Islam: Agama tanpa Hakikat

ha·ki·kat n 1 intisari atau dasar; 2 kenyataan yg sebenarnya (sesungguhnya);
Segala sesuatu mempunyai kulit dan hakikat. Tubuh kita adalah kulit kita sementara roh kita
adalah hakikat kita. Bagaimana dengan agama? Agama pun demikian. Setiap agama
mempunyai kulit yaitu berupa buku suci dan ritual-ritual yang adalah bagian dari
kepercayaan mereka. Tentu dibalik ini semua harus ada hakikatnya, jika tidak berarti ada
yang salah.

Nikah
Apa hakikat pernikahan dalam Islam? Sebenarnya tidak ada tujuan yang begitu mulia dari
perkawinan Islam. Ini sangat terlihat jelas dari ucapan pada saat Ijab Kabul:
Saya nikahkan engkau, xxxx <nama calon mempelai pria> bin yyyy <nama ayah calon
mempelai pria> dengan ananda xxxx <nama calon mempelai wanita> binti yyyy <nama ayah
calon mempelai wanita>, dengan mas kawin zzzz <semisal: perhiasan emas 18 karat seberat
20 gram> dibayar <tunai/hutang>
Yang segera dijawab oleh mempelai pria:
Saya terima nikahnya xxxx <nama calon mempelai wanita> binti yyyy <nama ayah calon
mempelai wanita> dengan mas kawin tersebut dibayar <tunai/hutang>
Ijab Kabul sebenarnya tidak hanya dikenal dalam upacara akad nikah tetapi juga jual beli.
Memang dalam Islam, pernikahan tidak pelaknya hanyalah urusan jual beli. Si pengantin pria
membayar bapaknya pengantin wanita untuk servis seks wanita tersebut secara halal. Oleh
karena itu tidak ditemukan adanya janji setia sampai mati, hanya perkara diterima dengan
lunas/hutang.
Rupanya wanita hanya dianggap komoditi yang bisa dijualbelikan. Karena itu juga poligami
dianjurkan dan monogami hanya dilakukan jika merasa tidak bisa adil (kurang mampu secara
finansial) (Qs 4:3). Oleh konsep pernikahan semacam inilah, muncul pernikahan mutah
(kawin kontrak sementara). Ya, pernikahan hanyalah tameng atau sarana untuk melegalkan
seks. Jadi hakikat pernikahan untuk Islam adalah seks. Itulah kenapa Aloh mengiming- imingi
seks disurga dengan mengawinkan para pria muslim dengan bidadari yang tetap perawan
berapa kalipun diperawani.
Dalam Alquran, wanita dianggap sebagai lahan yang siap digarap kapan saja pria itu mau,
wanita tidak boleh menolak (2:223). Oleh karena itu suami diperbolehkan memukul istri jika
nusyuznya diragukan (4:34). Memang wanita digambarkan seperti komodoti saja di Alqur an.
Selain dari Alquran, hakikat pernikahan dalam Islam pun bisa terlihat juga dari segi
(linguistik) bahasanya Alquran, bahasa arab.
Dari Kamus Istilah2 Qur’an dan Artinya, Sheik Mousa Ben Mohammed Al Kaleeby, Cairo,
Maktabat Al Adab, 2002:
Definisi “Nikah” adalah “penetration” : penembusan sesuatu benda oleh benda lainnya.
Contohnya adalah benih (N) tanah atau rasa kantuk (N) mata. Kata ini juga berarti dua
benda saling berbelit. Contohnya seperti pohon (N) satu sama lain, berarti pohon2 itu saling
membelit.
Dari Kitab Al Nikah. Komentar Imam Ahmed Ben Ali Ben Hagar Al Askalani, Beirut, Dar Al
Balagha, 1986 :
“Nikah” berarti “merengkuh atau menembus”. Jika dilafalkan “Nokh” ini berarti vagina
wanita. Kata ini hanya digunakan dalam konteks “melakukan hubungan seksual.” Jika kata
ini dihubungkan dalam pernikahan, maka ini berarti seks adalah kewajiban dalam
pernikahan. Al Fassi berkata, “ Jika dikatakan seorang pria (N) seorang wanita, ini berarti
pria ini menikahi sang wanita, dan jika dikatakan seorang pria (N) istrinya, ini berarti dia
berhubungan seks dengan istrinya.”
Kata ini juga dapat digunakan secara metaforis seperti pengertian:
air hujan (N) tanah, atau rasa kantuk (N) mata, atau benih (N) tanah, atau kerikil (N) tapak
kaki unta. Jika digunakan dalam konteks pernikahan, ini berarti hubungan seksual adalah
tujuan pernikahan. Adalah wajib dalam perkawinan untuk “mencicipi madu” (pernyataan
Islam yang berarti bersetubuh).
Begitulah kata ini umumnya digunakan dalam Qur’an kecuali di ayat yang berbunyi, “Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk (N)” Sura 4:6. Di ayat ini, kata
“Nikah” berhubungan dengan usia pubertas. Sekolah2 hukum Shafia dan Hanafi
menggunakan kata Nikah untuk menjelaskan bahwa hubungan seksual telah terjadi. Dan jika
digunakan dalam kata kiasan ini berarti perkawinan. Alasan cara penggunaan yang
berbeda-beda ini adalah karena penggunaan kata “bersetubuh” bisa menyinggung
perasaan, jadi kata kiasan digunakan untuk menggantikannya.
Kesimpulan
Ada kata Arab yang tepat untuk menerjemahkan kata “PERKAWINAN (suami istri)”, yakni
“ZAWAQ”. Akan tetapi kata “Nikah”, yang sering dipakai secara umum dalam terjemahan
Qur’an yang berarti pernikahan, sebenarnya mengandung arti yang sama sekali berbeda.
“Nikah” menyiratkan tekanan hubungan seksual saja antara pria dan wanita. Kata ini tidak
sama artinya dengan perkawinan suami istri dan bahkan merendahkan makna hubungan
perkawinan suami istri.
Ya, hakikatnya tetap sama dengan hakikat pernikahan menurut Alquran, yaitu SEKS di mana
wanita adalah komoditi yang diperjualbelikan.
Tapi apakah benar itu hakikat pernikahan yang sejati? Sama sekali TIDAK. Seks terlalu
rendah untuk menjadi hakikat dari pernikahan. Puji Tuhan banyak umat Muslim yang tidak
mengikuti pola pikir Alquran sehingga mereka melakukan pernikahan bukan semata- mata
untuk seks. Pernikahan adalah hal yang sakral dan bersifat seumur hidup karena pernikahan
adalah penyatuan 2 insan menjadi 1 (Matius 19:5). Ya, DUA menjadi SATU, bukan 3, 4, atau
5, tapi 2 menjadi 1 (monogami). Pernikahan adalah sebuah perjanjian tapi bukan perjanjian
jual-beli seperti dalam Islam, tapi perjanjian kasih.
Ada makna yang bahkan lebih mendalam yang Tuhan ingin sampaikan lewat pernikahan.
Pernikahan adalah perlambang hubungan Tuhan dengan umat-Nya (Wahyu 21:9). Ya, Tuhan
sangat ingin dekat kepada umat-Nya seperti layaknya suami istri, bukan secara fisik (seks)
seperti yang mungkin ada di dalam otak Muslim tetapi kedekatan secara ROH. Suami Istri
yang benar biasanya sampai pada taraf mereka bisa mengerti sat u sama lain bahkan tanpa
berbicara. Inilah kedekatan yang Tuhan mau. Tuhan ingin kita belajar mengerti kehendak-
Nya. Oleh karena itulah Dia memberikan Roh-Nya untuk membantu kita untuk semakin
mengerti Dia. Roh-Nya yang berbicara kepada kita, tidak melulu lewat suara yang bisa
terdengar dengan telinga jasmani, terutama lewat suara di kedalaman batin. Jadi kita mengerti
Tuhan “tanpa mendengar-Nya” percis seperti suami istri yang benar-benar menjadi satu.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menikah, janganlah kita merusak lambang hubungan
Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan telah menunjukkan cinta-Nya pada umat-Nya hingga rela
menyerahkan nyawa-Nya sebagai manusia. Sebagai suami, para lelaki dituntut untuk dapat
menunjukkan kasih yang rela berkorban demi istri sama seperti Tuhan rela berkorban untuk
umat (Efesus 5:25). Dan sebagai umat, kita dituntut untuk taat pada Tuhan. Demikian pula
istri haruslah taat kepada suami yang rela berkorban untuknya (Efesus 5:22). Ketaatan istri
harus diimbangi dengan cinta kasih dari suami. Suami tidak boleh semena- mena dan istri
janganlah melawan suami. Ketaatan istri pun bukan karena dipaksa tapi karena kerelaan istri
untuk taat pada suami yang mau berkorban. Suami pun diminta untuk mengasihi istri seperti
mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5:28) dan tidak ada orang yang sehat rohaninya mau
memukul dirinya sendiri. Jelas memukul istri bukanlah suatu pilihan dalam pernikahan yang
kudus, tidak seperti yang dianjurkan Alquran.
Jadi hakikat pernikahan adalah perjanjian KASIH antara DUA i nsan menjadi satu dan
lambang hubungan Tuhan dan umat-Nya. Dua insan berpadu kasih, sang suami
menunjukkan kasih dengan kerelaan berkorban sementara sang istri menunjukkan
kasih dengan kerelaan untuk taat. Maukah kamu masuk ke dalam hakikat pernikahan
yang sesungguhnya? Maukah kamu mengenal Tuhan secara spiritual dan mendalam
seperti suami istri mengenal satu sama lainnya?


Qiblat
Untuk apa Qibla dalam Islam? Apa hakikatnya? Muslim pun langsung beralasan sebagai
pemersatu arah. Apanya hubungannya satu arah dengan doa? Apakah kalau arahnya beda
doanya tidak sampai? Alasan lainnya karena perintah Aloh. Tapi kenapa Aloh
memerintahkan demikian? Ketika Tuhan menyuruh sunat Dia menyatakan hakikat sunat
sebagai lambang perjanjian. Kalau begitu apakah hakikatnya Qibla? Aloh (alias Muhammad)
memang tidak mengerti perkara yang hakiki maka perintah mereka pun tanpa hakikat. Orang
Yahudi memang sempat memiliki Qibla. Lalu apa arti Qibla orang Yahudi?
Ketika imam- imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN,
sehingga imam- imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena
awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN. (1 Raja-Raja 8:11)
Rupanya ini hakikat Qibla bagi orang Yahudi karena Tuhan pernah bermanifestasi di Bait
Suci. Jadi bagi orang Yahudi, ketika mereka mengarah ke sana, mereka sedang menyembah
menghadap ke arah di mana Tuhan pernah bermanifestasi menunjukkan kemuliaan-Nya!
Lagi- lagi Muhammad yang tidak mengerti perkara ini karena kebodohannya sendiri, asal
ikut- ikutan orang Yahudi saja. Muhammad berharap dengan berqibla sama dengan orang
Yahudi, maka mereka mau menerima dirinya sebagai nabi Tuhan. Tapi kenyataan pahit,
setelah 16 bulan orang Yahudi tetap menolak dia. Ya, Muhammad yang bodoh itu tidak
mengerti hakikat dari Qibla. Tidak heran Muhammad bisa seenak-enaknya mengubah Qibla
apalagi setelah ditolak oleh orang Yahudi dan Muhammad pun menurunkan ayat di bawah
ini:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan
memalingkan KAMU KE KIBLAT YANG KAMU SUKAI. (2:144)
Muhammad gagal untuk melihat hakikat dari Qibla, sehingga dia pikir dia bisa mengubah
Qibla seenakudelnya.
Hakikat dari Qibla adalah menghadap ke tempat Tuhan berada. Muhammad pun
menetapkan Kabaah sebagai Qibla. Memang benar disitulah tuhannya Muhammad
berada dalam rupa batu hitam (hajar aswad). Namun, bukan Qibla yang fisik yang
penting. Sembahlah Bapa kita yang di Surga. Ber-qibla-lah secara rohani ke surga.
Sumber:
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsi


Qurban
Untuk apa orang Muslim melakukan acara Qurban? Ada-ada saja jawaban Muslim: karena
mengikuti tradisi nabi Ibrahim. Untuk apa tradisi itu? Lagi- lagi Muslim tidak bisa
memberikan hakikat dari Qurban. Paling baik, Muslim beralasan untuk berbagi dengan
sesama. Lucunya, hanya itu sajakah? Berbagi dengan sesama tidak perlu diharuskan oleh
suatu ritual. Berbagi sesama harusnya sudah menjadi bagian dari diri bukan ritual yang
diharuskan oleh agama tersebut. Sekali lagi, terlihat betapa kosongnya ritual-ritual dalam
Islam. Muslim melakukan hanya atas dasar ikut- ikutan tanpa hakikat yang jelas dan sejati.
Lagi- lagi ini semua karena ulah Muhammad yang asal mencontek Alkitab tanpa mengerti
hakikat di balik Qurban yang sejati. Kisah Abraham mengorbankan anaknya yang kemudian
DITEBUS OLEH TUHAN dengan seekor domba tercatat baik dalam Alkitab maupun
Alquran. Semenjak inilah, pengorbanan hewan telah menjadi ritual penebusan oleh bangsa
Yahudi seperti diperintahkan oleh Tuhan dan dicontohkan Abraham. Orang Yahudi TIDAK
PERNAH mengorbankan manusia, seperti tuduhan kaum Muslim yang sangat membenci
orang Yahudi.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami TEBUS anak itu dengan
KORBAN YANG BESAR, (Qs 37:106-107)
Kisah ini sebenarnya adalah nubuatan akan adanya Qurban Maha Besar yaitu Yesus Kristus.
Apakah Tuhan tidak bisa melepaskan anak Abraham tanpa Qurban? Bisa saja tapi itu berarti
Tuhan membatalkan ketetapan-Nya sendiri. Tuhan bukanlah Tuhan yang tidak konsisten
yang dengan mudah mengeluarkan dan membatalkan (naskh) ketetapan begitu saja. Tuhan
mempunyai aturan main yang Dia ikuti. Dia bukanlah Tuhan sembarangan atau serampangan
yang sewaktu-waktu bisa me- naskh-kan dengan yang lebih baik seakan-akan Tuhan itu dapat
ide “baru”. Itu adalah konsep yang sangat manusiawi. Berhentilah memanusiakan Tuhan!
Oleh karena kekonsistenan Tuhan dengan ketetapannya, untuk menyelamatkan anak
Abraham yang seharusnya mati untuk ujian iman Abraham, Tuhan pun menebus anak
Abraham dengan korban tebusan. Dengan begini, nyawa berganti nyawa. Ketetapan Tuhan
pun tetap terlaksana dan kasih Tuhan pun terlihat dengan menyelamatkan nyawa anak
Abraham. Bahkan kasih Tuhan terlihat lebih dasyat lagi dengan Qurban Maha Besar yaitu
Yesus Kristus yang menebus dosa seluruh umat manusia.
Hakikat dari Qurban adalah keselamatan oleh penebusan nyawa seseorang oleh
pengorbanan seorang lain. Karya terbesar sepanjang abad adalah karya Tuhan akan
keselamatan kita. Sudahkah kamu menerima penebusan oleh Yesus untuk dosa-
dosamu?

Sunat
Untuk apa sunat dalam Islam? Apa hakikatnya? Hanya untuk kesehatan? Kesehatan itu masih
berhubungan dengan kulit, belum esensi. Jelas Muslimin bingung jika ditanya ini. Bahkan
ayat yang jelas tentang sunat tidak ada di Alquran. Alih-alih Muslim menggunakan alasan
kesehatan.
Jadi apa sebenarnya makna sunat bagi orang Yahudi?
Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta
keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (Kejadian 17:10)
Rupanya inilah hakikat sunat yang sebenarnya. Sunat adalah lambang perjanjian Tuhan
dengan keturunan Abraham. Muhammad yang tidak pernah disunat hanya ikut- ikutan orang
Yahudi saja karena memang Muhammad waktu itu ingin memenangkan hati orang Yahudi
untuk masuk ke agama buatannya sendiri. Muhammad yang buta huruf tidak bisa membaca
Alkitab sehingga dia hanya tahu sekilas saja tentang cerita-cerita di Alkitab berdasarkan
perkataan orang. Pertanyaanya, apakah semua muslim keturunan Abraham sehingga perlu
disunat?
Tuhan sendiri telah membuat Perjanjian Baru baik dengan keturunan Abraham maupun yang
bukan keturunan Abraham secara fisik yang dinubuatkan oleh nabi Yeremia (31:31-32a) .
Perjanjian Baru ini tidak lagi melibatkan sunat fisik melainkan sunat hati.
Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. (Ulangan 10:16)
Apa yang dimaksud dengan sunat hati?
Dan TUHAN, Rajamu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau
mengasihi TUHAN, Rajamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya
engkau hidup. (Ulangan 30:6)
Sunat hati berarti kita memiliki hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap
hati dan jiwa. Sunat hati akan membawa suatu pembaharuan sikap hidup. Yesus adalah
penggenapan Perjanjian Lama dan pembawa Perjanjian Baru dengan darah-Nya. Oleh karena
itu, secara fisik Dia disunat untuk menggenapi tetapi untuk pengikut-Nya yang sudah masuk
ke dalam Perjanjian Baru yang diusung oleh Raja Yesus sehingga tidak perlu lagi disunat
fisik. Sementara Muslim, tidak terikat baik oleh Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Jadi, sunat Muslim tidak memiliki hakikat sama sekali.
Hakikat dari sunat adalah tanda perjanjian kita dengan Tuhan. Sudahkah hatimu
disunat untuk Perjanjian yang Baru dengan Tuhan?

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful