You are on page 1of 43

AB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Saat ini Congestive Hearth Failure (CHF) atau yang biasa disebut gagal jantung kongestif merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit (readmission) meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal (R. Miftah Suryadipraja). CHF adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh (Ebbersole, Hess, 1998). Risiko CHF akan meningkat pada orang lanjut usia(lansia) karena penurunan fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat menjadi kronik apabila disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi, penyakit katub jantung, kardiomiopati, dan lain-lain. CHF juga dapat menjadi kondisi akut dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark. CHF merupakan penyebab tersering lansia dirawat di rumah sakit (Miller,1997). Sekitar 3000 penduduk Amerika menderita CHF. Pada umumnya CHF diderita lansia yang berusia 50 tahun, Insiden ini akan terus bertambah setiap tahun pada lansia berusia di atas 50 tahun (Aronow et al,1998). Menurut penelitian, sebagian besar lansia yang dididiagnosis CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun (Ebbersole, Hess,1998). Dalam makalah ini membahas CHF pada lansia disertai penanganan dan asuhan Keperawatan pada pasien dengan CHF.

B. Tujuan penulisan 1.tujuan umum Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah agar mampu menerapakan asuhan keperawatan pada tn. F dengan kasus CHF di ruangan cempaka atas RSUP Persahabatan Jakarta timur. 2. tujuan khusus Adapun tujuan khusus dalam penulisaj ini adalah sebagai berikut :

a. Dapat melakukan pengkajian pada tn. F dengan kasus CHF dan dapat mengetahui masalah yang dihadapi oleh klien b. Dapat merumuskan diagnose keperawatan pada tn F sesuai dengan data-data yang berhasil didapat selama pengkajian c. Dapat menentukan perencanaan keperawatan pada tn F dengan kasus CHF d. Dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sesuai dengan kebutuhan klien e. Dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam penerapapan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kepada Tn F dengan kasus CHF f. Dapat mendokumentasikan hasil dari

BAB II KAJIAN TEORITIS
A. Pengertian Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebtuhan metaboliktubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium ; gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulasi dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya. Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Defenisi ini mencakup segala kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai, termasuk perubahan dalam volume darah, tonus vaskuler dan jantung. Gagal jantung kongetif adalah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Gagal sirkulasi, yang hanya berarti kelebihan beban sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung, seperti transfusi yang berlebihan atau anuria.

B. Etiologi Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada infark miokardium dan kardiomiopati. Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Penanganan yang efektif terhadap gagal jantung

membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penyakit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung.

C. Patofisiologi Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel. Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, dimana akhirnya akan terjadi kongestifsistemik dan edema. Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katup-katup trikuspidalis atau mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katup atrioventrikularisatau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang. Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga mekanisme primer yang dapat dilihat; meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik, meningkatnya beban awal akibat aktivasi sistem rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, pada keadaan istirahat. Tetapi kelainan pada kerjaventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. Dengan berlanjutnya gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif. Pathway

Disfungsi miocard Kontraktilitas

beban sistol preload

kebutuhan metabolisme beban kerja jantung

Penanganan biasanya dimulai ketika gejala-gejala timbul pada saat beraktivitas biasa. Eksaserbasi akut dari gagal jantung atau perkembangan menuju gagal jantung yang berat dapat menjadi alasan untuk dirawat dirumah sakit atau mendapat penanganan yang lebih agresif . Kini telah diketahui bahwa kelemahan otot rangka dapat meningkatkan intoleransi terhadap latihan fisik. Tirah baring dan aktifitas yang terbatas juga dapat menyebabkan flebotrombosis. Rejimen penanganan secaraprogresif ditingkatkan sampai mencapai respon klinik yang diinginkan.Hambatan pengosongan ventrikel Beban jantung Gagal jantung kongestif Gagal pompa ventrikel Forward failure Curah jantung ( COP) Suplai drh kejaringan Nutrisi & O2 sel Metabolisme sel Lemah & letih Intoleransi aktifitas D. Tetapi harus diperhatikan jangan sampai memaksakan larangan yang tak perlu untuk menghindari kelemahan otot-otot rangka. renal flow pelepasan RAA retensi Na & air edema kelebihan volume cairan backward failure Tekanan vena pulmo tekanan kapiler paru edema paru Gg. baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal. kontraktilitas dan beban akhir. Pemberian antikoagulansia mungkin diperlukan pada pembatasan aktifitas yang ketat untuk mengendalikan gejala. Pembatasan aktivitas fisik yang ketat merupakan tindakan awal yang sederhana namun sangat tepat dalam penanganan gagal jantung. Pertukaran gas . Penanganan Gagal jantung ditangani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium.

.

