LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PERKEBUNAN
MINYAK KELAPA
(Cocos nucifera)


Oleh :
Nama : Rofiyanti Amini Wibowo
NRP : 113020064
Kelompok : C
Meja : 1 (Satu)
Hari dan Tanggal Percobaan : Rabu 30 April 2014
Asisten : Cut Rifafitri Hanifah




















LABORATORIUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2014
I PENDAHULUAN
Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Percobaan, (2)
Tujuan Percobaan, dan (3) Prinsip Percobaan.
1.1. Latar Belakang Percobaan
Kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia
telah berabad-abad dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi berbagai
kebutuhan, baik sebagai sumber makanan, obat-obatan, industri dan lain-
lain. Hasil-hasil produk kelapa di Indonesia secara umum masih bertumpu pada
minyak kelapa, padahal kelapa merupakan tanaman yang serbaguna. Tanaman
kelapa memiliki keragaman produk yang tinggi, karena dari daun sampai akar
memiliki manfaat dan nilai sosial ekonomi. VCO atau virgin coconut oil (dalam
bahasa Indonesia disebut sebagai minyak kelapa murni) merupakan produk
modern buah kelapa yang memiliki kemampuan meningkatkan taraf kesehatan,
mengobati dan bahkan dimanfaatkan dalam bidang kecantikan atau kosmetika.
Walaupun sebagai produk modern, pengembangan minyak VCO tetap berkaitan
dengan akar budaya masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanaman
kelapa. Dengan adanya berbagai produk olahan dari kelapa, implementasinya
akan membawa perkembangan industri komoditas kelapa, peningkatan
penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat (anonim,2012).
1.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan pembuatan minyak secara tradisional ini adalah
untuk mengetahui proses pembuatan minyak dari kelapa, diversifikasi produk
olahan kelapa dan menambah nilai ekonomis.
1.3. Prinsip Percobaan
Prinsip yang digunakan dalam percobaan pembuatan minyak secara
tradisional adalah berdasarkan proses pemanasan sehingga kestabilan emulsi
lemak terganggu dan menyebabkan protein tergumpalkan atau protein
terkoagulasi, sehingga minyak dapat dipisahkan.
II BAHAN, ALAT, DAN METODE PERCOBAAN
Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Bahan – bahan Percobaan, (2) Alat
– alat Percobaan, dan (3) Metode Percobaan.
2.1. Bahan – bahan Percobaan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan pembuatan minyak kelapa
adalah buah kelapa, air dan asam asetat glasial.
2.2. Alat-alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah baskom, gelas ukur,
dandang, saringan, neraca digital, dan kompor.
2.3. Metode Percobaan





Pemarutan Pemerasan Pengendapan






Minyak Kelapa Pemasakan Pemisahan
Gambar 1. Proses Pembuatan Minyak Kelapa
Buah Kelapa
Pengupasan Sabut
Pembelahan
Air Kelapa dan
tempurung
Daging Kelapa
Pemarutan
Pemerasan Air 60
o
C (1:3)
Pengendapan t= 5 jam
Ampas
Krim
Pemasakan, T=15 menit
Pemisahan, T=24 menit
Minyak kelapa
Skim
Asam Asetat
glasial (5ml)

Gambar 2. Diagram Alir Pengolahan Minyak Kelapa
III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan mengenai (1) Hasil pengamatan dan (2) Pembahasan.
3.1. Hasil Pengamatan Minyak Kelapa
Berdasarkan pengamatan terhadap pembuatan minyak kelapa yang telah
dilakukan maka diperoleh hasil pengamatan yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Minyak Kelapa
(Sumber : Kelompok C, 2014).
No Analisa Hasil
1. Nama Produk Minyak kelapa
2. Basis 6000 gram
3. Bahan Utama Kelapa 25 % = 1500 g
4. Bahan Tambahan
Air 75 % = 4500 g
Asetaldehid 1% volume krim

5. Berat Produk 232,4 gram
6. % Produk 3,87 %
7.
Organoleptik
1. Warna
2. Rasa
3. Aroma
4. Tekstur
5. Kenampakan

Tidak berwarna
Khas minyak kelapa
Khas minyak kelapa
Agak kental
Tidak berwarna
8.

Gambar Produk




3.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pada pembuatan minyak dapat ditarik
kesimpulan bahwa dengan bahan baku sebanyak 6000 gram menghasilkan berat
produk seberat 232,4 gram dengan persen produk sebesar 3,87 % dan berdasarkan
Minyak kelapa merupakan minyak yang dihasilkan dari daging buah
kelapa. Secara umum pembuatan minyak kelapa terbagi menjadi 3 macam yaitu:
A. Cara kering: Metode pembuatan minyak kelapa dengan cara kering, terlebih
dahulu daging buah kelapa dibuat dalam bentuk kopra. Untuk dibuat dalam
bentuk kopra, maka daging buah kelapa dibuat menjadi kering dengan jalan
menjemur pada terik matahari atau dikeringkan melalui oven. Pengeringan daging
kelapa dengan penjemuran sangat tergantung pada kondisi cuaca, sehingga
pengeringan akan lebih baik ketika berada pada musim panas. Dan apabila
pengeringan dilakukan pada musim penghujan, proses pengeringan dapat
memakan waktu yang lebih lama. Waktu yang lama dalam proses pengeringan
akan sangat mengganggu kualitas kopra yang dihasilkan yang disebabkan karena
adanya proses biologis.
Untuk proses pengeringan dengan menggunakan oven akan lebih cepat
dibandingankan dengan cara pengeringan melalui penjemuran pada sinar
matahari. Pengeringan dengan menggunakan oven akan memakan biaya
operasional yang lebih besar.
Adapun langkah-langkah pembuatan minyak kelapa dengan cara kering
adalah sebagai berikut :
1. Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk kasar.
2. Serbuk kopra dipanaskan, kemudian dipres sehingga mengeluarkan minyak.
Ampas yang dihasilkan masih mengandung minyak. Ampas digiling sampai
halus, kemudian dipanaskan dan dipres untuk mengeluarkan minyaknya.
3. Minyak yang terkumpul diendapkan dan disaring.
4. Minyak hasil penyaringan diberi perlakuan berikut:
 Penambahan senyawa alkali (KOH atau NaOH) untuk netralisasi
(menghilangkan asam lemak bebas).
 Penambahan bahan penyerap (absorben) warna, biasanya menggunakan
arang aktif agar dihasilkan minyak yang jernih dan bening.
 Pengaliran uap air panas ke dalam minyak untuk menguapkan dan
menghilangkan senyawa-senyawa yang menyebabkan bau yang tidak
dikehendaki.
5. Minyak yang telah bersih, jernih, dan tidak berbau dikemas di dalam kotak
kaleng, botol plastik atau botol kaca.
B. Cara basah : langkah awal pembuatan minyak kelapa dengan cara basah yaitu
daging buah kelapa dibentuk menjadi santan. Proses pembuatan santan
merupakan tahap yang paling penting dalam pembuatan minyak. Untuk dapat
membuat minyak yang lebih banyak maka jenis buah kelapa yang dipilih yaitu
kelapa yang setengah tua dan kelapa tua. Santan itu sendiri merupakan jenis
emulsi minyak dalam air (M/A), dimana yang berperan sebagai media pendispersi
adalah air dan fasa terdispersinya adalah minyak. Globula-globula minyak dalam
santan dikelilingi oleh lapisan tipis protein dan fosfolida. Lapisan protein
menyelubungi tetes-tetes minyak yang terdispersi di dalam air. Untuk dapat
menghasilkan minyak maka lapisan protein itu perlu dipecah sehingga tetes-tetes
minyak akan bergabung menjadi minyak. Jadi pada prinsipnya pembuatan
minyak kelapa cara basah atau melalui santan adalah pemecahan system emulsi
santan melalui denaturasi protein. Cara basah ini dapat dilakukan secara
kimiawi, mekanik, thermal, biologis / enzimatik. Teknik pembuatan minyak
kelapa secara thermal biasa disebut juga dengan teknik pemanasan. Untuk
membuat minyak kelapa dengan cara pemanasan cukup sederhana, yaitu hanya
melakukan pemanasan terhadap santan yang telah dibuat. Tujuan dari pemanasan
adalah untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat di dalam santan
tersebut. Umumnya minyak yang dihasilkan dengan cara pemanasan ini berwarna
kekuning kuningan. Blondo yang diperoleh dari hasil pengolahan minyak kelapa
dengan cara pemanasan memiliki warna coklat kehitaman. Teknik semacam ini
biasanya dimiliki oleh industry olahan dalam skala rumah tangga.
C. Cara ekstraksi pelarut: Untuk membuat minyak dengan cara ekstraksi pelarut,
daging buah kelapa juga dibuat dalam bentuk kopra. Prinsip dari cara ini yaitu
menggunakan pelarut yang dapat melarutkan minyak. Adapun karakteristik
pelarut yang digunakan untuk ekstraksi minyak kelapa diantaranya bertitik didih
rendah, mudah menguap, tidak berinteraksi secara kimia dengan minyak dan
residunya tidak beracun. Urutan dari proses ekstraksi minyak kelapa dengan
menggunakan bahan pelarut yaitu:
1.Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk.
2. Serbuk kopra ditempatkan pada ruang ekstraksi, sedangkan pelarut pada ruang
penguapan. Kemudian pelarut dipanaskan sampai menguap. Uap pelarut akan
naik ke ruang kondensasi. Kondensat (uap pelarut yang mencair) akan mengalir
ke ruang ekstraksi dan melarutkan lemak serbuk kopra. Jika ruang ekstraksi telah
penuh dengan pelarut, pelarut yang mengandung minyak akan mengalir (jatuh)
dengan sendirinya menuju ruang penguapan semula.
3. Di ruang penguapan, pelarut yang mengandung minyak akan menguap,
sedangkan minyak tetap berada di ruang penguapan. Proses berlangsung terus
menerus sampai 3 jam.
4. Pelarut yang mengandung minyak diuapkan. Uap yang terkondensasi pada
kondensat tidak dikembalikan lagi ke ruang penguapan, tapi dialirkan ke tempat
penampungan pelarut. Pelarut ini dapat digunakan lagi untuk ekstraksi. penguapan
ini dilakukan sampai diperkirakan tidak ada lagi residu pelarut pada minyak.
5. Selanjutnya, minyak dapat diberi perlakuan netralisasi, pemutihan dan
penghilangan bau. Meskipun cara ini cukup sederhana, tapi jarang digunakan
karena biayanya relatif mahal(Anonim,2014).
Terdapat berbagai jenis kelapa, yaitu:
1. Kelapa muda. Kulit luarnya bewarna hijau kekuningan sampai kuning
kecoklatan. Sedangkan sabutnya bewarna putih kecoklatan dengan serat yang
kasar. Airnya segar dan agak manis.
2. Kelapa Hijau. Penampilan dan ukurannya mirip dengan kelapa muda biasa.
Perbedaannya jika kelapa hijau dikupas dan dibelah, sabutnya bewarna merah
mudah keputihan. Rasa airnya agak pahit.
3. Kelapa muda thai. Pada umumnya dijual dalam bentuk sudah dikupas kulit
luarnya dan dikemas dengan plastik pembungkus kedap. Ukurannya sedang
dengan sabut bewarna putih halus. Airnya harum dan rasanya sangat manis.
Begitupula dengan dagingnya yang lembut dan manis.
4. Kelapa bangkok. Ukurannya kecil, tempurungnya tipis dan biasanya dijual
dalam bentuk sudah dikupas sabutnya. Rasa airnya segar, manis dan terasa agak
seperti minyak kelapa(Ferylife,2012).
Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah
kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santannya. Kandungan minyak pada
daging buah kelapa tua diperkirakan mencapai 30%-35%, atau kandungan minyak
dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagaimana minyak nabati
lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak
dan 90% diantaranya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa
yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak
seperti fosfatida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak
bebas (< 5%) dan sedikit protein dan karoten. Sterol berfungsi sebagai stabilizer
dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Ketaren, 1986). Setiap minyak
nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam
lemak pada rangkaian trigliseridanya . Minyak kelapa kaya akan asam lemak
berantai sedang (C8 – C14), khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya
asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat
minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa
senyawaan yang berbahaya di dalam tubuh manusia. Sifat inilah yang
didayagunakan pada pembuatan minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil)
(Anonim,2014).
Perubahan fisik yang terjadi pada pembuatan minyak kelapa adalah pada
saat pemarutan, dimana terjadi pengecilan ukuran dan ukuran kelapa menjadi
lebih kecil dan luas permukaan semakin besar dan memudahkan untuk
mengekstrak minyak yang ada pada buah kelapa. Pada saat pemerasan dengan
penambahan air menjadikan bahan hasil pemarutan menjadi lebih cair dan
menjadikan bakal calon minyak akan keluar lebih banyak. Pada saat pengendapan
akan terjadi pemisahan dua bagian, yaitu bagian air dan bagian minyak yang
berada pada bagian bawah disebut krim.Perubahan kimia yang terjadi adalah pada
saat penambahan asam asetat glasial membuat suasana menjadi asam dan
mempermudah dalam pemisahan antara air dan minyak, serta mempersingkat
waktu pemasakan.
Perbedaan minyak kelapa yang dibuat di laboratorium dengan yang ada di
pasaran yaitu minyak yang ada dipasaran mengalami proses RBD . Perbedaan pro
ses pembuatan ini sangat mencolok dan berbeda nyata. RBD merupakan singkatan
dari " Refined, Bleached and Deodorized" atau minyak yang disuling, dikelantang
dan dihilangkan baunya. RBD terbuat dari kopra (daging kelapa yang dijemur mat
ahari atau diasapi). Sesuai kondisinya, bahan ini relatif kotor dan mengandung ba
han asing yang mempengaruhi hasil akhirnya. Bahan asing ini bisa berupa jamur, t
anah, sampah dan kotoran lainnya. Proses penjemuran dan pengasapan memberik
an pengaruh besar pada hasil akhir. Demikian pula banyaknya jamur sangat memp
engaruhi warna dan bau minyak. Minyak mentah ( crude oil) yang dihasilkan bisa
berwarna coklat tua sampai keabuan dan berbau tengik menyengat. Untuk mengha
silkan minyak goreng dan minyak komersial lainnya, pabrikan memproses lebih la
njut dengan menyuling memakai pelarut kimia dan menghilangkan baunya. Untuk
maksud ini mereka menambahkan bahan kimia seperti beberapa jenis soda (NaOH
atau KOH). Bau dihilangkan dengan menyaring melalui karbon aktif. Tentu saja s
emua ini sangat mempengaruhi viscositas (tingkat kekentalan), BD (berat jenis), ti
tik beku, rasa, bau dan sebagainya. Pada umumnya yang membedakan dengan mu
dah adalah baunya dihilangkan dan rasanya hambar. Minyak RBD masih bisa digu
nakan untuk keperluan makanan di rumah tangga dan industri. Virgin Coconut O
il atau minyak kelapa murni terbuat dari daging kelapa segar. Prosesnya semua dil
akukan dalam suhu relatif rendah. Daging buah diperas santannya. Santan ini dipr
oses lebih lanjut melalui proses fermentasi, pendinginan, tekanan mekanis atau se
ntrifugasi. Penambahan zat kimiawi anorganis dan pelarut kimia tidak dipakai sert
a pemakaian suhu tinggi berlebihan juga tidak diterapkan. Hasilnya berupa minya
k kelapa murni yang rasanya lembut dan bau khas kelapa yang unik. Apabila beku
warnanya putih murni dan dalam keadaan cair tidak berwarna atau bening.
Minyak sawit atau minyak kelapa sawit adalah minyak nabati edibel yang
didapatkan dari mesocarp buah pohon kelapa sawit, umumnya dari spesies Elaeis
guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa. Minyak
sawit secara alami berwarna kuning karena kandungan beta-karoten yang tinggi.
Minyak sawit berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) yang
dihasilkan dari inti buah yang sama. Minyak kelapa sawit juga berbeda
dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera).
Perbedaan ada pada warna (minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga
tidak berwarna merah), dan kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung
41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%, dan minyak kelapa 86%
(Anonim,2014).
Santan yang diperoleh dimasukkan dalam corong pemisah dan dibiarkan
selama 3 jam, tujuannya untuk memisahkan krim dengan skim. Lapisan yang
terbentuk selama pemisahan dalam corong pisah, terdiri dari tiga lapisan, yaitu :
1. Lapisan atas, adalah krim emulsi yang mengandung kadar minyak yang tinggi.
2. Lapisan tengah adalah skim santan kelapa
3. Lapisan bawah adalah endapan, yaitu padatan yang tidak larut dalam air dalam
jumlah kecil.
Lapisan yang digunakan untuk pembuatan minyak yaitu lapisan atas (krim)
yang telah dipisahkan dari skim. Krim yang terpisahkan merupakan emulsi
minyak dalam air dan harus dipisahkan untuk mendapatkan minyak yang
diinginkan.
Krim yang diperoleh kemudian dipanaskan pada suhu 90-100’C, selama +
20 menit. Pemanasan ini bertujuan untuk menguapkan semua air yang terkandung
dalam krim, sehingga diperoleh campuran minyak dan protein yang menggumpal
(galendo).
Lama pemanasan harus diperhatikan karena berpengaruh terhadap kualitas
minyak yang dihasilkan. Semakin lama pemanasan, maka semakin tinggi reaksi
oksidasi pada minyak, karena bilangan peroksida yang dihasilkan tinggi.
Setelah proses pemanasan, kemudian dilanjutkan dengan proses ekstraksi
yang tujuannya untuk memisahkan minyak dari protein. Pemisahan ini harus
dilakukan dengan teliti dan hati-hati, agar diperoleh minyak yang jernih dan sudah
tidak bercampur dengan protein (galendo).
Saat ini ada tiga macam bentuk minyak kelapa yang diproduksi dan beredar di
pasaran.
1. Coconut oil atau minyak kelapa RBD
Minyak kelapa ini diproses di pabrik dengan menambahkan bahan kimia untuk
memurnikannya (Refined), memutihkan (Bleaching), dan menghilangkan aroma
yang kurang sedap (Deodorised). Jadi RBD adalah singkatan dari refined,
bleacing, dan deodorised. Sedangkan bahan baku pembuatan minyak ini adalah
kelapa yang diolah terlebih dahulu menjadi kopra. Pada proses pengeringan buah
kelapa menjadi kopra biasanya tercemar dengan debu, kotoran, jamur, kuman, dan
sebagainya. Maka dari itu, kopra harus diproses dengan baik agar minyak yang
dihasilkan bersih, nampak bening, putih, dan tidak berbau. Minyak jenis ini
banyak dijumpai di pasaran dan supermarket.
2. Traditional coconut oil
Jenis minyak kelapa tradisional ini merupakan salah satu pengolahan yang
dilakukan dengan proses yang sederhana, serta sudah dilakukan berpuluh-puluh
tahun lamanya. Bahan utama yang digunakan hanya daging kelapa yang sudah tua
atau setengah tua, kemudian diparut dan diambil santannya. Barulah santan ini
dimasak dengan api kecil hingga minyaknya keluar. Hasilnya berupa minyak dan
ampas yang berupa blondo yang berwarna coklat kehitaman. Barulah minyak
dipisahkan dari ampasnya. Pengolahan minyak dengan cara ini menghasilkan
minyak kelapa dengan aroma yang harum. Selain itu, ampas yang berupa blondo
ini memiliki rasa yang gurih dan dapat di makan. Minyak kelapa jenis ini banyak
dijumpai di desa-desa yang banyak menghasilkan kelapa.
3. Virgin coconut oil (VCNO)
Minyak kelapa ini disebut juga sebagai minyak kelapa murni. Minyak
kelapa ini dihasilkan dengan cara memeras daging buah kelapa segar untuk
menghasilkan minyak tanpa proses pemasakan. Jadi prosesnya tanpa melakukan
pemanasan seperti pada pembuatan minyak tradisional. Karena itulah minyak ini
disebut juga dengan Cold Expelled Coconut Oil (CECNO) atau minyak kelapa
ekstrak dingin. Proses ini memiliki keunggulan yaitu minyak yang dihasilkan
dapat bertahan hingga dua tahun, tanpa menjadi tengik (rancid)
Pada pembuatan minyak kelapa ditetapkan ada 4 tahap yang termasuk titik
kritis (CCP), yaitu tahap pemerasan santan, penambahan koagulan, pengambilan
minyak mentah dan penyaringan minyak.
Pemerasan santan menjadi CCP karena tahap ini menggunakan air sebagai
bahan pengekstrak minyak menjadi santan harus memperhatikan standar air yang
digunakan agar tidak mencemari santan yang diperoleh nantinya.
Penambahan asam asetat glasial menjadi CCP karena tahap ini penting
untuk mengoptimalkan pemisahan santan, akan tetapi bila terlalu banyak
ditambahkan maka santan menjadi asam dan berpengaruh terhadap VCO yang
dihasilkan.
Tahap lain yang menjadi CCP adalah proses pengambilam dan penyaringan
minyak. Apabila waktu panen terlalu lama maka VCO yang dihasilkan akan
terjadi penurunan kualitas dengan meningkatnya bilangan peroksida dan kadar
asam lemak bebas. Tahap proses lain yang menjadi CCP adalah pengemasan
minyak yang harus memperhatikan jenis kemasan yang digunakan dan tidak boleh
bereaksi dengan minyak yang diperoleh.
Ketengikan oleh oksidasi terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen udara
terhadap asam lemak tidak jenuh dalam minyak. Pada suhu kamar sampai suhu
100 ºC, setiap satu ikatan tidak jenuh dapat mengabsorpsi dua atom oksigen
sehingga terbentuk persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Pembentukan
peroksida ini dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam, kelembaban udara
dan katalis. Ketengikan oleh proses hidrolisis disebabkan oleh hasil hidrolisis
minyak yang mengandung asam lemak jenuh berantai pendek sedangkan
ketengikan enzimatis disebabkan oleh aktivitas organisme yang menghasilkan
enzim tertentu yang dapat menguraikan trigliserida menjadi asam lemak bebas
dan gliserol. Enzim peroksidase dapat mengoksidasi asam lemak tidak jenuh
sehingga terbentuk peroksida. Sifat-sifat dan daya tahan minyak terhadap
kerusakan sangat tergantung pada komponen-komponen penyusunnya, terutama
kandungan asam lemaknya. Minyak yang mengandung asam lemak tidak jenuh
cenderung untuk mengalami oksidasi sedangkan yang mengandung lebih banyak
asam lemak jenuh lebih mudah terhidrolisis. Faktor-faktor yang dapat
mempercepat oksidasi pada minyak adalah suhu, cahaya atau penyinaran,
tersedianya oksigen dan adanya logam-logam yang bersifat sebagai katalisator
proses oksidasi. Oleh karena itu, minyak harus disimpan pada kondisi
penyimpanan yang sesuai dan bebas dari pengaruh logam dan harus dilindungi
dari kemungkinan serangan oksigen, cahaya serta temperatur tinggi. Keadaan
lingkungan yang mempengaruhi penyimpanan minyak dan lemak, yaitu RH
(kelembaban udara) ruang penyimpanan, suhu (temperatur), ventilasi, tekanan dan
masalah pengangkutan(Anonim.2012).
Berdasarkan hasil yang diperoleh di laboratorium minyak yang didapat
telah memenuhi standar SNI karena dari segi bau, rasa, warna, dan rasa telah
memenuhi standar yang ditetapkan oleh SNI yaitu sebagai berikut:


IV KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Kesimpulan dan (2) Saran.
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan percobaan pembuatan minyak kelapa
didapat hasil dengan basis dengan bahan utama Air 75% , kelapa 25% dan
asetaldehid 1%, didapat berat produk 232,4 dengan persen produk 3,87% dengan
sifat organoleptik tidak berwarna, rasa khas minyak kelapa, aroma khas minyk
kelapa. Tekstur agak kental dan kenampakannya bening agak keruh.
4.2. Saran
Sebaiknya pada saat pembuatan minyak lebih diperhatikan lagi dalam setiap
proses kerjanya agar didapatkan minyak kelapa yang baik dan memenuhi standar
kualitas yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2012). Minyak Kelapa, http://thehacker3.blogspot.com/2012/09/ tugas-
laporan-kelapa-minyak-vco_12.html,Diakses: 1-5-2014.
Anonim, (2012). ketengikan, http://semuaoke2.blogspot.com/2
012/09/kesehatan.html,Diakses: 1-5-2014.
Anonim, (2014). Macam-macam minyak kelapa.
http://www.sarimas.com/indonesia /know.php?slug= Macam-macam-
bentuk-minyak-kelapa,Diakses:1-5-2014.
Anonim, (2014). Teknik Pembuatan Minyak Kelapa.
http://hmakuii.wordpress.com/artikel/teknik-pembuatan-minyak-kelapa/:
Diakses:1-5-2014.
Ferylife, (2012), Jenis-jenis minyak kelapa .http://ferylife.
blogspot .com/2012/09/jenis-jenis-kelapa.html, Diakses: 1-5-2014.


LAMPIRAN
LAMPIRAN PERHITUNGAN
Lampiran Perhitungan Minyak kelapa
Basis = 6000 gram
Bahan utama = Air 75% = 4500 gram
Bahan tambahan = Kelapa 25% = 1500 gram

Asam Asetat glasial =

x 6000 gram = 60 gram
W produk = 232,4 gram
%Produk =


x 100%
=

x 100% = 3,87%