1

MODUL PRAKTIKUM GENETIKA TANAMAN
7. GENETIKA KELAMIN DAN PEWARISAN SITOPLASMIK
NAMA : ……………………….............
NIM : ……………………….............
KELOMPOK : ……………………….............
7.1 GENETIKA KELAMIN
Sifat keturunan selain ditentukan oleh gen yang terdapat pada kromosom tubuh/autosom
ternyata ada pula gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin/gonosom. Gen-gen yang
terdapat/terangkai pada kromosom kelamin dinamakan gen terangkai kelamin/ sex-linked genes.
Gen terangkai kelamin dapat menentukan penentuan jenis kelamin. Mekanisme penentuan jenis
kelamin pada umunya ditentukan oleh faktor genetik, oleh karena bahan genetik terdapat di
dalam kromosom, maka perbedaan jenis kelamin terletak dalam komposisi kromosom.
Umumnya tanaman tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya karena bunga jantan dan
bunga betina terdapat dalam tanaman yang sama (monoecious) atau mempunyai bunga yang
mengandung alat kelamin jantan dan betina (hermaphrodite). Meskipun demikian terdapat
tanaman yang dapat dibedakan jenis kelaminnya. Tanaman ini biasanya terpisah menjadi
tanaman jantan yang mempunyai benang sari saja dan bunga betina yang mempunyai putik saja
(dioecious). Sebagai contoh ialah tanaman salak (Zalaca sducalis) dan Melandrium sp. Jenis
kelamin tanaman dapat dikelompokkan kedalam tipe jenis kelamin XY.
Pada tanaman tingkat tinggi, kromosom kelamin membedakan sifat jantan dan sifat
betina. Penampakan jenis kelamin dapat dikembangkan dengan manipulasi gen-gen pada
autosom, misalnya pada jagung menyebabkan malai berbiji dan tidak ada rambut tongkol (tidak
ada bunga betina). Individu betina memiliki sepasang kromosom-X yang disebut dengan
homogametik (XX). Individu jantan memiliki satu kromosom-X dan satu kromosom-Y yang
disebut heterogametik (XY).
7.2 PEWARISAN SITOPLASMIK
Sebegitu jauh pembicaraan kita tentang pewarisan sifat pada eukariot selalu dikaitkan
dengan gen-gen yang terletak di dalam kromosom/nukleus. Kenyataannya gen-gen kromosomal
ini memang memegang peranan utama di dalam pewarisan sebagian besar sifat genetik.
2

Meskipun demikian, sesekali pernah pula dilaporkan bahwa ada sejumlah sifat genetik pada
eukariot yang pewarisannya diatur oleh unsur-unsur di luar nukleus. Pewarisan ekstranukleus,
atau dikenal pula sebagai pewarisan sitoplasmik, ini tidak mengikuti pola Mendel.
Pewarisan sifat sitoplasmik diatur oleh materi genetik yang terdapat di dalam organel-
organel seperti mitokondria, kloroplas (pada tumbuhan), dan beberapa komponen sitoplasmik
lainnya. Begitu juga virus dan partikel mirip bakteri dapat bertindak sebagai pembawa sifat
herediter sitoplasmik.
Kriteria Pewarisan Sitoplasmik
Sebenarnya tidak ada kriteria yang dapat berlaku universal untuk membedakan pewarisan
sitoplasmik dengan pewarisan gen-gen kromosomal. Namun, setidak-tidaknya lima hal di bawah
ini dapat digunakan untuk keperluan tersebut.
1. Perbedaan hasil perkawinan resiprok merupakan penyimpangan dari pola Mendel. Sebagai
contoh, hasil persilangan antara betina A dan jantan B tidak sama dengan hasil persilangan
antara betina B dan jantan A. Jika dalam hal ini pengaruh rangkai kelamin dikesampingkan,
maka perbedaan hasil perkawinan resiprok tersebut menunjukkan bahwa salah satu tetua
(biasanya betina) memberikan pengaruh lebih besar daripada pengaruh tetua lainnya dalam
pewarisan suatu sifat tertentu.
2. Sel kelamin betina biasanya membawa sitoplasma dan organel sitoplasmik dalam jumlah
lebih besar daripada sel kelamin jantan. Organel dan simbion di dalam sitoplasma
dimungkinkan untuk diisolasi dan dianalisis untuk mendukung pembuktian tentang adanya
transmisi maternal dalam pewarisan sifat. Jika materi sitoplasmik terbukti berkaitan dengan
pewarisan sifat tertentu, maka dapat dipastikan bahwa pewarisan sifat tersebut merupakan
pewarisan sitoplasmik.
3. Gen-gen kromosomal menempati loki tertentu dengan jarak satu sama lain yang tertentu pula
sehingga dapat membentuk kelompok berangkai. Oleh karena itu, jika ada suatu materi
penentu sifat tidak dapat dipetakan ke dalam kelompok-kelompok berangkai yang ada, sangat
dimungkinkan bahwa materi genetik tersebut terdapat di dalam sitoplasma .
4. Tidak adanya nisbah segregasi Mendel menunjukkan bahwa pewarisan sifat tidak diatur oleh
gen-gen kromosomal tetapi oleh materi sitoplasmik.
3

5. Substitusi nukleus dapat memperjelas pengaruh relatif nukleus dan sitoplasma. Jika
pewarisan suatu sifat berlangsung tanpa adanya pewarisan gen-gen kromosomal, maka
pewarisan tersebut terjadi karena pengaruh materi sitoplasmik.
Organel Sitoplasmik Pembawa Materi Genetik
Di dalam sitoplasma antara lain terdapat organel-organel seperti mitokondria dan
kloroplas, yang memiliki molekul DNA dan dapat melakukan replikasi subseluler sendiri. Oleh
karena itu, kedua organel ini sering kali disebut sebagai organel otonom. Beberapa hasil
penelitian memberikan petunjuk bahwa mitokondria dan kloroplas pada awalnya masing-masing
merupakan bakteri dan alga yang hidup bebas. Dalam kurun waktu yang sangat panjang mereka
kemudian membangun simbiosis turun-temurun dengan sel inang eukariotnya dan akhirnya
berkembang menjadi organel yang menetap di dalam sel.
Mitokondria, yang dijumpai pada semua jenis organisme eukariot, diduga membawa
hingga lebih kurang 50 gen di dalam molekul DNAnya. Gen-gen ini di antaranya bertanggung
jawab atas struktur mitokondria itu sendiri dan juga pengaturan berbagai bentuk metabolisme
energi. Enzim-enzim untuk keperluan respirasi sel dan produksi energi terdapat di dalam
mitokondria. Begitu juga bahan makanan akan dioksidasi di dalam organel ini untuk
menghasilkan senyawa adenosin trifosfat (ATP), yang merupakan bahan bakar bagi berbagai
reaksi biokomia.
Sementara itu, kloroplas sebagai organel fotosintetik pada tumbuhan dan beberapa
mikroorganisme membawa sejumlah materi genetik yang diperlukan bagi struktur dan fungsinya
dalam melaksanakan proses fotosintesis. Klorofil beserta kelengkapan untuk sintesisnya telah
dirakit ketika kloroplas masih dalam bentuk alga yang hidup bebas. Pada alga hijau plastida
diduga membawa mekanisme genetik lainnya, misalnya mekanisme ketahanan terhadap
antibiotik streptomisin pada Chlamydomonas.
7.3 TUJUAN
Tujuan dari praktikum adalah agar mahasiswa dapat memahami genetika kelamin dan
pewarisan sitoplasmik melalui berbagaimacam fenomena yang ada.


4

7.4 LATIHAN SOAL
1. Pewarisan sitoplasmik terjadi di . . . . .
a. Mitokondria dan Kloroplas d. Lisosom
b. Nukleus e. Nukleolus
c. Badan Golgi
2. Pada pewarisan sitoplasmik, yang menentukan sifat dari keturunan (F1) adalah . . . . .
a. Tetua jantan d. Tetua betina
b. Bukan kedua tetua e. Lingkungan
c. Tetua jantan dan betina
3. Dalam keadaan homozigot resesif, suatu tanaman akan mati (lethal) dan penyakit tersebut
terpaut kromosom X. Apabila jantan berpenyakit dikawinkan dengan betina normal
homozigot, maka persentase anakan yang normal heterozygot adalah . . . . .
a. 25 % c. 75 % e. 100 %
b. 50 % d. 0
4. Sebuah gen resesif pada jagung monocious yang disebut mayang (tassel seed/ts) bila
homozigot menghasilkan biji-biji hanya pada tempat dimana biasanya timbul pembungaan
jantan (staminate) tidak dihasilkan serbuk sari. Sehingga individu-individu dengan genotip-
genotip ts/ts secara fungsional menjadi berkelamin tunggal yaitu betina. Pada kromosom
lain gen resesif yang disebut tanpa bunga (silkless/sk) bila homozigot menghasilkan
tongkol tanpa pistilium. Tidak satupun dari tongkol ini menghasilkan biji dan individu-
individu dengan genotip sk/sk direduksi hanya melaksanakan fungsi jantan. Gen resesif
untuk mayang adalah epistasis terhadap lokus tanpa putik.
a. Bagaimana rasio seks yang diharapkan pada F1 dan F2 dari persilangan ts/ts, sk
+
/sk
+

(betina) X ts
+
/ts
+
, sk/sk (jantan) ?
b. Bagaimana penggunaan untuk mayang yang tanpa putik untuk membentuk tumbuhan
jantan dan betina dioecious yang akan berlanjut dari generasi ke generasi dan
menghasilkan keturunan dengan rasio 1 jantan : 1 betina.
5. A completely pistillate inflorescence (female flower) is produced in the castor bean by the
recessive genotype nn. Plants of genotype NN and Nn have mixed pistillate flowers in
5

inflorescence. Determine the types of flowers produced in the progeny from the following
crosses:
a. NN (female) X Nn (male)
b. Nn (female) X Nn (male)
c. nn (female) X Nn (male)
6. Sex determination in the dioecious plant Melandrium album (Lycnis dioica) is by the XY
method. A sex linked gen governs leaf size, the dominant allele B producing broad leaves,
and the recessive allele b producing narrow leaves. Pollen grains bearing the recessive
allele are inviable. What phenotypic result are expected from the following crosses ?
Seed Parent Pollen Parent
a. Homozygous broad leaf X Narrow leaf
b. Heterozygous broad leaf X Narrow leaf
c. Heterozygous broad leaf X Broad leaf
7. In the plant genus Melandrium, sex determination is similar to that in humans. A sex linked
gene (l) is known to be lethal when homozygous in females. When present in hemizygous
condition in males (lY), it produces blotchy patches of yellow-green color. The
homozygous or heterozygous condition of the wild type allele (LL or Ll) in female or
hemizygous condition in males (LY) produces normal dark green color. From a cross
between heterozygous females and yellow green males, predict the phenotypic ratio
expected in the progeny ?
8. Pada tanaman jagung sudah dikenal adanya “gen sitoplasmik” yang menyebabkan jantan
mandul. Jelaskan bagaimana perakitan jagung hibrida dengan menggunakan jantan mandul
pada tanaman jagung tersebut! Gambarkan pula bagan persilangannya!