Pemilu: Apa Agama Anda?

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Harian Waspada, 7 April 2014

Mengapa di negara yang dianggap raja demokrasi (Amerika) isu agama tetap penting dalam politik dan di negara mayoritas Islam seperti Indonesia selalu dianggap harus ditabukan? Saya pernah mencatat kalimat "My vote is my faith atau My faith is my vote". Itu kejadian di Amerika, justru pada Pilpres mereka kemaren yang mengantarkan Obama menjadi Presiden untuk kedua kalinya. Di bawah ini akan saya salin pokok pikiran dari dua orang dengan agama berbeda terhadap Pemilu 2014. Saya dapatkan keduanya dari darim media sosial. Pendapat pertama ditayangkan sebagai status di dinding facebook, sedangkan pendapat kedua dikirim secara tertutup kepada saya (dan mungkin juga kepada banyak orang) melalui inbox. Agamaku Pilihanku, pendapat pertama mengurai tentang Kasus Serdangbedagai (Sergai). Ia katakan demikian “Pengalaman 2009 dari 11 kursi yang diperebutkan di daera pemilihan (Dapil) 3 Sergai ini, diisi 6 orang anggota DPRD beragama Islam dan 5 orang aggota DPRD dari non-muslim. Mayoritas (83 persen) penduduk di sini Muslim. Di semua daerah terjadi hal seperti ini. Kenapa bisa seperti ini? Ini iktibar, janganlah terulang lagi untuk tanggal 9 April nanti. Bantulah kami, kawan”. Penulis status ini menyebut dirinya dengan nama Iman Abi Mahid. Saya kenal orangnya. Ia sebetulnya terlihat berpikir agak lokalistik saja (Sergai, daerah yang ditinggalkan oleh HT.Erry Nuradi dan kini dipimpin oleh Soekirman) sehingga lupa bahwa fakta serupa terdapat di Medan dan daerah-daerah lain. Bahkan ia melupakan bahwa untuk Sumut dengan perolehan dua kursi untuk anggota DPD bagi kalangan non-muslim. Itu sangatlah besar di luar proporsi perimbangan jumlah agama berpenduduk non muslim di daerah ini. Pendapat kedua tentang agenda Kristen dalam PDI-P. Ia nyatakan dengan struktur berpikir yang runtut, demikian: “Sudah lama orang Kristen diperlakukan sebagai waga negara kelas dua di negeri ini. Karena itu saudaraku, marilah kita bersatu menjadikan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 sebagai momentum untuk jadi warga negara kelas satu. Tidak ada cara lain selain memenangkan PDI-P agar pak Jokowi dapat dijadikan Capres berpasangan dengan salah satu kader terbaik HKBP, yakni Jenderal (purn) Luhut Panjaitan. Percayalah, kalau kita bersatu kita akan menang, apalagi kelompok-kelompok minoritas agama lain mendukung perjuangan kita. Kalau umat Kristen gagal memenangkan Pileg dan Pilpres 2014 ini, maka kesempatan kita untuk memimpin negeri ini jangan harap akan pernah

