1.

Pengertian Fraktur tibia adalah terjadinya trauma, akibat pukulan langsung jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi atau gerakan memuntir yang keras ( Brunner and suddart th 2000 hal 2386 ) Fraktur tibia dan fibula adalah trauma dari kebanyakan organ ekstrimitas bawah, terutama fraktur dan kedua tibia dan fibula ( Joys M. Black, tahun 1997 ) 2. Anatomi Fisiologi Tulang tibia merupakan tulang besar dan utama pada tungkai bawah. Ia mempunyai kondilus besar tempat berartikulasi. Pada sisi depan tulang hanya terbungkus kulit dan periosteum yang sangat nyeri jika terbentur. Pada pangkal proksimal berartikulasi dengan tulang femur pada sendi lutut. Bagian distal berbentuk agak pipih untuk berartikulasi dengan tulang tarsal. Pada tepi luar terdapat perlekatan dengan tulang fibula. Pada ujung medial terdapat maleolus medialis. Tulang fibula merupakan tulang panjang dan kecil dengan kepala tumpul tulang fibula tidak berartikulasi dengan tulang femur ( tidak ikut sendi lutut ) pada ujung distalnya terdapat maleolus lateralis. Tulang tibia bersama-sama dengan otot-otot yang ada di sekitarnya berfungsi menyangga seluruh tubuh dari paha ke atas, mengatur pergerakan untuk menjaga keseimbangan tubuh pada saat berdiri. Dan beraktivitas lain disamping itu tulang tibia juga merupakan tempat deposit mineral ( kalsium, fosfor dan hematopoisis). Fungsi tulang adalah sebagai berikut, yaitu : a.. Menahan jaringan tubuh dan memberi bentuk kepada kerangka tubuh b. Melindungi organ-organ tubuh ( contoh, tengkorak melindungi otak ) 1. Untuk pergerakan ( otot melekat kepada tulang untuk berkontraksi dan bergerak. 2. Merupakan gudang untuk menyimpan mineral ( contoh, kalsium ) 3. Hematopoeisis ( tempat pembuatan sel darah merah dalam sum-sum tulang ) 3. Etiologi Penyebab paling utama fraktur tibia biasa disebabkan oleh : 1. Benturan / trauma langsung pada tulang, antara lain kecelakaan lalu lintas atau jatuh. 2. Kelemahan / kerapuhan struktur tulang, akibat gangguan atau penyakit primer seperti osteoporosis atau kanker tulang metastase 3. Olah raga / latihan yang terlalu berat , masukan nutrisi yang kurang 4. Patofisiologi Jika tulang patah maka periosteum dan pembuluh darah pada kortek, sum-sum dan jaringan lunak sekitarnya mengalami gangguan / kerusakan. Perdarahan terjadi dari ujung tulang yang rusak dan dari jaringan lunak (otot) yang ada disekitarnya. Hematoma terbentuk pada kannal medullary antara ujung fraktur tulang dan bagian bawah periosteum. Jaringan nekrotik ini menstimulasi respon inflamasi yang kuat yang dicirikan oleh vasodilasi, eksudasi plasma dan lekosit , dan infiltrasi oleh sel darah putih lainnya. Kerusakan pada periosteum dan sum-sum tulang dapat mengakibatkan keluarnya sum-sum tulang terutama pada tulang panjang, sum-sum kuning yang keluar akibat fraktur masuk ke dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan terjadi emboli lemak apabila emboli lemak ini sampai pada pembuluh darah kecil, sempit, dimana diameter emboli lebih besar dari pada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran-aliran darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan. Emboli lemak dapat berakibat fatal apabila mengenai organ-organ vital seperti otak, jantung, dan paru-paru.

impacted (telescoped) fraktura. kulit utuh fraktur complikata. tulang patah menjadi beberapa fragmen 8. Fase-fase penyembuhan patah tulang. 5. Konsolidasi Terjadinya penggantian sel tulang secara berangsur-angsur oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai dengan garis tekanan dan tarikan yang bekerja pada tulang. commuited fraktur. Pembentukan fibrocartilago Bagian ini akan terjadi lebih dari 3 hari sampai 2 minggu. 4. 5. yaitu : 1. tulang patah. hematon akan terjadi di sekitar fraktur yang tidak melakukan absorbsi selama proses penyembuhan. Tidak seperti hematon lainnya. ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat patah 7. tulang terlihat fraktur tanpa perubahan posisi. Selain itu apabila perubahan susunan tulang dalam keadaan stabil atau benturan akan lebih mudah terjadi proses penyembuhan fraktur dapat dikembalikan sesuai dengan anatominya KLASIFIKASI PATAH TULANG KLASIFIKASI MENURUT BENTUK PANTAH TULANG 1. Spiral. darah akan menjadi beku pada tempatnya adanya fraktur. 4. rasa baal dan kelemahan. salah satu ujung tulang yang patah menancap pada yang lain. 3. KLASIFIKASI MENURUT GARIS YANG PATAH 1. Pada foto Rontgen proses ini terlihat sebagai bayangan tetapi bayangan garis patah tulang masih terlihat. Pada periosteum. Kekuatan kalus ini sama dengan kekuatan tulang biasa.Kerusakan pada otot dan jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya spasme otot di sekitarnya. patah tulang melingkari tulang. fraktur dengan perubahan posisi. 3. 4. faktur complete. 2. Hematon segera setelah cedera Dalam 72 jam. Greenstick. patah sebagian dari tulang tanpa pemisahan simple atau closed fraktur. retak pada sebelah sisi dari tulang ( sering terjadi pada anak dengan tulang yang lembek ). . 2. tulang yang patah menusuk kulit. Transverse. endosteum dan tulang mendapat supply. yang ditandai dengan kesemutan. garis patah miring. dimana akan mengadakan proliferasi ke dalam fibrokartilago. Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan terjadinya perubahan ketidakseimbangan dimana tulang dapat menekan persyarafan pada daerah yang terkena fraktur sehingga dapat menimbulkan fungsi syaraf. Obligue. Akhirnya sel tulang ini mengatur diri secara lamellar seperti sel tulang normal. tulang patah. mengubah jaringan granulasi dan callus . Pembentukan kalus Terjadi 3-10 hari sesudah injury. Penyatuan tulang Kalus fibrosa menjadi kalus tulang. 2. 3. patah menyilang. posisi pada tempat pada tempat yang normal 6. pemisahan komplit dari tulang menjadi dua fragmen fraktur incomplete.

. Nyeri bertambah hebat jika ditekan/raba. 13. 4. Krepitasi jika digerakkan (jangan melakukan pembuktian lebih lanjut jika sudah pasti ada fraktur). Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan a. dan kesukaan dokter yang merawat. Pulsa/nadi pada daerah distal melemah/berkurang. 2. 7. Nilai leukosit meningkat sesuai respon tubuh terhadap cedera. Tanda Dan Gejala 1. pilihan pasien. Keterbatasan mobilisasi. Dilakukan sebagai persiapan transfusi darah jika ada kehilangan darah yang bermakna akibat cedera atau tindakan pembedahan. Nyeri hebat pada daerah fraktur. 15. 3. kehilangan darah. kawat. Jika keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan maka kadang dilakukan juga debridement untuk memperbaiki keadaan jaringan lunak di sekitar fraktur. Pemakaian traksi untuk mencapai alignment dengan memberi beban seminimal mungkin pad daerah distal. 12. 7. potensial nekrosis. Terbukti fraktur lewat foto rontgen. c. 8. 3. Manipulasi dengan Closed reduction and external fixation (reduksi tertutup + fiksasi eksternal). Kehilangan sensasi pada daerah distal karena jepitan saraf oleh fragmen tulang. digunakan gips sebagai fiksasi eksternal. Teraba panas pada jaringan yang sakit karena peningkatan vaskularisasi di daerah tersebut. 5. 14. 11. Alat ini bisa dipasang di sisi maupun di dalam tulang. digunakan jenis yang sama antara plate dan sekrup untuk menghindari terjadinya reaksi kimia. Pendarahan. Tanda-tanda shock akibat cedera berat. Ada/tidak kulit yang terluka/terbuka di daerah fraktur. Terjadi pemendekan karena kontraksi/spamus otot-otot. Darah lengkap. plat. Tak mampu menggerakkan kaki. 6. Adanya rotasi pada tungkai tersebut. Terapi Pengelolaan Medik Pemilihan jenis tindakan lokasi fraktur. Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur. 2. Hematoma. Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan dengan keadaan normal. Mengkaji ketidakseimbangan yang dapat menimbulkan masalah pada saat operasi. Prosedur operasi dengan open reduction and internal fixation (ORIF).5. Dilakukan pembedahan dan dipasang fiksasi internal untuk mempertahankan posisi tulang (misalnya: sekrup. Golongan darah . 2. 6. 10. 9. b. Dapat menunjukan tingkat kehilangan darah hingga cedera (pemeriksaan Hb dan Ht). edema karena ekstravasasi darah dan cairan jaringan. atau akibat nyeri hebat. paku). dilakukan jika kondisi umum pasien tidak mengijinkan untuk menjalani pembedahan. Pemeriksaan kimia darah. Jenis tindakan untuk fraktur antara lain : 1.

1. Ada perubahan bentuk atau pemendekan pada bagian betis/tungkai bawah. Kurang pemahaman tentang keadaan luka dan prosedur tindakan. Komplikasi immobilitas. 2. Terutama pada usia lanjut. 3. 1. Adanya riwayat penyakit yang bisa menyebabkan jatuh. Untuk ini perlu pembedahan ulang. penyembuhan terlambat. Fiksasi internal bisa melemah. patah. atau pindah tempat yang menyebabkan kerusakan jaringan lunak. terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah faktur (biasanya fraktur terbuka) KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. 1. Sering pada fraktur tibia maupun fraktur lainnya sembuh lebih lambat bila terdapat kerusakan jaringan vascular luas yang memberikan suplai darah ke daerah fraktur. Pola tidur dan istirahat Pola tidur berubah/terganggu karena adanya nyeri pada daerah cidera. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan memadai. 1. Pneumonia Thromboplebitis Emboli pulmonal Non-union . Osteomyelitis. Infeksi karena keadaan luka atau luka post pembedahan 3. Pola aktivitas dan latihan Ada riwayat jatuh/terbentur ketika sedang beraktivitas atau kecelakaan lain. Masalah post operatif dengan alat-alat fiksasi internal. 6. antara lain : 1. Adanya kegiatan yang berisiko cidera. Pola nutrisi Adanya gangguan nafsu makan karena nyeri. 5. Komplikasi 1. Pengkajian 1. 1. Tidak kuat berdiri/menahan beban. Pola persepsi kognitif Biasanya mengeluh nyeri hebat pada lokasi tungkai yang terkena. .8. Shock dan pendarahan. Pola eliminasi Obstipasi karena imobilitas. Pada saat terjadinya cedera atau segera dioperasi. 2. 4. Mengeluh kesemutan atau baal pada lokasi tungkai yang terkena.

imobilisasi. 9. Rasa khawatir dirinya tidak mampu beraktivitas seperti sebelumnya. tanda dan gejala. edema berlebihan. 4. Merasa tidak berdaya. 1. pengobatan dan pencegahannya. trauma jaringan. pembentukan trombus. gips dan fiksasi. 7. 2. Kecemasan berhubungan dengan nyeri. ketidakmampuan dan gangguan mobilisasi. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi. hipovolemia. Risiko tinggi terjadinya perubahan neurovaskuler perifer berhubungan dengan menurunnya aliran darah akibat cidera vaskuler langsung. pemasangan traksi. 1.1. Pola konsep diri dan persepsi diri Adanya ungkapan ketidakberdayaan karena keadaan cidera. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres Ekspresi wajah sedih. pengobatan dan pencegahannya. Nyeri berhubungan dengan patah tulang. Perencanaan Pre Operasi 1.d. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi fraktur. tanda dan gejala. Nyeri berhubungan dengan pemasangan pen. 1. 11. spasme otot. 5. Risiko tinggi terjadinya komplikasi post operasi b. 10. kerusakan pada jaringan lunak. Merasa terasing di rumah sakit. edema dan kerusakan jaringan lunak. 2. Post Operasi 3. sekrup. Pola hubungan-peran Kecemasan akan tidak mampu menjalankan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga dan melindungi. 3. Regimen terapeutik in efektif berhubungan dengan kurang informasi mengenai penyakit. edema dan kerusakan jaringan lunak. 8. Nyeri berhubungan dengan patah tulang. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan bertambahnya metabolisme untuk penyembuhan tulang dan jaringan. 6. Regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit. Tidak bergairah. Pola seksual dan reproduksi Merasa khawatir tidak dapat memenuhi kewajiban terhadap pasangan. spasme otot. Diagnosa Keperawatan Pre Operasi 1. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer: kerusakan kulit. drain dan adanya luka operasi. .

Observasi TTV tiap 3-4 jam. R/ Mengurangi kerusakan yang lebih parah pada daerah fraktur. warna kulit. . 1. HYD: Perfusi jaringan perifer memadai ditandai dengan terabanya nadi. menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri. 1. hipovolemia. Tinggikan dan sokong ekstremitas yang sakit. dapat menikmati waktu istirahat dengan tepat. Intervensi: 1. R/ Intervensi tepat mengatasi nyeri. Dengarkan keluhan klien. R/ Mengetahui tingkat nyeri klien. 1. sensasi dan sensori normal. Lakukan pengkajian neuromuskuler. 1. R/ Dislokasi fraktur dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan. 1. 1. R/ Warna kulit pucat merupakan tanda gangguan sirkulasi. Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri (latihan nafas dalam). TTV dalam batas normal dalam waktu 23 hari. 1. Mempertahankan tirah baring sampai tindakan operasi. Kaji tingkat nyeri klien R/ Mengetahui rentang respon klien tentang nyeri. 1. Identifikasi tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. Risiko tinggi terjadinya perubahan neurovaskuler perifer berhubungan dengan menurunnya aliran darah akibat cidera vaskuler langsung. ekspresi wajah santai. Intervensi: 1. Kaji aliran kapiler. kulit hangat/kering. peningkatan nyeri dapat terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau syaraf rusak. R/ Ketidakefektifan volume sirkulasi mempengaruhi tanda-tanda vital. edema berlebihan. 1. kesemutan. R/ Rasa baal. Kolaborasikan dengan dokter mengenai masalah nyeri. R/ Meningkatkan aliran balik vena. dan kehangatan bagian distal fraktur. Pertahankan bidai pada posisi yang sudah ditetapkan.HYD: Nyeri berkurang sampai dengan hilang dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan: klien mengatakan nyeri berkurang/hilang. R/ Meningkatkan kemampuan koping dalam menangani nyeri. perhatikan perubahan fungsi motorik/sensorik. 1. dan mampu melakukan teknik relaksasi dan aktivitas sesuai dengan kondisinya. pembentukan trombus. R/ Mempertahankan kerusakan yang lebih parah pada daerah fraktur.

1. 1. R/ Menentukan intervensi yang tepat. mampu melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. R/ Intervensi tepat dan cepat dapat mencegah kerusakan yang lebih parah. Monitor hasil laboratorium (leukosit). 1. R/ Mengidentifikasi tanda-tanda infeksi. Rawat luka secara steril. 1. Beri dan luangkan waktu bagi klien untuk mengungkapkan perasaannya. Kolaborasi dengan dokter untuk menyiapkan klien intervensi pembedahan. R/ Mengurangi kecemasan klien. Ht). ekspresi wajah rileks. Intervensi: 1. Kecemasan berhubungan dengan nyeri. R/ Mengidentifikasi tanda-tanda kelainan darah. 1. Hb. HYD: Kecemasan tidak terjadi dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan klien tidak mengeluh nyeri. Monitor hasil laboratorium melalui kolaborasi dengan dokter (mppp. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi. R/ Makanan yang bergizi akan membantu meningkatkan pertahanan tubuh. Ajarkan dan bantu klien untuk melakukan teknik-teknik mengatasi kecemasan. Kaji tanda-tanda vital tiap 3-4 jam. ketidakmampuan dan gangguan mobilisasi. 1. Beri diet tinggi kalori dan tinggi protein. kerusakan pada jaringan lunak. Lepaskan perhiasan dari ekstremitas yang sakit. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer: kerusakan kulit. R/ Mengetahui tingkat kecemasan klien dan memenuhi kebutuhan untuk didengarkan. 1. . HYD: Tidak terjadi infeksi dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan tandatanda vital dalam batas normal dan pemeriksaan laboratorium normal. R/ Mengidentifikasi supaya infeksi tidak terjadi. R/ Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema. Kaji tingkat kecemasan klien. dan mengungkapkan perasaan lebih santai.1. Intervensi: 1. 1. R/ Infeksi yang terjadi dapat meningkatkan suhu tubuh. 1. trauma jaringan. 1. R/ Mengurangi risiko terjadinya infeksi.

drain dan adanya luka operasi. pencegahan serta tindakan operasi dalam waktu 2-3 hari. R/ Meningkatkan pengetahuan dan kerjasama klien. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya. Jalin hubungan saling percaya. R/ Meningkatkan pengetahuan klien mengenai penyakit yang sedang dialaminya. Intervensi: 1. Anjurkan penggunaan back pack. pengobatan. R/ Mencegah kekakuan sendi. R/ Mempercepat proses penerimaan diri. 1. . Berikan dukungan kepada klien untuk berinteraksi dengan keluarga. penyebab. 1. Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai penyakitnya. R/ Menurunkan risiko trauma tulang/jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut melalui osteomielitis. R/ Orang terdekat merupakan pemberi support sistem yang paling tepat.1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi untuk mengurangi kecemasan klien. tanda dan gejala. Post Operasi 1. pencegahan dan prosedur operasi. penyebab. R/ Klien tampak lebih rileks dan tidak terlalu memikirkan hal-hal yang menimbulkan kecemasan. Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. 1. meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari. R/ dapat memulihkan klien ke tingkat awal. tanda gejala. dan kelemahan otot. pengobatan. Jelaskan tentang rencana operasi dan post operasi. pengobatan dan pencegahannya. Kaji perilaku koping yang ada dan anjurkan penggunaan perilaku yang telah berhasil digunakan untuk mengatasi kecemasan yang lain. 1. tanda gejala. R/ Meningkatkan pengetahuan klien. kontraktur. 1. 1. 1. Regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit. 1. sekrup. HYD: Klien dapat mengetahui tentang penyakit. orang tua terdekat. 1. Nyeri berhubungan dengan pemasangan pen. R/ Untuk memanipulasi kruk atau dapat mencegah kelelahan otot yang tidak perlu bila satu tangan digips. Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di atas dan di bawah fraktur.

Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi. 1. R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri. 1. 1. Tutup luka operasi dengan kasa steril. intensitas dan karakteristik nyeri. Observasi TTV tiap 4 jam. sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. HYD: Tidak terjadi infeksi dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan kulit bersih. Berikan posisi yang nyaman pada tulang yang fraktur sesuai anatominya. 1. 1. pasien tidak mengalami infeksi tulang. Berikan terapi antibiotik sesuai dengan program medik. Berikan terapi analgetik sesuai dengan program medik. dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan orang lain. S. R/ Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri. R/ Posisi anatomi memberikan rasa nyaman dan melancarkan sirkulasi darah. 1. Kaji keluhan. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam. pemasangan traksi. R/ Analgesik akan menghambat dan menekan rangsang nyeri ke otak. lokasi. 1. R/ Kasa steril dapat menghambat masuknya kuman ke dalam luka. HYD: Klien dapat mobilisasi seperti biasanya dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan klien dapat mobilisasi sendiri. R/ Antibiotik akan menghambat hidup dan berkembangnya bakteri. klien mengungkapkan nyeri berkurang.HYD: Nyeri berkurang sampai dengan hilang dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan: ekspresi wajah tenang. Observasi tanda-tanda vital (TD. P) tiap 4 jam. 1. Jaga daerah luka tetap bersih dan kering. Intervensi: 1. Intervensi: 1. gips dan fiksasi. Rawat luka operasi dengan baik dengan tehnik antiseptik. R/ Menentukan tindakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pasien. R/ Mencegah dan menghambat berkembangnya bakteri. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi fraktur. N. R/ Peningkatan TTV dapat menunjukkan adanya infeksi. 1. . R/ Napas dalam dapat mengendorkan ketegangan. 1.

R/ Sebagai data dasar untuk menentukan tindakan keperawatan. nutrisi. 1. 1. Bantu pasien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi kebutuhan nutrisi tinggi kalsium. Anjurkan dan bantu klien untuk mobilisasi fisik secara bertahap sesuai kemampuan pasien dan sesuai program medik. 1. mobilisasi secara mandiri. Bantu pasien dalam pemenuhan higiene. eliminasi yang tidak dapat dilakukan sendiri. Intervensi: 1. 1. R/ Menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/iritasi. R/ Mewaspadai terjadinya hiperglikemia karena peningkatan pengeluaran glukagon dan penurunan pengeluaran insulin. 1.Intervensi: 1. N. HYD: Perubahan nutrisi tidak terjadi dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan penyembuhan tulang dan jaringan dapat kembali secara bertahap sempurna seperti normalnya. Kaji adanya peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental dan ketajaman visual. . 1. R/ Menentukan tingkat keperawatan sesuai kondisi pasien. catat adanya bising usus. Berikan perawatan oral. R/ Distensi abdomen dan atoni usus sering terjadi. Kaji abdomen. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan bertambahnya metabolisme untuk penyembuhan tulang dan jaringan. R/ Klien dapat segera memenuhi kebutuhan yang dapat dilakukan. mengakibatkan penurunan tak adanya bising usus untuk mencerna makanan. R/ Kebiasaan diet sebelumnya mungkin tidak memuaskan pada pemenuhan kebutuhan saat ini untuk regenerasi jaringan dan penyembuhan. Dekatkan alat-alat dan bel yang dibutuhkan klien. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pasien. Observasi TTV (S. P) tiap 4 jam. R/ Kerjasama antara perawat dan keluarga akan membantu dalam mencapai tujuan yang diinginkan. R/ Mobilisasi dini secara bertahap membantu dalam proses penyembuhan. 1. R/ Kerjasama antara perawat dengan pasien yang baik mengefektifkan pencapaian hasil dari tindakan keperawatan yang dilakukan. mukosa membran kering. TD. 1. distensi abdomen dan keluhan mual. 1. Kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas.

tanda gejala. 1. P) tiap 4 jam. pengobatan. pengobatan. Anjurkan pasien untuk menaati terapi dan kontrol tepat waktu. Berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya. tanda dan gejala.1. . Kaji keluhan pasien. HYD: Regimen terapeutik menjadi efektif dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan klien dapat mengetahui penyakit. pencegahan dan prosedur operasi. HYD: Tidak terjadi komplikasi post operasi dalam waktu 2-3 hari ditandai dengan tidak ada perasaan nyeri. R/ Konsumsi buah dan sayur-sayuran dapat meningkatkan proses penyembuhan tulang. 1. imobilisasi. Menganjurkan klien untuk banyak mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran. Kaji tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakit. 1. 1. R/ Mengetahui dan mendapatkan penanganan yang tepat. R/ Meningkatkan pergerakan sehingga dapat melancarkan aliran darah. Intervensi: 1. pengobatan dan pencegahannya dan prosedur pembedahan. tanda dan gejala. Observasi TTV (S. 1. mati rasa dll. T. R/ Mengetahui masalah pasien. Regimen terapeutik in efektif berhubungan dengan kurang informasi mengenai penyakit. R/ Mencegah keadaan yang dapat memperburuk keadaan fraktur. R/ Dengan latihan aktif dan pasif diharapkan dapat mencegah terjadinya kontraktur pada tulang. R/ Untuk mendeteksi adanya tanda-tanda awal dari komplikasi. sesak. Risiko tinggi terjadinya komplikasi post operasi b. pencegahan dan prosedur operasi. Anjurkan pasien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur. Kolaborasi dengan ahli diet. N. Anjurkan dan ajarkan latihan aktif dan pasif. 1. R/ Untuk mengukur sejauh mana pengetahuan pasien tentang penyakit. Kolaborasi dengan dokter. Intervensi: 1. Ajarkan dan anjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif secara teratur. 1. 1. 1. R/ Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien. R/ Hal kurang jelas dapat diklarifikasi kembali. 1.d.

Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. M. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Sorensen. (1991). . M. Price. Jakarta: EGC. RN. (1994). Saunders Company. (1994). Edisi 4. Moorhouse (1994). Rencana Asuhan Keperawatan. John Luckman.B. Edisi 3: Penerbit Buku Kedokteran: EGC. Marilynn E.N.DAFTAR PUSTAKA Andy Santosa Augustinus. Donna.B. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: W.A. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia.N (1997). Karen C. Mary F. Ignatavicius.: Saunders Company. Medical Surgical Nursing: A Psychophysiological Approach. D.B. Marylinn V. Brunner and Suddarth (2000). N. Jakarta: EGC. Jakarta : Akademi Perawatan Sint Carolus. R. A Nursing Proses Approach. Doengoes. Sylvia A. Philadelphia.

Related Interests