4. penyimpangan aksis. Pemeriksaan Diagnostik 1. EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler. . Scan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding. Juga mengkaji potensi arteri koroner. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontraktilitas. fibrilasi atrial. iskemia dan kerusakan pola mungkin terlihat. Disritmia mis : takhikardi. Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisme ventricular.E. Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik. 3. dan stenosis katup atau insufisiensi. perubahan dalam fungsi/struktur katup atau area penurunan kontraktilitas ventricular. Kateterisasi jantung : Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri. 2.

5) Nadi apical . episode GJK sebelumnya. ronkhi. 2) Tekanan Nadi . Pengkajian Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibatkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik . perubahan status mental mis : letargi. sianosis. 3) Irama Jantung . S4 dapat 8) terjadi. 1. S3 (gallop) adalah diagnostik. Tanda : Gelisah. anemia. Sirkulasi Gejala : Riwayat HT. umum atau pitting 16) khususnya pada ekstremitas. PMI mungkin menyebar dan merubah 6) posisi secara inferior ke kiri. kebiruan. bengkak pada kaki. krekels. mungkin dependen. pucat abu-abu. insomnia. tanda vital berubah pada aktivitas. telapak kaki. 10) Warna . 2. penyakit jantung . IM baru/akut. dispnea pada saat istirahat. b. 3. S1 dan S2 mungkin melemah. mungkin rendah (gagal pemompaan). Gejala : Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari. 11) Punggung kuku . 9) Murmur sistolik dan diastolic. GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas. bedah jantung . nyeri dada b. 13) Hepar . 15) Edema . Karenanya diagnostik dan terapeutik berlanjut . Aktivitas/istirahat a. Takikardia. abdomen. Integritas ego .BAB III KAJIAN KEPERAWATAN A. a. 7) Bunyi jantung . pucat atau sianosis dengan pengisian 12) kapiler lambat. Tanda : TD . 1) dengan aktivitas. endokarditis. mungkin sempit. syok septik. Disritmia. pembesaran/dapat teraba. 4) Frekuensi jantung . 14) Bunyi napas .

Nyeri/Kenyamanan a. 3) Sputum . fokus menyempit dan perilaku melindungi diri. kusut pikir. mis : ansietas. letargi. nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot. kegelisahan. Eliminasi Gejala : Penurunan berkemih. b. Mungkin menurun. dependen. Pucat dan sianosis. Tanda : Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum. Higiene a. penggunaan otot asesori pernapasan. penambahan berat badan signifikan. 6. Gejala : Kelemahan. merah muda/berbuih (edema pulmonal) 4) Bunyi napas . tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. ketakutan dan mudah tersinggung. mual/muntah. b. 7. Mungkin bersemu darah. Tanda : Berbagai manifestasi perilaku. Tanda : 1) Pernapasan. 9. angina akut atau kronis. 5. diare/konstipasi. penggunaan bantuan pernapasan. urine berwarna gelap. Gejala : Keletihan/kelemahan. batuk dengan/tanpa pembentukan sputum. perubahan perilaku dan mudah tersinggung. gelisah. episode pingsan. pakaian/sepatu terasa sesak. b. 6) Warna kulit . kuatir dan takut. Neurosensori a. 8. Gejala : Ansietas. tekanan dan pitting). napas dangkal. Keamanan . pembengkakan pada ekstremitas bawah. Tanda : Letargi. berkemih malam hari (nokturia). Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis) b. Tanda : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal. Tanda : Tidak tenang. diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretik. Gejala : Kehilangan nafsu makan. Gejala : Dispnea saat aktivitas. marah.a. riwayat penyakit kronis. diorientasi. Makanan/cairan a. takipnea. Pernapasan a. 10. Gejala : Nyeri dada. pening. 2) Batuk : Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batukterus menerus dengan/tanpa pembentukan sputum. 5) Fungsi mental. Mungkin tidak terdengar. kelelahan selama aktivitas Perawatan diri. b. 4. b.

kulit lecet. kehilangankekuatan/tonus otot. misalnya : penyekat saluran kalsium. Gejala : menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung. b. 11. Interaksi sosial Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. 12. . Tanda : Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan.Gejala : Perubahan dalam fungsi mental. Pembelajaran/pengajaran a.

kaji frekuensi. Palpasi nadi perifer Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial. Catat bunyi jantung Rasional : S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi). Diagnosa Keperawatan 1. pembesaran hepar. e. Murmur dapat menunjukkan Inkompetensi/stenosis katup. popliteal.krakles. Penurunan keluaran urine e. Kulit dingin kusam g. edema dan nyeri dada.ditandai dengan . Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik. Melaporkan penurunan episode dispnea. Pantau TD Rasional : Pada GJK dini. c. Tujuan Klien akan : Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung .B. Nadi perifer tidak teraba f. Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : disritmia. d. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tidak dapat normal lagi. iram jantung Rasional : Biasanya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel. Bunyi ekstra (S3 & S4) d. Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis . Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah keserambi yang distensi. b. Intervensi a. irama dan konduksi listrik. c. dorsalis. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan. Penurunan curah jantung berhubungan dengan . a. Perubahan frekuensi. Ortopnea. Perubahan struktural. Auskultasi nadi apical . angina. perubahan gambaran pola EKG b. pedis dan posttibial. sedang atau kronis tekanan darah dapat meningkat. Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.

Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas. Perubahan tanda vital. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi) Rasional : Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. f. memenuhi perawatan diri sendiri. 3. memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti. Kelemahan umum. 2. khususnya bila klien menggunakan vasodilator. Dispnea. berkeringat. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas. Ditandai dengan : Kelemahan. catat takikardi. Rasional : Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dapat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur. dispnea berkeringat dan pucat. perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung. pucat. Sianosis dapat terjadi sebagai refrakstori GJK. kelelahan. . Tujuan /kriteria evaluasi : Klien akan : Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan : menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air. bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali. Tirah baring lama/immobilisasi. dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan. adanya disritmia. disritmia. d. Intervensi a. Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi) Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan.diuretik dan penyekat beta. Area yang sakit sering berwarna biru atau belang karena peningkatan kongesti vena. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup. Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas. b. Aktivitas intoleran berhubungan dengan : Ketidak seimbangan antar suplai oksigen.Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifersekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung. Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress. c. Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi). vasokontriksi dan anemia.

Rasional : Posisi tersebut meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis. bunyi jantung S3. 4. Intervensi : . Pantau TD dan CVP (bila ada) Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan cairan dan dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru. Peningkatan berat badan.. e. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan : perubahan membran kapiler-alveolus. c. Oliguria. Pantau pengeluaran urine. f. Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan/situasi. bunyi jantung abnormal.ditandai dengan : Ortopnea. mual. catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi. Posisi terlentang membantu diuresis sehingga pengeluaran urine dapat ditingkatkan selama tirah baring. berat badan stabil dan tidak ada edema. edema. Konsul dengan ahli diet. Kaji bising usus. Intervensi : a. Menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual. bunyi nafas bersih/jelas. b. Pemberian obat sesuai indikasi (kolaborasi) g. Klien akan : Mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran. tanda vital dalam rentang yang dapat diterima. d. Rasional : Pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal. Rasional : Kongesti visceral (terjadi pada GJK lanjut) dapat mengganggu fungsi gaster/intestinal. Klien akan : Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi dekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan. distensi abdomen dan konstipasi. Catat keluhan anoreksia. Distres pernapasan.. hipertensi. Tujuan /kriteria evaluasi. Tujuan /kriteria evaluasi. Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam Rasional : Terapi diuretic dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema/asites masih ada. Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima klien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium. gagal jantung.

meminimalkan hipoksia jaringan. Rasional : Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah. c. Intervensi a. nafas dalam. Berikan perawtan kulit. catat penonjolan tulang. minimalkan dengan kelembaban/ekskresi. imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi. e. Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi. catat krekles Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut. area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Dorong perubahan posisi. Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi 5. nadi oksimetri. Rasional : Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru. Rasional : Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia. d. d. bantu latihan rentang gerak pasif/aktif. Pantau bunyi nafas. Pijat area kemerahan atau yang memutih Rasional : meningkatkan aliran darah. b. Rasional : Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan.a. edema dan penurunan perfusi jaringan. c. . Pantau kulit. Rasional : Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer. Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif. Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen. adanya edema. Mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : Mempertahankan integritas kulit. Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA. b.

Rasional : Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala. Intervensi a. Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal. Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani. Pengkajian I. Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu. c. terulangnya episode GJK yang dapat dicegah. Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi. Rasional : Memberikan waktu adekuat untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur.e. c.. Identitas Klien . Anjurkan makanan diet pada pagi hari. ditandai dengan : Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi. F DENGAN KASUS CHF DI CEMPAKA BAWAH RSU PERSAHABATAN JAKARTA TIMUR A. 6. b. Hindari obat intramuskuler Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : a. Diskusikan fungsi jantung normal Rasional : Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan. Kuatkan rasional pengobatan. ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. b. d.

dan apabila melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak. Riwayat Penyakit Sekarang Alasan utama MRS : Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Keluhan Utama : Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS. Pada tanggal 9 April 2012 klien dibawa ke IGD RSU Persahabatan dan dibawa ke ruang Cempaka Atas III. Riwayat Penyakit Keluarga Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi. kesulitan menelan tidak ada. j. g. makan < 1 piring. Pola Kegiatan Sehari-hari a. Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat Jakarta Timur Suku Pekerjaan MRS Pengkajian Register Diagnosa medis : Tn. Nutrisi Sebelum MRS klien makan 3x Sehari dengan porsi cukup saat MRS pemenuhan nutrisi diit jantung III dengan 1700 kal. : Batak : Buruh : 09 – 04 – 2012 jam 23:07 : 10 – 04 . minum 750 cc/24 jam. i. d. Pulo Gebang Kec. tidak berkurang dengan pemberian obat dari dokter( nama lupa) serta tidur menggunakan bantal lebih dari 2. k. h. Rawa Kuning Kel. e. f. c.jantung atau DM V. keadaan yang mengganggu nutrisi tidak ada. timbul terutama saat batuk dan sesak nafas sejak 2 hari sebelum MRS. Riwayat Penyakit Terdahulu Sekitar 5 tahun yang lalu klien menderita hipertensi sejak itu klien kontrol ke RSU Persahabatan tapi tidak rutin IV. b. F : 42 Tahun : Pria : Islam : Jl. Setelah MRS pasien mengatakan perut semakin membesar. Pola Eliminasi BAB BAK . mudah kenyang.a. nafsu makan baik b.2012 : 001342977 : CHF Cakung II.

mudah terbangun d. oedema (-). isokor. Mata Kelopak mata normal. suara jelas TD : 140/90 mmHg. Leher . tidak ada kegiatan sehari-hari karena merasa sesak ketika melakukan aktifitas yang agak berat. RR : 20 x/ menit. kelainan tidak ada f. simetris. Pola Aktivitas Sebelum MRS Klien hanya istirahat di rumah saja. Pemeriksaan Fisik a. N : 100 x/menit reguler . VI. membrane timpani normal. Wajah Simetris. nyeri kepala tidak ada c. Kepala Normocephalic.Frekuensi Warna dan bau Konsistensi Keluhan : 1x/2 hari : coklat : Lunak :- Frekuensi Warna dan Bau Keluhan : 5/6 x / hari : kuning :- c. Status kesehatan Keadaan penyakit sedang.5 oC b. gigi banyak yang hilang. tidak ada sianosis d. konjungtiva anemis (-). kesadaran komposmentis. tajam penglihatan menurun e. Pola Tidur dan Istirahat Sebelum MRS Setelah MRS Tidur Frekuensi : 2x / hari Frekuensi : 2x / hari Jam tidur siang : 4 – 5 jam / hari Jam tidur siang : 4 – 5 jm/hr Jam tidur malam: 6 – 7 jam / hari Jam tidur malam : 6 – 7 jm/hr Keluhan : tidak ada Keluhan : sesak. serumen (+). Mulut dan Faring Stomatitis (-). Telinga secret (-). pendengaran menurun e.reflex cahaya (+).T : 36. sklera ikterik (-). Setelah MRS klien hanya duduk dan berbaring di ranjang.

Thoraks Paru Gerakan simetris. wheezing -/-. kaku kuduk (-). perkusi resonan. ronchi +/+. pembesaran vena jugularis (+) g. retraksi supra renal (-). retraksi intercosta (-). vocal fremitus kuat dan simetris .Simetris.

Ekstermitas Akral hangat. PCo2 : 23.9 13 . bunyi S1 dan S2 tunggal.000 Diff : -/-/ 2/73/24/1 AGD 1.3 SGPT : 360 Albumin : 3.48 Leukosit : 6300 Trombosit : 255. mur-mur (-).492 2. tidak ada benjolan. nyeri tekan pada kuadran kanan bawah.8 Gula Darah Puasa : 97 Ck : 771 CKMB : 100 Radiologi Hasil/kesan : CTR > 50% (kardiomegali) .4 3.6 4. pembesaran hepar 2 jari lunak. kekuatan 3/4. j. Genitalia Tidak diperiksa k. capillary refill 2-3 detik i. edema (-/-). Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Hb : 11. Po2 : 133. HCO3 : 17. Bising usus (+).h.15 Hematokrit : 35 40 . Gallop (-). gerak yang tidak disadari (-) VII. Ph : 7. Sat O2 : 98.9 5.3 Cl : 101 Ureum : 14 Kreatinin : 210 SGOT : 111. Jantung Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri.8 Na : 138 K : 5. batas kanan ics 2 sternal kanan dan ics 5 axila anterior kanan. perkusi dullness.

EKG Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.Obat-obatan  IVFD : 20 tts/ mnt  Lasix : 3 x 40 mg iv  Ascardia: 1 x 80 mg  Simvatatin: 1 x 20 mg  Captopryl: 3 x 25 mg  O2: 3 liter/ mnt Nasal Kanul -Diet Diet jantung III ( 1700 kal ). LAD VIII. Terapi . RG . Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. HR 110x/ mnt ireguler. axis. ST elevasi pada V4.

