You are on page 1of 29

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 17

BAB II
PERENCANAAN BADAN BENDUNG

2.1 Data Perencanaan
 Debit banjir rencana (Qd) : 350 m
3
/det
 Lebar dasar sungai pada lokasi bendung : 42 m
 Elevasi dasar sungai pada dasar bendung : +220,00 m
 Elevasi sawah bagian hilir tertinggi dan terjauh : +221,75 m
 Elevasi muka tanah pada tepi sungai : +226,50 m
 Kemiringan / slope dasar sungai (I) : 0,0030
 Tegangan tanah yang diijinkan (σt) : 2,45 kg/cm
2

 Pengambilan satu sisi (Q1) : 3,5 m
3
/det

2.2 Perhitungan Hidrolika Air Sungai
2.2.1Menentukan Tinggi Air Maksimum Pada Sungai

d3 d3
b
d3
1
1

Gambar 2.1 Penampang Melintang Sungai
Data sungai :
Kemiringan dasar sungai (I) = 0,0030
Lebar dasar sungai (b) = 42 m
Debit banjir rencana (Q
d
) = 350 m
3
/dt
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 18

Persamaan :
2
3 3
d d b A + · =
P
A
R =
3
2 2 d b P · + =
|
.
|

\
|
+
=
R
C
¸
1
87

I R C v · · =
3

3
v A Q · =

Dimana :
Q = debit (m
3
/dt)
A = luas penampang (m
2
)
d
3
= tinggi air sungai maksimum di hilir bendung (m)
P = keliling basah (m)
R = jari – jari hidrolis (m)
γ = 1,65 (untuk dinding saluran yang terbuat dari tanah biasa)
C = koef. Chezy
v
3
= kecepatan aliran sungai di hilir (m/dt)
Kedalaman maksimum air sungai dicari dengan metode coba-coba sampai
diperoleh Q = Q
design
. Kemiringan tepi sungai dianggap 1 : 1.







Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 19

Tabel 2.1 Perhitungan Tinggi Air Maksimum di Hilir Bendung
Bagian
Perkiraan tinggi air (d
3
) m
2,331 2,332 2,333
2
3 3
d d b A + · =
103,336 103,382 103,429
3
2 2 d b P · + =
46,318 46,319 46,320
P
A
R =
2,231 2,232 2,233
|
.
|

\
|
+
=
R
C
¸
1
87

41,336 41,341 41,346
I R C v · · =
3

3,382 3,383 3,384
3
v A Q · =
349,456 349,729 350,002 (OK)

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka diperoleh tinggi air sungai maksimum
pada hilir bendung sebesar d
3
= 2,333 m.

 Penggolongan Jenis aliran air dengan Bilangan Froude (Fr) :
Fr = 1 → aliran kritis
Fr > 1 → aliran superkritis
Fr < 1 → aliran subkritis

(termasuk aliran subkritis)

2.2.2 Menentukan Lebar Bendung
Lebar bendung merupakan suatu jarak antara pangkal-pangkalnya (abutment).
Agar tidak mengganggu sifat pengaliran setelah dibangun bendung dan untuk
menjaga agar tinggi air di depan bendung tidak terlalu tinggi , maka nilai B dapat
diperbesar sampai B ≤ 1,2 Bn.



1 463 , 0
333 , 2 . 81 , 9
3,384
3
< = =
·
=
d g
V
F
R
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 20

 Lebar sungai rata-rata / lebar air normal (Bn)
Bn = b + 2 (1/2 d
3
)
= b + d
3

= 42 + 2,333
= 44,333 m
 Lebar maksimum / panjang bendung (B)
B = 1,2 Bn Dimana :
= 1,2 x 44,333 Bn = lebar air normal (m)
= 53,1996 ≈ 53,2 m B = lebar bendung (m)
 Tinggi jagaan (freeboard)
Untuk menentukan besarnya tinggi jagaan (freeboard) maka dapat dipergunakan
tabel 1.1 yang terdapat pada Bab sebelumnya :
Tabel 1.1 Tinggi Jagaan Minimum Untuk Saluran Tanah
Q (m
3
/dt) Tinggi Jagaan
< 0,5 0,40
0,5 – 1,5 0,50
1,5 – 5,0 0,60
5,0 – 10,0 0,75
10,0 – 15,0 0,85
>15,0 1,00
Sumber : Kriteria perencanaan KP-03
Berdasarkan dari debit (Q) yang ditentukan yaitu sebesar 350 m
3
/dt, maka dapat
diketahui bahwa tinggi jagaan (freeboard) yang diijinkan yaitu 1 m.








