PEMBUATAN ANTENA WAJANBOLIC

Molin Adiyanto1, Budi Aswoyo2, Idris Winarno2 Mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi1, Dosen Pembimbing2 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus PENS-ITS Keputih Sukolilo Surabaya 60111 (+62)31-5947280, 5946114, Fax.(+62)31-5946114 E-mail : molin@student.eepis-its.edu Makalah Proyek Akhir Abstrak Tugas Akhir ini menitik beratkan pada pembuatan antena wajanbolic untuk Line of Sight (LoS) yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz untuk jaringan wireless LAN. Selain itu, antena wajanbolic juga merupakan solusi murah untuk jaringan wireless LAN. Antena wajanbolic dibuat sebanyak 2 macam dengan diameter yang berbeda yaitu 40 cm dan 60 cm. Kemudian dilakukan analisa terhadap pola radiasi, gain, polarisasi, dan directivity. Mengingat selama ini masyarakat hanya mengenal keunggulan antena wajanbolic tanpa mengetahui bukti riil yang ditinjau dari segi keilmuan. Sesuai dengan nama antena wajanbolic, antena ini menggunakan reflektor dari wajan, dengan waveguide dari pipa paralon yang dilapisi dengan lakban lumunium, dan penerima sinyal menggunakan wireless USB adapter. Dari hasil pengukuran dan analisa diperoleh hasil bahwa antena wajanbolic adalah antena directional yang mempunyai keterarahan sinyal. Mempunyai nilai HPBW (Half Power Beam Width) sebesar 21o untuk wajanbolic kecil polarisasi vertikal, 14o untuk polarisasi horisontal, 13o untuk wajanbolic besar polarisasi vertikal, 3o untuk polarisasi horisontal. Mempunyai nilai gain sebesar 16,15 dBi untuk antena wajanbolic kecil dan 24,15 dBi untuk antena wajanbolic besar. Mempunyai polarisasi yang sejajar dengan antena pemancar. Serta mempunyai nilai directivity sebesar 21,4 dB untuk antena wajanbolic kecil dan 30,2 dB untuk antena wajanbolic besar. Kata kunci – Antena wajanbolic, wireless LAN 2,4 GHz, Line of Sight (LoS) Abstract This Final Project focused in making of wajanbolic antenna for Line of Sight (LoS) which is work at frequency 2.4 GHz for wireless LAN network. Wajanbolic antenna is also a cheap solution for wireless LAN network. Wajanbolic antenna is made in 2 different of diameters, these are 40 cm and 60 cm. Next step is analyze its radiation pattern, gain, polarization, and directivity. Considering this time public has just known about wajanbolic antenna’s advantages without knowing real evidence based on science side. Appropriate with name wajanbolic antenna, these antenna using reflektor from frying pan, with waveguide from PVC pipe which is layered by tape alumunium, and signal receiver using wireless USB adapter. From the counting and analyzing provideable result that wajanbolic antenna is directional antenna which has signal directedness. Having HPBW (Half Power Beam Width) value in the amount of 21o for little wajanbolic antenna vertical polarization, 14o for horizontal polarization, 13o for big wajanbolic antenna vertical polarization, 3o for horizontal polarization. Having gain value in the amount of 16,15 dBi for little wajanbolic antenna and 24,15 dBi for big wajanbolic antenna. Having parallel polarization with transmitter antenna. And also having value of directivity in the amount of 21,4 dB for little wajanbolic antenna and 30,2 dB for big wajanbolic antenna. Keywords – Wajanbolic antenna, wireless LAN 2.4 GHz, Line of Sight (LoS)

1.

2.

Pendahuluan Di zaman seperti sekarang ini yang tingkat mobilitasnya sangat tinggi, internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kapanpun dan dimanapun, koneksi internet harus tetap ada. Namun sayangnya, internet murah sepertinya hanya menjadi impian setiap orang yang ada di Indonesia ini. Keadaan saat ini, di kota-kota besar sudah banyak sekali tersedia jaringan hot spot yang gratis. Bagi mereka yang tempat tinggalnya dekat dengan free hot spot, maka hal itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi lain halnya bagi mereka yang letak rumahnya jauh dari fasilitas tersebut. Mereka akan kesulitan untuk mengaksesnya. Solusinya mereka harus membeli antena grid, pigtail, AP client, outdoor box, POE (Power Over Ethernet), pipa tower, beberapa puluh meter kabel UTP, dan biaya instalasi. Jika dihitung tentu akan sangat mahal sekali. Maka sebagai solusi murahnya adalah dengan membuat antena wajanbolic. Selain itu dengan antena wajanbolic bisa didapat gain yang lebih besar. Dengan gain yang lebih besar maka secara otomatis

jangkauan juga akan menjadi lebih jauh. Gunadi, adalah perintis antena wajanbolic dan teknologi RT/RW-net yang menghubungkan antara rumah dengan kantor melalui jaringan radio dengan membuat antena wajanbolic berfrekuensi 2,4 GHz. [1] Penggunaan antena wajanbolic sebagai solusi murah untuk membuat koneksi internet didasari Keputusan Menteri No. 2 tahun 2005 tentang frekuensi 2,4 GHz yang ditandatangani oleh Hatta Rajasa. Keputusan Menteri ini pada dasarnya : [2] • Membebaskan izin frekuensi bagi penggunaan frekuensi 2,4 GHz • Membatasi daya pancar maksimum sebesar 100 mW atau 20 dBm • Membatasi EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) pada pancaran antena sebesar 36 dBm • Semua peralatan yang digunakan harus mendapat sertifikasi dari POSTEL Tujuan dari proyek ini adalah membuat antenna wajanbolic yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan menggunakan media wajan sebagai subantena. Juga

dengan menggunakan alatalat dan bahan-bahan yang sederhana sehingga didapatkan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan membeli antena grid. Selain itu, dengan menggunakan antena wajanbolic bisa didapat gain antenna yang lebih besar bila dibandingkan dengan wireless USB adapter standar sehingga jarak jangkau antena juga bisa lebih jauh. 1. Metodologi Perencanaan serta pembuatan antena wajanbolic ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : 1. Studi literatur tentang permasalahan yang ada serta mengumpulkan data-data yang dianggap penting dan menunjang 2. Mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan 3. Memulai proses membuat antena wajanbolic 4. Melakukan testing dan komparasi 5. Melakukan analisa dan evaluasi. 1) Studi Literatur Dalam mempelajari bagaimana cara membuat antena wajanbolic dilakukan pendalaman bahan-bahan literatur yang berhubungan dengan proyek akhir.

Pendalaman literatur dan pengambilan data dilakukan dengan cara bowsing di intrenet, dari buku, atau meminjam buku dari perpustakaan sesuai dengan proyek terkait. 2) Mempersiapka n Alat dan Bahan Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat antena wajanbolic. Bahan-bahan yang termasuk piranti elektronik dibeli di toko elektronik atau toko komputer. Bahan lainnya dibeli di toko bangunan & toko peralatan rumah tangga. Sedangkan bahan yang sulit untuk diperoleh tapi sekiranya bisa untuk dibuat sendiri maka bahan tersebut dapat dibuat sendiri. Sebagian besar alat bisa diperoleh dengan mudah karena menggunakan alat-alat yang sederhana. 3) Proses Pembuatan Antena Wajanbolic Pada tahap ini, proses yang

dikerjakan adalah membuat antena wajanbolic. Diusahakan pembuatan dilakukan dengan cara yang sesederhana mungkin dengan menggunakan peralatan dan bahan yang sederhana namun tetap menghasilkan antena wajanbolic yang baik dan rapi serta memiliki performansi yang handal. 4) Melakukan Tes dan Komparasi Tahapan berikutnya yaitu melakukan percobaan kuat sinyal (gain) yang didapat antara wireless USB adapter tanpa antena wajanbolic dengan wireless USB adapter yang sudah terpasang pada antena wajanbolic. Juga membandingkan antara gain yang didapat antara antena grid konvensional dengan gain yang didapat antena wajanbolic. Percobaan dan komparasi dibagi menjadi 2 bagian, yaitu percobaan jarak pendek yang mempunyai tujuan utama untuk membandingan kekuatan

penerimaan sinyal antara wireless USB adapter tanpa wajanbolic dengan yang terpasang pada wajanbolic, dan percobaan jarak jauh yang bertujuan utama untuk membandingkan kekuatan penerimaan sinyal antara antena wajanbolic dengan antena grid. Percobaan jarak pendek dilakukan dengan cara meletakkan sebuah access point di suatu tempat dan meletakkan antena wajanbolic di suatu tempat lain dengan jarak tertentu (<400 meter). Dari jarak ini dilakukan pengukuran kuat sinyal antara wireless USB adapter yang terpasang pada antena wajanbolic dengan yang tidak terpasang pada antena wajanbolic. Sedangkan percobaan jarak jauh dilakukan dengan cara mencari sebuah free hot spot di sutu tempat dan kita berusaha untuk melakukan pengukuran kuat sinyal pada jarak tertentu. Jarak bisa pada

rentang 500 meter sampai dengan 5 km tergantung dari gain antena. Pada jarak tersebut kita lakukan pengukuran kuat penerimaan sinyal antara antena wajanbolic dengan antena grid. 5) Analisa dan Evaluasi Tahapan terakhir dari proyek ini adalah melakukan analisa dan evaluasi hasil dari pembuatan antena wajanbolic. Setelah itu dibuat kesimpulan sesuai dengan hasil analisanya. 1. Pembuatan Pada dasarnya diperlukan 3 penghitungan utuk membuat antena wajanbolic, yaitu : [3] • Menghitung titik fokus wajan dan menghitung panjang bagian pipa paralon yang tidak diberi lakban alumunium. • Menghitung panjang pipa paralon yang harus diberi lakban alumunium • Menentukan lokasi penempatan wireless USB adapter pada pipa paralon

Gambar 3.1 Bagan penghitungan antena wajanbolic Pada gambar diatas diperlihatkan sebuah bagan antena wajanbolic. Beberapa parameter yang digunakan adalah : [3] [4] Dw = diameter wajan dw = kedalaman wajan D = diamater paralon fw = fokus wajan L = panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium S = titik tempat penempatan wireless USB adapter Beberapa parameter desain yang harus dihitung nilainya adalah fw (fokus wajan), L (panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium), dan S (titik tempat penempatan wireless USB adapter). Yang perlu diperhatikan adalah panjang pipa paralon

adalah fw+L. Dimana nilai fw sangat dipengaruhi oleh diameter (Dw) dan kedalaman wajan (dw). Penghitungan nilai titik fokus wajan dilakukan dengan menggunakan persamaan : [3]

Sehingga bila nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam persamaan menjadi : [3]

λ

λ= 30002437 λ=12,31
Jadi nilai panjang gelombang radio 2,4 GHz di udara adalah (3-1) 12,31 cm. Dari nilai panjang gelombang 2,4 GHz (λ) di udara, dapat ditentukan diameter dari pipa paralon (D) yang bisa digunakan. Adapun diameter pipa paralon yang bisa digunakan harus memenuhi syarat : (3-2) [3]

fw= Dw216dw
Sementara menghitung panjang pipa paralon yang diberi lakban alumunium (L) dan titik penempatan wireless USB adapter (S) diperlukan langkah yang lebih panjang. Maka penghitunga harus dilakukan secara bertahap. Yang harus dihitung pertama kali adalah panjang gelombang radio 2,4 GHz (λ) yang ada di udara dengan menggunakan persamaan : [3]

0,60λ<0,75λ 7,4 cm<D<9,3 cm
Dalah hal ini, pipa paralon 3” yang memiliki diameter 8,9 cm memenuhi syarat agar bisa digunakan sebagai wave guide. Selanjutnya (3-3) dilakukan penghitungan panjang gelombang (λ) frekuensi 2,4 GHz yang merambat dalam pipa paralon (guiding wavelength) dengan simbol λG. Rumus untuk menghitung panjang guiding wavelength adalah : [3] (3-7) Dimana : λG = panjang guiding wavelength

λ= CFreq
Dimana : λ = panjang gelombang radio 2,4 GHz di udara C = kecepatan cahaya di udara (299.792.45 8 meter/detik) dibulatkan menjadi 300.000.000 meter/detik Freq = frekuensi operasi yang digunakan (2,437 GHz)

lakban alumunium (Lminimum atau ¾λG) adalah 15,88 cm. Karena merupakan nilai minimum, supaya aman biasanya nilai D dibulatkan ke atas. Dalam banyak tutorial nilai ini biasanya dibulatkan menjadi 20 cm. Perlu diperhatikan bahwa panjang total pipa paralon yang digunakan adalah nilai L+fw. Setelah itu λG =12,311-12,311,706*8,9 ditentukan barulah (3-5) (3-8) titik tempat penempatan wireless (3-6) USB adapter pada λG = 21,174 pipa paralon (S atau (3-9) ¼λG ). Untuk menentukan posisi Setelah nilai lokasi lubang S dari guiding wavelength ujung pipa paralon diketahui, kita dapat dapat digunakan menghitung panjang persamaan : [3] minimal dari pipa S= paralon yang diberi (3-12) lakban alumunium (L). Karena yang Untuk pipa dihitung adalah paralon 3” yang panjang minimal dari digunakan dalam L maka jika dalam tugas akhir seandainya panjang ini, nilai S adalah dari pipa paralon 5,29 cm. yang ditutup lakban Untuk alumunium lebih mempermudahkan panjang dari nilai penghi-tungan, dapat minimum yang dipergunakan file ditentukan akan excel yang telah lebih baik selama tersedia. Alat-alat tidak merusak dan bahan-bahan konstruksi dari yang dibutuhkan antena itu sendiri. dalam pembuatan Adapun nilai antena wajanbolic panjang L minimal adalah sebagai adalah : [3] berikut : [1]

= panjang gelombang radio 2,4 GHz di udara, bernilai 12,31 cm = lebar (3-4) diameter pipa paralon yang digunakan, dlam hal ini pipa paralon 3” mempunyai lebar 8,9 cm

0.25λG

Lminimal = 0,75 x λG (3-10) Alat Lminimal = 15,88 : (3-11)
Dalam tugas akhir ini digunakan pipa paralon 3” dengan diameter 8,9 cm. Maka panjang minimum dari pipa paralon yang ditutupi 1. 2. 3. 4.

Alat yang diperlukan Gergaji besi Mesin bor Penggaris Pulpen atau sepidol untuk menandai yang akan dipotong

5. 6. 7. 8. 9.

10.

Cutter Solder Papan kayu untuk alas pengeboran Kabel ekstender listrik Besi lancip/ paku untuk penanda titik yang akan di bor Palu

1.

2.

Persiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan Lakukan perhitungan nilai fokus wajan (fw), λG/4 dan ¾ λG dengan file excel yang telah tersedia [5]

5.

6.

7.

Bahan Sedangkan bahanbahan yang diperlukan adalah : 1. Wajan 2. Pipa PVC 3 inci 3. Tutup pipa PVC 3 inci sebanyak 2 buah 4. Lakban alumunium 5. Plat ”L” dari bahan non logam untuk dudukan WiFi USB 6. Tie wrap/ tali plastik kecil 7. Mur baut kecil 2 buah untuk membaut dudukan Wifi USB ke pipa paralon 8. Mur baut agak besar untuk meng-klem salah astu tutup pipa paralon ke wajan 9. Rubber tape 10. Wireless USB adapter 1.1. Pembuatan Antena Wajanbolic Langkah-langkah cara pembuatan antena wajanbolic adalah sebagai berikut :

Gambar 3.5 Penghitungan titik fokus wajan

Gambar 3.6 Penghitungan nilai λG/4 dan ¾ λG 3. Tandai bagian tengah wajan dengan paku kecil pada bagian yang akan di bor Buat sedikit cekungan pada bagian tengah wajan yang akan di bor dengan paku kecil sebagai penuntun saat pengeboran agar bor tidak

8.

9.

4.

10.

mudah meleset Bor bagian dasar wajan tepat di tengah Tandai salah satu tutup pipa paralon 3” pada bagian tengah kemudian bor Sambungkan antara wajan dan salah satu tutup pipa yang sudah di bor tadi dengan mur baut serta beri ring diantara baut depan dan belakang. Sambungan jangan terlalu kencang karena pada wajan tipe tertentu yang tipis hal ini dapat menyebabkan bagian belakang tengah wajan penyok ke depan. Hal ini akan membuat bentuk wajan tidak simetris lagi. Lapisi tutup pipa paralon 3” yang satunya dengan lakban alumunium di bagian dalamnya Potong pipa paralon 3” sepanjang nilai fw + ¾λG sebagai wave guide Lubangi pipa paralon pada nilai λG/4 sesuai lebar wireless USB adapter

11.

12.

13.

14.

Buat 2 lubang di pipa paralon di dekat nilai λG/4 untuk membaut plat L (non logam) ke pipa paralon Lapisi pipa paralon dengan lakban alumunium di bagian luar sepanjang ¾λG dari salah satu ujungnya. Hal ini dimaksudkan agar sinyal yang telah masuk ke dalam pipa paralon tidak terpancar keluar kembali mengingat fungsi dari pipa paralon adalah sebagai wave guide, yang pada antena kaleng, wave guide, terbuat dari bahan logam. Bor plat L (non logam) sebanyak 2 lubang di salah satu sisi untuk membaut plat L non logam ke pipa paralon dan buat beberapa cekungan di tepi salah satu sisi lainnya untuk letak tie wrap agak tidak mudah bergeser Lapisi wireless USB adapter dengan rubber tape, ikat ke plat L (non logam)

15.

16.

17.

18.
19.

dengan tali plastik (tie wrap) Baut plat L (non logam) ke pipa paralon dengan mur dan baut kecil Sambungkan pipa paralon ke wajan dan kemudian tutup dengan salah satu tutup pipa yang telah dilapisi dengan lakban alumunium di bagian dalamnya Bor plat logam untuk membaut plat logam ke wajanbolic dan untuk tempat clamp Sambungakan clamp dengan plat logam Sambungkan wajan dengan plat logam

(benda-benda disekitar tempat pengukuran), jarak antara pemancar dan penerima.

1.1. Pengukuran

1.

Pengujian Setelah selesai proses pembuatan antena wajanbolic, maka tahap selanjutnya adalah pengukuran parameter-parameter antena, pengujian pada jaringan wireless LAN 2,4 GHz yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh ketepatan hasil perancangan dan pembuatan antena perlu dilakukan pengukuran pada beberapa parameter antena. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran adalah menghindari gangguan pantulan

Pola Radiasi [6] Pengukuran pola radiasi dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah bentuk pola radiasi antena wajanbolik yang telah dibuat. Selain itu yang paling penting adalah mengetahui seberapa jauhkan antena yang telah dibuat telah sesuai dengan harapan. Tentunya diharapkan hasil dari pengukuran ini sesuai dengan teori, yaitu didapatkan pola radiasi antena yang terarah. Untuk mendapatkan hasil yang baik dari pengukuran pola radiasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan adalah menghindari gangguan pantulan dari benda disekitar pengukuran, tinggi antena default sebagai pemancar di sisi access point dengan antena horn piramidal yang diukur sebagai penerima di sisi laptop haruslah sejajar dan lurus. Pola radiasi suatu antena merupakan karakteristik yang menggambarkan sifat radiasi antena pada medan jauh sebagai fungsi dari arah. Peralatan yang digunakan

dalam pengukuran ini adalah : 1. Antena wajanbolic 2. Wireless USB adapter 3. USB extension 4. Laptop 5. Access Point 6. Tripod 7. Penggaris busur derajat (360o)

Beamwidth = 14o Wajanbolic Besar 3 meter Pola Radiasi Vertikal

Gambar 4.1 Diagram pengukuran antena

Wajanbolic Kecil Pola Radiasi Vertikal

Beamwidth = 13o

Wajanbolic Besar Pola Radiasi Horisontal

Beamwidth = 21o Wajanbolic Kecil Pola Radiasi Horisontal

Beamwidth = 3o

Pt

1.1. Pengukuran

Gain [6] Untuk pengukuran gain maksimum antena wajanbolic ini dilakukan dengan cara membandingkan dengan wireless USB adapter yang digunakan. Perhitungan yang digunakan adalah dengan membandingkan level sinyal maksimum yang diterima wireless USB adapter dengan level sinyal maksimum yang Diameter diperoleh antena wajanbolic. Untuk mengetahui nilai level sinyal maksimum yang diterima oleh wireless USB adapter adalah dengan mengkoneksikan wireless USB adapter ke access point tanpa bantuan wajanbolic ataupun waveguide. Apabila pada wireless USB adapter telah diketahui nilai level sinyal yang diterima, yaitu pada frekuensi 2,4 GHz sebesar -44 dBi, maka dari pengukuran diatas gain antena wajanbolic dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Ps

Gs

= Nilai level sinyal maksimu m yang diperoleh antena wajanboli c = Nilai level sinyal maksimal yang diterima wireless USB adapter = Gain wireless USB adapter

Tabel 4.1 HASIL PENGUKURAN GAIN Pt -30 dBi -22 dBi Ps -44 dBi -44 dBi Gs 2,15 dBi 2,15 dBi

Untuk pengukuran polarisasi, saat wireless USB adapter yang ada di dalam waveguide antena wajanbolic berada pada posisi vertikal dan antena pada access point juga pada posisi vertikal, ternyata antena wajanbolic lebih efektif menangkap gelombang sehingga polarisasi ini dinamakan polarisasi vertikal. Dan sebaliknya saat wireless USB adapter pada antena wajanbolic tetap Gt(dB) = (Pt(dBm) – Ps(dBm)) + Gs(dB) (4-1) pada posisi vertikal dan antena pada Dimana access point dirubah Gt = Gain pada posisi antena horisontal, maka wajanboli sinyal yang c ditangkap antena wajanbolic menjadi

1.2. Polarisasi [6]

lebih lemah. Hal ini dikarenakan telah terjadinya polarisasi silang sehingga level sinyal yang ditangkap oleh antena wajanbolic menjadi banyak yang loss. Hal ini dibuktikan pada antena wajanbolic besar, pada saat wireless USB adapter dan antena access point samasama pada posisi vertikal, antena wajanbolic dapat menerima sinyal maksimum sebesar -22 dBi. Sedangkan saat wireless USB adapter tetap pada posisi vertikal dan antena pada access point dirubah ke posisi horisontal maka level sinyal yang didapat lebih kecil yaitu -23 dBi.

sudut pada titik tersebut. Ini dilakukan untuk bidang E dan H. Sehingga dari sudut yang didapat kita dapat mengukur directivity. Sehingga nilai directivity dicari dengan perhitungan :

D= 4π(θH.θE)
Atau jika dalam satuan decibel (dB) :

(4-2)

D dB=10logD

(4-3)

Tabel 4.2 Directivity pada antena wajanbolic Diameter Directivity Antena Wajanbolic 40 cm 21,4 dB 60 cm 30,2 dB

Tabel 4.2 HASIL POLARISASI Polarisasi Diamete r Vertika Horisont Wajan l al 40 cm -30 dB -30 dB 60 cm -22 dBi -23 dBi

1.3. Pengukuran

Directivity [6] Directivity suatu antena dapat diperkirakan dengan menggunakan pola radiasi yang dihasilkan pada pengukuran pola radiasi bidang E dan bidang H. Sudut tersebut dapat dicari dengan menggunakan gambar pola radiasi. Dengan menandai titik setengah daya pada pola radiasi kemudian menarik

Gambar 4.2 Pengukuran directivity 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa, maka dapatdisimpulkan bahwa antena wajanbolic adalah antena directional yang mempunyai keterarahan sinyal. Mempunyai nilai HPBW (Half Power Beam Width) sebesar

21o untuk wajanbolic kecil polarisasi vertikal, 14o untuk polarisasi horisontal, 13o untuk wajanbolic besar polarisasi vertikal, 3o untuk polarisasi horisontal. Mempunyai nilai gain sebesar 16,15 dBi untuk antena wajanbolic kecil dan 24,15 dBi untuk antena wajanbolic besar. Mempunyai polarisasi yang sejajar dengan antena pemancar. Serta mempunyai nilai directivity sebesar 21,4 dB untuk antena wajanbolic kecil dan 30,2 dB untuk antena wajanbolic besar. Pada Tugas Akhir ini, antena wajanbolic yang telah dibuat telah berhasil sesuai performansi yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari pola radiasi yang dihasilkan, gain, dan directivity yang dimiliki oleh antena wajanbolic yang telah dibuat. Referensi [1] Gunadi, “Merakit Sendiri Wajanbolic Step-by-Step”, CHIP Edisi Oktober, 2007 [2] Onno W. Purbo, “Internet Wireless dan Hot Spot”, P.T. Elex Media Komputindo, 2006 [3] Onno W. Purbo, “Panduan Praktis RT/RW-net & Antena

Wajanbolic”, P.T. Prima Infosarana Media, 2007 [4] Onno W. Purbo, E-Goen, “Membuat Sendiri Antena Wajanbolic & Kenthongan”, P.T. Prima Infosarana Media, 2007 [5] http://yb1zdx.ar c.itb.ac.id/oraridiklat/pemula/ multimedia/foto station/2.4ghz/ wajanbolicegoen/ Diyah Andari, Roose, ”Rancang Bangun Antena Yagi-Uda Berbasis Algoritma Genetika Dan Implementasiny a Pada Wireless LAN 2,4 GHz Sub Judul (Implementasi Pada Wireless LAN 2,4 GHz)”, PENSITS, 2007 Budi Aswoyo, “Antena & Propagasi”, PENS-ITS, 2005. Raga Putra, Ery,”Disain Dan Implementasi Antena Kaleng Pada Frekuensi 2,65 GHz”, PENS-ITS, 2005. Salsabil, Syailendra, ”Pembuatan Antena Omni Directional 2,4 GHz Untuk Jaringan Wireless-LAN,

PENS-ITS, 2006..

[6]

[7]

[8]

[9]

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times