15 Hematokrit : 35 40 . Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. HR 110x/ mnt ireguler. ST elevasi pada V4. makan < 1 piring setelah MRS Klien mengeluh sesak dan mudah terbangun pada malam hari TTV : TD : 140/90 mmHg. N : 100 x/menit reguler . LAD .48 EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.9 13 .T : 36.5 oC tajam penglihatan menurun telinga : serumen (+) Mulut dan Faring: gigi banyak yang hilang Leher: pembesaran vena jugularis (+) Abdomen: nyeri tekan pada kuadran kanan bawah Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb : 11. mudah kenyang. RR : 20 x/ menit. axis.KLASIFIKASI DATA                   Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak Klien mengatakan tidur menggunakan bantal lebih dari 2 Klien mengatakan sekitar 5 tahun yang lalu klien menderita hipertensi Klien mengatakan perut semakin membesar.

N : 100 x/menit reguler .DATA DS    Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak DO  TTV : TD : 140/90 mmHg.15 40 .9 : 35 13 . Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus.5 C      Leher: pembesaran vena jugularis (+) Laboratorium Hb Hematokrit : 11.T : 36.48 o ANALISA DATA ETIOLOGI Disfungsi miocard Kontraktilitas PROBLEM Penurunan curah jantung Gagal pompa ventrikel Curah jantung ( COP) EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. axis. ST elevasi pada V4. HR 110x/ mnt ireguler. RR : 20 x/ menit. LAD .

ST elevasi pada V4.9 : 35 13 .T : 36. axis. RR : 20 x/ menit.5 C o ETIOLOGI Suplai kejaringan & O2sel Metabolisme sel Lemah & letih drh Nutrisi PROBLEM Intoleransi aktifitas : 11. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus. LAD  TTV : TD : 140/90 mmHg. HR 110x/ mnt ireguler. N : 100 x/menit reguler .DATA DS   Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak       Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb Hematokrit 48 EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.15 40 - .

RR : 20 x/ menit.48 EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.5 C o . axis.15 40 .T : 36.9 : 35 13 . Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.15 40 . Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai dengan : DS    DO    Hb Hematokrit  EKG : TTV : Leher: pembesaran vena jugularis (+) Laboratorium : 11. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan: DS      Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb Hematokrit  : 11.48 TD : 140/90 mmHg. LAD 2. ST elevasi pada V4.5 oC Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.9 : 35 13 .T : 36. axis. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. HR 110x/ mnt ireguler.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. RR : 20 x/ menit. N : 100 x/menit reguler . LAD  TTV : TD : 140/90 mmHg. N : 100 x/menit reguler . HR 110x/ mnt ireguler. ST elevasi pada V4.

tidak ada distensi vena jugularis tekanan darah. RR : 20 x/ menit.TD:100-120/80-90 mmHg. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan: .P: 16-20 x/mnt.iram a dan denyut jantung 2.AGD dalam batas normal 3. .T : 36. RASIONAL Setelah dilakukan tindakan 1. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-42012 Hasil/kesan : irama sinus.sianosis.48 vena jugularis (+) TUJUAN INTERVENSI 1.tidak ada hipotensi . axis. Intruksikan untuk menjaga keseimbangan intake dan output penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat 4.9 : 35 13 .RENCANA PERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. LAD 2. N : 100 x/menit reguler .tanda-tanda vital dalam batas normal.15 40 . HR 110x/ mnt ireguler. Kaji dan catat keperawatan kondisi klien dapat membaik denga kriteria: . ST elevasi pada V4. Kolaboratif: diuretic dan antibiotic .5 oC   Hb Hematokrit  EKG : Leher: pembesaran Laboratorium : 11. Jelaskan tentang Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai dengan : DS    Klien mengeluh sesak Klien mengeluh nyeri Klien mengatakan nafas sejak 2 hari SMRS dada 3 minggu sebelum MRS ketika melakukan aktifitas seharihari bertambah sesak DO  TTV : TD : 140/90 mmHg.N:60-100 x/mnt.

HR 110x/ mnt ireguler. Evaluasi motivasi klien terhadap peningkatan aktifitas keperawatan diharapkan 7.15 40 .DS   Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak    Tajam penglihatan menurun DO Ekstermitas : kekuatan 3/4 Laboratorium Hb Hematokrit  : 11. N : 100 x/menit reguler . Kaji respon emosional sosial dan spiritual 6.5 C o . Monitor respon cardiorespiratory Setelah dilakukan tindakan intoleransi aktifitas klien dapat teratasi denga criteria hasil: -TTV dalam batas normal -klien mampu mendemonstrasikan aktifitas dan self care -keseimbangan antara aktifitas dan istirahat 6. axis. RR : 20 x/ menit.T : 36. LAD  TTV : TD : 140/90 mmHg. Q patologis pada v1-v3 Tanggal : 12-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus. terhadap kelelahan relaksasi selama aktifitas 8. ST elevasi pada V4. Intruksikan teknik EKG : Tanggal : 11-4-2012 Hasil/kesan : irama sinus.9 : 35 13 .48 5.

