Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya

kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti :

Penanganan Bedah pada Endometriosis
Abstrak :

Endometriosis merupakan penyakit di bidang ginekologi yang sering dijumpai dan ternyata sampai saat ini masih menyimpan banyak misteri. Menurut European Society for Human Reproduction and Embriology (ESHRE) definisi penyakit endometriosis itu sendiri adalah adanya jaringan seperti endometrium berada diluar kavum uteri yang bisa menyebabkan reaksi inflamasi kronis (ESHRE, 2006). Endometriosis dijumpai dan diderita pada 10-20 % wanita usia reproduksi. Di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya tahun 1987 sampai 1991 melalui tindakan laparoskopi diagnostik didapatkan data bahwa infertilitas disertai endometriosis berkisar 23,8 % dan pada tahun 1992 sampai 1993 meningkat menjadi 37,2%, terakhir pada tahun 2002 berkisar 50% (Samsulhadi, 2002). Masih banyak teka-teki yang belum terungkap pada endometriosis, karena masih sedikitnya penelitian dalam bentuk studi klinik dengan randomisasi. Patogenesis dan patofisiologi endometriosis masih belum jelas sehingga menyebabkan penatalaksanaan penyakit ini belum seragam, sering menimbulkan banyak pertanyaan dan hanya ditujukan untuk menghilangkan keluhan dan gejalanya saja. Keluhan yang sering dijumpai pada wanita penderita endometriosis adalah nyeri panggul (60-80%) dan infertilitas (20-40%). Nyeri biasanya berhubungan dengan haid (dismenorea), dimulai pada awal haid dan berakhir saat selesainya haid. Bila lokasi lesi endometriosis berada di daerah vagina maka akan terjadi nyeri saat sanggama (dispareunia), bila lesi ada daerah rectum akan terjadi nyeri saat defekasi. Lesi endometriosis dapat menyebabkan perlekatan organ-organ reproduksi sehingga mengganggu fungsi penangkapan sel telur oleh fimbria, sehingga terjadi infertilitas. Selain karena perlekatan, infertilitas bisa terjadi akibat faktor inflamasi dan biokimia dari endometriosis. Keluhan nyeri dan infertilitas akibat endometriosis ini bila tidak ditangani dengan baik akan memberi dampak yang tidak baik bagi wanita penderita endometriosis, yang pada gilirannya akan membuat penurunan kualitas hidupnya.

Penanganan endometriosis Penanganan endometriosis bersifat simtomatis yaitu tergantung pada keluhan dan gejala klinisnya. Tujuan penanganan endometriosis adalah : 1) mengontrol nyeri, 2) mengontrol perkembangan penyakit endometriosis dan 3) mempertahankan fertilitasnya. Terdapat 3 (tiga) bentuk cara penanganan endometriosis, yaitu secara bedah, medikamentosa dan kombinasi bedah dengan medikamentosa. Nyeri biasanya ditangani dengan terapi hormon dan terapi bedah, sedangkan infertilitas ditangani dengan terapi bedah dan terapi spesifik untuk infertilitas, misalnya inseminasi atau fertilisasi in vitro.

Terapi Bedah Terapi bedah pada endometriosis bisa dilakukan dengan cara laparotomi dan laparoskopi, namun menurut Sinaii sebagian besar (69,1%) dilakukan dengan laparoskopi. Hampir sebagian besar dimulai dengan tindakan laparoskopi diagnostik, walaupun sebenarnya pengenalan dan konfirmasi terhadap lesi endometriosis tidaklah mudah. Terdapat 3 (tiga) tampilan lesi endometriosis, yaitu lesi peritoneum, lesi vagina dan lesi supra vagina. Lesi peritonium bisa dalam bentuk lesi tipikal, misalnya : Pukerer black, powder burm dan lain-lain, bisa juga dalm bentuk red flame- lik , white opacification, glandular excrescences.
Page 1

Di Klinik Fertilitas RSU Dr Sutomo Surabaya didapatkan bahwa ablasi lebih baik bila dibandingkan dengan hanya melakukan laparoskopi diagnostik saja. lakukan insisi kecil pada peritoneum selanjutnya dilakukan diseksi. Ternyata eksisi pun memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan melakukan laparoskopi diagnostik saja. 2000). Pada kista endometriosis dengan ukuran &gt. Cara melakukan eksisi adalah sebagai berikut : angkat peritoneum dekat lesi. 4 cm sebaiknya dilakukan eksisi dengan mengangkat kapsul endometrioma yang berguna untuk mencegah kekambuhan. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan saat melakukan tindakan bedah adalah : usia penderita. Ablasi dilakukan dengan cara membakar lesi dengan tetap meninggalkan lesi tersebut intak. Berdasarkan panduan ESHRE disebutkan bahwa inspeksi visual dengan laparoskopi merupakan standar emas untuk diagnosis definitif endometriosis. Sedangan pengobatan hormonal dengan memakai GnRH agonis dan danazol selama 6 bulan ternyata menurunkan kejadian nyeri dan mencegah kekambuhan selama 24 bulan sesudah pembedahan. kelenjar dan stroma endometrium. Kalau dibandingkan eksisi dan ablasi. namun bila ukuran kista endometriosis &lt. Selanjutnya dilakukan eksisi luar untuk mengangkat lesi endometriosis tersebut. Tim Peneliti : Saat laparoskopi diagnostik ditentukan gradasi endometriosis dengan menggunakan sistem klasifikasi menurut ASRM. 4 cm sebaiknya lakukan ablasi saja. berat ringannya keluhan dan kebutuhan untuk fertilitasnya. sedangkan eksisi dilakukan dengan cara mengangkat lesi tersebut sehingga dapat dilakukan konfirmasi patologi anatomi. Abbot dalam pengamatannya mendapatkan bahwa setelah 6 bulan eksisi memberikan kesembuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan tindakan ablasi (73 vs 22 %). ternyata eksisi lebih baik yaitu memberikan kesembuhan hilangya nyeri sebesar 96% dibandingkan dengan ablasi sebesar 25% (Hanson. Tujuh puluh persen pada tindakan ablasi tidak didapatkan keluhan nyeri lagi dibandingkan dengan 32% pada yang dilakukan laparoskopi saja (&lt. yang dapat juga digunakan air untuk diseksi ini. hal ini disebabkan karena endometriosis rekto vagiana melibatkan otot polos. Namun tindakan ablasi lebih mudah dan sederhana bila dibandingakn dengan tindakan eksisi yang lebih sulit dan berisiko terjadi komplikasi. Patogenesis endometriosis rektovagina berbeda yaitu terjadi memlalui Page 2 . Tidakan eksisi memberikan kekambuhan yang lebih kecil sebesr 42% bila dibandingkan dengan tindakan ablasi dengan kekambuhan sebesaaaar 77%. 0. gradasi penyakit endometriosis.Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah. 2007) .005) (Hendarto. dibandingkan dengan 22% yang membaik dengan laparoskopi diagnosis saja. Pengobatan hormonal pasca tindakan bedah dengan menggunakan GnRH agonis maupun danazol tidak meningkatkan kesuburan. 2) mengambil jaringan / implan endometriosis yang dilakukan dengan cara ablasi atau eksisi. Saat terapi bedah dilakukan 2 (dua) hal. Tujuh puluh tiga persen yang dilakukan eksisi hilang keluhan nyerinya. Endometriosis rektovagina merupakan jenis endometriosis yang paling berat dan membutuhkan tindakan bedah yang ekstensif . yaitu 1) mempertahankan kesuburan dengan memperbaiki distorsi anatomi adneksa dengan cara melakukan pembebasan perlekatan .

The Practice Committee of The American Society for Reproductive Medicine. Apabila keluhannnya infertilitas atau adanya benjolan lakukan tindakan bedah laparoskopi untuk melakukan ablasi atau eksisi. Annemiek WN. Francis. Page 3 . pp 3-15.35 tahun segera lakukan tindakan Teknologi Reproduksi Berbantu. 2006. Bila usia &gt. Majalah Obstetri dan Ginekologi 10(1): 43-50. Ringkasan Endometriosis dapat memberikan gejala : nyeri. 2002. Groothuis PG. Samsulhadi. 2004. Demir AY. Adamson GD) Modern management of endometriosis.Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah. Sutton C. 2004. Bila nyeri dapat langsung diberi terapi medikamentosa berupa analgetika atau pil LB kombinasi. Endometriosis : Dari biomolekuler sampai masalah klinis. misalnya inseminasi atau fertilisasi in vitro. Research Clin Obstet Gynecol 18(2): 233-244. Evers J. Jones K. Tim Peneliti : metaplasi duktus muleri. Tindakan bedah pada rektovagina menjadi sangat komplek dan membutuhkan pendekatan multi disiplin pada centre of exellence. Best Practice &amp. infertilitas dan benjolan. Selanjutnya lihat umurnya . Endometriosis and infertility. London: Taylor &amp. The history of endometriosis. Pathogenesis of endometriosis. Daftar Pustaka : ASRM. Bila tetap tidak membaik segera lakukan tindakan bedah laparoskopi. bila masih muda tunggu dulu selama 6 bulan. Fertil Steril 82(suppl 1): 40-45. Bila tidak berhasil obat diganti dengan Gn Rh agonis selama 6 bulan. Dunselman GA. In (Sutton C.

Tim Peneliti : Page 4 .Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah. Tim Peneliti : Page 5 .

Tim Peneliti : Page 6 .Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

bedah Page 7 . terapi.Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah. Tim Peneliti : Keyword : endometriosis.