Gambar 2.2 Panjang Lebar Maksimum Bendung
b = 42 m
d3 = 2,4 m
d
3/2
Bn = 44,4 m
B = 53,2 m
1
1
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 21

2.2.3 Menentukan Lebar Efektif Bendung
Lebar efektif bendung adalah lebar bendung yang bermanfaat untuk
melewatkan debit. Pada saat banjir, pintu pembilas ditutup, ujung atas pintu bilas
tidak boleh lebih tinggi dari mercu bendung, sehingga air bisa lewat diantaranya.
Kemampuan pintu bilas untuk mengalirkan air dianggap hanya 80% saja, maka
disimpulkan besar lebar efektif bendung adalah :
B
eff
= L’ = B − ∑b − ∑t + 0,80. ∑b
= B − ∑t – 0,20.∑b
Dimana :
B
eff
= lebar efektif bendung (m)
B = lebar seluruh bendung (m)
∑t = jumlah tebal pilar (m)
∑b = jumlah lebar pintu bilas (m)

 Lebar Pintu Pembilas (b
1
)
m
B
b
32 , 5
10
2 , 53
10
1
=
=
=
¿

Lebar maksimum pintu penguras = 2 m
buah n 3 66 , 2
0 , 2
32 , 5
~ = =

m m b 8 , 1 773 , 1
3
32 , 5
1
~ = =
Lebar pintu pembilas (b
1
) = 1,8 m
Tebal pilar (t) diambil = 1,5 m


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 22

Pengambilan air direncanakan dari satu sisi (pada sisi kiri), maka :

m
b t B B
eff
62 , 47
) 8 , 1 3 ( 20 , 0 ) 5 , 1 3 ( 2 , 53
20 , 0
1
=
· · ÷ · ÷ =
· ÷ ÷ =
¿ ¿

Direncanakan 3 pintu pembilas dan 3 pilar.

Beff
t
b
t
b
t
b
B

Gambar 2.3 Lebar Efektf Bendung (B
eff
)





Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 23

2.2.4 Menentukan Tinggi Bendung
Menentukan Tinggi Bendung
 Elevasi sawah yang tertinggi dan terjauh = 221,75 m
 Ketinggian air di sawah = 0,10 m
 Kehilangan tekanan dari tersier ke sawah = 0,10 m
 Kehilangan tekanan dari sekunder ke tersier = 0,10 m
 Kehilangan tekanan dari primer ke sekunder = 0,10 m
 Kehilangan tekanan akibat kemiringan saluran = 0,30 m
 Kehilangan tekanan pada alat-alat ukur = 0,40 m
 Kehilangan tekanan dari sungai ke primer = 0,20 m
 Kehilangan tekanan karena eksploitasi = 0,10 m
 Kehilangan tekanan karena bangunan – bangunan = 0,25 m
+
JUMLAH = 223,40 m
- Elevasi puncak bendung (x) = +223,40 m
- Elevasi dasar sungai pada dasar bendung (y) = +220,00 m

Jadi Tinggi Mercu Bendung (P) = x – y
= 223,40 m – 220,00 m
= +3,40 m

2.3 Perhitungan Tinggi Air Maksimum di atas Mercu Bendung







Gambar 2.4 Rencana Bendung

M.A.N
M.A.B He
h
vc
d
0
h
v0
p
H d
c
d
1
E
c
h
v2
d
2
d
3
h
v3
h
v1
E
1
E
2
E
3
v
1
v
3
L
T
v
0
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 24

2.3.1 Menentukan Tinggi Total Muka Air di atas Mercu Bendung
Tinggi mercu bendung (P) = 3,40 m
Lebar efektif bendung (B
eff
) = 47,62 m
Dipakai bendung tipe Ogge :
Q = C . B
eff
. He
3/2

eff
d
C
Q
He
L
2
3
·
=


3
2
L
|
|
.
|

\
|
·
=
eff
d
C
Q
He

Dimana :
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/dt)

B
eff
= lebar efektif bendung (m)
He = tinggi total air di atas bendung (m)
C = koefisien pelimpasan (discharge coefficient)
C
1
= dipengaruhi sisi depan bendung
C
2
= dipengaruhi lantai depan
C
3
= dipengaruhi air di belakang bendung
Nilai C, C
1
, C
2
dan C
3
diperoleh dari grafik ratio of discharge coefficient (pada
lampiran).
Untuk menentukan tinggi air di atas bendung digunakan cara coba-coba (trial and
error) dengan menggunakan tinggi perkiraan He terlebih dulu.
Dicoba He = 2 m, maka :
 7 , 1
2
40 , 3
= =
He
P

Dari grafik DC-12 (pada lampiran) diperoleh C
1
= 2,108 (dengan upstream
face : vertikal).


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 25

 m d H P h
e d
067 , 3 2,333 2 40 , 3
3
= ÷ + = ÷ + =
7 , 2
2
333 , 2 067 , 3
3
=
+
=
+
He
d h
d

Dari grafik DC-13, A diperoleh C
2
= 1,00
 534 , 1
2
067 , 3
= =
e
d
H
h

Dari Grafik DC-13, B diperoleh C
3
= 1,00
 Diperoleh C = C
1
x C
2
x C
3

= 2,108 x 1 x 1
= 2,108
 ` 3 , 2 299 , 2
47,62 x 2,108
350
3
2
3
2
He He m m
C x L
Q
He'
eff
d
= ¬ ~ = |
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
Perhitungan selanjutnya ditabelkan.



Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 26

Tabel 2.2 Perhitungan Tinggi Muka Air di Atas Mercu Bendung
Bagian
Tinggi Perkiraan (He)
Catatan
2,305 2,308 2,310
Q
d

350 350 350 P = 3,40 m
d
3
= 2,333 m
B
eff
= 47,62 m










He’ ≈ He
hd
3,3720 3,3750 3,3770

1,4751 1,4731 1,4719

2,4751 2,4731 2,4719

1,4629 1,4623 1,4619
C
1

2,0937 2,0934 2,0932
C
2

1 1 1
C
3

1 1 1
C
2,0937 2,0934 2,0932
Beff
47,62 47,62 47,62

(

)


2,3098 2,3100 2,3102

Maka diperoleh tinggi total air di puncak atau mercu bendung (He) adalah 2,31 m.

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 27

2.3.2 Tinggi Air Maksimum di Hulu Mercu Bendung
Tabel 2.3 Perhitungan Tinggi Air Maksimum di Hulu Mercu Bendung








Maka diperoleh :
h
vo
= h
v’
= 0,0871 m
H = 2,223 m
d
o
= 5,623 m
A = 267,76 m
2

V
o
= 1,307 m/dt

Dimana :
h
v0
= tinggi kecepatan di hulu sungai (m)
H = tinggi air maksimum diatas mercu (m)
d
0
= tinggi muka air banjir di hulu bendung (m)
V
0
= kecepatan aliran di hulu bendung (m/dt)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/dt
2
)



Bagian
Tinggi Perkiraan h
vo
(m)
Catatan
0,0869 0,0870 0,0871
H = He - H
vo

2,223 2,223 2,223
P = 3,40 m
d
3
= 2,333 m
B
eff
= 47,62 m
He = 2,31 m
Q
d
= 350 m
3
/dt
h
v’
≈ h
vo

d
o
= H + P
5,623 5,623 5,623
A = B
eff
, d
o

267,77 267,77 267,76

1,307 1,307 1,307

0,0871 0,0871 0,0871
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 28

2.4 Perhitungan Ketinggian Energi pada Tiap Titik
2.4.1 Tinggi Energi pada Aliran Kritis
 Menentukan hidrolic pressure of the weir (d
c
)
q =

=

=

= 7,350 m
2
/dt
d
c
= (

)



= (

)


