Pada kasus Bell’s palsy, seperti telah dikemukakan diatas, apapun etiologi awal pada kondisi ini proses

akhir yang dianggap sebagai proses patologis terjadinya Bell’s palsy adalah proses oedema yang menyebabkan kompresi pada saraf VII. Sebagaimana saraf perifer lainnya, proses patologi pada kasus Bell’s palsy yang sesuai dengan tingkat kerusakan saraf perifer adalah (1) neuropraksia, yaitu suatu paralysis dimana saraf hanya tertekan sehingga terjadi hambatan aliran impuls, tanpa kerusakan atau degenerasi pada akson dan selubung myelin Sehingga apabila tekanan ini hilang maka fungsi saraf akan kembali sempurna dengan cepat. Keadaan ini sering disebut dengan blockade aksonal fisiologik. Disini ketiga unsur serabut saraf (akson, selubung myelin dan neurilema) tidak mengalami kerusakan, (2) aksonotmesis, yaitu suatu paralysis dimana saraf mengalami penekanan yang cukup kuat sehingga akson disebelah distal lesi akan mengalami kematian atau degenerasi, pada kondisi ini yang mengalami kerusakan hanya aksonnya saja sedangkan selubung myelinnya masih utuh, (3) neuronotmesis, yaitu suatu paralysis dimana seluruh batang saraf terputus, pada kondisi ini seluruh unsur serabut saraf di distal lesi mengalami kerusakan. 5.Tanda dan gejala klinis Pada pasien Bell’s palsy tanda dan gejala klinisnya biasanya timbul secara mendadak, pada awalnya pasien merasakan kelainan pada mulutnya saat bangun tidur , menggosok gigi, berkumur, minum, atau berbicara. Terdapat nyeri yang bervariasi di sekitar telinga atau styloid dan mastoid ipsilateral, kemudian diikuti kelemahan otot-otot wajah dalam waktu beberapa jam atau hari. Terjadi ganguan pengecapan lidah ( manis, asin, asam ) ( Setiawan, 2007 ). Biasanya mulut

1996).menjadi tertarik ke sisi sehat. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada kasus Bell’s palsy antara lain: a. Clonic facial (hemificial spasm) Clonic facial spasm yaitu terjadinya gerakan secara spontan dari otot-otot wajah. sebagai contoh bila pasien disuruh memejamkan mata maka otot orbicularis oris pun ikut berkontraksi dan sudut mulut terangkat (Lumbantobing. 6. Synkinesis Synkinesis merupakan gerakan asosiasi yang terjadi secara involunter karena regenerasi serabut saraf mencapai serabut otot yang salah. Crocodile tear phenomenon Crocodile tear phenomenon adalah keluarnya air mata pada saat pasien makan. namun karena regenerasi yang salah serabut otonom menuju ke kelenjar lakrimalis (Sabirin. baik pada sisi wajah yang lumpuh maupun pada sisi wajah yang sehat. Kontraktur otot-otot wajah Kontraktur dapat terlihat jelas pada wajah saat berkontraksi. dan tidak dapat mengangkat alis mata pada sisi lesi serta hilangnya ekspresi wajah (Griffith. Diagnosis Banding . kelopak mata pada sisi lesi tidak dapat menutup rapat. Namun bila mengenai kedua sisi wajah maka tidak terjadi bersama-sama pada kedua sisi (Sabirin. 7. d. b. c. Fenomena ini dapat terjadi sebagai akibat dari regenerasi yang salah dari serabut otonom. Pada kondisi normal serabut otonom seharusnya menuju ke kelenjar saliva. Pada kondisi ini otot tidak dapat digerakkan satu per satu. 1994). keadaan ini ditandai dengan lebih dalamnya lipatan nasobial dan lebih rendahnya alis mata sisi yang lesi bila dibandingkan dengan sisi yang sehat (Widowati. 1996). 1998). 1992).

