BAB I PENDAHULUAN

I.1. MIKOSIS Mikosis ialah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit jamur atau mikosis dapat dibagi menjadi mikosis profunda dan mikosis superfisialis. Mikosis profunda ialah penyakit jamur yang mengenai alat dalam. Penyakit ini dapat terjadi karena jamur langsung masuk ke alat dalam (misalnya paru), melalui luka, atau menyebar dari permukaan kulit atau alat dalam lain. Mikosis profunda menyerang alat di bawah kulit, misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktus urogenitalis, susunan kardiovaskular, susunan saraf central, otot, tulang, dan kadang-kadang kulit. edangkan mikosis superfisial adalah penyakit jamur yang mengenai lapisan permukaan kulit, yaitu stratum korneum, rambut dan kuku. Mikosis superfisial dibagi menjadi ! kelompok " #) yang disebabkan oleh jamur bukan golongan dermatofit, yaitu pitiriasis versikolor, otomikosis, piedra hitam, piedra putih, onikomikosis dan tinea nigra palmaris, dan !) yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita#,#!. $ermatofitosis dibagi berdasarkan lokasi, yang dikenal dengan bentuk % bentuk# " &inea kapitis &inea barbae &inea kruris &inea pedis et manus &inea korporis

I.2. TINEA KRURIS I.2.1 Definisi &inea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. 'elainan ini dapat bersifat akut dan menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. (esi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain#.

#

*.2 Sinonim Eczema marginatum.2. yaitu Microsporum./ tahun. 2amur ini mudah hidup pada medium dengan variasi p3 yang luas. . ringworm of the groin#. )olongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin.% . antigenik.3 Epidemiolo i &inea kruris lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dengan perbandingan * berbanding #. Predileksi &inea 'ruris I.+. kebutuhan 1at makanan untuk pertumbuhannya. dan kebanyakan terjadi pada golongan umur dewasa daripada golongan umur anak-anak!.)olongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis-. Penyebab &inea kruris sendiri sering kali oleh Epidermophyton floccosum.! E"iolo i &inea kruris disebabkan oleh infeksi jamur golongan dermatofita. Trichophyton. yang terbagi dalam tiga genus. I. $ermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti. $ermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis. dhobie itch. elain sifat keratofilik masih banyak sifat yang sama di antara dermatofita.2. 2amur ini dapat hidup sebagai saprofit tanpa menyebabkan suatu kelainan apapun di dalam berbagai ! .2.% !0 tahun serta antara +/ % 0/ tahun0.#. tetapi paling banyak dijumpai pada usia #. dan Epidermophyton. I. jockey itch. taksonomis. misalnya sifat faali. dan penyebab penyakit.iasanya mengenai penderita usia #. namun dapat pula oleh Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes!..)ambar #.

. 2amur golongan dermatofita ini dapat menimbulkan infeksi ringan sampai berat tergantung dari respon imun penderita. lingkungan sosial budaya dan ekonomi. melalui mekanisme hipersensitivitas tipe lambat. Penularan biasanya terjadi karena adanya kontak dengan debris keratin yang mengandung hifa jamur 5. yang disebut ringworm. oklusif. Pada keadaan tertentu sifat jamur dapat berubah menjadi patogen dan menyebabkan penyakit bahkan ada yang berakhir fatal.2. 'ekebalan terhadap infeksi ini dapat melibatkan mekanisme immunologis maupun nonimunologis.9amun demikian bergantung pada berbagai faktor.0. Pertumbuhan jamur dengan pola radial dalam stratum korneum mengakibatkan timbulnya lesi sirsinar dengan memberikan batas yang jelas dan meninggi. $erajatnya sesuai dengan sensitisasi oleh dermatofita * .# $%&"o' Resi&o 6aktor % faktor yang mempengaruhi terjadinya tinea kruris menurut kepustakaan yaitu iklim panas. bertukar pinjam pakaian dengan orang lain penderita tinea kruris. 8eaksi kulit semula berupa bercak atau papul bersisik yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan0.eberapa jamur hanya menyerang manusia (antropofilik). I.+. lembab. 8adang dermatofitosis mempunyai korelasi dengan reaktivitas kulit tipe lambat (sistim imunitas seluler). mengenakan celana ketat dalam waktu yang lama.organ manusia atau hewan. kebersihan yang kurang. trauma kulit. defisiensi imunitas. 4pabila jamur hewan menimbulkan lesi kulit pada manusia. I.2. dan yang lainnya terutama menyerang hewan (1oofilik) walau kadang-kadang bisa menyerang manusia. pemakaian bahan pakaian yang tidak menyerap keringat. 3ifa ini menghasilkan en1im keratolitik yang kemudian berdifusi ke epidermis dan akhirnya menimbulkan reaksi inflamasi akibat kerusakan keratinosit.( P%"o enesis 7nfeksi diawali dengan adanya kolonisasi hifa atau cabang-cabanganya didalam jaringan keratin yang mati. Mekanisme imunologis yang terpenting adalah adanya aktivitas imunitas seluler. keberadaan jamur tersebut sering menyebabkan terjadinya suatu reaksi inflamasi yang hebat. pengeluaran keringat yang berlebihan. dapat terjadi pula suatu resolusi spontan sehingga gejala klinis menghilang atau jamur hidup persisten selama beberapa tahun dan kambuh kembali. kortikosteroid serta obat % obat imunosupresan !. sedangkan mekanisme non imunologis anatara lain melibatkan adanya asam lemak jenuh berantai panjang di kulit dan substansi lain yang disebut sebagai serum inhibitory factor. . penggunaan antibiotika.

I. Proses autoinokulasi reservoir lain yang mungkin ada di tangan dan kaki (tinea pedis. pada infeksi oleh E. elain oleh sel (angerhans. bokong dan dapat ke genitalia. rubrum sering bersatu dan menyebar meliputi daerah yang lebih luas yaitu daerah pubis.dan sejalan pula dengan derajat hipersensitivitas tipe lambat (3&(). eritematosa dan bersisik. semakin hebat jika berkeringat. gluteus dan daerah perianal.) *%'% Pen+l%'%n :ara penularan jamur dapat secara langsung dan secara tidak langsung. fibroblast dan keratinosit. mengekspresikan antigen. barang-barang atau pakaian.2.2. lipat perineum. abdomen bagian bawah. tinea unguium dan tinea manum)5. Penularan langsung dapat secara fomitis. -e. bentuk polimorf. Penularan tak langsung dapat melalui tanaman. (imfokin inilah yang mengaktifkan makrofag sehingga mampu membunuh jamur patogen0. pustula atau vesikel. epitel. kayu yang dihinggapi jamur. $ua organisme penyebab tinea kruris bisa memberikan gambaran klinis yang berbeda. el (angerhans berkumpul dalam kulit membawa antigen ke dalam pembuluh getah bening kemudian menuju kelenjar getah bening dan mempertemukannya dengan limfosit yang spesifik. reseptor 6c dan reseptor :*. edangkan oleh T.. 2ika kronik makula menjadi hiperpigmentasi dengan + . peran serupa dilakukan pula oleh sel endotel pembuluh darah. berbatas tegas dengan tepi lesi lebih aktif terdiri dari papula. I. rambut . binatang atau dari tanah. ruam kulit berbatas tegas./ Peme'i&s%%n $isi& . memproduksi 7(-#. (imfosit & yang telah aktif ini kemudian menginfiltrasi tempat infeksi dan melepaskan limfokin.rambut yang mengandung jamur baik dari manusia. I.2. 'eluhan sering bertambah sewaktu tidur sehingga digarukgarukdantimbulerosidan infeksisekunder!.jud kelainan kulit yang timbul pada pasien tinea kruris adalah makula eritematosa numular sampai geografis. 3&( ini dimulai dengan penangkapan antigen jamur oleh sel (angerhanss yang bekerja sebagai 4P: ( Antigen resenting !ell) yang mampu melakukan fungsi fagosit.%l% Klinis )ejala klinis tinea kruris yaitu rasa gatal hebat pada daerah kruris (lipat paha).#/.#*. floccosum terdapat gambaran. lesi jarang meluas melewati region genitokrural dan paha atas bagian dalam. debu atau air #!. biasanya selain timbul rasa gatal kadang-kadang timbul rasa panas0.

$iperiksa dibawah mikroskop. .0 Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. keluarnya cairan serum maupun darah. 1. pemanasan sudah cukup. Peme'i&s%%n &+l"+'#. :ara melakukan pemeriksaan '=3. kemudian dengan pembesaran #/ @ +0. <rosi dan ekskoriasi. . terbagi oleh sekat dan bercabang.10 Di% nosis $iagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis. pemeriksaan fisik dan disertai hasil pemeriksaan mikroskopis '=3 yang positif.ntuk mempercepat proses pelarutan dapat dilakukan pemanasan sediaan diatas api kecil.0 ebelum pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan pembersihan lokasi dengan alkohol >/? untuk menghilangkan kotoran yang dapat menghalangi visualisasi jamur pada pemeriksaan mikroskopis dan untuk mencegah terjadinya kontaminasi yang akan mengganggu kultur jamur. misalnya tinta Parker suoerchroom blue black. untuk sediaan rambut #/? dan untuk kulit dan kuku !/?. (alu ditutup dengan kaca penutup dan tunggu #0-!/ menit hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. I.ntuk melihat elemen jamur yang lebih nyata dapat ditambahkan 1at warna pada sediaan '=3. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut. Bang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa 0 . yaitu adanya elemen jamur berupa hifa yang bercabang dan atau artrospora danpemeriksaan kultur jamur yang bermanfaat untuk menentukan etiologi spesies penyebabnya0. akan ditemukan elemen jamur yang jelas. Pada sediaan kulit yang terlihat adalah hifa. yaitu " pesimen diambil dari daerah pinggir lesi yang paling aktif (etakkan spesimen pada bagian tengah kaca objek pesimen ditetesi #-! tetes larutan '=3. sebagai ! garis sejajar. maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit lama danA sudah diobati. mula-mula dengan pembesaran #/ @ #/ untuk mencari bagian spesimen yang diperiksa. %.skuama diatasnya!.2. biasanya akibat garukan maupun pengobatan yang diberikan##. Peme'i&s%%n KOH#.

pigmentasi dinding sel jamur. karakteristik sporulasi (makrokonidia E mikrokonidia) Pada E.0. $isiman pada suhu kamr !0-*/ o :. mikroskopis " tampak makrokonidia berdinding sel halus berbentuk gada berkelompok. floccosum - )ambar #. etelah >-#/ hari dinilai perubahan dan pertumbuhan jamur. rubrum. 'ultur T. tidak dijumpai mikrokonidia. pigmentasinya. floccosum. . floccosum Pada T. MakrokonidiaE.ntuk menentukan spesies penyebab dilakukan identifikasi makroskopis dan mikroskopis. bentuk seperti pinsil dan mikrokonidia berbentuk teardrop.*. topografi dan penambahan lactophenol cotton blue ((P:.) dan diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif +0@. )ambaran mikroskopis yang harus diperhatikan adalah morfologi hifa.!. Mikrokonidia T. sedangkan identifikasi mikroskopis dibuat preparat ecara dengan makroskopis tampak gambaran CgrossD koloni dengan melihat tekstur. koloni seperti kapas halus dan tersebar dengan pigmentasi awal berwarna putih dan cenderung berubah menjadi ungu kemerahan atau kuning jingga. Pada agar abouraud dapat ditambahkan antibiotik (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksemid.+. )ambar #. koloni granular bulatAlonjong dengan pigmentasi kuning kecoklatan. )ambar #.abouraud. rubrum occosum . 'edua 1at tersebut diperlukan untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. mikroskopis " makrokonidia jarang ditemukan. rubrum occosum )ambar #. 'ulturE. .

<ritrasma " batas lesi lebih tegas.?. Psoriasis intertriginosa " lesi lebih merah. koloni seperti kapas halus dengan pigmentasi putih dan dapat berubah kuning. jadi konsentrasi obat harus lebih rendah dari lokasi lain. mikrokonidia. danhifa I. mentagrophytes.12 Pen%"%l%&s%n%%n &opikal " salep atau krim antimikotik. sulfur +-. asam undesilanat !-0? > . mentagrophytes occosum )ambar #. 'ultur T. 'andidiasis " lesi lebih basah. jarang disertai infeksi. )ambar #. asam ben1oat . Makrokonidia. pemeriksaan '=3 negatif tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa !. berbatas jelas disertai lesi-lesi satelit *.. fluoresensi merah bata yang khas dengan sinar Food.- Pada T.2. (okasi ini sangat peka nyeri. vioform *?.11 Di% nosis B%ndin #. misalnya obat-obat topikal konvensional " asam salisilat !-+?. pemeriksaan '=3 negatif tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa I. skuama lebih tebal dan berlapis-lapis..2.>. mikroskopis " makrokonidia berbentuk gadaAcerutu dan mikrokonidia kecil bulat seperti buah anggur dan hifa berbentuk spiral.-#!?.