= 1,766 m
 Menentukan harga Ec
V
c
=

=

= 4,162 m/dt
h
vc
=

=

= 0,833 m
E
c
=

=
= 6,049 m
dimana :
d
c
= tinggi air kritis di atas mercu (m)
v
c
= kecepatan air kritis (m/dt)
h
vc
= tinggi kecepatan kritis (m)
E
c
= tinggi energi kritis (m)



Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 29

2.4.2 Tinggi Energi (Air Terendah) pada Kolam Olakan
Tabel 2.4 Perhitungan Tinggi Energi (Air Terendah) pada Kolam Olakan

Bagian
Perkiraan Kecepatan (v
1
)
Catatan
10,2 10,220 10,226

0,721 0,719 0,719
q = 7,350 m
2
/dt
g = 9,81 m/dt
2




E
1
≈ E
c

5,303 5,324 5,330

6,023 6,043 6,049


Maka, diperoleh :
v
1
= 10,226 m/dt
d
1
= 0,719 m
hv
1
= 5,330 m
E
1
= 6,049 m
dimana :
d
1
= tinggi air terendah pada kolam olakan (m)
v
1
= kecepatan aliran pada punggung bendung (m/dt)
h
v1
= tinggi kecepatan (m)
E
1
= tinggi energi (m)

2.4.3 Tinggi Energi (Air Tertinggi) pada Kolam Olakan
 Fr =

=



= 3,850
 d
2
=

*


+
=

*


+
= 3,572 m

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 30

 v
2
=

=

= 2,058 m/dt
 h
v2
=

=

= 0,216 m
 E
2
=

= = 3,788 m
dimana :
Fr = bilangan Froude
d
2
= tinggi air tertinggi pada kolam olakan (m)
v
2
= kecepatan aliran ( m/dt

)
h
v2
= tinggi kecepatan (m)
E
2
= tinggi energi (m)
2.4.4 Tinggi Energi di Hilir Bendung
Pada perhitungan sebelumnya, telah diperoleh :
v
3
= 3,384 m/dt
d
3
= 2,333 m
h
v3
=

=

= 0,584 m
E
3
=

= = 2,917 m
dimana :
v
3
= kecepatan aliran di hilir bendung (m/dt)
d
3
= tinggi air di hilir bendung (m)
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 31

h
v3
= tinggi kecepatan di hilir bendung (m)
E
3
= tinggi energi di hilir bendung (m)
2.4.5 Perhitungan Panjang dan Dalam Penggerusan
 Dalam penggerusan (Scouring Depth)
d
0
= 5,623 m
d
3
= 2,333 m
h = d
0
– d
3

= 5,623 − 2,333 = 3,290 m
q = 7,350 m
2
/dt
Schoklish Formula :
T =

=

= 3,029 m
dimana :
h = beda tinggi muka air di hulu dan di hilir (m)
d = diameter material terbesar yang jatuh ke dalam kolam olak
(d = 300 mm)
T = dalam penggerusan (m)
 Panjang penggerusan (Scouring Length)
v
1
= 10,226 m/dt
H = 2,223 m
P = 3,40 m
Angerholzer Formula :
L = (

√ ) (

)
=

(

)
= 17,027 m


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 32

dimana :
v
1
= kecepatan aliran pada punggung bendung (m/dt)
H = tinggi air maksimum dari puncak mercu (m)
P = tinggi mercu bendung (m)
L = panjang penggerusan (m)
2.4.6 Elevasi Masing – Masing Titik :
 Elev. Dasar sungai = + 220,00 m
 Elev. Muka air normal (MAN) = 220 + P
= 220 + 3,40
= + 223,40 m
 Elev. Muka air banjir (MAB) = 220 + d
0

= 220 + 5,623
= + 225,623 m
 Elev. Energi kritis = 220 + Ec
= 220 + 6,049
= + 226,049 m
 Elev. Energi di hilir bendung = 220 + E
3

= 220 + 2,917
= + 222,917 m
 Elev. Dasar kolam olakan = 220 – (T- d
3
)
= 220 – (3.029 - 2,333 )
= + 219,304 m
 Elev. Sungai maksimum di hilir = 220 + d
3

= 220 + 2,333
= + 222,333 m





Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 33

He = 2,31 m
hvo = 0,09 m
do = 5,63 m
H = 2,23 m
hvc = 0,84 m
dc = 1,8 m
P = Hd = 3,40 m
hv1 = 5,33 m
d1 = 0,72 m
hv2 = 0,22 m
d2 = 3,58 m
hv3 = 0,6 m
d3 = 2,34 m
T = 3,03 m
L = 17,03 m
Vo = 1,31 m/dt
Ec = 6,05 m E1 = 6,05 m
E2 = 3,8 m E3 = 2,92 m
v3 = 3,4 m/dt
MAN
MAB
hd = 3,4 m
Vc = 4,17 m/dt
V1 = 10,23 m/dt
v2= 2,06 m/dt
+ 220 m
+ 223,4 m
+ 225,63 m
+ 226,05 m
+ 219,31 m
+ 222,34 m
+ 222,92 m








Gambar 2.5 Sketsa Ukuran Hidrolis Bendung Tipe Ogee

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 34

2.5 Perencanaan Bentuk Mercu Bendung
2.5.1 Menentukan Bagian Upstream (Muka) Bendung
Untuk menentukan bentuk penampang kemiringan bendung bagian hulu,
ditetapkan berdasarkan parameter seperti He dan P, sehingga akan diketahui
kemiringan bendung bagian up stream seperti ketentuan Tabel 2.5.
Data :
He = 2,31 m
P = 3,40 m

=

= 1,472
Hd = He – hv
0

= 2,31 - 0,0871
= 2,223 m
Tabel 2.5 Nilai P/He Terhadap Kemiringan Muka Bendung
P/He Kemiringan
< 0,40 1 : 1
0,40 – 1,00 3 : 2
1,00 – 1,50 3 : 1
> 1,50 Vertikal

Dari tabel, untuk P/He = 1,472 diperoleh kemiringan muka bendung adalah
3:1, Bentuk mercu yang dipilih adalah mercu Ogee. Bentuk mercu Ogee tidak akan
memberikan tekanan subatmosfer pada permukaan mercu sewaktu bendung
mengalirkan air pada debit rencana, karena mercu Ogee berbentuk tirai luapan
bawah dari bendung ambang tajam aerasi. Untuk debit yang rendah, air akan
memberikan tekanan ke bawah pada mercu.
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 35

Dari buku Standar Perencanaan Irigasi KP-02 Gambar 4.9, untuk bendung
mercu Ogee dengan kemiringan 3 : 1, pada bagian upstream diperoleh nilai sebagai
berikut :
X
0
= 0,139 Hd = 0,139 . 2,223 = 0,309 m
X
1
= 0,237 Hd = 0,237 . 2,223 = 0,527 m
R
0
= 0,68 Hd = 0,68 . 2,223 = 1,512 m
R
1
= 0,21 Hd = 0,21 . 2,223 = 0,467 m

2.5.2 Menentukan Bagian Downstream (Belakang) Bendung
Untuk merencanakan permukaan mercu Ogee bagian hilir, U.S. Army Corps
of Engineers mengembangkan persamaan sebagai berikut :
y H k x
n n
. .
) 1 ( ÷
= …………………………………….(1)
Dimana :
 k dan n tergantung kemiringan up stream bendung
 Harga – harga k dan n adalah parameter yang ditetapkan dalam Tabel 2.6
 x dan y adalah koordinat – koordinat permukaan down stream
 H adalah tinggi air di atas mercu bendung

Tabel 2.6 Nilai k dan n Untuk Berbagai Kemiringan
Kemiringan permukaan k n
1 : 1 1,873 1,776
3 : 2 1,939 1,810
3 : 1 1,936 1,836
Vertikal 2,000 1,850
Sumber : Standar Perencanaan Irigasi KP-02
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 36

Bagian upstream : Kemiringan 3 : 1, dari Tabel 2.6 diperoleh :
k = 1,936
n = 1,836
Nilai k dan n disubstitusi ke dalam persamaan (1)
Persamaan downstream
y Hd k x
n n
. .
) 1 ( ÷
=
y x x . 2,223 936 , 1
) 1 836 , 1 ( 836 , 1 ÷
=
y x 775 , 3
836 , 1
=

836 , 1
775 , 3
1
x y =

836 , 1
265 , 0 x y =

2.5.3 Menentukan Koordinat Titik Singgung antara Garis Lengkung dengan Garis
Lurus Sebagian Hilir Spillway
 Kemiringan bendung bagian downstream (kemiringan garis lurus)
1 =
dx
dy
(1 : 1)
 Persamaan parabola :
836 , 1
265 , 0 x y =
Turunan pertama persamaan tersebut :

836 , 1
265 , 0 x y =

836 , 0
487 , 0 x
dx
dy
=

836 , 0
487 , 0 1 x =

487 , 0
1
836 , 0
= x
Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 37

053 , 2
836 , 0
= x
364 , 2 =
c
x m
Substitusikan ke persamaan sebelumnya :

836 , 1
265 , 0 x y =
=
836 , 1
) 364 , 2 .( 265 , 0
= 1,286 m
286 , 1 =
c
y m
Diperoleh koordinat titik singgung ) , (
c c
y x = (2, 364 ; 1,286) m
Jadi perpotongan garis lengkung dan garis lurus terletak pada jarak :
y = 1,286 m dari puncak spillway
x = 2,364 m dari sumbu spillway
2.5.4 Lengkung Mercu Spillway Bagian Hilir
Persamaan :
836 , 1
265 , 0 x y =
Elevasi muka air normal = + 223,40 m
Elevasi dasar kolam olakan = + 219,304 m
) , (
c c
y x = (2,364 ; 1,286) m

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 38

Tabel 2.7 Lengkung Mercu Bagian Hilir (Interval 0,2)
X (m) Y (m) Elevasi (m)
0,000 0,000 223,400
0,200 0,014 223,386
0,400 0,049 223,351
0,600 0,104 223,296
0,800 0,176 223,224
1,000 0,265 223,135
1,200 0,370 223,030
1,400 0,492 222,908
1,600 0,628 222,772
1,800 0,780 222,620
2,000 0,946 222,454
2,200 1,127 222,273
2,300 1,223 222,177
2,364 1,286 222,114

2.5.5 Bagian Hilir Spillway dengan Kemiringan 1 : 1
u tgn = 1;
o
45 = u

persamaan x y tgn
x
y
= ¬ = = 1 u
Elev. dasar kolam olakan : = 220 – (T – d
3
)
= 220 – (3.029 - 2,333 )
= + 219,304 m


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 39

Tabel 2.8 Bagian hilir dengan Kemiringan 1 : 1 (interval 0,2)
X (m) Y (m) Elevasi (m)
2,364 1,286 222,114
2,564 1,486 221,914
2,764 1,686 221,714
2,964 1,886 221,514
3,164 2,086 221,314
3,,364 2,286 221,114
3,564 2,486 220,914
3,764 2,686 220,714
3,964 2,886 220,514
4,164 3,086 220,314
4,364 3,286 220,114
4,564 3,486 219,914
4,764 3,686 219,714
4,964 3,886 219,514
5,164 4,086 219,314
5,174 4,096 219,304


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 40

1
1
X0 = 0,309 m
X1 = 0,527 m
P = 3,40 m
Xc = 2,364 m
Yc = 1,286 m
R1 = 0,467 m
R0 = 1,512 m
+220,000 m
+219,304 m
x
y

Gambar 2.6 Perencanaan Bentuk Mercu Bendung

2.5.6 Perencanaan Lantai Depan ( Apron )
Untuk mencari panjang lantai muka, maka yang menentukan adalah ΔH
terbesar. ΔH terbesar ini biasanya terjadi pada saat air muka setinggi mercu
bendung, sedangkan di belakang bendung adalah kosong. Seberapa jauh lantai muka
ini diperlukan, sangat ditentukan oleh garis hidraulik gradien yang digambar kearah
upstream dengan titik ujung belakang bendung sebagai titik permulaan dengan
tekanan sebesar nol. Miring garis hidraulik gradien disesuaikan dengan kemiringan
yang diijinkan untuk suatu tanah dasar tertentu, yaitu dengan menggunakan Creep
Ratio (c).
Fungsi lantai muka adalah menjaga jangan sampai pada ujung belakang
bendung terjadi tekanan yang bisa membawa butir – butir tanah.