hal ini terutama terjadi pada kondisi trauma capitis. yaitu: a. 1999). b. paresis fasialis . Gambaran penyakit ini dikuasai seluruhnya oleh adanya gelembung herpes di daun telinga. Dan keadaan ini selalu menimbulkan nyeri di dalam kepala ( Sidharta. c.1999).Untuk menegakkan diagnosis Bell’s palsy kita harus mengetahui beberapa kondisi yang dapat menjadi diagnosis banding untuk kasus ini. otot wajah bagian dahi tidak menunjukkan kelemahan yang berarti selain itu juga tidak dijumpai adanya tanda dari bell (Sidharta. Trauma Trauma juga dapat menimbulkan paresis fasialis. d. Sindroma Guillain Barre dan Miastenia Gravis Pada kedua penyakit ini. 1999). yaitu fraktur os temporal yang tidak selalu dapat diperlihatkan oleh foto rongent. Beberapa hari setelah vesikelvesikel tersebut timbul. e. yang hampir selamanya mengenai kanalis fasialis. Sudut mulut sisi yang lesi terlihat lebih rendah. Perdarahan dan likwor mengiringi paresis fasialis perifer traumatik (Sidharta. Herpes Zoster Otikus Terjadi infeksi herpes zoster pada ganglion genikuli. Facial palsy tipe sentral Pada kelumpuhan wajah tipe ini terliht jelas bahwa otot-otot bagian bawah tampak lebih lumpuh dari pada bagian atasnya.1999). tanda-tanda paresis fasialis perifer dan tinitus serta tuli perseptif dapat dijumpai pada sisi ipsilateral juga (Sidharta. lipatan nasolabial sisi yang lumpuh lebih mendatar. Otitis Media Supurativa dan mastoiditis Ostitis Media bisa menyebabkan paresis fasialis apabila terjadi kerusakan tulang yang mendidingi kanalis fasialis.

3% pada bulan ke-4. Deskripsi Problematika Fisioterapi Problematika fisioterapi yang dijumpai pada pasien dengan kondisi Bell’s palsy adalah: (1) Impairment. Lagi pula. 1% pada bulan ke-5 dan seorang penderita sesudah 6 bulan dari onset (Thamrinsyam. 2.hampir selamanya bilateral. (2) Functional limitation. potensial terjadi spasme dan perlengketan jaringan. Perjalanan kedua penyakit ini adalah khas. Luasnya jaringan saraf yang rusak menentukan lamanya proses penyebuhan. adanya penurunan kekuatan otot wajah pada sisi yang lesi . 11% menunjukkan tanda perbaikan sesudah 3 bulan. (3) Participation of restriction. 8. 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis yang baik adalah umur relatif muda. namun kebanyakan pasien merasa cukup terganggu. rasa kaku dan tebal pada wajah sisi yang lesi. Functional limitation . Imparment Impairment yang sering terjadi pada kondisi Bell’s palsy adalah adanya asimetris pada wajah. Otot-otot bulber dan otot-otot okuler sering timbul bersama-sama dengan paresis fasialis. pada kedua penyakit itu kelumpuhan otot wajah tidak berdiri sendiri. 1991) B. Perbaikan berlangsung secara bertahap dan bervariasi. Sedangkan menurut Peitersen 85% penderita menunjukkan tanda kemajuan pertama pada tonus dan gerak otot di dalam 3 minggu pertama. dan potensial terjadi iritasi pada mata sisi yang lesi. 15% sisanya dengan degenerasi komplit. masa awitan pendek serta tes eksibilitas yang menunjang(Widowati. Prognosis Bell’s palsy memang merupakan kondisi yang tidak berbahaya. 1993).

pengobatan dengan menggunakan generator jenis ini sering disebut sebagai “radiant heating”. dkk. Participation restriction Pasien cenderung menarik diri dari pergaulan karena kurang percaya diri dengan kondisi wajahnya. hal ini berlaku untuk penggunaan lampu baik jenis luminous maupun non luminous. IR dapat diaplikasikan pada wajah sisi kiri dan region sekitar foramen stilomastoideus selama 15 menit. berkumur. yaitu generator yang disamping mengandung infra red. Metode aplikasi IR Pada dasarnya metode pemasangan IR dapat diatur sedemikian rupa sehingga sinar yang berasal dari lampu jatuh tegak lurus terhadap daerah yang di terapi. Namun jarak . makan dan minum. Infra Red (IR) Pada dasarnya generator infra red dibagi menjadi dua jenis yaitu generator non luminous dan luminous. 3. 2002) a. Perbedaan kandungan sinar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (1) generator non luminous. Jarak pemasangan pada lampu luminous antara 35-45 cm sedangkan untuk pemasangan jenis non luminous antara 45-60 cm.Adanya ganguan fungsi yang melibatkan otot-otot wajah. yaitu generator yang hanya terdiri dari sinar infra red saja sehingga pengobatan menggunakan jenis ini sering disebut “infra red radiation” dan (2) generator luminous. Teknologi Intervensi Fisioterapi 1. seperti menutup mata. C. ganguan bicara dan adanya gangguan ekspresi. Pada kondisi Bell’s palsy sinistra. mengunyah. yang mana perbedaan antara kedua jenis generator tersebut terletak pada jenis sinar yang terkandung pada tiap generator.(Sujatno. generator ini juga terdiri dari sinar ultra violet.