mikona1ol.dan 1at warna (hijau brilian #? dalam cat :astellani). tiokona1ol. I. - . elain pengobatan kausatif tersebut. sulkona1ol.1! P'o nosis . dan golongan alilaminAben1ilamin (naftifin.2. asalkan kelembapan dan kebersihan kulit terjaga!. butenafin) danobat anti jamur topikal lainnya adalah amorolfin.#!. istemik " diberikan jika lesi meluas dan kronikG griseofulvin 0//-#/// mg selama !-* minggu atau ketokona1ol #//mgAhari selama # bulan!. oksikona1ol. ekona1ol. siklopiroks. sertakona1ol).aik. panas maupun nyeri. ketokona1ol. haloprogin!. terbinafin. penting juga diperhatikan pengobatan simtomatik untuk menanggulangi rasa gatal. elain itu terdapat obat anti jamur topikal yang sering digunakan yaitu golongan a1ole-imida1ol (klotrima1ol.

8iwayat hipertensi dan $M disangkal. emarang " 'aryawan wasta " Poliklinik 'ulit 'elamin 8 . kali keluar masuk 8 dengan keluhan di lambungnya. )atal dirasakan terus menerus. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi makanan dan obat % obatan. 'ab. )atal yang dirasakan semakin hebat kemudian di garuk sehingga timbul lecet % lecet dan terasa perih akibat garukan. 8iwayat maag (H). $irasakan semakin gatal pada saat berkeringat dan malam hari. " *+ tahun " Pria " 7slam " 'lepon !A.BAB II LAPORAN KASUS TINEA KRURIS II. awalnya pasien mengira hanya gatal biasa. P.mur 2enis 'lamin 4gama 4lamat Pekerjaan Pasien diambil tatus pasien II. " &n. Pasien merasa bercak % bercak merah yang ada di lipat pahanya semakin lama semakin gatal.2ambu.$ 4mbarawa " (ama &anggal Pemeriksaan " #/ 2uli !/#* 5 . setelah ! hari di rawat pasien merasakan gatal dengan bercak kemerahan di lipat paha sebelah kanan dan kiri. 1 Iden"i"%s P%sien 9ama . 2 An%mnes% Kel+2%n U"%m% 3 )atal Ri4%5%" Pen5%&i" Se&%'%n 3 * bulan yang lalu pasien di rawat di 8 . elama * bulan ini pasien . elain itu bercak % bercak merah tersebut semakin melebar. Ri4%5%" Pen5%&i" D%2+l+ 3 Pasien belum pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.

hepar dan lien tak teraba #/ " 'onjungtiva tidak anemis. Ri4%5%" Sosi%l E&onomi Pasien sudah menikah. mimisan (-). II. vesikuler diseluruh lap. Ri4%5%" Pen o1%"%n 3 Pasien sudah menggunakan salep selama # bulan terakhir dan sudah habis I # minggu yang lalu. 7-77 tunggal. deviasi trakea (-) . (eher j. tympani. lesi membaik namun gatal menetap. 8iwayat asma (-). 2JP tidak meningkat " tampak sakit sedang " :ompos Mentis d. 'epala i. suara tambahan (-) " 'onfigurasi kesan dalam batas normal. 8iwayat hipertensi (-). nafas cuping hidung (-) " tomatitis (-). sianosis (-). Pembiayaan rumah sakit secara umum. (-). pembesaran tonsil(-) " $ischarge (-). sklera tidak ikterik " ekret (-). lidah kotor (-). '. bising(-) " upel. b. 'esadaran c. riwayat alergi (-). &horak " Pulmo :or " onor. tatus generalisata a. Pasien bekerja sebagai karyawan swasta. Mata f. luka (-) " Pembesaran '). alep yang digunakan sebanyak ! buah. &anda Jital &ekanan $arah 9adi 8espirasi uhu " #!/A-/ mm3g " --@Amenit " !/@Amenit " *>o : " Mesocephal. 'esan ekonomi cukup. tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti yang dikeluhkan pasien. 3idung g. &elinga i. 3 Peme'i&s%%n$isi& #. lurus. 4bdomen . pendek. Mulut h. tidak mudah dicabut e. rambut hitam. paru.Ri4%5%" Pen5%&i" Kel+%' % 3 $i dalam keluarga. riwayat $M (-). etelah diberikan salep.

Menyarankan kepada pasien untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. eritema. ## tatus $ermatologis . ) Pen%"%l%&s%n%%n Non $%'m%&olo i #. Menyarankan kepada pasien untuk mengkonsumsi obat secara teratur dan tidak menghentikan pengobatan tanpa sei1in dokter. (okasi . Memberikan informasi kepada pasien bahwa penyakitnya adalah jamur yang dapat menular. <ritrasma !. Menyarankan kepada pasien untuk menggunakan handuk sekali pakai lalu langsung di cuci dan menggantinya dengan handuk baru. +. Menyarankan kepada pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar. 0. !. ( Di% nosis Ke'. . Menyarankan kepada pasien memperbaiki status gi1i dalam makanan. 'andidiasis *. # Di% nosis B%ndin #.% &inea kruris II. terutama pakaian yang menyerap keringat. Psoriasis intertriginosa II.. central healing . ekskoriasi. pengobatannya memerlukan waktu yang cukup lama. ! Peme'i&s%%n Pen+n.'' uperior 7nferior " dbn " lihat status dermatologis " inguinalis de@tra et sinistra " makula. *.%n &idak dilakukan II. <kstremitas !.kuran " plakat II. berbatas tegas dengan lebih aktif. sekitar !-+ minggu. serta menasehati pasien untuk tidak menggaruk bercak karena akan menyebabkan bercak semakin luas.j.

$%'m%&olo i 'etokona1ol#@! tab :etiri1in tab #@# tab &erbinafincream #/ mg 'etokona1olcream !/ mg II.>. Menyarankan kepada pasien untuk tidak menggunakan handuk dan pakaian dalam bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. . P'o nosis Kuo ad vitam Kuo ad fungsionam Kuo ad bonam Kuo ad sanationam " ad bonam " ad bonam " ad bonam " ad bonam #! .

.% !0 tahun serta antara +/ % 0/ tahun 0. kortikosteroid serta oba % obat imunosupresan !. $ermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis. 6aktor % faktor yang mempengaruhi terjadinya tinea kruris menurut kepustakaan yaitu iklim panas. dan Epidermophyton.% . lingkungan sosial budaya dan ekonomi.*. )atal terutama dirasakan apabila berkeringatAberaktivitas dan saat malam hari. )olongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. trauma kulit. &inea krurisdisebabkan oleh infeksi jamur golongan dermatofita. #* . Pada pasien ini didapatkan adanya faktor resiko terjadinya tinea kruris yaitu pasien selama * bulan terakhir sudah .+. . $ari anamnesis didapatkan pasien laki % laki berusia *+ tahun dengan keluhan gatal timbul bercak merah di daerah lipat paha kanan dan kiri yang terjadi sejak I * bulan yang lalu. )olongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis-. Trichophyton mentagrophytes!. $ermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti. Menurut kepustakaan tinea kruris lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dengan perbandingan * berbanding #. oklusif. Penularan biasanya terjadi karena adanya kontak dengan debris keratin yang mengandung hifa jamur 5./ tahun. yaitu Microsporum. kebersihan. namun dapat pula oleh Trichophyton rubrum.BAB III PEMBAHASAN $iagnosis tinea kruris pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis.iasanya mengenai penderita usia #. Penyebab &inea kruris sendiri sering kali oleh Epidermophyton floccosum. gambaran klinis dan pemeriksaan fisik. defisiensi imunitas. lembab.0. tetapi paling banyak dijumpai pada usia #. )ejala klinis yang dialami oleh pasien adalah gatal yang semakin lama semakin hebat dirasakan pada daerah lipat paha yang disertai dengan adanya bercak merah yang makin lama makin meluas. ehingga untuk daerah lipat paha kurang terjaga kebersihan dan kelembapan kulitnya. pemakaian bahan pakaian yang tidak menyerap keringat. yang terbagi dalam tiga genus. sehingga kemungkinan higienitas atau kebersihan diri pasien kurang terpelihara dengan baik baik. pengeluaran keringat yang berlebihan. penggunaan antibiotika. dan kebanyakan terjadi pada golongan umur dewasa daripada golongan umur anak-anak!. kali keluar masuk 8 . Trichophyton. dimana hal tersebut mendukung untuk tumbuhnya jamur penyebab tinea kruis dengan baik.

semakin hebat jika berkeringat. berbatas tegas dengan tepi lesi lebih aktif terdiri dari papula.jud kelainan kulit yang timbul pada pasien tinea kruris adalah makula eritematosa numular sampai geografis. =bat topikal yang diberikan adalah ketokona1ol cream dan terbinafin cream. <rosi dan ekskoriasi. lesi central healing. skuama lebih tebal dan berlapis-lapis. eritema. lipat perineum. fluoresensi merah bata yang khas dengan sinar Food. dan psoriasis intertriginosa.ntuk lesi yang lokalisata dapat diberikan preparat anti jamur topikal. 'etokona1ol termasuk dalam golongan a1ol-imida1ol. ukurannyaplakat. bentuk polimorf. . $iagnosis banding untuk tinea kruris adalah eritrasma. pustula atau vesikel. mencegah penyakit menjadi kronis. jarang disertai infeksi. eritematosa dan bersisik.Menurut kepustakaan . Mempunyai kemampuan mengganggu kerja en1im sitokrom P-+0/. mengatasi atau menghilangkan faktor-faktor yang mempermudah timbulnya infeksi jamur. ruam kulit berbatas tegas. &erbinafin merupakan golongan alilaminAben1ilamin. ekskoriasi. mencegah timbulnya kekambuhan. berbatas jelas disertai lesi-lesi satelit. Pada eritrasma batas lesi lebih tegas. serta mengoptimalkan kepatuhan penderita untuk kesembuhannya. bokong dan dapat ke genitalia. 'eluhan sering bertambah sewaktu tidur sehingga digaruk-garuk dan timbul erosi dan infeksi sekunder!. keluarnya cairan serum maupun darah. biasanya akibat garukan maupun pengobatan yang diberikan##. relative berspektrum luas. pemeriksaan '=3 negatif tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa. berbatas tegas dengan tepi yang lebih aktif. bersifat fungistatik dan bekerja dengan cara menghambat ergosterol jamur yang mengakibatkan timbulnya defek pada membrane sel jamur. edangkan strategi pengobatan meliputi diagnosis yang tepat. antara lain " menyembuhkan penyakit secara klinis dan laboratoris.ekerja dengan cara menekan biosintesis ergosterol pada tahap awal metabolism dan en1im sitokrom P-+0/ akan menghambat aktifitas sLualene #+ . kandidiasis.Pada kandidiasis lesi lebih basah. edangkan psoriasis intertriginosalesi lebih merah. Prinsip pengobatan meliputi penatalaksanaan secara umum yaitu menetapkan tujuan pengobatan. pemeriksaan '=3 negatif tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa!. 2ika kronik makula menjadi hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya!. edangkan untuk lesi yang luas atau gagal dengan pengobatan topikal diberikan preparat anti jamur sistemik 0. lanosterol #+-demethylase yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah lanosterol menjadi ergosterol. Pada pasien ini mendapat penatalaksanaan terapi topikal dan sistemik. memilih cara pengobatan yang tepat. hal ini mengakibatkan dinding sel jamur menjadi lebih permeable dan terjadi penghancuran kuman.Menurut kepustakaan gejala klinis tinea kruris yaitu rasa gatal hebat pada daerah kruris (lipat paha).#/ Pada pemeriksaan fisik dijumpai ujud kelainan kulit yaitu makula. .

Penggunaannya secara topikal dengan cara mengoleskan kedaerah lesi dan dilebihkan I # cm. $engan melakukan pengobatan secara teratur sesuai anjuran dokter. karena masih terdapat elemen jamur di luar batas lesi. dan menjaga kebersihan serta kelembapan kulit maka prognosis akan baik. #0 . :etiri1ine adalah metabolit aktif dari hidroksi1in dengan kerjakuat dan panjang. dengan berkurangnya ergosterol. <dukasi yang diberikan kepada pasien adalah menasehati pasien untuk tidak menggaruk bercak karena akan menyebabkan bercak semakin luas. &ujuan diberikannya cetiri1in pada pasien ini adalah untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien dan mengurangi proses peradangan yang terjadi. terutama pakaian yang menyerap keringat. . Merupakan antihistamin selektif. ediannya dicampur dalam satu tube. :etiri1ine menghambat pelepasan histamine pada fase awal dan mengurangi migrasi sel inflamasi. ad kosmetikum dubia ad bonam. 'etokona1ol diberikan secara peroral dan topikal untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. ketokona1ol diberikan ! tablet sekali minum dalam sehari pada pagi hari dan cetiri1in # tablet sekali minum dalam sehari pada sore hari. antagonis reseptor 3# periferal dengan efek sedative yang rendah pada dosis aktif farmakologi dan mempunyai sifat tambahan sebagai anti alergi. menggunakan pakaian yang longgar. akan menyebabkan penumpukan sLualane pada sel jamur dan akan mengakibatkan kematian sel jamur. menghidari faktor resiko.eposidase.ersifat fungisidal terhadap dermatofit#!. memperbaikistatus gi1i dalam makanan. selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Prognosis pada pasien ini adalah "uo ad #itam bonam. ad sanam dubia ad bonam. =bat sistemik yang diberikan adalah ketokona1ol dan cetiri1in. Pada kasus ini ketokona1ol dan terbinafin digunakan untuk pengobatan dermatofitosis. Pasien kemudian disarankan control setelah #/ hari untuk melihat perkembangan penyakitnya. mengkonsumsi obat secara teratur dan tidak menghentikan pengobatan tanpa sei1in dokter. Pada kasus ini obat sistemik diberikan selama #/ hari. menggunakan handuk sekali pakai lalu langsung di cuci dan menggantinya dengan handuk barudantidak menggunakan handuk dan pakaian dalam bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.

6akultas 'edokteran . (awetz.'. +.nandarEFasitaatmadja.>-5A##>+A#Afkg-trelia#. 8.ac. 'edokteran . enyakit %ulit dan %elamin. 0. (ock !/#!. &ersedia dari" http"AArepository. p. &relia. <disi 'eempat. Atlas &erwarna 'aripati Penerbit . Fiederkehr.'" . <tnawati.nit Penyakit 'ulit dan 'elamin 6akultas 'edokteran . #5-*. Melnick. *. from" 4vailable http"AA from" . 8amona $umasari. >. )raham-. 2akarta. dan &jokronegoro. Mikosis 'uperfisial. 8obin. !//#.7.ecture -otes on .. <disi *.niversitas )adjah MadaA8 . <d. 6akultas #. engobatan dermatomikosis. Parasitologi kedokteran . !//+. 6'.uku 'edokteran <):. Tinea nlm.idAbitstreamA#!*+0. 8epository. itch. *#5-*!0.. / Adelberg0s Me ical Microbiology )) ndEd. .7. !5-*#. #/. .. #!. !//!. Bogyakarta ##. jarif. .. 2akarta " !//-.govAmedlineplusAencyAarticleA///->. #*.DA$TAR PUSTAKA #. !/##.ermatology -th <d. **-*+. !//*. 2akarta " !//> iregar. M(aporanPenelitianN Tingkat kekambuhan tinea kruris dengan pengobatan krim ketokonazol )* sesuai lesi klinis bila dibandingkan dengan + cm di luar lesi klinis. #555. . 5!-5*. ..lackwell cience. http"AAemedicine. <disi !.7.nih. p. 0.comAarticleA#/5#-/.oel. . (ubis. )eo.pdf 5.erman.G udaryanto.niversitas 7ndonesia. ri !//+. Mulyaningsih.rooks. 4rjatmo.htm Michael. . . .usu. $juanda 4dhi. .medscape. 2akarta " 4vailable !ruris.udimulja. #55" erkembangan engobatan enyakit (amur 'uperfisial. h. 6akultas 'edokteran enyakit %ulit. h.niversitas 7ndonesia. .alaiPenerbit 6' . 'evin. !//-. .niversitas $iponegoro. 2akarta" . enyakit (amur. . Mc)raw-3ill :ompanies 7nc. $lmu enyakit%ulit%elamin. unoto.rown. $lmu !.P $r ardjito.udimulya. (aboratoriumA.