ada. Jadi hanya ada satu kata, kepalkan tangan, mari kita bersatu memenangkan PDIP. Haleluya puji Tuhan. Hidup PDI P. Hidup Jokowi. Hidup Megawati. Mulialah Gereja. Pendapat ini dikirim oleh Pardomuan Sipahutar, malam minggu. Pada dinding facebook Sipahutar ini masih dapat ditemukan banyak status bernada sama, yakni seruan konsolidasi Kristen untuk agenda tunggal: menangkan PDI-P sebagai prasyarat untuk rencana menggolkan Jokowi menjadi Presiden RI 2014-2019. Pertanyaannya, mengapa ia mengirimkan secara tertutup pesan rahasia (via inbox) pesan ini kepada saya yang beragama Islam? Tentulah karena ia semberono, hanya dengan melihat marga saya lantas menyimpulkan saya bukan Muslim. Memang kini banyak juga orang Batak dengan nama yang lazimnya untuk orang Muslim namun sesungguhnya beragama non-muslim. Tersamar Dan Transparan Kita tahu di Indonesia stigma Islam sebagai anti nasionalisme kerap disuarakan. Hanya karena ia memang berlabel Islam dan terang-terangan memperjuangkan Islam. Sebaliknya polesan nasionalis dari luara (kulit dan permukaan) kerap dimanfaatkan untuk menyembunyikan agenda anti Islam dalam kelompok-kelompok yang secara formalistik bertekad mengkampanyekan dirinya sebagai nasionalis namun dengan agenda yang sangat berbeda. Kedua status sama-sama memperjuangkan kemenangan agama dalam rivalitas politik. Agama adalah inspirasi penting untuk apa saja dan sangat mewarnai jalannya kehidupan individual maupun kolektif. Sebuah negara begitu kentara mengadopsi ajaran agama tertentu, katakanlah Indonesia, pada umumnya, mengindikasikan catatan-catatan penting perjuangan yang tak dapat diabaikan dalam sejarah negara itu. Pancasila dan UUD 1945 dan terminologi-terminologi kenegaraan lainnya seperti dewan, musyawarah, mufakat dan lain-lain adalah aromatic Islam yang kental tak sekadar pupur luar. Jika disadari, hal itu memberikan data yang sarat kaitan dengan keislaman. Lantas dengan itulah terkadang umat Islam di Indonesia merasa dirinya harus berhenti menjadi Islam dalam ranah politik, dan memilih Islam dalam ranah terbatas (ibadah). Snouck Hurgronje memang mengagendakan polarisasi itu sejak lama. Jauh lebih berbahaya (bagi kolonial) Islam dengan muatan ideologis (Islam politik) ketimbang Islam kultural yang secara sekularistik menerapkan agamanya sesuai perkembangan dalam dunia Kristen, yakni sekular. Di Indonesia, pasca kejatuhan Soeharto, bukan saja umat Islam yang giat mendirikan partai agama. Kristen juga membangun kekuatan dalam PDS (Partai Damai Sejahtera). Jika kini partai itu sudah tereliminasi oleh ketentuan yang ada, maka cerita tentang perjuangan umat Kristen untuk mempengaruhi jalannya pemerintahan Indonesia tidak lantas disimpulkan usai dan berhenti. Tereliminasinya PDS bukan hanya cerita tentang bagaimana agama tak dapat difahami secara baik atau bahkan diselewengkan untuk tujuan-tujuan di luar kehendak agama. Tetapi juga harus dilihat diaspora para pentolannya mengisi ruang-ruang partisipasi politik yang terbuka, apalagi dengan munculnya partai baru.

Penutup Mengapa di negara yang dianggap sebagai raja demokrasi (Amerika) isu agama tetap penting dalam politik dan ketika di negara mayoritas Islam seperti Indonesia selalu dianggap harus ditabukan? Ini kekalahan besar. Ketika nanti Jokowi berhasil dengan dukungan kekuatan anti Islam menjadi Presiden dan Ahok akan menggantikannya kelak di Jakarta--maka sesungguhnya apa yang dilakukan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang kini juga merangkap Ketua MUI Dien Syamsuddin--menjadi kerisauan besar ketika ia mencuci image Jokowi sebersih yang ia kehendaki dengan memberi mihrab kepada Capres PDIP versi Megawati ini untuk memimpin shalat berjamaah (imam) meskipun itu untuk waktu Ashar yang tak akan menerangkan apa-apa kecuali satu hal: jumlah rakaat. Sejumlah orang yang selalu didukung media untuk bicara negatif tentang Islam kerap hanya berselera mengupas Islam sebagai masalah terutama dalam arena politik. Disudutkan bahwa Islam adalah sebuah kecenderungan kuno jika akan hadir dalam urusan modern seperti politik. Mereka seakan yakin dalam kebenaran mengajarkan faham bahwa konsepsi negara tak ada dalam Islam dan jika akan berpolitik, tinggalkanlah agama di masjid. Walaupun demikian, partai Islam tidak etis dan tidak berhak memanfaatkan isu ini untuk keuntungan dirinya kecuali ia terlebih dahulu bertobat nasuha jauh-jauh hari sebelum ini dan berusaha sekuat tenaga tampil menjadi tauladan dalam gagasan, perjuangan dan perilaku yang rahmatan lil alamin.

Penulis adalah Dosen FISIP UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS)