KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KEP

)

Oleh:

 Hari Alfizan  2012 211 0491

Poltekkes Kemenkes Pontianak Tahun Ajaran 2014/2015

Tujuan 1.4. menjelaskan penyakit penyerta pada KEP. menjelaskan cara mendiagnosisnKEP. Latar belakang Penyakit-penyakit gizi di indonesia terutama tergolong kedalam kelompok penyakit defisiensi. 1.BAB I PENDAHULUAN 1. 4. Ketiadaan pagan melatar belakangi terjadi nya KEP primer yang mengakibatkan kekurangan asupan. 5. 3.3. 2. penyakit ini di kelompokkan menjadi KEP primer dan sekunder. Penyakit yang mengakibatkan pengurangan asupan. Manfaat Bagi pembuat makalah : 1.2. 3. salah satu nya yaitu kurang energi dan protein. menjelaskan penanganannya penyakit KEP.1. Rumusan masalah 1. 1. serta peningkatan kebutuhan akan zat gizi dikatagorikan sebagai KEP sekunder. Menambah wawasan pengetahuan tentang keshatan Agar dapat mengetahui cara penanggulana penyakit Bagi pembaca makalah : . 2. apa pengertian KEP? apa saja macam-macam penyakit defisiensi KEP? bagaimana cara mendiagnosa seorang yang menderita penyakit KEP? apa yang menyebabkan terjadinya penyakit KEP? apa saja pengaruh KEP terhadap organ? bagaimana cara penanganan penyakit KEP? 1. 6. 2. gangguan serapan dan utilisasi pagan.

1. . atau terlambat tumbuh. meskipun salah satu lebih dominan ketimbang yang lain. juga salah mengerti mengenai penggunaan bahan pangan tertentu dan cara memberi makan anggota keluarga yang sedang sakit. atau keduanya. Keparahan KKP berkisar dari hanya penyusutan berat badan. Hal lain yang juga menumbuh suburkan KKP dikalangan bayi dan anak adalah penurunan minat dalam memberi ASI yang kemudian diperparah pula dengan salah persepsi tentang cara menyapih. gangguan serapan dan utilisasi pangan serta peningkatan kebutuhan (dan atau kehilangan) akan zat gizi.1. atau migrasi paksa telah terbukti mengganggu distribusi pangan. Bencana alam. perang. yaitu : masalah sosial. Ketidak tahuan. salah satu determinan sosial-ekonomi. Tempat tinggal yang berjejalan dan tidak bersih menyebabkan infeksi sering terjadi. sampai ke sindrom klinis yang nyata. Kurang Kalori Protein atau (KKP) akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori. Sindrom kwarsiokor terjelma manakala defisiensi lebih menampakan dominasi protein. Menambah wawasan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat Supaya lebih memperhatikan kesehatan BAB II PEMBAHASAN 2. Ketiadaan pangan melatar belakangi KKP Primer yang mengakibatkan berkurangnya asupan. Selain itu. ekonomi. Ada 4 faktor yang melatar belakangi KKP. tidak tercukupi. merupakan akar dari ketiadaan pangan. dan lingkungan. dikategorikan sebagai KKP sekunder. baik yang berdiri sendiri maupun yang berkaitan dengan kemiskinan. Penyakit yang mengakibatkan kekurangan asupan. 2. tempat mukim yang berjalan. dan tidak sehat serta ketidak mampuan mengakses fasilitas kesehatan. menimbulkan salah paham tentang cara merawat bayi dan anak yang benar. Definisi KEP Kurang energi protein adalah keadanan dimana kurang gizi yang disebabkan karena rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi dan merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan penyakit kelainan patologi yang diakibat kan oleh kurang energi dan protein dan energi baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang biasa nya berhubungan dengan infeksi. Kedua bentuk defisiensi ini tidak jarang berjalan bersisian. distribusi pangan dalam keluarga terkesan masih timpang. kumuh. Kurang energi protein dikelompokkan menjadi KKP Primer dan Sekunder. dan marasmus termanifestasi jika terjadi kekurangan energi yang parah. dan tidak jarang berkaitan dengan defisiensi vitamin serta mineral. biologi. Prosedur penyimpangan hasil produksi pasca panen yang buruk mengakibatkan bahan pangan cepat rusak. Kemiskinan. protein.

Jika dialami oleh anak yang lebih tua. Penyakit infeksi berpotensi sebagai penyokong atau pembangkit KKP. Percepatan proses katabolisme meningkatkan kebutuhan sekaligus menambah kehilangan zat-zat gizi. Seorang ibu yang mengalami KKP selama kurun waktu tertentu tersebut pada gilirannya akan melahirkan bayi berberat badan rendah. malnutrisi ibu. Penyakit saluran pencernaan yang sebagian muncul dalam bentuk muntah dan gangguan penyerapan.3. 2. Pemyebab penyakit KKP Penyebab langsung dari KKP adalah defiseinsi kalori maupun protein dengan berbagi tekanan sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik. Penyakit diare.Pengaruh KKP terhadap beberapa organ 1. pada akhirnya berujung pula sebagai KKP. wanita tidak hamil dan tidak menyusui. penyakit infeksi. bayi KKP tersebut tidak akan mampu mengejar ketertinggalannya. campak. . Saluran Pencernaan Malnutrisi berat menurunkan sekresi asam dan melambatkan gerak lambung.yang menggambarkan interelasi antar faktor dan menuju ke titik pusat KKP tersebut. Marasmus sering menjangkiti bayi yang baru berusia kurang dari 1 tahun. baik kekurangan berat selama dalam kandungan maupun setelah lahir. Komponen biologi yang menjadi latarbelakang KKP antara lain. kecanduan alkohol dan obat. sementara kwasiorkor cenderung menyerang setelah mereka berusia kurang 18 bulan. baik sebelum maupun selama hamil. Vili pada mukosa usus lenyap. Selain itu budaya yang menabukan makanan tertentu (terutama pada balita serta ibu hamil dan menyusui) dan mengkonsumsi bahan bukan pangan akan memicu serta sekaligus melestarikan KKP. Lapisan mukosa terlihat disepanjang edema.2. Kurang kalori protein sesungguhnya berpeluang menyerang siapa saja. dewasa muda (utamanya lelaki). menyebabkan kehilangan zat-zat gizi dalam jumlah besar. Tanpa ketersediaan pangan yang cukup. kondisi tersebut biasanya ringan karena mereka umumnya telah pandai “mencari makan” sendiri. serta diet rendah energi potein. Mukosa usus halus mengalami atrofi.sehingga penyakit ini di sebut juga sebagai penyakit dengan causa multifaktorial. terutama bayi dan anak yang sedang tumbuh-kembang. 2. Berbagai faktor penyebab KKP dan antar hubungannya sudah banyak di ajukan sebagai berbagai bentuk sistem holistik.Penyalahgunaan anak. memiliki angka prevalensi paling rendah. dan infeksi saluran napas kerap menghilangkan nafsu makan. Remaja. ketidakberdayaan kaum ibu. permmukaanya berubah menjadi datar dan diinfiltrasi oleh sel-sel limfosit. penelantaran kaum lansia. Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak.

Gangguan kemampuan untuk pemekatan urine diperkirakan sebagai akibat dari penurunan jumlah urea dalam medula yang disertai penyusutan medullary osmolar gradient. sementara anemia pada mereka yang sama sekali tidak makan protein timbul karena sistem sel dalam sumsum tulang tidak berkembang. Penyebab anemia pasien yang asupan proteinnya tidak adekuat ialah menurunnta sintesis eritopoietin. 5. . Sistem Hematologik Perubahan pada sistem hematologik meliputi anemia. pembentukan akan tosit. Infiltrasi lemak merupakan gambaran menonjol yang terutama disebabkan oleh penumpukan trigliserida. Ginjal Meskipun fungsi (agak) normal ginjal masih dapat dipertahankan. 3. di samping sintesis eritropoietin juga menurun. Gangguan fungsi pankreas bersama sama dengan intoleransi disakarida akan menimbulkan sindrom malabsorpsi. Penelitian di Minnesota membuktikan bahwa keadaan semikelaparan dapat mengakibatkan poliuri (tampak jelas setelah 6 minggu kelaparan) dan nokturia. Manakala kelaparan terus berlanjut. Pankreas Malnutrisi mengakibatkan atrofi dan fibrosis sel-sel asinar yang akan mengganggu fungsi pankreas sebagai kelenjar eksokrin. Glikogen pada penderita marasmus cepat sekali terkuras sehingga zat lemak kemudian tertumpuk dalam sel-sel hati. yang selanjutnya berlanjut sebagai diare. GFR (Gromerular Filtration Rate) dan RPF (Renal Plasma Flow) telah terbukti menurun. RBC.Pembaruan sel-sel epitel. Ukuran hati penderita kwasiorkor membesar serta mengandung banyak glikogen. Pemeriksaan laboratorium urine berupa: berat jenis (BJ) rendah. tempat nekrosis sering terlihat. sementara jumlah “retikulum endoplasma kasar” menurun. 2. Mekanisme bagaimana kedua hal ini terjadi belum di ketahui. leukopenia. Dengan mikroskop elektron akan terlihat proliferasi “retikulum endoplasma halus”. WBC. kegiatan disakarida berkurang. Derajat kelainan ini bergantung pada berat serta lamanya kekurangan kalori berlangsung. trombosittopenia. Hati Pengaruh malnutrisi pada hati bergantung pada lama serta jenis zat gizi yang berkurang. dan toraks sementara protein tidak ada secara histologis. hati mengerut sementara kandungan lemak menyusut dan protein habis meskipun jumlah hepatosit relatif tidak berubah. ada sedikit sedimen. serta hipoplasia sel-sel sumsum tulang yang berkaitan dengan transformasi substansi dasar. indeks mitosis. Pada hewan percobaan. tidak ada perubahan yang bermakna. Anemia pada kasus demikian biasanya bersifat normokromik dan tidak disertai dengan retikulositosis meskipun cadangan zat besi adekuat. 4. kemampuan untuk mempertahankan kandungan normal mucin dalam mukosa terganggu dan laju penyerapan asam amino serta lemak berkurang.

dan fisiologi KKP bervariasi dari orang-orang dan bergantung pada keparahan KKP. Simpanan neutrofil yang dinyatakan sebagai hitung neutrofil tertinggi setelah 3-5 jam pemberian hidrokortison pada malnutrisi juga berkurang. Dampaknya adalah kerja jantung menurun.kepekaan. bahu. dan kekurangan yang dominan eneridan protein.Malnutrisi berat berkaitan dengan leukoenia dan hitung jenis yang normal. hipotensi arterial ringan. Sistem Kardiovaskuler Kondisi semikelaparan akan menyusutkan berat badan sebanyak 24%. terkecuali jika pnyakit ini telah sedemikian “parah”. Keparahan KKP diukur dengan menggunakan parameter antropometrik. Penilaian Antropometris Ukuran antropometris bergantung pada kesederhanaan. 6. penurunan tekanan vena. disamping keberadaaan nilai bahan baku acuan yang akan digunakan . Defisit energi dan protein derajat ringan sampai sedang dinilai terutama dengan riwayat kebiasaan pangan perorangan atau masyarakat. penjenuhan (saturasi) oksigen vena dan kandungan oksigen arterial berkurang. Penyakit ini terutama disebabkan lenyapnya kekuatan otot perut. fungsi ventilasi terganggu. Keberadaan hipoproteinemia secara bersamaan mengakibatkan edema interstitial dan sekresi bronkus. Namun jika infeksi terjadi jumlah neutrofil biasanya (namun tidak selalu) meningkat. karena tanda dan gejala klinis serta hasil pemeriksaan laboratorium biasanya tidak mengalami perubahan. Morfologi neutrofi juga kelihatan normal. serta ketersediaan alat ukur. serta pneumonia. stroke volume dan penurunan curah jantung. biokimiawi. kemamouan untuk mengeluarkan dahak menjadi rusak sehingga eksudat menumpuk dalam bronkus. Kematian akibat biasanya terjadi berkaitan pneumonia.4. ketepatan. 2. mengerutkan volume jantung hingga 17% disamping menyebabkan bradikardia. Sistem Pernapasan Hasil otopsi penderita malnutrisi menunjukkan tanda-tanda yang menyiratkan bahwa selama hidup mereka pernah terserang bronkitis. dan fungsinya tidak normal. Klasifikasi serta lamanya penyakit yang telah berlangsug juga ditentukan secara antropometris. Sebagai tambahan. Kondisi demikian memperberat fungsi ventilasi yang telah terganggu. Akibatnya. Diagnosis Gambaran klinis. keberadaaan penyakit penyerta. Riwayat pangan bermanfaat terutama dalam mengukur status gizi orang dewasa. konsumsi oksigen. dan diafragma. Karakteristik klinis dan biokimiawi berguna untuk pemastian diagnosis KKP berat. serta ketersediaan pangan itu sendiri. 1. sela iga. 7. jumlah trombosit juga menurun. Parameter yang wajib diperiksa pada penderita KKP tercantum dalam “Anamesis dam pemeriksaan fisik KKP pada anak”. usia penderita. ada atau tidaknya kekurangan gizi zat lain. tuberculosis.

Dr. Pembolehan ini didasarkan pada asumsi bahwa potensi tumbuh kembang-anak pada umunya serupa. boleh digunakan baku Internasional. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik KKP pada Anak Dikutip dari “Buku Ajar Ilmu Gizi:Gizi dalam Daur Kehidupan”.sebagai pembanding. Baku acuan ditunjukkan sebagai perbandingan semata. kesadaran menurun . MB 2007 Anamnesis ncekungan mata Pemeriksaan Fisik dan kakai dingin. Jika nilai baku suatu negara (Indonesia) belum tersedia. denyut nadi radial lemah. Hubungan berbagai ukuran antropometris (terutama berat dan tinggi badan) pada anak normal yang sehat secara relatif mantap. bukan menggambar keidealan.Arisman.

dan (2) tinggi terhadap usia yang digunakan sebagai petunjuk keadaan gizi di masa lampau. Kemampuan untuk melakukan pekerjaan fisik yang berat dan berlangsung lama juga berkurang. Gejala /tanda-tanda KKP Gambaran klinis utama KKP ringan sampai sedang ialah penyusutan berat badan yang disertai dengan penipisan jaringan lemak bawah kulit. atau dengan proporsi lain lagi. yaitu indeks (1) berat terhadap tinggi badan yang diperuntukkan sebagai petunjuk dalam penentuan status gizi sekarang.6. umumnya seluruh tubuh dan umumnya pada kaki ( dorsumpedis ) . Penilaian antropometris status gizi dan KKP didasarkan pada pengukuran berat dan tinggi badan. Manifestasi klinis 1. • Rambut tipis. Data ini dipakai dalam menghitung 2 macam indeks. kemerahan seperti warna rambut jagung. serta usia.san. Kekurangan tinggi terhadap usia meriwayatkan satu masa ketika pertumbuhan tidak terjadi (gagal) pada usia dini selama periode yang agak lama.rewel dan kadang apatis. Sekedar pembakuan WHO menganjurkan penggunaaan dari NCHS sebagai acuan. Pandangan mata sayu. Wajah membulat dan sembab. Indikator terakhir tidak praktis digunakan sebagai butir diagnosi. Selain itu. Perubahan komposisi tubuh yang mencolok pada orang dewasa ialah penyusutan jaringan adiposa sebesar 12% (lelaki) sampai 20% (wanita). Kegiatan fisisk dan keluaran energi anak berkurang. dan kebiasaan. kemungkinan wanita KKP melahirkan bayi dengan berat lahir rendah lebih tinggi ketimbang wanita normal. atau 90%. Jika KKP berlangsung menahun. mudah dicabut tanpa rasa sakit. saluran pencernaan.5. pertumbuhan memanjang akan terhenti sehingga anak akan bertubuh pendek. 2.rontok. • Perubahan status mental :cengeng. KKP berat tipe kwashiorkor : • • • Edema. tanda pneumonia atau gagal jantung Interpretasi perbandingan ini digunakan sebagai bahan pertimbangan jika seseorang dipaksa untuk memutuskan apakah nilai yang diharapkan itu harus 100%. 2. disamping berlangsung pula perubahan pada fungsi kekebalan. .

Upaya pengobatan awal meliputi 1. Penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal.KKP berat tipe marasmik-kwashiorkor Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus. dan pemulihan ketidakimbangan elektrolit 2. 4. dehidrasi. sementara fase rahabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi. berarti diperlukan upaya tambahan. 2. 3. Otot mengecil. . Pencegahan jika ada ancaman atau perkembangan renjatan septik Pengobatan infeksi Pemberian makanan 5. Pengobatan atau pencegahan terhadap hipoglikemia. Yang pertama saat pasien tiba dirumah sakit hingga kondisi pasien stabil dan nafsu makan pulih.anemia. Jika lebih dari 10 hari keadaan pasien tidak juga pulih. • Sering disertai :infeksi.jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.7.lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk . Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa. sementara suasana yang berlainan dengan keadaan rumah menyebabkan seseorang merasa diasingkan. • Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas. dan diare. Menginap di rumah sakit justru meningkatkan risiko infeksi silang. 3. anemia berat.• • Pembesara hati. Penanganan penyakit KKP Orang yang menderita KKP sangat di anjurkan dirawat di rumah saja. KKP berat tipe marasmus • • • • • Tampak sangat kurus. dan rehabilitasi. Cengeng. Perut cekung. dan payah jantung.rewel. hingga tulang terbungkus kulit. Wajah seperti orang tua. Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain seperti kekurangan vitamin. Fase ini biasanya berlangsung selama 2-7 hari. Kulit kriput. 2. hipitermia.

Tanda yang digunakan dalam menentukan diagnosis dikelompokan menjadi 3. anak harus diberi makan sekurang-kurangnya setiap 2-3 jam. 2. Tanda hipoglikemia : 1.terutama selama 2 hari pengobatan awal.50C atau suhu ketiak dibawah 350C. Hipotermia Hipotermia karap terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 12 bulan dan mereka yang menderita marasmus dengan kerusakan kulit yang parah serta infeksi berat. Hipoglikemia Penderita KKP berat kemungkinan besar untuk jatuh kedalam kedalam hipoglikemia (kadar glukosa darah <54 mg/dl atau <3 mmol/L ).atau jika anak dibiarkan tidak makan selama 4-6 jam. Anak mesti dihangatkan manakala suhu rektal terukur kurang dari 35.terutama sepanjang perjalanan dari rumah kerumah sakit. upaya pengobatan harus segera di lakukan tanpa harus menanti hasil pemeriksaan laboratorium. 3. Semua anak yang yang mengalami hipotermia harus diobati untuk hipoglikemia dan infeksi sistemik.5 0 C Lemas Kesadaran berkurang Jika tanda-tanda ini telah tampak.1. Semua penderita hipoglikemia harus diberi antibiotika spectrum luas untuk mengobati infeksi sistemis yang luas. Tanda yang bermakna Tidak bermakna Tanda renjatan septik Tanda yang bermakna terungkap pada • • • • Riwayat diare Rasa haus Hipotermia Mata cekung . Keadaan ini dapat disebabkan oleh infeksi sistemis yang serius. Dehidrasi dan ranjatan septik Penegakan diagnosis dehidrasi pada pasien yang menderita KKP berat sungguh sulit. Agar hipoglikemia tidak terjadi. Temperature tubuh kurang dari 36. 2. 3. 3.yaitu 1. 2.baik siang ataupun malam.

dan tanda dehidrasi lain hilang. Keadaan mental anak KKP biasanya aptis jika dibiarkan sendiri. Cairan rehidrasi oral harus mengandung lebih banyak kalium ketimbang natrium karena penderita KKP berat selalu mengalami defisiensi kaliaum serta kelebihan natrium. Kelemahan atau hilangnya denyut nadi pada arteri radialis menandakan terjadinya renjatan. Seseorang yang anak yang menunjukan tanda dehidrasi. atau baru tahap “ancaman” ke arah sana. dan rewel jika didekati. Tanda renjatan septik : • • Ancaman mengarah ke keadaan renjatan septik Renjatan septik yang tengah berlangsung. mesti diobati sebagai “renjatan septik”. Pemberian secara perenteral boleh diberlakukan hanya dalam keadaan renjatan (syok). harus diobati sebagai renjatan septis. berikan 50-100 cc cairan setiap kali diare sementara anak yang lebih besar jumlahnya dua kali lipat. Jika denyut arteri karotis. abaik akibat dehidrasi berat maupun sepsis. yang menampakkan tanda renjatan septik. Anak-anak ini tidak perlu di mandikan. Kesadaran penderita akan lenyap secara progresif jika dehidrasi memburuk. dan brakial lemah berarti anak tengah menunggu maut dan harus diobati dengan sangat segera. Pengobatan renjatan septik Semua anak yang menderita KKP berat. Mereka juga harus di beri antibiotika spectrum luas dan di hangatkan untuk mencegah atau mengobati hipotermia. Bola mata yang cekung dapat membantu pemeriksa mendiagnosis dehidrasi. . jika anak berusia kurang dari 2 tahun.• Tangan dan kaki terasa dingin Tanda yang tidak bermakna dinilai berdasarkan • • • Keadaan mental Mulut. namun tidak ada riwayat diare berair. Tinja penderita KKP berat kerap berlendir. Rehidrasi berhasil jika anak tidak lagi kehausan. Pengobatan dehidrasi Proses rehidrasi sabaiknya dilakukan secara oral karena pemberian per infus dapat menyebabkan kelebihan cairan dan gagal ginjal. anak harus tetap diberi minum. sudah dapat berkemih. Sebagai patokan.lidah. femoris. dan air mata Kelenturankulit Anak dengan dihidrasi harus mempunyai latar belakang diare berair. Agar anak tidak mengalami dehidrasi lagi.

. Sedangkan Keparahan KKP diukur dengan menggunakan parameter antropometrik karena tanda dan gejala klinis. KKP berat secara klinis terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor. biologi.hati dan ginjal. Kesimpulan Dari materi diatas dapat disimpilkan bahwa KKP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi AKG.sistem hematologik. sistem kardiovaskular. BAB III PENUTUP 3. ekonomi . Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan KKP yaitu dalam masalah sosial.sistem pernapasan. serta hasil pemeriksaan laboratorium biasanya tidak menunjukkan perubahan terkecuali penyakit ini sudah sedemikian parah.Pengobatan dietetis Makanan formula sebaiknya segera diberikan pada anak manakala tidak terdeteksi tandatanda gawat darurat.marasmus.pankreas. dan lingkungan. Penyakit KKP ini berpengaruh terhadap beberapa organ diantaranya saluran pencernaan.1. Makanan formula untuk mereka sabaiknya berkadar rendah protein dan lemak. tetapi mengandung karbohidrat dalam jumlah lebih besar. di samping melanjutkan pemberian air susu ibu. Klasifikasi serta lamanya penyakit yang telah berlangsung juga ditentukan secara antropometris. dan marasmik dan kwashiorkor.

DAFTAR PUSTAKA .