You are on page 1of 12

Tuberculosis Paru

22.02.00 1 comment

Tuberculosis paru sampai saat ini masih merupakan problem kesehatan yang masih sulit terpecahkan. Tuberculosis paru masih merupakan suatu ancaman terutama pada negaranegara yang sedang berkembang. Angka kematian sejak awal abad ke-20 mulai berkurang sejak diterapkannya prinsip pengobatan dengan perbaikan gizi dan tata cara kehidupan penderita. Insidens penyakit tuberculosis dan mortalitas yang disebabkannya menurun drastis setelah diketemukannya kemoterapi. Tetapi, pada tahun-tahun terakhir ini penurunan itu tidak terjadi lagi bahkan insidens penyakit ini cenderung meningkat. Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti sosioekonomi, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan (seperti alkoholisme, tuna wisma, naiknya infeksi HIV/AIDS), dimana peningkatan insidens lebih nyata pada kelompok minoritas dan pengungsi yang masuk ke Amerika Serikat dari negara-negara dimana tuberculosis merupakan penyakit endemik. Pada tahun 1986, tercatat 22.786 kasus tuberculosis yang dilaporkan ke Centers for Disease Control (CDC). Angka ini menunjukkan insidens sebesar 9,4/100.000 penduduk Amerika serikat-suatu kenaikan sebesar 2,6% (tambahan 567 kasus) dibandingkan dengan tahun 1985. Menurut CDC, ini adalah kenaikan angka kesakitan tuberculosis paling besar sejak 1953 di Amerika Serikat (1). Di Indonesia berdasarkan survey Departemen Kesehatan tahun 1980, penyakit ini masih tergolong 4 besar. Selain itu diketahui juga bahwa 75% penderita tuberculosis paru berasal dari golongan tenaga kerja produktif (umur 15-60 tahun) dan berasal dari golongan ekonomi lemah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, angka kesakitan yang tercatat pada tahun 1976 sebesar 15,9 dari 100.000 penduduk(2). Definisi Tuberculosis adalah penyakit menular pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh species Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringan-jaringan (3). Tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated hypersensitivity)(4) Tuberculosis Miliaris adalah jenis tuberculosis yang bervariasi dari infeksi kronis, progresif lambat hingga penyakit fulminan akut;ini disebabkan oleh penyebaran hematogen atau limfogen dari bahan kaseosa terinfeksi ke dalam aliran darah dan mengenai banyak organ dengan tuberkel-tuberkel mirip benih padi(3). Etiologi

Bersama dengan kuman yang berkerabat dekat. Diperkirakan bahwa 10 juta orang Amerika mempunyai hasil test tuberculin yang positif. sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit Tuberculosis (2) Mikrobakterium dibedakan dari lipid permukaannya. Pada beberapa negara. dan banyak yang mudah diisolasi dari sumber lingkungan (4). maupun banyak yang tidak tergolongkan. bovis.283 kasus tuberculosis.bovis. Sebagian besar micobakterium tidak patogen pada manusia. di Amerika Serikat dilaporkan 26. sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/ µm.000 per tahun. M avium dan sejumlah spesies mikrobacterium lainnya lebih sedikit menyebabkan penyakit yang biasanya terdapat pada manusia. Epidemiologi Tuberculosis berlanjut sebagai penyebab kematian yang penting. dari golongan kecil dan penderita AIDS (4). tetapi kurang dari 1% anak-anak Amerika yang menunjukan reaksi terhadap tuberculin. kuman ini menyebabkan tuberculosis. namun sejak tahun 1985 arahnya berbalik. basilus tuberkel. Pada tahun 1991. prevalensi tuberculosis tampak setara pada lingkungan pedesaan dan perkotaan dan terutama menyerang orang dewasa muda. M leprae merupakan agen penyebab penyakit lepra. Hal ini terjadi karena kuman dalam sifat dormant. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain. Pada segala umur. Pada daerah yang prevalensinya tinggi. kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag. perkiraan angka kasus baru adalah sampai setinggi 400 per 100.8% selama 5 tahun. sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak (lipid). kemiskinan berjalanan seiringan dengan tuberkulosis. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan tahan terhadap trauma kimia dan fisik(2).4 per 100. adalah satu diantara lebih dari 30 anggota genus Mycobacterium yang dikenal dengan baik. Haiti dan imigran Asia Tenggara mempunyai ratarata kasus yang sama tingginya dengan individu dari negara asal mereka dan pada individuindividu ini frekuensi penyakit yang terjadi di antara individu mudanya menunjukan kejadian penyakit ini pada anak-anak muda di negara mereka. panas atau detergen biasanya diperlukan untuk menyempurnakan perwarnaan primer(4). Angka kasus telah menurun hingga setingkat 5-6 persen per tahun. dengan angka kasus 10.Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Species lain yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah M. M. yaitu angka kasus menaik sampai 15. Sebagaimana di Amerika Utara dan Eropa. penduduk kota yang miskin. penyebaran penyakit tuberculosis menurun. Pada . Penyakit tuberculosis di Amerika Utara cenderung menjadi penyakit pada orang tua. M.kansasi. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es).intercellulare. rata-rata kasus di antara orang-orang kulit hitam cenderung dua kali lebih besar dari pada orang kulit putih. Di dalam jaringan. yang membuatnya tahan-asam sehingga warnanya tidak dapat dihilangkan dengan alkohol asam setelah diwarnai. Orang-orang hispanik. namun pada banyak negara miskin tidaklah demikian. Pada banyak tempat didunia. Karena adanya lipid ini.000 per tahun. Mycobacterium tuberculosa. yaitu M. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi.

dan frekuensi batuk. dan sesudah itu basilus yang ada tetap di udara untuk wakktu yang lama. tuberculosis. bahwa 30 juta kasus tuberculosis aktif di dunia. Organisme ini bukan lagi penyebab penyakit pada manusia yang utama di kebanyakan daerah di dunia. luasnya penyakit paru. tuberculosis ditularkan dari orang ke orang melalui jalan pernafasan. ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Patofisiologi 1. khas diperlukan kontak rumah tangga selama beberapa bulan untuk penularannya. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam. Kuman juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini sangat jarang terjadi. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Infeksi pada penjamu yang rentan terjadi bila terhirup sedikit basilus ini. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari trakeobronkhial beserta gerakan silia dengan sekretnya. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. penyebaran tuberculosis transbronkial yang baru. Walaupun mungkin terjadi jalur penularan lain dan kadang-kadang terbukti. Bila partikel ini terisap oleh orang sehat. pasien dengan tuberculosis laring. Namun demikian. Ventilasi yang memadai merupakan tindakan yang terpenting untuk mengurangi tingkat infeksi lingkungan. dan berbicara. Micobakterium rentan terhadap penyinaran ultraviolet. dan bahwa 3 juta orang meninggal akibat tuberculosis setiap tahun (4). ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Serbuk tidak penting pada penularan tuberculosis. Tuberculosis mungkin menyebabkan 6 % dari seluruh kematian di seluruh dunia. Tuberculosis primer Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Penularan infeksi dengan M. dan penyakit paru berkavitas yang luas seringkali sangat menular. Sebagian penderita menjadi tidak infeksius dalam dua minggu setelah pemberian kemoterapi yang tepat karena penurunan jumlah kuman yang dikeluarkan dan kurangnya batuk (4). Infeksi berkaitan dengan jumlah kuman pada sputum yang dibatukkan. bersin. Basilus tuberkel disekret pernafasan membentuk nuclei droplet cairan yang dikeluarkan selama batuk. . penyakit endobrokhial. tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet. Droplet keluar dari jarak dekat dari mulut. Perkiraan yang beralasan tentang besarnya angka tuberculosis di dunia adalah sepertiga populasi dunia terinfeksi dengan M. Kuman yang bersarang di jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. ia bertumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. tidak satupun yang penting. Penularan M. tuberculosis merupakan penyebab tunggal morbiditas dan mortalitas yang terpenting pada pasien AIDS. dengan 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun. Bila kuman menetap di jaringan paru.negara dengan infeksi HIV endemik. Jumlah basilus yang dikeluarkan oleh kebanyakan orang yang terinfeksi tidak banyak. dan penularan infeksi di luar rumah jarang terjadi pada siang hari. bovis telah lama dikaitkan dengan konsumsi susu sapi yang tercemar.

Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer(2). Per kontinuitatum. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik. Tuberculosis post-primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. ahli radiologi. ahli patologi. Komplikasi dan menyebar secara : a. dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Secara limfogen. Semua kejadian diatas tergolong dalam perjalanan tuberculosis primer 2. yakni menyebar ke sekitarnya. b. Tuberculosis paru (Koch Pulmonum) aktif. . non aktif dan quiescent. Secara hematogen. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus. ke organ tubuh lainnya. Tuberculosis primer (Childhood tuberculosis) Tuberculosis post primer (Adult tuberculosis) 2. mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang keseragaman klasifikasi tuberculosis. klasifikasi di hilus atau kompleks sarang Ghon. Tuberculosis Post-primer Kuman yang dormant pada tuberculosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberculosis dewasa (tuberculosis post-primer). Klasifikasi Tuberculosis Sampai sekarang belum ada kesepakatan di antara para klinikus. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi (2) : 1. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan bermacam-macam jaringan ikat (2).Dari sarang primer ini akan timbul peradangan saluraan getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). ke organ tubuh lainnya d. Invasinya adalah kedaerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru. 3. c. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Dari sistem lama diketahui beberapa klasifikasi seperti: 1. 2.

Riwayat kontak negatif. 2. sehingga penderita merasa tidak pernah terbebas dari . Klasifikasi diatas dititik beratkan pada bidang patologi. Di Indonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah: 1. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari sepertiga bagian satu paru. Tuberculosis paru tersangka. tapi tidak sakit. terdapat sebagian kecil infiltrat non kavitas pada satu paru maupun kedua paru. Kategori O: tidak pernah terpapar. mikrobiologi dan radiologi (2). tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus. radiologis dan sputum negatif. kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced tuberculosis.3. yang terbagi dalam: i. Tuberculosis minimal. Disini sputum BTA negatif. Bagitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza ini. ii. Kategori II: terinfeksi tuberculosis. tetapi tidak terbukti terinfeksi. Demam Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. test tuberculin negatif. 1. Kategori III: terinfeksi tuberculosis dan sakit. Gejala-gejala Klinis Keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali. tapi tanda-tanda lain positif. Tuberculosis paru 2. Tuberculosis paru tersangka yang diobati. tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-41ºC. 4. Kategori I: terpapar tuberculosis. Far Advanced Tuberculosis. Serangan demam pertama dapat sembuh kembali. 3. Keluhan yang terbanyak adalah: 1. Moderately Advanced Tuberculosis. dan tidak terinfeksi. Bekas tuberculosis paru 3. Pada tahun 1974 American Thoracic Society memberikan klasifikasi baru yang diambil dari klasifikasi kesehatan masyarakat (2). Tuberculosis paru tersangka tersangka yang tidak diobati. Test tuberculin positif. Riwayat kontak positif. test tuberculin negatif. Jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Disini sputum BTA negatif dan tanda-tanda lain juga meragukan.

Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paruparu. ronkhi basah). diafragma. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas. Gajala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (2). Sifat batuk mulai dari kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). 4. Keadaan ini sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk. Foto toraks PA dan lateral.serangan demam influenza. b. badan makin kurus (berat badan turun). Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB yaitu: . dan mediastinum. Nyeri dada Gejala ini agak jarang ditemukan. c. nyeri otot. Sesak nafas Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas. Secret di saluran nafas dan ronkhi. 2. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. tidak ada nafsu makan. Batuk Batuk dapat terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. meriang. sakit kepala. Tanda-tanda penarikan paru. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronchus. Malaise Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun. Tanda-tanda infiltrat (redup. limfositosis) 3. bronchial. Gejala malaise sering ditemukan berupa: anoreksia. Nyeri dada timbul apabila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 5. d. tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronchus. Keadaan yang lebih lanjut adalah berupa batuk darah (hemoptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah. dll. 2. Kriteria Diagnosis Diagnosis penyakit tuberculosis didasarkan pada: 1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda: a. keringat malam. Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat. 3.

Becton Dickinson Diagnostic Instrument System (BACTEC) 9. Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) 10. d. Bayangn menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian. Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular).a. g. Tes PAP (peroksidase anti peroksidase) Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB. tunggal.6). kelainan radiologis sampai kelainan bakteriologis. Adanya kalsifikasi. terutama di lapangan atas paru. 4. f. Kelainan bilateral. Adanya kavitas. atau ganda. Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah. Tes Mantoux/Tuberkulin 7. b. namun pemeriksaan ini tidak sensitive karena hanya 30-70% pasien TB yang tidak dapat didiagnosis berdasarkan pameriksaan ini. c. Tetapi dalam prakteknya tidak mudah menegakkan diagnosisnya menurut American Thoracic society diagnosis pasti tuberculosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis dalam sputum atau cairan paru secara biakan (2. gejalagejala kelainan fisis. Penatalaksanaan Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis yakni (2): . e. 6. Teknik Polymerase Chain Reaction Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada1 mikroorganisme dalam specimen. Selain itu teknik PCR ini juga dapat mendeteksi adanya resistensi. 8. MYCODOT (5). Bayangan milier. Pemeriksaan Sputum BTA Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru. 5. Diagnosis Diagnosis tuberculosis cukup mudah ditegakkan mulai dari keluhan-keluhan klinis.

Dalam pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat saja. (Para Amino Salicylic Acid) f. Etambutol 2. Viomisin . Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi.1. Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan). sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid. Isoniazid b. Kanamisin e. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini.Aktivitas sterilisasi Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). 2. Etionamid b. Streptomisin e. Tiasetazon g. Pirazinamid d. Dengan memakai perpaduan obat ini. P. Sikloserin d. terapi tuberculosis dilskukan dengan memakai perpaduan obat.Rifampisin c. Obat sekunder a. Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.Aktivitas bakterisid Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif).A. Obat primer a. kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH (2). Jenis obat yang dipakai : 1.S. Protionamid c.

600 mg/hari (BB>50 kg) c.Obat Anti Tuberculosis (OAT) a. Etambutol (E) 25 mg/kg BB/hari untuk 2 bulan pertama. dimana diberikan INH + Rifampisin +Streptomisin atau Etambutol atau Pirazinamid (Z) setiap hari sebagai fase initial selama 1-2 bulan dilanjutkan dengan INH + Rifampisin atau Etambutol atau Streptomisin 2-3 kali seminggu selama 4-7 bulan. Sardjito. 2. intramuskuler. Biaya keseluruhan untuk pengobatan menjadi lebih hemat dan efisien. Pirazinamid (Z) 3 kali 500 mg selama 2 bulan pertama. dan dilanjutkan dengan Isoniazid + Rifampisin 2 kali seminggu selama 5 bulan)(2). istirahat cukup . Oleh karena itu Departemen Kesehatan R. Dengan pemberian terapi jangka pendek akan didapat beberapa keuntungan seperti : 1. Isoniazide (H) 400 mg/hari (harus diberikan suplemen piridoksin 25-50 mg/hari) b. Menurut Standard Pelayanan Medik RSUP Dr. . d. penanganan pasien Tuberculosis dibedakan menjadi: 1.Diit TKTP. 4.I. Setelah diketemukannya Rifampisin maka paduan obat menjadi: INH + Rifampisin + Streptomisin atau Etambutol setiap hari (fase initial) dan diteruskan dengan INH + Rifampisin atau Etambutol (fase lanjut) Paduan ini selanjutnya berkembang menjadi terapi jangka pendek. 3. Jumlah penderita yang membangkang menjadi berkurang. dalam rangka program pemberantasan penyakit tuberculosis paru lebih menganjurkan terapi jangka pendek dengan perpaduan obat HRE/5 H2R2 (Isoniazid + Rifampisin + Etambutol setiap hari selama satu bulan. Steptomisin injeksi 1 gram. Waktu pengobatan lebih dipersingkat. setiap hari atau 2 kali seminggu. Umum . Tenaga pengawas pengobatan menjadi lebih hemat dan efisien. sehingga lama pengobatan keseluruhan menjadi 6-9 bulan. Kapreomisin Sebelum ditemukannya rifampisin metode terapi terhadap tuberculosis paru adalah dengan system jangka panjang (terapi standar) yaitu: INH (H) + Streptomisin (S) + PAS atau Etambutol (E) tiap hari dengan fase initial selama 1-3 bulan dan dilanjutkan dengan INH +Etambutol atau PAS selama 12-18 bulan. Rifampisin (R) 400 mg/hari (jika berat badan <50kg).h. e. dilanjutkan dengan 15 mg/kg untuk masa terapi selanjutnya.

menutup empiema kronik. subkutan). Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif. bahaya aspirasi dan resiko penyebaran kebagian lain paru.Umumnya 2-3 minggu .Pemberian obat penenang (fenobarbital 60-120 mg. Khusus . memperbaiki perasaan.f. nafsu makan dan menurunkan demam) . . 4. . . 3. .Dapat ditambahkan pemberian vasopresin 10 ui dalam 10 ml NaCl 0. focus yang menjadi sumber kekambuhan. Perawatan intensif .Konversi sputum setelah 2-3 bulan terapi . terapi anti shock.Jika ada perdarahan masif.Codein sulfat 4-6 kali 10-15 mg untuk menekan batuk (tidak boleh morfin).Bervariasi. 2.Kortikosteroid (diberikan jika sangat parah dan tampak toksis. umumnya 12 bulan setelah terapi (7) Prognosis 1. Kombinasi OAT yang lazim diberikan adalah 2 HRZ/4-6 HRE (2 bulan HRZ dilanjutkan dilanjutkan HRE setiap hari selama 4 bulan) atau 2 HRZE/4-6 H2R2E2 (kombinasi HRZE setiap hari selama 2 bulan dilanjutkan dengan HRE 2 kali seminggu selama 4-6 bulan. Lama pemulihan . .Terapi teratur selama 2 minggu dapat membuat pasien tidak berbahaya terhadap masyarakat sekitarnya. Lama perawatan .Obat batuk sebaiknya tidak diberikan. Jika berobat teratur sembuh total (95%). 5.9% (normal salin) intravena pelan-pelan.Terapi kolaps untuk pneumothoraks . 2. kecuali jika sangat mengganggu dapat diberikan codein sulfat 4-6 kali 10-15 mg.Perbaikan pada X-foto terlihat setelah terapi 4 minggu .Pembedahan jika ada kecurigaan perubahan kearah keganasan. sternosis bronkus.Lama pengobatan sebaiknya 6-8 bulan . hanya sekitar 1 % yang mungkin relaps(7).

Penyebaran penayakit tuberculosis paru ini juga dapat terjadi ke ginjal. tuberculosis miliaris ini dapat menyerupai gambaran “badai kabut” (snow storm appearance). Oleh karena itu radiograf mula-mula mungkin berbentuk normal. Perlu dilakukanyya suatu penanganan yang menerapkan prinsip pengobatan dengan perbaikan gizi dan tata cara kehidupan penderita. Bayangan-bayangan ini sebenarnya disebabkan oleh superposisi dari banyak tuberkel. bayangan-bayangn hilang jauh sebelum tuberkel-tuberkel secara patologis benar-benar menghilang.Komplikasi 1. atau sebesar kepala jarum (milium). seakan-akan tiap bintik itu dapat diangkat dengan pinset. selaput otak (meninges). Pada foto toraks. Mungkin ada tandatanda lain dari tuberculosis paru-paru seperti suatu kavitas. tersebar merata dikedua belah paru. Sepsis (8). sendi. abses paru. Gambaran tuberculosis milier berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru (2). Gambaran radiologis dari tuberculosis miliaris adalah terlihatnya bayangan nodul-nodul halus yang tersebar di seluruh lapangan paru (11). KESIMPULAN Tuberculosis paru sampai saat ini masih merupakan problem kesehatan yang masih sulit terpecahkan. Akan tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau didaerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada tuberculosis endobronkhial). Pada pemeriksaan radiologi. aspirasi. tetapi pada satu kasus biasanya sama besar. pnemonia. Kematian akibat aspirasi 3. sehingga sebaiknya pengobatan tetap diteruskan walaupun pasien telah merasa enak badan dan oleh karena gambaran radiologi telah menjadi normal. syok. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Pada saat ini pemeriksaan radiologi dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberculosis. tapi dapat memberikan keuntungan yaitu pada pemeriksaan tuberculosis pada anak dan tuberculosis milier. gambaran tuberculosis milier yang berupa bayangan-bayangan kecil itu kelihatan berbatas sangat tegas. akan tetapi akan tampak bayangan-bayangan itu didalam kira-kira 2 minggu. Lokasi lesi tuberculosis umumnya didaerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau segmen apical lobus bawah). dan ini mungkin sama sekali tidak mengakibatkan suatu bayangan sebelum jumlahnya cukup banyak atau besarnya cukup luas untuk menyebabkan suatu bayangan karena superposisi. Pada kedua hal ini diagnosis dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologis dada karena pemeriksaan sputum hamper selalu negative. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih dibandingkan pemeriksaan sputum. Besarnya pada tiap kasus berlainan. Perdarahan (hemaptoe) massif. tulang. 2. atau kelenjar-kelenjar hilus mungkin membesar (10). Akibat adanya penyebaran tuberculosis paru secara hematogen akan tampak sarang-sarang sekecil 1-2 mm. . dan sebagainya (9). Sementara didalam pengobatan.

tuberculosis miliaris ini dapat menyerupai gambaran “badai kabut” (snow storm appearance) yang berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru . Pada pemeriksaan foto toraks.Tuberculosis Miliaris merupakan jenis tuberculosis yang bervariasi dari infeksi kronis.. progresif lambat hingga penyakit fulminan akut yang disebabkan oleh penyebaran hematogen atau limfogen dari bahan kaseosa terinfeksi ke dalam aliran darah dan mengenai banyak organ dengan tuberkel-tuberkel mirip benih padi.