BAB II

ISI
A. Definisi
Displasia Bronkopulmoner (DBP) merupakan bentuk kelainan
perkembangan paru yang kronik biasanya terjadi pada bayi yang kurang bulan
dengan terapi oksigen dan positive-pressure ventilation (PPV).
1,2
Pada tahun 196
dilaporkan bah!a se"ara klinis, radiogra#ik dan histologik terjadi perubahan paru
pada bayi kurang bulan yang menyebabkan terjadinya respiratory distress
syndrome (RDS).
$,
Displasia bronkopulmoner (DBP) adalah kondisi serius pada paru yang
terjadi pada bayi%
$,6&'
• (ahir kurang dari 1) minggu dari !aktu yang ditentukan
• Berat badan lahir kurang dari 2,* pound atau 1))) gram
• +erdapat masalah pada perna#asan pada saat lahir
• ,emerlukan bantuan perna#asan dan oksigen dalam jangka !aktu lama
Banyak dari bayi ini lahir dengan RDS yang serius. Paru&paru mereka tidak dapat
berkembang meskipun memproduksi sur#aktan. -ur#aktan adalah "airan yang
$
.
melapisi disamping paru sehingga bayi dapat berna#as ketika lahir dengan
terdapatnya udara.
9&12
Bayi dengan RDS banyak terjadi setelah minggu ke&2 sampai ke&., tetapi
beberapa menjadi lebih buruk dan memerlukan banyak oksigen atau berna#as
dengan bantuan mesin, bayi ini kemudian akan berkembang menjadi DBP.
9
Displasia bronkopulmoner (DBP) adalah penyebab paling banyak dari
penyakit respirasi kronik selama kehamilan dan penyebab jangka panjang dari
morbiditas perkembangan sara#, sistem perna#asan dan medis serta jadi penyebab
peningkatan biaya pelayanan kesehatan.
1),11
Displasia bronkopulmoner (DBP) merupakan perkembangan tidak normal
pada jaringan paru. Ditandai dengan terjadinya in#lamasi dan adanya jaringan
parut pada paru. Perkembangan ini sering terjadi pada bayi kurang bulan yang
lahir dengan paru yang tidak berkembang.
1)
Bronko diartikan sebagai jalan na#as (dari pembuluh bronkus) yang
mengantarkan oksigen ke paru untuk perna#asan. Pulmonary diartikan sebagai
paru (al/eoli) dimana terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Displasia
diartikan sebagai perubahan yang tidak normal pada struktur dan organisasi dari
sel. Perubahan sel pada DBP terjadi pada jalan na#as ke"il dan pada al/eoli dari
paru yang dapat menyebabkan kesulitan berna#as dan menimbulkan masalah pada
#ungsi paru.
11
*
0sma yang lama, cystic fibrosis dan DBP merupakan salah satu penyebab
penyakit paru kronik pada anak&anak.
2,
-eperti yang disebutkan oleh the National
Heart, un!, and "lood #nstitute (NH"#) of the National #nstitutes of Health
(N#H) bah!a antara *))) dan 1).))) kasus DBP terjadi setiap tahunnya di
0merika -erikat. 0nak yang lahir dengan berat yang rendah (kurang dari 2,2
pounds atau kurang dari 1))) gram) merupakan #aktor risiko terjadinya DBP.
Biasanya bayi akan mengalami gejala yang serius, pada kasus yang jarang
biasanya disertai komplikasi lainnya dari bayi kurang bulan yang dapat berakibat
#atal.
1$
B. Etiologi
1ebanyakan DBP terjadi pada bayi kurang bulan biasanya pada umur
kehamilan $. minggu atau kurang dan berat lahir kurang dari 2))) gram. 1ondisi
bayi akan terlihat seperti mengalami respiratory distress syndrome (RDS) atau
penyakit membran hialin yang akan menimbulkan kerusakan pada jaringan paru.
Displasia bronkopulmoner (DBP) terjadi pada bayi yang telah menerima terapi
oksigen konsentrasi tinggi dalam jangka panjang dan menggunakan /entilator
dalam jangka panjang (biasanya lebih dari 1 minggu), untuk mengobati RDS pada
bayi baru lahir.
1.

2edera paru&paru yang menyebabkan terjadinya DBP bisa disebabkan oleh
meningkatnya tekanan di dalam paru&paru karena /entilator mekanik atau karena
kera"unan oksigen yang terjadi akibat pemaparan oksigen konsentrasi tinggi
dalam jangka panjang. 3aktor risiko terjadinya DBP%
11&1$

6
• Bayi kurang bulan
• 4n#eksi saluran perna#asan
• Penyakit jantung ba!aan
• Penyakit berat lainnya pada bayi baru lahir yang memerlukan terapi oksigen
atau /entilator.
,esin /entilator digunakan untuk perna#asan pada bayi tidak "ukup bulan,
selain /entilator juga memerlukan tambahan oksigen untuk paru&paru bayi tidak
"ukup bulan. 5ksigen dihantarkan melalui saluran pembuluh darah ke trakea bayi
dan memberikan tekanan yang rendah dari mesin untuk pergerakan udara pada
paru yang mengalami kelainan perkembangan. 1adang&kadang untuk
kelangsungan hidup bayi juga diberikan oksigen dengan jumlah konsentrasi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi oksigen di udara.
11
,eskipun /entilator mekanik sangat penting untuk kelangsungan hidup,
tetapi tekanan dari /entilasi dan kelebihan oksigen dapat membahayakan paru&
paru bayi dan berperan penting untuk terjadinya RDS. 6ampir setengah dari
seluruh bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah akan mengalami beberapa
bentuk dari RDS.
12
Displasia Bronkopulmoner (DBP) juga dapat timbul dari kondisi lain yang
membahayakan paru&paru bayi yang serupa dengan trauma, pneumonia dan

in#eksi yang lain. -emua keadaan tersebut dapat menimbulkan in#lamasi dan
terjadinya jaringan parut yang berhubungan dengan DBP.
1$
Bayi kurang bulan, bayi dengan berat rendah dan bayi laki&laki berkulit
putih mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk berkembang menjadi DBP, untuk
berbagai alasan yang tidak diketahui oleh dokter. 3aktor genetik juga memegang
peran penting untuk terjadinya DBP.
1*,16
Displasia bronkopulmoner (DBP) menyebabkan semua bayi tidak dapat
berkembang dengan baik, ketika pertama kali dide#inisikan oleh dokter DBP
menyebabkan kerusakan pada paru akibat /entilasi mekanik dan pemberian
tambahan oksigen ketika terapi RDS.
1
-aat ini para spesialis per"aya bah!a keadaan bayi yang lahir kurang
bulan dan adanya RDS merupakan #aktor yang berperan untuk terjadinya DBP
tetapi tidak hanya tergantung pada kedua #aktor tersebut. Displasia
bronkopulmoner (DBP) menyebabkan kemampuan dari paru&paru bayi untuk
berkembang menjadi terbatas saat pertama lahir sampai dengan beberapa hari
untuk memberikan respon terhadap situasi yang merugikan ini. 6al ini terjadi
karena adanya toksisitas oksigen, trauma mekanik pada paru, in#eksi atau
pneumonia.
1',19
3aktor etiologi yang berperan pada terjadinya DBP%
1,2,
'
• 1elahiran kurang bulan (dengan paru yang terbentuk tidak sempurna)% 4n#eksi
biasanya terjadi pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari $2
minggu dan berat lahir kurang dari 1))) gram
• 1onsentrasi oksigen yang tinggi (termasuk radikal bebas yang memi"u
kerusakan paru karena de#isiensi antioksidan) % konsentrasi oksigen yang
tinggi merupakan #aktor etiologi pada pasien dengan paru yang terbentuk
tidak sempurna dan konsentrasi lebih dari 6)7 berhubungan dengan
tingginya insidensi penyakit
• 8entilator mekanik (/olum tidal yang besar dan pengurangan compliance
paru)
• Respiratory distress syndrome (RDS) yang memerlukan /entilasi mekanik %
Penggunaan tekanan /entilasi positi# yang terus&menerus pada bayi dengan
RDS memi"u dilatasi bronkus terminalis yang menyebabkan nekrosis iskemik
pada saluran na#as ba!ah. P#$ (pulmonary interstitial emphysema) dan
pneumotorak menyebabkan kerusakan paru yang kronis. Penggunaan
/entilasi mekanik pada pasien RDS merupakan penyebab dasar terjadinya
DBP, juga terjadi pada pasien dengan hernia diafra!mati% persistent
pulmonary hipertensi pada bayi, aspirasi
• 3aktor #amilial (atopi, alergi, dan atau asma)
• 0gen in#eksi (seperti &reaplasma urealyticum)% &reaplasma urealyticum
adalah penyebab in#eksi yang paling sering pada bayi dengan DBP, terjadi
9
pada a!al dan perubahan kearah DBP yang berat selama $ minggu. Bakteri
dan jamur yang lain juga berpengaruh
• 0danya kebo"oran udara seperti pneumonia intersisial
• Patent ductus arteriosus (PD')
• 9utrisi dan atau de#isiensi /itamin 0 atau :
• "acterial pneumonias
• 1elebihan "airan
• (e/el steroid yang rendah
• 1etidakseimbangan antara elastase dan proteinase inhibitor
• (iscellaneous fa%tor
C. Patofisiologi dan Patogenesis
Pato#isiologi DBP sangat kompleks dan sulit dipahami. Displasia
bronkopulmoner (DBP) disebabkan oleh berbagai #aktor yang bersi#at toksik yang
menyebabkan kerusakan jalan na#as ke"il dan mengganggu proses al/eolarisasi,
yang menyebabkan terjadinya pengurangan area untuk proses pertukaran gas
se"ara keseluruhan. Pembentukan mikro/askular pada paru juga berbahaya yang
turut mempengaruhi terjadinya DBP. +erjadinya kerusakan paru selama proses
1)
pertumbuhan dapat menyebabkan dis#ungsi paru se"ara signi#ikan. Paru (al/eolar
dan kompartemen /askular), jantung, otak merupakan organ yang paling banyak
dipengaruhi.
1,
Gambar 1. Kelainan jalan nafas pada Displasia Bronkopulmoner

Pada gambar 1 dapat dilihat beberapa kelainan pada DBP, diantaranya
penyempitan al/eolus yang menyebabkan kolapnya jalan na#as. Pada DBP juga
terjadi penurunan kapasitas jalan na#as, peradangan dan #ibrosis peribronkial,
jaringan mikro/askular paru yang tidak beraturan, serta penyempitan sederhana
pada al/eolus yang menyebabkan pertukaran gas terganggu.
2
;ambar 2 menjelaskan tentang #aktor antenatal)posnatal memberikan
kontribusi dalam pelepasan sitokin proin#lamasi dan antiin#lamasi.
11
1etidakseimbangan mediator akan mengakti/asi kematian sel paru, karakteristik
dari kerusakan al/eolar dan disregulasi angiogenesis menimbulkan kerusakan
al/eoli yang luas dan tidak terbentuknya jaringan /askular paru, yang
mengakibatkan terjadinya DBP.
1
Gambar . Patogenesis Displasia Bronkopulmoner
1
D. Diagnosis
Anamnesis
1!
• Penggunaan steroid antenatal
12
• <sia kehamilan, berat lahir dan skor 0P;0=
• <saha resusitasi a!al, keperluan untuk intubasi, penggunaan sur#aktan, lama
intubasi
• >enis /entilasi, lama penggunaan oksigen tambahan dan #aktor lainnya. 6al ini
dapat mempengaruhi tipe dan derajat kerusakan paru
• =i!ayat keluarga dengan asma, atopi atau anak dengan displasia
bronkopulmoner
• Dukungan dari struktur sosial
Pemeriksaan "isik
Bayi dengan DBP memperlihatkan ketidaknormalan pada pemeriksaan
#isik, #oto thoraks, tes #ungsi paru dan pemeriksaan histopatologi. 5bser/asi a!al
harus dilakukan pada bayi yang lahir dengan RDS, jika keadaan ini terus
berlangsung maka dapat meningkatkan terjadinya risiko DBP.
1,$
• Pada pemeriksaan #isik dapat ditemukan takipne, takikardi, peningkatan
kerja perna#asan seperti retraksi, perna#asan "uping hidung dan
mendengkur?ngorok. Dan akan terjadi penurunan berat badan dalam 1) hari
pertama kehidupan. Pada pemeriksaan #isik tanda /ital termasuk respirasi rate
dan saturasi oksigen pada saat istirahat dan sedang berakti/itas juga harus
diketahui juga tanda hipertensi pulmonal termasuk edema peri#er, hepatomegali
dan distensi /ena.
$
• Bayi dengan DBP yang berat sering pada bayi tidak "ukup bulan dan berat
badan yang sangat rendah. ,ereka memerlukan oksigen dan bantuan /entilator
yang akan makin meningkat dalam 2 minggu kehidupan. Pada minggu 2&.
1$
tambahan oksigen, bantuan /entilator atau keduanya biasanya akan meningkat
se"ara adekuat untuk /entilasi dan oksigenasi.

Gejala Klinis
+anda dan gejala DBP yaitu%
2,1),11
1. Perna#asan yang "epat (takipne)
2. =etraksi
$. Batuk
.. Parado%sal respirasi (Pergerakan rongga dada dan abdomen berla!anan pada
saat respirasi)
*+ ,hee-in!
.+ 'bnormal posture
. /ranin! nec% (leher terlihat seperti burung bangau)
'. -ulit berna#as
9. -ianosis yang episodik?berulang
1). ;ejala seperti asma yang episodik
11. ;ejala in#eksi saluran na#as
-eperti % 4ritabilitas, demam, kongesti nasal, batuk, perubahan dalam
gambaran respirasi, 0hee-in!
12+ Pulmonary Distress Syndrom
-eperti % -ulit berna#as, kolaps paru dan lainnya
1.
Biasanya DBP mulai terjadi pada bayi yang berusia 1 minggu dan lebih
sulit didiagnosis pada bayi yang berusia 1. sampai $) hari. Dasar diagnosis bayi
dengan DBP yaitu%
1)
• =i!ayat kelainan paru pada hari pertama setelah lahir (kelainan pada paru
dapat terjadi ketika menggunakan respirator untuk memberikan oksigen
dengan tekanan minimum selama $ hari sampai 2 minggu dari usia bayi)
• +erus&menerus memerlukan suplemen?oksigen tambahan sampai berusia 2'
hari
• -e"ara klinis memperlihatkan gejala kesulitan respirasi?berna#as sampai
berusia lebih dari 2' hari
3oto thoraks pada bayi dapat membantu diagnosis DBP. ,eskipun untuk kriteria
diagnosis yang penting untuk DBP lebih tergantung pada lamanya pemberian
oksigen tambahan sampai bayi berusia lebih dari 2' hari.
12
1riteria yang digunakan untuk diagnosis DBP termasuk lama terjadinya
respiration distress dan lamanya bayi memerlukan bantuan respirator, banyak
dokter mendiagnosis DBP pada bayi saat berusia 2 atau $ minggu, meski beberapa
dokter mendiagnosis DBP pada bayi saat berusia lebih dari 2' hari.
1$
E. Klasifikasi
1lasi#ikasi klinis dari DBP%
2,1)
Stadium 1 (1 sampai $ hari) % DBP memperlihatkan gejala seperti penyakit
membran hialin dan menunjukkan adanya penyakit membran hialin, atelektasis,
1*
hiperemia /askular dan pelebaran lim#atik. Dengan gambaran radiologis seperti
pada gambar $.
Gambar #. Gambaran radiologis stadium 1 displasia bronkopulmoner
1$
Stadium (. sampai 1) hari) % +erjadi kerusakan pada paru yang melibatkan
bronkus terminal dan menyebabkan terjadinya nekrosis iskemik pada jalan na#as
dan menyebabkan perubahan pada paru dengan segera. 5bstruksi bronkiolus juga
terlihat pada stadium ini, juga terjadi nekrosis bronkial, #ibrosis peribronkial dan
terjadinya metaplasia skuamosa yang menyingkirkan keadaan bronkiolitis,
penyakit membran hialin dapat tetap terjadi pada stadium ini, juga terjadi
em#isema dari al/eoli. Dengan gambaran radiologis seperti pada gambar ..
16
Gambar %. Gambaran radiologis stadium displasia bronkopulmoner
1$
Stadium # (11 sampai 2) hari) % +erjadi perubahan progresi# dari paru termasuk
penurunan kemapuan dari al/eoli yang ditandai dengan hipertro#i dari al/eoli dan
bronkial, dinding otot dan kelenjar, juga regenerasi dari sel dan eksudasi
makro#ag dan histiosit pada jalan na#as. +erjadi juga airtrappin!, hiperin#lasi dari
paru, trakeomegali, trakeomalasia, edema intestinal dan dis#ungsi siliar. Dengan
gambaran radiologis seperti pada gambar *.
Gambar &. Gambaran radiologis stadium # displasia bronkopulmoner
1$
Stadium % (lebih dari 1 bulan)% :m#esima dari al/eoli menyebabkan terjadinya
hipertensi pulmonal dan terjadi kerusakan paru yang kronik serta penyakit jantung
1
pulmonal. Pada paru terjadi #ibrosis, atelektasis dan gambaran cobblestone+
6ipertensi pulmonal menyebabkan penebalan pada tunika intima arteri pulmonalis
yang menyebabkan hipertro#i peribronkial. 5nset terjadinya DBP biasanya tidak
sesuai dengan rangkaian gejala yang progresi# sesuai stadium diatas. Dengan
gambaran radiologis seperti pada gambar 6.
Gambar '. Gambaran radiologis stadium % displasia bronkopulmoner
1$
". (erapi
3aktor penting untuk mendiagnosis adanya DBP yaitu kurang bulan,
in#eksi, penggunaan /entilator dan oksigen. Displasia bronkopulmoner (DBP)
khusus didiagnosis jika bayi masih memerlukan tambahan oksigen dan terus
memperlihatkan problem pada perna#asan sampai berusia 2' hari. Pemeriksaan
#oto thoraks mungkin dapat membantu diagnosis. Pada bayi dengan RDS #oto
thoraks memperlihatkan gambaran !roud !lass, pada bayi dengan DBP #oto
thoraks terlihat seperti gambaran bunga karang?spon.
1'
Pengobatan medis tidak dengan segera mengobati DBP. Bayi yang
didiagnosis pertama kali dengan DBP memerlukan pera!atan intensi# di rumah
1'
sakit, khususnya di ne0born intensive care unit (N#/&) sampai mereka dapat
berna#as dengan baik meskipun dipertahankan tanpa bantuan /entilator. Beberapa
bayi memerlukan jet /entilasi, terus&menerus tekanan /entilasi yang rendah
digunakan untuk meminimalkan kerusakan paru dari /entilasi yang memperbesar
kemungkinan terjadinya DBP. +idak semua rumah sakit menggunakan prosedur
ini dalam pengobatan DBP, tetapi rumah sakit dengan N#/& yang besar
menggunakannya. Bayi dengan DBP juga di terapi dengan berbagai obat yang
berbeda untuk memperbaiki #ungsi paru.
19
8entilator biasanya diperlukan untuk memberikan tekanan pada paru&paru
agar jaringan paru&paru mengembang dan untuk memberikan oksigen tambahan.
>ika bayi sudah dapat menyesuaikan diri, maka tekanan dan konsentrasi oksigen
se"ara berangsur&angsur dikurangi. 1etika /entilator dilepas, oksigen bisa terus
diberikan melalui masker atau selang ke"il yang dimasukkan ke lubang hidung,
selama beberapa minggu atau beberapa bulan.
Pada kasus DBP yang berat penggunaan steroid dianjurkan. Pengobatan ini
sebagai antiin#lamasi yang kuat tetapi juga mempunyai e#ek samping jangka
panjang dan jangka pendek. Dokter biasanya memilih obat ini setelah berdiskusi
dan mempertimbangkan man#aat dan risiko dari obat.
2)
0ntibiotik kadang&kadang diperlukan untuk mengatasi in#eksi bakteri
karena bayi dengan DBP akan menjadi pneumonia. Bayi dengan RDS belum bisa
didiagnosis dengan DBP, pemberian sur#aktan natural atau sintetik mungkin dapat
mengurangi perubahan kearah DBP.
'
19
Bayi yang dira!at di rumah sakit dengan DBP mungkin perlu pemberian
minum dengan #ormula tinggi kalori melalui !astric tube yang dimasukkan ke
dalam perut untuk mendapatkan kalori dan nutrisi untuk memulai pertumbuhan.
Pada kasus yang berat bayi dengan DBP tidak dapat menggunakan sistem
gastrointestinal untuk men"ernakan makanan. Disini bayi memerlukan pemberian
intravena (48) yang disebut 3PN atau total parenteral nutrisi yang terdiri dari
protein, lemak, gula dan nutrisi. ,akanan biasanya diberikan melalui selang yang
dimasukkan ke lambung.
1'
Diperlukan ekstra kalori karena bayi memerlukan kalori yang lebih untuk
bisa berna#as. 2airan "enderung tertimbun di dalam paru&paru yang mengalami
in#lamasi, sehingga asupan "airan agak dibatasi dan kadang diberikan diuretik
untuk meningkatkan pembuangan "airan dari tubuh. -etelah dira!at beberapa
bulan, kadang bayi meninggal. Pada bayi yang selamat, gangguan perna#asan
se"ara berangsur&angsur akan menghilang. +etapi pada tahun&tahun pertama, bayi
ini memiliki risiko tinggi menderita pneumonia (terutama yang disebabkan oleh
/irus). Bisa diberikan imunisasi dengan antibodi untuk RSV (respiratory
syncytia).
2)
Bayi yang dira!at di N#/& dengan DBP dapat mengalami perubahan
selama beberapa minggu sampai bulan. ,enurut National #nstitutes of Health
(N#H) perkiraan rata&rata lamanya bayi dengan DBP dira!at se"ara intensi# di
rumah sakit kurang lebih 12) hari. -etelah dira!at di rumah sakit bayi mungkin
masih terus memerlukan pengobatan, terapi perna#asan dan oksigen di rumah.
2)
,eskipun pada banyak anak pemberian bantuan oksigen dihentikan pada akhir
tahun pertama, beberapa kasus yang berat memerlukan /entilator selama beberapa
tahun atau selama hidupnya, meskipun kasus ini jarang terjadi.
19
Perbaikan pada bayi dengan DBP terjadi se"ara bertahap. Beberapa bayi
akan mengalami perbaikan se"ara lambat, yang lainnya mungkin tidak akan
menunjukkan perbaikan dari kondisi tersebut jika penyakit pada paru mereka
sangat berat. Paru akan terus berkembang sampai usia *& tahun dan #ungsi paru
dapat terganggu sampai usia sekolah meskipun pada anak mayoritas #ungsinya
baik. 0danya jaringan parut, kekakuan pada jaringan paru akan selalu
menurunkan #ungsi paru.
2,.,6,11
Beberapa terapi untuk DBP%
2,',1)&12
1. Diuretik
Digunakan untuk pengobatan edema paru juga mengurangi "airan di
paru. 3urosemid mungkin memberikan banyak e#ek termasuk e#ek pada
sintesis prostaglandin, /asodilatasi se"ara langsung,dan peningkatan produksi
sur#aktan. :#ek samping jangka panjang dari terapi #urosemid yaitu %
a@otemia, ototoksisitas, gangguan elektrolit, pengeluaran kalsium dalam urin
se"ara berlebihan, osteopenia, dan ne#rokalsinosis, hilangnya pendengaran,
hiponatremia, hipokalemia, hipokalsemia, alkalosis, batu ginjal, kolelitiasis
dan ototoksisitas.
21
Dosis diuretik untuk bayi yaitu ).*&2 mg?kg?kali P5?48 (pada bayi
dengan usia kehamilan kurang dari $1 minggu). Diuretik thia@id biasanya
digunakan dengan diuretik hemat kalium seperti spironolakton, tidak see#ekti#
dengan pemberian #urosemid. ,onitoring kadar elektrolit se"ara rutin
diperlukan pada pasien dengan penggunaan terapi diuretik jangka panjang.
-uplemen?tambahan elektrolit kadang diperlukan pada terapi jangka panjang.
. Bronkodilator
4nhalasi dengan 4-a!onis merupakan pengobatan yang e#ekti# untuk
bronkospasme yang reversible yang "ukup aman dan e#ekti# untuk terapi
jangka panjang juga membantu membuka jalan na#as. 0lbuterol merupakan
dru! of choice sebagai a!ent lon!-actin!.
0ntagonis muskarinik dapat berguna khususnya pada pasien yang
tidak memberi respon pada terapi dengan albuterol. 1romolin bukan
bonkodilator tetapi sering digunakan sebagai antiin#lamasi dengan e#ek
samping yang minimal.
(ethyl5antin sering digunakan pada pasien yang apneu, memberikan
e#ek diuretik yang ringan dan membantu meningkatkan kontraktilitas
dia#ragma, obat ini memberikan e#ek yang potensial untuk DBP.
Albuterol )Pro*entil! +entolin,
-pesi#ik beta 2-a!onis yang digunakan untuk pengobatan
bronkospsme pada bayi dengan DBP. ,eningkatkan compliance paru dan
22
menurunkan resistensi sekunder jalan na#as untuk relaksasi sel otot.
Penggunaanya sebagai aerosol pada bayi dengan DBP (khususnya jika
tergantung /entilator) masih belum jelas. -ebab se"ara klinis relaksasi dari
otot ke"il tidak terlihat pada minggu pertama setelah lahir. Dosis anak yaitu
).1&).2 mg ().)2&).). m( o# ).*7 dalam 1&2 m( )..*&).97 9a2l) per
kg?kali, inhlasi dengan nebuli-er tiap .&6 jam.
"eta-bloc%ers anta!onis memberikan pengaruh yaitu inhalasi
ipratropium meningkatkan !aktu bronkodilatasi, pada kardio/askular
memberikan e#ek peningkatan ,054s, antidepresan trisiklik dan obat
simpatomimetik.
Ipratropium bromida )Atrovent,
0ntagonis muskarinik yang memberi e#ek bronkodilatasi. Dapat
meningkatkan pulmonary mekanik pada bayi dengan DBP, digunakan se"ara
inhalasi.
Dosis pada anak ).)2*&).)' mg?kg inhalasi dengan nebuli-er tiap 6
jam (dalam1.*&2 m( ).97 9a2l). Penggunaan dengan antikolinergik seperti
dronabinol meningkatkan toksisitas, penggunaan dengan albuterol dapat
meningkatkan e#ek obat.
Theophylline (Elixophyllin)
-ebagai bronkodilator sistemik. Digunakan untuk pengobatan apneu
pada bayi kurang bulan. ,ampu meningkatkan kontraktilitas otot skeletal dan
2$
penurunan kerja dia#ragma pada bayi dengan DBP. 5bat memberikan
pengaruh pada en@im hepatik sitokrom P.*) (2AP), aminoglutetimid,
barbiturat, karbama@epin, ketokona@ol, loop diuretic, #enobarbital, #enitoin,
ri#am#isin, isonia@id dan simpatomimetik memberikan e#ek mungkin terjadi
penurunan.
+erjadi peningkatan e#ek dengan allopurinol, beta bloker,
kortikosteroid, hormon tiroid e#edrin, karbama@epin, simetidin, eritromisin,
makrolid, propranolol dan inter#eron.
#. +asodilator Paru
+ambahan oksigen e#ekti# sebagai /asodilator dan untuk pengobatan
pada bayi dengan hipoksia.
%. Steroid
Penggunaan steroid masih kontro/ersial, karena dapat meningkatkan
risiko sepsis. -ering digunakan sebagai short re!imen, tidak menunjukkan
adanya e#ek jangka panjang. 4nhalasi steroid memberikan e#ek antiin#lamasi
tanpa e#ek samping sistemik juga digunakan untuk pen"egahan dan
pengobatan. Biasa digunakan pada bayi kurang bulan, sebagai agen baru
untuk nebulisasi sebagai obat pada bayi yang ke"il. ,enyebabkan retardasi
pertumbuhan yang linear.
'
-istemik dan inhalasi kortikosteroid digunakan pada bayi kurang
bulan untuk men"egah dan pengobatan pada DBP. Deksametason merupakan
2.
kortikosteroid sistemik primer yang digunakan pada bayi baru lahir yang
kurang bulan. 5bat ini menstabilisasi sel membran lisosom, meningkatkan
sintesis sur#aktan dan peningkatan konsentrasi serum /itamin 0, menghambat
prostaglandin dan leukotrien, penurunan P$, menurunkan agregasi granulosit
dan peningkatan mikrosirkulasi pada paru. :#ek samping yaitu hiperglikemia,
hipertensi, penurunan berat badan, perdarahan gastrointestinal atau per#orasi,
cerebral palsy, supresi adrenal dan kematian.
'
Pada tahun 199' dilaporkan penggunaan deksametason selama 2
minggu tidak dapat men"egah DBP dan menyebabkan kelainan neurologis.
Bayi yang mendapatkan terapi kombinasi deksametason dengan indometasin
meningkatkan risiko per#orasi intestinal spontan. Perkembangan sara# pada
bayi juga harus selalu diperiksa pada bayi yang mendapatkan terapi jangka
panjang dari deksametason. ;lukokortikosteroid inhalasi memberikan e#ek
yang menguntungkan untuk mengurangi pengaruh kortikosteroid sistemik
pada bayi yang menerima inhalasi steroid. Penggunaan terus&menerus
deksametason pada bayi dengan DBP tidak dianjurkan, 'merican 'cademy
of Pediatrics dan the /anadian Society of Pediatrics tidak menganjurkan
penggunaan kortikosteroid terus&menerus pada bayi kurang bulan untuk
pengobatan DBP.
'
(erapi -ksigen
5ksigen dapat menerima elektron dalam bentuk radikal bebas. 5ksigen
radikal bebas menyebabkan kerusakan membran sel, modi#ikasi protein dan
2*
ketidaknormalan D90. Dibandingkan dengan janin, neonatus hidup dengan
lingkungan yang kaya akan oksigen relati#. 5ksigen ada dimana&mana dan
diperlukan untuk kelangsungan hidup e5trauterine. ,eskipun pada neonatus
terjadi de#isiensi relati# dari en@im antioksidan.
1'
:n@im antioksidan utama pada manusia yaitu superoksida dismutase,
gluthatione peroksidase dan katalase. 0kti/itas en@im antioksidan meningkat
selama trimester terakhir dari kehamilan yang sama dengan peningkatan sur#aktan
dan al/eolarisasi, serta perkembangan pembuluh darah paru. Peningkatan ukuran
al/eolar, produksi sur#aktan dan en@im antioksidan pada janin yang mengalami
transisi dari lingkungan intrauterine yang hipoksik ke lingkungan e5trauterine
yang relati# hiperoksik. 9eonatus kurang bulan yang terekspos oksigen dengan
konsentrasi tinggi meningkatkan risiko kerusakan dan radikal bebas oksigen.
12
Penelitian pada binatang dan manusia mengenai superoksida dismutase
dan katalase mengakibatkan penurunan kerusakan sel, peningkatan angka
kelangsungan hidup dan pen"egahan kerusakan pada paru. 5ksidasi lipid dan
protein juga terjadi pada bayi dengan DBP.

-aturasi oksigen yang ideal pada bayi "ukup bulan dan kurang bulan tidak
dapat ditentukan karena ber/ariasi sesuai dengan usia kehamilan. -e"ara praktis
para klinisi menggunakan parameter saturasi oksigen yaitu ''&927. -ulit untuk
terjadinya keseimbangan yang optimal pada paru&paru neonatus (al/eolar dan
/askular) dan hemostasis /askular retina. Pada Supplemental 3herapeutic 65y!en
for Prethreshold Retinopathy of Prematurity (S36P-R6P) terjadi penurunan
26
retinopathy of prematurity (R6P) yang berat. -aturasi oksigen B9*7
meminimalkan pengaruh retinopati tetapi meningkatkan risiko untuk pneumonia
atau DBP.
11
6al&hal yang berhubungan dengan terapi oksigen%
2.11
• 5ksigen normal diberikan pada bayi kurang bulan. 6ipertensi pulmonal dan
penyakit jantung pulmonal diakibatkan oleh hipoksia yang kronik dan jadi
petunjuk terjadinya remodeling jalan na#as pada bayi dengan DBP yang berat.
5ksigen adalah /asodilator paru yang kuat yang menstimulasi produksi nitrit
o%side (N6), N6 menyebabkan relaksasi sel otot dengan mengakti/asi cyclic
!uanosine monophosphate
• Pulse o5imetry adalah monitoring nonin/asi# untuk oksigenasi
• Desaturasi yang berulang dan hipoksia terjadi pada bayi dengan DBP yang
menerima /entilator mekanik, stimulasi yang berlebih dan bronkospasme
• +rans#usi pac%ed R"/s dapat meningkatkan kapasitas oksigen pemba!a pada
bayi kurang bulan dengan anemia (hematokrit C $)7), tetapi trans#usi dapat
meningkatkan terjadinya komplikasi. 6emoglobin yang ideal tidak dapat
dibentuk dengan baik pada bayi dengan sakit yang serius. 6emoglobin tidak
berkorelasi dengan baik dengan transport oksigen
2
• Diperlukan trans#usi yang berulang dan donor untuk meminimalkan terapi
eritropoetin, suplemen besi dan pengurangan keperluan phlebotomy
Diet
Bayi dengan DBP terjadi peningkatan kebutuhan energi. 9utrisi parenteral
sering digunakan untuk memperbaiki keadaan katabolik pada bayi preterm,
kelebihan "airan pada minggu pertama dari kehidupan bayi yang dapat
meningkatkan terjadinya risiko PD' dan DBP. ,asukan yang optimal dari
protein, karbohidrat, lemak, /itamin dan mineral untuk men"egah kerusakan paru
dan untuk perbaikan jaringan.
2)
8itamin 0 dan : adalah nutrisi antioksidan yang membantu men"egah
peroksidasi lipid dan integritas sel. ,eskipun suplemen /itamin : pada neonatus
kurang bulan tidak dapat men"egah terjadinya DBP. Berdasarkan penelitian
bah!a /itamin 0 dapat menurunkan risiko terjadinya DBP pada bayi yang lahir
kurang bulan. Bayi kurang bulan biasanya terjadi de#isiensi /itamin.
*
Bayi kurang bulan memerlukan air dalam jumlah yang lebih banyak sebab
terjadi peningkatan insensible 0ater loss sehingga mereka menjadi kurus dan kulit
menjadi tidak terbentuk sempurna+ >umlah "airan meningkatkan risiko
simptomatik PD' dan P$. Peningkatan penggunaan /entilator dan oksigen untuk
keperluan terapi PD' dan P$ dapat menyebabkan kerusakan paru dan
peningkatan risiko DBP. 6al&hal yang berhubungan dengan nutrisi%
2)
2'
1. -uplemen protein dan lemak meningkat se"ara progresi# sehingga diperlukan
$&$.* g?kg?hari. 1onsentrasi lipid yang lebih buruk pada bayi dengan DBP
ditandai dengan kelainan pada /askular lipid.
2. ;lokosa yang berlebih dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan glukosuria.
$. 1alsium dan #os#at juga diperlukan pada bayi kurang bulan. Pada janin banyak
terdapat mineral dan digunakan selama trimester $, bayi yang kurang bulan
mengalami de#isiensi kalsium dan #os#at dan meningkatkan risiko ri"ketsia.
.. 3urosemid terapi dan kalsium intra/ena untuk mineralisasi tulang bisa
berakibat lebih buruk dan terjadi hiperparatiroid sekunder.
*. 8itamin 0 adalah suplemen untuk perbaikan paru dan menurunkan insidensi
DBP.
6. -upplemen mineral (seperti copper, -inc, mangan) diperlukan karena
merupakan ko#aktor en@im antioksidan yang esensial.
. Pemberian makanan enteral melalui pemberian 0-4 merupakan nutrisi terbaik
untuk men"egah komplikasi pemberian makanan seperti sepsis dan necroti-in!
enterocolitis. 0-4 dan #ormula dapat meningkatkan energi ketika terjadi
masukan "airan yang minimal. Bayi memerlukan energi 12)&1*) k"al?kg?hari .
G. Pen.ega/an
<ntuk men"egah terjadinya DBP, sebaiknya alat bantu perna#asan
dilepaskan se"epat mungkin atau pemakaiannya dipersingkat. Bayi yang lahir
29
kurang bulan atau mempunyai masalah pada jalan na#as setelah lahir berisiko
tinggi untuk terjadi DBP yang akan menimbulkan masalah kesehatan jangka
panjang, DBP dapat menjadi kondisi yang serius yang memerlukan pera!atan
medis yang intensi#. Pen"egahan dapat dilakukan dengan menghilangkan
#aktor risiko yang mempertinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah
dan program pera!atan prenatal se"ara regular bagi !anita dengan risiko
tinggi melahirkan bayi kurang bulan.
1$
+idak ada metode khusus yang
menjamin tidak terjadinya DBP%
1.
− 6indari terjadinya prematuritas
− Penggunaan kortikosteroid pada ibu dengan risiko prematuritas mampu
menurunkan angka mortalitas dan insidensi RDS.
• ,ultidisplin ilmu diperlukan pada semua pasien dengan penyakit yang
sedang dan berat. +im ini termasuk dokter, ahli paru anak, ahli jantung anak, ahli
gi@i dan ahli #isioterapi yang memonitor pertumbuhan dan nutrisi, monitor status
perkembangan sara# termasuk pasien di N#/& dengan risiko tinggi. Pemberian
kalsium dan #os#at pada pasien dengan risiko tinggi untuk terjadinya
hiperparatiroid dan riketsia.
11
• Pasien yang berusia C 2 bulan yang berisiko tinggi terin#eksi respiratory
syncytial virus diberikan injeksi imun jika tidak ada kontraindikasi.
2
Pasien yang berusia B 6 bulan diberikan /aksin in#luen@a jika tidak ada
kontraindikasi. 3isioterapi thoraks pada pasien dengan osteopenia yang
mengalami #raktur patologis.
1
$)
0. Diagnosis Banding
#!&!1
1. 0sma
2. Bronkiolitis
7+ /on!enital heart disease
8+ /ystic adenomatoid malformation
*+ /ystic fibrosis
.+ #diopathic pulmonary fibrosis
. 4n#eksi
9+ (econium aspiration syndrome
9. 0spirasi yang berulang
1$. Komplikasi
-etelah stadium yang kritis dari DBP beberapa bayi masih menunjukkan
adanya komplikasi jangka panjang.. ,ereka sering lebih rentan terkena in#eksi
saluran na#as seperti in#luen@a, respiratory syncytial virus (RSV) dan pneumonia.
1etika terin#eksi mereka "enderung mudah sakit dibandingkan anak&anak lain
pada umunya.
,'
Displasia bronkopulmoner (DBP) juga menimbulkan komplikasi pada
sistem sirkulasi seperti terjadinya hipertensi pulmonal dimana arteri dan /ena
yang berasal dari jantung menuju ke paru menjadi lebih sempit dan menyebabkan
$1
terjadinya peningkatan tekanan darah, meskipun hal ini sebagai komplikasi yang
lanjut terjadi.
9
:#ek dari terapi dapat terjadi dehidrasi dan rendahnya kadar kalium karena
pemakain diuretik. Batu ginjal, masalah pendengaran, rendahnya potasium dan
kalsium dapat terjadi karena pemakaian #urosemid dalam jangka panjang.
9
Bayi dengan DBP pertumbuhannya terjadi lebih lambat dan terjadi
kesulitan penambahan berat badan dan mereka juga mudah kehilangan berat
badan ketika sakit. Pertumbuhan yang lambat masih terus terlihat sampai anak
berusia 2 tahun. Perkembangan paru anak komplit pada usia ' tahun tetapi
beberapa masalah pada #ungsi paru akan terus menerus terjadi sampai usia de!asa
pada anak dengan DBP. Pertumbuhan dan perkembangan lambat pada bayi
dengan DBP memperlihatkan keadaan yang ber/ariasi lebih tergantung pada
pengaruh prematuritas dan kerusakan paru yang akut. Pada beberapa kasus yang
berat memperlihatkan pengaruh jangka panjang termasuk kelainan dalam
koordinasi, gait dan tonus dan kemampuan akti/itas, masalah pada penglihatan
dan pendengaran serta kemampuan belajar. Bayi kurang bulan dengan DBP yang
berat juga mempunyai insidensi yang lebih tinggi untuk terjadinya cerebral
palsy.
1)
1omplikasi lain dari DBP yaitu%
1),11
1. 4ntubasi yang lama dapat menyebabkan sub!lottic stenosis dan
tra%eomalacia+
$2
2. 6ipertensi pulmonal dapat terjadi karena kerusakan pembuluh darah dan
kemudian proli#erasi intima, menyebabkan hipertro#i /entrikel kanan dan jika
berat dapat terjadi penyakit jantung pulmonal.
$. :dem paru juga sering terjadi se"ara sekunder akibat peningkatan
permeabilitas kapiler paru dan peningkatan tekanan pada paru hal ini juga
terjadi karena kelebihan "airan dalam paru yang menimbulkan kesulitan
perjalanan udara dalam jalan na#as.
.. >alan na#as yang reakti#, bronkospasme, perubahan pada mekanisme
pulmonal yang menyebabkan tes #ungsi paru tidak normal dan peningkatan
kerja perna#asan.
*. ,alnutrisi dan kegagalan pertumbuhan dapat terjadi akibat peningkatan kerja
perna#asan dan kemudian pengeluaran kalori yang tinggi.
6. ,erusak?mengganggu #ungsi pertahanan dari paru yang dapat meningkatkan
terjadinya in#eksi khususnya respiratory syncytial virus.
11. Prognosis
1,2
1. =ata&rata angka kematian yang tinggi (1D.7) pada pasien dengan penyakit
yang berat yang memerlukan /entilator dalam !aktu lama.
$$
2. +idak ada modalitas terapi yang memperlihatkan hasil yang signi#ikan dalam
jangka !aktu yang lama pada displasia bronkopulmoner kronik.
$. Pasien yang selamat biasanya memperlihatkan akibat jangka panjang pada
paru seperti hiperin#lasi, jalan na#as yang reakti# dan intoleransi pada saat
akti/itas.
.. Pada anak yang usianya lebih tua dan de!asa muda biasa terjadi se"ara
asimptomati% yang menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan
akti/itas.
*. +eknologi terbaru, berupa /entilasi #rekuensi tinggi dan sur#aktan eksogen
dapat meningkatkan rata&rata kelangsungann hidup pada bayi kurang bulan,
meskipun penurunan insidensi dan berat penyakit DBP sulit untuk
ditunjukkan.