You are on page 1of 29

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM SENSORI PERSEPSI (KATARAK

)

Oleh :

1. AGUSTININGSIH 2. AULIA TRIA AYU ASMARA 3. FRANDY PRATAMA

(150012002) (150012009) (150012015)

PRODI D3 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA 2013-2014

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Katarak ” sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Sistem Sensori Persepsi D-3 Keperawatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik materi, moral maupun spiritual. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Chilyatiz Zahroh, S.Kep, Ns, M.Kep sebagai fasilitator dari topic ini 2. Diah Windiasari, SKM, M.Kes sebagai dosen PJMK 3. Ns. Siti Nurjanah, M.Kep selaku Ketua Prodi DIII Keperawatan 4. Dst.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini memerlukan koreksi terutama dari dosen fasilitator, juga pihak lain agar makalah ini lebih baik lagi.

Surabaya, 27 November 2013

Penulis

2

................ Intervensi keperawatan ................................................................................................... Pathway .... Pengkajian ..... BAB I PEMBAHASAN iii i ii A.....…………………………………............. a................... H...................................................................... 1 1 2 3 5 5 6 9 9 b................................................................................................................ Etiologi ........................ Evaluasi ............................... 15 BAB IV IMPLEMENTASI........................…………………...................................... D............................................................... Manifestasi klinis ...................... G..................................................................................DAFTAR ISI Cover ……………………………………………………….................. Pemeriksaan diagnostik .............................................................. Implementasi .................................................... 25 C............. F.... 25 DAFTAR PUSTAKA 3 ........................................................ E.................. Penatalaksanaan ................................................................................... 25 B.... C........... Diagnosa keperawatan ............... 14 BAB III RENCANA KEPERAWATAN A........................................ Komplikasi .................................. Dokumentasi .......................... Daftar Isi . B........ Asuhan Keperawatan ...................................... Definisi ...................... 13 BAB II MASALAH KEPERAWATAN A.................................................................... Kata Pengantar ……………………………………………..................................................................................................................................................... Klasifikasi ... EVALUASI...................................................................................................... DOKUMENTASI A............................................

katarak traumatik biasanya unilateral dan katarak kongenital biasanya stasioner. yaitu penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. ETIOLOGI Katarak disebabkan oleh berbagai faktor seperti : 1. 5. 3. Dalam bahasa Indonesia. Katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap (Springhouse Co). Derajad disabilitas yang ditimbulkan oleh katarak dipengaruhi oleh lokasi dan densitas keburaman. B. katarak disebut bular. DEFINISI Katarak berasal dari bahasa Yunani “kataarrhakies” yang berarti air terjun. Intervensi diindikasikan jika visus menurun sampai batas klien tidak dapat menerima perubahan dan merugikan atau mempengaruhi gaya hidup klien (yaitu visus 5/15). 2. Katarak adalah gangguan penglihatan yang terjadi akibat mengeruhnya lensa mata atau kekeruhan lensa mata/kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina. 6. Fisik Kimia Penyakit predisposisi Genetik dan gangguan perkembangan Infeksi virus di masa pertumbuhan janin Usia 4 . 4. Katarak biasanya mempengaruhi kedua mata tetapi masing-masing berkembang secara independen kecuali.BAB 1 PEMBAHASAN A.

Katarak senile yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun  Berdasarkan penyebabnya.C. katarak senil dapat dibedakan menjadi : 1. Katarak Traumatika Katarak terjadi akibat rudapaksa atau trauma baik karena trauma tumpul maupun tajam. Katarak Insipien Merupakan stadium awal katarak. hipoparatiroidisme. 3. katarak ini dapat juga terjadi karena penggunaan obat seperti kortikosteroid dan chlorpromazine. Katarak Toksika Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya pajanan dengan bahan kimia tertentu. Selain itu.  Berdasarkan stadium. 4. Penyebab katarak ini antara lain karena radiasi sinar X. radioaktif. dan benda asing. Klien mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda pada penglihatan satu 5 . Katarak Kongenital yaitu katarak yang sudah terlihat pada usia kurang dari 1 tahun. Katarak presenil yaitu katarak yang terjadi sesudah usia 30-40 tahun. 2. KLASIFIKASI Katarak dapat diklasifikasikan menjadi :  Berdasarkan usia pasien. Katarak Komplikata Katarak terjadi akibat gangguan sistemik seperti diabetes melitus. Katarak Juvenil yaitu katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun. katarak dapat dibagi dalam : 1. katarak dapat dibedakan menjadi : 1. yaitu kekeruhan lensa masih berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. 3. atau akibat kelainan lokal seperti glaukoma dan miopia atau proses degenerasi pada satu mata lainnya. Rudapaksa ini dapat mengakibatkan katarak pada satu mata (katarak monokular). 2.

MANIFESTASI KLINIS Keluhan yang timbul adalah penurunan tajam penglihatan secara progresif dan penglihatan seperti berasap. Belum terjadi gangguan tajam penglihatan. proses degenerasi belum menyerap cairan sehingga bilik mata depan memiliki kedalaman normal. dapat juga terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa maupun korteks lensa yang cair dapat masuk kedalam bilik mata depan. Setelah katarak bertambah matang maka retina menjadi semakin sulit dilihat sampai akhirnya reflex fundus tidak ada dan pupil berwarna putih. terjadi kekeruhan lensa . D. Sudut bilik mata depan dapat tertutup sehingga mungkin timbul glaukoma sekunder. 3. Iris dalam posisi biasa disertai kekeruhan ringan pada lensa. dan iris terdorong ke depan serta bilik mata depan menjadi dangkal. Pada stadium ini. Sejak awal. Katarak Hipermatur Pada stadium ini. Bahan lensa dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata depan sehinnga timbul glaukoma fakolitik. Tekanan cairan dalam lensa sudah dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan normal kembali. 4. menyebabkan terjadinya miopi. Tajam penglihatan sudah menurun dan hanya tinggal proyeksi sinar positif. Pada stadium ini. 2. terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa. Katatar Imatur Lensa mulai menyerap cairan sehingga lensa agak cembung. 6 . Pada stadium ini. Katarak Matur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. slit lamp atau shadow test.mata. katarak dapat terlihat melalui pupil yang telah berdilatasi dengan oftalmoskop.

213) Pada katarak senile dikenal 4 stadium. matur dan hipermatur. Ilyas Sidarta. imatur. yaitu insipient. Stadium pada katarak senile Insipien Kekeruhan Cairan lensa Iris Ringan Normal Normal Imatur Sebagian Bertambah Terdorong Matur Seluruh Noral Normal Hipermatur Masif Berkurang Tremulans (Hanya bila zonula putus) Bilik mata depan Sudut Bilik mata Shadow test Penyulit Negatif Positif Glaukoma Negatif Pseudopositif Uveitis. Glaukoma Normal Sempit Normal Terbuka Normal Dangkal Normal Dalam 7 .      Kekeruhan lensa bersifat massif Cairan lensa berkurang Iris tremulans Bilik mata depan dalam Sudut bilik mata terbuka Shadow test preudopos (Menurut. Pada stadium insipient dapat terjadi perbaikan penglihatan dekat akibat peningkatan indeks refraksi lensa.2002.

Tes toleransi glukosa/FBS: menentukan adanya/kontrol diabetes. massa tumor pada hipofisis/otak. 7. karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. Darah lengkap. Lapang penglihatan: penurunan mungkin disebabkan CSV. 2. Oleh karena proses intumesensi. KOMPLIKASI Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena proses fakolitik.E. iris. Fakotopik a. terdorong ke depan sudutkamera okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor 8 . papiledema. fakotopik. Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior akan bertumpuk pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi merabsorbsi substansi lensa tersebut. 5. LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi. Berdasarkan posisi lensa b. 8. Fakolitik Pada lensa yang keruh terdapat lerusakan maka substansi lensaakan keluar yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama bagian kapsul lensa. Kartu mata Snellen/mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan/visus). 3. 4. 1. fakotoksik. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler. Tes provokatif: digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaucoma bila TIO normal atau hanya meningkat ringan. Pemeriksaan sinar celah (Slitlamp) F. Pengukuran gonioskopi: membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma. mencatat atrofi lempeng optik. 6. perdarahan retina. Pengukuran tonografi: mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25mmHg). dan mikroaneurisme. 9. Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehinggatimbul glaukoma. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnose katarak. 2.

sehingga hanya diperlukan insisi kecil. yangkemudian akan menjadi glaucoma. PENATALAKSANAAN Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperi glaukoma dan uveitis. katarak yang terjadi dapat menyebabkan kehilangan pandangan komplet. Katarak terbagi menjadi jenis 9 . Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis. G. Fakotoksik Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagimata sendiri (auto toksik). Tekhnik yang umum dilakukan adalah ekstraksi katarak ekstrakapsular. akibatnya tekanan intraokuler akan meningkat dan timbul glaucoma 3. dimana komplikasi pasca operasi lebih sedikit dan rehabilitasi penglihatan pasien meningkat. katarak imatur. Solusi untuk menyembuhkan penyakit katarak secara medis umumnya dengan jalan operasi.c. Dengan tekhnik ekstraksi katarak intrakapsuler tidak terjadi katarak sekunder karena seluruh lensa bersama kapsul dikeluarkan. Tindakan operasi mengembalikan pandangan pada kurang lebih 95% klien (Springhouse Co). Lapisan di mata diangkat dan diganti lensa buatan (lensa intraokuler). dapat dilakukan pada yang matur dan zonula zinn telah rapuh. yang masih memiliki zonula zinn. dimana isi lensa dikeluarkan melalui pemecahan atau perobekan kapsul lensa anterior sehingga korteks dan nukleus lensa dapat dikeluarkan melalui robekan tersebut. Namun dengan tekhnik ini dapat timbul penyulit katarak sekunder. yakni operasi dengan sinar laser. Operasi ini cukup riskan dan tidak menjanjikan kesembuhan 100%. Baru-baru ini ditemukan teknologi canggih. Tanpa pembedahan. namun tidak boleh dilakukan pada pasien berusia kurang dari 40 tahun. aqueaous tidak lancar sedangkan produksi berjalan terus. Dapat pula dilakukan tekhnik ekstrakapsuler dengan fakoemulsifikasi yaitu fragmentasi nukleus lensa dengan gelombang ultrasonik.

menurut perkembangan (katarak kongenital) dan menurut proses degenaratif (katarak primer dan katarak komplikata). Selain itu. 9 dari 10 orang yang menjalani operasi katarak. dipasang sebuah lensa buatan pada posisi yang sama dengan posisi lensa mata sebelumnya. yaitu kurang dari 30 menit. atau rumah sakit modern. Sehingga. Lensa yang telah hancur berkeping-keping kemudian diisap keluar. melalui sayatan tersebut dimasukkan bilah ultrasonik. Cara terbaik untuk mengobati katarak adalah dengan operasi. Keuntungannya adalah lama operasi lebih singkat. Pada fakoemulsifikasi. Sedangkan mikroskop besarnya memiliki berat sekitar 150 kg. yaitu: 1. Kendala yang dihadapi teknik ini adalah harga mesinnya yang mahal dan membutuhkan mikroskop yang besar. membutuhkan obat pemati rasa lebih sedikit dan tidak perlu penjahitan. juga melalui bilah ultrasonik tersebut. Walaupun. dengan menggunakan mikroskop operasi. yaitu dengan mengeluarkan lensa mata yang keruh. setidaknya ada tiga macam teknik operasi katarak. dan biasanya penderita tidak perlu menjalani rawat inap. harga satu buah lensa phacoe setara dengan 5 lensa non-phaco. Menurut laporan. beberapa diantaranya masih memerlukan kacamata. ahli bedah mata akan melakukan sayatan yang sangat kecil pada permukaan mata. 10 . Setelah semua sisa lensa dikeluarkan. Teknik operasi ini paling banyak digunakan. Saat ini. Operasi katarak mempunyai tingkat keberhasilan yang lumayan tinggi. Bilah tersebut akan bergetar dan menghancurkan lensa mata yang telah mengeruh. pulih penglihatannya seperti sedia kala. Operasi katarak dilakukan di rumah sakit atau pada fasilitas kesehatan mata lainnya. Kemudian. dekat dengan kornea. Selain itu. Fakoemulsifikasi. Operasi berlangsung singkat. teknik ini cocok bagi negara-negara kaya dan maju. kemudian menggantinya dengan lensa buatan.

11 . lensa dibekukan dengan probe superdingin dan kemudian diangkat. tapi ditempat lain yaitu di depan iris. pemasangan lensa mata buatan pada teknik pembedahan intrakapsuler bukan pada tempat lensa mata sebelumnya. ahli bedah akan mengeluarkan lensa mata besarta selubungnya. masih dilakukan pada kasus trauma mata yang berat. Pada pembedahan jenis lensa ini diangkat seluruhnya. Walaupun demikian. juga dilakukan pada tempat-tempat dimana teknologi fakoemulsifikasi tidak tersedia. Keuntungan dari prosedur ini adalah kemudahan prosedur untuk dilakukan. 2. tepat di posisi semula. lensa buatan dipasang untuk menggantikan lensa asli. karena lensa harus dikeluarkan dalam keadaan utuh. Pada teknik ini. Selain itu. Cara ini umumnya dilakukan pada katarak yang sudah parah. Pembedahan Ekstracapsular Cataract Extractie (ECCE). Pembedahan Intracapsular Cataract Extractie (ICCE) Teknik ini membutuhkan sayatan yang lebih besar lagi dibandingkan dengan teknik ekstrakapsuler.yang membuat mikroskop tersebut tidak praktis untuk dibawa kemanamana dan hanya memungkinkan operasi dilakukan di rumah sakit. Sedangakan kerugiannya adalah mata beresiko tinggi mengalami retinal detachment dan mengangkat struktur penyokong untuk penanaman lensa intraokuler. Setelah lensa dikeluarkan. Berbeda dengan kedua teknik sebelumnya. Teknik ini digunakan untuk orang yang memiliki katarak yang sangat keras atau memiliki jaringan epitel kornea yang lemah. Salah satu teknik Intrakapsuler adalah menggunakan cryosurgery. Teknik ini membutuhkan penjahitan untuk menutup luka. Teknik ini sudah jarang digunakan. Teknik ini membutuhkan sayatan yang lebih lebar. 3. Selain itu perlu penyuntikan obat pemati rasa di sekitar mata. dimana lensa mata sangat keruh sehingga sulit dihancurkan dengan teknik fakoemulsifikasi.

umur. c. Riwayat penyakit sekarang Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun.penglihatan mata kabur/tidak jelas. PENGKAJIAN Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi : a. bahasa yang dipakai. Keluhan Utama Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan pasien katarak untuk meminta pertolongan kesehatan. suku bangsa. alamat rumah. b. e. Riwayat psikososial dan spiritual Kemampuan aktivitas. Riwayat penyakit keluarga Ada keluarga yang pernah punya katarak. dan pasien dengan katark senilis terjadi pada usia > 40 tahun. agama atau kepercayaan. sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia < 40 tahun. jenis kelamin. dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak. risiko jatuh. hipertensi. pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-40 tahun. 12 . Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM. d.ASUHAN KEPERAWATAN A. status pendidikan dan pekerjaan pasien. pembedahan mata sebelumnya. gangguan membaca. bagaimana koping mekanisme yang digunakan gangguan dalam beribadat karena klien lemah. misalnya yang sering terjadi pada pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan. f. berkendaraan Biasanya klien cemas.

Body System a. Pernapasan (B1) o Hidung  Pernafasan cuping hidung : tidak ada 13 . 2. tampak gelisah dan cemas. Pola tidur dan istirahat Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan dengan imobilisasi yang lama. 4. Pola tata nilai dan kepercayaan Dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total dan tidak boleh melakukan aktivitasi karena penyakitnya. 8. muntah. Pola eliminasi Terjadi peningkatan frekuensi BAB lebih dari 4x (bayi) / BAB lebih dari 3x (anak) dapat cair. Pola hubungan dan peran Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan dengan klien dirawat di rumah sakit dan klien harus bedrest total. lendir. 5. Pola aktifitas dan latihan Aktivitas klien lemah. Pola persepsi dan konsepsi diri Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien. berdarah.  Observasi dan Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Keadaan umum pasien kurang baik. 7. Pola penanggulangan stress Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya. 6. Pola-pola fungsi kesehatan 1. dan BAK frekuensi menurun 3. Pola nutrisi dan metabolism Klien mengalami penurunan nafsu makan karena mual.

 Septum nasi : simetris o Bentuk dada : simetris o Irama nafas : teratur b. Cardiovaskuler (B2 o Keluhan nyeri dada : tidak ada o Irama jantung : teratur o CRT : < 3 detik o Konjungtiva pucat : tidak o JVP : normal c. Perkemihan (B4) o Kandung kencing : tidak ada nyeri tekan o Produksi urine : 900 cc/hari o Intake cairan oral : 1000cc/hari e. Pencernaan (B5) o TB : 160cm o BB : 57kg o Mukosa mulut : lembab o Tenggorokan : tidak ada nyeri telan o Abdomen : Pembesaran hepar : tidak Pembesaran lien : tidak Ascites : tidak o Bising usus : 20x /menit o BAB : 1-2 x/hari. Persyarafan (B3) o Kesadaran : composmentis o GCS : 4 5 6 o Keluhan pusing : tidak o Pupil : ada warna keabuan o Nyeri : tidak d. konsistensi: lunak 14 .

Data obyektif Biasanya pada klien dengan diare didapatkan Adanya kekeruhan pd lensa mata. Balik mata depan menyempit. e. Keluhan terdapat diplopia. Dengan pelebaran pupil. 15 . b. Tanda glaukoma (akibat komplikasi)  Analisa Data Setelah semua data dikumpulkan. kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada penderita Katarak.f. Tulang-Otot-Integumen (B6) Pergerakan sendi : bebas Kelainan ekstermitas : tidak ada Kelainan tl. 2. Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam diagnosa keperawatan.visus 1/6. ditemukan gambaran kekeruhan lensa (berkas putih) pada lensa. c. Belakang : tidak ada Fraktur : tidak Traksi/spalk/gips : tidak Kulit : normal Akral : hangat Turgor : baik  Pengkajian khusus mata a. Penurunan tajam penglihatan (miopia) d. Data Subyektif Yang termasuk dalam data subyektif pada klien dengan katarak adalah pasien mengatakan penglihatan mata kabur/tidak jelas. 1. pandangan berkabut. Pupil tampak keabuan.

kehilangan vitreus. pendarahan. kurang sumber pendukung. 4.B. pembatasan aktivitas pascaoperasi. Penurunan persepsi sensori: Penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan  Diagnosis keperawatan preoperasi 1. Nyeri yang berhubungan dengan luka pascaoperasi.  Diagnosis keperawatan pascaoperasi 1. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi. 16 . Risiko cedera yang berhubungan dengan peningkatkan tekanan intraokular (TIO). 2. 3.

BAB 2 MASALAH KEPERAWATAN Pathway Infeksi virus DM Kortikosteroid jangka panjang Miopi Trauma mata Obstruksi jaringan trabekuler Peningkatan tekanan vitreus Hambatan pengaliran cairan humor aqueous Pergerakan iris kedepan Nyeri TIO meningkat Glaukoma TIO meningkat Gangguan saraf optik tidakan operasi Risiko cedera Gangguan Persepsi Sensori penglihatan Perubahan penglihatan perifer Kurang Pengetahuan Ansietas Gangguan perawatan diri Kebutaan 17 .

c. Subjektif: a. Terdapat kekeruhan lensa pada pemeriksaan. Mengatakan aktivitas terbatas. Klien mengidentifikasi penglihatan b. faktor-faktor yang memengaruhi fungsi 18 .BAB 3 RENCANA KEPERAWATAN A. c. Objektif: a. b. Penurunan tajam penglihatan (miopia). Mengeluhkan pandangan tidak jelas. sering jatuh. Intervensi keperawatan 1. Visus berkurang. pandangan ganda. Kriteria hasil: a. Mengatakan harus ganti kacamata. b. Tujuan: Klien melaporkan/ memeragakan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengomunikasikan perubahan visual. pandangan berkabut. Klien mengidentifikasi dan menunjukkan pola-pola alternatif untuk meningkatkan penerimaan rangsang penglihatan. Penurunan persepsi sensori: Penglihatan yang berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan dan kejelasan penglihatan.

Meningkatkan kemampuan respons rangsang lingkungan yang dapat diterima: auditorik. Nadi meningkatkan. sering melamun. kemampuan 2. Objektif: a. wajah murung. optimalisasi sumber rangsangan.Hindari cahaya menyilaukan. Tujuan: Tidak terjadi kecemasan. .Anjurkan penggunaan alternatif 4. .Letakkan alat ditempat yang tetap. Mengidentifikasikan visual klien. . Kriteria hasil: 19 . . terhadap optimalisasi penglihatan: . Diagnosis keperawatan preoperasi 1.Letakkan alat yang sering klien digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat. Identifikasi alternatif untuk 2.  terhadap stimulus lingkungan. Meningkatkan kemampuan persepsi sensori.Berikan pencahayaan cukup . Sesuaikan lingkungan untuk 3. Tampak gelisah. Kaji ketajaman penglihatan kliean Rasional 1. b.Orientasikan ruang rawat. takut. taktil. tekanan darah meningkatkan.Intervensi 1. Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian operasi. 3. Subjektif: Mengatakan cemas. Memberikan keakuratan penglihatan dan perawatannya.

manfaat operasi. Gerakan tubuh kurang terkontrol Tujuan: Tidak terjadi cedera mata pascaoperasi. harapan akan hasil memerlukan enam bulan atau lebih. 2. Informasi penglihatan tentang bertahap perbaikan diperlukan terjadi langsung. Perbaikan waktu untuk mengantisipasi depresi.atau kekecewaan setelah fase operasi dan memberikan operasi. Intervensi Rasional 1. kepercayaan Berbagai dan perasaan membantu menurunkan ketegangan. 20 . Berikan waktu untuk mengekspresikan Informasikan penglihatan bahwa tidak perasaan. dan sikap yang harus dilakukan klien selama masa operasi. Objektif: a. perbaikan secara kerja sama. Meningkatkan pemahaman tentang pascaoperasi. kehilangan vitreus. Klien berpartipasi dalam persiapan operasi. gambaran operasi untuk menurunkan ansietas. Risiko cedera yang berhubungan dengan peningkatkan tekanan intraokular (TIO). Subjektif: Mengatakan nyeri. Perilaku gelisah b. tegang mata. Meningkatkan pembedahan.a. Jelaskan gambaran kejadian pre-dan 1. Menggosok daerah mata c. Klien mengungkapkan kecemasan hilang atau minimal b. Jawab pertanyaan khusus tentang 2. pendarahan.  Diagnosis keperawatan pascaoperasi 1. gatal. Tetapi bertahap sesuai penurunan bengkak pada mata dan perbaikan penglihatan kornea.

pembatasan pembalutan mata aktivitas dan Rasional 1. bilik mata depan menonjol. 2.Menggerakkan kepala mendadak . Berbagai menonjol. Klien tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan risiko cedera.Kriteria hasil: a. menggerakkan kepala 3. Meningkatkan kerja sama dan pembatasan yang diperlukan. Ajarkan klien untuk menghindari tindakan yang dapat menyebabkan cedera. b. Intervensi 1. 4. menonjol. Istirahat mutlak diberikan hanya beberapa menit hingga 1 atau 2 jam pascaoperasi atau 1 malam jika ada komplikasi. anjurkan membatasi pergerakan mendadak/ tiba-tiba serta berlebih. nyeri mendadak setiap 6 5. Tindakan yang dapat meningkatkan TIO dan menimbulkan kerusakan struktur mata pascaoperasi: . 21 . Diskusikan tentang rasa sakit. kondisi bilik nyeri seperti mata luka depan mendadak.Membungkuk terlalu lama. Mencegah/ menurunkan risiko komplikasi cedera.Batuk. 5.Mengejan (Valsalva maneuver) . aktifitas selama fase 3. . 4. Amati kondisi mata: Luka menonjol. Bantu istirahat. Tempatkan pada klien pada tempat tidur yang lebih untuk rendah dan 2. Klien menyebutkan faktor menyebabkan cedera.

Berusaha memegang daerah mata. Anjurkan melaporkan 2. Subjektif: Mengatakan nyeri pada luka/mata. Objektif: a. Kriteria hasil: a. Normalnya nyeri terjadi dalam waktu kurang dari lima hari setelah operasi dan berangsur menghilang. hilang dan terkontrol.jam pada awal operasi atau hiperemia. Ekspresi meringis/ menahan sakit. serta hipopion mungkin menunjukkan cedera mata seperlunya. Intervensi 1. Kaji derajat nyeri setiap hari Rasional 1. pascaoperasi. 2. Nyeri dapat meningkatkan karena peningkatan pascaoperasi. aman untuk 22 . Klien mendemonstrasikan teknik penurunan nyeri. menunjukkan masif. Meningkatkan perkembangan nyeri setiap hari memberikan rasa atau segera saat terjadi peningkatan untuk TIO Nyeri 2-3 hari mendadak TIO peningkatan kolaborasi. Apabila pandangan melihat benda mengapung (floater) atau tempat gelap mungkin menunjukkan ablasio retina. Tujuan: Nyeri berkurang. b. 6. b. Nyeri yang berhubungan dengan luka pascaoperasi. Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang.

Anjurkan klien untuk tidak 3. Subjektif: a. ketegangan. Lakukan untuk tindakan pemberian kolaboratif 5. 6. dll) b. peningkatan dukungan psikologis. Anjurkan relaksasi. Menyatakan tidak berani merawat diri (mandi. ke toilet. Kedua mata ditiup kasa/balutan. Mengurangi analgesik nyeri dengan meningkatkan ambang nyeri. mengucek mata.nyeri mendadak. teknik distraksi dan 4. Menurunkan mengurangi nyeri. Kriteria hasil: a. topikal/sistemik. Tujuan: Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi. Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan penglihatan. 5. b. meningkatkan nyeri seperti gerakan tba-tiba. batuk mengejan. Beberapa kegiatan klien dapat melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri. pembatasan aktivitas pascaoperasi. Klien memeragakan perilaku perawatan diri secara bertahap 23 . Kondisi tubuh kotor b. Mengatakan tidak dapat melihat. 4. membungkuk. Objektif: a. Klien mendapatkan bantuan parsial dalam pemenuhan kebutuhan diri. 3. Tidak banyak bergerak c.

Subjektif: 24 . bantuan total diperlukan bagi klien. individu boleh melakukan aktivitas perawatan diri. Upaya melibatkan klien dalam dalam memenuhi kebutuhan diri aktivitas dilakukan perawatan bertahap dirinya dengan berpedoman pada prinsip bahwa aktivitas peningkatan menyebabkan tidak TIO cedera memicu dan mata. Memenuhi kebutuhan perawatan diri kebutuhan perawatan diri 3. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan. Kontrol klinis dilakukan dengan menggunakan indikatir neri mata pada saat melakukan aktivitas.Intervensi Rasional tempat tidur pada 2 – 3 jam pertama pascaoperasi atau 12 jam jika ada komplikasi. kurang sumber pendukung. 1. libatkan klien 3. Bantu klien untuk memenuhi 2. Terangkan pentingnya perawatan 1. Selama fase ini. Klien di anjurkan untuk istirahat di diri dan pembatasan aktivitas selama fase pascaoperasi 2. Secara bertahap. 4. Umumnya 24 jam pascaoperasi.

a. tetapi jangan terlalu lama. condongkan kepala sedikit ke belakang saat mencuci rambut. . Keluarga mengatakan tidak bisa merawat klien. komplikasi 25 . Terangkan aktivitas yang diperbolehkan dan 2. Keluarga menyatakan siap untuk mendampingi klien dalam melakukan perawatan. d. Menyatakan tidak tahu bagaimana perawatan setelah pulang dari rumah sakit. Intevensi 1. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang perawatan pascahospitalisasi Rasional 1. 2. Objektif: Keluarga tidak dapat memeragakan cara membantu klien/ memenuhi kebutuhan perawatan diri dan penyakit. Menyatakan tidak dapat memberikan obat sendiri.Tidak dengan perisai/pelindung mata logam dihindari (minimal untuk 1 minggu) untuk mencegah pascaoperasi.Mengerjakan aktivitas biasa (ringan dan sedang) . . membaca. Menyatakan tidak ada yang merawat c. Tujuan: Perawatan rumah berjalan efektif. Klien mampu mengidentifikasi kegiatan perawatan rumah (lanjutan) yang diperlukan b.Tidak boleh membungkuk pada wastafel atau bak mandi.Mandi waslap. b. selanjutnya dengan bak mandi atau pancuran (dengan bantuan) . Sebagai modalitas dalam pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan dirumah.Menonton televisi. Kriteria hasil: a. Aktivitas yang diperbolehkan: .

Batuk. inflamasi dan cairan dari mata . kabur.Setiap nyeri yang tidak berkuran dengan obat pengurang nyeri .Menundukkan pinggang.Nyeri disertai mata merah.Tidur pada sisi yang sakit .Berlutut atau jongkok saat mengambil kacamata hitam untuk sesuatu dari lantai. 26 .Nyeri pada dan disekitar mata.Aktivitas dengan duduk .Mengendarai kendaraan . 1 minggu) . Terangkan berbagai 3.Menggosok mata. bersin. mengenakan kacamata pada siang hari. menekan kelopak mata .Perubahan ketajaman penglihatan. Aktivitas yang dihindari (min.pada malam hari.Mengenakan kenyamanan .Mengejan saat defekasi .atau keluar cairan. bengkak.Memakai sabun mendekati mata .Mengangkat benda lebih dari 7 kg . muntah .Nyeri dahi mendadak . Kondisi yang harus segera dilaporkan: . . selaput pada lapang kondisi yang perlu di konsultasikan. . pandangan ganda. sakit kepala menetap.Melakukan hubungan sex . kepala sampai bawah 3.

Terangkan cara 4. kilatan cahaya. rasa aman. 4. Meningkatkan rasa percaya. 5. 6.penglihatan. Klien mungkin mendapatkan obat tetes atau salep (topikal) penggunaan obat-obatan. percikan atau bintik didepan mata. pembagian peran dan tugas serta penghubung klien dan institusi pelayanan kesehatan pascahospitalisasi 27 . Identifikasi keluarga perawatan kesiapan dalam diri klien Kesiapan keluarga meliputi orang yang bertanggung jawab dalam perawatan. Respons verbal untuk meyakinkan kesiapan untuk perawatan klien dalam perawatan pascahospitalisasi pascahospitalisasi 7. halo di sekitar sumber cahaya. dan mengeksplosi pemahaman serta hal-hal yang mungkin belum dipahami klien. Tanyakan kesiapan klien 6. Berikan bertanya kesempatan 5.

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. dkk. EVALUASI Dalam teori pada evaluasi yang ditentukan adalah keadaan atau kriteria pencapaian tujuan sesuai rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan. 2000 ). 1989). C. DOKUMENTASI Dokumentasi adalah menjelaskan bahwa petugas kesehatan sudah melaksanakan tindakan keperawatan dengan mencantumkan tanggal pelaksanaan dan paraf untuk mempertanggung jawabkan hasil kerja. Agar implementasi / pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan. Midar H. Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan ( Doenges E Marilyn. 28 . EVALUASI. perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. IMPLEMENTASI / PELAKSANAAN Pelaksanaan seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan selalu berorientasi pada rencana yang telah dibuat terlebih dahulu.BAB 4 IMPLEMENTASI. DOKUMENTASI A. B. dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien. dkk.

S. 2005.Kep.Kep.07 WIB. Diakses pada tanggal 28 November. Indriana N.catatandokter. “ Asuhan Keperawatan Katarak “ http://ns- nining. Dr. “ Kesehtan Populer Penyakit Mata”. Pukul 13. S. Tamsuri. 2008 “ Operasi Katarak “ Catatan dokter. 29 .html Diposkan oleh Nining pada pukul 03:07. 2011.com/2008/09/operasi-katarak.21 WIB ).  Nining. Anas. “Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata”. Jakarta:Penerbit ARCAN Sumber Internet  Paisal. Youngson.DAFTAR PUSTAKA    Istiqomah. Robert. 1990. “ Klien Gangguan Mata & Penglihatan Keperawatan Medikal Bedah”.blogspot.html ( diakses Tanggal 26 Nov 2013 Pukul 19. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.com/2008/10/asuhan-keperawatan-klien-dengankatarak. www. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.