Emotional Spiritual Quotient dan Locus of Control sebagai Anteseden Hubungan Kinerja Pegawai dan Penerimaan Perilaku Disfungsional

Audit (Studi Pada Inspektorat Provinsi Jawa Tengah) Disusun oleh : Rahma Safrinda Araminta Drs. Dul Muid, Msi, Akt

ABSTRACT
Audit quality is determined by the exact process to be followed and auditing of personal control.Individual behavior is a reflection of the personality while situational factors that occurred when it will encourage someone to make a decision, dysfunctional behavior can be caused by factors audit the personal characteristics of the auditors (internal factors) as well as situational factors when performing audits (external factors). The purpose of this study is: To test empirically the influence of intelligence (ESQ), locus of control on the acceptance of dysfunctional behavior of the audit. To test empirically the influence of intelligence (ESQ), locus of control on employee performance. And to test empirically intelligence (ESQ) and locus of control as an antecedent variable in the relationship between employee performance with revenue audit dysfunctional behavior. The study population was a government auditor who worked on the Inspectorate of Central Java Central Java, with a total sample of 38 respondents. Determination of samples with sampling is convenience sampling nonprobability. Types of data used are primary data with questionnaires and secondary data with the literature. Analytical tool used is the Partial Least Square (PLS). The results of this study are: ESQ negatively affect the acceptance of dysfunctional behavior of the audit. Locus of control is not a positive influence on acceptance of dysfunctional behavior of the audit. ESQ positive effect on the performance of the auditor, meaning the higher the ESQ, the higher the performance of auditors. Locus of control does not negatively affect the performance of auditors. ESQ as an antecedent variable in the relationship between employee performance with the acceptance of dysfunctional behavior of the audit. Locus of control rather than as an antecedent variable in the relationship between employee performance with the acceptance of dysfunctional behavior of the audit.

Keywords: ESQ, Locus of Control, Dysfunctional Behavior and Performance

1

I PENDAHULUAN Peringkat korupsi negara Indonesia sebagai negara terkorup di Asia menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan dan pertanggungjawaban di lembaga pemerintahan (Sindo, 17 Maret 2007). Predikat tersebut mengindikasikan kurang berfungsinya akuntan dan penegak hukum yang merupakan tenaga profesional teknis yang secara sistematis bekerjasama untuk mencegah dan mengungkapkan kasus korupsi di Indonesia secara tuntas. (Arif, 2002). Penyebab utama yang mungkin adalah karena kelemahan dalam audit pemerintahan di Indonesia. Mardiasmo (2000) menjelaskan bahwa terdapat beberapa kelemahan dalam audit pemerintahan di Indonesia yaitu: pertama tidak tersedianya indikator kinerja yang memadai sebagai dasar pengukur kinerja pemerintahan baik pemerintah pusat maupun daerah dan hal tersebut umum dialami oleh organisasi publik karena output yang dihasilkan yang berupa pelayanan publik tidak mudah diukur. Kedua, berkaitan dengan masalah strukur lembaga audit terhadap pemerintahan pusat dan daerah di Indonesia yang overlapping satu dengan yang lainnya yang menyebabkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan pelaksanaan pengauditan. Menurut Jansen & Glinow (1985) dalam Malone & Roberts (1996), perilaku individu merupakan refleksi dari sisi personalitasnya sedangkan faktor situasional yang terjadi saat itu akan mendorong seseorang untuk membuat suatu keputusan. Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku disfungsional audit dapat disebabkan oleh faktor karakteristik personal dari auditor (faktor internal) serta faktor situasional saat melakukan audit (faktor eksternal). Karakteristik personal yang mempengaruhi penerimaan perilaku disfungsional diantaranya locus of control (Donelly et.al, 2003), dan Kinerja karyawan (Employ performance) ( Gable & De Angelo, 1994; Donelly et al, 2003). Individu yang memiliki locus of control internal cenderung menghubungkan hasil atau outcome dengan usaha-usaha mereka atau mereka percaya bahwa kejadian-kejadian adalah dibawah pengendalian atau kontrol mereka dan mereka memiliki komitmen terhadap

2

tujuan organisasi yang lebih besar dibanding individu yang memiliki locus of control eksternal. Sedangkan individu yang memiliki locus of control eksternal adalah individu yang percaya bahwa mereka tidak dapat mengontrol kejadian-kejadian dan hasil atau outcome (Spector, 1982 dalam Donelly et al, 2003). Mudrack (1989) dalam Donelly et al (2003) menyimpulkan bahwa penggunaan manipulasi, penipuan atau taktik menjilat atau mengambil muka dapat

menggambarkan suatu usaha dari locus of control eksternal untuk mempertahankan pengaruh mereka terhadap lingkungan yang kurang ramah dan memberikan kepada mereka sebuah pendekatan berorientasi internal seperti kerja keras. Individu yang memiliki locus of control internal cenderung menggunakan tekanan atau mendesak usaha yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang memiliki locus of control eksternal ketika diyakini bahwa usaha nampak atau mengarah kepada reward (Spector, 1982 dalam Hyatt & Prawitt, 2001; Rotter, 1990 dalam Hyatt & Prawitt, 2001; Phares, 1968 dalam Donelly et al, 2003. Penelitian ini didasarkan atas penelitian Kartika dan Wijayanti (2007), yang meneliti tentang locus of control sebagai anteseden hubungan kinerja pegawai dan penerimaan perilaku disfungsional audit. Yang membedakan dengan penelitian terdahulu adalah penelitian sekarang menambah variabel kecerdasaran (ESQ) dan menggunakan obyek Inspektorat Jawa Tengah. Pada dasarnya manusia diciptakan dengan membawa unsur-unsur kecerdasan. Awalnya kecerdasan yang dipahami banyak orang hanya merupakan kecerdasan intelejensi (Intelegency Quotient), sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia, maka ditemukan tipe kecerdasan lainnya melalui penelitian-penelitian empiris dan longitudinal oleh para akademisi dan praktisi psikologi, yakni kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat berdiri sendiri untuk meraih kesuksesan dalam bekerja dan kehidupan. Kesuksesan paripurna adalah jika seseorang mampu menggunakan dengan baik ketiga kecerdasan ini, menyeimbangkannya, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan. Bagi para pekerja dalam lingkungan 3

Hal tersebut menunjukkan tidak berfungsinya badan pengawas yaitu Inspektorat Jawa Tengah sebagaima fungsi Inspektorat Jawa Tengah sebagai 1) penunjang penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang pengawasan. 4) pelaksanaan kegiatan koordinasi bidang pengawasan. namun semua orang dapat meraih kesuksesan karir. dan memperoleh tempat terbaik dalam bekerja. kesuksesan dalam karir tidak hanya dimiliki oleh karyawan-karyawan yang berintelejensi tinggi saja. 6) pelaksanaan tugas lain yang diberikan Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya. sehingga pada akhirnya juga akan mempengaruhi kinerja seorang auditor. Oleh karena itu penelitian ini akan meneliti tentang hubungan karakteristik personal yang terdiri dari ESQ dan locus of control. 3) perumusan kebijaksan teknis di bidang pengawasan.organisasi manapun ketiga bentuk kecerdasan ini adalah sesuatu yang mutlak harus dimiliki. ESQ berdampak pada perilaku disfungsional apabila diantara ketiga kecerdasan tersebut berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkesinambungan. 5) pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintah daerah. 2) penyusunan rencana dan kegiatan program di bidang pengawasan. Penelitian ini penting dilakukan karena Indonesia masih menyandang gelar sebagai negara kelima terkorup didunia. 4 . kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah perlu dipulihkan dengan praktek profesional yang dijalankan para pengawasan pemerintah.

dan menghasilakan time. Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan merasakan. 1996). dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi. premature sign off. altering/ replacement of audit procedure.2 ESQ Model-model kecerdasan yang kini dikembangkan dalam dunia yang mendasarkan argumen-argumennya pada temuan-temuan ilmiah dari studi dan penelitian neuroscience. informasi. Peter Salovey dan Jack Mayer mendefenisikan kecerdasan 5 . menutupi kebutuhan revisi anggaran. Premature signoff (PMSO) merupakan suatu keadaan yang menunjukkan auditor menghentikan satu atau beberapa langkah audit yang diperlukan dalam prosedur audit tanpa menggantikan dengan langkah yang lain ( Marxen. 1990 dalam Cristina. 1998). 2003). 2000). Kecerdasan kedua. Dysfunctional Audit Behavior merupakan reaksi terhadap lingkungan (Donelly et al. TINJAUAN PUSTAKA 2. IQ adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental (Robin. memahami. Sedangkan altering / replacing of audit procedure adalah penggantian prosedur audit yang seharusnya yang telah ditetapkan dalam standar auditing. hingga model kecerdasan ultimat yakni kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). adalah IQ merupakan kecerdasan seseorang yang dibawa sejak lahir dan pengaruh didikan dan pengalaman (Thoha. kecerdasan emosional (Emotional Quotient)..Underreporting of time menyebabkan keputusan personel yang kurang baik. Beberapa perilaku disfungsional yang membahayakan kualitas audit yaitu : Underreporting of time. Kecerdasan pertama. koneksi.1 Penerimaan Perilaku Disfungsional SAS No 82 dalam Donelly et al (2003) menyatakan bahwa sikap auditor menerima perilaku disfungsional merupakan indikator perilaku disfungsional aktual. dan pengaruh yang manusiawi (Cooper dan Sawaf. 2003).II. Mulai dari model kecerdasan konvensional (Intelegency Quotient). 2.

2003) Locus of control berperan dalam motivasi.emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan.4 Kinerja Pegawai Kinerja merupakan prestasi kerja.3 Locus of Control Locus of control mempengaruhi penerimaan perilaku disfungsional audit maupun perilaku disfungsional audit secara aktual. komitmen organisasional dan turnover intention (Reed et al. Kinerja menurut 6 . locus of control yang berbeda bisa mencerminkan motivasi yang berbeda dan kinerja yang berbeda. Zohar dan Marshall mengikutsertakan aspek konteks nilai sebagai yang suatu bagian untuk dari ini proses mereka berpikir/berkecerdasan dalam hidup bermakna. kepuasan kerja. Fakta menyatakan bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ). Kecerdasan ketiga. dan spiritual (SQ). 2002). yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan (Dessler. memahami perasaan dan maknanya. promosi yang lebih cepat dan mendapatkan uang yang lebih. Ini artinya secara kodrati. kinerja adalah akumulasi hasil akhir semua proses dan kegiatan kerja organisasi. (1990) dalam Hyatt & Prawitt (2001) menjelaskan bahwa eksternal secara umum berkinerja lebih baik ketika pengendalian dipaksakan atas mereka. mereka cenderung mempunyai level kerja yang lebih tinggi. Donelly et al. Internal akan cenderung lebih sukses dalam karier dari pada eksternal. manusia telah disiapkan dengan tiga aspek tersebut (Pasiak. Menurut Robin (2002: 226). 2000: 41). emosional (EQ). adalah Spiritual Quotient (SQ). 2005. 2002). 2. Dengan demikian kinerja memfokuskan pada hasil kerjanya. 2. 1994 dalam Puji . meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran. 2000). Penelitian Rotter. dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual (Stein dan Book. mempergunakan istilah kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ) (Zohar dan Marshal.

