You are on page 1of 54

BENTUK KOROSI

JURUSAN TEKNIK MATERIAL DAN


METALURGI FTI-
FTI-ITS

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
BENTUK/TIPE  KOROSI

1. Uniform / general corrosion Merata 25%
2
2. G l ik / bi
Galvanik / bimetal corrosion
l i
Lokal 25%
3. Crevice Corrosion (korosi celah)
4. Pitting Corrosion (korosi sumuran)
5. Intergranular Corrosion (korosi batas butir)
6. Selective Leaching 

NO, DEA
Multivariabel 50%
7. Errosion Corrosion

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
8. Stress Corrosion
Uniform / General Corrosion
Korosi jenis ini yang paling sering, umum dijumpai. Korosi ini 
dikontrol oleh reaksi kimia atau elektrokimia antara 
permukaan logam dengan media korosifnya.
k l d di k if
Pengurangan berat / ketebalan logam terjadi merata pada 
seluruh permukaan logam Jenis korosi ini tidak berbahaya
seluruh permukaan logam. Jenis korosi ini tidak berbahaya.

Korosi merata
Tebal awal

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Tebal 
setelah 
korosi
Korosi uniform dapat dikurangi dengan :
1. Pemilihan material yang tepat (semakin murni bahan 
semakin tahan korosi).
2. Pelapisan
3. Penambahan inhibitor (media elektrolit)
4. Penambahan elemen paduan pada logam (lihat 1)
5. Proteksi katodik

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Galvanik / bimetal corrosion
Bila dua logam yang berbeda saling kontak dan berada pada 
media/larutan yang konduktif dan korosif maka akan timbul
media/larutan yang konduktif dan korosif maka akan timbul 
“beda potensial” yang menyebabkan terjadinya aliran arus listrik 
i atau perpindahan elektron.
Gambar dibawah menunjukkan prinsip dasar dari korosi galvanik. 
Sebuah elektroda seng (anoda) dan elektroda tembaga (katoda). 
Keduanya bisa teroksidasi
Keduanya bisa teroksidasi 
Zno Æ Zn2+ + 2e‐

NO, DEA
Cuo Æ Cu2+ 
2 + 2e‐

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Keduanya teroksidasi tetapi tingkat oksidasi Zn lebih besar dari 
pada Cu sehingga bila keduanya dihubungkan akan terjadi beda
pada Cu, sehingga bila keduanya dihubungkan akan terjadi beda 
potensial sebesar 1,1 volt. Elektroda Cu menerima elektron dari  
elektroda Zn, sehingga Zn sebagai Anoda (terkorosi)
Proses terjadinya korosi galvanik
‐1,1 v
V e‐

e‐

Zn Cu
Cuo Æ Cu2+ + 2e
+ 2e‐
Zno Æ Zn2+ + 2e‐

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Zn2+ Cu+
EMF (Seri Galvanik)
EMF (Seri Galvanik)

Beda potensial elektrik diatas merupakan salah satu faktor terpenting yang 
Beda potensial elektrik diatas merupakan salah satu faktor terpenting yang
mempengaruhi korosi bimetal (galvanik).
Potensial ini disebut juga EMF (Electro Motif Force) yang mana timbulnya EMF 
tersebut akibat dari sifat kimia bahan
tersebut akibat dari sifat kimia bahan. 
Besarnya EMF dari tiap – tiap bahan diukur relatif terhadap EMF hidrogen 
(H2/H+) yang nilainya = 0 volt.

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Menentukan besarnya EMF relatif terhadap Hidrogen

Gas Hidrogen 
g
P= 1 atm,  v
T= 298 K

Pt  M

Asam Sulfat

NO, DEA
[H+] = 1 M

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Metal Sulfat
[M+] = 1 M
Deret 
Potensial Baku
Potensial Baku 
SHE

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
NO, DEA
Pengaruh Lingkungan thd korosi galvanik

Lingkungan media korosif sangat mempengaruhi proses korosi bimetal. Pada Fe 
– Zn ; Zn (anodik) dan Fe (katodik) berlangsung pada media yang lembab. 
Sebaliknya Zn (katodik) dan Fe (anodik) berlangsung pada media air 180oF.
Korosi galvanik juga bisa terjadi dimedia udara dan laju korosi tergantung dari 
humidity relatifnya. 
Dilingkungan yang sangat kering, korosi galvanik tidak terjadi karena tidak ada 
elektrolit yang mengantar arus.

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Pengaruh Jarak pada Korosi Galvanik
Laju korosi galvanik paling besar terjadi didekat 
sambungan. Korosi turun sebagai fungsi kenaikan 
j kt h d
jarak terhadap sambungan
b

Pengaruh
g Luas ppada Korosi Galvanik
Elektroda kecil (anoda) : density arus besar korosi 
tinggi
Katoda besar (luas) : anoda kecil korosi tinggi 

NO, DEA
C
Cu C
Cu F
Fe F
Fe

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Fe Cu
Fe Cu
BAIK TIDAK BAIK
PENGENDALIAN KOROSI GALVANIK

• Pilih material yang mempunyai selisih EMF yang kecil 
(berdekatan pada seri galvanik)
• Hindari anoda dengan luas kecil dan katoda dengan luas 
Hindari anoda dengan luas kecil dan katoda dengan luas
besar.
• Anoda dan Katoda pisahkan dengan bahan isolator.
• Coating
• Tambahi inhibitor (zat penghambat) pada media korosif.
• Hindari sambungan ulir untuk penyambungan dua 
Hindari sambungan ulir untuk penyambungan dua
material yang selisih EMFnya besar.

NO, DEA
• Buat anoda yang gampang diganti dan mempunyai beda 
potensial kecil thd yang dilindungi, agar awet.
i l k il hd dili d i

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
• Beri logam ketiga yang memiliki EMF yang kecil
K
Keuntungan sistem galvanik
i l ik
• Pipa air
Pipa air
Fe Zn

Zn : ‐ 0,76 volt

NO, DEA
Sn : ‐ 0,14 volt

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Fe : ‐0,44 volt Fe : ‐ 0,44 volt

BAIK
JELEK
Crevice Corrosion (Korosi Celah)

Merupakan salah satu jenis korosi lokal. 
Merupakan salah satu jenis korosi lokal
Korosi ini disebabkan oleh adanya sejumlah 
kecil sekali larutan yang ter‐stagnasi
kecil sekali larutan yang ter stagnasi (diam), 
(diam)
karena adanya hole, gasket.
Sambungan penyebab timbulnya “celah”, 

NO, DEA
sehingga korosi ini sering juga disebut korosi 

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
deposit, korosi retakan, korosi packing, korosi 
interface, korosi tapal kuda dan korosi garis 
air, korosi pasak.
Faktor penyebab crevice corrosion

• Faktor lingkungan 
Faktor lingkungan
Adanya pasir, debu yang bisa menimbulkan deposit 
membuat terjadinya stagnasi larutan sehingga 
timbul korosi celah, adanya retakan, adanya beda 
konsentrasi oksigen lokal,dll

Misalnya : Stainless steel 18 – 8 yang dipilih karet 

NO, DEA
dan dicelup dalam air laut bisa terpotong pada
dan dicelup dalam air laut  bisa terpotong pada 

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
bagian yang ada karetnya karena korosi celah.
Konsentrasi 
oksigen sekitar 
g
tinggi

Konsentrasi oksigen 
5 100 mikron
5‐100 mikron di l h
dicelah  rendah
d h

Mekanisme
Korosi terjadi karena
∆ konsentrasi
oksigen lokal atau ∆
ion logam lokal
antara
t celahl h dan
d
sekitarnya, shg korosi

NO, DEA
ini sering disebut
“concentration cell 

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Corrosion”
Tahap – tahap  terjadinya crevice corrosion

• Mula – mula elektrolit seragam konsentrasinya, sehingga korosi yang 


terjadi adalah general corrosion (aman), kadar oksigen seragam.
• Oksigen sebagai bahan baku reaksi katodik, reaksi
katodik reaksi reduksi : 
½O2+H2O+2e‐ Æ 2(OH)‐ sedang elektron dari reaksi reduksi
diperoleh dari reaksi anodik (oksidasi) adalah 2M Æ 2M+ + 2e‐
• Pengambilan oksigen yang terlarut untuk reaksi katodik menyebabkan
oksigen
k dd l
didalam celah
l h menipis dan
d habis, sehingga
h b h proses katodik
k dk

(pembentukan hidroksil OH terhalang)
• Didalam celah terjadi kelebihan ion – ion positif (M+ ), sehingga ion 
g
negatif y ((Cl‐)) berdiffusi masuk agar terjadi
dari luar celah misalnya g j
kondisi setimbang (energi minimum) 
M+ + Cl‐ + H2O  Æ produk korosi MOH + ……    H+ + ……

NO, DEA
H+ dan Cl‐ menurunkan pH larutan
Korosii celah
l h ini
i i bersifat
b if autokatalitik
k li ik artinya
i b i reaksi
begitu k i awall terjadi, 
j di

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON

sel – sel tidak lagi bergantung pada keadaan luar.
Menghindari korosi celah
• Gunakan sambungan las.
• Tutup sambungan non welded dengan las atau solder.
• Hindari zona stagnasi.
• Periksa secara intensif dan periodik zone celah – celah.
Periksa secara intensif dan periodik zone celah – celah
• Gunakan media korosif (larutan) yang uniform.
• Hindari packing yang basah.
• Gunakan gasket yang solid

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Pitting Corrosion (korosi sumuran)

• Korosi lokal
• Menyerang pada logam yang :
p p g y
‐ selaput pelindungnya robek secara mekanik.
‐ Memiliki tegangan konsentrasi lokal.
‐ Memiliki konsentrasi kimia heterogen (inklusi, 
segregasi , presipitasi)

NO, DEA
• Sulit dibedakan dengan korosi celah.
‐ korosi celah dipicu oleh beda konsentrasi O
k l hd l hb d k

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
2
‐ korosi sumuran dipicu oleh faktor metalurgi
Mekanisme pembentukan sumuran
G b bi tik i
Gambar bintik air
1. Mula‐mula 
terjadi korosi 
merata 
merata
2. Daerah 
sentral 
kekurangan 
kekurangan
O2 karena 
jarak diffusi 
O2 2 lebih 
lebih
panjang Æ

NO, DEA
anoda Æ
terjadi 
j

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
pelarutan M+
ditengah titik 
air Æ terjadi 
karat dipusat 
berbentuk 
cincin
• Dipengaruhi oleh Temperatur, kadar 
Molibdenum (Mo)
• Dinyatakan dalam CPT (Critical Pitting 
Dinyatakan dalam CPT (Critical Pitting
Temperatur), yang nilainya merupakan 
fungsi dari kadar Cr, Mo.
fungsi dari kadar Cr, Mo.
• SS Duplex memiliki kadar Mo tinggi 
sehingga CPT nya tinggi pula
sehingga CPT nya tinggi pula. 

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
• Contoh
– Pada
Pada baja lunak (mild steel) sering kali terjadi  terjadi inklusi 
baja lunak (mild steel) sering kali terjadi terjadi inklusi
Mangaan Sulfida (Katodik) sehingga daerah disekitarnya menjadi 
anodik
– Baja Cold‐worked, tidak memiliki lapisan pelindung oksida 
Baja Cold worked tidak memiliki lapisan pelindung oksida
sehingga lebih mudah terserang korosi pitting (sumuran)

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Korosi Erosi
Korosi Erosi

Penyebab : 
– Turbulensi
– Partikel dalam aliran
– Peronggaan/Kavitasi

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Turbulensi aliran

disebabkan oleh :

• Perubahan drastis diameter 


pipa
• Sambungan yang kurang baik

NO, DEA
• Celah

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
• Endapan
seal
Ada perubahann drastis diameter pipa
ÆFluida turbulen Æ Erosi

Sambungan pipa, posisi seal tidak tepat


ÆFluida turbulen Æ Erosi
endapan

Celah
Ada celah, endapan (deposit) 
ÆFl id turbulen
ÆFluida t b l Æ Erosi
E i
Peronggaan (Kavitasi)
Kavitasi disebabkan oleh pecahnya
gelembung
l b uap dipermukaan
di k l
logam, 
mekanismenya :
1. Fluida menerjang permukaan logam
2. Tekanan hidrodinamika lokal turun
3
3. Ti b l gelembung
Timbul l b di
dipermukaan
k l
logam
4. Aksi mekanik, misalnya adanya putaran, menyebabkan tekanan

NO, DEA
hidrodinamik lokal naik
5. Gelembungg ppecah, timbul
, ggaya
y tekan yyang besar
g pada p
p permuk. Logam
g

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
6. Terjadi deformasi plastik pada logam
contoh
Bila permukaan logam kasar maka korosi erosi semakin dasyat.
dasyat
• Baling – baling
• Propeller
• Impeller
I ll
• Wet liner

Pencegahan
• Permukaan
P k k
komponen Æ halus
h l
• Pemilihan Bahan

NO, DEA
‐ Stellite (Co, Cr, W, Fe, C)
‐ Stainless Steel 304 

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Bila permukaan logam kasar maka korosi erosi semakin dasyat.

Contoh :
Baling‐baling, propeller, impeller, wet liner

Pencegahan
‐Permukaan komponen Æ halus
‐ Pemilihan bahan tahan erosi : Stellite (Co,W,Cr,Fe‐C)
Stainless Steel 304

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Korosi Batas Butir (Intergranular
C
Corrosion)
i )
• Korosi ini sering disebut : Intergranular Attact (IGA), 
g g ( ),
Intergranular Corr (IGC)
• Mekanisme korosi Batas butir pada baja Æ Orientasi 
k l f k Æ daerah tidak stabil dg enersi 
kristalografi Acak Æ d h d k bld
tinggi Æ mudah terkorosi intergranular/BB
• Korosi BB sering dijumpai pada Stainless steel 
Korosi BB sering dijumpai pada Stainless steel
Austenitik

NO, DEA
p , p p
• SS tahan terhadap korosi merata, tetapi pada 

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
temperatur tertentu yaitu temperatur sensitis (450‐
800 der C), SS sangat rentan terhadap korosi BB
Batas butir

Prisipitasi Karbida
Daerah miskin  Kromium Cr23C6
kromium

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
BAJA (Fe – C)
OKSIDA BESI

O2

BAJA

NO, DEA
osksigen mudah terdifusi melalui oksida besi
osksigen mudah terdifusi melalui oksida besi

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
BAJA TAHAN KARAT(Fe–Cr‐Ni‐C)

O2

BAJA TAHAN KARAT

Oksigen terhambat untuk berdifusi melewati oksida chromium.

NO, DEA
Oksida Chromium:
• Compact

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
• Adherence
• Density Tinggi
NON ‐ SENSITIS
Laju Korosi (mg/cm‐2h‐1)

6 Generale  HNO3 + Cr(VI)


Serangan batas 
g
corrosion butir
4

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
0
10 102 103 [P] ppm

PENGARUH KADAR P PADA BAJA TERHADAP 
LAJU KOROSI
Laju Korosi (mg/cm‐2h‐1)

Generale  Serangan batas  HNO3 + Cr(VI)


corrosion butir
4

2 Generale 
corrosion

0
10 102 103 104 105 [Si] 

NO, DEA
ppm

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Fe – Cr 14% – Ni 1% ‐ C 0,004%

PENGARUH KADAR Si PADA BAJA TERHADAP 
PENGARUH KADAR Si PADA BAJA TERHADAP
LAJU KOROSI
BAJA TAHAN KARAT DALAM KONDISI SENSITIF

ÎBerada pada temperatur sensitisasi Æ terjadi presipitasi karbida 
kromium pada batas butir

BAJA TAHAN KARAT DALAM KONDISI NON -


SENSITIF

ÎBerada pada temperatur dibawah atau diatas range temperatur 
ÎBerada pada temperatur dibawah atau diatas range temperatur
sensitisisasi Æ ada kemungkinan terjadi segregasi dari unsur ikutan.

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
PRESIPITASI KARBIDA BIASANYA TERJADI PADA:
• Sebuah operasi pengelasan
p p g
• Pendinginan pada temperatur yang tinggi (1050 – 1200oC) 
dengan laju yang terlalu rendah.
• Komposisi kimia baja (kadar C tinggi)
• Adanya timbunan kerak yang menjadi isolasi panas pada baja 
yang dioperasikan pada temperatur diatas temperatur
yang dioperasikan pada temperatur diatas temperatur 
sensitisasi.  

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
SKEMA MEKANISME SENSITISASI PADA PENGELASAN BAJA
SKEMA MEKANISME SENSITISASI PADA PENGELASAN BAJA
Korosi batas butir  Korosi batas butir 
(zona sensitif) (zona sensitif)

NO, DEA
800o

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
C
∆T
450o
X’ C X
SKEMA PERLAKUAN PANAS SENSITISASI PADA BAJA
Temperatur
900OC
>900 di Quenching
850OC γ
γ + Cr 23C6
Temperatur 
p
Sensitisasi
Slow
400OC
Rapid
γ γ + Cr 23C6
Cr 23C6
γ + Cr 23C6

NO, DEA
Waktu
γ γ γ
γ

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
γ
γ γ γ Cr 23C6
Cr 23C6
γ γ
γ
γ
SENSITIS

Cr 18%
Cr 18%

PADA TEMPERATUR SENSITIF

NO, DEA
Î Cr didekat batas butir bereaksi 
dengan C menjadi Cr23C6 lalu 
dengan C menjadi Cr lal

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
bergerak menuju tempat yang 
energinya tinggi (tidak stabil) ke 
batas butir
Cr = 18 %
Cr  18 %
daerah miskin Cr (Cr 
Cr 23C6 (karbida 
depleted zone Cr = 7 
chromium Cr = 56 –
– 12%)
70%

Cr = 18 %
Cr = 18 %

Cr < 18 ≈ 7 %
batas butir
batas butir

18% Cr
%
12% Cr
7% Cr
X Y
Cr 23C6
Cr 23C6
zona miskin  zona miskin 
chrom chrom

skema dechromisasi di sekitar batas butir
Skema yang menggambarkan modifikasi komposisi kimia dan struktur yang 
memicu korosi batas butir
memicu korosi batas butir

Segregasi Presipitasi

γ γ γ
γ

γ Si
γ γ
P γ γ Cr
γ S
γ

Keadaan non sensitis Keadaan sensitis
PERBANDINGAN KURVA ELEKTROKIMIA BAJA TAHAN KARAT NON SENSITIS PADA 
TEMPERATUR YANG SAMA TETAPI WAKTU PENAHANAN BERBEDA 0,3 – 1000 
JAM

j(mA/cm2)

Fe‐18Cr‐9Ni‐0,006C
103
H2SO4 ‐ 2N

102

101

1000 jam

NO, DEA
10O 1 jam non sensitis

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
10‐1
0,3 jam

‐ 100 0 100 500 900 1300 E (mv)


SKEMA SISTEM ELEKTROKIMIA: KARBIDA (KATODE), DAERAH YANG MISKIN 
SKEMA SISTEM ELEKTROKIMIA: KARBIDA (KATODE), DAERAH YANG MISKIN
CHROMIUM (ANODE) DAN SISI DALAM BUTIR (ELEKTRODE ANTARA)

I DOMAIN II

DOMAIN I H2SO4 ‐ 2N

[Cr]

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
DOMAIN III
E
PENGARUH KADAR Cr PADA KURVA POLARISASI ANODIK 
FeCrNi
NOBLE
+1900

+1500

+1000
potensial 

3,5%Cr
((mV/H)

7,4%Cr
+700
p

11,7%Cr

NO, DEA
+300
16,1%Cr

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
0
‐100 19,2%Cr

ACTIVE 10‐2 10‐1 101 102 103 104 105 106 107
µA/cm2
Profil konsentrasi Cr disekitar batas butir baja tahan karat austenitik 
j
yang diperoleh dengan mikroskop transmisi elektron (TEM)

Komposisi Nominal

1,10 Fe
69,6
1,00
Perubahan Konsentrasi

NO, DEA
1,00
18 4
18,4

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
0,90
Cr
0 80
0,80

0,1 µm batas butir 0,1 µm


Contoh diagram waktu‐temperatur‐sensitisasi pada baja tahan 
g p p j
karat austenitik dengan kadar karbon yang berbeda

900 0,01%Cr

0,08%Cr
800 0 06%C
0,06%Cr
ur sensitisasii

0,04%Cr
700
Temperatu

Presipitasi
0,02%Cr
600

NO, DEA
0,01%Cr

Tidak terjadi 
Tidak terjadi

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
500
presipitasi
450

0,1 1 10 100 1000 Waktu (jam)


Penanggulangan Korosi Batas Butir

1. Memperpanjang waktu penahanan pada proses 
p p j g p p p
homogenisasi, sehingga konsentrasi Cr merata disetiap titik.
2. Menurunkan kandungan karbon.
3. Menambahkan unsur yang memiliki afinitas tinggi terhadap 
karbon (Ti, Nb).
4
4. Menambahkan unsur pembentuk fase α
Menambahkan unsur pembentuk fase α.

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Catatan
1. Batas butir peka terhadap korosi batas butir karena:
2. Serangan korosi batas butir bisa terjadi pada baja tahan
karat dalam keadaan sensitis dan non sensitis.

Pemilihan baja tahan karat yang disesuaikan dengan media dimana baja tersebut


digunakan. Bahan ini tahan terhadap korosi merata namun pada temperatur
tertentu mengalami korosi batas butir.

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Selective leaching = de‐alloying
Demetallification : Pengurangan
g g elemen logam
g
tertentu dalam paduan. Contoh :

‐ dezincification
‐ denickelification
‐ dealuminification

NO, DEA
‐ destannification
‐ etc.

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Kuningan
g ((brass))

• Brass 70/30 + 0 05% Arsen Î selective 


Brass 70/30 + 0,05% Arsen selective
leaching turun
• Brass 60/40 + 1% Timah
Brass 60/40 + 1% Timah Putih (Naval Brass)Î
(Naval Brass)Î
selective leaching turun
• Brass 60/40  4% Pb Î Machinability naik, 
Brass 60/40 + 4% Pb naik,
selective leaching turun

NO, DEA
Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
• Brass
Brass 70/30 (yellow brass)
70/30 (yellow brass)
bentuk pipa Æ berada di air laut Æ separo tebal terserang 
dezinfication
dezinfication

NO, DEA
kenaikan kadar Zn Æ menaikkan korosi karena Zn lebih 
anodik dibanding Cu
g

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Mekanisme korosi :
1. Brass terlarut
2 Zn terlarut di media
2. Zn terlarut di media
3. Cu tetap menempel pada Brass
P d
Paduansuper
Proses oksidasi paduan super adalah proses
selective leaching

Cr oxyde

FeNiCrAlY

NO, DEA
Al oxyde

Prof. Dr. Ir. SULISTIJON
Stress Corrosion Cracking SCC

Logam mengalami korosi SCC bila


SCC bila :

1.  Ada
1 Ada internal stress
internal stress
2. Ada media lingkungan korosif

Keduanya berjalan simultan Æ SCC

Contoh : checkerplate (pelat kembang), lekukan pada bodi mobil, elbow pipa,dll