PERCOBAAN I SINTESIS DIBENZALASETON

I. Tujuan 1.1. Memahami reaksi adisi suatu molekul aldehid ke molekul aldehida yang lain. 1.2. Mempelajari sintesis dibenzalaseton dengan reaksi kondensasi aldol (ClaisenSchmidt) II. Tinjauan Pustaka Suatu reaksi kondensasi ialah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (seperti air). Kondensasi aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tidak dilepaskannya suatu molekul kecil. Bila suatu aldehid diolah dengan basa NaOH dalam air, ion enolat yang terjadi cepat bereaksi pada gugus karbonil dari molekul aldehid yang lain. Hasilnya ialah adisi suatu molekul aldehid ke molekul aldehid yang lain (Fessenden dan Fessenden, 1986). Bila suatu aldehid diolah dengan basa seperti NaOH dalam air, ion enolat yang terjadi dapat bereaksi pada gugus karbonil dari molekul aldehid yang lain. Hasilnya ialah adisi satu molekul aldehida ke molekul alsehida lain. Reaksi ini disebut suatu reaksi kondensasi aldol. Kata aldol yang diturunkan dari aldehida dan alkohol produk itu, yang menarik produk itu, yang merupakan suatu aldehida B-hidroksil suatu reaksi kondensasi ialah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar, dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (seperti air). Kondensasi aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tidak dilepaskan suatu molekul kecil. Dua molekul aldehid bergabung membentuk b-hidroksi aldehid yang disebut aldol. Kondensasi aldol berasal dari dua molekul aldehid yang berkombinasi membentuk aldehid tak jenuh dan air.

Kondensasi aldol adalah reaksi antar aldehida atau antar keton yang sama menggunakan basa sebagai katalis. Reaksi aldol bermula dari pemisahan proton berposisi α (alfa) membentuk enolat yang beresonansi. hanya satu macam enolat yang terbentuk (benzaldehida tidak memiliki hidrogen α). Contohnya adalah reaksi antara asetaldehida dan benzaldehida. Dengan adanya basa. Jika aldehida tidak memiliki Hα. Kondensasi aldol mudah dibuat melalui pembentukan anion enolat dari satu senyawa karbonil yang diadisikan kepada karbon karbonil lain. Secara umum. kondensasi dapat terjadi jika pada aldehida tersebut ditambahkan aldehidaatau keton yang mempunyai Hα. Syarat terjadinya reaksi adalah tersedianya Hα pada karbonil yang terlibat dalam reaksi tersebut. berlangsungnya reaksi konversi aseton adalah melalui mekanisme reaksi kondensasi aldol.Reaksi yang lain juga dikenal adalah reaksi adisi aldol (Fessenden dan Fessenden. 1986). Reaksi ini membentuk dasar bagi kondensasi aldol yaitu suatu reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon yang sangat bermanfaat. yang terjadi jika larutan aldehid diberi larutan basa. Jika enolat dari asetaldehida beradisi pada gugus karbonil benzaldehida. maka dimerisasi dengan kondensasi aldol tidak dapatterjadi. membentuk β-hidroksi keton atau β-hidroksi aldehida . Reaksi kondensasi aldol dalam beberapa kasus biasanya diikuti reaksi dehidrasi. Kondensasi aldol melibatkan adisi nukleofilik sebuah enolat keton ke sebuah aldehida. terbentuk kondensasi aldol campuran (Surdia. 2009). 1986). Kondensasi yang paling sederhana adalah gabungan dua molekul asetaldehida. Enolat dapat bertindak sebagai nukleofilik karbon dan beradisi pada gugus karbonil pada molekul aldehid atau keton lain. Mekanisme reaksi mekanisme tersebut merupakan gabunagn antara langkah reaksi asam basa dari Bronsted (proton transfer) dan Lewis step (electron transfer). Selanjutnya terprotonasi membentuk produk aldol yakni diaseton alkohol (DAA) (Setiadi. Anion ini sangat reaktif sebgai nukleofil yang mampu menyerang gugus karbonil yang miskin elektron dari molekul aseton (Lewis step) dan membentuk produk antara yakni alkoksida.

sehinggaikatan C-H menjadi dilemahkan. Senyawa hidroksi keton ini selanjutnya dengan mudah mengalami dehidrasi dengan berkatalis basa. Dibenzalaseton dapat dibuat melalui reaksi kondensasi dari aseton dan dua ekivalen benzaldehida. Senyawa karbonil mempunyai hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dapat mengalami reaksi kondensasi. 2012). Reaksi ini dilakukan dengan katalis basa yang berfungsi untuk membentuk ion karbon dengan mengikat atom H alfa. diantaranya reaksi pembuatan dibenzalaseton ini. Pertama. Reaksi ini antara suatu aldehida dengan suatu keton dengan adanya basa adalah suatu contoh reaksi kondensasi aldol (aldehida . yaitu anion yang terbentuk bila proton lepas.keton) campuran. maka akan terbentuk ion enolat. yang sering dikenal dengan reaksi Claisen-Schmidt. stabilisasi-resonansi dari ion enolat. 2014). Karbon alfa itu juga ikut mengambil sebagian muatan positif ini. Ikatan antara karbon-hidrogen biasanya stabil dan nonpolar serta tidak bersifatasam. Penyebab hidrogen alfa terhadap gugus karbonil bersifat asam ada dua. reaksi dapat menghasilkan mono atau dibenzalaseton ( Tim dosen kimia organik sintesis. Dari struktur resonansi .dan diikuti dengan dehidrasi. karbon alfa berdekatan dengan satu atau lebih aton karbon yang positif sebagian. Produk reaksiini adalah garam alkoksida. Gugus karbonil dari benzaldehida lebih reaktif dari gugus karbonil aseton sehingga bereaksi cepat dengan anion aseton menghasilkan beta hidroksi keton. Reaksi kondensasi ini banyak dijumpai. yang kemudian dapat bereaksipada gugus karbonil dari molekul aldehida yang lain Kondensasi aldol dengan menggunakan katalis basa akan membentuk ion enolat. Tergantung pada jumlah relatif pereaksi yang digunakan. yang kemudian akan terjadi serangan nukleofil oleh enolat padagugus karbonil lain yang terstabilisasi oleh resonansi. aldol akan terbentuk dan mengalami dehidrasi menghasilkan senyawa karbonil tak jenuh (Arifin. menghasilkan sebuah enon terkonjugasi Bila suatu aldehida yang memiliki atom Hα diolah dengan basa seperti NaOH dalam air. Kedua. Tapi dengan adanya gugus karbonil terjadilah hidrogen alfa yang sifatnya asam.

mempengaruhi sifat dan kereaktifan gugus karbonil. tertarik ke oksigen yang lebih elektronegatif. 2011). Reaksi ini reversibel pada saat ion enolat bereaksi.Reaksi ini disebutreaksi kondensasi aldol.tampak bahwa muatan negatif ada di oksigen-oksigen karbonilmaupun di karbon alfa. ikatan pi. Gugus karbonil bersifat polar. yang kemudian merebutsebuah proton dari dalam air untuk menghasilkan aldol produk itu (Silky. misalnya saja kedataran. akan terbentuk ionenolat dalam konsentrasi rendah. Reaksi kondensasi adalah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar.Jika asetaldehida diolah dengan larutan NaOH dalam air. kelarutannya sebesar 3. polaritas dan adanya electron menyendiri. Ion enolat bereaksi dengan suatu molekul aldehida lain dengan cara mengadisi pada karbon karbonil untuk membentuk suatu ion alkoksida. Gugus aldehid dari benzaldehid ini akan . dan terutama elektron-elektron dalam ikatan pi. Apabila suatu aldehida diolah dengan basa seperti NaOH dalam air. Benzaldehid (ArCHO) merupakan suatu aldehid (-COH) dengan gugus karbonnya adalah gugus benzena aromatik (Ar/aril). Ikatan sigma gugus karbonil terletak dalam suatu bidang dengan sudut ikatan kira-kira 120º disekitar karbon sp2. akan terbentuk lagi yang baru. Oksigen gugus karbonil mempunyai dua pasang elektron menyendiri. dengan atau tanpa hilangnyasuatu molekul kecil (seperti air). Kata ‘aldol’ diturunkan darialdehida dan alkohol. ion enolatyang terjadi dapat bereaksi dengan gugus karbonil dari molekul aldehida yang lain. Ikatan pi yang menghubungkan C dan O terletak di atas dan di bawah bidang ikatan–ikatan sigma tersebut.Hasilnya adalah adisi satu molekul aldehida ke molekul aldehida lain.3 gram/L. Oleh sebab itu sifat dari benzaldehid ini secara keseluruhan adalah non polar tetapi dapat larut dalam air. Semua sifat-sifat struktural ini. Kekuatan non polar dari benzaldehid lebih besar daripada kepolarannya. Pada gugus karbonil terdiri dari sebuah atom karbon sp2 yang dihubungkan ke sebuah atom oleh sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan –pi. Sedangkan gugus aromatik/benzena (Ar) bersifat non polar. dengan elektron-elektron dalam ikatan sigma. Delokalisasi muatan ini menstabilkan ionenolat dan mendorong pembentukannya.

2-propanon. Selain dimanufaktur secara industri. Tautomer adalah isomer-isomer pada senyawa karbonil yang hanya dibedakan oleh kedudukan ikatan rangkap dan yang disebabkan perpindahan letak atom hidrogen alfa ke atom oksigen (Hidayanti. Namun lain halnya dengan atom hidrogen yang berada pada karbon (C) disamping gugus karbonil yang disebut atom hidrogen alfa. atau propan-2-on. Substitusi α melibatkan penggantian atom H pada atom karbon α dengan elektrofil.membentuk ikatan hidrogen dengan pelarut yang memiliki gugus N ataupun O. oleh karena itu dapat terionisasi menghasilkan ion enolat. dengan berat jenis 1. Umumnya atom hidrogen yang terikat pada atom karbon sangat stabil dan sangat sukar diputuskan. Aseton mempunyai atom hidrogen alfa bersifat asam. digunakan untuk membuat plastik. maka ikatan karbon dan hidrogen alfa semakin melemah. serat. . Aseton merupakan keton yang paling sederhana. 2012). 2014). Sebagai akibatpenarikan elektron oleh gugus karbonil. kerapatan elektron pada atom karbon alfa semakin berkurang.05 gram/mL (Anonim. termasukpada tubuh manusia dalam kandungan kecil. Aseton adalah senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Aseton memiliki gugus karbonil yang mempunyai ikatan rangkap dua karbon-oksigen terdiri atas satu ikatan σ dan satu ikatan π. obat-obatan. Ion enolat dapat berada dalam dua bentuk yaitu bentuk keto dan bentuk enol yang disebut bentuk tautomerisasi. sehingga hidrogen alfa menjadi bersifat asam dan dapat mengakibatkan terjadinya substitusi alfa (α). Sehingga titik didihnya sangat tinggi. aseton juga dapat ditemukan secara alami. dan senyawa-senyawa kimia lainnya. digunakan sebagai pelarut polar dalam kebanyakan reaksi organik. atau dalam larutan benzaldehid itu sendiri. Aseton dikenal juga sebagai dimetil keton. yaitu sekitar 179 ºC dan titik lebur sebesar -26 ºC.

cawan petri.2. Aseton. gelas ukur 10 ml. es batu. corong kaca. Etanol p. neraca analitik. dan Akuades.1. botol semprot.III. . kertas saring.a. erlenmeyer 500 mL. batang pengaduk. corong buchner. pipa kapiler. termometer. stopwatch. melting point. Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain kristal NaOH. Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain gelas kimia 500 ml. dan pipet tetes. 3. Benzaldehid. Alat dan Bahan 3.

IV. Kemudian menjaga temperatur pada suhu 20o-25o C. .25 gram NaOH dalam 62. selanjutnya mengaduk dan menambahkan separuh dari campuran 6. kemudian mengaduk larutan sampai 15 menit.Setelah 15 menit. Kemudian melakukan rekristalisasi padatan dengan etanol dan merekoveri dibenzalaseton murni diperoleh sekitar 80 % dengan titik leleh 112o C.3 mL benzaldehid murni dan 2. Kemudian mengeringkan padatan yang diperoleh pada suhu ruang hingga diperoleh berat konstan. menambahkan kembali sisa campuran benzaldehid-aseton kemudian melanjutkan pengadukan selama 30 menit. Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja yang dilakukan yaitu memasukkan 6.5 mL air dan 50 mL etanol ke dalam erlenmeyer 500 mL. Setelah itu menyaring campuran dengan corong buchner dan mencuci dengan air dingin untuk mengeliminasi alkali.3 mL aseton.

benzaldehid dan aseton (mengocok selama 30 menit).V.25 g + 62. 4.3 ml *Terdapat Aseton berubah berwarna cream kental. NaOH 6. Setelah 15 menit + sisa *Larutan berwarna Orange susu. berbau dan menyengat.*Larutan berwarna kuning bening. dan selanjutnya menjadi kuning. Menyaring dengan buchner. berbau dan menyengat. Perlakuan Hasil 1. penyaring *Terbentuk padatan berwarna kuning Keterangan : *Berat dibenzalaseton *Volume etanol untuk rekristalisasi *titik didih sebelum direkristalisasi *titik didih setelah direkristalisasi = 19. Alkohol 50 ml (mengaduk dan mempertahankan 25oC) suhu 20oC. +6. Hasil Pengamatan No.5 ml Air + *Larutan bening.386 gram = 45 ml = 102oC = 112oC . 3. endapan dan Larutan 2.3 Benzaldehid + 2.

031 mol 0.328 g Mol Benzaldehid = = = 0.031 mol  Massa dibenzalaseton secara teoritis 2C6H5COH(aq) + C3H8O(aq)  C7H14O(s) + 2H2O(l) Mula-mula : Bereaksi : Sisa : 0.79 gr/mL = Massa jenis x volume aseton = 0.2 mL Masa Jenis Berat Aseton = 1.016 mol 0.016 mol 0.79 g/mL x 1.016 mol 0.2 mL = 0.30 g/mol = 3.2 mL = 0.016 mol Massa dibenzalaseton = mol dibenzalaseton x Mr dibenzalaseton = 0.016 mol x 234.04 g/mL x 3.016 mol 0.7488 gram .016 mol  Mol Benzaldehid Volume Benzaldehid = 3.948 g Mol Aseton = = = 0.04 gr/mL = Massa jenis x volume aseton = 1.016 mol 0. Mol aseton Volume Aseton Masa Jenis Berat Aseton = 1.016 mol 0.015 mol 0.2 mL = 3.

% rendemen = = x 100 % x 100 % = 517.12 % .

Mekanisme Reaksi .VI.

Pencampuran dilakukan dengan menempatkan gelas kimia yang berisi campuran tersebut dalam wadah yang berisi air dingin. Penambahan etanol bertujuan agar larutan NaOH yang larut dalam air dan bersifat polar dapat saling melarutkan dengan campuran benzaldehid dan aseton yang bersifat nonpolar pada penambahan selanjutnya. Pada perlakuan pertama yaitu mencampur NaOH dalam air dan etanol pada gelas kimia 500 ml sampai NaOH larut sempurna. Setelah itu dilakukan pengadukan dan penambahan separuh campuran benzaldehid murni dan aseton. Pembahasan Sintesis dibenzalaseton adalah reaksi antara benzaldehid dan aseton dengan katalis basa NaOH melalui reaksi kondensasi aldol silang. Aseton ini kemudian bereaksi dengan NaOH membentuk ion enolat aseton dan air. Proses pengadukan tersebut dilakukan selama beberapa menit sampai terbentuk endapan yang berwarna kuning pada dinding gelas kimia. adapun tujuan dari pengadukan tersebut ialah agar molekul-molekul dari setiap campuran dapat . Hal ini dilakukan karena reaksi yang terjadi antara NaOH (basa kuat) dengan air merupakan reaksi eksoterm yang bersifat panas sehingga perlu dilakukannya pendinginan agar pada saat sintesis dibenzalaseton berlansung mudah membentuk kristal atau endapan. Pada percobaan sintesis dibenzalaseton ini bertujuan untuk memahami reaksi adisi suatu molekul aldehida ke molekul aldehida yang lain dan mempelajari sintesis dibenzalaseton dengan reaksi kondensasi aldol (ClaisenSchimdt).VII. Benzaldehid merupakan senyawa benzil dengan gugus fungsi aldehid sedangkan aseton merupakan keton yang mempunyai hidrogen alfa. yaitu aldehid (benzaldehid) dan keton (aseton). Jadi NaOH disini berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi dengan membentuk ion enolat dengan gugus karbonil dari senyawa aseton. Reaksi kondensasi aldol adalah reaksi yang melibatkan dua reagen.

Karbanion ini akan menyerang atom C karbonil dari benzaldehid yang tidak memiliki atom H alfa yang bermuatan parsial positif. Dalam keadaan murni aseton berbentuk keto. yang mula-mula dibutuhkan air untuk penstabil muatan. Pada struktur enol ini. Mula-mula benzalaseton diserang oleh nukleofil (OH-) pada atom C karbonilnya. Reaksi ini disebut dengan kondensasi aldol silang. Kemudian sturktur tersebut mengalami tautomerisasi manjadi benuk enol dengan adanya transfer proton. Dalam pembentukan ini terjadi transfer air. Pada tahap kedua ini terjadi suatu kondensasi antara benzaldehid dengan benzalaseton dari tahap sebelumnya. bentuk enol akan dengan cepat bereaksi untuk membentuk ion enolat. Namun jika aldehid itu dicampur dengan senyawa yang memilki hidrogen alfa (aseton). tujuan dari penambahan benzaldehid-aseton yang dilakukan secara bertahap yaitu agar terjadi penyempurnaan reaksi karena reaksi yang terjadi adalah bertahap. Setelah 15 menit menambahkan kembali sisa campuran benzaldehidaseton. tetapi dengan adanya basa kuat seperti NaOH. dan dengan dibantu oleh air akan terjadi suatu transfer proton dan terbentuklah benzalaseton dengan ion hidroksi. karena bila penambahan dilakukan sekaligus dikhawatirkan hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Suatu aldehid tanpa hidrogen alfa (benzaldehid) tidak dapat membentuk ion enolat sehingga tidak dapat berdimerisasi dalam suatu kondensasi aldol. Mekanismenya hampir sama dengan tahap sebelumnya. ion enolat dari benzalaseton menjadi suatu nukleofil dengan atom C alfa negatif (karbanion) sebagai gugus reaktifnya. Ion enolat dari benzalaseton ini yang kemudian menyerang atom C karbonil dari benzaldehid sehingga membentuk dibenzalaseton. Ion ini sangat reaktif dan bertindak sebagai nukleofil lewat atom C negatif (karbanion). Reaksi ini merupakan tahap pertama pada sintesis dibenzalaseton. yang membedakan adalah atom H alfa disini diperoleh dari benzalaseton. . sehingga enol yang terbentuk adalah dari benzalaseton pula.bertumbukan sehingga rekasi dapat berjalan dengan cepat. maka kondensasi antara keduanya dapat terjadi.

hal ini menandakan bahwa berat hasil praktikum belum konstan pada saat dilakukan pengukuran. atau juga masih terdapat banyak pengotor pada dibenzalaseton hasil praktikum. Adapun volume etanol yang digunakan untuk merekristalisasi dibenzalaseton 19. Mereka masih terkontaminasi oleh sejumlah senyawa yang terjadi selama reaksi. Rekristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan senyawa dalam .tetapi pada akhir reaksi juga dihasilkan air dan ion hidroksida yang berasal dari NaOH. maka dilakukan proses pengeringan dibenzalaseton dengan cara diangin-anginkan karena pelarut etanol yang digunakan bersifat mudah menguap pada suhu ruang hingga diperoleh berat konstan yaitu 19. Setelah itu. Kemudian dilakukan rekristalisasi dengan menggunakan etanol 95% dimana setiap satu gram dibenzaldehid diperlukan 2. Rendemen yang sangat besar ini menunjukkan masih terdapat jauh perbedaan antara berat teori dan berat hasil praktikum. Menurut Anonim (2014) rekristalisasi adalah proses pengulangan kristal agar diperoleh zat murni atau kristal yang lebih murni.386 gram yaitu sebanyak 45 ml. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkristalan kembali dengan mengurangi kadar pengotor. Ketika proses penyaringan selesai. Selanjutnya mengeringkan padatan pada suhu ruang hingga diperoleh berat konstan karena kelarutan suatu senyawa dipengaruhi pula oleh temperaturnya. melanjutkan kembali pengadukan selama 30 menit sampai larutan menjadi homogen.12 %.386 gram. Dari hasil perhitungan diketahi berat dibenzalaseton secara teoritis yaitu 3.7488 gram. Rekristalisasi ini bertujuan untuk mendapatkan dibenzalaseton yang murni dan bebas dari pengotor ataupun zat lain. Senyawa organik berbentuk kristal yang diperoleh dari suatu reaksi biasanya tidak murni. Ketika larutan sudah homogen.5 ml etanol. maka dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong buchner untuk mendapatkan endapan yang telah terbentuk dalam campuran. Kemudian mencuci endapan yang diperoleh dengan air dingin untuk mengeliminasi alkali. sehingga diperoleh persen rendemennya adalah 517.

Hal ini disebabkan pada proses rekristalisasi sebagian pengotor telah larut dalam pelarut sehingga diperoleh dibenzalaseton yang lebih murni dari sebelumnya. 2014) titik leleh dari dibenzalaseton bersikar antara 80OC . Lalu dilakukan pengeringan kembali dan mengukur titik lelehnya dan diperoleh titik leleh dibenzalaseton setelah rekristalisasi yaitu 112oC. . Pada dasarnya proses rekristalisasi adalah melarutkan senyawa yang dimurnikan ke dalam pelarut yang sesuai pada atau dekat titik didihnya.120OC. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa warna dibenzalaseton setelah rekristalisasi mengalami sedikit perubahan dari sebelum rekristalisasi. Perbedaan kedua titik leleh tersebut karena dibenzalaseton yang sebelum direkristalisasi kemurniannya masih rendah atau masih terdapat banyak pengotor jika dibandingkan dengan dibenzalaseton setelah direkristalisasi. Setelah rekristalisasi warna dibenzalaseton terlihat lebih terang atau lebih pucat dari sebelumnya yang berwarna kuning.suatu pelarut tunggal atau campuran. Kedua titik leleh dibenzalaseton tersebut telah sesuai dengan teori yang ada. menurut (Anonim.

Reaksi kondensasi ialah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (seperti air). syaratnya adalah tersedianya Hα pada karbonil yang terlibat dalam reaksi tersebut yang melibatkan adisi nukleofilik sebuah enolat keton ke sebuah aldehida. serta kristal setelah direkristalisasi dilakukan penyaringan dengan corong buchner agar pengeringan yang dilakukan tidak memerlukan waktu yang lama. .2 Saran Diharapkan pada praktikum selanjutnya pada proses rekristalisasi digunakan etanol panas sehingga dibenzalaseton dapat larut. Kesimpulan dan Saran 8.1 Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. 4. 2. Reaksi Kondensasi Claisen-Schmidt adalah Reaksi antara keton dengan aldehida atau antara dua aldehida yang biasa disebut juga reaksi kondensasi aldol silang. titik leleh dibenzalaseton sebelum rekristalisasi yaitu 102OC dan setelah rekristalisasi yaitu 112OC. 8. Dari hasil percobaan diperoleh berat dibenzalaseton 19.VIII. persen rendemen yaktu 517.12 %.386 gram. 5. Kondensasi aldol adalah reaksi antar aldehida atau antar keton yang sama menggunakan basa sebagai katalis. Prinsip sintesis dibenzalaseton adalah senyawa dibenzalaseton disintesis dari benzaldehid dan aseton melalui reaksi kondensasi aldol silang dengan menggunakan katalis basa yaitu NaOH dan air. 3.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Laporan Praktikum Kimia II Sintesisi Dibenzalaseton. Arifin.wikipedia.wikipedia. Fathul. http://web. Palu Fessenden. Kimia Organik Jilid 2. 2011. Yogyakarta Hidayanti. 2014. Optimasi Waktu Reaksi Pada Sintesis Dibenzalaseton dengan Bahan Dasar Benzaldehid dan Aseton.org Silky Amanda Yuniar.com. dan Fessenden. 2014. 2012. Ahmad Ridhay dan Jaya Hardi.doc.edu/jasperse/Chem365/Aldol%20Reaction.S. Yogyakarta . 1986. Penuntun Praktikum Kimia Organik Sintesis. Sintesis Senyawa Benzalaseton dan Dibenzalaseton dan Uji Potensinya sebagai Senyawa Tabir Surya.J. R. Erlangga.pdf Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.mnstate. J. Anonim. Diakses pada tanggal 16 Maret 2014. Nurul. 2007. http://www. UNY. FMIPA UGM. Benzaldehid. FMIPA UNTAD. Jakarta. 2014. http://id.

LEMBAR ASISTENSI Nama : Faradisa Anindita No.Stambuk : G 301 11 020 Kelompok Asisten : I (Satu) : Wiwid Pratiwi No. Hari/Tanggal Perbaikan Paraf .