1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Kandidiasis adalah penyakit jamur tersering pada manusia. Di
Amerika 80 juta penduduk menderita penyakit yang disebabkan oleh
kandida. Kandidiasis terjadi diseluruh dunia dan menyerang segala usia,
baik lai laki ataupun perempuan
5
.
Candida merupakan jamur komensal yang antara lain hidup dalam
rongga mulut, saluran pencernaan, kulit dan vagina. Akan tetapi, jika
keseimbangan flora normal seseorang terganggu ataupun pertahanan
imunnya menurun, maka sifat komensal candida ini dapat berubah
menjadi pathogen
5
.
Meningkatnya prevalensi dandidiasis juga disebabkan oleh
berbagai faktor predisposisi, seperti rendahnya daya tahan tubuh hospes,
penyakit kronik, iklim, panas, kelembaban, kebersihan kulit yang rendah,
dan faktor faktor predisposisi lainya
1,5
.









2

1.2 TUJUAN
1. Untuk memahami kasus tentang penyakit kulit yang disebabkan oleh
jamur.
2. Untuk memahami cara membedakan diagnosis kandidiasis dengan
penyakit lainnya dikarenakan gambaran klinis dari kandidiasis pada tiap
individu berbeda.

1.3 MANFAAT
1. Dapat mengetahui tanda dan gejala dari penyakit – penyakit kulit yang
disebabkan oleh jamur.
2. Dapat memberikan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesua agar
tercapainya hasil pengobatan yang baik khususnya untuk kasus kandidisis.












3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut
disebabkan oleh jamur intermediate Candida sp., biasanya oleh spesies
Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki
atau paru, dengan berbagai manifestasi klinisnya yang bisa berlangsung
akut, kronis atau episodik, kadang-kadang dapat menyebabkan
septikemia, endokarditis atau meningitis
1
.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua
umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat
pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam
sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat.

2.3 ETIOLOGI
Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang
dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang
normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidiasis ialah C. parapsilosis
dan penyebab kandidiasis septicemia adalah C. tropikalis
1
.
Candida sp adalah jamur sel tunggal, berbentuk bulat sampai oval.
Jumlahnya sekitar 80 spesies dan 17 diantaranya ditemukan pada manusia.
Dari semua spesies yang ditemukan pada manusia, C.albicans lah yang
paling pathogen. Candida sp. memperbanyak diri dengan membentuk
blastospora (budding cell). Blastospora akan saling bersambung dan
bertambah panjang sehingga membentuk pseudohifa. Bentuk pseudohifa
lebih virulen dan invasif dari pada spora. Hal itu dikarenakan pseudohifa
berukuran lebih besar sehingga lebih sulit difagositosis oleh makrofag.
Selain itu, pseudohifa mempunyai titik-titik blastokonidia multipel pada
satu filamennya sehingga jumlah elemen infeksius yang ada lebih besar
4
.
4


Candida albicans

2.4 KLASIFIKASI
Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971),
mambaginya sebagai berikut:
Kandidiasis selaput lendir:
1. Kandidiasis oral (thrush)
2. Perleche
3. Vulvovaginitis
4. Balanitis atau balanopostitis
5. Kandidiasis mukokutan kronik
6. Kandidiasis bronkopulmonar dan paru

Kandidiasis kutis:
1. Lokalisata: a. daerah intertriginosa
b. daerah perianal
2. Generalisata
3. Paronikia dan onikomikosis
4. Kandidiasis kutis granulomatosa

Kandidiasis sistemik:
1. Endokarditis
2. Meningitis
3. Pielonefritis
5

4. Septikemia
Reaksi id. (kandidid)

2.5 PATOGENESIS
Kandida di dalam tubuh manusia dapat bersifat 2 macam. Kandida
sebagai saprofit terdapat dalam tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala
apapun, baik subyektif maupun obyektif. Dapat dijumpai di kulit, selaput
lendir mulut, saluran pencernaan, saluran pernafasan, vagina dan kuku.
Kandida sebagai jamur dapat menimbulkan infeksi primer maupun
sekunder dari kelainan yang telah ada. Beberapa faktor predisposisi dapat
mengubah sifat saprofit kandida menjadi patogen.

Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik
endogen maupun eksogen.
Faktor endogen:
1. Perubahan fisiologik:
 Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
Kondisi vagina selama masa kehamilan menunjukkan kepekaan
yang tinggi terhadap infeksi kandida, hal ini tampak dengan
ditemukannya kolonisasi candida spp yang tinggi pada masa ini
sejalan dengan tingginya simtomatik vaginitis. Keluhan ini paling
sering timbul pada usia kehamilan trimester ketiga. Bagaimana
mekanisme hormon-hormon reproduksi dapat meningkatkan
kepekaan vagina terhadap infeksi kandida masih belum jelas.
 Kegemukan, karena banyak keringat
 Debilitas
 Iatrogenik
 Endokrinopati, gangguan gula darah pada kulit
Pada penderita diabetes mellitus juga ditemukan kolonisasi candida
spp dalam vagina mungkin karena peningkatan kadar glukosa
dalam darah, jaringan dan urin. Akan tetapi mekanismenya juga
tidak diketahui.
6

 Penyakit kronik: tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan
umum yang buruk.
2. Umur: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status
imunologiknya tidak sempurna.
3. Imunologik: penyakit genetik.

Faktor eksogen:
1. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat.
2. Kebersihan kulit
3. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan
maserasi dan memudahkan masuknya jamur.
4. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopostitis.

2.6 GAMBARAN KLINIS
Kandidiasis selaput lendir
i. Thrush
Biasanya mengenai bayi, tampak pseudomembran putih
coklat muda kelabu yang menutup lidah, palatum mole, pipi
bagian dalam, dan permukaan rongga mulut yang lain. Lesi dapat
terpisah-pisah, dan tampak seperti kepala susu pada rongga
mulut. Bila pseudomembran terlepas dari dasarnya tampak daerah
yang basah dan merah.
Pada glositis kronik, lidah tampak halus dengan papila yang
atrofik atau lesi berwarna putih di tepi atau di bawah permukaan
lidah. Bercak putih tidak tampak jelas bila penderita sering
merokok.

Thrush
7

ii. Perleche
Lesi berupa fisur pada sudut mulut; lesi ini mengalami
maserasi, erosi, basah, dan dasarnya eritematosa. Faktor
predisposisnya ialah defisiensi riboflavin.

Perleche

iii. Vulvovaginitis
Biasanya sering terdapat pada penderita diabetes mellitus
karena kadar gula darah dan urin yang tinggi dan pada wanita
hamil karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina.
Keluhan yang paling sering adalah rasa gatal pada daerah
vulva dan adanya duh tubuh. Sifat duh tubuh bervariasi dari yang
cair seperti air sampai tebal dan homogen dengan noda seperti
keju. Kadang-kadang sekret tampak seperti susu yang disertai
gumpalan-gumpalan putih sehingga tampak seperti susu
basi/pecah dan tidak berbau. Akan tetapi lebih sering sekret hanya
minimal saja. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri
sesudah miksi, dan dispaneuria.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan
pembengkakan pada labia dan vulva, juga dapat ditemukan lesi
papulopustular di sekitarnya. Pada pemeriksaan yang ringan
tampak hiperemia di labia menora, introitus vagina, dan vagina
terutamanya 1/3 bagian bawah. Servik tampak normal sedangkan
mukosa vagina tampak kemerahan. Sering pula terdapat kelainan
yang khas bercak-bercak putih kekuningan. Bila ditemukan
8

keluhan dan tanda-tanda vaginitis serta pH vagina < 4,5 dapat
diduga adanya infeksi kandida
1
.
Pada kelainan yang berat juga terdapat edema pada labia
menora dan ulkus-ulkus yang dangkal pada labia menora dan
sekitar introitus vaginal.

Fluor albus pada kandidosis vagina bewarna kekuningan.
Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan sebagai
kepala susu bewarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut
berasal dari massa yang terlepas dari dinding vulva atau vagina
terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel, dan jamur
1
.

vulvovaginitis

iv. Balanitis atau balanopostitis
Penderita mendapat infeksi karena kontak seksual dengan
wanitanya yang menderita vulvovaginitis, lesi berupa erosi,
pustula dengan dindingnya yang tipis, terdapat pada glans penis
dan sulkus koronarius glandis.

Balanitis
9

v. Kandidiasis mukokutan kronik
Penyakit ini timbul karena adanya kekurangan fungsi
leukosit atau sistem hormonal, biasanya terdapat pada penderita
dengan bermacam-macam defisiensi yang bersifat genetik,
umumnya terdapat pada anak-anak. Gambaran klinisnya mirip
penderita dengan defek poliendokrin.

Kandidiasis kutis
i. Kandidiasis intertriginosa
Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal,
lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan
umbilikus, berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan
eritematosa
1
.
Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel
dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan
daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang
seperti lesi primer
1
.


Kandidiasis intertriginosa

ii. Kandidiasis perianal
Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah.
Penyakit ini menimbulkan pruritus ani.
10


Kandidiasis perianal

iii. Kandidiasis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat
payudara, intergluteal, dan umbilikus. Sering disertai glositis,
stomatitis, dan paronikia.
Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustul-
pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena
ibunya menderita kandidosis vagina atau mungkin karena
gangguan imunologik.

iv. Paronikia dan Onikomikosis
Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaanya
berhubungan dengan air, bentuk ini tersering didapat. Lesi berupa
kemerahan, pembengkakan yang tidak bernanah, kuku menjadi
tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang bewarna
kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat dan tidak terdapat sisa
jaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium.

v. Diaper-rash
Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan
jarang diganti yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga
sering diderita neonatus sebagai gejala sisa dermatisis oral dan
perianal.
11


Diaper-rash

vi. Kandidiasis granulomatosa
HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahawa penyakit
ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan
tertutup krusta tebal bewarna kuning kecoklatan dan melekat erat
pada dasarnya. Krusta ini dapat menimbul seperti tanduk
sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala,
kuku, badan, tungkai dan farings.

Kandidiasis sistemik
i. Endokarditis
Sering terdapat pada penderita morfinis sebagai akibat
komplikasi penyuntikan yang dilakukan sendiri, juga dapat
diderita oleh penderita sesudah operasi jantung.

ii. Meningitis
Terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya
sama dengan meningitis tuberkulosis atau karena bakteri lain.

Reaksi id (kandidid)
Reaksi terjadi karena adanya metabolit kandida, klinisnya berupa
vesikel-vesikel yang bergerombol, terdapat pada sela jari tangan atau
bagian badan yang lain, mirip dermatofitid.

12

Di tempat tersebut tidak ada elemen jamur. Bila lesi kandidosis
diobati, kandidid akan menyembuh. Jika dilakukan uji kulit dengan
kandidin (antigen kandida) memberi hasil positif.

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnose adalah:
1. Pemeriksaan langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH
10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau
hifa semu.

2. Pemeriksaan biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa
Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol)
untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam
suhu kamar atau lemari suhu 37°C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam,
berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan
dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.

3. Pemeriksaan pH vagina
Pada kandidiasis vulvovaginalis pH vagina normal berkisar antara
4,0-4,5 bila ditemukan pH vagina lebih tinggi dari 4,5 menunjukkan
adanya bakterial vaginosis, trikhomoniasis atau adanya infeksi
campuran.

