16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keluarga Berencana
2.1.1 Definisi Keluarga Berencana
Keluarga Berencana menurut WHO (World Health Organization) adalah
tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk (BKKBN, 2001) :
1. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan.
2. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.
3. Mengatur interval di antara kelahiran.
4. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami isteri.
5. Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS).
Pelayanan KB diberikan diberbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun
swasta dari tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat
bervariasi. Pemberi layanan KB antara lain adalah Rumah Sakit, Puskesmas, dokter
praktek swasta, bidan praktek swasta dan bidan desa. J enis alat /obat kontrasepsi
antara lain kondom, pil KB, suntik KB, IUD, implant, vasektomi, dan tubektomi.
Untuk jenis pelayanan KB jenis kondom dapat diperoleh langsung dari apotek atau
toko obat, pos layanan KB dan kader desa. Kontrasepsi suntik KB sering dilakukan
oleh bidan dan dokter sedangkan kontrasepsi jenis, IUD, implant dan vasektomi
/tubektomi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dan berkompeten (BKKBN,
2002).

Universitas Sumatera Utara




2.1.2 Tujuan Keluarga Berencana
Kebijakan Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan
pertumbuhan penduduk melalui usaha penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini
bersama-sama dengan usaha-usaha pembangunan yang lain selanjutnya akan
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Upaya menurunkan tingkat kelahiran
dilakukan dengan mengajak pasangan usia subur (PUS) untuk berkeluarga berencana.
Sementara itu penduduk yang belum memasuki usia subur (Pra-PUS) diberikan
pemahaman dan pengertian mengenai keluarga berencana (BKKBN, 2001).
2.1.3 Visi dan Misi Keluarga Berencana
Visi KB berdasarkan paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional
adalah untuk mewujudkan ”Keluarga berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang
berkualitas adalah keluarga yang sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang
ideal, berwawasan kedepan, bertanggungjawab, harmonis dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Visi “Keluarga berkualitas 2015″ dijabarkan dalam salah satu
misinya (BKKBN, 2001).

2.2 Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra berarti mencegah atau melawan.
Sedangkan Konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan
sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. J adi kontrasepsi adalah
menghindari /mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang
matang dengan sel sperma tersebut. Dalam menggunakan kontrasepsi, keluarga pada
umumnya mempunyai perencanaan atau tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut
Universitas Sumatera Utara




diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu menunda/mencegah kehamilan,
menjarangkan kehamilan, serta menghentikan /mengakhiri kehamilan atau kesuburan.
Cara kerja kontrasepsi bermacam macam tetapi pada umumnya yaitu (BKKBN,
2002) :
1. Mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi.
2. Melumpuhkan sperma.
3. Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma.

2.3 Kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device)
2.3.1 Pengertian IUD
Kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device) merupakan alat kontrasepsi yang
dipasang dalam rahim yang relatif lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pil,
suntik dan kondom. Efektifitas metode IUD antara lain ditunjukkan dengan angka
kelangsungan pemakaian yang tertinggi bila dibandingkan dengan metode tersebut
diatas. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari plastik elastik, dililit tembaga atau
campuran tembaga dengan perak. Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas
dengan waktu penggunaan dapat mencapai 2-10 tahun, dengan metode kerja
mencegah masuknya spermatozoa /sel mani ke dalam saluran tuba. Pemasangan dan
pencabutan alat kontrasepsi ini harus dilakukan oleh tenaga medis (dokter atau bidan
terlatih), dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi namun tidak boleh
dipakai oleh perempuan yang terpapar infeksi menular seksual (BKKBN, 2002).


Universitas Sumatera Utara




2.3.2 Jenis IUD
J enis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain adalah (Bari, 2006) :
1. Copper-T
J enis IUD Copper-T berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada
bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan tembaga halus ini
mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik.
2. Copper-7
J enis IUD Copper-7 berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan
pemasangan. J enis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan
ditambahkan gulungan kawat tembaga luas permukaan 200 mm
2
, fungsinya sama
dengan lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T.
3. Multi load
J enis IUD multi load terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan
kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung
bawah 3,6 cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250
mm
2
atau 375 mm
2
untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load
yaitu standar, small, dan mini.
4. Lippes loop
J enis IUD Lippes loop terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf spiral atau
huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.
Lippes loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya.
Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam), tipe C
berukuran 30 mm (benang kuning) dan tipe D berukuran 30 mm dan tebal (benang
Universitas Sumatera Utara




putih). Lippes loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan dari
pemakaian IUD jenis ini adalah bila terjadi perforasi, jarang menyebabkan luka atau
penyum batan usus, sebab terbuat dari bahan plastik.
2.3.3 Cara Kerja IUD
Cara kerja dari IUD antara lain yaitu (Bari, 2006) :
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.
2. Memengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri.
3. Mencegah sperma dan ovum bertemu dengan membuat sperma sulit masuk ke
dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi.
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
2.3.4 Keuntungan dan Kelemahan IUD
1. Keuntungan dari penggunaan alat kontrasepsi IUD yakni (Bari, 2006) :
a. Sangat efektif. 0,6-0,8 kehamilan /100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125-170 kehamilan).
b. IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
c. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu
diganti).
d. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
e. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena karena rasa aman terhadap risiko
kehamilan
g. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A.
h. Tidak memengaruhi kualitas dan volume ASI
Universitas Sumatera Utara




i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi
infeksi).
j. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
k. Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
2. Kelemahan dari penggunaan IUD yaitu (Bari, 2006):
a. Efek samping yang umum terjadi, seperti : perubahan siklus haid (umumnya
pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama
dan banyak, perdarahan antar menstruasi, saat haid lebih sakit.
b. Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah
pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang
apabila pemasangan benar).
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti
pasangan.
e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai
IUD, penyakit radang panggul dapat memicu infertilitas.
f. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelviks diperlukan dalam pemasangan
IUD.
g. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan
IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari
h. Pencabutan IUD hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter atau
bidan) yang terlatih.
Universitas Sumatera Utara




i. Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD
dipasang segera setelah melahirkan).
j. Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu.
2.3.5 Waktu Penggunaan IUD
Penggunaan IUD sebaiknya dilakukan pada saat (Bari, 2006) :
1. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
2. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid.
3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca
persalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi
(MAL).
4. Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada
gejala infeksi.
5. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi.
2.3.6 Waktu Kontrol IUD
Kelemahan dari penggunaan IUD adalah perlunya kontrol kembali untuk
memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu. Waktu kontrol IUD yang harus
diperhatikan adalah (Bari, 2006) :
1. 1 bulan pasca pemasangan
2. 3 bulan kemudian
3. Setiap 6 bulan berikutnya
4. Bila terlambat haid 1 minggu
5. Perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya

Universitas Sumatera Utara




2.4 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Seseorang dalam Pemilihan Alat
Kontrasepsi IUD
Faktor keputusan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD tidak
terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun
faktor-faktor yang merupakan penyebab perilaku memilih alat kontrasepsi IUD dapat
dijelaskan dengan Menurut Notoatmodjo (2003) yang dibedakan dalam tiga jenis
yaitu :
1) Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, keluarga, kelompok
atau masyarakat yang mempermudah individu untuk berperilaku
2) Faktor Pendukung (Enabling Factors)
Merupakan faktor yang memungkinkan individu untuk berperilaku memilih
AKDR. Karena tersedianya sumber daya, keterjangkauan, rujukan dan
ketrampilan. Adanya fasilitas kesehatan yang mendukung Program KB akan
mempengaruhi perilaku ibu dalam memilih metode kontrasepsi
3) Faktor Pendorong (Reinforcing Factor)
Merupakan faktor yang menguatkan perilaku, seperti sikap dan ketrampilan
petugas kesehatan atau petugas yang lain yang merupakan kelompok referensi
dari perilaku masyarakat, (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan hal itu, semakin
baik ketrampilan seorang petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan
dan konseling tentang KB, maka semakin baik pula tingkat pengetahuan
wanita tentang jenis-jenis kontrasepsi
Universitas Sumatera Utara




