1 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Naskah Latihan Psikiatri
GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR KINI DALAM REMISI

Disusun oleh:
Riva Ambardina Pradita
0906508472

Pembimbing:
dr. Tribowo T G, SpKJ



MODUL PRAKTIK KLINIK ILMU PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
MARET 2013
2 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

I. Identitas
Nama : Ny. M
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir/Usia : 52 tahun
Status : Menikah
Jumlah anak : 6 orang ( 2 perempuan, 2 laki-laki, 2 meninggal)
Pekerjaan : Tidak ada
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Alamat : Kayu putih, Jakarta

II. RIWAYAT PSIKIATRIK
Data-data diperoleh dari autoanamnesis dengan pasien dan alloanamnesis suami pasien
pada tanggal 25 Maret 2013.
a. Keluhan Utama
Pasien kontrol, datang dengan keluhan terkadang sulit tidur sejak 1 bulan sebelum
kunjungan

b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tahun 1982, pasien saat itu sedang duduk menjelang tidur, tiba-tiba untuk pertama
kalinya pasien menangis histeris hingga terguling-guling. Diakui pasien saat itu pasien merasa
sedih namun tidak tahu alasannya. Pasien saat itu merasa sedang tidak ada masalah atau hal yang
sedang dipikirkan. Hubungan dengan keluarga dan teman baik. Pasien mengeluh mendengar
suara-suara, namun pasien tidak ingat suara-suara tersebut mengatakan apa. Pasien mengurung
diri di kamarnya, sulit makan maupun tidur. Pasien sempat mengancam untuk bunuh diri kepada
suami. Beberapa hari kemudian pasien kembali tenang.
Hanya berjarak 2 minggu, pasien berubah suasana hatinya, pasien mengaku menjadi lebih
bersemangat, tidak mengantuk hingga tidak tidur sama sekali. Merokok jadi lebih banyak hingga
4 bungkus/hari. Diakui suami pasien bahwa pasien bisa mandi berkali-kali dini hari lalu berganti
pakaian berkali-kali dengan baju-baju berwarna terang dan berdandan menor lalu pergi ke
warung hanya untuk membeli rokok. Pasien menjadi banyak bicara. Pasien sering melantur,
3 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

merasa diri nya adalah orang terkenal. Selain itu pasien menjadi mudah marah-marah. Pasien
menjadi lebih curiga dengan sekeliling. Bila menonton TV, pasien merasa dibicarakan oleh
orang dalam TV.
Awalnya suami pasien mengganggap bahwa sifat pemarah ini adalah akibat pasien
merupakan orang Ambon dan sering sekali berjudi dan merokok. Setelah ±2 minggu, pasien
akhirnya dibawa oleh suami pasien ke dokter umum terdekat, dikatakan pasien harus
diperiksakan ke dokter jiwa. Namun suami pasien tidak membawanya ke dokter jiwa, melainkan
ke pengobatan alternatif.
Pasien sempat membaik dan gejala yang dikeluhkan menghilang. Selama masa
perbaikan, diakui suami pasien, pasien menjadi lebih mudah tersinggung dan marah. Keluhan
ternyata kembali muncul 3 tahun kemudian. Saat itu pasien tetap tidak dibawa ke dokter jiwa,
namun mencoba pengobatan alternatif lainnya. Pasien membaik dan kembali kambuh 2 tahun
kemudian, lalu kembali membaik dan kembali kambuh 1 tahun kemudian. Akhirnya pasien
dibawa ke dokter jiwa di rumah sakit di Ambon. Pasien menjalani pengobatan dan terjadi
perbaikan kembali. Pasien meminum obat setiap hari secara teratur dan menghentikan minum
obat setelah 2 tahun atas keigninannya sendiri.
Tahun 2001, pasien kembali kambuh dan dirujuk ke RSCM. Pasien diberi pengobatan
rawat jalan. Gejala kembali membaik namun pasien menghentikan kembali obatnya. Tahun
2007, keluhan kembali muncul dan kembali dibawa ke RSCM, pasien diberi pengobatan rawat
jalan dan semenjak itu pasien tidak lagi pernah putus obat hingga saat ini dan tidak ada lagi
keluhan seperti sebelumnya.
Sejak 1 bulan yang lalu, pasien yang sedang menjalani pengobatan di RSCM,
mendapatkan obat Risperidon 1 x 2 mg serta Depacot 2 x 250 mg. Dikatakan oleh pasien, obat
Risperidon yang diberikan telah diturunkan dosisnya dari dosis sebelumnya yaitu 2 x 2 mg.
Pasien merasa sering kali sulit tidur dan merasa hal tersebut dikarenakan dosis obat yang
diturunkan. Pasien meminta agar dosis obat kembali dinaikkan.

c. Riwayat Penyakit Dahulu
Psikiatrik
Sebelumnya pasien tidak memiliki riwayat psikiatrik apapun.
Medik
4 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Sejak tahun 2010, pasien dikatakan mengidap kanker tiroid suspek keganasan. Saat ini
pasien berencana untuk melakukan operasi di RSCM
Penggunaan Zat
Konsumsi zat psikotropika dan alcohol disangkal. Konsumsi rokok 2 bungkus/hari dan
kopi 2 cangkir/hari.

d. Riwayat Kehidupan Pribadi
Prenatal dan Perinatal
Pasien merupakan anak kembar identik. Semasa di kandungan, pasien dan kembarannya
tidak ada masalah. Pasien dan kembarannya lahir melalui operasi di rumah sakit di Ambon.
Pasien dan kembarannya lahir normal, sehat, dan tidak ada masalah.
Masa Kanak Awal (hingga usia 3 tahun)
Pasien tumbuh dalam asuhan orangtua kandungnya. Pertumbuhan dan perkembangan
sesuai anak seusianya. Sehari-hari tinggal bersama keluarga inti yang lengkap.
Masa Kanak Pertengahan (usia 3-11 tahun)
Pasien tumbuh dengan baik, hubungan sosial dengan lingkungannya baik. Terutama
dengan saudara kembarnya, pasien melakukan aktivitas sehari-hari bersama. Sering mengenakan
pakaian yang sama (kembar) dengan kembarannya. Pasien pertama kali bersekolah di SD negeri
di Ambon hinnga lulus SD.
Masa Kanak Akhir dan Remaja
Pasien tumbuh dengan baik, hubungan sosial dengan lingkungannya baik. Pasien sempat
berpacaran dengan lawan jenis saat SMA. Pasien masih sering melakukan segala aktivitas
bersama dengan saudara kembarnya. Ayah pasien meninggal saat duduk di bangku SMP. Pasien
dan beberapa kakak dan adik nya pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolah disana. Pasien
pertama kali mencoba merokok di SMA di Jakarta.
Masa Dewasa
 Riwayat Pendidikan
Pasien menjalani pendidikan hingga ke bangku SMA selanjutnya tidak melanjutkan untuk
berkuliah karena menikah di usia 20 tahun. Semasa taman kanak-kanak hingga SMA tidak
pernah mengalami kesulitan dalam belajar dan selalu naik kelas.
 Riwayat Pekerjaan
5 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Pasien tidak pernah bekerja, sehari-hari hanya menjadi ibu rumah tangga. Keinginan untuk
bekerja tidak ada.
 Riwayat pernikahan/berpasangan
Sekarang status pasien adalah menikah, dan telah menikah sejak tahun 1980. Saat itu pasien
berusia 20 tahun. Pasien baru saja lulus SMA dan dikenalkan oleh tante pasien ke Tn. An.
Setelah itu pasien langsung menikah.
 Riwayat agama
Dahulu pasien beragama Kristen protestan lalu setelah 3 tahun pasien menikah, pasien
pindah ke agama Islam.
 Riwayat militer
Pasien tidak pernah mengikuti pelatihan atau kegiatan militer.
 Aktivitas sosial
Pasien bersosialisasi hanya dengan keluarganya dan dengan tetangga-tetangganya yang
kebanyakan masih merupakan sanak saudara pasien.
 Situasi kehidupan sekarang
Pasien tinggal serumah dengan suami pasien, anak bungsu, suaminya, dan anak
perempuannya yang masih kecil. Pasien merupakan keluarga berkecukupan. Pendapatan
keluarga di dapat dari suami yang bekerja sebagai pegawai swasta. Pekerjaan rumah
dilakukannya sendiri serta anaknya dengan tanpa bantuan pembantu. Bila sakit, pasien biasa
berobat ke dokter umum terdekat (± 2 Km dari rumah pasien)
 Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah terlibat dengan kepolisian akibat pelanggaran hukum.
 Riwayat Psikoseksual
Orientasi seksual pasien adalah heteroseksual.

e. Riwayat Keluarga
Kedua orang tua pasien telah meninggal saat pasien berusia 25 tahun. Pasien merupakan
anak ke 6 dari 11 bersaudara. Anak pertama dan anak kedua telah meninggal karena sakit
jantung. Anak ke tiga adalah perempuan, yang kini sudah menikah dan memiliki 3 orang anak.
Anak ke empat, lima, dan ke sepuluh hingga kini masih tinggal di Ambon. Anak ke tujuh
merupakan saudara kembar pasien, yaitu Ny. D. Pasien dan Ny.D merupakan anak kembar
6 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

identik. Terutama Ny.D, pasien biasa menjalani aktifitas sehari-hari bersama. 3 tahun setelah
pasien mengalami gejala untuk pertama kalinya, Ny.D juga mengalami gejala serupa namun
dirasa lebih agresif dan enggan berobat hingga saat ini. Ny.D sebelumnya telah menikah dan
memiliki 3 orang anak, namun semenjak Ny.D sakit, ia di ceraikan dan anaknya
meninggalkannya. Hingga kini Ny.D tinggal bersama anak ke delapan. Anak ke sembilan kini
tingga tidak jauh dari rumah Ny. M, sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Anak ke
sebelas hingga kini belum menikah dan tinggal bersama anak ke delapan.
Saat ini keluarga pasien baik keluarga inti dan keluarga besar, memiliki hubungan yang sangat
baik dan harmonis. Pasien tidak pernah dikucilkan bahkan di dukung untuk sembuh. Tidak ada
keluhan serupa oleh anggota keluarga lainnya, kecuali Ny.M.

f. Persepsi Pasien tentang Diri dan Lingkungannya
Pasien merasa dirinya sudah jauh lebih membaik, namun setelah obat diturunkan
dosisnya, pasien merasa sulit tidur sehingga ingin kambali meminta dinaikkan dosis obatnya oleh
dokter. Pasien selalu didukung oleh keluarga dan tetangga dan diperlakukan secara normal.

g. Persepsi Keluarga tentang Diri Pasien
Keluarga pasien memaklumi keadaan pasien dan selalu mendukung pasien. Anak bungsu
pasien dan suami pasien lah yang menjadi care giver pasien terutama dalam kepatuhan pasien
atas obatnya.

h. Impian, Fantasi, dan Nilai-nilai
Pasien hanya ingin sembuh dan tidak kambuh kembali dan ingin melihat saudara kembar
nya dapat sembuh juga seperti dirinya.

III. STATUS MENTAL
a. Deskripsi Umum
Penampilan
Seorang wanita, penampilan rapi dan sesuai usia (52 tahun). Pasien menggunakan kemeja
berbahan katun dan celana bahan. Pasien tampak sehat dan perawatan diri baik.
Kesadaran
7 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Kesadaran pasien kompos mentis, tidak didapatkan tanda-tanda kesadaran berkabut serta
tidak ditemukan adanya kesulitan dalam memusatkan, mempertahankan, dan mengalihkan
perhatian.
Sikap dan Psikomotor
Keadaan pasien terlihat tenang, tidak ditemukan gerakan involunter, gerak berulang,
maupun gerakan abnormal. Tidak terdapat retardasi psikomotor.
Sikap terhadap pemeriksa
Pasien bersikap kooperatif selama wawancara, serta cukup terbuka dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari wawancara.

b. Mood dan Afek
1. Mood : biasa saja
2. Afek : luas
3. Keserasian : Ekspresi emosi dan suasana perasaan cukup serasi dengan pembicaraan
dan suasana.
4. Empati : pemeriksa dapat merasakan perasaan yang dirasakan oleh pasien

c. Pembicaraan
Pasien dapat berbicara dengan spontan. Volume suara cukup, artikulasi baik, kecepatan
normal, Kuantitas pembicaraan cukup. Pertanyaan lebih sering terlebih dahulu terjawab oleh
pendamping pasien.

d. Persepsi
1. Halusinasi: Pada pemeriksaan, tidak ditemukan halusinasi auditorik dan visual pada
pasien ini
2. Ilusi: Pada pemeriksaan, tidak ditemukan ilusi pada pasien ini
3. Depersonalisasi: Pada pemeriksaan, tidak ditemukan depersonalisasi pada pasien ini
4. Derealisasi: Pada pemeriksaan, tidak ditemukan derealisasi pada pasien ini

e. Pikiran
a. Produktivitas: ide cukup, berbicara lancar tidak sebatas pertanyaan pemeriksa.
8 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

b. Kontinuitas: Koheren .
c. Hendaya berbahasa: tidak ditemukan pada pasien ini.

f. Sensorium dan Kognisi
1. Kesiagaan dan taraf kesadaran:
Kompos mentis, kesiagaan baik
2. Orientasi
a. Waktu: baik, pasien dapat menyebutkan jam saat dilakukannya pemeriksaan
b. Tempat: baik, pasien dapat menyebutkan tempatnya berada sekarang
c. Orang: baik, pasien dapat menyebutkan siapa dirinya dan orang lain yang berada di
sekitarnya.
d. Situasi : Pasien sadar sedang melakukan wawancara dengan dokter.

3. Daya ingat
a. Jangka panjang: baik, pasien dapat mengingat nama sekolah dasar saat di Ambon.
b. Jangka pendek: baik, pasien dapat menyebutkan makanan yang dikonsumsinya tadi
pagi, yaitu bubur ayam.
c. Segera: baik, pasien dapat menyebutkan kembali nama pemeriksa yang disebutkan
oleh pemeriksa sebelumnya.
4. Daya konsentrasi dan perhatian:
Baik, pada waktu pemeriksa menanyakan 100-7, 93-7, 86-7, 79-7,72-7 pasien dapat
menyebutkan jawaban dengan tepat.
5. Pikiran abstrak:
Baik pasien dapat menyebutkan arti tong kosong nyaring bunyinya, serta air susu
dibalas dengan air tuba.
6. Inteligensi dan kemampuan informasi:
Baik, pasien dapat menyebutkan nama presiden Republik Indonesia saat ini, yaitu
Susilo Bambang Yudhoyono, wakil Presiden Boediono, pasien juga dapat menyebutkan
siapa presiden pertama Republik Indonesia yaitu Ir.Soekarno serta gubernur DKI
Jakarta terpilih, yaitu Jokowi.
7. Kemampuan menolong diri sendiri:
9 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Pasien dapat menolong dirinya sendiri dengan baik, terlihat dari pasien dapat makan,
mandi, serta mencuci bajunya sendiri. Pasien juga telah dapat minum obat sendiri
secara teratur.
g. Pengendalian Impuls
Selama wawancara pasien terlihat dapat mengendalikan diri dan impuls dengan baik serta
bersikap sopan santun.
h. Daya nilai dan Tilikan
1. Daya nilai sosial:
Baik, pemeriksa menanyakan apabila pasien menemukan dompet ditengah jalan yang
berisikan uang dan KTP apa yang dilakukan, pasien menjawab membawa ke kantor
polisi.
2. Uji daya nilai:
Baik, pemeriksa menanyakan apabila ada kebakaran apa yang dilakukan pasien , pasien
mengatakan akanmelakukan penyelamatan diri dan berusaha menyelamatkan orang lain.
3. Penilaian realitas:
Saat ini tidak terganggu lagi, karena tidak ditemukan halusinasi, ilusi, dan waham.
4. Tilikan:
Pasien menyadari bahwa dirinya menderita suatu gangguan, tetapi tahu apa penyebabnya
serta pasien patuh meminum obat dan kontrol sebulan sekali, oleh karena itu pasien
tergolong tilikan derajat 6.
k. Taraf Dapat Dipercaya
Secara keseluruhan, pasien cukup dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. Status Generalis dan Tanda Vital
a. Keadaan Umum :baik
b. Kesadaran :kompos mentis
c. Tekanan Darah :112/80 mmHg
d. Nadi :80 x/menit
e. Suhu :afebris
f. Pernapasan :14 x/menit
10 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

g. Keadaan Gizi :baik
h. Mata :pupil isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya
langsung
+/+, refleks cahaya tak langsung +/+, sklera tidak
ikterik
i. Leher :pembesaran tiroid
j. Paru :kesan dalam batas normal
k. Jantung :kesan dalam batas normal
l. Perut :kesan dalam batas normal
m. Ekstremitas :deformitas -/-, -/+ , akral hangat, edema -/-, -/-
B. Status Neurologik
a. GCS :E
4
M
6
V
5
= 15
b. Tanda Rangsang Meningeal (-)
c. Saraf kranial : Kesan dalam batas normal
d. Saraf motorik : kekuatan motorik baik
e. Refleks Patologis : tidak diperiksa
f. Sensibilitas : Kesan dalam batas normal
g. Saraf otonom : Kesan dalam batas normal
h. Gejala Ekstrapiramidal :
1. Gaya berjalan normal, postur tubuh normal
2. Tremor pada tangan (-)
3. Akatisia (-)
4. Tardive dyskinesia (-)
5. Rigiditas ekstremitas (-)
6. Gangguan keseimbangan (-)
7. Gangguan koordinasi (-)

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
 Pasien wanita, 52 tahun datang ke RSCM Poli Jiwa dengan keluhan sulit tidur setelah
dosis obat Risperidon diturunkan
 Sebulan yang lalu dosis Risperidon 2 x 2 mg, kini 1 x 2 mg
11 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

 Tidak ada penyakit yang menyebabkan disfungsi otak pada pasien.
 Pasien menyangkal penggunaan zat-zat psikoaktif dan konsumsi alkohol, namun pasien
merokok 2 bungkus perhari
 Pasien memiliki riwayat episode depresi dan episode manik berulang kali dan terdapat
periode sembuh, namun kini sudah tidak ada
 Pasien memiliki riwayat halusinasi auditorik namun kini sudah tidak ada
 Pasien memiliki isi pemikiran yang salah berupa waham kebesaran, thought broadcasting
namun kini sudah tidak ada
 Pasien memiliki kembaran identik yang juga sakit serupa
 Pasien memiliki kognisi yang baik dalam pemeriksaan dan memiliki riwayat pendidikan
hingga jenjang SMA
 Pasien memiliki keganasan pada tiroid sejak 2010 yang kini direncanakan untuk di
operasi
 Pasien memiliki hubungan ang kurang dekat dengan seluruh keluarga ini dan besar.
Selain dengan suami pasien, pasien tinggal dengan anak bungsu, suami, dan cucunya.
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan kini telah dapat melakukan lagi tugas-
tugasnya seperti biasa
 Saat ini pasien mendapatkan pengobatan berupa Risperidon 1 x 2 mg, dan Depacote 2 x
250 mg
 Pasien selalu menghabiskan obatnya

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
Berdasarkan wawancara psikiatrik yang telah dilakukan kepada pasien, ditemukan
adanya riwayat sindrom atau pola perilaku yang bermakna secara klinis dan menimbulkan gejala
penderitaan serta hendaya dalam fungsi pasien dalam perawatan diri, adapatasi terhadap stress,
hubungan sosial, dan pekerjaan rumah tangga. Dengan demikian, berdasarkan PPDGJ-III, pasien
dapat dikatakan memiliki gangguan jiwa.
Diagnosis Aksis I
Sesuai hierarki blok diagnosis gangguan jiwa, pertama-tama perlu disingkirkan terlebih
dahulu adanya gangguan mental organik (F.00-F.09). Pada pasien tidak ditemukan adanya
keluhan penurunan kognitif, hilang kesadaran, riwayat trauma kepala, serta penyakit penyerta
12 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

lainnya yang mungkin dapat menjadi etiologi gangguan jiwa. Penyakit keganasan tiroid tidak
berperan dalam penyakit gangguan jiwa pasien oleh karena onset penyakit tiroid yang baru
terjadi tahun 2010.
Gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif (F.10-F.19) dapat disingkirkan
karena pasien tidak memiliki riwayat penyalahgunaan NAPZA, alkohol, dan kafein. Rokok yang
dikonsumsi pasien kemungkinan bukan merupakan penyebab terjadinya gangguan jiwa oleh
karena menurut literatur, dikatakan bahwa hanya ada sedikit kekerapan antara kejadian gangguan
jiwa berat dengan konsumsi rokok. Selain itu, menurut suami pasien, pasien justru mengonsumsi
rokok lebih banyak setelah muncul gejala gangguan jiwa.
Selanjutnya pada pasien ditemukan gejala psikotik berupa halusinasi auditorik dan
waham thought broadcasting. Oleh karena pasien memenuhi gejala (a) dan (c) untuk
skizofrenia, maka perlu dicurigai kemungkinan pasien mengidap skizofrenia (F.20-F.29). Pada
pasien, gejala utama yang muncul dan dikeluhkan adalah berupa gangguan depresi serta manik
yang sesekali disertai gejala psikotik. Tidak ditemukan gejala negativisme dan pasien cenderung
hiperaktif. Gejala gangguan proses pikir, isi pikir, dan persepsi pada pasien kurang menonjol jika
dibandingkan dengan gejala gangguan mood/afek.
Pasien awalnya mengalami episode depresi yaitu perasaan sedih, menangis, ingin bunuh
diri selanjutnya pada waktu yang lain justru terjadi episode manik yaitu berupa peningkatan afek
dan aktivitas. Yang mana hal ini terjadi berulang selama bertahun-tahun dengan adanya masa
penyembuhan diantara episode. Gejala psikotik yang pasien alami masih bersesuaian dengan
afek pasien (mood-congruent), yaitu waham kebesaran saat harga diri pasien sedang
membumbung serta waham thought broadcasting saat pasien memiliki kecurigaan yang tinggi.
Oleh karena itu pasien dapat di diagnosis mengalami ganguan bipolar khususnya tipe I.
namun karena saat ini pasien sudah tidak ada keluhan sejak tahun 2007, maka diagnosis untuk
pasien saat ini adalah F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi.

Diagnosis Aksis II
Berdasarkan hasil anamnesis dari pasien, pasien masih dapat beraktivitas dan berinteraksi
sosial dengan baik dengan tetangga dan keluarga tanpa ada kendala karena itu pasien tidak ada
gangguan kepribadian. Dari anamnesis juga didapatkan bahwa pasien dapat menjalani
pendidikan dengan baik mulai dari SD hingga SMA, dan dari hasil wawancara pasien memiliki
13 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

kesan kognisi yang cukup baik karena itu pada pasien gangguan retardasi mental dapat
disingkirkan. Pada pasien ini, tidak ada diagnosis pada aksis II.

Diagnosis Aksis III
Pasien didiagnosis mengidap keganasan tiroid sejak tahun 2010. Lain-lain kesan dalam
batas normal. Pada aksis III didapatkan diagnosis keganasan tiroid.

Diagnosis Aksis IV
Pasien tidak memiliki pekerjaan formal sehingga tidak memiliki masalah pada hal
tersebut.
Begitu pula dengan pekerjaan rumah, saat ini pasien telah dapat menjalankan fungsinya dalam
menjadi ibu rumah tangga. Pasien sehari-hari mampu menyiapkan makanan, merapikan rumah,
dan melakukan pekerjan rumah lainnya. Hubungan dengan keluarga dan tetangga baik tidak ada
masalah. Pada aksis IV tidak ditemukan adanya masalah

Diagnosis Aksis V
Pada pasien tidak lagi ditemukan gejala gangguan afektif maupun gejala psikotik. Namun
pasien mengeluhkan gejala minimal yaitu terkadang mengalami kesulitan tidur. Oleh karena
itu, GAF saat ini 81 dan dalam satu tahun terakhir pasien memiliki GAF 85

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Axis I : F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi.
Axis II : tidak ada diagnosis
Axis III : keganasan tiroid
Axis IV : tidak ada masalah
Axis V : GAF current 81, HLPY 85

VIII. DAFTAR MASALAH
a. Organobiologis
Pada anamnesis dan pemeriksaan ditemukan gangguan organik pada pasien berupa
keganasan tiroid sejak tahun 2010. Saat ini pasien direncanakan menjalani operasi.
14 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

b. Psikologis
Pasien memilki riwayat gangguan suasana perasaan berupa depresi dan manik disertai
gejala psikotik.
c. Lingkungan sosial dan ekonomi
Kehidupan sosial baik tidak ada hendaya. Tinggal serumah dengan suami, dan keluarga
kecil anak bungsu nya. Hidup berkecukupan dari gaji suami.

IX. PROGNOSIS
Hal yang mengarah ke prognosis baik:
 Sistem dukungan yang baik dari keluarga
 Pasien bersikap kooperatif dan ingin sembuh dari penyakitnya dan tidak mengalami
kekambuhan
 Pasien telah dapat merawat dirinya dan minum obat sendiri
 Pasien responsif terhadap terapi.
 Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sosial dan lingkungan
 Pasien taat menjalankan agamanya.
Hal yang mengarah ke prognosis buruk:
 Riwayat keganasan tiroid
 Adanya riwayat sakit serupa pada saudara kembar nya
 Pola pikir pasien yang enggan diturunkan dosis obat nya karena merasa hal itu
mengakibatkannya sulit tidur
 Kebiasaan merokok yang tidak bisa ditinggalkan nya
Oleh karena itu, prognosis pada pasien ini adalah:
Ad vitam : bonam
Ad sanactionam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : bonam

X. FORMULASI PSIKODINAMIK
Perubahan atau deviasi yang tampak pada perilaku dan pikiran seseorang dapat
disebabkan oleh pelbagai faktor organik, psikologik, maupun keduanya. Pada individu dengan
15 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

substrat organik dengan kelainan walaupun tidak tampak dari luar, tetapi didukung dengan
kondisi psikologik tidak menguntungkan, maka konflik dapat tumbuh subur.
Hal ini kemudian dijelaskan dalam sebuah pendekatan psikodinamik. Psikodinamik sendiri
adalah sebuah pendekatan konseptual untuk memandang proses mental sebagai gerakan dan
interaksi energi psikis, yang berlangsung secara intra dan inter individual. Dalam hal ini,
tercakup struktur (kepribadian), kekuatan (dorongan), gerakan (action), pertumbuhan dan
perkembangan.
Adapun struktur kepribadian seseorang terdiri atas tiga komponen yaitu id, ego, dan
superego. Id (naluri) telah ada sejak dilahirkan dan dalam perkembangannya id dapat
berdeferensisasi menjadi ego bila terdapat konflik antara id dan lingkungan yang tidak selalu
dapat memenuhi kebutuhannya. Superego merupakan hasil absorbsi dan pengambilan nilai atau
norma dalam kultur, agama, dan kebaikan yang ditanamkan oleh orang tua. Superego dapat
dianalogikan sebagai wakil orang tua pada kepribadian seseorang yang mengingatkan mana
yang baik dan mana yang buruk.
Ketiga elemen ini saling berinteraksi dan apabila terjadi konflik individu, akan terjadi
ketegangan, ketidakpuasan, kecemasan, dan gejala psikologik lain. Namun apabila seseorang
tidak pernah mengalami konflik sama sekali akan pula mengalami pemanjaan yang berujung
pada hal yang sama dengan diatas.
Pada pasien ini, belum ditemukan adanya stressor yang bermakna. Namun demikian,
pada pasien ini ditemukan faktor genetik yang berperan. Menurut penelitian, pada anak kembar
terutama pada kembar monozigot, apabila yang satu mengidap bipolar maka kembar yang
lainnya berisiko sebesar 40-80% untuk mengidap bipolar juga. Ketika ada stressor minimal
pada pasien, yang dalam hal ini tidak disadari pasien maupun keluarganya, maka pasien yang
tidak mampu beradaptasi terhadap konflik akan memiliki kerentanan lebih untuk menjadi
depresi sebagai salah satu episode dalam bipolar. Stres yang menyertai episode pertama
menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan tersebut dapat
menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi
signal intraneuronal. Ketidak seimbangan ini mengakibatkan pasien sewaktu-waktu dapat pula
bermanifestasi menjadi manik.

XI. TERAPI
16 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

a. Psikofarmaka
- Risperidone 2 x 2 mg
- Depacote 2 x 250 mg
b. Psikoterapi
- Memberikan psikoterapi suportif pada pasien untuk meningkatkan ego dan mekanisme
defensif pasien, serta mekanisme pengendalian yang dimiliki pasien.
- Memberikan konseling mengenai gangguan tidur pasien agar pasien dapat menemukan cara
yang dapat membantunya untuk tidur tanpa penggunaan Risperidon terus-menerus

c. Psikoedukasi
Edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien mulai dari gejala, penyebab,
pengobatan, risiko pada keluarga lain, pengobatan dan efek sampingnya, prognosis, serta
kekambuhan agar keluarga mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai kondisi pasien.

XII. DISKUSI
Formulasi diagnostic, terapi, dan prognosis
Berdasarkan riwayat gangguan suasana perasaan berupa depresi dan manik disertai gejala
psikotik yang secara klinis bermakna serta menyebabkan penderitaan dan hendaya pada pasien,
maka dapat dikatakan pasien mengalami gangguan kejiwaan.
Diagnosis bipolar ditegakkan berdasarkan hierarki dimana sebelumnya telah dapat disingkirkan
adanya gangguan mental organik dan penggunaan zat psikoaktif serta gangguan skizofrenia
seperti yang telah dijabarkan diatas.
Gangguan suasana perasaan ditandai dengan adanya perubahan mood atau afek, biasanya
kea rah depresi atau elasi. Perubahan ini biasanya disertai dengan perubahan pada keseluruhan
tingkat aktivitas dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu.
Gangguan afektif sendiri dibedakan berdasarkan episode nya, tingkat keparahannya yaitu mania,
hipomanik, depresi serta ada tidaknya keluhan psikotik dan somatik.
Pada pasien, gejala yang muncul pertama merupakan gejala depresi, khususnya depresi
berat dengan gejala psikotik. Berdasarkan PPDGJ – III, pasien memenuhi kriteria episode
depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3) yaitu; afek depresif, kehilangan minat dan
17 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

kegembiraan, menurunnya aktivitas, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, tidur dan makan
terganggu, ingin bunuh diri.
Selanjutnya pada pasien terdapat masa penyembuhan sebelum setelahnya pasien
mengalami episode manik. Berdasarkan PPDGJ-III, pasien telah memenuhi kriteria diagnosis
episode mania dengan gejala psikotik (F30.2) yaitu: episode terjadi sekurang-kurangnya 1
minggu, perubahan afek yang disertai dengan energy yang meningkat sehingga aktivitas
berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, waham
kebesaran, terlalu optimistic serta halusinasi yang mood-congruent.
Pada proses penyembuhannya, dapat diamati bahwa pasien berangsur menghilang gejala psikotik
yang dimilkinya, sedang iritabilitasnya masih dirasakan keluarga. Hal ini semakin mendukung
diagnosis bipolar pada pasien.
Saat ini pasien telah menjalani pengobatan secara teratur dengan tanpa kekambuhan
selama 6 tahun, oleh karena itu menurut PPDGJ-III, pasien telah memenuhi kriteria diagnosis
gangguan afektif bipolar kini dalam remisi (F31.7) yaitu; sekarang tidak menderita gangguan
afektif yang nyata selama beberapa bulan terkahir tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya
satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-
kurangnya 1 episode afektif lainnya.
Saat ini pasien mendapat terapi Risperidon 1 x 2 mg dan Depacote 2 x 250 mg. atas
penurunan dosis Risperidon dari sebelumnya (2 x 2 mg) pasien mengeluhkan kesulitan tidur.
Depacot merupakan valproat, yang merupakan obat antiepilepsi yang digunakan sebagai anti
mania. . Pasien yang berespon biasanya mengalami perbaikan gejala yang bermakna satu
minggu setelah mencapai konsentrasidarah tersebut. Efek samping, misalnya sedasi,
peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi
serum diatas 100 ug/mL. Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut,
terapi rumatan gangguan bipolar, mania sekunder, gangguan bipolar yang tidak berespons
dengan litium, siklus cepat, gangguan bipolar pada anak dan remaja, serta gangguan bipolar
pada lanjut usia. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual, muntah, diare,
dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor.
Risperidon merupakan antipsikotik atipikal yang bekerja sebagai antagonis
monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan
dopaminergik D2. Efek samping dari risperidon yaitu sedasi, otonomik dan gejala EPS meskipun
18 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

lebih ringan dari antipsikotik konvensional lainnya. Efek sedasi yang dimiliki risepridon tidak
sepoten anti-psikosis lainnya seperti chlorpromazine, thioridazine, clozapine, dan
levomepromazine.
Pada pasien, sudah tidak ditemukan lagi gejala psikotik, oleh karena itu dilakukan
tapering off hingga akhirnya tidak perlu lagi diberikan. Perlu pula di khawatirkan adanya efek
samping seperti yang tertera di atas. Untuk penggunaan depacot sendiri memang diperlukan
hingga jangka panjang atau seumur hidup untuk mencegah kekambuhan. Namun oleh karena
pola pikir dan psikis pasien yang merasa bahwa tanpa Risperidon pasien tidak dapat tidur, maka
pasien kembali meminta agar dosis obat kembali dinaikkan. Untuk itu perlu dilakukan edukasi
dan konseling mengenai hal ini agar pasien kemudian dapat berhenti mengkonsumsi Risperidon.
Tatalaksana secara non farmakologis mencakup psikoterapi suportif baik pada pasien maupun
keluarganya, terutama untuk pengetahuan secara menyeluruh mengenai penyakit yang dialami
oleh pasien, reedukasi pengetahuan yang tidak sesuai, serta penekanan pentingnya kepatuhan
minum obat, kontrol rutin, dan aktivitas bagi pasien.
Prognosis ad vitam, ad functionam, pada pasien ini adalah bonam mengingat keinginan
yang kuat dari pasien untuk dapat sembuh dan dukungan yang baik dari keluarganya. Pasien pun
dapat hidup mandiri dalam hal perawatan diri dan minum obat, serta telah berusaha
mengembalikan fungsi sehari – harinya. Pasien juga responsif terhadap terapi.
Prognosis ad sanactionam dubia ad bonam, karena pada penyakit bipolar kira-kira 7%
dari semua penderita tidak mengalami gejala rekurensi, 45% menderita lebih dari satu episode,
dan 40% menderita gangguan kronis. Oleh karena itu pada pasien masih terdapat kemungkinan
terjadi rekurensi.

Biopsikososial
Secara organobiologis, pada pasien ditemukan gangguan organik berupa keganasan
tiroid. Namun hal ini tidak menyebabkan gangguan yang dirasakan, melihat onset terjadinya
yang baru berlansung selama ±3 tahun terakhir. Namun demikian, telah diketahui bahwa
perubahan kadar tiroid yang bermakna dapat menimbulkan gejala letargi atau sebaliknya, untuk
itu perlu dipantau lebih lanjut. Pada pasien juga ditemukan faktor genetic yang cukup kuat. Hal
ini dapat dilihat melalui kembaran pasien yang juga mengalami hal serupa. Oleh karena itu perlu
diwaspadai adanya kemungkinan kejadian serupa pada keturunan atau keluarga lainnya.
19 | N a s k a h L a t i h a n P s i k i a t r i R i v a A m b a r d i n a P

Gejala psikologis yang tampak pada pasien yaitu barupa gejala depresi dan manik dengan
disertai gejala psikotik.
Secara umum, pasien tidak memiliki masalah yang sangat signifikan terkait dengan
lingkungan dan interaksi sosial yang ada. Justru keadaan lingkungan keluarga yang suportif pada
pasien ini yang kemudian membantu proses penyembuhan pasien.





DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira SD, Hadisukanto G, editor. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
2. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta, 2001.
3. Sadock S. Kaplan and Sadock’s Textbook of Medical Psychiatry. Philadelphia: Elsevier
Sanders, 2004.