YUNI A. N.

KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia termasuk salah satu negara yang kaya akan flora dan fauna yang
merupakan sumber daya alam hayati. Oleh karena setiap spesies tumbuhan, hewan
dan mikroorganisme yang terdapat di darat maupun di laut mempunyai nilai-nilai
kimiawi dalam arti menghasilkan bahan-bahan kimia yang banyak jumlahnya, maka
keanekaragaman hayati yang tersedia di Indonesia dapat diartikan sebagai sumber
bagi keanekaragam bahan kimia.
Tumbuhan pada umumnya mengandung senyawa aktif dalam bentuk
metabolit sekunder seperti alkaloid, glikosida, flavanoid, steroid, terpenoid, dan
antibiotik, yang berguna bagi kehidupan manusia. Kegunaan bahan alam mencakup
sebagai bahan makanan, bahan obat-obatan, vitamin, zat warna dan lain-lain.
Terpenoid merupakan senyawa bahan alam organik yang tersebar secara luas
pada makhluk hidup. Banyak senyawa terpenoid yang telah diisolasi dan diketahui
mempunyai manfaat fisiologis dan farmakologis. Manfaat-manfaat tersebut antara
lain, minyak atsiri dapat berfungsi sebagai antiseptik, penenang; Azulen sebagai
pencegah peradangan, α-lakton tak jenuh sebagai antitumor; Geraniol sebagai
hormon; Ferberol sebagai feromon seks.
Keanekaragaman kerangka dan hubungan dengan fungsi stereokimia dan
fungsi fisiologis, disamping mudahnya diisolasi, relatif sederhana komposisinya,
mudah diidentifikasi serta transformasi yang menarik menyebabkan senyawa
terpenoid merupakan objek yang menantang dalam mempelajari kimia organik
bahan alam.


YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 2

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu :
1. Terpenoid apa sajakah yang telah berhasil diisolasi dari tumbuhan Curcuma
mangga ?
2. Bagaimanakah cara isolasi yang dilakukan terhadap masing-masing terpenoid
dari tumbuhan Curcuma mangga ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Mengetahui terpenoid apakah yang telah berhasil diisolasi dari tumbuhan
Curcuma mangga.
2. Mengetahui cara isolasi dari yang dilakukan terhadap masing-masing
terpenoid dari tumbuhan Curcuma mangga.

1.4 Manfaat
Dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
mengenai terpenoid yang telah berhasil diisolasi dari tumbuhan Curcuma mangga,
dan juga cara mengisolasinya.






YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Uraian Senyawa
Senyawa-senyawa yang berhasil diisolasi pada minyak atsiri dari Curcuma
mangga adalah sebagai berikut.
2.1.1 β-Felandren

Puncak dengan retensi 10,307 dengan berat molekul 136, kemungkinan
adalah β-filandren berdasarkan kemiripan spektra yang ditunjukkan oleh Brauw
(1980).

2.1.2 β-mirsen

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 4

Puncak dengan waktu retensi 11,800 kemungkinan adalah puncak β-mirsen
berdasarkan NIST Library dan Brauw (1980).

2.1.3 Limonen

Puncak dengan waktu retensi 12,532 mempunyai berat molekul 136
kemungkinan adalah limonen (suatu siskuiterpen monosiklik) jika dilihat kemiripan
pola fragmentasi yang ditunjukkan oleh Brauw (1980) dan NIST Library.

2.1.4 Isopinokaemfeol

Puncak dengan waktu retensi 12,740 mempunyai berat molekul 154,
kemungkinan adalah isokamfeol jika dilihat kemiripan pola fragmentasinya (Brauw,
1980).
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 5

2.1.5 2,6-nonadienal

Puncak dengan waktu retensi 12,950 mempunyai ion berat molekul 138
kemungkinan adalah 2,6-nonadienal berdasarkan kemiripan pola fragmentasi yang
ditunjukkan oleh Brauw (1980) dan NIST Library.

2.1.6 Perilen

Puncak dengan waktu retensi 14,200 mempunyai berat molekul 150
kemungkinan adalah perilen jika dilihat kemiripan pola fragmentasi yang ditinjukkan
oleh NIST Library dan Brauw (1980).





YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 6

2.1.7 β-seskuifelandren

Puncak dengan waktu retensi 23,183 mempunyai berat molekul 204
kemungkinan adalah β-seskuifelandren.

2.2 Tanaman Asal
2.2.1 Klasifikasi Tanaman
Klasifikasi tanaman adalah :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma mangga Val. ( Gusmaini et al., 2004).


YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 7







2.2.2 Nama Lain
Di daerah Jawa temu mangga sering disebut juga dengan nama kunir putih,
temu bayangan dan temu poh. Di daerah Madura dikenal dengan nama temu pao.
Orang Melayu sering menyebutnya temu mangga dan temu putih. Sedangkan di
daerah Sunda menyebutnya dengan nama koneng joho, koneng lalap, dan koneng
pare (Hariana, 2006).

2.2.3 Morfologi Tanaman
Temu mangga termasuk tanaman tahunan bersosok semak dengan tinggi 50-
70 cm. Daunnya berbentuk lonjong dengan ujung yang runcing dan panjangnya 30-
45 cm. Bunganya muncul dari ujung batang. Rimpangnya berasa manis, agak sedikit
pahit, dan beraroma mangga segar atau kweni. Helaian daun temu mangga
berwarna hijau. Kulit rimpang berwarna putih kekuningan pada kondisi segar dan
menjadi kuning pada kondisi kering. Daging rimpang berwarna kuning muda dengan
aroma yang harum seperti buah mangga kweni (Sadewo, 2006).

2.2.4 Ekologi dan Penyebaran
Cara pembiakan tanaman ini adalah dengan rimpang atau anakan rimpang
yang telah berumur 9 bulan. Pembiakan dengan rimpang muda akan mudah
terserang penyakit. Tanaman ini tumbuh subur jika ditanam di media tanam atau
tanah gembur yang mengandung bahan organik tinggi dan sinar matahari yang
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 8

cukup atau di tempat yang terlindung (Sadewo, 2006). Temu mangga seperti halnya
temu-temuan lain dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah
sampai pada ketinggian 1000 m di atas permukaan air laut, dan ketinggian optimum
300-500 m. Kondisi iklim yang sesuai untuk budidaya temu mangga yaitu dengan
curah hujan 1000-2000 mm (Gusmaini et al., 2004).

2.2.5 Kandungan Kimia
Temu mangga kaya kandungan kimia seperti tanin, kurkumin, amilum, gula,
minyak atsiri, damar, saponin, flavonoid, dan protein toksik yang dapat menghambat
perkembangbiakan sel kanker (Hariana, 2006).

2.2.6 Efek Farmakologis
Tanaman temu mangga memiliki khasiat sebagai penurun panas (antipiretik),
penangkal racun (antitoksik), pencahar (laksatif), dan antioksidan. Khasiat lainnya
untuk mengatasi kanker, sakit perut, mengecilkan rahim setelah melahirkan,
mengurangi lemak perut, menambah nafsu makan, menguatkan syahwat, gatal-
gatal pada vagina, gatal-gatal (pruiritis), luka, sesak napas (asma), radang saluran
napas (bronkitis), demam, kembung, dan masuk angin (Hariana, 2006).

2.3 Metode Isolasi
Sifat terpenting minyak atsiri adalah sangat mudah menguap pada suhu
kamar sehingga sangat berpengaruh dalam menentukan metode analisis yang akan
digunakan untuk menentukan komponen kimia dan komposisinya. Harus digunakan
metode analisis yang dapat meminimalkan hilangnya sebagian komponen selama
proses analisis berlangsung (Agusta, 2000).
Menurut Harbone (1984) komponen minyak atsiri umumnya adalah
monoterpen dan seskuiterpen digunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan
kromatografi gas (GC = Gas Chromathography) atau kromatografi gas spektrometri
massa (GC-MS = Gas Chromathography-Mass Spectrometry). Dengan GC
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 9

dimungkinkan dengan sekali kerja dapat digunakan untuk analisi kualitatif dan
kuantitatif.
Kromatografi gas-spektrometri massa adalah aplikasi dari dua teknik yang
memberikan hasil yang bagus dalam analisis campuran dan penentuan struktur
senyawa yang tidak diketahui. Kromatografi gas membantu dalam pemisahan
campuran dan kemudian senyawa yang telah dipisahkan dideteksi dengan
spektrometri massa berdasarkan rasio massa dan muatannta (m/z) dari ion-ion
molekul atau ion-ion pecahan. Dengan pengukuran massa yang akurat komposisi
elemental dari ion-ion dapat ditentukan, dan dengan menyusun pecahan-pecahan
tersebut maka struktur molekul senyawa dapat ditentukan (Bhati, 1986; Roboz,
1987).
Karakterisasi senyawa yang belum diketahui yang dianalisis dengan
spektrometri massa dapat dilakukan dengan dua cara; spektra dari senyawa yang
tidak diketahui dibandingkan dengan spektra pada pustaka, metode ini digunakan
jika senyawa tersebut adalah senyawa murni. Jika senyawa yang dianalisis tidak
murni, maka diperlukan senyawa standar. Spektra senyawa tidak diketahui dicek
dengan spektra senyawa standar. Jika tidak ada spektra yang cocok dengan
kompilasi-kompilasi yang tersedia, maka dibutuhkan tambahan informasi dari
spektrometri IR (infrared) dan NMR (Nuclear Magnetic Resonance) untuk elusidasi
struktur (Roboz, 1987).

2.3.1 Bahan
Bahan yang digunakan adalah rimpang Curcuma mangga yang
diperoleh dari petanin di Kulon Progo.




YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 10

2.3.2 Alat
Alat yang digunakan adalah satu set alat destilasi minyak atsiri, satu set alat
kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) (Shimadzu), GC-17 QP 5000,
menggunakan kolom CPB 5.

2.3.3 Pengambilan Sampel
Rimpang segar Curcuma mangga diperoleh dari petani di daerah Kulon Progo,
dilakukan sortasi, dicuci bersih kemudian diiris tipis-tipis.

2.3.4 Destilasi Untuk Menghasilkan Minyak Atsiri
Destilasi dilakukan terhadap irisan rimpang selama 7 jam. Minyak yang
diperoleh dipisahkan dari airnya, kemudian tapak-tapak air dihilangkan dengan
natrium-sulfat anhidrat.

2.3.5 Analisis GC-MS
Minyak atsiri yang diperoleh dipisahkan dan diidentifikasikan komponen
penyusunnya dengan GC-MS Shimadsu (GC-17 QP 5000) menggunakan kolom CBP 5
dengan suhu kolom awal 120ºC diprogram dengan kenaikan 7,5ºC tiap menit suhu
injektor dan detektor 280ºC.

2.3.6 Analisis Hasil
Spektra GC-MS yang diperoleh dianalisis kemiripan pola fragmentasinya
dengan standar dalam NIST Library dan pustaka lain serta dengan membuat
rasionalisasi fragmentasinya, untuk menentukan senyawa yang terdapat di
dalamnya.

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 11

2.4 Hasil Isolasi
Analisis kromatografi gas terhadap minyak atsiri C.mangga diperoleh 39
puncak dengan 10 komponen kadarnya lebih dari 1%.




YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 12

2.4.1 β-Felandren
Puncak dengan retensi 10,307 dengan berat molekul 136, kemungkinan
adalah β-filandren berdasarkan kemiripan spektra yang ditunjukkan oleh Brauw
(1980).


