Cinta yang Tak Berkesudahan

Ada seorang pria yang memiliki kekasih yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati. Apapun dilakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada permata hatinya ini. Suatu saat, pria ini berkata kepada kekasihnya, "kekasihku, aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan aku menilai hal itu baik buatmu. Karena aku tidak ingin melihat engkau kecewa dengan pilihanmu yang salah". Hari demi hari berlalu mengiringi perjalanan cinta mereka. Pria ini tak pernah memalingkan hatinya atau melupakan kekasihnya. Sementara sang wanita merasa berbahagia memiliki pria ini. Hingga suatu hari, wanita ini meminta sesuatu dari kekasihnya. Dia menginginkan sebuah kalung dengan berlian pada liontinnya. Ketika pia ini mendengar permintaan kekasihnya, dia menolak. Dia berkata," kekasihku, bukannya aku tidak mau atau tidak bisa membelikanmu kalung itu. Tapi sangat berbahaya bila engkau memakai kalung itu. Bila ada orang yang gelap mata, dia akan merampas kalung itu dan kalau itu terjadi, bukan hanya kamu yang celaka, aku juga akan sangat menderita melihatmu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu mendapat celaka". Tapi kekasihnya terus meminta kalung itu dan tidak mau mendengar nasehatnya. Akhirnya kalung itu pun dibeli dan dipakai oleh sang wanita. Selang beberapa hari, apa yang ditakutkan oleh pria ini benar-benar terjadi. Ada 2 orang penjahat yang merampas kalung itu saat kekasihnya sedang mengendarai motor. Kalung itu pun terampas dan wanita ini terjatuh dari motornya. Mendengar berita ini,si pria langsung menemui kekasihnya, membawanya pulang dan mengobati lukanya. Dengan menangis, pria ini berkata," Mengapa engkau tidak mau menuruti kata-kataku? Engkau mendapat celaka seperti ini, aku merasa sepuluh kali lebih sakit daripadamu". Wanita ini menangis, dia menyesal dan berkata, "maafkan aku, aku bersalah padamu karena tidak mendengar perkataanmu dan menuruti keinginanku sendiri. Aku menyesal. Maukah engkau memaafkan aku?". Dengan penuh cinta kasih pria ini memeluk kekasihnya dan berkata, "Aku memaafkanmu sejak tadi, Aku bahagia karena aku bisa memelukmu dalam keadaan engkau masih hidup. Mulai sekarang, turutilah perkataanku karena aku tidak pernah akan membuatmu celaka". Kekasihnya mengangguk dan mereka menangis bahagia... SOBAT.. Bukankah cerita itu mirip dengan hidup kita sehari-hari yang kita lewati bersama TUHAN? Tuhan adalah pria itu dan kita adalah sang wanita. Ketika awal kita mengenal DIA, kita berkobar-kobar dan melalui setiap detik dalam hidup dengan bahagia. Tetapi dengan berjalannya waktu, saat kita menginginkan sesuatu dan memohon padaNYA, seringkali permohonan kita tidak sesuai dengan kehendak TUHAN. Tapi kita terus memaksa dan merengek seperti anak kecil. Saat TUHAN benar-benar mengabulkan permohonan kita, belum tentu itu baik buat kita. Malah bisa-bisa kita kecewa karena menuruti keinginan kita sendiri. Saat itu terjadi, barulah kita ingat padaNYA, kita menyesal dan minta ampun.

Beruntunglah karena kita memiliki ALLAH yang Maha Pengampun. Dia tidak pernah menolak bila kita memohon ampun atas semua kesalahan dan kekerasan hati kita. TUHAN tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi seringkali kita yang meninggalkanNYA. Dan apa yang DIA lakukan? Denga sabar DIA menunggu kita kembali padaNYA SOBAT, ingatlah : Saat kita berhenti melangkah jauh dariNYA, maka DIA tersenyum... Saat kita menoleh padaNYA, maka DIA tertawa... Saat kita berbalik padaNYA, maka DIA membuka kedua tanganNYA... Saat kita melangkah 1 Langkah ke arahNYA, maka DIA akan BERLARI 1000 LANGKAH MENGHAMPIRI KITA.... Sungguh cintaNYA pada kita takkan pernah berkesudahan.. PRAISE THE LORD

PERBEDAAN PERSEPSI Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya : - Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu. - Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari. Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu : "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih". "Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak". Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung : "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka

saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut". "Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup." "Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama". MORAL CERITA : Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan anda. 'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'

Cangkul... cangkul... cangkul yang dalam Kemiskinan badan berjumpa kemiskinan batin, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya pada akhir meditasi. Rumah sakit yang seyogianya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal, malah mengirim pasiennya ke penjara. Sekolah yang dulu menggembirakan, kini pada saat ujian dijaga polisi, Bahkan, terjadi berbagai penangkapan, menakutkan. Sekolah yang indah Di banyak tempat, ditemukan home schooling. Anak-anak takut ke sekolah karena dipukuli teman, guru galak, pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Ini memberi inspirasi, saatnya merekonstruksi sekolah agar indah. Di sebuah pelatihan sopir taksi pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Pada hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak disediakan makan siang. Peserta berlomba membawa makanan yang enak. Ketika makan, peserta diminta meletakkan nasinya di kelas sebelah untuk dimakan peserta sebelah. Sementara yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa orang lain. Pada hari kedua juga diminta membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk kelas sebelah, banyak yang membawa nasi

seadanya. Tidak sedikit hanya membawa nasi putih saja. Ternyata aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa sendiri. Yang ingin diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia memberi, bahkan banyak yang stroke. Namun terkait perut orang, betapa sedikit yang diberikan. Tiba-tiba para sopir tersentak, betapa egoisnya hidup. Ego inilah yang menciptakan penderitaan. Maka ada guru yang berpesan: "Memberi, memberi, memberi. Lihat bagaimana hidupmu menjadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi". Di sekolah, guru boleh meniru pola pelatihan sopir itu, bisa juga mengajak anak didik ke panti asuhan, bermain bola bersama anak kampung. Intinya, menyadarkan pentingnya memberi. Dalam bahasa manusia jenis ini, saat memberi sebenarnya orang tidak saja mengurangi beban pihak lain, tetapi juga sedang membangun potensi kebajikan dalam diri. Ini yang kelak memancarkan kebahagiaan. Tiga tangga pemberian Pemberian terdiri tiga tangga. Pertama, semua makhluk sama dengan kita: "mau bahagia, tidak mau menderita". Karena itu, jangan pernah menyakiti. Kedua, para makhluk lebih penting. Nasi, udara, pekerjaan, semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan makhluk lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, melepas burung, menyayangi keluarga, bekerja jujur, tulus, sampai memberi beasiswa anak-anak miskin. Ketiga, karena semua makhluk lebih penting, belajarlah memberi kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Dalai Lama kerap menitikkan air mata saat membacakan doa ini, "Semasih ada ruang, semasih ada makhluk. Izinkan saya terus terlahir ke tempat ini agar ada yang membantu semua makhluk keluar dari penderitaan." Penggalan lagu di awal tulisan mengingatkan, dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon membantu batang, daun, bunga, dan buah bertumbuh. Kehidupan manusia juga serupa. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang "mencangkul hidupnya" secara mendalam. Hasilnya, bunga kehidupan mekar: kaya rasa, kaya makna. Sampai di sini, guru berbisik: bahkan kematian pun bisa berwajah menawan. Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan) , tidak lagi tersisa kelekatan yang membuat kematian menakutkan. Kematian menakutkan karena

manusia belum terbiasa melepaskan. Kedua, melalui kematian manusia melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, tubuh pun diikhlaskan. Tubuh menyatu dengan tanah, ikut menghidupi makhluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar makhluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar makhluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara agar makhluk bisa bernapas. Unsur jiwa (ada yang menyebut kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar semua makhluk teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukan kehilangan, malah memberikan. Guru, semoga ada pemimpin yang tertarik mencangkul hidupnya secara mendalam. Lalu tersentuh untuk meringankan beban mereka yang kerap menangis oleh biaya sekolah, biaya berobat, biaya menemukan keadilan yang serba mahal.

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN TAHUN CAKA 1931 Bagi Teman-teman yang merayakannya. SEMOGA IDA SHANG HYANG WIDI WASA MEMBERKATI KITA SEMUA. OM SHANTI SHANTI SHANTI OM. Setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Bali-Jawa (Javano-Balinese Calender) yakni pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan dan sepuluh hari kemudian akan disusul dengan perayaan Kuningan. Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari Budhi Atma yaitu : Suara Kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. Disamping itu juga berarti kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (daiwa sampad), karena hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan rincian upacara Hari Raya Galungan sebagai berikut : "Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran" Jadi inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran (byaparaning idep) adalah wujud Adharma.

CERMIN YANG TERLUPAKAN

Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan 'garage sale' untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi. Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau. Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari. Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli. Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. "Berapa harga cermin itu?" katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. "Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?" katanya. "Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus." jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga. Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith berkata, "Hmm ... anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar." Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith. "Terima kasih," kata Mrs. Smith, "Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?" "Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang." jawab si pembeli..

Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu! "Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu. Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari. Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan? Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak. Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita. Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih

banyak, mengenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang baru. Mari kita membuat perbedaan!

My Business Loss Bertahun-tahun yang lalu, aku kehilangan banyak uang dalam bisnis. Itu merupakan kerugian besar bagi saya. Pada saat itu, aku kehilangan hampir seluruh harta. Aku tergoda untuk bermuram, untuk merajuk, dan membawa beban berat untuk waktu yang lama. Sebenarnya aku membiarkan diriku berduka untuk sesaat, yang menurutku cukup sehat. Tapi aku memutuskan untuk tidak bersedih terlalu lama, atau aku akan terjebak selamanya. Setelah beberapa waktu, aku menyatakan, "Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik untukku." Aku memilih untuk tersenyum. Aku memilih untuk melihat sisi terang. Aku memilih untuk percaya bahwa bisnis yang lebih baik akan datang. Bahkan, aku mulai menyatakan sesuatu yang luar biasa. Aku berkata, "Aku akan mendapatkan sepuluh kali lipat dari apa yang telah hilang!" Kemudian minggu itu, seorang teman bertanya padaku, "Apakah benar bahwa Anda kehilangan banyak uang dalam bisnis?" Aku berkata, "Ya, benar." "Itu terjadi pada Anda juga, ya? Saya pikir orang-orang seperti Anda dibebaskan dari hal-hal ini. Jadi kenapa kamu tersenyum? " "Karena aku percaya Tuhan sedang mengarahkan saya untuk bisnis yang lebih baik. Dan aku tahu bahwa aku akan mendapatkan sepuluh kali lipat dari apa yang hilang. " Ini adalah klaim besar dan beberapa temannya tidak bisa mengerti mengapa aku begitu santai. Tetapi beberapa tahun kemudian, apa yang aku nyatakan terjadi. Aku mulai bisnis baru dan mulai mendapatkan sepuluh kali dari apa yang pernah hilang. Apa yang telah hilang, tabunganku selama bertahun-tahun, aku dapatkan kembali hanya dalam beberapa bulan. Hari ini, bisnis yang baru berkembang biak. Kadang-kadang aku bertanya pada diri sendiri, "Bagaimana jika aku tidak gagal dalam bisnis itu? Aku akan tetap terjebak dalam bisnis yang lama! Aku tidak akan punya bisnis baru yang aku miliki sekarang. " Dan bayangkan jika terus bermuram durja dan merajuk, apakah aku akan melihat peluang-peluang baru di sekitarku? Bayangkan jika aku terus berduka kehilangan, akankah aku memiliki energi untuk mengusahakan sesuatu yang

baru? Teman, jangan fokus pada masalah-masalah dalam hidup Anda. Jangan berfokus pada apa yang hilang. Sebaliknya, fokus pada dua hal: lihatlah pada apa yang kau punya dan lihatlah hal-hal baru yang akan diberikan Allah padamu. Dan bersyukurlah.

COBALAH UNTUK MERENUNG Dalam sehari Anda mungkin disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran Anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu istirahat dalam keadaan terbangun. Maka merenunglah semua yg Anda alami hari itu, dan dapatkan ketentraman batin di hadapan Allah. Anda pernah mengaduk air sabun dalam sebuah gelas? Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat Anda mengaduk semakin kencang pusaran. Maka merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Dan kini Anda mendapatkan air jenih tersisa di permukaan. Bukankah air jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran Anda yang bening. Untuk itu,sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan permenungan. Lakukanlah itu di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur, atau saat sebelum Anda berangkat istirahat malam. Merenung dalam keheningan, adalah berteman dengan ketenangan bersama Tuhan agar Anda mendapatkan kejernihan pikiran. Dengan demikian jawaban atas semua persoalan hidup akan muncul dari pikiran Anda yg bening bersama TUHAN.

Pelayan Teladan Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda, keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah. Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai. Dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah disana, sebuah istana dengan batu ke-merah-an, dengan menara yang menjulang ke langit." Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola"." Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda. "Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar. Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama itu, adalah George C.Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia. Pelajarannya adalah ..... perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat dan anda tidak akan gagal.

Jadilah seekor Elang Tidak ada seorang pun yang dapat membuatmu melayani pelanggan dengan lebih baik. Itu karena pelayanan yang baik adalah sebuah PILIHAN Harvey Mackay, menceritakan sebuah kisah tentang seorang pengemudi taksi

yang membuktikan hal ini. Suatu hari ia sedang mengantri menunggu taksi di sebuah airport. Ketika sebuah taksi mendekat hal pertama yang ia perhatikan adalah keadaan taksi tersebut yang tampak sudah digosok hingga mengkilap. Pengemudi taksi yang terlihat sangat rapi dalam kemeja putih, dasi hitam dan celana panjang hitam tersebut keluar dan memutari taksi tersebut untuk membukakan pintu untuk Harvey. Dia memberi temanku sebuah kartu yang telah dilaminating dan berkata: "Saya Wally, supir anda. Selagi saya memasukan barang-barang anda ke bagasi, saya harap anda bersedia untuk membaca pernyataan misi saya." Harvey mengambil dan membaca kartu tersebut. Di sana tertulis: Pernyataan Misi Wally: "Untuk mengantarkan penumpang saya ke tempat tujuan mereka dengan cara tercepat, teraman, dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat". Hal ini sempat membuat Harvey terkejut. Terutama ketika ia menyadari bahwa keadaan di dalam taksi tersebut persis sama dengan tampak luarnya. Bersih tanpa noda! Sambil mengemudi, Wally berkata, "Apakah anda mau segelas kopi? Saya memiliki satu thermos kopi biasa dan satu decaf." Sambil bercanda teman saya berkata, "Tidak, saya lebih memilih soft drink." Wally tersenyum dan berkata, "Tidak masalah. Saya memiliki pendingin yang berisi Cola, Diet Cola, air, dan jus jeruk." Harvey berkata dengan hampir tergagap, "Baiklah saya akan mengambil Diet Cola." Sambil memberikan minuman kepada Harvey, Wally berkata, "Bila anda membutuhkan bacaan, saya punya Wall Street journal, Time, Sport illustration dan USA Today." Sambil menepi, Wally menawarkan teman saya sebuah kartu berlaminating yang lain. "Ini adalah beberapa daftar stasiun radio dan musik yang dimainkannya yang dapat diputar disini bila anda berkenan mendengarkan radio." Dan seakan semua itu tidak cukup, Wally memberitahu Harvey bahwa AC telah dinyalakan dan bertanya apakah suhunya sudah cukup nyaman untuknya. Kemudian ia menyarankan rute terbaik menuju tempat tujuannya di waktu

seperti saat itu. Dia juga berkata bahwa ia akan sangat senang untuk mengobrol atau menceritakan tentang beberapa pemandangan, atau jika Harvey lebih memilih untuk dibiarkan sendiri. "Wally, tolong beri tahu saya," dengan kagum teman saya bertanya kepada pengemudi tersebut, "Apakah anda selalu melayani setiap penumpang seperti ini?" Wally tersenyum melalui kaca spion depan. "Tidak, tidak selalu, malahan hal ini baru saya lakukan dua tahun belakangan ini. Selama lima tahun pertama saya mengemudikan taksi, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengeluh sebagaimana yang dilakukan kebanyak pengemudi taksi. Hingga suatu hari saya mendengar guru pengembangan pribadi, Wayne Dyer, di radio. Dia baru saja menulis sebuah buku berjudul 'Anda akan Melihatnya Ketika Anda Mempercayainya'." "Dyer berkata bila kamu bangun di pagi hari dan mengharapkan hari yang baik, namun kamu sering mengeluh dan bersikap negatif terhadap setiap keadaan. Maka kamu akan mendapati hari-hari yg buruk." "Dia berkata, 'Berhentilah mengeluh! Buatlah dirimu berbeda dalam kompetisi. Jangan menjadi seekor bebek. Jadilah seekor Elang.' Bebek terbiasa mengeluh sedangkan elang terbang tinggi di angkasa dengan penuh kedamaian dan kemenangan."

Kemalangan atau Berkah?? Sebutlah sebuah kisah nyata yang dialami oleh keluarga Clark di Scotlandia, mereka mempunyai impian sekeluarga untuk berlibur dan jalan-jalan ke Amerika bersama sembilan anaknya. Clark dan istrinya bekerja keras untuk mengumpulkan uang. setelah setahun tabungan mereka sudah cukup untuk sebuah perjalanan itu. mereka segera mengurus kelengkapan untuk persiapan perjalanan itu. Seluruh keluarga sangat bergembira menantikan saat-saat perjalanan mereka. akan tetapi rupanya yang namanya halangan itu kapan saja bisa datang. tujuh hari sebelum keberangkatan Anak bungsu mereka digigit anjing dengan luka yang cukup serius dan harus dikarantina selama kurang lebih dua minggu.untuk menghindari Rabies. Inpian mereka seketika jadi buyar, mereka tidak mungkin mengadakan perjalanan dengan meninggalkan si bungsu sendirian. saat hari keberangkatan tiba keluarga itu hanya bisa melihat kepergian kapal dengan sedih dan

menitikkan airmata. mereka merasa sangat kecewa,marah dan Mengutuk Tuhan dan putranya untuk kemalangan ini. Lima hari waktu berlalu kemudian tersebar berita yang sangat mengejutkan, kapal yang menuju Amerika Tenggelam dan menewaskan seluruh penumpangnya. Keluarga Clark yang seharusnya dikapal itu terselamatkan karena putra bungsunya digigit Anjing. Mendengar berita itu Clark segera memeluk dan menciumi anaknya serta berterima kasih karena telah menyelamatkan keluarga. dan terutama berterima kasih pada Tuhan yang telah menyelamatkan hidup mereka. Rancangan Tuhan itu selalu jauh lebih indah dari dari rancangan Manusia. manusia boleh saja berencana tetapi Tuhan selalu punya rencana yang jauh lebih indah dari rencana Manusia. (disarikan dari Buku karangan Agus Susanto "inspirasi Sukses")

Try Again "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh. Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, "ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?" Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya. Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil

menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9. Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda. Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa "jatuh", Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata "ya" kepada kebenaran firman Tuhan dan "tidak" kepada dosa. Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, "apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?" jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya. Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.

Tak Pernah Ada Kata Terlambat Benarkah bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk memulai karir baru atau membuat perubahan dramatis dalam kehidupan kita? Bagaimana jika kita berusia 72 atau bahkan 82 tahun? Apakah seusia itu kita terlambat untuk mempelajari bahasa baru? Ah, tidak juga. Dua ratus tahun lalu negarawan Roma, Cato, mempelajari bahasa Yunani pada usia 80 tahun. Bisakah kita lebih kreatif di usia itu? Bagaimana dengan Goethe? Mahakaryanya, ‘Faust’ belum sempurna hingga ia berusia 80 tahun. Dan Michelangelo berusia 71 tahuh ketika ia melukis Kapel Sistine. Butuh contoh lebih banyak? Luigi Cornaro, seorang terpelajar dari Venesia, mulai menulis geriatrik pada usia 83 tahun. Risalah klasiknya ‘The Joys of Old Age’ ditulis [ada tahun 1562 ketika ia berusia 95 tahun! Di era modern, seorang filosof besar, ahli matematik, dan pecinta perdamaian, Bertrand Russell, berpartisipasi dan ditahan dalam sebuah demonsttasi anti nuklir ketika ia berusia 89 tahun. Dan tentu saja kita tak bisa melupakan Nenek Moses, yang mulai melukis di usia 80. Tahukan anda bahwa sekitar 25% lukisannya yaitu sebanyak 1,500 lukisan dibuatnya setelah ia berusia 100 tahun? Kemudian ada Henry Little, seorang Presiden Direktur dari The Institution for Savings di Newburyport, Massachusetts, memutuskan untuk pensiun sehingga orang yang

lebih muda bisa mengambil alih. Tuan Little pensiun ketika ia berusia 102 tahun! Orang lebih muda yang ia maksud ternyata berusia 83 tahun. Sedikit Pelajaran Apa yang bisa kita pelajari dari contoh-contoh di atas? Mereka semua sangat berhasrat tinggi dalam melakukan apa yang meraka kerjakan. Hasrat atau passion adalah sumber energi dan membuat seseorang tetap awet muda, sebagaimana yang ditulis Benjamin Franklin, “Mereka dengan cinta mendalam tak pernah tua, mungkin saja mereka meninggal karena usia tua, tapi sesungguhnya mereka mati muda.” Mereka juga menyadari, bahwa lebih baik menjadi 70 tahun lebih muda daripada berusia 40 tahun, sehingga mereka tidak membiarkan usia menghambat mereka untuk mengejar mimpi. Mereka memahami bahwa tak ada kata terlambat untuk mulai mengerjakan sesuatu, dan saat ini lah waktu untuk bertindak. Tidak seperti King Richard II, mereka tidak pernah berkeluh kesah, “Aku menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktu lah yang menyia-nyiakan aku” Pelajaran lain yaitu ketika peluang muncul, mereka terjun ke dalamnya. Memang, pasti ada resiko di dalamnya, tapi mengapa kita takut akan kehidupan? Kematian, mungkin, tapi tidak dengan kehidupan. Rita Coolidge menyadari pentingnya hal ini ketika ia berkata, “Terlalu sering peluang datang mengetuk, tapi saat kita melepas rantai, melepas gembok, membuka kunci dan mematikan alarm pencuri, saat itu sudah terlambat.” Satu hal, bahwa obat mujarab untuk tetap awet muda adalah pengalaman dan pengetahuan baru yang kita dapat setiap hari. Rupanya Henry Ford merasakan hal serupa, ketika ia berkata, “Siapapun yang berhenti belajar adalah kaum tua, tak peduli terjadi di usia 20 atau 80. Siapapun yang tetap belajar tidak cuma awet muda tapi tetap bernilai, tanpa memperhatikan kapasitas fisiknya.” Pada akhirnya, ada pepatah Arab yang patut dipertimbangkan, “Ketika kau lihat orang tua yang ramah tamah, berwatak halus, mantap, berisi, dan mempunyai selera humor yang baik, yakinlah bahwa kemudaan, kemurah hatian, dan kesabaranlah yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka tidak meratapi masa lalu, juga tidak takut pada masa depan; mereka seperti waktu malam di ujung hari yang menyenangkan.”

Dua Puluh Ribu Rupiah dari Emak Nurdianah Seorang ibu tua berusia diatas 70 tahun berjalan tertatih memasuki Posko Utama ACT di Jl. Adinegoro no. 31, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Minggu 4 Oktober 2009. Tangannya gemetar menggenggam sesuatu, "Ini posko kemanusiaan ya?" bibirnya ikut bergetar. Serempak beberapa relawan mendekatinya, "Benar mak, ada yang bisa kami bantu?" Sebuah pertanyaan standar, sebab kami mengira bahwa Ibu tua itu hendak meminta bantuan untuk korban gempa. Namun ternyata kami salah karena ia datang justru untuk memberi bantuan, "Emak mau kasih bantuan, tolong disampaikan kepada para korban gempa. Melihat kalian yang muda-muda ini bekerja, sebenarnya emak ingin menjadi relawan. Tapi emak sudah tua, emak nggak kuat lagi, sudah nggak kuat lagi," ujar Emak Nurdianah bersemangat. Emak Nurdianah mengaku lahir tahun 1938, mendatangi posko ACT menitipkan uang dua puluh ribu rupiah untuk disalurkan kepada para korban gempa. Padahal ia sendiri pun salah satu korban gempa di Kota Padang yang mengguncang tanah Sumatera 30 September 2009 lalu. Lebih dari 600 orang menjadi korban jiwa, belum termasuk lima ratusan lainnya yang belum ditemukan hingga hari ke -6 pasca gempa, mereka tersebar di beberapa titik seperti Tandikek dan Sicincin. Sedangkan pengungsi mencapai ratusan ribu, tersebar di seluruh Sumatera Barat. "Emak terharu melihat kalian, datang dari jauh untuk membantu tempat emak. Sebagai orang Minang, emak merasa harus pula membantu tanah emak sendiri, emak tidak mau kalah sama kalian. Dulu emak ini pejuang, angkat senjata.. Sekarang emak sudah tidak sanggup bekerja berat. Emak cuma bisa titip ini," sambil menyerahkan uang digenggamannya kepada Romi, salah seorang relawan. Ketika Romi hendak membuatkan tanda terima, Mak Nur menolak dengan halus, "Tak perlulah catatan macam itu, cukup Allah saja yang mencatatnya. Emak hanya minta doakan, tahun ini emak naik haji agar dilancarkan sampai kembali lagi ke sini ya." sebuah permintaan sederhana yang sudah pasti semua relawan yang ada di Posko saat itu serempak mendoakan, "semoga dilancarkan mak, insya Allah mabrur" Boleh jadi haji Mak Nur sudah diterima Allah bahkan sebelum ia bertamu ke rumah Allah nanti. "Sekali lagi terima kasih, kalian anak-anak muda, jaga kesehatan ya biar lebih lama di tanah kelahiran emak, biar lebih banyak orang yang bisa dibantu." Emak Nur pun pamit pergi meninggalkan posko sambil memeluk satu persatu relawan yang ada di posko, beberapa relawan perempuan pun tak luput mendapat ciuman hangat bak seorang ibu yang tengah mengalirkan energi cinta kepada anak-anaknya. Jelas pelukan hangat Mak Nur memberi energi lebih kepada para relawan untuk menjalankan misi kemanusiaan tanpa kenal lelah. Semakin kami sadar bahwa di belakang kami terdapat orang-orang yang terus

menopang segala pengorbanan di lokasi bencana. Dua puluh ribu rupiah yang dititipkan Mak Nur rasanya sangat bernilai tinggi bagi kami yang diamanahkan untuk meneruskannya kepada para korban gempa. Sebuah kehormatan bagi segenap relawan ACT yang mendapat amanah bernilai luhur dari seorang Mak Nur. Sungguh, titipan dari sejuta Mak Nur di belahan bumi pertiwi yang tak dapat kami berjumpa satu persatu merupakan amanah tertinggi yang wajib kami panggul secara terhormat di pundak ini. Terima kasih Mak Nur, dua puluh ribu rupiah milik Mak Nur menambah semangat kami.

Bencana: Saat yang Menjadikan Hidup Berarti?? Pada umumnya kita baru mau belajar, ketika kita mengalami “bencana” yang memaksa kita untuk merenung. Saat jalan kita sudah buntu. Saat dihadapan kita terpampang tembok yang tebal dan tinggi. Kita banyak belajar ketika kita mengalami kegagalan. Saat kita sukses, kita tidak banyak belajar. Ketika Anda mengalami keberhasilan, teman-teman anda mungkin hanya berkata, “Kamu hebat!” tetapi saat anda mengalami kegagalan yang terjadi adalah anda disuruh untuk belajar kembali. Evaluasi kembali. Merenungkan kembali apa yagn sudah anda alami. “Anggaplah itu sebagai sebuah pengalaman, sebuah pelajaran!” Kata-kata itu mungkin sering anda dengar saat-saat anda berkutat dengan kegagalan. Sebuah ungkapan bijak mendukungnya, “Hanya keledai bodoh yang jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya”. Apakah anda pernah mendengar atau membaca ungkapan yang sebaliknya? “Hanya orang pintar yang mengalami kesuksesan yang sama untuk kedua kalinya”? Kita akan sangat membutuhkan benturan-benturan dalam perjalanan hidup ini, ketika kita ingin berkembang. Ketika kita ingin mengevaluasi diri kita. Kapankah anda mulai menyadari pola makan yang salah? Ketika anda sudah terkena penyakit maag. Kapankah anda mulai memberi cinta pada orang-orang yang anda cintai? Ketika anda sudah kehilangan mereka. Kapankah anda mulai menyadari bahwa sikap anda pada teman-teman anda ternyata sangat menjengkelkan? Ketika anda tidak punya teman lagi. Kapan anda mulai tekun belajar? Ketika nilai anda di sekolah sangat jelek. Kapan anda mulai berdoa? Saat anda menghadapi cobaan berat. Hidup anda sudah mulai tidak teratur atau malah sudah hancur. Tentu semua itu, bisa kita laksanakan, ketika kita mau untuk menyadari segala tindakan dan perilaku kita. Intinya, kita mulai belajar ketika kita tidak tahu tetapi kita butuh itu. Pelajaran paling berharga adalah saat kita menghadapi kehidupan yang paling berat. Ketika segala yang kita lakukan hampir membuat kita stress. Atau hampir ingin bunuh diri. Kegagalan memang menyakitkan, namun saat itulah kita dididik. Biasanya kita memperhatikan “bencana” itu sebagai titik

balik. Kita adalah makhluk yang hidup dengan kebiasaan. Kita terus melakukan apa yang kita lakukan, hingga kita terpaksa berubah. So, pelajaran kita tidak pernah habis. Selama kita masih hidup kita harus tetap belajar, dan berubah mengikuti sinyal-sinyal dari alam. Alam semesta selalu mengusik kita dengan sinyal-sinyal lembut sebagai alarm bagi kehidupan kita. Tapi ketika kita tidak menggubris sinyal-sinyal itu, alam semesta membangunkan kita dengan gelombang air bah, atau gempa bumi, tanah longsor, banjir badang.. Apakah bencana membuat kita semakin lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini atau malah membuat kita menyerah atas kehidupan ini. Tuhan punya rencana atas semua ini. Kehidupan kita akan makin berwarna, mulai dari warna gelap sampai warna yang cerah. Mungkin benar kata Ebiet G. Ade: Anugerah dan Bencana Adalah Kehendaknya, Kita Mesti Tabah Menjalani, Hanya Cambuk Kecil Agar Kita Sadar, adalah Dia Di Atas Segalanya.

Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir', pikirnya. Manusia kuat lalu menantang para penonton: "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!" Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?" Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke

atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton. Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh. Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?" "Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku". Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku. "Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.

Setiap Badai Akan Berakhir

Apakah Anda menderita kehilangan baru-baru ini? Pekerjaan? Suatu hubungan? Barang-barang dicuri dari Anda? Banyak teman saya kehilangan banyak hal dalam banjir baru-baru ini. Teman saya kehilangan rumah. Teman saya kehilangan bisnis. Dengan air mata, bibiku berkata, "Bo, aku kehilangan semua barang-barang yang telah terkumpul selama 50 tahun dalam hidupku!" Beberapa teman mengatakan kepada saya bahwa apa yang paling menyakitkan adalah kehilangan semua foto-kenangan seumur hidup . Teman, aku punya pesan untuk Anda hari ini: Percayalah bahwa setiap badai akan berakhir. Dan setelah badai, pagi baru dimulai. Ingat bahwa setiap kehilangan adalah sementara. Jika Anda kehilangan orang yang dicintai, kehilangan itu hanya sementara. Di surga, Anda akan melihat kekasih Anda lagi dan reuni Anda akan berlangsung selamanya. Jika Anda kehilangan foto, percaya bahwa di surga, Allah akan memberi kembali kepada Anda salinan DVD dari semua kenangan manis yang telah Anda miliki dalam hidup Anda. (Saya tidak yakin versi video apa yang mereka gunakan di sana, tapi saya yakin itu akan menjadi yang paling modern. Mungkin itu berupa virtual video!) Jika Anda kehilangan hal-hal material atau peluang atau hubungan, percaya bahwa Allah sedang menciptakan ruang bagi sesuatu yang lebih baik untuk menghampiri Anda. Bagaimana hal ini akan menjadi "lebih baik" ? Mulai bersyukur. Ini bukan kesalahan ketik. Di tengah kehilangan Anda, bersyukur. Aku tahu kau akan mengeluh, "Bo, bagaimana bisa bersyukur! Aku kehilangan setengah hidupku! " Yah, bersyukur atas setengah yang lain yang Anda masih miliki. Jangan berfokus pada apa yang hilang, berfokuslah pada apa yang masih Anda punyai. Anda punya banyak sekali hal-hal yang baik ! Katakanlah ini bersama-sama dengan saya, "Aku sangat diberkati untuk bisa menjadi stres." (Bukan asli dari saya. Saya dapatkan dari stiker.) Mengapa bersyukur? Karena Anda akan menarik hal-hal yang Anda fokuskan. Aku sudah mengatakan sebelumnya berkali-kali, tapi aku akan terus mengatakan hal itu sampai Allah

memanggilku pulang. Karena hal tersebut sangat memiliki kekuatan. Ketika Anda bersyukur, Anda akan menarik lebih banyak berkat dari apa yang Anda syukuri. Syukur adalah magnet berkat.

Cerita yang mengharukan: mukjizat diantara runtuhan gempa bumi di Padang Sejak awal Ratna Kurnia Sari (18) sudah bertekad untuk hidup. Meski dia sangat sadar bahwa kematian sudah sangat dekat dengan dirinya. Namun Sari bertekad menyenangkan kedua orangtuanya, karena itu itu dia tidak mau mati. "Bahkan saya tidak pernah tidur. Saya takut kalau saya tertidur saya akan mati. Karena saya saat itu sudah merasa ada yang akan membawa. Makanya saya berusaha untuk terus terjaga," ujar Sari yang ditemui di Ruang Perawatan 1B Rumah Sakit Tentara Reksodiwiryo, Jalan Proklamasi, Jumat (2/10). Sari bisa dibilang mendapatkan keajaiban. Dia menjadi satu korban selamat dari reruntuhan bangunan Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga di Jalan Veteran, Padang. Selain dia, dosennya bernama Suci Revika Wulan Sari (25) juga selamat. Namun Sari berhasil dikeluarkan lebih dulu dari balik reruntuhan. Sari berhasil dievakuasi petugas penyelamat sekitar pukul 11.30 WIB. Bersama Suci dan empat rekan satu kuliahnya, Sari terjebak di bawah tangga menuju ke lantai tiga Kampus STBA Prayoga. Sebelumnya, Sari yang tercatat sebagai mahasiswa Semester 3 Jurusan Sastra Inggris, sedang mengikuti perkuliahan Listening 3, di ruang kelas yang berada di Lantai III. Ketika gempa mengguncang, satu kelas yang berisi 25 orang mahasiswa plus Suci yang menjadi dosen, langsung berhamburan menuju tangga turun. Sari sendiri bersama Suci dan empat rekannya, merupakan kelompok yang terakhir turun. Setibanya di lantai dua, tiba-tiba tangga beton yang barusan mereka lewati ambruk menimpa mereka. "Waktu itu semuanya panik. Saya juga panik dan ingin cepat turun. Tapi karena semua berebut ingin duluan, kami akhirnya jadi kelompok yang terakhir turun," ujarnya menceritakan kembali situasi yang dialami saat gempa berlangsung. Reruntuhan tangga beton itu langsung membuat mereka luka berat. Listrikpun tiba-tiba mati, sehingga ruangan menjadi gelap gulita. "Waktu itu saya tidak tahu apa teman-teman saya masih hidup atau tidak, karena gelap. Hanya saya bisa mendengar suara Ibu Suci merintih kesakitan ada di dekat saya," ujarnya. Beton-beton itu menghimpit keras, karena mendapat tekanan berat dari lantai empat yang juga ikut runtuh. Sari sendiri merasakan kakinya terhimpit benda berat di bagian lutut ke bawah, sehingga tidak bisa digerakkan. Sedangkan di

bagian pahanya, dia merasakan ada satu tubuh temannya yang terbaring tak bergerak. "Saat itu saya tidak merasakan sakit. Yang ada hanya cemas dan rasa takut mati. Saat itu pula saya langsung bertekad tidak boleh mati. Saya harus hidup," tuturnya. Sari berada di balik reruntuhan selama lebih kurang 42 jam. Selama itu pula, dia menguatkan diri untuk tetap hidup meski tidak ada makan dan minum. Sari mengaku tidak pernah putus harapan. Dia yakin akan ada tim penyelamat yang datang mengevakuasi mereka. Inilah yang membuatnya cukup berbesar hati dan yakin tidak akan mati. "Rabu tengah malam itu saya mulai yakin kalau teman-teman saya yang lain meninggal, karena mereka tidak lagi ada yang bersuara, bahkan tidak lagi ada yang bergerak. Termasuk sosok yang terbaring di atas paha saya, tidak bergerak lagi dan terasa dingin. Hanya Ibu Suci yang kadang-kadang masih saya dengar ada gerakannya sedikit-sedikit, berarti Ibu Suci masih hidup," katanya. Meski tidak ada makan dan minum, namun harapan Sari untuk hidup menjadi makin besar, ketika dia mendengar suara ketukan-ketukan pada reruntuhan bangunan yang menimpa mereka. Sari sadar bahwa ketukan itu berasal dari tim penyelamat yang berusaha menggali reruntuhan. Karena itu pula, dia berusaha untuk tetap menjaga matanya agar tidak tertidur. "Sebenarnya saat itu saya ingin sekali tidur. Rasanya akan sangat nyaman kalau tertidur. Tapi saya tahu saya akan mati kalau sampai tertidur. Makanya saya juga selalu mengingatkan Ibu Suci agar tidak tertidur. Saya selalu bilang 'Bu, jangan tidur' atau dia saya panggil-panggil terus dalam jangka waktu tertentu supaya jangan sampai tertidur. Saya ingin selamat, dan saya juga tidak ingin Ibu Suci yang saya tahu masih hidup akhirnya mati seperti teman-teman saya," tuturnya. Sari mengaku tidak pernah kehilangan semangat untuk tetap bertahan hidup, karena dia sadar tim penyelamat akan bekerja ekstra keras untuk mengeluarkan mereka dari balik reruntuhan. Dan harapan itu akhirnya menjadi kenyataan, ketika Jumat (2/10) pagi, sebuah lubang menganga di bagian atasnya yang dibuat tim penyelamat. Meski belum bisa dikeluarkan dari balik reruntuhan karena beton yang menghimpitnya sangat berat dan besar, namun sudah ada anggota TNI yang mengevakuasi yang bisa berkomunikasi dengannya melalui lubang tersebut. "Waktu saya melihat cahaya masuk tanda ada lubang yang terbuka, saya langsung coba teriak minta tolong walau sudah tidak kuat lagi untuk berteriak. Tapi ternyata suara saya terdengar, karena saya kemudian mendengar ada orang yang berteriak 'ada yang masih hidup' di atas lubang," kenangnya.

Ketika lubang diperbesar, akhirnya tim penyelamat bisa berkomunikasi dengannya, walau belum bisa dikeluarkan dari balik himpitan semen beton. Seorang petugas penyelamat langsung menanyakan namanya. Setelah menyebutkan nama, Sari pun langsung minta air minum dan roti. "Saya lapar dan haus sekali. Makanya begitu ada yang menemukan saya, langsung saja minta air sama roti," ujar Sari dengan wajah ceria, sambil terbaring di ranjang rumah sakit. Setelah mengetahui indentitasnya, tim evakuasi langsung mengumumkan kepada warga yang berkerumun, dan meminta keluarganya datang ke lubang untuk berkomunikasi dengan Sari, orangtua laki-laki Sari langsung maju dan mendekati lubang. Saat itu, Sari kembali mengajukan permintaan roti dan air minum. "Rasanya saya benar-benar dapat mukjizat karena ternyata Sari masih hidup di balik reruntuhan itu. Saya langsung minta keluarga yang lain mencarikan roti dan air minum. Karena Sari minta saya untuk tidak jauh-jauh darinya," ujar ayah Sari, Sofyan Virgo (62) yang ditemui saat menemani anaknya di RST Reksowidiryo Padang, Jumat (2/10) sore kemarin. Sofyan yang tinggal di Jalan Kampung Nias III Nomor 4 C ini mengaku, sebenarnya saat itu dia sudah tidak berharap banyak anaknya itu akan selamat, mengingat reruntuhan bangunan yang kehancurannya begitu parah. "Saya sebenarnya sudah pasrah dan tidak berharap banyak. Lihat saja, bangunan empat lantai jadi satu, dan anak saya ada di dalamnya. Makanya ini benar-benar mukjizat," tuturnya dengan wajah berbinar bahagia. Sementara Kiki (54), tante Sari yang juga ikut menemani di rumah sakit, menyebut Sari merupakan anak yang kuat dan selalu ceria. "Lihat saja, walau baru saja berhasil dievakuasi, ternyata dia masih tetap ceria, masih tetap cerewet dan banyak cerita," ujarnya tersenyum. Bahkan Sari tetap ceria, ketika dokter yang merawatnya menyarankan untuk mengamputasi kaki kanannya yang cedera berat akibat terhimpit beton dalam waktu cukup lama. Kaki kananya di bagian betis terlihat sedikit menciut, dan belum bisa digerakkan. Menurut Sofyan menirukan penuturan dokter yang merawat, darah di kaki Sari sudah membeku karena terlalu lama terhimpit, sehingga bisa mengakibatkan kondisi yang lebih buruk. Namun dokter juga mengatakan, opsi amputasi bisa dihindari jika keluarganya bisa mendapatkan obat pengencer darah, sehingga darah beku yang ada di kakinya bisa mencair dan darah kembali mengalir normal. "Tidak mungkin dia diamputasi, apalagi dia anak perempuan. Bahkan kata dokter, bisa saja kedua kakinya yang diamputasi karena kondisi kedua kakinya

tidak jauh berbeda. Makanya sekarang kami sedang berusaha mencari obat pengencer darah itu," ujar Sofyan. Sari memang bisa dibilang sangat beruntung. Karena sampai sekitar pukul 18.00 WIB kemarin, Suci, dosennya yang sama-sama terkubur di balik reruntuhan baru bisa dikeluarkan dari balik reruntuhan, sama dengan Sari, Suci juga dilarikan ke RS Tentara Padang. Hanya saja, petugas penyelamat berusaha menguatkan hatinya, dengan terus mengajaknya berkomunikasi. Bahkan anggota TNI sengaja membawa radio komunikasi (HT) ke balik reruntuhan, agar Suci bisa berkomunikasi dengan orangtua dan suaminya yang selalu setia menunggu di luar. Tim penyelamat sendiri memang memprioritaskan mengeluarkan Suci yang masih hidup, agar bisa segera mendapatkan perawatan medis. (Tribun Pekanbaru/nanang/hengki)

HARI TERAKHIR Ya Tuhan , ajarlah kami menghitung hari2 kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana - Prophet Moses Saya teringat kisah saat saya berbincang-bincang dengan salah seorang pengusaha kaya raya di negeri ini. Ketika perbincangan sudah sampai ke tahap “ dari hati ke hati”, saya beranikan diri untuk bertanya hal yang lebih pribadi. “ Pak , mohon maaf , kalau saya boleh tahu adakah hal yang masih ingin Bapak wujudkan dalam hidup ini ?” Sambil tersenyum ia berkata , “ Beberapa tahun ke depan saya akan mulai menyerahkan sebagian kepemimpinan perusahaan kepada anak anak saya dan para professional. Setelah itu, saya akan pensiun, menikmati hidup, dan lebih aktif dalam kegiatan social. Selain itu , saya kepengen bisa travelling kekota kota kecil. Kan orang dikota kecil lebih ramah, lebih baik, dan jauh dari stress” Ketika perbincangan semakin dalam, saya beranikan juga diri saya untuk bertanya tentang apakah ada penyesalan dalam hidupnya. Sejenak ia terdiam lalu dengan mata berkaca-kaca ia berujar, “ Ada satu hal yang sangat saya sesali sampai hari ini, yaitu saya belum sempat membawa ibu saya jalan-jalan kenegeri China . Itu adalah impian ibu saya dan sebagai anak yang telah mapan secara ekonomi saya pengen sekali bisa membahagiakan ibu dengan mewujudkan impiannya itu. Tahun demi tahun berlalu dan sesungguhnya saya punya dana serta kesempatan untuk melakukan itu. Hanya saja, waktu itu saya menyepelekan rencana ini. Saya pikir , nanti saja kalau kerjaan saya sudah beres. Ternyata saya terlalu asyik bekerja sehingga ibu saya keburu dipanggil pulang Yang Mahakuasa ” Dari kisah sederhana ini, kita juga boleh belajar satu hal penting. Memang benar, tip untuk menjadi lebih berbahagia adalah dengan menganggap hari ini adalah

hari terakhir hidup kita didunia. Namun, disisi lain saya kira juga benar bahwa dengan menganggap hari ini sebagai hari terakhir, kita punya kesempatan untuk menunjukkan kasih kita kepada orang-orang yang dekat di hati kita. Saya ingat seorang wanita karier yang kabarnya hingga hari ini masih mengalami stress berat lantaran selalu menolak permintaan anaknya untuk dimandikan. Ceritanya, selama beberapa waktu, setiap pagi sebelum sang ibu berangkat ke kantor, anaknya yang masih kecil itu meminta sang ibu untuk memandikannya. Setiap kali permintaan itu dilontarkan, selalu terdengar jawaban yang sama, “Mama kan sibuk, Mama harus kerja keras untuk cari uang agar kamu bisa dapat makanan, rumah, mainan, sekolah, dan segalanya yang terbaik. Mama kan sudah sewa dua pembantu khusus untuk mengurus kamu. Jadi ngapain Mama harus mandiin kamu ?” Meskipun “lagu” yang didendangkan sang ibu selalu sama, sang anak tetap tidak berubah pendirian. Ia tetap minta dimandikan. Ini terjadi selama berhari-hari dan sang ibu tetap tidak juga mau memandikannya. Suatu hari anak ini terkena demam berdarah dan beberapa waktu kemudian meninggal. Kali ini, dengan berlinang air mata, sang ibu memandikan – bukan lagi anaknya – melainkan jenazah anaknya. Oh , betapa menyedihkan ! Benar kata orang bijak bahwa halhal kecil lah yang kerap membuat penyesalan terbesar di hati kita. Beberapa jam lalu – sebelum saya menulis artikel ini – putri kami, Priscilla , tampak gelisah. Ini biasa ia alami menjelang jam tidur. Ia bolak balik di kasur. Ketika saya beranjak keluar dari kamarnya, ia menangis. Rupanya ia meminta saya me-nina bobo- kannya. Saya dan istri kemudian memainkan peranan itu. Kami sama-sama mem-pok-pok (menepuk-nepuk secara lembut punggungnya) dan ia pun tertidur lelap. Sungguh sukacita besar bagi kami, orangtua , melihat anak kami bisa tidur nyenyak. Memandang dadanya yang naik turun saat bernapas membuat kami terkadang sangat terharu sekaligus sukacita. Benar kata seorang sahabat yang kebetulan seorang pastor, “Tujuan pernikahan adalah kebahagian dan Tuhan menyempurnakan itu dengan kehadiran anak “ Terimakasih, Tuhan Terus terang mata saya berkaca-kaca ketika menulis artikel ini. Namun, saya ingin sekali mengajak kita semua merenungkan lebih jauh arti hari terakhir. Tidak ada yang pernah tahu kapan kita akan dipanggil. Tidak ada juga yang tahu kapan orang-orang yang kita kasihi akan dipanggil. Seorang sahabat yang juga pengusaha pernah berkomentar,” Setiap hari kita diberi kesempatan untuk mengasihi dan juga dikasihi. Itu satu paket ! Pada saat kita mengasihi, kita pun dikasihi.. Terkadang karena rutinitas dan kesibukan sendiri , kita jadi lupa sehingga menganggap semuanya biasa biasa saja.” Memang , kadang kita baru betul-betul merasa kehilangan ketika semuanya itu telah pergi untuk selamanya. Saya sendiri terkadang masih merasa menyesal karena sering menolak

menolong nenek saya. Sebagai anak yang dibesarkan oleh kakek dan nenek, saya terkadang suka nakal dan manja. Ketika duduk dibangku sekolah dasar, nenek yang saya kasih agak sulit berjalan. Terkadang ia meminta bantuan saya untuk menggandengnya saat berjalan. Namun, harus jujur saya akui, terkadang saya menghindar ketika ia meminta uluran tangan saya. Penyesalan itu masih ada hingga detik ini, namun saya juga sadar bahwa saya tidak bisa kembali ke masa lalu. Nenek pun sudah berpulang saat saya duduk dibangku SMP. Seorang bijak pernah berkata,” Salah satu cara terbaik menunjukkan kasih kita kepada mereka yang telah tiada adalah dengan mengasihi orang2 yang masih hidup, khususnya orang-orang yang dekat dihati kita.” Sebuah nasihat yang amat berharga ! Jadi, selagi masih ada kesempatan, lakukanlah yang terbaik dan jadilah diri kita yang terbaik karena kita tidak pernah tahu kapan hari itu akan tiba. Kasihilah orang-orang yang paling dekat dihati kita seolah-olah hari ini adalah hari terakhir, entah bagi kita atau bagi mereka. Toh, tidak ada salahnya menganggap ini adalah hari terakhir jika kita bisa memperoleh banyak manfaat positif darinya. Sepuluh langkah menuju hidup yang lebih berbahagia : 1. Berbagi 2. Melakukan kebaikan 3. Selalu mengucap syukur 4. Bekerja penuh semangat 5. Mengunjungi orangtua dan belajar dari pengalaman mereka 6. Memandang lekat lekat wajah seorang bayi dan mengaguminya 7. Sering tertawa – tawa adalah minyak pelumas hidup 8. Berdoa untuk mengetahui jalan Tuhan 9. Membuat rencana seperti Anda akan hidup selamanya – dan itu pasti 10. Hidup seakan akan hari ini adalah hari terakhir hidup Anda dimuka bumi

Tips Keselamatan dalam Gempa Bumi Oleh Doug Copp Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI) PENGALAMAN Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun. Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985. Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat.

PERCOBAAN Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka "menunduk dan berlindung" dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup "segitiga kehidupan". Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya "segitiga kehidupan" bertahan hidup 100%.Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin. FAKTA Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985.Semua anak berlindung di bawah meja masingmasing.Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong. Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu. TEORI SEGITIGA KEHIDUPAN Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.Ruangan kosong ini lah yang saya sebut "segitiga kehidupan".Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk.Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka. AMATI Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah "segitiga kehidupan" yang anda temui. Segitiga ini ada di mana-mana dan merupakan bentuk yang umum. 10 TIP DALAM KESELAMATAN GEMPA BUMI 1. Hampir semua orang yang hanya "menunduk dan berlindung" pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya. 2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa.Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit.Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya 3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa

bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk.Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping.Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang. 4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur.Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa. 5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar. 6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya.Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya.Dalam kedua kasus tersebut, andatidak akan selamat! 7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki "momen frekuensi" yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut.Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya.Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orangorang berlarian menyelamatkan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak. 8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya.Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup. 9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka & meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan

mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol. 10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertaskertas.

KETAKUTAN Penghalang terbesar manusia untuk meraih sukses dan keberhasilan adalah rasa takut. Takut akan kegagalan, takut akan penolakan, takut akan kerugian, dan takut akan ketidak pastisan. Bohong besar jika di dunia ini ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa rasa takut. Saya percaya setiap orang memliki rasa takut, hanya saja memiliki tingkat intensitas yang berbeda. Rasa takut adalah pemberian berharga dari Tuhan. Tanpa rasa takut kita tidak akan pernah tahu apa itu keberanian, tanpa rasa sedih kita tidak akan pernah tahu apa itu kebahagiaan. Sebagian besar orang menjadikan rasa takut sebagai kelemahan mereka, sebaliknya orang sukses selalu menjadikan rasa takut sebagai kekuatan mereka. Beberapa orang sering bertanya hal ini kepada Saya, Bagaimana mungkin menjadikan rasa takut sebagai kekuatan?! Saya selalu menjawab, Jauh lebih mudah membalikan rasa takut kita menjadi kekuatan, dibanding menghilangkan rasa takut itu sendiri. Apakah Anda pernah melihat seorang yang tidak bisa berlari, tiba tiba berlari seperti layaknya pelari kelas dunia setelah dikejar oleh anjing? Apa yang membuat orang itu bisa berlari dengan kencang? Jawabannya adalah Rasa Takut.terhadap anjing. Terkadang potensi dan kekuatan yang terpendam dalam diri kita akan keluar ketika kita mengalami rasa takut. Jangan jadikan rasa takut Anda sebagai kelemahan, tetapi jadikan rasa takut Anda sebagai kekuatan. Seorang Sales yang sukses juga memiliki rasa takut, tapi ketakutan yang terbalik. Ia bukan takut ditolak oleh calon pelanggannya, tetapi ia takut jika ia tidak berjuang menjadi seorang sales yang sukses maka ia tidak bisa membahagiakan keluarganya. Seorang pengusaha yang sukses juga memiliki rasa takut, tetapi ketakutan yang terbalik. Ia bukan takut rugi dalam berinvestasi, tetapi ia takut jika ia tidak berinvestasi ia akan kehilangan kesempatan emas. Rasa takut bisa menjadi batu sandungan bagi setiap orang, namun rasa takut juga bisa menjadi batu lompatan untuk meraih kesuksesan Ketakutan sesungguhnya adalah hasil dari imajinasi yang kita ciptakan sendiri. Apa yang kita takuti tidaklah semenakutkan apa yang sebenarnya. Pesan Saya hanya satu, Do What You Fear, Watch it Disappear! Lakukan apa yang Anda takuti, maka Anda akan melihat ketakutan tersebut lenyap begitu saja.

Weekly Motiflection : Gempa? Tuhan Marah?

Ada gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, badai, topan. Banyak yang mengatakan, “Tuhan marah! Ia geram, dan murka!” Benarkah memang Tuhan marah? Lalu begitu murkanya Ia, sehingga memusnahkan makhluk ciptaan-Nya sendiri dengan format ‘bencana alam’. Rasanya kok pikiran seperti ini terlalu berpola? Jika kita marah, mungkin nafsu mencelakakan akan mencuat. Darah akan mendidih sehingga dapat terluap begitu saja tanpa memikirkan akibat. Tetapi Tuhan? Samakah Ia dengan rumusan sifat manusia yang diciptakan-Nya? Walaupun kita memang adalah gambaran Allah, tetapi satu prinsip yang harus diingat tentang bedanya Tuhan dan manusia adalah LOGIKA BERPIKIR DAN BERPERASAAN. Perspektif Tuhan yang usianya lebih lama dari usia bumi, melihat segalanya dari dulu hingga masa yang akan datang. Bisa jadi ada beberapa kemarahan-Nya yang tertumpahkan seperti zaman air bah Nabi Nuh, pemusnahan Sodom dan Gomora. Hal itu pun terjadi setelah manusia diberi peringatan. Tetapi selebihnya, apakah selalu Ia marah dan berdampak kepada kemusnahan manusia? Bagaimana jika memang sudah semestinya alam bergerak? Bumi memperbaharui diri? Korban memang jatuh zaman ini, tetapi bumi menjadi lebih siap untuk dihuni oleh penerus di zaman mendatang. Entahlah… Mungkin memang hanya Tuhan yang berdaulat mengatur semua kejadian. Ada gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, badai, topan. Banyak yang mengatakan, “Negara ini sudah berdosa besar!” Duh...! Ini lagi! Kalau dibuat pooling tentang negara bejat, mungkin penduduk Indonesia kebanyakan akan memilih negara Super Power, Amerika. Harusnya kejadian yang jelek-jelek menimpa negara yang seringkali dituding berdosa besar bukan? Tetapi pernyataan dosa besar ternyata menimpa negara Indonesia yang sejak tsunami di Aceh sampai hari ini. Benarkah ukuran dosa menjadi landasan terjadinya bencana alam? Bukankah tanpa bencana alam pun, manusia juga memang sudah ditakdirkan untuk mangkat? Ada gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir bandang, badai, topan. Banyak yang mengatakan, “Antisipasi kurang! Sudah diperingatkan, tetapi lamban reaksi!” Ini mungkin masih dapat diterima dengan logika. Alam yang diatur oleh Yang Menciptakan alam biasanya sudah menunjukkan tanda sebelum bereaksi. Biasanya binatang-binatang malah lebih peka daripada manusia tentang peringatan dari alam. Mungkin betul ada kesalahan manusia yang ikut andil di dalam bencana alam. Ada andil manusia yang merusak harmonisasi pengaturan Dari Atas. Misalnya mendirikan bangunan di tanah yang rawan gempa, rawan longsor. Atau sudah tahu kondisi pulau rawan gempa tetapi tidak membuat bangunan yang kebanyakan berasal dari unsur kayu yang ramah gempa.

Terlepas dari antisipasi, itu tetaplah antisipasi. Seperti layaknya kita mengantisipasi kendaraan memiliki kondisi layak jalan, namun bila ada faktor luar, tetap saja kita tidak dapat menghindari segala keadaan force majeur yang di luar antisipasi. Lalu? Kejadian yang sudah terjadi tidak dapat disesali. Terlihat begitu rapuhnya bumi dan isinya, entah memang negara itu ber-Tuhan atau tidak ber-Tuhan. Semuanya adalah pengujian terhadap hidup manusia di dunia yang tidak abadi ini. Namun bila kita tidak egois, ada baiknya kita melihat sisi lain akibat dari bencana alam. Semua kenyataan hidup yang harus kita sadari di mana bila ada bencana alam maka : Pembaharuan bumi Ada pengurangan populasi bumi secara besar-besaran yang di beberapa lokasi secara geografis sudah overload menampung berat. Pembaharuan bumi yang mengakibatkan korban jiwa namun juga ke depannya menguntungkan bagi mereka yang kembali mengelolanya. Lokasi terkena bencana umumnya menjadi lahan baru yang baik dibandingkan lahan yang sudah padat pemukiman yang mandek. Siklus manusia dan alam yang selalu bergantian memang sudah terjadi sejak zaman purba. Bayangkan bila tidak ada kematian, tidak ada keruntuhan gedung. Jangan-jangan bumi memang sudah penuh dengan arsitektur macam-macam. Kiamat-kiamat kecil itu seakan membagi peradaban di bumi. Memberikan kesempatan kepada mereka yang bukan korban Manusia yang pada hakikatnya juga adalah makhluk sosial disentil kemanusiaannya serta kebejatannya. Ada yang memang ikhlas membantu. Tidak memandang ras, suku dan golongan, semua mendukung secara moril dan spirituil. Perputaran nasib dapat terjadi pada manusia manapun, jadi di saat jaya memang berhak serta berkewajiban membagi kepada mereka yang sengsara. Kejadian bencana alam seakan memberi kesempatan kepada manusia untuk berbuat baik jika mau. Banyak juga yang memperoleh kesempatan emas. Ada perusahaan transportasi yang tiba-tiba untung besar akibat volume penerbangan dadakan dari para keluarga korban (keterlaluan tapi nyata!). Ada orang-orang yang menjadi kaya mendadak akibat menjarah barang korban reruntuhan. Walaupun menjarah tidak halal, tetapi kesempatan terbuka sangat lebar. Ingat saja produk ponsel yang booming tatkala terjadi kerusuhan tahun 1998. Di saat pedagang ponsel ketakutan akibat ancaman terhadap usaha mereka, namun dihibur oleh peningkatan volume penjualan sesudahnya. Properti setelah kerusuhan dan kebangkrutan juga meningkat pesat dibandingkan sebelumnya. Kesempatan menata ulang kehidupan Korban yang selamat dari bencana pastinya merasakan dukacita yang sangat dalam. Namun demikian pada akhirnya kepasrahan pun harus dilakukan. Bagaimana pun kesempatan untuk hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Yang Kuasa. Entah meneruskan keturunankah, melanjutkan bisnis keluargakah, atau bahkan bertobat. Bagi kita yang miris melihat manusia hilang nyawa begitu saja juga seakan ditegur bahwa semua yang kita miliki di dunia ini saat ini pun tidak kekal. Harta, jabatan, keluarga akan lenyap begitu saja jika memang saatnya harus dipanggil oleh Tuhan. Kita hanya berharap apa

yang telah kita tinggalkan bukan menjadi hal yang menyusahkan orang yang kita tinggalkan. Di saat seperti ini, mungkin kita akan merenung bahwa apa yang kita usahakan di dunia tidak akan kita bawa ke alam baka. Jadi, sudah siapkah bekal kita untuk dunia keabadian? Atau kita adalah golongan yang pernah siap dan saat ini kita lagi terlena sehingga terseret lagi ke arus yang menjauhkan kita dari Sang Pencipta? Kali ini kita mempertimbangkan mana prioritas yang sebaiknya dimiliki manusia, sesuatu yang sementara, atau sesuatu yang kekal? Jadi, mungkin kita tidak harus tahu dan menduga-duga alasan Tuhan terhadap kejadian di dunia ini. Ia yang sudah mewanti-wantikan agar kita senantiasa bersiap menghadapi segala keadaan, bahkan siap untuk menghadapi kematian. Seruan ‘Bertobatlah, sebab kerajaan Allah sudah dekat” merupakan ajakan untuk sadar bahwa hidup manusia hanya selangkah saja menuju kematian bila Ia berkehendak. Biarlah rahasia hanya milik Dia, dan kita? Saya coba untuk mengutip lagu dari Kelompok Vokal Yerikho, Bagai musafir dalam dunia Aku berjalan dengan pasti Ke negeri baka, Tuhan memimpin Tak dibiarkan-Nya sendiri

Ya, manusia sejatinya adalah musafir dalam perjalanan hidupnya. Bila harus menuju jalan kiri, maka melangkahlah ke kiri dan berkembanglah. Bila harus menuju jalan ke kanan, maka melangkahlah ke kanan dan bantulah mereka yang berkesusahan Bila harus menuju jalan ke bawah, maka melangkahlah ke bawah dan jadilah kuat menghadapi deraan serta cobaan. Bila harus menuju jalan ke atas, maka melangkahlah ke atas, dan lihatlah Tuhanmu yang sudah merindukan kedatangan kita.

Koefisien Kebahagiaan Setiap orang sangat berbeda keadaannya. Ada yang sangat kaya, kaya, biasa, miskin, sangat miskin. Ada yang cantik, tampan, jenius, lucu, kreatip, menjemukan, pemarah, jelek, bodoh. Ada yang sehat, gemuk, kurus, rapuh, berpenyakit terminal. Pada lapisan paling bawah dalam skala Maslow, setiap kenaikan kwalitas material, akan terjadi kenaikan kebahagiaan yang setara. Pengemis akan jauh lebih berbahagia bila bisa mempunyai tempat tinggal permanen. Tapi setelah mencukupi kebutuhan utama, makan, berpakaian, tinggal, maka setiap kenaikan kekayaan tidak akan dibarengi dengan kenaikan kebahagiaan yang setara.

Saya pikir setiap orang punya “koefisien kebahagiaan” yang relatip “sama”. Seorang sopir taxi mendapat tip sebesar Rp. 100.000,-, akan merasa “sama” bahagianya, dengan seorang direktur mendapat bonus Rp. 10.000.000,-. Pada dasarnya alam semesta cukup adil dalam hal kebahagiaan ini. Hal yang membuat kita “sama” bahagiaanya dengan orang super kaya, dan super miskin. Kenikmatan seorang sopir ojek adalah ketika dia bisa makan malam dengan nikmat bersama keluarga di Mc Donald, sementara anda harus berlibur sekeluarga ke Singapore untuk mendapatkan “rasa kebahagiaan” yang sama. Bahkan orang yang mendapat kenikmatan besar, misalkan mendapat hadiah rumah mewah dari undian, akan bahagia sekali, hanya untuk beberapa saat saja. Ada “hedonistic adaptation”, adaptasi diri terhadap keadaan baru, dan membuat kebahagiaan kita turun kembali pada level standard koefisien kita setelah beberapa saat. Pemahaman ini setidaknya diharapkan membuat kita lebih dapat mensyukuri hidup dan melihat kehidupan ini dengan kaca mata yang lebih jernih. Salam bahagia untuk semua.

Tuli Lebih Baik Manusia dibentuk dari lingkungan di sekitarnya, orang tua, sekolah, dan teman – teman terdekat. Masa depan kita lima tahun ke depan tergantung dari buku apa yang kit abaca dan dengan siapa kita bergaul. Namun jika kita mau melihat kenyataan di sekitar kita, justru lingkungan sekitar kitalah yang seringkali tidak mendukung atau bahkan meremehkan impian dan cita – cita kita. Saya jadi teringat masa – masa dimana kita masih berusia 3 – 5 tahun. Pada usia itu orang – orang terdekat disekitar kita selalu mengajarkan kita untuk bermimpilah setinggi langit. Begitu bersemangatnya karena kata – kata dukungan tersebut, dengan polos dan lantang kita mengatakan, “Aku mau jadi Pilot!” “Aku mau jadi dokter!” Namun hal seperti ini sudah tidak pernah terjadi lagi ketika kita sudah memasuki usia dewasa. Ironisnya, ketika kita menyatakan impian kita, maka jangan kaget jika orang di sekitar kita, sahabat terdekat kita, atau bahkan keluarga kita akan berkata “Jangan mimpi tinggi – tinggi, nanti kalu jatuh sakit…” “Kamu boleh bermimpi, tapi harus realistis!” Pembaca yang budiman, jangan bersedih! Saya mengerti jika Anda pernah mengalami kejadian seperti itu, karena Saya pun pernah mengalami apa yang Anda rasakan. Namun dalam melalui setiap proses menuju impian Saya, Saya memilih untuk menjadi Tuli. Saya memilih untuk tidak mendengarkan perkataan mereka, memakai kacamata kuda, dan terus maju sampai garis Finish! Namun Saya melihat lebih banyak orang yang justru Down ketika orang di sekitar mereka tidak mendukung mereka. Dan lebih parahnya, mereka mengecilkan impian dan cita – cita mereka.

Michael Jordan ditolak masuk team oleh pelatih basket SMU. Namun ketika pada akhirnya Michael Jordan terpilih sebagai pemain basket terbaik di dunia, beliau justru berterima kasih dengan orang – orang yang pernah meragukan dan meremehkan impiannya, termasuuk pelatih SMU yang dulu pernah menolaknya. Michael Jordan mengatakan bahwa mereka yang meremehkan Dia, sebenarnya telah melemparkan kayu ke dalam api. Semakin diremehkan, Michael Jordan semakin terpacu untuk membuktikan dirinya adalah pemain basket kelas dunia. Kita perlu belajar dengan orang seperti Michael Jordan. Ketika orang lain meremehkan impian Anda, maka tutuplah telinga Anda, jadilah tuli, dan lakukan yang terbaik demi impian dan cita – cita Anda. Mereka boleh saja menertawakan Anda, akan tetapi tertawa di belakang jauh lebih nikmat. Talk Less, Do More!

Father vs Son Malam semakin larut sementara Rudi seorang anak berusia 5 tahun masih terjaga dan sibuk melompat-lompat di tempat tidurnya. Harry Sang Ayah kebingungan, karena ini sudah jamnya untuk tidur. Malam ini Harry terpaksa harus menidurkan anaknya, karena istrinya Cyndi sedang keluar kota beberapa hari, menjenguk saudaranya yang sakit. Harry berpikir keras mencari akal, bagaimana cara menidurkan Rudi… Segala daya upaya dikerahkan, mulai dari ikut bermain bersamanya, sampai memaksa si anak untuk tidur. Harry bertekad untuk tidak memarahi apalagi memukuli si anak. Dia percaya, kalau tanpa memarahi apalagi memukuli, dia bisa membuat si anak menuruti keinginannya. Maka dimulailah pertarungan yang panjang antara Ayah VS Anak…. Akhirnya Harry memutuskan untuk menceritakan sebuah dongeng untuk membuat Rudi tidur. Harry yang tidak biasa mendongeng, berusaha melakukannya sebaik mungkin. Terjadi adu kuat-kuatan antara si Ayah dan si anak. Setelah cukup lama Harry bercerita dan dia mulai panik, karena mulutnya sudah terasa kering dan kebas-kebas. Sementara Rudi belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk, padahal dongeng yang diceritakan sudah berjalan lebih dari setengah. Rasa kesal mulai menghampiri dirinya. Maka mulailah Harry memainkan strateginya, dongengnya diperpanjang dan diputar-putar, terus diulur-ulur (hah?.. ini dongeng atau apa sih?)… Setelah hampir dua jam, usaha Harry akhirnya membuahkan hasil, Rudi mulai menguap lebar…. Harry begitu senang, dalam hati dia bersorak gembira, walaupun dia

sendiri sebenarnya sudah lelah sekali. Dia bertahan dan mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Usahanya tidak sia-sia, akhirnya Rudi tertidur. Dengan perasaan bangga akan kemenangannya, dia beranjak turun dari tempat tidur anaknya. Sebuah prestasi besar yang sangat membanggakan, Harry kemudian duduk di sofa, melepaskan lelahnya. Tubuhnya terasa penat sekali. Sambil berkomat kamit tanpa suara, karena mulutnya sudah terasa kering dan mati rasa, Harry meluruskan kakinya dan meregangkan tubuhnya yang terasa letih. Dia akan mengabarkan kepada Cyndi istrinya tentang prestasi yang dibuatnya hari ini. Harry membayangkan pujian yang akan dia terima dari Cyndi. Tiba-tiba dia tersentak sadar, dia baru melakukan hal ini sekali, dan bangganya bukan main, bahkan sampai menuntut pujian. Sementara Cyndi….. istrinya telah melakukannya…… puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali…. Tapi tak pernah terlontar kata pujian dari mulutnya atas prestasi istrinya itu. Harry termenung, terbayang didalam benaknya, betapa sering dia memprotes usaha yang telah dilakukan Cyndi, tentang cara merawat anak dan sebagainya. Selama ini dia tidak menyadari, bagaimana letih fisik dan mental istrinya. Harry semakin larut dalam perenungannya. Dia menyadari, bahwa selama ini dia telah bertindak tidak adil terhadap Cyndi. Tidak pernah dia memberi penghargaan atas jasa istrinya, yang mengurus Rudi dan dirinya. Tidak jarang Cyndi mengesampingkan kesenangan-kesenangan pribadinya sendiri, demi Rudi dan dirinya. Tak terasa menitik air mata Harry, dia merasa tersentuh, dia merasa bersyukur, air mata syukur mengalir dari matanya. Seketika dia bisa melihat sosok Cyndi yang begitu baik, telaten, anggun. Harry berjanji pada diri sendiri, untuk memperlakukan Cyndi dengan lebih baik. Malam ini dia telah mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Rasa syukur menyelimuti hatinya. Kedamaian menghampiri pikirannya. Dia tersadar bahwa dirinyalah yang harus berubah, untuk bisa menciptakan kedamaian, bukan orang lain. So, sejak saat itu, Harry selalu menghargai setiap usaha yang dilakukan istrinya, dan selalu berusaha berbagi dengan Cyndi dalam menghadapi masalah. Pertarungan malam itu antara AYAH DAN ANAK telah memberikan sebuah pelajaran dan sudut pandang baru bagi dirinya untuk menciptakan kebahagiaan. “Terima kasih Istriku!!!”

Letak Kekuatan

Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, dan orang yang tertawa gembira adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya. Ada kekuatan di dalam kebaikan, dan orang yang baik adalah orang yang kuat karena ia selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi dengan kesetiaannya kepada Tuhan dan sesama. Ada kekuatan di dalam kelemah-lembutan, dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat, karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Di situlah letak dimana semua Kekuatan Sejati berada... Sadarilah Anda juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala masalah Anda. Dimanapun juga, seberat dan serumit apapun juga.

Lumba-lumba Ini tentang ibu lumba-lumba dan anaknya yang berenang bersisian di lautan luas. Mata sang Ibu yang tajam melihat karang membahayakan di hadapan si anak. Menyelamatkan, sang Ibu menabrak keras anaknya. Si anak marah, terluka, dan kesakitan. Merasa sang Ibu menyakitinya tanpa alasan. Tanpa menyadari bahwa sang Ibu telah menyelamatkannya dari rasa sakit yang lebih besar.

Terkadang, begitu jugalah cara Tuhan bekerja. Kita hanya tidak menyadarinya saja. -God knows while we don't-

PEMAAFAN POSITIF Sekitar 10 tahun yang lalu, Pada akhir ceramah Jum'at malam di PERTH, Seorang perempuan datang kepada saya.. Seingat saya, dia secara rutin hadir pada setiap ceramah mingguan ini, tetapi ini pertama kalinya dia berbicara dengan saya.. Dia mengatakan bahwa dia ingin mengucapkan Terima Kasih, bukan hanya kepada saya, tetapi juga kepada semua Biksu yang mengajar di Wihara kami.. Lalu dia mulai menjelaskan apa sebabnya.. Dia mulai datang ke Wihara kami 7 tahun silam.. Dia mengaku, pada saat itu dia tidak begitu tertarik pada ajaran BUDDHA ataupun meditasi.. Alasan utamanya datang ke Wihara adalah sekadar mencari2 alasan untuk meninggalkan rumah.. Dia punya suami yang kasar.. Dia adalah korban kekerasan rumah tangga yang menakutkan.. Pada saat itu, dukungan dari lembaga2 untuk menolong korban kekerasan seperti itu belumlah ada.. Dalam sebuah luapan emosi, dia tidak bisa berpikir jernih untuk minggat selamanya dari rumah.. Jadi dia datang ke Wihara, dengan gagasan bahwa 2 jam di Wihara berarti 2 jam dia bebas dari kekerasan.. Apa yang didengarkan dari Wihara kami mengubah hidupnya.. Dia mendengar dari biksu2 mengenai pemberian Maaf yang benar : PEMAAFAN POSITIF.. Dia memutuskan untuk mencobanya ke suaminya.. Dia bercerita bahwa setiap kali suaminya memukul, dia memaafkannya & membiarkannya berlalu.. Bagaimana dia bisa melakukannya, hanya dia yang tahu.. Lalu setiap kali sang Suami melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik, betapapun sepelenya, saat itu juga dia akan memeluknya atau mencium ataupun memberikan tanda2 untuk mengisyaratkan kepada sang suami bahwa betapa berarti kebaikan tersebut baginya.. Dia sungguh2 Bersyukur atas kebaikan itu..

Dia menghela nafas & berkata kepada saya bahwa dia melakukannya selama 7 tahun.. Pada saat itu matanya jadi berkaca2 & demikian pula saya.. 'Selama 7 tahun' katanya '& Sekarang Anda tidak akan dapat mengenali pria itu lagi.. Dia telah berubah 180 derajat.. Sekarang, kami punya hubungan Kasih yang luar biasa beserta 2 anak yang hebat' Wajahnya memancarkan cahaya, laksana orang suci.. Rasanya saya hendak berlutut di hadapannya.. 'Anda lihat tempat duduk itu?' Katanya, menunjukkan kepada saya, 'Minggu ini, sebagai kejutan dia membuatkan tempat duduk kayu untuk bermeditasi.. Andai saja itu terjadi 7 tahun yang lalu, dia hanya akan menggunakannya untuk memukul saya !' Kerongkongan saya yang tersumbat menjadi lega bersamaan dengan gelak kami berdua.. Saya mengagumi perempuan itu.. Dia meraih & memenangkan kebahagiaannya sendiri, Menurut saya, dari kecemerlangan kualitas dirinya sendiri.. Dan dia telah mengubah seorang monster menjadi seorang pria yang penuh perhatian.. Dia menolong diri sendiri sekaligus orang lain, dengan sungguh mengagumkan.. Itu adalah contoh ekstrem dari PEMAAFAN POSITIF, Hanya direkomendasikan bagi mereka yang ingin jadi Suci.. Namun demikian, hal itu telah menunjukkan apa yang bisa dicapai saat Pemberian Maaf dipadukan dengan Pemberian Dukungan pada Kebajikan yang telah dilakukan.. (AJAHN BRAHM) Ketika aku membaca Tulisan AJAHN BRAHM di atas, Timbul pertanyaan dalam hatiku.. Mungkinkah Bisa kulakukan dalam Hidupku? Kadang MEMAAFKAN saja begitu Berat bagiku, Bagaimana mungkin aku Memberi MAAF, juga memberi DUKUNGAN? Apa itu mungkin Bisa kulakukan? Bukankah itu hanya Bisa dilakukan oleh Orang SUCI saja? Tapi setidaknya ku mau mencoba agar : Tidak mudah Sakit Hati jika disakiti,

Tidak mudah Marah jika tersinggung, Bisa Tersenyum pada Orang2 yang tidak kusuka, Mau mengalah walau belum tentu Kalah, Mau Meminta Maaf dahulu walau tidak melakukan Kesalahan (terlebih dahulu) Mulai dulu Menyapa, Tersenyum, Tertawa pada setiap Orang yang kujumpa.. Mulai dulu Memberi Pelukan Hangat & Cium Pipi kiri kanan pada TEMAN2ku yang kusayang.. Karena dengan melakukan semua itu, HATIku terasa Damai, HATIku terasa Sejuk.. HIDUPku terasa BAHAGIA & Lebih Ceria.. Have a Blessed Day.. GBU all

MELAWAN NASIB Terlahir cacat bukanlah sebuah alasan untuk berkeluh kesah dan menggantungkan kehidupan pada orang lain. Setidaknya inilah prinsip yang dimiliki para nara sumber Kick Andy kali ini. “Dikasi hidup sekali saja saya sudah bersyukur. Tuhan sudah memberikan kesempurnaan, meski saya harus buta,” ujar Zulhadi, penyandang tuna netra. Sementara bagi Sidik yang terlahir tanpa kaki, kecacatan bukanlah sesuatu yang hakiki bagi sebuah kehidupan. “Tuhan memandang kita bukan dari cacatnya, tapi dari kebaikan sama sesama. Kalau kita baik, Tuhan akan suka,” ujarnya. Meski memiliki kekurangan secara fisik, Sidik dan Zulhadi bukanlah orang yang pantang menyerah. Sehari-hari mereka menggeluti profesi yang tidak jauh berbeda. Sidik menjadi produsen kerupuk berbahan singkong, yang ia jajakan sendiri. Sementara Zulhadi yang tuna netra, setiap hari berkeliling berjualan kerupuk yang diambilnya secara kulakan dari seorang pengusaha kerupuk di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Meski tak punya kaki, Sidik setiap hari berbelanja bahan kerupuk dan menjajakan hasil produksinya dengan mengendarai sebuah motor, yang ia rancang khusus. Sementara Zulhadi yang tuna netra, setiap hari menjajakan kerupuk ikan dengan bantuan sebuah tongkat. Ia berjalan dari pagi hingga sore menjelang, kadang sampai malam. “Kadang saya kesasar atau malah kecebur got,” ujar Zulhadi yang diiringi tawa kecilnya. Zulhadi yang mantan tukang pijat, maupun Sidik yang pernah bekerja kantoran ini memang tak pernah menunjukkan perasaan duka. Meski secara fisik dan kisah hidupnya bisa membuat kita miris, tapi penampilan mereka di Kick Andy benar-benar membawa sebuah keceriaan dan ketegaran.

Begitu juga dengan nara sumber lainnya, seperti Deni Nurzaman. Deni terlahir dengan kondisi kaki yang tak sempurna. Ia berusia 15 tahun dan kini tercatat sebagai murid kelas V di Yayasan Panti Anak Cacat, di wilayah Hang Leukiu, Jakarta Selatan. Sebuah sekolah yang berjarak cukup jauh dari rumah kontrakan Deni di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur. Karena kondisi ekonomi yang cukup sulit, Deni terpaksa harus berangkat dan pulang sekolah dengan menggunakan alat transportasi yang mengenaskan. Ia harus menelungkup di sebuah papan beroda, beralaskan kain dan plastik, yang kemudian harus ditarik oleh seseorang hingga sampai sekolah. Sejak ayahnya menikah lagi, Deni harus menunggu kebaikan kerabatnya untuk menariknya di roda tersebut. Meski demikian Deni mengaku terus bersemangat untuk sekolah. “ Saya mau jadi ahli komputer,” tegasnya. Ketegasan juga dimiliki oleh Paini dan Seke. Mereka adalah penyandang cacat kaki dan tangan. Paini bekerja secara wiraswasta untuk membuat aneka makanan kecil. Ia juga merekrut penyandang cacat lain untuk bekerja bersamasama. Mereka kemudian membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang cacat mampu,” kata Paini. Sementara Seke yang memakai satu kaki palsu dengan kedua lengan tanpa telapak dan jari, sehari-hari memiliki profesi ganda. Pagi-pagi menjadi sopir angkutan kota di kawasan Cengkareng, Jakarta, dan siangnya menjadi tukang gigi! Seperti juga nara sumber lainnya, Seke menganggap hidup ini selalu patut disyukuri dan dijalani secara mandiri. “Bagi saya mengemis itu hanya dilakukan orang yang berpikiran salah,” katanya. Tak hanya Seke, semua nara sumber juga memberikan pernyataan yang senada: cacat bukanlah alasan untuk mengemis atau menggantungkan hidup pada orang lain. Inilah kisah orang-orang yang memegang nasib hidup dengan keterbatan, melawan nasib dan ketidakberdayaannya dengan usaha dan kerja keras. Selamat menyaksikan.

BENCANA... MENGAJAKKU UNTUK BANYAK BELAJAR!!! Pada umumnya kita baru mau belajar, ketika kita mengalami “bencana” yang memaksa kita tuk merenung. Saat semua hancur berantakan oleh getaran lempengan bumi, ketika semua luluh lantak tak berbentuk, rumah tempat tinggal hancur dlm hitungan detik, ketika jeritan tangis sang bayi dan anak-anak ketakutan oleh dasyatnya bencana gempa, semua jalan menjadi buntu, hidup terasa menyesakan, hati terasa perih..lirih...menyedihkan saat melihat saudarasaudari kita yang tertindih reruntuhan bangunan, terjebak dalam kegelapan, ada

yg luka, ada yang meninggal, dan mungkin ada yang tidak ditemukan sama sekali, mengajak Anda dan saya untuk saling menyapa sesama kita yang menderita dan berbela rasa. Belarasa bukan hanya soal saya dengan sesama dan Tuhan, tetapi karena kita dan mereka adalah sesama saudara. Saudara-saudari, ihadapan kita terpampang tembok yang tebal dan tinggi, dan kita kadang lebih banyak belajar ketika kita mengalami bencana. Saat kita sukses, saat kita senang, saat kita bahagia, kita tidak banyak belajar. Tentu semua itu, bisa kita laksanakan, ketika kita mau untuk menyadari segala tindakan dan perilaku kita. Intinya, kita mulai belajar ketika kita tidak tahu tetapi kita butuh itu. Pelajaran paling berharga adalah saat kita menghadapi kehidupan yang paling berat. Ketika segala yang kita lakukan hampir membuat kita stress. Kegagalan memang menyakitkan, namun saat itulah kita dididik. Biasanya kita memperhatikan “bencana” itu sebagai titik balik. Kita terus melakukan apa yang kita lakukan, hingga kita terpaksa berubah. Bencana telah mengajakku dan mengajak Anda untuk belajar, belajar bagaimana harus waspada, belajar untuk selalu empati, belajar untuk belarasa kepadap para korban, belajar untuk menolong dan jujur dalam memberikan bantuan, belajar untuk menyapa mereka saudara-saudari kita, dan lebih dari itu belajar untuk mencintai hidup dan kehidupan ini. Begitu banyak orang menderita karena bencana, pada saat itu pula kepekaan hati dan empati kita diuji...jangan ada yang berkata "Tuhan murka.." yang benar adalah"Tuhan menyapa ..." menyapa saya dan anda '' siapkah saya dan Anda menghadapi bencana serupa? So, bencana, derita, dan tantangan hidup tidak pernah habis. Maka, selama kita masih hidup kita harus tetap belajar waspada dan belajar untuk membenahi diri serta berubah mengikuti sinyal-sinyal dari alam. Alam semesta selalu mengusik kita dengan sinyal-sinyal lembut sebagai alarm bagi kehidupan kita. Tapi ketika kita tidak menggubris sinyal-sinyal itu, alam semesta membangunkan kita dengan gelombang air bah, atau gempa bumi, tanah longsor, banjir badang.. Apakah bencana membuat kita semakin lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini atau malah membuat kita menyerah atas kehidupan ini. Tuhan punya rencana atas semua ini. Kehidupan kita akan makin berwarna, mulai dari warna gelap sampai warna yang cerah. Mungkin benar kata Ebiet G. Ade: Anugerah dan Bencana Adalah Kehendaknya, Kita Mesti Tabah Menjalani, Hanya Cambuk Kecil Agar Kita Sadar, adalah Dia Di Atas Segalanya. Mari, katupkan tangan, mengangkat wajah pada Sang Pemilik Bumi ini, memohon campur tanganNYA meringankan beban duka, lara dan tangis saudara-saudari kita, para korban gempa.. Doa kami selalu untukmu.

Katak

Pada suatu hari ada gerombolan katak kecil menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yg yang sangat tinggi. Penonton berkumpul dan mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada peserta. Perlombaan dimulai. Secara jujur, tak satupun penonton benar benar percaya bahwa katak katak kecil itu akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara: 'oh, jalannya terlalu sulitttt! Mereka tidak akan pernah sampai ke puncak'. Atau: 'tidak ada kesempatan untuk berhasil...menaranya terlalu tinggi....!!' Katak katak kecil, mulai berjatuhan satu persatu, kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan lahan dan semakin tinggi...dan semakin tinggi.... Penonton terus bersorak: 'terlalu sulit!!! tak seorangpun akan berhasil!!' Lebih banyak lagi katak kecil yang lelah dan menyerah... Namun ada satu katak yang melanjutkan hingga semakin tinggi...dia tak akan menyerah! Akhirnya yg lain menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu satunya yang berhasil mencapai puncak. Semua katak kecil yang lain ingin tahu Bagaimana katak kecil itu melakukannya... Ternyata katak pemenangnya adalah seekor katak TULI.. Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. Selalu pikirkan kata kata bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kamu dengar dan kamu baca bisa mempengaruhi perilakumu! Karena itu, tetaplah selalu positif! Dan yang terpenting: berlaku tuli jika ada orang berkata kepadamu bahwa kamu tidak bisa bisa menggapai cita citamu! Selalu berpikir: I can do this! 'Janganlah engkau takut, sebab AKU menyertai engkau,janganlah bimbang,sebab AKU ini ALLAHmu; AKU akan meneguhkan,bahkan akan menolong engkau; AKU akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan..."

Hanya 1 jam saja Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”. Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”. Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?” Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada

putrinya. “Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?” Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, nak”. “OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”. Akhirnya ayahnya mengangguk, "Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar". Anak ini tersenyum lega. "Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar...." Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati. Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny..... Hiduplah 1 jam : * * * * * * * * * TANPA kemarahan, tanpa hati yang jahat, tanpa pikiran negatif, tanpa menjelekkan orang, tanpa keserakahan, tanpa pemborosan, tanpa kesombongan, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan...

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. . Hiduplah 1 jam dengan kasih,

dengan dengan dengan dengan dengan dengan dengan

sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kelemahlembutan, kemurahan hati, kerendahan hati, penguasaan diri...

Dan ulangilah untuk 1 jam berikutnya.. . Jalanilah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, dengan menjalaninya dari waktu ke waktu, dari 1 jam ke jam berikutnya..

But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness and self-control.

Jangan KHAWATIR Jika ada masalah yang dapat kita selesaikan,selesaikanlah SEGERA, jangan di khawatirkan, terjunlah LANGSUNG, rasakan ANTUSIASME-nya, jgn berdiri terus di tepian dengan sejuta keraguan. Jika masalah yang kita hadapi tidak dapat di selesaikan, janganlah khawatir juga, karena kekhawatiran hanya akan membuat masalah tampak lebih besar dari yang seharusnya. Kekhawatiran tidak akan menambah sehasta pun pada jalan hidup kita. Berserahlah kepada-Nya, terus bertekun dalam iman, harapkan keajaiban.

ORANG YANG BERPIKIR DIA BISA Jika anda berpikir anda kalah, maka seperti itulah anda, Jika anda pikir anda tidak berani, Maka anda memang tidak berani, Jika anda ingin menang, tetapi anda berpikir anda tidak akan bisa, Maka hampir pasti anda tidak akan menang. Jika anda berpikir anda akan kalah , anda telah kalah, Karena didunia ini kita tahu, Kesuksesan dimulai dari harapan seseorang, Semuanya dimulai dari pikiran. Jika anda berpikir anda adalah orang Unggulan, Maka seperti itulah anda, Anda harus berpikir tinggi untuk meningkat,

Anda harus yakin dengan diri sendiri sebelum Anda bisa memenangkan hadiahnya. Perjuangan hidup tidak selalu berpihak, Pada orang-orang terkuat atau tercepat, Tetapi cepat atau lambat , orang yang menang, Adalah orang yang berpikir DIA BISA ! (disarikan dari Buku MAXIMIZE Your Potential karangan R.IAN SEYMOUR)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful