiri, dengan target membantu
anak yatim, piatu dan anak-anak dari keluarga tidak mampu dengan metode tertentu yang
telah dirumuskan, misalnya dengan mencari sumbangan dan sebagainya. Demikian juga ketika
suatu kelompok menamakan organisasinya sebagai gerakan/harokah Islam. Maka yang
menjadi syarat bagi kelompok tersebut adalah:
1. Terdiri dari orang-orang Islam.
2. Menggunakan Islam sebagai landasan dalam merumuskan target dan metode.
3. Mempunyai target terlaksananya syariat Islam.
4. Mempunyai metode yang sesuai dengan Islam, yaitu harus sesuai dengan metode
Rasulullah dalam berdakwah untuk menegakkan Islam di muka bumi.

Target Kelompok Dakwah
Saat ini cukup banyak terdapat harokah-harokah Islam di muka bumi. Dari berbagai
harokah yang ada saat ini, ada yang bersifat lokal dalam suatu negara, misalnya
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Persis, ada juga yang bersifat Internasional, seperti
Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan Jamaah Salafiyah. Masing-masing
gerakan ini mempunyai tujuan spesifik. Tujuan dari setiap harokah ini tentunya sangat
mempengaruhi metode dari harokah tersebut untuk mencapai target.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

100 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Apabila diamati banyaknya harokah da‘wah saat ini, setidaknya ada tiga kategori
harokah da‘wah dilihat dari target yang hendak dicapainya. Ketiga target tersebut adalah:

1. Gerakan yang Memperhatikan Kepentingan Individu.
Target semacam ini banyak dianut oleh perkumpulan Tarekat dan Sufi. Menurut
kelompok ini, kemenangan dan keselamatan di akhirat adalah target utamanya. Dari sinilah
mereka mulai melakukan aktivitas-aktivitas rohani untuk mencapai target tersebut, salah
satunya adalah dengan ber-uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat. Jamaah ini
menganggap bahwa salah satu cara untuk menyelamatkan diri dari kesesatan ketika
keadaan masyarakat sudah mengalami kerusakan adalah dengan cara mengasingkan diri.
Mereka memahami hal ini dari firman Allah:


“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tidaklah orang sesat itu akan memberi madlarat
kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.…” (QS Al Maidah: 105)

Maksud yang sebenarnya dari ayat ini adalah menunjukkan bahwa apabila Allah telah
memberi petunjuk kepada seseorang, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkan.
Ayat ini sama sekali tidak memerintahkan orang untuk mengasingkan diri, dan melarang
manusia untuk ber-amar ma‟ruf nahi munkar.

2. Target Memperbaiki Aqidah dan Akhlak Individu.
Gerakan yang mempunyai target demikian sebenarnya mempunyai keinginan untuk
memperbaiki masyarakat. Gerakan ini berpendapat bahwa masyarakat adalah sekumpulan
individu yang di dalamnya terjadi interaksi. Dengan demikian baik buruk suatu masyarakat
akan ditentukan oleh baik buruk individu yang ada di masyarakat tersebut.
Atas dasar pandangan ini gerakan tersebut menjadikan individu sebagai dasar utama
untuk perubahan masyarakat. Dari pemahaman tersebut, gerakan ini mulai mencoba
memperbaiki individu dengan perbaikan aqidah dan akhlaknya sehingga dapat menjaga
interaksi di antara individu di dalamnya agar tetap berjalan lancar tanpa ada masalah.
Pandangan mereka terhadap definisi masyarakat ini sebenarnya adalah suatu kekeliruan.
Dari pandangan tersebut, justru yang akan terbentuk cenderung sebuah jamaah yang
terdiri dari orang-orang yang beraqidah dan berakhlak baik, bukan sebuah masyarakat.
Padahal seharusnya sebuah masyarakat tidak hanya terdiri dari banyak individu yang
saling berinteraksi, namun juga terdapat sebuah peraturan yang sama yang mengatur
interaksi tersebut, serta individu-individu yang ada di dalamnya mempunyai pandangan
yang sama terhadap suatu ke-mashlahat-an maupun ke-mudlarat-an, baik individu itu muslim
maupun non-muslim.

3. Target Memperbaiki Masyarakat.
Kelompok Organisasi ketiga ini mempunyai pandangan bahwa masyarakat adalah suatu
kumpulan individu yang di dalamnya terdapat suatu interaksi. Di dalam interaksi itu
terdapat suatu aturan yang sama yang mengaturnya. Selain itu interaksi tersebut juga
disatukan oleh perasaan dan pemikiran yang sama terhadap suatu kemashlahatan dan
kemudlaratan sehingga pandangan mereka terhadap kemashlahatan dan kemudlaratan
sama.
Menurut kelompok ketiga ini, rusaknya masyarakat terlihat dari interaksi yang ada di
dalam masyarakat tersebut. Hal ini berarti juga rusaknya perasaan, pemikiran serta
peraturan yang mengatur interaksi tersebut serta rusaknya pandangan masyarakat tentang
hal yang dianggap mashlahat atau madlarat. Untuk itu dalam memperbaiki masyarakat
haruslah diperbaiki perasaan, pemikiran serta peraturan yang mengatur interaksi tersebut.

Dari ketiga macam target tersebut, manakah yang seharusnya menjadi target dari
sebuah harokah? Dalam surat Ali Imron ayat 104, Allah telah menyebutkan bahwa aktifitas
suatu jamaah seharusnya adalah amar ma‟ruf nahi munkar. Kemunkaran yang terbesar saat ini
adalah tidak dilaksanakaannya hukum Islam secara kaffah. Dan kekaffahan hukum Islam itu
hanyalah dapat terwujud dengan adanya institusi negara yang menjalankan dan melindungi
penerapan syariat Islam. Dengan demikian keberadaan jamaah yang berusaha mewujudkan
pemerintahan Islam itu wajib sebagaimana wajibnya pemerintahan Islam.

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

101 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Metode untuk Meraih Target
Jamaah dakwah pertama dan kedua, sebenarnya jamaah ini lebih konsen terhadap
urusan individu. Kedua jenis jamaah ini berpandangan bahwa masyarakat yang islami hanya
akan terbentuk apabila seluruh individu di dalam masyarakat itu beragama islam, mempunyai
aqidah yang benar serta akhlak yang baik. Dengan demikian metode yang diterapkannya pun
adalah membina masyarakat dengan suatu pembinaan yang arahnya individual, di mana
individu yang lebih awal dibina nantinya diharuskan menyebarkannya ke individu lain
sehingga seluruh individu yang ada akan beraqidah dan berakhlak baik. Dengan demikian
masyarakat islami akan terbentuk ketika seluruh anggota masyarakat itu telah beraqidah islam
dan berakhlak mulia.
Seandainya jumlah masyarakat yang akan diperbaiki hanya ratusan orang, hal itu tidak
terlalu menjadi masalah. Namun bagaimana ketika masyarakat yang hendak diperbaiki itu
adalah seluruh penduduk suatu negara yang jumlahnya ratusan juta dan di dalamnya terdapat
aqidah dan kondisi yang berbeda-beda. Selain itu, seandainya seluruh anggota masyarakat
telah beraqidah dan berakhlak baik, siapakah yang akan menerapkan hukum-hukum Islam,
terutama hukum-hukum yang menyangkut pemerintahan, sistem ekonomi serta uqubat yang
seharusnya hal itu dilakukan oleh negara, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Padahal hal
ini sama sekali bukan termasuk urusan individu maupun jamaah. Tidak pula dapat
diselesaikan hanya dengan akhlak yang baik, karena hukum yang dilaksanakan oleh negara ini
sudah ditetapkan bentuk-bentuknya. Ditambah lagi apabila ternyata pengikut dari jamaah ini
dalam pembinaannya sama sekali belum pernah mendapatkan bagaimana gambaran sistem
Islam yang seharusnya. Baik itu menyangkut sistem pemerintahan, politik luar negeri,
ekonomi, sosial dan sebagainya; melihat yang menjadi pembinaan utama adalah aqidah dan
akhlak. Dengan demikian tentu kedua macam jamaah dakwah ini cukup kesulitan ketika harus
menegakkan masyarakat Islam secara kaffah.
Adapun kelompok dakwah yang ketiga adalah kerlompok dakwah yang konsen
terhadap perbaikan masyarakat. Dari pemahamannya terhadap definisi masyarakat yang
merupakan sekumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai perasaan,
pemikiran dan peraturan yang sama, kelompok ini memandang kerusakan di masyarakat
terjadi akibat adanya kerusakan perasaan, pemikiran dan peraturan yang ada di masyarakat.
Sehingga ketika ingin memperbaiki masyarakat yang dilakukan adalah memperbaiki pemikiran
dan perasaan masyarakat dengan pemikiran dan perasaan Islam serta sistem yang mengatur
interaksi dalam masyarakat itu.
Pada intinya tujuan dari kelompok ketiga ini adalah berusaha mewujudkan kehidupan
Islam kembali dengan penerapan sistem Islam yang akan melindungi dan memelihara
pelaksanaan hukum Islam yang berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat
dapat berubah secara totalitas.
Untuk mengubah secara totalitas tersebut, haruslah melalui metode yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah, bagaimana beliau dengan para sahabat menegakkan masyarakat
Islam. Dengan demikian metode atau strategi dakwah yang harus dilakukan meliputi:

1. Tahap Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah Tatsqif)
Tahap ini dimulai sejak beliau SAW diutus menjadi Rasul, setelah firman Allah SWT:

“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS Al Muddatstsir: 1-2)

Tahapan pertama atau tahapan pengkaderan ini dilakukan secara lebih tersembunyi
(siriyyah). Tahapan ini merupakan sebuah masa untuk mendidik kader, di mana kader
yang terbentuk inilah yang akan menyebarkan pemahaman Islam ke masyarakat. Pada
pengkaderan ini ditanamkan pada diri kader tentang target dakwah yang akan diraih, yaitu
menegakkan Islam kembali di muka bumi dengan cara tegaknya sebuah pemerintahan
yang akan menerapkan Islam dalam setiap sendi kehidupan.

2. Tahap Interaksi dengan Masyarakat dan Perjuangan (Marhalah Tafaa‟ul wal
kiffah)
Tahap ini ditempuh setelah melalui tahapan pembinaan. Hal ini dilakukan setelah
Rasulullah mendapat perintah dari Allah:

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik.”(QS Al Hijr: 94)
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

102 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Pelaku dakwah adalah orang-orang yang telah mengalami pengkaderan sebelumnya.
Dibandingkan dengan tahap pertama, tahapan ini akan lebih berat dari segi tantangan
yang akan dihadapi. Tahapan ini dibagi ke dalam dua strategi, yaitu:
(a). Shiraa‟ul fikri (pertarungan pemikiran)
Target dari aktivitas shiraa‟ul fikri adalah menjelaskan kepada masyarakat bahwa
sistem yang ada saat ini tidak sesuai dengan Islam. Hal ini dilakukan dengan memerangi
pemikiran-pemikiran kufur dengan mengungkapkan kelemahan, kerusakan dan
kepalsuannya serta memberikan pemikiran Islam yang jernih sebagai penggantinya.
Pada tahap ini, pengkaderan terhadap individu-individu yang akan melakukan dakwah
harus terus dilakukan.
(b). Kiffah as siyasi (perjuangan politik)
Aktivitas kiffah as siyasi (perjuangan politik) adalah mengkritik kebijakan pemimpin
yang tidak sesuai dengan Islam, tidak membela kemashlahatan kaum muslimin serta
membongkar berbagai makar yang akan menghalang-halangi tegaknya Islam kembali,
baik makar antar pemimpin maupun dengan negara lain. Dengan begitu, rakyat
mengetahui dengan jelas hakikat para penguasa mereka.

3. Tahap Penerapan Syari‟at Islam (Tathbiq Al Ahkaam Al Islam).
Tahap ini ditandai dengan didirikannya Daulah Islamiyah sebagai pelaksana hukum
Islam dan sebagai pengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan
jihad.

Dengan telah dipahaminya tentang kewajiban mengorganisasikan dakwah dengan
baik serta tujuan yang jelas juga metode yang jelas, insya Allah kehidupan Islam yang
diinginkan semua umat dapat terwujud. Islam pun akan mampu kembali menjadi rahmatan lil
alamin.

Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

103 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Bab Agenda Dakwah ke Depan

Problematika Umat Islam Hari Ini
Kondisi umat Islam hari ini masih diliputi derita. Imperialisme, kemiskinan,
kebodohan, ketertinggalan dan sederet permasalahan lainnya belum juga terselesaikan. Di
negeri Indonesia ini saja misalnya, sebagai negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia,
krisis multidimensi yang sejak beberapa tahun ke belakang melanda kita nampaknya masih
akan terus dirasakan. Bagaikan benang kusut, berbagai masalah itu membelit, sehingga tidak
dapat diketahui mana ujung pangkalnya, dan mana yang lebih dahulu harus diuraikan dan
diselesaikan, karena lilitan masalah itu terjadi hampir di semua segi kehidupan. Begitu juga
yang dirasakan oleh umat Islam di Asia Tengah seperti Chechnya, di Eropa seperti Albania
dan Bosnia Herzegovina, Sudan (Afrika), Iraq, Afghanistan dan Palestina (Asia Barat),
Malaysia, Pattani, dan Filipina (Asia Tenggara), Bangladesh, Pakistan dan India (Asia Selatan),
serta negeri-negeri Islam yang lain yang tengah mengalami kondisi yang tak jauh berbeda.
Jika kita amati, negeri-negeri Islam saat ini tidak memiliki kedaulatan penuh untuk
menentukan kehidupan mereka. Intervensi negara-negara adikuasa terutama Amerika Serikat
sangat kental dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh para penguasa negeri-
negeri tersebut. Imperialime klasik berbentuk penjajahan fisik memang tidak lagi populer,
tetapi sesungguhnya umat Islam masih menjadi obyek imperalisme gaya baru – yang lebih
halus dan mematikan – berupa penjajahan politis dan dominasi ekonomi melalui PBB, IMF,
WTO dan berbagai lembaga internasional lainnya.
Secara ekonomi, kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin tergolong sebagai negara
miskin. Kenyataan ini sebenarnya sangat mengherankan. Sebab negara-negara yang
bergelimang dengan kemiskinan dan penderitaan itu sebenaranya adalah negara-negara yang
sumber daya alamnya sangat melimpah. Indonesia, misalnya, negara yang sangat terkenal
dengan kesuburannnya, dan berbagai tambang minyak, emas, tembaga, batu bara, dsb. yang
bertebaran di berbagai wilayahnya, justru mengemis-ngemis kepada IMF, negara-negara
donor, dan investor asing. Itu terjadi karena di samping buruknya pengelolaan kekayaan
tersebut, meluasnya paktek-praktek korupsi, kolusi, dan suap yang dilakukan atau melibatkan
penguasa setempat, juga akibat dieksploitasi dan dikeruk oleh negara-negara adidaya.
Tambang emas di Irian jaya, misalnya, setiap hari diangkut ke Amerika dan Kanada melalui
Freeport. Minyak di negara-negara Teluk tandas disedot melalui politik perdagangan yang
culas dan curang.
Beberapa permasalahan tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang
kesengsaraannya langsung dirasakan. Pengrusakan terparah yang dilakukan musuh-musuh
Islam itu kini justru berfokus pada pengrusakan pemikiran Islam yang ada di kepala kaum
muslimin. Pemikiran Islam yang telah membuat kaum muslimin berjaya selama berabad-abad
itu telah hilang, dirusak dan diganti dengan pemikiran-pemikiran sesat yang dilancarkan barat
yang merusak aqidah dan akhlak kaum muslimin. Tidak lain hal itu sebenarnya merupakan
upaya musuh-musuh Islam untuk semakin menancapkan kuku-kukunya di tubuh kaum
muslimin. Berbagai pengrusakan itu antara lain:
(1). Sekulerisme
Sekulerisme merupakan asas dari ideologi imperialis Kapitalisme. Inti ide ini adalah
memisahkan agama dari kehidupan sosial-kemasyarakatan. Artinya, agama jangan campur
tangan dalam urusan sosial kemasyarakatan. Politik, ekonomi, pendidikan, budaya,
hubungan luar negeri, tidak boleh diatur oleh agama secara praktis. Kalaupun agama mau
berperan hanya secara moral (etika) yang memang tidak punya pengaruh berarti. Perlu
kita ingat, bukan berarti agama tidak diakui dalam sekulerisme ini, tapi agama
dimandulkan hanya urusan ritual, moral, dan individual.
Sekulerisme juga berarti menolak aqidah Islam dan syariah Islam mengatur
masyarakat kita. Padahal, kita menyakini dengan keyakinan yang penuh umat Islam harus
tunduk pada seluruh aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupannya. Dengan asas
sekulerisme ini semua yang berbau syariah Islam akan ditolak. Tidak peduli apakah
syariah Islam akan menyelamatkan manusia dan memberikan solusi atau tidak. Sama tidak
pedulinya, bahwa aturan yang bukan bersumber dari syariah Islam telah menghancurkan
manusia.
Sekulerisme juga menjadi bencana bagi kemanusiaan. Islam yang sejatinya merupakan
agama yang memberikan kebaikan bagi manusia ditolak. Islam yang memuaskan akal dan
sesuai dengan fitrah manusia, diterlantarkan. Akibatnya, dunia diatur oleh Ideologi
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

104 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Kapitalisme dengan asas sekulerisme ini. Dunia diatur oleh para kapitalis yang membuat
aturan atas nama rakyat, tapi justru menyengsarakan rakyat. Kemiskinan, konflik,
kesengsaraan, ketidak adilan, merupakan buah dari kepemimpinan ideologi Kapitalisme
sekarang ini.
(2). Liberalisme
Liberalisme masih merupakan satu paket dengan ideologi Kapitalisme. Liberalisme
sendiri lahir dari masyarakat sakit Eropa di abad kegelapan. Belenggu dominasi raja yang
mengatasnamakan Tuhan mengancam perkembangan sains dan teknologi. Rajapun
berkolabrasi dengan agamawan palsu untuk menindas rakyat. Solusinya, belenggu ini
harus dihilangkan dengan memberikan manusia kebebasan. Melihat dari latar belakangnya
jelas tidak sesuai dengan kaum muslim. Dalam Islam, meskipun masyarakatnya terikat
pada aturan Allah, ilmu, sains, dan dan teknologi tidak terbelenggu. Bahkan Islam
mendorong negara dan masyarakat untuk meningkatkan sains dan teknologi. Bukan
hanya itu, Islam juga menyediakan fasilitas pendidikan gratis dan penghargaan terhadap
sains dan teknologi yang luar biasa.
Sejarah keemasan Islam, saat diatur oleh syariat Islam, penuh dengan ketinggian sains
dan teknologi yang sulit dibantah oleh orang-orang yang jujur. Dunia pemikiran
(intelektual), meskipun didasarkan pada Islam dan tunduk pada aturan Islam, bukan
berarti terbelenggu. Berkembangnya mazhab dan tumbuh suburnya ijtihad merupakan
bukti dari perkembangan intelektual yang produktif ini. Karya-karya ulama bertaburan.
Perpustakaan dunia Islam dipenuhi dengan berbagai karya ulama yang membahas
berbagai persoalan, mulai tafsir, aqidah, fiqh, sampai sains dan teknologi.Aturan Islam
yang diterapkan negara pun tidak menimbulkan kediktatoran, malah memberikan
kebaikan pada masyarakat dengan pemimpin yang amanah.
Liberalisme ini juga berbahaya. Atas dasar kebebasan berpikir, mereka berpendapat
sebebas-bebasnya tanpa terikat pada Islam. Termasuk mempersoalkan yang jelas-jelas
perkara yang qoth'i yang seharusnya tidak bisa diganggu gugat lagi . Al-Qur'an pun
diragukan keabsahannya. Atas nama kebebasan berpendapat pemikiran seseorang tidak
boleh dilarang, meskipun pemikiran itu bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.
Kebebasanpun merambah kepada tingkah laku. Homoseksual dan lesbianisme menjadi
kenyataan yang harus diterima atas nama kebebasan. Termasuk pernikahan antar homo
atau lesbi bisa menjadi legal. Pelacuranpun dibela dan dianggap profesi yang harus
dilindungi. Liberalisme yang mengusung kebebasan ini justru akan membawa manusia ke
jurang kehinaan.
(3). Pluralisme
Sebagaimana dua pemikiran sebelumnya, pluralisme merupakan pemikiran yang
berasal dari ideologi kapitalisme. Pemikiran ini memandang bahwa masyarakat itu
tersusun atas individu-individu, dan masing-masing individu memiliki berbagai macam
akidah, kemaslahatan (kepentingan), keturunan dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Karena itu sudah semestinya bahwa masyarakat itu majemuk (berbeda-beda), karena
masing-masing kelompok memiliki tujuan khusus.
Masing-masing kelompok itu memiliki ciri khas yang tidak sama satu dengan yang
lain, baik dari sisi kebutuhannya, tujuannya, nilai-nilai yang dimilikinya, bahkan akidah
atau ide yang dianutnya. Perbedaan-perbedaan tersebut harus dijaga, karena tidak
mungkin dipersatukan. Pandangan ini terkait dengan ide kebebasan individu dalam
pemikiran kapitalisme. Pluralisme membolehkan munculnya berbagai partai, gerakan,
kelompok, organisasi, bahkan jamaah apapun yang berlandaskan kepada akidah yang
kufur, atau berasaskan pada sesuatu yang bertentangan dengan Islam, seperti partai-partai
yang berasaskan nasionalisme, kesukuan dan primordialisme. Masyarakat yang pluralis
adalah masyarakat yang membolehkan munculnya kelompok-kelompok yang berasaskan
pada sesuatu yang haram. Misalnya, dibolehkannya perkumpulan (komunitas) orang-
orang homo, lesbian, sex bebas, perkumpulan para pemabuk atau penjudi.
Dalam hal agama, pluralisme diekspresikan dalam bentuk dialog antar agama,
toleransi umat beragama (seperti yang dipahami Barat dan kalangan orientalis). Lebih
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

105 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
berbahaya lagi, pluralisme menafikkan kebenaran yang absolut. Kebenaran menjadi
relatif. Implikasinya, tidak satu agamapun yang berhak mengklaim dirinya paling benar.
Dengan demikian tidak ada lagi yang membedakan agama yang satu dengan agama yang
lain. Muncullah anggapan agama itu pada dasarnya sama. Di bidang politik juga tampak
dalam bentuk aliansi (atau koalisi) berbagai kelompok/partai yang berbeda-beda asasnya
tetapi sama dalam kepentingan yang bersifat temporer. Itu gambaran tentang pluralisme
di dalam masyarakat kapitalis sekular.
Realitasnya, masyarakat itu tersusun atas individu-individu, dan adanya interaksi yang
muncul dari upaya manusia untuk memperoleh pemuasan kebutuhan hidup dan
nalurinya. Di dalam masyarakat, disamping dijumpai adanya individu-individu, juga
terdapat aturan (sistem) yang mengatur interaksi manusia, perasaan-perasaan
(kecenderungan) manusia, dan pemikiran-pemikirannya Homogenitas atau kesatuan
pemikiran, perasaan dan peraturan adalah realitas yang dijumpai pada seluruh masyarakat
yang ada. Kita tidak akan pernah menjumpai masyarakat komunis sekaligus di dalamnya
bergabung masyarakat kapitalis. Kita juga tidak akan pernah mendapatkan masyarakat
Islam yang menerapkan aturan sekular, tetapi pemikuran-pemikiran yang dominan dan
berlaku di masyarakat tersebut adalah pemikiran Islam (akidah Islam). Hal ini tidak
mungkin ada, sebab akidah Islam telah menafikan ideologi lain. Bahkan telah
mengkufurkannya, karena bertentangan dengan akidah Islam.
(4). Terorisme
Terorisme menjadi topik paling hangat dibahas media massa di seluruh dunia. Pasca
peledakan gedung WTC 11 September 2001, isu terorisme memang telah menjadi isu
global. Media massa Barat - yang kemudian diikuti oleh media massa lainnya -
mempunyai andil dalam membangun opini bahwa aktivitas terorisme berkaitan dengan
perjuangan Islam, yaitu melawan penjajahan AS dan sekutunya di negeri-negeri Muslim,
khususnya di Irak dan Afganistan. Aksi terorisme yang sangat kejam itu diopinikan
sebagai aktivitas kelompok Islam atau bahkan aktivitas kaum Muslim secara umum dalam
merespon penjajahan AS tersebut.
Dalam tataran global, aksi terorisme dapat menjadi senjata ampuh Barat pimpinan AS
untuk memojokkan Islam. Pasca keruntuhan Komunisme, Islam menjadi ancaman serius
bagi Barat. Sebab, faktanya hanya Islamlah saat ini yang memiliki daya tolak yang
memadai terhadap sistem Kapitalisme yang diperjuangkan Barat. Sistem ini tidak akan
berdaya di hadapan kesempurnaan sistem Islam yang berasal dari Zat Yang Mahaagung.
Karena itu, Barat berkepentingan untuk melakukan pencitraan buruk terhadap Islam.
Kasus-kasus terorisme semakin mendekatkan hubungan negara-negara di dunia dengan
AS dalam agenda bersama memerangi terorisme. Artinya, semakin banyak aksi terorisme
maka semakin besar pula peluang AS untuk mendapat kewenangan menjadi pimpinan
utama dunia dalam perang melawan terorisme. Target utamanya adalah kaum Muslim
yang tidak sejalan dengan agenda global Kapitalisme-sekular. Ada proses sistematis yang
berupaya menjelmakan Islam menjadi musuh bersama (common enemy) dunia.
Realitanya, isu perang melawan terorisme telah menjadi senjata pamungkas bagi Barat
pimpinan AS untuk melumpuhkan kebangkitan Islam. Secara lebih spesifik, isu itu
digunakan untuk menggiring publik dunia pada suatu perang global terhadap kaum
Muslim yang memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah. Mereka memahami bahwa
perjuangan penegakan syariah tersebut secara nyata telah mengancam hegemoni sistem
Kapitalisme yang mencengkeram dunia saat ini.
(5). Nasionalisme
Pasca keruntuhan kekhilafahan Islam terakhir yang berpusat di Istambul Turki 1924,
dunia Islam memang tidak lagi menjadi kekuatan politik yang disegani. Wilayahnya yang
luas telah terkotak-kotak menjadi lebih dari lima puluh negara dan terkerat-kerat oleh
ikatan nasionalisme. Ikatan nasionalisme inilah yang menggantikan ikatan kukuh yang
berupa aqidah dan persaudaraan Islam yang selama ini mereka miliki. Dengan ikatan
rapuh berupa hubungan ketetanggaan, persahabatan dan kepentingan bersama itu mereka
bekerjasama. Ikatan ini pula yang menjadikan mereka bersikap individualistik ketika
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

106 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
negeri muslim lain mendapat persoalan dan membutuhkan bantuan dengan alasan masalah
dalam negeri negara lain. Sangat jelas fakta dalam benak kita bagaimana Palestina yang
merupakan jantung umat Islam hingga saat ini masih dikuasai Yahudi, sedangkan 1,2
milyar kaum muslimin tidak mampu melakukan tindakan yang berarti.
Jangankan untuk menentang nasionalisme, banyak orang Islam sendiri yang justru
melanggengkan nasionalisme dengan melandaskannya pada: “Cinta tanah air sebagian dari
iman.” Padahal kalimat yang dianggap sebagai hadits tersebut hanyalah sebuah
propaganda untuk memecah belah kaum muslimin. Selain itu kalimat tersebut
bertentangan dengan sabda Rasulullah, yaitu : “Bukanlah golonganku orang yang menyeru
kepada ashobiyah, bukanlah golonganku orang yang berjuang untuk ashobiyah dan bukan golonganku
orang yang mati dalam memperjuangkan ashobiyah.” (HR Muslim)
Ashobiyah yang dimaksud adalah perasaan fanatisme golongan termasuk ke dalamnya
kesukuan dan nasionalisme. Ashobiyah inilah yang telah memecah belah kaum muslimin.
(6). HAM dan Demokrasi
Di sisi aqidah, kaum muslimin juga banyak terpesona oleh ide-ide yang bertentangan
dengan Islam. Tanpa ragu ide-ide demokrasi dan HAM dianut dan diperjuangkan
sebagai pemecah berbagai problematika hidup. Padahal ide-ide tersebut justru menjadi
sumber masalah di negeri-negeri mereka. Dengan alasan demokrasi dan HAM, kaum
muslimin ikut-ikutan memperjuangkan kebebasan bertingkah laku, kebebasan beragama
dan kebebasan berpendapat. Dari ide-ide ini munculah derivatnya berupa ide permisivisme
(keserbabolehan),. termasuk memperbolehkan bertingkah laku apa saja asalkan tidak
mengganggu orang lain. Akhirnya judi, minuman keras, pergaulan bebas dan freesex
muncul di mana-mana dengan alasan hal itu tidak mengganggu orang lain. Akhirnya
muncu bencana baru berupa AIDS yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.
(7). Pengrusakan Martabat Wanita
Di barat, wanita bukanlah seorang sosok yang berperan sangat mulia untuk mendidik
generasi mendatang yang berkualitas. Mereka mengganggap wanita sebagai sebuah barang
dan bisa jadi sebuah komoditi yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Aurat wanita diumbar di
mana-mana. Media massa tidak henti-hentinya menayangkan gambar wanita telanjang
maupun ―sedikit tidak telanjang‖ untuk melariskan dagangan. Model wanita karier
berkembang dimana-mana. Kuno dan haram sepertinya ketika harus memakan gaji suami.
Sehingga akhirnya tugasnya yang mulia sebagai pendidik generasi masa depan yang
berkualitas ditinggalkan.

Al Qadliyyah al Mashiriyyah
Melihat begitu banyaknya permasalahan yang terjadi hampir pada semua aspek
kehidupan, umat Islam harus mengetahui dan membatasi masalah utamanya. Masalah utama
(al qadliyyah al mashiriyyah) ini adalah masalah yang sangat mendesak dan harus
didahulukan penyelesaiannya sebelum masalah lainnya. Dengan mengetahui dan membatasi
masalah utama tersebut, akan memudahkan umat Islam dalam menentukan arah
perjuangannya. Seluruh potensi dan kekuatan umat pun harus dikerahkan menyelesaikan
masalah utama tersebut. Tanpa memahami dan membatasi masalah tersebut, maka arah
perjuangan umat pasti tidak akan terarah dan berakhir dengan kesia-siaan.
Dengan membatasi masalah utama umat Islam ini pula, maka menjadi jelaslah tujuan
yang diupayakan oleh seluruh pengemban dakwah Islam, baik dalam bentuk kutlah-kutlah
(kelompok dakwah), jama‘ah-jama‘ah, atau pun partai-partai politik (al hizbu as siyaasi).
Setelah melakukan pengkajian secara mendalam terhadap Islam dan kondisi umat
Islam saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya al qadliyyah al mashiriyyah
umat Islam saat ini adalah bagaimana memberlakukan kembali hukum yang diturunkan Allah
SWT secara totalitas. Caranya, dengan menegakkan kembali sistem Khilafah Islamiyyah dan
mengangkat seorang khalifah yang dibaiat atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Dialah yang akan mengusir negara kafir imperialis dari negeri-negeri muslim, menggusur
perundang-undangan kufur untuk kemudian menggantinya dan merealisasikan hukum-
hukum Islam, menyatukan negeri-negeri Islam di dalam naungan khilafah, serta mengemban
risalah Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

107 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Minimal ada dua alasan mengapa berlakunya hukum-hukum Islam dalam kehidupan
individu, masyarakat, dan negara ini dapat dikategorikan sebagai al qadliyyah al
mashiriyyah bagi umat Islam.
Pertama, Allah SWT telah mewajibkan umat Islam untuk menerapkan Islam secara
totalitas. Dan hal itu hanya bisa dilakukan dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah. Ada
pun dasar pemikiran tentang wajibnya memberlakukan hukum-hukum Islam dan
menegakkan daulah adalah sebagai berikut:
Beriman terhadap keberadaan Allah SWT, tidak cukup hanya mengimani-Nya sebagai
satu-satunya Dzat yang menciptakan alam semesta dan isinya, tetapi juga mengimaninya
sebagai Rabb dan Ilaah yang wajib ditaati semua perintah dan larangan-Nya. Allah SWT telah
menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya (Ad Dzariyaat: 56). Dan
untuk itu, Allah SWT menurunkan dien yang mewajibkan seluruh manusia untuk
menjalankannya. Terakhir, Allah menurunkan Islam sebagai risalah penutup semua risalah
yang dibawa oleh para nabi sebelumnya. Keberadaan risalah yang dibawa Rasulullah SAW
tersebut menghapus berlakunya risalah sebelumnya. Risalah Islam ini diperuntukkan kepada
seluruh manusia tanpa terkecuali (Saba‘ :28). Sehingga, sejak diturunkannya Islam ke dunia,
seluruh manusia wajib mengikatkan dirinya dengan syariat Islam, menerapkan, dan
memberlakukan hukum-hukumnya. Kewajiban ini tercantum dalam nash-nash syara‘, baik
dalam Al Qur‘an maupun Sunnah Rasulullah SAW. Di antaranya adalah firman Allah SWT ;

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah" (AL Hasyr: 7)

Dalalah (penunjukan) ayat ini bersifat qath‟iy dalalah (pasti penunjukkannya), yakni
menunjukkan kewajiban terikat dengan hukum-hukum syara‘. Allah memerintahkan kaum
muslimin agar melaksanakan apa-apa yang dibawa atau diperintahkan Rasulullah, baik yang
berupa perintah wajib, sunnah, maupun mubah, serta mengharuskan mereka meninggalkan
segala yang dilarang, baik yang haram maupun yang makruh. Dan Allah juga memerintahkan
untuk mencegah apa yang dilarang bagi mereka. Maka seluruh manusia wajib terikat dengan
setiap seruan yang dibawa Rasulullah. Karena lafadz (..) berbentuk umum, maka keterikatan
itu mencakup seluruh hukum syara‘ tanpa terkecuali. Sedangkan perintah dalam ayat tersebut
menunjukkan wajib apabila dikaitkan dengan qarinah (indikasi) ayat lainnya. Seperti, firman
Allah SWT:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau
ditimpa azab yang pedih" (An Nur: 63).

Pada ayat ini, Allah SWT memberikan ancaman kepada siapa saja yang menyimpang
dari perintah Rasulullah akan diberikan iqaab (sanksi) berupa ditimpakannya fitnah atau adzab
yang pedih di akhirat. Ini menunjukkan bahwa mentaati syariat yang dibawa Rasulullah
(Islam) itu bersifat jazim (tegas/pasti), yakni memberikan implikasi hukum wajib. Dengan
demikian lafadz dan pada QS Al Hasyr : 7 itu bersifat wajib.
Indikasi lain yang menunjukkan bahwa wajib bagi setiap muslim untuk mengambil
hukum syara‘ dan terikat dengannya adalah firman Allah SWT:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (
An Nisa 65)

Ayat ini menafikan (meniadakan) iman seseorang yang tidak merujuk kepada
Rasulullah SAW atau hukum syara‘. Sebab bertahkim kepada Rasulullah berarti juga
bertahkim kepada hukum syara‘. Pengertian tersebut bisa disimpulkan demikian karena
Rasulullah SAW tidak memutuskan hukum apapun berdasarkan undang-undang yang berlaku
menurut adat dan kebiasaan masyarakat, ataupun mitos nenek moyang mereka. Akan tetapi
Rasulullah SAW diperintahkan untuk mengadili dan memutuskan mereka dengan hukum
syara‘ semata yang berasal dari Allah SWT, seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya:

"Dan handaklah kamu memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah dengan tipu daya mereka, supaya
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

108 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah SWT kepadamu" (QS Al
Maidah: 49).
Disamping itu, Allah SWT telah mengkaitkan perintah-Nya untuk menjadikan
Rasulullah SAW sebagai hakim dengan ada atau tidaknya iman. Juga, diwajibkan atas mereka
untuk menerima keputusan Rasulullah SAW tersebut dengan rela dan tunduk, serta tidak
boleh ada sedikit pun ada keberatan dalam dirinya.
Dalam hal ini, Allah SWT mengancam bagi orang-orang yang mengambil hukum
selain hukum syara‘ sebagaimana firman-Nya:

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya beriman kepada apa yang telah
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada
thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud
menyesatkan mereka dengan penyesatan sejauh-jauhnya" (An Nisa: 60).
Pengakuan bahwa mereka telah beriman kepada Al Qur‘an, mengharuskan mereka
untuk bertahkim kepada hukum Al Qur‘an itu. Apabila ia justru menginginkan untuk
bertahkim kepada hukum yang tidak bersumber dari Al Qur‘an (hukum thaghut), padahal ia
diperintahkan untuk mengkufurinya, maka jelas itu bertentangan dengan pengakuan orang
tersebut bahwa ia telah beriman. Oleh karena itu, iman seseorang kepada Islam mewajibkan
ia bertahkim kepadanya. Dengan demikian, seorang muslim harus terikat dengan hukum-
hukum Islam. Apabila ia tidak terikat, berarti ia telah menempuh jalan kekufuran. Bahkan
pada hakikatnya ia tidak beriman kepada ajaran Islam.
Syara‘ juga telah menegaskan hal ini secara jelas dan terang-terangan terhadap para
penguasa dan qadli/hakim. Merekalah pihak yang termasuk ke dalam jajaran para pelaksana
hukum syara‘. Mereka dilarang menjalankan hukum thaghut (selain hukum Allah SWT). Jika
mereka tetap menjalankan hukum thaghut, maka mereka termasuk orang-orang kafir, dzalim,
dan fasik. Mereka dianggap kafir secara pasti apabila meyakini bahwa hukum Islam tidak
relevan lagi untuk memecahkan problematika manusia di abad sekarang, justru meyakini
bahwa selain Islam, semisal sosialisme atau kapitalisme, lebih handal dan mampu
memecahkan problematika hidup. Allah SWT berfirman:

"Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturnkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang kafir" (Al Maidah: 44).
Tetapi jika mereka masih meyakini bahwa hukum Islam itu mampu memecahkan
segala problema kehidupan, tetapi ia taat pada hukum-hukum selain Islam karena alasan takut
terhadap penguasa atau tekanan negara-negara besar atau ada keyakinan bahwa mereka tidak
mampu menerapkan hukum Islam, maka mereka termasuk orang-orang yang dzalim dan
fasik, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur‘an surat Al Maidah 45 dan 47. Sebab, ia
telah mengerjakan sesuatu yang diharamkan.

"Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang yang dzalim (Al Maidah 45).

"Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturnkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang fasik " (Al Maidah: 47).
Sebagai risalah terakhir bagi manusia, syariat Islam mencakup seluruh kehidupan
manusia. Berbagai interaksi yang dilakukan manusia tak ada yang dibiarkan lepas dari syariat
yang mengaturnya (surat An Nahl 89). Keseluruhan syariat tersebut membentuk sebuah
sistem kehidupan.
Sistem ini mengatur hubungan manusia dengan Dzat yang menciptakannya, yaitu
Allah SWT dengan menjelaskan ketentuan-ketentuan ibadah yang telah diwajibkan dan
disunnahkan. Dengan demikian, Islam menggariskan jalan kebahagiaan yang abadi dalam
bentuk balasan di akhirat nanti. Juga, sistem Islam mengatur hubungan dengan dirinya
sendiri. Sistem ini menghalakan makanan dan minuman yang baik-baik (halalan thoyyiban) dan
mengharamkan semua makanan dan minuman yang buruk-buruk (khobaits). Dipilihkan juga
baginya pakaian yang layak dan sempurna. Sistem Islam mewajibkan setiap muslim untuk
melekatkan akhlak yang terpuji bagi setiap perilaku yang dilakukannya.
Pun, sistem Islam mengatur hubungan manusia dengan sesamanya di berbagai
pergaulan hidup. Hukum muamalah merupakan hukum yang mengatur berbagai ketentuan
yang menyangkut hubungan antara manusia, baik masalah pemerintahan, ekonomi,
pendidikan, hubungan antara pria dan wanita, dan politik luar negeri. Syariat Islam telah
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

109 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
menjelaskan hukum seputar perdagangan, hibah, syirkah, ijarah, harta kharaj, fa‘iy, ghanimah,
dan berbagai masalah yang berkaitan dengan pengaturan masalah ekonomi. Di samping Islam
menjelaskan masalah pernikahan dan rumah tangga berbagai ketentuan pergaulan antara pria
dan wanita, Islam juga menjelaskan persoalan jihad dan tata cara mengemban dakwah sebagai
dasar pokok politik luar negeri. Tidak hanya itu, sistem Islam juga merinci berbagai bentuk
sanksi-sanksi hukum yang dikenakan kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran
terhadap hukum. Dalam sistem pemerintahan, syariat Islam juga telah memberikan
penjelasan yang cukup gamblang, yang sistem tersebut sama sekali berbeda dengan seluruh
bentuk pemerintahan yang pernah ada di dunia ini. Pendek kata, tak ada satu pun persoalan
kehidupan dibiarkan begitu saja, tanpa Islam memberikan ketentuan hukumnya.
Semua hukum tersebut wajib diterapkan. Tak ada yang lebih diistimewakan daripada
lainnya. Karena semuanya berasal dari Allah SWT untuk manusia. Karena semua ayat dan
hadist Nabi yang memerintahkan kita untuk menerapkan Islam datang dalam bentuk umum.
Menolak salah satu hukum Allah akan membawa status pembangkangan atau kekufuran
sebagai mana yang disebutkan dalam Al Qur‘an surat An Nisa‘ 150-151:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan
antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: Kami beriman kepada yang
sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang
sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan" (An
Nisa‟ 150-151).
Sebagaimana tidak boleh mengurangi hukum-hukum yang telah ditentukannya, tidak
boleh pula menambah-nambahinya dengan hukum-hukum yang tidak bersumber dari Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yang membuat-buat dalam urusan (agama) kami ini amalan yang bukan bagian darinya, ia
tertolak
(HR Bukhori dan Muslim).
Sedangkan berkaitan dengan pelaksana hukum tersebut, syara memberikan ketentuan
bahwa ada hukum-hukum syara‘ yang pelaksanaannya dibebankan kepada individu. Hukum
ini berkaitan dengan aspek individu, semacam aqidah, ibadah, makanan, pakaian, dan akhlak.
Juga beberapa hukum muamalah seperti seputar perdagangan, ijarah, pernikahan, dsb. Karena
dilaksanakan oleh individu, maka di mana pun ia berada, wajib terikat dengan syariat tersebut,
baik di dalam daulah Islam atau bukan.
Ada pula hukum-hukum syara‘ yang bebannya dilaksanakan oleh negara (dalam hal
ini, khalifah dan setiap pihak yang ditugasi olehnya). Hukum itu berkaitan dengan aturan
hubungan antara sesama manusia, semisal tentang sistem pemerintahan, ekonomi,
kemasyarakatan, pendidikan dan politik luar negeri. Juga hukum-hukum yang berkaitan
dengan sanksi yang diberikan pada setiap bentuk pelanggaran hukum syara‘. Hukum-hukum
seperti tidak boleh dilakukan oleh individu per individu. Sehingga tidak setiap orang,
misalnya, boleh memotong tangan seorang pencuri, atau mencambuk seorang pezina.
Demikian pula yang memberikan komando kaum muslimin untuk melancarkan jihad futuhat
atau membuat perjanjian dengan negara lain, membagi harta ghanimah atau fa‘iy, memaksa
setiap individu muslim membayar zakat, mengatur distribusi kekayaan di baitul mal,
menyelenggarakan program pendidikan yang membentuk menjadi pribadi Islamiy, mencegah
berbagai kemungkaran yang terjadi dengan hukuman pidana, dsb. Semua hukum harus
dilakukan oleh khalifah dan yang diberi wewenang olehnya.
Dengan demikian, keberadaan negara merupakan sesuatu yang bersifat dlaruri (sangat
penting) dalam melaksanakan Islam. Tanpa ada sebuah negara, mustahil bisa memberlakukan
syariat Islam secara menyeluruh. Banyak sekali hukum syara‘ yang terbengkelai. Pada hal, kita
diwajibkan untuk menerapkan syariat Islam secara totalitas.
Dengan demikian, aqidah Islamiyyah tidak hanya menjadi asas bagi kehidupan
individu, tetapi juga sebagai asas bagi kehidupan bernegara. Sehingga, semua peraturan dan
perundangan yang diberlakukan oleh negara itu bersumber dari Islam. Simpulan ini lebih
diperkuat dengan tiga argumentasi yang membuktikan hal itu.
Pertama, pada saat Rasulullah SAW mendirikan daulah Islamiyyah di Madinah, sejak
awal beliau mendirikannya atas dasar aqidah Islamiyyah. Hal ini terbukti dari fakta pada saat
itu, di mana ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah hukum belumlah turun, tetapi
Rasulullah telah menjadikan sebagai asas bagi pengaturan dan penataan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

110 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Kedua, Rasulullah SAW telah menetapkan kewajiban jihad atas kaum muslimin untuk
menyebarkan aqidah Islamiyyah. Beliau bersabda:
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain
Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila
mereka melakukannya, terjagalah harta dan darah mereka dariku kecuali dengan cara yang dibenarkan
Islam dan hisabnya atas hal itu dan perhitungan mereka terserah kepada Allah SWT " (HR Muslim).
Ketiga, Rasulullah SAW telah memerintahkan kaum muslimin untuk mempertahankan
posisi aqidah Islamiyyah sebagai landasan kehidupan bernegara dengan cara memerangi
penguasanya, apabila para penguasa itu menampakkan kekufurannya secara terang-terangan
(kufran bawahan). Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash Shamit ra. yang berkata tentang baiat
kaum muslimin kepada Rasulullah SAW
"Dan hendaklah kita tidak merampas kekuasaan dari yang berhak kecuali (sabda Rasulullah) kalian
melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti (tentang kekufuran itu)
dari sisi Allah"
(HR Bukhari dan Muslim).
Juga hadits dari Auf bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian,
kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Seburuk-buruknya pemimpin kalian
adalah kalian membeci mereka dan mereka pun membenci kalian, mereka melaknat kalian kalian pun
melaknat mereka. Ditanyakan kepada Rasulullah SAW," Tidakkah kita perangi saja dengan pedang?‟
Rasulullah SAW menjawab,"Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat (HR Muslim).
Arti menegakkan sholat adalah menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan.
Ungkapan ini termasuk ithlaaqul juz‟i wa iraadatul kulli (menyebutkan sebagian sedangkan yang
dimaksud adalah keseluruhan). Dari tiga argumen itu dapat disimpulkan bahwa aqidah
Islamiyyah adalah asas daulah sekaligus sumber konstitusi dan undang-undang.
Realitas kaum muslimin saat ini, walaupun telah memeluk Islam, tetapi mereka
ternyata dikuasai oleh berbagai pemikiran dan perasaan. Ada yang Islami, ada yang
kapitalistik, ada yang sosialistik, ada yang bertolak dari nasionalisme dan patriotisme, selain
ada yang bertolak dari semangat kesukuan atau fanatisme madzhab.
Ada pun negeri-negeri Islam --sebuah kondisi yang amat disayangkan--semuanya
memberlakukan perundang-undangan dan hukum kufur, kecuali hanya sebagian saja hukum-
hukum Islam, seperti hukum nikah, talak, rujuk, cara memberi nafkah, waris, perwalian, atau
pun sengketa tentang anak. Hanya hukum-hukum semacam inilah yang mereka serahkan
pelaksanaannya kepada pengadilan khusus, yang diberi istilah sebagai pengadilan agama.
Jika ini yang terjadi, maka jelaslah masalah utama (al qadliyyah al mashiriyyah)
umat Islam sejak runtuhnya daulah khilafah Islamiyyah di Turki adalah kembali diterapkannya
Islam dalam bernegara dan bermasyarakat, yaitu dengan jalan menegakkan kembali sistem
khilafah dan membaiat seorang khalifah yang akan memberlakukan kitabullah dan sunnah
Rasul-Nya, menyatukan negeri-negeri Islam menjadi satu negara, dan mengemban risalah
Islam keseluruh dunia.
Mengapa masalah tersebut dianggap sebagai masalah utama? Karena syara‘ telah
mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk mengamalkan hukum-hukum Islam secara
totalitas dan direalisasikan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Bahkan Islam telah menjadikan ketentuan sikap terhadap masalah utama ini sebagai masalah
antara hidup dan mati. Hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit ra dan hadits Auf
bin Malik di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin harus menggusur bahkan memerangi
para penguasa dalam daulah Islamiyyah yang menghentikan penerapan hukum Islam, dan
justru memberlakukan hukum-hukum kufur.
Rasulullah SAW juga menegaskan betapa pentingnya keberadaan khilafah bagi kaum
muslimin. Siapa saja di antara mereka yang mati sedangkan khilafah tidak tegak, mereka
diancam dengan ancaman yang sangat menakutkan, yakni mati jahiliyyah. Rasulullah SAW
bersabda:
Barang siapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menemui
Allah di hari Kiamat dengan tanpa alasan. Dan barang siapa yang mati sementara di lehernya tidak ada
baiat (kepada khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah (HR Muslim).
Kewajiban mendirikan khilafah tidak sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya.
Sebab, lenyapnya daulah Islamiyyah berarti terlantarnya lebih dari tiga per empat syariat
Islam. Hukum-hukum Islam yang mengatur persoalan pemerintahan, ekonomi, sosial,
pendidikan, hubungan luar negeri, jihad, hudud, jinayat, ta‘zir, mukholafat, dan sebagainya
tidak bisa diterapkan.
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

111 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Alasan kedua mengapa mendirikan khilafah Islamiyyah yang menerapkan hukum-
hukum Islam itu menjadi masalah utama --disamping kewajiban tegaknya khilafah yang harus
segera didirikan-- adalah karena sebenarnya berbagai problematika lainnya yang sekarang
menghimpit kaum muslimin adalah akibat lenyapnya Daulah Khilafah Islamiyyah.
Tiadanya Daulah Khilafah Islamiyyah telah mengakibatkan bercokolnya pemikiran
dan hadlarah (peradaban), akhlak, dan gaya hidup Barat di benak putra-putri kaum muslimin.
Aqidah Islam yang merupakan satu-satunya aqidah yang shahih justru ditanggalkan oleh
sebagian besar putra-putri kaum muslimin, dan diganti dengan aqidah sekularisme yang
memisahkan agama dari kehidupan dan ide-ide turunannya yang mendatang malapetaka bagi
manusia.
Tiadanya khilafah yang memimpin kaum muslimin secara keseluruhan telah
mengakibatkan terpecah belahnya kaum muslimin menjadi lebih dari 50 negara dan terbukti
telah menimbulkan banyak persoalan.
Lebarnya jurang kemiskinan dan kekayaan yang terjadi di dunia Islam adalah akibat
diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme, Demikian pula kemiskinan yang di alami kaum
muslimin karena mereka dipimpin oleh para pemimpin yang sangat korup, dan membiarkan
kekayaan begerinya dijarah dan dikuras oleh para penjajah kafir. Ini juga tidak akan terjadi jika
sistem khilafah ada di tengah-tengah umat.
Merosotnya moralitas, tingginya angka kriminalitas, dan merebaknya berbagai
kemungkaran dan kemaksiatan adalah produk sistem kufur yang melingkupi mereka. Jika ada
Daulah Khilafah Islamiyyah maka semua itu akan dicegahnya. Khilafah Islamiyyah akan
menghentikannya, membasmi kerusakan yang nampak di tengah-tengah masyarakat,
memelihara aqidah, serta yang akan mencegah seluruh penyimpangan aqidah, perusakan
aqidah atau menyalahi aqidah.
Khilafah juga menghantarkan terciptanya suasana penuh keimanan, akhlak yang mulia
di seluruh lapisan masyarakat, melalui media penerangan, pendidikan, serta berbagai lembaga
lainnya. Penanganan dan pengaturan Daulah Islamiyah ini tidak akan mengkhawatirkan
hanyutnya para pemuda dan pemudi dari propaganda kemungkaran, kerusakan, demoralisasi.
Tiadanya khilafah Islamiyyah memberikan kemudahan bagi negara-negara Barat yang
kafir untuk mencengkeramkan dominasi mereka terhadap kaum muslimin, merampok
kekayaan alamnya, menginjak-injak kehormatannya, bahkan mengusir dan membantai
penghuninya. Raulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya seorang imam (khalifah) adalah perisai. Diperangi orang yang ada di baliknya dan dijadikan
pelindung" (HR Muslim).
Berbagai problematika yang yang sekarang melilit kaum muslimin Itu tidak akan
terjadi jika sistem khilafah masih tegak. Karena Daulah Khilafah Islamiyyah bukan sekadar
sistem pemerintahan, tetapi juga berfungsi sebagai al haaris (penjaga) aqidah, al munaffidz
(pelaksana) syariah, al muqiim (penegak) agama, al muwahhid (penyatu) barisan kaum muslimin,
al haamiy (penjaga) negeri-negeri kaum muslimin, darah, harta, dan cita-cita mereka, serta yang
yang akan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia dan memimpin umat dalam berjihad
fisabilillah.





Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

112 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Agenda Dakwah ke Depan
Kita umat Islam harusnya menyadari kekuatan dan potensi yang kita miliki, sehingga
dengan potensi ini kita mengetahui kenapa Allah Swt menjuluki kita sebagai khairul ummah,
umat yang terbaik (Q.S Ali Imran 110). Potensi dan kekuatan yang dimiliki umat Islam
diantaranya,
 Negeri Islam adalah wilayah yang kaya sumber daya alam dan strategis secara
geopolitis
 Lebih 70% cadangan minyak dunia yang sangat vital itu ada di dunia Islam
 Belum lagi sumber daya alam lain (emas, timah, tembaga, batubara, dan sebaganya)
 Posisi negeri Islam (wilayah timur tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Selatan)
berada pada titik-titik penting secara geografis, ekonomi dan militer.
 Menguasai dunia Islam berarti menguasai pasokan energi dan SDA lain serta
menguasi posisi strategis dunia
 Islam juga adalah peradaban (hadharah) yang lebih unggul (Samuel P Huntington, the
Clash of Civilization: 1996);
 Peradaban Islam mempunyai konsepsi kehidupan yang khas dan unik; berbeda
dengan Sosialisme maupun Kapitalisme, baik di bidang politik, pemerintahan,
ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan, maupun yang lain.
 Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia,
memuaskan akal dan menenteramkan jiwa. Karena diturunkan oleh Dzat yang Maha
Tahu akan fitrah, akal dan jiwa ciptaan-Nya.
 Sumber daya manusia yang sangat besar (lebih dari 1,4 milyar), lebih besar dari
pemeluk agama manapun
 Sumber daya alam yang sangat melimpah lebih dari wilayah manapun
 Posisi geografis yang sangat strategis secara ekonomi, politik dan militer
 Dengan Islam sebagai pandangan hidup yang sempurna dan basis ideologi serta
sistem politik yang khas, maka Islam dan Dunia Islam bakal menjadi rival potensial
yang akan mengancam dominasi Barat di masa mendatang pasca era perang dingin
Melihat realitas potensi yang dimiliki, sangat mungkin umat Islam bangkit dari
keterpurukannya selama ini. Namun, bagaimana langkah nyata menuju sebuah kebangkitan?
Kita harus berfikir mendalam untuk memahami apa sesungguhnya rahasia sebuah
kebangkitan, sebelum kemudian menentukan langkah menuju kesana. Kebangkitan bisa
berarti kesadaran, ketercerahan, kemampuan untuk memahami dan menentukan langkah
mandiri. Kebangkitan juga diindikasikan oleh kemampuan mempengaruhi bahkan
menguasai.
Kebangkitan bangsa-bangsa tidak ditentukan oleh kemajuan teknologinya karena kita
menyaksikan bagaimana Jepang yang merupakan salah satu negara yang menguasai teknologi
tinggi tapi ia tidak mampu mengendalikan kekuatannya, dan masih dalam kendali Amerika.
Kebangkitan juga bukan ditentukan oleh masalah ekonomi, karena dengan jelas kita melihat
bagaimana Saudi Arabia, Brunei Darussalam termasuk juga Jepang dan negeri-negeri kaya lain
yang tetap tidak mampu menentukan keputusan mereka secara mandiri. ―Nasib‖ mereka
berada dalam genggaman Amerika. Saudi Arabia saat ini terbelit utang kepada Amerika,
sedang Jepang harus memberikan sumbangan dana kepada Amerika agar kepentingan
ekonominya terjaga. Kita juga bisa memastikan kebangkitan tidak ditentukan oleh ketinggian
moral (kemuliaan akhlak) karena kita membuktikan Madinah yang penduduknya adalah
penduduk yang paling mulia akhlaknya di seluruh dunia tetapi mereka ternyata tidak bangkit.
Mereka membeku seperti es tatkala menyaksikan perang saudara antara Arab Saudi dengan
Iraq yang notabene keduanya adalah kaum muslimin. Sebaliknya masyarakat Paris adalah
masyarakat yang bermoral rendah tetapi mereka bangkit. Termasuk masyarakat Amerika dan
Eropa yang gaya hidupnya bebas dan tidak terikat oleh etika-etika moral tetapi mereka
mampu menguasai dunia. Sungguh kebangkitan ternyata tidak ditentukan oleh itu semua.
Rahasia kebangkitan adalah kebangkitan taraf berfikir. Dari berfikir hewani –yang
sekedar berfikir untuk hidup-, meningkat menjadi berfikir manusiawi -yang berusaha
memperjuangkan kemuliaan manusia dengan ideologi tertentu. Berfikir ideologis inilah yang
telah menghantarkan umat Islam dahulu mampu menguasai dunia, meski hanya berkendaraan
kuda dan unta. Sebab teknologi hanya sarana yang akan berubah mengikuti perubahan dunia.
Sedangkan mabda‘ tidak akan berubah terutama mabda‘ Islam. Ia tetaplah mabda‘ dan tetap
layak menguasai dunia. Menjadi semakin jelas bagi kita bahwa hanya dengan menjadikan
Mafahim BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus)

113 Unit Kegiatan Kerohanian Islam Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Islam sebagai mabda‘ maka kaum muslimin akan bangkit, bergerak dan menyelesaikan
berbagai persoalannya.
Tugas para pengemban dakwah ke depan adalah menyadarkan umat untuk bersama-
sama bangkit dan menggunakan seluruh potensi serta kekuatan yang dimiliki sehingga
mampu menyelesaikan seluruh problematika umat sekaligus menghancurluluhkan kaum kair
imperialis yang selama ini memusuhi Islam dan kaum muslimin.
Hal tersebut tentu saja menjadi tugas berat bagi para pengemban dakwah. Beberapa
hal yang dapat menjadi bekal pengemban dakwah dalam menjalani perjuangaannya
dipaparkan sebagai berikut:
1. Membentuk pemikiran ideologis. Artinya, pengemban dakwah harus memahami
Islam sebagai sebuah ideologi, yang terdiri dari akidah dan syariat, yang berfungsi
untuk memecahkan seluruh problematika hidup manusia. Pengemban dakwah harus
yakin bahwa Islam merupakan aturan hidup yang sempurna, yang tidak lagi
membutuhkan pengurangan atau penambahan dari aturan-aturan lain di luar Islam.
2. Tidak berpikir pragmatis. Artinya, pengemban dakwah tidak boleh terjebak oleh
kepentingan-kepentingan sesaat atau jangka pendek dalam mengambil sikap dan
keputusan. Setiap sikap dan keputusan harus diambil berdasarkan pertimbangan
ideologi Islam. Misalnya, ketika terjadi krisis ekonomi, penyelesaiannya bukan dengan
mengundang IMF, tetapi harus ditelusuri akar permasalahannya, lalu dipecahkan
dengan mengacu pada ideologi Islam yang memiliki konsep tersendiri dalam bidang
ekonomi.
3. Memiliki kepekaan politis. Hal ini penting agar pengemban dakwah tidak mudah
tertipu oleh manuver-manuver politik kaum penjajah berserta kroninya yang ingin
melanggengkan penjajahannya. Sebagai contoh, pengemban dakwah harus memahami
kampanye yang kumandangkan Amerika tentang "Perang melawan Teroris". Apa dan
siapa yang dimaksud teroris oleh Amerika? Apa target Amerika di balik kampanye
tersebut? Demikian seterusnya.
4. Meraih kemuliaannya dengan Islam. Pengemban dakwah harus memahami bahwa
kemuliaan hidupnya, di dunia dan akhirat, hanya bisa diraih dengan mewujudkan
tegaknya aturan Islam dalam naungan khilafah. Sebaliknya, kehinaannya di dunia dan
akhirat, semata-mata karena mengambil aturan kufur. Semakin banyak ide-ide kufur
yang diadopsi, akan semakin jauh pengemban dakwah terperosok ke dalam jeratan
penjajahan dan arah perjuangan semakin kabur yang ujung-ujungnya berakhir pada
titik kegagalan yang selalu berulang.
Adapun bagaimana dakwah yang mesti ditempuh saat ini untuk terwujudnya Islam
sebagai sebuah sistem kehidupan tentu saja tidak terlepas dari contoh yang telah
diberikan Rasulullah yang telah terbukti keberhasilannya.
Beberapa tahapan kongkrit yang mesti ditempuh antara lain Pertama, membina
individu-individu (kader-kader dakwah) dengan ruh dan pemikiran Islam sebagai sebuah
ideologi disertai dengan gambaran penerapan ideologi tersebut dalam kehidupan.
Pemahaman ini akan mendorong upaya-upaya untuk memperjuangkannya. Kedua,
melakukan interaksi di tengah-tengah masyarakat untuk membina kesadaran masyarakat
terhadap ideologi Islam melalui pertarungan pemikiran dan perjuangan politik. Dengan
aktivitas ini akan terbentuk opini Islam yang berkembang luas dan kesadaran masyarakat
terhadap Islam. Ketiga, penerapan seluruh aturan Islam melalui tegaknya Khilafah
Islamiyah yang didukung penuh oleh seluruh masyakat. Dukungan ini terbentuk dari
kesadaran yang terwujud manakala aturan tersebut lahir dari ideologi yang diyakini. Inilah
agenda umat yang harus segera dilaksanakan, saat ini juga !