“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT”

2009 

KEPMEN.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.   

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1204/MENKES/SK/X/2004 TENTANG PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT

Menimbang

:

(a).

bahwa rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan; bahwa untuk menghindari risiko dan gangguan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, maka perlu penyelenggaraan kesehatan lingkungan rumah sakit sesuai dengan persyaratan kesehatan; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit; UndangUndang Gangguan (Hinder Ordonnantie) 1926 Stbl. 1940 Nomor 14 dan Nomor 450; UndangUndang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3237); UndangUndang Nomo 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Menular (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); UndangUndang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaga nukliran (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3676); UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

(b).

(c).

Mengingat

:

(1). (2).

(3).

(4).

(5).

(6).


 

“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT”

2009 

KEPMEN.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.    (7). UndangUndang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); (8). Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447); Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3815);

(9).

(10). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); (11). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090); (12) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4202); (13) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4276); (14) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/ XI/2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan; (15) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1493/Menkes/SK/2003 tentang Penggunaan Gas Medis Pada Sarana Pelayanan Kesehatan; MEMUTUSKAN Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT. Kedua : Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan penyelenggaraannya sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini Ketiga : Penanggung jawab rumah sakit bertanggung jawab terhadap pengelolaan kesehatan lingkungan rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua Keputusan ini.

Keempat: Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan kesehatan lingkungan rumah sakit dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kelima : Dengan berlakunya Keputusan Menteri ini maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 986 Tahun 1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan peraturan pelaksanaannya dicabut dan tidak berlaku lagi.

Keenam : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.


 

“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT”

2009 

KEPMEN.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.    Ditetapkan di : Jakarta Pada Tanggal : 19 Oktober 2004 MENTERI KESEHATAN RI ttd Dr. ACHMAD SUJUDI  


 

“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT”

2009 

KEPMEN.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.   

Lampiran
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 Tanggal : 19 Oktober 2004 PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT I. A. PENYEHATAN RUANG BANGUNAN DAN HALAMAN RUMAH SAKIT Pengertian
(1). Ruang bangunan dan halaman rumah sakit adalah semua ruang/unit dan halaman yang ada di dalam batas pagar rumah sakit (bangunan fisik dan kelengkapannya) yang dipergunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan rumah sakit. Pencahayaan di dalam ruang bangunan rumah sakit adalah intensitas penyinaran pada suatu bidang kerja yang ada di dalam ruang bangunan rumah sakit yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif Pengawasan ruang bangunan adalah aliran udara di dalam ruang bangunan yang memadai untuk menjamin kesehatan penghuni ruangan. Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak mengganggu dan/atau membahayakan kesehatan. dikehendaki sehingga

(2).

(3). (4). (5).

Kebersihan ruang bangunan dan halaman adalah suatu keadaan atau kondisi ruang bangunan dan halaman bebas dari bahaya dan risiko minimal untuk terjadinya infeksi silang, dan masalah kesehatan dan keselamatan kerja.

B.

Persyaratan
(1). Lingkungan Bangunan Rumah Sakit (a). Lingkungan bangunan rumah sakit harus mempunyai batas yang kelas, dilengkapi dengan agar yang kuat dan tidak memungkinkan orang atau binatang peliharaan keluar masuk dengan bebas. Luas lahan bangunan dan halaman harus disesuaikan dengan luas lahan keseluruhan sehingga tersedia tempat parkir yang memadai dan dilengkapi dengan rambu parkir. Lingkungan bangunan rumah sakit harus bebas dari banjir. Jika berlokasi di daerah banjir harus menyediakan fasilitas/teknologi untuk mengatasinya. Lingkungan rumah sakit harus merupakan kawasan bebas rokok Lingkungan bangunan rumah sakit harus dilengkapi penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup. Lingkungan rumah sakit harus tidak berdebu, tidak becek, atau tidak terdapat genangan air dan dibuat landai menuju ke saluran terbuka atau tertutup, tersedia lubang penerima air masuk dan disesuaikan dengan luas halaman

(b).

(c). (d). (e). (f).


 

“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT”

2009 

KEPMEN.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.    (g). Saluran air limbah domestik dan limbah medis harus tertutup dan terpisah, masingmasing dihubungkan langsung dengan instalasi pengolahan limbah. (h). (i). Di tempat parkir, halaman, ruang tunggu, dan tempattempat tertentu yang menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah. Lingkungan, ruang, dan bangunan rumah sakit harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kualitas dan kuantitas yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang dan berkembang biaknya serangga, binatang pengerat, dan binatang pengganggu lainnya. Lantai 1) 2) 3) (b). Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, dan mudah dibersihkan. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan

(2).

Konstruksi Bangunan Rumah Sakit (a).

Dinding Permukaan dinding harus kuat, rata, berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat

(c).

Ventilasi 1) 2) 3) Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. Luas ventilasi alamiah minimum 15 % dari luas lantai Bila ventilasi alamiah tidak dapat menjamin adanya pergantian udara dengan baik, kamar atau ruang harus dilengkapi dengan penghawaan buatan/mekanis. Penggunaan ventilasi buatan/mekanis harus disesuaikan dengan peruntukkan ruangan. Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya. Atap yang lebih tinggi dari 10 meter harus dilengkapi penangkal petir. Langitlangit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan. Langit langit tingginya minimal 2,70 meter dari lantai. Kerangka langitlangit harus kuat dan bila terbuat dari kayu harus anti rayap.

4) (d). Atap 1) 2) (e). 1) 2) 3) (f).

Langit langit

Konstruksi Balkon, beranda, dan talang harus sedemikian sehingga tidak terjadi genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes.


 

air bersih. dan ruang pendidikan/ pelatihan. dan lain lain harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan agar aman digunakan untuk tujuan pelayanan kesehatan. tikus.70 meter dari lantai. air limbah. warna terang. sarana telekomunikasi. 1) 2) Permukaan dinding harus rata dan berawarna terang Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat. 3) 4) 5) 6    .10 meter. dan tinggi minimal 2. harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) . Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya dan dilengkapi ram untuk brankar. Jaringan Instalasi 1) Pemasangan jaringan instalasi air minum. Langitlangit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat. Lalu Lintas Antar Ruangan 1) 2) 3) (j). Ruang Bangunan (a). kedap air. Zona dengan Risiko Rendah Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi. dan dapat mencegah masuknya serangga. sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi Penggunaan tangga atau elevator dan lif harus dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rescue Divice) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati. ruang perpustakaan. Pemasangan pipa air minum tidak boleh bersilangan dengan pipa air limbah dan tidak boleh bertekanan negatif untuk menghindari pencemaran air minum. cukup tinggi.00 meter dari lantai. listrik. ruang resepsionis. Lebar pintu minimal 1. ruang komputer. (h). Ventilasi harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan harus didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan. gas. mudah dibersihkan. kerangka harus kuat. dan ambang bawah jendela minimal 1. 2) (i). Fasilitas Pemadam Kebakaran Bangunan rumah sakit dilengkapi dengan fasilitas pemadam kebakaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku (3). berwarna terang. cukup lebar. Pintu Pintu harus kuat.    (g). bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik. mudah dibersihkan.20 meter dan tinggi minimal 2. sistem pengawasan. ruang pertemuan.KES  NO. dan binatang pengganggu lainnya.

Lantai terbuat dari bahan yang kuat.    6) Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1. dan tinggi minimal 2. ruang gawat darurat.50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang. a) b) Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1. dengan ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut. ruang bedah mayat (autopsy). 2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat. ruang bedah mulut.40 meter dari lantai. 3) 4) 5) (d). dan ruang tunggu pasien. Dinding ruang penginderaan medis harus berwarna gelap.00 meter dari lanti. rawat jalan.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.40 meter dari lantai. kedap air. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah. dan ambang bawah jendela minimal 1. ruang perawatan gigi. dan ruang jenazah dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Dinding permukaan harus rata dan berwarna terang. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1.70 meter dari lantai. atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman. ruang perawatan intensif. Lebar pintu minimal 1. Zona dengan Risiko Sangat Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi. ruang ganti pakaian. Zona dengan Risiko Tinggi Zona risiko tinggi meliputi : ruang isolasi.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus Langit langit terbuat dari bahan mutipleks atu bahan yang kuat. kedap air. berwarna terang. 2) 3) 4) 7    . (b). mudah dibersihkan dan berwarna terang. dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langitlangit. tembok pembatas antara ruang Sinar X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette.10 m. dan tinggi minimal 2. Langitlangit terbuat dari bahan yang kuat dan aman. Lebar pintu minimal 1.20 meter dan tinggi minimal 2.KES  NO. ruang penginderaan medis (medical imaging). mudah dibersihkan.20 meter dan tinggi minimal 2.70 meter dari lantai. dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup. mudah dibersihkan. kerangka harus kuat. Zona dengan Risiko Sedang Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular. (c).10 meter. laboratorium. berwarna terang. warna terang. ruang bersalin.

harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langitlangit 6) 7) Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai Ventilasi atau pengawasan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri. Hubungan dengan ruang scrub–up untuk melihat ke dalam ruang operasi perlu dipasang jendela kaca mati.    5) Khusus ruang operasi. dan tidak mengandung debu asbes. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.KES  NO. untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. 8) 9) 10) 11) (4) (a). (b).“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System Tidak dibaenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar. Indeks angka kuman untuk setiap ruang/unit seperti tabel berikut : 3 Tabel : I. hubungan ke ruang steril dari bagian cleaning cukup dengan sebuah loket yang dapat diuka dan ditutup. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. untuk itu harus dibuat ruang antara. Kualitas Udara Ruang Tidak berbau (terutana bebas dari H2S dan Amoniak Kadar debu (particulate matter) berdiameter kurang dari 10 micron dengan ratarata pengukuran 8 jam atau 24 jam tidak melebihi 150 µg/m . Pemasangan gas media secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langitlangit.1 Indeks Angka Kuman Menurut Fungsi Ruang atau Unit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Ruang atau Unit Operasi Bersalin Pemulihan/perawatan Observasi bayi Perawatan bayi Perawatan premature ICU Jenasah/Autopsi Penginderaan medis Laboratorium Radiologi Sterilisasi Dapur Gawat Darurat Administrasi. pertemuan Ruang luka bakar Konsentrasi Maksimum Mikro Organisme per m2 Udara (CFU/m2) 10 200 200 ~ 500 200 200 200 200 200 ~ 500 200 200 ~ 500 200 ~ 500 200 200 ~ 500 200 200 ~ 500 200 8    .

000 µg/m3 1ppm 0. Pencahayaan Pencahayaan.000 300 500 75 ~ 100 Minimal 60 Minimal 100 Minimal 100 Minimal 100 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 200 Minimal 100 Minimal 100 0.5 µg/m3 200 µg/m3 4 pCi/liter 125 µg/m3 100 g/m3 1 ppm 2 3 Malam hari Warna cahaya biru Penghawaan Persyaratan penghawaan untuk masingmasing ruang atau unit seperti berikut : (a). perawatan bayi.Kantor Ruang Alat/Gudang Farmasi Dapur Ruang cuci Toilet Ruang Isolasi khusus penyakit tetanus/ Ruang luka bakar Intensitas Cahaya (Lux) 100 ~ 200 Maksimal 50 300 ~ 500 10. perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifat pekerjaan yang terjadi di ruangruang tersebut.2 Indeks kadar gas dan bahan berbahaya dalam udara ruang rumah sakit No 1 2 3 4 5 6 7 8 (5).VOC Rata-rata waktu pengukuran 8 8 1 1 -24 30 -Konsentrasi maksimal sebagai standar 10.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. penerangan.    Konsentrasi gas dalam udara tidak melebihi konsentrasi maksimum seperti dalam tabel berikut : Tabel 1.000 20. dan intensitasnya di ruang umum dan khusus harus sesuai dengan peruntukkannya seperti dalam tabel berikut : Tabel I.5 100 ~ 200 Keterangan Warna cahaya sedan Warna cahaya sejuk atau sedang.Saat tidak tidur.3 Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruangan atau Unit No 1 Ruang atau Unit Ruang Pasien . Parameter kimiawi Karbon monoksida Karbon dioksida Timbal Nitrogen dioksida Radon Sulfur dioksida Formaidehida Total senyawa organik yang mudah menguap. Ruangruang tertentu seperti ruang operasi. Anestesi/pemulihan Endoscopy. Lab Sinar X Koridor Tangga Administrasi.1 ~ 0. CO CO2 Pb NO2 Rn SO2 HCHO T.Saat tidur Ruang Operasi Umum Meja Operasi 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 (6). 9    . . laboratorium.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.

(c).    (b). dan Tekanan Udara Menurut Fungsi Ruang atau Unit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Ruang/Unit Operasi Bersalin Pemulihan/perawatan Observasi bayi Perawatan bayi Perawatan prematur ICU Jenasah/Autopsi Penginderaan medis Laboratorium Radiologi Sterilisasi/Isolasi Dapur Gawat Darurat Administrasi. sistem sirkulasi udara segar dalam ruangan harus cukup (mengikuti pedoman teknis yang berlaku) Kebisingan Persyaratan kebisingan untuk masingmasing ruangan atau unit seperti tabel berikut : Tabel I.4 Standar Temperatur. Umum Anestesi.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Temperatur (0C) 19 ~ 24 24 ~ 26 22 ~ 24 21 ~ 24 22 ~ 26 24 ~ 26 22 ~ 23 21 ~ 24 19 ~ 24 22 ~ 26 22 ~ 26 22 ~ 30 22 ~ 30 19 ~ 24 21 ~ 26 24 ~ 26 Kelembaban (%) 45~ 60 45 ~ 60 45 ~ 60 45 ~ 60 35 ~ 60 35 ~ 60 35 ~ 60 -45 ~ 60 35 ~ 60 45 ~ 60 35 ~ 60 35 ~ 60 45 ~ 60 -35 ~ 60 Tekanan Positif Positif Seimbang Seimbang Seimbang Positif Positif Negatif Seimbang Negatif Seimbang Negatif Seimbang Positif Seimbang Positif Ruangan yang tidak menggunakan AC. Ventilasi ruang operasi harus dijaga pada tekanan lebih positif sedikit (minimum 0. pemulihan Endoskopi.saat tidur Ruang operasi. (7). Laboratorium Sinar X Koridor Tangga Kantor/Lobi Ruang alat/gudang Farmasi Dapur Kebisingan Max (waktu pemaparan 8 jam dalam satuan dB A) 45 40 45 45 65 40 40 45 45 45 45 78 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10    . kelembaban. pertemuan Ruang luka bakar (d).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Sistem temperatur dan kelembaban hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan temperatur dan kelembaban seperti dalam tabel berikut : Tabel I.saat tidak tidur .KES  NO.5 Indeks Kebisingan Menurut Ruangan atau Unit No 1 Ruang atau Unit Ruang pasien : .10 mbar) dibandingkan ruangruang lain di rumah sakit.

Ruang bayi : 1) 2) (b). dan Jumlah Kamar Mandi No Jumlah tempat tidur Jumlah Toilet Jumlah Kamar Mandi 1 s/d 10 1 1 2 s/d 20 2 2 3 s/d 30 3 3 4 s/d 40 4 4 Setiap penambahan 10 tempat tidur harus ditambah 1 toilet & 1 kamar mandi Tabel I. (d). Toilet. Lantai dan dan Dinding Lantai dan dinding harus bersih. Ruang perawatan minimal 2 m /tempat tidur Ruang isolasi minimal 3.KES  NO. Fasilitas Sanitasi Rumah Sakit Perbandingan jumlah tempat tidur pasien dengan jumlah toilet dan jumlah kamar mandi seperti pada tabel berikut : Tabel I. (b.6 Indeks Perbandingan Jumlah Tempat Tidur.5 m /tempat tidur Ruang isolasi minimal 6 m /tempat tidur 2 (10).7 Indeks Perbandingan Jumlah Karyawan dengan jumlah Toilet dan Jumlah Kamar Mandi No Jumlah tempat tidur Jumlah Toilet Jumlah Kamar Mandi 1 s/d 20 1 1 2 s/d 40 2 2 3 s/d 60 3 3 4 s/d 80 4 4 5 s/d 100 5 5 Setiap penambahan 20 karyawan harus ditambah 1 toilet & 1 kamar mandi (9).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.5 m /tempat tidur 2 2 2 Ruang dewasa : 1) 2) Ruang perawatan minimal 4.    12 Ruang cuci 78 13 Ruang Isolasi 40 14 Ruang Poli Gigi 80 (8). Jumlah Tempat Tidur Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai untuk kamar perawatan dan kamar isolasi sebagai berikut : (a).“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Ruang Operasi : 0 5 CFU/cm dan bebas patogen dan gas gangren Ruang perawatan : 5 – 10 CFU/cm Ruang isolasi : 0 – 5 CFU/cm 2 2 2 2 Ruang UGD : 5 – 10 CFU/cm 11    . dengan tingkat kebersihan sebagai berikut : (a). (c).

Penghawaan atau ventilasi di rumah sakit harus harus mendapat perhatian yang khusus. baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya. (b).5 m /detik. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik minimal 2 (dua) kali setahun dan di cat ulang apabila sudah kotor atau cat sudah pudar. Pengambilan supply udara dari luar. Caracara pembersihan yang dapat menebarkan debu harus dihindari. (2). Lingkungan rumah sakit. (b). sekitar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan berisik. dan frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali. Harus menggunakan cara pembersihan dengan perlengkapan pembersih (pel) yang memenuhi syarat dan bahan antiseptik yang tepat. (d). (b). darah atau eksudat luka pada dinding harus segera dibersihkan dengan menggunakan antiseptik. Untuk rumah sakit yang menggunakan pengatur udara (AC) sentral harus diperhatikan cooling towernya agar tidak menjadi perindukan bakteri legionella dan untuk AHU (Air Handling Unit) filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri atau jamur. kunjungan keluarga. 3 (c). Pencahayaan (a). Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah pembenahan/merapikan tempat tidur pasien. Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan.50 meter dari exhauster atau perlengkapan pembakaran. 12    .“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.KES  NO. 3 (d). hendaknya diletakkan sejauh mungkin. (g). Kegiatan pembersihan ruang minimal dilakukan pagi dan sore hari. Tata Laksana (1). Suplai udara dan exhaust hendaknya digerakkan secara mekanis. (f). Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan. (e). (f). Bila menggunakan sistem pendingin. jam makan. minimal 7. Pemeliharaan Ruang Bangunan (a). (e). dan exhaustfan hendaknya diletakkan pada ujung sistem ventilasi. dan kelembaban nyaman bagi pasien dan karyawan. Tinggi intake minimal 0. kecuali unit ruang individual. (3). Pada masingmasing ruang supaya disediakan perlengkapan pel tersendiri. (c). Ruang pasien/bangsal harus disediakan penerangan umum dan penerangan untuk malam hari dan disediakan saklar dekat pintu masuk. Setiap percikan ludah. jam kunjungan dokter. Penghawaan (Ventilasi) dan Pengaturan Udara (a). Ruangan dengan volume 100 m sekurangkurangnya 1 (satu) fan dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0. aliran udara.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.    C. dan sewaktuwaktu bilamana diperlukan.9 meter dari atap. (c). hendaknya dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk sehingga dapat menghasilkan temperatur.

(b). (l). Sanitasi (a). dan meninggikan tanah (bukit buatan). hendaknya ddisediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7. Saringan I dipasang di bagian penerimaan udara dari luar dengan efisiensi 30 % dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90 %. gudang. Fasilitas Penyediaan Air Minum dan Air Bersih 1) 2) 3) Harus tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan. diambil dekat langitlangit dan exhaust dekat lantai. perawatan bayi. Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih tinggi dibandingkan ruangruang lain dan menggunakan cara mekanis (air conditioner) (j). Tersedia air bersih minimum 500 liter/tempat tidur/hari Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan. Pengaturan dan tata letak ruangan harus sedemikian rupa sehingga kamar dan ruangan yang memerlukan suasana tenang terhindar dari kebisingan. Penghawaan alamiah.KES  NO. pemeliharaan mesinmesin yang menjadi sumber bising. (o). Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2. (n).    (g). Ventilasi ruangruang sensitif hendaknya dilenglengkapi dengan saringan 2 beds. atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan penyinaran ultra violet. pemindahan. meninggikan tembok. Sumber sumber bising yang berasal dari rumah sakit dan sekitarnya agar diupayakan untuk dikendalikan antara lain dengan cara : 1) 2) Pada sumber bising di rumah sakit peredaman. Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system. Kebisingan (a).00 meter di atas lantai atau minimum 0. Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk suplai udara ke WC. Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1 (satu) kali sebulan harus disinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol. (m). Pada sumber bising dari luar rumah sakit : penyekatan/penyerapan bising dengan penanaman pohon (freen belt).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. (4). (k). ruang operasi. (h). (5). debu. toilet.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. dan gas). 13    . Suplai udara di atas lantai. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman. (i). Suplai udara untuk daerah sensitif.20 meter dari langitlangit.50 cm dari lantai. Penyekatan. lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidakterhalang. trietylin glikol).

Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan dapur. kedap air. peturasan dan tempat cuci tangan) tersendiri.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet (jamban. dan mudah dibersihkan. kamar operasi. Khususnya untuk unit rawat inap dan kamar karyawan harus tersedia kamar mandi. (b). menyediakan air bersih.    4) Distribusi air minum dan air bersih disetiap ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif. mencuci piring.KES  NO. makanan dan minuman yang dijual didalam lingkungan rumah sakit atau dibawa dari luar rumah sakit. 5) Persyaratan penyehatan air termasuk kualitas air minum dan kualitas air bersih sebagaimana tercantum dalam Bagian III tentang Penyehatan Air. 14    . 1 (satu) toilet untuk 1 ~ 30 pengunjung pria. Lantai terbuat dari bahan yang kuat. Tidak terdapat tempat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. Harus dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk memelihara kebersihan. tidak licin. PENYEHATAN HYGIENE DAN SANITASI MAKANAN MINUMAN Pengertian (1). II. berwarna terang. menyediakan tempat sampah dan lainlain. Sanitasi adlah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan. dan ruang khusus lainnya. Makanan dan minuman di rumah sakit adalah semua makanan dan minuman yang disajikan dan dapur rumah sakit untuk pasien dan karyawan. unit rawat inap dan karyawan. Harus tersedia dan selalu terpelihara serta dalam keadaan bersih. Fasilitas Toilet dan Kamar Mandi 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) (c). Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan bau (water seal). Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar. dan toilet untuk pengunjung dengan perbandingan 1 (satu) toilet untuk 1 ~ 20 pengunjung wanita.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. karyawan dan toilet pengunjung Toilet pengunjung harus terletak di tempat yang mudah dijangkau dan ada petunjuk arah. Misalnya. (2). membuang bagian makanan yang rusak. Higiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu. Misalnya. Toilet dan kamar mandi harus terpisah antara pria dan wanit. Fasilitas Toilet dan Kamar Mandi Persyaratan pembuangan sampah (padat medis dan domestik). (3). A. mencuci tangan. limbah cair dan gas sebagaimana tercantum dalam bagian IV tentyang Pengelolaan Limbah.

(5). dan laboratorium minimal 1 bulan Peraturan Mnteri Kesehatan No. dan minuman Tepung dan biji (6). Pembelian bahan sebaiknya ditempat yang resmi dan berkualitas baik.8 Temperatur Penyimpanan Menurut Jenis Bahan Makanan Jenis Bahan Makanan Ikan. Makanan ayng mudah membususk disimpan dalam temperatur panas lebih dari 65. 15    . Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam disimpan temperatur – 5° C sampai 1° C.Coli harus 0/100 ml sampel minuman. Cara penyimpanan bahan makanan tidak menempel pada lantai. buah. 715/MenKes/SK/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasaboga. Bahan Makanan Tambahan Bahan makanan tambahan (bahan pewarna. (c). 3 hari atau kurang 5°C sampai 0° C 5° C sampai 7° C 10° C 25° C Digunakan untuk 1 minggu atau kurang 10° C sampai 5° C 5° C sampai 0° C 10° C 25° C 1 minggu atau lebih Kurang dari 10° C Kurang dari 5° C 10° C 25° C (4). Bahan Makanan dan Makanan Jadi (a). Bahan makanan kemasan (terolah) harus mempunyai label dan merek serta dalam keadaan baik. dan olahannya Sayur.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Persyaratan Higiene dan Sanitasi Makanan (1). (7). Angka kuman E. Maknaan kemasan tertutup sebaiknya disimpan dalam temperatur ± 10° C. (2).Coli pada makanan harus 0/gr sampel makanan dan pada minuman angka kuman E. (3). (c).KES  NO. Penyimpanan bahan mentah dilakukan dalam temperatur sebagai berikut : Tabel I. udang.5° atau dalam temperatur dingin kurang dari 4° C. (d). Jarak bahan makanan dengan lantai 15 cm Jarak bahan makanan dengan dinding 5 cm Jarak bahan makanan dengan langitlangit 60 cm C. Bahan makanan dan makanan jadi yang berasal dari instalasi Gizi atau dari luar rumah sakit/jasaboga harus diperiksa secara fisik. (b). (2). (b). pemanis buatan) harus sesuai dengan ketentuan.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Tata Cara Pelaksanaan (1). Makanan jadi yang dibawa oleh keluarga pasien dan berasal dari sumber lain harus selalu diperiksa kondisi fisiknya sebelum dihidangkan. Kelembaban penyimpanan dalam ruangan 80 90 %. atau langitlangit dengan ketentuan sebagai berikut : (a). Kebersihan peralatan ditentukan dengan angka total kuman sebanyakbanyaknya 2 100/cm permukaan dan tidak ada kuman E. pengawet. Coli. susu.    B. dan olahannya Telur. dinding.

ikan. Makanan jadi yang siap disajikan harus diwadahi atau dikemas dan tertutup serta segera disajikan (c). agar tidak ada makanan yang busuk.    (3). Bahan makanan berprotein yang mudah rusak untuk jangka waktu kurang dari 24 jam disimpan pada penyimpanan beku (frozen) dengan temperatur < 0 °C. terlindung dari debu. Tidak ada drainase disekitar gudang makanan. Makanan Jadi 1) 2) 16    . Jumlah kandungan logam berat dan residu pestisida. Pintu tidak boleh temperatur. dan lainlain) harus tertutup. sayuran. Temperatur gudang bahan makanan kering dan kaleng dijaga kurang dari 22° C. Semua bahan makanan hendaknya disimpan pada rakrak dengan ketinggian rak terbawah 15 cm – 25 cm. tidak boleh melebihi ambang batas yang diperkenankan menurut ketentuan yang berlaku.KES  NO. Penyimpanan Bahan Makan dan Makanan Jadi Tempat penyimpanan bahan makanan harus selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih. Gudang harus dibuat anti tikus dan serangga. disimpan pada temperatur penyimpanan sejuk (cooling) 10 °C– 15 °C Bahan makanan berprotein yang akan segera diolah kembali disimpan pada temperatur penyimpanan dingin (chilling)4 °C–10°C Bahan makanan berprotein yang mudah rusak untuk jangka waktu sampai 24 jam disimpan pada penyimpanan dingin sekali (freezing) dengan temperatur 0 °C–4 °C.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. bahan kimia berbahaya. Semua gudang bahan makanan hendaknya berada di bagian yang tinggi Bahan makanan tidak diletakkan di bawah saluran/pipa air (air bersih maupun air limbah)untuk menghindari terkena bocoran. yaitu yang disimpan lebih dahulu digunakan dahulu. Makanan jadi harus memenuhi persyaratan bakteriologi berdasarkan ketentuan yang berlaku. dan minuman. Pengambilan dengan cara First in First Out (FIFO). Bahan makanan seperti buah. (a). serangga dan hewan lain. Penempatan bahan makanan harus rapi dan ditata tidak padat untuk menjaga sirkulasi udara. Bahan Makanan Kering 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) (b). sering dibuka karena akan meningkatkan Bahan Makanan Basah/Mudah Membusuk dan Minuman 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Makanan yang berbau tajam (udang.

