You are on page 1of 16

DESAIN PONDASI TELAPAK DAN EVALUASI PENURUNAN PONDASI

Endra Ade Gunawan Sitohang


1
, Roesyanto
2

1
Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
Email: endraadegunawan@gmail.com
2
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
Email: st.roesyanto@usu.ac.id

ABSTRAK
Secara garis besar, struktur bangunan dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu struktur bangunan
di dalam tanah dan struktur bangunan di atas tanah. Struktur bangunan di dalam tanah sering disebut
struktur bawah, sedangkan struktur bangunan di atas tanah sering disebut struktur atas. Struktur bawah
dari suatu bangunan lazim disebut pondasi, yang bertugas memikul bangunan di atasnya. Seluruh
muatan (beban) dari bangunan, termasuk beban-beban yang bekerja pada bangunan dan berat pondasi
sendiri, harus dipindahkan atau diteruskan oleh pondasi ke tanah dasar dengan sebaik-baiknya.
Tugas akhir ini bertujuan untuk mendesain pondasi telapak pada tanah lempung mulai dari
menghitung daya dukung tanah, dimensi pondasi, penulangan, kontrol kuat geser 1 arah dan 2 arah,
sampai pada evaluasi penurunan pondasi.
Perhitungan daya dukung tanah adalah menggunakan rumus Terzaghi; untuk perhitungan
penulangan pondasi tunggal dan kombinasi menggunakan acuan SNI 03 -2847-2002 dan ACI ; serta
untuk perhitungan penurunan digunakan dua metode yaitu metode one point dan metode sub-layer. Pada
perhitungan desain pondasi telapak, situasi letak sumbu kolom akan sangat berpengaruh dan pada
perhitungan evaluasi penurunan, metode sub layer akan lebih memberikan hasil yang lebih akurat
dibandingkan dengan metode one-point.

Kata kunci: desain pondasi dangkal, muka air tanah, penurunan, sub-layer.


ABSTRACT

Broadly speaking , the structure of the building is divided into two main parts , namely the
structure of the building on the ground and above-ground structures . Structures in the soil is often
referred to under the structure , while the structure of the buildings on the land commonly called the
structure . Under the structure of a building commonly called the foundation , which is in charge of
carrying buildings on it . The entire charge ( load ) of the building , including the loads acting on the
building itself and the heavy foundation , must be transferred or forwarded by land to the foundation with
the best foundation .
This thesis aims to design on the palm of the foundation clay ranging from calculating the
carrying capacity of the land , the dimensions of the foundation , reinforcement , shear strength control 1
-way and 2 -way , to the decline in foundation evaluation .
Calculation of soil bearing capacity is to use the formula Terzaghi ; foundation reinforcement for
the calculation of single and combined using the reference ISO 03 -2847-2002 and ACI , as well as to
decrease the calculation method used two methods one point and sub - layer method . In the palm of
foundation design calculations , where the situation will be very influential column axis and a decrease in
the calculation of the evaluation , the method will be sub layer provides more accurate results than the
one- point method .

Keywords : shallow foundation design , ground water , reduction , sub - layer .


PENDAHULUAN
Dalam pekerjaan suatu konstruksi bangunan kita akan banyak menemukan hal-hal menarik pada
saat pembangunan dimulai dari pondasi sampai konstruksi seluruhnya selesai. Beberapa kasus yang dapat
diambil adalah dalam perencanaan pondasi. Faktor jenis tanah, keterbatasan tempat, tipe pondasi, muka
air tanah, serta penurunan tanah.
Struktur pondasi dari suatu bangunan harus direncanakan sedemikian rupa sehingga proses
pemindahan beban bangunan ke tanah dasar dapat berlangsung dengan baik dan aman. Untuk keperluan
tersebut, pada perencanaan pondasi harus mempertimbangkan beberapa persyaratan, yaitu:
1. Pondasi harus cukup kuat untuk mencegah penurunan (settlement) dan perputaran (rotasi) yang
berlebihan.
2. Tidak terjadi penurunan setempat yang terlalu besar bila dibandingkan dengan penuruna pondasi di
dekatnya.
3. Cukup aman terhadap bahaya longsor.
4. Cukup aman terhadap bahaya guling.
Jenis dan besar-kecilnya ukuran pondasi sangat ditentukan oleh kekuatan/daya dukung tanah
dibawah pondasi tersebut. Sebagai contoh untuk jenis pondasi telapak tunggal, semakin kuat daya dukung
tanah, semakin kecil ukuran pondasi yang direncanakan. Sebaliknya, semakin lemah daya dukung tanah,
semakin besar pula ukuran pondasi yang akan direncanakan. Untuk tanah dengan daya dukung yang
lemah ini, sebaiknya digunakan jenis pondasi lain, misalnya pondasi sumuran atau bahkan digunakan
tiang pancang.
Seperti yang telah dijelaskan diatas sebelumnya, penurunan merupakan faktor yang perlu
mendapat perhatian dan analisis yang serius. Dalam perencanaan pondasi penurunan yang perlu dianalisis
adalah penurunan segera dan penurunan konsolidasi primer. Istilah penurunan digunakan untuk
menunjukkan gerak titik tertentu pada bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Jika seluruh
permukaan dibawah bangunan turun secara seragam dan penurunan yang terjadi tidak melebihi batas
aman, maka penurunan tidak membahayakan. Tapi, jika penurunan yang terjadi justru tidak seragam dan
melebihi batas aman, maka ketidakstabilan bangunan perlu dikhawatirkan.
Keterbatasan tempat bisa mempengaruhi tipe pondasi yang akan digunakan. Apakah pondasi
telapak tunggal atau pondasi kombinasi, tergantung situasi dan mana yang lebih efisien terhadap
keterbatasan tempat. Pondasi telapak tunggal, adalah pondasi yang hanya menopang satu kolom, dibagi
menjadi dua macam, pondasi bujur sangkar dan empat persegi panjang. Sedangkan pondasi telapak
kombinasi, adalah pondasi yang menopang dua kolom sekaligus, dibagi menjadi dua macam juga, yaitu
pondasi kombinasi trapezium dan empat persegi panjang.
Begitu juga dengan letak muka air tanah, jika kita tidak mengabaikan posisi letak muka air tanah,
maka dalam perhitungan, itu akan sangat berpengaruh pada daya dukung tanah, serta penurunan. Namun
faktor yang paling sering menjadi perhatian adalah penurunan. Penurunan yang melampaui batas ijin
dapat menyebabkan ketidakstabilan dan kerusakan struktur atas.
Pada umumnya untuk perhitungan pada tanah lempung, besar beban yang dianalisa untuk dilihat
pengaruhnya terhadap penurunan hanya ditinjau dari 1 (satu) lapisan tanah, dan penambahan tegangan
akibat beban struktur atasnya hanya ditinjau pada tengah-tengah lapisan. Padahal akan lebih akurat dan
akan lebih efektif penanggulangannya apabila kita meninjau penurunannya dengan membagi tanah
tersebut menjadi beberapa lapisan dan menghitung besar penurunannya dengan melihat juga pola
distribusi beban terhadap lapisan yang ditinjau. Sebuah percobaan menghasilkan bahwa penurunan yang
ditinjau dengan perhitungan metode sub layer (jumlah lapisan lebih dari satu) menghasilkan penurunan
yang lebih akurat karena lebih mendekati hasil percobaan dari perhitungan yang menggunakan metode
one-point (meninjau satu lapisan).

Perhitungan daya dukung tanah menggunakan rumus Terzaghi yaitu:
q
u
= + + B (1)
dengan:
q
u
= kapasitas daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang (kN/m
2
)
c = kohesi (kN/m
2
)
D
f
= kedalaman pondasi (m)
= berat volume tanah (m)
= D
f
= tekanan overburden pada dasar pondasi (kN/m
2
)
Dari rumus daya dukung diatas akan kita peroleh dimensi pondasi yang akan kita pakai. Perhitungan
penulangan pondasi bujur sangkar akan menggunakan acuan Peraturan SNI sedangkan perhitungan
penulangan pondasi kombinasi menggunakan acuan Peraturan ACI.

Penurunan pondasi dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu: penurunan segera, penurunan
konsolidasi primer, dan penurunan konsolidasi sekunder. Penurunan total adalah jumlah dari 3 komponen
tersebut, dalam persamaan:
S
t
= S
i
+ S
c
+ S
s
(2)

dengan: S
t
= penurunan total
S
i
= penurunan segera
S
c
= penurunan konsolidasi primer
S
s
= penurunan konsolidasi sekunder
Boussinesq memberikan persamaan pengaruh penyebaran beban akibat pengaruh beban titik di
permukaan. Tambahan tegangan vertical akibat beban titik ( ) pada suatu titik di dalam tanah akibat
beban titik Q di permukaan dinyatakan oleh persamaan:
= (3)
dengan:
= tambahan tegangan vertical
z = kedalaman titik yang ditinjau
r = jarak horizontal titik di dalam tanah terhadap garis kerja beban
Jika faktor pengaruh untuk beban titik didefinisikan sebagai:
pengaruh untuk beban titik didefinisikan sebagai:
I = (4)
Maka:
= . I (5)

Perhitungan konsolidasi primer dihitung dengan persamaan:
S =
dimana:
S = besar penurunan
Cc = indeks pemampatan
Po = tegangan vertikal efektif pada kedalaman yang ditinjau
= tambahan tegangan vertical pada kedalaman yang ditinjau
H = tebal lapisan tanah yang ditinjau
e
o
= angka pori awal



METODOLOGI
Gambar 1 menjelaskan secara skematik tahapan perhitungan.

























Gambar 1. Metodologi


Pemodelan pondasi serta asumsi data-
data yang diperlukan. Data-data
tersebut antara lain:
-Data tanah: , , c
-Data mutu beton: fy, fc
-Beban (P
u
dan M
u
)
Penentuan ukuran telapak pondasi
bujur sangkar (B , L)
Kontrol kuat geser
1 arah dan 2 arah
Penulangan Pondasi Telapak Bujur
Sangkar
Perhitungan daya dukung tanah Perhitungan daya dukung tanah

Penentuan ukuran telapak pondasi
bujur sangkar (B , L)
Kontrol kuat geser
1 arah dan 2 arah
Perhitungan Penurunan dengan
metode one-point dan sub-layer
Perhitungan Penurunan dengan
metode one-point dan sub-layer
Pembahasan
Penulangan Pondasi Telapak Bujur
Sangkar
Pondasi B
(muka air tanah berada
dibawah pondasi)
Pondasi A
(muka air tanah berada
ditengah pondasi)
Pondasi C
(hanya sampai
perhitungan penulangan)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Perhitungan penulangan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
Pondasi tipe A, pondasi bujur sangkar dengan mat. 1 m dari muka tanah.
Pondasi tipe B, pondasi bujur sangkar dengan mat. 4 m dari muka tanah.
Pondasi tipe C, pondasi telapak kombinasi.












(a) (b)












(c)
Gambar 2. Model pondasi yang akan dihitung (a) Pondasi tipe A; (b) Pondasi tipe B;
dan (c) Pondasi tipe C

Untuk perhitungan penurunan pondasi bujur sangkar, denah yang dipakai adalah:













Gambar 3. Denah Pondasi
Data-data yang dibutuhkan:
Data Beton:
Kolom pondasi 400 mm x 400 mm menahan beban mati P
D
= 100 kN, beban hidup 50 kN, dan momen
terfaktor M
u
= 10 kNm. Dan berat beton = 24 kN/m
3
. Mutu bahan f
c
= 20 MPa, f
y
= 300 MPa.
Tulangan yang digunakan D19.
Data tanah:
Berat isi tanah normal ( ) = 17 kn/m
3
, berat isi saturated ( ) = 20 kN/m
3
. Kohesi tanah c = 0, sudut
geser tanah = 20
o
, indeks pemampatan C
c
= 0,5. Angka pori awal e
o

= 1.

Perhitungan penulangan pondasi bujur sangkar ( pondasi tipe A )

1. Perhitungan ukuran dimensi pondasi berdasarkan beban yang dipikul.
Beban total yang dipikul pondasi adalah sebesar:
Q
ijin
= 1,2.P
D
+ 1,6 P
L

= 200 kN.
Formula Terzaghi untuk Pondasi Bujur Sangkar:
q
u
= 1,3 + + 0,4 B
dengan angka keamanan 3
q
ijin
= =
q
ijin
=

=
=
Dari tabel 3.1 , untuk = 20
o
didapat nilai = 17,7 ; =
7,4 dan = 5,0.
Untuk kasus muka air berada di tengah pondasi, maka dihitung dengan
cara:
= (D
f
- D) + D
Dengan = - = berat volume efektif tanah. Demikian juga, berat
volume tanah yang ada pada suku ketiga persamaan daya dukung harus
diganti dengan .
= 17 (2-1) + (20-17).(1)
= 20 kN/m
2
.

Maka:
=
= 49,333 + 2B
Dengan cara coba-coba didapat nilai B sebesar 1,9 m.
Dengan ini maka kita pakai dimensi pondasi bujur sangkar 2 m x 2 m.

2. Daya dukung tanah
q
u
= 1,3 + + 0,4 B
q
u
=
q
u
= 151 kN/m
2
tegangan ijin tanah ( )

3. Kontrol tegangan yang terjadi pada tanah
q = berat pondasi + berat tanah
= h
f
. + h
t
. = 0,5.24 + 1,5.17 = 37,5 kN/m
2
.
P
u,k
= 1,2.P
D
+ 1,6 P
L
= 200 kN


Tegangan maksimal pondasi, =

95 kN/m
2
151 kN/m
2

(Safe)
Tegangan minimal pondasi, =



= 80 kN/m
2

4. Kontrol tegangan geser 1 arah


















Gambar 4. Gambar kontrol tegangan geser 1 arah
d
s

= 75 + 19/2 = 84,5 mm 85 mm
d = 500 85 = 415 mm
a = B/2 b/2 d = 2000/2 400/2 415 = 0,385 m
= + (B a).( - ) / B 92,113 kN/m
2


Gaya tekan ke atas dari tanah ( V
u
) :
V
u
= a . B . ( + ) / 2 = 72,039 kN
Gaya geser yang dapat ditahan beton ( . V
c
) :
. V
c
= . B . d = 463,984 kN
Jadi (V
u
= 72,039 kN) < ( . V
c
= 463,984 kN) (Safe)
5. Kontrol tegangan geser 2 arah (geser pons)
















Gambar 5. Gambar kontrol tegangan geser 2 arah (geser pons)

Dimensi kolom b = h = 400 mm.
b + d = h + d = 400 + 415 = 815 mm = 0,815 m.
Gaya tekan ke atas (gaya geser pons) :
V
u
= { B
2
(b + d).(h + d)}. = 291,880 kN.
= h
k
/ b
k
= 400 / 400 = 1,0 dan
b
o
= 2 {(b + d) + (h + d)} = 3260 mm.
Gaya geser yang ditahan beton ( . V
c
):
V
c
= = 3025,176 kN.
V
c
= = 2933,926 kN. = 30 (kolom tepi)
V
c
= 1/3. . b
o
. d = 2016,784 kN.
Dipilih V
c
yang terkecil jadi . V
c
= 0,75. 2016,784 = 1512,588 kN.
Jadi ( V
u
= 291,880 kN ) < ( . V
c
= 1512,588 kN) (Safe)
6. Hitungan penulangan pondasi
Tegangan tanah pada jarak x ( )











Gambar 6. Gambar tegangan tanah pada jarak x

d
s
= 75 + 19/2 = 84,5 mm 85 mm.
d = h
f
d
s
= 500 85 = 415 mm.
x = L/2 h/2 = 2/2 0,4/2 = 0,8 m.
= + (L x) . ( ) / L = 89 kN/m
2

Momen yang terjadi pada pondasi ( M
u
)
M
u
= . . x
2
+ 1/3 ( - ) . x
2
= 29,76 kNm.
Faktor momen pikul K dan K
maks

Syarat : K harus K
maks
K = M
u
/ ( . b . d
2
) = 29,76 . 10
6
/ ( 0,8 . 1000 . 415
2
) = 0,216 MPa.
K
maks
= = 5,6897 MPa.
Jadi K < K
maks
(memenuhi syarat)
Tinggi blok tegangan beton tekan persegi ekivalen (a)
a = d = 5,307 mm
A
s,u
= (0,85 . f
c
. a . b) / f
y
= (0,85 . 20 . 5,569 . 1000) / 300

= 315,577 mm
2
.

f
c
< 31,36 MPa
A
s,u
= 1,4 . b. d / f
y
= 1,4 . 1000 . 415 / 300 = 1936, 67 mm
2

Dari perhitungan di atas, diperoleh Mu = 29,76 kNm dan d = 415 mm, maka:
Rn = = = 0,00017 MPa
Rn = . fy (1 0,588 fy/fc )
0,00017 = 0,8. . 300 (1 0,588. . 300/20 )
0,00017 = 240 - 8,82
8,82 - 240 + 0,00017 = 0
Didapat nilai = 7,08 x 10
-7
< = 0,0035
Ambil = 0,0035
Tulangan: As =
= 0,0035 . 1000. 415

= 1452,5 mm
2

Dipilih As yang paling besar, yaitu As = 1936, 67 mm
2

Pakai tulangan D19 125 (As = 2268 mm
2
)
Dihitung jarak tulangan (s)
Jarak tulangan, s = . . D
2
. S/A
s,u
= . . 19
2
. 1000 / 1936,67 = 146,325 mm
s (2 . h
f
= 2 . 500 = 1000 mm)
s 450 mm
Dipilih yang terkecil yaitu s = 125 mm < 146,325 mm.
Jadi, pakai tulangan D19 125 = 2268 mm
2
> A
s,u
= 1937,67 mm
2

(Ok)
7. Kontrol kuat dukung pondasi
P
u
= . 0,85 .f
c
. A
k
= 0,7.0,85.20.400.400

= 1904000 N = 1904 kN.

P
u, k
= 200 kN < P
u
= 1904 kN ( SAFE )













Gambar 7. Penulangan pondasi tipe A

Perhitungan penulangan pondasi kombinasi ( pondasi tipe C )










Gambar 8. Denah Pondasi tipe C Pondasi Kombinasi

Data: Untuk kolom A dan kolom B yang berukuran 400x400 sama-sama memikul beban total, P sebesar
150 kN.. Kolom A dipusatkan sejarak 1,0 m dari garis sifat; dan kolom B sejarak 6,0 m dari garis sifat. f
c

= 20 MPa, f
y
= 300 MPa . Tegangan tanah maksimum 140 kN/m
2
.
Untuk perhitungan penulangan, kita gunakan metode kekuatan dari Peraturan ACI.
(a) Panjang dan lebar telapak
dari garis sifat = = 3,50 m
Panjang telapak, L = 3,5 (2) = 7,0 m.
Tebal telapak yang kita pakai sebesar 0,5 m, atau beratnya sebesar 12 kN/m
2
.
Maka, luas dasar pondasi = = 12,5 m
2
Dengan panjang L = 7 m, maka lebar pondasi adalah = 1,78 m 1,80 m.
(b) Geser berfaktor dan momen berfaktor di arah memanjang. Untuk beban gravitasi,
Kolom A, P
u
= 100 (1,4) + 50 (1,7) = 225 kNm
Kolom B, P
u
= 100 (1,4) + 50 (1,7) = 225 kNm
Tekanan tanah netto di bawah beban terfaktor = = 35,714 kN/m
2
.
Tekanan merata netto ke atas = 1,8 (35,714) = 64, 285 kN/m.
V
u
pada garis pusat kolom A = + 64, 285 (1) = +64,285 kN
+64,285 225 = - 160,715 kN
V
u
pada garis pusat kolom B = - 64, 285 (1) = - 64,285 kN
-64,285 + 225 = +160,175 kN
Titik dengan geser nol = 5 = 2,5 m dari garis pusat kolom A.
M
u
maks (dihitung dari sisi kiri) = 225 (3,5) = -138,234 kNm
M
u
maks (dihitung dari sisi kanan) = 225 (3,5) = -138,234 kNm
Maka untuk perhitungan selanjutnya, pakai M
u
= 138, 234 kNm.
(c) Tebal pelat. Untuk momen, tebal pelat dapat didasarkan atas perbandingan tulangan yang
diinginkan. Harga maksimum yang diizinkan oleh Peraturan ACI diambil dari Tabel 3.8.1.
= 0,75 = 0,0278
Untuk pengendalian lendutan, pilih = 0,014, yaitu, sekitar setengah dari harga maksimum yang
diperbolehkan. Untuk harga ini,
R
n
= f
y
(1 m)
m = = = 18,75
R
n
= 0,014 (300000) [1 0,5(0,014)(18,75)] = 3648,75 kN/m
2
.
d
perlu
= = = 0,15 m.
Telapak dianggap sebagai suatu balok untuk perhitungan geser. Aksi satu arah dimisalkan
menentukan pada jarak d dari sisi kolom. Geser pada jarak d dari sisi kolom bujur sangkar
ekivalen yang berukuran 17,7 inci (0,45 m) adalah
V
u
= 160,175 (0,225 + d)(64, 285) = 145,71 64,285d
Kekuatan geser nominal bila tidak menggunakan tulangan geser adalah
V
n
= V
c
= 2
Dengan itu,
V
u
= V
c
145,71 64,285d = 0,85(2 )(3,5)d
145,71 64,285d = 841,46d
d = 0,18 m
Tinggi total perlu = 0,15 + 0,05 (selimut) + 0,012 (sengkang) + 0,015 (jari-jari sengkang) = 0,227
Karena tidak melebihi tinggi yang kita rencanakan maka tetap kita tetap pakai tebal pelat (d)
sebesar 0,25 m.
Berat pondasi = 0,25(24) = 6 kN/m
2
Kontrol tegangan maksimum = + 6 = 29,81 kN/m
2
< 140 kN/m
2
(Safe)
(d) Penulangan memanjang utama. Pada tengah bentang,
R
n
perlu = = = 3792,43 kN/m
2
.
As perlu 0,014 (1800)(150) = 3928,85 mm
2
.
Pakai 14 D19, As = 3969 mm
2
.
(e) Penulangan memanjang pada bagian bawah dari telapak di luar pusat kolom.
Momen lentur pada sisi kolom B adalah
M
u
= (64, 285)(0,5)
2
= 16,07 kNm.
Meskipun tidak selalu demikian, momen disini kelihatannya cukup kecil sehingga tidak
mensyaratkan penulangan. Kekuatan dari penampang yang tidak bertulangan dalam lentur
dihitung menggunakan = 0,65. Dengan mengabaikan beton setebal 50 mm dari bawah:
I
g
= (1,8)(0,2)
3
= 0,0012 m
4

M
n
= = 0,65 = 55,15 kNm
M
n
= 55,15 kNm > M
u
= 16,07 kNm. (Safe)
Tidak diperlukan tulangan lentur di dalam arah memanjang untuk kekuatan pada sisi bawah dari
kantilever yang manapun.
(f) Penulangan melintang.
Lebar lajur kolom A, W
A
= 1 + 0,2 + 0,7 = 1,9 m.
Beban tekan berfaktor bersih dalam arah melintang = = 125 kN/m
M
u
= (125)(0,7)
2
= 30,625 kNm
d = 0,25 0,08 (selimut pada sisi bawah) 0,01 (jari-jari tulangan)
= 0,16 m.
R
n
perlu = = = 109,65 kN/m
2

Dengan = 0,0035,
A
s
perlu = 0,0035 (1900)(160) = 1064 mm
2
.
Coba tulangan 7-D14 (A
s
= 1078 mm
2
)
Periksa kekuatan:
C = 0,85 f
c
b a = 0,85 (20000)(1,9)(a) = 32300a
T = A
s
. f
y
= 0,001078 (300000) = 323,4 kN
a = = 0,01
M
n
= 0,9 (324,4) [0,16 0,5(0,01)] = 45,254 kNm
M
n
= 45,254 kNm > M
u
= 30,625 kNm (Safe)
Jadi gunakan tulangan 7 D14.
Lebar jalur kolom B, W
B
= 1 + 0,2 + 0,7 = 1,9 m
Beban terfaktor netto dalam arah melintang = = 125 kN/m
M
u
= (125)(0,7)
2
= 30,625 kNm
d = 0,25 0,08 (selimut pada sisi bawah) 0,01 (jari-jari tulangan)
= 0,16 m.
R
n
perlu = = = 109,65 kN/m
2

Dengan = 0,0035,
A
s
perlu = 0,0035 (1900)(160) = 1064 mm
2
.
Coba tulangan 7-D14 (A
s
= 1078 mm
2
)
Periksa kekuatan:
C = 0,85 f
c
b a = 0,85 (20000)(1,9)(a) = 32300a
T = A
s
. f
y
= 0,001078 (300000) = 323,4 kN
a = = 0,01
M
n
= 0,9 (324,4) [0,16 0,5(0,01)] = 45,254 kNm
M
n
= 45,254 kNm > M
u
= 30,625 kNm (Safe)
Jadi gunakan tulangan 7 D14.
(g) Sketsa penulangan:









Gambar 9. Penulangan pondasi tipe C

Perhitungan penurunan pondasi bujur sangkar ( pondasi tipe A )
Distribusi tegangan satu lapisan pondasi tipe A










Gambar 10. Distribusi tegangan satu lapisan pondasi tipe A
Berat isi normal = 17 kN/m
2
, berat isi saturated = 20 kN/m
2
Berat isi efektif tanah, = - = 3 kN/m
2
.
Indeks pemampatan Cc = 0,5
Angka pori awal, e
o
= 1
Beban yang dipikul pondasi 200 kN.
Jarak as ke as = 5,0 m
Dimensi pondasi = 2,0 x 2,0 m
Kedalaman pondasi = 2 m
q
n
= ( .D
f
) = ( (D
f
- D) + D) = {17(2-1) + 3.1} = 30 kN/m
2

S =
Po = tekan vertical efektif.

Tabel 4.1 Tambahan tegangan vertikal di bawah pondasi P1 perhitungan
satu lapisan (tebal lapisan 10 m) akibat pondasi P1-P6.

Akibat
Pondasi
h (m)
Z
(m)
Z/,B X (m) X/Z z/qn
z
(t/m
2
)
P1 8,000 4,000 2,000 0,000 0,000 0,030 0,900
P2 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P3 8,000 4,000 2,000 10,000 2,500 0,000 0,000
P4 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P5 8,000 4,000 2,000 7,071 1,768 0,003 0,075
P6 8,000 4,000 2,000 11,180 2,795 0,000 0,000
Tambahan tegangan vertikal di bawah pondasi P1 ( P1) = 1,238 kN/m
2

Hitungan penurunan pondasi P1 =
Po = {17(2-1) + 3.1} + (3x4) = 32 kN/m
2
S = = = 0,033 m
Tabel 4.2 Tambahan tegangan vertical di bawah pondasi P2 perhitungan
satu lapisan (tebal lapisan 10 m) akibat pondasi P1-P6.

Akibat
Pondasi
h (m) Z (m) Z/B
X
(m)
X/Z z/qn
z
(t/m
2
)
P1 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P2 8,000 4,000 2,000 0,000 0,000 0,030 0,900
P3 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P4 8,000 4,000 2,000 7,071 1,768 0,003 0,075
P5 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P6 8,000 4,000 2,000 7,071 1,768 0,003 0,075
Tambahan tegangan vertikal di bawah pondasi P2 ( P2) = 1,444 kN/m
2

Hitungan penurunan pondasi P2 =
Po = {17(2-1) + 2.1} + (3x4) = 32 kN/m
2
S = = = 0,040 m
Tabel 4.3 Tambahan tegangan vertikal di bawah pondasi P3 perhitungan
satu lapisan (tebal lapisan 10 m) akibat pondasi P1-P6.

Akibat
Pondasi
h (m)
Z
(m)
Z/B X (m) X/Z z/qn
z
(t/m
2
)
P1 8,000 4,000 2,000 10,000 2,500 0,000 0,000
P2 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
P3 8,000 4,000 2,000 0,000 0,000 0,030 0,900
P4 8,000 4,000 2,000 11,180 2,795 0,000 0,000
P5 8,000 4,000 2,000 7,071 1,768 0,003 0,075
P6 8,000 4,000 2,000 5,000 1,250 0,004 0,131
Tambahan tegangan vertikal di bawah pondasi P3 ( P3) = 1,238 kN/m
2

Hitungan penurunan pondasi P3 =
Po = {17(2-1) + 3.1} + (3x4) = 32 kN/m
2
S = = = 0,033 m
Rekapitulasi Perhitungan:
Pondasi tipe A
- Dimensi pondasi : 2 m x 2 m, tebal pondasi : 0,5 m; pada kedalaman 2 m
- Muka air tanah terletak pada kedalaman 1 m dari permukaan
- Tulangan yang dipakai D19
- Besar penurunan:
Pondasi 1 lapisan ( m) 2 lapisan (m) 5 lapisan (m) 10 lapisan (m)
P1 = P4 0,033 0,087 0,127 0,188
P2 = P5 0,040 0,089 0,129 0,191
P3 = P6 0,033 0,087 0,127 0,188
Pondasi tipe B
- Dimensi pondasi : 2,5 m x 2,5 m; tebal pondasi : 0,5 m; pada kedalaman 2 m
- Muka air tanah terletak pada kedalaman 1 m dari permukaan
- Tulangan yang dipakai D19
- Besar penurunan tanah:
Pondasi 1 lapisan ( m) 2 lapisan (m) 5 lapisan (m) 10 lapisan (m)
P1 = P4 0,007 0,017 0,094 0,096
P2 = P5 0,020 0,019 0,097 0,099
P3 = P6 0,007 0,017 0,094 0,096
Pondasi tipe C
- Dimensi pondasi: 7 x 1,8 m dengan tebal 0,25 m.
- Tulangan yang dipakai 14 D19, 7 D14, D12 225.
- Penurunan tidak dihitung.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil perhitungan dan analisis, antara lain:
1. Kegagalan/kerusakan pondasi selalu diawali oleh terjadinya retak pada beton. Keadaan ini terjadi
karena pondasi tidak mampu menahan beban yang berupa momen lentur dan/atau gaya geser.
Inilah sebabnya kenapa perlu dihitung juga kontrol tegangan geser 1 arah dan 2 arah.
2. Beban yang bekerja pada pondasi berasal dari tekanan tanah di bawah pondasi. Jika tulangan
tidak mampu menahan momen lentur yang bekerja pada pondasi, maka akan terjadi retak beton
pada momen terbesar (umumnya di bagian tengah pondasi) dengan arah vertikal ke atas.
3. Tegangan geser 2 arah atau tegangan geser pons (punching shear), dapat mengakibatkan retak
miring di sekeliling kolom dengan jarak d/2 dari muka kolom, d adalah tebal efektif pondasi.
4. Tegangan geser 1 arah yang bekerja pada dasar pondasi dapat mengakibatkan retak di sekitar
pondasi pada jarak d dari muka kolom.
5. Untuk perhitungan penurunan, dengan metode sub-layer, semakin banyak lapisan yang kita tinjau
akan memberikan hasil penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan metode one-point yang
hanya meninjau satu lapisan saja.
V.2. Saran
Beberapa saran yang dapat diaplikasikan dari perhitungan desain pondasi telapak dan evaluasi
penurunan pondasi kali ini:
1. Untuk pencegahan pondasi dari bahaya kerusakan/kegagalan yang diawali oleh retak pada beton,
disarankan agar mengontrol momen lentur, tegangan geser 1 arah dan 2 arah.
2. Bila pada situasi letak sumbu kolom saling berdekatan, lebih baik menggunakan pondasi telapak
kombinasi dibanding pondasi telapak tunggal karena akan lebih ekonomis.
3. Untuk perhitungan penurunan tanah, lebih baik ditinjau perlapisan tanah dengan ketebalan
tertentu sampai perbedaan besar penurunan semakin konstan.


DAFTAR PUSTAKA


Bowles J.E, 1977, Foundation Analysis and Design, Fifth Edition. New York: The McGraw Hill
Companies, Inc.

Das Braja M, 1998, Principles of Foundation Engineering. California: PWS Publishing.

Das Braja M, 1994, Mekanika Tanah Jilid 2. Surabaya: Penerbit Erlangga.

Hariyatmo C, Hary, 2002, Teknik Pondasi 1, Yogyakarta: Penerbit Beta Offset.

Asroni, Ali, 2010, Kolom Fondasi & Balok T Beton Bertulang. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wang, Chu-Kia, Salmon C, 1985, Disain Beton Bertulang Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dipohusodo, Istimawan, 1996, Struktur Beton Bertulang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kusuma, Gideon H., 1994, Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Samosir, Juwita, 2012, Studi Korelasi Pola Penurunan Pondasi Dangkal Pada Tanah Lempung Dengan
Distribusi Beban Perlapisan Tanah Pada Beberapa Variasi Desain Pondasi. Medan: USU

Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002) Dilengkapi
Penjelasan (S-2002). Bandung: ITS Press.