Dengan demikian pemeliharaan jaringan menjadi lebih baik dan perlawanan terhadap agen penyebab proses radang juga semakin baik. Efek fisiologis pemberian IR Efek-efek fisiologis yang dihasilkan oleh IR secara umum antara lain: 1). 3). dkk. 4). Dapat menyebabkan destruksi jaringan Ini bisa terjadi apabila penyinaran yang diberikan menimbulkan kenaikan temperatur jaringan yang cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. sehingga pemberian nutrisi dan oksigen kepada jaringan akan ditingkatkan. 2002). Mempengaruhi jaringan otot Adanya kenaikan temperatur disamping membantu terjadinya rileksasi juga akan meningkatkan kemampuan otot untuk berkontraksi. 6). Meningkatkan proses metabolisme Seperti telah dikemukakan oleh hukum Vant’t Hoff bahwa suatu reaksi kimia dapat dipercepat dengan adanya panas atau kenaikan temperatur akibat pemanasan sehingga proses metabolisme menjadi lebih baik. 2). 5).ini bukan merupakan jarak yang mutlak diberikan karena jarak pemasangan lampu masih dipengaruhi oleh toleransi pasien dan besarnya watt lampu (Sujatno. Vasodilatasi pembuluh darah Dengan adanya vasodilatasi pembuluh darah maka sirkulasi darah menjadi meningkat. Mengaktifkan kerja kelenjar keringat . b. sehingga diluar toleransi pasien. dengan demikian kadar sel darah putih dan antibodi didalam jaringan tersebut akan meningkat. Menaikkan temperatur tubuh Penyinaran yang luas yang berlangsung dalam waktu cukup lama dapat mengakibatkan kenaikan temperatur tubuh.

keadaan ini dapat menyebabkan rasa kaku pada wajah sisi yang sakit. (4) menghilangkan sisa-sisa hasil metabolisme. (2) rileksasi otot. dkk. Pengeluaran keringat ini kalau berlebihan bisa menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit tubuh. c. (Sujatno. a. 2002). Efek terapeutik Efek terapeutik yang dihasilkan dari pemberian IR antara lain (1) mengurangi atau menghilangkan nyeri. (3) adanya kecenderungan terjadi perdarahan. finger kneading dan tapotement. Sehingga dengan pemberian massage pada kasus Bell’s palsy bertujuan untuk merangsang reseptor sensorik dan jaringan subcutaneous pada kulit sehingga memberikan efek rileksasi dan dapat mengurangi rasa kaku pada wajah (Tappan. 2. (Sujatno. 1988). dkk. Teknik-teknik massage pada wajah Teknik-teknik massage yang biasa digunakan pada kasus Bell’s palsy antara lain Stroking. Massage Pada kondisi Bell’s palsy otot-otot wajah pada umumnya terulur kearah sisi yang sehat. 2002) d. (3) meningkatkan suplai darah dan. effleurage. (2) gangguan sensibilitas kulit dan.Pengaruh rangsangan panas yang di bawa ujung-ujung saraf sensoris dapat mengaktifkan kerja kelenjar keringat di daerah jaringan yang diberikan penyinaran atau pemanasan. Kontra indikasi Beberapa kondisi yang merupakan kontra indikasi pemberian IR adalah (1) jaringan yang mengalami insufisiensi pada darah. Effleurage adalah gerakan ringan yang . Stroking adalah manipulasi gosokan yang ringan dan halus dengan menggunakan seluruh permukaan tangan yang bertujuan untuk meratakan pelicin keseluruh wajah pasien.

berirama. Pijatan ini diberikan pada seluruh otot-otot wajah dengan arah gerakan menuju ke telinga. Masssage dapat dimulai dengan pemberian gentle massage yang berupa stroking dan effleurage. Aplikasi massage pada wajah Aplikasi massage dapat diberikan sejak awal terjadinya Bell’s palsy. massage dapat diakhiri dengan memberikan tapotement yang berupa slapping pada wajah sisi lesi (Tappan. c. 1988). Untuk effleurage pada otot-otot wajah tekanan yang diberikan tidak boleh terlalu kuat karena keadaan serabut otot-otot wajah lebih halus bila dibandingkan dengan serabut otot-otot skeletal. Tapotement adalah manipulasi dengan memberikan tepukantepukan yang berirama yang dapat diberikan secara manual ataupun dengan menggunakan bantuan alat. Slapping merupakan sapuan dari ujung-ujung jari yang dilakukan secara tepat dan berirama (Tappan. selanjutnya massage dapat dilanjutkan pemberian finger kneading terutama pada wajah sisi sehat. pada kasus Bell’s palsy salah satu teknik tapotement yang diberikan adalah slapping. Efek-efek fisiologis pemberian massage . yaitu melakukan gerakan ataupun gosokan yang dilakukan dengan menggunakan tiga jari tangan diberikan sesuai letak serabut otot-otot wajah menuju ke telinga. b. Finger kneading adalah pijatan jari-jari tangan yang dilakukan dengan cara melingkar dan disertai dengan tekanan pada kulit dan jaringanjaringan lunak subcutan. d. Efek-efek mekanis pemberian massage Pada pasien Bell’s palsy adanya tekanan yang diberikan secara melingkar pada kulit dan jaringan subcutan dapat menimbulkan efek sebagai berikut: membantu meningkatkan aliran darah dan dapat mencegah terjadinya perlengketan jaringan (Rahim. 1988). 2002).