Tempat Pengolahan Makanan 1) 2) 3) 4) (b). Intensitas pencahayaan diupayakan tidak kurang dari 200 lux.KES  NO.    (4). Lapisan permukaan tidak terlarut dalam asam/basa atau garamgaram yang lazim dijumpai dalam makanan. Perlu diperhatikan jalur khusus yang terpisah dengan jalur untuk mengangkut bahan/barang kotor. agar masih tersedia udara untuk ruang gerak. (c). Penyajian Makanan 1) 17    . Penjamah Makanan 1) 2) 3) 4) (d). Pengisian kereta dorong tidak sampai penuh. Secara berkala minimal 2 kali setahun diperiksa kesehatannya oleh dokter yang berwenang. 1) 2) 3) 4) 5) Peralatan masak tidak boleh melepaskan zat beracun kepada makanan Peralatan masak tidak boleh patah dan kotor. Harus sehat dan bebas dari penyakit menular. Perlu disediakan tempat pengolahan makanan (dapur) sesuai dengan persyaratan konstruksi. Peralatan Masak Peralatan masak adalah semua perlengkapan yang diperlukan dalam proses pengolahan makanan.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Pengolahan Makanan Unsur unsur yang terkait dengan pengolahan makanan : (a). Asap dikeluarkan melalui cerobong yang dilengkapi dengan sungkup asap. selanjutnya didesinfeksi dan dikeringkan Peralatan yang sudah bersih harus disimpan dalam keadaan kering dan disimpan pada rak terlindung dari vektor. Harus menggunakan pakaian kerja dan perlengkapan pelidung pengolahan makanan dapur. yaitu : 1) 2) 3) Makanan diangkut dengan menggunakan kereta dorong yang tertutup dan bersih. Cara penyajian makanan harus terhindar dari pencemaran dan peralatan yang dipakai harus bersih (e). Pengangkutan Makanan Makanan yang telah siap santap perlu diperhatikan dalam cara pengangkutannya. Selalu mencuci tangan sebelum bekerja dan setelah keluar dari kamar kecil. bangunan dan ruangan dapur Sebelum dan sesudah kegiatan pengolahan makanan selalu dibersihkan dengan antiseptik.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Peralatan agar dicuci segera sesudah digunakan.

Air minum adalah air ayng melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. sayuran. III. 3) Makanan jadi yang disajikan dalam keadaan hangat ditempatkan pada fasilitas penghangat makanan dengan temperatur mnimal 60° C dan 4° C untuk makanan dingin. Internal Pengawasan dilakukan oleh petugas sanitasi atau petugas penanggung jawab kesehatan lingkungan rumah sakit. Bila terjadi keracunan makanan dan minuman d irumah sakit maka petugas sanitasi harus mengambil sampel makanan dan minuman untuk diperiksakan ke laboratorium. Makanan jadi yang sudah menginap tidak boleh disajikan kepada pasien. PENYEHATAN AIR A.KES  NO. (2). Persyaratan (1). Sumber penyediaan air minum dan untuk keperluan rumah sakit berasal dari Perusahaan Air Minum. (b). Pengawasan secara berkala dan pengambilan sampel dilakukan minimal 2 (dua) kali dalam setahun. Kualitas Air yang Digunakan di Ruang Khusus (2). 18    . Kualitas Air Minum Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. makanan siap santap. 4) 5) 6) (5). Pemeriksaan parameter mikrobiologi dilakukan pengambilan sampel makanan dan minuman meliputi bahan makanan dan minuman yang mengandung protein tinggi. Pengawasan Higiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman Pengawasan dilakukan secara : (a). air kemasan dan harus memenuhi syarat kualitas air minum. Eksternal Dengan melakukan uji petik yang dilakukan oleh Petugas Sanitasi Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota secara insidentil atau mendadak untuk menilai kualitas. daging. air bersih. alat makanan dan masak serta usap dubur penjamah. Pengertian (1).“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. makanan yang diawetkan. B. Penyajian dilakukan dengan perilaku penyaji yang sehat dan berpakaian bersih. ikan laut. Makanan jadi harus segera disajikan. air yang didistribusikan melalui tangki air.    2) Makanan jadi yang siap disajikan harus diwadahi dan tertutup.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Pemeriksaan parameter kimiawi dilakukan pengambilan sampel minuman berwarna.

(b).9 Jumlah Sampel untuk Pemeriksaan Mikrobiologik Menururt Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur 25 ~ 100 101 ~ 400 401 ~ 1000 > 1000 (4). (5). C. dan ruang makan. dan pemeriksaan sampel air. kamar bersalin. pengiriman. Departemen Kesehatan. dan pengenceran dalam hemodialisis.9 (3). Kegiatan pengawasan kualitas air dengan pendekatan surveilans kualitas air antara lain meliputi : (a). Melakukan analisis hasil inspeksi sanitasi pemeriksaan laboratorium. Tabel I. secara acak pada krankran sepanjang sistem distribusi. tempat penampungan (reservoir). (d). Sampel air pada butir 3 dan 4 tersebut diatas dikirim dan diperiksakan pada laboratorium yang berwenang atau yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atau Pemerintah Daerah setempat. Pengambilan dan pengiriman sampel air dapat dilaksanakan sendiri oleh pihak rumah sakit atau pihak ketiga yangdirekomendasikan oleh Dinas Kesehatan. sumur bor. Melakukan inspeksi sanitasi sarana air minum dan air bersih rumah sakit dilaksanakan minimal 1 tahun sekali. Ruang Operasi Bagi rumah sakit yg menggunakan air yg sudah diolah seperti dari PDAM. (7). kamar bayi. pada sumber air. Tata Laksana (1). Humlah Minimum Sampel Air Per Bulan untuk Pemeriksaan Mikrobiologik Air Minum Air Bersuh 4 4 6 6 8 8 10 10 Pemeriksaan kimia air minum dan/atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua) kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan) dan titik pengambilan sampel masingmasing pada tempat penampungan (reservoir) dan keran terjauh dari reservoir. dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan pengolahan tambahan dgn catridge filter dan dilengkapi dgn disinfeksi menggunakan ultra violet (UV) (b). (6). Pengambilan sampel air pada sarana penyediaan air minum dan/atau air bersih rumah sakit tercantum dalam Tabel 1.    (a). 19    . Titik pengambilan sampel air untuk pemeriksaan mikrobiologik terutama pada air kran dari ruang dapur.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. penyiapan injeksi. Petunjuk teknis inspeksi sanitasi sarana penyediaan air sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan Direktorat Jenderal PPM dan PL. (2). Inspeksi sanitasi terhadap sarana air minum dan air bersih. Ruang Farmasi dan Hemodialisis Air yang digunakan di ruang farmasi terdiri dari air yang dimurnikan untuk penyiapan obat. ruang operasi. dan Tindak lanjut berupa perbaikan sarana dan kualitas air.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.KES  NO. Pengambilan. (c). dan titiktitik lain yang rawan pencemaran.

(12). Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius. perkantoran. (6). kabupaten/kota dalam rangka pengawasan (uji petik) penyelenggaraan penyehatan lingkungan rumah sakit. dan gas. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup. dan pembuatan obat citotoksik. organ binatangpercobaan dan bahan lain yang telah diinokulasi. limbah patologi. dapat mengambil langsung sampel air pada sarana penyediaan air minum dan/atau air bersih rumah sakit untuk diperiksakan pada laboratorium. limbah radioaktif. taman. terinfeksi atau kontak dengan bahan yang sangat infeksius. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator. Sewaktuwaktu dinas kesehatan provinsi. Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan nonmedis. limbah farmasi. bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan. Setiap 24 jam sekali rumah sakit harus melakukan pemeriksaan kualitas air untuk pengukuran sisa khlor bila menggunakan disinfektan kaporit. (3). perlengkapan generator. (9). (8). Petugas sanitasi atau penanggung jawab pengelolaan kesehatan lingkungan melakukan analisis hasil inspeksi sanitasi dan pemeriksaan laboratorium. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme. otopsi.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. cair. (5). Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan stock bahan sangat infeksius. A. (10). dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya. pH dan kekeruhan air minum atau air bersih yang berasal dari sistem perpipaan dan/atau pengolahan air pada titik/tempat yang dicurigai rawan pencemaran. limbah kimiawi. limbah benda tajam.    (8). 20    .KES  NO. dapur. (11). (4). dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. (7). (9). anastesi. Limbah padat nonmedis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur. limbah sitotoksis.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Apabila ada hasil inspeksi sanitasi yang menunjukkan tingkat risiko pencemaran amat tinggi dan tinggi harus dilakukan perbaikan sarana. PENGELOLAAN LIMBAH Pengertian (1). Apabila dalam hasil pemeriksaan kualitas air terdapat parameter yang menyimpang dari standar maka harus dilakukan pengolahan sesuai parameter yang menyimpang. Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat. Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada manusia rentan. (2). IV. limbah kontainer bertekanan.

Minimasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan caramengurangi bahan (reduce).Sterilisasi kering dalam oven “Poupinet” .“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Persyaratan (1). Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang 1) 2) 3) Limbah yang akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan kembali.10 Metode Sterilisasi untuk limbah yang dimanfaatkan kembali Metode Sterilisasi Sterilisasi dengan panas : . 4) 5) Tabel 1.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Pewadahan. Pemilahan. Pemilahan limbah harus dilakukan menghasilkan limbah mulai dari sumber yang (b).    (10). Wadah tersebut harus anti bocor. dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang. Setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan.Ethylene Oksida (gas) . Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali.Sterilisasi basah dalam otoklaf Sterilisasi dengan bahan kimia : . Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus dilakukan tes Bacillussubtilis. pengangkutan.10.Glutaraldehyde (cair) Temperatur 1600C 1700C Waktu Kontak 120 menit 60 menit 500C ~ 600C 3 ~ 8 jam 30 menit 21    . menggunakan kembali limbah (reuse) dan daur ulang limbah (recycle) B.KES  NO. Setiap rumah sakit harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi. Minimasi Limbah 1) 2) 3) 4) Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber. Limbah Medis Padat (a). Setiap rumah sakit harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun. anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya. Limbah medis padat yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses sterilisasi sesuai Tabel I.

Tabel I. Kuning Kuning 4 5 Ungu Coklat Kantong boks timbal dengan simbol radioaktif Kantong plastik kuat. limbah jarum hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu metode sterilisasi pada Tabel I. Pengolahan dan Pemusnahan 1) 22    .KES  NO. dan Penyimpanan Limbah Media Padat di Lingkungan Rumah Sakit 1) 2) Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup. Pengumpulan.    6) Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan kembali.11 Jenis Wadah dan label Limbah Medis Padat Sesuai Kategorinya No Katagori Warna Kontainer/ Kantong plastik Merah Lambang Keterangan 1 Radio Aktif 2 3 Sangat Infeksius Limbah Infeksius patologi anatomi Sitotoksis Limbah kimia dan farmasi 9) (c). anti bocor. Apabila rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai (disposable). atau kontainer yang dapat disterilisasi dengan otoklaf Kantong plastik kuat dan anti bocor. anti bocor.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Penyimpanan limbah medis padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.11 Daur ulang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit kecuali untuk pemulihan perak yang dihasilkan dari proses film sinar X. (d). Pengumpulan. Pengangkutan limbah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan khusus. Pengangkutan. Limbah medis padat tidak diperbolehkan membuang langsung ke tempat pembuangan akhir limbah domestik sebelum aman bagi kesehatan. dan diberi label bertuliskan ” Limbah Sitotoksis”. Pengelola harus mengumpulkan dan mengmas pada tempat yang kuat. atau kontainer Kontainer plastik kuat dan anti bocor Kantong plastikatau kontainer Limbah sitotoksis dikumpulkan dalam wadah yang kuat.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.10 7) 8) Pewadahan limbah medis padat harus memenuhi persyaratan dengan penggunaan wadah dan label seperti Tabel I. Pengemasan dan Pengangkutan ke Luar Rumah Sakit 1) 2) (e).

