You are on page 1of 24

Asuhan Keperawatan Congestive Heart Failure (CHF

)
Wednesday, October 19, 2011

CONGESTIVE

HEART

FAILURE

(CHF)

1.

KONSEP

DASAR

MEDIS

A.

Definisi

Congestive Heart Failure (CHF)/gagal jantung adalah keadaan patofisiologik di mana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.

B.

Etiologi

Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung congenital maupun Keadaan-keadaan yang menyebabkan gagal didapat. jantung:

a.

Kelainan

otot

jantung

Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup arteriosklerosis koroner, hipertensi aterial dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.

b.

Arteriosklerosis

Koroner

Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.

c.

Hipertensi

sistemik

atau

pulmonal

(peningkatan

after

load)

Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertropi serabut otot jantung efek hipertropi miokard dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan

mengakibatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertropi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal dan akhirnya terjadi gagal jantung,

d.

Peradangan

dan

penyakit

miokardium

degeneratif

Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.

e.

Penyakit

jantung

lain

Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup: gangguan aliran darah melalui jantung (misal: stenosis katup semiluner), ketidakmampuan katup umum mengisi darah (misal perikarditas konstritif atau stenosis katup Av)

f.

Faktor

sistemik

Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal: demam tindoksikosis denanemia) meningkatnya curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik, juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung.

C.

Manifestasi

Klinik

a.

Dispneu

atau

perasaan

sulit

bernafas

Ini disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vaskuler paru-paru yang mengurangi b. Dispnoe kelenturan pada saat paru-paru berbaring

Disebabkan oleh redistribusi aliran darah dan bagian-bagian tubuh yang di bawah ke arah sirkulasi sentral. c. Dispnoe nocturnal paroksismal atau mendadak terbangun karena dispnoe, dipacu oleh perkembangan edema paru-paru interstitial

d. Batuk non produktif terjadi sekunder dari kongesti paru-paru terutama pada posisi berbaring. e. Ronchi akibat transudasi cairan paru-paru

f. Demam ringan dan keringat yang berlebihan akibat dari vasokontriksi kulit menghambat kemampuan tubuh untuk melepas panas.

c. Riwayat Keperawatan a. Sianosis  akibat penurunan lebih lanjut dari curah jantung dan meningkatkan kadar Hb terdeteksi. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi diuretic. Komplikasi Efusi Syok Episode dan tamponade kardiogenik tramboemboli perikardium 2.g. h. Pada cepat ECHO pada  ventrikel jantung yang membesar tidak luntur (cardiomegali) D. Manfaatkan kekuatan dan ekstensi kontraksi jantung dengan bahan-bahan farmakologis. Gejala Insomnia. i. vasokontriksi perifer akibatnya darah dialihkan dari organ-organ non vital demi mempertahankan fungsi ke jantung. Penatalaksanaan Medik Tujuan a. ASUHAN KEPERAWATAN A. otak. Kelemahan dan keletihan akibat perfusi yang kurang dari otot-otot rangka j. dan lain-lain. dasar Dukung penatalaksanaan istirahat medik untuk gagal jantung adalah beban sebagai kerja berikut: jantung mengurangi b. Bunyi gallop ventrikel atau S3  terdengar/terjadi selama diastolik awal dan disebabkan oleh pengisian k. diet dan istirahat Terapi Glikosida jantung dan farmakologis: digitalis Diuretik vasodilator E. : keletihan/kelelahan nyeri dada terus-menerus dengan Aktivitas/istirahat sepanjang hari aktivitas . Kulit pucat.

atau pitting. endokaritis. pada misal: tenaga letargi aktivitas perubahan berubah b. sianotik teraba. menunjukkan penurunan volume sekuncup frekuensi jantung: takikardia Irama (gagal jantung: jantung kiri) disritmia Bunyi jantung: S3 (gallop). ketakutan. syok septik. Sirkulasi Gejala : riwayat hipertensi. bedah jantung. anemia. Tanda : TD: mungkin rendah (gagal pemompaan). vital istirahat atau pada status pengerahan mental. kapiler stenosis katup atau insufisiensi. episode gagal jantung kronik sebelumnya. misal: ansietas. umum hepatojugularis ronchi DVJ c. S4 dapat terjadi. penyakit katup jantung. sianotik lambat pembesaran/dapat nafas: dependen. d. infark miokard baru/akut. telapak kaki.Dispnea Tanda Tanda : pada gelisah. norma (GJK ringan atau kronis) atau tinggi (kelebihan beban cairan/peningkatan TVS) Tekanan nadi: mungkin sempit. mudah tersinggung. khawatir. S1 dan S2 mungkin melemah murmur sistolik dan diastolik Warna: Punggung Hepar: Bunyi Edema: mungkin kuku: pucat atau dapat menandakan adanya pucat. dengan pengisian refleks kreker. SLE. abdomen. Makanan/cairan . khususnya pada ekstremitas. Gejala : Integritas ansietas. ego takut Stress yang berhubungan dengan penyakit/keprihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis) Tanda : berbagai manifestasi perilaku. urine hari berwarna Eliminasi gelap (rakturia) e. marah. Gejala Berkemih Diare/konstipasi : penurunan malam berkemih. bengkak pada kaki.

merah mudah/berbuih (edema pulmonal) . misal: pembentukan paru paru oksigen Tanda : pernafasan: takipnea. Neurosensori pingsan disorientasi tersinggung h. Gejala Batuk Riwayat Penggunaan Penggunaan bantuan : dispnea saat aktivitas. atau dengan Pernafasan beberapa bantal. angina atas. hasal faring Batuk: kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus-menerus dengan/tanpa pembentukan sputum Sputum: mungkin bersemu darah. gula dan kafein penggunaan diuretic. dependen. badan tekanan. Tanda Distensi : abdomen penambahan (asites). kanan : menyempit (menarik tidak diri). pakaian/sepatu Diet tinggi garam/makanan yang telah diproses. perilaku. cepat pitting) f. perilaku Nyeri/kenyamanan atau pada kronis otot gelisah melindungi diri abdomen i. Gejala Tanda : : keletihan/kelemahan. letargi.Gejala Penambahan Pembengkakan : kehilangan berat pada ekstremitas nafsu makan. kusut mudah episode pikir. nafas dangkal. sputum kronis kronis atau medikasi dengan/tanpa penyakit penyakit pernafasan. pernafasan labored: penggunaan otot aksesori pernafasan. Gejala Tanda Perubahan : : kelemahan. tidur sambil duduk. akut sakit tenang. Gejala Nyeri Tanda Fokus : nyeri dada. badan mual/muntah signifikan terasa sesak bawah. penampilan kelelahan menandakan selama kelalaian aktivitas Hygiene perawatan diri perawatan personal g. lemak. pening. edema berat (umum.

Gejala : penurunan keikutsertaan Interaksi dalam aktivitas sosial yang biasa sosial dilakukan l. atau kegelisahan sianosis j. data fokus: pernafasan kiri dan terdapat leher sekret tidak simetris pada kanan hidung ada kiri/kanan tidak gerakan nafas dada bronchovesikuler kardiovaskuler anemis. Gejala Kehilangan Kulit : perubahan dalam kekuatan/tonus fungsi Keamanan mental otot lecet k. kelenjar bulat. Test Diagnostik .Bunyi Fungsi Warna nafas: mungkin mental: kulit: tidak terdengar. Pembelajaran/pengajaran Gejala : menggunakan/lupa menggunakan otot-otot jantung. misal: penyekat saluran kalsium Tanda : bukti tentang ketidakberhasilan untuk meningkatkan B. dengan menurun. corotis setinggi S3 bibir sianosis teraba clavikula dan S4 tambahan: C. Pemeriksaan Fisik Pengkajian Sistem Sistem Suara Vena jantung Konjungtiva Arteri jugularis tidak Tidak Hidung terdapat Pembesaran Dada: bentuk Bunyi simetris pernafasan cuping. krakles basilar dan mengi mungkin pucat letargi.

b. AGD: gagal ventrikel kiri ditandai dengan respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan i. hepar. menandakan reaksi inflamasi akut DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. kreatinin: peningkatan BUN pCO2 menandakan penurunan perfusi (akhir) ginjal j. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontraktilitas miokardial ditandai dengan: Ortopnea. polisitemia. perubahan gambaran pola EKG Hipotensi/hipertensi (S3. disritmia. iskemia dan kerusakan pola mungkin terlihat. Scan jantung: (multigated acquisition (MUGA): tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding d. Enzim hepar: meningkat dalam gagal/kongesti hepar g. Kecepatan sedimentasi (ESR): mungkin meningkat. BUN. EKG: hipertropi atrial atau ventricular. nyeri Takikardia. mencerminkan Roentgen menunjukkan pembesaran bayangan dilatasi/hipertrofi bilik. Kateterisasi jantung: tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung e. terapi diuretic h. Disritmia. perbesaran ekstra haluaran tidak kusam. Bunyi jantung Penurunan perifer dingin. kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya aneurisma ventrikular. atau perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan pulmonal. f. c. Sonogram (ekokardiogram. dan stenosis jantung. atau perubahan kepekatan menandakan retensi air k. penyimpangan aksis. edema. ekokardiogram dopple): dapat menunjukkan dimensi perbesaran bilik. HSD: mungkin menunjukkan anemia. Elektrolit: mungkin berubah karena perpindahan cairan/penurunan ginjal. S4) urine teraba diaforesis dada Tujuan: menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (distrimia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung .a. JVD. sisi kanan dada: versus dapat sisi kiri. katup atau insufisiensi. perubahan dalam fungsi/struktur katup atau area penurunan kontraktilitas ventrikular. Nadi Kulit krakles.

Rasional b. Berikan frekuensi/kerja obat sesuai jantung indikasi Rasional : dengan pemberian obat dapat meningkatkan volume sekuncup. popliteal. tirah baring Kelemahan. sianosis dapat terjadi sebagai refraktori f.Intervensi: a. dibuktikan menurunnya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital dalam batas normal selama aktivitas. membantu Rasional : stres emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan tekanan darah. Palpasi nadi perifer Rasional : penurunan curah jantung dapat menunjukkan turunnya nadi radial. Berikan istirahat psikologi dengan lingkungan pasien tenang: menjelaskan menghindari manajemen stres medik/keperawatan. memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri dengan kriteria Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur. dan meningkatkan h. Kaji kulit terhadap pucat dan lagi sianosis Rasional : pucat menunjukkan turunnya perfusi perifer. . memperbaiki kontraktilitas 2. tanda vital. : Catat Auskultasi biasanya bunyi nadi terjadi perifer takikardia jantung Rasional : irama galkop umum S3 dan S4 dihasilkan sebagai aliran darah ke dalam serambi yang distensi c. dorsalis pedis d. pucat. Pantau dan tekanan posubial darah Rasional : pada CHF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tak dapat normal e. umum. kelemahan Perubahan Dispnea. Pantau haluaran urine Rasional : ginjal berespon untuk menurunkan curah jantung dengan menahan cairan dan natrium g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan. adanya lama/immobilisasi ditandai dengan: kelelahan disritmia berkeringat Tujuan: klien berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.

kelemahan. dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen. dispnea. 3. energi Evaluasi dan peningkatan menyebabkan intoleran kelemahan. berat pernafasan. obat prespirator/penyebab Rasional : Kelemahan adalah efek samping beberapa obat. Carat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas. jantung ditandai dengan: S3 positif hipertensi abnormal bunyi Peningkatan Distres Tujuan: mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung di bawah stres. . Rasional : Penurunan atau ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas. mempengaruhi stres miokard/kebutuhan f. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi. khususnya bila pasien menggunakan vasodilator. jantung/aktivitas. jantung)/meningkatnya Ortopnea. Implementasikan program oksigen rehabilitasi berlebihan. Selingi periode aktivitas dengan periode Rasional : Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa istirahat. DVJ. berkeringat. pucat. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah Oliguria. penyekat beta. perpindahan cairan (diuretik atau pengaruh fungsi jantung. aktivitas Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas. Kaji juga peningkatan kelemahan kelelahan contoh dan pengobatan. tanda vital dalam rentang yang dapat diterima. catat disritmia. Rasional : Hipotensi ortostarik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilatasi). e. diuretik. bunyi nafas bersih/jelas. bila disfungsi jantung tidak dapat membaik kembali. Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. b. Nyeri dan program penuh stres juga memerlukan d. nyeri. bunyi produksi ADH dan retensi natrium/air jantung refleks hepatojugular badan. c.Intervensi: a. edema. berat badan stabil dan tidak ada edema.

Rasional : Retensi cairan berlebihan dapat dimanifestasikan oleh pembendungan vena dan pembentukan edema. Kaji distensi leher dan pembuluh perifer. cairan terapi. Edema pitting adalah gambaran g. Risiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapileralveolus. hari terapi f. terjadinya Pemberian peningkatan obat kongesti paru. Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi Fowler selama fase akut. b. Lihat area tubuh dependen untuk edema dengan atau tanpa pitting. 4. Tujuan: Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh GDA/oksimetri dalam rentan normal dan bebas gejala distress pernafasan Intervensi: . sesuai gagal jantung. kongesti Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan volume cairan dan dapat menunjukkan i. catat jumlah dan warna saat hari di mana diuresis terjadi. volume umum catat cairan TD hanya penurunan sering setelah dan/atau menimbulkan dan bunyi retensi. Rasional : Haluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal. Pantau haluaran urine. Edema perifer mulai pada kaki atau mata kaki. catat adanya edema tubuh umum (anasarka). tambahan paru CVP Rasional h. Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam. Rasional e. c. Auskultasi : secara bunyi Kelebihan Pantau napas.Intervensi: a. Rasional : Terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema atau asites masih ada. indikasi Rasional : dengan pemberian obat yang benar akan membantu proses penyembuhan. Rasional : Posisi telentang meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan d. Rasional : : Timbang Catat ada atau Buat Melibatkan berat tidak hilangnya jadwal pasien pemasukan dalam badan edema sebagai program tiap respons terhadap diuresis.

catat krekels. Rasional : Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema paru. indikasi. Berikan pada oksigen tambahan GJK sesuai kronis.a. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. nadi oksimetri. Rasional Berikan : membantu obat proses sesuai penyembuhan jaringan. Membersihkan Dorong membantu d. Jelaskan perbedaan antara serangan jantung dan GJK Rasional : pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan 2. indikasi . dalam oksigen. Diskusikan fungsi jantung normal. Auskultasi bunyi napas. sering. posisi semi Fowler. Rasional c. Rasional : Anjurkan : pasien jalan batuk napas perubahan mencegah atelektasis dan efektif. meliputi informasi sehubungan dengan perbedaan pasien dari fungsi normal. Pantau/gambarkan seri GDA. program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/ penyakit/gagal ditandai dengan: Pernyataan Terulangnya episode masalah/kesalahan GJK yang dapat Pertanyaan persepsi dicegah Tujuan: mengidentifikasi hubungan terapi (program pengobatan) untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi Intervensi: 1. mengi. Perubahan kompensasi biasanya ada f. 5. Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi 20-30 derajat. Sokong tangan dengan bantal. Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar. pneumonia. memudahkan posisi dan napas aliran lanjut. yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia g. Rasional : menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal e. Kuatkan rasional pengobatan . Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi b.

Jakarta. 4. Berikan instruksi secara verbal dan tertulis. Jelaskan dan diskusikan peran pasien dalam mengontrol faktor risiko dan faktor. mencegah/membatasi menghentikan 6. dan Tekankan kapasitas pentingnya dukungan melaporkan pasien dan orang toksisitas terdekat. tanda/gejala Rasional : Pengenalan dini terjadinya komplikasi dan keterlibatan pemberi perawatan dapat mencegah toksisitas/perawatan di rumah sakit. dan istirahat di antara aktivitas. Rasional : Pemantauan sendiri meningkatkan tanggung jawab pasien dalam pemeliharaan kesehatan 8. bertanya. Diskusikan pentingnya menjadi seaktif mungkin tanpa menjadi kelelahan. Rasional : Aktivitas fisik berlebihan dapat berlanjut menjadi melemahkan jantung. digitalis. . Rasional : Anjurkan Memberikan terjadinya makan waktu adekuat diet untuk efek komplikasi pada obat sebelum pagi waktu tidur obat. hemoptisis. 3. Rasional : Menambahkan pada kerangka pengetahuan dan memungkinkan pasien untuk membuat keputusan berdasarkan informasi sehubungan dengan kontrol kondisi dan mencegah berulang/komplikasi. hari. eksaserbasi kegagalan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 7. Diskusikan obat. Berikan dan kesempatan pasien/orang mencegah terdekat untuk komplikasi. Rasional : Pemahaman kebutuhan terapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah 5. Keperawatan Medikal Bedah Ed. obat dan pembatasan dapat meningkatkan kerjasama untuk mengontrol gejala. 8 Vol 2. DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth. Rasional : Kondisi kronis dan berulang/menguatnya kondisi GJK sering melemahkan kemampuan koping 9. untuk tidur. tujuan dan efek samping. contoh edema. demam.Rasional : pemahaman program. 2001. Bahas ulang tanda/gejala yang memerlukan perhatian medik cepat.

yang hanya berarti kelebihan bebabn sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal . tonus vaskuler dan jantung. gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai.3. kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Pengertian Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium . Jakarta.Doenges. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebtuhan metabolic tubuh. Defenisi ini mencakup segal kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Marilynn E. Arif. Mansjoer.EGC. Gagal sirkulasi. Media Aesculapius. Askep CHF GAGAL JANTUNG KONGESTIF Congestive Heart Failure(CHF) A. 2000. 3 Jilid 1. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed. termasuk perubahan dalam volume darah. 2000. Gagal jantung kongetif adlah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. tetapi mekanisme kompensatorik sirkulai dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya. Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. dkk. Kapita Selekta Kedokteran Ed.

Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga meknisme primer yang dapat dilihat. mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung. Faktor-fktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanana sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel. C. dimana akhirnya akan terjdi kongesti sistemik dan edema. Serentetan kejadian seprti yang terjadi pada jantung kiri. Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katub-katub trikuspidalis atau mitralis bergantian. seperti transfusi yang berlebihan atau anuria. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati. Patofisiologi Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katub atrioventrikularis atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang. meningkatnya beban .jantung atau sebab-sebab diluar jantung. Etiologi dan Patofisiologi Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Pennganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penykit yang mendasarinya. B. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal. infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. juga akan terjadi pada jantung kanan. Tekanan rteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Keadaankeadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel.

Pemberian antikoagulansia mungkin diperlukan pad pembatasan aktifitas yang ketat untuk mengendalikan gejala. 3. EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler. Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard menunjukkan adanya aneurime ventricular. Rejimen penanganan secar progresif ditingkatkan sampai mencapai respon klinik yang diinginkan. Pemeriksaan Diagnostik 1. penyimpangan aksis. iskemia san kerusakan pola mungkin terlihat. Eksaserbasi akut dari gagal jantung atau perkembangan menuju gagal jantung yang berat dapat menjadi alasan untuk dirawat dirumah sakit atau mendapat penanganan yang lebih agresif . Disritmia mis : takhikardi. kontraktilitas dan beban akhir. . Skan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding. fibrilasi atrial. Tetapi kelainan pad kerj ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan berktivitas. Tetapi harus diperhatikan jngn sampai memaksakan lrngan yng tak perlu untuk menghindari kelemahan otot-otot rangka. 2. pada keadaan istirahat. Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik. E. Dengn berlanjutny gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahnkan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curh jantung. Penanganan Gagal jantung ditngani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium.Penanganan biasanya dimulai ketika gejala-gejala timbul pad saat beraktivitas biasa. Kini telah dikethui bahwa kelemahan otot rangka dapat meningkatkan intoleransi terhadap latihan fisik. D. baik secar sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal. perubahan dalam fungsi/struktur katub atau are penurunan kontraktilitas ventricular. Pembatasan aktivitas fisik yang ketat merupakan tindakan awal yang sederhan namun sangat tepat dalam pennganan gagal jantung. Tirah baring dan aktifitas yang terbatas juga dapat menyebabkan flebotrombosis.awal akibat aktivasi istem rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel.

. Juga mengkaji potensi arteri kororner. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran bnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontrktilitas.4. Kateterisasi jantung : Tekanan bnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri. dan stenosi katup atau insufisiensi.

Disritmia. bengkak pada kaki. penyakit jantung . Sirkulasi a. S3 (gallop) adalah diagnostik. episode GJK sebelumnya. pembesaran/dapat teraba. 10) Warna . mungkin sempit. b. Pengkajian Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibtkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik . krekels. 5) Nadi apical . syok septic. 7) Bunyi jantung . S1 dan S2 mungkin melemah. Takikardia. 4) Frekuensi jantung . perubahan status mental mis : letargi. b. S4 dapat 8) terjadi. 14) Bunyi napas . Karenanya diagnostik dan teraupetik berlnjut . bedah jantung . PMI mungkin menyebar dan merubah 6) posisi secara inferior ke kiri. ronkhi. telapak kaki. nyeri dada dengan aktivitas. 15) Edema . mungkin dependen. anemia. Tanda : Gelisah. GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas. abdomen. pucat abu-abu. 1. insomnia. sianotik. Gejala : Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari. kebiruan. 13) Hepar . 11) Punggung kuku . Tanda : 1) TD . Aktivitas/istirahat a. Integritas ego . 3. 2. endokarditis. dispnea pada saat istirahat. umum atau pitting 16) khususnya pada ekstremitas. 9) Murmur sistolik dan diastolic. 2) Tekanan Nadi . Gejala : Riwayat HT. mungkin rendah (gagal pemompaan). tanda vital berubah pad aktivitas.ASUHAN KEPERAWATAN A. 3) Irama Jantung . IM baru/akut. pucat atau sianotik dengan pengisian 12) kapiler lambat.

2) Batuk : Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum. . 5) Fungsi mental. 3) Sputum . tekanan dn pitting). Neurosensori a. Pernapasan a. Nyeri/Kenyamanan a. 6. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis) b. b. kuatir dan takut. nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot. Tanda : Letargi. Gejala : Ansietas. Mungkin tidak terdengar. tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal. Gejala : Dispnea saat aktivitas. riwayat penyakit kronis. penambhan berat badan signifikan. penggunaan otot asesori pernpasan. Gejala : Nyeri dada. batuk dengn/tanpa pembentukan sputum. kelelahan selama aktivitas Perawatan diri. marah. diorientasi. Tanda : Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum. focus menyempit danperilaku melindungi diri. penggunaan bantuan pernapasan. pening. diare/konstipasi. Tanda : Tidak tenang. b. napas dangkal. letargi. pakaian/sepatu terasa sesak. b. mis : ansietas. mual/muntah. dependen. 9. kusut pikir. episode pingsan. 7. 5. Gejala : Kehilangan nafsu makan. Gejala : Keletihan/kelemahan. Higiene a.a. perubahan perilaku dan mudah tersinggung. Tanda : 1) Pernapasan. Mungkin bersemu darah. pembengkakan pada ekstremitas bawah. kegelisahan. gelisah. 4. b. diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretic. Makanan/cairan a. berkemih malam hari (nokturia). 8. takipnea. b. Tanda : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal. Gejala : Kelemahan. merah muda/berbuih (edema pulmonal) 4) Bunyi napas . Tanda : Berbagai manifestasi perilaku. Mungkin menurun. urine berwana gelap. ketakutan dan mudah tersinggung. angina akut atau kronis. Eliminasi Gejala : Penurunan berkemih.

Pucat dan sianosis. Penurunan keluaran urine e. misalnya : penyekat saluran kalsium. b. Ortopnea. perubahan gambaran pola EKG b. edema dan nyeri dada. Melaporkan penurunan epiode dispnea. B. Tanda : Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan. irama dan konduksi listrik. Keamanan Gejala : Perubahan dalam fungsi mental. Interaksi sosial Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. ditandai dengan . Penurunan curah jantung berhubungan dengan . Nadi perifer tidak teraba f. Catat bunyi jantung . Tujuan Klien akan : Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung . Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi). Perubahan frekuensi. Pembelajaran/pengajaran a. kulit lecet. Bunyi ekstra (S3 & S4) d. c. Intervensi a. Gejala : menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung. Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : disritmia. Perubahan structural. b.6) Warna kulit . angina. 10. Diagnosa Keperawatan 1.krakles. pembesaran hepar. kehilangankekuatan/tonus otot. 12. 11. kaji frekuensi. Kulit dingin kusam g. a. Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik. Auskultasi nadi apical . Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung. iram jantung Rasional : Biasnya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel.

a. dorsalis. f. d. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup. adanya disrirmia. Ditandai dengan : Kelemahan. e. Murmur dapat menunjukkan Inkompetensi/stenosis katup. popliteal. Tujuan /kriteria evaluasi : Klien akan : Berpartisipasi pad ktivitas yang diinginkan. Perubahan tanda vital. kelelahan. Tirah baring lama/immobilisasi. Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi). Palpasi nadi perifer Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial. Rasional : S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Aktivitas intoleran berhubungan dengan : Ketidak seimbangan antar suplai okigen. Intervensi Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas. pedis dan posttibial. Dispnea. Area yang sakit sering berwarna biru atu belang karena peningkatan kongesti vena. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur. perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung. dibuktikan oelh menurunnya kelemahan dan kelelahan. Kaji kulit terhadp pucat dan sianosis Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer ekunder terhadap tidak dekutnya curh jantung.c. . vasokontriksi dan anemia. berkeringat. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi) Rasional : Meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. memenuhi perawatan diri sendiri. Pantau TD Rasional : Pada GJK dini.diuretic dan penyekat beta. memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti. Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah kesermbi yang disteni. Sianosis dapt terjadi sebagai refrakstori GJK. pucat. Kelemahan umum. khususnya bila klien menggunakan vasodilator. 2. sedng atu kronis tekanan drah dapat meningkat. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi danhipotensi tidak dapat norml lagi.

Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress. Rasional : Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dpat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan. Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas. bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali. Pantau TD dan CVP (bila ada) . diritmia. bunyi jantung abnormal. Rasional : Pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal. Klien akan : Mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan danpengeluaran. c. Oliguria. Pantau pengeluaran urine.Posisi terlentang membantu diuresis sehingga pengeluaran urine dapat ditingkatkan selama tirah baring. edema. d. Peningkatan berat badan. catat takikardi. d. Pertahakan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut. berat badan stabil dan tidak ada edema. Tujuan /kriteria evaluasi. Pantau/hitung keseimbangan pemaukan dan pengeluaran selama 24 jam Rasional : Terapi diuretic dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tibatiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema/asites masih ada. bunyi nafas bersih/jelas. Menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual.. 3. Rasional : Posisi tersebut meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis. Intervensi : a. catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi. Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas. bunyi jantung S3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan : menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air. c. hipertensi. b. tanda vital dalam rentang yang dapat diterima. ditandai dengan : Ortopnea. Distres pernapasan. dispnea berkeringat dan pucat. Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi) Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan.b. Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas.

Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan : perubahan menbran kapiler-alveolus.e. Catat keluhan anoreksia. Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA. 4. g. Intervensi . b. nafas dalam. e. Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima klien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium. d. nadi oksimetri. Tujuan /kriteria evaluasi. distensi abdomen dan konstipasi. edema dan penurunan perfusi jaringan. f. c. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam btas kemampuan/situasi. Rasional : Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.. mual. Dorong perubahan posisi. gagal jantung. Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif. a. Intervensi : Pantau bunyi nafas. catat krekles Rasional : menyatakan adnya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut. Kaji bisisng usus. Pemberian obat sesuai indikasi (kolaborasi) Konsul dengan ahli diet. 5. Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit. Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan cairan dan dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : Mempertahankan integritas kulit. Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen. Rasional : Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru. Klien akan : Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi dekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan. Rasional : Kongesti visceral (terjadi pada GJK lanjut) dapat mengganggu fungsi gaster/intestinal.

imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi. e. Hindari obat intramuskuler Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi. Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani. Pijat area kemerahan atau yang memutih Rasional : meningkatkan aliran darah. Rasional : Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer. b. Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi. catat penonjolan tulang. terulangnya episode GJK yang dapat dicegah. c.a. Diskusikan fungsi jantung normal Rasional : Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan. Rasional : Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah. adanya edema. Rasional : Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan. b. d. Anjurkan makanan diet pada pagi hari. Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi. ditandai dengan : Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal. c. 6. Intervensi a. Kuatkan rasional pengobatan. meminimalkan hipoksia jaringan.. bantu latihan rentang gerak pasif/aktif. Pantau kulit. Rasional : Memberikan waktu adequate untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur. Berikan perawtan kulit. . b. Rasional : Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala. area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus. Tujuan/kriteria evaluasi Klien akan : a. minimalkan dengan kelembaban/ekskresi. c. Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu.

704 – 705 & 753 . Edisi 4.763.d. Edisi 3. Tahun 2002. Atiek S. DAFTAR PUSTAKA Barbara C Long. 1982. Media Aesculapius. Junadi P.450 Doenges Marilynn E. Hal. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit). Perawatan Medikal Bedah (Terjemahan). Hal . 443 .206 . Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien). Buku 2. Tahun 1995. Hal. Penerbit Buku Kedikteran EGC. 52 – 64 & 240 – 249. Yayasan IAPK Padjajaran Bandung. . Hal . Fakultas Kedokteran Universita Indonesia. Kapita selekta Kedokteran (Efusi Pleura).208 Wilson Lorraine M. Husna A. September 1996.