Efek-efek fisiologis pemberian massage tersebut antara lain (1) memperbaiki kualitas kulit. ada beberapa kondisi yang menurut Meyer (2000). (4) kasus-kasus perlengketan jaringan dan (5) kasus. (3) adanya tumor ganas. (4) daerah peradangan akut dan (5) daerah-daerah yang mengalami gangguan insufisiensi darah. Kontra indikasi pemberian massage Masssage tidak selalu dapat diberikan pada semua kasus. (2) penyakitpenyakit dengan ganguan sirkulasi. selain itu pemberian massage dengan menggunakan teknik slapping yang berirama cepat akan meningkatkan tonus otot sehingga baik diberikan sebagai pre-liminary atau persiapan sebelum melakukan terapi latihan (Rahim. e. efek fisiologis terpenting yang bisa kita dapatkan dari aplikasi massage pada kondisi Bell’s palsy adalah bahwa massage secara perlahan atau gentle akan mengaktifkan sirkulasi dan nutrisi dalam jaringan sehingga mempertahankan fleksibilitas jaringan tersebut dan juga akan meningkatkan elastisistas jaringan.kasus kontraktur . merupakan kontra indikasi pemberian massage. (3) kasus-kasus oedema. yaitu (1) daerah yang mengalami infeksi. . f. 2002). antara lain: (1) spasme otot. arteriosclerosis berat. Namun dari semua efek diatas. (2) nyeri. (2) mempercepat proses regenerasi sel. Indikasi pemberian massage Beberapa kondisi yang merupakan indikasi pemberian massage menurut Meyer (2000).Efek fisiologis yang dimaksud disini adalah efek yang ditimbulkan oleh massage terhadap fungsi dari proses yang terjadi pada tubuh. (3) meningkatkan aktivitas sirkulasi darah limfa dan (4) mempengaruhi fungsi sekretor eksternal dan internal dari kulit. seperti: tromboplebitis.

sedang dibawah anode akan terjadi konsentrasi HCL. Metode aplikasi ES Pada kondisi Bell’s palsy teknik aplikasi ES yang sesuai adalah dengan menggunakan metode individual (motor point). terutama dibawah katode. artinya muatan diluar membran bersifat lebih negatif sehingga akan membuka ion. Reaksi elektrokimiawi Pada saat penggunaan ES akan terjadi ionisasi dan elektrolisis di dalam tubuh terutama pada jaringan dibawah katode. Electrical Stimulation a. karena dengan intensitas kecil mampu menimbulkan aksi potensial. Efek fisiologis pemberian ES 1. Sedangkan anode lebih bersifat hiperpolariasasi artinya meningkatkan kepadatan ion positif diluar membran sehingga tress hold akan naik. Apabila konsentrasi NaOH dibawah katode tinggi . metode individual merupakan suatu stimulasi elektrik yang ditujukan pada individual otot sesuai dengan fungsinya melalui motor point. Sehingga penggunaan intensitas tinggi sering diikuti rasa nyeri. 2.3. Pada aplikasi ES anode lebih disebut sebagai pasif . b. Karena katoda menimbulkan hipopolarisasi. maka akan menimbulkan rangsangan yang bersifat nociseptif yang dapat menyebabkan jaringan nekrotik. Permeabilitas membran Membran dibawah katode akan terjadi hipopolarisasi . Dengan demikian katoda lebih efektif digunakan sebagai aktif electrode. Tujuan dari penggunaan metode ini adalah untuk mendidik fungsi otot secara individual baik yang letaknya superficial maupun dalam (deep). motor point sendiri adalah titik peka rangsang yang terletak di superficial kulit. sehingga akan mengubah sifat ambang ransang menjadi lebih rendah. dibawah katode akan terjadi konsentrasi NaOH.

2. b. sehingga kontrasi terjadi. c. Dengan demikian peningkatan kekuatan otot yang berarti adanya peningkatan gerak sendi dan penambahan aktivitas stabilitas aktif. Peningkatan kekuatan otot Otot yang bekontraksi berulang-ulang secara volunter akan meningkat kekuatannya. Syaraf motoris a. Kontraksi otot skeletal IDC yang diberikan pada saraf motoris akan menimbulkan potensial aksi pada serabut saraf. Efek terapeutik 1. Mendidik kerja otot Pada otot yang kerjanya secara individual. disatu sisi muscle pumping contraction akan menimbulkan pumping action pada pembuluh balik vena. Perbaikan system vaskularisasi Otot yang berkontraksi secara terus menerus akan memacu terjadinya muscle pumping contraction sehingga metabolisme lebih lancar. Saraf sensoris Seperti diketahui bahwa fungsi otot skelet yang utama adalah untuk memelihara sikap dan untuk mengadakan gerakan. c. Kedua fungsi tersebut selalu didampingi oleh rangsang pada propiosensorik yang secara timbal balik saling menunjang. akan diperoleh peningkatan propiosensorik. apabila terjadi kelainan harus distimulasi secara individual pula. termasuk pembuangan sisa asam laktat.electrode. maka untuk membantu menimbulkan kontraksi maka diberikan stimulasi elektris agar memfasilitasi sel-sel motoris. 3. supaya berkontraksi secara fungsional berdasarkan kerja otot . 4. Memberikan fasilitasi kontraksi otot Pada kondisi kelainan saraf tepi sering menimbulkan gejala klinis berupa atrofi otot yang disertai kelayuhan atau parese.

5. 1993). dan hilangnya sensasi sentuh dan tusuk pada area yang diterapi. d. Selain itu dengan latihan didepan cermin pasien dapat dengan mudah mengontrol dan mengkoreksi gerakan yang dilakukan. keganasan pada daerah yang diterapi. dengan tujuan akhir untuk memperoleh keluaran baru yang lebih menguntungkan system tersebut (Widowati. 4. tersenyum. kondisi infeksi. 3. menutup mata. Kontra indikasi Pemberian stimulasi elektris berupa ES tidak direkomendasikan pada kondisi sebagai berikut: adanya kecenderungan adanya perdarahan pada daerah yang diterapi. Mendidik fungsi atau kerja otot baru Pada kondisi tendon transverse pelaksanaan ES sering dilakukan untuk mensubtitusi otot yang paralysis. pasien yang mengalami hambatan komunikasi. Latihan yang dapat diberikan pada pasien antara lain mengangkat alis. kondisi dermatologi pada area yang diterapi. Edukasi Edukasi yang dapat diberikan pada pasien Bell’s palsy dapat berupa penjelasan secara . luka bakar yang dangat lebar. dan bersiul. Terapi latihan dengan menggunakan cermin (Mirror Exercise) Mirror exercise merupakan salah satu bentuk terapi latihan yang menggunakan cermin yang pelaksanaannya menggunakan latihan gerakan –gerakan pada wajah baik secara aktif maupun pasif. yang dimaksud dengan biofeedback adalah disini adalah mekanisme kontrol suatu sistem biologis dengan memasukkan kembali keluaran yang dihasilkan dari system biologis tersebut.tersebut. latihan yang dilakukan didepan cermin akan memberikan biofeedback. Pada kondisi Bell’s palsy. mengkerutkan dahi.

1994). hal ini penting dilakukan karena proses penyembuhan Bell’s palsy juga dapat dipengaruhi oleh perilaku ataupun kebiasaan pasien seperti tidur dengan menggunakan kipas angin yang dihadapkan secara langsung ke wajah. . Serta pasien dianjurkan untuk mengkompres pada sisi lesinya dan pada bagian belakang telinga dengan menggunakan air hangat dan handuk kecil. Edukasi tersebut dapat berupa anjuran untuk menutup mata pada sisi yang sakit pada saat tidur dengan menggunakan tisu atau penutup mata yang lain dan pasien dianjurkan untuk menggunakan obat tetes mata setelah seharian beraktivitas (Griffith.umum mengenai penyakit yang dialami oleh pasien dan apa saja yang sebaiknya dilakukan dan dihindari oleh pasien. Edukasi lain yang dapat diberikan berupa pencegahan terhadap terjadinya iritasi pada mata pasien. dan tidur lansung dilantai tanpa menggunakan alas atau kasur dengan posisi wajah menempel pada lantai.

Related Interests