Ion molekul β-filandrean M+ 136 dengan mekanisme fragmentasi α-cleavage
menghasilkan ion fragmen m/z 121 yang kemudian mengadakan reaksi penataan
ulang pergeseran 1,2-H menghasilkan ion mirip tropilium.
Pelepasan molekul netral etilen dari ion mirip tropilium tersebut menghasilkan
ion fragmen karbonium 3-metilen-4-metilsiklopenten (m/z 93) yang merupakan
puncak dasar (base peak). Ion fragmen m/z 93 ini mempunyai kelimpahan tinggi
karena kemampuannya melakukan stabilisasi resonansi. Ion ini kemudian
melepaskan molekul netral metan atau metilen siklopropren. Dengan melepaskan
metan dihasilkan karbonium siklopentadien (m/z 77), sedangkan pelepasan metilen
siklopropen akan menghasilkan ion fragmen karbonium siklopropan (m/z 41).
Ion mirip tropilium juga dapat melepaskan karben metilen dan menghasilkan
ion fragmen m/z 107. Ion fragmen m/z 107 ini setelah mengalami pelepasan
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 13

hidrogen bisa menghasilkan karben asetilen dan molekul netral asetilen berturut-
turut sehingga dihasilkan karbonium metilen siklopentan m/z 81 dan karbonium
siklobutan m/z 55.


2.4.2 β-mirsen
Puncak dengan waktu retensi 11,800 kemungkinan adalah puncak β-mirsen
berdasarkan NIST Library dan Brauw (1980).

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 14


Ion molekul β-mirsen (M+ 136) bisa mengadakan reaksi retro kondensasi
isopren dan dihasilkan ion fragmen m/z 69. Ion molekul dengan mekanisme
fragmentasi α-cleavage akan melepaskan radikal metil dan menghasilkan ion
fragmen m/z 107. Ion fragmen dengan m/z 121 bisa mengadakan penataan ulang
dan dihasilkan ion positif 4-metilen-1-metilsiklopenten dengan m/z 121. Pelepasan
karben metilen dari ion positif ini yang diikuti pelepasan siklopropen akan
menghasilkan berturut-turut ion fragmen m/z 107 dan m/z 67. Ion fragmen m/z 67
melepaskan molekul netral asetilen dan dihasilkan ion positif siklopropan m/z 41
yang mempunyai stabilitas tinggi dan merupakan puncak dasar. Kemampuan ion ini
mengadakan stabilisasi resonansi membentuk sistem alilik juga menyebabkan ion ini
memiliki kelimpahan yang besar.
Puncak dasar m/z 41 bisa terbentuk juga melalui pelepasan secara berturut-
turut molekul netral asetilen dan metilsiklopropen dari ion fragmen m/z 121. Ion
fragmen m/z 93 terbentuk dari ion fragmen m/z 121 yang melepaskan molekul
netral etilen. Ion fragmen m/z 79 dihasilkan dengan pelepasan karbon metilen dari
ion fragmen m/z 93.
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 15



2.4.3 Limonen
Puncak dengan waktu retensi 12,532 mempunyai berat molekul 136
kemungkinan adalah limonen (suatu siskuiterpen monosiklik) jika dilihat kemiripan
pola fragmentasi yang ditunjukkan oleh Brauw (1980) dan NIST Library.

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 16


Spektra massa dari molekul ini menunjukkan puncak-puncak dengan m/z 136,
121, 107, 93, 79, 69, 68 (100%), 67, 53, 41. Ion molekul limonen (M+ 136) dengan
mekanisme fragmentasi α-cleavage, melepaskan radikal metil sehingga diperoleh ion
fragmen m/z 121. Ion fragmen ini bisa mengadakan reaksi penataan ulang dan
membentuk ion fragmen 4-metilen-1-metilsiklohepten m/z 121, yang selanjutnya
melepaskan karben metilen dan dihasilkan ion fragmen m/z 107. Ion fragmen m/z
121 yang telah mengalami reaksi penataan ulang mengalami fragmentasi menjadi
ion fragmen positif metil siklobutan m/z 67 dan molekul netral metilsiklopentan. Ion
fragmen m/z 107 mengalami fragmentasi menghasilkan ion positif siklopenten m/z
67 setlah melepaskan molekul netral asetilen dan dihasilkan ion fragmen karbonium
siklopropan m/z 41. Puncak dasar m/z 68 terbentuk dari ion molekul yang
mengalami mekanisme pemecahan retro Diells-Alder dengan melepaskan molekul
netral metil-1,3-butadien.
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 17



2.4.4 Isopinokamfeol
Puncak dengan waktu retensi 12,740 mempunyai berat molekul 154,
kemungkinan adalah isokamfeol jika dilihat kemiripan pola fragmentasinya (Brauw,
1980).

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 18


Spektra massa dari senyawa tersebut memberikan puncak-puncak dengan
m/z 154, 136, 121, 105, 93, 91, 79, 55, 43 (100%), 41. Isopinokamfeol merupakan
monoterpen bisiklis yang mengalami hidroksilali. Adanya substituen hidroksi terlihat
dari lepasnya molekul netral H20 dari ion molekulnya sehingga memberikan ion
fragmen 136. Ion fragmen 136 mengalami fragmentasi dengan melepaskan radikal
metil sehingga terbentuk ion fragmen m/z 121. Pelepasan molekul netral asetilen
dari ion fragmen dengan m/z 121 memberikan ion fragmen m/z 95. Ion fragmen
m/z 95 kemudian melepaskan molekul netral siklobutadien dan diperoleh karbonium
isopropil m/z 43 yang mempunyai stabilitas tinggi dan merupakan puncak dasar. Ion
fragmen m/z 41 terbentuk setelah terjadinya dehidrogenasi ion fragmen m/z 43.
Ion fragmen m/z 95 mengalami dehidrogenasi dan dihasilkan ion fragmen
m/z 93, kemudian melepaskan karbon metilen dan dihasilkan ion fragmen m/z 79,
yang dengan melepaskan etilen dihasilkan ion fragmen positif siklobutadien m/z 51.

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 19

2.4.5 2,6-nonadienal
Puncak dengan waktu retensi 12,950 mempunyai ion berat molekul 138
kemungkinan adalah 2,6-nonadienal berdasarkan kemiripan pola fragmentasi yang
ditunjukkan oleh Brauw (1980) dan NIST Library.


Spektra massa dari senyawa tersebut memberikan puncak-puncak 138, 123,
109, 95, 93, 69, 53, 41 (100%), 39. Ion molekul 2,6-nonadienal (M 138) melepaskan
radikal metil sehingga diperoleh ion fragmen positif m/z 123, disusul dengan
lepasnya karbon metilen sehingga diperoleh ion fragmen positif m/z 109. Lepasnya
molekul netral asetilen dari ion fragmen m/z 109 menghasilkan ion fragmen m/z 83
yang kemudian langsung melepaskan karbon metilen dan diperoleh ion fragmen m/z
69. Pada ion fragmen m/z 69 ini bisa terjadi stabilisasi resonansi dan kemudian
melepaskan molekul netral asetilen melalui penataan ulang mc laffenty (Mc Laffenty,
1980) menghasilkan ion fragmen m/z 43, yang selanjutnya mengalami
dehidrogenasi dan dihasilkan karbonium metilen karbonil m/z 41 yang merupakan
puncak dasar.
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 20



2.4.6 Perilen
Puncak dengan waktu retensi 14,200 mempunyai berat molekul 150
kemungkinan adalah perilen jika dilihat kemiripan pola fragmentasi yang ditinjukkan
oleh NIST Library dan Brauw (1980).


YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 21

Spektra senyawa tersebut memberikan puncak-puncak 150, 135, 121, 82, 69,
53, 41 (100%). Ion molekul perilen (M+ 150) melepaskan radikal metil dan
diperoleh ion fragmen pada m/z 135. Ion fragmen m/z 135 selanjutnya melepaskan
karben metilen sehingga dihasilkan ion fragmen m/z 121. Lepasnya molekul netral
16 asetilen dari fragmen m/z 121 akan menghasilkan ion fragmen m/z 95 yang
kemudian disusul lepasnya molekul etilen sehingga dipeoleh ion fragmen m/z 67.
Ion fragmen m/z 95 bisa juga melepaskan karben metilen dan diperoleh ion positif
m/z 81. Penataan ulang ion ini akan membentuk ion fragmen piran m/z 81. Ion
piran tersebut bisa melepaskan molekul netral siklopropen dan diperoleh ion
fragmen m/z 41 yang mempunyai stabilitas tinggi. Dan merupakan puncak dasar.
Ion fragmen m/z 41 bisa juga terbentuk dari ion fragmen m/z 81 yang mengalami
dua kali pemecahan yaitu pelepasan asetilen dan disusul pelepasan karben metilen.




YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 22

2.4.7 β-seskuifelandren
Puncak dengan waktu retensi 23,183 mempunyai berat molekul 204
kemungkinan adalah β-seskuifelandren.


Spektra massa, β-seskuifelandren memberikan puncak-puncak 204, 189, 175,
161, 147, 133, 119, 105, 93, 79, 69, 55, 41 (100%). Ion molekul β-seskuifelandren
(M+ 204) melepaskan radikal metil dan dihasilkan ion fragmen m/z 189. Ion
fragmen ini kemudian melepaskan karben metilen dua kali berturut-turut dan
dihasilkan ion fragmen m/z 175 dan m/z 161. Mekanisme pemecahan retro
kondensasi isopren bisa terjasi pada ion molekulnya dan dihasilkan ion fragmen
isopren m/z 69 dan fragmen radikal 135. Pada mekanisme ini bisa juga terjadi
kemungkinan kedua yaitu dihasilkannya radikal isopren dan ion fragmen positif m/z
135. Ion fragmen m/z 135 kemudian mengalami dehidrogenasi dan dihasilkan ion
fragmen m/z 133.
YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 23

Lepasnya karben metilen dari ion fragmen m/z 13 akan memberiksn ion
fragmen m/z 199. Ion fragmen ini selanjutnya bisa melepaskan molekul netral
asetilen dan dihasilkan ion fragmen m/z 93 yang selanjutnya melepaskan metilen
siklopropan dan dihasilkan ion fragmen m/z 41 yang merupakan puncak dasar.
Fragmentasi lain dapat terjadi yaitu lepasnya karben metilen dari ion fragmen
m/z 135 sehingga dihasilkan ion fragmen m/z 121. Ion ini bisa mengalami penataan
ulang 1,2 H-shifl dan akan dihasilkan ion fragmen 3-metilen-6-metilsiklohepten m/z
121. Lepasnya molekul netral metan dan karben asetilen dari ion ini akan diperoleh
ion fragmen m/z 81.

YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 24

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terpenoid yang telah berhasil diisolasi dari tumbuhan Curcuma mangga
adalah β-Felandren, β-mirsen, Limonen, Isopinokaemfeol, 2,6-nonadienal, Perilen, β-
seskuifelandren.

3.2 Saran
Oleh karena makalah ini hanya bersifat memberi informasi perihal senyawa
Terpenoid yang diisolasi dari tumbuhan, maka sangat disarankan agar mahasiswa
atau pembaca dapat memiliki informasi dan referensi lain yang dapat
memperlengkap informasi yang dibutuhkan.










YUNI A. N. KUMESAN | MAKALAH TERPENOID 25

DAFTAR PUSTAKA

Nurkhasanah, dkk. Analisa GC-MS Minyak Atsiri Curcuma mangga Val. Yogyakarta :
UGM.
Redaksi agromedia. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta : PT. Agromedia
Pustaka.