You are on page 1of 7

PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA KEHAMILAN

ABSTRAK
Penggunaan antibiotika pada kehamilan bisa dengan tujuan terapi ataupun profilaksis. Pemilihan
jenis antibiotika yang akan diberikan pada ibu hamil seharusnya didasarkan atas uji kepekaan di
laboratorium untuk menentukan secara tepat jenis antibotika yang diperlukan dengan
mempertimbangkan pula efek toksik terhadap ibu maupun efek teratogenik terhadap janin dalam
rahim. Selain itu penentuan dosis antibiotika juga harus mempertimbangkan perubahan
farmakokinetik yang sesuai dengan perubahan fisiologik pada ibu hamil. Kondisi fisiologik ibu hamil
akan sangat menentukan apakah sebaiknya obat yang diberikan peroral atau parenteral dan dosis
yang diberikan lebih tinggi atau sama dengan ibu yang tidak hamil. Barier plasenta merupakan salah
satu perlindungan agar janin seminimal mungkin mendapatkan efek samping obat. Dalam hal ini
harus dipertimbangkan usia hamil saat mendapatkan antibiotika, oleh karena pada fase embrio (2!
minggu" barier plasenta ini sangat lemah (masa kritis" dan meningkat sampai pada puncaknya pada
#aktu janin usia 2$2! minggu, setelah itu akan menurun lagi sampai aterm. %leh karena
keterbatasan #aktu dan harus segera memberikan pengobatan antibiotika seorang dokter di suatu
rumah sakit harus memahami peta mikroorganisme setempat untuk menentukan pilihan antibiotika
pada ibu hamil maupun bersalin. Pada akhirnya klasifikasi antibiotika berdasarkan efek terhadap
janin yang direkomendasikan oleh &D' pada tahun $()( tetap merupakan acuan yang dapat dipakai
untuk menentukan pemilihan jenis antibiotika yang relatif aman untuk diberikan pada ibu hamil
Pendahuluan
Sering ditemui selama kehamilan seorang #anita terpaksa harus mengkonsumsi obatobat antibiotika
oleh karena infeksi yang diderita.
*ahun $(!), +D+ meneliti kasuskasus ibu hamil di ,e#-ork State, ternyata sebagian besar
mendapatkan ratarata .,! resep obat yang bukan /itamin. Ditenukan juga bah#a sebagian lagi obat
obat tersebut dikonsumsi oleh ibu hamil tanpa resep dokter.
Pertanyaan yang selalu timbul pada peristi#a tersebut adalah apakah obatobat tersebut
menyebabkan kecacatan atau tidak terhadap janin janin dalam rahim.
Setiap obat yang punya efek sistemik hampir selalu bisa menembus barier plasenta dalam jumlah
yang sangat ber/ariasi. Sebagian besar obat tersebut memang belum semuanya terbukti mempunyai
pengaruh jelek terhadap janin.
Semua jenis obat antibiotika yang diberikan pada ibu hamil baik untuk tujuan pengobatan pada ibu
maupun janin tak terkecuali akan dapat memasuki unit janin. Pada umumnya obatobat antibiotika ini
merupakan benda asing (0enobiotic" terhadap sel yang hidup. %batobat antibiotika yang mekanisme
kerjanya menghambat atau membunuh mikroorganisme, tidak sedikit yang menimbulkan efek toksik
atau teratogenik terhadap ibu atau janin didalam rahim. %leh karena itu setiap pemberian obatobat
antibiotika ini perlu dipertimbangkan risikonya terhadap kesehatan ibu maupun hasil konsepsi
didalam rahim.
Teratologi pada manusia.
'spek yang paling penting dalam masalah ini adalah pengaruh obatobat pada saat tertentu selama
pembuahan sampai dengan kehamilan.
Periode pertumbuhan hasil konsepsi dibagi menjadi 1
$. Periode o/um, yakni sejak saat fertilisasi sampai dengan implantasi.
2. Periode embrionik, yakni sejak minggu kedua sampai dengan minggu kedelapan setelah
fertilisasi.
.. Periode fetal (janin", yakni setelah ! minggu sampai dengan aterm.
Periode embrionik adalah periode yang paling kritis oleh karena saat ini sedang dalam fase
pembentukan organorgan (organogenesis". Pada periode fetal2janin, terutama trimester 333, pengaruh
antibiotika yang diberikan pada ibu hamil tidak akan mempengaruhi pembentukan organ
(malformasi2dismorfogenik". Pengaruh obatobatan terhadap janin berkaitan dengan jumlah bahan
didalam peredaran darah (serum", absorbsi dalam usus, metabolisme, ikatan dengan protein (protein
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
$
binding", penyimpanan dalam sel, uuran molekul dan kelarutan bahan tersebut dalam lemak yang
merupakan faktor yang menentukan kemampuan obat untuk menembus barier plasenta. Beberapa
jenis obat memang telah diketahui memberikan efek teratogenik pada dosis yang relatif rendah pada
saat yang tepat misalnya alkohol, thalidomide, antagonis asam folat dan lainlainnya, akan tetapi
yang penting diketahui adalah bah#a pemakaian obatobat tersebut meskipun mempunyai efek
teratogenik bila diberikan setelah periode yang kritis tersebut tidak lagi memberikan kelainan
kelainanyang bersifat struktural.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebagai bahan teratogenik antara lain 1
$. *elah terbukti bah#a kelainan yang terjadi pada janin berhubungan dengan pemberian obat
tertentu selama masa perkembangan perinatal.
2. *emuantemuan yang konsisten oleh dua atau lebih penelitian epidemiologik yang berbobot,
kuat uji dan risiko relatif yang memadai (44. 5 atau lebih ".
.. Batasan klinis untuk menentukan kelainan ba#aan atau gejalagejala yang spesifik.
6. Paparan yang jarang berhubungan dengan kejadian kecacatan yang jarang pula.
7. 8ubungan tersebut harus dapat dijelaskan melalui patofisiologi yang benar.
Klasifkasi FDA tentang obat yang mempunyai efek terhadap janin.
Pada tahun $()(, &D' merekomendasikan 7 kategori obat yang memerlukan perhatian khusus
terhadap kemungkinan efek terhadap janin.
'. %bat yang sudah pernah diujikan pada manusia hamil dan terbukti tidak ada risiko
terhadap janin dalam rahim. %batobat golongan ini aman untuk dikonsumsi oleh ibu
hamil (/itamin"
B. %bat yang sudah diujikan pada binatang dan terbukti ada atau tidak ada efek terhadap
janin dalam rahim akan tetapi belum pernah terbukti pada manusia. %batobat
golongan ini bila diperlukan dapat diberikan pada ibu hamil (Penicillin".
+. %bat yang pernah diujikan pada binatang 2 manusia akan tetapi dengan hasil yang
kurang memadai. 9eskipun sudah dujikan pada binatang terbukti ada efek terhadap
janin akan tetapi pada manusia belum ada bukti yang kuat. %batobat golongan ini
boleh diberikan pada ibu hamil apabila keuntungannya lebih besar dibanding efeknya
terhadap janin (Kloramfenicol, 4ifampisin, P'S, 3,8".
D. %bat yang sudah dibuktikan mempunyai risiko terhadap janin manusia. %batobat
golongan ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi ibu hamil. *erpaksa diberikan apabila
dipertimbangkan untuk menyelamatkan ji#a ibu (Streptomisin, *etrasiklin,
Kanamisin".
0. %bat yang sudah jelas terbukti ada risko pada janin manusia dan kerugian dari obat ini
jauh lebih besar daripada manfaatnya bila diberikan pada ibu hamil, sehingga tidak
dibenarkan untuk diberikan pada ibu hamil atau yang tersangka hamil.
*abel $. Klasifikasi (&D'" untuk antibiotika dan risikonya terhadap janin.
Golongan/nama generik Klasifikasi Golongan/nama generik Klasifikasi
Gol. Penisilin B Gol. Anti Virus +

Gol. Sefalosporin B Gol. Anti TBC
9o:alactam + ;thambutol B
P'S +
Gol. Aminoglikosida 3,8 +
'mikasin + 4ifampisin +
<entamisin +
,eomisin + Gol. Anti malaria
Kanamisin D +hloro=uine +
Streptomisin D Prima=uine +
*obramisin D Pyrimethamin +
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
2
>uinine D20
Gol. Tetrasiklin D
Gol. Sulfa
Lainlain Sulfasala?ine B2D
Basitrasin + Sulfonamida B2D
Kloramfenikol +
+lindamisin B Gol. !rinar" Germi#ide
+olistimethate B +ino:asin B
;ritromisin B 9andelic 'cid +
&ura?olidone + 9ethenamine +
@incomisin B ,alidi:ic 'cid B
,o/obiosin + ,itrofurantoin B
%leondomisin +
Polymy:in B B Gol. Anti S#abies
Spectinomisin B @indane +
*rimetoprim + Pyrethrins +
*roleandomisin +
Aancomisin + Gol. Antisepti# Kulit
3odine +
Gol. Anti amuba
+arbar?one D Gol. Anti $amur
3odo=uinol + 'mfoterasin B B
9etronida?ol B +lotrima?ole B
<riseoful/in +
9icona?ole B
,ystatin B


Mekanisme kerja obat anti infeksi
9ekanisme kerja obat anti infeksi terhadap mikroorganisme dapat berupa 1
$. 9enghambat sintesa metabolitmetabolit yang esensial, protein dan asam nukleat.
2. 9enghambat sintesa dinding sel atau membran plasma.
.. 9erusak dinding sel atau membran plasma.
Dilihat dari mekanisme kerjanya maka antibiotika ini dapat mempunyai efek 1
a. Bactericidal, bila menyebabkan sel mikroorganisme tersebut mati oleh karena efek obat yang
merubah, menghambat atau merusak sel mikroorganisme.
b. Bacteriostatic, bila menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme terhenti oleh karena ada
hambatan terhadap metabolisme mikroorganisme.
%batobat ini sebagian dalam bentuk terikat dengan protein (protein binding" atau mengalami proses
metabolisme sehingga terbentuk metabolitmetabolit yang tidak dapat menembus barier plasenta.
Sebagian lagi dalam bentuk bebas tidak terikat dengan protein dan tidak mengalami metabolisme,
bentuk ini yang mampu menembus barier plasenta.
*abel 2. 9ekanisme kerja obat anti infeksi.
Mekanisme kerja Nama generik oba ani infeksi
9enghambat sintesa metabolit Sulfonamide P'S
esensial *rimethoprim 3,8
9enghambat pembentukan Streptomisin ;rithromisin
protein ,eomisin ':ithromisin
Kanamisin +larithromisin
<entamisin @incomisin
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
.
*obramisin +lindamisin
'mikasin Kloramfenikol
,etilmisin *etrasiklin
Spectinomisin
9enghambat pembentukan 4ifampisin %flo:asin
asam nukleat ,alidi:ic acid ,orflo:asin
+ino:asin +iprofo:asin
'ctinomisin D ;no:asin
9enghambat pembentukan Penisilin 'mo:ilin+la/.
dinding sel Sefalosporin *icarcilin +la/.
Sefamisin 'mpisilin Sulbact.
+arbapenem Aancomisin
Piperasilin
*a?obactam
9erusak membran sel Polimi:in B 'mfoterasin B
+olistin ,istatin
Farmakokinetik obat-obat anti infeksi pada kehamilan
&amakokinetik obatobat saat hamil jelas tidak sama dengan tidak hamil, oleh karena adanya
perubahan fisiologik pada saat hamil.
Perubahanperubahan farmakokinetik saat hamil antara lain 1
$. Aolume darah dan cairan tubuh meningkat sehingga kadar obat dalam plasma darah
akan menurun.
2. Kadar protein dalam plasma relatif rendah, akibatnya ikatan obat dengan protein akan menurun
sehingga kadar obat bebas dalam darah akan meningkat.
.. 'liran darah ke ginjal meningkat sehingga filtrasi glumerolus akan meningkat dan ekskresi obat
melalui ginjal juga meningkat sehingga masa aksi kerja obat dalam tubuh akan lebih singkat.
6. Kadar progesteron saat hamil meningkat, sehingga metabolisme di hepar akan meningkat pula ,
hal ini mengakibatkan kadar obat bebas dalam darah akan menurun.
7. Peristaltik menurun sehingga absorpsi melalui usus akan menurun, dengan demikian kadar obat
per oral dalam serum ibu hamil akan lebih rendah dibanding dengan ibu yang tidak hamil. %leh
karena itu dosis obat per oral yang diberikan pada ibu hamil relatif harus lebih tinggi dibanding
ibu tidak hamil untuk mendapatkan dosis terapeutik dalam darah yang sama.
Kondisi seperti diatas menjadi masalah yang harus dipertimbangkan dalam pemberian obat pada ibu
hamil, oleh karena setiap obat yang diberikan pada ibu hamil hampir selalu ada sebagian yang
mampu menembus barier plasenta dan masuk kedalam unit janin dalam rahim. Sebagai contoh
Sulfonamide yang diberikan pada ibu, sebanyak B $C akan menembus barier plasenta kedalam unit
janin. Dumlah obat 0enobiotic yang mampu menembus barier plasenta tergantung pada 1
a. Denis obat. %leh karena jumlah obat yang terikat pada protein dan mengalami metabolisme
sangat tergantung pada jenis antibiotika yang dipakai.
b. Dosis obat. 9akin tinggi dosis yang diberikan, akan makin tinggi pula kadar 0enobiotic yang
masuk kedalam unit janin.
c. Kondisi plasenta. Pada umumnya kondisi plasenta berkaitan erat dengan usia hamil. Proses
pertumbuhan plasenta akan sempurna pada usia hamil $52E minggu. Pada usia hamil 2$2!
minggu barier plasenta akan lebih kuat dibanding dengan usia hamil diatas 2! minggu.
0enobiotic yang beredar dalam unit janin seharusnya mencapai kadar terkecil yang mampu
menghambat pertumbuhan mikroorganisme (9inimal 3nhibitory +onsentration293+" atau kadar
terkecil yang mampu membunuh mikroorganisme (9inimal Bactericidal +onsentration29B+" tanpa
menimbulkan risiko terhadap janin atau hasil konsepsi. 'kan tetapi hal ini yang sangat sulit
dilaksanakan oleh karena menentukan dosis terapeutik obat dalam tubuh janin dalam rahim belum
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
6
dilaksanakan secara rutin sedangkan 93+ dan 9B+ ditentukan berdasarkan atas uji kepekaan di
laboratorium. 'lasan lainnya adalah bah#a kemampuan obat yang diberikan pada ibu hamil
tergantung pada kondisi patologik dari jaringan yang terinfeksi. Sebagai contoh misalnya
mikroorganisme dalam kantung abses lebih sulit dicapai oleh obat anti infeksi.
Dikatakan bah#a efek toksik 2 teratogenik obat antibiotika pada janin selalu dikaitkan dengan
pemakaian obat pada usia hamil yang muda (trimester 3". ,amun anggapan ini tidak sepenuhnya
benar. Setiap pemakaian obat pada kehamilan , tanpa memandang usia hamil kemungkinan dapat
menimbulkan kelainan pada janin baik fisik maupun mental dlam tingkat ringan sampai berat.
'minoglikosida akan menembus barier plasenta dan akan memberikan efek toksik ratarata .$$C
pada janin. Kelainan pada janin ini dapat langsung dipantau dalam rahim, atau bahkan tidak jarang
pula baru bisa diketahui setelah lahir atau timbul pada masa anakanak atau remaja.
*abel .. Kadar antibiotika dalam serum ibu hamil dibanding dengan tidak hamil.
Ka!ar !alam ser"m ib" Nama generik oba
@ebih rendah pada kehamilan 'mpisilin Piperasilin Penisilin A
Diduga lebih rendah pada 9ethisilin Sefale:in Sefalothin
kehamilan Sefa?olin Sefo:itin Sefamandole
Sefotetan Seftria:one Sefota:ime
9o:alactam Sefopera?one
'mo:ilin+la/. *icarsilin+la/.
'mpisilinSulb. Piperasilin*a?obact.
<entamisin Kanamisin 'mikasin
*obramisin ,itrofurantoin Sefti?o:ime
Kemungkinan tidak berbeda Pi/mesilinam +lindamisin Sefaloridine
*hiamfenicol Sulfametho:asole


Penggunaan klinis dan pemilihan jenis antibiotika pada kehamilan
Penggunaan antibiotika pada kehamilan bisa dengan tujuan terapi, akan tetapi bisa juga dengan
tujuan profilaksis. Fntuk tujuan terapi sering dipakai pada kasuskasus kehamilan dengan tanda
tanda klinis adanya infeksi baik lokal maupun sistemik misalnya kehamilan yang disertai dengan
penyakitpenyakit infeksi sistemik misalnya typhoid, tuberkulose dan lain sebagainya. Sedangkan
infeksi lokal misalnya adanya tandatanda infeksi genetalia, /aginosis bakteri, infeksi jamur atau
infeksi intrauterin sebagai akibat suatu persalinan yang lama (partus kasep" akan tetapi bisa juga pada
kasus dengan tandatanda persalinan preterm yang membakat yang diduga disebabkan oleh infeksi
genetalia. Sedangkan untuk tujuan profilaksis sering digunakan pada kasuskasus kehamilan dengan
kelainan katub jantung, ketuban pecah dini. perdarahan pada kehamilan dan eklamsia. Pada keadaan
ini sebenarnya belum tampak adanya gejala infeksi, akan tetapi kondisi ibu seperti ini merupakan
faktor risiko untuk terjadinya infeksi yang membahayakan ibu dan 2 atau janin didalam rahim.
Pemilihan jenis antibiotika yang akan diberikan pada ibu hamil seharusnya didasarkan atas uji
kepekaan di laboratorium untuk menentukan secara tepat jenis antibotika yang diperlukan. Dengan
menggunakan tehnik kultur yang saat ini dikerjakan, hal ini memerlukan #aktu yang relatif lama
sedangkan kita harus mengejar #aktu untuk segera memberikan terapi antibiotika. Pada akhirnya
seorang dokter di suatu rumah sakit harus memahami peta mikroorganisme setempat untuk
menentukan pilihan antibiotika pada ibu hamil maupun bersalin yang memerlukan. Seperti di 4SFD.
Dr. Soetomo Surabaya berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan (kultur cairan peritoneum dan
air ketuban" pada kasuskasus ruptura uteri dan ditemukan sebagian besar adalah kuman <ram
,egatip seperti ;. +oli, Pseudomonas, ;nterobacter dan kuman <ram Positip seperti Streptococcus
fecalis, Staphylococcus dsb. 'kan tetapi menurut beberapa peneliti dari negara maju sebenarnya
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
7
lebih banyak jenis kuman yang bisa ditemukan pada ibu hamil 2 bersalin yang mengalami infeksi.
Dikemukakan sebagian besar kuman 'naerobe seperti 9ycoplasma hominis, Freaplasma
urealithicum, Bacteroides dan <ardnerella /aginalis yang memerlukan tehnik kultur yang khusus
sangat berperan pada infeksi dibidang kebidanan.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka saat ini penggunaan antibiotika terutama penggunaan
kombinasi lebih dari satu jenis obat makin meningkat.
Ditinjau dari bidang farmakologis maka penggunaan antibiotika kombinasi ini mempunyai beberapa
keuntungan maupun kerugian.
'. Keuntungan.
$. 9engurangi resistensi terhadap antibiotika oleh karena dengan menggunakan kombinasi
yang sinergistik akan meningkatkan daya kemampuan untuk membunuh mikroorganisme
( lebih dari satu jenis mikroorganisme".
2. 9engurangi efek toksik. 8al ini berkaitan dengan dosis obat. Semakin rendah dosis tiap
jenis antibiotika akan makin rendah pula efek toksik obat. ;fek sinergistik ini akan bisa
menurunkan masingmasing dosis obat kombinasi yang diberikan.
B. Kerugian.
$. Biaya yang diperlukan akan lebih banyak.
2. ;fek antagonis dari 2 obat atau lebih yang mempunyai mekanisme dan titik tangkap kerja
yang sama akan sangat merugikan karena mengurangi manfaat utama dari obat.
.. 9eningkatkan risiko reaksi allergi.
Beberapa antibotika yang relatif aman digunakan pada ibu hamil antara lain adalah golongan
Penisilin, Sefalosporin (kecuali 9o:alactam", ;rithromisin (kecuali ;rythromycin ;stolate" dan
Spectinomisin.
*abel 6. ;fek toksik antibiotika terhadap ibu dan janin dalam rahim.
#enis anibioika Efek oksik
Pa!a ib" Pa!a janin
Kontraindikasi
Kloramfenicol Depresi Bone 9arro# Sindroma <rey
*etrasiklin (*r. 3" 8epatotoksik Pe#arnaan abnormal
Pankreatitis 8aemorhg. dan dysplasia gigi
<agal ginjal
;rithro. ;stolate 8epatotoksik
>uinolone 'rtropati janin he#an

Pertimbangkan
'minoglukosida %totoksik, ,efrotoksik *oksik ,. A33
+lindamisin 'lergi
+olitis pseudomembrn.
,itrofurantoin ,europatia 8emolitik
9etronida?ole Blood dyscrasia
*rimethoprim Aaskulitis 'ntagonis as. folat
Sulfametho:.
Sulfonamide 'lergi Kern ikterus
3sonia?id 8epatotoksik
'?trenon 'lergi
Aman
Penisilin 'lergi
Sefalosporin 'lergi
;rythromycin base 'lergi
Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
5
;rythr. ;thinylsuccinate 'lergi
Spectinomisin 'lergi

Kepustakaan
'badi 'G Santosa B. $((!. Fji klinis komparatif pengggunaan Sultamisilin dan
*erbutalin dibanding dengan *erbutalin tunggal dalam upaya menunda persalinan
pada persalinan preterm membakat. 9ajalah %bgin.Aol.), 2G $ H $..
'badi '. $(((. 4adang selaput ketuban I plasenta serta interleukin5 dalam air ketuban
sebagai faktor penentu terjadinya persalinan pada persalinan kurang bulan
membakat. Desertasi. Program Pascasarjana Fnair.
+unningham &G 9c Donald P+G <ant 9*. $((). Drugs and 9edications. Jilliams
%bstetrics. 2E
th
;d. +hap. 6$. Prentice 8all 3nternational 3nc. p. (6.(5$.
;schenbach D'G ,ugent 4PG 4ao 'A. $(($. ' 4andomi?ed Placebo +ontrol *rial of
;rythrocyn for the *reatment of Freaplasma Frealythicum to Pre/ent Preterm
Deli/ery. 'D%<. $5(G p. ).6)62.
Doesoef 94G Jignjosastro <G ,orojono J. $((7. +oinfection #ith +hlamydia and
<onorrhoea'mong Pregnant Jomen #ith Bacterial Aaginosis. 3nternational Dournal
of S*D and '3DS (5". 7((.$ 6.
Dones K@. $(((. ;ffects of *herapeutic, Diagnostic and ;n/ironment 'gents. 3n
9aternal H &etal 9edicine. 6
th
;d. By +reasy4esnik. +hap. $E.
JB. Saunders +ompany. Philadelphia. pp. $.2$6$.
@e#is D&G Brody KG ;d#ard 9S. $((5. ' 4andomi?ed *rial of Steroid after *reatment
of 'ntibiotics. %bgin. !!. P. !E$ H 7.
9orales JDG 'chorr SG 'lbritton D. $((6. ;ffect of 9etronida?ole in Patients #ith
Preterm Birth in Preceding Pregnancy and Bacterial Aaginosis. %bgin. )2. P. !2(...
,e#ton ;4G Shields @G 4ig#ay @;. $(($. +ombination 'ntibiotics and 3ndomethacin in
3diophatics Preterm @abor. ' 4andomi?ed Double Blind +linical *rial. 'D%<. $57.
7G$. P. $)7. H (.
,iebyl D4. $((6. 9edication in @ate Pregnancy and @actation. &actors of 8igh 4isk
Pregnancy. 3n 9anagement of 8igh 4isk Pregnancy by. >ueenan D*. 333rd ;d.
Blac#ell Scientific Publication. Part one. pp. .562.
%#en DG <roome 4DG 8auth D+. $((.. 4andomi?ed *rial of Prophylactic 'ntibiotic
*herapy after Preterm 'mnion 4upture. 'D%<. $5(. P. ()5 H !$.
4omero 4G Sibai BG +aritis S. $((.. 'ntibiotics *reatment of Preterm @abor #ith 3ntact
9embranes. ' 9ulticentre 4andomni?ed, Double Blinded, Placebo +ontrolled *rial.
'D%<. $5( (6"G )56 H)6.
Sibuea D. 2EEE. Pemakaian %bat nti 3nfeksi pada Kehamilan. Dournal Kedokteran dan
&armasi. 9edika. ,o. ). 00A3. 67)65$.


Penggunaan Antibiotika Pada Kehamilan
)