HR: 122 x/mnt regular.NO DX 1 HARI/ TANGGAL 11. RR: 20 x/mnt 09:30 2. axis. reuler. ireguler. LAD KET 09:00 1. EKG: irama sinus.sianosis. masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi .irama dan denyut jantung hasil: TD: 120/90. mengkolaborasi pemberian diuretic dan antibiotic 10:00 hasil: klien minum obat 3. menjelaskan tentang penggunaan dosis A.04 2012 JAM INTERVENSI EVALUASI S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. mengkaji dan catat tekanan darah.RR: 22 x/mnt. HR: 110 x/mnt. mengintruksikan untuk menjaga keseimbangan intake dan output hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan 09:50 frekuensi dan efek samping obat hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan 4.N: 116 x/mnt.

axis. masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi .RR: 22 x/mnt. memonitor cardiorespiratory terhadap kelelahan hasil: TTV: T: 120/90 mmHg HR: 116 x/mnt regular RR: 22 x/mnt aktifitas hasil: klien paham dengan intruksi yang diberikan 09:47 8. HR: 110 x/mnt.NO DX 2 HARI/ TANGGAL 11-04-2012 JAM INTERVENSI EVALUASI KET 09:00 5. LAD 09:45 7. menintruksikan teknik relaksasi selama B. EKG: irama sinus. ireguler. mengevalu si motivasi kilen terhadap peningkatan aktifitas hasil: klien mangatakan mudah merasa lelah. reuler. dah jantung tidak teratur S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg.sesak nafas. mengkaji respon emosional dan spiritual klien hasil: motivasi klien terhadap aktifitas baik 09:30 6.N: 116 x/mnt.

.

sianosis. reguler. menjelaskan tentang penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan 4. masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi KET 09:00 1. mengkolaborasi pemberian diuretic dan 10:00 antibiotic hasil: klien minum obat 2.N: 116 x/mnt. mengkaji dan catat tekanan darah.irama dan denyut jantung hasil: TD: 120/90. LAD C. EKG: irama sinus.NO DX 1 HARI/ TANGGAL 12. ireguler. axis.04 2012 JAM INTERVENSI EVALUASI S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. RR: 22 x/mnt capillary refill 3 09:30 detik keseimbangan intake dan output hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan 09:50 3. HR: 110 x/mnt regular. HR: 110 x/mnt. mengintruksikan untuk menjaga .RR: 22 x/mnt.

mengkaji respon emosional dan spiritual klien hasil: motivasi klien terhadap aktifitas baik 09:30 7. masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi . EKG: irama sinus.N: 116 x/mnt. HR: 110 x/mnt.NO DX 2 HARI/ TANGGAL 12-04-2012 JAM5. axis. mengevalu si motivasi kilen terhadap peningkatan aktifitas hasil: klien mangatakan mudah merasa lelah. ireguler.sesak nafas.RR: 22 x/mnt. LAD 09:45 8. menintruksikan teknik relaksasi selama D. memonitor cardiorespiratory terhadap kelelahan hasil: TTV: T: 120/90 mmHg HR: 110 x/mnt regular RR: 20 x/mnt aktifitas hasil: klien paham dengan intruksi yang diberikan 09:47 9. INTERVENSI EVALUASI KET 09:00 6. dah jantung tidak teratur S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg. reuler.

.

kontraktilitas dan beban akhir. o Gagal jantung ditangani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium. B. .BAB IV PENUTUP A. infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. SARAN Sangat diharapkan agar terhindar dari penyakit gagal jantung kongestif ini dilakukan dengan menghindari penyebab dari penyakit ini misalnya menjaga gaya hidup yang sehat terutama pada makanan yang dikonsumsi diharapkan tidak yang melihat enaknya saja tetapi juga mempertimbangkan gizi yang terkandung dalam. Kesimpulan o Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan o Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia. makanan tersebut. baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal.

208 Wilson Lorraine M. Media Aesculapius. Edisi 4.450 Doenges Marilynn E. 443 . Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit). 52 – 64 & 240 – 249. Perawatan Medikal Bedah (Terjemahan).DAFTAR PUSTAKA Barbara C Long.206 . Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien). Atiek S. 1982. Hal. Tahun 1995. Husna A. September 1996. Junadi P. Penerbit Buku Kedikteran EGC. Hal . Tahun 2002. Hal . Fakultas Kedokteran Universita Indonesia. . Kapita selekta Kedokteran (Efusi Pleura). Edisi 3. Yayasan IAPK Padjajaran Bandung. 704 – 705 & 753 . Buku 2. Hal.763.

nafas pendek. penyakit katub. Murmur sistolik&Diastolik. mual muntah. anemia. syok septik. RM : Tgl masuk : A. konfusi. adanya udem. II. nokturia. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien mengatakan adanya batuk. Sianotik. 1. I. disritmia.2 Asuhan Keperawatan Teoritis PENGKAJIAN 1. denyut jantung cepat. endokarditis. . kegelisahan dan kecemasan. penyakit jantung bawaan. takikardi. Bunyi jantung S3&S4. nyeri pada abdomen kanan atas. tidak toleran terhadap latihan dan panas. pakaian / sepatu terasa sesak. penurunan berkemih. SLE. kelelahan/keletihan. peradangan dan penyakit miokardium. tekanan nadi sempit. hilangnya selera makan. pusing. TD rendah. dispneu. bedah jantung. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien memiliki riwayat faktor-faktor penyebab seperti : hipertensi.ep Teoritis CHF 2. : : : RIWAYAT KESEHATAN IDENTITAS KLIEN : : : No. nyeri dada saat aktivitas. insomnia. tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. Nama Usia Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama 1. ekstremitas dingin. gagal ginjal. sakit pada otot. kelainan pada otot jantung. infark miokard. degeneratif atau tidak. diare/konstipasi. urin berkurang. batuk dengan atau tanpa sputum. aterosklerosis koroner.

penggunaan diuretic. (3) Pola Eliminasi . III. Donna D. (2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Gejala : kehilangan nafsu makan. penambahan berat badan secara signifikan. Tanda : penambahan berat badan secara signifikan dan distensi abdomen/asites serta oedema.1. Riwayat Kesehatan Keluarga Adanya riwayat penyakit jantung pada keluarga. Selain itu. pembengkakan ekstremitas bawah. (Ignatavicius.1995). mual dan muntah. pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium. kebiasaan diet tinggi garam dan kolestrol. pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya serta kepatuhan klien dalam berobat. PENGKAJIAN 11 FUNGSIONAL GORDON (1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus CHF akan timbul ketakutan akan terjadinya ketidakmampuan beraktivitas pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan dan prosedur pengobatan secara rutin.

(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien CHF adalah rasa cemas. Donna D. Donna D. Selain itu juga. konsistensi. (5) Pola Aktivitas Pada klien dengan CHF sering ditemukan keletihan dan kelelahan sepanjang hari. dispnea saat istirahat dan gelisah sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. nyeri dada dan sesak saat beraktivitas. Marilynn E. kepekatannya. warna. 1991) Gejala yang ditemukan : penurunan volume urin. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi. 1999). dan jumlah. dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur. suasana lingkungan. kebiasaan berkemih malam hari (nokturia). Budi Anna. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. (Ignatavicius. dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius. (4) Pola Tidur dan Istirahat Pada klien CHF sering ditemukan insomnia. 1995). bau. warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. urin berwarna gelap. 1995). (8) Pola Sensori dan Kognitif . Donna D. sesak saat istirahat. 1995). (Keliat. kebiasaan tidur.Untuk kasus CHF perlu dikaji frekuensi. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. (6) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat bila klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius.

penggunana otot aksesori pernafasan. Catat frekuensi dan dalamnya pernapasan. pernafasan labred. Donna D. nasal flaring. 1995).Pada klien dengan CHF sering ditemukan perubahan status mental : letargi dan stress dengan penyakitnya. Batuk kering/nyaring/nomproduktif atau mungkin batuk terus menerus dengan / tanpa pembentukan . Pernapasan Paru diauskultasi dengan interval sesering mungkin untuk menentukan ada/tidak adanya krekel&wheezing. nafas dangkal. IV. mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius. 10) Pola Penanggulangan Stress Pada klien CHF timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya. (9) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien CHF akan terjadi perubahan pemenuhan kebutuhan seksual terutama karena nyeri dada dan sesak yang menigkat karena aktivitas. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan sesak yang dirasakan klien (Ignatavicius. Takipnea. 1995). PEMERIKSAAN FISIK Penginderaan/Tingkat Kesadaran Pasien mengalami konfusi karena volume darah dan cairan pembuluh darah meningkat. Donna D. 11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien CHF dengan bedrest total tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.

Perifer Kaji adanya udem di bagian bawah tubuh pasien. Fungsi mental munglin menurun.Jika pasien duduk tegak. Jika frekuensinya terlalu cepat menunjukkan ventrikel perlu waktu lebih banyak untuk pengisian dan stagnasi darah terjadi di atria. Warna kulit pucat. letargi. Jantung Jantung diauskultasi mengenai adanya S1&S4. Terjadi edema periorbital (kelopak mata tertutup karena bengkak). Sirkulasi Tekanan darah mungkin rendah (gagal pemompaan).tidak normal. merah muda/berbuih(edema pumonal). Bunyi nafas mungkin tidak tedengar. kegelisahan. Jika pasien berbaring terlentang. kaji sacrum danpunggungnya. Jika ada berarti pompa mulai mengalami kegagalan. Hati diperiksa untuk menentukan adanya hepatojugular refluks(HJR).sputum. periksa kaki dan tungkai bawah. akhirnya di paru.Kaji juga jaridan tangannya. Catat frekuensi dan irama jantung. Tekanan nadi mungkin sempit. normal (GJK ringan atau kronis. Distesi Vena Jugular Kaji JVD dengan mengangkat pasien dengan sudut sampai 45° Jarak antara sudut Louis dan tingginya disertai vena juguler ditentukan. atau tinggi (kelebihan beban caiaran/peningkatan TVS). menunjukkan . sputum mungkin bersemu darah. dengan krakels basilar dan mengi. Jika jaraknya lebih dari 3 cm.

ronki dan terdapat edema. V. perubahan dalam fungsi/ struktur katup atau area penurunan kontraktilitas ventrikular v Scan jantung Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding v Kateterisasi jantung . adanya takikardi. S1 dan S2 mungkin melemah. Nadi perifer berkurang. bunyi jantung S3 adalah diagnostic. Murmur sistolik dan diastolic dapat menandakan adanya stenosis katup. Kenaikan segmen ST/ T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisme ventrikuler. ekokardiogram dopple) Menunjukan dimensi perbesaran bilik. pemeriksaan diagnostik Hipertropi atrium atau ventrikel. Punggung kuku pucat dengan pengisian kapiler lambat. pembesaran hepar. disaritmia.penurunan volume sekuncup. Warna kulit pucat. 1. perubahan kekuatan denyutan dapat terjadi. iskemia. S4 dapat terjadi. dam kerusakan pola mungkin terlihat. dan ada reflek hepetojugularis. nadi sentral mungkin kuat. Bunyi nafas krekels. v EKG PEMERIKSAAN PENUNJANG A. v Sonogram(ekokardiogram. titk denyut maksimal mungkin menyebar dan berubah posisi secara inferior ke kiri.

bayangan mencerminkan dilatasi bilik. kreatinin . Kontur abnormal.Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan dan kiri. atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan takanan pulmonal. 1. pemeriksaan laboratorium v enzim hepar meningkat dalam gagal/ kongesti hepar v elektrolit mungkin berubah karena perpindahan cairan/ penurunan fungsi ginjal. dapat menunjukan anuerisma ventrikel. misal. terutama jika GJK akut memperburuk PPOM atau GJK kronis v AGD Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2 v BUN. bulging pada perbatasan jantung kiri. Juga mengkaji patensi arteri koroner. terapi diuretik v oksimetri nadi saturasi oksigen mungkin rendah. Zat kontras disuntikan ke dalam ventrikel menunjukan ukuran abnormal dan ejeksi/ perubahan kontraktilitas v Roentgen dada Dapat menunjuk perbesaran jantung. dan stenosis katup/isufisiensi.

polisitemia. menandakan reaksi inflamasi akut v Pemeriksaan tiroid Peningkatan aktivitas tiroid menurunkan hiperaktivitas tiroid sebagai pre.pencetus GJK DIAGNOSA KEPERAWATAN v Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard/perubahan inotropik. SDP mungkin meningkat. irama. konduksi listrik. Kenaikan baik BUN dan kreatinin merupakan indikasi gagal ginjal v Albumin/transferin serum Mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan protein atau penurunan sistesis protein dalam hepar yang mengalami kongesti v HSD Mungkn menunjukan anemia. perikarditis atau status inflamasi atau infeksius lain v Kecepatan sedimentasi Mungkin meningkat. atau perubahan kepekatan menandakan retensi air. perubahan frekuensi. perubahan structural . mencerminkan MI baru/ akut.Peningkatan BUN menandakan penurunan perfusi ginjal.

v Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan ventilasi yang tidak adekuat v Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antar suplai oksigen/ kebutuhan. kelemahan umum. tirah baring lama v Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomerulus/ meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium v Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kongesti vena sekunder akibat gagal jantung sebelah kanan RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN .