BAB II MADRASAH PADA MASA KLASIK ISLAM

A. Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Lahirnya Madrasah
Berbicara mengenai lembaga pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari pandangan atau konsep Islam itu sendiri mengenai pendidikan. Pendidikan Islam merupakan wujud dari pengaruh berbagai kebudayaan atau peradaban yang pernah ada dalam sejarah. Namun demikian para ahli pendidikan Islam biasanya berpandangan bahwa pendidikan Islam memiliki karakter dan tujuannya sendiri yang khas, karena ia didasarkan kepada tujuan yang bersifat metafisis-transendental, yaitu untuk mencapai keridlaan Allah SWT, di dunia dan akhirat. Karena itu, kendatipun ilmu pengetahuan menempati kedudukan yang tinggi dan terhormat di dalam konsep pendidikan Islam, tetapi ilmu pengetahuan itu bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri. Tujuan ilmu pengetahuan digariskan berdasarkan tuntunan wahyu, sebab ilmu pengetahuan itu sendiri berasal dari wahyu (baca: Allah SWT). Ilmu pengetahuan memperoleh maknanya yang hakiki jika ia mampu menghantarkan manusia (penuntut ilmu) kepada tujuannya yang hakiki pula, yaitu kedekatan (taqarrub) kepada Allah, dan kebaikan kepada sesama manusia (akhlaqul karimah). Karena itu akhlak menempati posisi penting, bahkan sentral dalam pendidikan Islam. Hal ini merupakan kelanjutan logis dari pernyataan Nabi Saw. sendiri bahwa beliau diutus membawa agama Islam ke dunia ini untuk menyempurnaan keluhuran akhlak budi manusia. Jika demikian, pendidikan dalam Islam merupakan sarana untuk menuju ke arah penyempurnaan akhlak budi. Dengan kata lain, pendidikan dalam Islam adalah fungsiuntuk mencapai keluhuran akhlak budi, sedangkan lembaga pendidikan adalah aspek material untuk menjalankan fungsi tersebut. Pendidikan adalah substansinya, sedangkan lembaga pendidikan adalah institusi atau pranatanya yang telah terbentuk secara ajeg dan mapan di tengah-tengah masyarakat. Di bawah ini akan dibahas lebih lanjut konsep pendidikan Islam, bagaimana pula kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam, kemudian dirangkaikan dengan pembahasan seputar lembaga-lembaga pendidikan yang pernah ada atau dikenal di masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan agama Islam, terutama sebelum berdirinya Madrasah .

1. Konsep Pendidikan Islam
Istilah pendidikan Islam dapat dipahami dari tiga sudut pandang, yaitu: (a) pendidikan agama Islam (b) pendidikan dalam Islam (c) pendidikan menurut Islam. Dalam kerangka akademik, ketiga sudut pandang itu harus dibedakan dengan tegas, karena ketiganya akan melahirkan disiplin ilmu sendiri-sendiri. Pendidikan agama Islam menunjuk kepada proses operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam. Pendekatan ini kelak menjadi bahan kajian dalam "Ilmu Pendidikan Islam Teoretis".

Pendidikan dalam Islam bersifat sosio-historis, dan menjadi bahan kajian dalam "Sejarah Pendidikan Islam". Sedangkan pendidikan menurut Islam bersifat normatif, dan menjadi bahan kajian dalam "Filsafat Pendidikan Islam". 1 Sesuai dengan judulnya, yaitu Sejarah Perkembangan Madrasah, maka seluruh uraian dalam buku ini menggunakan pendekatan sosiohistoris. Namun demikian, khusus di bagian ini pembahasan mengenai konsep pendidikan Islam yang akan jyta kemukakan menggunakan pendekatan normatif yang akan memberikan landasan filosofis supaya kita mengetahui lebih dahulu posisi kita sebagai manusia di hadapan Sang Pendidik Utama, yaitu Allah SWT. Pada bagian-bagian lainnya kita akan tetap menggunakan pendekatan sosio-historis atau pendekatan sejarah. Konsep pendidikan Islam dimulai dengan konsep tentang manusia. Hal itu terlihat dengan jelas dalam surat al-Baqarah/2 ayat 31 dan 32 yang menceritakan bagaimana Tuhan mengajarkan kepada Adam nama-nama benda, kemudian Adam mengajarkan nama-nama benda itu kepada para malaikat. Dua ayat itu terangkai dengan ayat sebelumnya, ayat 30, tentang penciptaan manusia, yang selengkapnya berarti demikian: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Kemudian para malaikat menjawab, "Apakah Engkau akan menciptakan orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? "Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Begitulah Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi, dan seluruh ciptaan lainnya tunduk kepada manusia. Dalam surat al-Baqarah ayat 31 dikisahkan bahwa setelah menciptakan Adam, Allah mengajarkan kepadanya nama-nama benda. Allah menciptakan benda-benda itu dari tidak ada menjadi ada (Q.S., al-Baqarah/2 ayat 117); dan setiap unsur dalam ciptaan Allah memanifestasikan kekuasaan-Nya; setiap subyek dalam ciptaan menunjukkan kualitas dan sifat-sifat Allah; setiap ciptaan adalah ayatullah, isyarat-isyarat Allah, manifestasi kekuasaan Allah, simbol-simbol realitas. Maka ketika Allah mengajarkan Adam tentang nama-nama benda, tujuan-Nya bukan hanya agar ia tahu dan mengerti, tetapi juga sadar akan esensi ciptaan, sadar akan sifat-sifat Allah dan hubungan antara Allah dan ciptaan-Nya. Integrasi kesadaran intelektual dengan kesadaran spiritual inilah yang menjadi dasar konsepsi pendidikan Islam sejak awal. Konsepsi pendidikan Islam dengan demikian sudah ada atau sudah setua umur manusia itu sendiri. Konsepsi pendidikan Islam dibangun di atas dasar metafisika, di mana hubungan antaraTuhan sebagai Pencipta dan manusia sebagai subyek di muka bumi berada dalam suatu rangkaian orientasi religius dan kerangka etis. Manusia dalam konsepsi pendidikan Islam akan mencapai tujuannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardli) dan dapat menggunakan ilmu pengetahuan yang diberikanNya untuk kepentingan umat manusia.
Tajab, et. al., Dasar-Dasar Kependidikan dalam Islam: Suatu Pengantar Ilmu Pendidika n Islam dikutip dari Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos, 1999), h. 24-25. ,
1

Kerangka religius etis inilah, menurut Imam al-Ghazali, yang menjadi ciri khas konsep pendidikan Islam. Kendati begitu, al-Ghazali tidak bermaksud mengabaikan masalah-masalah dunia. Hanya baginya urusan dunia dan kebahagiaannya hanya faktor suplementer untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang lebih utama dan abadi. Dunia adalah ladang menuju akhirat. la merupakan tempat pengembaraan dan sarana menuju kepada Allah, bukan tempat untuk menetap atau bertempat tinggal. Para penganut faham humanis-sekuler mungkin akan menolak konsepsi tentang "pengetahuan yang diwahyukan" yang menjadi dasar konsep pendidikan Islam sebagaimana digagas oleh Imam al-Ghazali. Tetapi mereka juga sulit menyangkal bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk spiritual. Konsepsi pendidikan Islam memberi dasar yang kuat bagi spiritualitas, karena sejak awal sangat disadari bahwa Sang Pendidik yang hakiki tidak lain adalah Sang Pencipta. Dalam konsep Paulo Freire seorang praktisi dan teoritisi pendidikan radikal dari Brasil, dinyatakan bahwa pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mampu menjadi kekuata penyadar dan pembebas manusia. Artinya, pendidikan harus embebaskan dan 2 menyadarkan manusia tentang adanya elemen-lernen yang menindas dalam struktur sosial. Dalam Islam, konsepsi pendidikan sebenarnya jauh lebih radikal dari itu. Konsepsi pendidikan Freire adalah dalam rangka hurnanisasi (manusia harus menjadi subyek). Menjadi subyek dalam hubungannya dengan dunia adalah memberi nama ("to narne"), dan "to name" adalah "to act" (memberi arti temporal terhadap ruang geografis dengan menciptakan kebudayaan). Dalam Islam, "to name" (yakni ketika Allah mengajarkan Adam nama-nama), tujuannya adalah agar ia sadar akan esensi ciptaan, esensi sifat Tuhan, dan hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Dan "to act"-nya adalah menjadi wakil Tuhan di muka bumi (khalifah). 3 Karena itu, sekali lagi, konsepsi dan filosofi pendidikan Islam sejak awal tidak hanya bersumber dari intelektualitas, melainkan juga spiritualitas. Dan dengan begitu, tujuan akhirnya sendiri sudah ditetapkan, yaitu Tuhan, Sang Pendidik Pertama, yang menjadi Pusat untuk mendidik, mengontrol, dan membimbing manusia. Maka tema pemerdekaan dan pembebasan dalam konsepsi pendidikan Islam bukan hanya berkonotasi struktural (sosial politik) sebagaimana dikehendaki oleh Freire dan para pendukungnya, melainkan jauh lebih luas lagi. Yaitu, memotivasi semua aspek manusiawi untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan, yang berujung pada penyerahan diri secara mutlak kepada Allah, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya. mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dj khalifahnya di 4 muka bumi, atau dengan kata yang lebih singl dan sering digunakan oleh Al-Qur'an, 'untuk bertaqwa kepadanya'". 5
Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas , edisi Indonesia Jakarta: LP3ES, 1985), h. 27. 2 Ahmad Gaus AF, "Pendidikan Yang Memerdekakan" , dalam Mingguan Hikmah Jum'at No. 25/TH.VIII/1997 (Jakarta: Raudhatul Ilmi).
Ibid . 4

3

M. Quraish Shihab , Membumikan Al-Qur'an (Bandung: Mizan, 1992), h. 173

5

2. Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Islam adalah agarna yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya ayat-ayat al-Qur'an maupun Hadits Nabi Muhammad Saw. yang menyinggung mengenai tingginya kedudukan orang yang berilmu atau ilmu pengetahuan itu sendiri di dalam Islam. Beberapa ayat al-Qur'an yang sering dikutip berkaitan dengan itu di antaranya ialah:
Surat Az-Zumar/39 ayat 9 yang artinya "Adakah sama kedudukan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu ?" Surat Al-Mujadalah/58 ayat 11 yang artinya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orangyang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." Surat Ali Imran/3 ayat 36 yang artinya "janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tentangnya kamu tidak punya pengetahuan" Surat An-Nahl/16 ayat 125 yang artinya "Serulah kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik."

Kata hikmah dalam surat An-Nahl di atas oleh para mufassir diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan. Dalam hal ini yang dimaksud adalah bahwa ketika mengajak orang kepada kebenaran Islam, hendaknya kita menggunakan argumentasi, sebab Islam merupakan agama yang rasional, yang lahir dalam sejarah yang nyata dan empirik, dalam arti tidak diselimuti oleh kabut mitos maupun dongeng. Selain ayat-ayat al-Qur'an yang dikutip di atas, dan tentu saja masih banyak ayatayat yang lain, sikap, perilaku, dan ucapan-ucapan Nabi Muhammad sendiri semasa mengemban tugas menyampaikan ajaran Islam, sangat mencerminkan kedekatan dan penghargaan beliau kepada ilmu pengetahuan. Di antara ucapan atau Hadits Nabi yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan adalah: Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi kaum Muslimin pria maupun wanita (Hadits riwayat Ibn Abd al-Barr). Sebaik-baik sedekah adalah apabila seorang Muslim mempelajari ilmu, kemudian mengajarkannya pula kepada saudara-saudaranya sesama Muslim (Hadits riwayat Ibn Majah). Keutamaan orang-orang yang berilmu di atas orang-orang yang beribadah adalah laksana bulan pada malam purnama di atas segala planet (Hadits riwayat Abu Na'am). Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah malu, dan
Lihat misalnya, Yusuf al-Qardhawi, Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah , (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991).
6

6

buahnya adalah ilmu (Hadits riwayat Bukhari). Orang-orang yang berilmu adalah pewaris para Nabi (Hadits riwayat Al-Khatib). Sebagaimana diketahui bahwa pada awal munculnya Islam hanya ada 17 orang suku Quraisy yang pandai baca tulis. Maka Nabi Muhammad Saw, menganjurkan pengikut-pengikutnya untuk belajar membaca dan menulis, sebagai kunci ilmu pengetahuan. Tak terkecuali 'Aisyah, istrinya, pun belajar membaca dan menulis. Juga anak angkatnya Zaid ibn Tsabit disuruhnya belajar tulisan Ibrani dan Suryani. Budakbudak belian dan tawanan perang pun dibebaskan dengan syarat mereka sanggup mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh orang Muslim. 7 Dalam perang Badar banyak penduduk Makkah yang jatuh ke dalam tawanan kaum Muslimin.Para tawanan itu telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengajari bacatulis kepada orang-orang Islam, sebagai penebus diri mereka. Semua itu menunjukkan perhatian Nabi Muhammad Saw., yang sangat tinggi kepada ilmu pengetahuan sebagai pelaksanaan dari perintah Allah SWT. Dalam suratThaha/20 ayat 114 dinyatakan bahwa Nabi Muhammad meskipun telah mencapai puncak segala puncak masih tetap diperintahkan selalu berdoa dan berusaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dari penjelasan di atas tampak bahwa Al-Qur'an tidak hanya menekankan pentingnya belajar, tapi juga pentingnya mengajar. Dalam surat al-'Ashr ditegaskan bahwa semua orang merugi kecuali yang melaksanakan empat hal, salah satunya ialah saling wasiat-mewasiati (ajar-mengajar) tentang al-haqq (kebenaran). Ilmu pengetahuan adalah kebenaran. Rugilah orang yang tidak mengajarkan kebenaran yang diketahuinya. 8 Berbagai keterangan baik dari Al-Qur'an maupun Hadits Nabi berkenaan dengan pentingnya ilmu pengetahuan, menjadi semacam penopang bagi umat Islam untuk mengembangkan dan merintis ilmu-ilmu pengetahuan yang kelak menjadi sendi bangunan peradaban, baik yang muncul di dunia Islam (zaman Abbasiyah) maupun yang kelak dilanjutkan di dunia Barat. Berkaitan dengan ini, menarik pernyataan S.I. Poeradisastra bahwa, ilmu pengetahuan dan teknologi modern lahir dari kandungan Islam. Islamlah yang menemukan metoda ilmiah, yakni metoda empirik induktif dan percobaan yang menjadi kunci pembuka rahasia-rahasia alam semesta, yang menjadi perintis modernisasi Eropa dan Amerika. 9

3. Lembaga Pendidikan Islam di Masa Awal
Sejak Nabi Muhammad Saw., mendapat wahyu dari, SWT, ayat-ayat al-Qur'an dan penafsirannya merupakan mate pengajaran yang sangat penting. Karena itu, beliau melal tugasnya disetiap kesempatan yang memungkinkan baginya untuk menyampaikan risalahnya. Nabi Saw., ketika itu memar menghadapi kenyataan bahwa risalah yang akan
S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern (Jakarta: P3M, 1981), h. 8. M. Quraish Shihab, op. cit ., h. 178 . 8 S.I. Poeradisastra, op. cit ., h. 7. 9
7

disampaikan terhadang oleh adat-istiadat dan kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah kaumnya, yang dalam banyak hal bahkan bertentanga dengan wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Nabi Saw., akhirnya menyusun strategi. Pertama-tama beliau menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Ada kalanya beliau menyampaikan dakwah di perjalanan, tapi kerapkali juga dikediamannya; adakalanya dakwah Islam disampaikan kepada orang perorangan, tapi kalau situasj memungkinkan beliau juga tampil di hadapan jamaah. Orang yang pertamakali menyambut seruan Nabi Saw., adalah istri beliaul sendiri, Siti Khadijah, kemudian disusul oleh Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shidiq, kemudian beliau menyeru yang lainnya kepada Islam. Dakwah secara sembunyisembunyi (sirriyah) ini berlangsung selama tiga tahun. Pada periode ini, Nabi Saw. menggunakan Darul Arqam (rumah kediaman sahabat, al-Arqam bin Abi Al-Arqam r.a.) sebagai tempat pertemuan dengan para sahabatnya. Praktek belajar-mengajar yang dilakukan Nabi Saw. ketika itu, menurut Muhammad Raf'at Sa'id, betul-betul sudah terorganisir dengan rapi, sesuai dengan target yang hendak dicapai terhadap peserta didik. Jadi bukan hanya sekadar pemahaman, hafalan, dan pelaksanaan, tetapi lebih dari itu untuk melahirkan kader-kader pendidik. Karena itu 10 setelah tiga tahun digembleng secara sembunyi-sembunyi, maka di masa-masa berikutnya para sahabat itu sudah tumbuh menjadi kader-kader pendidik andalan Nabi Saw., yang kelak mendampingi beliau dalam menyampaikan risalah Islam secara terang-terangan. Mencermati proses belajar-mengajar yang berlangsung di Darul Arqam, yang menurut Said sudah berlangsung secara sistematis, dan telah menggariskan tujuannya dengan jelas, yaitu mendidik kader, maka kiranya tidak berlebihan jika Said berpendapat bahwa Darul Arqam itulah yang merupakan "lembaga pendidikan Islam" pertama yang diselenggarakan di kota Mekkah. Tetapi tentu saja Darul Arqam tidak bisa dikatakan 11 sebagai lembaga pendidikan Islam dalam arti yang sebenarnya, sebab yang disebut lembaga tentunya keberadaannya telah mapan dan mantap di tengah-tengah masyarakat, padahal Darul Arqam hanya merupakan rumah seorang sahabat bernama al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a. yang digunakan oleh Nabi Saw., untuk menyampaikan ayat-ayat alQur'an dan mengajarkan agama kepada para pengikutnya, ketika situasinya tidak memungkinkan untuk menyampakan hal tersebut di muka umum. Bahkan ketika Nabi Saw., mulai melakukan dakwahnya secara terang-terangan, sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Hijr ayat 94, apa yang disebut Lembaga Pendidikan Islam dalam arti formal belum tumbuh secara ajeg. Alasannya karena kaum Muslim pengikut Nabi yang jumlahnya belum banyak ketika itu kerapkali menghadapi berbagai macam siksaan dari orang-orang kafir Quraisy.

Muhammad Ra'fat Said, Rasulullah SAW. Profil Seorang Pendidik: Methodologi Pendidikan dan 10 Pengajarannya, esidi Indonesia Jakarta: Firdaus, 1994), h. 93. Sebenarnya Said menggunakan is tilah "madrasah", tetapi sebagaimana kita tahu bahwa lembaga pendidikan model madrasah di dunia Islam belum ada pada zaman Nabi dan para sahabat, madrasah baru lahir pada abad ke-4 H. Ibid., h. 108 . 11

Lembaga pendidikan Islam yang bersifat semi-formal atau hampir mendekati ciriciri sebuah lembaga formal, karena memiliki metodologi pengajaran dan jadwal yang tetap, baru tumbuh seiring dengan perkembangan dakwah Islam yang mulai memperoleh sambutan relatif luas, yaitu di Madinah. Di antara para sahabat Nabi yang memeluk Islam setelah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq, ialah Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidilah, Arqam bin Abi al-Arqam, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Fatimah binti Khattab dan suaminya Sa'id bin Zaid, dan beberapa sahabat lainnya. Merekalah "murid-murid" Nabi Saw., pertama yang memperoleh pendidikan di Darul Arqam. Mereka pula yang menjadi guru-guru pertama, setelah Nabi Saw. sendiri, dalam sejarah Islam. Dengan merekalah biasanya Nabi Saw. menetapkan waktu-waktu tertentu untuk mengadakan pertemuan dalam rangka menyampaikan pelajaran di rumah-rumah para sahabat secara bergantian. Itulah yang dikenal dengan majlis atau lingkaran-lingkaran belajar (halaqah dars). Dengan kata lain, majlis atau halaqah merupakan perkembangan berikutnya dari lembaga pendidikan Islam yang mulai menampakkan sosoknya dengan jelas, meskipun belum permanen. Ketika jumlah kaum Muslimin ini mulai banyak, kebutuhan untuk belajar membaca dan menulis muncul sejalan dengan kebutuhan kaum Muslim untuk memahami dan mendalami ayat-ayat al-Qur'an. Maka pada fase berikutnya muncullah apa yang kemudian dikenal sebagai kuttab , sebuah lembaga pengajaran al-Qur'an untuk tingkat dasar. Di samping itu, rumah terutama rumah orang alim juga digunakan sebagai tempat belajar. Dan ketika masjid mulai didirikan, umat Islam tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Masjid juga digunakan untuk proses belajar mengajar. Ruangan mesjid pun segera dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya halaqah-halaqah al-dras . Dalam perjalanan sejarah Islam yang panjang itu, para peneliti sejarah pendidikan Islam mencatat nama-nama lembaga pendidikan yang pernah muncul dalam sejarah Islam di masa Idasik dan telah memberi jasa besar bagi perkembangan intelektual dalam Islam. Lembaga-lembaga pendidikan itu di antaranya adalah seperti Dar al-Hikmah, al- Khan at, al-Bimaristan, ar- Ribath , dan lain-lain. Dalam perkembangannya, akhirnya muncul lembaga pendidikan yang tertata rapih dan proses pendidikan dan pengajarannya berlangsung secara lebih sistematis. Inilah yang disebut Madrasah , lembaga pendidikan yang dapat dikatakan sebagai puncak dari perkembangan lembaga pendidikan, tempat proses belajar-mengajar berlangsung dalam Islam. Secara sepintas, lembaga-lembaga pendidikan yang pernah muncul mendahului berdirinya Madrasah dalam sejarah Islam itu akan dijelaskan satu persatu secara berurutan, sedangkan mengenai Madrasah akan dijelaskan pada bagian tersendiri.

a. Masjid
Secara harfiah, "masjid" berarti "tempat sujud", dari akar kata " sajada " yang artinya "bersujud". Dalam sejarah Islam, masjid memiliki fungsi yang sangat luas, bukan hanya tempat bersujud dalam arti ibadah semata seperti shalat dan i'tikaf, tetapi juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Ketika Nabi Saw. hijrah dari Mekah ke Madinah, yang pertama beliau bangun adalah masjid, yaitu masjid Quba' ketika beliau masih dalam perjalanan dan Masjid Nabawi ketika beliau telah tiba di madinah. Nabi Saw. tampaknya sangat menyadari bahwa masjid akan menjadi modal utama dalam melanjutkan misi dakwahnya di Madinah, untuk membangun masyarakat yang beradab. Masjid Nabawi merupakan tonggak sejarah amat penting bagi umat Islam. Di Masjid Nabawi itulah Nabi Saw. melaksanakan seluruh misi beliau dari mulai mengajar, latihan militer, diplomasi, musyawarah, dan seterusnya. Dengan kata lain, Nabi Saw. 12 telah mencontohkan bagaimana sebuah masjid bisa bersifat multifungsi dan menjadi bagian penting dari pranata masyarakat Islam. Bahkan pada masa-masa lebih belakangan, ketika ruangan masjid tidak lagi memadai untuk kebutuhan kegiatankegiatan yang semakin beragam itu, maka untuk kebutuhan itu kaum muslimin mendirikan bangunan-bangunan tambahan di samping masjid, seperti lembaga pendidikan, termasuk di antaranya Madrasah , sebagaimana akan kita bahas berikut. Sejalan dengan penyebaran agama Islam ke seluruh negeri Arab, maka pembangunan masjid pun menyebar ke berbagai pelosok negeri tersebut. Sama dengan Masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasululah dan para sahabat di Madinah, masjid yang tersebar di berbagai pelosok itu pun difungsikan untuk berbagai kegiatan keislaman dari mulai belajar sampai musya-warah, di samping fungsi utamanya sebagai tempat beribadah. Kegiatan belajar-mengajar yang begitu menonjol di dalam masjid merupakan akibat logis dari banyaknya para penuntut ilmu atau pelajar yang haus pengetahuan. Asma Hasan Fahmi membagi para pelajar itu ke dalam dua kategori. 13 Pertama, murid-murid yang terdaftar di situ untuk belajar. Mereka ini senantiasa belajar di sana sampai mereka menamatkan pelajaran dan memperoleh ijazah dari guru. Mereka belajar di sana sepanjang hari untuk beberapa tahun. Kedua, pelajar-pelajar pendengar yang tidak terdaftar ( mustami' ). Mereka ini pergi ke sana untuk mendengar beberapa mata pelajaran, seperti orang yang pergi mendengar ceramah umum tanpa terikat dengan kurikulum pelajaran tertentu. Cara belajar di dalam masjid itu tergolong unik bila dilihat dari kacamata sekarang. Para guru atau pengajar mengambil tempat tersendiri di dalam ruangan masjid. Para murid duduk di atas lantai atau tikar mengelilingi sang guru, sehingga terciptalah lingkaran-lingkaran atau halaqah. Banyaknya halaqah di dalam suatu; masjid tergantung pada besarnya masjid. Semakin besar sebuah masjid biasanya semakin banyak terdapat
Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 34. 12 Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Fihafat Pendidikan Islam, edisi Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1979),h. 35-36.
13

halaqah di dalamnya. Masjid yang besar biasa disebut Jami', karena digunakan untuk shalat Jum'at. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah tersebut, masjid dan jami' juga digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan Islam. Berbeda dengan masa tumbuhnya kuttab baik di dalam maupun di luar masjid, para pengajar dalam sistern halaqah ini dalam perkembanganya mulai ada yang memperoleh gaji yang diambil dari harta wakaf yang diserahkan kepada dan dikelola oleh pengurus masjid. Meskipun demikian ada juga pengajar yang tidak mau menerima gaji, mereka hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT. Sementara itu, para pelajar tidak dipungut bayaran, bahkan dalam banyak hal mereka mendapat hadiah atau pemberian. Memang ada beberapa masjid yang memungut bayaran dari siswa sebagai biaya pendidikan, misalnya masjid-masjid di Andalus di awal masa Islamnya. Hal ini bisa dipahami karena menurut suatu pendapat di negeri Andalus masjid merupakan satu-satunya lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu. Negeri itu pada masa itu tidak mengenal Madrasah , duwar al-'ilm , dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. 14 Akan halnya harta wakaf yang diserahkan kepada masjid yang kemudian dikelola untuk biaya pendidikan, biasanya berasal dari umat Islam sendiri dan orang-orang tua murid yang anaknya menuntut ilmu di masjid tersebut. Besarnya pemberian tidak ditentukan, karena memang bukan dimaksudkan sebagai biaya administrasi pendidikan. Meskipun terdapat penguasa yang menafkahkan hartanya untuk biaya pendidikan di masjid, tetapi sifatnya tidak mengikat, karena masjid tidak memiliki sangkut paut dengan kekuasaan. Terlepas dari tidak adanya hubungan langsung antara masjid dengan kekuasaan, karena masjid merupakan tempat pendidikan, maka tidak jarang para penguasa merekrut pegawai dari masjid untuk dipekerjakan di kantor pemerintahan. Melihat antusiasme umat Islam dalam memanfaatkan masjid sebagai tempat untuk menuntut ilmu, ditambah lagi dengan pesatnya pembangunan masjid-masjid baik yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat maupun yang dibangun oleh penguasa, maka bisa dimengerti kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa masjid merupakan simbol kejayaan pendidikan Islam sejak masa Nabi Saw., sampai dua abad berikutnya. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa dalam perkembangannya selama dua abad pertama setelah kebangkitan Islam, masjid hanya menjadi tempat untuk belajar ilmu-ilmu agama. Pengajaran ilmu pengetahuan umum dan filsafat di dalam masjid, sebagaimana telah dijelaskan di bagian terdahulu, telah menim-bulkan konflik atau pertentangan pendapat. Adanya pandangan yang ingin membebaskan masjid dari beban-beban " sekuler " itu, menambah sulit untuk mencari titik temu antara tujuan pendidikan dengan tujuan agama. Ditambah lagi alasan bahwa kian semaraknya pendidikan yang diselenggarakan di masjid, membuat masjid menjadi hiruk-pikuk, sehingga mengganggu ketenangan dan kekhusukan orang beribadah. Alasan inilah yang kemudian melahirkan gagasan mendirikan lembaga pendidikan di luar masjid yang bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Lembaga pendidikan dimaksud di antaranya adalah Madrasah .
Ibid., h. 37
14

b. Kuttab
Kuttab secara harfiah berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis. Tapi secara istilah kuttab berarti tempat untuk belajar menulis dan membaca pada tingkat dasar. Para sahabat Nabi Saw., yang pandai baca tulis memanfaatkan lembaga kuttab itu untuk keperluan mengajarkan ketrampilan menulis dan membaca ayat-ayat al-Qur'an kepada anak-anak. Dengan demikian, kuttab di masa awal Islam oleh para sahabat dimanfaatkan untuk mengajarkan tulis baca ayat-ayat al-Qur'an. Dalam kisah diceritakan bahwa Rasullulah SAW. memerintahkan Al-Hakam bin Said untuk mengajarkan alQuran dan tulis baca pada sebuah kuttab di Madinah. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan jenis kuttab ini telah menjadi perhatian Rasulullah untuk menunjang keberhasilan dakwahnya. Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. Setelah Nabi Saw. dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan si anak. Anak yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru. Perkembangan lembaga pendidikan jenis kuttab ini sejalan dengan perkembangan dan penyebaran agama Islam. Pada akhir abad pertama Hijriyah mulai berdiri kuttab kuttab yang tidak hanya mengajarkan tulis-baca al-Qur'an tapi juga pokok-pokok ajaran agama. Kuttab jenis ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses belajarmengajar di masjid yang sifatnya umum (bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa, dan tidak hanya mengajarkan baca-tulis al-Quran namun juga ajaranajaran Islam). Tapi karena anak-anak tidak bisa menjaga kebersihan dan kesucian masjid maka kemudian mereka dilokalisir di tempat yang khusus di samping masjid dengan materi pengajaran yang sama, yaitu pokok-pokok ajaran Islam. Sejak itu berkembanglah kuttab menjadi lembaga pendidikan Islam yang bersifat formal. Sampai pada abad ke-2 H, lembaga kuttab ini semakin banyak didirikan oleh kaum Muslimin atas prakarsa mereka sendiri, dalam arti lepas dari campur tangan pemerintah. Di masa ini pula kuttab tersebar merata di setiap negeri, sehingga karakteristik kuttab sebagai lembaga pendidikan yang terbuka sangat menonjol, dalam arti siapa saja bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan Islam. Orang kaya dan miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar di kuttab . Hal ini terjadi karena kuttab tidak dikomersialisasikan. Para pengajar pun pada umumnya tidak mencari penghidupan di kuttab , mereka mengajar secara ikhlas. Memang ada di antara mereka yang menerima upah, tapi umumnya tidak seberapa memberatkan. Singkatnya, pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan model kuttab mengalami kemajuan pesat karena didukung oleh semangat kaum Muslim dalam menyebarkan agama Islam. Sejarah mencatat bahwa tradisi tulis baca di kalangan kaum

Muslim yang ditanamkan melalui kuttab ini telah berjasa dalam mentransfer berbagai ilmu pengetahuan sehingga generasi Islam berikutnya dapat mengenal ajaran-ajaran Islam secara lebih baik.

c. Rumah Ulama
Di masa awal perkembangan agama Islam, rumah orang alim telah digunakan untuk belajar agama. Di masa Nabi Saw. menyampaikan risalah Islam, rumah para sahabat sering digunakan oleh Nabi untuk berkumpul dalam rangka menga-jarkan Islam. Rumah juga menjadi tempat menyampaikan ajaran Islam secara relatif aman, terutama dalam tiga tahun pertama dakwah Nabi, karena kondisi saat itu belum memungkinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Kedengarannya memang agak musykil untuk memasukkan atau menganggap rumah sebagai lembaga pendidikan. Tetapi dalam banyak hal, rumah justru menjadi lembaga pendidikan alternatif ketika di lembaga lain proses pendidikan tidak bisa dilaksanakan karena satu dan lain hal. Alasan keamanan seperti yang terjadi di masa Nabi dan para sahabat, sehingga mereka menggunakan rumah untuk sarana pendidikan, hanya satu contoh saja. Contoh lainnya cukup banyak dibeberkan dalam sejarah. Misalnya, ketika muncul dikotomi ilmu-ilmu agama dengan pengetahuan umum, dan mulai muncul kecenderungan untuk memusuhi bahkan melarang pengetahuan umum diajarkan di lembaga pendidikan yang terbuka, maka rumah ulama menjadi rumpuan harapan. Hal itu terjadi, misalnya, pada kasus ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan filsafat dan ilmu pengetahuan. Apakah kemudian filsafat dan ilmu pengetahuan menjadi mati di dunia Islam? Ternyata tidak. Sebab orang-orang yang menghargai ilmu pengetahuan, apapun jenisnya, tetap mempelajari dan menekuni ilmu tersebut meskipun harus secara sembunyi-sembunyi, yaitu di rumah-rumah ulama yang bersedia untuk mengajarkannya kepada mereka. Tatkala lembaga-lembaga pendidikan sedikit atau banyak diintervensi oleh penguasa, kesempatan yang tersedia untuk belajar dan mengajar di lembaga pendidikan tidak selalu sama. Bisa terjadi seorang ulama tidak diperkenankan mengajar di lembagalembaga pendidikan yang terbuka, baik karena perbe-daan faham keagamaan maupun karena persoalan politik. Maka pada saat itulah sang ulama menjadikan rumah kediamannya sendiri sebagai lembaga pendidikan. Masih banyak contoh lain bisa disebut. Tapi itu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa rumah pada masanya telah memainkan peranan yang tidak kecil dalam proses belajar-mengajar dan bahkan memelihara tradisi keilmuan. Bisa dibayangkan kalau "kematian" filsafat dan ilmu pengetahuan umum di lembaga-lembaga pendidikan terbuka tidak "dihidup-kan" lagi oleh para ulama yang mengajarkannya di rumah-rumah mereka. Hal itu menunjukkan bahwa rumah ulama telah menjadi lembaga pendidikan tersendiri dalam sejarah Islam, terlepas dari berbagai keterbatasannya.

d. Halaqah al-dars
Halaqah al-dars (biasa disebut halaqah saja) atau "lingkaran belajar", termasuk lembaga pendidikan Islam yang cukup dikenal sebelum lahirnya adrasah. Sebagian ahli bahkan mengatakan; bahwa halaqah masih ada dan dilangsungkan meskipun Madrasah . telah bermunculan di dunia Islam. Malah ada yang mengatakan bahwa Halaqah al-dars juga sering dilangsungkan di Madrasah . Sebelum kemunculan Madrasah , kegiatan Halaqah al-dars biasanya berlangsung di masjid-masjid atau rumah-rumah. Karena itu ada perdebatan apakah Halaqah al-dars cukup absah untuk disebut sebagai lembaga pendidikan, atau cukup disebut sebagai metode pengajaran saja. Asma Hasan Fahmi tidak ragu-ragu memasukkan Halaqah aldars ini sebagai lembaga pendidikan. Dia beralasan bahwa pendidikan Islam sebenarnya merupakan sesuatu yang bersifat mudah dan fleksibel. Artinya, ia tidak harus 15 diselenggarakan di suatu tempat tertentu dan khusus, atau di sebuah bangunan yang permanen. Tampaknya, bagi Asma Hasan Fahmi, sepanjang sebuah majlis memenuhi kriteria ilmiah, maka ia sudah bisa disebut sebagai lembaga pendidikan. Halaqah al-dars , menurutnya, telah memenuhi kriteria tersebut. Asma Hasan Fahmi menyatakan bahwa diskusi-diskusi ilmiah yang diselenggarakan di rumah-rumah para ulama, istana raja-raja, dan para pembesar adalah Halaqah al-dars yang cukup representatif. Lebih-lebih lagi apabila diskusi-diskusi itu juga menghadirkan orang-orang ternama dan para pemuka masyarakat seperti kalangan ulama, sastrawan, ahli logika, dokter, dan lain-lain. Perbedaan antara Halaqah al-dars dengan "rumah ulama" yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah bahwa "rumah ulama" lebih bermuatan pengajaran, dalam arti bahwa di situ ada murid yang belajar, dan ada guru atau pemilik rumah yang mengajar. Sedangkan Halaqah al-dars lebih merupakan pertemuan ilmiah antara orang-orang pandai. Asma Hasan Fahmi menyebut contoh bagaimana kedudukan ilmu manthiq diperdebatkan secara berbobot dalam suatu Halaqah al-dars yang dipandu oleh Ibn alFurat. Dilihat dari materi pengajarannya, halaqah tidak sama dengan kuttab. Kalau kuttab dapat dikategorikan sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar, maka halaqah dapat disebut sebagai lembaga pendidikan tingkat lanjutan yang setingkat dengan college . Keempat lembaga pendidikan Islam disebut di atas merupakan lembaga pendidikan yang sangat awal dan dengan cepat sekali perkembangannya. Keempatnya sudah berdiri dan tersebar pada masa al-Khulafa' al-Rasyidun dan Bani Umayyah. Melalui lembaga pendidikan seperti inilah untuk pertama kalinya ilmu hadits, ilmu tafsir, dan fikih berkembang di kalangan para sahabat, tabi'in (generasi setelah sahabat), dan atba' altabi'in (generasi setelah tabi'in). Dengan melalui empat lembaga pendidikan itu telah lahir para ulama besar Islam
Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam , edisi Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 40.
15

dari kalangan sahabat, tabi'in dan atba' al-tabi'in, yang merupakan cikal bakal atau yang di masa kemudian melahirkan aliran-aliran pemikiran dalam Islam.Yang terkenal di antaranya belangsung di kota Makkah, Madinah, Basrah, Kuffah, Damaskus, dan Fustat.

1) Di Makkah
Di antara proses belajar-mengajar atau pendidikan Islam pertama di Makkah adalah pendidikan yang dilakukan oleh Abdullah ibn Abbas pada tahun 16 H (634 M). Dalam menjalankan pendidikan ini, dia dibantu oleh Mu'adz ibn Jabal. Pendidikannya sendiri berlangsung di kuttab , rumah sahabat, dan masjid. Beberapa materi pelajaran yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut di antaranya adalah apa yang dewasa ini dikenal dengan tafsir, hadits, dirayah hadits, dan sastra. Melalui lembaga pendidikan ini telah lahir beberapa ulama terkenal, di antaranya Mujahid ibn Jabbar (ahli tafsir AlQur'an), Atha' ibn Abi Rabah (yang mengembangkan pengetahuan agama lewat kitabkitab fiqh), dan Thawus ibn Kaisan (seorang mufti [pemberi fatwa] di Makkah). Mereka ini dapat dikatakan sebagai ulama generasi kedua yang berjasa mengembangkan pendidikan di Makkah pada masa berikutnya. Adapun ulama generasi ketiga yang rerkenal adalah Sufyan ibn Uyainah dan Muslim ibn Khalid Al-Zanji. Imam Syafi'i, pengarang kitab fiqh terkenal "al-Umm" dan pendiri mazhab Syafi'i, pernah menimba ilmu di Makkah, sebelum belajar di Madinah.

2) Di Madinah
Lembaga pendidikan Islam di Madinah sudah ada dan berlangsung sejak Rasulullah Saw. dan para sahabat hijrah dari Makkah ke kota yang semula bernamaYatsrib itu. Masjid adalah salah satu yang terpenting dari lembaga yang digunakan oleh Nabi Saw. dalam proses pendidikan tersebut. Setelah beliau wafat, fungsi masjid sebagai lembaga pendidikan itu diteruskan oleh para sahabat. Kuttab dan rumah-rumah para sahabat pun masih tetap digunakan untuk menyampaikan pelajaran Islam. Di antara para sahabat yang meneruskan pendidikan Islam itu ialah Abu Bakar al-Shiddiq, Umar ibn Khattab, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit, dan Abdullah ibn Umar. Pengajaran al-Qur'an dan tafsir berkembang pesat ditandai dengan terbitnya al-Qur'an hasil tulisan tangan para murid yang dipimpin oleh Zaid ibn Tsabit. Abdullah ibn Umar tampaknya sangat memusatkan pengajarannya pada bidang apa yang kemudian dikenal dengan hadits dan fiqh karena beliau adalah ahlinya dan dianggap sebagai pelopor mazhab Ahl al-Hadits yang berkembang pesat pada masa sesudahnya. Setelah para sahabat dan ulama Madinah generasi pertama wafat, para pengganti mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan adalah Sa'ad bin Musayyab dan Urwah bin alZubair bin al-A\vwan. Kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya yaitu seorang ahli hadits dan fiqh, yaitu ibn Syihab al-Zuhri.

Kebanyakan kegiatan belajar mengajar di Madinah dilakukan di masjid-masjid, kuttab, dan rumah-rumah sahabat, seperti masa Rasullulah.

3) Di Basrah
Seperti di Makkah dan Aladinah, proses pendidikan dan pengajaran Islam di Basrah pertama-tama pada masa awal kebangkitan Islam memanfaatkan masjid dan rumahrumah ulama. Proses pendidikan dan pengajaran di Basrah itu dipelopori oleh Abu Musa al- Asy'ari dan Anas bin Malik, atas usulan Ali bin Abi Thalib. Kedua orang ini merupakan generasi pertama. Keduanya terkenal sebagai ahli Fiqh, Hadits dan Ilm alQuran. Tidak heran kalau ilmu-ilmu tersebut cukup dominan di Basrah. Dua ulama terkenal yang pernah dibesarkan oleh Abu Musa al-Asy'ari dan Anas ibn Malik adalah Hasan al-Basri dan Ibn Sirin, dua ulama terkenal di awal abad ke-2 H. Hasan al-Basri disebut-sebut sebagai perintis dan pemberi jalan bagi perkembangan Mazhab Ahl AlSunnah dalam bidang Ilmu Kalam. Ibn Sirin adalah seorang ahli Hadits dan Fiqh. Dia pernah belajar secara langsung dari Zaid bin Tsabit dan Anas bin Malik. Selain ilmu-ilmu keagamaan seperti fiqh, tafsir, dan ilmu al-Qur'an, pada masa yang agak belakangan ilmu lain seperti sejarah, retorika, dan logika, juga banyak diajarkan di Basrah. Proses pendidikan dan pengajaran di Basrah berkembang pesat sejalan dengan kemajuan peradaban Islam di wilayah ArabTengah, dan banyak terpengaruh oleh perkembangan peradaban Islam di Irak dan Mesir.

4) Di Kufah
Ketika terjadi peperangan di Kufah, Umar bin Khattab, yang ketika itu menduduki jabatan khalifah, mengutus Ali bin Abi Thalib untuk memadamkan api peperangan di kota tersebut dengan perdamaian. Salah satu hasil yang dicapai dalam perdamaian itu adalah dibentuknya majlis pendidikan untuk mengajarkan agama Islam. Guru pertama dan utama yang ditugaskan menjalankan proses pendidikan dan pengajaran itu adalah Abdullah Ibn Mas'ud, seorang sahabat yang dikenal sebagai ahli fiqih dan ahli tafsir. Dia sendiri memberikan mata pelajaran al-Qur'an. Dalam menjalankan tugasnya, Abdullah bin Mas'ud ditemani oleh enam ulama besar, yaitu: 'Alqamah, al-Aswad, Masruq, 'Ubaidah, al-Harits bin Qais dan 'Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang kemudian menggantikan Abdullah Ibn Mas'ud dan mengembangkan majlis pendidikan di Kufah. Mereka berhasil mengembangkan lembaga pendidikan tersebut setelah mengadakan studi banding ke Madinah dan Makkah. Namanama lain yang pernah terlibat dalam pendidikan di Kufah adalah Abu Musa al-Asy'ari, Syuraih, Sya'bi, Nakha'i, Sa'id bin Zubair, Nu'man, dan Abu Hanifah.

5) Di Damaskus (Syiria)
Masih pada zaman Umar bin Khattab, ketika Islam sudah mulai mengembangkan sayap kekuasaannya sampai ke Syria (Syam), pengajaran Al-Quran secara berkala dimulai di mesjid-mesjid dan rumah-rumah. Itulah awal lembaga pendidikan Islam di

sana. Para pengajar didatangkan oleh Umar dari Madinah. Tiga orang guru agama sudah memainkan perananannya pada masa itu yaitu: Mu'az bin Jabal, 'Ubadah dan Abu Darda'. Ketiga orang tersebut kemudian bersepakat mendirikan sebuah lembaga pendidikan baru yang lebih formal untuk menampung murid yang kian hari makin bertambah. Di lembaga baru tersebut bahan pengajaran yang pertama disampaikan adalah al-Quran. Lembaga pendidikan serupa ini kemudian menyebar sampai ke Palestina, Maghrib dan Andalusia, terutama setelah naiknya Bani Umayyah ke panggung politik Islam. Setelah tiga ulama yang sekaligus merupakan guru pertama di Damaskus itu, proses pendidikan dan pengajaran ditangani oleh ulama generasi kedua, yaitu Abu Idris alKhailani, Makhul al-Dimasyqi, Umar bin Abd al-'Aziz dan Razak bin Haiwah. Proses pendidikan di Damaskus telah pula melahirkan ulama besar semisal Abdurrahman AlAuza'iy yang dinilai oleh banyak ulama mutakhir bahwa ilmunya sederajat dengan Imam Malik dan Abu Hanifah. Mazhabnya tersebar sampai ke Andalusia walau kemudian padam akibat pengaruh Mazhab Syafi'i dan Maliki.

6) Di Fustat (Mesir)
Proses pendidikan dan pengajaran Islam di Mesir dimulai oleh Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, pahlawan Islam yang menaklukan negeri Mesir pada masa khalifah Umar bin Khath-thab. Proses pendidikan dan pengajaran ini semakin intensif setelah Mesir mengalami islamisasi dan masjid-masjid mulai banyak didirikan. Lebih-lebih lagi setelah Mesir menjadi propinsi negara Islam yang berpusat di Madinah. Ibukotanya ketika itu adalah Fustat, sebuah kota baru yang dibangun tentara Islam di pinggiran Mesir. Sekarang kota itu lebih dikenal sebagai Mesir Lama (Kuno). Setelah beberapa lama Abdullah bin 'Amr al-'Ash menjalankan tugasnya, datang seorang ulama yang ikut berpartisipasi dalam proses pendidikan dan pengajaran di masjid-masjid. Ulama tersebut adalah Yazid bin Abi Habib al-Nubi, yang ahli dalam bidang fiqh. Keahliannya itu sangat dirasakan manfaatnya karena pada saat itu dalam masyarakat telah banyak muncul persoalan yang berkaitan dengan hukum. Yazid dibantu oleh guru yang datang kemudian yaitu Abdullah bin Abi Ja'far bin Rabi'ah yang ikut pula memberikan pelajaran tentang ilmu sastra dan ilrnu sosial. Menurut al-Qatiri, pendidikan dan pengajaran yang berlangsung di masjid-masjid itu merupakan awal dari proses terbentuknya kuttab dan halaqah di Mesir. Seperti diketahui, universitas Islam Al-Azhar yang didirikan pada tahun 970 M di Kairo berawal dari sebuah mesjid yang dibangun oleh Jauhar al-Katib al-Siqilli, seorang panglima perang Dinasti Fatimiyah. Belakangan, mesjid ini dikembangkan untuk tempat melakukan propaganda ajaran Syi'ah dan lambang kepemimpinan spiritual umat Islam. Karena banyaknya orang yang belajar dan ingin berdiskusi ke masjid ini maka fungsinya kemudian diperbesar. 4. Lembaga Pendidikan di Masa Abbasiyah sebelum Lahir-nya Madrasah Keempat bentuk lembaga pendidikan Islam yang mulai tumbuh dan berkembang di

masa awal Islam, yaitu pada masa al-Khulafa' al-Rasyidun dan Bani Umayyah, tersebut di atas itu terus berkembang dan berlanjut pada masa-masa sesudah, bahkan masih dapat dilihat dan diamati pada sekarang ini. Namun, pada masa Abbasiyah (750 - 1258 M) lembaga-lembaga pendidikan Islam semakin berkembang dan muncul dalam bentuk yang semakin beragam. Hal itu sejalan dengan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam, menyusul keberhasilan gerakan penerjemahan yang sangat menentukan perkembangan ilmu-ilmu rasional dalam Islam. Sebelum berdirinya Madrasah , puncak perkembangan lembaga pendidikan dalam Islam, pada masa Bani Abbas telah tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk baru lembaga pendidikan, di antaranya adalah daur alkutub (perpustakaan), observatorium dan rumah sakit, masjid khan , dan ribath . Kalau daur al-kutub , observatorium dan rumah sakit menjadi tempat pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu rasional (istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada ilmu-ilmu umum), maka masjid khan dan ribath adalah tempat yang digunakan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu keagamaan Islam.

a. Daur al-Kutub (Perpustakaan)
Duwar al-kutub atau perpustakaan telah memainkan peranan sangat penting sebagai lembaga pendidikan. Daur al-kutub bukan hanya merupakan tempat kumpulan buku, tapi juga berfungsi sebagai sarana belajar, saling tukar informasi, dan berdiskusi. Dalam sejarah Islam masa klasik, perpustakaan banyak didirikan baik oleh perorangan, masyarakat, maupun oleh pemerintah. Para khalifah, gubernur dan penguasa lokal pada masa Dinasti Abbasiyah, dalam rangka membina pemikiran dan ilmu pengetahuan, mendirikan bangunan khusus yang biasanya dinamakan dengan bait al-hikmah atau khiza'nah al-hikmah atau shawawin alhikmah. Pada dasarnya, lembaga bait al-hikmah di atas berfungsi sebagai perpustakaan (daur al-kutub}, yang tampaknya juga aktif di sana para guru, para ilmuwan, di samp ing aktivitas penterjemahan, penulisan naskah, dan penjilidannya. 16 Bait al-Hikmah yang pertama adalah bait al-hikmah yang didirikan oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Bait al-hikmah ini didirikan pertama kali oleh Abu Ja'far alManshur (135-157 H/ 752-774 M). Aktivitasnya terus menanjak dan menjadi sangat terkenal pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid dan al-Ma'mun, ketika lembaga ini juga berfungsi sebagai tempat pengajaran. Termasuk Bait al-hikmah yang terkenal adalah bait al-hikmah yang terdapat di Qairawan. Disebutkan bahwa bait al-hikmah ini didirikan oleh Ziadatullah III al-Aghlabi (290-296 H), gubernur Dinasti Abbasiyah yang berkedudukan di Afrika Utara. Di lembaga bait al-hikmah di Qairawan ini terdapat perpustakaan dan tempat dilakukannya aktivitas penterjemahan, karang mengarang, tempat pengajaran ilmu kedokteran, apoteker, matemiatika, astronomi, ilmu ukur, ilmu tumbuh-tumbuhan, musik, dan lain
Hasan al-Basya, Dirasatfi al-Hadharah al-Islamiyah , (Kairo: Bar al-Nahdhah al-'Arabiyyah, 16 1975), h. 99; Lihat juga Abu Hasan 'Ali ibn 'Ali al-Mas'udi, Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jawhar , Penyunting Muhammad Muhy al-Din 'Abd al-Hamid, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1973), h. 283.

sebagainya.

17

Adapun khizanah al-hikmah, yang terkenal di antaranya adalah khizanah al-hikmah yang didirikan oleh al-Fath bin Khaqan, menteri dari khalifah Abbasiyah, al-Mutawakkil (232-247 H/846-861 M). Khalifah al-Mu'tadhid juga mendirikan perpustakaanperpustakaan dan tempat-tempat dan bangunan-bangunan di sisi jalan yang digunakan sebagai tempat pengajaran. Perpustakaan, baik dengan aktivitas yang banyak seperti halnya dengan Bait alhikmah tersebut, maupun yang hanya berfungsi sebagai perpustakaan, pada waktu itu sangat banyak mengimpun buku-buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sebagian perpustakaan itu ada yang menghimpun lebih dari sejuta buku. Di samping perpustakaan-perpustaakn itu, tersebar pula apa yang dinamakan mahal al-waraqah (secara harfiah berarti tempat kertas) yang berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Mahal al-waraqah ini aktivitas utamanya adalah pembuatan naskah buku, penulisan kaligrafi untuk buku, di samping fungsinya sebagai pusat peradaban. Al-Ya'qubi, sejarawan terkenal abad ketiga Hijrah, pada tahun 278 H (891 M) meneliti bahwa di Baghdad ketika itu terdapat sebanyak lebih dari seratus mahal alwaraqah. Setelah periode Abbasiyah pertama berakhir, politik dunia Islam mengalami disintegrasi. Negara Dinasti Abbasiyah mendapat saingan besar dari negara Bani Umayyah di Spanyol dan negara Dinasti Fathimiyah di Mesir. Kedua negara Islam terakhir ini, bersama dinasti-dinasti kecil lainnya, juga ambil bagian aktif dalam lapangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pengajaran. Semuanya mengalami kemajuan pesat. Para pakar peradaban sering mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban buku, dalam arti bahwa buku telah dimanfaatkan secara serius sebagai sumber ilmu pengetahuan. Hal itu karena al-Qur'an yang merupakan pedoman hidup kaum Muslim menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan yang tinggi dan terhormat. Karena itulah, orang-orang Islam dari semua kalangan sangat menghargai buku, dan buku dalam kaitannya dengan peradaban Islam sama artinya dengan perpustakaan. 18 Perpustakaan di dunia Islam telah berkembang sebagai lembaga pendidikan sebelum Madrasah masuk ke dalam khazanah pendidikan Islam. Ketika Madrasah mulai muncul perpustakaan tetap berkembang, bahkan Madrasah pun melengkapi dirinya dengan bangunan perpustakaan. Kendatipun perpustakaan di sini telah dibatasi fungsinya hanya sebagai tempat baca. Seperti halnya halaqah al-dars , perpustakaan pun sempat dipertanyakan apakah ia merupakan lembaga pendidikan, ataukah cukup disebut sebagai perpustakaan saja, tanpa diberi status atau predikat sebagai lembaga pendidikan. Seakan ingin menjawab keraguan
Hasan al-Basya, op. cit , h. 100. 17 Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam , edisiIndonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 132-3.
18

ini, Ahmad Syalabi mengatakan bahwa perpustakaan di dunia Islam klasik telah menjalankan fungsi sebagai perguruan tinggi seperti di zaman modern. Untuk menguatkan pandangannya itu Ahmad Syalabi menyebut beberapa perpustakaan yang nyata-nyata melebihi fungsinya sebagai perpustakaan, karena juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Perpustakaan "Khizanah al-Hikmah" , di Karkar bagian Qufs (dekat Baghdad), misalnya, selalu didatangi orang-orang dari berbagai negeri untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Perpustakaan ini terletak di istana milik Ali ibn Yahya. Perpustakaan ini dilengkapi dengan asrama, tempat menginap orang-orang yang berasal dari negeri yang jauh. Bukan itu saja, perbelanjaan dan makanan mereka juga ditanggung oleh ibnu Yahya. Begitu juga perpustakaan yang terletak di " Dar al-'Ilm " yang didirikan oleh Abu alQasim Ja'far ibn Muhammad ibn Hamdan al-Maushili di Mosul. Perpustakaan ini dibuka setiap hari dan bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Sebagai pengagum dan pecinta syair, JaTar memanfatkan perpustakaannya itu untuk mengajarkan syair-syair gubahannya, atau syair-syair orang lain yang dipelajarinya, kepada para pengunjung. Para pengunjung yang datang dari negeri yang jauh dan kebetulan tidak berpunya, selalu diberi buku-buku dan uang oleh Ja'far. Karena alasan-alasan itu., Ahmad Syalabi mengingatkan bahwa siapa saja yang menulis tentang lembaga pendidikan Islam di masa klasik, maka dia tidak dapat meninggalkan pembicaraan tentang perpustakaan.

b. Observatorium dan Rumah sakit.
Di samping perpustakaan, para khalifah, sultan, dan para amir juga mendirikan observatorium dan rumah sakit. Hal ini sejalan dengan kemajuan peradaban Islam paska penerjemahan karya-karya klasik ke dalam bahasa Arab, yang di antaranya mendorong perkembangan ilmu astronomi dan kedokteran dalam Islam. Sebagaimana halnya perpustakaan, observatorium juga difungsikan sebagai lembaga pendidikan, atau difungsikan sebagai tempat untuk tranmisi ilmu dalam Islam. Di observatorium sering diadakan kajian-kajian ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Bait al-Hikmah yang sangat berkembang pada masa Khalifah al-Makmun, dilengkapi dengan observatorium. Di sana, Khalifah al-Makmun mempekerjakan seorang ahli matematika muslim terkenal brillian pada waktu itu, al-Khawarizmi, untuk mengamati dan mengadakan riset di observatorium tersebut, khususnya untuk menyusun kalender. Khalifah Bani Fathimiyah, al-Hakim, juga mendirikan dan membangun Dar al-Hikmah dan melengkapinya dengan sebuah observatorium di Kairo, Mesir. Penguasa Dinasti Hamdan juga membangun sebuah observatorium dengan mengangkat ibn Sina sebagai pengelolanya. Dan Dinasti Seljuk yang berkuasa di Baghdad, di samping mendirikan Madrasah , juga mendirikan observatorium besar untuk Umar Khayam pada tahun 1100 M. Pada tahun 1264, setelah Baghdad dijarah oleh tentara Bangsa Mongol di bawah Hulago Khan , observatorium masih didirikan penguasa muslim di Madinah. 19 Rumah sakit, yang dalam literatur klasik sering disebut dengan Bimaristan (tunggal,
19

Hanun Asrohahm op. cit ., h. 69-70.

jamaknya Bimaristanat ), sebagaimana halnya dengan perpustakaan dan observatorium, juga difungsikan sebagai lembaga pendidikan, terutama bagi caloin-calon dokter, atau orang yang tengah menuntut ilmu kedokteran. Rumah sakit itu tampaknya digunakan sebagai tempat mereka mempraktekkan ilmu yang secara teoretis telah mereka terima. Jumlah rumah sakit yang dibangun oleh para penguasa Muslim di masa klasik sangat banyak. Sampai tahun 1160, di Baghdad saja telah berdiri sekitar enam puluh rumah sakit, belum lagi kalau dijumlahkan rumah-rumah sakit yang pernah dibangun pada masa yang sama di kota-kota pusat peradaban Islam, seperti Kairo (Mesir), Kiarawan (Tunisia), Cordova dan Seville (Spanyol).

c. Masjid Khan
Sebagaimana telah disebutkan di muka, mesjid merupakan salah satu tempat pertama kali pendidikan dalam Islam berlangsung. Dalam perkembangannya, bangunan mesjid saja tidak lagi rnemadai untuk tempat berlangsungnya pendidikan, bukan saja karena proses pendidikan dan pengajaran dapat mengganggu orang yang ingin beribadah, juga karena jumlah para pernmtut ilmu di sana sudah semakin meningkat. Karena itulah, di samping masjid orang-orang yang peduli dengan kelangsungan pendidikan dalam Islam mendirikan bangunan di sampingnya, yang dapat berfungsi sebagai asrama bagi para penuntut ilmu. Inilah yang disebut dengan masjid Khan , yaitu masjid yang di sisinya didirikan khan (asrama atau pemondokan) sebagai tempat penginapann bagi para pelajar yang datang dari berbagai kota. Masjid Khan sebagai lembaga pendidikan ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-10 M. Menurut Makdisi, Badr bin Hasanawaih alKurdi (w. 1015 M) yang menjadi gubernur di beberapa wilayah di bawah kekuasaan Adud al-Daulah, mendirikan sekitar 3.000 masjid khan . Abu Ishaq, guru pada Madrasah Nizhamiyyah Baghdad, sebelumnya pernah aktif sebagai guru di masjid khan dengan membimbing sekitar sepuluh sampai dua puluh orang murid. Dari pengalaman Abu 20 Ishaq itu, dapat dipahami bahwa khan di samping berfungsi sebagai penginapan, juga digunakan sebagai tempat belajar.

d. Ribath dan Zawiyah
Ribath secara harfiyah berarti benteng. Namun, dalam perkembangannya, Ribath yang pada mulanya memang berfungsi sebagai benteng itu mengalami perubahan makna. Sehubungan dengan pendidikan, Ribath berarti tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengkon-sentrasikan diri untuk ibadah semata-mata. Ribath biasanya dihuni oleh sejumlah orang miskin yang secara bersamasama menjalankan aktivitas keilmuwan di samping melakukan praktik-praktik sufistik. Biasanya, di setiap Ribath terdapat seorang syaikh yang terkenal dengan kesalehan dan ketinggian ilmunya. Ribath yang memiliki seorang syaikh terkenal akan banyak dikunjungi orang dan memiliki banyak murid.Lembaga pendidikan sufi lainnya disebut juga dengan zawiyah . Setelah Madrasah berdiri, kebanyakan Ribath berubah fungsi hanya sebagai asrama
Maksum, op. cit ., h. 58
20

saja, sementara proses pendidikan dan pengajaran berlangsung di Madrasah .

B. Lahir dan Berkembangnya Madrasah Pada Masa Klasik Islam
Dilihat dari perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dalam Islam, sebagaimana telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa Madrasah adalah hasil evolusi dari masjid sebagai lembaga pendidikan. Sebelum berpindahnya lembaga pendidikan Islam dari masjid ke Madrasah , sebenarnya masjid sendiri secara fisik telah mengalami evolusi. Lamanya pendidikan di dalam masjid menuntut tersedianya tempat tinggal permanen bagi mahasiswa yang datang dari jauh. Kebutuhan ini dijawab dengan pengenalan khan (asrama) di samping masjid yang dipelopori oleh Badr bin Hasanawayh. Maka dalam hal ini Madrasah merupakan perkembangan berikutnya dari masjid dan masjid yang berasrama (masjid khan }, George Makdisi rnenekankan bahwa masjid khan yang 21 kemudian tumbuh menjadi Madrasah adalah masjid khan tempat di mana fiqih merupakan bidang studi utamanya. Ini sesuai dengan pandangannya bahwa Madrasah adalah lembaga pendidikan hukum ( college of law ). Seiring dengan perkembangan peradaban Islam, pendidikan yang telah menjadi perhatian utama sejak masa awal mengalami kemajuan pesat. Perhatian para bangsawan dan dermawan terhadap bidang ini memungkinkan terciptanya jaringan kegiatan ilmiah yang meluas dengan dukungan dana yang terjamin. Khan adalah salah satu manifestasi dari perhatian ini. Rasanya, cukup alamiah kalau kemudian timbul kebutuhan baru akan lembaga yang secara khusus diperuntukkan bagi pendidikan. Masjid dan masjid khan , betapapun besar peranannya, tetap merupakan tempat ibadah dan hanya sebagian dari ruang dan waktunya yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan. Sebagaimana dijelaskan Hasan Asari, Nakosteen menulis: "Pendidikan yang tersedia di maktab, sekolah istana, dan masjid mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang sangat jelas berdasarkan tujuan pendidikan. Kurikulumnya sangat terbatas, lembaga-lembaga ini tidak berhasil memikat guruguru terbaik, fasilitas-fasilitasnya tidak menawarkan lingkungan pendidikan yang kondusif, konflik antara tujuan-tujuan kependidikan dengan tujuan-tujuan keagamaan di mesjid hampir tidak bisa didamaikan lagi. Pendidikan menuntut keaktifan (dan menimbulkan kebisingan) yang mengganggu kekhidmatan peribadatan. Karena itu, menjadi penting untuk mengurangi sebanyak mungkin tanggung jawab mesjid yang berkaitan dengan pendidikan... Pendirian sebuah tipe lembaga pendidikan yang baru yakni Madrasah , adalah alamiah dan perlu. Sebuah faktor eksternal yang juga berperan dalam pengembangan konsep baru ini adalah kenyataan bahwa kemajuan dan penyebaran pengetahuan melahirkan kelompok orang yang kesulitan membangun kehidupan yang layak dengan pengetahuan abstrak mereka...Memajukan pendidikan dan menyediakan penghasilan kelompok ini adalah bagian dari alasan didirikannya
Paparan mengenai sejarah timbulnya madrasah ini lihat tulisan George Makdisi, "The Rise of 21 Colleges: Institutions of Learning In Islam and The West", yang juga dikaji secara mendalam oleh Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, op. cit ., h. 45.

Madrasah - Madrasah ."

22

Dari kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya istilah pengajaran di Madrasah , yaitu: Pertama; halaqah-halaqah (lingkaran belajar) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang di dalamnya terjadi berbagai diskusi dan perdebatan, sering mengganggu orang-orang yang beribadah di mesjid. Karena itu ada upaya untuk segera memindahkan halaqah-halaqah tersebut keluar mesjid. Didirikanlah ruangan-ruangan dan kelas-kelas sehingga tidak mengganggu kegiatan ibadah. Lama kelamaan muncul keinginan untuk benar-benar memisahkan lembaga pendidikan Islam itu dari masjid ke bangunan tersendiri yang lebih permanen. Dari sinilah muncul Madrasah . Kedua , dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan, baik agama maupun pengetahuan umum (waktu itu dikenal dengan sebutan al-'ulum al-'aqliyyah , ilmu-ilmu rasional), maka makin banyak diperlukan ruangan dan kelas untuk mengajarkan dan menampung para murid yang kian hari kian bertambah. Masjid tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut. Ditambah lagi dengan mulai berkembangnya pendapat bahwa pengetahuan umum sebaiknya tidak diajarkan di dalam masjid. Karena itu Madrasah menjadi pilihan yang dianggap cukup memadai untuk menampung kebutuhan tersebut. Ketiga , pada abad ke-4 H, Syi'ah telah tumbuh menjadi faham dan gerakan keagamaan yang kuat yang berkembang dihampir seluruh dunia Islam. Syi'ah tidak hanya merupakan gerakan politik tetapi juga gerakan ilmu pengetahuan yang secara aktif dan sistematis menyebarkan ide-idenya melalui lembaga-lembaga pendidikan. Keadaan ini sangat menantang kaum Muslim dari kalangan Sunni. Karena itu mereka membangun Madrasah - Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang oleh para ulama fiqih kemudian digunakan untuk mengembangkan sekaligus mempertahankan faham Ahlussunah. Keempat , pada masa bangsa Turki Seljuk mulai berpengaruh dalam pemerintahan Bani Abbasyiah (1055-1194 M) dan mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum Muslimin, dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum. Mereka juga berusaha mendirikan Madrasah - Madrasah ini di berbagai tempat dan dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang diperlukan. Guru-guru digaji secara khusus untuk mengajar di Madrasah Madrasah yang mereka dirikan. Kelima , mereka mendirikan Madrasah tersebut dengan harapan mendapatkan simpati rakyat umum, di samping ampunan dan pahala dari Allah SWT. Para pembesar negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka, banyak yang melakukan maksiat dan bermewah-mewahan, sehingga dengan mendirikan sekolah-sekolah tersebut mereka ikut mewaqafkan hartanya ke jalan Allah dengan harapan sebagai penebus dosa. 23 Terlepas dari kenyataan tersebut, Madrasah tetap merupakan aiternatif pendidikan Islam yang lebih maju. Masjid berasrama (masjid khan) adalah masjid yang di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan yang cukup menonjol. Tetapi dalam perkembangannya kemudian muncul pandangan bahwa kegiatan belajar-mengajar seyogyanya bukan
Hasan Asari, ibid. , h. 46 22

199
4) Ce t- I,h. 100-101.
;

23

"Zuhairini, (et. al), Sejarah Pendidikan Islam , (Jakarta:Bina Aksara,

merupakan unsur yang dominan, sebab dalam kenyataannya fungsi masjid yang utama adalah sebagai tempat ibadah yang membutuhkan ketenangan. Dengan munculnya Madrasah , masalah tersebut dapat terpecahkan, sebab Madrasah adalah lembaga pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Madrasah tidak menggantikan masjid. Malahan dalam kenyataannya tidak sedikit komplek Madrasah yang mempunyai masjid di dalamnya. Jadi kebalikan dari masa sebelumnya ketika 24 masjid memiliki unsur " Madrasah " di dalamnya. Namun jelas bahwa fungsi utama Madrasah bukanlah sebagai rumah ibadah.

1. Awal berdirinya Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang awal munculnya Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam seperti yang dikenal sekarang. Hasan Ibrahim Hasan berpendapat bahwa: Madrasah belum berdiri sebelum abad 4 hijriyah (sebelum 10 Masehi). Madrasah pertama adalah Al-Baihaqiyah di Naisapur. Al-Maqrizy juga 25 mengemukakan hal yang sama, bahwa Madrasah yang mula-mula berdiri adalah AlBaihaqiyah di Naisapur, oleh Abu Hasan Ali al-Baihaqi yang wafat pada 414 H. 26 Hasil penelitian Richard Bulliet tahun 1972, mengungkap-kan, selama 2 abad sebelum Madrasah Nizhamiyah di Baghdad sudah berdiri Madrasah di Naisapur sebanyak 39 Madrasah dengan Madrasah tertua Miyan Dahiya yang mengkhususkan pada pengajaran Fiqih Maliki. 27 Demikian pula Naji Ma'ruf (1966:9) mengatakan bahwa 165 tahun sebelum Madrasah Nizhamiyah, sudah ada Madrasah diTransoksania dan Khurasan. Sebagai bukti, ia mengemukakan data dari Tarikh al-Bukhari yang menjelaskan bahwa Ismail Ibn Ahmad Ibn Asad yang wafat pada tahun 295 H mempunyai Madrasah yang dikunjungi oleh para pelajar untuk melanjutkan pelajaran mereka. Madrasah Naisapur pada masa awalnya didirikan oleh ulama fiqih dengan tujuan utama mengembangkan ajaran mazhabnya. Pada umumnya Madrasah tersebut mengajar-kan satu mazhab fikih saja dan sebagian besar mazhab Syafi'i. Dari 39 Madrasah yang dikemukakan oleh Bulliet, 28 hanya satu Madrasah yang mengajarkan Fiqh Maliki, empat Madrasah yang mengajarkan mazhab Hanafi dan yang lain mengajarkan fikih Syafi'i. 29 Pendapat lain mengatakan bahwa Madrasah muncul pertama kali di dunia Islam adalah Madrasah Nizhamiyah, yang didirikan oleh Nizham al-Mulk seorang penguasa dari Bani Saljuk (W. 485 H.). Ibnu al-Atsir menyebutkan bahwa Nizham Al-Mulk seorang wazir Sultan Maliksyah Bani Saljuk (465-485) mendirikan 2 Madrasah yang
Hasan Asari, op. cit ., h. 47. 24 Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Siyasi Wa al-Dini Wa al-Tsaqafi Wa al-Ijtimai .,]uz 4 Cet-IV 25 (Mesir, Maktabah al-Nahdlah, 1967), h. 425O Al-Maqrizi, al-Mawaizh wa al-I'tibar bi-Dzikr al-Khithath via al-Atsar . 2 Vol., (Beirut: Dar Shadir, 26 t.t.), h. 212 dan 380. Richard W. Bulliets, The Patricians oa Nishapur (Cambridge: Mass Harvard University Press, 27 1972), h. 174 Naji Maruf, Madaris Makkah (Baghdad: Al- Irsyad, 1966), h. 9. 28 Bulliet, The Patricians , op. cit .,h. 176. 29

terkenal dengan nama Madrasah Nizhamiyah di Bagdhad dan Naisapur kemudian di berbagai wilayah yang dikuasainya. 30 Kamaluddin Hilmi berpendapat bahwa tidak benar para penulis terdahulu mengatakan bahwa Nizham al-Mulk adalah orang pertama yang mendirikan Madrasah di dunia Islam. Dia, menurutnya, hanya orang pertama memberikan bea siswa bagi para pelajar, menggaji fuqaha dan mendermakan harta bendanya untuk pembangunan gedung Madrasah yang megah. 31 Karena perubahan sistem inilah mungkin yang menyebab-kan para ahli pendidikan Islam menyebut Madrasah Nizhamiyah sebagai Madrasah Pertama. Dengan pengertian sebagaimana disebut oleh Hasan Abdu A1-A1 bahwa, Madrasah Nizham al-Mulk bukanlah Madrasah pertama di dunia Islam, tetapi ia adalah Madrasah terbesar pertama. 32 Istilah Madrasah juga pernah muncul pada masa khalifah Abbasyiah Harun alRasyid yang disebut dengan " Madrasah Baghdad", akan tetapi belum populer pada saat itu karena mengalami kemandekan. Madrasah pertama di dunia Islam dalam arti populer menurut beberapa pendapat adalah Madrasah Baihaqiyah di Naisapur pada abad ke-3 H, sedangkan menurut penelitian Bulliet (1972) Madrasah tertua adalah Miyan Dahiya di Naisapur juga pada abad ke-3 H. Sedangkan Madrasah Nizhamiyah adalah Madrasah
33

terbesar pertama di dunia Islam. Pendapat lain dikemukakan oleh Ahmad Amin dalam Dhuha Al-Islam. Dia membuat kesimpulan tentang Madrasah Nizhamiyah yang disebutnya sebagai Madrasah pertama. Namun, sayang ia tidak memberikan informasi bibliografls dari kutipannya dalam buku tersebut yang memungkinkan pelacakan lebih lanjut tentang Madrasah tersebut. Keadaan ini tidak bisa dipertahan-kan karena penelitian belakangan 34 membuktikan bahwa sebelum berdirinya Madrasah yang didirikan penguasa Dinasti Seljuk tersebut sudah ada Madrasah di Naisapur, di bawah naungan Dinasti Samaniyah (204-395/819-1005) yang berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan dan pendidikan terbesar di dunia Islam sepanjang abad ke-4/10 M. Daerah yang dikenal sebagai tempat kelahiran Madrasah ini telah memiliki banyak Madrasah sebelum era Nizham al-Mulk. 35 Namun, hal demikian tidak mengecilkan arti penting peran Nizham al-Mulk yang
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, op. cit ., h. 425O 30 Ahmad Kamaluddin Hilmi, al-Salajiqah fi al-Tarikh wa al-Hadharah (Kuwait: Dar al-Buhuts al- 31 Ilmiyah, tt), h. 375 Hasan Abd al-'Al, al-Tarbiyah al-hlamiyah Fi al-arni al-Rabi al-Hijri (Beirut: Dar El Fikr Al- 32 Arabi, 1977), h. 213. Bulliet, The Patrician, loc. cit . 33 Hasan Asari mengatakan bahwa Ahmad Amin tidak mengungkapkan secara jelas mengenai 34 penelidannya terhadap keabsahan penelidannya mengenai Madrasah Nizham al-Mulk dalam bukunya Dhuha al-Islam. Amin tidak memberikan informasi bibliografis dari kutipannya untuk pelacakan lebih lanjutnya mengenai penelidannya, lihat Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, op. cit ., h. 48. Adam Mettz, The Renaissance of Islam , terj. Khuda Buksh dan DS Margoliouth, (NY: AMS 35 Press, 1975), h. 179-180.

telah berjasa membesarkan nama lembaga pendidikan Madrasah . la memang bukan orang pertama yang membangun Madrasah , tetapi dilihat dari skala usahanya, ia adalah orang yang pertama yang membangun jaringan lembaga pendidikan yang besar dengan nama Madrasah . Ahmad Syalabi mengatakan: "Dalam hal ini, tak seorangpun yang mendahului Nizham al-Mulk. Kalaupun dalam sejarah kemudian nama Nizham al-Mulk lebih terkenal, karena biasanya dalam penulisan sejarah orang sering menunggu fenomena besar, tanpa melihat peristiwa-pertistiwa sejarah sebelumnya, saat perkembangan peristiwa-peristiwa itu masih terpisah-pisah. 36

2. Madrasah Pertama dalam Islam dan Penyebarannnya
Mengingat luasnya perkembangan Madrasah ketika itu, maka kiranya perlu pula untuk menyinggung penyebaran lembaga pendidikan tersebut di dunia Islam. Berikut ini adalah Madrasah - Madrasah yang pernah tumbuh dan berkembang di masa klasik Islam. a. Madrasah - Madrasah di Naisapur Istilah Madrasah di Naisapur merujuk pada lembaga pendidikan tinggi. Madrasah pertama di Naisapur dikembangkan pada abad ke-4 di bawah naungan Dinasti Samaniyah (204-395 H/819-1005 M). Daerah Naisapur sendiri mencakup sebagian Iran, sebagian Afghanistan dan bekas pecahan Uni-Sovyet antara Laut Kaspia dan Laut Aral. Bangunan Madrasah-Madrasah di Naisapur masih sangat sederhana. Sulit membedakan, dari keformalannya, antara masjid dan bangunan madrasah. Karena hampir rata-rata madrasah di kota ini masih menyatu dengan tempat ibadah. Hanya beberapa saja yang sudah memisahkan diri. Namun, pemakaian istilah "madrasah" dimulai di daerah ini. Kebanyakan madrasah di kota ini bersifat teachers oriented, karena letak keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada guru. Guru mempunyai wewenang dan kekuasaan melampaui jabatannya. Sehingga, kualitas pendidikannya pun ditentukan oleh gurunya, bukan oleh pemilik tempat yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut. Pelajaran yang sangat diutamakan adalah pelajaran agama, khususnya membaca dan menghafal Al-Quran serta Sastra Arab, khususnya puisi-puisi dan syair. Kurikulum dan materi pelajaran ' belum disusun secara teratur. Guru mengajarkan apa saja yang ia kuasai. Oleh sebab itu, seorang guru, sebelum diterima sebagai pengajar, harus diuji terlebih dahulu tentang keahlian mengajar dan bidang ilmunya. Gurupun harus memperlihatkan ijazahnya sebelum mengajar. Bentuknya adalah semacam legalisasi dari tempat ia belajar sebelumnya. Sehingga, ia dipercaya untuk memberikan pelajaran yang ia kuasai. Setiap guru hanya mengajar satu kitab saja. Murid yang telah menyelesaikan satu kitab dapat pindah ke madrasah lain untuk mempelajari kitab yang lain. Seorang murid yang telah menamatkan buku/kitabnya pada seorang guru dan telah melampaui proses penilaian yang dilakukan oleh gurunya, akan memperoleh surat keterangan bahwa dia menguasai kitab tertentu yang diajarkan guru itu dan sanggup untuk mengajarkannya kepada orang lain (semacam rekomendasi mengajar). Surat
Ahmad Syalabi, The History of Muslim Education (Beirut: Dar al-Kasyaf, 1954), h. 60-61.
36

keterangan itu dapat pula disebut ijazah. Namun, ijazah itu bukan berisi nilai prestasi belajar murid dan bukan pula transkrip nilai dari berbagai mata pelajaran seperti saat ini. Pada masa awal perkembangan madrasah tersebut, tidak ada jadwal pelajaran yang teratur. Seorang murid bebas menentukan dan meneruskan pelajarannya selama ia memiliki kecerdasan dan kesanggupan dan gurunya memadai untuk maksud tersebut. Waktu bukanlah faktor utama untuk menyelesaikan pendidikan dan pengajaran, begitu pula usia tidak menjadi syarat utama. Proses belajar-mengajar pada saat itu berlangsung secara sederhana. Guru membacakan pelajaran dari satu teks. Murid menyalin teks tersebut sebagaimana yang dibacakan gurunya. Murid kemudian membacakan secara lantang teks tersebut. Hubungan guru dan murid sangat akrab seperti hubungan orang tua dengan anaknya yang penuh perhatian dan kasih sayang. Proses belajar mengajar diselenggarakan dengan segala kerendahan hati. Sebuah kerangka pelajaran yang mudah dimengerti oleh murid diberikan oleh para guru, lalu ditambah dan dilengkapi dengan rincian sepanjang proses belajar-mengajar. Kesalahan murid diperbaiki tetapi tidak dengan kekerasan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari pagi sampai siang. Bangunan madrasah di kota ini mempunyai ciri khusus, yaitu mempunyai sebuah pekarangan luas yang disebut "shahn" . Terdapat pula kamar-kamar untuk para pelajar dan dewan guru. Setiap kamar memiliki pilar-pilar tinggi. Bagian terpenting dari madrasah ini adalah ruangan kuliah semacam aula yang disebut "iwanat" dilengkapi dengan mimbar. Madrasah juga bersanding dengan mesjid tempat para pelajar melakukan kegiatan ritualnya. Dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajarnya, madrasah-madrasah di Naisapur ada yang benar-benar telah menggunakan gedung sendiri dan terlepas dari masjid, tetapi ada pula madrasah yang masih "menempel" dengan masjid tetapi mempunyai ruang belajar yang disebut 'iwanat, yaitu aula yang luas untuk para murid belajar. Iwanat inilah yang menjadi ciri khas madrasah di Naisapur. b. Madrasah Nizhamiyah Pembicaraan mengenai awal kebangkitan madrasah sebagaimana telah dibicarakan di muka, selalu dikaitkan dengan nama Nizham Al-Mulk (w. 485 H/1092 M), salah seorang wazir Dinasti Saljuq. Dialah yang membangun sejumlah madrasah yang kemudian disebut "madrasah Nizhamiyah" di berbagai tempat/ kota utama daerah kekuasaan Dinasti Saljuq. Peran pentingnya bukanlah sebagai orang pertama yang mendirikan madrasah, tetapi lebih pada semangatnya untuk membangun sejumlah lembaga tinggi tersebut secara besar-besaran. Langkah perkembangan lembaga pendidikan tinggi Islam pada masa-masa sesudahnya, biasanya diilhami oleh madrasah ini, terutama di wilayah-wilayah yang berada di bawah patronase Nizham Al-Mulk sebagi wazir (tahun 1064). Bangunan baru yang disebut Madrasah Nizhamiyah ini mengambil Mesjid-khan sebagi model. Madrasah

(dalam bentuk klasiknya) dapat disebut college (akademi) sebagaimana dikenal sekarang. Pada masa itu, Turki Saljuq (Bani Saljuq) telah mengambil alih pemerintahan Timur Tengah dari Bani Buwaih yang mengangkangi kekhalifahan Abbasyiah. Seperti diketahui, sebelum Dinasti Saljuk, kekuasaan atas bagian terbesar wilayah Islam dipegang oleh Dinasti Buwaihi (945-1055 M) dan Dinasti Fatimiyah (969-1171 M). Irak, Iran dan belahan timur lainnya dikuasai oleh Buwaihi. Sedang Mesir, Afrika Utara dan Syria berada di bawah kekuasaan Fathimiyah. Faham Syi'ah yang menjadi anutan kedua dinasti tersebut sempat, berkembang luas di tengah-tengah masyarakat. Peran penguasa Syiah terhadap ajarannya bersamaan dengan ekspansi kekuasaan atas daerah-daerah milik dinasti Abbasyiah. Dengan rontoknya dinasti Abbasyiah sejak abad ke-9, situasi politik memburuk drastis sampai ke Hijaz. Pada awal abad ke-10 kaum Syiah muncul ker panggung kekuasaan di hampir seluruh Timur-Tengah. Dinasti Fathimiyah berjaya di Mesir dan Afrika Utara. Sementara, dinasti Buwaihi bercokol di Irak, Iran dan bahkan juga sempat menguasi daerah Sunni di Baghdad. Berbeda dengan Syiah Fatimiyah yang agak toleran di Mesir, Hijaz harus berhadapan dengan Syiah Qarmatiyah. Penyebaran Syiah Qarmatiyah ini terbukti mendatangkan bencana bagi Hijaz mulai dari Bahrain sampai Ke Arab barat. Dengan pimpinan Thahir al-Qarmati pada 317 H/929 M, kaum Syi'ah Qarmatiyah ini menyerbu Makkah dan membunuh 30.000 jamaah haji dan penduduk setempat. Setelah menjarah Makkah mereka mengambil Hajar Aswad ke al-Hijr, kubu mereka di Arabia Barat. Hajar Aswad itu baru dikembalikan 22 tahun kemudian, ketika Manshur al-Alawi, pemimpin Qartamiyah Afrika Utara, berhasil membujuk mereka agar mengembalikannya ke Makkah (Ka'bah). Selama kekacauan ini, suasana di kota Makkah nyaris lumpuh, pasar-pasar tak lagi tenang berdagang ketika musim haji, mereka lebih senang pergi ke tempat lain. Fungsi Haraymain sebagai pusat pendidikan mengalami kemerosostan, bahkan makin terbatas pada Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Namun, menjelang abad ke-11 kaum Sunni meraih kembali kontrol politik atas hampir seluruh wilayah Timur. Penguasa-penguasa Sunni seperti Ghaznawi diTransoxiana dan Afghanistan (1052-1186 M), Saljuk di Anatolia, Syria dan Irak (1037-1300 M), dan Ayyubiyyah di Mesir,Yaman, Syria dan Irak (1169-1500 M), meski sering terlibat konflik sesama mereka, namun mampu membendung pasang naik kaum Syiah yang telah menancapkan kekuasaannya di Baghdad dan menemnpatkan khalifah Abbasyiah di bawah kontrolnya. Dinasti-dinasti Sunni tersebut berusaha sungguh-sungguh menjalankan kebijakan politik dan keagamaan sesuai dengan ajaran ortodoksi Sunni. Hasilnya, ulama Sunni yang mengembara ke mana-mana selama masa sulit tersebut terdorong untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Munculnya orang-orang Saljuk pada abad ke-11 M sebagai pendukung ahli Sunnah dan jatuhnya sebagian kerajaan Islam ke tangan mereka serta sikap mereka yang sangat setia kepada khilafah merupakan faktor utama yang dapat mengukuhkan mazhab Sunni dan melemahkan pengaruh dan kedudukan golongan Syiah. Dalam periode inilah madrasah muncul dalam rangka memperkuat mazhab sunni dengan cara memberikan Perhatian besar untuk mempelajari ilmu fiqh empat mazhab.

Bani Saljuq berasal dari Asia Tengah yang kemudian berpindah ke Barat, sambil melakukan Islamisasi sepanjang perjalanannya. Sebelum menyerang Baghdad, pemimpin Saljuq menyetujui untuk tidak menghapus otoritas keagamaan khalifah, sebagaimana yang dilakukan Bani Buwaih yang Syi'ah sebelumnya, tetapi hanya membentuk pemerintahan politik di bawah pimpinan salah seorang dari keluarga Saljuq yang bergelar sultan. Nizham al-Mulk adalah seorang wazir yang sangat berkuasa, atau perdana menteri dari sang sultan. Untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya, Nizham al-Mulk membantu pembangunan ratusan madrasah yang mengajarkan fiqih dalam mazhab Syafi'i. Selain itu, Nizham al-Mulk yang lahir di daerah Thus, Persia, adalah seorang pecinta pengetahuan, terutama hadits. la pernah memimpin halaqah hadits di Baghdad dan di berbagai kota Khurasan yang dihadiri sejumlah besar orang. Di samping itu ia juga adalah politikus berbakat. Karirnya menanjak sejalan dengan menguatnya Dinasti Saljuq, tempat dia menjadi wazir (perdana menteri) bagi Sultan Alp Arslan (455-465/1063-1072) dan sultan Malik Syah (465-485/1072-1092). Pada masa keduanyalah puncakkejayaan Saljuq tercapai. Kecintaan Nizahm al-Mulk terhadap pengetahuan dan kesuksesannya dalam karir politik menjadi faktor sangat menentukan bagi kemajuan pendidikan Islam. Nizham al-Mulk yang Sunni ini mempunyai komitmen berpegang teguh kepada doktrin Asy'ariyah dalam "kalam" (teologi) dan ajaran Syafi'i dalam fiqh, yang kemudian ditanamkannya kepada madrasah yang dikembangkannya. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah berperan dalam menentang pengusiran dan penganiayaan para sarjana Syafi'iyah dan para teolog Asy'ariyah dari daerah Khurasan, yang merupakan kebijakan wazir Dinasti Saljuk sebelumnya, Al-Khunduri (w.455 H/1063 M). Berkat pengaruhnya, sarjana seperti Al-Juwayni (w.478/1085) dan sufi-faqih Abu Al-Qasim Al-Qusyairy (w.465/1072) dapat kembali ke Naysapur dan melanjutkan karir ilmiahnya setelah sebelumnya terpaksa mengasingkan diri ke Hijaz. Nizham AlMulk membangun pertama kali madrasahnya di Naisapur untuk Al-Juwayni. Selanjutnya, diteruskan di setiap kota utama Khurasan dan Irak, seperti Baghdad, Basrah, Isfahan, Herat, Balkh, dan Mosul. Madrasah-madrasah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk dalam perkembangannya kemudian tidak hanya terdapat di kota-kota, tapi juga di beberapa tempat sampai ke daerah terpencil atau di desa-desa. Setiap kali ia menemukan seorang yang terkenal dan berpengetahuan luas maka ia mendirikan madrasah agar orang alim tersebut mengajar di situ dan diberi wakaf yang memadai. Semua madrasah yang dibangunnya dikenal dengan nama madrasah Nizhamiyah.

1) Tujuan Pembangunan Madrasah Nizhamiyah
Dalam perkembangan peradaban Islam, madrasah Nizhamiyah merupakan unsur penting yang tidak dapat diabaikan, khususnya pada wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk. Hal ini antara lain adalah karena pembangunan jaringan madrasah Nizhamiyah menandai "kebangkitan kembali" paham Sunni. Selain itu, sejarah pendidikan Islam telah

menunjukkan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan Islam par excellence sampai pada periode modern dengan diperkenalkannya lembaga-lembaga modern seperti universitas. Oleh karena itu, tujuan pembangunan madrasah ini adalah membangun kembali ilmu pengetahuan yang sempat hilang semasa dinasti Umayah dan kekuasaan Syiah, dan melengkapi sistem pendidikan Mesjid yang terlalu banyak kelemahannya. Beberapa hal yang melatarbelakangi berdirinya Madrasah Nizhamiyah adalah sebagai berikut: Pertama , penyebaran ilmu pengetahuan oleh Nizham Al-Mulk karena ia adalah seorang sarjana. Pantas jika ia memiliki semangat untuk membangun lembaga pendidikan yang modern. Kedua, konflik keagamaan yang sangat panjang dalam sejarah Islam hingga abad 5/11 antara kelompok-kelompok yang mengembangkan pemikiran keagamaan dalam Islam, misalnya Mu'tazilah, Syi'ah, Asy'ariya h, Hanafiyah, Hanbaliyah dan Syafl'iyah. Perdana Menteri (wazir) Saljuq sebelum Nizham Al-Mulk adalah Al-Kunduri seorang bermazhab Hanafi dan pendukung paham teologi Mu'tazilah. Salah satu kebijakannya sebagai wazir adalah mengusir dan menganiaya para penganut Asy'ariyah yang sering disebut sebagai penganut Syafi'i. Setelah digantikan Nizham al-Mulk, beberapa penulis sejarah pendidikan Islam menyebut bahwa tak ada indikasi pergantian pejabat yang berbeda paham teologi dan mazhab fiqih itu merubah kebijakan politik keagamaan sebelumnya, sehingga merupakan aksi balasan. Nizham al-Mulk sebagai penganut Syafl'iyah hanya membangun madrasah yang diperuntukkan secara khusus bagi perkembangan mazhab Syafi'iyah. Tidak ada bukti bahwa ia melakukan tindakan balasan, sehingga menghancurkan mazhab lainnya, seperti Mutazilah dan Syiah. Kelompok-kelompok itu pada akhirnya melemah dengan sendirinya. Jadi, sebenarnya ia ingin posisi Syafi'iyah-Asy'ariyah menguat melalui jalur pendidikan. Ketiga , Madrasah Nizhamiyyah juga dimaksudkan sebagai wadah penataran bagi pegawai pemerintahan terutama dalam mengurusi dan memperbaiki sistem administrasi Negara. Lulusan madrasah yang siap pakai akan ditempatkan di kepegawaian negara sesuai dengan keahliannya, misalnya sebagai katib (sekretaris), qadhi (hakim) dan sebagainya.Terbukti, sistem madrasah berhasil dalam bidang ini. Keempat, pengembangan kestabilan politik dalam negeri. Sebagai wazir, tindakan Nizham al-Mulk membangun madrasah adalah untuk menguatkan jaringan dan kerangka kerja ulama dan umara', yang berarti hubungan yang serasi antara pemerintah dan rakyat, terutama kelompok Syafi'iyah-Asy'ariyah. Madrasah pada masa Nizham al-Mulk dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan khusus yaitu penerapan kebijakan politik di seluruh negeri di bawah kekuasaannya. Lembaga terbaik untuk meyangga hubungannya dengan rakyat adalah lembaga tanpa ikatan resmi, misalnya di bawah otoritas khalifah, seperti mesjid. Lembaga independen tersebut adalah madrasah yang dibangunnya. Empat faktor tersebut menunjukkan bahwa munculnya madrasah sebagai fenomena sejarah berkaitan dengan banyak faktor, tidak hanya sekedar faktor pendidikan dan agama. Dalam konteks Madrasah Nizhamiyah tadi, kasus-kasus seperti konflik faham keagamaan, konflik politik, dan kebutuhan rekruitmen tenaga kerja untuk mengisi jabatan-jabatan pemerintahan, telah ikut menjadi pendorong lahir dan berkembangnya pendidikan model madrasah.

2) Penyebaran Madrasah Paska-Nizhamiyah
Apa yang dilakukan Nizham Al-Mulk dengan pem-bangunan madrasahnya mendapat respon dari masyarakat, khususnya kalangan penguasa, bangsawan dan hartawan. Mereka kemudian ikut mendirikan madrasah dibeberapa tempat. Pembangunan tersebut ikut pula dikaitkan dengan eksistensi kelompok mereka. Jika mereka membangun madrasah untuk kelompok Asy'ariyah maka pada waktu itu pula kelompok lainnya ikut membangun. Terjadi semacam persaingan untuk saling membangun madrasah. Tetapi ini merupakan persaingan yang sehat, karena makin banyak lembaga pengetahuan yang dibangun bagi perkembangan peradaban Islam, terlepas dari siapa yang membangunnya. Selain Madrasah Nizhamiyah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, masih banyak madrasah lainnya yang juga tumbuh pada masa itu atau sesudahnya. Dari daerah Irak dan Khurasan, madrasah menyebar ke seluruh dunia Islam.Tercatat, pada masa Dinasti Ayyubiyah (1169-1249 M) sampai penghujung abad ke-9 H/15 M) saja berdiri 61 madrasah di kota-kota Mesir, Jerusalem dan Damaskus. Nakosteen menyebut satu 37 daftar yang memuat 58 madrasah yang terdapat di kedua daerah Irak dan Persia antara pertengahan abad ke 5/11 sampai pertengahan abad ke-7/13. Al-Nu'aymi memberikan 38 data tentang 128 madrasah yang ia ketahui berdiri di Damaskus dengan perincian 61 madrasah Syafiiyah, 52 Hanafiyah, 11Hanbaliyah dan 4 Malikiyah. 39 Hal ini menunjukkan sangat luasnya pembangunan madrasah pada masa itu. Di Irak madrasah terkenal pada masa Nizham al-Mulk. Nur Al-Din (w.571/1174) dan Shalah AlDin Al-Ayyubi (w.589/1193) berperan penting dalam penyebaran madrasah di daerah Mesir, Syria dan Palestina. Sejarawan abad ke-9 H/15 M, Al-Maqrizi, mencatat keberadaan 73 madrasah di Mesir, sebagian besar di Kairo. Al-Asali memberikan uraian tentang 56 madrasah untuk kota Jerusalem. Daerah Yaman mengenal madrasah pada abad ke 6 H/12 M. Para Sultan Saljuq Anatolia (Saljuq Al-Rum), seperti halnya Saljuq di Timur, juga membangun sejumlah madrasah. Penyebaran madrasah ke daerah Transoksiana terjadi secara besar-besaran antara lain semasa pemerintahan Timur Lenk (771-807 H/1370-1405 M); sementara di anak benua India dan Maroko hal ini terjadi sekitar abad ke-7 H/l 3 M. Pada abad ini madrasah telah menjadi bagian dari peradaban Islam, sehingga hampir tak ada kota tanpa madrasah. Di antara madrasah yang lahir dan berkembang pada masa itu adalah madrasah Imam Abu Hanifah dan madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, madrasah AlManshuriyah di Kairo, madrasah Granada dan Murcia di Andalusia, dan madrasah Malaga di Cordova. Berikut ini akan dikemukakan gambaran mengenai madrasahmadrasah tersebut sebagai kelengkapan memahami sejarah perkembangan madrasah secara lebih dalam.
Ahmad Syalabi , History Of Muslim Education, op. cit ., h. 111. 37 Nakosteen, History of Muslim Education, op cit ., h. 50. 38 Abd. Ai-Qadir Al-Nuaymi, Al-Darisfi TarikhAl-Madaris (Beirut: Dar Al-KutubAl-Ilmiyyah, 1990), h. 132 .

39

c. Madrasah Imam Abu Hanifah Baghdad
Dalam tulisan Ibn Al-Jawzi disebutkan bahwa pada tahun 459 H/l066 M, Abu Sa'd, menteri keuangan Sultan Alp Arslan merenovasi makam Abu Hanifah dengan memberinya batu nisan (malban), lalu membangun sebuah kubah di atasnya. Di samping makam ( masyhad ) tersebut ia membangun sebuah madrasah dengan asrama untuk para fuqaha' dan mengangkat seorang mudarris (guru) untuk mengajar mereka. Pembangunannya dimulai pada bulan Shafar 459 H/Desember 1067 M dan selesai pada bulan Jumadil Akhir 459 H/April 1067 M. Madrasah ini, sesuai dengan nama dan lokasinya, khusus untuk penganut mazhab Hanafi. Ibn Sa'd mendukung biaya operasionalnya dengan satu badan wakaf yang membayar mudarris , mahasiswa dan staf lain yang bekerja untuk madrasah ini. Sebuah catatan sehubungan dengan kondisi keuangan madrasah ini memberikan gambaran umum kondisi fmansial madrasah masa ini (abad ke-5 H/l 1 M). Pada awal tahun 523 H/ 1129 M, Sultan Mughitsuddin Mahmud II (sultan Saljuq yang berkuasa pada 511-525 H/l 118-1131) mengeluarkan perintah untuk mengadakan pemeriksaan atas keuangan Madrasah Abu Hanifah. Mudarris (guru), sekaligus administratornya saat itu adalah Qadhi Al-Qudhat Al-Zaynabi (w.543/1148). Laporan pemeriksaan ini menyatakan bahwa wakaf madrasah tersebut mempunyai penghasilan tahunan sekitar 80.000 dinar. Dari jumlah ini tidak sampai 10.000 dinar yang dihabiskan untuk madrasah. Komplek madrasah ini mencakup sebuah masjid, perpus-takaan, serta makam untuk ulama-ulama besar mazhab Hanafi. Makam menjadi faktor pembeda antara madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Abu Hanifah; tetapi banyak madrasah yang dibangun belakangan juga meliputi komplek makam, mengikuti pola madrasah Abu Hanifah ini. AbuThahir Al-Daylami (w.461/ 1069) adalah mudarris pertama madrasah ini; kemudian berturut-turut Abu Thalib Al-Zaynabi (w.512/1118), Abu Ishaq Al-Salji (w.515/1121), Abu Yusuf Al-Lamaghani (w.536/1141), Abu Manshur Al-Hayti (w.537/1142), AlZaynabi yang disebut terdahulu, Zayn Al-A'immah Al-Hanafi (w.546/1151) dan Abu AlGhana'imAl-Baghdadi (w.557/1162). Seorang bernama Abu Sa'id Al-Khawarizmi diketahui pernah menjadi pustakawan di Madrasah Abu Hanifah. Madrasah ini beroperasi dengan baik selama lebih kurang dua abad, sampai masa sebelum serbuan Mongol yang berakhir dengan jatuhnya Baghdad pada 656 H/l 258 M ke tangan Hulagu. Madrasah ini mengalami pasang naik dan pasang surut sesuai dengan stabilitas sosial, ekonomi dan politik Irak pada umumnya, dan Baghdad pada khususnya.

d. Madrasah Al-Mustanshiriyah Baghdad
Madrasah ini mengambil nama sesuai dengan pendirinya, Khalifah Abbassyiah ke36, Al-Mustanshir (623-640/1226-1242). Pembangunannya berlangsung selama sepuluh tahun, satu indikasi yang menunjukkan kebesaran madrasah yang didisain oleh Mu'ayyad Al-Din bin Al-Alqami ini. Fasilitas yang tersedia mencakup ruang kuliah, asrama, aula, kolam, dapur umum dan gudang. Masih merupakan bagian dari madrasah ini adalah

sebuah perpustakaan, sebuah Dar Al-Quran, sebuah Dar Al-Hadits, sebuah rumah sakit, dan sebuah gudang obat (apotek). Kenyataan ini membuat Madrasah Al-Mustanshiriyah berbeda dengan Madrasah Nizhamiyah atau Madrasah Abu Hanifah. Perbedaan yang agak penting adalah bahwa khalifah Abbasiyyah, al-Mustansyir, tidak menghendaki madrasahnya beroperasi hanya untuk satu mazhab tertentu. Di sini, keempat mazhab sama-sama mendapat tempat dan dukungan fasilitas. Untuk itu, madrasah ini mempunyai empat ruang kuliah, masingmasing untuk satu mazhab. Khalifah Al-Mustanshir terkenal dengan keadilan, kesalehan dan kedermawanannya dalam memajukan kehidupan umat Islam, terutama di bidang pendidikan. Madrasah AlMustanshiriyah adalah bagian terpenting dari usaha ini. Masa pemerintahannya bertepatan dengan periode di saat stabilitas politik Baghdad tidak terlalu menggembirakan. Ketika itu Baghdad tidak lagi menjadi pusat penting politik Islam. Dinasti Saljuk yang sebelumnya berkuasa di Baghdad di Baghdad sudah jatuh, dan khalifah sudah kembali berkuasa secara penuh dan otonom, setelah lebih dari tiga abad hanya berperan sebagai boneka di hadapan para panglima tentara dan para sultan. Namun, wilayah kekuasaannya hanya di kota Baghdad dan sekitarnya. Di luar itu dinastidinasti Islam, seperti Khawarizimsyah diTransoxania dan Ayyubiyah di Mesir, Atabeg di Syria jauh lebih kuat secara politik dari pada khalifah di Baghdad. Buruknya suasana politik itu menyebabkan terjadinya perpindahan para ulama terbaik dari Baghdad.Tujuan mereka pada umumnya adalah Damaskus, Kairo, Makkah atau Madinah. Kenyataan historis ini menimbulkan akibat buruk bagi lapangan pendidikan. Kegiatan akademis memang tetap berlangsung, tetapi, seperti kata Nashabe, "Baghdad menjadi tempat ulama kelas dua". Tampaknya keadaan ini ada dalam pikiran Al-Mustanshir ketika ia memutuskan mendirikan madrasah. Kondisi akademis Baghdad sebagai tempat kediaman khalifah perlu ditingkatkan kembali. Lagi pula, untuk memantapkan kekuasaannya baik secara politik maupun sosial, khalifah butuh dukungan para ulama dan rakyat, dan madrasah adalah salah satu kemungkinan sarana untuk memperoleh dukungan ini (lihat kasus Madrasah Nizhamiyah). Untuk dapat mencakup sebanyak mungkin ulama, Al-Muntashir memberikan tempat bagi keempat mazhab dalam madrasahnya. Di sisi lain, umat Islam telah mencapai titik kondisi yaitu mereka siap untuk eksperimen baru dalam pendidikan; satu institusi yang mencakup semua mazhab hukum yang empat, menggantikan institusi yang secara eksklusif mendukung satu mazhab saja, dan mengakhiri pertikaian berkepanjangan antara kelompok-kelompok Syafi'iyah, Hanbaliyah dan Muta'zilah. Institusi seperti ini mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk diterima di seluruh dunia Islam, karena ia bisa memelihara kesatuan umat. Patronase semua mazhab Sunni yang empat oleh khalifah akan memberinya satu prestise yang lebih universal di dunia Islam tanpa hambatan dan batas-batas politik. Itulah sebabnya, Al-Muntanshir mendukung pengajaran mazhab Hambali dan Maliki di Madrasahnya walaupun di Baghdad hanya ada sedikit penganut kedua mazhab ini.Tentu

saja Al-Muntanshir tidak saja bertujuan menyediakan fasilitas pendidikan bagi penduduk Baghdad, tetapi mencita-citakan kota Baghdad kembali sebagai pusat kegiatan pendidikan bagi semua mazhab Sunni. Dengan madrasah ini, ia ingin merangsang para ulama untuk berbondong-bondong kembali ke Baghdad. Sejarah madrasah Al-Mustanshiriyah, oleh Nashabe dibagi menjadi tiga periode: Periode Pertama , sejak berdirinya sampai akhir khilafah Abbassyiah. Catatan sejarah tentang peresmian madrasah ini menunjukkan keterlibatan para pejabat tinggi pemerintahan dan para ulama terkemuka. Peresmian ini ditandai oleh pengangkatan empat guru besar: Ibn Fadhlan (w.631/1233), Al-Farghani (w.632/1234), IbnYusuf AlJawzi (w. 653/1255) dan Abu Al-Hasan Al-Maghribi (w. Abad ke-7/13) masing-masing secara berturut-turut mengajarkan mazhab-mazhab Syafi'i, Hanafi, Hambali dan Maliki. Acara lain adalah penyaringan calon mahasiswa yang menghasilkan 72 orang untuk setiap mazhab (total 288 orang), yang kemudian akan menetap di asrama dengan beasiswa terjamin. Al-Syams' Ali Al-Kutubi diangkat menjadi pustakawan. Perhatian penuh dari Khalifah membuat madrasah ini beroperasi dengan baik dan periode ini adalah paling gemilang dalam sejarah madrasah Al-Mustansyiriah. Periode kedua , sepanjang kekuasaan Mongol atau Dinasti Ilkhan (658-738 H/12581337M).Kehancuran yang ditimbulkan oleh pasukan Mongol di setiap daerah yang mereka taklukkan terlukis dalam hampir setiap buku sejarah. Baghdad bukan suatu pengecualian. Kejatuhannya ke tangan Hulagu didahului oleh kehancuran serius madrasah Al-Mustansyiriyah. Seperti halnya lembaga-lembaga lain, madrasah ini turut menderita: beberapa stafnya terbunuh dan sebagian buku koleksi perpustakaannya musnah atau diambil sebagai rampasan perang. Yang lebih berpengaruh, adalah rasa takut yang disebarkan pasukan Mongol. Ini menimbulkan gelombang perpindahan ulama dari Irak ke Damaskus, Aleppo, Kairo, Makkah atau tempat lain yang lebih tenang. Peraturan tentang wakaf yang diterapkan oleh penguasa baru ini seringkali tidak mendukung kemajuan lembaga pendidikan. Ini adalah salah satu masalah lain yang harus dihadapi Madrasah Al-Mustansyiriah pada periode ini. Secara keseluruhan kondisi pendidikan di Baghdad semakin mundur dibanding sebelumnya. Periode ketiga , adalah dari jatuhnya kekuasaan Mongol (739 H/1338 M) sampai pertengahan abad ke-12 H/18 M. Keadaan pada periode ini menunjukkan bahwa madrasah Al-Mustansyiriyah ditakdirkan untuk tidak bangkit dari keruntu-hannya yang telah bermula sejak abad ke dua belas. Perlahan-lahan, lembaga yang pernah jaya ini tenggelam dalam gelombang sejarah yang sedang menuju era modern. Pada pertengahan abad ke-12 H/18 M, meski bangunan fisiknya masih ada, tidak ditemukan lagi kegiatan pendidikan di dalamnya. Dan penguasa Turki Usmani tampaknya tidak mempunyai keinginan untuk membangunnya kembali.

e. Madrasah Al-Manshuriyah Kairo
Madrasah Al-Manshuriyah didirikan oleh penguasa Dinasti Mamalik, Al-Manshur Qalawun (678-689 H/l280-1290 M). Madrasah ini termasuk menarik, bukan saja karena kebesaran bangunan fisiknya, tetapi juga karena variasi pengajaran yang berlangsung di

dalamnya. Laporan Al-Maqrizi (w. 845 H/l441 M), sejarahwan besar Mesir abad pertengahan, menunjukkan bahwa madrasah ini mengajarkan fiqih sesuai dengan mazhab yang empat. Di samping iru tersedia pengajaran ilrnu kedokteran (thibb), hadits, tafsir, dan ceramah-ceramah umum. Hanya ulama dan mahasiswa terbaik yang diterima untuk mengajar atau belajar di lembaga ini. Termasuk bagian dari madrasah ini adalah Menara Al-Manshruriyah (al-Qubbah alMansyuriyah) dengan satu kompleks pemakaman bagi beberapa sultana Dinasti Mamalik. Al-Manshur dan para sultan yang lainnya, juga mewakafkan sejumlah besar kitab dalam segala bidang ilmu kepada perpusta-kaan madrasah ini. Prestise madrasah AlManshuriyah runtuh seiring dengan runtuhnya pengaruh Bani Qalawun di Mesir.

f. Madrasah Granada (Al-Nashriyah) Di Andalusia
Madrasah pertama yang didirikan di Andalusia adalah madrasah Granada yang didirikan pada tahun 750 H/1349 M pada zaman Abu Abdillah Muhammad ibn Muhammad ibn Yususf I. Usaha ini merupakan pengaruh perkembangan madrasah di Maroko. Usaha pertama mendirikan madrasah di Granada bermula ketika Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad binYusuf, sultan Granada pada tahun 671-701 H/ 1272-1302 M, menyiapkan rumah untukAl-Ruquthi setelah dia sampai di Granada dari Murcia. Al-Ruquthi sebelumnya adalah seorang ulama Islam terkenal yang memipin madrasah Murcia. Madrasah ini didirikan oleh Alfonso X, seorang raja Kristen. Ketika menduduki kota Murcia, Alfonso X menemukan seorang ulama Islam, al-Rauquthi, yang mendalami berbagai ilmu pengetahuan, di antaranya mantiq, tehnik, kedokteran dan filsafat. Madrasah itu kemudian diserahkan Alfonsho X kepadanya dan memberinya hadiah dan fasilitas dengan harapan suatu saat akan memeluk agama Kristen. Mengetahui hal itu, Sultan Granada lalu membangun madrasah Granada ini dan memanggil AlRaquthi untuk mengajar di Granada. Akhirnya Al-Raqhuti meninggalkan Alfhonso X dan pindah ke Granada. Madrasah ini merupakan pusat pendidikan yang paling masyhur di Andalusia setelah mesjid Cordova. la dibangun pada masa sultan Granada, Abi al-Hajaj Yusuf I (733-755 H/1333-1354 M) atas usaha al-Hajib Ridhwan al-Nashri. Bangunan madrasah ini selesai dibangun pada tahun 749 H dan diresmikan pada tahun 750 H. Madrasah ini disebut sebagai yang paling utama di Andalusia dan satu-satunya madrasah yang sisa-sisa kejayaannya masih dapat ditemukan sampai saat ini. Bangunan Madrasah Nashriyah terdiri dari ruang pertemuan yang luas terletak di tengah gedung. Disekeliling ruang itu terdapat ruas-ruas lokal dipergunakan untuk belajar-mengajar. Ditingkat atas terdapat tempat tinggal untuk para penuntut ilmu yang datang dari jauh. Diujung lapangan terdapat sebuah mushalla kecil. Patut dicatat bahwa di samping madrasah ini terdapat penginapan yang menyatu dengan mesjid Granada. Ini mengandung makna kemungkinan dipergunakannya penginapan untuk para mahasiswa yang jauh dan para tamu yang berkunjung dan sekedar berdisikusi di madrasah ini. Selain itu, perpustakaan menjadi sentra utama bagi kelangsungan perkembangan Ilmu

pengetahuan di madrasah tersebut. Pengadaan buku-buku perpustakaan juga dibantu oleh pemerintah. Para guru madrasah Al-Nashriyah adalah ulama terkenal di Andalusia. Pemerintah ikut campur tangan menentukan guru-guru tersebut, di samping diperlukannya referensi dari ulama terkemuka seperti Manshur al-Zawawi yang mendapat referensi dari Syekh alNuhat al-Khaulani. Di antara guru-guru tersebut adalah: Ibrahim bin Ali bin Muhammad al-Rabi'I al-Tuni (w.874/ 1469) mengajar fiqh dan ushul fiqh. Ibrahim bin Muhammad bin Futuh al-Uqalli al-Andalusi (w.867/1462) seorang mufti Granada mengajar fiqh Maliki. Abu Muhammad bin Abdillah bin Abi al-Qasim bin Jauzi (w.757/1356) seorang sastrawan dan hafizh (penghafal al-Qur'an), mengajar bahasa Arab dan pengetahuan bahasa asing. Faraj bin Qasim bin Lubb al-Tsa'labi (w.780/1378), mengajar bahasa Arab, fiqh, tafsir dan ushul fiqh. Muhammad bin Muhaam bin Maharib al-Shuraihi (w. 750/1349), mengajar faraidh, hisab (berhitung), ushul fiqh dan ilmu-ilmu 'aqliyah (rasional) lainnya.Yahya bin Ahmad bin Huzail al-Tujaini (w.753/1352), mengajar ilmu kedokteran, teknik dan hisab. Di samping Madrasah Al-Nashriyah yang besar itu, di Granada juga terdapat madrasah-madrasah kecil di antaranya adalah: madrasah al-Qumhiyah, Al-Saifiyah, alFadhliyah dan Dar el-Hadits yang dibangun oleh al-Malik al-Kamil yang kemudian diberi nama madrasah al-Kamiliyah. Madrasah-madrasah kecil ini berkembang mengikuti irama perkembangan madrasah Al-Nashiriyah di Andalusia. Sayangnya, tidak banyak ahli sejarah pendidikan Islam yang mengupas secara detail tentang perkembangan madrasahmadrasah kecil ini, sehingga kita tidak cukup punya data untuk mengungkapkannya. Tetapi, keberadaannya tetap memberikan arti penting bagi perkembangan madrasah di Andalusia. g. Madrasah Malaga, Cordova Di Malaga terdapat sebuah mesjid jami' sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Di mesjid Jami' ini didirikan sebuah madrasah dengan nama madrasah Malaga atau Uzhma. Di madrasah ini mengajar seorang faqih, Muhammad bin Muhammad binYusuf al-Thanjali (w.733 H/l 332M). Di samping madrasah yang berada di mesjid ini terdapat pula madrasah lain yang didirikan oleh seorang sufi, Muhammad bin Muhammad bin Abdul Al-Rahman bin Ibrahim al-Anshari (678-754/1279-1353). Dia membangun madrasah ini dari harta yang diberikan oleh orang-orang kaya dan para pejabat kepadanya. 40 Masih banyak madrasah yang kemudian berkembang menjadi sebuah Al-Jamiah. Al-Azhar sebagai tipikal madrasah tinggi tertua di dunia merupakan salah satu contoh perkembangan pesat madrasah. Menurut Azyumardi Azra, Al-Azhar adalah al-Jamiah yang muncul paling awal dengan potensi sebagai "lembaga Pendidikan Tinggi: yang memiliki kronologi runtun perkembangan jenjang pendidikan dalam Islam, dari mulai Masjid, halaqah sampai kemudian madrasah dan Al-Jamiah. Di samping itu, juga ada
Muhammad Abdul Hamid Isa, Tarikh al-Ta'limfi al-Andalas (Cairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1982), h. 387.
40

madrasah tinggi Zaituna di Tunisia dan Qarawiyyin di Fez.

h. Madrasah Khusus
Pada umumnya madrasah mengajarkan fiqih sebagai kajian utama ditambah dengan pelajaran-pelajaran lain. Di samping itu, ada pula madrasah yang dikenal sebagai madrasah khusus. Madrasah semacam ini ini mengabdikan pengajarannya pada bidang tertentu/khusus. Ada madrasah yang khusus mengkaji tafsir, ada ilmu nahwu, dan pula ilmu sharaf. Al-Nuaymi, misalnya, menyebut setidaknya ada tiga madrasah di Damaskus yang secara khusus mengajarkan Ilmu Kedokteran (Madaris al-Thibb) yaitu: Madrasah Al-Dikhwariyah, Madrasah Al-Dunaysiriah dan Madrasah Al-Labudiyah. Al-Dikhwariyah dibangun pada 621/1224 oleh MuhadzhdzabAl-DinAl-Dikhwar (w.628/1231) yang kemudian menjadi guru pertama madrasah ini. la dianggap pakar terbaik di bidang ilmu kedokteran pada masa itu, pengarang beberapa buku, termasuk sebuah ringkasan karya Al-Razi (w.313/925), al-Hawi. Al-Dunaysiriyah dibangun oleh Ibn ahmad Al-Dunaysiri (w. 766/1365) setelah kembali dari Mesir tempat ia belajar berbagai cabang ilmu dari para ulama sezamannya. la juga merupakan pengarang buku Kedokteran. Madrasah Al-Labudiyah, setelah dibangun pada 664;/l 266 oleh Najm AlDin Al-Labudi, mengalami kehancuran tetapi direstorasi pada 949/ 1542 dan masih tetap berada di tempat pertamanya. Mereka yang mengajar di madrasah Labudiyah ini adalah orang yang terkenal dengan reputasi kedokterannya. Sayang, belum ada literatur yang menjelaskan tentang siapa yang mengajar dan bidang kedokteran apa saja yang diajarkan. Di bagian lain, masih dalam karya yang sama, Nuaymi menerangkan bahwa Ibn AlJuzri pernah membangun sebuah madrasah yang diabdikan untuk ilmu qira'at, tetapi ia kemudian menamainya dengan Dar Al-Quran, satu jenis lembaga yang tumbuh mengiringi pertumbuhan dan perkembangan madrasah umum dan khusus. Seorang bangsawan yang kemudian menjadi salah seorang sultan Dinasti Ayyubiyah, Al-MalikAl-Mua'adhdham Syaraf Al-Din (615-624 H/l218-1227 M) adalah seorang penggemar ilmu pengetahuan. Pada tahun 604/1208 ia membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan ilmu-ilmu bahasa Arab. Madrasah ini kemudian dikenal dengan nama Madrasah al-Nahwiyyah, terletak di Jerusalem (Al-Quds). Seorang Syaikh dan 25 orang mahasiswa dibiayai untuk mendalami dan mengem-bangkan bidang kajian bahasa di madrasah ini. Syams Al-Din bin Razin mendapat kesempatan pertama menjadi Syaikh di madrasah ini. Berkenaan dengan madrasah khusus didirikan untuk mendalami Al-Quran, di antaranya adalah: Madrasah al-Qur'an al-Dailamiyyah dan Madrasah al-Qur'an alShabuniyyah, di Damaskus. Madrasah Al-Qur'an Al-Dailamiyah, dibangun pada 847/1443 oleh penguasa Dailamiyah, Ibn 'Izz al-Din dan dibekali dengan wakaf untuk menjamin kelancaran program yang ia inginkan dan dilaksanakan oleh lembaga wakaf ini. Bayangan dari kebesaran lembaga yang biasa disebut Dar al-Qur'an ini bisa dikonstruksikan secara garis besar dengan melihat staf-staf serta jumlah dana yang digunakan dalam operasinya. Al-

Dailamiyah mempunyai seorang imam yang berfungsi sebagai syaikh Al-Quran; seorang al-ayyim (direktur) yang bertanggung jawab atas administasi kegiatan dan wakaf; enam mahasiswa tamu (al-fuqara' alghuraba'al-muhajirinfiqira'at al-Qur'an) di samping mahasiswa yang berasal dari Damaskus sendiri; dua orang pegawai untuk membantu direktur; seorang qari yang khusus bertugas membaca al-Qur'an setiap hari Selasa; dan seorang syaikh al-Qur'an yang bertugas mengajar anak yatim di sebuah maktab al-Qur'an yang menjadi bagian dari madrasah al-Qur'an ini. Biaya tahunan dari madrasah yang mencapai 9.740 dirham ini, menunjukkan bahwa kegiatannya tidak kalah dengan kegiatan lembaga madrasah pada umumnya. Syams Al-Din al-Baniyasi adalah imam dan syaikh pertama Dar al-Qur'an al-Dailamiyah. Adapun mengenai Madrasah al-Qur'an al-Shabuniyah, Damaskus, walau tidak terlalu banyak informasi yang dapat diterangkan, tampaknya madrasah ini cukup menarik. Selesai dibangun pada 868/1464 oleh Ibn Muhammad al-Bakri al-Shabuni. Lembaga ini mempunyai seorang khatib (al- Bauni), imam (al-Jibriti) dan muazzin, di samping tentunya, syaikh al-Qur'an dan sepuluh seorang mahasiswa. Seperti alDailamiyah, Dar Al-Qur'an ini mempunyai maktab untuk sepuluh orang anak yatim. Hal menarik dari informasi al-Nuaymi adalah wakif (pemberi wakaf) Dar al-Qur'an ini mensyaratkan bahwa khatib adalah dari mazhab Hanafi dan berasal dari keluarga Jibritiyah; dan administrasi dari lembaga ini akan terus berada di tangan waqif (pemberi wakaf) dan anak cucunya. Kesan yang muncul dari informasi ini adalah bahwa sistem wakaf Dar al-Qur'an itu tidak jauh berbeda dari, atau sangat dipengaruhi oleh, sistem wakaf yang diikuti dalam pembangunan madrasah. Persoalan mazhab tetap signifikan dan kontrol tetap mutlak di tangan pemberi wakaf, kecuali bila ia menginginkan lain.

3. Kegiatan Rutin di Madrasah
Mereka yang menjalani pendidikan tingkat tinggi di madrasah dituntut untuk belajar ekstra keras. Oleh karena itu hanya orang-orang yang memiliki kecintaan mendalam terhadap kehidupan intelektual saja yang dapat menjalani kehidupan sebagai penuntut ilmu di madrasah. Kegiatan belajar sangat ketat, padat dan tak mudah untuk diikuti. Jumlah waktu yang dibutuhkan seorang mahasiswa dalam satu bidang studi tertentu sangat bervariasi sesuai dengan tujuan masing-masing mahasiswa. Studi fiqih biasanya membutuhkan waktu empat tahun, tetapi mahasiswa boleh belajar lebih lama sepanjang menurut pertimbangannya dan pertimbangan syaikhnya penambahan waktu tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan satu tingkat pengetahuan dan keahlian tertentu. Biografi para pengajar madrasah menunjukkan bahwa sebagian besar mereka menghabiskan tidak kurang 20 tahun untuk belajar di bawah arahan guru terdahulu mereka. Jadwal kegiatan hari-hari normal di madrasah dan mesjid berangsur menjadi seragam, dimulai dan diakhiri dengan doa. Ini bisa dikaitkan dengan shalat wajib Shubuh dan Isya, atau bisa juga dalam satu waktu khusus. Waktu setelah shubuh biasanya digunakan untuk membaca al-Qur'an, diikuti dengan taffakur. Berikutnya sang syaikh memulai pengajaran formal biasanya dalam bentuk satu ceramah dari silabusnya dimana ia menyajikan materi baru atau mendiskusikan materi pada pertemuan sebelumnya. Waktu berikutnya dimanfaatkan untuk diskusi debat. Pada penggal waktu ini mahasiswa

bisa secara aktif terlibat dalam pengalaman pendidikan, mengadu kecerdasan dan keahlian mereka dalam berdebat dengan sesama mahasiswa serta syaikhnya. Periode ini biasanya dipimpin langsung oleh syaikh, yang berakhir pada tengah hari dan ditutup dengan doa secara formal. Pada sore hari, mu'id (assisten syaikh) mengulangi materi yang pada pagi hari disampaikan oleh syaikh dan membantu mahasiswa yang mendapatkan kesulitan dengan berbagai konsep. Kegiatan ini berlangsung secara non-formal sepanjang sore sampai malam hari. Oleh karena hafalan mendapat tempat istimewa dalam kurikulum, mahasiswa menghabiskan banyak waktu untuk menghafal sepanjang sore dan malam hari. Seorang syaikh bisa saja menjadwalkan perkuliahan formal setiap hari. Tetapi umumnya mahasiswa diberi tiga hari biasanya Selasa, Jumat dan Sabru untuk belajar sendiri dan melakukan aktivitas pribadi. Hari Jumat, hari besar Islam, seringkali diisi dengan debat khusus antara staf pengajar dengan mahasiswa, ditambah dengan ceramahceramah ilmiah. Madrasah secara formal diliburkan sepanjang bulan Ramadhan. Mahasiswa dikelompokkan berdasarkan tingkatan yang menunjukkan kemajuan belajar, jumlah beasiswa yang diterima (kalau ada), bidang studi yang ditekuni dan tingkat keterlibatan dalam aktivitas kelas. Tingkatan kemajuan belajar dibagi menjadi: tingkat pemula, menengah dan akhir. Partisipasi kelas merujuk pada perbedaan antara mahasiswa aktif (yaitu yang menerima beasiswa untuk tugas belajar tertentu) dan mahasiswa pendengar (ikut kuliah saja tanpa tugas perkuliahan). Pengelompokan lain di kalangan mahasiswa juga dapat dilihat pada kedekatannya dengan syaikh. Ada mahasiswa yang diterima sebagai mahasiswa khusus oleh seorang syaikh. Mereka adalah mahasiswa yang terpilih untuk duduk di dekat syaikh dalam halaqah. Sang syaikh akan mengajarkan mereka secara lebih mendalam dengan harapan bahwa sebagai mahasiswa pilihan mereka akan menyebarkan karya dan reputasinya ke daerah-daerah lain atau untuk menggantikannya kelak sebagai syaikh di madrasahnya. Seorang syaikh dan mudarris hanya memberikan status ini kepada mahasiswa terbaiknya. Hal ini berarti bahwa syaikh telah menerima mahasiswa bersangkutan ke dalam kelompok pengikutnya. Istilah yang dipakai adalah shuhbah (persahabatan) dan status ini memungkinkan seorang mahasiswa berhubungan secara lebih akrab dengan syaikhnya. Sejak menerima status ini ia akan memperoleh perhatian khusus dari syaikhnya yang akan membimbing dan mendorong perkem-bangan intelektualnya. Untuk menambah loyalitasnya kepada syaikh, mahasiswa biasanya membela pandangan-pandangan syaikhnya itu. Dengan menerima beberapa mahasiswa menjadi shuhbah, soerang syaikh bisa memperhitungkan kelanjutan dan penyebaran pandanganpandangannya. Beberapa orang di antara para shuhbah, mungkin akan diangkat menjadi asisten atau murid pada bagian akhir masa belajarnya; dan untuk ini mereka akan mendapatkan bayaran yang sesuai. Ketika seorang mahasiswa merasa telah siap dalam bidang tertentu, ia maju untuk menjalani ujian lisan. Jika penampilannya memenuhi standar yang ditentukan syaikhnya, ia akan menerima ijazah sebuah surat yang menyatakan kelayakannya untuk mengajar satu bidang studi tertentu. Jika ia adalah mahasiswa fiqih, ia akan menerima pengakuan

dalam mengeluarkan fatwa. Mereka yang mendapatkan ijazah di bidang fiqih bisa meninggalkan halaqah dan madrasahnya dan mencoba mem-bangun karirnya sendiri secara profesional di lembaga lain yang serupa, atau menjadi pegawai pemerintah sebagai mufti atau di arena diplomatik, politik dan sebagainya. Setelah mencapai status ilmuwan tertentu dengan reputasi tertentu, dia mungkin akan ditawari jabatan syaikh di masjid atau madrasah.

4. Kurikulum Pendidikan dan Metode Pengajaran Madrasah Pada Masa Klasik Islam
Para ahli sejarah membagi periodesasi sejarah pendidikan Islam jika dihubungkan dengan perkembangan lembaga pendidikannya menjadi tiga periode yaitu: masa klasik, masa pertengahan dan masa modern. Muhammad Jawad Ridha dalam "AI-Fikrul alTarbiyah al-Islamiyah", menjabarkan ketiga fase tersebut sebagai berikut: Pertama, terhitung mulai masa Nabi hijrah sampai berdirinya Dar al-Hikmah di Baghdad; Kedua, terhitung mulai berdirinya Dar el-Hikmah sampai berdirinya Madrasah Nizhamiyah; Ketiga, sejak berdirinya madrasah Nizhamiyah sampai runtuhnya khilafah Utsmaniyah. Beberapa pakar menyebut batasan pendidikan Islam dari zaman Nabi Muhammad SAW. sampai pada perkembangan ilmu pengetahuan di Baghdad, Mesir dan sekitarnya (Renaissance Islam). Pembatasan waktu yang dilakukan para ahli sejarah pendidikan Islam itu dari mulai klasik sampai modern cenderung lebih mengedepankan aspek kelembagaannya ketimbangkan aspek sistem, kurikulum dan metode pendidikannya. Oleh karena itu, sedikit sekali literatur tentang perkembangan aspek tersebut sampai saat ini. Istilah pendidikan Islam klasik dalam tulisan ini adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan individu, kelompok tertentu atau pemerintah/lembaga pemerintah, formal atau non-formal dalam periode tertentu pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam. Kegiatan itu di lakukan di rumah-rumah, majlis, masjid/halaqah dengan jenjang pendidikan dasar (kuttab), menengah (masjid/masjid khan, zawiyah) sampai tingkat tinggi (madrasah/al-Jamiah). Meskipun pembagian periode dalam pendidikan Islam merupakan sebuah matarantai yang saling bersambungan dengan periode-periode lainnya, namun masingmasing periode memiliki kekhasan tersendiri baik dari segi kurikulum pendidikan maupun metode pengajarannya. Di bawah ini kita akan membahas kurikulum pendidikan dan metode pengajaran madrasah pada masa klasik Islam. Di bagian akhir kita juga akan menyinggung bagaimana kurikulum dan metode pengajaran tersebut dinilai atau dievaluasi.

a. Kurikulum Pendidikan di Madrasah
Yang dimaksud dengan kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa dalam suatu periode tertentu. Dalam arti yang lebih luas, kurikulum sebenarnya bukan hanya sekadar rencana pelajaran, tapi semua yang

secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Dengan kata lain, kurikulum 41 mencakup baik kegiatan yang dilakukan pada jam belajar maupun di luar jam belajar, sepanjang hal itu berlangsung di lembaga pendidikan. Karena itu ada istilah ekstrakurikuler, yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam tatap muka di ruangan kelas. Akan tetapi, tentu saja kurikulum dalam pengertian seperti itu baru dikenal pada sistem pendidikan modern, baik sekolah maupun madrasah. Pada masa sebelumnya, meskipun sudah dikenal, muatan kurikulum tidak seketat pengertian tersebut. Kurikulum pendidikan madrasah merupakan pengem-bangan lebih lanjut dan lebih "standar" (dalam arti dapat digunakan secara seragam oleh siapa saja) dari kurikulum yang pernah dikenal pada masa Nabi Saw.. Kurikulum pendidikan pada masa Nabi Saw. ditentukan secara pribadi oleh beliau sendiri yang bertindak sebagai perancang pendidikan, konsultan sekaligus guru. Pada saat itu belum ada undang-undang pendidikan yang mengatur segala bentuk pengelolaan dan pengembangan pendidikan. Pada masa Khulafa al-Rasyidun dan Bani Umayyah kurikulum pendidikan ditentukan oleh para ulama dan khalifah yang memerintah pada masa itu. Sementara itu pada masa Dinasti Abbasyiah, ketika lembaga pendidikan model madrasah sudah mulai dikenal, kurikulum dan metode pendidikan diurus oleh ulama, sedangkan khalifah tidak terlalu dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan. Ini dilakukan dalam kerangka penghormatan mereka terhadap otorita lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan para ulama., selain karena mereka disibukkan dengan urusan politik. Sepanjang masa pendidikan klasik Islam, penentuan pengembangan pendidikan dasar, menengah dan tinggi berada di tangan ulama kelompok orang-orang berpengetahuan dan diterima secara otoritatif dalam soal-soal agama dan hukum. Keyakinan mereka berakar pada konservatisme agama dan keyakinan kokoh terhadap wahyu sebagai inti dari semua pengetahuan. Mengikuti arus penolakan atas aliran yang diilhami filsafatYunani terutama pasca al-Ghazali, kurikulum pendidikan belum terbentuk secara baku dalam bentuk peraturan, tetapi kurikulum dan metode di masjid, akademi dan madrasah mengikuti pola-pola yang dikembangkan dari majlis dan halaqahhalaqah ilmiah. Dengan demikian, yang dibicarakan dalam pengembangan madrasah lebih difokuskan pada kurikulum dan metode pengajaran saja. Hasan Asari memberikan penjelasan tentang kurikulum madrasah dengan konsep awal klasifikasi ilmu pengetahuan yang diajarkan di madrasah. Untuk memahami kurikulum madrasah secara lebih luas, menurutnya, perlu memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang dikembangkan para ulama dan ilmuwan Muslim. la mengutip pendapat Ibn Buthlan (w. 460/1068), seorang ahli kedokteran, berdasarkan riwayat Ibn Abi Ushaybi'ah, yang mengelompokkan ulama yang wafat pada sekitar pertengahan abad ke-5/11 ke dalam tiga kelompok berdasarkan cabang ilmu yang ditekuni yaitu: 1) ilmu-ilmu keagamaan; 2) ilmu-ilmu klasik (filsafat Yunani, filsafat (Timur) Persia dan sebagainya, yang disebut al-azua'il)., dan 3) ilmu-ilmu sastra (adab).

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfuktif Islam (Bandung: Rosdakarya, 1992), h. 53.

41

Makdisi, seperti diungkapkan Hasan Asari menulis: Nilai penting dari interrelasi ketiga kelompok (pengetahuan) ini paling baik diibaratkan dengan sebuah segitiga sama kaki yang terbalik. Dua kelompok pertama berada pada posisi dua ujung dasar segitiga yang telah terbalik ke atas dan kelompok ketiga ada pada puncak segitiga yang dibalik dari atas ke bawah. Ilmu-ilmu kelslaman menduduki tempat terhorn.at pada sebelah kanan, filsafat dan ilmu-ilmu alam di sudut sebelah kiri pada level yang sama dan ilmu-ilmu sastra berada pada sudut yang lebih rendah, dengan dua sisinya menuju pada dua kelompok yang lebih tinggi. Ilmu-ilmu keislaman memegang kontrol penuh dan menjadi unsur penting bagi lembaga-lembaga pendidikan. Naiknya ilmu-ilmu ini mulai terjadi secara nyata setelah gagalnya gerakan rasionalis (teologi Muktazilah dan filsafat) dan mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke 5 H/l 1 M. Dalam kelompok mi, hukum Islam (fiqh) dianggap sebagai satu dari segala cabang pengetahuan dengan peringkat yang tertinggi, sementara ilmu-ilmu sastra berfungsi sebagai pelayannya. Kelompok lainnya, yang disebut ilmuilmu kuno, yaitu ilmu-ilmu yang berasal dariYunani ditentang oleh sarjana Muslim di tengah masyarakat, tetapi memperoleh penghormatan secara terselebung di kalangan sebagian terpelajar. Keterangan di atas cukup menggambarkan secara garis besar kurikulum pendidikan yang diajarkan di madrasah. Ilmu-ilmu agama sangat jelas mendominasi madrasah, seperti juga di lembaga masjid atau masjid khan. Sejauh pengamatan ahli sejarah pendidikan Islam, belum ada rincian yang jelas tentang kurikulum satu madrasah. Hal-hal ini dianggap sulit apabila dihubungkan dengan sifat-sifat madrasah. Pertama, tidak adanya ikatan organisatoris antara satu madrasah dengan yang lain. Setiap madrasah bebas menentukan materi dan bentuk pengajarannya sendiri sesuai dengan keinginan pemberi waqaf (waqif) yang mendukung operasinya. Kedua, setiap Syaikh atau mudarris bebas memilih bidang yang diajarkan. Jadi, sebagai kesimpulan umum, kurikulum madrasah terdiri dari ilmu-ilmu agama seperti: ilmu al-Qur'an, hadist, tafsir, fiqih, ushul fiqih, ilmu kalam dan lain-lain yang tergolong kelompok ilmu-ilmu keagamaan Islam ini. Ilmu-ilmu sastra yang dibutuhkan untuk mendukung ilmu-ilmu agama juga diajarkan di madrasah, tetapi tidak menjadi bagian utama dari kurikulum. Deskripsi madrasah terdahulu menunjukkan bahwa ahli bahasa arab (nahwi) adalah bagian dari staf di beberapa madrasah, namun posisinya jelas tidak sepenting posisi mudarris yang mengajar ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu klasik belum diajarkan kecuali Filsafat, Kedokteran dan Astronomi, tetapi tidak begitu dominan, karena pelajaran ini memiliki lembaga pengajaran tersendiri (khusus). Di dalam pengembangan kurikulum khususnya pelajaran agama, madrasah mempunyai satu persoalan yaitu mengenai pelajaran Kalam. Para ahli menyebutkan bahwa Ilmu Kalam tidak mendapat tempat dalam kurikulum madrasah. Sementara, yang lain, berpendapat bahwa Ilmu Kalam mendapat tempat pada kurikulum madrasah. Untuk soal pertama, George Makdisi menulis bahwa madrasah bukanlah lembaga pengajaran Kalam tetapi lembaga pengajaran fiqih (hukum). Kemenangan aliran Asy'ariyah atas

Muktazilah tidak ada hubungan dengan pembangunan madrasah Nizhamiyah dan madrasah tersebut bukanlah lembaga resmi pemerintah, tetapi lembaga yang dibangun oleh wazir Nizham al-Mulk karena kapasitasnya sebagai pribadi muslim. Makdisi menulis: Madrasah adalah lembaga pendidikan tinggi (colleges) hukum, dengan beberapa kajian tambahan. Staf pengajarannya tidak mencakup ahli kalam. Pengajar yang mendapat gelar guru besar (professor) adalah pengajar hukum. Mungkin saja ia juga sebagai ahli kalam, tetapi kapasitasnya lebih kepada ahli hukum (guru besar hukum). Di Madrasah tidak ada posisi untuk mengajarkan kalam. Sisi lain dari tesis Makdisi adalah melibatkan satu argumen linguistik berkaitan dengan satu istilah teknis yang secara luas dipakai dalam dunia pendidikan Islam pramodern, sebagaimana terlihat dari sumber-sumber sejarah yang ada. Argumen linguistik ini mencakup semua istilah paedagogis yang berasal dari akar kata "d-r-s". Argumen ini, terutama digunakan oleh Makdisi untuk mendukung pernyataannya bahwa madrasah (salah satu kata jadian d-r-s) adalah lembaga pendidikan fiqih. Makdisi menjelaskan: Justifikasi penerjemahan kata [madrasah] ini menjadi lembaga pendidika tinggi hukum [ college of law ] dapat ditemukan dalam arti teknis kata jadian dari akar kata d-r-s. Istilah untuk hukum adalah fiqih. Sebuah pelajaran fiqih disebut dengan dars; seorang guru besar fiqih adalah mudarris; dan darrasa, dalam penggunaannya bila tidak dikaitkan dengan ilmu tertentu, berarti mengajarkan fiqih,..... darrasa dan tadris, secaraberturut,berarti mengajarkan hukum dan hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran hukum. Dan akhirnya istilah madrasah nama satu tempat (ism makan) dimana sebuah dars, yakni satu pelajaran fiqih, adalah merupakan kegiatan utama dari guru dan murid. .... tidak ada madrasah yang digunakan untuk tujuan utama yang lain; pengajaran disiplindisiplin semacam ilmu Qur'an, hadits, nahu dan sebagainya hanyalah [kegiatan] sampingan. Dengan menunjukkan bahwa Madrasah Nizhamiyah tidak mempunyai guru ilmu kalam (teologi), ditambah dengan argumen linguistik yang menyimpulkan bahwa madrasah adalah lembaga pengajaran hukum, adalah wajar kalau kemudian Makdisi menyatakan bahwa kebangkitan aliran teologi Asy'ariyah tidak ada hubungannya dengan madrasah, persis sama dengan pendahulunya, masjid. Bagi Nizham al-Mulk, fungsi madrasah mengajarkan salah dari mazhab yang empat. Makdisi membantah Goldziher dalam kaitan soal antara ilmu kalam dengan madrasah. Goldziher menyebut bahwa madrasah Nizhamiyyah adalah prototipe lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu kalam dengan alasan bahwa pembangunan itu atas kemenangan paham Asy'ariyah terhadap muktazilah dan Hanbaliyah. Goldziher melihat teologi yang dianut Nizham al-Mulk sebagai kurikulum utama pengajaran di madrasah yang ia bangun, dan madrasah itu, menurutnya, merupakan bagian dari sarana propaganda untuk meyebarkan paham Asy'ariyah dan menguburkan paham-paham lain.

Pandangan ketiga tidak melihat persoalan ini secara hitam putih dan menghasilkan posisi relatif di tengah. Beberapa penulis dapat dikelompokan ke dalam pandangan ini. Berikut ini akan kita kutipkan dua penulis dan sejarahwan Arab: 'Abd al-Lathif Tibawi dan M. Hasan Naqib. Tibawi, dalam satu artikel yang dia tulis sebagai respon terhadap tesis Makdisi, menyatakan bahwa spesialisasi seperti yang diinginkan oleh Makdisi adalah hal yang tidak mungkin pada abad ke-5/11. Seseorang sarjana saat itu, menurut Tibawi, adalah orang yang menguasai berbagai cabang ilmu agama sekaligus, termasuk dalam hal ini Ilmu Kalam. Tibawi mengakui tidak adanya bukti langsung tentang isi kurikulum madrasah; namun katanya: "Satu hal kita ketahui secara agak pasti, yaitu bahwa madrasah melambangkan teologi ortodoks atau filsafat spekulatif dan natural, dan bahwa keseluruhan ilmu-ilmu agama ('ulum al-diri) termasuk cakupan kurikulum madrasah. Sisi lain dari argumen pandangan ketiga ini bertalian dengan argumen linguistik yang dilontarkan oleh Maksidi. Mudarris bukan satu-satunya istilah yang digunakan pada masa klasik dan pertengahan digunakan untuk merujuk pada pengajar fiqih di madrasah. Al-Ghazali menggunakan istilah mu'allim dan ustadz untuk maksud yang sama. Dars juga tidak selalu berarti pelajaran fiqih sebagaimana dalam pandangan Maksidi. Al-Ghazali mengutip satu hadits yaitu kata nadrusu (kata jadian dari d-r-s) digunakan untuk kajian hadits. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam al-Daris, di mana al-Nu'aymi memberitakan bahwa Abu al-Khayr mengajar pada Dar al-Hadits al-Asyrafiyah; dan kalimat yang dia gunakan adalah: "wa-walla tadris dar al-hadits al-asyrafiyyah". Abu Nuwas bahkan menggunakan kata dars untuk pelajaran dari seorang mu'allim (guru) di kuttab. Ketidakpuasan terhadap argumen linguistik Maksidi juga dirasakan oleh Naqib yang, seperti Tibawi, juga meneliti penggunaan istilah-istilah tersebut dalam literatur Abad Pertengahan. Dia mengatakan, Dalam pemahaman kita, tadris adalah satu istilah kabur yang mencakup pengajaran lebih dari satu bidang kajian, dan istilah ini tidak selalu dapat disamakan dengan dars, yang oleh Maksidi dibatasi hanya untuk pengajaran fiqih. Penelitian kita terhadap istilah tadris tidak membuahkan satu petunjuk umum sehubungan dengan artinya yang paling tepat. Tentang hubungan madrasah dengan Kalam, Naqib menyatakan pandangan berikut: Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah Syafi'iyah, jika jaringan lembaga pendidikan ini dilihat dalam konteks dokumen wakaf Nizhamiyah Baghdad dan Isfahan serta afiliasi mahasiswa dan stafnya, terutama pada mudarris, dan untuk siapa satu madrasah dibangun. Begitupun, Madrasah Nizhamiyah memang menyebarkan Kalam aliran Asy'ariyah, meskipun aspek ini harus dilihat dalam konteks kesyafi'iyahan lembaga tersebut,..... kita tidak punya bukti langsung bahwa para mudarris mengajarkan ilmu kalam di Madrasah Nizhamiyah. Sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa al-Juwaini, yang dipercayakan melaksanakan pengajaran (tadris'), memang mengajarkan kalam Asy'ariyah kepada sejumlah mahasiswanya, walaupun

tidak dapat dipastikan apakah dia melakukan hal ini di Madrasah Nizhamiyah [Naisapur]. ...... hanya dalam hubungannya dengan wa'izh muballigh, pengkhotbah), berdasarkan kasus Madrasah Nizhamiyah Bagdad, kita memiliki bukti nyata bahwa sang wa'idh (juga beberapa mudarris) menyebarkan kalam Asy'ariyah di Nizhamiyah. Pada akhirnya, keberatan pandangan ketiga ini adalah penekanan yang terlalu ekstrim olek Maksidi pada sisi fiqih dari madrasah dan hal yang sama pada sisi Kalam oleh Goldziher. Hal ini terjadi pada Maksidi, nampaknya, karena kecende-rungannya untuk terlalu memusatkan perhatian pada mudarris dan dokumen wakaf yang ada, dan tidak memberikan perhatian yang memadai pada staf lain, seperti qari\ nahwi, pustakawan, dan terutama wa'idh, yang sesungguhnya juga merupakan bagian penting dari sistem pendidikan di madrasah. Kenyataan bahwa ia menulis sebagai respon kepada tesis Goldziher, kemungkinan besar, juga merupakan faktor lain. Goldziher jatuh pada persoalan yang sama tidak lain adalah karena penelitiannya memang terfokus pada sejarah perkembangan teologi, dan madrasah ia singgung tidak lebih dari sekadar justifikasi bagi tesis teologinya tentang kebangkitan aliran Asy'ariyah. Tanpa bermaksud menghentikan konflik pendapat tersebut, ada baiknya pembicaraan ini dikembangkan pada perkembangan kurikulum madrasah selanjutnya. Ilmu-ilmu agama memang mendominasi kurikulum lembaga pendidikan formal. Disiplindisiplin yang perlu untuk memahami dan menjelaskan makna Al-Quran rumbuh menjadi inti dari pengajaran yaitu hadits dan tafsir. Seni berpidato juga merupakan bagian penting dari pendidikan ilmu-ilmu agama, sebab kemampuan untuk menyampaikan ceramah yang menggugah dan ceramah ilmiah adalah salah satu peran inti seorang ulama dalam pendidikan dan kehidupan keagamaan di masyarakat. Kemahiran berbicara di tengah publik mengandung semua aspek pendidikan dan pengalaman. Seperti dalam sistem retorika Yunani, ilmu-ilmu agama mencakup berbagai disiplin. Di samping itu, tafsir dan hadits didukung pula oleh logika dan grammatika serta tergantung pula pada pengetahuan sejarah, geograpi dan kesadaran umum tentang sistem pemerintahan dan sistem sosial. Ilmu-ilmu agama tidak mungkin diajarkan secara terpisah, karena itu semakin banyak para pengajar dan ulama mempertimbangkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu untuk mendukung kurikulum pengajaran AlQuran dan Hadits. Pada intinya, fiqih mendapat tempat dalam sistem ini sebagai satu bidang kajian khusus dalam mazhab tertentu, dan ilmu-ilmu agama yang lain berfungsi sebagai prasyarat. Di mesjid, mesjid khan, akademi dan madrasah studi fiqih diuraikan oleh seorang syaikh dalam satu silabus tertentu yang disebut ta'liqah Mated yang terkandung dalam ta'liqah menjadi latar belakang informasi yang dibutuhkan dalam debat lisan bentuk lain dari kurikulum pengajaran madrasah. Debat lisan bersifat formal tergantung pada aturan-aturan logika dan retorika di saat seseorang mempertahankan tesis dalam hal ini, satu pandangan hukum menghadapi seorang penantang yang akan mencoba membatalkan argumentasi dan logikanya. Ta'liqah tidak terbatas pada satu bidang saja, fiqih misalnya, bidang-bidang lainnya juga menggunakan bentuk ini.

Selanjutnya, cakupan kurikulum lembaga pendidikan Islam pada abad ke-10 M dapat dilihat dari berbagai sumber. Salah satunya adalah kitab Al-Fihrist (Indeks) oleh Ibn Al-Nadim pada tahun 988 M. Sumber kedua adalah karya-karya Ikhwan Al-Shafa, sebuah persaudaraan sufi yang mengabdikan diri pada peningkatan pendidikan di dunia Islam, yang mengembangkan program pendidikannya secara menyeluruh dalam serangkaian risalah. Pendekatan mereka melalui ensiklopedik pendidikan, yang berasal dari Basrah pada paruh kedua abad ke-10 M, muncul dalam bentuk kompilasi yang sebagian besar dipakai di dunia pendidikan Islam.Topik-topikyang tercakup dalam ensiklopedia pengajaran tersebut adalah: Disiplin Umum : tulis-baca, arti kata dan grammatika, ilmu hitung, sastra (sajak dan puisi), ilmu tentang tanda-tanda dan isyarat, ilmu sulap, kimia, dagang dan keterampilan tangan, jual-beli, komersil, pertanian dan peternakan dan biografi serta kisah-kisah. Ilmu-ilmu Ag ama: Ilmu al-Qur'an. tafsir, hadis, fiqih, dzikir, zuhud, tasawuf dan syahadah. Ilmu-ilmu filosofis : matematika, logika, ilmu berhitung, geometri, astronomi, musik, aritmatika, hukum geometri, ilmu alam, antropologi, zat, bentuk, ruang, elemen, gerakan, kosmologi, produksi, peleburan, metereologi, menerologi, esensi alam dan manifestasinya, botani, zoologi, anatomi dan antropologi, persepsi inderawi, embriologi, manusia sebagai mikro kosmos; perkembangan jiwa (evolusi psikologis): tubuh dan jiwa; perbedaan bahasa-bahasa (pilologi), psikologi (pemahaman dunia kejiwaan dan sebagainya), teologi; doktrin teologi, doktrin esoteris Islam, susunan alam spritual, serta ilmu alam ghaib. Kurikulum ini dianggap sebagai kurikulum madrasah tinggi, karena sudah mengenalkan begitu banyak pelajaran umum. Tetapi, studi ilmu-ilmu asing itu tidak semua diajarkan mendetail pada tingkat madrasah umum atau khusus. Ada di antara ilmuilmu itu yang diajarkan pada tataran dasarnya saja, dan tempatnya pun tidak harus di lembaga formal seperti madrasah. Di rumah, di istana wazir dan pejabat negara, pelajaran-pelajaran ini lebih kental dikenalkan dan didalami. Secara umum bentuk kurikulum madrasah pada masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam klasik menggunakan tiga bentuk kurikulum yaitu Subject Curriculum, Correlated Curriculum dan Integrated Curriculum. Ketiganya disesuaikan dengan perkembangan madrasah pada periode-periode tertentu. Subject Curriculum difokuskan pada materi pelajaran yang diberikan berdiri sendiri, tidak berhubungan dengan pelajaran yang lain. Dalam subject curriculum, mata pelajaran diajarkan secara mandiri, dikembangkan berdasarkan keluasan pelajaran tersebut terhadap ilmu pengetahuannya. Bentuk kurikulum ini biasanya terdapat pada pelajaran utama, seperti al-Qur'an,Tafsir, Fiqh dan lain-alin. Kemudian pelajaran non-agama seperti fisika, biologi, ilmu berhitung, kedokteran dsb. Subject Curriculum dikembangkan pada masa awal berdirinya madrasah dan pertumbuhan pendidikan Islam klasik.

Correlated Curricullum difokuskan pada satu materi pelajaran yang dihubungkan dengan materi pelajaran yang lain. Contohnya, materi tafsir dihubungkan dengan hadits, pelajaran fiqih dihubungkan dengan hadits dsb. Bentuk kurikulum seperti ini mendominasi pada masa akhir pendidikan Islam klasik, yaitu ketika ilmu pengetahuan sudah berkembang dan mengalami renaissance. Integrated Curriculum yaitu perpaduan antara materi satu dengan yang lain dan saling berkaitan, sehingga penyajian bahan pelajaran itu dalam bentuk unit. Kurikulum ini dilaksanakan dalam pengajaran unit, yaitu satu unit mempunyai tujuan yang bermakna bagi mahasiswa madrasah. Kurikulum ini diberikan di dalam pelajaran retorika (dakwah) pada masa Madrasah Nizhamiyah sampai pada perkembangan madrasah selanjutnya.

b. Metode Pengajaran di Madrasah
Jenis metode pengajaran yang diberikan di madrasah antara lain: hafalan, keteladanan, latihan dan praktek. Ini merupakan kelanjutan dari masa Rasulullah terutama ketika beliau memberikan pelajaran al-Qur'an. Pada perkembangan berikutnya, pendidikan Islam yang dilakukan di madrasah menggunakan metode talqin, di mana guru mendikte dan murid mencatat lalu menghafal. Setelah hafal, guru lalu menjelaskan maksudnya. Metode ini oleh Makdisi disebut sebagai metode tradisional; murid mencatat, menuliskan materi pelajaran, membaca, menghafal dan setelah itu berusaha memahami arti dan maksud pelajaran yang diberikan itu. Hasan Langgulung, menyebut metode pengajaran di madrasah pada masa pendidikan Islam klasik rnasih belum runtut. Tetapi setidaknya, metode induktif, deduktif, analogi, bercerita dan metode kunjungan sudah dilakukan. Yang tidak dapat terlupakan dalam pengembangan metode pengajaran adalah diperkenalkannya metode tanya-jawab yang biasanya dilakukan dalam sebuah ta 'liqah (perdebatan). Metode ini dilakukan pada pelajaran yang menuntut penjabaran rinci seperti pada tingkat atas dalam berbagai pelajaran, sebagaimana dilakukan dalam pembaharuan pendidikan Islam di Mesir dan Syria (1220 H/1805 M). Metode pengajaran yang diterapkan di madrasah-madrasah pada masa klasik Islam tidak bisa dilepaskan, bahkan sangat boleh jadi dipengaruhi langsung oleh tujuan pendidikan di madrasah itu sendiri. Karena itu di bawah ini akan dibahas sepintas lalu tujuan-tujuan pendidikan yang dikembangkan di madrasah, baik tujuan institusional, tujuan kurikuler, maupun tujuan instruksional.

1) Tujuan Institusional Madrasah .
Pada masa pendidikan Islam klasik, rumusan tujuan pendidikan di madrasah secara institusional sudah ada. Ini terlihat pada motivasi dan pendirian madrasah Nizham alMulk di Baghdad yang bertujuan mengembangkan mazhab Syafi'i, kemudian al-Azhar pada masa Dinasti Fathimiyah yang mengembangkan mazhab Syiah, setelah itu pada zaman dinasti Ayyubiyah tujuan institusional al-Azhar diubah untuk mengembangkan

faham Sunni. Pada dekade berikutnya, seiring dengan makin banyaknya madrasah yang dibangun, tujuan institusional lembaga pendidikan madrasah dikuatkan dengan hadirnya Hanafie Institute (madrasah Hanafiah) dan Hanbali Institute (madrasah Hanbaliah) seperti The Shrine college oflbn al-Abradi yang bertujuan mengembangkan ajaran-ajaran Ahmad Ibn Hanbal. Tetapi pada era berikutnya, seperti pada lembaga Dar El 'Ulum di Baghdad, tujuan institusional madrasah tidaklagi bertumpu pada pengajaran satu mazhab, tetapi lebih universal yaitu semua mazhab dengan bentuk-bentuk kelas tertentu. Al-A'la menjelaskan bahwa tujuan institusional madrasah masih bersifat parsialterbatas pada madrasah tertentu saja belum menyeluruh, selain pada masing-masing jenjang pendidikan. Dengan demikian, pada masa pendidikan Islam klasik tujuan institusional madrasah dikembangkan sesuai dengan misi utama yang diajarkan oleh para penyusunnya (ulama) yang mengajar di madrasahnya. Namun, terkadang, misi itu perlu penyesuaian dengan kepentingan dan aturan/ kebijakan pemerintah.

2) Tujuan Kurikuler Madrasah.
Untuk mengetahui tujuan kurikuler dari pendidikan model madrasah pada masa klasik Islam, secara tersirat dapat dilihat dari bidang studi yang ditekuninya. Tetapi sebelum dunia Islam mengenal madasah pun sebenarnya tujuan kurikuler sudah ada, yakni jika dilihat dari bidang studi yang ditekuninya tadi. Para sahabat Rasullulah, misalnya, mempelajari Al-Quran bertujuan agar mereka hafal dan mengerti makna yang terkandung serta berusaha untuk mengamalkan secara utuh. Untuk kepentingan itu mereka menghafalnya secara tekun dan cermat. Mereka yang berminat menekuni bidang fiqih bertujuan paling tidak agar mereka dapat melaksanakan ibadah dengan benar sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. dan sesuai dengan anjuran syariat Islam. Pada generasi pasca sahabat, ketika pendidikan madrasah mulai dikenal, kaum Muslimin mempelajari berbagai bidang keilmuan dengan tujuan agar memahami ajaran Islam sesuai dengan bidang kajian masing-masing. Selain itu, pengetahuan dasar seperti membaca dan menulis merupakan kunci dalam mempelajari bidang-bidang keilmuan. Oleh karena itu, pengetahuan dasar diberikan kepada siapa saja sejak kanak-kanak. Ahmad Syalabi berpendapat bahwa salah satu tujuan para sahabat mempelajari hadits Nabi ialah agar mereka mengetahui persis akhlak Nabi. Sementara generasi berikutnya mempelajari ilmu bahasa agar dapat menolong mereka memahami kandungan Al-Quran dan sabda-sabda Nabi secara tepat. Menurut Al-Abrasyi, tujuan kurikuler dapat dilihat dari kecenderungan dan karakteristik ilmu yang ditekuninya, seperti belajar sejarah bertujuan untuk mengetahui keadaan masa lalu, bagaimana kehidupan para nabi, para raja dan para penguasa. Tujuan mempelajari ilmu mantiq untuk menjaga dan memelihara pikiran agar bisa berpikir maksimal dan logis. Tujuan mempelajari ilmu berhitung adalah untuk membiasakan diri berpikir analisis, sistematis dan kritis. Tujuan mempelajari ilmu kesehatan untuk memelihara dan mengetahui seluk beluk penyakit dan cara-cara menolong orang sakit.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pelajaran di madrasah sudah mempunyai tujuantujuan kurikuler tertentu untuk mencapai target lulusan yang diharapkan. Sejak masa klasik tujuan kurikuler pendidikan Islam memang sudah disusun secara baik, walaupun belum dianggap sebagai hal yang sistematis.

3) Tujuan Instruksional Umum
Tujuan instruksional umum pendidikan digariskan dengan maksud agar mereka yang belajar di madrasah mengerti dan memahami kegunaan materi dari ilmu yang dipelajarinya. Misalnya, mempelajari ilmu mantiq agar mereka mengerti, mengetahui dan memahami cara berpikir yang baik dan benar. Tujuan mempelajari ilmu berhitung dan ilmu ukur adalah untuk mengerti, dan memahami cara menghitung yang benar dan baik. Tujuan mempelajari ilmu fiqih agar mereka mengerti, dan memahami hukum-hukum Islam baik yang berkenaan dengan ibadah maupun muamalah. Demikian pula mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Tujuan Instruksional umum pada masa pertumbuhan dan perkembangan madrasah pendidikan Islam klasik lebih ditekankan pada aspek pengertian dan pengembangan pengetahuan, belum sampai pada tataran praktis. Karena itu, materi yang diajarkan baru sampai pada pengembangan pengetahuan yang bersifat teoritis.

4) Tujuan Instruksional Khusus
Tujuan ini dirumuskan pada kondisi yang bersifat aplikatif dan bersifat lebih rinci, yaitu murid tidak hanya dituntut mengerti dan memahami tetapi juga dapat menyebutkan, mengungkapkan secara benar dan mempraktekkannya. Misalnya, pengajaran Al-Quran menuntut murid/mahasiswa dapat membacakan dengan benar, menyebutkan ayat-ayat tertentu yang berhubungan dengan materi pelajaran, dan dapat menunjukkan ayat-ayat tertentu jika guru memintanya. Contoh lain mempelajari berhitung dan ilmu ukur agar murid terbiasa menggunakan akal dan perasaan dalam mengikuti cara-cara tertentu seperti cara menjumlahkan, mengalikan, membagikan angka-angka dan mengukur luas dan isi. Kemampuan seperti ini sangat berguna secara praktis dalam kehidupan mereka sehari-hari, yang kelak akan membantu mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Secara Instruksional bila mereka telah menguasai ilmu-ilmu itu mereka dapat memecahkan persoalan dalam pembagian harta waris. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas.

c. Evaluasi Pengajaran di Madrasah.
Pada masa perkembangan pendidikan Islam klasik, untuk mengetahui berhasil atau tidaknya suatu kurikulum dan metode pengajaran yang diterapkan dalam sistem pendidikan dibutuhkan evaluasi pendidikan. Menurut Stanton dan Makdisi, evaluasi hasil belajar di madrasah sudah dilakukan pada masa Madrasah Nizhamiyah, dan diikuti oleh madrasah-madrasah lainnya pada masa sesudahnya.

Bentuk evaluasi pendidikan madrasah pada masa itu sebagian besar dilakukan sendiri oleh guru bidang studi. Para guru bertanya pada muridnya, atau para murid diminta menghafal di depan kelas mengenai suatu materi. Evaluasi belum bisa dilakukan secara teratur dan terjadwal karena keberhasilan seorang murid menguasai materi yang diajarkan sangat tergantung pada semangat belajar para siswa/mahasiswanya sendiri. Setelah pendidikan madrasah mulai berjenjang, evaluasi dilakukan setidaknya untuk menentukan tingkat kelayakan seseorang dalam mempelajarai ilmu-ilmu tertentu yang membutuhkan pengetahuan dasar dari ilmu-ilmu tersebut. Seperti pelajaran Al-Quran, sebelum mempelajari tafsir Al-Quran, murid harus mengetahui lebih dahulu membaca dan menulis huruf dan ulumul Quran. Sepanjang sejarah pendidikan Islam klasik tidak ditemukan suatu catatan yang menjelaskan bahwa para pelajar diminta mempersiapkan diri mengikuti suatu ujian atau ulangan.Test yang dilakukan pada saat itu adalah test dalam kelas yang langsung dilakukan oleh para mudarris/syaikh, atau teman-teman lainnya dengan cara bertukar pikiran, berdebat atau diskusi. Namun demikian, tes tidak dilakukan secara terstruktur. Siswa/mahasiswa hanya mendapatkan ijazah atau surat keterangan sebagai bukti bahwa mereka telah lulus atau pernah belajar di lembaga tersebut. Surat keterangan itu berisi pernyataan tertentu di bawah bimbing-an ustadz/mudarris/syaikh tertentu, mengikuti ujian tertentu dan tanda tangan ketua lembaga pendidikan. Pemberian ijazah tersebut hanya sebatas menunjukkan kemampuan dan kesung-guhan seorang pelajar dalam mempelajari ilmu-ilmu tertentu tanpa disebutkan alamat lembaga tempat mereka belajar dan tidak mendapat gelar seperti pada lembaga pendidikan modern. *****

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful