I.

KANKER NASOFARING 1. Definisi Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146) 2. Epidemiologi Kanker ini merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak di temukan di Indonesia. Pada banyak kasus, kanker nasofaring banyak terdapat pada ras mongoloid yaitu penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan Indonesia juga di daerah India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker jenis ini. Selain itu kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang diturunkan secara genetik. 3. Etiologi dan Faktor Risiko a. Faktor virus (EBV) b. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine c. Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar, atau bahan karsinogenik misalnya asap rokok dll) d. Sering kontak dengan Zat karsinogen (benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia, asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan). e. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia) f. Radang kronis nasofaring g. Iritasi menahun : nasofaringitis kronis disertai rangsangan oleh asap, alkohol dll. h. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. 4. Patofisiologi Infeksi virus Epstein Barr dapat menginfeksi sel epitel dan berhubungan dengan transformasi ganas yang dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein laten pada penderita karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang teerinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses poliferasi dan

Ini disebabkan tumor menyumbat lubang hidung posterior.I-N. Sefalgia : kekhasannya adalah nyeri yang kontinyu di regio temporo parietal atau oksipital satu sisi. hingga terjadi otitis media transudatif. Epiktasis : sekitar 70% pasien mengalami gejala ini. menekan tuba eustaki. Ini sering disebabkan desakan tumor.XII 5. sehingga pembuluh darah di permukaan tumor robek dan menimbulkan epiktasis. biasanya melalui foramen laserum. diantaranya 23. Yang terkena adalah grup posterior dari saraf otak yaitu N. c. Tinitus dan pendengaran menurun : penyebabnya adalah tumor di resesus faringeus dan di dinding lateral nasofaring menginfiltrasi.VI) kumpulan gejala yang terjadi akibat rusaknya saraf kranialis anterior akibat metastasis tumor ini disebut sindrom petrosfenoid.mempertahankan kelangsungan virus didalam sel host. infiltrasi saraf cranial atau os . Penyebaran ke jaringan dan kelenjar limfa sekitarnya kemudian terjadi perlahan. Sewaktu menghisap dengan kuat sekret dari rongga hidung atau nasofaring. bagian dorsal palatum mole bergesekan dengan permukaan tumor. yang berat dapat timbul hemoragi nasal masif. Jika terjadi Penyebarannya keatas tumor meluas ke intracranial menjalar sepanjang fossa medialis disebut penjalaran petrosfenoid.2 % pasien datang berobat dengan gejala awal ini. menyebabkan tekanan negatif di dalam kavum timpani. kemudian ke sinus kavernosus dan fossa kraniimedia dan fossa kranii anterior mengenai saraf-saraf kranialis anterior (N. Yang paling sering terjadi adalah diplopia dan neuralgia trigeminal. d. Protein laten ini dapat dipakai sebagai pertanda dalam mendiagnosa karsinoma nasofaring.VII-N. Manifestasi Klinis Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring adalah : a. b. Jika penyebaran ke belakang tumor meluas ke belakang secara ekstrakranial menembus fascia pharyngobasilaris yaitu sepanjang fossa posterior dimana di dalamnya terdapat nervus cranial IX-XII disebut penjalaran retroparotidian. Yang ringan timbul epiktasis. Tumbuhnya tumor akan dimulai pada salah satu dinding nasofaring yang kemudian akan menginfiltrasi kelenjar dan jaringan sekitarnya. Karsinoma nasofaring merupakan munculnya keganasan berupa tumor yang berasal dari sel-sel epitel yang menutupi permukaan nasofaring. Hidung tersumbat : sering hanya sebelah dan secara progesif bertambah hebat.

Bagi yang termasuk salah satu kondisi berikut ini dapat dianggap memilki resiko tinggi kanker nasofaring : Diagnosis pencitraan: a. kelompok otot kunyah dan lidah kadang perlu diperiksa berulang kali. limfadenopati leher tak nyeri. memonitor kondisi remisi tumor pasca terapi dan pemeriksaa tingkat lanjut. dan benjolan tidak nyeri. barulah ditemukan hasil yang positif d. rantai nervus aksesorius dan arteri vena transvesalis koli apakah terdapat pembesaran. . Pemeriksaan saraf kranial Terhadap saraf kranial tidak hanya memerlukan pemeriksaan cermat sesuai prosedur rutin satu persatu . c. tapi karena kelompok kelenjar limfe tersebut permukaannya tertutup otot sternokleidomastoid. perhatikan keluhan utama pasien. Hasil positif pada kanker nasofaring berkaitan dengan kadar dan perubahan antibodi tersebut. EBV-DNAseAb. sefalgia. Diagnosis Untuk mencapai diagnosis dini harus melaksanakan hal berikut: a. 6. Pembesaran kelenjar limfe leher : lokasi tipikal metastasisnya adalah kelenjar limfe kelompok profunda superior koli. Pemeriksaan CT : makna klinis aplikasinya adalah membantu diagnosis. tuli unilateral. maka pada mulanya sulit diketahui. Perhatikan pemeriksaan kelenjar limfe rantai vena jugularis interna. Pasien dengan epiktasis aspirasi balik. Pemeriksaan serologi virus EB Dewasa ini. tapi pada kecurigaan paralisis otot mata. rudapaksa saraf kranial dengan kausa yang tak jelas. Tindakan kewaspadaan. merancang medan radiasi.basis kranial. EA-IgA. penetapan stadium secara adekuat. hidung tersumbat menetap. b. memastikan luas lesi. Pemeriksaan kelenjar limfe leher. juga mungkin karena infeksi lokal atau iriasi pembuluh darah yangmenyebabkan sefalgia reflektif. secara tepat menetapkan zona target terapi. e. dan keluhan lain harus diperiksa teliti rongga nasofaringya dengan nasofaringoskop indirek atau elektrik. parameter rutin yang diperiksa untuk penapisan kanker nasofaring adalah VCA-IgA.

MRI selai dengan jelas memperlihatkan lapisan struktur nasofaring dan luas lesi. harus memperhatikan riwayat penyakit. fruktur. d. juga dapat secara lebih dini menunjukkan infiltrasi ke tulang. sebagian kecil tampak sebagai area defek radioaktivitas. Dalam membedakan antara fibrosis pasca radioterapi dan rekurensi tumor . maka dalam menilai lesi tunggal akumulasi radioaktivitas . Bone-scan sangat sensitif untuk metastasis tulang.b. pengaruh radio terapi. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher (benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu . lesi umumnya tampak sebagai akumulasi radioaktivitas. Pencitraan tulang seluruh tubuh : berguna untuk diagnosis kanker nasofaring dengan metastasis ke tulang. Diagnosis histologi: Pada pasien kanker nasofaring sedapat mungkin diperoleh jaringan dari lesi primer nasofaring untuk pemeriksaan patologik. Pemeriksaan MRI : MRI memiliki resolusi yang baik terhadap jaringan lunak. Tatalaksana a. Menggunakan pencitraan biologismetabolisme glukosa dari zat kontras 18-FDG dan pencitraan anatomis dari CT yang dipadukan hingga mendapat gambar PET-CT . hygiene mulut. bila ada infeksi mulut diperbaiki dulu. Radioterapi Hal yang perlu dipersiapkan adalah keadaan umum pasien baik. PET ( Positron Emission Tomography ) : disebut juga pencitraan biokimia molukelar metabolik in vivo. menyingkirkan rudapaksa operasi. dll. dapat serentak membuat potongan melintang. koronal. sehingga efektifitas meningkat dan rudapaksa radiasi terhadap jaringan normal berkurang. kemoterapi. Hanya jika lesi primer tidak dapat memeberikan diagnosis patologik pasti barulah dipertimbangkan biopsi kelenjar limfe leher. 7. namun tidak spesifik . sagital. Sebelum terapi dimulai harus diperoleh diagnosis histologi yang jelas. deformitas degeneratif tulang. sehingga lebih baik dari pada CT. membantu penentuan area target biologis kanker nasofaring . Setelah dilakukan bone-scan. c. MRI juga lebih bermanfaat . meningkatka akurasi radioterapi. itu memberikan informasi gambaran biologis bagi dokter klinisi. lebih sensitif dibandingkan rongtsen biasa atau CT. umumnya lebih dini 4-6 bulan dibandingkan rongsen.

Etiologi dan Faktor Risiko Seperti umumnya kanker yang lain. Polusi udara d. II. selenium. seroterapi. KANKER PARU 1. penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui. Penyakit paru . Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor risiko penyebab terjadinya kanker paru : a. Perokok pasif c. Operasi pembedahan Tindakan operasi berupa diseksi leher radikal. dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin. Paparan zat karsinogen e. Kemoterapi Kemoterapi meliputi kemoterapi neodjuvan. dengan syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan bersih. dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar. 2006). 2006). faktor transfer. kemoterapi. Definisi Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel bronkus. genetik. 2. dan lain-lain (Amin. Merokok b. c. pemberiantetrasiklin. tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh. Genetik g. interferon. kemoterapi adjuvan dan kemoradioterapi konkomitan. f.diperiksa dengan radiologik dan serologik). b. vaksin dan antivirus. Diet Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene.

karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf simpatis servikalis 4. sesak nafas . karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent • Sindrom Pancoast. miosis) • Suara serak. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah.Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi risiko kanker paru. stridor) karena ada obstruksi saluran nafas • Kadang terdapat kavitas seperti abses paru • Ateletaksis Invasi lokal • Nyeri dada • Dispnea karena efusi pleura Invasi ke pericardium: • Terjadi tamponade atau aritmia • Sindrom vena cava superior • Sindrom Horner (facial anhidrosis. Gejala-gejala dapat bersifat : Lokal (tumor tumbuh setempat): • Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis • Hemoptisis • Mengi (wheezing. ptosis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Diagnosis Anamnesis Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru. Gejala Klinis Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. 3.

kelenjar getah bening. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk : a. nyeri dada. dan anoreksia merupakan keadaan yang mendukung. Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaanyang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif. dan metastasis ke organ lain. lemah. kebiasaan merokok. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan bentuk dinding toraks dan trakea. Sitologi Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ lainnya. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor. dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru. berat badan menurun. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis. infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura. Radiologi Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk mendiagnosa kanker paru. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah faktor usia. b. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Pemeriksaan ini akan memberi hasil yang baik . jenis kelamin. pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial. Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik.dengan suara pernafasan nyaring (wheezing). c.

kecuali pada kanker paru jenis SCLC. Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi. c. 5. yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor. Radioterapi Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker paru dengan tumor yang tumbuh terbatas pada paru. b. Pneumonectomy. Kadang-kadang kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan atau radioterapi. Kemoterapi dapat digunakan untuk memperkecil sel kanker. yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru. memperlambat pertumbuhan. Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan dengan cara : a. Hal ini dilakukan jika diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru.terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Tatalaksana Pembedahan Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total berikut kelenjar getah bening disekitarnya. bersamaan dengan margin jaringan normal. Wedge Resection. Radioterapi dapat dilakukan pada NCLC stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak dapat dilakukan pembedahan. misalnya tumor terletak pada bronkus utama sehingga teknik pembedahan sulit dilakukan dan keadaan umum pasien tidak mendukung untuk dilakukan pembedahan. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker paru yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0). Lobectomy. 6. Kemoterapi Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan pada SCLC atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah bermetastasis ke luar paru seperti otak. ginjal. dan hati. yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Prognosis . dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ lain.

dengan perbandingan 5 : 1. dengan derajat difrensiasi yang berbeda-beda. Adenokarsinoma. KANKER LARING 1. two years survival rate-nya sangat rendah. akan tetapi klinis ganas. 3. Hal ini tergantung pada status penderita dan luasnya tumor. kemungkinan hidup 5 tahun adalah 30%. adenokarsinoma dan sarkoma. Pada karsinoma in situ. Klasifikasi Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 – 98% dari semua tumor ganas laring. Prognosanya sangat baik. Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan kerusakan lokal yang luas. polusi udara radiasi leher dan asbestosis. alkohol. sinar radioaktif. pada stadium I. Pada kasus kanker paru jenis NSCLC yang dilakukan tindakan pembedahan. 4. Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring. Kemungkinan hidup rata-rata tumor metastasis bervariasi dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Terbanyak pada usia 56-69 tahun. 2. radioterapi tidak efektif dan merupakan kontraindikasi. kemampuan hidup setelah dilakukan pembedahan adalah 70%. Jenis lain yang jarang kita jumpai adalah karsinoma anaplastik. Karsinoma Verukosa adalah satu tumor yang secara histologis kelihatannya jinak. Terapi . Insidennya 1 – 2% dari seluruh tumor ganas laring. Definisi Kanker laring adalah tumor ganas yang mengenai laring. III. pseudosarkoma. namun didapatkan beberapa hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu : rokok. dan kurang dari 10% pada stadium IV. Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. lebih banyak mengenai pria dari wanita dengan perbandingan 3 : 1. Pengobatannya dengan operasi. sebesar 35-40% pada stadium II. Etiologi Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui. Sering dari kelenjar mukus supraglotis dan subglotis dan tidak pernah dari glottis. Tidak terjadi metastase regional atau jauh. sebesar 10-15% pada stadium III.Yang terpenting pada prognosis kanker paru adalah menentukan stadium penyakit. Epidemiologi Tumor Ganas laring lebih sering mengenai laki-laki dibanding perempuan.

tiroid 20% dan aritenoid 10%. 5.yang dianjurkan adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar limfe regional dan radiasi pasca operasi. ataupun kombinasi daripadanya. Tatalaksana Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan. MRI f. TBC laring b. Sering pada laki-laki 40 – 60 tahun. Diagnosis Banding Tumor ganas laring dapat dibanding dengan : a. Tumor jinak laring d. Manifestasi Klinis Gejala dan tanda yang sering dijumpai adalah: • Suara serak • Sesak nafas dan stridor • Rasa nyeri di tenggorok • Disfagia • Batuk dan haemoptisis • Pembengkakan pada leher 6. Radiologi foto polos leher dan dada e. Sifilis laring c. Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti 7. a. Pemeriksaan radiologi khusus : politomografi. CT-Scan. radiasi dan sitostatika. Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid 70%. Penyakit kronis laring 8. Laringoskopi direk d. Pembedahan . Pemeriksaan THT rutin c. Kondrosarkoma. Anamnese b. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan: a. Terapi yang dianjurkan adalah laringektomi total.

Laringektomi 1. pilihan pengobatan. Radioterapi Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). .Diseksi Leher Radikal Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 – T2) karena kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari: . dan tumor stadium II. Laringektomi total Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium I 90 – 98% stadium II 75 – 85%. Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. b. 9. stadium III 60 – 70% dan stadium IV 40 – 2 800- 1000 . Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80–120 mg/m dan 5 FU mg/m. 2. Laringektomi parsial Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang tidak memungkinkan dilakukan radiasi. Prognosis Tergantung dari stadium tumor. lokasi tumor dan kecakapan tenaga ahli. Sedangkan tumor supraglotis. subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. sebagai terapi adjuvant ataupun paliatif. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 – 7000 rad. c. Kemoterapi Diberikan pada tumor stadium lanjut.

Sutomo Surabaya. d. nyeri dinding dada muncul pada tumor neurogenik atau pada penekanan sistem syaraf. Anamnesis Pemeriksaan Fisik . jaringan ikat. paralisis diafragma timbul apabila penekanan nervus frenikus e. Manifestasi Klinis a. kelenjar timus. pembuluh darah arteri. Definisi Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga yang berada di antara paru kanan dan kiri. timoma dan germ cell tumor. Data RSUD Dr. 8% tumor syaraf. 4. disfagia muncul bila terjadi penekanan atau invasi ke esophagus sindrom vena kava superior (SVKS) lebih sering terjadi pada tumor mediastinum yang ganas dibandingkan dengan tumor jinak. TUMOR MEDIASTINUM 1.1990 di RS Persahabatan dilakukan operasi terhadap 137 kasus. jenis tumor yang ditemukan adalah 32. Pada tahun1970 . Epidemiologi Data frekuensi tumor mediasinum di Indonesia antara lain didapat dari SMF Nedah Toraks RS Persahabatan Jakarta dan RSUD Dr. Soetomo menjelaskan lokasi tumor pada mediastinum anterior 67% kasus. Diagnosis a. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%. 4. b. suara serak dan batuk kering muncul bila nervus laringel terlibat. IV.2% teratoma. batuk. Mediastinum berisi jantung. syaraf. Dari kepustakaan luar negeri diketahui bahwa jenis yang banyak ditemukan pada tumor mediastinum anterior adalah limfoma.5%. 2. 24% timoma. trakea. pembuluh darah vena. mediastinum medial 29% dan mediastinum posterior 25. kelenjar getah bening dan salurannya. sesak atau stridor muncul bila terjadi penekanan atau invasi pada trakea dan/atau bronkus utama b. 3.3% limfoma.50%. c.

Flouroskopi Prosedur ini dilakukan untuk melihat kemungkinan aneurisma aorta. ukuran dan keterbatasan organ lain. CT-Scan juga dapat menentukan stage pada kasus timoma dengan cara mencari apakah telah terjadi invasi atau belum. tumor tiroid dan kadang-kadang timoma.miastenia gravis mungkin menandakan timoma .Pemeriksaan fisik akan memberikan informasi sesuai dengan lokasi. Foto toraks Dari foto toraks PA/ lateral sudah dapat ditentukan lokasi tumor. . juga dapat mendeteksi klasifikasi pada lesi. 3. tetapi pada kasus dengan ukuran tumor yang besar sulit ditentukan lokasi yang pasti. 4. 6. 5. anterior. medial atau posterior. yang sering ditemukan pada kista dermoid.limfadenopati mungkin menandakan limfoma c. Pemeriksaan Penunjang 1. Angiografi Teknik ini lebih sensitif untuk mendeteksi aneurisma dibandingkan flouroskopi dan ekokardiogram. Ekokardiografi Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi pulsasi pada tumor yang diduga aneurisma. Kemungkinan tumor mediastinum dapat dipikirkan atau dikaitkan dengan beberapa keadaan klinis lain. misalnya telah terjadi penekanan ke organ sekitarnya. misalnya teratoma dan timoma. 2. Tomografi Selain dapat menentukan lokasi tumor. CT-Scan toraks dengan kontras Selain dapat mendeskripsi lokasi juga dapat mendeskripsi kelainan tumor secara lebih baik dan dengan kemungkinan untuk menentukan perkiraan jenis tumor. Tehnik ini semakin jarang digunakan. misalnya: .

sebagai terapi adjuvant atau neoadjuvan. karena resisten terhadap radiasi dan kemoterapi tetapi banyak tumor jenis lain membutuhkan tindakan bedah. Jika keadaan tidak mengizinkan. Bila nilai spirometri tidak sesuai dengan klinis maka harus dikonfirmasi dengan analis gas darah. . Selama pemberian kemoterapi atau radiasi perlu diawasi terjadinya melosupresi dan efek samping obat atau toksisiti akibat tindakan lainnya. Syarat untuk radioterapi dan kemoterapi adalah: · Hb > 10 gr% · leukosit > 4. maka kombinasi radiasi dan kemoterapi diberikan secara bergantian (alternating: radiasi diberikan di antara siklus kemoterapi) atau sekuensial (kemoterapi > 2 siklus.000/dl · tampilan (performance status) > 70 Karnofsky Jika digunakan obat antikanker yang bersifat radiosensitaizer maka radio kemoterapi dapat diberikan secara berbarengan (konkuren). yang diukur dengan spirometri dan jika mungkin dengan body box. Penatalaksanaan tumor mediastinum nonlimfoma secara umu adalah multimodality meski sebagian besar membutuhkan tindakan bedah saja. Tatalaksana Penatalaksanaan untuk tumor mediastinum yang jinak adalah pembedahan sedangkan untuk tumor ganas. yaitu pengukuran toleransi berdasarkan fungsi paru.000/dl · trombosit > 100. tindakan berdasarkan jenis sel kanker. Syarat untuk tindakan bedah elektif adalah syarat umum.5. Tekanan O2 arteri dan Saturasi O2 darah arteri harus >90%. atau radiasi lalu dilanjutkan dengan kemoterapi). lalu dilanjutkan dengan radiasi. Tumor mediastinum jenis limfoma Hodgkin's maupun non Hondgkin's diobati sesuai dengan protokol untuk limfoma dengan memperhatikan masalah respirasi selama dan setelah pengobatan. radiasi dan kemoterapi.

Ifdelia Suryadi Kelompok 28 D: Ketua Sekretaris I Sekretaris II Anggota : Deo Cerlova Milano : Dieni Rahmatika A : Yulia Eka Hastuti : Hasbi Nutari Inayah Afrilia Dani Putra Amerta Diah Permatasari Ilyan Nasti Januari Hafi zha Puti Ahdika FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS TAHUN AJARAN 2013/2014 .LAPORAN TUTORIAL BLOK 3.3 GANGGUAN RESPIRASI SKENARIO 6: APA YANG TERJADI PADA PAMAN NEO? Tutor: dr.