EKSTRAKSI PIGMEN ALGA

Muhammad Kurniawan Dafiq (A1M011030)


ABSTRAK
Bahan pewarna atau pigmen banyak digunakan oleh industri. Namun
masih banyak produsen yang menggunakan bahan pewarna yang dilarang dan
berbahaya bagi kesehatan. Pewarna alami merupakan solusi untuk makanan yang
lebih sehat dan menyehatkan. Namun, ketersediaan pewarna alami terbatas dan
warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan
dan minuman. Bahan pewarna alami dapat diperoleh dari spesies alga, yaitu
tumbuhan tingkat rendah yang hidup di perairan. Spesies alga yang mampu
menghasilkan bahan pewarna (pigmen) salah satunya adalah Kappaphycus
alvarezii. Pigmen dominan yang terdapat pada algae merah adalah klorofil a,
klorofil d, zeaxantin, likopen kriptoxantin, α-karoten, β-karoten, lutein, dan
pikobilin. Tujuan dari praktikum ini adalah : 1) Mempelajari dan mengetahui
proses ekstraksi pigmen alga. 2) Mengklasifikasikan pigmen alga. 3) Mengetahui/
mengidentifikasi hasil ekstraksi pigmen alga.
Ekstrak pigmen alga didapat dengan menghancurkan alga dalam larutan
fosfat buffer yang sudah dibekukan. Kemudian disentrifugasi (300 rpm selama 15
menit) dan diukur nilai absorbansinya pada panjang gelombang 200-700 nm.
Kemudian menghitung nilai absorbansi dari sampel pigmen pada panjang
gelombang 280, 545, 565, 620 dan 650 nm menggunakan spektrofotometer
(Shimadzu UV-1800). Setelah itu, kandungan fikoeritrin, fikosianin dan
alofikosianin dalam ekstrak dihitung dan pola absorbansi pigmen yang dihasilkan
digambar.
Ekstraksi dengan pelarut polar (buffer fosfat) akan mengekstrak senyawa-
senyawa polar yang ada dalam sel kering. Warna orange dari sampel pigmen yang
digunakan berasal dari kandungan fikoeritrin dalam Kappaphycus alvarezii,
dimana fikoeritrin merupakan pigmen yang berwarna merah cerah dan
memancarkan warna orange. Hasil perhitungan kandungan fikoeritrin, fikosianin
dan alofikosianin pada sampel menunjukkan bahwa kandungan fikoeritrin paling
dominan diantara fikosianin dan alofikosianin, yaitu sebesar 0,031 mg/ml.
Sedangkan kandungan fikosianin merupakan kandungan yang paling sedikit
terdapat pada sampel, yaitu sebesar 9,078 x 10
-3
mg/ml dan untuk alofikosianin
sebesar 0,022 mg/ml. Kandungan fikoeritrin pada alga dipengaruhi oleh
kedalaman alga pada suatu perairan. Semakin dalam alga tumbuh pada suatu
perairan semakin banyak pula kandungan fikoeritrinnya.

Keta Kunci : ekstraksi pigmen alga, alga merah, Kappaphycus alvarezii

PENDAHULUAN
Pigmen atau bahan pewarna dibutuhkan oleh industri pangan untuk
mewarnai produk makanan agar lebih menarik. Produsen makanan mewarnai
produknya karena penampakan produk termasuk warnanya mempengaruhi
penerimaan konsumen selain itu penampilan makanan, termasuk warnanya, sangat
berpengaruh untuk menggugah selera. Penggunaan pewarna dalam makanan telah
diatur oleh pemerintah. Namun, masih ditemukan produsen makanan, terutama
pengusaha kecil, yang menggunakan bahan pewarna dilarang dan berbahaya bagi
kesehatan. Bahan pewarna yang ditambahkan diantaranya adalah pewarna tekstil
yang mempunyai warna yang lebih cerah, stabil selama penyimpanan, dan
harganya lebih murah (Syah et al. 2005).
Pewarna alami merupakan solusi untuk makanan yang lebih sehat dan
menyehatkan. Astawan & Kasih (2008), menjelaskan bahwa warna alami yang
ada di tumbuhan memiliki berbagai macam khasiat untuk menjaga kesehatan.
Bahkan warna-warni alami ini juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan
suatu penyakit. Hal ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan dari warna
alami yang terdapat pada tanaman.
Pewarna alami memiliki kelemahan. Umumnya ketersediaan pewarna
alami terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan
untuk industri makanan dan minuman. Penggunaan pewarna alami untuk produksi
massal juga dapat meningkatkan biaya produksi. Proses produksi juga akan
terhambat karena sifat pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan
warna yang stabil (Syah et al. 2005). Namun lebih dari fakta yang dimiliki
pewarna alami tersebut, kesehatan manusia jauh lebih bernilai. Oleh karena itu
pewarna alami tetap berpotensi untuk dikembangkan.
Pewarna alami yang telah dikenal masyarakat Indonesia diantaranya
berasal dari daun, buah, batang, dan umbi-umbian. Penggunaan bahan pewarna ini
umumnya diajarkan secara turun-temurun dan diolah secara tradisional. Selain
dari tanaman tingkat tinggi, bahan pewarna alami juga dapat diperoleh dari
spesies alga, yaitu tumbuhan tingkat rendah yang hidup di perairan. Spesies alga
yang mampu menghasilkan bahan pewarna (pigmen) salah satunya adalah
Kappaphycus alvarezii.
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu anggota divisi Rhodophyta
yang telah banyak dibudidayakan untuk kepentingan perekonomian. Jenis ini
dikenal sebagai penghasil karaginan (karagenofit). Selain mineral, vitamin,
polisakarida dan serat, kandungan nutrisi yang penting pada algae merah adalah
pigmen. Pigmen dominan yang terdapat pada algae merah adalah klorofil a,
klorofil d, zeaxantin, likopen kriptoxantin, α-karoten, β-karoten, lutein, dan
pikobilin (Luning, 1990).
Karotenoid merupakan pigmen organik yang terdapat secara alami pada
khromoplast dari tanaman, organisme photosintesis seperti alga. Karotenoid
merupakan salah satu jenis pewarna pada makanan dan merupakan kelompok
pigmen terbesar yang diproduksi di alam dengan produksi tahunan diperkirakan
mencapai 100.000.000 ton. Sebagian besar merupakan fucoxantin yang diproduksi
dari alga yang hidup di lautan dan juga tiga pigmen utama yaitu lutein,
violaxanthin, dan neoxanthin pada daun hijau. Karatenoida memegang dua
peranan penting pada tanaman dan alga yaitu untuk menyerap energi cahaya yang
akan digunakan dalam proses fotosintesisi dan melindungi klorofil dari
fotodamage.
Untuk mendapat karotenoid biasa didapat dari ekstraksi beberapa bahan,
seperti wortel, broccoli, kulit citrus, Spirulina plantesis , Dunaella sp,
Kappaphycus alvarezii, tomat. Warna dari karatenoida banyak menarik perhatian
dari berbagai disiplin ilmu karena bermacam-macam fungsi dan sifat yang
penting, warnaya berkisar dari kuning pucat sampai orange yang terkait dengan
strukturnya. Karena permintaan yang tinggi dari karotenoid juga memunculkan
suatu teknologi sintesis karotenoid.
Tujuan dari praktikum ini adalah : 1) Mempelajari dan mengetahui proses
ekstraksi pigmen alga. 2) Mengklasifikasikan pigmen alga. 3) Mengetahui/
mengidentifikasi hasil ekstraksi pigmen alga.

METODE PRAKTIKUM
Alat dan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain alga
(mikroalga dan makroalga), K
2
HPO
4
, KH
2
PO
4
, ammonium sulfat, dan aquades.
Alat-alat yang digunakan adalah beaker glass, mortar, kertas saring,
sentrifuse dan spektrofotometer (Shimadzu UV-1800).

Prosedur Kerja
Prosedur untuk mengekstrak pigmen alga, yaitu alga dalam larutan 50 mM
fosfat buffer dibekukan pada suhu -20
o
C (freezer). Kemudian alga dikeluarkan
sampai larutan buffer kembali menjadi cair, lalu dibekukan kembali dan diulang-
ulang sampai diperoleh ekstrak alga (slurry). Slurry yang dihasilkan dihancurkan
dengan waring blender atau mortar. Ekstrak sel kemudian disentrifugasi dengan
kecepatan 300 rpm selama 15 menit. Setelah itu, ekstrak agar diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 200-700 nm. Perhitungan kadar pigmen
fikobiliprotein dilakukan dengan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang
280, 545, 565, 620 650 nm menggunakan spektrofotometer UV-1800. Kemudian,
kandungan fikoeritrin, fikosianin dan alofikosianin dalam ekstrak dihitung dan
pola absorbansi pigmen yang dihasilkan digambar.









HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengukuran Nilai Absorbansi Sampel Pigmen
No
Panjang
Gelombang
Absorbansi
1 280 2,822
2 545 0,445
3 565 0,488
4 620 0,180
5 650 0,161














Gambar1. Spektrum/pola UV-vis pigmen






nm.
200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00
A
b
s
.
4.000
3.000
2.000
1.000
0.000
Hasil Penghitungan Kandungan Fikoeritrin, Fikosianin dan Alofikosianin
pada Sampel Pigmen
 Fikosianin (mg/ml)
=


)

)

=
) )

=

= 9,078 x 10
-3
mg/ml

 Alofokosianin (mg/ml)
=


)

)

=
) )

=

= 0,022 mg/ml

 Fikoeritrin (mg/ml)
=
) )

=

) )

=

= 0,031 mg/ml

Pembahasan
Ekstraksi dengan pelarut polar (buffer fosfat) akan mengekstrak senyawa-
senyawa polar yang ada dalam sel kering. Senyawa polar yang bisa terambil oleh
pelarut air/buffer terdiri dari golongan fikobiliprotein/fikobilin dan protein-protein
yang sifatnya larut air. Zat-zat tersebut akan merespon/menyerap cahaya dengan
kisaran panjang gelombang 500-730 nm (Arlyza, 2005).
Sampel pigmen alga (Kappaphycus alvarezii) yang digunakan berwarna
orange. Hal ini dikarenakan sampel pigmen memiliki kandungan fikoeritrin yang
paling dominan dibandingkan dengan fikosianin dan alofikosianin. Carra &
Heocha (1976) menjelaskan bahwa fikoeritrin merupakan pigmen yang berwarna
merah cerah dan memancarkan warna orange, sedangkan fikosianin berwarna biru
dan memancarkan warna merah tua. Pigmen orange diduga juga berasal dari β-
karoten dengan serapan maksimum 490 nm. Serapan pada panjang gelombang
480-490 nm akan menunjukkan warna biru kehijauan orange.
Salah satu pigmen dominan pada rumput laut merah adalah fikobilin.
Fikobilin merupakan protein yang mempunyai cincin tetrapirol dan termasuk
dalam gugus kromofor. Semua kromofor fikobilin mengikat sistein spesifik pada
rantai polipetida oleh ikatan-ikatan tioeter (Niu et al., 2006). Fikobilin terdiri dari
fikoeritrin, fikosianin, dan allofikosianin.
Fikobilin menyerap cahaya pada panjang gelombang 450-650 nm, dengan
tiga puncak pada pola spektranya, fikoeritrin menyerap cahaya pada daerah hijau
(495-570 nm), fikosianain pada daerah hijau kuning (550-630 nm) dan
alofikosianin di daerah orange merah dengan panjang gelombang 650-670 nm
(Kawsar et al. 2011). Secara visual, ekstrak pigmen fikoeritrin tampak berwarna
merah dan fikosian berwarna biru.
Ada ketidaksesuaian hasil yang didapat dengan lieteratur yang ada. Pada
panjang gelombang 650-670 nm tidak terdapat puncak penyerapan yang
sharusnya merupakan puncak penyerapan alofikosianin. Akan tetapi, untuk
fikoeritrin dan fikosianin sesuai dengan literatur. Pada panjang gelombang antara
490-550 terdapat puncak-puncak serapan yang diduga merupakan puncak serapan
dari fikoeritrin dimana fikoeritrin memiliki serapan maksimum pada panjang
gelombang 495-570 nm. Sedangkan pada panjang gelombang 550-580 juga
terdapat puncak serapan yang diduga merupakan puncak serapan dari fikosianin
dimana memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 550-630 nm.
Hasil perhitungan kandungan fikoeritrin, fikosianin dan alofikosianin pada
sampel menunjukkan bahwa kandungan fikoeritrin paling dominan diantara
fikosianin dan alofikosianin, yaitu sebesar 0,031 mg/ml. Sedangkan kandungan
fikosianin merupakan kandungan yang paling sedikit terdapat pada sampel, yaitu
sebesar 9,078 x 10
-3
mg/ml dan untuk alofikosianin sebesar 0,022 mg/ml.
Fikoeritrin merupakan pigmen yang dihasilkan oleh alga untuk
mengantisipasi keterbatasan cahaya dalm perairan. Fikoeritrin merupakan pigmen
pelengkap yang berfungsi membantu klorofil-a dalam menyerap cahaya pada
proses fotosintesis. jumlah klorofil-a yang rendah kurang mencukupi dalam
penyerapan cahaya untuk proses fotosintesis, sehingga memacu pembentukan
fikoeritrin yang lebih banyak.
Pigmen fikoeritrin mampu menyerap cahaya hijau dan biru (Winarno,
1990). Dawes (1981) juga menjelaskan bahwa cahaya yang dapat menembus
perairan yang dalam adalah cahaya dengan panjang gelombang sedang. Cahaya
hijau merupakan cahaya yang bergelombang sedang karena mempunyai panjang
gelombang 525 nm.
Penelitian yang dilakukan oleh Veronika dan M. Izzati menunjukkan
bahwa Eucheuma yang ditanam diperairan yang dalam memproduksi fikoeritrin
dalam jumlah yang besar, karena cahaya yang banyak tersedia adalah cahaya
hijau. Dengan demikian fikoeritrin dapat menyerap energi cahaya yang digunakan
untuk proses fotosintesis. Dawes (1981), mengemukakan bahwa perubahan
panjang gelombang menyebabkan penambahan pigmen fikoeritrin, hal ini disebut
sebagai adaptasi warna atau adaptasi kromatik.
Fikoeritrin (PE) merupakan pigmen yang berguna bagi kesehatan, yaitu
sebagai antioksidan. pigmen tersebut dapat memperlambat bahkan menghambat
oksidasi suatu zat, dapat melindungi sel dari dampak serangan radikal bebas.
Selain sebagai antioksidan juga berpotensi sebagai pewarna alami dan label
fluorensi yang dapat stabil pada suhu tinggi.
PE dapat digunakan untuk mendeteksi jumlah salinan antigen pada
permukaan sel. Misalnya, pada pembentukan Epidermal Growth Factor (EGF)
atau faktor pertumbuhan epidermal untuk tipe sel yang berbeda-beda dapat
diselidiki menggunakan biotinil EGF kompleks dengan antibodi fikoeritrin-label
anti-biotin. Niu et al. (2006) mengemukakan bahwa fikobiliprotein dapat
digunakan sebagai photosensitizer untuk pengobatan tumor, berpotensi sebagai
pengganti Fotofrin (salah satu jenis agen peka cahaya pada terapi fotodinamik).
Fikosianin merupakan produk intraseluler berupa pigmen yang memiliki
kromofor tetrapirol terbuka (phycobilin), serta berperan penting dalam fotosintesis
sebagai pigmen penerima cahaya, terutama pada fotosistem II (PSII) dalam
phycobilisom sel Cyanobacteria. Fikosianin dapat dihasilkan dengan
memanfaatkan beberapa jenis mikroalga yang mengandung pigmen biru dari kelas
mikroalga Cyanophyceae.
Fikosianin dapat dijadikan sumber kehidupan bagi makhluk hidup dan
merupakan prekursor bagi klorofil dan hemoglobin karena mengandung
magnesium dan besi. Fikosianin adalah protein yang memegang peranan penting
di dalam reaksi fotosintesis, disamping itu juga sebagai sumber nitrogen dan asam
amino.
Selanjutnya disebutkan oleh Weil (2000) bahwa fikosianin merupakan
pigmen biru yang secara struktural mirip dengan β-karoten, yang telah diketahui
mampu meningkatkan aksi sistem kekebalan dan berperan aktif melindungi tubuh
dari penyakit tertentu Pigmen ini mempunyai fungsi sebagai pewarna alami untuk
makanan, kosmetika dan obat-obatan khususnya sebagai pengganti pewarna
sintetik dan mampu mengurangi obesitas.
Bentuk lain dari Fikosianin adalah alofikosianin, yang merupakan
pelengkap biliprotein dalam jumlah sedikit pada mikroalga merah dan hijau-biru.
Alofikosianin berfungsi sebagai penyalur energi di lokasi antara lamella klorofil a
dan phycobilisom lainnya. Energi cahaya yang diterima phycobilisom siap
ditranmisikan oleh alofikosianin ke pusat reaksi. Alofikosianin dan fikosianin
terdapat dalam semua jenis mikroalga yang mengandung phycobiliprotein.
Kebanyakan dari jenis mikroalga merah, hijau-biru dan kriptomonad mengandung
kedua pigmen tersebut dengan salah satunya lebih dominan, misalnya fikosianin
dominan dalam alga hijau-biru. Rasio Fikoeritrin dan Fikosianin berbeda-beda
tergantung dari kualitas cahaya dan kondisi pertumbuhannya.
KESIMPULAN

Ekstraksi dengan pelarut polar (buffer fosfat) akan mengekstrak senyawa-
senyawa polar yang ada dalam sel kering. Warna orange dari sampel pigmen yang
digunakan berasal dari kandungan fikoeritrin dalam Kappaphycus alvarezii,
dimana fikoeritrin merupakan pigmen yang berwarna merah cerah dan
memancarkan warna orange. Salah satu pigmen dominan pada rumput laut merah
adalah fikobilin. Fikobilin terdiri dari fikoeritrin, fikosianin, dan alofikosianin.
Fikoeritrin merupakan pigmen pelengkap yang berfungsi membantu klorofil-a
dalam menyerap cahaya pada proses fotosintesis. Fikosianin merupakan produk
intraseluler berupa pigmen yang memiliki kromofor tetrapirol terbuka
(phycobilin), serta berperan penting dalam fotosintesis sebagai pigmen penerima
cahaya. Alofikosianin merupakan pelengkap biliprotein dalam jumlah sedikit pada
mikroalga merah dan hijau-biru. Alofikosianin berfungsi sebagai penyalur energi
di lokasi antara lamella klorofil a dan phycobilisom lainnya. Rasio Fikoeritrin dan
fikosianin berbeda-beda tergantung dari kualitas cahaya dan kondisi
pertumbuhannya. Kandungan fikoeritrin pada alga dipengaruhi oleh kedalaman
alga pada suatu perairan. Semakin dalam alga tumbuh pada suatu perairan
semakin banyak pula kandunga fikoeritrinnya.

Saran
Usahakan praktikum dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ada
sehingga mahasiswa benar-benar mengerti bagaimana mengekstrak dan
mengidentifikasi pigmen alga. Selain itu, cara mengekstrak pigmen alga yang
digunakan jangan hanya 1 cara, gunakan minimal 2 cara untuk membandingkan
optimalisasi ekstrak pigmen yang dihasilkan.




DAFTAR PUSTAKA
Astawan M, Kasih AL. 2008. Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama. Hal 161-184.
CARRA and HEOCHA, 1976. The photosynthetic pigments In: Pigment
Microbiology, Margalith P.Z. (Ed) Cambridge, England. P. 84-88.
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. A Wiley-International Science Publication.
United States.
Kawsar S. et al. 2011. Protein R-phycoerythrin from marine red alga Amphiroa
anceps: extraction, purification and characterization. PHYTOLOGIA
BALCANICA. 17(3):347-354.
Lűning. K. 1990. Seaweeds-Their Environment, Biogeography, and cophysiology.
A Wiley-Interscience Publication.
Niu Jian-Feng, Guang-ce W., Cheng-Kui T. 2006. Method for large-scale
isolation and purification of R-phycoerythrin from red Polysiphonia
urceolata Grev. Protein Expression and Purification. 49: 23-31.
Suhartono, M.T. dan S. L. Angka. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. PKSPL-IPB.
Edisi Pertama. P. 64-70.
Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor:
Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Veronika dan Munifatul Izzati. 2012. Kandungan Klorofil, Fikoeritrin dan
Karaginan pada Rumput Laut Euchema spinosum yang Ditanam pada
Kedalaman yang Berbeda. Jurnal. http://aprints.undip.ac.id/34268. Diakses
tanggal 8 Mei 2014.
Weil. A. 2000. Green food Spirulina, Bluegreen algae and Chorella. (online).
http://www.wellness.com. Diakses tanggal 8 Mei 2014.
Winarno, F.G., 1990., Teknologi Pengolahan Rumput Laut., Pustaka Sinar Harapan.,
Jakarta.

LAMPIRAN

















Sentrifuse
Spektrofotometer