2. Mulai dari model kecerdasan konvensional (Intelegency Quotient).5 Kerangka Pikir ESQ Kinerja Pegawai Perilaku Disfungsional Locus of control 2. adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. 2001. Seluruhnya masih menjelaskan kesadaran manusia dengan segenap aspek-aspeknya sebagai prosesproses yang secara esensial berlangsung pada jaringan syaraf (Adhipurna. hingga model kecerdasan ultimat yakni kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Hasil penelitian Provita (2007) memberikan bukti 7 . 2002). ESQ berdampak pada perilaku disfungsional apabila diantara ketiga kecerdasan tersebut berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkesinambungan.6.1 Pengaruh ESQ terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit Model-model kecerdasan yang kini dikembangkan dalam dunia yang mendasarkan argumen-argumennya pada temuan-temuan ilmiah dari studi dan penelitian neuroscience. kecerdasan emosional (Emotional Quotient).6 Pengembangan Hipotesis 2. Pasiak.Mangkunegoro (2004). seperti yang diungkapkan Armansyah (2002).

Sedangkan individu yang memiliki locus of control eksternal adalah individu yang percaya bahwa mereka tidak dapat mengontrol kejadiankejadian dan hasil atau outcome (Spector. Dalam konsteks auditing tindakan manipulasi atau penipuan akan terwujud dalam bentuk perilaku disfungsioanl. fleksibel dan adaptif masih terbatas kepada kemampuan diri sendiri yang suatu 8 . maka dikemukan hipotesis : H1 : ESQ berhubungan negatif disfungsional audit dengan penerimaan perilaku 2. Berdasarkan uriaan diatas.bahwa karakteristik auditor berdampak pada disfungsional auditor.2 Pengaruh Locus Of Control terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit Individu yang memiliki locus of control internal cenderung menghubungkan hasil atau outcome dengan usaha-usaha mereka atau mereka percaya bahwa kejadiankejadian adalah dibawah pengendalian atau kontrol mereka dan mereka memiliki komitmen terhadap tujuan organisasi yang lebih besar dibanding individu yang memiliki locus of control eksternal. 1982 dalam Donelly et al. Sehingga Sehingga hipotesis yang diuji adalah : H2 : Locus of control eksternal berhubungan positif dengan penerimaan perilaku disfungsional audit 2.3 Pengaruh ESQ terhadap Penerimaan Kinerja Pegawai Kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna. memiliki kesadaran diri. 2003). Pengurangan kualitas auditing bisa dihasilkan sebagai pengorbanan yang harus dilakukan auditor untuk bertahan dilingkungan audit. sebab biasanya auditor dapat mempertimbangkan dengan baik setelah dilakukannyanya disfungsional auditor.6. Perilaku ini memiliki arti bahwa auditor akan memanipulasi proses auditing untuk mencapai tujuan kinerja individu. Perilaku ini akan terjadi pada individu yang memiliki locus of control eksternal.6. karena auditor yang memiliki kecerdasan yang tinggi akan lebih berhati-hati dalam melakukan disfungsional auditor.

saat dapat hilang tanpa kepercayaan dan keyakinan kekuatan transedental yang memberikan energi bagi manusia. Hyatt dan Prawitt (2001) telah memberikan beberapa bukti bahwa internal locus of control berhubungan dengan peningkatan kinerja dan locus of control internal. (2003) menyatakan bahwa locus of control internal adalah cocok untuk tugas-tugas dan pekerjaan yang bersifat keahlian. termasuk di dalamnya menghasilkan kinerja yang lebih baik. Berdasarkan uraian di atas.6. profesi dan yang bersifat manajerial dan bersifat pengendalian. Penggabungan ketiga hal ini akan menghasilkan manusiamanusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya. sehingga hipotesis yang diharapkan adalah: H4 : Locus of control eksternal berhubungan negatif dengan kinerja pegawai 9 . sedangkan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan vertikal berupa hubungan kepada Maha Pencipta. maka dikemukakn hipotesis sebagai berikut : H3 : ESQ berhubungan positif dengan kinerja pegawai 2. Agustian (2001) menggambarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan berfungsi secara horizontal. Locus of control eksternal lebih cocok atau lebih tepat pekerjaan-pekerjaan pada lini industri. administrasi dan pekerjaan–pekerjaan yang bersifat rutin.4 Pengaruh Locus Of Control terhadap Kinerja Pegawai Perbedaan-perbedaan antara locus of control internal dan eksternal membuat masing-masing tepat dan lebih baik terhadap tipe-tipe tertentu atau terhadap tipe-tipe khusus dalam posisi-posisi atau dalam kedudukan tertentu. yakni berperan hanya kepada hubungan manusia dan manusia. Spector (1982) dalam Donelly et al. Seharusnya memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding locus of control eksternal dalam sebuah lingkungan audit. pekerjaan-pekerjaan dengan tenaga kerja yang tidak bersifat keahlian.

sehingga seorang auditor yang memiliki ESQ tinggi akan mempunyai kinerja pribadi yang tinggi dan diperkirakan akan lebih menerima perilaku disfungsional yang makin rendah. dan SQ).5 ESQ Sebagai Variabel Anteseden Dalam Hubungan Antara Kinerja Pegawai dengan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit Ketiga bentuk kecerdasan (IQ. 2003. dan spiritual (SQ). sehingga seorang auditor yang memiliki locus of control eksternal tinggi akan mempunyai kinerja pribadi yang rendah dan diperkirakan akan 10 . 2002). 1982 dalam Hyatt & Prawitt. 2001.2. 1994 dalam Puji . Seorang auditor akan memiliki persepsi yang lebih rendah terhadap kinerjanya sendiri dan kinerja yang bernilai rendah dipengaruhi oleh locus of control eksternal yang dimiliki auditor. Seorang auditor akan memiliki persepsi yang lebih rendah terhadap kinerjanya sendiri dan kinerja yang bernilai rendah dipengaruhi oleh ESQ yang dimiliki auditor. EQ.6 Locus Of Control Sebagai Variabel Anteseden Dalam Hubungan Antara Kinerja Pegawai dengan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit Locus of control mempengaruhi perilaku disfungsional audit. Individu yang memiliki locus of control internal cenderung menggunakan tekanan atau mendesak usaha yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang memiliki locus of control eksternal ketika diyakini bahwa usaha nampak atau mengarah kepada reward (Spector. kepuasan kerja. emosional (EQ). H5 : ESQ sebagai anteseden positif hubungan kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional 2.6. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa locus of control berhubungan signifikan dengan kinerja. Donelly et al.6. komitmen organisasi dan turnover intention (Reed et al. mempunyai akar-akar neurobiologis di otak manusia. Ini artinya secara kodrati. manusia telah disiapkan dengan tiga aspek tersebut (Pasiak. 2005. Fakta menyatakan bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ).

Sehingga hipotesa yang diuji adalah: H6 : locus of control sebagai negatif anteseden hubungan kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional 11 .lebih menerima perilaku disfungsional yang makin besar.

2002:260). Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah ESQ. Variabel Penelitian Penelitian ini. 2002:260). variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen. Variabel independent dari penelitian adalah ESQ dan locus of control. 3. dan locus of control sebagai variabel independen. Variabel intervening dalam penelitian ini adalah kinerja pegawai. Variabel intervening Variabel Intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperlemah dan memperkuat) hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Variabel Penelitian.1. Penjelasan tentang masing-masing variabel adalah : 12 . sedangkan variabel dependen adalah perilaku disfungsional dan kinerja pegawai. Dan Definisi Operasional 3. Variabel Dependen Variabel dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi variabel lain atau variabel yang diduga sebagai akibat dari variabel independen (Indriantoro dan Supomo.1. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku disfungsional.2.1. c.1. akan tetapi tidak dapat diamati dan diukur (Sugiyono. Variabel Independen Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain atau variabel yang diduga sebagai sebab dari variabel dependen (Indriantoro dan Supomo. 2004:33). b. variabel independent dan variabel kontrol.III METODE PENELITIAN 3. Penjelasan dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut : a.

b. kecerdasan emosional (Emotional Quotient). 2001. ESQ ESQ adalah tiga model kecerdasan. emosional kesadaran diri. Pengukuran ESQ dikelompokkan menjadi 3 . kontrol implus (gerak hati). flesibel dan adaptif. yaitu kecerdasan konvensional (Intelegency Quotient). 2002). Pasiak.1. hingga model kecerdasan ultimat yakni kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Skala manajemen stress : daya tahan stres. kebebasan. memiliki kesadaran diri. 2. skala interpersonal : empati. 2000). c. 2002). aktualisasi diri. ketegasan. Seluruhnya masih menjelaskan kesadaran manusia dengan segenap aspekaspeknya sebagai proses-proses yang secara esensial berlangsung pada jaringan syaraf (Adhipurna. yaitu a. flexibilitas. dan kecenderungan untuk menjawab-jawab situasi-situasi hidup (Zohar dan Marshal. dan kebahagian (Stein dan Book. pertanggungjawaban sosial. skala kemampuan penyesuaian diri: tes kenyataan. hubungan interpersonal. Locus of Control Locus of control yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu cara pandang seseorang terhadap suatu peristiwa. Kecerdasan Intelijensi diukur dengan kemampuan sesorang dalam menyusun program-program jangka panjang. prediksi kemasa depan. 2000). dan menyusun perkiran-perkiraan strategis (Zohar dan Marshal. 2003). apakah dia dapat atau tidak dapat mengendalikan (control) suatu peristiwa (Rotter 1966 dalam Donelly et al. skala suasana hati umum : optimisme. pemecahan masalah. 13 . Kecerdasan spiritual diukur dengan kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna. Kecerdasan emosional diukur dengan skela interpersonal : penghargaan diri. kecenderungan untuk memandang sesuatu secara hilistik.

Premature Sign-Off Premature sign-off merupakan suatu keadaan yang menunjukkan auditor menghentikan satu atau beberapa langkah audit yang diperlukan dalam prosedur audit tanpa menggantikan dengan langkah-langkah yang lain. Underreporting of Time Underreporting of time adalah perilaku disfungsional yang dilakukan auditor dengan tidak melaporkan waktu yang sebenarnya atau menggunakan waktu pribadinya dalam mengerjakan prosedur audit 14 . dan (2) External Locus of Control sebagai cara pandang dimana segala hasil yang didapat. baik atau buruk adalah karena tindakan mereka sendiri. dan juga takdir. (2) tidak setuju. (4) setuju. 3. Penerimaan Perilaku Disfungsional Penerimaan Perilaku Disfungsional merupakan variabel endogen. yaitu : (1) sangat tidak setuju. Penerimaan perilaku disfungsional dalam audit. Variabel perilaku disfungsional diukur dengan instrumen yang dikembangkan oleh Donely et al. Perilaku disfungsional yang diuji dalam penelitian ini adalah : 1. baik atau buruk diluar kontrol diri mereka tetapi karena faktor lain seperti keberuntungan. (2003) yang terdiri dari 8 item pertanyaan dengan menggunakan skala Likert 1 sampai 5. dan (5) sangat setuju. kesempatan. WLCS menggunakan 16 item pertanyaan dengan 5 point skala likert. (3) tidak pasti. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel locus of control adalah work locus of control scale (WLCS) yang telah dikembangkan oleh Spector (1998). 2..Reiss dan Mitra membagi Locus of Control menjadi dua. yaitu : (1) Internal Locus of Control sebagai cara pandang bahwa segala hasil yang didapat. Variabel ini diuji dengan 4 item pertanyaan. Perilaku disfungsional merupakan variabel independen dalam penelitian ini.

dan pengaturan staff. Populasi dan Sampel Populasi menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002) adalah sekelompok orang.Variabel kinerja pegawai diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Mahoney et. Penentuan sampel dengan nonprobability sampling yaitu convenience sampling. representasi. terdiri dari auditor penyelia. kejadian. (1963. perencanaan. Variabel ini diuji dengan 4 item pertanyaan.2.al (2003) yang telah dimodifikasi yaitu tujuh item multidimensional.dengan motivasi untuk menghindari atau meminimumkan anggaran yang berlebihan. dan madya. atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. merupakan sebagian populasi yang diteliti dengan maksud untuk menggeneralisasikan menarik kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. supervisi. Kinerja pegawai Kinerja Pegawai merupakan variabel endogen. Populasi penelitian ini adalah auditor pemerintah yang yang bekerja pada Inspektorat Jawa Tengah di Jawa Tengah sebanyak 60 responden. pertama. dapat diterima dalam riset terdahulu. muda.1965) dalam Donelly et. Sampel menurut Suharsini Arikunto (2003). 15 . koordinasi. 3. 4.al. Setiap responden diminta untuk memberikan pemeringkatan efektivitas kinerja mereka yang terbagi dalam enam dimensi kinerja.

2. 2006).2. 3. Ukuran reflektif dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya.70 dengan konstruk yang ingin diukur.60 dianggap cukup (Chin. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0. 16 . Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah linear agregat dari indikator-indikatornya.3. 1998 dalam Ghozali. Stone-GeisserQ-square test untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Model Pengukuran atau Outer Model Convergent validity dari model pengukuran dengan model refelktif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item skor/komponen skor dengan konstruk skor yang dihitung dengan PLS. structural model dan substantive theory) menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada teori substantif. 3.2. Model Struktural atau Inner Model Inner model (inner relation. Hasilnya adalah residual variance dari variabel dependen.3 Metode Analisis Data Menurut Ghozali (2006) tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk tujuan prediksi. Weight estimate untuk menciptakan komponen skor variable laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. maka akan menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok yang lebih baik daripada ukuran blok lainnya.5 sampai 0.1. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen. Discriminant validity dari model pengukuran dengan reflektif indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk.

Konstruk yang nilai loading faktor di bawah 0.2 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis Berdasarkan hasil Alogarithm PLS tersebut dapat dilihat bahwa terdapat konstruk yang loading faktor nilainya kurang atau dibawah 0.8421 6-30 16 15-30 22.82 Sesungguhnya Standar deviasi 20.792 5.9474 16-80 48 35-73 51. 1 2. HASIL DAN ANALISIS 4. 17 . 3.1 Statistik Deskriptif Tabel 1 Statistik Deskriptif Teoritis No.5 sebaiknya di drop karena tidak sesuai dengan ketentuan dan akan mempengaruhi nilai compsite reliability. 4.89 9.5. Berikut ini tampilan hasil PLS Alogarithm setelah di drop.117 4.29 8-40 24 14-32 22. Variabel ESQ Locus of control Penerimaan Perilaku Disfungsional Kinerja Pegawai Kisaran Median Kisaran Mean 34-170 102 78-162 128.IV.349 4.

Tabel 4.5 sehingga indikator tersebut harus di drop. seperti pada EQ 11. EQ 15 dan lain-lain.5 terlihat result for outer loading yang nilai loading faktor dibawah 0. 18 .5 sudah di drop.Gambar 1 Tampilan Hasil PLS Algorithm Indikator yang memiliki loading faktor kurang dari 0. EQ 13.

385 0.70. Berikut ini adalah hasil Smart PLS: Konstruk dinyatakan reliabel jika memiliki nilai composite reliability di atas 0.369) dan signifikan antara ESQ dengan penerimaan perilaku disfungsional karena memiliki nilai t statistik diatas 1.1 Pengujian Hipotesis Dasar yang digunakan dalam menguji hipotesis adalah nilai yang terdapat pada output result for inner weight berikut ini: 4. Jadi dapat disimpulkan bahwa konstruk memiliki reliabilitas yang baik.2.672 ESQ -> PDA Sumber: Pengolahan data dengan PLS. dengan demikian hipotesis 1 diterima.1.2. artinya semakin tinggi ESQ. yakni sebesar 4. Dari hasil output SmartPLS di atas semua konstruk memiliki nilai composite reliability di atas 0.079 4.70. 4. Hasil ini mendukung penelitian Armansyah (2002).1 Pengujian Hipotesis H1 (ESQ terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional) Tabel 2 Result for inner weight (ESQ terhadap Penerimaan Perilaku Disungsional ) Original Sample Standard Deviation T Statistics Sample Mean (M) (STDEV) (|O/STERR|) (O) -0. ESQ berdampak pada perilaku disfungsional apabila diantara ketiga kecerdasan tersebut berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkesinambungan. dilakukan juga uji reliabilitas konstruk yang diukur dengan composite reliability dari blok indikator yang mengukur konstruk. yang menyatakan ESQ berpengaruh negatif terhadap penerimaan perilaku disfungsional 19 .369 -0.96. maka semakin rendah penerimaan perilaku disfungsional audit. ESQ berpengaruh negatif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit.2011 Dari tabel tersebut dapat dilihat terdapat hubungan yang negatif (koefisien parameter -0.672.Disamping uji validitas konstruk.

Hasil ini berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu yang menunjukkan suatu hubungan yang kuat dan positif diantara eksternal locus of control individual dengan suatu keinginan keinginan atau maksud-maksud untuk menggunakan penipuan atau manipulasi untuk memperoleh tujuan-tujuan personil Dalam konsteks auditing pemerintah tindakan manipulasi atau penipuan dalam bentuk perilaku disfungsioanal sulit untuk terwujud. sebab adanya bidang independen yang masih mengaudit kinerja dari Inspektorat. sehingga locus of control eksternal kurang berpengaruh terhadap perilaku disfungsional. Locus of control tidak berpengaruh positif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit.2011 Dari tabel tersebut dapat dilihat tidak terdapat hubungan yang positif (koefisien parameter 0. artinya semakin tinggi locus of control. maka semakin rendah penerimaan perilaku disfungsional audit 4. 20 .1.405. artinya semakin tinggi ESQ.087 0.2. maka belum tentu mempengaruhi penerimaan perilaku disfungsional audit.96.095 0. yakni sebesar 2.095) dan signifikan antara locus of control (LOC) dengan penerimaan perilaku disfungsional karena memiliki nilai t statistik diatas 1.540 Sumber: Pengolahan data dengan PLS.2 Pengujian Hipotesis H2 (Locus of control terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional) Tabel 3 Result for inner weight (Locus of control terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional) Original Standard Sample T Statistics Sample Deviation Mean (M) (|O/STERR|) (O) (STDEV) LOC -> PDA 0. dengan demikian hipotesis 2 ditolak.audit.175 0.

fleksibel dan adaptif masih terbatas kepada kemampuan diri sendiri yang suatu saat dapat hilang tanpa kepercayaan dan keyakinan kekuatan transedental yang memberikan energi bagi manusia. maka semakin tinggi kinerja auditor. yakni berperan hanya kepada hubungan manusia dan manusia.4 Pengujian Hipotesis H4 (Locus of control terhadap Kinerja Pegawai) Tabel 4. 4. Penggabungan ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.689 Dari tabel tersebut dapat dilihat terdapat hubungan yang positif (koefisien parameter 0. Kondisi ini terjadi karena kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna.2.12 Result for inner weight (LOC Terhadap Kinerja Pegawai) Original Standard Sample Sample Deviation Mean (M) (O) (STDEV) -0.236 0. memiliki kesadaran diri. ESQ berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Agustian (2001) menggambarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan berfungsi secara horizontal.2.086 T Statistics (|O/STERR|) 2. artinya semakin tinggi ESQ. sedangkan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan vertikal berupa hubungan kepada Maha Pencipta.206 -0.96. yakni sebesar 3.3 Pengujian Hipotesis H3 (ESQ terhadap Kinerja Pegawai) Tabel 4 Result for inner weight (ESQ terhadap Kinerja Pegawai) Original Standard Sample Sample Deviation Mean (M) (O) (STDEV) ESQ -> KIN 0.2011 T Statistics (|O/STERR|) 3.521) dan signifikan antara ESQ dengan kinerja pegawai (KIN) karena memiliki nilai t statistik diatas 1.388 LOC -> KIN Sumber: Pengolahan data dengan 21 .4.1. termasuk di dalamnya menghasilkan kinerja yang baik.1.386 0.394 0.105 Sumber: Pengolahan data dengan PLS.689. dengan demikian hipotesis 3 diterima.

2001. yakni sebesar 2. 2003. Phares. Seharusnya memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding locus of control eksternal. Hyatt dan Prawitt (2001) telah memberikan beberapa bukti bahwa internal locus of control berhubungan dengan peningkatan kinerja dan locus of control internal. 1990 dalam Hyatt & Prawitt. 2001.Dari tabel tersebut dapat dilihat terdapat hubungan yang negatif (koefisien parameter -0.1. (2003) menyatakan bahwa locus of control internal adalah cocok untuk tugastugas dan pekerjaan yang bersifat keahlian.386 0. Hasil ini mendukung locus of control internal cenderung menggunakan tekanan atau mendesak usaha yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang memiliki locus of control eksternal ketika diyakini bahwa usaha nampak atau mengarah kepada reward (Spector. maka kinerja auditor rendah. pekerjaan-pekerjaan dengan tenaga kerja yang tidak bersifat keahlian.202 0.000 2.000 KIN 0. Spector (1982) dalam Donelly et al. Variabel KIN Pengaruh Langsung Tidak langsung Langsung Tidak langsung ESQ 0.000 LOC -0. Dengan demikian hipotesis 4 diterima.5 Pengujian Hipotesis H5 (ESQ Sebagai Variabel Anteseden Dalam Hubungan Antara Kinerja Pegawai dengan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit) Tabel 5 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung No. Rotter. 4.369 -0. artinya semakin tinggi locus of control.206 0. Locus of control berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor.078* 0. 1968 dalam Donelly et al.095 0. Locus of control eksternal lebih cocok atau lebih tepat pekerjaan-pekerjaan pada lini industri. 1.000 0.0416* -0.000 22 .388. 1982 dalam Hyatt & Prawitt. karena memiliki nilai t statistik diatas 1.206) dan signifikan antara locus of control dengan kinerja pegawai (KA). administrasi dan pekerjaan–pekerjaan yang bersifat rutin.96. PDA -0. profesi dan yang bersifat manajerial dan bersifat pengendalian.2.

Dengan demikian hipotesis yang menyatakan locus of control sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit di terima.ESQ berpengaruh langsung terhadap perilaku disfungsional. maka akan mempengaruhi kinerja auditor yang buruk. hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien parameter pengaruh locus of control terhadap kinerja pegawai sebesar -0. 4.1.202 = 0.2.386 lebih besar dari koefisien parameter pengaruh ESQ terhadap perilaku disfungsional melalui penerimaan kinerja pegawai sebesar (0. seperti yang diungkapkan Armansyah (2002).0416*). ESQ berdampak pada perilaku disfungsional apabila diantara ketiga kecerdasan tersebut berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkesinambungan.202 = -0. sehingga auditor akan berpikiran pada disfungsional yang meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa individu yang memiliki locus of control eksternal adalah individu yang percaya bahwa mereka tidak dapat mengontrol kejadian-kejadian dan maksud-maksud untuk menggunakan penipuan atau manipulasi untuk memperoleh tujuan-tujuan personil.206 x -0. hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien parameter pengaruh ESQ terhadap perilaku disfungsional sebesar 0. sehingga walaupun kinerja auditor tersebut baik atau buruk tetap saja bisa melakukan disfungsional auditor. Locus of control bukan sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit.386 x 0.078*). Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ESQ sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit di tolak.206 lebih kecil dari koefisien parameter pengaruh locus of control terhadap penerimaan perilaku disfungsional melalui kinerja sebesar (-0. Hasil ini bertentang dengan penelitian Solar & Bruehl (1971) dalam Donelly et al (2003) menyatakan bahwa individu yang melakukan sebuah kinerja dibawah ekspektasi atasannya akan cenderung terlibat untuk melakukan perilaku disfungsional 23 .6 Pengujian Hipotesis H6 (Locus of control Sebagai Variabel Anteseden Dalam Hubungan Antara Kinerja Pegawai dengan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit) Locus of control berpengaruh langsung terhadap perilaku disfungsional.

yang menyatakan Locus of control sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit. 24 .karena mereka tidak melihat dirinya sendiri dapat mencapai tujuan yang diperlukan untuk bertahan dalam sebuah perusahaan melalui usahanya sendiri. sehingga perilaku disfungsional dianggap perlu dalam situasi ini. Hasil penelitian ini juga menolak hasil penelitian Kartika dan Provita (2007).

078*). artinya Locus of control berpengaruh langsung terhadap perilaku disfungsional. artinya semakin tinggi ESQ. maka semakin rendah penerimaan perilaku disfungsional audit.0416*). 5. maka belum tentu mempengaruhi penerimaan perilaku disfungsional audit. ESQ sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit. maka semakin tinggi kinerja auditor.095 lebih besar dari koefisien parameter pengaruh locus of control terhadap penerimaan perilaku disfungsional melalui kinerja sebesar (-0.386 lebih besar dari koefisien parameter pengaruh ESQ terhadap perilaku disfungsional melalui penerimaan kinerja pegawai sebesar 0. ESQ berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.1 Simpulan Berdasarkan pada hasil pembahasan maka dapat diketahui : 1. 6. hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien parameter pengaruh ESQ terhadap perilaku disfungsional melalui kinerja sebesar -0.202 = - 25 . 4. artinya semakin tinggi ESQ. (0. maka semakin rendah kinerja auditor. hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien parameter pengaruh locus of control terhadap kinerja pegawai sebesar 0.206 x 0. Locus of control berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor. Locus of control tidak berpengaruh positif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit. 2.386 x 0. ESQ berpengaruh tidak langsung terhadap perilaku disfungsional. 3. artinya semakin tinggi locus of control. artinya semakin tinggi ESQ. ESQ berpengaruh negatif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit.V PENUTUP 5.202 = 0. Locus of control bukan sebagai variabel anteseden dalam hubungan antara kinerja pegawai dengan penerimaan perilaku disfungsional audit.

Penggunaan selain metode survey seperti metode interview dapat digunakan untuk mendapatkan komunikasi dua arah dengan subyek kejujuran jawaban subyek.2 Keterbatasan Keterbatasan dalam penelitian ini adalah : 1. Tidak mudahnya mendapatkan kembali kuesioner yang telah disebar sesuai dengan yang diharapkan. Dari hasil analisis terdapat kuesioner yang pengisiannya tidak lengkap. 5.5.3 Saran Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada Inspektorat dan masyarakat. Karena dalam penelitian ini terdapat kuesioner yang tidak lengkap pengisiannya. sehingga memungkinkan terjadinya ketidakjujuran dalam menjawab pertanyaan. untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat memeriksa terlebih dahulu kelengkapan jawaban pada kuesioner. 2. sebagai berikut : 1. dan mendapatkan 26 . 2. sehingga data tidak dapat diolah karena tidak sesuai dengan kriteria. Penggunakan metode ini hanya dengan menggunakan metode survey dengan kuesioner. 3.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Inc.paramartha. Cooper.D & Eaton. Yogyakarta. 27 . 2003.1995 Auditing An Integrated Approach. Jurnal Ilmiah “Manajemen Bisnis” Program studi Manajemen. 35 No. Intelegency Quentient.A and James. Akers. Indonesia. 2001. Vol LVI (4).DAFTAR PUSTAKA Adhipurna. Ari Ginanjar 2001. Brownel.” Journal of Managerial Issues 1. 2002. Surabaya. Auditing. BPFE. Al Haryono Yusuf. 2001. Arif. Emotional Quention.L. EQ.cgi. A. Agus. Jurnal akuntansi dan Auditing Indonesia. K. “ Hubungan Tekanan Anggaran Waktu dengan Perilaku Disfungsional serta Pengaruhnya terhadap kualitas Audit. Jakarta: Fakultas Ekonomi Model-model dan SQ”. Vol. Bina Aksara. dan Spiritual. Robert K dan Ayman Sawaf. Locus of Control and Organizational Effektiviness. Lucky G.C. Edisi Kedua.V. 4th ed. Christina Sososutikno. (1982). 1982. Vol. Simposium Nasional Akuntansi VI. 1999. Jakarta. ESQ: Kecerdasan Emosi Jakarta:Penerbit Arga. Human Relations. Arikunto Suharsimi. P. Soekrisno. Armansyah. Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Alvin. 2003. Auditing Forensik dan Kontribusi Akuntansi dalam Pemberantasan Korupsi. 3. Executive EQ: Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. 1996. Prosedur Penelitian. 1999. Participation and Budgeting. Auditing. “Ulasan Kritis terhadap KecerdasanBerbasis Neuroscience : IQ. dan Spiritual Quentien dalam Membentuk Perilaku Kerja.Salemba Empat. NewJersey : Prentice Hall. “Underreporting of Chargable Time : The Impact of Gender and Characteristics OF underreporters. T. Rahman.org/cgi-bin/ksearch/ksearch. http://www. Universitas Agustian. 2003. Bluedorn. The Accounting Review. M. 2. “A unified model of turnover from organizations”. Arens.

dan Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Auditor. Hasibuan Malayu. Kartika Indri dan Wijayanti Provita. 2007. Iyer. and David O.M. Metode Penelitian. 1998.. Ghozali. M. Skripsi Unika Soegijapranata yang tidak dipublikasikan. “Characteristic of ccounting firm alumni who benefit their former firm”. Sucahyo.IV. “Structural equation Modeling PLS”.” The Accounting Review 76. A Daromount Communication Company.. 20/ th. 2006. Bambang. Manajemen Sumber Daya Manusia. and Managerial Job Performance. Proses. Yogyakarta. Akuntansi Keperilakuan : Konsep dan Kajian Empiris Perilaku Akuntan. 2000.. 2001. Binarupa Aksara. “Does Congruence Between Audit Structure and Auditors Locus of Control Affect Job Performance?. 2003. Gable. Jeffrey J. Kecerdasan Intelegency. Hyatt.Hall.Dessler Gary. Human Resource Mamanjement. Semarang. Dangello. BPFE. Pretice. Struktur. T.. Jakarta. V.” Journal of Behavioral Research In Accounting : vol 15. Ivancevic and Donnelly. 2002. Edisi kedelapan. Media Akuntansi No. I (2006). 1996. Locus of Control Sebagai Anteseden Hubungan Kinerja Pegawai dan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit 28 . Nur Dan Supomo./ 1997 Indriantoro. Penghentian Prematur atas Prosedur Audit : Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik. 2001. “Locus of Control. alih bahasa Nunuk Adiarni. 2011. Inc. London. Machiavellianism. 2005. Organisasi:Perilaku. BPFE. Prawitt. and F. David P. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.” Journal of Psychology 128. Gibson. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ivan Aris Setiawan dan Imam Ghozali. and D. Tesis. IAI. BPFE UNDIP . Isabela. Jilid II. Yogyakarta. Donnely. Herningsih. Pengaruh Kecerdasan Emosional. Accounting Horizons (March). 2003 ”Auditor Acceptance of Dysfunctional Audit Behavior : An Explanatory Model Using Auditors’PersonalCharacteristics. Q.

(judul asli: Organizational Behavior Concept. 10th edition. 2000. Premature Sign Offs and Under-reporting of Chargeable Time : Evidence from a Developing Country [On-line] http : //www. Perilaku Organisasi. SQ: Antara Neurosains dan AlQur’an. Bandung. Bandung. Rush R. 2004. Jakarta: PT. Manajemen. and Marry Coulter. Auditing: A Journal of Practice and Theory 9 (2). 2003. Yogyakarta. Robbins. Mulyadi. 2006. Penerjemah Tim Indeks. (judul asli:Organizational Behavior 9th edition) jilid 1 dan 2. (2005). Jakarta: PT. Penerjemah Hadyana Pujaatmaka. GramediaGrup 2003.(Studi Pada Auditor Pemerintah Yang Bekerja pada BPKP Di Jawa Tengah dan DIY). Penerjemah T. Stephen P. Perilaku Organisasi. Prenhallindo. “The Impact of Personality Characteristic on The Turrnover Behavior of Accounting Proffessional”. ” Sifat Mechavelian dan pertimbangan etis : Anteseden Independensi dan Perilaku Etis Auditor. Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Indeks. BPFE. Robbins. (judul asli: Management 6th edition). Stephen P. Bandung. Padang.ac. Jilid 1. Bandung. Inc. Auditing I. Simposium Nasional Akuntansi IX. New Jersey :PrenticeHall. Controversies.aber. Stein. Vena P. Mardiasmo. 2006. Jakarta: PT. 2002. EQ. Sugiyono. 2004. Howard E.uk. Teeroven dan Chelven Chengabroyan. Penerbit Andi. 1996. 17 Maret 2007. Seputar Indonesia. Mangkunegara Anwar Prabu. 2002. Soobaroyen. 2005. Revolusi IQ. Penerbit Kaifa. Metodelogi Penelitian Bisnis. Penerjemah: Trinanda Rainy dan Yudhi Murtanto.Penerbit Mizan. Hermaya. SNA X Unhas Makasar. and Harrel A. Akuntansi Sektor Publik.H. 1990. Auditors’ Perception of Time Budget Pressure. Organizational Behavior. Prenhallindo. Alfabeta. Yogyakarta Pasiak. St. Sumber Daya Manusia. Alfa Beta. Applications 8th edition) Jilid 1. 29 . Taufik. Steven J dan Book.

no. Personnel Psychology. 2007. R.doc Widiastuti Kiki. Isyarat-isyarat EQ dalam Al-Qur’an. London. 2011.P. turnover intention. http://www. Tett. Zohar. Pengaruh Karakteristik Personal Auditor Terhadap Penerimaan Perilaku disfunsional Audit (Studi empiris Pada Auditor PemerintahYang Bekerja di BPKP Perwakilan Jawa Tengah dan DIY). Edy. and Meyer. Padang.htm. Nasruddin.Suryanita W. the Ultimate Intelligence” Bloomsbury. SQ. 30 . Pengaruh Teknologi Informasi dan Saling Ketergantungan Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen (SAM) Sebagai Variabel Intervening” Skripsi Universitas Diponegoro Semarang. “Job satisfaction.%20&%20SQ. Suwardjono. Wijayanti Provita dan Supriyono. and turnover: path analyses based on meta-analytic findings”. 2002.Vol2. 2. “Spiritual Intelligence. Danah dan Marshal. 2006. Vol. 2000. Simposium Nasional Akuntansi 9 . Universitas Indonesia.http://www.2. Suwandi dan Nur Indriantoro. Dalam Armahedi Mahzar. (1993). Jakarta.harrysufehmi.org/references/psyche/psyche002/ sqdanah.” Penghentian Prematur atas Prosedur Audit”. Dodi S dan Hanung T.paramartha. Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik. Ian. organizational commitment.%20EQ.com/sg2002/Materi/ProfDr_Nasaruddin_Umar_MA/I Q.Journal riset akuntansi Indonesia.P. Umar.” Pengaruh Model Turnover Pasewark & Strawser: Studi Empiris pada Lingkungan Akuntan Publik”. J. Lembaga Penerbit Fakutltas Ekonomi. 46 No.1994. 2001.