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 41

1
1
X0 = 0,309 m
X1 = 0,527 m
Xc = 2,364 m
Yc = 1,286 m
R1 = 0,467 m
R0 = 1,512 m
+220,000 m
+219,304 m
P = 3,40 m
a
b
c
j
MAN + 223,40 m
x
y
Hab = 0.64 m
Hbc = 0.4 m
Hcd = 0.3 m
Hde = 0.2 m
Hef = 0.1 m
Hfg = 0.2608 m
Hgh = 0.3 m
Hhi = 0.5 m
Hij = 0.5792 m
d
e
f
g
h i
2.000
1.000
1.000
1.000
2.000
1.000
0.580
3.200
2.000
1.500
1.000
0.500 1.304
1.500
2.500
2.896
1.500
1.500











Gambar 2.7 Perencanaan Apron dan Panjang Creepline

a. Menentukan panjang lantai muka dengan rumus Bligh
ΔH =
c
L

L = c . ΔH
Dimana : ΔH = Beda tekanan
L = Panjang creep line
C
bligh
= Creep ratio (diambil c = 5, untuk pasir kasar)



Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 42

ΔH ab =

= 0,64 m
ΔH bc =

= 0,4 m
ΔH cd =

= 0,3 m
ΔH de =

= 0,2 m
ΔH ef =

= 0,1 m
ΔH fg =

= 0,2608 m
ΔH gh =

= 0,3 m
ΔH hi =

= 0,5 m
ΔH ij =

= 0,5792 m


¿
ΔH = 3,28 m
L = 3,28 . 5 = 16,4 m
Faktor keamanan = 1,5 m
Jadi L
total
= 16,4 + 1,5 m = 17,9 m

b. Menentukan Panjang Creep Line (Creep Length)
Panjang horizontal ( L
h
) = 0,580+2+1+2+2,5 +1,304+1+2
= 12,384 m


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 43

Panjang vertikal ( L
v
) = 1,5+1+1+1+2,896+1,5+0,5+1,5+3,2
= 14,096 m
Panjang Total Creep Line ( ΣL ) = L
h
+ L
v

= 12,384 + 14,096
= 26,48 m
Kontrol:
¿
L > AH . c
26,48 > 3,28 . 5
26,48 > 16,4 (konstruksi aman terhadap tekanan air)

c. Pengujian Creep Line ada dua cara yaitu :
1. Bligh’s Theory
L = C
c
. H
b

dimana : L = Panjang creep line yang diijinkan
C
c
= Koefisien Bligh (tergantung bahan yang dilewati, Cc
diambil 5)
H
b
= beda tinggi muka air banjir dengan tinggi air di hilir (m)
H
b
= P + H – d
3

= 3,40 + 2,223 - 2,333
= 3,29 m
Maka, L = Cc . H
b

= 5 . 3,29
= 16,45 m

Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 44

Syarat : L < ΣL
16,45 m < 26,48 m ………………… (OK )

2. Lane’s Theory
L = C
w
. H
b

dimana, C
w
adalah koefisien lane (tergantung bahan yang dilewati,
C
w
diambil 3)
maka, L = C
w
. H
b
= 3 . 3,29
= 9,87 m
L
d
= L
v
+
3
1
L
h
= 14,096 + |
.
|

\
|
× 12,384
3
1

= 18,224 m
Syarat : L < L
d

9,87 m < 18,224 m ………………….. (OK )


Perancangan Irigasi dan Bangunan Air 45

Tabel 2.9 Data Hasil Perhitungan
d
3
2,333 m v
1
10,226 m/dt
v
3
3,384 m/dt d
1
0,719 m
B
ef
47,62 m h
v1
5,330 m
p 3,40 m E
1
6,049 m
He 2,310 m d
2
3,572 m
h
v0
0,0871 m v
2
2,058 m/dt
d
0
5,623 m h
v2
0,216 m
H 2,223 m E
2
3,788 m
v
0
1,307 m/dt T 3,029 m
d
c
1,766 m L 17,027 m
v
c
4,162 m/dt h
v3
0,584 m
h
vc
0,833 m E
3
2,917 m
E
c
6,049 m ΣL 26,48 m