2.4.1 Faktor Predisposisi
a. Umur
Berdasarkan penelitian Syamsiah (2002) dalam Farahwati (2009) diperoleh
bahwa sebagian besar responden yang memakai kontrasepsi (65,7%) berumur 20-35
tahun. Hasil analisis hubungan antara umur responden dengan pemakaian kontrasepsi
IUD dan Non-IUD diperoleh bahwa responden berumur >35 tahun (68,6%) memakai
IUD lebih besar dibandingkan dengan non-IUD (31,4%). Dengan demikian dapat
diketahui bahwa ada hubungan antara umur dan pemilihan kontrasepsi, responden
yang berumur >35 tahun berpeluang 3,23 kali dibandingkan dengan responden yang
berumur 20-35 tahun, hal ini disebabkan responden yang berumur > 35 tahun
menggunakan kontrasepsi dengan tujuan mengakhiri kesuburan, karena mereka sudah
mempunyai anak sesuai dengan yang diinginkan keluarga, sehingga tidak ingin
menambah anak lagi.
b. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari
pengalaman juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat
dari buku, surat kabar, atau media massa, elektronik (Notoatmodjo, 2003).
Tingkat pengetahuan sangat berpengaruh terhadap proses menerima atau
menolak inovasi. Menurut Roger (1983) dalam Notoatmodjo (2007), prilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada prilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan. Roger mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi
prilaku baru, dalam diri seseorang tersebut terjadi proses berurutan, yaitu :
Universitas Sumatera Utara




1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) .
2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus tersebut, disini sikap subjek mulai
timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut
bagi dirinya.
4. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5. Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung atau pun melalui
pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui penyuluhan baik
secara individu maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang
bertujuan untuk meningkatkan prilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pengukuran pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan materi yang ingin diukur
dari objek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin diketahui
(Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan tentang KB IUD merupakan salah satu aspek penting ke arah
pemahaman tentang alat kontrasepsi tersebut. Seseorang akan memilih KB IUD jika
ia banyak mengetahui dan memahami tentang KB IUD (BKKBN, 2002). Menurut
penelitian Ekarini (2008), bahwa analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
pemilihan KB di Kecamatan Selo Kabupaten Bayolali adalah pengetahuan
Universitas Sumatera Utara




berpengaruh terhadap pemilihan KB (OR =18.712) artinya jika pengetahuan ibu
semakin baik maka peluang responden 18,712 kali untuk memilih kontrasepsi jika
dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan buruk.
c. Jumlah anak
Salah satu faktor yang menentukan keikutsertaan pasangan suami istri dalam
gerakan Keluarga Berencana adalah banyaknya anak yang dimilikinya. Diharapkan
pada pasangan yang memiliki jumlah anak lebih banyak, kemungkinan untuk
memulai kontrasepsi lebih besar dibandingkan daripada pasangan yang mempunyai
anak lebih sedikit. Berdasarkan hasil wawancara, akseptor mengatakan bahwa jumlah
anak yang banyak menentukan akseptor untuk memilih alat kontrasepsi IUD.
BKKBN (2002) menerangkan bahwa yang dimaksud keluarga kecil adalah
keluarga yang jumlah anaknya paling banyak dua orang. Sedangkan keluarga besar
adalah suatu keluarga dengan lebih dari dua orang anak.
2.4.2 Faktor Pendukung
a. Keamanan alat kontrasepsi IUD
Salah satu keuntungan dari alat kontrasepsi IUD adalah Meningkatkan
kenyamanan hubungan suami-istri karena rasa aman terhadap risiko kehamilan (Bari,
2006)
b. Ketersediaan alat kontrasepsi IUD
Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa ketersediaan alat kontrasepsi
IUD dari pemerintah seperti adanya KB safari sangat membantu masyarakat untuk
menggunakan alat kontrasepsi IUD.

Universitas Sumatera Utara




c. Tempat pelayanan KB
Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa tempat pelayanan KB terdekat
akan menentukan ibu untuk memilih alat kontrasepsi IUD, akseptor menjelaskan
bahwa jarak antara tempat tinggal dengan tempat pelayanan KB akan memudahkan
ibu untuk berkonsultasi dan kontrol ulang.
2.4.3 Faktor Pendorong
a. Petugas kesehatan
Hasil penelitian Wiadnyana (1995), menemukan adanya hubungan antara
sikap petugas dengan pemanfaatan pelayanan kontrasepsi IUD. Wiadnyana
menyarankan agar petugas kesehatan perlu lebih interest terhadap upaya pemberian
pelayanan kontrasepsi IUD dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik pada
masyarakat.
b. Media informasi
Media informasi merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan informasi dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan minat dari si penerima. Berdasarkan hasil wawancara
bahwa dengan media informasi baik dari televisi, majalah, radio maupun dari
penyuluhan merangsang ibu untuk memilih alat kontrasepsi IUD.
c. Biaya pemasangan
Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini
disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan
akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan. Walaupun jika dihitung dari segi
keekonomisannya, kontrasepsi IUD lebih murah dari KB suntik atau pil, tetapi
Universitas Sumatera Utara




kadang orang melihatnya dari berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali
pasang. Kalau patokannya adalah biaya setiap kali pasang, mungkin IUD terlihat jauh
lebih mahal. Tetapi kalau dilihat masa/jangka waktu penggunaannya, tentu biaya
yang harus dikeluarkan untuk pemasangan IUD akan lebih murah dibandingkan KB
suntik ataupun pil. Untuk sekali pasang, IUD bisa aktif selama 3 - 5 tahun, bahkan
seumur hidup/sampai menopause. Sedangkan KB Suntik atau Pil hanya mempunyai
masa aktif 1-3 bulan saja, yang artinya untuk mendapatkan efek yang sama dengan
IUD, seseorang harus melakukan 12-36 kali suntikan bahkan berpuluh-puluh kali
lipat (Saifuddin, 2003).
d. Dukungan suami
Keputusan mencari pelayanan kesehatan merupakan hasil jaringan interaksi
yang kompleks. Menemukan proses pengambilan keputusan dan pola komunikasi
yang relevan bukanlah masalah yang sederhana. Keputusan mencari pelayanan
kesehatan dapat dibuat oleh wanita itu sendiri, atau oleh suaminya, tokoh masyarakat
desa, dan/atau anggota keluarga atau masyarakat lainnya (Koblinsky, 1997).
Berbagai budaya mendukung kepercayaan bahwa pria mempunyai hak dari
fertilitas istri mereka (Cook dan Maine, 1987 dalam Koblinsky, 1997). Di Papua New
Guinea, wanita tidak dapat membeli kontrasepsi tanpa persetujuan suami. Di Turki,
hukum mensyarakatkan persetujuan pasangan bila ingin melaksanakan kontrasepsi
bedah, dan persetujuan suami diperlukan bila istri menginginkan aborsi. Di Nigeria
sudah lazim apabila wanita tidak dapat menerima kontrasepsi tanpa ijin suami. Di
Ethipia, Asosiasi Bimbingan Keluarga mensyarakatkan suami untuk menandatangani
formulir persetujuan agar istri dapat memperoleh kontrasepsi (Koblinsky, 1997).
Universitas Sumatera Utara




Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suami mempunyai pengaruh yang kuat dalam
penerimaan kontrasepsi oleh istri dan keterbatasan metode menimbulkan hambatan
bagi wanita untuk berkontrasepsi .
Lebih rinci lagi pada hasil penelitian Syamsiah (2002) dalam Farahwati
(2009), menunjukkan adanya hubungan antara dukungan suami dengan pemilihan
IUD. Responden yang mendapat dukungan suami, mempunyai peluang memilih IUD
41 kali dibandingkan responden yang tidak mendapat dukungan suami. Dukungan
suami merupakan faktor yang paling dominan dalam memilih alat kontrasepsi.

2.5 Analisis Faktor
2.5.1 Definisi
Analisis faktor merupakan nama umum yang menunjukkan suatu kelas
prosedur, utamanya dipergunakan untuk mereduksi data atau meringkas dari variabel
yang banyak diubah menjadi sedikit variabel, misalnya dari 15 variabel yang lama
diubah menjadi 4 atau 5 variabel baru yang disebut faktor dan masih memuat
sebagian besar informasi yang terkandung dalam variabel asli (original variable).
(Supranto, 2004).
Analisis faktor merupakan salah satu tehnik analisis statistik multivariat,
dengan titik berat yang diminati adalah hubungan secara bersama pada semua
variabel tanpa membedakan variabel tergantung dan variabel bebas atau disebut
sebagai metode antar ketergantungan (interdependence methods). Proses analisis
faktor mencoba menemukan hubungan antar variabel yang saling independen
tersebut, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih
Universitas Sumatera Utara




sedikit dari jumlah variabel awal sehingga memudahkan analisis statistik selanjutnya
(Wibowo, 2006).
Menurut Supranto (2004) Analisis faktor dipergunakan di dalam situasi
sebagai berikut :
1. Mengenali atau mengidentifikasi dimensi yang mendasari (Underlying
dimensions) atau faktor, yang menjelaskan korelasi antara suatu set variabel.
2. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel baru yang tidak berkorelasi
(independent) yang lebih sedikit jumlahnya untuk menggantikan suatu set
variabel asli yang saling berkorelasi di dalam analisis multivariat selanjutnya.
3. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel yang penting dari suatu set
variabel yang lebih banyak jumlahnya untuk dipergunakan di dalam analisis
multivariat selanjutnya.
2.5.2 Kegunaan Analisis Faktor
1. Mengekstraks variabel laten dari indikator, atau mereduksi observable
variable menjadi variabel baru yang jumlahnya lebih sedikit.
2. Mempermudah interpretasi hasil analisis, sehingga didapatkan informasi yang
realistik dan sangat berguna.
3. Pemetaan dan pengelompokkan obyek berdasarkan karakteristik faktor
tertentu.
4. Pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.
5. Mendapatkan data variabel konstruks (= skor faktor) sebagai data input
analisis lebih lanjut (analisis diskriminan, analisis regresi, cluster analisis,
MANOVA, Analisis Path, Model Struktural, MDS, dan lain-lain)
Universitas Sumatera Utara




(Maghni, 2008)
2.5.3 Model Analisis Faktor
Secara matematis, analisis faktor agak mirip dengan regresi liner berganda,
yaitu bahwa setiap variabel dinyatakan sebagai suatu kombinasi linear dari faktor
yang mendasari (Underlying dimensions). J umlah varian yang disumbangkan oleh
suatu variabel dengan variabel lainnya yang tercakup dalam analisis disebut
communality. Kovariasi antara variabel yang diuraikan, dinyatakan dalam suatu
common factors yang sedikit jumlahnya ditambah dengan faktor yang unik untuk
setiap variabel (Wibowo, 2006).
Faktor yang unik tidak berkorelasi dengan sesama faktor yang unik dan juga
tidak berkorelasi dengan common factor. Common factor sendiri bisa dinyatakan
sebagai kombinasi linear dari variabel-variabel yang terlihat/terobservasi (the
observed variables) hasil penelitian lapangan.
Model analisis faktor terbagi dua yaitu :
1. Analisis Faktor Eksploratori (Exploratory Factor Analysis).
Model eksploratori meliputi regresi linear berganda (multiple regreession
analysis) dan principal component analysis (PCA). Di dalam analisis regresi,
umumnya kita mempunyai satu variabel tak bebas (dependent variable) Y yang
diregresikan dengan satu atau lebih variabel bebas. Kita tidak secara khusus
menyebutkan, sebelumnya menganalisis, variabel mana diantara variabel bebas
tersebut yang pengaruhnya signifikan. Pokoknya masukkan variabel bebas
sebanyak mungkin di dalam persamaan regresi, kemudian berdasarkan data
Universitas Sumatera Utara




empiris (data dari lapangan) dilakukan pengujian hipotesis untuk menentukan
variabel mana yang pengaruhnya signifikan untuk dipertahankan, dab dimana
yang tidak signifikan untuk dikeluarkan dari persamaan. Secara a priori bahwa di
dalam analisis faktor eksploratori tidak ada hipotesis yang berkenaan dengan
komposisi atau struktur. Di dalam analisis eksploratori perhatian peneliti terfokus
pada signifikansi statistik atau konstribusi variabel bebas terhadap variasi (naik
turunnya) variabel tak bebas.
Adapun langkah-langkah/urutan dalam analisis faktor eksploratori yaitu :
a. Memilih variabel
b. Mengekstraksi faktor
c. Mempertahankan faktor yang penting
d. Merotasi faktor
e. Mengartikan (memberi arti) hasil penemuan (artinya faktor-faktor
tersebut mewakili variabel mana saja).
2. Analisis Faktor Konfirmatori (Confirmatory Factor Analysis).
Model konfirmatori seperti analisis jalur, dan turunannya sangat ruwet
(sophisticated), pertama-tama peneliti membuat struktur model yang
dihipotesiskan (the hypothesized model structure) dan korelasi di dalam data
asli/awal (original data). Secara eksplisit, analisis konfirmatori memerlukan
formulasi atau perumusan hipotesis yang berkenaan dengan struktur yang
mendasari (underlying structure). Struktur yang diusulkan (proposed), kemudian
ditolak atau diterima berdasarkan pada the goodness-of-fit statistics : seberapa
jauh data konsisten dengan struktur faktor yang dihipotesiskan. Analisis faktor
Universitas Sumatera Utara




konfirmatori menggunakan pendekatan holistik (holistic approach). Ketika
mengevaluasi ketepatan model konfirmatori (suitability of confirmatory model),
peneliti umumnya berkenaan dengan seberapa bagus model yang dihipotesiskan
cocok (tepat) dengan hubungan yang ada didalam data asal/asli. Apakah model
yang dibuat bisa mencerminkan keadaan yang sebenarnya (to reflect the reality).
Adapun langkah-langkah/urutan dalam analisis faktor konfirmatori yaitu :
a. Memilih variabel
b. Hubungkan/kaitkan variabel dengan kontrak (contruct)
c. Uji ketepatan struktur faktor yang dihipotesiskan dengan data
d. Terima atau tolak struktur faktor yang dihipotesiskan dengan
menggunakan kriteria tertentu.
Statistik yang relevan dengan analisis faktor adalah Bartlett’s Test of
Sphericity yaitu suatu uji statistik yang dipergunakan untuk menguji hipotesis bahwa
variabel tidak saling berkorelasi (uncorrelated) dalam populasi. (Supranto, 2004).
2.5.4 Melakukan Analisis Faktor
Langkah-langkah yang diperlukan di dalam analisis faktor adalah sebagai
berikut :
1. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah meliputi beberapa hal : (Supranto, 2004).
a. Tujuan analisis faktor harus diidentifikasi.
b. Variabel yang akan dipergunakan di dalam analisis faktor harus dispesifikasikan
berdasarkan penelitian sebelumnya, teori dan pertimbangan dari peneliti.
Universitas Sumatera Utara




c. Pengukuran variabel berdasarkan skala interval
d. Banyaknya elemen sampel (n) harus cukup/memadai, sebagai petunjuk kasar,
kalau k banyaknya jenis variabel maka n =4 atau 5 kali k. Artinya kalau variabel
5, banyaknya responden minimal 20 atau 25 orang sebagai sampel acak
2. Bentuk Matriks Korelasi
Proses analisis didasarkan pada suatu matriks korelasi agar variabel
pendalaman yang berguna bisa diperoleh dari penelitian matriks ini. Agar analisis
faktor bisa tepat dipergunakan, variabel-variabel yang akan dianalisis harus
berkorelasi. Apabila koefisien korelasi antar variabel terlalu kecil, hubungannya
lemah, analisis faktor menjadi tidak tepat.
Prinsip utama Analisis Faktor adalah korelasi maka asumsi-asumsi terkait
dengan korelasi yaitu :
1. Besar korelasi atau korelasi antar independen variabel harus cukup kuat,
misalnya di atas 0,5 atau bila dilihat tingkat signifikannya adalah kurang dari
0,05.
2. Besar korelasi parsial, korelasi antar dua variabel dengan menganggap
variabel lain adalah tetap (konstan) harus kecil. Pada SPSS deteksi korelasi
parsial diberikan pada Anti Image Correlation.
Statistik formal tersedia untuk menguji ketepatan model faktor yaitu Bartlett’s
Test of Sphericity bisa digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variabel tak
berkorelasi di dalam populasi. Nilai yang besar untuk uji statistik, berarti hipotesis
Universitas Sumatera Utara




nol harus ditolak (berarti adanya korelasi yang signifikan diantara beberapa variabel).
Kalau hipotesis nol diterima, ketepatan analisis faktor harus dipertanyakan.
Statistik lainnya yang berguna adalah KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) mengukur
kecukupan sampling (sampling adequacy). Indeks ini membandingkan besarnya
koefisien korelasi terobservasi dengan besarnya koefisien korelasi parsial. Nilai KMO
yang kecil menunjukkan korelasi antar pasangan variabel tidak bisa diterangkan oleh
variabel lain dan analisis faktor mungkin tidak tepat (Supranto, 2004).
Measure of Sampling Adequacy (MSA) ukuran dihitung untuk seluruh matriks
korelasi dan setiap variabel yang layak untuk diaplikasikan pada analisis faktor.
(Wibowo, 2006). Nilai MSA yang rendah merupakan pertimbangan untuk membuang
variabel tersebut pada tahap analisis selanjutnya (Wibisono, 2003).
Menurut Wibowo (2006), Angka MSA berkisar 0-1 menunjukkan apakah sampel bisa
dianalisis lebih lanjut.
− MSA =1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain.
− MSA >0,5 variabel masih dapat diprediksi dan dapat dianalisis lebih lanjut.
− MSA <0,5 variabel tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dianalisis lebih lanjut
3. Menentukan Metode Analisis Faktor
Ada dua cara atau metode yang bisa dipergunakan dalam analisis faktor,
khususnya untuk menghitung timbangan atau koefisien skor faktor, yaitu principal
components analysis dan common factor analysis.
Di dalam principal components analysis, jumlah varian dalam data
dipertimbangkan. Principal components analysis direkomendasikan kalau hal yang
Universitas Sumatera Utara




pokok ialah menentukan bahwa banyaknya faktor harus minimum dengan
memperhitungkan varian maksimum dalam data untuk dipergunakan di dalam
analisis multivariat lebih lanjut. Faktor-faktor tersebut dinamakan principal
components.
Di dalam common factor analysis, faktor diestimasi hanya didasarkan pada
common variance, communalities dimasukkan di dalam matriks korelasi. Metode ini
dianggap tidak tepat kalau tujuan utamanya ialah mengenali/mengidentifikasi dimensi
yang mendasari dan common variance yang menarik perhatian. Metode ini juga
dikenal sebagai principal axis factoring (Supranto, 2004).
Communalities ialah jumlah varian yang disumbangkan oleh suatu variabel
dengan seluruh variabel lainnya dalam analisis. Bisa juga disebut proporsi atau
bagian varian yang dijelaskan common factors, atau besarnya sumbangan suatu faktor
terhadap varian seluruh variabel. Semakin besar Communalities sebuah variabel,
berarti semakin kuat hubungannya dengan faktor yang dibentuknya.
Eigenvalue merupakan jumlah varian yang dijelaskan oleh setiap faktor.
Eigenvalue akan menunjukkan kepentingan relatif masing-masing faktor dalam
menghitung varian yang dianalisis. Susunan eigenvalues selalu diurutkan dari yang
terbesar sampai yang terkecil dengan kriteria bahwa angka eigenvalue di bawah 1
tidak digunakan dalam menghitung jumlah faktor yang terbentuk. (Eigenvalue yang
ditentukan di atas 1 adalah alasan peneliti) (Wibowo, 2006).


Universitas Sumatera Utara




4. Rotasi Faktor-Faktor
Suatu hasil atau output yang penting dari analisis faktor ialah apa yang disebut
matriks faktor pola (factor pattern matrix). Matriks faktor berisi koefisien yang
dipergunakan untuk mengekspresikan variabel yang dibakukan dinyatakan dalam
faktor. Koefisien-koefisien ini yang disebut muatan faktor atau the faktor loading,
mewakili korelasi antar-faktor dan variabel. Suatu koefisien dengan nilai
absolut/mutlak yang besar menunjukkan bahwa faktor dan variabel berkorelasi sangat
kuat. Koefisien dari matriks faktor bisa dipergunakan untuk menginterpretasikan
faktor.
Meskipun matriks faktor awal yang belum dirotasi menunjukkan hubungan
antar-faktor masing-masing variabel, jarang menghasilkan faktor yang bisa
diinterpretasikan (diambil kesimpulannya), oleh karena faktor-faktor tersebut
berkorelasi atau terkait dengan banyak variabel (lebih dari satu).
Di dalam melakukan rotasi faktor, kita menginginkan agar setiap faktor
mempunyai muatan atau koefisien yang tidak nol atau yang signifikan untuk beberapa
variabel saja. Demikian halnya kita juga menginginkan agar setiap variabel
mempunyai muatan yang tidak nol atau signifikan dengan beberapa faktor saja, kalau
mungkin hanya dengan satu faktor saja. Kalau terjadi bahwa beberapa faktor
mempunyai muatan tinggi dengan variabel yang sama, sangat sulit untuk membuat
interpretasi tentang faktor tersebut. Akan tetapi, persentase varian sebagai sumbangan
setiap faktor terhadap seluruh varian (dari seluruh variabel asli) mengalami
perubahan (Supranto, 2004 ).
Universitas Sumatera Utara




5. Interpretasi Faktor
Interpretasi dipermudah dengan mengidentifikasi variabel yang muatannya
besar pada faktor yang sama. Faktor tersebut kemudian bisa diinterpretasikan,
dinyatakan dalam variabel yang mempunyai muatan tinggi padanya. Manfaat lainnya
di dalam membantu untuk membuat interpretasi ialah menge-plot variabel, dengan
menggunakan factor loading sebagai sumbu koordinat (sumbu F1 dan F2).
Variabel pada ujung atau akhir suatu sumbu ialah variabel yang mempunyai
high loading hanya pada faktor tertentu (faktor F1 atau F2) oleh karena itu bisa
menyimpulkan bahwa faktor tersebut terdiri dari variabel-variabel tersebut.
Sedangkan variabel yang dekat dengan titik asal (perpotongan sumbu F1 dan F2)
mempunyai muatan rendah (low loading) pada kedua faktor.
Variabel yang tidak dekat dengan sumbu salah satu faktor berarti berkorelasi
dengan kedua faktor tersebut. Kalau suatu faktor tidak bisa dengan jelas didefinisikan
dinyatakan dalam variabel aslinya, seharusnya diberi label sebagai faktor tidak
terdefinisikan atau faktor umum. Variabel-variabel yang berkorelasi kuat (nilai factor
loading yang besar) dengan faktor tertentu akan memberikan inspirasi nama faktor
yang bersangkutan (Supranto, 2004).
6. Menghitung Skor atau Nilai Faktor
Sebenarnya analisis faktor tidak harus dilanjutkan dengan menghitung skor
atau nilai faktor, sebab tanpa menghitung pun hasil analisis faktor sudah bermanfaat
yaitu mereduksi variabel yang banyak menjadi variabel baru yang lebih sedikit dari
variabel aslinya.
Universitas Sumatera Utara




Namun kalau tujuan analisis faktor untuk mencari variabel baru yang bebas
satu sama lain, yang disebut faktor untuk dipergunakan dalam analisis multivariat
lainnya seperti analisis regresi linier berganda, maka perlu dihitung skor/nilai faktor
bagi setiap responden (Supranto, 2004)
7. Memilih Surrogate Variables
Surrogate Variables adalah suatu bagian dari variabel asli yang dipilih untuk
digunakan di dalam analisis selanjutnya. Pemilihan Surrogate Variables meliputi
sebagian dari beberapa variabel asli untuk dipergunakan di dalam analisis
selanjutnya. Hal ini memungkinkan peneliti untuk melakukan analisis lanjutan dan
menginterpretasikan hasilnya dinyatakan dalam variabel asli bukan dalam skor faktor.
Dengan meneliti matriks faktor, kita bisa memilih untuk setiap faktor variabel dengan
muatan tinggi pada faktor yang bersangkutan (Wibowo, 2006).
Variabel tersebut kemudian bisa dipergunakan sebagai variabel pengganti atau
surrogate variables untuk faktor yang bersangkutan. Proses untuk mencari variabel
pengganti akan berjalan lancar kalau muatan faktor (factor loading) untuk suatu
variabel jelas-jelas lebih tinggi daripada muatan faktor lainnya. Akan tetapi pilihan
menjadi susah, kalau ada dua variabel atau lebih mempunyai muatan yang sama
tingginya. Di dalam hal seperti itu, pemilihan antara variabel-variabel ini harus
didasarkan pada pertimbangan teori dan pengukuran sebagai contoh, mungkin teori
menyarankan bahwa suatu variabel dengan muatan sedikit lebih kecil mungkin lebih
penting daripada dengan sedikit lebih tinggi (Wibowo, 2006).
Universitas Sumatera Utara




Demikian juga halnya, kalau suatu variabel mempunyai muatan sedikit lebih
rendah akan tetapi telah diukur lebih teliti/akurat, seharusnya dipilih sebagai
surrogate variable.

2.6 Kerangka Konsep
























Faktor yang memengaruhi akseptor KB
dalam memilih alat kontrasepsi IUD:
1. Umur
2. Pengetahuan
3. J umlah anak
4. Keamanan IUD
5. Ketersediaan alat kontrasepsi IUD
6. Tempat pelayanan KB
7. Petugas kesehatan
8. Media informasi
9. Biaya pemasangan
10. Dukungan suami



Analisis
faktor
Hasil :
Faktor 1
Faktor 2
Faktor ….
Faktor n

Universitas Sumatera Utara