2.8 DIAGNOSIS BANDING
- Kandidiasis kutis lokalisata dengan:
a. Eritrasma : lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak
ada satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif bewarna
merah bata.
b. Dermatitis intertriginosa
c. Dermatofitosis (tinea)
13

- Kandidiasis kuku dengan tinea unguium
- Kandidiasis vulvovaginitis dengan :
a. Trikomonas vaginalis
b. Gonore akut
c. Leukoplakia
d. Liken planus

2.9 PENATALAKSANAAN
- Non medika mentosa:
Hendaklah mengingatkan pasien untuk menghindari atau
menghilangkan faktor predisposisi.
- Medikamentosa :
1. Topikal:
 Larutan ungu gentian ½ - 1 % untuk selaput lendir, 1-2 %
untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari.
 Nistatin: berupa krim, salap, emulsi
 Amfoterisin B
 Grup azol antara lain:
i. Mikonazol 2% berupa krim atau bedak
ii. Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim
iii. Tiokonazol, bufonazol, isokonazol
iv. Siklopiroksolamin 1% larutan, krim
v. Antimikotik yang lain yang berspektrum luas

2. Sistemik
 Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam
saluran cerna, obat ini tidak diserap usus.
 Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik
 Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500
mg per vaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan
ketokonazol 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan
14

itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol
150 mg dosis tunggal.
 Itrakonazol: bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis
dosis untuk orang dewasa 2 x 100 mg sehari, selama 3 hari.

2.10 PROGNOSIS
Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi






















15

BAB III
LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS
Nama : Ny. L
Umur : 36 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Petaling
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Bercak-bercak merah disertai bintik-bintik kecil
disekitarnya dan disertai rasa gatal di kedua
lipatan paha dan lipatan dengkul sejak satu minggu
yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit
Kisaran 1 bulan yang lalu os. mengeluh bercak- bercak merah di
kedua lipatan paha disertai binti-bintik sedikit bersisik disertai rasa
gatal terutama berkeringat. Os tidak berobat tetapi mengaku memakai
salep yang dibeli dari warung, os lupa nama salepnya. Os. mengaku
setelah salep habis keluhan bercak-bercak merah dan gatal tidak ada
perubahan.
Kisaran 3 minggu yang lalu Os. berobat ke poliklinik Kulit dan
Kelamin RS. Dr. Rivai Abdullah dengan keluhan bercak-bercak merah
disertai bintik- bintik putih kecil sedikit bersisik di lipatan paha dan
lipatan dengkul disertai rasa gatal terutama berkeringat. Os diberi obat
dan salep.
Kisaran 1 minggu yang lalu Os. datang dengan keluhan bercak-
bercak merah di lipatan paha dan lipatan dengkul disertai gatal
16

terutama berkeringat dan malam hari. Os. mengaku obat dan salep
habis bercak-bercak merah sedikt hilang tetapi gatal masih dirasakan
oleh Os, sehingga Os. datang kembali berobat ke poliklinik Kulit dan
Kelamin RS. Dr. Rivai Abdullah Palembang.

Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengaku pernah menderita penyakit seperti ini setahun
yang lalu, tetapi sembuh. Dan pasien tidak mempunyai penyakit
kronik atau penyakit lama seprti lupus, tuberculosis, diabetes

Riwayat Penyakit Keluarga:
Pasien mengaku tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang
sama dengan pasien.

Riwayat Hyegine:
- Pasien mengaku mandi 2 kali sehari menggunakan air ledeng dan
menggunakan sabun batangan secara bergantian dengan anggota
keluarga lain.
- Pasien menggunakan handuk tidak bergantian dengan anggota
keluarga yang lain.
- Pasien mengganti pakaian 2 kali sehari
- Akhir – akhir ini pasien lebih banyak berkeringat

III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Present
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
b. Tanda Vital
TD 120/80 mmHg
RR 20 x/ menit
Nadi 78 x/menit
Tempratur 36,8
0
C
17

c. Status gizi
BB : 76 kg
TB : 155 cm
IMT : 31,2
Kesan : Obesitas

d. Status Generalis
- Kepala :
Wajah : normochepali
Mata : konjungtiva anemis (-)/(-), sclera ikterik (-)/(-)
Hidung : secret (-)/(-)
Telinga : secret (-)/(-)
- Leher :
JVP 5-2 cmH2O
Pembesaran tiroid (-)
Pembesaran KGB (-)
- Thorak
Pulmo :t.a.k
Cor :t.a.k
- Abdomen : t.a.k
- Ekstremitas : t.a.k











18

IV. STATUS DERMATOLOGI
Pada regio femoris anterior dextra terdapat makula eritem ukuran
plakat, yang disekitarnya dikelilingi oleh papul ukuran miliar,
multiple, diskret, tampak skuama halus dan krusta.


Pada region femoris anterior sinistra terdapat makula eritem ukuran
plakat, yang disekitarnya dikelilingi oleh papul ukuran miliar,
multiple, diskret, tampak skuama halus.









19

Pada region genus posterior dextra et sinistra terdapat makula
hiperpigmentasi ukuran numular, yang disekitarnya dikelilingi oleh
papul ukuran miliar, multiple, diskret, tampak skuama halus dan
krusta.


V. RESUME
Pasien Ny. L,36 tahun mengeluh Kisaran 1 bulan yang lalu os.
mengeluh bercak- bercak merah di kedua lipatan paha disertai binti-
bintik sedikit bersisik disertai rasa gatal terutama berkeringat. Os tidak
berobat tetapi mengaku memakai salep yang dibeli dari warung, os
lupa nama salepnya. Os. mengaku setelah salep habis keluhan bercak-
bercak merah dan gatal tidak ada perubahan.
Kisaran 3 minggu yang lalu Os. berobat ke poliklinik Kulit dan
Kelamin RS. Dr. Rivai Abdullah dengan keluhan bercak-bercak merah
disertai bintik- bintik putih kecil sedikit bersisik di lipatan paha dan
lipatan dengkul disertai rasa gatal terutama berkeringat. Os diberi obat
dan salep.
Kisaran 1 minggu yang lalu Os. datang dengan keluhan bercak-
bercak merah di lipatan paha dan lipatan dengkul disertai gatal
terutama berkeringat dan malam hari. Os. mengaku obat dan salep
habis bercak-bercak merah sedikt hilang tetapi gatal masih dirasakan
oleh Os, sehingga Os. datang kembali berobat ke poliklinik Kulit dan
Kelamin RS. Dr. Rivai Abdullah Palembang. Sebelumya os pernah
mengalami penyakit seperti ini dan sudah sembuh.
20

Pada pemeriksaan fisik didapatkan, Pada Pada regio femoris
anterior dextra terdapat makula eritem ukuran plakat, yang
disekitarnya dikelilingi oleh papul ukuran miliar, multiple, diskret,
tampak skuama halus dan krusta. Pada region femoris anterior sinistra
terdapat makula eritem ukuran plakat, yang disekitarnya dikelilingi
oleh papul ukuran miliar, multiple, diskret, tampak skuama halus.
Pada region genus posterior dextra et sinistra terdapat makula
hiperpigmentasi ukuran numular, yang disekitarnya dikelilingi oleh
papul ukuran miliar, multiple, diskret, tampak skuama halus dan
krusta.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dilakukan pemeriksaan penunjang KOH untuk melihat biakan jamur.
Dari pemeriksaan kerokan kulit KOH pada region femoris dextra
didapatkan pseudohipa.

VII. DIAGNOSIS BANDING
1. Kandidiasis intertriginosa
2. Tinea Kruris
3. Eritrasma

VIII. DIAGNOSIS KERJA
Kandidiasis intertriginosa

IX. PENATALAKSANAAN
Nonmedikamentosa
1. Menyarankan pasien untuk mencegah banyak keringat yang keluar
seperti menghindari tempat – tempat yang panas, atau mengurangi
aktivitas yang dapat membuat produksi keringat meningkat
2. Menyarankan paien untuk segera mengelap keringat ketika pasien
berkeringat.
3. Menyarankan pasien untuk meningkatkan kebersihan diri.
21

4. Menyarankan pasien untuk tidak menggaruk kulitnya yang gatal
karena dapat menyebabkan terbentuknya lesi dan menyebabkan
terjadinya infeksi skunder

Medikamentosa
1. Antipruritus: diberikan antihistamin oral seperti cetrizin 1x 10 mg
2. Antifungi topikal: Mikonazol 2% krim 3-4 x sehari dioles tipis
pada lesi.

X. PROGNOSIS
Quo ad Fungsionam : bonam
Quo ad Vitam : bonam
Quo ad sanationam : bonam
Quo ad cosmetic : bonam


















22

BAB III
PEMBAHASAN

Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut
disebabkan oleh jamur intermediate Candida sp., biasanya oleh spesies
Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki
atau paru, dengan berbagai manifestasi klinisnya yang bisa berlangsung
akut, kronis atau episodik, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia,
endokarditis atau meningitis.
Kandida di dalam tubuh manusia dapat bersifat 2 macam. Kandida
sebagai saprofit terdapat dalam tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala
apapun, baik subyektif maupun obyektif. Dapat dijumpai di kulit, selaput
lendir mulut, saluran pencernaan, saluran pernafasan, vagina dan kuku.
Kandida sebagai jamur dapat menimbulkan infeksi primer maupun
sekunder dari kelainan yang telah ada. Beberapa faktor predisposisi dapat
mengubah sifat saprofit kandida menjadi patogen.
Pasien Ny. L, 36 tahun mengeluh sejak 3 minggu yang lalu Os.
berobat ke poliklinik Kulit dan Kelamin RS. Dr. Rivai Abdullah dengan
keluhan bercak-bercak merah disertai bintik- bintik putih kecil sedikit
bersisik di lipatan paha dan lipatan dengkul disertai rasa gatal terutama
berkeringat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Pada Pada regio femoris anterior
dextra terdapat makula eritem ukuran plakat, yang disekitarnya dikelilingi
oleh papul ukuran miliar, multiple, diskret, tampak skuama halus dan
krusta. Pada region femoris anterior sinistra terdapat makula eritem ukuran
plakat, yang disekitarnya dikelilingi oleh papul ukuran miliar, multiple,
diskret, tampak skuama halus. Pada region genus posterior dextra et
sinistra terdapat makula hiperpigmentasi ukuran numular, yang
disekitarnya dikelilingi oleh papul ukuran miliar, multiple, diskret, tampak
skuama halus dan krusta.
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan kerokan kulit
dengan KOH dan didapatkan gambaran pseudohipa.
23

Kandidiasis intertriginosa Tinea Kruris Eritrasma
4. Definisi Kandidiasis
intertriginosa adalah
penyakit jamur yang
bersifat akut atau subakut
biasanya mengenai
lipatan kulit ketiak, lipat
paha, lipat payudara dan
lain lain
Dermatofitosis pada
lipat paha, daerah
perineum dan sekitar
anus
Eritrasma adalah
penyakit bakteri
kronik pada stratum
korneum yang
ditandai dengan lesi
berupa eritema dan
skauma halus
terutama di daerah
ketiak dan lipat paha
5. Epidemiologi Terdapat pada semua
umur baik pada laki –
laki ataupun perempuan
Kebanyakan pada
dewasa, lebih banyak
pada pria dari pada
perempuan, didaerah
tropis.
Lebih banyak
menyerang orang
dewasa baik laki-
laki atapun
perempuam
6. Etiologi jamur intermediate
Candida sp., biasanya
oleh spesies Candida
albicans
E. floccosum, T.
Rubrum dan T.
Mentagrophytes.
Coryne bacterium
minitussismum
7. Predisposisi Perubahan fisiologik:
- Kehamilan, karena
perubahan pH dalam
vagina
- Kegemukan, karena
banyak keringat
- Debilitas
- Iatrogenik
- Endokrinopati,
gangguan gula darah
pada kulit
- Penyakit kronik:
- Banyak berkeringat
- Kebersihan yang
kurang diperhatikan
- Lingkungan yang
kotor dan lembab
Perubahan fisiologik:
- Diabetes
- Maserasi
- Kegemukan

Faktor eksogn :
Iklim, panas dan
kelembaban
24

tuberkulosis, lupus
eritematosus dengan
keadaan umum yang
buruk.
- Imunologik: penyakit
genetik.

Faktor eksogen:
- Iklim, panas, dan
kelembaban
- Kebersihan kulit
- Kebiasaan berendam
kaki dalam air yang
terlalu lama.
- Kontak dengan
penderita, misalnya
pada thrush,
balanopostitis.
8. Letak lesi Di daerah lipatan :
- Lipat kulit ketiak
- Lipat paha
- Intergluteal
- Lipat payudara
- Sela jari kaki atau
tangan
- Glend penis
- Umbilicus
- Lipat paha
- Daerah perineum
- Sekitar anus
Didaerah lipatan
seperti :
- Lipat paha
- Ketiak
Lipat kaki, dll
9. Keluhan
utama
Bercak merah yang gatal
dan panas.
Bercak merah yang
gatal.
Bercak merah terang
dan gatal
10. Efloresensi Lesi berupa makula,
skuama dan eritromatosa
papul, vesikel dan pustul
Lesi berupa makula
eritromatosa
numular, berbatas
Lesi lebih merah dari
kandidiasis atau
eritem dengan
25



Anamnesis dan pemeriksaa fisik secara teori dan kasus
Teori Kasus
1. Lesi biasanya didaerah lipat
kulit ketiak, lipat paha,
intergluteal, lipat payudara,
sela jari tangan atau kaki,
gland penis dan umbilikus
2. Gatal
3. Iklim, panas
4. kelembaban
5. Bercak merah kehitaman
yang sangat gatal, penderita
akan merasa lebih baik jika
di garuk.
6. Lesi berupa makula, skuama
dan eritromatosa papul, vesikel
dan pustul kecil atau bula yang
bisa pecah dengan lesi
disekitarnya seperti satelit.
6. Pemeriksaan kerokan kulit
dengan KOH didapatkan
1. Lipat kulit paha dan dengkul




2. Gatal
3. Iklim , panas
4. Sering berkeringat
5. Bercak merah kehitamayang
sangat gatal, penderita akan
merasa lebih baik jika di
garuk.
6. makula eritem ukuran
plakat, diskret yang
disekitarnya dikelilingi oleh
papul eritem ukuran miliar,
multiple yang membentuk
seperti satlit. Dan
didapatkan skuama halus
kecil atau bula yang bisa
pecah dengan lesi
disekitarnya seperti
satelit
tegas dengan tepi
lebih aktif terdiri
papul/ pustul.
skuama, tidak ada
satelit, dan lesi
biasana kering
11. Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan kerokan
kulit dengan KOH
didapatkan gambaran
pseudohipa
Pemeriksaan kerokan
kulit dengan KOH
didapatkan gambaran
pseudohipa
Pemeriksaan lampu
Wood didapatkan
pancaran sinar merah
26

gambaran pseudohipa berwarna putih diatasnya
dan tampak krusta
hemoragik.
7. pemeriksaan kerokan kulit
dengan KOH didapatkan
gambaran pseudohipa


Berdasarkan dari data data diatas maka keluhan Ny. L, 36
tahun mengarah pada kandidiasis intertriginosa karena
didapatkan sebagian besar kriteria pada teori ditemukan pada
kasus serta dari pemeriksaan penunjang KOH didapatkan hasil
(+) sehingga dapat memperkuat diagnosis. Pada pasien ini di
berikan terapi medikamentosa yaitu antipruritus: diberikan
antihistamin oral seperti cetrizin 1x 10 mg dan antifungi
topikal: Mikonazol 2% krim 3-4 x sehari dioles tipis pada lesi.
Prognosis kasus ini yaitu umumya baik.















27





DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. 2008. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Balai Penerbit
FKUI. Indonesia: Jakarta
2. Mansjoer,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapis
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Edisi III. Indonesia:
Jakarta
3. Siregar. 2004. Saripati Penyakit Kulit. EGC. Indonesia; Jakarta
4. http://www.scribd.com/doc/72800040/KANDIDIASIS
5. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/125139-R20-OB-
439%20Efek%20Xylitol-Pendahuluan.pdf
6. http://www.pustakakesehatan.com/kandidiasis-definisi-gejala-
penyebab-pencegahan-dan-pengobatan.html