Dalam keadaan normal harus dilakukan pengendalian serangga dan binatang pengganggu yang lain minimal 1 (satu) bulan sekali. perlu dilakukan pengendalian padat. (2). Menggunakan sedikit mungkin bahanbahan kimia. 23    .“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. (b). Minimisasi Limbah 1) 2) 3) 4) Menyeleksi bahanbahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum membelinya. Pemilahan dan Pewadahan 1) 2) Pewadahan limbah padat nonmedis harus dipisahkan dari limbah medis padat dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam. Tempat Pewadahan a). Mencegah bahanbahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan perawatan dan kebersihan.KES  NO. Limbah Medis Padat (a). Limbah Gas Standar limbah gas (emisi) dari pengolahan pemusnah limbah medis padat dengan insinerator mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep13/MenLH/12/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. Pengolahan dan Pemusnahan Pengolahan dan pemusnahan limbah padat nonmedis harus dilakukan sesuai persyaratan kesehatan. 2) (c). Limbah Medis Non Padat (a). C.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. dengan pemanasan menggunakan otoklaf atau dengan pembakaran menggunakan insinerator. harus dilakukan pengendalian. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi. Tata Laksana (1). dan Pengangkutan 1) Bila di tempat pengumpulan sementara tingkat kepadatan lalat lebih dari 20 ekor perblock grill atau tikus terlihat pada siang hari. (4). b). Limbah Cair Kalitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke badan air atau lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu efluen sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep. Setiap tempat pewadahan limbah padat harus dilapisi kantong plastik warna hitam sebagai pembungkus limbah padat dengan lambang ”domestik” warna putih Bila kepadatan lalat disekitar tempat limbah pada melebih 2 (dua) ekor perblock grill.58/MenLH/12/1995 atau peraturan daerah setempat. (3). Penyimpanan. Pengumpulan.    2) Cara dan teknologi pengolahan atau pemusnahan limbah medis padat disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dan jenis limbah medis padat yang ada.

Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius. atau seeds. Alatalat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi adalah radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti puns.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. limbah benda tajam. maka tangki reactor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi. tahan karat.KES  NO. jarum hipodermik. dan kontainer. dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya. Kantong plastik diangkat setiap haru atau kurang sehari apabila 2/3 bagian telah terisi limbah. limbah patologi. Memesan bahanbahan sesuai kebutuhan Menggunakan bahanbahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari kadaluarsa. Upaya khsus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran spongiform encephalopathies. Menghabiskan bahan dari setiap kemasan Mengecek tanggal kadaluarsa bahanbahan pada saat diantar oleh distributor. misalnya fiberglass. 6) 7) 8) 9) (b). Untuk bendabenda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman. Tempat pewadahan limbah medis padat : Terbuat dari bahan yang kuat. botol gelas. Sedangkan sterilisasi dengan glutaraldehyde lebih aman dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif secara mikrobiologi. Oleh karena gas tersebut sangat berbahaya. limbah kontainer bertekanan. Pemilahan. limbah radioaktif.    5) Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun. Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethylene oxide. limbah kimiawi. cuup ringan. kedap air. syringes.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. limbah farmasi. Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang 1) 2) - 3) Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi meliputi pisau bedah (scalpel). maka sterilisasi harus dilakukan oleh petugas yang terlatih. 4) 5) 6) 24    . sedangkan untuk kantong plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi. Pewadahan. limbah sototksis. needles. Tempat pewadahan limbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan disinfektan apabila akan dipergunakan kembali. Di setiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat pewadahan yang terpisah dengan limbah padat non medis.

dikubur secara aman. dan Pembuangan Akhir Limbah Padat 1) Limbah Infeksius dan Benda Tajam a) Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas dan basah seperti dalam autoclave sedini mungkin.KES  NO. maka limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambatlambatnya 24 jam apabila disimpan pada temperatur ruang. b) c) 2) Limbah Farmasi a) 25    . Tempat Penampungan Sementara 1) 2) Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambatlambatnya 24 jam. dan inersisasi. Kapsulisasi juga cocok untuk benda tajam. Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup. dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi. rotary kiln. dan dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Apron untuk industri. Setelah insinerasi atau disinfeksi.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Petugas yang menangani limbah. Topi/helm.    (c). sanitary landfill. Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan manusia maupun binatang. harus menggunakan alat pelindung diri yang terdiri : a) b) c) d) e) f) g) (e). residunya dapat dibuang ke tempat pembuangan B3 atau dibuang ke landfill jika residunya sudah aman.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. dan Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves) (d). Untuk limbah infeksius yang lain cukup dengan cara disinfeksi. Pelindung kaki/sepatu boot. Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan. Pakaian panjang (coverall). Tetapi dalam jumlah besar harus menggunakan fasilitas pengolahan yang khusus seperti rotary kiln. Pemusnahan. Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator pirolitik (pyrolytic incinerator). Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator. kapsulisasi dalam drum logam. Transportasi 1) 2) 3) Pengolahan. Masker. Pelindung mata.

3) Limbah Sitotoksis a) b) Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum.200° C dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau temperatur 1.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak memungkinkan dikembalikan.000° C. Insinerasi pada temperatur rendah dapat menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.KES  NO. Insinerator dengan 1 (satu) tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat untuk pembuangan limbah sitotoksis. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena kadaluarsa harus dikembalikan ke distributor apabila tidak ada insinerator dan diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa atau tidak lagi dipakai. dan degradasi kimia. Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. rumah sakit harus berhatihati dalam menangani obat sitotoksik.200° C dibutuhkan untuk menghancurkan semua bahan sitotoksik. penghilangan nitrogen dengan asam bromida. Insinerasi pada temperatur tinggi sekitar 1. Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat tapi juga pencucian tempat urin. supaya dimusnahkan melalui insinerator pada temperatur diatas 1. Tumpahan atau cairan biologis yang terkontaminasi agen antineoplastik. kapsulisasi atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang dapat dipilih. insinerasi pada temperatur tinggi. tumpahan dan pakaian pelindung. j) 26    . Cara kimia relatif mudah dan aman meiputi oksidasi oleh Kalium permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4) . atau reduksi dengan nikel dan aluminium. Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas. Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke perusahaan penghasil atau distribusinya. Insinerasi juga memungkinkan dengan rotary kiln yang didesain untuk dekomposisi panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada temperatur diatas 850° C.000° C dengan waktu tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk bahan ini dan dilengkapi dengan penyaring debu.    b) Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada distributor. Insinerator dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada temperatur 1. Oleh karena itu. c) d) e) f) g) h) i) Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang sempurna untuk pengolahan limbah.

KES  NO. temperatur. Namun demikian. Limbah tertentu yang bisa dibakar seperti banyak bahan pelarut dapat diinsinerasi.    4) Limbah Bahan Kimiawi a) Pembuangan Limbah Kimia Biasa Limbah kimia biasa yang tidak bisa didaur seperti gula. atau dikirim ke negara lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk megolahnya. asam amino. atau ditimbun (landfill). dan garam tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor. b) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Kecil Limbah bahan berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat dalam kemasan sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik. bahan pelarut dalam jumlah besar seperti pelarut halogenida yang mengandung klorin atau florin tidak boleh diinsinerasi kecuali insineratornya dilengkapi dengan alat pembersih gas. - - 5) Limbah Bahan Kimiawi a) Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh dibakar atau diinsinerasi karena berisiko mencemari udara dengan uap beracun dan tidak boleh dibuang ke landfill karena dapat mencemari air tanah.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Limbah kimia disinfektan dalam jumlah besar tidak boleh dikapsulisasi karena sifatnya yang korosif dan mudah terbakar. 27    . c) Pembuangan limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar. d) Cara lain adalah dengan mengembalikan bahan kimia berbahaya tersebut ke distributornya yang akan menanganinya dengan aman. kapsulisasi. Tidak ada cara pembuangan yang aman dan sekaligus murah untuk limbah berbahaya. Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat bahaya yang dikandung oleh limbah tersebut. pembuangan tersebut harus memenuhi persyaratan konsentrasi bahan pencemar yang ada seperti bahan melayang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan limbah kimia berbahaya: Limbah berbahaya yang komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk menghindari rekasi kimia yang tidak diinginkan. dan pH. Limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar tidak boleh ditimbun karena dapat mencemari air tanah. Limbah padat bahan kimia berbahaya cara pembuangannya harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada instansi yang berwenang. Namun.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.

Cara lain yang paling sederhana adalah dengan kapsulisasi kemudian dilanjutkan dengan landfill. (i) Kontainer yang masih utuh Kontainer kontainer yang harus dikembalikan ke penjual nya adalah : . Bila tidak memungkinkan. limbah dibuang ke tempat penyimpanan yang aman sebagai pembuangan akhir untuk limbah yang berbahaya.Tabung bertekanan untuk gas lain seperti oksigen. Limbah ini tidak boleh dimasukkan ke dalam kantong kuning karena akan dikirim ke insinerator.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Agen halogenida dalam bentuk cair dan dikemas dalam botol harus diperlakukan sebagai limbah bahan kimia berbahaya untuk pembuangannya.    b) Cara yang disarankan adalah dikirim ke negara yang mempunyai fasilitas pengolah limbah dengan kandungan logam berat tinggi. udara bertekanan. hidrogen. dan asetilin. (ii) Kontainer yang sudah rusak Kontainer yang rusak tidak dapat diisi ulang harus dihancurkan setelah dikosongkan kemudian baru dibuang ke landfill.Tabung atau silinder etilin oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan sterilisasi . b) Cara pembuangan yang tidak diperbolehkan pembakaran atau insinerasi karena dapat meledak. gas elpiji. 6) Limbah Bahan Kimiawi a) Cara yang terbaik untuk menangani limbah kontainer bertekanan adalah dengan daur ulang atau penggunaan kembali.Tabung atau silinder nitrogen oksida yang biasanya disatukan dengan peralatan anestesi. Bila hanya dalam jumlah kecil dapat dibuang dengan limbah biasa. Apabila masih dalam kondisi utuh dapat dikembalikan ke distributor untuk pengisian ulang gas. .KES  NO. (iii) Kaleng aerosol Kaleng aerosol kecil harus dikumpulkan dan dibuang bersama dengan limbah biasa dalam kantong plastik hitam dan tidak untuk dibakar atau diinsinerasi. siklopropana. Kaleng aerosol dalam jumlah banyak sebaiknya dikembalikan ke penjualnya atau ke instalasi daur ulang bila ada.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. nitrogen. karbon dioksida. adalah 28    .

Tenaga tersebut bertanggung jawab dalam pemakaian bahan radioaktif yang aman dan melakukan pencatatan. Aktifitas dan kandungan radionuklida. dan kontainer limbah tersebut harus : Secara jelas diidentifikasi.KES  NO. beracun). dan pembuangan. Nomor identifikasi. penyimpanan. cocok untuk penyimpanan pelapukan. Kandungan limbah seperti limbah yang mengandung bahan berbahaya (patogen. dan tenaga yang terlatih. Kuat dan saniter.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.    7) Limbah Radioaktif a) Pengelolaan limbah radioaktif yang aman harus diatur dalam kebijakan dan strategi nasional yang menyangkut peraturan. infrastruktur.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Tidak homogen ((seperti mengandung lumpur atau padatan yang melayang). pengkondisian. infeksius. Padat : mudah terbakar/ tidak mudah terbakar (bila ada) dan dapat dipadatkan/tidak mudah dipadatkan (bila ada) Sumber tertutup atau terbuka seperti sumber tertutup yang dihabiskan. g) Informasi yang harus dicatat pada setiap kontainer limbah: - 29    . Radionuklida. Instrumen kalibrasi yang tepat harus tersedia untuk monitoring dosis dan kontaminasi. (misalnya umur paruh < 100 hari). Ada simbol radioaktif ketika sedang digunakan Sesuai dengan kandungan limbah. terapi atau penelitian harus menyiapkan tenaga khusus yang terlatih khusus di bidang radiasi. organisasi pelaksana. Dapat diisi dan dikosongkan dengan aman. Kategori yang memungkinkan adalah : Umur paruh (halflife) seperti umur pendek (shortlived). Setiap rumah sakit yang menggunkan sumber radioaktif yang terbuka untuk keperluan diagnosa. b) c) d) e) f) Setelah pemilahan. setiap kategori harus disimpan terpisah dalam kontainer. Sistem pencatatan yang baik akan menjamin pelacakan limbah radioaktif dalam pengiriman maupun pembuangannya dan selalu diperbarui datanya setiap waktu Limbah radioaktif harus dikategorikan dan dipilah berdasarkan ketersediaan pilihan cara pengolahan. Bentuk fisika dan kimia. Cair : berair dan organik.

Tempat tersebut tidak merupakan sumber bau. h) i) Asal limbah (ruangan. Pemilahan Limbah Padat NonMedis 1) Dilakukan pemilahan limbah padat nonmedis antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali Dilakukan pemilahan limbah padat nonmedis antara limbahbasah dan limbah kering. (2). dan lalat bagi lingkungan sekitarnya dilengkapi saluran untuk cairan lindi.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. laboratorium. Angka dosis permukaan dan tanggal pengukuran. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah. Limbah Padat NonMedis (a). Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan. Semua jenis limbah medi termasuk limbah radioaktif tidak boleh dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah domestik (landfill) sebelum dilakukan pengolahan terlebih ahulu sampai memenuhi persyaratan. kedap air. Tempat Pewadahan Limbah padat NonMedis 1) 2) 3) 4) (c). atau tempat lain).    Aktifitas (jika diukur atau diperkirakan) dan tanggal pengukuran. Terbuat dari bahan yang kuat. 30    . Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. 2) (b). misalnya fiberglass. Tempat Penampungan Limbah Padat NonMedis Sementara 1) Tersedia tempat penampungan limbah padat nonmedis sementara dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Orang yang bertanggung jawab. maka harus diangkut supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang pengganggu.KES  NO. cukup ringan. Pengangkutan Pengangkutan limbah padat domestik dari setiap ruangan ke tempat penampungan sementara menggunakan troli tertutup. tahan karat.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan pada bagian dalamnya. Kontainer untuk limbah padat harus dibungkus dengan kantong plastik transparan yang dapat ditutup dengan isolasi plastik Limbah padat radioaktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan peraturan perundangundangan yang berlaku (PP Nomor 27 Tahun 2002) dan kemudian diserahkab kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut atau dikembalikan kepada negara distributor. (d).

(f). Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran tertutup.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Terletak pada lokasi yang muah dijangkau kendaraan pengangkut limbah padat. Limbah Cair Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi. 31    . (d). dan dioksin dilakukan minimal 1 (satu) kali setahun (b).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan. atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan gril. (c). Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap bulan sekali untuk swapantau dan minimal 3 bulan sekali uji petik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian limbah yang dihasilkan. bertutup dan selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah dibersihkan. Limbah yang masih dapat dimanfaatkan hendaknya dimanfaatkan kembali untuk limbah padat organik dapat diolah menajdi pupuk. Pengolahan Limbah Padat Upaya untuk mengurangi volume. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena zat radioaktif. volume. (f). Limbah Gas (a). (g). kedap air. dan limbah harus mengalir dengan lancar. (h). dan prosedur penanganan dan penyimapangannya. Monitoring limbah gas berupa NO2. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau bersamasama secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis. Lokasi Pembuangan Limbah Padat Akhir Limbah padat umum (domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang dikelola oleh pemerintah daerah (Pemda). (a).KES  NO. Dikosongkan dan dibersihkan sekurangkurangnya 1 x 24 jam. So2. 3) 4) (e). bila tidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai kebutuhan yang berlaku melalui kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang berwenang. pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN. serta terpisah dengan saluran air hujan. mengubah bentuk atau memusnahkan limbah apdat dilakukan pada sumbernya. (3). logam berat. apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan air limbah perkotaan. (e).    2) Tempat penampungan sementara limbah padat harus kedap air. (4).

PENGELOLAAN TEMPAT PENCUCIAN LINEN (LAUNDRY) Pengertian Laundry rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci. (c). dioksin. ruang kereta linen. B. (5). V. virus.KES  NO. Laundry harus dilengkapi saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan awal (pretreatment) sebelum dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah.000° C untuk pemusnahan bakteri patogen.    (b). alat dan disinfektan. Persyaratan (1) (2) (3) Temperatur air panas untuk pencucian 70° C dalam waktu 25 menit atau 95° C dalam waktu 10 menit Penggunaan jenis deterjen dan disinfektan untuk proses pencucian yang ramah lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan mudah terurai oleh lingkungan Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6 3 x 10 spora spesies Bacilus per inci persegi. Tata Laksana (1) (2) Di tempat laundry tersedia kran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran yang memadai. kamar mandi dan ruang peniris atau pengering untuk alatalat termasuk linen. meja dan meja setrika. Temperatur pembakaran minimum 1. mesin uap (steam boiler). Pengumpulan. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenisjenis linen yang tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenisjenis linen yang berbeda. Perlakuan terhadap linen (a). (d). yang banyak Pengelolaan limbah medis rumah sakit secara rinci mengacu pada pedoman pengelolaan limbah medis sarana pelayanan kesehatan. pengering. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu. ruang untuk perlengkapan kebersihan. A.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. dan mengurangi jelaga. air panas untuk disinfeksi dan tersedia disinfektan. ruang linen bersih. C. pencuciannya dapat bekerjasama dengan pihak lain dan pihak lain tersebut harus mengikuti persyaratan dan tatalaksana yang telah ditetapkan. Untuk rumah sakit yang tidak mempunyai Laundry tersendiri. Laundry harus disediakan ruangruang terpisah sesuai kegunaannya yaitu ruang linen kotor.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan non infeksius. ruang perlengkapan cuci. dilakukan : (3) (4) (5) (6) (7) 32    . Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas dan debu.

(f). 3) 4) 5) (8). Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya. Menghitung dan mencatat linen di ruangan. (g). Petugas yang bekerja dalam pengelolaan laundry linen harus menggunakan pakaian kerja khusus.    1) Pemilahan antara linen infeksius dan noninfeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastik sesuai jenisnya serta diberi label. 1) 2) 3) (d). Penerimaan Penerimaan Pengeringan Penyetrikaan Penyimpanan 1) 2) 3) Linen harus dipisahkan sesuai jenisnya. Rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Kereta dorong harus dicuci dengan disinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor. 2) (b). Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya. pengangkutannya dari dan ke tempat laundry harus menggunakan mobil khusus. dan muntahan kemudian merendamnya dengan menggunakan disinfektan.KES  NO. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong ayng berbeda warna. Membersihkan linen kotor dan tinja. (e).“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Mencatat linen yang diterima dan telah terpisah antara infeksius dan noninfeksius. kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai kartu tanda terima. alat pelindung diri dan dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pintu lemari selalu tertutup. serta dianjurkan memperoleh imunisasi hepatitis B. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan bersamaan. 1) 2) (c). Menggunakan kereta dorong yang berbeda dan tertutup antara linen bersih dan linen kotor. (h). 33    . Pengangkutan 1) 2) Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan kantong yang digunakan untuk membungkus linen kotor. urin. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tenda terima dari petugas penerima. darah. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan disinfektan.

Konstruksi pintu harus membuka ke arah luar. B. setiap 2 (dua) minggu. Selain itu. dan ruangan steril. 1) 2) 3) Kecoa 34    . Tidak ditemukannya lalat di dalam bangunan tertutup (core) di rumah sakit.KES  NO. dilakukan secara teratur. Pengertian TIKUS DAN BINATANG Pengendalian serangga. Tidak ditemukannya lubang tanpa kawat kasa yang memungkinkan nyamuk masuk ke dalam ruangan. telur kecoa. Tidak ditemukannya tandaqtanda keberadaan tikus terutana pada daerah bangunan tertutup (core) rumah sakit. Nyamuk 1) Pengamatan Jenitik Pengamatan jentik Aedes sp. dilakukan secara berkala di setiap sarana penampungan air. PENGENDALIAN SERANGGA.    VI. Persyaratan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kepadatan jentik Aedes sp yang diamati melalui indeks kontainer harus 0 (nol). C. tikus.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. gudang makanan. 2) 3) (b). tikus dan binatang pengganggu lainnya adalah upaya untuk mengurangi populasi serangga. PENGGANGGU LAINNYA A. Tata Laksana (1). Mengamati keberadaan kecoa yg ditandai dgn adanya kotoran.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Di lingkungan rumah sakit harus bebas kucing dan anjing. sekurangkurangnya setiap 1 (satu) minggu untuk mengetahui adanya atau keadaan populasi jentik nyamuk. Pengamatan lubang dengan kawat kasaSetiap lubang di dinding harus ditutup dengan kawat kasa untuk mencegah nyamuk masuk. terutana pada dapur. Surveilans (a). dan kecoa hidup atau mati di setiap ruangan. Bila ditemukan tandatanda keberadaan kecoa maka segera dilakukan pemberantasan. terutama di ruangan perawatan. Pengamatan dilakukan secara visual dengan bantuan senter. dan binatang pengganggu lainnya sehingga keberadaannya tidak menjadi vektor penularan penyakit. Semua ruang di rumah sakit harus bebas dari kecoa. dilakukan juga pengamatan jentik nyamuk spesies lainnya di tempattempat yang potensial sebagai tempat perindukan vektor penyakit malaria di sekitar lingkungan rumah sakit seperti saluran pembuangan air limbah.

Melakukan penutupan saluran terbuka. saluran pembuangan limbah pdat dan cair. ruang operasi. ruang genset/panel. Menguras. antara lain dapur. Nyamuk 1) 2) 3) 4) (b). Kucing dan Anjing Mengamati/memantau secara berkala kucing dan anjing. Tikus 1) 2) (d). Pemasangan kawat kasa di seluruh ruangan dan penggunaan kelambu terutama di ruang perawatan anak. kantin. (d). kantin rumah sakit. bekas jalan. dan ruang lainnya. ruang perawatan. terutama di tempat yang diduga sebagai tempat perindukan lalat seperti tempat sampah. Melakukan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Mengubur. 35    . dan tikus hidup. lubanglubang di dinding. radiologi. Pengelolaan sampah yang memenuhi sayarat kesehatan. (e). ruang bersalin. Lalat Mengukur kepadatan lalat secara berkala dengan menggunakan fly grill pda daerah core dan pada daerah yang biasa dihinggapi lalat. Kecoa 1) 2) 3) (c).KES  NO. dan jendela. Melakukan pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Ruang ruang tersebut anatara lain di daerah bangunan tertutup (core) rumah sakit. (e). bekas gigitan.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Binatang pengganggu lainnya Melakukan pengelolaan makanan dan limbah yang memenuhi syarat kesehatan. Pembersihan tananam sekitar rumah sakit secara berkala yang menjadi tempat perindukan. laboratorium. UGD. Menyimpan bahan makanan dan amkaan siap saji pda tempat tertutup. antara lain : kotoran. dan dapur. pintu. Tikus Mengamati/memantau secara berkala setiap 2 (dua) bulan di tempattempat yang biasanya menjadi tempat perkembangbiakan tikus yang ditandai dengan adanya keberadaan tikus. ICU. Lalat Melakukan pengelolaan sampah/limbah yang memnuhi syarat kesehatan. Menututp lubanglubang atau celahcelah agar kecoa tidak masuk ke dlam ruangan. ruang administrasi. (2). Pencegahan (a).    (c). plafon. Menututp (3M) Pengaturan aliran pembuangan air limbah dan saluran dalam keadaan tertutup.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.

Pemberantasan (a). Nyamuk 1) 2) 3) 4) (b). yaitu membersihkan telur yang terdapat pada celahcelah dinding. Tikus Melakukan pengendalian tikus secara fisik dengan pemasangan perangkap. pemberantasan larva/jentik dengan menggunakan Melakukan oiling untuk memberantas culex. Bekerjasama dengan Dinas Peternakan setempat untuk menangkap kucing dan anjing. Pembersihan telur kecoa dengan cara mekanis.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. (e). Melakukan predator. dan ruang melalui disinfeksi dan sterilisasi dengan cara fisik dan kimiawi. peralatan dan telur kecoa dimusnahkan dengan dibakar/dihancurkan. Pengertian (1). Dekontaminasi adalah upaya mengurangi dan/atau menghilangkan kontaminasi oleh mikroorganisme pada orang. dan kimia. Bila diduga ada kasus demam berdarah yang tertular di rumah sakit. lemari. dan umpan. Binatang pengganggu lainnya Bila terdapat kucing dan anjing. (d). semprotan. Lalat Bila kepadatan lalat di sekitar tempat sampah (perindukan) melebihi 2 (dua) ekor per block grill maka dilakukan pengendalian lalat secara fisik.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Pemberantasan kecoa Pemberantasan kecoa dapat dilakukan secara fisik dan kimiawi. VII. maka perlu dilakukan pengasapan (fogging) di rumah sakit. Pemberantasan dilakukan apabila larva atau jentik nyamuk Aedes sp. kemudian dibuang jauh dari rumah sakit. peralatan. bahan. (c). bubuk.    (3). > 0 dengan abatisasi. biologik. 36    . pemukulan atau sebagai alternatif terakhir dapat dilakukan secara kimia dengan menggunakan umpan beracun. MELALUI DISINFEKSI DAN STERILISASI A.KES  NO. maka perlu dilakukan : 1) 2) Penangkapan. a) Secara fisik atau mekanis b) Membunuh langsung kecoa dengan alat pemukul Menyiram tempat perindukan dengan air panas Menutup celah celah dinding Kecoa 1) 2) Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida dengan pengasapan.

Sterilisasi peralatan yang berkaitan dengan perawatan pasien secara fisik dengan pemanasan pada temperatur ± 121° C selama 30 menit atau pda temperatur 134° C selam 13 menit dan harus mengacu pada petunjuk penggunaan alat sterilisasi yang digunakan. B. Persyaratan (1). dan laundry) sebesar 510 CFU/cm . Indikasi kuat untuk tindakan disinfeksi/sterilisasi : 37    . meliputi : (a). (7). Penggunaan disinfektan harus mengikuti petunjuk pabrik. ruang ICU/ICCU. C. Disinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikro organisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi. Persiapan sterilisasi bahan dan alat sekali pakai : Penataan – Pengemasan – Pelabelan – Sterilisasi Persiapan sterilisasi instrumen baru : Penataan dilengkapi dengan sarana pengikat (bila diperlukan) Pelabelan – Sterilisasi (c). sedangkan untuk peralatan memasak 80° C dalam waktu 1 menit. kamar bersalin. (b). (5). Kamar/ruang operasi yang telah dipakai harus dilakukan disinfeksi dan disterilisasi sampai aman untuk dipakai pada operasi berikutnya. disinfektan mempunyai efek sebagai deterjen dan efektif dalam waktu yang relatif singkat. 2 2 (2). Disinfektan harus memenuhi kriteria tidak merusak peralatan maupun orang. Untuk ruang penunjang medis (ruang rawat inap. Hasil akhir proses sterilisasi untuk ruang operasi dan ruang isolasi harus bebas dari mikroorganisme hidup.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Instrumen dan bahan medis yang dilakukan sterilisasi harus melalui persiapan.    (2). Petugas sterilisasi harus menggunakan alat pelindung diri dan menguasai prosedur sterilisasi yang aman. Tata Laksana (1). (3). Pada akhir proses disinfeksi terhadap ruang pelayanan medis (ruang operasi dan ruang isolasi) tingkat kepadatan kuman pada lantai dan dnding 05 CFU/cm . Sterilisasi harus menggunakan disinfektan yang ramah lingkungan. (8). Persiapan sterilisasi instrumen dan bahan lama : Disinfeksi – Pencucian (dekontaminasi) – Pengeringan (pelipatan bila perlu) Penataan – Pelabelan – Sterilisasi (3). Sterilisasi adalah upaya untuk menghilangkan semua mikroorganisme dengan cara fisik dan kimiawi. (6). (2). tidak terpengaruh oleh kesadahan air atau keberadaan sabun dan protein yang mungkin ada. (4). bebas mikroorganisme patogen dan gas gangren.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Temperatur pada disinfeksi secara fisik dengan air panas untuk peralatan sanitasi 80° C dalam waktu 4560 detik. (3). kamar bayi. ruang perawatan luka bakar.KES  NO.

VIII. Radiasi adalah emisi dan penyebaran energi melalui ruang (media) dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau partikelpartikel atau elementer dengan kinetik yang sangat tinggi yang dilepaskan dari bahan atau alat radiasi yang digunakan oleh instalasi di rumah sakit. pipa endotracheal harus disterilkan/ didisinfeksi dahulu sebelum digunakan. (d).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. dan lainnya yang tidak tahan terhadap sterilisasi. kuat. Lantai minimum 43 cm dari langitlangit dan 5 cm dari dinding serta diupayakan untuk menghindari terjadinya penempelan debu kemasan. disterilkan atau didisinfeksi tidak boleh dipergunakan lagi. (11). (8). MELALUI DISINFEKSI DAN STERILISASI A. basah. Pemeliharaan dan cara penggunaan peralatan sterilisasi harus memperhatikan petunjuk dari pabriknya dan harus dikalibrasi minimal 1 kali satu tahun. dan mudah dibersihkan. (9). (b).    (a). Pengertian (1). Dengan temperatur 18° C– 22° C dan kelembaban 35% 75%. Oleh karena itu. bahannya mudah sobek. Jangan menggunakan bahan seperti linen. (b). (6).5 mikron) Dinding dan ruangan terbuat dari bahan yang halus. (4). (c). Penyimpanan peralatan yang telah disterilkan harus ditempatkan pada tempat (lemari) khusus setelah dikemas steril pada ruangan : (a). Sterilisasi (132° C selama 3 menit pada gravity displacement steam sterilizer) tidak dianjurkan untuk implant. Semua peralatan medik atau peralatan perawatan pasien yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. sistem vaskuler atau melalui saluran darah harus selalu dalam keadaan steril sebelum digunakan. hindari proses ulang yang dapat mengakibatkan keadan toxin atau mengganggu keamanan dan efektivitas pekerjaan. (7). karena akan mengakibatkan kerusakan seperti kemasannya rusak atau berlubang. (10). Semua peralatan yang menyentuh selaput lendir seperti endoskopi. 38    . dan sebagainya. (5). Sterilisasi dan disinfeksi terhadap ruang pelayanan medis dan peralatan medis dilakukan sesuai permintaan dari kesatuan kerja pelayanan medis dan penunjang medis. darah atau sekresi harus selalu dalam keadaan steril sebelum dipergunakan. Setiap alat yang berubah kondisi fisiknya karena dibersihkan. Semua peralatan operasi setelah dibersihkan dari jaringan tubuh. ventilasi menggunakan sistem tekanan positif dengan efisiensi partikular antara 90%95% (untuk partikular 0. (c). Barang yang steril disimpan pada jarak 19 cm – 24 cm. Semua benda atau alat yang akan disterilkan/didisinfeksi harus terlebih dahulu dibersihkan secara seksama untuk menghilangkan semua bahan organik (darah dan jaringan tubuh) dan sisa bahan linennya.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.KES  NO. Peralatan operasi yang telah steril jalur masuk ke ruangan harus terpisah dengan peralatan yang telah terpakai.

Peralatan Proteksi Radiasi Pengelola rumah sakit yang mempunyai pelayanan radiasi harus menyediakan dan mengusahakan peralatan proteksi radiasi.    (2).“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Pengamanan dampak radiasi adalah upaya perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak radiasi melalui promosi dan pencegahan risiko atas bahaya radiasi. (3). Pengamanan terhadap bahan yang memancarkan radiasi hendaknya mencakup rancangan instalasi yang memenuhi persyaratan. (2). sesuai dengan jenis instalasi dan sumber radiasi yang digunakan. pemantau daerah kerja. aktivitas dan sumber radiasi. survei meter. dan pemantau lingkungan hidup.KES  NO. dekontaminasi kit. Perizinan Penerimaan dosis radiasi terhadap pekerja atau masyarakat tidak boleh melebihi nilai batas dosis yang ditetapkan oleh Badan Pengawas. pemantau dosis perorangan. Sistem Manajemen Kesehatan Pemanfaatan Radiasi Pengion (a). investigasi. media lingkungan dan manusia yang terpajan atau alat yang mengandung radiasi B. Organisasi Setiap pengelola rumah sakit yang mempunyai pelayanan radiasi harus memiliki organisasi proteksi radiasi dimana petugas radiasi tersebut telah memiliki surat ijin sebagai petugas radiasi dari Badan Pengawas. alat untuk mengangkat dan megangkut. penyediaan pelindung radiasi atau kontainer. Tata Laksana (1). dan mitigasi pada sumber. harus memperoleh izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (sesuai PP Nomor 64 Tahun 2000 tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir. yang dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan jenis sumber radiasi yang digunakan. (c). dengan melakukan kegiatan pemantauan. C. NBD bagi msyarakat yang terpajan sebesar 5 mSv (mili Sievert) dalam 1 (satu) tahun. Tebal bahan pelindung sesuai jenis dan energi radiasi. Persyaratan Persyaratan sesuai Keputusan Badan pengawas Tenaga Nuklir Nomor 01 Tahun 1999.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. serta sifat bahan pelindung. Setiap rumah sakit yang memanfaatkan peralatan yang memancarkan radiasi dan menggunakan zat radioaktif. alatalat pemeriksaan tandatanda radiasi. Proteksi radiasi yang disediakan harus mempunyai ketebalan tertentu yang mampu menurunkan laju dosis radiasi. Pemantauan Dosis Perorangan Pengelola rumah sakit yang mempunyai pelayanan radiasi mewajibkan setiap pekerja radiasi untuk memakai peralatan pemantau dosis perorangan. Perlengkapan dan peralatan yang disediakan adalah monitoring perorangan. pakaian kerja. (b). Nilai Batas Dosis (NBD) bagi pekerja yang terpajan radiasi sebesar 50 mSv (mili Sievert) dalam 1 (satu) tahun. Perizinan. pasal 2 ayat 1). dan Keselamatan Kerja terhadap 39    . (2). tentang Ketentuan Keselamatan Kerja terhadap Radiasi adalah : (1).

untuk setiap orang yang akan bekerja sebagai pekerja radiasi. Penanggulangan Kecelakaan Radiasi Pengelola rumah sakit harus melakukan upaya pencegahan terjadinya kecelakaan radiasi. (e). Kalibrasi hanya dapat dilakukan oleh instalasi yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas. (g). Dalam hal terjadi kecelakaan radiasi. Pendidikan dan Pelatihan Setiap pekerja harus memperoleh pendidikan dan pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja terhadap radiasi. atau mengolah dan menyimpan semenatara limbah radioaktif sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana.    (d).KES  NO. Untuk menjamin efektivitas pelaksaan Badan pengawas melakukan inspeksi dan audit selama pelaksanaan program jaminan kualitas. barang atau bahan yang terkena pancaran radiasi segera diisolasi kemudian didekontaminasi. Pengelola rumah sakit wajib mengkalibrasi keluaran radiasi (output) peralatan radioterapi secara berkala sekurangkurangnya 2 (dua) tahun sekali. (5). Pemantauan Dosis Perorangan Pengelola rumah sakit harus menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan awal secara teliti dan menyeluruh.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. mengelompokkan. pengelola rumah sakit harus menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan bagi pekerja radiasi yang diduga menerima pajanan berlebih. Pengelolaan Limbah Radioaktif Penghasil limbah radioaktif tingkat rencah dan tingkat sedang wajib mengumpulkan. Jaminan Kualitas Pengelola rumah sakit harus membuat program jaminan kualitas bagi instalasi yang mempunyai potensi dampak radiasi tinggi. Jika terjadi kecelakaan radiasi. dan kartu kesehatan pekerja selama 30 tahun sejak pekerja radiasi berhenti bekerja. Pemantauan Dosis Perorangan Pengelola rumah sakit harus tetap menyimpan dokumen yang memuat catatan dosis hasil pemantauan daerah kerja lingkungan. 40    . pengelola rumah sakit harus melakukan upaya penanggulangan diutamakan pada keselamatan manusia. Limbah radioaktif yang berasal dari luar negeri tidak diizinkan untuk disimpan di wilayah Indonesia. (4). Pengelolaan limbah radioaktif pada unit kedokteran nuklir dilakukan pemilahan menurut jenis yaitu limbah cair dan limbah padat. (6). (f). pengelola rumah sakit harus segera melaporkan terjadinya kecelakaan radiasi dan upaya penanggulangannya kepada Badan Pengawas dan instansi terkait lainnya. dan hasil pemeriksaan kesehatan diberikan kepada pekerja radiasi yang bersangkutan.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Kalibrasi Pengelola rumah sakit wajib mengkalibrasikan alat ukur radiasi scara berkala sekurangkurangnya 1 (satu) tahun sekali. Lokasi tempat kejadian harus diisolasi dengan memberi tanda khusus seperti pagar. secara berkala selama bekerja sekurangkurangnya sekali dalam 1 tahun. Dalam hal terjadi kecelakaan radiasi. Pengelola rumah sakit harus memeriksakan kesehatan pekerja radiasi yang akan memutuskan hubungan kerja kepada dokter yang ditunjuk. Pengelolan rumah sakit bertanggung jawab atas pendidikan dan pelatihan.

pemasangan petunjuk. karyawan rumah sakit. syaratsyarat fasilitassanitasi. diskusi. Promosi higiene dan sanitasi adalah penyampaian pesan tentang higiene dan sanitasi rumah sakit kepada pasien/keluarga pasien dan pengunjung. karyawan terutama karyawan baru serta masyarakat sekitarnya agar mengetahui. Pesan promosi kesehatan lingkungan untuk karyawan berisi hubungan fasilitas sanitasi dengan kesehatan.    IX. pentingnya memberi contoh terhadap pasien/keluarga pasien dan pengunjung tentang memanfaatkan fasilitas sanitasi serta fasilitas kesehatan lainnya dengan benar. Media cetak penyebaran. Pesan promosi higiene dan sanitasi hendaknya disesuaikan dengan sasaran. memanfaatkan fasilitassanitasi dan fasilitas kesehatan lainnya dengan benar. gambar. menyadari. B. pengumuman secara tertulis. Media elektronik : radio. televisi (televisi khusus lingkungan rumah sakit). dan lainlain. Eyecatcher. Tata Laksana Promosi higiene dan sanitasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan cara langsung. demonstrasi. dan mau mmbiasakan diri berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta dapat memanfaatkan fasilitas sanitaso rumah sakit dengan benar. UPAYA PROMOSI KESEHATAN DARI ASPEK KESEHATAN LINGKUNGAN Pengertian (1). pengunjung. C. dan masyarakat disekitarnya berisi tentang caracara dan pentingnya membiasakan diri hidup bersih dan sehat. maupun media elektronik. Promosi kesehatan lingkungan adalah penyampaian pesan tentang yang berkaitan dengan PHBS yang sasarannya ditujukan kepada karyawan.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. A. memahami. pengunjung. (2). serta masyrakat sekitarnya. Sasaran promosi higiene dan sanitasi adalah pasien/keluarga pasien. pameran. keluarga pasien.KES  NO. spanduk. MENTERI KESEHATAN RI ttd Dr. partisipatif. Pelaksana promosi higiene dan sanitasi supaya dilakukan oleh seluruh karyawan rumah sakit dibawah koordinasi tenaga/unitorganisasi penanggung jawab penyelenggara kesehatan lingkungan rumah sakit yang menangani promosi kesehatan lingkungan rumah sakit. Secara langsung : konseling.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. ceramah. ACHMAD SUJUDI 41    . untuk itu dapat disampaikan padawaktu orientasi karyawan baru atau pada pertemuan secara berkala. pemasangan poster. melalui pengeras suara. Pesan promosi kesehatan lingkungan untuk pasien. Materi promosi kesehatan lingkungan sangat penting diketahui oleh seluruh karyawan rumah sakit. Persyaratan Setiap rumah sakit harus melaksankan upaya promosi higiene dan sanitasi yang pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga/unit organisasi yang menangani promosi kesehatan lingkungan rumah sakit. tata tertib. media cetak. pentingnya pengadaan/pemeliharaan/ pembesihan fasilitas sanitasi.

A 1 3 2 Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja. a b c d a b 3 3 4 AMDAL. maka tenaganya harus berpendidikan sanitarian dan telah megikuti pelatihan khusus di bidang kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan teknik sipil. diperlukan tenaga dengan kualifikasi sebagai berikut : (1). Simpul-simpul pengamatan kesehatan lingkungan. UKL dan UPL Peraturan perundang-undangan sanitasi rumah sakit. Pengendalian pencemaran lingkungan Pengertian Amdal. Pembinaan teknis dan pengawasan penyelenggaraan kesehatan lingkungan rumah sakit Pengertian Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja Kecenderungan masalah kesehatan di masa yang akan datang. UKL dan UPL Tata Laksana Amdal. teknik kimia. dan UPL Peraturan Perundangan. PENDAHULUAN Upaya penyehatan lingkungan rumah sakit meliputi kegiatankegiatan yang kompleks sehingga memerlukan penanganan secara lintas program dan lintas sektor serta berdimensi multi disiplin.KES  NO. ALOKASI WAKTU (Jam) (2). Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas C dan D (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalah seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendahrendahnya berijazah diploma (D3) di bidang kesehatan lingkungan. Penanggung jawab kesehatan lingkungan di rumah sakit kelas A dan B (rumah sakit pemerintah) dan yang setingkat adalh seorang tenaga yang memiliki kualifikasi sanitarian serendahrendahnya berijazah sarjana (S1) di bidang kesehatan lingkungan. Ruang lingkup kesehatan lingkungan rumah sakit. Untuk itu. KURIKULUM PELATIHAN TENAGA KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT BAGIAN MATA PELAJARAN a Materi Dasar Kesehatan lingkungan rumah sakit b c POKOK BAHASAN Pengertian kesehatan lingkungan rumah sakit. Rumah sakit pemerintah maupun swasta yang sebagian kegiatan kesehatan lingkungannya dilaksanakan oleh pihak ketiga. (4). biologi.    Lampiran II Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 Tanggal : 19 Oktober 2004 KUALIFIKASI TENAGA KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT I. (3). diusahaan mengikuti pelatihan khusus di bdaing kesehatan lingkungan rumah sakit yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pihak lain terkait sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. II. Tenaga sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2. UKL. Kebijakan dan Strategi program kesehatan 2 a 2 42    .  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. teknik lingkungan.

Dekontaminasi. pengunjung & masyarakat sekitar Faktor-faktor pendukung terjadinya infeksi nosokomial yang meliputi konstruksi bangunan dan ruangan. Pengamanan dampak pencemaran udara Pengamanan dampak radiasi dan pengendalian kebisingan Promosi kesehatan Laundri Manajemen Kesehatan Lingkungan Dinamika Kelompok Praktek lapangan dan studi kasus a b c a b c 4 3 4 4 a b a 4 5 b c d 4 6 4 7 8 9 3 10 11 1 2 2 C Materi Penunjang Jumlah 8 4 60 jam @ 45 menit (6 hari efektif) MENTERI KESEHATAN RI ttd Dr. air minum. dan laundri. desinfeksi. tikus dan binatang penggangu lain. dan fasilitas kesehatan lingkungan Penyehatan air Higiene dan sanitasi makanan dan minuman Pengendalian limbah Pengendalian serangga. Persyaratan radiasi dan kebisingan.KES  NO. Tata laksana laundri Perencanaan. Pengelolaan limbah cair Pengelolaan limbah gas Praktek tata laksana kerja yang aman Pengendalian dengan cara terpadu a b a b c a b a b Persyaratan kualitas udara Pengendalian pencemaran udara. bangunan/ruangan. B Materi Pokok 1 4 b 2 Penyehatan ruang dan bangunan. pasien. Perkenalan/pencairan suasana a b Praktek lapangan Studi kasus 2 3 a Faktor resiko kesehatan lingkungan rumah sakit.    lingkungan rumah sakit b Kebijakan & strategi program sanitasi rumah sakit Masalah infeksi nosokomial yang terkait dengan kesehatan lingkungan rumah sakit dan keselamatan petugas. evaluasi. dan advokasi. Pengelolaan limbah padat medis dan non medis. Perlindungan radiasi Pengendalian kebisingan Metode dan sasaran penyuluhan kesehatan lingkungan. Penyediaan dan perbaikan sarana air bersih Persyaratan kualitas air bersih. dan fasilitas higiene dan sanitasi. pengelolaan makanan dan minuman. monitoring. Pengenalan berbagai jenis materi penyuluhan. ACHMAD SUJUDI 43    . Pengelolaan makanan dan minuman. pengendalian serangga. pelaporan.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. tata laksana penyediaan air. pengelolaan limbah.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. tikus dan binatang pengganggu lain. Survelians kualitas air bersih dan air minum Persyaratan higiene sanitasi makanan dan minuman. pengamanan radiasi. dan sterilisasi. Persyaratan Laundri. air untuk penggunaan khusus. Persyaratan kesehatan bangunan/ruangan (konstruksi) dan fasilitas higiene dan sanitasi Tata laksana penyehatan lingkungan.

.......... AC.................. b Kuat c Berwarna terang d Mudah dibersihkan 6 Konstruksi Balkon..........5 a Dapat mencegah masuknya 44    ....KES  NO....A/B/C/D (RS Pemerintah...5 a Bebas serangga dan tikus.I/II/III/IV (RS TNI/POLRI) *) .20............... Exhauster) 4 Atap 0...........................Utama/Madya/Pratama (RS Swasta) *) : .5 a Tinggi langit-langit min........ 0........ b Exhauster) Lubang ventilasi min................  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT................... lubang ventilasi a minimum 15% x luas lantai Ventilasi mekanis (Fan.(buah) TANGGAL PEMERIKSAAN : I Variabel Upaya Kesling Bobot Komponen yang dinilai (2) (3) (4) KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT (Jumlah bobot 8) a Kuat/utuh b Bersih Pertemuan lantai dan dinding c berbentuk konus/lengkung 1 Lantai 2 d Kedap air e Rata f Tidak licin g Mudah dibersihkan a Rata b Bersih 2 Dinding 1 c Berwarna terang d Mudah dibersihkan 3 Ventilasi **) 3..5 a Tidak ada genangan air Beranda dan Talang b Tidak ada jentik c Mudah dibersihkan 7 Pintu 0. NAMA RUMAH SAKIT ALAMAT RUMAH SAKIT KELAS RUMAH SAKIT : : : : : 4... 2.. ......... BUMN/BUMD) *) : ....“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN..1 Ventilasi gabungan 1 Ventilasi alam................ Nilai (5) 20 20 15 15 10 10 10 30 30 20 20 50 50 100 100 50 30 10 10 50 30 10 10 30 40 30 60 Skor (6) JUMLAH TEMPAT TIDUR : ........ ............7 m......    Lampiran III Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 Tanggal : 19 Oktober 2004 PENILAIAN PEMERIKSAAN KESEHATAN LINGKUNGAN (INSPEKSI SANITASI) RUMAH SAKIT 1......... 3.. AC.3 Ventilasi mekanis 1 (Fan........S/D... 5% x luas 3.......... b Tidakbocor c Berwarna terang d Mudah dibersihkan 5 Langit-langit 0....2 Ventilasi alam 1 lantai 3.... No (1) ..... 5. ....... 2..........

    8 9 Pagar Halaman.5 0. Pencahayaan 100 ~ 200 lux 0 0 Temperatur 22 C ~ 24 C (dengan AC). 0. Angka kuman maksimal 200 ~ 3 500 CFU/m udara. Ventilasi dengan AC tersendiri dilengkapi filter bakteri 0 0 Temperatur 19 C ~ 25 C Kelembaban 45% ~ 60% Pencahayaan ruang 300 Lux ~ 500 Lux. Taman dan tempat parkir.5 b a b a b c d 10 11 Jaringan instalasi Saluran Air Limbah 0. aliran lancar Bebas kuman patogen 3 Angka kuman 10 CFU/m udara Dinding terbuat dari porselin/vinil Pintu harus dalam keadaan tertutup.5 1 a b a b serangga dan tikus Kuat Aman Kuat Bersih Mampu menampung mobil karyawan dan pengunjung.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. Pencahayaan meja operasi 10.3 m. Tidak berbau (terutama H2S dan/ atau NH3. Langit-langit tidak bercelah.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT.5 m dari lantai 15 15 15 10 10 10 5 10 5 5 30 20 25 25 15 15 10 10 10 10 10 5 5 5 5 30 45    .7 m ~ 3.000 Lux. Bebas serangga/tikus 3 Kadar debu maksimal 150 µg/m udara.KES  NO.5 m2/tempat tidur 2 . Tinggi langit-langit 2. apabila menggunakan AC central cooling towernya tidak menjadi perindukan bakteri ligglonella atau temperatur kamar (tanpa AC) Kelembaban 45% ~ 60% (dengan AC).Dewasa : 4.000 Lux ~ 20. Tidak berdebu/becek Tersedia tempat sampah yang cukup. kelembaban udara ambien jika tanpa AC Kebisingan < 45 dB A Kawasan bebas rokok Pencahayaan dengan intensitas cukup Saluran air limbah tertutup/ Saluran drainage.Anak/bayi : 2 m /tempat tidur Rasio tempat tidur dengan kamar mandi. Aman (bebas cross section) Terlindung Tertutup Aliran Air Lancar 40 60 40 30 20 30 60 40 50 50 II RUANG BANGUNAN ((Jumlah bobot 10) 1 Ruang Perawatan 2 a b c d e f g h i 2 Lingkungan RS 1 j a b c d a b c d e f g h i j k a 3 Ruang Operasi 2 4 Ruang Laboratorium 1 Rasio luas lantai dengan tempat tidur . Dinding terbuat dari porselin/keramik setinggi 1.

UGD. dan ruang operasi.3 m dari lantai. Saluran pembuangan air limbah dilengkapi dengan penahan bau (water seal). Dilengkapi dengan perlengkapan dan bahan pemilisan jenazah termasuk meja memandikan mayat. 30 c d e a b c 6 Ruang Radiologi 0. Dikengkapi dengan dapur. Dilengkapi dengan ruang ganti pakaian petugas dan toilet.5 8 Ruang Mayat 1 a b c d 25 20 20 10 e f g 10 10 5 9 Toilet dan Kamar Mandi 1 a b 30 20 c 20 d 10 e 10 f 10 III PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN (Jumlah bobot 15) 1 Bahan makanan dan a Kondisi bahan makanan dan 2 Makanan Jadi makanan jadi secara fisik 50 46    . dan ruang khusus lainnya.7m ~ 3.    b Lantai dan meja kerja tahan terhadap bahan kimia dan getaran.KES  NO. Jauh dari poliklinik/ruang pemeriksaan.3 m dari lantai Kebisingan < 65 dB A. karyawan terpisah.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. wanita.5 m dari lantai Dinding dan daun pintu dilapisi timah hitam. Tersedia ruangan khusus Dinding terbuat dari porselin/ keramik setinggi 1.5 a b c d 7 Ruang Pendingin 1 a b c 20 10 10 50 20 30 30 30 20 20 50 40 10 5 Ruang Sterilisasi 1. Hubungan dengan ruang gelap harus dengan loket. Dilengkapi dengan saluran pembuangan air limbah. kamar operasi. Kaca jendela menggunakan kaca timah hitam. Dilengkapi rak untuk menyimpan makanan dengan tinggi 20 cm ~ 25 cm dari lantai. kamar mandi dan toilet Tinggi langit-langit 2. Kamar mandi dan toilet untuk pria. Dinding dilapisi porselin/keramik Terletak dekat dengan bagian Pathologi/laboratorium. 0 0 Temperatur -10 C ~ + 5 C Bebas tikus dan kecoa.7 m ~ 3. Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar. Pintu masuk terpisah dari pintu ke luar. Mudah dicapai dari ruang perawatan. Rasio toilet/kamar mandi dan tempat tidur 1 : 10 Toilet tersedia pada setiap unit/ raung khusus untuk unit rawat inap dan karyawan harus tersedia kamar mandi Letak tidak berhubungan langsung dengan dapur. Tinggi langit-langit 2.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.

Dicuci dengan desinfektan atau dikeringkan dengan sinar matahari/pemanas buatan dan tidak dibersihkan dengan kain. air tanah diolah Distribusi tidak bocor Penampungan tertutup 70 30 80 15 5 50 30 20 V PENGELOLAAN LIMBAH (Jumlah bobot 16) 1 Pengelolaan Limbah 10 a Padat. Lalu lintas makanan jadi menggunakan jalur khusus Lantai dapur sebelum dan sesudah kegiatan diberihkan dengan antisptik Dilengkapi dengan sungkup dan cerobong asap. Bahan makanan dan makanan jadi terpisah. 47  Pemusnahan limbah padat infeksius. dan sejenisnya Menggunakan pakaian pelindung pengolahan makanan Selalu menggunakan peralatan dalam menjamah makanan jadi Berprilaku sehat selama bekerja Sebelum digunakan dalam kondisi bersih. tidak retak.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. sitotoksis.KES  NO.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Menggunakan kereta dorong tertutup. Pencahayaan > 200 Lux. Kondisi bahan makanan dan makanan jadi secara bakteriologis memenuhi syarat Makanan yang mudah membusuk disimpan pada temperatur > 56. dan farmasi 25   . Tahan karat dan tidak mengandung bahan beracun. koreng. Memiliki surat keterangan sehat yang berlaku Tidak berkuku panjang.    b memenuhi syarat. Bakteriologis Kimia Fisika Sumber PDAM. 50 2 Tempat penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi. 2 6 Peralatan 2 IV PENYEHATAN AIR (jumlah boboy 16) 1 Kuantitas 8 a b 2 Kualitas a b c a b c 3 Sarana 5 Tersedia air bersih > 500 Liter/tempat tidur/hari dan tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan Air minum tersedia pada setiap tempat kegiatan. Utuh.50F atau < 40C Makanan yang akan disajikan > 6 jam disimpan pada temperatur – 50C ~ -10 C. Bersih Terlindung dari debu Bebas gangguan serangga dan tikus. Tidak menyajikan makanan jadi yang sudah menginap. 3 a b 30 c d e f 3 Penyajian Makanan 2 a b c 4 Tempat pengolahan makanan (Dapur) 4 a 10 10 10 10 40 40 20 50 b c a b c d e a b c d 25 25 40 30 10 10 10 40 30 15 15 5 Penjamah Makanan.

tidak memungkinkan sebagai tempat berkembang biaknya serangga dan tikus/ 80 48    . kualitas. penampungan sampah. kuantitas. b 20 c 20 d 15 e 5 f g 2 Pengolahan Limbah Cair 4 a b 3 Kualitas effluent yang dibuang ke dalam lingkungan. lancar.KES  NO. dan tekanan yang memadai serta disediakan kran air panas untuk desinfeksi awal. dengan kemiringan > 2 ~ 3%. kedap air. dengan warna dan lambang sesuai pedoman. Pencahayaan > 200 Lux Terdapat sarana pengering untuk alat-alat sesudah dicuci. dan kantong plastik. Tempat limbah padat kuat. Limbah domestik dibuang ke TPA yang ditetapkan Pemda.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. minimal 1 (satu) buah tiap radius 20 m pada ruang tunggu/terbuka. Lantai terbuat dari beton/plester yang kuat.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. tempat penampungan air. Dilakukan pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius Tersedia ruang pemisah antara barang bersih dan kotor. tahan karat. rata. Sampah radioaktif ditangani sesuai peraturan yang berlaku Dilakukan pengolahan melalui instalasi pengolahan limbah Disalurkan melalui saluran tertutup. 30 b c d 15 15 15 e 10 f g 10 5 VII PENGENDALIAN SERANGGA DAN TIKUS 4 a Fisik : Konstruksi bangunan. kedap air. tidak licin. 58 Tahun 1995 atau Perda setempat. Memenuhi persyaratan Kepmen LH No.    dengan insinerator (temperatur > 10000C atau khusus untuk sampah infeksius dapat disterilkan dengan autoclave atau radiasi microwave sebelum dibuang ke landfill Bagi yang tidak punya insinerator ada MoU antara RS dan pihak yang melakukan pemusnahan limbah medis. Tempat pengumpulan dan penampungan limbah sementara segera di desinfeksi setelah dikosongkan Limbah domestik dibuang ke TPS 2 kal/hari dan ke TPA 1 kali/hari. Lokasi mudah dijangkau oleh kegiatan yang memerlukan dan jauh dari pasien serta tidak berada di jalan. 5 10 80 20 100 2 VI TEMPAT PENCUCIAN LENEN 5 a Terdapat kran air bersih dengan kapasitas. dengan penutup.

Dosis radiasi pengion terhadap pekerja dan masyarakat tidak boleh melebihi NBD Ada sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja pada pekerja dan masyarakat terhadap radiasi pengion .KES  NO. c d e X PENYULUHAN KESEHATAN LINGKUNGAN 6 Dilakukan penyuluhan kesehatan kerja secara langsung maupun tidak langsung kepada : a Karyawan medis/non medis b Pasien c Pedagang makanan dalam lingkungan RS d Pengunjung 40 20 20 20 49    . Alat dan perlengkapan medis yang sudah disterilkan atau di desinfeksi terlebih dahulu.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN. tempat berkumpul orang banyak. Peralatan sterilisasi dikalibrasi minimal sekali setahun Ruang opersi yang telah dipakai harus dilakukan desinfeksi sebelum operasi berikutnya. pemantauan dosis perorangan. 20 VIII DEKONTAMINASI MELALUI DESINFEKSI DAN STERILISASI 10 a Menggunakan peralatan sterilisasi uap (autoclave) gas dengan 0 temperatur sekitar 1340 atau peralatan radiasi gelombang mikrowave atau dengan cara lain yang memenuhi syarat Alat dan perlengkapan medis yang sudah distrilkan disimpan pada tempat khusus yang steril.    b Kimia : Insektisida yang dipakai memiliki toksisitas rendah terhadap manusia dan tidak bersifat persisten. organisasi. dibersihkan dari darah. Tebal bahan perlindungan pada masing-masing ruangan berdsarkan jenis dan energi radiasi. jaringan tubuh. aktifitas dan dimensi sumber radiasi serta sifat bahan pelindung sesuai peraturan yang berlaku. 40 b 20 c 20 d e 10 10 IX PENGAMAN RADIASI 2 a b Ada izin mengoperaikan peralatan yang memancarkan radiasi. Instalasi dan gudang peralatan radiasi ditempatkan pada lokasi yang jauh dari tempat yang rawan kebakaran. peralatan proteksi radiasi.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. dan sisa bahan lain.

“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Dipimpin oleh tenaga non teknis yang sudah mengikuti pelatihan sanitasi RS. ***) Pilih salah satu yang sesuai.KES  NO.    XI UNIT/INSTALASI SANITASI RS ***) 8 a Dipimpin oleh tenaga teknis yang sudah mengikuti pelatihan sanitasi RS Dipimpin oleh tenaga teknis yang belummengikuti pelatihan sanitasi RS. 50    . 50 b 30 c 20 **) Pilih salah satu yang sesuai.

51    . I (1). sehingga skor maksimal (10. Variabel upaya unit/instalasi R.000) harus dikurangi nilai sebesar = (0. (2).KES  NO. PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR RS. (7).  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT. Variabel upaya ventilasi (Butir 1. maka untuk variabel upaya tersebut tidak termasuk dalam penilaian ini.0 x 100) = 250 point.    I. poliklinik. (8).000) dikurangi dengan skor maksimal komponen yang dinilai tersebut. Variabel upaya (Kolom 2) Setiap bagian atau kegiatan dari variabel upaya memiliki nilai antara 0 (nol) sampai dengan 100. Variabel upaya yang tidak dilakukan pemeriksaan Untuk komponen yang dinilai (Kolom 4) pada variabel upaya (Kolom 2) yang tidak dilakukan pemeriksaan atau penilaian dalam inspeksi sanitasi rumah sakit. (5). Ini disebabkan karena tidak tersedia alat yang memadai atau petugas yang mampu untuk melaksanakan pemeriksaan atau karena sebabsebab lainnya. dan perkantoran/administrasi. maka nilainya adalah 0 (nol). maka untuk komponen yang dinilai tersebut tidak termasuk dalam penilaian. sebaliknya apabila memenuhi persyaratan maka nilainya adalah sebesar nilai yang tercantum pada kolom 5. Variabel upaya ruang radiologi & perlindungan radiasi (Butir 115 dan butir IX) Bagi rumah sakit yang tidak memiliki fasilits ruang radiologi (bobot 0.“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN.5 x 100) + (2.5) dan perlindungan radiasi (bobot 2.3) Khusus untuk variabel upya ventilasi dipilih salah satu jenis ventilasi yang sesuai dengan kenyataan yang ada dan lokasi pemeriksaan minimal pada ruang tunggu. Variabel upaya yang diserahkan /dilaksanakan pihak luar Bagi rumah sakit yang menyerahkan sebagian komponen yang dinilai (Kolom 4) yang tercantum pada variabel upaya (Kolom 2) kepada pihak luar dan dikerjakan di luar lingkungan rumah sakit.0) maka skor maksimal rumah sakit tersebut (10.000) harus dikurangi dengan skor sebagian kegiatan pada variabel upaya yang diserahkan kepada pihak lur tersebut. (3). perawatan.S (Butir XI Khusus untuk variabel upaya/instalasi sanitasi rumah sakit dipilih salah satu komponen yang dinilai (Kolom 4) yang sesuai dengan kondisi rumah sakit yang diperiksa. Skor (Kolom 6) Skor adalah perkalian antara bobot (Kolom 3) dengan nilai yang diperoleh (Kolom 5) (4). (6). Komponen yang dinilai (Kolom 4) Apabila kenyataan yang ada tidak memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada komponen yang dinilai . sehingga skor maksimal (10.

............ atau yang meliputi komponen yang dinilai (.S) apabila memperoleh akor hasil penilaian kesehatan lingkungan.. Kesimpulan hasil penilaian tersebut diatas tidak termasuk variabelvariabel upya sebagai berikut : (a)............ BUMN/BUMD Kelas A & Kelas B RS ABRI........ tidak harus dilakukan pemeriksaan atau penilaian karena............. KESIMPULAN HASIL PENILAIAN PEMERIKSAAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT (1).......    II.. Sekurangkurangnya 75% dari skor maksimal yang ada/yang diperiksa untuk : (b)............................... Kelas III RS Swasta Kelas pratama RS Pemerintah.. (c)...... (b)................. .)* .. atau yang meliputi komponen yang dinilai (....... tidak harus dilakukan pemeriksaan atau penilaian karena.. Kelas I & Kelas II RS Swasta Kelas Utama dan Madya RS Pemerintah.............. RS Pemerintah.................................................. 52    ........ (2)....... Variabel upaya ....  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT........... Variabel upaya .... Rumah sakit dinyatakan memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan (M...................“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN................ BUMN/BUMD Kelas D RS ABRI................................ BUMN/BUMD Kelas C RS ABRI........... Kelas IV Sekurangkurangnya 65% dari skor maksimal yang ada/yang diperiksa untuk : Sekurangkurangnya 60% dari skor maksimal yang ada/yang diperiksa untuk : Dengan catatan skor minimal untuk masingmasing variabel upaya adalah seperti tersebut pda tabel berikut : TYPE KELAS RS I A *) B *) C *) D *) 75 75 75 70 II 75 75 75 75 III 90 90 90 80 IV 80 80 80 80 V 80 80 80 80 VI 55 55 55 55 VII 80 80 20 20 VIII 70 70 70 70 IX 100 100 50 50 X 60 60 60 60 XI 60 60 60 20 SKOR MINIMAL DARI MASINGMASING VARIABEL UPAYA (Dalam %) Keterangan : *) Type/Klas RS yang setingkat............................)* .... sebagai berikut : (a)........................KES  NO.. ..................

................................... Variabel upaya ..............“OPTIMALISASI SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG MEMENUHI SYARAT” 2009  KEPMEN........... .......... tetapi tidak dilakukan pemeriksaan/penilaian.......)* diisi nomor variabel upaya atau komponen yang dinilai........... dst ..........(.................................................KES  NO.... (c).............................................................. tidak harus dilakukan pemeriksaan atau penilaian karena............  1204/MENKE/SK/X/2004  TENTANG  PERSYARATAN  KESEHATAN  LINGKUNGAN  RUMAH SAKIT....................... Saransaran atau rekomendasi : (a).................................................. Kesimpulan hasil penilaian pemeriksaan kesehatan lingkungan rumah sakit merupakan laporan yang harus ditanda tangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kabupaten/Kota MENTERI KESEHATAN RI ttd Dr................ (b)..................................... ....... ACHMAD SUJUDI 53    ....................................................................................... atau yang meliputi komponen yang dinilai (.............. ......................................)* ...........    (c)................................. (3).......................................................... .................................